Anda di halaman 1dari 391

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2013

TENTANG

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2013-2018

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR: 10 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2013-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI SELATAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka penjabaran dan implementasi Visi dan Misi serta program kerja Gubernur Sulawesi Selatan Periode Tahun 2013-2018, Rencana hasil Jangka disusun Daerah Rencana dengan Jangka strategis Rencana periode peraturan Rencana Provinsi Pembangunan memperhatikan Menengah didaerah serta Jangka Menengah kondisi evaluasi Menengah

Pembangunan lingkungan terhadap Daerah

Nasional,

Pembangunan sebelumnya; b. bahwa untuk

melaksanakan yang Jangka

ketentuan maka Daerah

perundang-undangan Pembangunan c. bahwa

berlaku,

Menengah

Sulawesi Selatan diatur dengan Peraturan Daerah; berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, dan huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 47 Prp. Tahun 1960 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara dan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Tengah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2102), Jo Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan Peraturan 2 Pemerintah Tahun 1964 Pengganti tentang Undang-Undang Nomor

Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dan

2 Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dengan mengubah Undang-Undang Nomor 47 Prp. Tahun 1960 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara dan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Tengah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1964 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2687); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 3. 47, Tambahan Nomor Negara Lembaran 1 Tahun Negara 2004 Negara Republik tentang Republik Indonesia Nomor 4286); Undang-Undang Perbendaharaan (Lembaran

Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 4. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 5. Undang-Undang Pemerintahan Nomor Daerah 32 Tahun 2004 tentang Republik (Lembaran Negara

Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Undang Nomor 12 Tahun Nomor 4437), sebagaimana 2008 (Lembaran Negara telah diubah beberapa kali, terakhir dengan UndangRepublik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 6. Undang-Undang Pemerintahan Nomor Daerah 33 Tahun 2004 tentang Republik Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan (Lembaran Negara Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 7. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);

3 8. Undang-Undang Keterbukaan Nomor 14 Publik Tahun 2008 tentang Negara

Informasi

(Lembaran

Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846) ; 9. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); 10. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5043); 11. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5243); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal Di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3373); 13. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 14. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); 15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);

4 16. Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); 17. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Pengesahan, Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-Undangan; 18. Peraturan Menteri dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 310); 19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian Dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 20. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaga Daerah Provinsi Sulawesi Provinsi Sulawesi Selatan Nomor Selatan Tahun 2006 Nomor 13 Tambahan Lembaga Daerah 230) sebagaimana diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 248); 21. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 235); 22. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran

5 Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 239) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 10); 23. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 240); 24. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 241) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 11 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009 Nomor 11); 25. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Lembaga Teknis Daerah, Dan Lembaga Lain Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 242) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2011 ( Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Nomor 6); 26. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082028 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008, Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 243);

6 27. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 5 Tahun 2009 tentang Legislasi Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 247); 28. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009, Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 249); 29. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010, Nomor 2); Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN dan GUBERNUR SULAWESI SELATAN MEMUTUSKAN : Menetapkan :PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2013-2018 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Daerah adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi adalah Provinsi Sulawesi Selatan. Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan Perangkat Daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah. Gubernur adalah Gubernur Sulawesi Selatan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Tahun 2009, Nomor 5, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan

7 7. Pembangunan Daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. 8. Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumberdaya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. 9. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2008-2028 yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan pembangunan Provinsi untuk periode 20 (duapuluh) tahun terhitung sejak tahun 2008 sampai dengan tahun 2028. 10. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional yang selanjutnya disingkat RPJM Nasional adalah dokumen perencanaan nasional untuk periode 5 (lima) tahun terhitung mulai Tahun 2010 sampai dengan tahun 2014. 11. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah yang selanjutnya disingkat RPJM Daerah adalah dokumen perencanaan pembangunan Daerah untuk periode Tahun 2013-2018, yang merupakan penjabaran dari 12. Visi Visi, Misi, dan program rumusan Gubernur/Kepala umum mengenai Daerah dengan yang berpedoman pada RPJP Daerah serta memperhatikan RPJM Nasional. Daerah adalah keadaan diinginkan pada akhir periode perencanaan pada tahun 2013. 13. Misi Daerah adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mendukung terwujudnya visi. 14. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi, misi. 15. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Daerah untuk mencapai tujuan. 16. Badan Perencanaan Pembangunan bertanggung jawab terhadap Daerah selanjutnya disingkat yang fungsi tugas dan Bappeda adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi pelaksanaan perencanaan pembangunan di daerah. 17. Satuan Kerja Perangkat Daerah selanjutnya disingkat SKPD adalah SKPD lingkup Pemerintah Provinsi.

8 18. Program adalah bentuk instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh SKPD atau masyarakat, yang dikoordinasikan oleh pemerintah daerah untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan daerah. 19. Kegiatan prioritas adalah kegiatan yang ditetapkan untuk mencapai secara langsung sasaran program prioritas. BAB II PRINSIP PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Pasal 2 (1) (2) Perencanaan pembangunan Daerah merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional. Perencanaan pembangunan Daerah dilakukan Pemerintah Daerah bersama (3) (4) para pemangku kepentingan berdasarkan peran dan kewenangan masing-masing. Perencanaan pembangunan daerah mengintegrasikan rencana tata ruang dengan rencana pembangunan daerah. Perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing daerah sesuai dinamika perkembangan daerah dan nasional. Pasal 3 Perencanaan pembangunan Daerah dirumuskan dengan prinsip: a. b. c. d. e. f. g. h. i. transparan; responsif; efisien; efektif; akuntabel; partisipatif; terukur; berkeadilan; dan berkelanjutan. BAB III MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 4 (1) Penyusunan RPJM Daerah, dimaksudkan : a. menyediakan kebijakan dan program pembangunan dalam skala prioritas yang lebih tajam dan merupakan indikator perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan; b. tersedianya rumusan program pembangunan yang akan dilaksanakan di Wilayah Provinsi; c. pedoman bagi SKPD dalam penyusunan Rencana Strategis SKPD;

9 d. mewujudkan komitmen bersama antara Pemerintah Daerah, DPRD, swasta dan masyarakat terhadap program-program pembangunan daerah yang akan dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi; dan e. menjadi bahan dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah. (2) RPJM Daerah disusun dengan tujuan untuk merumuskan kebijakan dan program pembangunan yang mengakomodir berbagai kepentingan dan aspirasi segenap lapisan masyarakat, terutama untuk lebih memantapkan pencapaian visi Pemerintah Provinsi, yakni menjadikan Sulawesi Selatan Sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan pada Tahun 2018. BAB IV RPJM DAERAH Pasal 5 (1) RPJM Daerah Tahun 2013-2018 memuat visi, misi, strategi dan arah pembangunan serta program prioritas daerah dengan berpedoman pada RPJP Daerah, serta memperhatikan RPJM Nasional. (2) Sistematika RPJM Daerah Tahun 2013-2018 sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sebagai berikut : BAB I Pendahuluan Pengelolaan Keuangan Daerah serta Kerangka BAB II Gambaran Umum Sulawesi Selatan BAB III Gambaran Pendanaan BAB IV Analisis Isu-Isu Strategis BAB V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran BAB VI Strategi dan Arah Kebijakan BAB VII Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah BAB VIII Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan BAB IX Penetapan Indikator Kinerja Daerah BAB X Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan BAB XI Penutup (3) Rincian dari rencana pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), tercantum pada lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

10 Pasal 6 (1) RPJM Daerah menjadi pedoman dalam penyusunan RPJM daerah Kabupaten/Kota dengan memperhatikan RPJM Nasional, kondisi lingkungan (2) strategis di daerah serta hasil evaluasi terhadap pelaksanaan RPJM Daerah periode sebelumnya. RPJM Daerah memuat visi, misi, arah kebijakan, dan program prioritas Gubernur. BAB V PENYUSUNAN DAN PENETAPAN RPJM DAERAH Pasal 7 (1) (2) Bappeda menyusun rancangan awal RPJM Daerah dengan meminta masukan dari SKPD dan pemangku kepentingan. Musyawarah perencanaan pembangunan dilaksanakan dengan rangkaian kegiatan penyampaian, pembahasan dan penyepakatan rancangan awal RPJM Daerah . (3) (4) Rancangan akhir RPJM Daerah dirumuskan berdasarkan hasil musyawarah perencanaan pembangunan. Rancangan akhir RPJM Daerah dirumuskan paling lama 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya RPJM Daerah yang sedang berjalan. Pasal 8 (1) Dalam proses penetapan Peraturan Daerah tentang RPJM Daerah ini, DPRD melakukan konsultasi dengan masyarakat, Kementerian Dalam Negeri maupun pihak-pihak yang berkepentingan. (2) Gubernur menyampaikan Peraturan Daerah tentang RPJM Daerah paling lama 1 (satu) bulan setelah ditetapkan kepada Menteri Dalam Negeri. (3) Gubernur menyebarluaskan Peraturan Daerah tentang RPJM Daerah kepada masyarakat. BAB VI PENGENDALIAN DAN EVALUASI RPJM DAERAH Bagian Kesatu Pengendalian Pasal 9 (1) Gubernur melakukan pengendalian terhadap perencanaan pembangunan Daerah, antar-kabupaten/kota dalam Provinsi.

11 (2) Pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. kebijakan perencanaan pembangunan daerah; dan b. pelaksanaan rencana pembangunan daerah. Pasal 10 (1) Pengendalian oleh Gubernur dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Bappeda untuk keseluruhan perencanaan pembangunan daerah dan oleh Kepala SKPD untuk program dan/atau kegiatan masing-masing sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. (2) Pengendalian oleh Bappeda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi pemantauan, supervisi dan tindak lanjut atas penyimpangan yang terjadi terhadap pencapaian tujuan dan sasaran agar program dan kegiatan sesuai dengan kebijakan pembangunan daerah. (3) Pemantauan pelaksanaan program dan/atau kegiatan oleh SKPD sebagaimama dimaksud pada ayat (1), meliputi realisasi pencapaian target kinerja, penyerapan dana, dan kendala yang dihadapi. (4) Hasil pemantauan pelaksanaan pogram dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun dalam bentuk laporan triwulan untuk disampaikan kepada Bappeda. (5) Kepala Bappeda melaporkan hasil pemantauan dan supervisi rencana pembangunan kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah, disertai dengan rekomendasi dan langkah-langkah yang diperlukan. Bagian Kedua Evaluasi Pasal 11 (1) Gubernur melakukan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah, antar-kabupaten/kota dalam Provinsi. (2) Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. kebijakan perencanaan pembangunan daerah; b. pelaksanaan rencana pembangunan daerah; dan c. hasil rencana pembangunan daerah. Pasal 12 (1) Evaluasi oleh Gubernur dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Bappeda untuk keseluruhan perencanaan pembangunan daerah dan oleh Kepala SKPD untuk capaian kinerja pelaksanaan program dan kegiatan SKPD periode sebelumnya.

12 (2) Evaluasi oleh Bappeda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. penilaian terhadap pelaksanaan proses perumusan dokumen rencana pembangunan daerah, dan pelaksanaan program serta kegiatan pembangunan daerah; dan b. menghimpun, manganalisis dan menyusun hasil evaluasi Kepala SKPD dalam rangka pencapaian rencana pembangunan daerah. (3) Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), menjadi bahan bagi penyusunan rencana pembangunan daerah untuk periode berikutnya. Pasal 13 Gubernur memberikan informasi mengenai hasil evaluasi pelaksanaan perencanaan pembangunan daerah kepada DPRD dan masyarakat. Pasal 14 Pedoman pengendalian dan evaluasi rencana pembangunan daerah

sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 hingga pasal 13, diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur. BAB VII PERUBAHAN DAN PENGAWASAN RPJM DAERAH Bagian Kesatu Perubahan Pasal 15 (1) Dalam hal tertentu rencana pembangunan daerah dapat diubah dengan alasan: a. hasil pengendalian dan evaluasi menunjukkan bahwa proses perumusan dan substansi yang dirumuskan belum sesuai dengan mekanisme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan; b. terjadi perubahan yang mendasar; dan/atau c. merugikan kepentingan nasional. (2) Perubahan rencana pembangunan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 16 (1) Masyarakat dapat melaporkan proses pelaksanaan perencanaan program pembangunan jangka menengah yang dianggap tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku kepada Pemerintah Daerah.

13 (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disertai dengan data dan informasi yang akurat dan disampaikan secara tertulis kepada Gubernur melalui Bappeda. (3) Mekanisme penyampaian dan tindak lanjut laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 17 Pemerintah kabupaten/kota yang telah dan akan menetapkan Peraturan Daerah tentang RPJM Daerah Kabupaten/Kota senantiasa mengacu pada RPJM Daerah menurut Peraturan Daerah ini. BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 18 Pada saat mulai berlakunya Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan ini, maka Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 12 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2013 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2010 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 251), dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 19 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Ditetapkan di Makassar pada tanggal 11 November 2013 GUBERNUR SULAWESI SELATAN, SYAHRUL YASIN LIMPO Diundangkan di Makassar pada tanggal 11 November 2013 SEKRETARIS DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN, A. MUALLIM.
- LEMBARAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 10 TAHUN 2013

Daftar Isi

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL BAB I PENDAHULUAN .............................................................. 1.1 Latar Belakang............................................................ 1.2 Dasar Hukum dan Penyusunan ................................ 1.3 Hubungan Antar Dokumen ....................................... 1.4 Sistematika Penulisan ................................................ 1.5 Maksud dan Tujuan ................................................... BAB II GAMBARAN UMUM DAN KONDISI DAERAH............. 2.1 Aspek Geografi dan Demografi ................................. 2.1.1. Karakteristik lokasi dan wilayah .................................. 2.1.2. Potensi pengembangan wilayah .................................. 2.1.3. Wilayah rawan bencana ................................................ 2.1.4. Demografi ...................................................................... 2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat .............................. 2.2.1. Kesejahteraan dan pemerataan ekonomi ................... 2.2.2. Kesejahteraan masyarakat ............................................ 2.2.3. Fokus Seni budaya dan olahraga ................................. 2.3 Aspek Pelayanan Umum............................................ 2.3.1. Layanan urusan wajib ................................................... 2.3.2. Layanan urusan pilihan ................................................ 2.4 Aspek Daya Saing Daerah ............................................ 2.4.1. Kemampuan ekonomi daerah ..................................... 2.4.2. Fasilitas wilayah/infrastruktur ..................................... 2.4.3. Iklim berinvestasi .......................................................... 2.4.4. Sumber Daya Manusia ................................................. 2.5 Keterkaitan Dokumen Perencanaan .......................... GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN................................ 3.1 Kinerja keuangan masa lalu ...................................... 3.1.1. Kinerja pelaksanaan APBD ......................................... 3.1.2. Neraca daerah ................................................................ 3.2 Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu ........... 3.2.1. Proporsi penggunaan anggaran ................................... 3.2.2. Analisis pembiayaan daerah ....................................... 3.3 Kerangka Pendanaan ................................................. 3.3.1. Analisis pengeluaran periodik wajib dan mengikat . serta prioritas utama 3.3.2. Proyeksi data .................................................................. 3.3.3. Penghitungan kerangka pendanaan ............................

I-1 I-1 I-2 I-4 I-6 I-6 II-1 II-1 II-1 II-5 II-15 II-16 II-18 II-18 II-26 II-41 II-43 II-43 II-143 II-152 II-152 II-155 II-165 II-166 II-167 III-1 III-2 III-2 III-8 III-17 III-18 III-22 III-29 III-29 III-31 III-35

BAB III

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Isi

BAB IV

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS ...................................... 4.1 Permasalahan Pembangunan .................................... 4.2 Issu Strategis .............................................................. 4.2.1. Issu Global ........................................................ 4.2.2. Issu Strategis Daerah ....................................... 4.3 Standar Pelayanan Minimal (SPM) ........................... PENYAJIAN VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN ...... 5.1 Visi ............................................................................. 5.2 Misi ............................................................................ 5.3 Tujuan dan Sasaran ................................................... STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN ............................ 6.1 Strategi ...................................................................... 6.2 Arah Kebijakan .......................................................... KEBIJAKAN UMUM DAN ............................................... PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH

IV-1 IV-1 IV-42 IV-42 IV-45 IV-51 V-1 V-1 V-1 V-5 VI-1 VI-1 VI-9 VII-1

BAB V

BAB VI

BAB VII

BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS ............ YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN BAB IX BAB X PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH ......... PEDOMAN TRANSISI & KAIDAH PELAKSANAAN.... 10.1. Pedoman Transisi ....................................................... 10.2. Kebijakan Umum Pembangunan Transisi ................. 10.3. Program Transisi ........................................................ 10.4. Kaidah Pelaksanaan .................................................... PENUTUP .........................................................................

VIII-1

IX-1 X-1 X-1 X-1 X-1 X-2 XI-1

BAB XI

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Tabel 2.2 Tabel 2.3 Tabel 2.4 Tabel 2.5 Tabel 2.6 Tabel 2.7 Tabel 2.8 Tabel 2.9 Tabel 2.10 Tabel 2.11 Tabel 2.12 Tabel 2.13 Tabel 2.14 Tabel 2.15 Tabel 2.16 Tabel 2.17 Tabel 2.18 Tabel 2.19 Tabel 2.20 Tabel 2.21 Tabel 2.22 Tabel 2.23 Tabel 2.24 Tabel 2.25 Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Luas Kawasan Hutan Kabupaten / Kota Menurut Peta Padu Serasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Sistem Perkotaan Nasional dan Provinsi di Sulawesi Selatan Arahan Sistem Jaringan Struktur Ruang Wilayah Nasional di Sulawesi Selatan Arahan Pola Ruang Wilayah Nasional di Sulawesi Selatan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2011 Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Sulawesi Selatan Tahun 2012 Provinsi Menurut

Perkembangan Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Nilai dan Kontribusi Sektor PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Nilai dan Kontribusi Sektor PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Pertumbuhan Kontribusi Sektor PDRB ADHB& ADHK Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 PDRB Per Kapita Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Perkembangan PDRB Per Kapita Menurut Kabupaten/Kota Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Indeks Gini Ratio Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Angka KriminalitasProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2011 Angka Melek Huruf Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Angka Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Angka Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Angka Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Angka Partisipasi Kasar Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Provinsi Provinsi

Perkembangan Laju Inflasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.26 Tabel 2.27 Tabel 2.28 Tabel 2.29 Tabel 2.30 Tabel 2.31 Tabel 2.32 Tabel 2.33 Tabel 2.34 Tabel 2.35 Tabel 2.36 Tabel 2.37 Tabel 2.38 Tabel 2.39 Tabel 2.40 Tabel 2.41 Tabel 2.42 Tabel 2.43 Tabel 2.44 Tabel 2.45 Tabel 2.46 Tabel 2.47 Tabel 2.48 Tabel 2.49 Tabel 2.50 Tabel 2.51

Angka Partisipasi Kasar Siswa Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Angka Pendidikan Yang Ditamatkan (APT) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2011 Angka Partisipasi Murni Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Perkembangan Angka Partisipasi Murni SD Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Angka Kelansungan Hidup Bayi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Angka Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Angka Usia Harapan Hidup Menurut Sensus Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Angka Usia Harapan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2013 Angka Usia Harapan Hidup Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Balita Gizi Buruk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Balita Gizi Buruk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Penduduk yang memiliki Lahan Bersertifikat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Penduduk Yang Bekerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Penduduk Angkatan Yang Bekerja Dengan Angkatan Kerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Tabel Angka Partisipasi Sekolah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Tabel Angka Partisipasi Sekolah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2011 Rasio Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Rasio Guru Terhadap Murid Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2012 Rasio Guru Terhadap Murid Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Rasio Murid Per Kelas Rata-Rata Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20072011 Tabel Angka Partisipasi Sekolah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20072011 Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Guru Terhadap Murid Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.52 Tabel 2.53 Tabel 2.54 Tabel 2.55 Tabel 2.56 Tabel 2.57 Tabel 2.58 Tabel 2.59 Tabel 2.60 Tabel 2.61 Tabel 2.62 Tabel 2.63 Tabel 2.64 Tabel 2.65 Tabel 2.66 Tabel 2.67 Tabel 2.68 Tabel 2.69 Tabel 2.70 Tabel 2.71 Tabel 2.72 Tabel 2.73 Tabel 2.74 Tabel 2.75 Tabel 2.76

Rasio Guru Terhadap Murid Per Kelas Rata-Rata Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Penduduk Yang Berusia >15 Tahun Melek Huruf (Tidak Buta Aksara) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Sekolah Pendidikan SD/MI Kondisi Bangunan Baik Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Sekolah Pendidikan SMP/MTs Kondisi Bangunan Baik Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Sekolah Pendidikan SMA/SMK/MA Kondisi Bangunan Baik Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Pendidikan Anak Usia Dini Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Angka Putus Sekolah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Angka Kelulusan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs dan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Guru Yang memenuhi Kualifikasi S1/D-IV Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Posyandu Per Satuan Balita Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Per Satuan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan Pustu Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Rumah Sakit Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011 Rasio Dokter Umum Per Satuan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Dokter Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Rasio Tenaga Medis Per Satuan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Immunization (UCI)

Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderta Penyakit DBD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.77 Tabel 2.78 Tabel 2.79 Tabel 2.80 Tabel 2.81 Tabel 2.82 Tabel 2.83 Tabel 2.84 Tabel 2.85 Tabel 2.86 Tabel 2.87 Tabel 2.88 Tabel 2.89 Tabel 2.90 Tabel 2.91 Tabel 2.92 Tabel 2.93 Tabel 2.94 Tabel 2.95 Tabel 2.96 Tabel 2.97 Tabel 2.98

Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Proporsi Panjang Jaringan Jalan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Proporsi Panjang Jaringan Jalan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Rasio Jaringan Irigasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Efisiensi dan Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Rasio Tempat Ibadah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2011 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Yang Dianut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Rasio Tempat Pembuangan Sampah Per Satuan Penduduk Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Menurut Provinsi Menurut

Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Rasio Rumah Layak Huni Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Permukiman Layak Huni Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Lingkungan Permukiman Kumuh Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Persentase Rumah Tangga Bersanitasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Menurut Kabupaten/Kota

Lingkungan Pemukiman Kumuh Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Ber HPL/HGB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Tersedianya Dokumen Rencana Pembangunan Daerah dan Rencana SKPD (Yang Telah Ditetakan Dengan PERDA) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Selama 1(satu) Tahun Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012

Tabel 2.99 Tabel 2.100 Tabel 2.101

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.102 Tabel 2.103 Tabel 2.104 Tabel 2.105 Tabel 2.106 Tabel 2.107

Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Menurut Kab/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Persentase Penanganan Sampah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Luas Permukiman yang Tertata Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Persentase Jumlah Sumber Air Yang Dipantau Status Mutu Airnya Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Amdal Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Persentase Penegakan Hukum Lingkungan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Luas Lahan Bersetifikat Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Persentase Luas Lahan Bersertifikat Provinsi Sulawesi Selatan 2008-2012 Tahun

Tabel 2.108 Tabel 2.109 Tabel 2.110 Tabel 2.111 Tabel 2.112 Tabel 2.113 Tabel 2.114 Tabel 2.115 Tabel 2.116 Tabel 2.117 Tabel 2.118 Tabel 2.119

Penyelesaian Kasus Tanah Negara Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Rasio penduduk ber-KTP Per satuan penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Bayi Berakte Kelahiran Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Tabel 2.120 Rasio Pasangan Berakte Nikah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tabel 2.121 Kepemilikan KTP Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tabel 2.122 Kepemilikan Akta Kelahiran Per 1000 Penduduk Provinsi Selatan Tahun 2008-2012 Sulawesi

Tabel 2.123 Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KTP, KK, Akte Lahir, Akte Nikah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tabel 2.124 Tabel 2.125 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.126 Tabel 2.127 Table 2.128 Tabel 2.129 Tabel 2.130 Tabel 2.131 Tabel 2.132 Tabel 2.133 Tabel 2.134 Tabel 2.135

Jumlah Laporan Penanganan Kasus KDRT Terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2009 2012 Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Anak 15-19 Tahun Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Provinsi

Indeks Pembangunan Gender Provinsi Sulawesi Selatan 2008-2012 Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Akseptor KB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tabel Cakupan Peserta KB Aktif Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Keluarga Pra Sejahtera Dan Keluarga Sejahtera I Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Panti Asuhan, Panti Jompo Dan Panti Rehabiitasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Panti Asuhan, Panti Jompo Dan Panti Rehabiitasi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 PMKS Yang Memperoleh Bantuan Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Tabel 2.136 Persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tabel 2.137 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Penduduk Angkatan Kerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Angka Partisipasi Angkatan Kerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Angka Sengketa Pengusaha-Pekerja Per Tahun Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Pencari Kerja Yang Ditempatkan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Tingkat Pengangguran Terbuka Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Keselamatan Dan Perlindungan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Perselisihan Buruh Dan Pengusaha Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Koperasi Aktif Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah UKM Non BPR/LKM Provinsi Sualawesi Selatan Tahun 20082012 Jumlah UKM Non BPR/LKM Menurut Kabupaten/Kota Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Provinsi

Tabel 2.138 Tabel 2.139 Tabel 2.140 Tabel 2.141 Tabel 2.142 Tabel 2.143 Tabel 2.144 Tabel 2.145 Tabel 2.146 Tabel 2.147 Tabel 2.148 Tabel 2.149

Usaha Mikro Dan Kecil Provinsi Sualawesi Selatan Tahun 2008-2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.150 Tabel 2.151

Jumlah Usaha Mikro Dan Jumlah seluruh UMKM Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Usaha Kecil Dan Jumlah seluruh UMKM Selatan Tahun 2008-2012 Provinsi Sulawesi

Tabel 2.152 Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tabel 2.153 Tabel 2.154 Tabel 2.155 Tabel 2.156 Tabel 2.157 Tabel 2.158 Tabel 2.159 Tabel 2.160 Tabel 2.161 Tabel 2.162 Tabel 2.163 Tabel 2.164 Tabel 2.165 Tabel 2.166 Jumlah Nilai Investasi (PMDN/PMA) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja (PMDN/PMA) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Kenaikan/Penurunan Nilai Realisasi PMDN (Milyar Rupiah) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Seni & Kebudayaan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Jumlah Organisasi Pemuda Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Organisasi Olahraga Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Jumlah Kegiatan Olahraga Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Jumlah Gelanggang/Balai Remaja Provinsi Sulawesi SelatanTahun 20082012 Jumlah Gedung/Lapangan Olahraga Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Kegiatan Pembinaan LSM, Ormas, OKP dan Politik DaerahProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Jabatan Struktural Pemerintahan Provinsi (Menurut PP 41 Tahun 2007) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Jumlah SKPD Lingkup Pemerintah Provinsi (Menurut PP 41 Tahun 2007) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Jumlah Nomenklatur Dinas (Menurut PP 41 Tahun 2007) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008

Tabel 2.167 Jumlah dan Nomenklatur Lembaga Teknis Daerah (Menurut PP 41 Tahun 207) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Tabel 2.168 Tabel 2.169 Tabel 2.170 Tabel 2.171 Tabel 2.172 Tabel 2.173 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 Penduduk Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Menurut Kabupaten/KotaProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk abupaten/KotaProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Menurut

Rasio Jumlah Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Kabupaten/KotaProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Penegakan PERDA Menurut Kabupaten/KotaProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Cakupan Patroli Petugas Satpol PP Menurut Kabupaten/KotaProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 s.d 2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.174

Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3 (Ketertiban, Ketentraman, Keindahan) Menurut Kabupaten/KotaProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) Kabupaten/KotaProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Menurut

Tabel 2.175 Tabel 2.176 Tabel 2.177 Tabel 2.178 Tabel 2.179 Tabel 2.180 Tabel 2.181 Tabel 2.182 Tabel 2.183 Tabel 2.184 Tabel 2.185 Tabel 2.186 Tabel 2.187 Tabel 2.188 Tabel 2.189 Tabel 1.190 Tabel 2.191 Tabel 2.192 Tabel 2.193 Tabel 2.194 Tabel 2.195 Tabel 2.196 Tabel 2.197 Tabel 2.198 Tabel 2.199

Regulasi Ketahanan PanganProvinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Ketersediaan Pangan UtamaProvinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Rata-Rata Jumlah Kelompok Binaan LPM Kabupaten/KotaProvinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Rata-Rata Jumlah Kelompok Binaan LPM Kabupaten/KotaProvinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Menurut Menurut

Jumlah LPM Berprestasi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 PKK Aktif Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Posyandu Aktif Menurut Kbupaten/KotaProvinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Posyandu Aktif Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Pengelolan Arsip & Peningkatan SDM Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Lembaga Penyiaran Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Perpustakaan, Pengunjung, Koleksi Buku Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Produktivitas Padi Atau Bahan Pangan Utama Lokal Lainnya Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kontribusi Sektor Pertanian Dan Perkebunan Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Produksi Daging (Kg) dari Berbagai Komoditas Ternak Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Kritis Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Kritis Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kerusakan Kawasan Hutan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kerusakan Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Pertambangan Tanpa Ijin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kontribusi Sektor Pertambangan Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kunjungan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
8

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.200 Tabel 2.201 Tabel 2.202 Tabel 2.203 Tabel 2.204 Tabel 2.205 Tabel 2.206 Tabel 2.207 Tabel 2.208 Tabel 2.209 Tabel 2.210 Tabel 2.211 Tabel 2.212 Tabel 2.213 Tabel 2.214 Tabel 2.215 Tabel 2.216 Tabel 2.217 Tabel 2.218 Tabel 2.219 Tabel 2.220 Tabel 2.221 Tabel 2.222 Tabel 2.223 Tabel 2.224 Tabel 2.225

Produksi Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Produksi Komoditi Unggulan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Konsumsi Ikan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Cakupan Bina Kelompok Nelayan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Produksi Perikanan Kelompok Nelayan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kontribusi Sektor Perdagangan dan Industri Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Ekspor Bersih Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Konsumsi RT non-Pangan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Produktivitas Per Sektor Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Nilai Tukar Petani Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Ketaatan Terhadap RTRW Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Luas Wilayah Produktif Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Persentase Luas Wilayah Industri Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Persentase Luas Wilayah Industri Menurut Kab/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun2012 Persentase Luas Wilayah Banjir Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Persentase Luas Wilayah Banjir Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Persentase Luas Wilayah Perkotaan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Persentase Luas Wilayah Perkotaan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun2012 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya di Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2012 Jumlah Hotel, Kamar, dan Tempat Tidur Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Rumah Tangga Pengguna Listrik Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Daftar Tabel

Tabel 2.226 Tabel 2.227 Tabel 2.228 Tabel 2.229 Tabel 2.230 Tabel 2.231 Tabel 3.1 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 3.7 Tabel 3.8 Tabel 3.9 Tabel 3.10 Tabel 3.11 Tabel 3.12 Tabel 3.13 Tabel 3.14 Tabel 3.15 Tabel 3.16 Tabel 3.17 Tabel 3.18 Tabel 3.19 Tabel 3.20 Tabel 3.21 Tabel 3.22

Rasio Ketersediaan Daya Listrik Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Angka Kriminalitas Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Jumlah Demo Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Rasio Ketergantungan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tabel Keterkaitan Dokumen Pe9-rencanaan Beberapa indikator makro sosial ekonomi yang mendukung sasaran RPJMD 2009-2014. Pertumbuhan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2008-2012 Provinsi Sulawesi Selatan. Realisasi Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Neraca Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2008 2012 Analisa Rasio Keuangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Hasil Analisa Neraca Keuangan Pemerintah Provinsi Sulsel Tahun 20082012 Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Realisasi Anggaran Pembiayaan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20082012 Defisit Riil Anggaran Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi Sulsel Tahun 20082012 Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Riil Provinsi Sulsel Tahun 2008-2012 Sisa Lebih Riil pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Provinsi Sulsel Tahun 2008-2012 Pengeluaran Periodik, Wajib Dan Mengikat Serta Prioritas Utama Provinsi Sulsel Tahun 2008-2012 Asumsi APBD Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2013-2018 Proyeksi Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 Proyeksi SiLPA Riil Pemerintah Provinsi Sulsel Tahun 2013-2018 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Pembangunan Daerah Provinsi Sulsel Tahun 2013 2018 Mendanai

Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi Sulsel Tahun 2013 2018 Ketentuan Umum Kelompok Prioritas Anggaran Provinsi Sulawesi Selatan Jumlah Anggaran Berdasarkan Kelompok Prioritas Provinsi Sulsel Tahun Anggaran 2013-2018 Jumlah Anggaran Berdasarkan Belanja Lansung dan Tidak Lansung Provinsi Sulsel Tahun Anggaran 2013-2018 Kebijakan Alokasi Anggaran Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

10

Daftar Tabel

Tabel 4.1 Tabel 5.1 Tabel 5.2 Tabel 6.1 Tabel 6.2 Tabel 7.1 Tabel 8.1 Tabel 9.1

Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Keterkaitan Pokok-Pokok Visi, Misi dan Penjelasan Misi RPJMD Keterkaitan misi, tujuan dan sasaran RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018 Strategi Pembangunan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 20132018 Arah Kebijakan Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan 2013-2018 Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Penetapan Indikator Kinerja Daerah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

11

Bab I Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 ini merupakan penjabaran dari visi, misi, dan program Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan terpilih berdasarkan hasil Pemilihan Kepala Daerah (PEMILUKADA) Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan pada bulan Februari Tahun 2013 lalu. Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, dokumen RPJMD diselesaikan paling lambat 6 (enam) bulan setelah pelantikan kepala daerah terpilh. Sebagaimana diketahui bahwa Pelantikan Gubernur Sulawesi Selatan DR. H. Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Ir. H. Agus Arifin Nu'mang, MS oleh Menteri Dalam Negeri dilaksanakan pada tanggal, 8 April 2013. RPJMD ini juga merupakan dokumen perencanaan yang memuat kebijakan umum pembangunan daerah, kebijakan umum keuangan daerah, strategi dan program SKPD, lintas SKPD, dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJMD ini tidak saja menjadi acuan utama penyusunan Rencana Strategis (Renstra) bagi setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi Sulawesi Selatan, tetapi juga dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) yang merupakan dasar penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Selatan, serta menjadi acuan dalam penyusunan RPJM Daerah Kabupaten/Kota agar pembangunan setiap daerah dapat saling-terkait dan salingmenunjang dalam upaya pencapaian tujuan dan sasaran masing-masing dalam kerangka pencapaian Visi dan pelaksanaan Misi Provinsi dan Nasional. RPJMD mencakup strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program dan kegiatan prioritas yang bersifat indikatif yang berfokus pada: Pertama, aspirasi dan kepentingan segenap masyarakat Sulawesi Selatan; Kedua, identifikasi dan penanganan isu-isu strategis dengan sasaran yang dinamis (moving target); Ketiga, mengikuti perkembangan zaman; dan Keempat, berorientasi pada tindakan adaptif.RPJMD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pada dasarnya, proses perencanaan pembangunan mencakup pendekatan: a. Politik, pendekatan ini memandang bahwa pemilihan Kepala Daerah adalah proses penyusunan rencana, karena rakyat pemilih menentukan pilihannya berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan para calon kepala daerah. Oleh karena itu, rencana pembangunan adalah penjabaran dari agenda-agenda pembangunan yang ditawarkan Kepala Daerah saat kampanye ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Teknokratik, pendekatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode dan kerangka berfikir ilmiah oleh lembaga yang secara fungsional bertugas untuk itu. Partisipatif, pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) terhadap pembangunan. Pelibatan ini adalah untuk mendapatkan aspirasi dan menciptakan rasa memiliki. Atas-bawah (top-down) dan Bawah-atas (bottom-up),Pendekatan top-down dan bottom-up dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Rencana hasil proses atasbawah dan bawah-atas tersebut diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan baik ditingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Kelurahan.

b. c. d.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

I-1

Bab I Pendahuluan

Dokumen RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 merupakan tahap kedua dari pelaksanaan RPJPD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2028. Dalam RPJPD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2028 telah ditetapkan Visi Wilayah Terkemuka di Indonesia Melalui Pendekatan Kemadirian Lokal yang Bernafaskan Keagamaan yang ditempuh melalui 5 (lima) Misi yaitu a. Meningkatkan Kualitas Manusia Sulawesi Selatan; b. Mewujudkan Sulawesi Selatan sebagai komunitas pembelajar; c. Mewujudkan Sulawesi Selatan sebagai Wilayah yang kondusif dan antraktif; d. Mewujudkan Sulawesi Selatan sebagai satu kesatuan sosial-ekonomi yang ber keadilan, asri dan lestari; e. Meningkatkan kualitas peran Sulawesi Selatan dalam memelihara Ketahanan dan mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju dan kuat 1.2. Dasar Hukum Penyusunan 1) Undang-Undang Nomor 47 Prp. Tahun 1960 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara dan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Tengah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 1960 Nomor 151, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2102), Jo Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 2 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dengan mengubah UndangUndang Nomor 47 Prp. Tahun 1960 tentang PembentukanDaerah Tingkat I Sulawesi Selatan Tenggara dan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Tengah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1964 Nomor 94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2687); 2) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4287); 3) Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); 4) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421); 5) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 6) Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 7) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700);
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

I-2

Bab I Pendahuluan

8) 9) 10) 11)

12)

13)

14)

15) 16) 17) 18) 19) 20)

21)

22)

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725); Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1988 tentang Koordinasi Kegiatan Instansi Vertikal di Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3373); Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4593); Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4815); Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaran Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor ..) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Pengesahan, Pengundangan dan Penyebarluasan Peraturan Perundang-Undangan; Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang (RTR) Maminasata; Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah; Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Dalam Penyusunan atau Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah; Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Pemerintahan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 2, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 235); Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 6, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 239); Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi
I-3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab I Pendahuluan

23)

24)

25)

26) 27)

Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 7, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 240); Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 8, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 241); Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Lembaga Teknis Daerah, dan Lembaga Lain Provinsi Sulawesi Selatan (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 Nomor 9, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 242); Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2028 (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008, Nomor 10, Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 243) Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 09 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. (Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 02 Tahun 2010 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Daerah (SPPD) Provinsi Sulawesi Selatan.

