Anda di halaman 1dari 14

Kelainan Pada Rahang

(Makrognatia, Mikrognatia, Agenatia, Cleft Palate)

Kelompok B Anggota :

1. Barnabas 2. Bistrikal Dian 3. Briggita C. 4. Caecilia Caroline 5. Caroline 6. Cecilia A.P. 7. Chantika Amardhia 8. Christie Alberta 9. Christie Amanda 10. Christie Audrey

(04012024) (04012025) (04012026) (04012027) (04012028) (04012029) (04012030) (04012031) (04012032) (04012033)

11. Christy Allicya 12. Cindy Arista 13. Cindy Fransisca 14. Cindy Nathalia 15. Cintya Hapsari 16. Clara Arlita 17. Claudia R. 18. Cynthia Lesmana 19. Cynthia Veronica 20. Davita Dwirissa

(04012034) (04012035) (04012036) (04012037) (04012038) (04012039) (04012040) (04012041) (04012042) (04012043)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS TRISAKTI 2013

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan kuasa-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini penulis susun dengan tujuan untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah modul 313 ' Tumbuh Kembang Dentokarniofasial ' serta memperdalam pengetahuan tentang Patogenesis Gangguan Tumbuh Kembang Rahang. Penulis mengucapkan terimakasih kepada drg. Budi Kurniadi, MS selaku dosen pembimbing dan rekan-rekan yang ikut serta dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sebagai upaya penyempurnaan makalah ini. Pada akhirnya, penulis berharap supaya makalah ini dapat menjadi sarana untuk menambah pengetahuan dan wawasan para pembaca.

Jakarta, November 2013

Penulis

Daftar Isi
Cover .. Kata pengantar .. Daftar isi . Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang .. Bab II Pembahasan . II.1. Mikrognatia.. II.2. Makrognatia ........... II.3. Agnatia....... II.4.Cleft Palate. Bab III Kesimpulan Daftar Pustaka ........... 1 4 5 6 8 9 12 13 i ii 1

Bab I Pendahuluan

I.1. Latar Belakang


Pertumbuhan berkaitan dengan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang. Sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan fungsi organ atau individu. Kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.Proses tumbuh kembang seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling terkait, yaitu ; faktor genetik/keturunan, lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku.Proses ini bersifat individual dan unik sehingga memberikan hasil akhir yang berbeda dan ciri tersendiri pada setiap anak, ada yang hasilnya baik dan pula yang sebaliknya.Tetapi adakalanya peristiwa itu mengalami permasalahan sehingga menjadi tidak normal misalnya dalam keadaan abnormal itu dapat mengakibatkan kelainan bawaan atau kelainan kongenital.Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasiI konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian segera setelah lahir.Untuk kejadian abnormal kehamilan pada regio kraniofasial umumnya terdiri atas kelainan kongenital jaringan lunak dan kelainan kongenital jaringan keras. Kelainan jaringan lunak meliputi cleft lip,makroglosia,mikroglosia,ankyloglossia,dll dan yang termasuk kelainan jaringan keras yaitu cleft palate/celah palatum, torus, agnasia, mikrognatia, makrognatia.

1.2. Pembatasan Masalah


Dalam penyusunan maklah ini, penyusun membatasi masalah yang akan dibahas yaitu mengenai kelainan pada jaringan keras Yaitu Cleft palate, agnasia, mikrognatia, makrognatia. 1.3. Tujuan Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah modul 313 Tumbuh Kembang Dentokarniofasial: ' Patogenesis Ganguan Tumbuh Kembang Rahang', selain itu dengan disusunnya makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan khususnya bagi penyusun dan umumya bagi pambaca.

1.4. Metode Pengumpulan Data


Adapun metode pengumpulan data dalam penyusunan makalah ini yaitu dengan studi pustaka dan penelusuran dalam situs internet.