1.3. Hubungan Antar Dokumen Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan 2013-2018 memiliki keterkaitan yang erat dengan dokumen perencanaan lainnya. Penyusunan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2013-2018 berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi Sulawesi Selatan 2008 2028 dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Selatan, dan memperhatikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 serta dokumen perencanaan lainnya. Dalam kaitannya dengan hubungan fungsional dengan dokumen perencanaan lain, selain memperhatikan RTRW Provinsi Sulawesi Selatan sendiri, penyusunan dokumen ini senantiasa memperhaikan dokumen RPJMD provinsi tetangga dan juga RTRW provinsi tetangga. Keterkaitan hubungan fungsional ini terutama pada program-program pembangunan sitem jaringan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat. Dengan sinergitas perencanaan untuk pencapaian prioritas pembangunan kewilayahan maka diharapkan pembangunan terutama pada kawasan perbatasan dan sekitarnya akan dapat diintegrasikan. Selain dokumen perencanaan daerah tetangga, dokumen perencanaan teknis lainnya yang menjadi bahan perhatian dan pembanding dalam penyusunan RPJMD ini adalah beberapa Masterplan Kementrian Teknis, Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indionesia (MP3EI), dokumen pencapaian Millenium Development Goals (MDGS). Sesuai dengan amanah Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Dalam Penyusunan atau Evaluasi Rencana Pembangunan Daerah, .Penyusunan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan telah terintegrasi dengan pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dengan tujuan untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 I-4

Bab I Pendahuluan

pembangunan berkelanjutan telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam penyusunan RPJMD sebagai upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. RPJMD Sulawesi Selatan merupakan dokumen induk yang memuat arah kebijakan pembangunan daerah selama 5 (lima) Tahun dan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Strategis (RENSTRA) bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang disusun berdasarkan tahapan yang melibatkan berbagai stakeholders termasuk pemerintah Kabupaten dan Kota. RPJMD Sulawesi Selatan ini nantinya akan dijabarkan di dalam rencana pembangunan tahunan dalam bentuk dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) ini menjadi dasar penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA), Rencana Kerja (Renja) serta prioritas dan plafon anggaran (PPA) setiap tahunnya. Dengan demikian diharapkan sasaran dan tujuan pembangunan di dalam RPJMD ini dapat dicapai secara bertahap setiap tahunnya, sehingga diharapkan proses pembangunan terwujud dalam suatu sistem yang terencana dan berkelanjutan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

I-5

Bab I Pendahuluan

Gambar 1.1 Keterkaitan Antar Dokumen Perencanaan :

1.4. Sistematika Penulisan RPJMD RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan, disusun dengan Sistematika sebagai berikut: Bab I : Pendahuluan Bab II : Gambaran Umum dan Kondisi Daerah Bab III : Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaan Bab IV : Analisis Isu-Isu Strategis Bab V : Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Bab VI : Strategi dan Arah Kebijakan Bab VII : Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Bab VIII : Indikasi Rencana Program Prioritas yang Disertai Kebutuhan Pendanaan Bab IX : Penetapan Indikator Kinerja Daerah Bab X : Pedoman Transisi dan Kaidah Pelaksanaan 1.5. Maksud dan Tujuan Penyusunan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 dimaksudkan

untuk ; a) menyediakan kebijakan dan program pembangunan dalam skala prioritas yang lebih tajam dan merupakan indikator perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan; b) tersedianya rumusan kebijakan dan program pembangunan yang akan dilaksanakan di Sulawesi Selatan; c) pedoman bagi SKPD dalam penyusunan Renstra SKPD;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

I-6

Bab I Pendahuluan

d) e)

mewujudkan komitmen bersama antara Pemerintah Daerah, DPRD, swasta dan masyarakat terhadap program-program pembangunan daerah yang akan dibiayai oleh APBD Provinsi; dan menjadi bahan dalam penyusunan RKPD.

Maksud lain dari penyusunan Recana Pembangunan Jangka Menengah ini adalah untuk tersedianya sebuah dokumen yang menggambarkan kondisi masa depan Sulawesi Selatan pada tahun 2018 yang hendak diwujudkan serta upaya-upaya yang akan ditempuh. Dokumen ini dimaksudkan untuk menjadi bahan sosialisasi tujuan dan sasaran pembangunan yang hendak dicapai hingga tahun 2018 dan arah kebijakan serta program prioritas yang akan dijalankan untuk mencapainya. Tujuan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 adalah untuk : 1) Menjabarkan visi, misi, tujuan dan sasaran pembangunan serta program Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan ke dalam arah kebijakan dan program pembangunan yang lebih rinci, terarah, terukur dan dapat dilaksanakan selama tahun 2013 - 2018; 2. Menjadi rujukan resmi bagi seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dalam menentukan prioritas program dan kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan dengan sumber dana APBD dan APBN serta sumber dana lainnya yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan oleh Gubernur; 3. Mempermudah dalam mengukur kinerja dan mengevaluasi kinerja setiap SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan; 4. Mewujudkan tata pemerintahan yang baik, sehingga terwujud kondisi yang aman dan kondusif dalam melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan; 5. Membangun komitmen melalui kerjasama dan kemitraan pembangunan pada tingkatan Pemerintahan di Pemerintah Daerah; 6. Menjadi acuan penyusunan RKPD setiap tahun selama tahun 2013-2018. 7. Menjadi tolok ukur kesinambungan penyelenggaraan pemerintahan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur. 8. Menjadi tolok ukur penilaian keberhasilan Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam melaksanakan pembangunan sesuai dengan tugas, fungsi, kewenangan, dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya mewujudkan visi, misi, dan program Kepala Daerah. 9. Menjadi pedoman seluruh pemangku kepentingan dalam melaksanakan pembangunan di wilayah Sulawesi Selatan. 10. Menjadi acuan dalam fungsi pengawasan DPRD dalam mengendalikan penyelengaraan pembangunan daerah dan menyalurkan aspirasi masyarakat sesuai dengan prioritas dan sasaran program pembangunan yang ditetapkan dalam Perda RPJMD. 11. Merumuskan kebijakan dan program pembangunan yang mengakomodir berbagai kepentingan dan aspirasi segenap lapisan masyarakat, terutama untuk lebih memantapkan pencapaian visi Pemerintah Provinsi, yakni menjadikan Sulawesi Selatan Sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan pada Tahun 2018.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

I-7

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

BAB II GAMBARAN UMUM SULAWESI SELATAN 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah 2.1.1.1.Luas dan Batas Wilayah Administrasi Propinsi Sulawesi Selatan mempunyai luas wilayah 45.764,53 km. persegi, memiliki daerah administratif 21 kabupaten, tiga kota, 304 kecamatan, dan 2.953 desa/kelurahan. Propinsi Sulawesi Selatan berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Barat di sebelah Utara dan Teluk Bone serta Provinsi Sulawesi Tenggara di sebelah Timur serta sebelah Barat dan Timur masing-masing dengan Selat Makassar dan Laut Flores. Tabel 2.1 Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Luas Area Jumlah Banyaknya No Kabupaten/Kota (Km2) Kecamatan Desa/Kelurahan 1 Selayar 903,50 11 74 2 Bulukumba 1.154,67 10 126 3 Bantaeng 395,83 8 67 4 Jeneponto 903,35 11 113 5 Takalar 566,51 9 83 6 Gowa 1.883,32 18 167 7 Sinjai 819,96 9 80 8 Maros 1.619,12 14 103 9 Pangkep 1.112,29 13 102 10 Barru 1.174,71 7 54 11 Bone 4.559,00 27 372 12 Soppeng 1.359,44 8 70 13 Wajo 2.506,20 14 176 14 Sidrap 1.883,25 11 105 15 Pinrang 1.961,17 12 104 16 Enrekang 1.786,01 12 129 17 Luwu 3.000,25 21 227 18 Tana Toraja 2.054,30 19 159 22 Luwu Utara 7.502,68 11 176 25 Luwu Timur 6.944,88 11 102 26 Toraja Utara 1.151,47 21 151 71 Makassar 175,77 14 143 72 Pare Pare 99,33 4 22 73 Palopo 247,52 9 48 Sulawesi Selatan 45.764,53 304 2.953
Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

2.1.1.2.Letak dan Kondisi Geografis Sulawesi Selatan terletak antara 012' - 8 Lintang Selatan dan 11648' -12236' Bujur Timur. Geografi wilayah mencakup pesisir dan pulau, dataran rendah dan dataran tinggi, dengan 67 aliran sungai dan tiga danau. Terdapat gunung Bawakaraeng di selatan,serta gunung Lompobattang dan Rante Mario di Utara, pada bagian tengah
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-1

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

membentang bukit karst sepanjang Maros dan Pangkep, dengan klimatologi yang terbedakan antar musim pada pantai Barat dan Timur. 2.1.1.3.Topografi Wilayah Sulawesi Selatan membentang mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Kondisi Kemiringan tanah 0 sampai 3 persen merupakan tanah yang relatif datar, 3 sampai 8 persen merupakan tanah relatif bergelombang, 8 sampai 45 persen merupakan tanah yang kemiringannya agar curam, lebih dari 45 persen tanahnya curam dan bergunung. Wilayah daratan terluas berada pada 100 hingga 400 meter DPL, dan sebahagian merupakan dataran yang berada pada 400 hingga 1000 meter DPL. 2.1.1.4.Geologi Daerah Sulawesi Selatan termasuk ke dalam propinsi Busur Volkanik Tersier Sulawesi Barat, yang memanjang dari Lengan Selatan sampai ke Lengan Utara. Secara umum, busur ini tersusun oleh batuan-batuan plutonik-volkanik berumur PaleogenKuarter serta batuan-batuan metamorf dan sedimen berumur Tersier. Geologi Sulawesi Selatan bagian timur dan barat sangat berbeda, di mana keduanya dipisahkan oleh Depresi Walanae yang berarah UUB-SST. Secara struktural, Sulawesi Selatan terpisah dari anggota Busur Barat Sulawesi lainnya oleh suatu depresi berarah UB-ST yang melintas di sepanjang Danau Tempe (van Leeuwen, 1981). Struktur geologi batuan di Provinsi Sulawesi Selatan memiliki karakteristik geologi yang dicirikan oleh adanya berbagai jenis satuan batuan yang bervariasi. Struktur dan formasi geologi wilayah Provinsi Sulawesi Selatan terdiri dari volkan tersier, Sebaran formasi volkan tersier ini relatif luas mulai dari Cenrana sampai perbatasan Mamuju, daerah Pegunungan Salapati (Quarles) sampai Pegunungan Molegraf, Pegunungan Perombengan sampai Palopo, dari Makale sampai utara Enrekang, di sekitar Sungai Mamasa, Sinjai sampai Tanjung Pattiro, di deretan pegunungan sebelah barat dan timur Ujung Lamuru sampai Bukit Matinggi. Batuan volkan kwarter, Formasi batuan ini ditemukan di sekitar Limbong (Luwu Utara), sekitar Gunung Karua (Tana Toraja) dan di Gunung Lompobatang (Gowa). 2.1.1.5.Hidrologi Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Selatan tercatat sekitar 67 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di Kabupaten Luwu, yakni 25 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada satu sungai yakni Sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tator, Enrekang dan, Pinrang. Panjang sungai tersebut masing-masing 150 km. Di Sulawesi Selatan terdapat empat danau yakni Danau Tempe dan Sidenreng yang berada di Kabupaten Wajo, serta danau Matana dan Towuti yang berlokasi di Kabupaten Luwu Timur. 2.1.1.6.Klimatologi Propinsi Sulawesi Selatan pada umumnya sama dengan daerah lain yang ada di Indonesia, mempunyai dua musim yaitu musim kemarau yang terjadi pada bulan Juni sampai September dan musim penghujan yang terjadi pada bulan Desember sampai dengan Maret. Berdasarkan pengamatan ditigal Stasiun Klimatologi (Maros, Hasanuddin dan Maritim Paotere) selama tahun 2010 rata-rata suhu udara 27,4 C di Kota Makassar dan sekitarnya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Suhu udara maksimum di stasiun klimatologi Hasanuddin 32,1 C dan suhu minimum 24,0 C. Berdasarkan klasifikasi tipe iklim menurut oldeman, Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 5 jenis iklim, yaitu Tipe iklim A termasuk kategori iklim sangat basah dimana curah hujan rata-rata 3500-4000 mm/Tahun. Wilayah yang termasuk ke dalam tipe ini adalah Kabupaten Enrekang, Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur. Tipe Iklim B, termasuk
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-2

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

iklim basah dimana Curah hujan rata-rata 3000 3500 mm/Tahun. Wilayah tipe ini terbagi 2 tipe yaitu (B1) meliputi Kabupaten Tana Toraja, Luwu Utara, Luwu Timur, Tipe B2 meliputi Gowa, Bulukumba, dan Bantaeng. Tipe iklim C termasuk iklim agak basah dimana Curah hujan rata-rata 2500 3000 mm/Tahun. Tipe iklim C terbagi 3 yaitu Iklim tipe C1 meliputi Kabupaten Wajo, Luwu, dan Tana Toraja. Iklim C2 meliputi Kabupaten Bulukumba, Bantaeng, Barru, Pangkep, Enrekang, Maros dan Jeneponto. Sedangkan tipe iklim C3 terdiri dari Makassar, Bulukumba, Jeneponto, Pangkep, Barru, Maros, Sinjai, Gowa, Enrekang, Tana Toraja, Parepare, Selayar. Tipe iklim D dengan Curah hujan rata-rata 2000 2500 mm/Tahun. Tipe iklim ini terbagi 3 yaitu Wilayah yang masuk ke dalam iklim D1 meliputi Kabupaten Wajo, Bone, Soppeng, Luwu, Tana Toraja, dan Enrekang. Wilayah yang termasuk ke dalam iklim D2 terdiri dari Kabupaten Wajo, Bone, Soppeng, Sinjai, Luwu, Enrekang, dan Maros. Wilayah yang termasuk iklim D3 meliputi Kabupaten Bulukumba, Gowa, Pangkep, Jeneponto, Takalar, Sinjai dan Kota Makassar. Tipe iklim E dengan Curah hujan rata-rata antara 1500 2000 mm/Tahun dimana tipe iklim ini disebut sebagai tipe iklim kering. Tipe iklim E1 terdapat di Kabupaten Maros, Bone dan Enrekang. Tipe iklim E2 terdapat di Kabupaten Maros, Bantaeng, dan Selayar. 2.1.1.7.Penggunaan Lahan Luas Provinsi Sulawesi Selatan menurut Sulawesi Dalam Angka Tahun 2012 adalah 45.764,53 km2. Angka ini merupakan angka yuridis yang digunakan sebagai luas Provinsi Sulawesi Selatan secara resmi. Dari total luasan tersebut terbagi dalam golongan penggunaan lahan antara lain Hutan Primer, Hutan Sekunder, Kebun Campuran dan seterusnya. Penggolongan penggunaan lahan ini merupakan penggunaan lahan utama yang perinciannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 2.2 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 Penggunaan Lahan Utama Awan/Tidak teridentifikasi Hutan Primer Hutan Sekunder Kebun Campuran Mangrove Perkebunan Permukiman Rawa Sawah Semak/Belukar Tambak/Empang Tanah Terbuka Tegalan/Ladang Tubuh Air Lain-lain Total Luas (Ha) 53,264 1,294,061 558,617 1,329,302 7,090 7,681 32,676 60,805 154,959 383,615 79,784 259,873 110,178 170,465 74,084 4,502,369 Persentase 1.16 28.28 12.21 29.05 0.15 0.17 0.71 1.39 3.39 8.38 1.74 5.68 2.41 3.72 1.62 100.00

Sumber : Status Lingkungan Hidup Daerah, 2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-3

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Berdasarkan data tersebut, penggunaan lahan di Provinsi Sulawesi Selatan masih didominasi oleh kebun campuran, hutan primer, hutan sekunder, dan selebihnya penggunaan lahannya berada di bawah 10 (sepuluh) persen. Penggunaan lahan kebun campuran terluas di Kabupaten Bone, Luwu, dan Wajo, sedang penggunaan lahan hutan primer juga tersebar di Kabupaten Luwu Utara, Luwu Timur, dan Bone. Selanjutnya penggunaan lahan hutan sekunder, terluas berada di Kabupaten Luwu Timur, Luwu, dan Luwu Utara. Dalam kaitannya dengan kawasan hutan, dari keseluruhan luas Provinsi Sulawesi Selatan menurut Perda No. 09 tahun 2009 tentang RTRWP Sulsel tercatat 2.523.493,73 Ha yang termasuk dalam kawasan hutan atau merupakan 55,14% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan seperti yang terlihat dalam tabel berikut. Tabel 2.3 Luas Kawasan Hutan Kabupaten / Kota Menurut Peta Padu Serasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011
No. 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 X* * Kabupaten/ Kodya 2 Makassar Gowa Maros Pangkep Takalar Jeneponto Bantaeng Bulukumba Selayar Sinjai Bone Soppeng Barru Pare-Pare Sidrap Wajo Pinrang Enrekang Tana Toraja Luwu Utara Luwu Luwu Timur Kota Palopo Toraja Utara JUMLAH Luas Wilayah (ha) 3 17,577 188,332 161,912 111,229 56,651 90,335 39,583 115,467 90,350 81,996 455,900 135,944 117,471 9,933 188,325 250,620 196,117 178,601 205,430 750,268 300,025 694,488 24,752 115,147 4,576,453 HL 4 23,349.72 13,655.75 7,701.71 692,17 6,715.88 2,721.98 7,849.89 10,094.06 10,996.2 40,067.23 34,286.94 51,266,03 2,003.65 45,322.15 7,679.93 45,168.7 72,224.64 92,825.72 362,214.91 85,371.63 240.775,89 8,297.53 50,276.69 1,197,809.19 1.232.683 HPT 5 19,752.88 6,308.79 2,939.98 375.55 1,098.78 5,932.21 7,193.20 80,470.30 10,876.42 16,913,96 308.95 23,999.16 26,436.63 9,864.83 20,174.56 4,448.77 5,122.08 97.452,26 1,023.84 264,282.23 494.846 HP 6 26.932,84 16,747.08 2,733.25 2,961.10 125.99 1,971.56 1.458,56 3,923.21 15,817.95 538.72 115.6 16,469.03 12,237.07 18,349.70 8.078,18 128.459,84 124.024 166,594.4 968.21 723,355.17 851.267 284 TWA/TN.L/CA/TB TAHURA/SM/TN 7 3.285,62 28,610.94 14,183.30 3,883.11 2,382.51 3,484.86 430.886,30 723.51 3,779.91 1,572.50 151,100.71 21.041,89 248.552,97 22.976 HPK 8 Luas kawasan 9 73,321.06 65,322.56 27.558,24 7,536.38 9,599.45 5,792,32 12,793.31 450,836.23 18,912,91 140,135.39 47,274.58 68,179.99 2,312.60 69,720.91 24,148.96 71.605.33 82,089.47 113,000.28 530,001.46 108,843.41 533,942.62 10.289.58 50,276.69 2,523,493.73 2.725.796 % TLW 10 33,50 40.34 24,78 13,30 9,79 14,63 11,08 498,99 9,65 30,74 34,78 58,04 23,28 36,87 9,64 13,48 5,52 35,25 70,64 36,27 105,80 37,66 43.66 55,14% 58,30%

Sumber : Data dan Informasi Kehutanan (Statistik Kehutanan) 2011


Ket :

Ket; HL ; Hutan Lindung HP ; Hutan Produksi HPT : Hutan Produksi Terbatas TWA.L/TN.L/CA/TB: Taman Wisata Alam. Laut/Taman Nasional. Laut/Cagar Alam/Taman Buru TAHURA/SM/TN : Taman Hutan Raya/Suaka Margasatwa/Taman Nasional

X* ; Perda No. 09 tahun 2009 tentang RTRWP Sul-Sel * : SK. Menhut No. 434/ Menhut tgl 23 Juli 2009, Tentang Penunjukan Kawasan Hutan Dan Konservasi Perairan Provinsi Sulsel.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-4

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa persentase luas kawasan hutan yang terbesar adalah Kabupaten Selayar dengan luas 450.836,23 Ha termasuk dengan luas Kawasan Taman Wisata Alam/Laut diikuti oleh Kabupaten Luwu Timur seluas 533.942,62 Ha. Dari data tersebut di atas terlihat pula bahwa untuk kawasan hutan, luasan yang terbesar adalah Kawasan Hutan Lindung sebesar 1.197.809 Ha atau 46,7% dari luas kawasan hutan. Luas Kawasan Hutan Lindung ini merupakan 26% dari luas wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Sebaran Hutan Lindung terluas berada pada Kabupaten Luwu Utara seluas 362.214,91 Ha atau seluas 30,24% dari luasan Hutan Lindung seluruhnya dan merupakan 48,28% dari luas wilayah Kabupaten Luwu Utara diikuti oleh Kabupaten Luwu Timur seluas 240.775 Ha atau 20,10% dari total luas Hutan Lindung atau seluas 34,67% dari luas wilayah kabupaten. Kawasan Hutan Produksi Terbatas di Provinsi Sulawesi Selatan tercatat sebesar 264.282,23 atau 5,77% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan atau merupakan 10,31% dari luas kawasan hutan. Dari luasan Hutan Produksi Terbatas ini, 36,87% berada di Kabupaten Luwu Timur atau seluas 97.452,26 Ha dan merupakan 14,03% dari luas kabupaten tersebut. Luasan berikutnya terdapat pada kabupaten Bone seluas 30,45% dari total luas Hutan Produksi Terbatas atau seluas 80.470,30 Ha yang merupakan 17,65% dari luas wilayah kabupaten. Hutan Produksi yang dapat di Konversi (HPK) di Provinsi Sulawesi Selatan terdapat seluas 248.552,97 Ha atau merupakan 5,43% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan atau 9,70% dari total luas kawasan hutan. Hutan Produksi yang dapat dikonversi ini HPK ini tersebar di 2 (dua) kabupaten yaitu Kabupaten Luwu Utara seluas 151.100,71 Ha atau merupakan 20,14% dari luas wilayah kabupaten tersebut dan di Kabupaten Luwu Timur seluas 21.041,89 Ha yang merupakan 8,47% dari luas wilayah kabupaten. Hutan Produksi yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan adalah 128.459,84 Ha atau 2,81% dari luas Provinsi Sulawesi Selatan. Dari luasan tersebut Kabupaten Gowa memiliki areal Kawasan Hutan Produksi terbesar yaitu 26.932,84 Ha atau 20,97% dari total luas Kawasan Hutan Produksi yang merupakan 14,30% dari luas total wilayah kabupaten ini. Luasan berikutnya adalah Hutan Produksi yang terletak di Kabupaten Luwu dengan luas 18.349,70 atau seluas 14,28% dari total Hutan Produksi dan merupakan 6,21% dari luas wilayah Kabupaten Luwu. 2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah Pengembangan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan diarahkan dengan mengacu pada Rencana Tata Ruang baik Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Sulawesi Selatan guna mengembangkan Sulawesi Selatan sebagai simpul transportasi, industry, perdagangan, pariwisata, dan pertanian yang seiring dengan peningkatan kualitas lingkungan. Rencana struktur ruang Provinsi Sulawesi Selatan sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat diarahkan untuk meningkatkan interkoneksi antara kawasan perkotaan baik antara Pusat Kegiatan Nasional, dengan Pusat Kegiatan Wilayah maupun dengan Pusat Kegiatan Lokal yang didukung oleh peningkatan kualitas jaringan transportasi, energy, telekomunikasi, dan sumber daya air secara terpadu. PP 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) mengamanatkan kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah nasional yang diwujudkan dalam kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang, pola ruang nasional dan kawasan strategis nasional yang mengatur pemanfaatan ruang di wilayah Sulawesi Selatan. Rencana struktur ruang wilayah nasional di Sulawesi Selatan meliputi system perkotaan nasional, system jaringan transportasi nasional, system jaringan energy nasional, system
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-5

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

jaringan telekomunikasi nasional dan system jaringan sumber daya air. Sedangkan rencana pola ruang di Sulawesi Selatan mencakup kawasan lindung nasinal, dan kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis nasional serta kawasan strategis nasinal. Tabel 2.4
Sistem Perkotaan Nasional dan Provinsi di Sulawesi Selatan
Sistem Perkotaan Nasional Pusat Kegiatan Nasional Pusat Kegiatan Wilayah Kabupaten / Kota Kepulauan Selayar Bulukumba Sistem Perkotaan Provinsi Pusat Kegiatan Lokal Kawasan Benteng dan Kawasan Pamatata

No 1 2

3 4

Bantaeng Jeneponto

Bulukumba (Agroindustri, Peratnian, Pariwisata, Perikanan) Jeneponto (Agroindustri, Perikanan, Pertanian, Pariwisata)

Kawasan Perkotaan Bantaeng

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo

Kawasan Perkotaan Mamminasata(Perdagangan dan Jasa) Kawasan Perkotaan Mamminasata (Perdagangan dan Jasa) Kawasan Perkotaan Mamminasata (Perdagangan dan Jasa)

Kawasan Sinjai

Pangkejene (Agroindustri, Perikanan, Pariwisata) Barru (Agroindustri, perikanan, pertanian, perkebunan) Watampone (Agroindustri, Perikanan, Pertanian)

Kawasan EMAS

Kawasan Watansoppeng Kawasan Sengkang Kawasan Pangkajene Kawasan Pinrang Kawasan Enrekang Kawasan Belopa Kawasan Makale Kawasan Masamba KTM Mahalona Kawasan Malili Kawasan Rantetpao

Kawasan Perkotaan Mamminasata (Perdagangan dan Jasa)

Sumber : RTRWN dan RTRWP Sulawesi Selatan

Parepare (Agroindustri, Perikanan) Palopo (Agroindustri, Perkebunan, Pertanian)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-6

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Sistem perkotaan nasional di Sulawesi Selatan meliputi: Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yaitu Kawasan Perkotaan Mamminasata yang meliputi seluruh wilayah Kota Makassar, dan Kabupaten Takalar serta sebagian wilayah Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros dengan fungsi sebagai pusat pertumbuhan nasional dan pusat orientasi pelayanan berskala internasional serta sebagai penggerak utama di Kawasan Timur Indonesia. Pusat Kegiatan Wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan meliputi Kawasan Perkotaan Pangkajene, Jeneponto, Palopo, Watampone, Bulukumba, Barru dan Parepare, yang berfungsi mendukung peran Kawasan Perkotaan Mamminasata dengan mengemban fungsi sebagai pusat jasa pelayanan keuangan, pusat pengolahan dan distribusi barang, simpul transportasi serta pusat pelayanan publik berskala provinsi. Sedangkan system perkotaan provinsi sebagaimana arahan RTRWP selain mengalokasikan system perkotaan nasional sebagaimana arahan RTRWN juga mengalokasikan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang merupakan kawasan perkotaan mengemban fungsi sebagai pusat pengolahan dan distribusi barang dan jasa, simpul transportasi, pusat jasa pemerintahan kabupaten/kota serta pusat pelayanan publik berskala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan meliputi Kawasan Perkotaan yang berfungsi sebagai ibukota kabupaten di Bantaeng, Enrekang, Masamba, Belopa, Malili, Pinrang, Pangkajene, Benteng, Sinjai, Watansoppeng, Makale, Rantepao dan Sengkang, kawasan perkotaan KTM Mahalona di kabupaten Luwu Timur, kawasan perkotaan EMAS di kabupaten Barru sebagai pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus, dan kawasan perkotaan Pamatata di kabupaten Kepulauan Selayar sebagai kawasan pusat distribusi bahan kebutuhan pokok kawasan timur Indonesia. Tabel 2.5 Arahan Sistem Jaringan Struktur Ruang Wilayah Nasional di Sulawesi Selatan
No. 1 Kabupaten/Kota Kepulauan Selayar Sistem Jaringan Energi Nasional Jaringan jalan kolektor Jaringan pipa primer gas dan Bandara pengumpan minyak bumi Lintas penyeberangan Pamatata antar pulau Depo minyak Pamatata Jaringan jalan kolektor SUTT primer Jaringan jalur KA Lintas Penyebarangan antar pulau Jaringan jalan kolektor SUTT primer Sistem Jaringan Transportasi Nasional Jaringan jalan kolektor primer SUTT Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional Jaringan teresterial Sistem Jaringan Sumber Daya Air WS Strtaegis Nasional Jeneberang

Bulukumba

Jaringan teresterial

WS Strtaegis Nasional Jeneberang WS Strtaegis Nasional Jeneberang WS Strtaegis Nasional Jeneberang WS Strtaegis Nasional Jeneberang

3 4 5

Bantaeng Jeneponto Takalar

Jaringan teresterial Jaringan teresterial Jaringan teresterial

Gowa

Jaringan jalan arteri Jaringan pipa primer dan sekunder gas dan Jaringan jalan kolektor minyak bumi primer Mamminasata Jaringan jalan bebas SUTT hambatan antar kota Jaringan jalur KA Lintas penyeberangan antar pulau Jaringan jalan arteri Jaringan pipa primer dan sekunder gas dan Jaringan jalan kolektor minyak bumi primer Mamminasata Jaringan jalan bebas Terminal sub

Jaringan teresterial

WS Strtaegis Nasional Jeneberang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-7

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No.

Kabupaten/Kota

Sistem Jaringan Transportasi Nasional hambatan antar kota

Sistem Jaringan Energi Nasional pusat distribusi SUTT PLTA Bili-bili

Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional

Sistem Jaringan Sumber Daya Air

Sinjai

Maros

Jaringan jalan kolektor SUTT primer Pelabuhan pengumpul dan pengumpan Jaringan jalan arteri Jaringan pipa primer dan sekunder gas dan Jaringan jalan kolektor minyak bumi primer Mamminasata Jaringan jalan bebas SUTT hambatan antar kota Pelabuhan pengumpan

Jaringan teresterial

WS Strtaegis Nasional Jeneberang WS Strtaegis Nasional Jeneberang; WS Strtaegis Nasional WalanaeCenranae; WS Lintas Provinsi Saddang WS Lintas Provinsi Saddang

Jaringan teresterial

Pangkep

10

Barru

Jaringan jalan kolektor primer Jaringan jalan bebas hambatan antar kota Pelabuhan pengumpan Jaringan jalur KA Jaringan jalan kolektor primer Jaringan jalan bebas hambatan antar kota Lintas penyeberangan antar pulau Jaringan jalur KA Jaringan jalan arteri dan kolektor primer Jaringan jalan bebas hambatan antar kota Jaringan jalur KA

Jaringan pipa gas dan minyak bumi MakassarSengkang SUTT PLTG Barru PLTU Barru SUTT

Jaringan teresterial

Jaringan teresterial

WS Strtaegis Nasional Jeneberang; WS Strtaegis Nasional WalanaeCenranae; WS Strtaegis Nasional Jeneberang; WS Starategis Nasional WalanaeCenranae; WS Lintas Provinsi Saddang WS Strategis Nasional WalanaeCenranae; WS Strategis Nasional WalanaeCenranae; WS Strategis Nasional WalanaeCenranae; WS Lintas Provinsi Saddang WS Lintas Provinsi Saddang

11

Bone

PLTU Bone SUTT

Jaringan teresterial

12

Soppeng

SUTT

Jaringan teresterial

13

Wajo

14

Sidrap

Jaringan jalan arteri dan kolektor primer Transportasi danau Lintas penyeberangan antar pulau Jaringan jalur KA Jaringan jalan arteri primer dan kolektor primer Jaringan Jalur KA

SUTT

Jaringan teresterial

SUTT

Jaringan teresterial

15

Pinrang

Jaringan jalan arteri primer dan kolektor primer Jaringan jalur KA Jaringan jalan bebas hambatan

SUTT

Jaringan teresterial

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-8

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No. 16

Kabupaten/Kota Enrekang

Sistem Jaringan Transportasi Nasional Jaringan jalan kolektor primer Jaringan jalan kolektor primer Jaringan Jalur KA Jaringan jalan kolektor primer

17

Luwu

Sistem Jaringan Energi Nasional PLTA Buntu Batu PLTP Sulili SUTT PLTM Batu Sitanduk, Rante Bala SUTT PLTP Bittuang, dan Sangalla PLTM Kadundung SUTT

Sistem Jaringan Telekomunikasi Nasional Jaringan teresterial

Jaringan teresterial

Sistem Jaringan Sumber Daya Air WS Lintas Provinsi PompenganLarona WS Strategis Nasional WalanaeCenranae; WS Strategis Nasional WalanaeCenranae; WS Lintas Provinsi PompenganLarona WS Lintas Provinsi PompenganLarona WS Lintas Provinsi PompenganLarona WS Lintas Provinsi PompenganLarona WS Lintas Provinsi Saddang WS Nasional Jeneberang

18

Tana Toraja

Jaringan teresterial

19

Luwu Utara

Jaringan jalan bebas hambatan Jaringan Jalur KA Jaringan jalan arteri dan kolektor primer Jaringan jalur KA Transportasi danau

PLTP Parara SUTT

Jaringan teresterial

20

Luwu Timur

PLTM Malili SUTT SUTT

Usu

Jaringan teresterial

21 22

Toraja Utara Makassar

Jaringan teresterial Jaringan teresterial

Jaringan jalan arteri Jaringan pipa primer dan sekunder gas dan Jaringan jalan kolektor minyak bumi primer Mamminasata Jaringan jalan bebas Terminal hamabatan antar kota pusat dan dalam kota distribusi Jaringan jalur KA Depo minyak Pelabuhan utama dan gas bumi Bandar udara Ujung Tanah pegumpul primer dan Tamalanrea SUTT PLTU Tello Jaringan jalan arteri dan kolektor primer Jaringan jalan bebas hambatan antar kota Jaringan jalur KA Pelabuhan pengumpul Jaringan jalan arteri dan kolektor primer Jaringan jalan bebas hambatan antar kota Jaringan jalur KA SUTT

23

Pare Pare

Jaringan teresterial

WS Lintas Provinsi Saddang

24

Palopo

SUTT

Jaringan teresterial

WS Lintas Provinsi PompenganLarona

Sumber : RTRWN, RTR Pulau Sulawesi, RTR Kawasan Mamminasata.

Strategi pengembangan struktur ruang nasional diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan jangakuan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah nasional. Sebagai upaya
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-9

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

mewujudkan strategi pengembangan wilayah nasional, Sulawesi Selatan sebagai bagian dari Pulau Sulawesi yang mengemban peran sebagai lumbung pangan nasional, pusat pegembangan ekonomi kelautan dan pusat pertambangan mineral dan panas bumi didukung oleh keberadaan jaringan jalan arteri primer, jaringan jalan kolektor primer, jaringan jalan bebas hambatan, rencana pembangunan jaringan jalur kereta api antar kota lintas Pulau Sulawesi dan jaringan penyeberangan lintas antar provinsi di dalam wilayah Pulau Sulawesi. Jaringan transportasi di Provinsi Sulawesi Selatan juga didukung oleh jaringan transportasi laut, jaringan energy guna mendukung pengembangan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan meliputi pengembangan depo bahan bakar minyak/gas bumi dan jaringan pipa gas dan minyak bumi, dan system jaringan energy yang handal. Pengembangan jaringan telekomunikasi di Sulawesi Selatan berupa jaringan terrestrial, dan pengembangan jaringan mikro analog dan digital. Provinsi Sulawesi Selatan sebagai salah satu sentra produksi pangan nasional didukung oleh peningkatan kualitas jaringan sumber daya air melalui ketersediaan air baku yang bersumber dari satuan wilayah sungai (SWS) baik yang merupakan WS strategis nasional, WS lintas provinsi maupun WS lintas kabupaten yang berada di Sulawesi Selatan. Tabel 2.6 Arahan Pola Ruang Wilayah Nasional di Sulawesi Selatan
No. 1 Kabupaten/Kota Kepulauan Selayar Kawasan Lindung Nasional Taman nasional Laut Takabonerate Kawasan Budidaya Strategis Nasional Kawasan andalan BulukumbaWatampone DSK (pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan); Kawasan andalan laut Teluk Bone (perikanan, pariwisata dan pertambangan); Kawasan andalan laut Singkarang-Takabonerate (perikanan dan pariwisata). Kawasan andalan BulukumbaWatampone DSK (pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan); Kawasan andalan laut Teluk Bone (perikanan, pariwisata dan pertambangan). Kawasan andalan BulukumbaWatampone DSK (pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan); Kawasan andalan laut Kapoposang DSK (perikanan, pertambangan, dan pariwisata) Kawasan andalan BulukumbaWatampone DSK (pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan); Kawasan andalan laut Kapoposang DSK (perikanan, pertambangan, dan pariwisata) Kawasan Mamminasata DSK (pariwisata, pertanian, perikanan, industry dan agroindustri) Kawasan andalan laut Kapoposang DSK (perikanan, pertambangan, dan pariwisata) Kawasan Mamminasata DSK (pariwisata, pertanian, perikanan, Kawasan Strategis Nasional

Bulukumba

Taman hutan Bonto Bahari

raya

Bantaeng

Jeneponto

Taman Buru Bangkala

Takalar

Taman buru Komara Suaka margasatwa Komara

Kawasan Perkotaan Mamminasata (sudut kepentingan ekonomi)

Gowa

Taman Wisata Alam Malino

Kawasan Perkotaan Mamminasata (sudut II-10

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No. 7

Kabupaten/Kota Sinjai

Kawasan Lindung Nasional

Kawasan Budidaya Strategis Nasional industry dan agroindustri)

Maros

Pangkep

10

Barru

11

Bone

12

Soppeng

13

Wajo

14

Sidrap

15

Pinrang

16

Enrekang

17 18

Luwu Tana Toraja

Kawasan andalan BulukumbaWatampone DSK (pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan); Kawasan andalan laut Teluk Bone DSK (perikanan, pariwisata dan pertambangan). Taman Nasional Kawasan Mamminasata DSK Kawasan Perkotaan Bantimurung(pariwisata, pertanian, Mamminasata (sudut Bulusaraung perikanan, industry dan kepentingan agroindustri) ekonomi) Kawasan andalan laut Kapoposang (perikanan, pertambangan, dan pariwisata) Taman Nasional Kawasan andalan laut BantimurungKapoposang DSK (perikanan, Bulusaraung pertambangan, dan pariwisata) Kawasan andalan Mamminasata DSK (pariwisata, pertanian, perikanan, industry dan agroindustri) Kawasan Parepare DSK KAPET Parepare (pertanian, perkebunan, (sudut kepentingan perikanan, agroindustri dan ekonomi) perdagangan) Taman wisata alam Kawasan andalan BulukumbaCani Sirenreng Watampone DSK (pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan); Kawasan andalan laut Teluk Bone (perikanan, pariwisata dan pertambangan). Taman wisata alam Lejja Kawasan andalan BulukumbaWatampone DSK (pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan) Kawasan andalan BulukumbaWatampone DSK (pertanian, perkebunan, agroindustri, pariwisata, perikanan dan perdagangan); Kawasan andalan laut Teluk Bone (perikanan, pariwisata dan pertambangan). Kawasan Parepare DSK KAPET Parepare (pertanian, perkebunan, (sudut kepentingan perikanan, agroindustri dan ekonomi) perdagangan) Kawasan Parepare DSK KAPET Parepare (pertanian, perkebunan, (sudut kepentingan perikanan, agroindustri dan ekonomi) perdagangan) Kawasan andalan laut Selat Makassar (perikanan dan pariwisata). Kawasan Parepare DSK KAPET Parepare (pertanian, perkebunan, (sudut kepentingan perikanan, agroindustri dan ekonomi) perdagangan) Kawasan Palopo DSK (pariwisata, perkebunan, pertanian, dan perikanan) Kawasan Palopo DSK Kawasan Toraja (pariwisata, perkebunan, DSK (sudut II-11

Kawasan Strategis Nasional kepentingan ekonomi)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No. 19 20

Kabupaten/Kota Luwu Utara Luwu Timur

Kawasan Lindung Nasional

Kawasan Budidaya Strategis Nasional pertanian, dan perikanan)

21

Toraja Utara

Cagar alam Faruhumpenai Cagar alam Kalaena Taman wisata alam Danau MatanoMahalona Taman wisata alam danau Towuti

Kawasan Palopo DSK (pariwisata, perkebunan, pertanian, dan perikanan) Kawasan Palopo DSK Kawasan Sorowako (pariwisata, perkebunan, DSK (sudut pertanian, dan perikanan) kepentingan penfayagunaan SDA dan Teknologi Tinggi) Kawasan Palopo DSK Kawasan (pariwisata, perkebunan, DSK pertanian, dan perikanan) kepentingan budaya) Kawasan Mamminasata DSK (pariwisata, pertanian, perikanan, industry dan agroindustri); Kawasan andalan laut Kapoposang DSK (perikanan, pertambangan, dan pariwisata) Kawasan Parepare DSK (pertanian, perkebunan, perikanan, agroindustri dan perdagangan); Kawasan andalan laut Selat Makassar DSK (perikanan dan pariwisata) Toraja (sudut social

Kawasan Strategis Nasional kepentingan social budaya)

22

Makassar

Kawasan Perkotaan Mamminasata (sudut kepentingan ekonomi)

23

Pare Pare

24

Palopo

Kawasan Palopo DSK (pariwisata, perkebunan, pertanian, dan perikanan)

KAPET Parepare (sudut kepentingan ekonomi) Kawasan Stasiun Bumi Sumber Alam (LAPAN) (sudut kepentingan penfayagunaan SDA dan Teknologi Tinggi)

Sumber : RTRWN dan RTR Pulau Sulawesi

Kebijakan pengembangan kawasan budidaya di Sulawesi Selatan diarahkan dengan melakukan pengembangan kawasan budidaya unggulan yang memiliki nilai strategis dengan menumbuhkembangkan agropolitan yang memadukan agroindustri, agrobisnis pada kluster sentra-sentra produksi komoditas pertanian unggulan. Kawasan pertanian dan perikanan yang diarahkan sebagai kawasan pengembangan budidaya komoditas unggulan berupa kawasan pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perinakan budidaya dan perikanan tangkap. Pengembangan komoditas pertanian dengan pengembangan kawasan potensal pertanian tanaman pangan komoditas padi dan jagung, kawasan berpotensi perkebunan komoditas kakao, sawit, kopi, mete dan jarak dan kawasan berpotensi komoditas peternakan sapi diarahkan pada kabupaten/kota Kapupaten Bantaeng, kabupaten Barru, kabupaten Bone, kabupaten Bulukumba, kabupaten Enrekang, kabupaten Gowa, kabupaten Jeneponto, kabupaten Luwu, kabupaten Luwu Timur, kabupaten Luwu Utara, kabupaten Maros, kota Palopo, kabupaten Pangkep, kota Parepare, kabupaten Pinrang, kabupaten Selayar, kabupaten Sidrap, kabupaten Sinjai, kabupaten Soppeng, kabupaten Takalar, kabupaten Tana Toraja, kabupaten Toraja Utara, dan kabupaten Wajo. Pengembangan komoditas
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-12

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

perikanan dengan pengembangan kawasan berpotensi perikanan budidaya komoditas udang dan rumput laut dan pengembangan kawasan berpotensi perikanan tangkap diarahkan pada kabupaten Barru, kabupaten Pangkep, kabupaten Bone, kabupaten Wajo, dan kabupaten Pinrang. Pengembangan kawasan strategis provinsi dengan sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi berupa kawasan lahan pangan pertanian berkelanjutan, kawasan pengembangan budidaya komoditas perkebunan unggulan, dan kawasan pengembangan komoditas perikanan berupa rumput laut dan udang serta kawasan industry diarahkan dengan meningkatkan dukungan ketersediaan dan kehandalan serta daya jangkau infrastruktur wilayah melalui peningkatan kapasitas jalan, penyediaan jaringan prasarana dan sarana transportasi, peningkatan kualitas dan cakupan pengelolaan sumber daya air, dan peningkatan ketersediaan infrastruktur energy sehingga peran dan fungsi Sulawesi Selatan sebagai pusat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan lumbung pangan nasional dapat terwujud. Kawasan yang berpotensi untuk diarahkan sebagai pengembangan komoditas pertambangan meliputi pengembangan kawasan pertambangan komoditas nineral logam berupa emas, besi, pasir besi, kromit, nikel dan tembaga diarahkan pada kabupaten Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Takalar, Jeneponto, Barru, Toraja, dan Toraja Utara, pengembangan kawasan pertambangan komoditas batuan berupa andesit, basalt, dan marmer diarahkan pada kabupaten Pangkep, Bone, Sinjai, Maros, dan Gowa, pengembangan kawasan pertambangan komoditas mineral batubara dirahkan pada kabupaten Toraja Utara, serta pengembangan kawasan pertambangan komoditas minyak dan gas bumi diarahkan pada 8 blok wilayah pertambangan minyak dan gas bumi yaitu; Blok Segeri Barat, Blok Bone, Blok Sidrap, Blok Enrekang, Blok Bone Utara, Blok Kambuno, Blok Karaengta dan Blok Selayar. Pengembangan kawasan strtaegis provinsi dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan teknologi tinggi berupa kawasan pengembangan minyak dan gas bumi dan kawasan pusat pembangkit listrik diarahkan dengan meningkatkan dukungan ketersediaan dan kehandalan serta daya jangkau infrastruktur wilayah melalui peningkatan kapasitas jalan, penyediaan jaringan prasarana dan sarana transportasi, peningkatan kualitas dan cakupan pengelolaan sumber daya air, dan peningkatan ketersediaan infrastruktur energy sehingga Sulawesi Selatan dapat berfungsi sebagai simpul jejaring dengan melalui peningkatan daya saing daerah. Berdasarkan potensi sumber daya alam baik berupa komoditas pertanian maupun pertambangan dan posisi geografis wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, serta mempertimbangkan pemerataan kesejahteraan antar wilayah dan antar lapisan masyarakat, maka kebijakan pengembangan kawasan industry diarahkan pada pengembangan kawasan industry skala besar serta pengembangan industry skala kecil dan menengah yang diarahkan tumbuh dan berkembang sebagai kawasan aglomerasi industri kecil dan menengah di sentra-sentra produksi yang berorientasi ke pengembangan industri rakyat sebagai komunitas lokal. Kawasan industri skala besar diarahkan pengembangannya pada pusat kegiatan nasional maupun pusat kegiatan wilayah yang ditunjang oleh ketersediaan infarstruktur pendukung yaitu di Kota Makassar, dan Parepare, Kabupaten Luwu Timur, Pangkejene Kepulauan, Maros, dan Gowa. Sedangkan pengembangan kawasan aglomerasi industry skala kecil dan menengah diarahkan pada Kota Palopo, kabupeten Luwu, Enrekang, Sidrap, Pinrang, barru, Bone, Bulukumba, Bantaeng dan Jeneponto. Kebijakan pengembangan kawasan perdagangan diarahkan tumbuh berkembang terpadu dengan pengembangan kawasan industri lokal di
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-13

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

sentra-sentra produksi di seluruh wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Kawasan perdagangan skala besar diarahkan pada Pusat Kegiatan Nasional dan Pusat Kegiatan Wilayah, sedangkan kawasan perdagangan skala sedang diarahkan pengembangannya pada pusat kegiatan local provinsi. Pembangunan kawasan perdagangan diarahkan perencanaannya terpadu dengan fasilitas pendukungnya seperti; kawasan perkantoran, perbankan, pertokoan, hotel dan restoran, terminal bis dan kawasan pergudangan. Kebijakan pengembangan kawasan pariwisata, diarahkan pada kawasan yang memiliki objek dengan daya tarik wisata dengan mendukung upaya pelestarian budaya, keindahan alam dan lingkungan. Pengembangan kawasan pariwisata di Sulawesi Selatan meliputi pengembangan kawasan pariwisata alam (TWA) yang mengandalkan potensi dan kekayaan alam diarahkan pada TWA yang berada di kabupaten Luwu Timur, Gowa, Bone, Soppeng, Pangkep, Kepulauan Selayar, Maros, Takalar, Jeneponto, Wajo, Enrekang, Tana Roraja, Sinjai, dan Kota Palopo serta Kota Makassar, pengembangan pariwisata budaya dan sejarah (TWB) yang mengandalkan kekayaan alam, adat, sejarah dan budaya pada kawasan permukiman dan perdesaan tradisional maupun kawasan peninggalan kerajaan, serta situs peninggalan sejarah diarahkan pada kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara, Sinjai, Bone, Bulukumba, Gowa, Bulukumba serta Kota Makassar dan Kota Palopo. Pengembangan kawasan pariwsata budaya Tana Toraja dan Taman Nasional Takabonerate didukung oleh penetapan kawasan tersebut sebagai Destinasi Pariwisata Nasional (DPN) dan sebagai Kawasan Strategi Pariwisata Nasional (KSPN) sebagaimana arahan Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2011 Tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPARNAS). Pengembangan kawasan pariwisata diharapkan dapat mendukung pertumbuhan dan penciptaan lapangan pekerjaan yang bermuara pada peningkatan ragam sumber dan volume pendapatan masyarakat local yang diharapkan tidak menurunkan kualitas lingkungan dan terganggunya habitat berbagai flora dan fauna. Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil merupakan bagian dari sumberdaya alam dan merupakan kekayaan yang perlu dijaga kelestariannya serta dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, generasi sekarang dan yang akan datang. Potensi demikian memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah, seperti potensi perikanan, potensi jasa lingkungan, potensi energi kelautan dan pertambangan. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil memerlukan perencanaan sehingga pengelolaan dan pemanfaatannya tidak berdampak terhadap perubahan ekosistem dan menurunnya mutu lingkungan. Wilayah pesisir Sulawesi Selatan mempunyai peran sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat pedesaan pantai dan pembangunan ekonomi wilayah secara keseluruhan.Wilayah ini mengandung berbagai sumberdaya dan potensi ekonomi seperti aneka jenis ikan, obyek wisata dan potensi geografis yang mendukung jalur lalulintas angkutan laut. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir Provinsi Sulawesi Selatan menghendaki adanya keberlanjutan (sustainability), mengingat wilayahnya terdapat beraneka ragam sumberdaya yang memungkinkan pemanfaatan secara berganda baik dari kepentingan pertumbuhan ekonomi maupun keberlanjutan pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu perlu ada kesatuan wawasan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya pesisir melalui perencanaan yang rasional dan terintegrasi antara sektor dan pemangku kepentingan, diwujudkan dalam rencana zonasi yang menentukan arah penggunaan sumber daya wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Pengembangan kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup berupa kawasan wisata bahari, kawasan berfungsi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-14

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

lindung, dan kawasan bendungan diarahkan dengan menyeimbangkan antara upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan pelestarian fungsi lingkungan hidup guna menjaga keberlanjutan daya dukung sumber daya alam dan lingkungan hidup terhadap pelaksanaan pembangunan Sulawesi Selatan. 2.1.3. Wilayah Rawan Bencana Bencana yang berpotensi melanda wilayah Provinsi Sulawesi Selatan adalah banjir, gerakan tanah, gempa bumi, dan tsunami. Banjir yang terjadi di Provinsi Sulawesi Selatan disebabkan karena terjadinya proses degradasi kawasan lindung yang sebagian besar berupa hutan lindung baik di hulu maupun di hilir daerah sungai yang sering dijumpai pada kawasan perdesaan dan juga disebabkan oleh sistem drainase yang tidak berfungsi dengan optimal serta tersumbatnya sungai dan saluran air oleh sampah yang biasanya terjadi di kawasan perkotaan. Berdasarkan data tahun 2012, luas wilayah genangan di Provinsi Sulawesi Selatan seluas 5.154 Km2 atau sekitar 20% dari luas kawasan budidaya yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan yang pada umumnya merupakan kawasan sentra produksi pertanian. Kawasan rawan bencana banjir di Provinsi Sulawesi Selatan ditetapkan di wilayah Kabupaten Jeneponto, Maros, Pangkejene Kepulauan, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Bone, Pinrang, Luwu, dan Luwu Timur. Berdasarkan proses terbentuknya Pulau Sulawesi, maka terdapat garis sesar gempa memanjang dari perairan kanan dan kiri Pulau Selayar menuju ke utara melewati Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Sidrap, bercabang di Kabupaten Enrekang yang merupakan kawasan pengaruh kegempaan. Garis sesar gempa ini menunjukkan daerah rawan gempa di daerah yang dilewatinya yang berpusat di Kabupaten Bone, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Luwu, Kabupaten Luwu Utara. Selain daripada itu garis sesar di sebelah barat Kabupaten Pinrang dan di sebelah selatan Selat Makassar menyebabkan daerah pantai di kabupaten Pinrang, kabupaten Bulukumba, dan kabupeten Selayar serta Kota Makassar rawan terhadap bencana Tsunami. Berdasarkan peta gerakan tanah Provinsi Sulawesi Selatan, wilayah Provinsi Sulawesi Selatan didominasi oleh zona kerentanan gerakan tanah rendah dan menengah. Hal ini mengindikasikan bahwa bencana gerakan tanah di Provinsi Sulawesi Selatan sangat dipengaruhi oleh kegiatan manusia khususnya pada pemanfaatan ruang di wilayah DAS dan pegunungan yang rentan akan bencana longsor. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan wilayah yang rawan bencana gerakan tanah adalah Kabupaten Takalar, Gowa, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Bone, dan Luwu Timur.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-15

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011

Gambar 1.1 Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah

Sumber : RTRW Prov. Sul-Sel Tahun 2012

2.1.4. Demografi Perkembangan penduduk Sulawesi Selatan hingga tahun 2012 memperlihatkan peningkatan dengan tingkat pertumbuhan penduduk dari tahun 2006 hingga tahun 2011 sebesar 1,2 persen. Jumlah penduduk Provinsi Sulawesi Selatan pada Tahun 2012 adalah sebesar 8.190.222 jiwa. Jumlah penduduk terbesar Tahun 2012 di Kota Makassar yang merupakan pusat kegiatan perekonomian dan ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dengan jumlah penduduk sebesar 1.369.606 jiwa. Terendah adalah Kab. Selayar 124.553 jiwa Tabel 2.7 Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Kabupaten/Kota 01.Selayar 02.Bulukumba 2008 119.811 390.543 2009 121.749 394.746 Tahun 2010 122.055 394.560 2011 123.283 398.531 2012 124.553 400.990

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-16

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Kabupaten/Kota 03.Bantaeng 04.Jeneponto 05.Takalar 06.Gowa 07.Sinjai 08.Maros 09.Pangkep 10.Barru 11.Bone 12.Soppeng 13.Wajo 14.Sidrap 15.Pinrang 16.Enrekang 17.Luwu 18.Tator 19.LuwuUtara 20.LuwuTimur 21.TorajaUtara 22.Makassar 23.Pare-Pare 24.Palopo Provinsi

Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 172.849 174.176 176.699 178.477 179.505 332.334 334.175 342.700 346.149 348.138 255.154 257.974 269.603 272.316 275.034 605.876 617.317 652.941 659.512 670.465 225.943 228.304 228.879 231.182 232.612 303.211 306.687 319.002 322.212 325.401 295.137 298.701 305.737 308.814 311.604 161.732 162.985 165.983 167.653 168.034 705.717 711.748 717.682 724.905 728.737 229.502 230.744 223.826 226.079 226.202 378.512 381.066 385.109 388.985 389.552 250.666 252.483 271.911 274.648 277.451 346.988 351.042 351.118 354.652 357.095 188.070 190.576 190.248 192.163 193.683 324.229 328.180 332.482 335.828 338.609 234.534 240.249 221.081 223.306 224.523 313.674 321.979 287.472 290.365 292.765 230.821 237.354 243.069 245.515 250.608 226.478 229.090 216.762 218.943 220.304 1.253.656 1.271.870 1.338.663 1.352.136 1.369.606 117.591 118.842 129.262 130.563 132.048 141.996 146.482 147.932 149.421 152.703 7.805.024 7.908.519 8.034.776 8,115,638 8.190.222

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Tabel 2.8 Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012

Kelompok Umur
-1

Laki-Laki
-2

Perempuan
-3

Jumlah
-4

0-4 5-9 10-14 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44 45-49 50-54 55-59 60-64 65-69

414.976 451.100 436.605 376.776 334.697 325.286 303.599 297.836 259.191 206.260 171.763 131.534 104.184 78.512

391.231 423.854 412.744 375.495 356.875 351.711 328.303 314.529 279.780 230.110 190.740 142.396 128.693 97.930

806.207 874.954 849.349 752.271 691.572 676.997 631.902 612.365 538.971 436.370 362.503 273.930 232.877 176.442
II-17

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Kelompok Umur
-1

Laki-Laki
-2

Perempuan
-3

Jumlah
-4

70-74 75+ Total

52.447 58.889 4.003.655

71.777 90.399 4.186.567

124.224 149.288 8.190.222

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2012

2.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.2.1. Kesejahteraan dan Pemerataan Ekomoni 2.2.1.1. Pertumbuhan ekonomi Perekonomian Sulawesi Selatan selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Pada tahun 2008 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sebesar 7,78 persen, pada tahun 2009 melambat menjadi sebesar 6,23 persen. Namun pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi kembali meningkat menjadi 8,19 persen. Sementara pada tahun 2011 pertumbuhan melambat menjadi 7,61 dan kembali meningkat pada tahun 2012 menjadi 8,37 persen. Namun demikian, dalam kurun waktu 2008-2012 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan selalu berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Nasional yaitu 6,23 persen dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan kinerja pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan telah melampaui kinerja Nasional, bahkan mengalami peningkatan pertumbuhan yang tinggi pada tahun 2012 ketika pertumbuhan nasional menurun.
Tabel 2.9 Perkembangan Laju Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No Pertumbuhan PDRB 1 2 Nasional Prov Sul-Sel

2008 6,0 7.78

2009 4,63 6.23

2010 6,2 8.19

2011 6,49 7.61

Rata-Rata 2012 Pertumbuhan Ekonomi 6,23 5,94 8.37 7,64

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Meningkatnya perkembangan ekonomi ini ditandai dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Selatandari tahun ke tahun. Perkembangan Nilai PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 selama kurun waktu 2008-2012 mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 nilai PDRB tercatat sebesar Rp. 44,549.80milyar kemudian pada tahun 2012 meningkat menjadi Rp. 59,708.60 milyar sehingga selama periode tersebut PDRB ADHK Provinsi Sulawesi Selatan naik sebesar Rp. 15,158.79milyar. 2.2.1.2. PDRB Nilai dan kontribusi sektor dalam PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mengalami peningkatan selama kurun waktu 2008-2012.Sebagai daerah yang bertumpu pada hasil-hasil pertanian, maka sektor pertanian masih memberikan kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB Provinsi Sulawesi Selatan. Pada tahun 2012, kontribusi Sektor Pertanian terhadap PDRB Sulawesi Selatan mencapai nilai Rp.15.494,20 milyar, meskipun sepanjang tahun 20082012 peranan sektor ini menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-18

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.10 Nilai dan Kontribusi Sektor PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No. 1 2 3 4 5 6 Bidang /Urusan Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran 7 Pengangkutan & Komunikasi 8 Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan 9 Jasa-Jasa PDRB ADHK Milyar Milyar 5,003.60 44,549.80 11.23 100.00 5,308.80 47,326.10 11.22 100.00 5,535.60 51,199.90 10.81 100.00 5,879.60 55,098.90 10.67 100.00 6,058.80 59,708.60 10.15 100.00 Milyar 2,881.10 6.47 3,204.00 6.77 3,742.10 7.31 4,297.30 7.80 4,979.10 8.34 Milyar 3,651.40 8.20 4,023.70 8.50 4,619.90 9.02 5,179.30 9.40 5,949.60 9.96 Milyar Milyar 2,328.40 7,034.60 5.23 15.79 2,656.80 7,792.10 5.61 16.46 2,900.30 8,698.80 5.66 16.99 3,250.80 9,631.90 5.90 17.48 3,638.70 10,605.60 6.09 17.76 Milyar 451.00 1.01 490.40 1.04 529.80 1.03 575.40 1.04 647.50 1.08 Milyar 6,241.40 14.01 6,468.80 13.67 6,869.40 13.42 7,394.50 13.42 8,083.50 13.54 Satuan Milyar Milyar Tahun 2008 12,923.40 4,034.90 % 29.01 9.06 2009 13,528.70 3,852.80 % 28.59 8.14 2010 13,844.70 4,459.30 % 27.04 8.71 2011 14,737.40 4,152.70 % 26.75 7.54 2012 15,494.20 4,251.60 % 25.95 7.12

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, terjadi pergeseran struktur ekonomi Sulawesi Selatan yang mengarah pada keseimbangan dan perbaikan struktur ekonomi. Kondisi struktur ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun 2012 memperlihatkan keadaan sebagai berikut : kontribusi sektor pertanian 25,95 persen ADHK dan 24,79 persen ADHB; sektor pertambangan dan penggalian 7,12 persen ADHK dan 5,52 persen ADHB; sektor industri dan pengolahan 13,54 persen ADHK dan 12,23 persen ADHB; sektor listrik, gas dan air bersih 1,08 persen ADHK dan 0,90 persen ADHB; sektor konstruksi 6,09 persen ADHK dan 5,71 persen ADHB; sektor perdagangan, hotel dan restaurant 17,76 persen ADHK dan 17,78 persen ADHB; sektor pengangkutan dan komunikasi 9,96 persen ADHK dan 8,14 persen ADHB; sektor keuangan, persewahan dan jasa 8,34 persen ADHK serta 7,40 persen ADHB; sektor jasa jasa 10,15 persen ADHK dan 17,52 persen ADHB.
Tabel 2.11 Nilai dan Kontribusi Sektor PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No 1 Bidang/Urusan Pertanian Satuan Milyar Tahun 2008 25,071.80 % 29.45 2009 28,008.20 % 28.02 2010 30,442.40 % 25.83 2011 34,788.20 % 25.32 2012 39,518.40 % 24.79

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-19

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 2 3 4 5 6

Bidang/Urusan Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran

Satuan Milyar Milyar Milyar Milyar Milyar

Tahun 2008 6,201.50 11,060.40 838.10 4,253.50 13,913.80 % 7.28 12.99 0.98 5.00 16.34 2009 5,503.80 12,514.90 949.20 5,387.80 16,690.30 % 5.51 12.52 0.95 5.39 16.70 2010 7,119.70 14,457.30 1,088.00 6,534.50 20,435.00 % 6.04 12.27 0.92 5.54 17.34 2011 8,345.80 16,789.30 1,245.90 7,760.90 24,236.30 % 6.07 12.22 0.91 5.65 17.64 2012 8,803.00 19,492.50 1,439.20 9,109.80 28,349.60 % 5.52 12.23 0.90 5.71 17.78

7 8

Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan

Milyar Milyar

6,972.00 5,203.00

8.19 6.11

7,954.00 6,241.50

7.96 6.24

9,445.60 7,810.10

8.01 6.63

10,849.80 9,513.70

7.90 6.92

12,982.90 11,803.30

8.14 7.40

Jasa-Jasa PDRB ADHB

Milyar Milyar

11,629.00 85,143.10

13.66 100.00

16,704.90 99,954.60

16.71 100.00

20,529.70 117,862.30

17.42 100.00

23,859.80 137,389.70

17.37 100.00

27,928.40 159,427.10

17.52 100.00

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Dari tabel pertumbuhan kontribusi sektor PDRB ADHK dan ADHB. menunjukkan perkembangan kontribusi masing-masing sektor terhadap pembentukan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) Provinsi Sulawesi Selatan selama periode 2008-2012. Kontribusi terbesar di dominasi oleh sektor pertanian; sektor perdagangan, hotel dan restoran; sektor jasa-jasa; dan sektor industri.Sedangkan sektor pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan dan jasa perusahaan; konstruksi; serta pertambangan dan penggalian mempunyai peranan relatif kecil, tetapi berpengaruh terhadap sektor yang dominan. Kontribusi sektor pertanian pada tahun 2008 terhadap PDRB atas dasar harga berlaku mempunyai andil sebesar 29,45 persen, tetapi terjadi penurunan hingga 24,79 persen pada tahun 2012. Demikian halnya dengan kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2008 mencapai 29,01 persen dan terjadi penurunan hingga 25,95 persen pada tahun 2012. Sementara itu, kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2008 terhadap PDRB atas dasar harga berlaku sebesar 16,34 persen dan mengalami peningkatan sebesar 17,78 persen pada tahun 2012. Sedangkan kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran pada tahun 2008 terhadap PDRB atas dasar harga konstan sebesar 15,79 persen, terjadi peningkatan pada tahun 2012 sebesar 17,76 persen. Sektor perdagangan, hotel dan restoran memberikan kontribusi terbesar kedua setelah sektor Pertanian dalam perekonomian Sulawesi Selatan. Kontribusi sektor jasa-jasa pada tahun 2008 terhadap PDRB atas dasar harga berlaku tercatat 13,66 persen dan meningkat menjadi 17,52 persen pada tahun 2012. Namun kontribusi sektor jasa-jasa terhadap PDRB atas dasar harga konstan pada tahun 2008 menurun dari 11,23 persen menjadi 10,15 persen pada tahun 2012. Sektor jasa-jasa merupakan sektor yang relatif besar memberi kontribusi dalam perekonomian Sulawesi Selatan tetapi peranannya sempat tergeser oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-20

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Selanjutnya kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB atas dasar harga berlaku pada tahun 2008 mencapai 12,99 persen dan mengalami penurunan menjadi 12,23 persen pada tahun 2012. Sementara kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDRB atas dasar harga konstan juga mengalami penurunan dari 14,01 persen pada tahun 2008 menjadi 13,54 persen pada tahun 2012. Penurunan tersebut disebabkan oleh dampak kenaikan harga BBM dan pengaruh situasi perekonomian dunia yang kurang kondusif akibat krisis finansial global, sehingga kontribusi sektor industri masih belum banyak bergerakhingga tahun 2012.
Tabel 2.12 Pertumbuhan Kontribusi Sektor PDRB ADHB& ADHK Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
2008 No 1 2 3 4 5 6 7 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air bersih Konstruksi Perdagangan Hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, 8 9 Persewaan, & Jasa Perusahaan Jasa-Jasa 13.28 (1.89) 22.36 (0.12) 4.22 (3.62) (0.30) (1.30) 0.87 (4.91) (1.21) 2.40 2.18 4.68 6.12 7.96 4.50 6.71 6.92 6.92 (1.68) 4.41 (2.82) 3.73 0.71 6.13 (1.46) 4.18 3.12 6.00 8.01 3.04 11.23 3.23 7.90 2.18 7.41 4.27 2.86 3.83 0.91 3.19 1.89 1.74 4.15 2.89 1.16 0.80 3.29 1.61 (5.55) 4.38 (3.53) 2.36 (2.79) (0.14) (1.76) 0.92 (0.45) 3.84 (1.75) 0.86 (3.62) (2.44) (2.03) (1.84) (0.38) 0.03 0.05 0.88 HB % (2.40) (14.40) HK % (1.57) (9.95) HB % (4.84) (24.40) 2009 HK % (1.46) (10.11) HB % (7.82) 9.71 2010 HK % (5.41) 6.98 HB % (1.97) 0.56 2011 HK % (1.08) (13.47) HB % (2.11) (9.10) 2012 HK % (2.98) (5.52)

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Dari perkembangan kontribusi masing-masing sektor terhadap PDRB di Provinsi Sulawesi Selatan, maka dapat digambarkan pertumbuhan kontribusi sektor dominan (Pertanian) selama kurun waktu 2008-2012 Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK)kecenderungan bertumbuh negati, artinya telah terjadi pergeseran struktur ekonomi Sulawesi Selatan dari Sektor Pertanian ke Sektor Perdagangan Hotel dan Restoran. 2.2.1.3. Inflasi Laju inflasi Provinsi Sulawesi Selatan lima tahun terakhir mengalami fluktuasi yang cukup besar. Pada tahun 2008 inflasi Sulawesi Selatancukup tinggi yaitu mencapai12,40 persen yang merupakan inflasi tertinggi selama lima tahun terakhir akibat dampak krisis moneter.Namun pada tahun 2009 inflasi menurun menjadi 3,39 persen, dan kembali meningkat sebesar 6,56 persen di tahun 2010.Sementara pada tahun 2011 inflasi kembali turun menjadi 2,88 persen, selanjutnya meningkat di tahun 2012 sebesar 4,41 persen.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-21

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.13 Perkembangan Laju Inflasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No 1 2

Inflasi Nasional Prov. Sul-Sel

Satuan % %

Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 11,06 2,78 6,96 3,79 4,3 12,40 3,39 6,56 2.88 4.41

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Tahun 2008, inflasi di Sulawesi Selatan disumbang dari inflasi kelompok bahan makanan 21,48 persen dan dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 14,47 persen. Kemudian, pada kondisi tahun 2012 inflasi di Sulawesi Selatan mengalami penurunan menjadi 4,41% yang disumbang oleh inflasi pada komponen sandang sebesar 8,70 persen; komponen kesehatan sebesar 7,66 persen; dan bahan makanan6,56 persen. 2.2.1.4. PDRB Per Kapita Salah satu indikator yang dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat pada suatu wilayah adalah dengan melihat tingkat pendapatan penduduk wilayah tersebut, dan PDRB perkapita merupakan proxy indicator untuk menentukan tingkat pendapatan per kapita di suatu wilayah. Dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi dan makin membaiknya struktur ekonomi Sulawesi Selatan, menciptakan kondisi pendapatan perkapita yang meningkat secara signifikan dan peningkatan kesempatan kerja yang semakin meningkat serta makin berkurangnya tingkat pengangguran.
Tabel 2.14 PDRB Per Kapita Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No 1. 2. 3.