Bab III Pembahasan

Mikrognatia
Mikrognatia merupakan suatu kelainan di mana mandibula lebih kecil dari normal. Mikrognatia dapat pula dipakai untuk menunjukkan pengecilan ukuran maksila. Penyebab mikrognatia dapat terjadi secara kongenital dan di dapat. Mikrognatia kongenital berhubungan dengan kelainan kromosom, obat teratogenik, genetic syndrome antara lain Pierre Robin syndrome, Hallerman-Streiff syndrome , trisomy 13,trisomy 18, progeria, Teacher-Collins syndrome, Turner syndrome, Smith-Lemli-Opitz syndrome, Russel-Silver syndrome, Seckel syndrome, Cri du cat syndrome, dan Marfan syndrome.

Mikrognathia juga merupakan salah satu kelainan yang dapat disebabkan oleh trauma, infeksi seperti artritis rematoid juvenilis . Mikrognatia disebabkan oleh kegagalan pusat pertumbuhan sendi. Cedera pada kepala sendi oleh trauma pada saat lahir atau infeksi pada telinga dapat menyerang pusar pertumbuhan kepala sendi. Kemungknan lain adalah trauma dan infeksi daerah kepala sendi yang umumnya unilateral dan menyababkan pengecilan ukuran rahang yang unilateral. Mikrognati kadang tidak berdiri sendiri, misalnya pada sindrom pierre robin gejalanya mikrognati, hipoglossus, dan cleft palatum. Pada trisomi 18 gejalanya kelainan pada telinga, mikrognati, benjolan pada oksipital, panggul yang sempit, kaki rocker bottom. Mikrognatia pada maksila ditemukan pada disostosis kraniofasial, sindrom akrosefalosindaktilia yang karakteristiknya dapat ditemukan pada oksisefalik, sindaktilia

tangan dan kaki, dan juga terdapat pada penderita Down syndrome. Biasanya penderita micrognathia mengalami masalah pasda estetik, oklusi, dan pernapasan. Terapi yangdirekomendasikan yakni opersa orthonagtic untuk memperluas maksila ataupun mandibular.

Makrognatia
Definisi
Macrognathia adalah penyakit yang memilki kondisi di mana rahang atas tumbuh membesar tidak normal tetapi tidak menyakitkan. Makrognasia adalah rahang yang besar. Jika terjadi pada rahang bawah, hal inidpat menyebabkan protusi (kelas III Angle) dengan dagu menonjol. Keadaan ini dapat bersifat konginetal dan dapat pula bersifat dapatan melalui penyakit serta dapat dikoreksi dengan tindakan bedah. Hal ini juga disebut sebagai megagnathia.1 Macrognathia dapat dikaitkan dengan gigantisme hipofisa, tumor, dan gangguan lain. Hal ini dapat disebabkan karena trauma, bawaan atau bisa diwariskan. Macrognathia dikaitkan dengan tumor dan gangguan lain. Macrognathia juga dikenal sebagai mandibula prognathic. Macrognathia adalah suatu keadaan dimana mandibula dan regio protuberansia pada penderita lebih besar daripada ukuran normal,biasanya terjadi pertumbuhan berlebih dari maksila dan atau mandibula penderita. Macrognathia juga kadang disebut sebagai megagnathia. Macrognathia mengalami gambaran klinis yaitu dagu berkembang lebih besar. Sebagian besar macrognathia ini tidak menyebabkan terjadinya maloklusi pada penderita.2,3 Macrognathia ini paling mudah terjadi pada kondisi hormonal yaitu akromegali. Dsini pertumbuhan terus berlanjut diransang karena sekresi yang berlebihan dari hormone pertumbuhan (growth hormone). Pada akromegali selain rahang nya besar gigi juga mengalami pembesaran yang tidak normal. Macrognathia ini juga merupakan salah satu yang menyebabkan gigi tidak rata. Seseorang dapat menyadari hal ini dengan melihat gigi nya secara dekat. Seiring berjalannya waktu gigi tidak memiliki ruang yang cukup untuk pertumbuhan gigi tersebut. Dilain hal, macrognathia juga dapat dikaitkan dengan tumor dan gangguan lain. Kondisi ini dapat menimbulkan masalah masalah lainnya seperti dapat mengubah penampilan, gaya berbicara dan gaya makannya.3

Etiologi Macrognathia disebabkan oleh beberapa factor pencetus seperti heredity, pitituary gigantisme, pagets disease of bone, akromegali dan leosntiasis ossea. Namun diantara tersebut yang paling banyak terjadi adalah karena trisomi kromosom 13 maupun 18. Juga etiologi macrognathia berhubungan dengan perkembangan protuberantia yang berlebih yang dapat bersifat kongenital dan dapat pula bersifat dapatan melalui penyakit. Ada beberapa kondisi yang berhubungan dengan macrognathia, yaitu gigantisme ptituary, pagets disease, dan akromegali.4

Pathogenesis Beberapa kondisi yang berhubungan dengan macrognathia adalah gigantisme pituitary, pagets disease dan akromegali. Gigantisme dan akromegali adalah pertumbuhan berlebihan akibat pelepasan hormone pertumbuhan yang berlebihan yang disebabkan oleh tumor hipofise jinak (adenoma). Penderita biasanya menunjukkan hipertiroidisme, lemas otot, parestesi, pada tulang muka dan rahang terlihat perubahan orofasial seperti penonjolan tulang rontal, hipertrofi tulang hidung, dan pertumbuhan berlebih pada tulang rahang (mandibula) yang bisa menyebabkan rahang menonjol (prognatisme). Selain itu, macrognathia juga bisa disebabkan oleh faktor keturunan (herediter). Brophy mengatakan bahwa ligamen artikularmenjadi longgar dan memungkinkan mandibula untuk bergerak ke depan. Ketika gigi anterior rahang bawah tumbuh untukpertama kali, rahang bawah akan mendesak maju, sehingga bagian posterior rahang bawah lebih luas dibandingkan bagian anterior rahang atas. Keadaan ini terus berkembang sehingga dapat menyebabkan macrognathia.5
Sifat

Macrognathia ditandai dengan penonjolan pada dagu. Kurva gigi rahang bawah berada jauh di luar dari gigi rahang atas, menghasilkan penampilan yang tidak simetris pada wajah. Biasanya ada jarak antara gigi-geligi anterior rahang bawah dan rahang atas. Ketika rahang ditutup, gigi seri rahang bawah gigi menutupi gigi anterior rahang atas dan gigi molar mandibula letaknya miring ke dalam.6
Pengobatan

Pengobatan dilakukan dengan proses pembedahan. Mandibula macrognathia umumnya di lakukan pengobatan dengan reseksi sebagian dari mandibula diikuti oleh perawatan ortodontik.

Agnatia
Ialah kelainan yang menunjukkan pengecilan ukuran mandibula dan maksila. Dagu dapat sangat retrusif atau abses sama sekali. Hidung dan bibir atas menjadi menonjol sehingga muka seperti burung. Keadaan ini dapat bersifat congenital seperti yang ditemukan pada berbagai sindrom, dapat pula terjadi sesudah lahir misalnya akibat trauma atau infeksi seperti atritis rematoid juvenilis. Mikrognasia dapat terjadi disebabkan oleh kegagalan pusat pertumbuhan di kepala sendi. Penyebabnya adalah kelainan perkembangan atau didapat. Pada kepala sendi oleh trauma pada saat lahir atau infeksi pada telinga, dapat menyerang pusatkepala sendi. Kemungkinan lain adalah trauma atau infeksi daerah. kepala sendi yang umumnya unilateral dan menyebabkan pengecilan ukuran rahang yang unilateral.

Cleft Palate
Definisi
Sumbing (cleft palate) adalah cacat lahir yang terjadi ketika jaringan dari bibir dan / atau langit-langit janin tidak menyatu saat awal kehamilan. Sebuah cleft palate kadang-kadang disebut sebagai bibir sumbing, merupakan sebuah lubang di bibir atas yang dapat memanjang ke dasar lubang hidung. Cleft palate adalah sebuah lubang di langit-langit mulut.