Indikator Nilai PDRB (Rp) Jumlah Penduduk (jiwa) PDRB perkapita (Rp/jiwa)

2008 85,143.10 7.805.024

2009 99,954.60 7.908.519

Tahun 2010 2011 2012 117,862.30 137,389.70 159,427.10 8.034.776 8,115,638 8.190.222

10,825,425 12,567,364 14,669,010 16,929,030 19,472,249

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Sementara perkembangan PDRB per kapita Kabupaten/Kota selama tahun 2007-2011 menunjukkan peningkatan setiap tahun, kecuali Kabupaten Tana Toraja yang mengalami penurunan pada tahun 2008-2010 dari PDRB per kapita tahun 2007 yaitu 8.217.545 juta rupiah menjadi 6.658.067 juta rupiah dan Kabupaten Luwu Timur pada tahun 2009 dari PDRB per kapitan tahun 2007 yaitu 28.830.814 juta rupiah menjadi 27.013.744 juta rupaih. Walaupun Kabupaten Luwu Timur mengalami penurunan PDRB per kapita pada tahun 2009, namun Kabupaten Luwu Timur adalah Kabupaten yang PDRB per Kapita tertinggi di Sulawesi Selatan pada tahun 2007 dan tahun 2011. Sedangkan Kabupaten yang PDRB per kapita terendah di Sulawesi Selatan pada tahun 2007 dan tahun 2011 adalah Kabupaten Jeneponto.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-22

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.15 Perkembangan PDRB Per Kapita Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2011

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kab/Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo Provinsi

2008 (Rp) 6,471,168 6,967,180 7,140,044 4,610,849 5,885,433 5,529,628 8,763,212 5,729,993 12,776,755 7,460,311 7,540,910 8,718,841 10,257,960 9,057,342 10,810,450 7,210,200 8,264,778 5,109,776 8,254,408 30,055,724 5,235,498 20,066,123 10,315,544 9,926,422 10,825,425

Tahun 2009 (Rp) 2010 (Rp) 7,600,677 9,272,673 8,304,680 9,537,341 8,728,416 10,366,630 5,498,174 6,634,117 6,890,922 7,622,678 6,723,419 7,783,598 10,535,799 12,293,670 6,822,748 8,144,361 15,187,789 17,594,543 8,723,197 10,036,580 8,985,077 10,492,627 10,360,170 12,189,646 12,148,525 14,046,563 10,949,482 12,381,995 12,891,200 15,068,399 8,557,801 10,099,496 9,698,354 11,181,456 5,728,578 6,658,056 9,399,879 10,673,524 27,013,744 34,123,050 5,868,904 6,917,434 23,690,417 27,645,085 11,900,669 13,893,981 11,409,601 13,160,423 12,567,364 14,669,010

2011 (Rp) 11,242,919 10,755,395 12,209,399 7,730,819 8,696,171 8,993,574 13,994,793 9,432,271 20,766,938 11,358,620 12,188,533 14,195,790 17,111,133 15,350,303 17,529,224 11,925,764 12,956,485 8,053,762 12,298,014 39,387,454 8,319,159 32,118,182 15,881,651 15,291,036 16,929,030

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2012

2.2.1.5. Paritas Daya Beli (PDB) Paritas daya beli Provinsi Sulawesi Selatan selama periode 2008 hingga 2012 mempunyai kecendrungan yang terus meningkat yaitu dari Rp. 630,80 pada tahun 2008 meningkat menjadi Rp. 643,59 pada tahun 2012.
Tabel 2.15 Paritas Daya Beli Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No 1.

Indikator PDB (Rp)

2008 630,80

2009 635,5

Tahun 2010 636,6

2011 640,3

2012 643,59

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-23

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.2.1.6.Indeks Gini Ratio Selama kurun 2008-2012, Gini Rasio cenderung meningkat dari 0,36 pada tahun 2008 menjadi 0,41 tahun 2012. Pada tahun 2008, Gini Rasio Sulawesi Selatan diatas Gini Rasio Nasional yaitu 0,35 dan pada tahun 2012 Gini Rasio Provinsi Sulawesi Selatan dan Nasional sama-sama mencapai 0,41.Angka Gini Rasio tersebut menyiratkan bahwa distribusi pendapatan penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan masih timpang.Namun ketimpangan pendapatan penduduk Sulawesi Selatan masih termasuk kategori ketimpangan sedang.
Tabel 2.16 Indeks Gini Ratio Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No 1 2

Gini Ratio Nasional Prov. Sul-Sel

Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 0,35 0,37 0,38 0,41 0,41 0,36 0,39 0,40 0,41 0,41

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

2.2.1.7.Penduduk Miskin Jumlah penduduk miskin Provinsi Sulawesi Selatan mengalami penurunan dari tahun 2008 sebesar 1.031.700 jiwa menjadi 805.920 jiwa pada tahun 2012. Sementara itu jika dilihat dari persentasenya, selama kurun waktu 2008-2012 tingkat kemiskinan Provinsi Sulawesi Selatan juga mengalami penurunan. Tingkat kemiskinan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2008 tercatat mencapai 13,34 persen kemudian menurun menjadi 9,82 persen pada tahun 2012. Tingkat kemiskinan Provinsi Sulawesi Selatan tersebut berada dibawah rata-rata nasional yaitu 11,66 persen.
Tabel 2.17 Jumlah Dan Persentase Penduduk Miskin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 Penduduk Miskin Jumlah Kota+Desa a. Perkotaan b. Perdesaan 2 PersentaseKota+Desa a. Perkotaan b. Perdesaan 3 4 Jumlah Nasional Kota+Desa persentase Nasional Kota+Desa % 15,42 14,15 13,33 12,49 11,66 Satuan Ribu Jw Ribu Jw Ribu Jw % % % Ribu Jw Tahun 2008 1.031,7 150,80 880,90 13,34 6,05 16,79 34.963,3 2009 963,60 124,50 839,10 12,31 4,94 15,81 32.530,00 2010 913,40 119,20 794,20 11,60 4,70 14,88 31.023,40 2011 832,91 137,02 695,89 10,27 4,48 13,63 30.018,93 2012 805,90 133,60 672,30 9,82 4,44 12,93 28.594,60

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin adalah beras. Pada bulan September 2012, sumbangan pengeluaran beras terhadap Garis Kemiskinan Makanan sebesar 40,18 persen di perdesaan dan 36,71 persen di perkotaan. Selain beras, barangbarang kebutuhan pokok lain yang berpengaruh cukup besar terhadap Garis Kemiskinan Makanan adalah rokok (14,83 persen di perdesaan, 14,06 persen di perkotaan), bandeng (6,03 persen di perdesaan, 6,04 persen di perkotaan), gula pasir (5,23 persen di
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-24

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

perdesaan, 4,56 persen di perkotaan), telur ayam ras (2,37 persen di perdesaan, 3,83 persen di perkotaan), mie instan (3,19 persen di perdesaan, 2,18 persen di perkotaan) minyak goreng (2,33 persen di perdesaan, 2,08 persen di perkotaan), dan ikan teri (1,91 persen di perdesaan, 3,78 persen di perkotaan).
Tabel 2.18 Jumlah Dan persentase Penduduk Miskin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012

Daerah/ Tahun Perkotaan Perdesaan Kota + Desa

Garis Kemiskinan Rph/Kapita/bulan Bukan Makanan Total Makanan 150.162 65.629 215.790 144.931 39.028 183.959 146.849 48.779 195.627

Jumlah penduduk miskin (jiwa) 133,60 672,30 805,90

persentase penduduk miskin 4,44 12,93 9,82

Sumber :BRS BPS - Diolah dari data Susenas Maret 2008- September 2013

2.2.1.8. Angka Kriminalitas Yang Tertangani Jumlah tindak kriminalitas di Provinsi Sulawesi Selatan mengalami peningkatan selama lima tahun terakhir (2008-2012), namun pada tahun 2012 cenderung menurun. Pada tahun 2008 hingga tahun 2011, jumlah tindak kriminalitas meningkat dari 15.137 kasus menjadi 22.051 kasus. Sedangkan jumlah kriminalitas yang tertangani di Provinsi Sulawesi Selatan dari tahun 2008 sampai dengan 2012 cenderung meningkat
Tabel 2.19 Angka Kriminalitas Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
TAHUN No 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Kriminal Jml Kasus Narkoba Jml Kasus Pembunuhan Jml Kasus Seksual Jml Kasus Penganiayaan Jml Kasus Pencurian jml Kasus Penipuan Jml Kasus Pemalsuan Uang 8 Jumlah Tindak Kriminal Selama 1 Tahun 15,137 5,094 17,832 5,944 19,276 6,543 22,051 6,955 21,852 7,335 20 16 18 16 8 7 23 20 14 10 1,154 567 1,224 678 1,437 789 1,850 609 1,649 883 1,726 435 5,310 1,782 6,275 1,964 6,832 1,902 6,830 2,000 3,142 1,973 3,674 2,564 3,896 2,879 4,613 3,307 4,338 3,131 367 284 469 344 438 333 523 435 529 433 104 94 110 95 101 92 114 105 94 80 364 2008 Lapor Selesai 434 463 2009 Lapor Selesai 387 479 2010 Lapor Selesai 460 634 2011 Lapor Selesai 577 798 2012 Lapor Selesai 734

Sumber : Badan Kesatuan Bangsa & Politik Prov. Sul-Sel Tahun 2013
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-25

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.2.2. Kesejahteraan Masyarakat 2.2.2.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Pada Tabel menunjukkan bahwa selama periode 2008 hingga 2012 angka IPM Sulawesi Selatan mengalami peningkatan sebesar 2,5 point, pada tahun 2012, IPM Sulawesi Selatan berada pada peringkat 18 secara nasional. Angka IPM tahun 2012 menurut kabupaten/kota se Sulawesi Selatan memperlihatkan adanya variasi yang relatif besar yaitu dari 65,56 (Jeneponto) hingga 79,49 (Makassar). Penyebab terjadinya variasi angka tersebut disebabkan sebahagian oleh kondisi sosial, ekonomi, kultural serta geografis yang berpengaruh pada bidang pendidikan, kesehatan dan pendapatan/daya beli dari masing-masing daerah.
Tabel 2.20 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Kabupaten/Kota 01. Kep. Selayar 02. Bulukumba 03. Bantaeng 04.Jeneponto 05.Takalar 06.Gowa 07.Sinjai 08.Maros 09.Pangkep 10.Barru 11.Bone 12.Soppeng 13.Wajo 14.Sidrap 15.Pinrang 16.Enrekang 17.Luwu 18.Tator 19.LuwuUtara 20.LuwuTimur 21.TorajaUtara 22.Makassar 23.Pare-Pare 24.Palopo SulawesiSelatan Nasional
1

2008
2

2009
3

2010 69,34 71,19 70,1 64,92 68,62 70,67 69,53 71,12 69,43 70,86 70,17 71,89 70,22 72,37 73,21 74,55 73,98 71,87 74,32 72,79 69,56 78,79 77,78 76,55 71,62 72,27
4

2011 69,85 71,75 70,6 65,24 69,04 71,29 70,25 71,67 69,82 71,19 70,76 72,21 71,03 72,7 73,56 74,81 74,42 72,29 74,67 72,98 70,14 79,08 78,24 76,84 72,14 72,77
5

2012 70,49 72,33 71,51 65,56 70,14 71,60 70,64 72,54 70,65 71,70 71,47 72,57 71,67 73,36 74,39 75,30 74,68 72,90 74,97 73,56 71,04 79,49 78,63 77,28 72,7 73,29
6

68,2 69,9 68,9 64 67,5 69,4 68,7 69,9 68,3 69,5 69 70,8 68,7 71,7 71,9 73,8 73 70,8 73,2 71,7 68,4 77,9 77 75,8 70,2 71,7

68,9 70,6 69,4 64,5 68 70 69,2 70,6 69,1 70,3 69,6 71,3 69,4 72,1 72,6 74,2 73,6 71,4 73,7 72,3 68,9 78,2 77,5 76,1 70,9 71,8

Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

2.2.2.2.Angka Melek Huruf (AMH) Indikator pendidikan yang mempresentasikan dimensi pengetahuan adalah angka melek huruf. Indikator ini dapat dimaknai sebagai ukuran kualitas sumber daya manusia. Indikator melek huruf dapat digunakan untuk mengukur keberhasilan program-program
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-26

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

pemberantasan buta huruf, terutama didaerah pedesaan dimana jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah atau tidak tamat sekolah dasar, menunjukkan kemampuan penduduk disuatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media, menunjukkan kemampuan berkomunikasi secara lisan dan tertulis. Sehingga angka melek huruf dapat mencerminkan potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah. Penduduk berusia 15 tahun ke atas yang melek huruf (komplemen dari buta huruf) dalam kurun waktu tahun 2007-2012 ini terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 sebesar 86,24 persen menjadi 88,39 persen pada tahun 2012. Artinya pada tahun 2012 masih terdapat 11,61 persen penduduk yang berumur 15 tahun ke atas yang tidak dapat membaca dan menulis. Untuk penduduk yang berumur 60 tahun keatas Pada tahun 2007 sebesar 74,13 persen menjadi 73,48 persen pada tahun 2012. Artinya pada tahun 2012 masih terdapat 26,52 persen penduduk yang berumur 60 tahun ke atas yang tidak dapat membaca dan menulis.
Tabel 2.21 Angka Melek Huruf Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No. 1 2 3 4 5 6 7 8

Bidang/Urusan Jumlah Penduduk Usia Diatas 15 Tahun keatas yang bisa membaca menulis Jumlah Penduduk Usia 15 59 Tahun keatas yang bisa membaca menulis Jumlah Penduduk Usia 60 Tahun keatas(Lansia) yang bisa membaca menulis Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun keatas Jumlah Penduduk Usia 60 Tahun keatas (Lansia) AMH Sulawesi Selatan (15 Thn keatas) AMH Sulawesi Selatan 60 Thn keatas (Lansia)

Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 4.809.182 4.942.743 4.885.570 4.946.636 5.008.398 4.635.218 4.924.929 4.708.854 4.767.688 4.827.191 173.964 178.140 176.716 178.948 181.207

5.559.748 5.660.624 5.567.601 5.616.709 5.666.250 1.667.924 1.698.187 1.670.280 1.685.013 1.699.875 86,50 10.43 92,20 87,00 10.49 92,60 87,75 10.58 92,91 88,07 10.62 93,22 88,73 10.66 93,53

AMH Nasional (15 Thn keatas) Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

Tabel 2.22 Angka Melek Huruf Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No.

Kab.Kota

2008 78.27 10.73 89.90 74.92 10.28 85.20

1 Selayar AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 2 Bulukumba AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th

Tahun 2009 2010 78.44 10.76 89.20 75.10 10.30 85.40 78.47 10.76 89.23 75.06 10.29 85.35

2011 79.30 10.81 90.17 75.12 10.30 85.42

2012 80.13 10.99 91.12 75.18 10.31 85.49


II-27

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No.

Kab.Kota

2008 67.36 9.24 76.60 67.27 9.23 76.50 70.44 9.66 80.10 70.18 9.62 79.80 75.98 10.42 86.40 87.94 12.06 82.90 75.54 10.36 85.90 77.12 10.58 87.70 74.75 10.23 84.80 74.40 10.20 84.60 72.11 9.89 82.00 78.71 10.79 89.50

3 Bantaeng AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 4 Jeneponto AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 5 Takalar AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 6 Gowa AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 7 Sinjai AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 8 Maros AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 9 Pangkep AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 10 Barru AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 11 Bone AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 12 Soppeng AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 13 Wajo AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 14 Sidrap AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th 15 Pinrang

Tahun 2009 2010 68.15 9.35 77.50 67.89 9.31 77.20 71.06 9.74 80.80 70.62 9.68 80.30 76.07 10.43 86.50 72.90 10.00 82.90 75.54 10.36 86.90 77.83 10.67 88.50 74.66 10.24 84.90 74.84 10.26 85.10 72.73 9.97 82.70 78.79 10.81 89.60 68.84 9.44 78.28 68.14 9.34 77.48 71.35 9.79 81.14 72.04 9.88 81.92 76.02 10.43 86.45 72.96 10.01 82.97 76.73 10.52 87.25 78.29 10.74 89.03 74.63 10.23 84.86 75.34 10.33 85.67 73.46 10.07 83.53 78.82 10.81 89.63

2011 69.46 9.52 78.98 68.57 9.40 77.97 71.90 9.86 81.76 72.39 9.93 82.32 76.49 10.49 86.98 73.08 10.02 83.10 76.99 10.56 87.55 78.74 10.76 89.23 75.99 10.42 86.41 76.22 10.45 86.67 74.72 10.25 84.97 79.05 10.84 89.98

2012 70.08 9.61 79.69 69.00 9.46 78.46 72.44 9.94 82.38 72.74 9.98 82.72 77.31 10.60 87.91 73.19 10.04 83.23 77.28 10.60 87.88 78.64 10.79 89.43 77.38 10.61 87.99 77.11 10.57 87.68 76.01 10.42 86.43 79.44 10.89 90.33

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-28

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No.

Kab.Kota AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Enrekang AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Luwu AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Tator AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Luwu Utara AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th LuwuTimur AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Toraja Utara AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Makassar AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Parepare AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Palopo AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th Sulawesi Selatan AMH Usia 15-59 Th AMH Usia 60 > AMH Usia 15 >th

16

2008 79.06 10.84 89.90 78.97 10.83 89.80 80.47 11.03 91.50 74.75 10.25 85.00 80.90 11.10 92.00 81.87 11.23 93.10 72.37 9.93 82.30 76.16 10.44 86.60 84.86 11.64 96.50 85.57 11.73 97.30 86.50 10.43 92.20

Tahun 2009 2010 78.88 79.06 10.82 10.84 89.70 89.90 79.15 10.86 90.01 80.47 11.03 91.50 75.19 10.31 85.50 80.99 11.11 92.10 81.80 11.22 93.02 72.99 10.01 83.00 75.78 10.39 86.17 84.51 11.59 96.10 84.62 11.60 96.22 87.00 10.49 92.60 79.27 10.87 90.14 80.45 11.03 91.48 75.87 10.41 86.28 81.22 11.14 92.36 81.91 11.23 93.14 73.69 10.11 83.80 76.04 10.43 86.47 85.34 11.70 97.04 85.36 11.71 97.07 87.00 10.49 92.60

2011 79.55 10.91 90.46 79.53 10.91 90.44 80.58 11.05 91.63 77.18 10.58 87.76 81.66 11.20 92.86 82.00 11.24 93.24 75.00 10.28 85.28 78.08 10.71 86.79 85.44 11.72 97.16 85.59 11.74 97.33 87.75 10.58 92.91

2012 84.04 10.98 91.02 79.80 10.94 90.74 80.71 11.07 91.78 78.50 10.77 89.27 82.10 11.26 93.36 82.08 11.26 93.34 76.32 10.47 86.79 78.08 11.71 97.11 85.55 11.73 97.28 85.82 11.77 97.59 88.39 10.66 93.53

17

18

19

20

21

22

23

24

Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Kondisi angka melek huruf Kabupaten/Kota pada tahun 2011 menunjukkan bahwa Angka melek huruf dibawah rata-rata Provinsi terdapat di 11 kabupaten/Kota, sedangkan 4 Kabupaten/Kota yang angka melek hurufnya sudah diatas rata-rata Provinsi dan Nasional. Kabupaten/Kota yang angka melek huruf diatas Provinsi dan Nasional
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-29

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

adalah Kota Palopo (97,33 persen), Kota Parepare (97,16 persen), Kota Makassar (96,79 persen), dan Kabupaten Luwu Timur (93,24 persen).Sementara angka melek huruf terendah atau dibawah rata-rata Provinsi adalah Kabupaten Jeneponto (77,27 persen) dan Kabupaten Bantaeng (78,98 persen).
Tabel 2.23 Angka Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2011 No Kabupaten/Kota 01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Kep.Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tator LuwuUtara LuwuTimur TorajaUtara Makassar Pare-Pare Palopo Sulawesi Selatan Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang bisa membaca dan menulis 75.057 240.124 96.612 184.239 156.035 379.228 133.118 190.724 183.476 98.893 447.654 142.414 244.819 168.069 222.897 106.686 201.179 122.525 176.526 149.824 117.809 933.910 80.863 93.688 4.946.636 Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas 84.170 279.295 124.157 241.850 191.766 454.424 155.692 221.557 211.537 116.109 511.945 166.777 281.005 193.115 243.003 123.287 223.022 140.784 192.001 163.563 138.424 968.433 89.044 101.749 5.616.709 2011 90,17 85,42 78,98 77,27 81,8 82,32 86,98 83,1 87,55 89,23 86,41 86,67 84,97 89,98 90,46 90,44 91,63 87,76 92,86 93,24 85,28 96,79 97,16 97,33 88,07

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2012

2.2.2.3.Angka Rata Rata Lama Sekolah Selama periode 2008-2012, angka rata-rata lama sekolah menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2008, rata-rata lama sekolah 7,23 tahun dan meningkat menjadi 7,95 tahun pada tahun 2012. Angka ini masih berada di bawah angka rata-rata nasional, yang saat ini (2012) sudah mencapai 7,97 tahun. Ini berarti bahwa secara rata-rata, penduduk Sulawesi Selatan hanya mampu menyelesaikan pendidikan kelas I - II SMP dan putus sekolah pada saat memasuki semester lima di kelas III SMP. Kesenjangan (gap) antara capaian Sulawesi Selatan dan Nasional berangsur-angsur semakin membaik dari tahun ke tahun akibat rata lama sekolah Nasional bergerak lebih lambat dibandingkan dengan capaian rata lama sekolah Sulawesi Selatan.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-30

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Pada tahun 2008, rata lama sekolah Sulawesi Selatan dibandingkan dengan rata lama nasional terdapat selisih 0,27 point dan naik menjadi 0,31 point pada tahun 2009 namun demikian selama tiga tahun kemudian mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi 0,02. Jika situasi ini terus berlanjut, maka capaian angka rata lama sekolah di Sulawesi Selatan akan melampaui angka rata-rata lama sekolah Nasional.
Tabel 2.24 Angka Rata-Rata Lama Sekolah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Kab./Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkajene Kepulauan Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Kota Makassar Kota Pare Pare Kota Palopo Sulawesi Selatan Nasional

Rata-rata Lama Sekolah (tahun) 2008 2009 2010 2011 6,62 6,75 6,95 7,07 6,45 6,69 6,97 7,11 5,80 5,87 5,97 6,10 5,86 5,88 6,20 6,23 6,21 6,23 6,42 6,46 6,36 6,57 6,83 7,23 6,62 6,71 6,74 7,07 6,47 6,50 6,62 6,90 6,52 6,61 6,73 6,94 7,17 7,39 7,61 7,62 6,21 6,38 6,70 6,72 6,85 6,98 7,25 7,28 5,80 6,06 6,22 6,51 7,20 7,24 7,25 7,27 6,88 7,22 7,61 7,62 8,14 8,25 8,30 8,32 7,70 7,71 7,74 7,80 7,43 7,46 7,70 7,74 7,00 7,04 7,46 7,49 7,47 7,75 8,17 8,18 9,66 7,03 7,22 7,67 10,50 10,60 10,82 10,85 10,50 9,63 9,63 9,76 9,45 9,73 10,03 10,04 7,23 7,41 7,84 7,92 7,50 7,72 7,92 7,94

2012 7,19 7,25 6,23 6,26 6,50 7,65 7,42 7,19 7,16 7,63 6,74 7,31 6,81 7,29 7,63 8,34 7,86 7,78 7,52 8,19 8,15 10,88 9,89 10,05 7,95 7,97

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Sementara Angka Rata-rata Lama Sekolah Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan juga menunjukkan kecenderungan meningkat. Kabupaten/Kota yang Rata-Rata Lama Sekolah diatas Provinsi dan Nasional adalah Kota Makassar (10,88 persen), Kota Palopo (10,05 persen), Kota Parepare (9,89 persen), Kab. Enrekang (8,34 persen), dan Kab. Luwu Timur (8,19 persen).Sedangkan Kabupaten yang Rata-rata Lama Sekolah terendah dan dibawah Rata-rata Lama Sekolah Provinsi adalah Kab. Bantaeng (6,23 persen) dan Kab. Jeneponto (6,26 persen).

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-31

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.2.2.4.Angka Partisipasi Kasar Angka Partisipasi Kasar (APK) merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan dan menggambarkan keikutsertaan penduduk pada setiap jenjang pendidikan. Berdasarkan data statistik menunjukkan APK SD/MI selama periode 20082012memperlihatkan kecenderungan menurun. Pada tahun 2008, APK tingkat SD/MI sebesar 111.51 persen yang berarti bahwa jumlah murid yang bersekolah di tingkat SD/MI lebih besar dari total populasi penduduk yang berusia 7 sampai dengan 12 tahun. Sedangkan APK SD/MI pada tahun 2012 menurun menjadi 103.05 persen. Besaran APK yang lebih dari 100% ini disebabkan jumlah siswa, yang ada di SD/MI terdiri dari berbagai kelompok usia. Hal tersebut mengindikasi banyaknya anak-anak usia SD/MI masih ada yang tinggal kelas, namun lebih dominan adalah anak-anak yang masuk SD/MI banyak yang usianya kurang dari 7 tahun.
Tabel 2.25 Angka Partisipasi Kasar Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 1.1. 1.2. 1.3. 2 2.1. 2.2. 2.3. 3 Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikanSD/MI Jumlah penduduk kelompok usia 712 tahun Sul-Sel APK SD/MI Nasional SMP/MTs Jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikanSMP/MTs Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun Sul-Sel APK SMP/MTs Nasional 2008 1.145.592 1.048.643 111,51 111,12 365.296 480.616 76,02 81.25 2009 1.117.812 1.039.874 107,49 113,77 375.115 490.508 76,54 90.58 Tahun 2010 1.131.992 1.042.615 108,57 116.48 379.977 506.322 75,05 91.88 2011 1.109.215 1.086.493 102,09 119.26 423.756 486.256 87,15 95.82 2012 1.096.840 1.064.347 103,05 122,11 466.974 471.929 98,95 99.92

Sumber : - Statistik Indonesia Tahun 2013 - Dinas Pendidikan Prov.Sul-Sel Tahun 2013

SMA/MA/SMK 3.1. Jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikanSMA/MA/SMK 3.2. Jumlah penduduk kelompok usia 16-18 tahun 3.3. Sul-Sel APK Nasional SMA/MA/SMK

228.556 420.624 54,73 59,06

271.087 431.142 62,78 62,55

321.957 476.085 67,71 62,85

285.684 431.766 66,17 64,66

319.253 457.735 69,75

Pada tabel menunjukkan APK SD/MI, APK SMP/MTs, dan APK SMA/MA/SMK menurut Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2012.Pada tahun 2011, APK jenjang pendidikan SD/MI di seluruh kabupaten/kota menunjukkan angka di atas 100%. Sementara capaian APK SMP/MTs Kabupaten/Kota pada tahun 2012. Terdapat beberapa Kabupaten/Kota yang capaian APK SMP/MTs yang menunjukkan capaian di atas capaian provinsi antara lain Kabupaten Takalar (100,23%), Gowa (105,18%), sidrap (103,78%), tanah toraja (103,38%), Luwu Utara (103,32%), Makassar (102,21%), Pare-Pare (106,53%), dan Palopo (109,64%). Selanjutnya capaian APK SMA/MA/SMK Kabupaten/Kota yang berada diatas rata-rata Provinsi (69,75%) antara lain terdapat 12 Kabupaten/Kota yang APK SMA/MA/SMK diatas rata-rata
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-32

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Provinsi, yaitu Kota Bulukumba (76,53%), Kab. Gowa (70,72%), Kab. Sinjai (78,24%), Kab. Maros (70,13%), Kab. Pangkep (73,22%), Kab. Barru (82,02%), Kab. Soppeng (71,47%), Kab. Luwu (79,16%), Kab. Luwu Utara (76,69%), Kab. Luwu Timur (72,37%), Kab. Toraja Utara (71,28%), Pare-Pare (75,22%), Kab. Palopo (75,88%).
Tabel 2.26 Angka Partisipasi Kasar Siswa Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
SD / MI Jumlah Jumlah Siswa Usia Penduduk 7-12 Tahun Usia 7 - 12 bersekolah Tahun di SD/MI SMP / MTs Jumlah Siswa Usia 13-15 Tahun bersekolah di SMP/MTs Jumlah Pendudu APK k Usia 13 (%) - 15 Tahun SMA/MA/SMK Jumlah Siswa Usia 16-18 Tahun bersekolah di SMA/MA/ SMK 4.632 13.285 5.694 12.926 9.938 21.255 11.658 12.689 11.464 7.479 26.745 8.896 11.116 10.095 14.810 10.311 15.791 8.687 11.981 8.553 8.077 59.453 7.396 6.892 319.253 Jumlah Pendudu APK k Usia 16 (%) - 18 Tahun 6.736 17.359 3.053 20.133 15.650 30.054 14.901 18.093 15.657 9.118 41.439 12.447 24.190 16.244 22.944 17.301 19.949 12.818 15.232 11.819 11.331 76.231 9.833 9.083 64.18 76.53 62.90 64.01 63.50 70.72 78.24 70.13 73.22 82.02 64.54 71.47 45.95 62.15 64.55 59.60 79.16 67.77 76.69 72.37 71.28 77.99 75.22 75.88 74.30

No.

Kab./Kota

APK (%)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kep. Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu utara Luwu Timur Toraja utara Kota Makassar Kota Pare-pare Kota Palopo Nasional

15.631 53.978 24.561 57.721 37.674 78.532 32.085 44.048 49.925 22.955 101.914 29.011 51.057 34.762 56.389 28.611 46.398 49.196 30.737 34.766 33.719 148.523 16.930 17.717
1.096.840

15.212 52.813 23.982 56.812 36.159 77.238 30.990 43.070 46.888 21.880 100.285 27.932 50.031 33.820 55.215 28.056 45.632 47.925 30.188 34.211 33.053 139.647 16.000 17.308
1.064.347

102,75 102,21 102,41 101,60 104,19 101,68 103,53 102,27 106,48 104,91 101,62 103,86 102,05 102,79 102,13 101,98 101,68 102,65 101,82 101,62 102,01 106,36 105,81 102,36
103.05 122.11

6.495 21.893 9.865 25.128 16.651 33.783 13.014 18.303 19.310 9.918 40.271 12.371 21.248 16.087 23.955 11.813 19.240 19.092 14.173 15.142 14.768 62.821 6.716 14.914
466.974

6.874 22.228 10.669 25.246

94,49 98,49 92.47 99,53

16.612 100,23 32.119 105,18 13.146 18.812 20.383 10.082 44.311 12.954 21.354 24.868 12.236 20.217 98.99 97,29 94,74 98,37 90,88 95,50 99,50 96,33 96,54 95,17

15.501 103,78

18.468 103,38 13.718 103,32 15.824 14.938 6.305


471.929

95,69 98,86 106.53


98.95 99.92

61.465 102,21 13.602 109.64

Sulawesi Selatan

457.735 69.75

Sumber : - Statistik Indonesia Tahun 2013 - Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-33

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.2.2.5. Angka Pendidikan Yang Ditamatkan Perkembangan angka pendidikan yang ditamatkan (APT) menurut jenjang pendidikan di Provinsi Sulawesi Selatan selama kurun waktu 2008-2011 dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.27 Angka Pendidikan Yang ditamatkan (APT) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2011 No . 1 APT SD Laki-Laki Perempuan APT (%) SMP Laki-Laki Perempuan APT (%) SMA Laki-Laki Perempuan APT (%) PERGURUAN TINGGI Laki-Laki Perempuan APT (%) JUMLAH 2007 876.070 578.586 297.484 39,57 557.969 379.919 178.050 25,20 607.656 436.862 170.794 27,45 172.161 112.104 60.057 7,78 2.213.85 6 2008 973.982 624.068 349.914 40,13 574.089 376.115 197.974 23,65 634.478 432.350 202.128 26,14 244.736 124.953 119.783 10,08 2.427.28 5 Tahun 2009 749.113 477.821 271.292 33,14 580.757 382.712 198.045 25,69 681.283 458.565 222.718 30,14 249.605 120.958 128.647 11,04 2.260.75 8 2010 796.853 521.577 275.276 33,41 558.975 352.094 206.881 23,44 707.713 479.897 227.816 29,67 321.535 160.102 161.433 13,48 2.385.07 6 2011 847.760 553.385 294.375 33,37 581.536 396.716 184.820 22,89 757.597 502.968 254.629 29,82 353.497 174.022 179.475 13,92 2.540.39 0

Sumber : - Statistik Indonesia Tahun 2012 - Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2012

Dari data tersebut di atas menggambarkan Angka Pendidikan yang Ditamatkan (APT) pada tahun 2007 untuk jenjang pendidikan SD 39,57 persen, APT SMP 25,20 persen, APT SMA 27,45 persen dan APT PT 7,78 persen. Sedangkan pada tahun 2011, APT SD 33,37 persen, APT SMP 22,89 persen, APT SMA 29,82 persen dan APT PT 13,92 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar tenaga kerja yang tersedia tamat SD, kemudian tamatan SMP, namun sudah banyak pula yang tamatan SMA. 2.2.2.6.Angka Partisipasi Murni (APM) Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu. Seperti APK, APM juga merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. Jika dibandingkan APK, APM merupakan indikator daya serap yang lebih baik karena APM melihat partisipasi penduduk kelompok usia standar di jenjang pendidikan yang sesuai dengan standar tersebut. APM SD/MI di Provinsi Sulawesi Selatan mengalami penurunan dari 92,17 persen pada tahun 2008 menjadi 97.90 persen pada tahun 2012. Sementara APM pada jenjang SMP/MTs pada tahun yang sama mengalami peningkatan, yaitu dari 61,06 persen di tahun 2008 mencapai 68,27 persen pada tahun 2012. Demikian pula APM
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-34

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

SMA/MA mengalami peningkatan dari 41,99 persen pada tahun 2007 mencapai 47,92 persen pada tahun 2011.
Tabel 2.28 Angka Partisipasi Murni Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No. 1. 1.1 1.2 1.3 2 2.1 2.2 2.3 3 3.1 3.2 3.3 Jenjang Pendidikan Jumlah siswa kelompok usia 7-12 tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI + SDLB Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun APM SD/MI Sul-Sel Nasional Jumlah Siswa kelompok usia 13-15 tahun yang bersekolah dijenjang pendidikan SMP/MTS Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun APM SMP/MTS Sul-Sel Nasional Jumlah siswa kelompok usia 16-18 Tahun yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/MA/SMK Jumlah penduduk kelompok usia 16-18 Tahun APM SMA/MA Sul-Sel Nasional 2008 SD/MI 966.300 1.048.643 92.17% 93.99% 291.333 480.616 61.06% 67.39% 182.260 435.624 41.99% 44.97% 2009 959.522 1.039.874 92.27% 94.37% 302.803 490.508 61.74% 67.43% 181.298 431.142 42.03% 45.11% Tahun 2010 2011 2012 1.041.996 1.064.347 97.90% SMP/MTs 322.186 471.929 68.27%

968.210 1.059.765 1.042.615 1.086.493 92.86% 97.54% 94.76% 91.03% 315.564 506.322 62.32% 67.73% 203.213 476.085 42.75% 45.59% 317.463 486.256 65.29%

68.12% SMA/MA/SMK 206.792 219.347 431.766 47.89% 47.97% 457.735 47.92%

Sumber : - Statistik Indonesia Tahun 2013 - Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Posisi relatif APM SD/MI menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2011 menunjukkan bahwa Kabupaten/Kota yang memiliki APM SD/MI terendah dibandingkan Provinsi, Nasional dan Kabupaten/Kota lainnya adalah Kabupaten Jeneponto (82,05%), Bantaeng (84,91%), Takalar (85,27%), Kota Palopo (86,35%), Luwu Timur (86,37%), Bone (87,66%) dan Sidrap (87,82%). Sedangkan Kab./Kota yang angka APM SD/MI tertinggi diatas rata-rata Provinsi dan Nasional adalah Kota Makassar (91,40%), Kep. Selayar (91,52%), Kab. Wajo (92,38%), Kab. Pangkep (92,41%), Kab. Tana Toraja (92,98%), dan Kab. Toraja Utara (96,94%).
Tabel 2.29 Perkembangan Angka Partisipasi Murni SD Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011
SD / MI Jumlah Siswa Usia No. Kab./Kota 7 - 12 Tahun bersekolah di SD/MI 1 2 Kep. Selayar Bulukumba 14.945 46.922 16.330 53.289 91.52 88.05 Jumlah Penduduk APM Usia 7 - 12 Tahun (%) SMP / MTs Jumlah Siswa Usia 13 - 15 Tahun bersekolah di SMP/MTs 4.136 14.131 SMA/MA/SMK Jumlah Siswa Usia 13 - 15 Tahun bersekolah di SMA/MA/SMK 64.57 61.79 2.267 8.296

Jumlah Penduduk APM Usia 13 15 Tahun 6.406 22.871 (%)

Jumlah Penduduk Usia 16 18 Tahun 4.443 19.258 51.05 43.08 APM (%)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-35

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

SD / MI Jumlah Siswa Usia No. Kab./Kota 7 - 12 Tahun bersekolah di SD/MI 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu utara Luwu Timur Toraja utara Makassar Pare-pare Palopo Sul-Sel Nasional 20.344 38.678 29.360 75.988 29.991 38.504 40.342 19.803 82.964 22.977 41.914 31.341 42.716 27.130 47.941 34.189 37.455 29.597 36.752 148.640 15.215 18.486 972.194 23.958 47.141 34.435 83.998 33.689 43.060 43.655 22.246 94.643 25.414 45.370 35.690 48.013 30.322 52.794 36.769 42.507 34.267 37.914 162.618 16.960 21.408 1.086.490 84.91 82.05 85.27 90.47 89.01 89.42 92.41 89.01 87.66 90.41 92.38 87.82 88.97 89.47 90.81 92.98 88.11 86.37 96.94 91.40 89.70 86.35 97,54 91.03 Jumlah Penduduk APM Usia 7 - 12 Tahun (%)

SMP / MTs Jumlah Siswa Usia 13 - 15 Tahun bersekolah di SMP/MTs 4.822 11.445 9.194 26.802 9.832 12.455 12.735 6.468 29.357 9.034 10.943 9.191 15.496 9.880 16.221 11.494 13.798 10.486 12.515 48.092 4.892 4.044 317.463

SMA/MA/SMK Jumlah Siswa Usia 13 - 15 Tahun bersekolah di SMA/MA/SMK 49.35 51.63 57.08 67.51 66.82 68.99 71.67 64.97 66.47 66.59 53.38 63.11 64.02 73.86 72.38 80.45 66.35 69.05 74.37 65.16 69.86 50.12 65,29 68.12 3.045 7.150 4.299 16.638 6.819 9.801 7.642 5.223 16.868 5.630 6.099 6.382 9.789 5.940 9.856 7.699 8.196 6.124 7.275 35.085 4.705 5.964 206.792

Jumlah Penduduk APM Usia 13 15 Tahun 9.769 22.169 16.107 39.696 14.708 18.052 17.765 9.952 44.170 13.565 20.502 14.567 24.198 13.378 22.410 14.287 20.792 15.187 16.826 73.807 7.001 8.070 486.255 (%)

Jumlah Penduduk Usia 16 18 Tahun 9.073 16.788 11.604 35.707 11.062 17.326 18.664 9.040 37.071 10.753 18.914 13.561 17.948 9.951 21.593 12.973 14.559 11.819 12.919 79.511 7.696 9.533 431.766 33.53 42.60 37.04 46.59 61.65 56.57 40.94 57.77 45.49 52.37 32.25 47.06 54.55 59.69 45.65 59.34 56.29 51.83 56.31 44.13 61.14 62.58 47,89 47.97 APM (%)

Sumber : - Statistik Indonesia Tahun 2012 - Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2012

2.2.2.7.Tabel Angka Kelangsungan Hidup Bayi Dari data menunjukkan bahwa jumlah kematian bayi usia dibawah 1 tahun mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2008 sebesar 849 kematian bayi dari 119.437 kelahiran hidup, menjadi 1.033 jumlah kematian bayi dari 164.013 kelahiran hidup pada tahun 2012. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan kesadaran ibu hamil dalam melakukan kunjungan kehamilan masih kurang.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-36

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.30 Angka Kelansungan Hidup Bayi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No 1 2 3 4

Uraian Kematian Bayi (Jiwa) Kelahiran Hidup (Jiwa) AKB AKHB

2008 849 119.437 7 993

Tahun 2009 2010 824 824 142.573 152.514 6 5 994 995

2011 868 153.425 6 994

2012 1.021 164.013 6 994

Sumber :Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013 Tabel 2.31 Angka Kematian Bayi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KABUPATEN/KOTA Kep.Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tator LuwuUtara LuwuTimur TorajaUtara Makassar Pare-Pare Palopo Sulawesi Selatan 2008 (Jiwa) 32 33 36 10 34 26 26 23 38 11 22 29 32 13 63 65 42 131 48 26 0 61 32 16 849 2009 (Jiwa) 23 20 39 23 18 56 47 47 36 8 48 39 41 29 83 67 40 19 31 34 6 30 10 31 824 Tahun 2010 (Jiwa) 22 35 37 41 21 38 41 38 45 14 53 36 30 64 27 56 28 17 35 48 11 40 12 35 824 2011 (Jiwa) 28 46 23 36 7 60 49 33 36 8 45 33 35 51 44 54 34 28 80 53 37 18 19 11 868 2012 (Jiwa) 21 45 37 46 28 48 48 54 67 14 41 38 61 36 41 53 63 29 54 57 30 72 22 16 1.021

Sumber :Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.2.2.8.Angka Harapan Hidup Angka harapan hidup yang terhitung dari sensus penduduk tahun 1970 adalah 43,2 tahun. Artinya bayi-bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1971 (periode 1967-1969) akan dapat hidup sampai 47 atau 48 tahun. Dan bayi-bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1980 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang yaitu 51,9 tahun, kemudian meningkatkan lagi menjadi 60 tahun, untuk bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1990, selanjutnya bagi bayi yang dilahirkan tahun 2000 memiliki usia harapan hidup menjadi mencapai 63 tahun hingga tahun 2010 mencapai 70 tahun. Usia harapan hidup ini menunjukkan adanya peningkatan kehidupan dan kesejahteraan penduduk Sulawesi
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-37

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Selatan selama 30 tahun sampai 40 tahun terakhir dari 1970 an sampai tahun 2010. Perkembangan angka usia harapan hidup Sulawesi Selatan berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan BPS disajikan dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 2.32 Angka Usia Harapan Hidup Menurut Sensus Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Hasil Sensus Penduduk Tahun 1971 L 41,7 P 44, 6 Tahun 1980 Tahun 1990 L 58, 3 P 61, 8 Tahun 2000 L 61, 1 P 64, 8

L+ P
43,2

L 50, 3

P 53, 3

L+ P
51,9

L+ P
60,0

L+ P
63,0

Thn 2010

L+ P

75,01

Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

Tabel 2.33 Angka Usia Harapan Hidup Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2008-2012

Indikator Angka Usia Harapan Hidup

Satuan Tahun

2008
69,60

2009
69,80

Tahun 2010
70,00

2011
70,20

2012
70,45

Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

Sementara Angka Harapan Hidup (AHH) menurut Kab/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan dalam kurun waktu lima tahun terakhir (tahun 2008-2011) mengalami peningkatan. Berdasarkan tabel menunjukkan usia Harapan Hidup atau rata-rata lama hidup penduduk di Kabupaten/Kota pada tahun 2011 mencapai umur diatas 70 tahun, kecuali Kabupaten Jeneponto (65,15 tahun), Kabupaten Selayar (67,88 tahun), Kabupaten Pangkep (68,96 tahun), dan Kabupaten Barru (69,05 tahun), yang berada dibawah rata-rata usia harapan hidup Nasional yaitu 69,65 tahun, sedangkan Kabupaten Takalar (69,89 tahun) masih berada diatas rata-rata Nasional.
Tabel 2.34 Angka Usia Harapan Hidup Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2011

No Kabupaten/Kota 01. 02. 03. 04. 05. 06. 07. 08. 09. 10. Kep.Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru

2008 67,5 71,3 72,6 64,7 68,7 71,3 71,2 71,1 68,4 68,2

Tahun 2009 2010 67,6 67,7 71,6 71,9 73,1 73,6 64,9 65 69,2 69,5 71,4 71,6 71,6 72 71,7 72,3 68,6 68,8 68,5 68,9

2011 67,88 72,13 73,96 65,15 69,89 71,78 72,24 72,76 68,96 69,05
II-38

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No Kabupaten/Kota 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tator LuwuUtara LuwuTimur TorajaUtara Makassar Pare-Pare Palopo SulawesiSelatan Nasional

2008 69 71,4 69,9 71,6 71,4 74,3 72,8 74 71,1 70,7 73,4 72,9 73,6 72 69,6 69

Tahun 2009 2010 69,4 69,7 71,5 71,6 70,4 70,9 72,1 72,5 71,7 72,1 74,7 75 73,3 73,7 74,1 74,2 71,3 71,6 70,8 70,9 73,5 73,5 73,2 73,6 73,9 74,3 72,3 72,5 69,8 70 69,2 69,4

2011 70 71,74 71,37 72,81 72,28 75,19 74,04 74,22 71,68 71,06 73,58 73,82 74,49 72,59 70,2

Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2012

Meningkatnya pelayanan kesehatan dan kemudahan dalam mengakses pelayanan kesehatan serta meningkatnya kesadaran masyarakat dalam hal kesehatan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan angka usia harapan hidup masyarakat Sulawesi Selatan. 2.2.2.9. Persentase Balita Gizi Buruk Persentase balita gizi buruk tahun 2008 adalah 0,01 persen dari seluruh jumlah balita yaitu 772.504 balita, dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 0,07 persen dari seluruh jumlah balita yaitu 737.615 balita.
Tabel 2.35 persentase Balita Gizi Buruk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang/Urusan Jml Balita Gizi Buruk Jumlah balita persentase Balita Gizi Buruk Satuan Jiwa Jiwa % Tahun 2008 95 772.504 0,01 2009 52 649.586 0,01 2010 144 812.839 0,02 2011 791 753.611 0,10 2012 498 737.615 0,07

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.36 persentase Balita Gizi Buruk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
NO KABUPATEN/KOTA

1 2 3 4

Kep.Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto

% BALITA GIZI BURUK

0,12 0,01 0 0,08

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-39

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

NO

KABUPATEN/KOTA

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tator LuwuUtara LuwuTimur TorajaUtara Makassar Pare-Pare Palopo

% BALITA GIZI BURUK

SULAWESI SELATAN

0,05 0 0,07 0,21 0,26 0,14 0,07 0,23 0,07 0,09 0,15 0,03 0,01 0,07 0,01 0,01 0 0,01 0,48 0,01 0,07

Sumber : Dinas KesehatanProv. Sul-Sel Tahun 2013

2.2.2.10. Persentase Penduduk yang memiliki Lahan Bersertifikat Luas Lahan di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2008 sampai tahun 2011 yaitu 457.650.100 ha. Dari luas lahan tersebut, terdapat 233.250.496 ha lahan milik penduduk yang berstatus sertifikat. Sedangkan rasio penduduk memiliki lahan bersertifikat berkurang dari 38,36 persen pada tahun 2008 menjadi 26,88 persen pada tahun 2012.
Tabel 2.37 Persentase Penduduk yang memiliki Lahan Bersertifikat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Luas Tanah Jumlah penduduk Jumlah lahan yang bersertifikat persentase penduduk 4 memiliki lahan bersertifikat 3,76 6,05 3,67 2,24 2,88 Tahun 2008 457.650.100 7.805.024 29.367.772 2009 457.650.100 7.908.519 47.837.115 2010 457.650.100 8.034.776 29.519.126 2011 457.650.100 8.115.638 18.178.803 2012 457.650.100 8.306.848 23.250.496

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

2.2.2.11.Rasio Penduduk Yang Bekerja Perbandingan jumlah penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja diperoleh rasio penduduk yang bekerja. Rasio penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja tersebut selama tahun 2008-2012 mengalami peningkatan setiap tahun.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-40

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Rasio penduduk yang bekerja pada tahun 2008 adalah 90,96 persen dan terus meningkat hingga pada tahun 2012 menjadi 94,13 persen. Dari angka tersebut, terdapat 94 persen dari angkatan kerja yang ada memperoleh kesempatan kerja, sedangkan sisanya 5,87 persen masih mencari kerja atau pengangguran.
Tabel 2.38 Rasio Penduduk Yang Bekerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Penduduk yang bekerja Angkatan kerja Rasio penduduk yang bekerja Jiwa % 3,447,879.00 90,96 3,536,920.00 91,10 3,571,317.00 91,63 3,612,424.00 93,44 3,560,891.00 94,13 Satuan Jiwa Tahun 2008 3,136,111.00 2009 3,222,256.00 2010 3,272,365.00 2011 3,375,498.00 2012 3,351,908.00

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013

Tabel 2.39 Rasio Penduduk Angkatan Yang Bekerja Dengan Angkatan Kerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Angkatan Kerja Golongan Umur Jumlah Bekerja Mencari Pekerjaan (1) (2) (3) (4=2+3) 15-19 216.494 48.477 264.971 20-24 316.083 64.538 380.621 25-29 444.116 32.674 476.790 30-34 476.865 18.822 495.687 35-39 433.590 14.232 447.822 40-44 435.801 11.494 447.295 45-49 329.341 8.734 338.075 50-54 256.220 8.266 264.486 55-59 182.074 1.106 183.180 60-64 123.771 640 124.411 65+ 137.553 0 137.553 Total 3.351.908 208.983 3.560.891

Sumber : Dinas Tenaga Kerja Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.2.3. Fokus Seni Budaya & Olahraga 2.2.3.1. Jumlah Grup Kesenian& Prasarana Penyelenggaraan Seni & budaya &Jumlah Klub Olahraga Pembangunan bidang seni,budaya dan olahraga sangat erat kaitannya dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat. Pencapaian pembangunan bidang olahraga di Provinsi Sulawesi Selatan, pada tahun 2008 terdapat 1.311 klub olahraga dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 1.532 klub olahraga, sementara jumlah sarana olahraga berupa gedung dan lapangan olahraga pada tahun 2008 berjumlah 2.494 buah, dan meningkat menjadi 2.480 buah pada tahun 2012.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-41

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.40 Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 4 Uraian Jumlah grup kesenian. Jumlah sarana gedung kesenian. Jumlah klub olahraga . Jumlah gedung/lap. olahraga. 2008 80 2 1.311 2.494 2009 102 2 1.311 2.494 Tahun 2010 177 3 1.251 2.357 2011 203 3 1.394 2.305 2012 290 10 1.532 2.480

Sumber : Dinas Pemuda & Olahraga& Dinas Kebudayaan & Pariwisata Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Pada tabel menunjukkan jumlah grup seni di Sulawesi Selatan sebanyak 290, jumlah sarana gedung kesenian sebanyak 10, jumlah gedung/lapangan olahraga sebanyak 2.305, dan jumlah organisasi olahraga sebanyak 779.
Tabel 2.41 Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
No 1` 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Kota Makassar Kabupaten Gowa Kab. Takalar Kab. Jeneponto Kab. Bantaeng Kab. Bulukumba Kab. Selayar Kab. Sinjai Kab. Bone Kab. Soppeng Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Barru Kota. Pare Pare Kab. Pinrang Kab. Sidrap Kab. Wajo Kota. Palopo Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kab. Enrekang Kab. Tana Toraja Kab. Toraja Utara JUMLAH
Jumlah grup kesenian Jumlah sarana gedung kesenian Jumlah gedung/lap. olahraga Jumlah Klub olahraga

27 21 21 12 6 24 4 21 10 17 9 29 16 15 6 12 10 8 5 5 7 5 290

2 1 1 1 1 2 1 1 10

256 8 7 32 43 4 4 32 226 29 13 120 11 82 5 273 571 68 58 72 9 386 103 68 2,480

71 103 10 51 11 8 192 125 12 6 10 10 51 59 50 200 36 60 15 91 199 11 5 8 1.532

Sumber: Dinas Pemuda & Olahraga & Dinas Kebudayaan & Pariwisata Prov. Sul-Sel Tahun 2013
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-42

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.3

Aspek Pelayanan Umum Pelayanan publik atau pelayanan umum merupakan segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa publik yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Propinsi dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat. 2.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib Fokus layanan urusan wajib diarahkan pada urusan pendidikan, kesehatan, penataan ruang, perencanaan pembangunan dll,. 2.3.1.1.Pendidikan a. Pendidikan Dasar a.a.Angka Partisipasi Sekolah Angka partisipasi sekolah (APS) pada jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs mengalami peningkatan setiap tahun selama periode 2008-2012. APS SD/MI (7-12 tahun) meningkat dari 95,71 pada tahun 2008 menjadi 97,59 pada tahun 2012 , demikian pula APS SMP/MTs (13-15 tahun) meningkat dari 78,99 menjadi 87,69 pada tahun 2012. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 1.1. 1.2. Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah murid usia 7-12 tahun Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 1.3. 2 2.1. 2.2. APS SD/MI SMP/MTs Jumlah murid usia 1315 tahun Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 2.3. APS SMP/MTs 78.99 80.96 82.63 84.04 87.69 480,616 490,508 477,108 481,910 471.929 418,803 417,355 429,653 408.650 403.358 95.71 96.53 97.00 97.16 97.59 1.028.373 1.039.874 1.042.615 1.082.493 1.064.347 984.256 1.003.790 1.011.337 1.051.750 1.043.273 Tahun 2008 2009 2010 2011 2012

Tabel 2.42 Tabel Angka Partisipasi Sekolah

Sumber :

- Statistik Indonesia Tahun 2013 - Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Angka Partisipasi Sekolah Kabupaten/Kota di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2011 berdasarkan kelompok umur 7-12 tahun(SD/MI) dan kelompok umur 13-15 tahun (SMP/MTs). Kabupaten Kota dengan APS SD/MI yang telah mencapai 100 adalah Kabupaten Soppeng (100), Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Toraja Utara, dan Kota Makassar. Selanjutnya Kab./Kota dengan APS SD/MI terendah adalah Kabupaten Bantaeng (92,35), Kabupaten Pinrang (92,63), dan Kbupaten Bone (94, 58). Sedangkan Kab./Kota dengan APS SMP/MTs terendah adalah Kabupaten Wajo (52,17).

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-43

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.43 Tabel Angka Partisipasi Sekolah Menurut Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011


SD/MI Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 16.330 53.289 23.958 47.141 34.435 83.998 33.689 43.060 43.655 22.246 94.643 25.414 45.370 35.690 48.013 30.322 52.794 36.769 42.507 34.267 37.914 162.618 16.960 21.408 1.082.493 96,45 99,37 92,35 95,15 97,01 98,21 95,86 97,86 96,72 97,78 94,58 100,00 98,64 95,70 92,63 98,70 97,02 98,83 100,00 99,03 100,00 100,00 99,52 98,76 97,16 APS Jumlah murid usia 13-15 tahun 5.408 20.341 7.738 16.718 13.321 35.144 13.145 16.817 16.701 8.244 38.108 11.301 15.668 12.533 20.264 13.308 21.736 14.521 18.843 15.318 13.764 61.554 6.571 6.689 408.650

SMP/MTs Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 6.406 22.871 9.769 22.169 16.107 39.696 14.708 18.052 17.765 9.952 44.170 13.565 20.502 14.567 24.198 13.378 22.410 14.287 20.792 15.187 16.826 73.807 7.001 8.070 481.910 86,82 79,55 86,32 82,24 79,67 85,30 75,66 87,00 78,13 85,05 88,33 85,08 52,17 79,93 78,77 96,24 90,02 91,40 93,21 96,59 94,67 86,45 86,10 83,50 84,04 APS

Jumlah No. Kab./Kota murid usia 7-12 tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kep. Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu utara Luwu Timur Toraja utara Kota Makassar Kota Pare-pare Kota Palopo 16.724 54.230 23.498 47.062 35.650 84.707 33.293 42.755 44.880 22.209 98.419 24.554 46.134 34.405 48.588 30.093 53.357 37.972 44.097 34.480 42.323 170.562 17.434 21.789 1.051.750

Sulawesi Selatan

Sumber : - Statistik Indonesia Tahun 2012 - Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2012

a.b. Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah Rasio ketersediaan sekolah adalah jumlah sekolah tingkat pendidikan per 10.000 jumlah penduduk usia pendidikan tertentu. Selama periode 2008-2012 rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah SD/MI dan SMP/MTs cenderung menurun setiap tahun. Pada tahun 2008 rasio ketersediaan sekolah per penduduk usia sekolah untuk pendidikan dasar adalah sebesar 153,83 kemudian pada tahun 2012 terjadi penurunan menjadi 152,62. Selanjutnya rasio ketersediaan sekolah pada jenjang SMP/MTs pada tahun 2008 sebesar 240,31 dan pada tahun 2012 juga mengalami penurunan menjadi 220,84.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-44

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.44 Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No Jenjang Pendidikan 1 SD/MI 1.1. Jumlah gedung sekolah 1.2. jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun 1.3. Rasio 2 SMP/MTs 2.1. Jumlah gedung sekolah 2.2. jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun 2.3. Rasio 2008 6.817 1.048.643 153,83 2.000 480.616 240,31 2009 6.871 1.039.874 151,34 2.024 490.508 242,35 Tahun 2010 2011 6.957 1.086.493 156,17 2.126 486.256 228,72 2012 6.974 1.064.347 152,62 2.137 471.929 220,84

6.933 1.042.615 150,38 2.103 506.322 240,76

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013 Statistik Sosek Ekonomi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.45 Rasio Ketersediaan Sekolah & Penduduk Usia Sekolah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
SD/MI SMP/MTs

No.

Nama Kab/Kota

Jumlah Gedung Sekolah

Jumlah penduduk 7-12 th

Rasio

Jumlah Gedung Sekolah

Jumlah penduduk 7-12 th

Rasio

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Sel ayar Bul ukumba Bantaeng Jeneponto Takal ar Gowa Si njai Bone Maros Pangkep Barru Soppeng Wajo Si drap Pi nrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Ti mur Toraja Utara Makas s ar Pare Pare Pal opo Jumlah

150 384 153 320 248 474 272 782 281 303 222 273 434 246 345 234 298 226 255 170 175 553 97 79 6,974

15,212 101.42 52,813 137.53 23,981 156.74 56,812 177.54 36,160 145.81 77,239 162.95 30,990 113.94 100,285 128.24 43,070 153.27 46,888 154.75 21,879 98.56 27,931 102.31 50,031 115.28 33,820 137.48 55,215 160.04 28,056 119.90 45,631 153.12 47,925 212.06 30,188 118.38 34,212 201.25 33,053 188.87 139,647 252.53 16,000 164.95 17,308 219.09 1,064,347 152.62

57 99 52 125 141 167 86 167 105 94 55 55 109 63 71 57 122 71 90 54 52 194 29 22 2,137

6,874 120.59 22,228 224.52 10,669 205.16 25,246 201.97 16,612 117.82 32,119 192.33 13,146 152.86 44,311 265.34 18,812 179.16 20,383 216.84 10,082 183.30 12,954 235.52 21,354 195.91 15,501 246.04 24,868 350.25 12,236 214.67 20,217 165.71 18,468 260.11 13,718 152.42 15,824 293.03 14,938 287.27 61,465 316.83 6,305 217.41 13,602 618.29 471,929 220.84

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013 Statistik Sosek Ekonomi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

a.c.Rasio Guru Terhadap Murid Rasio guru terhadap murid di Sulawesi Selatan pada tahun 2008-2012 sedikit mengalami perbaikan. Tahun 2008, rasio guru terhadap murid pada jenjang SD/MI sebesar 18,19 dan tahun 2012 turun menjadi 13,74, artinya setiap satu orang guru rataRencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-45

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

rata menangani 14 murid. Pada tingkat SMP/MTs tahun 2008 sebesar 10,97 dan mengalami penurunan menjadi 7,35 pada tahun 2012. Rasio guru murid pada kedua jenjang tersebut rata-rata masih dibawah 25, yang berarti bahwa proses belajar mengajar masih berlangsung secara optimal, sebab rasio maksimal/ideal adalah 25 murid untuk seorang guru.
Tabel 2.46 Rasio Guru Terhadap Murid
Tahun 2008 2009 2010 2011 2012

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


No 1 1.1. 1.2. 1.3. 2 2.1. 2.2. 2.3. Jenjang Pendidikan SD/MI Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio 31.743 348.096 10,97 39.122 375.115 9,59 30.678 379.977 12,39 46.209 423.756 9,17 63.577 466.974 7,35 62.976 1.145.592 18,19 76.069 1.117.812 14,59 68.288 1.131.992 16,58 65.024 1.109.215 17,06 79.821 1.096.840 13,74

Sumber : - Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013 - Dinas Pendidikan Prov. Sul- Sel Tahun 2013

Sedangkan rasio guru dengan murid menurut Kab./Kota di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2012 dapat digambarkan bahwa rasio guru dengan murid SD/MI pada Kab./Kota tertinggi adalah Kota Makassar 27,75; KabupatenJeneponto19,96; dan KabupatenLuwu Timur 17,01. Sementara rasio guru dengan murid SMP/MTs tertinggi adalah KabupatenEnrekang 16,35 dan Sidrap 13,17. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses belajar mengajar pada jenjang pendidikan SD/MI dan SMP/MTs berlangsung optimal karena rasio guru dengan murid diatas rasio ideal yaitu 25.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-46

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.47 Rasio Guru Terhadap Murid Menurut Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012


SD/MI Jumlah Jumlah Murid Guru 1,983 15,631 4,497 2,563 2,892 3,902 4,667 3,070 8,421 3,275 3,262 2,642 2,841 4,266 2,134 3,961 2,386 3,716 3,739 3,435 2,044 2,114 5,352 1,510 1,151 79,821 53,978 24,561 57,721 37,674 78,532 32,085 101,913 44,048 49,926 22,956 29,011 51,057 34,761 56,390 28,611 46,398 49,196 30,736 34,766 33,719 148,523 16,930 17,717 1,096,841 Rasio 7.88 12.00 9.58 19.96 9.65 16.83 10.45 12.10 13.45 15.31 8.69 10.21 11.97 16.29 14.24 11.99 12.49 13.16 8.95 17.01 15.95 27.75 11.21 15.40 13.74

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Nama Kab/Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Bone Maros

SMP/MTs Jumlah Jumlah Guru Murid 1,403 6,495 1,842 1,122 2,428 1,669 5,021 2,551 7,250 1,947 2,768 1,871 1,379 1,617 1,221 1,465 2,315 3,511 3,868 3,646 1,834 1,388 7,226 2,058 2,175 63,577 21,893 9,865 25,128 16,651 33,783 13,014 40,271 18,303 19,310 9,918 12,371 21,248 16,087 23,955 11,813 19,240 19,092 14,173 15,142 14,768 62,821 6,716 14,914 466,974

Rasio 4.63 11.89 8.79 10.35 9.98 6.73 5.10 5.55 9.40 6.98 5.30 8.97 13.14 13.17 16.35 5.10 5.48 4.94 3.89 8.26 10.64 8.69 3.26 6.86 7.35

10 Pangkep 11 Barru 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Toraja Utara 22 Makassar 23 Pare Pare 24 Palopo Jumlah

Sumber : - Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013 - Statistik Sosek Ekonomi Sulawesi Selatan Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-47

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

a.d. Rasio Murid Per Kelas Rata-Rata


Tabel 2.48 Rasio Murid Per Kelas Rata-Rata

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


NO. 1 SD/MI Jumlah Guru Jumlah Kelas Rasio Guru/Kelas Jumlah Murid Rasio Jumlah Murid Terhadap Jumlah Kelas 2 SMP/MTs Jumlah Guru Jumlah Kelas Rasio Guru/Kelas 62.976 36.254 1,74 76.069 38.541 1,97 68.288 40.230 1,70 65.024 40.270 1,61 79.821 40.890 1,95 1.096.840 26,82 63.577 7.768 8,18 466.974 60,12 Jenjang Pendidikan
Tahun

2008

2009

2010

2011

2012

1.145.592 1.117.812 1.131.992 1.109.215 31,60 29,00 28,14 27,54 31.743 7.461 4,25 39.122 7.217 5,42 375.115 51,98 30.678 7.704 3,98 379.977 49,32 46.209 7.732 5,98 423.756 54,81

Jumlah Murid 348.096 Rasio Jumlah Murid Terhadap Jumlah Kelas 46,66 Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

b. Pendidikan Menengah b.a.Angka Partisipasi Sekolah Angka Partisipasi Sekolah (APS) juga terjadi peningkatan pada kelompok umur 16-18 tahun (SMA/MA/SMK). Pada kelompok umur 16-18 tahun, APS meningkat dari 52,29 persen tahun 2008 menjadi 61,66 persen pada tahun 2012, dan masih jauh diatas APS Nasional yaitu 57,85 persen. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No 1 2 3 Indikator 2008 2009 Tahun 2010 2011 2012
Tabel 2.49 Tabel Angka Partisipasi Sekolah

SMA/SMU/MA/SMK Jumlah Murid Usia 16246.108 254.455 259.306 272.589 272.589 19 th Jumlah Penduduk Usia 460.192 465.805 471.487 477.239 457.735 16-19 th Angka Partisipasi 52,29 51,67 53,00 56,66 61,66 Sekolah (APS) 16-18 th
Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Sumber :

b.b.Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah Perbandingan antara murid dan sekolah, mencerminkan besarnya daya tampung anak usia sekolah pada jenjang pendidikan SMA/MA dan SMK. Selama periode 20082012, daya tampung sekolah pada jenjang pendidikan SMA/MA/SMK cenderung menurun. Pada tahun 2008 rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk 467 orang,
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-48

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

dan pada tahun 2012 rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah sebesar 399 orang.
Tabel 2.50 Rasio Ketersediaan Sekolah/Penduduk Usia Sekolah

Sumber :

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun No Indikator 2008 2009 2010 2011 2012 SMA/MA/SMK 1 Jumlah Sekolah 932 966 1003 1041 1148 2 Jumlah Penduduk Usia 16435.624 431.142 476.085 431.766 457.735 18 th 3 Rasio Ketersediaan 467 446 475 415 399 Sekolah
- Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013 - Statistik Sosek Ekonomi Sulawesi Selatan Tahun 2013

b.c. Rasio Guru Terhadap Murid Rasio guru pada Tahun 2008, rasio guru terhadap murid pada jenjang SMA/MA/SMK sebesar 11 dan mengalami peningkatan pada tahun 2012 menjadi 14, artinya setiap satu orang guru rata-rata menangani atau mengawasi 14 murid. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No. 1. 2. 3. Jenjang Pendidikan SMA/MA/SMK Jumlah Guru Jumlah Murid Rasio Guru Terhadap Murid 2008 20.182 228.556 11 2009 20.926 271.087 13 2010 21.574 321.957 15 2011 2012
Tabel 2.51 Rasio Guru Terhadap Murid

22.064 22.168 285.684 319.253 13 14

Sumber : - Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013 - Statistik Sosek Ekonomi Sulawesi Selatan Tahun 2013

b.d. Rasio Guru Terhadap Murid Per Kelas Rata-Rata Rasio guru terhadap murid per kelas rata-rata SMA/MA/SMK pada tahun 2008-2012 mengalami perbaikan. Tahun 2008 , rasio guru terhadap murid perkelas rata-rata pada jenjang SMA/MA/SMK sebesar 3.29 dan pada tahun 2012 turun menjadi 2.64 artinya setiap satu orang guru rata-rata menangani 3 kelas.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-49

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.52 Rasio Guru Terhadap Murid Per Kelas Rata-Rata

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


Tahun

Jenjang Pendidikan SMA/MA/SMK Jumlah Guru Jumlah Kelas Rasio Guru/Kelas Jumlah Murid Rasio Jumlah Murid Terhadap Jumlah Kelas

2008 20.182 6.128 3,29 228.556 37,30

2009 20.926 5.768 3,63 271.087 47,00

2010 21.574 7.521 2,87 321.957 42,81

2011 22.064 8.060 2,74 285.684 35,44

2012 22.168 8.388 2,64 319.253 38,06

Sumber : - Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013 - Dinas PendidikanProv. Sul-Sel Tahun 2013

b.e. Penduduk Yang Berusia >15 Tahun Melek Huruf (TIdak Buta Aksara)
Tabel 2.53 Penduduk Yang Berusia >15 Tahun Melek Huruf (TIdak Buta Aksara)

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


2008 86.50 4.809.182 4.159.942 2009 87.00 4.942.743 4.300.186 Tahun 2010 87.75

No 1 2 3

Indikator persentase Penduduk Usia >15 thn melek huruf Jumlah Penduduk Usia 15 >Thn Jumlah penduduk melek huruf

2011 88.07 4.946.636 4.353.040

2012 88.39 5.008.398 4.422.415

4.885.570 4.284.645

Sumber : - Dinas PendidikanProv. Sul-Sel Tahun 2013

c. Fasilitas Pendidikan c.a. Sekolah Pendidikan SD/MI Kondisi Ruang Kelas Baik Pada Tabel 2.43 Menunjukkan bahwa laju peningkatan kondisi Rg. Kelas dalam kondisi baik dari tahun 2008 sebesar 54 persen menjadi 60 persen di tahun 2012 sangatlah rendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dari data menunjukkan bahwa kondisi bangunan baik untuk sekolah dasar masih minim, hal ini tentunya akan berpengaruh pada kualitas belajar murid.
Tabel 2.54 Sekolah Pendidikan SD/MI Kondisi Ruang Kelas Baik

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


Tahun 2008 22.714 41.675 54,50 2009 23.296 41.675 55,90 2010 23.893 41.675 57,33

No 1. 2. 3.