Deskripsi
Bayi yang lahir dengan bibir sumbing akan memiliki pembukaan yang melibatkan bibir atas. Panjang pembukaan berkisar dari lekukan kecil, untuk celah yang membentang ke dasar lubang hidung . Bibir sumbing mungkin melibatkan satu atau kedua sisi bibir. Bayi yang lahir dengan bibir sumbing memiliki bukaan di langit-langit yang merupakan atap mulut. Ukuran dan posisi pembukaan bervariasi. Sumbing mungkin hanya di langitlangit keras, bagian tulang dari atap mulut, membuka ke dasar hidung . Ini mungkin hanya pada langit-langit lunak , bagian lunak dari atap mulut . Langit-langit sumbing mungkin melibatkan kedua langit-langit keras dan lunak dan dapat terjadi di kedua sisi pusat langit-langit mulut . Bayi mungkin memiliki cleft palate dengan atau tanpa bibir sumbing. Cleft palate juga dapat terjadi tanpa bibir sumbing. Insiden bibir sumbing dan cleft palate tidak terkait dengan sindrom yang adalah satu dari 700 bayi baru lahir. Penduduk asli Amerika memiliki insiden 3:6 pada 1.000 bayi baru lahir. Insiden antara bayi yang baru lahir di Jepang adalah 2:1 dari 1.000. Insiden antara kulit putih adalah satu dari 1.000 bayi baru lahir.. Afrika Amerika memiliki insiden 0:3 pada 1.000 bayi baru lahir .

Penyebab dan gejala


Bibir sumbing dan cleft palate tidak terkait dengan sindrom yang disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Bawaan yang disebabkan oleh kombinasi seperti ini disebut multifactorial.. Embrio mewarisi gen yang meningkatkan risiko bibir sumbing dan / atau cleft palate. Ketika embrio dengan gen tersebut terpapar oleh faktor lingkungan tertentu, embrio berkembang dengan cleft palate. Risiko bayi lahir dengan bibir sumbing atau cleft palate meningkat dengan jumlah kerabat yang terkena dampak dan jumlah anggota keluarga yang memiliki celah yang lebih parah. Faktor lingkungan yang meningkatkan risiko bibir sumbing dan cleft palate termasuk rokok dan alkohol selama kehamilan. Beberapa obat seperti phenytoin, sodium valproate, dan methotrexate juga meningkatkan kejadian bayi dengan cleft palate. Gizi ibu hamil juga dapat mempengaruhi kejadian bayi dengan cleft palate. Bayi yang lahir dengan bibir sumbing akan terlihat memiliki pembukaan memanjang di bibir atas. Ukuran pembukaan ini bisa berkisar dari takik kecil di bibir atas menuju pembukaan yang meluas ke dasar lubang hidung. Cleft palate mungkin berada di bawah lubang hidung sebelah kanan atau kiri atau di bawah kedua lubang hidung. Bayi yang lahir dengan cleft palate akan terlihat memiliki bukaan ke atap mulut. Ukuran dan posisi sumbing bervariasi dan mungkin hanya melibatkan palatum durum atau hanya langit-langit lunak dan dapat terjadi di kedua sisi pusat langit-langit mulut. Dalam beberapa kasus, cleft palate akan ditutupi dengan lapisan normal mulut dan hanya dapat dirasakan oleh pemeriksa. Bayi dengan bibir sumbing dan cleft palate mengalami kesulitan makan, yang lebih parah pada bayi dengan cleft palate. Kesulitan dalam makan adalah karena bayi tidak mampu untuk menghisap dengan sempurna. Pada kasus cleft palate dari palatum keras, cairan masuk ke hidung dari mulut melalui lubang di palatum keras. Cleft palate juga mempengaruhi pidato anak karena langit-langit diperlukan untuk pembentukan ucapan. Pola bicara anak mungkin masih akan terpengaruh meskipun telah dilakukan rekonstruksi. Diagnosa Celah bibir dan langit-langit dapat didiagnosis sebelum kelahiran dengan USG. Magnetic resonance imaging ( MRI ) menawarkan pemeriksaan yang lebih akurat untuk mendeteksi celah bibir dan cleft palate karena ini adalah metode pencitraan yang lebih rinci . Hal ini sangat membantu dalam menunjukkan cacat pada palatum lunak. Pada tahun 2004, peneliti melaporkan penemuan tes genetic untuk bibir sumbing dan cleft palate untuk membantu memprediksi apakah orang tua yang memiliki satu anak dengan bentuk terisolasi dari bibir sumbing atau cleft palate kemungkinan besar akan memiliki anak kedua dengan gangguan yang sama . Setelah lahir, bibir sumbing dan cleft palate dapat didiagnosis dengan pemeriksaan fisik .

10

11

Bab IV Penutup

Kesimpulan
Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasiI konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian segera setelah lahir. Pemeriksaan untuk menemukan adanya kelainan kongenital dapat dilakukan pada pemeriksaan janin intrauterine, dapat pula ditemukan pada saat bayi sudah lahir. Pemeriksaan pada saat bayi dalam kandungan berdasarkan atas indikasi oleh karena ibu mempunyai faktor resiko misalnya: riwayat pernah melahirkan bayi dengan kelainan kongenital, riwayat adanya kelainan-kongenital dalam keluarga, umur ibu hamil yang mendekati menopause. Pencarian dilakukan pada saat umur kehamilan 16 minggu. Dengan bantuan alat ultrasonografi dapat dilakukan tindakan amniosentesis untuk mengambil contoh cairan amnion Beberapa kelainan kongenital yang dapat didiagnose dengan cara ini misalnya: kelainan kromosome, phenylketonuria, galaktosemia, defek tuba neralis terbuka seperti anensefali serta meningocele. Pemeriksaan darah janin pada kasus thallasemia. Untuk kasus2 hidrosefalus pemeriksaan dapat diketemukan pada saat periksa Hamil Kelinan Tumbuh Kembang Rahang ini contohnya Cleft palate, agnasia, mikrognatia, makrognatia yang terjadi pada jaringan keras.

12

Daftar Pustaka
Gruendemann, B. J. dan Fernseber , B .2005. Compehensive Perioperative Nursing, Vol.2 Practice . Jones and Bartlett Publishers, Inc . Sudbury . Sudiono, J . Gangguan Tumbuh Kembang Dentokraniofasial . 2008. EGC . Jakarta. Chetan. What is macrognathia?. 2 Januari 2010. http://www.drchetan.com/macrognathia.html. 11 Juni 2012. Dinar C. Kasus Log Book Gigi dan Mulut. Juli 2010. http://www.scribd.com/doc/93870952/Presentasi-Logbook-Cherelia. 11 Juni 2012 Lubowits A. Macrognathia. 2 April 2011. (http://www.medindia.net/patients/patientinfo/pagets_macrognathia.htm ). 10 Juni 2012 Rahmalia. Kasus Log Book Gigi dan Mulut. Maret 2011. http://www.scribd.com/doc/54123450/4/MICROGNATIA-dan-MACROGNATIA. 10 Juni 2012 Erverdi N, Usumez S, Solak A. New Generation Open-bite Treatment with Zygomatic Anchorage. Angle Orthodontist, Vol 76, No 3, 2006. Hal 519-526 Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Jakarta:, EGC Bender, Patricia L. "Genetics of Cleft Lip and Palate." Journal of Pediatric Nursing 15 (August 2000): 242-249. Christensen, Karr. "The 20th Century Danish Facial Cleft Population Epidemiological and GeneticEpidemiolical Studies." Cleft PalateCraniofacial Journal 36 (March 1999): 96-104. Chung, Kevin C. "Maternal Cigarette Smoking during Pregnancy and the Risk of Having a Child with Cleft Lip/Palate." Plastic and Reconstructive Surgery 105 (February 2000): 458-491. Cockell, Anna. "Prenatal Diagnosis and Management of Orofacial Clefts." Prenatal Diagnosis 20 (February 2000): 149-151. "MRI More Accurate for Detecting Prenatal Cleft Lip and Palate than Sonography." Medical Devices & Surgical Technology Week July 25, 2004: 160. "Researchers Report New Gene Test for Isolated Cleft Lip and Palate." Science Letter September 28, 2004: 518. Rohrich, Rod J. "Optimal Timing of Cleft Palate Closure." Plastic and Reconstructive Surgery 106 (August): 413-421.

13

14

Anda mungkin juga menyukai