Bidang/Urusan Jml Rg. Kelas SD Kondisi Baik Jml Rg. Kelas seluruh SD Sekolah SD Kondisi baik(%)

2011 24.506 41.675 58,80

2012 25.134 41.675 60,31

Sumber :

- Dinas PendidikanProv. Sul-Sel Tahun 2013

c.b. Sekolah Pendidikan SMP/MTs Kondisi Ruang Kelas Baik Sarana pendidikan memegang peranan peranan penting, sehingga penyediaan sarana pendidikan diperlukan untuk tujuan pelaksanaan pendidikan seefektif mungkin. Kondisi Rg. Kelas baik untuk jenjang SMP/MTs pada tahun 2008-2012, persentase
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-50

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

untuk jumlah sekolah kondisi baik pada tahun 2008 sebesar 67.33% dan pada tahun 2012 mengalami kenaikan sebesar 77.30%.
Tabel 2.55 Sekolah Pendidikan SMP/MTs Kondisi Ruang Kelas Baik

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


Tahun 2008 25.453 37.638 67,63 2009 26.001 38.103 68,24 2010 28.413 39.726 71,52

No 1. 2. 3.

Bidang/Urusan Jml Rg. Kelas SMP Kondisi Baik Jml Rg. Kelas seluruh SMP Sekolah SMP Kondisi baik (%)

2011 29.717 40.337 73,67

2012 31.567 40.837 77,30

Sumber :

- Dinas PendidikanProv. Sul-Sel Tahun 2013

c.c. Sekolah Pendidikan SMA/SMK/MA Kondisi Bangunan Baik Kondisi bangunan baik untuk jenjang SMA/SMK pada tahun 2008-2012, persentase untuk jumlah sekolah kondisi baik pada tahun 2008 sebesar 60.00% dan pada tahun 2012 mengalami kenaikan sebesar 75.00%.
Tabel 2.56 Sekolah Pendidikan SMA/SMK/MA Kondisi Bangunan Baik

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


Tahun 2008 379 632 60,00 2009 436 682 64,00 2010 491 712 69,00

No 1. 2. 3.

Bidang/Urusan Jml SMP Kondisi Baik Jml seluruh SMP Sekolah SMP Kondisi baik (%)

2011 560 789 71,00

2012 631 842 75,00

Sumber :Dinas PendidikanProv. Sul-Sel Tahun 2013

d. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Perkembangan Pendidikan Anak Usia Dini diSulawesi Selatan pada taun 2008 -2012 khusus untuk APK, pada tahun 2008 mencapai sebesar 47.69% d an pada tahun 2012 sebesar 50.40%. mengalami kenaikan dari tahun ketahun seperti tabel berikut Tabel 2.57 Pendidikan Anak Usia Dini Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1. 2. 3. Bidang/Urusan Jml siswa pada jenjang tk Jml anak usia 4-6 thn PAUD (%) Tahun 2008 494.966 1.037.943 47.69 2009 525.347 1.095.025 47.98 2010 557.560 1.155.246 48.26 2011 600.747 1.218.760 49.29 2012 648.030 1.285.786 50.40

Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-51

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

e. Angka Putus Sekolah Angka putus sekolah pada usia sekolah 7-12 tahun (SD/MI), usia 13-15 tahun (SMP/MTs), dan usia 16-18tahun ( SMA/MA/SMK) di Provinsi Sulawesi Selatan selama periode 2008-2012 mengalami penurunan. Angka putus sekolah usia 7-12 tahun (SD/MI) pada tahun 2008 sebesar 2,35 persen, dan pada tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 1,20 persen. Demikian halnya angka putus sekolah usia 13-15 tahun (SMP/MTs) mengalami penurunan dari 1.86 persen pada tahun 2008 menjadi 1.09 persen pada tahun 2012. Kemudian angka putus sekolah usia 16-18 tahun (SMA/MA/SMK) mengalami penurunan dari 2.18 persen pada tahun 2008 menjadi 1.30 persen di tahun 2012. Walaupun angka putus sekolah mengalami penurunan. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun Bidang/Urusan 2008 2009 2010 Angka Putus Sekolah SD/MI 2.35 2.10 1.85 Angka Putus Sekolah 1.86 1.55 1.45 SMP/MTs Angka Putus Sekolah 2.18 2.16 2.07 SMA/SMK/MA
Tabel 2.58 Angka Putus Sekolah

No 1. 2. 3.

2011 1.72 1.38 1.63

2012 1.20 1.09 1.30

Sumber : - BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013 - Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

f. Angka Kelulusan Angka kelulusan menurut jenjang pendidikan di provinsi Sulawesi Selatan selama kurun waktu 2008-2012 yaitu angka kelulusan SD pada tahun 2008 sebesar94,67 persen dan selama tiga tahun berturut-turut (2010-2012) capaian angka kelulusan 100 persen , sedangkan angka kelulusan SMP sebesar93,21 persen pada tahun 2008 dan meningkat menjadi 99,99 persent atau mendekati 100 persen pada tahun 2012. Sementara angka kelulusan SMA dan SMK pada tahun 2008 sebesar 94,16 persen dan 95,62 persen, kemudian meningkat menjadi 99,64 persen dan 99,78 persen pada tahun 2012. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun Bidang/Urusan 2008 2009 2010 2011 Angka Kelulusan SD 94,67 95,12 100 100 Angka Kelulusan 93,21 94,22 99,77 99,83 SMP Angka Kelulusan 94,16 95,00 95,25 99,12 SMA Angka Kelulusan 95,62 96,36 99,87 99,41 SMK
Tabel 2.59 Angka Kelulusan

No 1. 2. 3. 4.

2012 100 99,81 99,07 99,93

Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-52

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

f.a. Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Dan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Berdasarkan data menunjukkan angka melanjutkan dari jenjang SD/MI ke jenjang pendidikan SMP/MTs selama kurun waktu 2008-2012 mengalami peningkatan setiap tahun. Pada tahun 2012, angka melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs sebesar 97,84 persen, dari 91,31 persen pada tahun 2008. Demikian pula angka melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA mengalami peningkatkan sebesar 95,03 persen pada tahun 2012 dari 91,36 persen pada tahun 2008. Kondisi tersebut mewujudkan bahwa masih terdapat kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat penduduk yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI sudah melanjutkan ke jenjang SMP/MTs sebesar 2,18 persen dan sebesar 4,97 persen yang tidak melanjutkan pendidikan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA pada tahun 2012.
Tabel 2.60 Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs Dan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


Satuan % % 2008 91,31 91,36 2009 93,00 92,00

No 1 2

Bidang/Urusan Angka melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/Mts Angka melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA

Tahun 2010 95,65 93,95 2011 97,22 94,83 2012 97,84 95,03

Sumber : - Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2013 - Statistik Sosek Ekonomi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

f.b. Guru Yang memenuhi Kualifikasi S1/D-IV Kualifikasi guru adalah keahlian yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan guru dengan melalui pendidikan khusus keahlian. Guru yang qualified adalah guru yang memenuhi kualifikasi pendidikan yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.Artinya guru pada tiap satuan pendidikan harus memenuhi kualifikasi akademik dengan bidang keilmuan yang relevan dengan bidang studi atau mata pelajaran yang mereka ajarkan di sekolahnya sehingga mereka disebut kompeten untuk bidang pekerjaannya. Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV padatahun 2008-2013, padatahun 2008 jumlah guru yang memenuhisebanyak 33.380 guru kemudian naik pada dari tahun ke tahun sehingga pada tahun 2012 guru yg memenuhi kualifikasi sebanyak 76.622 guru. Guru Yang memenuhi Kualifikasi S1/D-IV Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Bidang/Urusan Jml guru ijazah s1-d4 Jml guru sd-sma Guru yang memenuhi kualifikasi s1-d4 Tahun 2008 70.005 108.335 38.330 2009 65.864 111.208 45.344 2010 63.667 113.787 50.120 2011 75.624 149.988 74.364 2012 86.769 183.391 76.622

Tabel 2.61

Sumber : Dinas Pendidikan Prov. Sul-Sel Tahun 2013


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-53

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.3.1.2. Kesehatan a. Rasio Posyandu Per Satuan Balita Keberadaan posyandu merupakan upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu, bayi, dan balita. Berdasarkan data Dinas Kesehatan tahun 2008-2012 mewujudkan jumlah posyandu dan jumlah balita di Provinsi Sulawesi Selatan relative meningkat . Pada tahun 2008, jumlah posyandu sebanyak 8.642 unit, meningkat menjadi 9.758 unit pada tahun 2012. Sedangkan jumlah balita pada tahun 2008 sebanyak 677.611 jiwa, meningkat pada tahun 2012 sebanyak 733.764 jiwa. Rasio Posyandu persatuan Balita pada tahun 2008 adalah 78,41 dan 75,1 pada tahun 2012. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No a. b. c. Bidang/Urusan Jumlah posyandu Jumlah balita Rasio Posyandu persatuan balita Satuan unit Jiwa Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 8.642 8.944 9.068 9.268 9.758 677.611 860.066 691.408 698.609 733.764 78,4 96,1 76,2 75,3 75,1
Tabel 2.62 Rasio Posyandu Per Satuan Balita

Sumber : Dinas KesehatanProv. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.63 Jumlah Posyandu dan Balita Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
Kabupaten/kota (2) Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tator Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Jumlah posyandu (3) 534 507 312 464 420 700 317 380 368 235 921 321 432 310 316 274 375 255 332 471 357 910 Jumlah balita (4) 9.560 42.876 21.449 27.648 23.117 60.323 19.283 31.526 19.615 14.941 90.360 14.579 33.767 23.749 31.287 19.715 33.798 22.869 25.222 25.046 23.312 97.124 Rasio (5=4/3) 5,59 1,18 1,45 1,68 1,82 1,16 1,64 1,21 1,88 1,57 1,02 2,20 1,28 1,31 1,01 1,39 1,11 1,12 1,32 1,88 1,53 0,94

No (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-54

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No (1) 23 24

Kabupaten/kota (2) Parepare Palopo Jumlah

Jumlah posyandu (3) 119 128 9.758

Jumlah balita (4) 8.908 13.690 733.764

Rasio (5=4/3) 1,34 0,93 75,1

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

b. Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Per Satuan Penduduk Rasio Puskesmas dan Puskesmas Pembantu per 100.000 penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2008 adalah 0,20 dan pada tahun 2012mengalami menjadi 0,26. Tabel 2.64 Rasio Puskesmas, Poliklinik, Pustu Per Satuan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Jumlah Puskesmas, Poliknik, Pustu Jumlah Penduduk Rasio puskesmas, poliknik, pustu per satuan penduduk Jiwa 7.805.024 0,20 7.908.519 0,22 8.034.776 0,22 8.115.638 0,22 8.306.848 0,26 Satuan Jml Tahun 2008 1.582 2009 1.751 2010 1.807 2011 1.823 2012 2.134

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Ketersedian pusat pelayanan kesehatan masyarakat pada tahun 2011 di Kabupaten/Kota yaitu berupa Puskesmas sebanyak 401 unit dan Puskesmas Pembantu sebanyak 1.210 unit. Rasio Puskesmas dengan jumlah penduduk adalah 18.830, sedangkan rasio Puskesmas Pembantu adalah 5.748 Tabel 2.65 Jumlah Puskesmas, Poliklinik dan PustuMenurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011
No Kabupaten/kota (1) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep (2) Jumlah Penduduk (3) 123,283 398,531 178,477 346,149 272,316 659,512 231,182 322,212 308,814 167,653 724,905 226,079 388,985 Puskesmas Jumlah (4) 13 17 12 18 14 23 15 14 23 10 38 17 23 Rasio (5=4/3) 4,33 5,67 4,00 6,00 4,67 7,67 5,00 4,67 7,67 3,33 12,67 5,67 7,67 Poliklinik Jumlah (6) Rasio (7=6/3) (8) 61 60 22 56 45 119 63 34 60 33 76 44 54 Pustu Jumlah Rasio (9=8/3) 20,33 20,00 7,33 18,67 15,00 39,67 21,00 11,33 20,00 11,00 25,33 14,67 18,00

10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-55

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No Kabupaten/kota (1) 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tator 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Toraja Utara 22 Makassar 23 Parepare 24 Palopo Jumlah (2)

Jumlah Penduduk (3) 274,648 354,652 192,163 335,828 223,306 290,365 245,515 218,943 1,352,136 130,563 149,421 8,115,638

Puskesmas Jumlah (4) 14 15 13 21 20 12 15 22 37 6 11 423 Rasio (5=4/3) 4,67 5,00 4,33 7,00 6,67 4,00 5,00 7,33 12,33 2,00 3,67

Poliklinik Jumlah (6) Rasio (7=6/3) (8) 42 51 70 103 33 62 60 28 44 17 30

Pustu Jumlah Rasio (9=8/3) 14,00 17,00 23,33 34,33 11,00 20,67 20,00 9,33 14,67 5,67 10,00

1.267

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2012

c. Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk Salah satu upaya pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam memberikan pelayanan kesehatan adalah dengan menyediakan sarana prasarana kesehatan yaitu Rumah Sakit. Pada tahun 2008, jumlah RS 89 unit dan pada tahun 2012 jumlah rumah sakit menjadi 95 unit. Sedangkan rasio rumah sakit persatuan penduduk selama lima tahun terakhir (2008-2012) mengalami fluktuasi yang rendah. Tabel 2.66 Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1. 2. Uraian Jumlah Rumah Sakit Kementerian Kesehatan (Pusat/Vertikal) Jumlah Rumah Sakit Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jumlah Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Jumlah Rumah Sakit Pemprov dan Pemkab/Kota Jumlah Rumah Sakit Swasta Jumlah seluruh Rumah Sakit Jumlah Penduduk Rasio 45 89 7.805.024 1,14 45 90 7.908.519 1,14 45 91 8.034.776 1,13 46 93 8.115.638 1,15 49 95 8.306.848 1,14 29 30 31 32 32 7 7 7 7 7 6 6 6 6 6 Tahun 2008 2 2009 2 2010 2 2011 2 2012 2

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-56

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.67 Jumlah Rumah Sakit Menurut Kabupaten/Kota Tahun 2011


Rumah Sakit Jumlah No Kabupaten/kota Penduduk Thn 2011 Rumah Sakit Umum (Pemerintah) Jmlh Rasio Jiwa/Paru dan penyakit khusus lainnya milik pemerintah Jmlh 1 1 2 1 1 6 Rasio 2 2 Rumah Sakit AD/AU/ AL/POLRI Rumah Sakit Daerah Rumah Sakit Swasta Total

Jmlh Rasio Jmlh Rasio Jmlh Rasio Jmlh Rasio 1 1 3 1 1 7 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2 1 2 1 1 1 1 4 2 2 32 1 1 1 1 1 2 1 1 1 31 2 3 46 1 1 1 1 1 2 1 3 2 1 2 1 3 3 3 2 1 2 1 2 2 46 5 6 93

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep

123,283 398,531 178,477 346,149 272,316 659,512 231,182 322,212 308,814 167,653 724,905 226,079 388,985 274,648 354,652 192,163 335,828 223,306 290,365 245,515 218,943 1,352,136 130,563 149,421 8,115,638

10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tator 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Toraja Utara 22 Makassar 23 Parepare 24 Palopo Jumlah

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2012

d. Rasio Dokter Per Satuan Penduduk Rasio dokter persatuan penduduk di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu pada tahun 2008 jumlah dokter 942 orangdengan rasio 0,12 dan pada tahun 2012 jumlah dokter meningkat menjadi 1.005 orang dokter dengan rasio 0,12. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah dokter dari tahun 2008-2012 tidak dibarengi dengan besarnya penduduk yang dilayani.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-57

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.68 Rasio Dokter UmumPer Satuan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Jumlah dokter Umum Jumlah penduduk Rasio dokter persatuan penduduk Jiwa 7.805.024 0,12 7.908.519 0,15 8.034.776 0,15 8.115.638 0,12 8.306.848 0,12 Satuan Jiwa Tahun 2008 942 2009 1.215 2010 1.212 2011 1.005 2012 1.005

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.69 Jumlah Dokter Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk Jumlah Dokter Rasio

Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tator Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Parepare Palopo
Jumlah

123,283 398,531 178,477 346,149 272,316 659,512 231,182 322,212 308,814 167,653 724,905 226,079 388,985 274,648 354,652 192,163 335,828 223,306 290,365 245,515 218,943 1,352,136 130,563 149,421 8,115,638

38 65 42 44 75 165 54 106 94 58 93 60 84 72 53 45 30 51 43 61 35 1.245 64 70 2.747

30,5 16,2 23,4 12,6 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 30,5 33,5

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2012

e. Rasio Tenaga Medis Per Satuan Penduduk Jumlah tenaga medis di Provinsi Sulawesi Selatan selama kurun waktu 2008-2012 mengalami penurunan yaitu dari 2.024 orang pada tahun 2008 menjadi 1.592 orang pada tahun 2012. Penurunan jumlah tenaga medis tersebut mengakibatkan rasio tenaga medis persatuan penduduk juga mengalami penurunan dari 0,26 persen pada tahun 2008 menjadi 0,19 persen pada tahun 2012.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-58

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.70 Rasio Tenaga Medis Per Satuan Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Jumlah tenaga medis Jumlah penduduk Rasio tenaga medis per satuan Penduduk Satuan Jiwa Jiwa % Tahun 2008 2.024 7.805.024 0,26 2009 2.675 7.908.519 0,34 2010 2.736 8.034.776 0,34 2011 1.592 8.115.638 0,20 2012 1.592 8.306.848 0,19

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

f. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Data cakupan komplikasi kebidanan dari Dinas Kesehatan tahun 2008-2012, menggambarkan jumlah komplikasi kebidanan yang mendapat penanganan definitive pada tahun 2008 sebanyak 20.062 dengan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani sebesar 52,34 persen, sementara pada tahun 2012, jumlah komplikasi kebidanan yang mendapat penanganan definitive 19.177 dengan cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani sebesar 57,73 persen. Kondisi tersebut menunjukkan komplikasi kebidanan yang tidak ditangani dan akan menyebabkan resiko kematian ibu yang akan berdampak pada angka kematian ibu masih cukup besar. Tabel 2.71 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang Urusan Jumlah komplikasi kebidanan yang mendapat penanganan definitive di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Jumlah ibu dengan komplikasi kebidanan di satu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani Satuan Jml 2008 20.062 2009 18.104 Tahun 2010 17.794 2011 18.284 2012 19.177

b.

Jml

38.330

36.061

36.285

34.760

33.447

c.

52,34

50,27

49,04

52,60

57,73

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

g. Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu 80,03 persen pada tahun 2008 dengan jumlah ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan sebanyak 145.796 ibu bersalin (jiwa). Sedangkan pada tahun 2012, cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 94,00 persen dengan jumlah ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan sebanyak 149.572 jiwa.Hal ini menunjukkan bahwa hampir semua persalinan di Sulawesi Selatan sudah ditangani oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-59

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.72 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Yang Memiliki Kompetensi Kebidanan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang Urusan Jumlah ibu bersalin yang ditolong oleh tenaga kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Jumlah seluruh sasaran ibu bersalin di satu wiayah kerja dalam kurun waktu yang sama Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan Satuan Jml 2008 145.796 2009 144.185 Tahun 2010 149.353 2011 151.614 2012 149.572

b. c.

Jml %

182.180 80,03

180.081 83,88

173.744 85,96

164.488 92,17

159.665 94,00

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

a. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Data menunjukkan cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization di Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2008-2012. Pada tahun 2008, jumlah desa/kelurahan dari 2.898 desa/kelurahan dan cakupan desa/kelurahan UCI yaitu 81,78 persen. Sementara pada tahun 2012, jumlah desa/kelurahan UCI yaitu 2598 desa/kelurahan dari 2.984 desa/kelurahan dengan cakupan desa/kelurahan UCI yaitu 87,10 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih cukup besarnya desa/kelurahan yang belum mancapai UCI. Tabel 2.73 Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang Urusan Jumlah desa/kelurahan UCI Jumlah seluruh desa/kelurahan Cakupan desa/kelurahan universal child immunization (UCI) Tahun Satuan jml jml % 2008 2.370 2.898 81,78 2009 2.459 2.941 83,60 2010 2.841 2.947 84,20 2011 2.507 2.960 84,70 2012 2.598 2.984 87,10

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

b. Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Cakupan balita gizi buruk di provinsi Sulawesi Selatan yang mendapat perawatan sudah mencapai angka 100 persen sejak tahun 2009 hingga tahun 2012.Hal ini berarti bahwa semua balita gizi buruk sudah mendapatkan perawatan medis melalui sarana pelayanan kesehatan. Tabel 2.74 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang/Urusan Jumlah balita gizi buruk mendapat perawatan di sarana pelayanan kesehatan di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 Satuan jml Tahun 2008 89 2009 52 2010 144 2011 791 2012 498

II-60

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No b.

Bidang/Urusan Jumlah seluruh balita gizi buruk yang ditemukan di satu wilayah kerja dalam kurun waktu yang sama

Satuan jml

Tahun 2008 95 2009 52 2010 144 2011 791 2012 498

c.

Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan

93,11

100,00

100,00

100,00

100,00

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

c. Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, jumlah perkiraan penderita baru TBC TBA (+) di Sulawesi Selatan pada tahun 2008 sebanyak 17.138, sementara jumlah yang ditemukan dan diobati selama 1 bulan sebanyak 6.170 penderita. Kemudian pada tahun 2012 jumlah perkiraan penderita baru TBC TBA (+) berjumlah 16.921 penderita, sedangkan yang ditemukan dan diobati selama 1 bulan berjumlah 9.439 penderita. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA (+) meningkat dari 36 persen pada tahun 2008 menjadi 55,78 persen di tahun 2012. Peningkatan tersebut masih jauh dari target angka keberhasilan penyembuhan TBC (Success Rate/SR). Tabel 2.75 Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang/Urusan Jumlah penderita baru TBC BTA (+) yang ditemukan dan diobati di satu wilayah kerja selama 1 bulan b. Jumlah perkiraan penderita baru TBC BTA (+) dalam kurun waktu yang sama Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA % 36,00 40,00 48,00 55,13 55,78 jml 17.138 16.070 16.214 16.620 16.921 Satuan jml Tahun 2008 6.170 2009 6.428 2010 7.783 2011 9.162 2012 9.439

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

d. Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderta Penyakit DBD Jumlah penderita penyakit DBD yang ditemukan pada tahun 2008 yaitu 3.546 kasus, yang ditangani sesuai SOP berjumlah 1.920 kasus. Pada tahun 2012, jumlah penderita penyakit DBD yang ditemukan dan yang ditangani sesuai SOP sebanyak 2.333 kasus. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD dari tahun 2008 sampai tahun 2012 mencapai 100 persen, resiko penularan di masyarakat seperti angka bebas jentik 100 persen. Tabel 2.76 Cakupan Penemuan Dan Penanganan Penderta Penyakit DBD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang/Urusan Jumlah penderita DBD yang ditangani sesuai SOP disatu wilayah kerja selama 1 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 Satuan jml Tahun 2008 1.920 2009 1.289 2010 868 2011 1.133 2012 2.333

II-61

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No tahun b.

Bidang/Urusan

Satuan

Tahun 2008 3.546 2009 3.411 2010 4.083 2011 1.876 2012 2.333

Jumlah penderita DBD yang ditemukan disatu wikayah dalam kurun waktu yang sama

jml

c.

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD

54,37

37,80

21,26

60,39

100,00

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

e. Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, menunjukkan cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin mengalami penurunan dari 96,41 persen pada tahun 2008 menjadi 44,80 persen di tahun 2012. Hal ini diakibatkan jumlah kunjungan pasien miskin di sarana kesehatan strata I berkurang dari 2.361.838 pada tahun 2008 menjadi 1.097.539 pada tahun 2012. Tabel 2.77 Cakupan Pelayanan Kesehatan Rujukan Pasien Masyarakat Miskin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang/Urusan Jumlah kunjungan pasien miskin di sarana kesehatan Strata I Jumlah seluruh miskin di Kabupaten/Kota Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin % 96,41 52,40 96,69 63,91 44,80 Jml 2.449.737 2.449.737 2.449.737 2.449.737 2.449.737 Satuan Jml Tahun 2008 2.361.838 2009 1.283.672 2010 2.368.881 2011 1.565.506 2012 1.097.539

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

f. Cakupan Kunjungan Bayi Jumlah kunjungan bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standard pada tahun 2008-2012 di Provinsi Sulawesi Selatan yaitu pada tahun 2008 jumlah kunjungan sebanyak 87,971 dan pada tahun 2012 meningkat sebesar 135.418 kunjungan. Cakupan kunjungan bagi pada tahun 2008 adalah 69,75 persen dan pada tahun 2012 cakupan kunjungan bayi meningkat menjadi 99,46 persen Tabel 2.78 Cakupan Kunjungan Bayi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang/Urusan Jumlah kunjungan bayi memperoleh pelayanan kesehatan sesuai standar disatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu Satuan jml Tahun 2008 87.971 2009 92.653 2010 128.003 2011 145.381 2012 135.418

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-62

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No b.

Bidang/Urusan Seluruh bayi lahir hidup disatu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama Cakupan kunjungan bayi

Satuan jml

Tahun 2008 126.130 2009 142.573 2010 128.222 2011 147.059 2012 164.013

69,75

64,99

99,83

98,86

99,46

Sumber : Dinas Kesehatan Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.3. Pekerjaan Umum a. Proporsi Panjang Jaringan Jalan Beberapa kemajuan telah berhasil dicapai dalam pembangunan transportasi jalan, yaitu dengan meningkatnya kinerja transportasi jalan yang ditunjukkan dengan bertambahnya kapasitas jaringan jalan dari 24.307 Km pada tahun 2008 menjadi 32.486 Km pada Tahun 2012 dengan kondisi mantap mencapai 66,24% (17.332 Km), rusak ringan 4.236 Km (12,58%) dan rusak berat 6.167 Km (21,17%). Tabel 2.79 Proporsi Panjang Jaringan Jalan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1. 2. 3. 4. 5. Bidang/Urusan Kondisi Baik Kondisi Sedang Kondisi Rusak Kondisi RusaK Berat Jalan secara keseluruhan (Nasional, Provinsi dan Kab/Kota) Km 24.307,13 24.307,13 32.612 32.432 32.486 Satuan Km Km Km Km Tahun 2008 10.087,05 7.528,12 4.231,42 2.460,54 % 41,50 30,97 17,41 10,12 2009 10.617,90 6.253,72 4.701,58 2.733,93 % 43,68 25,73 19,34 11,25 2010 17.421 4.243 4.081 6.867 % 53,42 13,01 12,51 21,06 2011 17.241 4.243 4.081 6.867 % 53,16 13,08 12,58 21,17 2012 17.332 4.749 4.236 6.167 % 53,16 13,91 12,59 21,17

Sumber : Dinas Bina MargaProv. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-63

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten/kota

Kepulauan Selayar Bulukumba 93,029 31,35 498,67 7,117 28,99 Bantaeng 34,610 5,18 201,58 10,03 Jeneponto 32,140 11,10 628,08 0,404 27,45 Takalar 45,762 9,65 382,50 5,900 17,05 Gowa 21,806 87,69 902,81 0,700 103,86 Sinjai 41,049 37,75 310,48 3,581 26,57 Maros 85,279 536,50 1,900 Pangkep 40,818 571,73 0,213 Barru 21,102 14,64 493,50 14,05 Bone 160,384 52,31 871,32 22,600 78,04 Soppeng 61,91 444,06 38,89 Wajo 89,529 31,10 773,75 13,391 37,10 Sidrap 70,125 28,90 1.688,25 3,100 8,92 Pinrang 70,315 22,29 135,38 25,96 Enrekang 90,424 14,80 454,33 2,600 11,83 Luwu 500,08 Tana Toraja 107,698 15,50 (29,25) 10,844 8,50 Luwu Utara 69,978 27,20 2.045,75 0,700 70,30 Luwu Timur 171,546 2.366,00 1,447 Toraja Utara Makassar 35,128 9,68 713,75 0,600 1,86 Pare Pare 80,321 191,00 0,589 Palopo 133,350 223,25 11,127 Jumlah 1.558,063 461,06 15.313,13 93,935 509,40 Sumber Data : Dinas Bina Marga Prov. Sul-Sel Tahun 2013 *SK Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah No.55 Tahun 2000 **SK Gubernur Sulawesi Selatan No. 4650/XII/2008 ***SK Gubernur Sulawesi Selatan No. 4261/XII/2010

Nasional 63,670

Kondisi Baik Provinsi Kab/Kota 409,61

Nasional 7,122

Kondisi Sedang Provinsi Kab/Kota 76,55 273,02 189,13 392,95 326,50 82,00 221,98 104,50 125,08 97,50 263,70 68,95 136,75 81,25 243,06 287,92 387,54 150,05 378,75 135,75 33,00 90,25 4.146,18

Tabel 2.80 Proporsi Panjang Jaringan Jalan Provinsi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011
Kondisi Rusak Ringan Nasional Provinsi Kab/Kota 0,400 104,25 0,785 0,400 0,100 0,400 0,100 5,400 2,300 0,600 0,300 1,100 0,700 12,585 6,24 3,55 2,27 3,11 13,48 4,58 4,69 15,19 12,22 6,69 2,52 5,43 2,55 8,00 0,68 91,21 294,65 61,15 235,50 114,50 280,39 337,36 268,50 55,09 64,50 524,38 139,22 282,75 (347,75) 304,54 190,53 453,52 387,35 127,75 158,75 87,00 9,25 4.133,17 Nasional 35,508 0,796 5,221 0,300 2,445 0,300 7,703 5,300 0,100 0,600 58,273

Kondisi Rusak Berat Provinsi Kab/Kota 98,60 1,30 0,03 0,78 3,15 2,70 22,23 7,77 3,36 2,98 41,00 0,55 85,84 276,66 104,15 190,47 32,50 1.203,79 448,18 482,50 38,11 195,50 844,58 166,79 186,75 (26,75) 57,02 100,23 112,86 915,85 7,75 584,75 3,25 6.023,54

Jalan secara keseluruhan Nasional Provinsi Kab/Kota 106,700 689,00 101,727 34,610 32,544 57,283 22,906 47,075 87,879 41,131 21,102 196,087 110,520 73,825 70,315 93,324 119,642 70,678 172,993 35,828 80,910 145,777 1.722,856 67,88 18,76 40,85 30,60 208,18 71,60 33,38 167,76 120,79 74,90 40,34 53,67 32,55 26,98 146,50 12,77 1.147,51 1.343,00 556,00 1.468,00 789,5 2.469,00 1.318,00 1.392,00 790,00 851,00 2.504,00 819,00 1.380,01 1.395,00 740,00 1.033,00 1.454,00 1.424,00 2.560,01 2.366,00 1.693,00 311,00 325,00 29.616,02

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-64

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Sementara kondisi jalan menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2011, masih banyak dalam kondisi rusak berat dan rusak sedang/ringan. Jaringan jalan terbanyak yang kondisinya rusak berat terdapat di Kabupaten Bulukumba sepanjang 471 km, Kabupaten Maros sepanjang 504 km, Kabupaten Sidrap sepanjang 513 km, Kota Makassar sepanjang 597 km, Kabupaten Tana Toraja sepanjang 940 km, Kabupaten Bone sepanjang 978 km, dan Kabupaten Gowa sepanjang 1.313 km. Kemudian Jaringan jalan yang kondisinya lebih banyak yang rusak sedang dan ringan terdapat di Kabupaten Luwu sepanjang 843 km, Kabupaten Bone sepanjang 699 km, Kabupaten Luwu Utara sepanjang 635 km, Kabupaten Sinjai sepanjang 596 km, kabupaten Pinrang sepanjang 561 km, Kabupaten Wajo sepanjang 526 km, Kabupaten Sidrap sepanjang 490 km, Kabupaten Enrekang sepanjang 465 km, Kabupaten Takalar sepanjang 456 km, Kabupaten Maros sepanjang 416 km, dan Kabupaten Tana Toraja sepanjang 414 km. Tabel 2.81 Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011
Kondisi Jalan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/Kota Kep. Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare-Pare Palopo Sulawesi Selatan Baik 506 756 376 1.495 390 1.010 701 558 660 518 1.201 382 827 497 239 593 547 215 2.110 2.512 726 197 225 17.241 Sedang 80 216 65 28 334 97 399 126 104 122 219 142 190 294 256 325 373 151 443 148 39 92 4.243 Rusak Ringan 107 46 63 18 122 260 197 290 58 89 480 174 336 196 305 140 470 263 192 171 93 11 4.081 Rusak Berat 101 471 107 40 1.313 138 504 52 220 978 242 240 513 61 91 182 940 72 597 5 6.867 Jumlah Total 794 1.489 611 1.541 886 2.680 1.435 1.478 874 949 2.878 940 1.593 1.500 861 1.149 1.572 1.569 2.817 2.512 1.642 329 333 32.432

Sumber : Dinas Bina MargaProv. Sul-Sel Tahun 2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-65

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Rasio Jaringan Irigasi Dalam upaya memenuhi kebutuhan irigasi untuk mendukung pencapaian target overstock pangan dan mendukung ketahanan pangan nasional dilakukan peningkatan luas layanan jaringan irigasi dan optimalisasi fungsi irigasi pada lahan seluas 474.938 hektar. Kinerja jaringan irigasi di Provinsi Sulawesi Selatan memperlihatkan adanya peningkatan yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan rasio jaringan irigasi pada tahun 2008 sebesar 9,5 meningkat menjadi 13,88 pada akhir tahun 2012 dengan indeks efisiensi dan efektivitas pengelolaan jaringan irigasi sebesar 0,75. Sehingga dengan adanya peningkatan efesiensi dan efektifitas peningkatan pengelolaan jaringan irigasi melalui penambahan luasan lahan budidaya yang terairi, maka pencapaian target Sulawesi Selatan sebagai pendukung ketahanan pangan nasional dapat terwujud. Tabel 2.82 Rasio Jaringan Irigasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1. 2. 3. 4. 5. Jaringan Irigasi Jaringan Irigasi Jaringan Sekunder Jaringan Tersier Luas Lahan Budidaya Rasio 2008 329.291 1.194.074 2.073.309 423.173 9,50 Panjang Jaringan (m) 2009 2010 2011 329.291 329.291 1.164.918 1.194.074 1.194.074 2.257.440 2.073.309 2.073.309 2.695.253 423.173 9,50 423.173 9,50 474.938 13,88 2012 1.164.918 2.257.440 2.695.253 474.938 13,88

Sumber : Dinas PSDAProv. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.83 Rasio Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
Panjang Jaringan Irigasi (M) No Kabupaten/Kota Primer
1 2 3

Sekunder
4

Tersier
5

Total Panjang Jaringan Irigasi


(6 = 3 + 4 + 5)

Luas Lahan Terairi /Budidaya


7

Rasio

(8 = 6 / 7)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. *

Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare - Pare Palopo Jumlah

19,185 54,678 10,800 20,479 59,157 19,460 28,480 15,518 8,262 91,322 40,705 28,173 153,958 45,826 24,035 443,520 21,997 27,160 49,302 2,901 1,164,918

80,297 4,233 70,590 34,784 242,341 22,403 69,145 120,418 25,700 186,163 91,087 115,919 527,243 402,332 5,858 132,774 5,761 16,451 95,391 3,200 5,350 2,257,440

1,754 84,393 133,358 48,249 201,351 16,950 205,538 276,290 29,474 314,548 211,230 105,450 219,357 386,210 148,050 7,550 102,230 203,271 2,695,253

0 101,236 143,304 214,748 103,512 502,849 58,813 303,163 412,226 63,436 592,033 343,022 249,542 900,558 834,368 29,893 724,344 35,308 145,841 347,964 0 0 3,200 8,251 6,117,611

3,880 28.252 13,672 28,537 18,243 30,462 15,369 21,494 16,186 6,638 50.970 24,726 26,915 40,206 47,108 13.914 33,468 19,030 14,531 19,167 565 1,605 474.938

0 3,58 10,48 7,53 5,67 16,51 3,83 14,10 25,47 9,56 11,62 13,87 9,27 22,40 17,71 2,15 21,64 1,86 10,04 18,15 5,66 5,14 12,88

Sumber : Dinas PSDAProv. Sul-Sel Tahun 2013


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-66

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.84 Efisiensi & Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
NO
1

PASOKAN IRIGASI
2

2008
3

2009
4

2010
5

2011
6

2012
7

1. 2. 3. 4. 5.

Pasok Irigasi Per Area Pasok Irigasi Relatif Pasok Air Relatif Indek Luas Areal Rancangan Luas Areal

0,001 1,12 4 0,81 635.555

0,001 1,12 4 0,81 635.555

0,001 1,12 4 0,81 635.555

0,001 1,12 4 0,81 635.555

0,001 1,12 4 0,81 635.555

Tabel 2.85 Efisiensi & Efektivitas Pengelolaan Jaringan Irigasi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
No Kabupaten/ Kota Luas Rancan gan (Ha)
3

Sumber : Dinas PSDAProv. Sul-Sel Tahun 2012

Luas Lahan Terairi (Ha)


4

Kebut uhan Air Tanaman (Ha)


5

Pasok Air Irigasi (Lt/dtk)

Pasok Air Irigasi Total (Lt/dtk)


7

Total Pasok Air (Lt/dtk)

PIA (Lt/dtk /Ha)

PIR (Lt/dtk /Ha)


(10 = 7 / 5)

PAR (Lt/dtk /Ha)


(11 = 8 / 5)

IA (%)

(9 = 6 / 4)

(12 = 4/ 3)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24.

Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare - Pare Palopo Jumlah

3,880 34,817 16,386 29,039 19,866 31,657 18,710 24,447 18,284 11,348 63,782 34,883 39,918 45,115 54,277 13,645 47,527 19,082 80,465 25,822 600 2,005 635,555

3,880 26,456 13,672 28,537 18,243 30,462 15,369 21,494 16,186 6,638 50.970 24,726 26,915 40,206 47,108 13.914 33,468 19,030 14,531 19,167 565 1,605 474.938

1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1.25 1,25

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1 1.44 1,4

5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

0,0010 0,0001 0,0003 0,0001 0,0002 0,0001 0,0003 0,0002 0,0002 0,0006 0,0001 0,0002 0,0001 0,0001 0,0001 0,0003 0,0001 0,0002 0,0003 0,0002 0,0069 0,0024 0,001

1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1.12 1,12

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

1.00 0.8 0.83 0.98 0.92 0.96 0.82 0.88 0.89 0.58 0.78 0.71 0.67 0.89 0.87 1,02 0.70 1.00 0.18 0.74 0.94 0.80 0,75

Sumber : Dinas PSDAProv. Sul-Sel Tahun 2013

c. Rasio Tempat Ibadah Ketersediaan tempat ibadah merupakah salah satu dari pelayanan sarana dan prasarana umum yang disediakan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Tempat ibadah yang tersedia dibandingkan dengan jumlah penduduk di Sulawesi Selatan dapat dilihat dari rasio tempat ibadah per satuan penduduk di Sulawesi Selatan pada tahun 2007 sebesar 1,30 dan pada tahun 2011 bertambah menjadi 1,65.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-67

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.86 Rasio Tempat Ibadah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2007-2011
No. a. Bidang/Urusan Jumlah Tempat Ibadah Mesjid Langgar Musholah Gereja Katholik Gereja Protestan Pura Hindu b. Wihara Budha Jumlah Penduduk Rasio Tempat Ibadah per satuan Penduduk Satuan unit unit unit unit unit unit unit unit Jiwa Tahun 2007 19.274 9.974 1.104 1.032 411 1.848 4.878 27 7.700.255 1,30 2008 20.408 11.562 563 1.001 387 2.053 4.819 23 7.805.024 1,48 2009 17.098 10.403 747 1.351 300 2.050 2024 23 7.908.519 1,32 2010 19.295 12.670 747 1.351 2.064 372 2.065 26 8.034.776 1,58 2011 20.147 13.424 747 1.400 422 2.064 2.064 26 8.115.638 1,65

Tabel 2.87 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama yang Dianut Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011
No Kabupaten/Kota 1 Kepulauan Selayar 2 Bulukumba 3 Bantaeng 4 Jeneponto 5 Takalar 6 Gowa 7 Sinjai 8 Maros 9 Pangkep 10 Barru 11 Bone 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Toraja Utara 22 Makassar 23 Pare Pare 24 Palop0 Sulawes Selatan Islam 157.516 317.033 148.837 297.906 229.956 648.344 206.265 264.345 264.465 137.718 678.843 194.357 317.827 269.973 281.438 175.665 285.483 44.623 216.808 179.887 1.833.735 102.030 122.521 7.375.573 Protestan 1 394 266 37 71 2.021 56 471 387 61 1.058 525 82 1.000 4.505 435 8.604 290.653 30.804 38.536 181.546 5.296 5.741 572.551 Katolik 29 178 173 16 1.125 17 441 834 62 137 3.447 64 8.965 82.840 2.337 4.909 43.377 2.627 13.058 164.635 Hindu 143 17 5 2 8 128 6 54 42 37 17 22.238 4 86 11.144 7.428 13.204 8.038 1.131 220 63.954 Budha 176 29 4 223 51 138 7 32 14 16 10 10 11.673 777 349 13.509 Lainnya -

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2012

Sumber : Sulawesi Selatan Dalam Angka Tahun 2012

d. Rasio Tempat Pembuangan Sampah (Tps) Per Satuan Penduduk Ketersediaan sarana dan prasarana dasar permukiman berupa air minum dan sanitasi secara merata dan berkelanjutan turut menentukan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan persampahan di Provinsi Sulawesi Selatan sudah menunjukkan kinerja yang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-68

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

memadai yang dindikasikan dengan meningkatnya rasio daya tampung TPS dari 0,48 pada tahun 2008 menjadi 0,53 pada tahun 2012.
Tabel 2.88 Rasio Tempat Pembuangan Sampah Per Satuan Penduduk

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


2008 219 1,543.80 7.805.024 0.48 2009 224 1,575.45 7.908.519 0.45 Tahun 2010 233 1,639.47 8.034.776 0.46

NO 1. 2. 3. 4.

Uraian Jumlah TPS Jumlah Daya Tampung TPS (M) Jumlah Penduduk Rasio Daya Tampung TPS thd Jumlah penduduk

2011 238 1,672.30 8.115.638 0.47

2012 268 1,883.27 8.306.848 0.53

Sumber : Badan Lingkungan Hidup DaerahProv. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.89 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten / Kota Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo Jumlah Penduduk (Jiwa) 121.853 389.772 178.176 346.204 267.114 653.726 230.262 315.092 316.972 165.906 712.023 223.826 380.979 291.272 350.973 193.946 331.932 222.872 315.688 246.592 306.328 1.288.178 111.014 148.526 TPS Jumlah (Unit) 2 6 2 1 3 18 3 4 2 3 12 4 7 7 7 1 1 4 1 1 2 150 13 11 Jumlah Daya Tampung (Ton) 14,45 39,05 16,40 5,84 23,56 124,79 22,36 27,08 13,12 22,94 82,88 27,18 52,66 49,90 49,19 7,24 9,56 28,96 10,03 7,96 16,24 1.058,65 92,32 80,92 0,27 0,23 0,21 0,04 0,20 0,43 0,22 0,20 0,09 0,31 0,26 0,28 0,31 0,39 0,32 0,08 0,07 28,96 10,03 7,96 16,24 1,87 1,89 1,24 Rasio

Sumber : Badan Lingkungan Hidup DaerahProv. Sul-Sel Tahun 2013


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-69

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

e. Rasio Rumah Layak Huni Berdasarkan luasan lantai bangunan, pada tahun 2008 jumlah rumah tangga yang menempati rumah dengan luasan 20 150 M2 sebanyak 1.753.185 RT, sisanya sebanyak 68.926 menempati rumah dengan luasan <20 M2 . Walaupun mendapat penanganan jumlah rumah yang luasannya < 20 M2, semakin bertambah yang ditunjukkan dengan rasio rumah layak huni yang belum mengalami peningkatan yang siginifikan sejak tahun 2008 dengan rasio 0,21 dan pada tahun 2013 hanya meningkat menjadi 0,23.
Tabel 2.90 Rasio Rumah Layak Huni Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Jumlah rumah layak huni Jumlah penduduk Rasio Rumah Layak Huni Tahun 2008 1.676.450 7.706.686 0,21 2009 1.788.927 7.908.519 0,23 2010 1.773.641 8.034.776 0,22 2011 1.807.360 8.115.638 0,22 2012 1.919.837 8.190.222 0,23

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013

f. Rasio Pemukiman Layak Huni Rasio permukiman layak huni dari tahun ke tahun semakin meningkat, seperti yang terlihat pada tabel, rasio permukiman layak huni tahun 2009 sebesar 0,61 dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 0,86 hal ini menunjukkan bahwa peningkatan luas area permukiman dibarengi juga dengan peningkatan kualitas rumah layak huni. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Luas area permukiman Layak Huni (Ha) Luas area permukiman keseluruhan (Ha) Rasio Permukiman Layak Huni (Ha) Tahun 2009 43.190 70.246 0,61 2010 97.776 122.579 2011 104.744 125.368 2012 114.346 132.790

Tabel 2.91 Rasio Permukiman Layak Huni

0,80

0,84

0,86

Sumber : Dinas Tata Ruang & Pemukiman Tahun 2013

g. Tabel Lingkungan Pemukiman Kumuh Kawasan permukiman perkotaan pada kota-kota besar di Indonesia identik dengan adanya kawasan permukiman kumuh. Lingkungan permukiman kumuh umumnya didiami oleh golongan menengah bawah.sebagaimana juga di kawasan perkotaan di Sulawesi Selatan, peresentase lingkungan permukiman kumuh dari tahun 2009 sampai 2012 mengalami peningkatan sebesar 0,040 point.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-70

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.92 Lingkungan Permukiman Kumuh Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Luas kawasan kumuh (Ha) Luas Wilayah Kota (Ha) persentase Lingkungan Permukiman Kumuh Tahun 2009 2.888,59 4.269.270 0,068 2010 2.788 4.269.270 0,065 2011 2.543 4.269.270 0,060 2012 4.511 4.110.976 0,109

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.4. Perumahan a. Rumah Tangga Ber-Sanitasi Lingkungan dan perilaku yang mempunyai pengaruh besar terhadap derajat kesehatan masyarakat. persentase rumah tangga yang bersanitasi dilihat dari data pada tahun 2008 persentase rumah tangga bersanitasi sebesar 55,31 persen, dan pada tahun 2012 menjadi 75,28 persen dengan persentase terendah di Kabupaten Jeneponto, Maros, Barru, Bone, Kepulauan Selayar, Bantaeng, dan Kabupaten Pangkep. Hal ini tentunya masih membutuhkan kerja keras untuk dapat mencapai angka di atas 90 persen. Tabel 2.93 persentase Rumah Tangga Bersanitasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Jumlah Rumah Tangga berakses sanitasi Jumlah Rumah Tangga persentase 1,783,932 55.31 1,865,662 62.37 1,848,068 69.02 1,892,944 67.79 1,890,654 75.28 Tahun 2008 986,717 2009 1,163,559 2010 1,275,557 2011 1,283,307 2012 1,423,241

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.94 persentase Rumah Tinggal BersanitasiMenurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kabupaten / Kota Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru

Jumlah Rumah Tangga 30,849 96,240 44,103 83,827 63,599 148,237 51,283 70,648 72,534 41,373

Jumlah Rumah Tangga Bersanitasi 20,669 73,142 29,770 53,649 46,109 109,696 39,796 45,921 50,048 27,306

persentase 67.00 76.00 67.50 64.00 72.50 74.00 77.60 65.00 69.00 66.00

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-71

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten / Kota Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo

Jumlah Rumah Tangga 160,728 57,098 95,007 70,356 81,432 44,999 72,952 53,319 74,985 56,428 67,772 293,435 25,462 33,988

Jumlah Rumah Tangga Bersanitasi 108,813 50,075 73,631 55,581 57,003 33,299 51,796 39,456 55,114 40,628 44,797 264,091 22,738 30,113

persentase 67.70 87.70 77.50 79.00 70.00 74.00 71.00 74.00 73.50 72.00 66.10 90.00 89.30 88.60

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013

b. Lingkungan Pemukiman Kumuh Lingkungan permukiman kumuh di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 sebesar 38,52 persen dan pada tahun 2012 mengalami penurunan yang cukup signifikan hingga mencapai 13,98 persen. Penurunan persentase luas permukiman kumuh ini dibarengi dengan meningkatnya kualitas lingkungan permukiman. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang/Urusan Luas area permukiman Kumuh (Ha) Luas area permukiman keseluruhan (Ha) persentase luas permukiman kumuh 2009 27.056 70.246 38.52 Tahun 2010 2011 24.803 122.579 20.23 20.624 125.368 16.45 2012 18.444 132.790 13.98

Tabel 2.95 Lingkungan Pemukiman Kumuh

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Tahun 2013

2.3.1.5. Penataan Ruang a. Rasio Ruang Terbuka Hijau Per Satuan Luas Wilayah Ber HPL/HGB Rasio ruang terbuka hijau ber HPL/HGB dari tahu ke tahun mengalami peningkatan, pada tahun 2008 sebesar 1,73 dan pada tahun 2012 menjadi 17,73. Peningkatan rasio ini tentunya tidak terlepas dari peran pemerintah yang meningkatkan status ruang terbuka hijau.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-72

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.96 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas WilayahBer HPL/HGB
Tahun 2008 2009 2010 1 Luas Ruang Terbuka Hijau 3,627 3,990 8,690 2 Luas Wilayah ber HPL/HGB 2,092 1,294 1,483 3 Luas Wilayah 45,707 45,707 45,707 4 Rasio Ruang Terbuka Hijau (1/2) 1.73 3.08 5.86 Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013 No Uraian

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

2011 8,690 593 45,707 14.65

2012 14,944.57 843.00 45,707.44 17.73

Tabel 2.97 Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas WilayahMenurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten / Kota Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo Luas Wilayah (Km2) 903.50 1,154.67 395.83 903.40 566.51 1,883.33 819.96 1,619.12 1,112.30 1,174.72 4,559.00 1,359.50 2,506.12 1,883.25 1,961.77 1,786.01 3,000.25 2,054.30 7,502.58 6,944.90 1,151.47 175.77 99.33 247.50 116.00 Luas Wilayah ber HPL/HGB (Km2) Luas Ruang Terbuka Hijau (Km2) 100.94 113.35 27.21 90.98 35.75 266.35 117.20 564.50 511.16 512.26 438.47 358.59 76.80 453.22 451.69 722.25 853.72 928.26 3,622.15 4,073.70 502.77 10.55 20.04 92.66 Rasio RTH 100.94 0.98 27.21 90.98 1.12 1.51 117.20 564.50 511.16 512.26 438.47 358.59 76.80 453.22 50.19 722.25 853.72 7.49 3,622.15 4,073.70 502.77 0.03 20.04 92.66

32.00 176.00

9.00

124.00

385.00

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.6. Perencanaan Pembangunan Ketersediaan dokumen perencanaan yang telah di Perdakan sangat diperlukan dalam tahap proses pelaksanaan pembangunan, ketersediaan dokumen tersebut berupa dokumen RPJPD, RPJMD dan RKPD.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-73

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.98 Tersedianya Dokumen Rencana Pembangunan Daerah dan Rencana SKPD (Yang Telah Ditetakan Dengan PERDA) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 Bidang/Urusan Tersedianya Dokumen RPJPD 2 Tersedianya Dokumen RPJMD 3 Tersedianya Dokumen RKPD Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2008 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2028 Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2028 Peraturan Gubernur No. 20 tahun 2007 4 Tersedianya Dokumen Renstra SKPD 55 Peraturan Gubernur No. 28 tahun 2008 55 Peraturan Gubernur No. 104 tahun 2009 55 Peraturan Gubernur No. 43 tahun 2010 55 Peraturan Gubernur No. 29 tahun 2011 55

Sumber : Bappeda Sulawesi SelatanProv. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.7. Perhubungan a. Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Jumlah arus penumpang angkutan penumpang umum dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, ini tentunya harus menjadi perhatian yang serius, dan dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan dan infrastruktur. Rata rata peningkatan jumlah penumpang dalam kurun waktu 5 tahun terakhir sebesar 1 juta penumpang. Tabel 2.99 Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1. 2. 3. 4. 5. Uraian Jumlah penumpang Bis Jumlah penumpang Kereta api Jumlah penumpang Kapal laut Jumlah penumpang Pesawat udara Total Jumlah Penumpang 5.323.783 6.088.830 7.012.469 8.123.177 9.322.825 Tahun 2008 632.783 4.700.000 2009 688.830 5.400.000 2010 512.469 6.500.000 2011 823.177 7.300.000 2012 99.648 823.177 8.400.000

Sumber : Dinas PerhubunganProv. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.100
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-74

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Jumlah Arus Penumpang Angkutan Umum Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
Jumlah penumpang No Kabupaten/kota Kereta Kapal Pesawat Bis api laut udara (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Kepulauan Selayar 1662.755 2 Bulukumba 5475.716 3 Bantaeng 2435.937 4 Jeneponto 4699.507 5 Takalar 457.7606 6 Gowa 8375.522 7 Sinjai 3169.612 8 Maros 4251.178 9 Pangkep 4132.1 10 Barru 2270.397 11 Bone 9950.937 12 Soppeng 324.4955 13 Wajo 5341.685 14 Sidrap 352.6187 15 Pinrang 4858.905 16 Enrekang 2626.087 17 Luwu 4539.337 18 Tana Toraja 2856.6 19 Luwu Utara 4268.66 20 Luwu Timur 3135.004 21 Toraja Utara 3524.787 22 Makassar 17475.68 823.177 8.400.000 23 Pare Pare 1643.63 24 Palopo 1919.092 Jumlah 99.648 823.177 8.400.000 Sumber : Dinas PerhubunganProv. Sul-Sel Tahun 2013 Total Jumlah Penumpang (7=3+4+5+6) 1662.755 5475.716 2435.937 4699.507 457.7606 8375.522 3169.612 4251.178 4132.1 2270.397 9950.937 324.4955 5341.685 352.6187 4858.905 2626.087 4539.337 2856.6 4268.66 3135.004 3524.787 9.240.652 1643.63 1919.092 9.322.825

Angkutan No Umum
(1) (2)

Mobil penumpang Mobil bus umum Jmlh Jmlh Jml % Jml % KIR KIR
(3) (4) (5=4/3) (6) (7)

b. Jumlah Uji KIR Angkutan Umum Uji kir adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau memeriksa bagian-bagian kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan dan kendaraan khusus dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik jalan. Berikut adalah data uji Kir yang dilakukan di beberapa Kabupaten/Kota. Tabel 2.101 Jumlah Uji Kir Angkutan Umum Selama 1 (satu) Tahun. Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
Mobil barang Jml
(9)

Kereta gandengan Jml


(12)

Kereta tempelan Jmlh Jml KIR %

Jmlh KIR
(10)

%
(11=10/9)

Jmlh KIR
(13)

Jmlh Jmlh Angkutan KIR


(18) (19)

%
(20=19/18)

(8=7/6)

(14=13/12) (15)

(16) (17=16/15)

Kepulauan 163 Selayar

163

100%

17

17

100% 173

137

100%

317

317

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-75

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Angkutan No Umum

Mobil penumpang Mobil bus umum Jmlh Jmlh Jml % Jml % KIR KIR

Mobil barang Jml Jmlh KIR %

Kereta gandengan Jml Jmlh KIR %

Kereta tempelan Jmlh Jml KIR %

Jmlh Jmlh Angkutan KIR

2 Bulukumba 3 Bantaeng 4 Jeneponto 5 Takalar 90 6 Gowa 1754 7 Sinjai 178 8 Maros 9 Pangkep 10 Barru 20 11 Bone 1077 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidrap 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu Tana 18 Toraja Luwu 19 Utara Luwu 20 Timur Toraja 21 Utara 22 Makassar 12.316 23 Pare Pare 64 24 Palopo 3014 Jumlah

90 100% 150 150 1753 99% 49 49 100% 4247 4055 178 100% 1.208 1.208 100% -

100% 90% -

240 6050 1368

240 5857 1386

40 1075

744 1178 4543 1063

716 1374 1571 2179

1480 7137

2592 4317

5.410 64 3012

293 189 169 169 1821 1816

35.710 26.488 1264 1264 593 590

212 237 14 14 -

48.531 1511 5.428

32.324 1511 5.418

Sumber : Dinas PerhubunganProv. Sul-Sel Tahun 2013

c. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Jumlah pelabuhan laut/udara/terminal bis mengalami peningkatan, pada tahun 2008 sebesar 96, dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 101, peningkatan jumlah ini diakibatkan semakin meningkatnya jumlah penumpang yang melalui pelabuhan laut/udara/terminal, namun peningkatan jumlah tersebut masih sangat kurang dibandingkan dengan peningkatan jumlah penumpang dari tahun ke tahun. Tabel 2.102 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun No Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 1. Jumlah pelabuhan laut 59 60 61 61 62 2. Jumlah pelabuhan udara 11 11 11 12 13 3. Jumlah terminal bis 26 26 26 26 26 Jumlah 96 97 98 99 101
Sumber : Dinas PerhubunganProv. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-76

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.103 Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis Menurut Kab/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/kota Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Palopo Pare-pare Jumlah Jumlah Pelabuhan laut 13 3 1 1 1 3 5 4 7 4 1 4 4 1 5 2 1 2 62 Pelabuhan udara 2 1 1 2 3 1 1 1 13 Terminal bis 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 1 2 26

Sumber : Dinas PerhubunganProv. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.8. Lingkungan Hidup a. persentase Penanganan Sampah Jumlah produksi sampah dari tahun ke tahun semakin meningkat, pada tahun 2008 produksi sampah sebesar 2,3 juta M3 dan pada tahun 2012 menjadi 2,6 juta M3, namun hal tersebut tidak dibarengi dengan jumlah sampah yang ditangani, persentase sampah yang ditangani dari tahun 2008 sebesar 82,65 persen, namun pada tahun 2012 menurun menjadi 81,23 persen. Tabel 2.104 persentase Penanganan Sampah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 Jumlah Uraian sampah yang ditangani (M3/Thn) Tahun 2008 1,943,248 2009 1,983,080 2010 2,063,667 2011 2,104,995 2012 2,147,498

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-77

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 2 3

Uraian Jumlah produksi sampah (M3/Thn) persentase

Tahun 2008 2,351,118 82.65 2009 2,338,596 84.80 2010 2,537,022 81.34 2011 2,589,619 81.29 2012 2,643,827 81.23

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.105 Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
No Kabupaten Jumlah Sampah yang Jumlah Volume Produksi / Kota Ditangani (M3/Thn) Sampah (M3/Thn) Kepulauan 1 18,190 21,884 Selayar 2 Bulukumba 49,159 61,449 3 Bantaeng 20,638 43,967 4 Jeneponto 7,345 24,482 5 Takalar 29,651 38,205 6 Gowa 145,858 191,916 7 Sinjai 28,142 46,903 8 Maros 34,091 59,115 9 Pangkep 16,512 41,280 10 Barru 28,873 41,597 11 Bone 96,874 107,703 12 Soppeng 34,212 46,816 13 Wajo 66,286 79,544 14 Sidrap 62,815 86,641 15 Pinrang 61,916 69,568 16 Enrekang 9,118 19,538 17 Luwu 12,033 15,471 18 Tana Toraja 33,849 65,582 19 Luwu Utara 12,620 16,042 Luwu 20 8,683 43,413 Timur 21 Toraja Utara 20,440 44,548 22 Makassar 1,154,894 1,256,220 23 Pare Pare 100,713 106,128 24 Palopo 94,586 115,815 Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Sulawesi Selatan Tahun 2013 persentase 83.12 80.00 46.94 30.00 77.61 76.00 60.00 57.67 40.00 69.41 89.95 73.08 83.33 72.50 89.00 46.67 77.78 51.61 78.67 20.00 45.88 91.93 94.90 81.67

b. persentase Penduduk Berakses Air Minum Peningkatan kualitas kesehatan sangat dipengaruhi oleh kualitas air minum, pada tahun 2008 persentase penduduk terhadap akses air bersih sebesar 77,36 persen, dan pada tahun 2012 menjadi 82,52 persen, terjadi peningkatan sebesar 5 persen.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-78

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.106 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


Tahun

2008 2009 2010 2011 Jumlah penduduk yang 6,037,826 6,402,141 6,481,108 6,691,486 mendapat akses air minum 2 Jumlah penduduk 7,805,024 7,908,512 8,034,776 8,115,638 3 persentase penduduk 77.36 80.95 80.66 82.45 berakses air bersih Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013 Tabel 2.107 Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum dan Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 1
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Kabupaten / Kota Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Jumlah Penduduk 124,516 398,531 178,477 346,149 272,316 659,512 231,182 322,212 308,814 167,653 724,905 226,079 388,985 274,648 354,652 192,163 335,828 223,306 290,365 245,515 218,943 1,339,374 130,563 Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum 113,112 295,836 168,007 313,966 234,456 572,876 169,030 274,325 222,896 151,133 560,160 205,611 297,201 265,328 303,627 131,804 253,558 124,673 212,723 189,523 113,307 1,347,480 129,025

No

Uraian

2012 6,785,324

8,222,631 82.52

persentase 90,84 74.23 94.13 90.70 86.10 86.86 73.12 85.14 72.18 90.15 77.27 90.95 76.40 96.61 85.61 68.59 75.50 55.83 73.26 77.19 51.75 100.61 98.82

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-79

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 24

Kabupaten / Kota Palopo

Jumlah Penduduk 149,421

Jumlah Penduduk yang Mendapatkan Akses Air Minum 135,667

persentase 90.80

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013

c. persentase Luas Pemukiman Yang Tertata persentase luas permukiman yang tertata pada tahun 2009 sebesar 61,48 persen dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 86,11 persen, atau meningkat 25 persen dala kurun waktu 4 tahun. Tabel 2.108 persentase Luas Permukiman yang Tertata Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Luas area permukiman tertata(Ha) Luas area permukiman keseluruhan (Ha) persentase luas permukiman yang tertata (Ha) 2008 2009 43,190 70,246.24 61.48 Tahun 2010 97,776 2011 104,744 125,368.04 83.55 2012 114,345.83 132,790.04 86.11

122,579.24 79.77

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.109 persentase Luas Permukiman yang Tertata Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kabupaten / Kota Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luas Area Permukiman Keseluruhan (Ha) 872.15 237,87 7,253.00 2,674.00 1,929.00 9,793.26 169.00 3,420.48 3,336.70 2,767.92 17,779.00 272.73 150.00 21,395.22 508.20 3,351.00 Luas Area Permukiman Tertata (Ha) 690.15 202.56 6,553.30 2,333.80 1,508.50 9,378.68 126.27 1,991.88 3,092.80 1,514.10 11,349.90 188.73 138.04 21,130.11 473.55 2,463.70 persentase 79.13 85.16 90.35 87.28 78.20 95.77 74.72 58.23 92.69 54.70 63.84 69.20 92.03 98.76 93.18 73.52
II-80

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten / Kota Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo

Luas Area Permukiman Keseluruhan (Ha) 7,318.00 1,474.83 17,717.00 10,059.44 9,865.00 5,400.24 424.00 4,622.00

Luas Area Permukiman Tertata (Ha) 6,685.30 914.13 16,106.30 9,299.44 9,706.50 4,501.74 310.20 3,686.15

persentase 91.35 61.98 90.91 92.44 98.39 83.36 73.16 79.75

Sumber : Dinas Tata Ruang & Permukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2012

d. Sumber Air yang Dipantau Status Mutu Airnya Pemantauan sumber air dilakukan pada sungai-singai yang ada Sulawesi Selatan, pada tahun 2008 dilakukan pemantauan pada 1 sungai dan menjadi 4 sungai pada tahun 2012. Pemantauan ini akan terus dilakukan pada sungai-sungai lainnya. Tabel 2.110 Persentase Jumlah Sumber Air yang Dipantau Status Mutu Airnya Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1. 2. 3. Uraian Jumlah sungai yang dipantau mutu airnya Jumlah sungai yang dipantau persentase Jumlah sumber air yang dipantau Mutu Airnya (1)/(2) 2008 1 27 3.70 % 2009 1 27 3.70 % Tahun 2010 2 27 7.41 % 2011 3 27 11.11 % 2012 4 27 14.81 %

Sumber : Badan Lingkungan Hidup DaerahProv. Sul-Sel Tahun 2013 e. Cakupan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Amdal Pengawasan terhadap pelaksanaan Amdal meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah wajib Amdal yang diawasi. persentase pengawasan pada tahun 2008 sebesar 94,94% meningkat menjadi 98,21% di tahun 2012. Tabel 2.111 persentase Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Amdal Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Tahun No Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 1. Jumlah Perusahaan wajib 225 242 267 298 329 AMDAL yang telah diawasi 2. Jumlah seluruh perusahaan 237 251 272 300 335 wajib AMDAL 3. persentase Jumlah 98,16 Pengaduan yang 94,94 % 96,41 % 99,33 % 98,21 % % ditindaklanjuti (1)/(2) Sumber : Badan Lingkungan Hidup DaerahProv. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-81

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

g. Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Per Satuan Penduduk Rasio daya tampung TPS terhadap jumlah penduduk perlu ditingkatkan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Pada tabel terlihat bahwa rasio daya tampung TPS tahun 2008 sebesar 0,0015% menurun menjadi 0,0014% pada tahun 2012. Tabel 2.112 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1. 2. 3. Uraian Jumlah Daya Tampung TPS (M) Jumlah Penduduk Rasio Daya Tampung TPS thd Jumlah penduduk 2008 122,24 2009 122,24 Tahun 2010 122,24 2011 122,24 2012 122,24

7.700.255 7.908.519 8,034,776 8.115.638 8.199.999 0,0015 % 0,0015 % 0,0015 % 0,0015 % 0,0014 %

Sumber : Badan Lingkungan Hidup DaerahProv. Sul-Sel Tahun 2013 Tabel 2.113 Rasio Tempat Pembuangan Sampah terhadap Jumlah Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Uraian Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo Jumlah Jumlah Penduduk (jiwa) 124.854 399.785 178.861 346.894 275.567 677.456 231.910 325.994 311.821 167.580 725.743 224.184 387.423 278.091 356.334 193.534 338.494 223.653 292.670 254.080 219.676 1.377.494 132.540 155.360 8.199.999 Jumlah Daya Tampung TPS (Ton) 18.000,00 29.040,00 27.000,00 43.920,00 46.800,00 23.400,00 28.800,00 25.051,20 126.000,00 98.280,00 41.277,60 32.850,00 49.680,00 17.683,56 9.000,00 12.045,00 11.340,00 4.200,00 1.196.513,80 164.520,00 120.600,00 2.126.001,16 Rasio 14,41 % 7,26 % 15,09 % 6,48 % 20,18 % 7,18 % 9,23 % 14,95 % 17,36 % 43,84 % 10,65 % 11,81 % 13,94 % 9,14 % 2,66 % 5,39 % 3,87 % 1,65 % 86,86 % 124,13 % 77,62 %

Sumber : Badan Lingkungan Hidup DaerahProv. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-82

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

h. Penegakan Hukum Lingkungan Kasus lingkungan ditindaklanjuti secara menyeluruh kecuali pada tahun 2011 yang menindaklanjuti 15 dari 16 kasus lingkungan. Tabel 2.114 persentase Penegakan Hukum Lingkungan Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Tahun No Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 1. Jumlah kasus lingkungan 5 6 10 15 22 yang diselesaikan pemda 2. Jumlah kasus lingkungan 5 6 10 16 22 yang ada 3. persentase Jumlah Pengaduan yang 100 % 100 % 100 % 93.75 % 100 % ditindaklanjuti (1)/(2) Sumber : Badan Lingkungan Hidup DaerahProv. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-83

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.3.1.9. Pertanahan a. persentase Luas Lahan Bersetifikat Lahan bersertifikat terdiri atas lahan Hak Milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGU), dan Hak Pengelolaan (HPL) Tabel 2.115 Luas Lahan Bersetifikat Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 KABUPATEN /KOTA Makassar Gowa Takalar jeneponto Maros Pangkep Barru Luwu Tana Toraja Soppeng Sinjai Selayar Bone Wajo Pare-Pare Pinrang Sidrap Enrekang Bantaeng 2,289,090 2,230,725 99,049,471 2,504,384 112,039,223 2,726,966 608,436 187,714 5,184,060 344,096 2,312,079 473,860 1,244 8,986 7,005 5,250 19,633 403 9,166 10,020 66,068 165,202 3,942,789 41,640 5,881,014 30,392 104,134 14.705 18,170 11,528 9,305 12,629 614,026 3,320,953 14,212 2,130,070 2,048 360 1,265,240 224,466 1,512 919,411 27,588 9,052 42 8,300 1,231 8,080 102,587 3,546 143 2,433,045 2,881,629 3,041,456 296,264 19,283 683,667 68,663 12,031 19,879 10,442 857,733 208 2,345,736 53,750 1,153,000 2,678 5,548,670 359,024 15,445 68,615 323,628 3,504,680 218,004 60 972 HM 5,703,483 8,507,650 2,998,656 2,208,071 1,387,135 31,966,321 491 7,733 1,420 1,025 2008 HGU HGB 225,346 1,026,243 3,747 423,686 50,571 HPL 51,439 4,186 39,790 6,714 11,120 HM 1,992,613 4,248,694 2,524,087 2,257,362 1,487,920 6,458,008 61,181 601,992 124,793 1,800,774 154,094 663 49,012 24,848,000 544,152 8,890,000 102,369 9,137 530,253 420,232 123,688 2009 HGU HGB 708,424 334,168 5,358 HPL HM 545,822 10,183 5,605,881 1,116 634 285,778 10,787 2010 HGU HGB 628,712 HPL HM 473,885 2011 HGU HGB 424,490 HPL HM 459,524 80,604 1,086,873 2012 HGU HGB 385,471 176,052 32,540 HPL

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-84

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No. 20 21 22 23 24

KABUPATEN /KOTA Bulukumba Luwu Utara Palopo Luwu Timur Toraja Utara Jumlah 289,976,486 HM 3,479,244 2,422,889 217,352 1,135,581

2008 HGU 6,194 26,330 495 14,337 114,489 HGB 15,941 179,972 2,315 1,549 2,091,889 6,881,047 7,184,908 HPL 106,259 HM 884,407 4,579,215 102,304 4,637,511 46,543,435

2009 HGU HGB 4,866 21,263 1,995 1,293,680 HPL HM 858,729 7,870,181 34,131 73,446 28,036,112

2010 HGU HGB 111,215 89,500 52,276 1,482,654 360 17,585,641 HPL HM 3,695,774 140,638

2011 HGU HGB 1,247 HPL HM 8,111,403 1,333,254 893,080 174,087,000 60 593,102 222,407,260

2012 HGU HGB 116,433 HPL

843,236

Sumber : Bappeda Prov. Sul-Sel Tahun 2013 Tabel 2.116 Rasio Luas Lahan Bersetifikat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kab/Kota Makassar Gowa Takalar Jeneponto Maros Pangkep Barru Luwu Tana Toraja Soppeng 4,839 431,584 18 1,231 8 0 11,994 13,064 19,879 3,880 1 310 1,449 15,502 0 4 2,377 39,250 540 7,060 316 14,928 12,031 31 2008 HM 4,616 14,042 11,752 6,644 4,575 108,310 1 30 4 3 HGU HGB 225,346 1,694 15 1,275 167 HPL 51,439 7 156 20 37 HM 1,567 6,883 9,784 6,755 4,852 21,620 61,181 1,969 408 5,831 499 2 290 73,308 2009 HGU HGB 708,424 334,168 5,358 HPL HM 408 16 20,793 3 2 1,049 40 2010 HGU HGB 470 HPL HM 350 2011 HGU HGB 314 HPL HM 334 120 3,933 2012 HGU HGB 280 262 118 HPL

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-85

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No. 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kab/Kota Sinjai Selayar Bone Wajo Pare-Pare Pinrang Sidrap Enrekang Bantaeng Bulukumba Luwu Utara Palopo Luwu Timur Toraja Utara Jumlah

2008 HM 11,084 935,133 3,864 1,607 1,596 14,940 1,373 12,294 2,741 8,909 7,724 1,531 4,920 16 84 495 62 4 36 37 15 78 2 53 41 574 2,315 7 29,881 272 29 264 867 22,637 2,240 14,222 698 19,538 26 11,528 13 12,629 5,167 9,460 42 HGU HGB HPL 36 HM 1,298 158 961

2009 HGU HGB 68,663 HPL HM 10,249 440 1,607 7 14,212 6,067

2010 HGU HGB 1,569 127 14,264 6 360 3,568 817 41,640 4,866 21,263 33,283 2,176 27,377 231 1,995 302 215 172 282 311 583 9,273 484 HPL HM 943

2011 HGU HGB HPL HM 440 73 726 1,073 4 2,575 99 82 3 20,228 4,544 5,884 697,070

2012 HGU HGB HPL

25

290

1,601,179

13,575

244,547

82,113

168,693

1,293,680

108,839

3,872

360

54,116

864

852,409

1,516

Sumber : Bappeda Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-86

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Penyelesaian Kasus Tanah Negara Jumlah penyelesaian kasus tanah negara dalam kurun lima tahun terkahir menunjukkan pertumbuhan rata-rata sebesar 87,86 persen, namun hal tersebut perlu lebih ditingkatkan lagi. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Jumlah Kasus yang Diselesaikan Jumlah Kasus yang Terdaftar Rasio Penyelesaian Kasus Tanah Negara Tahun 2008 100 125 80 2009 80 100 80 2010 119 131 90,84 2011 49 49 100 2012 69 78 88,46

Tabel 2.117 Penyelesaian Kasus Tanah Negara

Sumber : Biro Pemerintahan Umum Prov. Sul-Sel Tahun 2013 2.3.1.10. Kependudukan Dan Catatan Sipil a. Rasio Penduduk Ber-KTP Per Satuan Penduduk Rasio penduduk ber KTP pada Tahun 2008 sebesar 0,36 dan menjadi 0,62 pada tahun 2012, dari data tersebut menujukkan masih kurangnya kesadaran masyarakat dalam memiliki KTP. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Jml penduduk usia>17 yang ber KTP Jml penduduk usia >17 telah menikah Rasio Penduduk Ber-KTP Per Satuan Penduduk 0.36 0.38 0.45 0.43 0.62 Tahun 2008 972.780 2.714.760 2009 1.098.314 2.899.394 2010 1.432.484 3.182.705 2011 1.729.846 4.003.715 2012 2.580.551 4.168.185

Tabel 2.118 Rasio penduduk br KTP per satuan penduduk

Sumber : Biro Pemerintahan Umum Prov. Sul-Sel Tahun 2013 b. Rasio Bayi Berakte Kelahiran Rasio bayi berakte kelahiran dari tahun 2008 hingga tahun 2012 mengalami peurunan dari 1,69 pada tahun 2008 menjadi 0,66 pada tahun 2012, hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terkait administrasi akte kelahiran sangat kurang Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Jml penduduk ber KK Jml penduduk telah menikah Rasio bayi br akte kelahiran Tahun 2008 98.641 58.461 1,69 2009 57.565 54.648 1,05 2010 38.478 83.060 0,46 2011 92.791 137.002 0,68 2012 64.132 96.698 0,66

Tabel 2.119 Rasio Bayi Berakte Kelahiran

Sumber : Biro Pemerintahan Umum Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-87

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

c. Rasio Pasangan Berakte Nikah Rasio pasangan berakte nikah pada tahun 2008 sebesar 0,19 dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 0,22, atau mengalami peningkatan sebesar 0,3 point selama tahun, ini menunjukkan bahwa semakin meningginya tingkat kesadaran pada pasangan nikah untuk memiliki akte nikah. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Jml pasangan nikah ber akte nikah Jml keseluruhan pasangan nikah Rasio pasangan berakte nikah Tahun 2008 129.245 679.154 0.19 2009 142.046 841.584 0.17 2010 167.133 945.172 0.18 2011 183.920 938.483 0.20 2012 251.398 1.140.387 0.22

Tabel 2.120 Rasio Pasangan Berakte Nikah

Sumber : Biro Pemerintahan Umum Tahun 2013

d. Kepemilikan KTP Jumlah penduduk yang memiliki KTP sebesar 32,61 persen dari jumlah penduduk wajib KTP pada tahun 2008 dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 47,19 persen, atau mengalami peningkatan sebesar 4 persen selama 5 tahun. Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Jml penduduk memiliki KTP Jml penduduk wajib KTP Kepemilikan KTP (%) Tahun 2008
1.107.322 3.396.117 32.61

Tabel 2.121 Kepemilikan KTP

2009
1.504.374 3.756.032 40.05

2010
1.783.228 4.675.309 38.14

2011
2.405.168 6.186.197 38.88

2012
3.154.578 6.684.925 47.19

Sumber : Biro Pemerintahan Umum Tahun 2013 e. Kepemilikan Akta Kelahiran Per 1000 Penduduk Kepemilikan akte kelahiran dalam kurun lima tahun terakhir mengalami peningkatan, dari tahun 2008 sebesar 0,21 persen menjadi 0,29 persen pada tahun 2012, namun peningkatan tersebut masih jauh dari yang diharapkan.
Tabel 2.122 Kepemilikan Akta Kelahiran Per 1000 Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 Uraian Jml penduduk memiliki akte kelahitran Jml penduduk Kepemilikan akte kelahiran (%) Tahun 2008
1.217.021 5.712.044

2009
1.539.708 5.752.167

2010
1.752.094 7.142.984

2011
2.154.038 8.486.264

2012
2.509.234 8.710.299

Sumber : Biro Pemerintahan Umum Prov. Sul-Sel Tahun 2013

0.21

0.27

0.25

0.25

0.29

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-88

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.123 Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KTP, KK, Akte Lahir, Akte Nikah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Sdh 73,246 209,325 32,624 49,846 182,525 78,580 127,782 445,921 44,904 68,426 32,493 31,875 52,135 181,532 90,971 115,881 179,425 122,924 248,597 151,817 35,235 256,230 78,428 86,747 2,977,469 KTP blm 17,855 113,906 166,109 217,628 40,067 623,564 67,122 113,487 252,365 Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KK Akte lahir Sdh blm Sdh blm 36,967 36,967 29,771 100,715 125,788 25,157 135,952 295,866 25,001 41,153 33,215 165,518 98,399 42,316 22,927 351,026 243,465 49,866 84,966 111,180 82,618 619,937 99,982 30,478 71,875 208,438 220,682 51,675 470,754 449,257 81,673 874 91,223 45,837 140,521 81,615 20,428 56,370 93,360 33,599 47,774 43,602 1,427,787 3,176 3,906 76,051 4,081 44,435 14,092 6,966 39,490 14,612 546,609 74,858 17,306 25,499 410,013 255,112 99,116 13,818 12,169 201,383 146,892 87,666 44,305 204,609 24,213 58,118 2,765,654 3,009 158,698 231,428 101,550 59,842 355,221 35,538 226,982 203,794 199,498 1,607,284 157,521 125,535 5,706,523 Akte nikah Sdh Blm 30,064 29,929 19,822 1,631 626 208 373,745 53,406 80,107 1,310 207,323 62,197 18,060 20,340 2,935 854 56,820 154 9,541 12,169 42,095 3,573 3,884 11,096 6,653 2,438 14,019 518,395 21,032 17,493 1,311 432 6,088 66 35,221 11,274 123,192 55,057 1,071 10,814 1,501 57,538 1,208,694

Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Bone Maros Pangkajene 10 Kepulauan 11 Barru 12 Soppeng 13 Wajo 14 Sidenreng Rapang 15 Pinrang 16 Enrekang 17 Luwu 18 Tana Toraja 19 Luwu Utara 20 Luwu Timur 21 Toraja Utara 22 Kota Makasar 23 Kota Parepare 24 Kota Palopo Jumlah se-provinsi

170,573 91,399 150,616 308,328 31,539 150,152 31,499 72,962 57,051 3,420 38,438 108,727 1,026,670 35,542 39,430 3,928,449

Sumber : Biro Pemerintahan Umum Prov. Sul-Sel Tahun 2013 2.3.1.11. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a. persentase Partisipasi Perempuan Di Lembaga Pemerintahan persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan tabel diatas, menunjukkan angka lebih rendah dibandingkan laki-laki. Jika dilihat berdasarkan golongan ruang, berbedaan ini lebih banyak dipengaruhi oleh PNS laki-laki yang berada di golongan ruamg I-a sampai II-b yang mencapai hampir seperempat dari jumlah total. Hal menarik yang dapat dicermati dari tabel diatas adalah semakin tinggi golongan ruang, maka semakin kecil persentase atau jumlah perempuannya. Ini menunjukkan masih terdapat perbedaan peluang dan partisipasi perempuan dalam jabatan struktural yang berkorelasi positif dengan golongan ruang. Data dari Badan Kepegawaian Daerah menunjukkan bahwa partisipasi perempuan pada jabatan struktural pemerintah provinsi pada tahun 2012 baru mencapai 36 %, dimana hampir pada seluruh jenjang eselon jabatan struktural, dominasi laki-laki masih sangat menonjol. Jika hal ini dikaitkan dengan golongan ruang PNS, khususnya pada golongan ruang III-a sampai III-d yang hanya selisih 1% antara laki-laki dan perempuan, maka dapat dilihat bahwa masih terdapat kesenjangan akses bagi PNS perempuan untuk menduduki jabatan struktural.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-89

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 Tahun 2012 Golongan PNS Pria PNS Wanita No Ruang Jumlah Jumlah persentase persentase 65 15 1 I/a 81% 19% 36 2 95% 5% 2 I/b 106 16 87% 13% 3 I/c 55 11 83% 17% 4 I/d 618 263 70% 30% 5 II/a 422 216 66% 34% 6 II/b 219 395 36% 64% 7 II/c 171 207 45% 55% 8 II/d 595 604 50% 50% 9 III/a 1106 904 55% 45% 10 III/b 530 513 51% 49% 11 III/c 730 797 48% 52% 12 III/d 478 398 55% 45% 13 IV/a 186 89 68% 32% 14 IV/b 58 33 64% 36% 15 IV/c 48 19 72% 28% 16 IV/d 5 2 71% 29% 17 IV/e 5428 4484 55% 45% 12 Total
Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan& Keluarga BerencanaProv. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.124 persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintahan

b. Pastisipasi Perempuan Di Lembaga Swasta Partisipasi perempuan di lembaga swasta, dalam hal ini ditinjau dari jumlah tenaga kerja perempuan di perusahaan swasta, menunjukkan persentase yang jauh lebih renda dibandingkan laki-laki. Hal ini bermakna rendahnya partisipasi perempuan yang kemungkinan besar disebabkan oleh terbatasnya akses perempuan di lapangan kerja swasta. Budaya patriarkhi masih menempatkan perempuan pada jenis-jenis pekerjaan dalam kategori marginal, seperti buruh perusahaan dan pelayan toko. Peluang kerja yang ditawarkan oleh perusahaan swasta lebih banyak terbuka untuk laki-laki.
Tabel 2.125 persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Swasta

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


Tahun 2008 10.177 153.492 % 2009 11.348 174.166 74 26 133.639 40.527 77 23 % 2010 12.059 175.783 122.661 53.122 70 30 %

NO 1 2 3

JENIS DATA Jenis Perusahaan Jumlah Jumlah Tenaga Kerja Formal L W

2011 11.067 190.736 135.802 54.934

2012 11.358 186.345

113.670 39.822

71 29

144.298 44.047

77 24

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan& Keluarga Berencana Prov. Sul-Sel Tahun 2013
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-90

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

c. Jumlah Laporan Penanganan KDRT Penanganan kasus KDRT merupakan mandat SPM urusan wajib pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, sebagaimana tertuang dalam SPM Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan. Pelayanan terpadu ini menuntut jejaring kerja antar lembaga pemerintah yang meliputi Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, BPPKB, Kementrian Agama, Bapas dan Lapas, serta lembaga non pemerintah dalam penyediaan layanan bantuan hukum dan konseling psikologis. Berdasarkan laporan dari beberapa lembaga dan kabupaten/kota sebagaimana tercermin dalam tabel diatas, nampak terjadi peningkatan jumlah aduan kasus yang ditangani. Hal ini mengindikasikan bahwa kasus kekerasan menjadi tantangan nyata di provinsi dan kabupaten/kota yang menuntut keseriusan pemerintah daerah untuk menyediakan layanan terpadu sesuai standar SPM dan peraturan perundangan lainnya terkait perlindungan perempuan dan anak. Tabel 2.126 Jumlah Laporan Penanganan Kasus KDRT Terhadap Perempuan & Anak Tahun 2009 - 2012 Uraian Laporan Penanganan Kasus KDRT 2009 315 Tahun 2010 2011 313 540 2012 728

Sumber Data : Diolah dari Data UPPA Polda, LPA dan P2TP2A kab/Kota Tahun 2013

d. Angkatan Kerja Dibawah Umur Angkatan kerja dibawah umur di Sulawesi Selatan dari tahun 2008 sampai tahun 2012 menunjukkan adanya penurunan jumlah. Namun demikian, data diatas memberikan gambaran masih banyaknya jumlah anak di bawah umur yang terpaksa bekerja. Pada umumnya anak bekerja karena faktor ekonomi keluarga atau pengetahuan orang tua yang relative rendah tentang hak tumbuh kembang anak, sehingga penguatan ketahanan keluarga menjadi sangat penting maknanya dalam upaya pengurangan jumlah anak yang bekerja. Kondisi ini menjadi lebih memprihatinkan karena sebagian besar pekerja di bawah umur terlibat pada jenis-jenis pekerjaan terburuk. Di Sulawesi Selatan telah dibentuk Komite Aksi Penghapusan Pekerjaan Terburuk untuk Anak dan sejak tahun 2011 yang lalu telah disusun Rencana Aksi Penghapusan Pekerjaan Terburuk untuk Anak yang dilegalkan melalui Peraturan Gubernur. Namun demikian, nampaknya kerja komite aksi ini masih harus lebih ditingkatkan dengan memperhatikan masih banyaknya jumlah anak di bawah umur yang terpaksa bekerja. Tabel 2.127 Angkatan Kerja Menurut Umur 15-19 Tahun Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
Tahun Uraian Angkatan Kerja Usia 15-19 Tahun 2008 291.677 2009 296.560 2010 289.372 2011 284.438 2012 264.971

Sumber : Dinas Tenaga Kerja Prov. Sul-Sel Tahun 2013

e. Indeks Pembangunan Gender Indeks Pembangunan gender (IPG) terdiri dari 4 (empat) indikator komposit yaitu Angka Harapan Hidup (AHH), Angka Melek Huruf (AMH), Rata-Rata Lama
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-91

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Sekolah dan Sumbangan pendapatan.Sedangkan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) terdiri dari 3 (tiga) indikator komposit yaitu Keterlibatan perempuan di parlemen, perempuan sebagai tenaga manager, profesional, teknisi dan sumbangan perempuan dalam pendapatan. IPG dan IDG Sulawesi Selatan terus mengalami peningkatan namun masih di bawah rata-rata nasional. Pada tahun 2006 IPG Sulawesi Selatan sebesar 57,4 (nasional 65,1), 2007 sebesar 59 (nasional 65,3), 2008 sebesar 61,04 (nasional 66,38), 2009 sebesar 61,24 (nasional 66,77), dan 2010 sebesar 61,99 (nasional 67,20). Sedangkan IDG Sulawesi Selatan pada tahun 2006 sebesar 50 (nasional 61,3), 2007 sebesar 51,8 (nasional 61,8), 2008 sebesar 52,96 (nasional 62,27), 2009 sebesar 53,67 (nasional 63,52), dan 2010 sebesar 62,46 (nasional 68,15). Tabel 2.128 Indeks Pembangunan Gender Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Indeks Tahun No Pembangunan 2007 2008 2009 2010 Gender 1 Sulawesi Selatan 59 61,04 61,24 62,46 2 Nasional 65,3 66,38 66,77 68,15
Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan& Keluarga Berencana Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.12. Keluarga Berencana Dan Keluarga Sejahtera a. Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga Rata-rata jumlah anak per keluarga mengindikasikan terhadap angka fertilitas pasangan usia subur atau TFR (Total Fertility Rate). Berdasarkan data tahun 2008 sampai tahun 2012, menunjukkan adanya peningkatan jumlah anah per keluarga. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah, karena akan berkorelasi positif terhadap peningkatan jumlah penduduk di daerah. Peningkatan jumlah penduduk di sebuah wilayah, pada umumnya akan berdampak pada meningkatnya masalah-masalah sosial masyarakat di wilayah tersebut. Oleh karenanya, perlu ada upaya terintegrasi dari seluruh sektor dalam upaya pengendalian pertumbuhan penduduk di Sulawesi Selatan. Pendewasaan usia perkawinan dan perencanaan jumlah anak di keluarga, juga menjadi bagian penting dalam hal ini. Gambaran rata-rata jumlah anak per keluarga di Sulawesi Selatan secara rinci disajikan pada tabel berikut. Tabel 2.129 Rata-rata Jumlah Anak Per Keluarga Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No 1 2 3 Uraian Jumlah Anak Jumlah Keluarga Rata-rata jumlah anak per keluarga 2008 2.232.014 1.869.608 1,19 2009 2.136.138 1.914.890 1,12 Tahun 2010 3.357.960 1.956.436 1,72 2011 3.383.461 2.041.425 1,66 2012 3.376.553 2.008.646 1,68

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-92

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Rasio Akseptor KB Rasio akseptor KB menunjukkan perbandingan jumlah akseptor dengan jumlah pasangan usia subur di suatu wilayah. Berdasarkan data tahun 2008 sampai 2012 menunjukkan peningkatan rasio akseptor KB, meskipun dari tahun 2011 ke tahun 2012 terjadi penurunan persentase. Namun demikian, secara umum angka rasio ini masih harus ditingkatkan, mengingat pertumbuhan penduduk dari tahun ke tahun selalu meningkat. Salah satu bentuk upaya sejak dini untuk mendorong peningkatan jumlah akseptor ini adalah melalui pendidikan kesehatan reproduksi remaja dan Genre (generasi berencana), yang diharapkan mampu merobah pandangan generasi tentang pentingnya KB.
Tabel 2.130 Rasio Akseptor KB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang/Urusan Jumlah Akseptor KB Jumlah Pasangan Usia Subur Rasio Akseptor KB % 20.38 24.35 25.88 28.52 27.47 Jml 1,250,080.00 1,283,553.00 1,324,031.00 1,351,935.00 1,388,691.00 Satuan Jml Tahun 2008 254,738.00 2009 312,494.00 2010 342,660.00 2011 385,636.00 2012 381,469.00

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Prov. Sul-Sel Tahun 2013

c. Cakupan Peserta KB Aktif Cakupan peserta KB aktif di Sulawesi Selatan meningkat dari tahun ke tahun, sebagaimana tabel diatas. Namun angka peningkatannya di tahun 2011 ke tahun 2012 relatif rendah jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini terkait dengan keterbatasan jumlah tenaga penyuluh lapangan yang diharapkan dapat mendorong motivasi dan kesadaran masyarakat untuk menjadi peserta KB aktif. Selain itu, kepesertaan KB pria yang rendah menjadi persoalan yang mempengaruhi angka cakupan. Oleh karenanya, kepesertaan KB pria hendaknya menjadi agenda utama dalam rangka peningkatan cakupan peserta KB aktif, disamping peningkatan ketersediaan tenaga penyuluh lapangan.
Tabel 2.131 Tabel Cakupan Peserta KB Aktif Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang/Urusan Jumlah Peserta Program KB Aktif Jumlah Pasangan Usia Subur Cakupan Peserta KB Aktif % 62.00 64.29 70.43 72.55 73.47 Jml 1,250,080.00 1,283,553.00 1,324,031.00 1,351,935.00 1,388,691.00 Satuan Jml Tahun 2008 775,049.00 2009 825,220.00 2010 932,461.00 2011 980,883.00 2012 1,020,312.00

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-93

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

d. Keluarga Pra Sejahtera Dan Keluarga Sejahtera I Keluarga prasejahtera dan sejahtera 1 masih menjadi salah satu tolok ukur kemiskinan di masyarakat. Tingginya jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera 1 mencerminkan masih ada persoalan kemiskinan di wilayah tersebut yang harus diselesaikan secara holistic. Penurunan jumlah keluarga prasejahtera dan sejahtera 1 setiap tahunnya di Sulawesi Selatan, jika dirata-ratakan dari tahun 2008 sampai tahun 2012, hanya mampu pada kisaran 0,87%. Angka ini tentunya harus lebih ditingkatkan dalam rangka akselerasi penghapusan kemiskinan di Sulawesi Selatan
Tabel 2.132 Keluarga Pra Sejahtera Dan Keluarga Sejahtera I Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang/Urusan Jumlah Keluarga pra sejahtera dan Sejahtera 1 b. Jumlah Keluarga Keluarga Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera I % Jml 1,869,608.00 41.79 1,914,890.00 41.39 1,956,436.00 40.31 2,041,425.00 38.34 2,008,646.00 38.29 Satuan Jml Tahun 2008 781,366.00 2009 792,483.00 2010 788,725.00 2011 782,640.00 2012 769,176.00

Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.13. Sosial a. Sarana Panti Asuhan, Panti Jompo Dan Panti Rehabilitasi Sarana Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitasi dari tahun 2008 sampai tahun 2012 mengalami peningkatan penambahan 17 sarana.
Tabel 2.133 Panti Asuhan, Panti Jompo Dan Panti Rehabiitasi Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

Bidang/Urusan Sarana Sosial Seperti Panti Asuhan, Panti Jompo dan Panti Rehabilitas

Satuan jml

Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 287 287 298 298 304

Sumber Data : Dinas Sosial Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.134 Panti Asuhan, Panti Jompo Dan Panti Rehabiitasi Menurut Kabupaten/Kota

Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012


2008 84 47 4 36 9 17 7 6 2 1 2009 84 47 4 36 9 17 7 6 2 1 Tahun 2010 83 52 3 41 10 18 8 8 2 3

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Kabupaten/Kota Makassar Gowa Takalar Jeneponto Bantaeng Bulukumba Sinjai Pare-Pare Sidrap Soppeng

2011 83 52 3 41 10 18 8 8 2 3

2012 87 54 4 32 9 18 9 10 2 3 II-94

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten/Kota Enrekang Tana Toraja Palopo Luwu Luwu Timur Luwu Utara Barru Pangkep Maros Bone Selayar Pinrang Wajo Toraja Utara Jumlah

2008 4 3 6 7 6 11 4 4 10 5 1 11 2 287

2009 4 3 6 7 6 11 4 4 10 5 1 11 2 287

Tahun 2010 4 2 6 9 8 10 4 4 9 3 1 6 2 2 298

2011 4 2 6 9 8 10 4 4 9 3 1 6 2 2 298

2012 4 2 6 10 8 10 6 4 9 5 2 6 2 2 304

Sumber Data : Dinas Sosial Prov. Sul-Sel Tahun 2013

b. PMKS Yang Memperoleh Bantuan Sosial Pada tahun 2008 jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yang mendapat bantuan sebesar 28.188 jiwa atau 2,5 persen dari jumlahPMKS yang ada, dan pada tahun 2012 jumlah tersebut hanya meningkat menjadi 4,2 persen.
Tabel 2.135 PMKS Yang Memperoleh Bantuan Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No a. b. c. Bidang/Urusan Jumlah PMKS yang diberi bantuan Jumlah PMKS yang belum mendapatkan bantuan Jumlah PMKS yang ada Satuan Jiwa Jiwa Jiwa 2008 28.188 2009 27.388 Tahun 2010 21.770 2011 56.890 992.551 2012 42.021 950.530 992.551 4,2

1.098.599 1.071.211 1.049.441

1.126.787 1.098.599 1.071.211 1.049.441 2,4 2,1 5,4

PMKS Memperoleh % 2,5 Bantuan Sosial Sumber Data : Dinas Sosial Prov. Sul-Sel Tahun 2013

c. persentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Dari Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2012 persentase penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial selama lima tahun terakhir memperlihatkan rata-rata persentase yang cukup menggembirakan, yaitu sebesar 95 persen.
Tabel 2.136 Prsentase Penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012

No a. b.

Bidang/Urusan Jumlah PMKS yang tertangani Jumlah PMKS yang ada Penanganan Penyandangan Masalah Kesejahteraan Sosial

Satua n Jenis Jenis %

2008 27 27 100

Tahun 2009 2010 2011 24 18 18 24 100 24 75

2012 18 18 100

18 100

Sumber Data : Dinas Sosial Prov. Sul-Sel Tahun 2013


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-95

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.3.1.14. Tenaga Kerja a. Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Penduduk usia 15 tahun ke atas berdasarkan pada tingkat partisipasi angkatan kerja masih didominasi oleh angkatan kerja laki-laki sebesar 81,76 persen dan angkatan kerja perempuan hanya sebesar 45,56 persen.
Tabel 2.137 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
No 1 Uraian ANGKATAN KERJA a. Bekerja b. Pengangguran Jumlah penduduk angkatan kerja (i) 2 BUKAN ANGKATAN KERJA a. Sekolah b. Mengurus RT c. Lainnya Jumlah penduduk bukan angkatan kerja (ii) Jumlah penduduk usia kerja (i) + (ii) 3 4 TPAK (tingkat partisipasi angkatan kerja) TPT (tingkat pengangguran terbuka) Laki-laki 2.209.849 2.106.671 103.178 Perempuan 1.351.042 1.245.237 105.805 Jumlah 3.560.891 3.351.908 208.983

Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin.

2.209.849
493.000 174.181 46.527 272.292

1.351.042
1.614.094 197.401 1.250.065 166.628

3.560.891
2.107.094 371.582 1.296.592 438.920

493.000
2.702.849 81,76 % 4,67 %

1.614.094
2.965.136 45,56 % 7,83 %

2.107.094
5.667.985 62,82 % 5,87 %

Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

b.Penduduk Angkatan Kerja Pada tabel penduduk angkatan kerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012 menunjukkan bahwa penduduk pada usia 15-29 tahun merupakan jumlah pencari pekerjaan terbesar, pada usia 15-19 tahun yang mencari pekerjaan sebesar 48.477 orang atau 23,19% dari total pencari kerja, ini memperlihatkan bahwa masih banyaknya pencari pekerjaan yang berasal dari tamatan SMA.
Tabel 2.138 Penduduk Angkatan Kerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012

Golongan Umur (1) 15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44

Angkatan Kerja Bekerja Mencari Pekerjaan (2) (3) 216.494 48.477 316.083 64.538 444.116 32.674 476.865 18.822 433.590 14.232 435.801 11.494

Jumlah (4=2+3) 264.971 380.621 476.790 495.687 447.822 447.295


II-96

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Golongan Umur 45-49 50-54 55-59 60-64 65+ Total

Angkatan Kerja Bekerja Mencari Pekerjaan 329.341 8.734 256.220 8.266 182.074 1.106 123.771 640 137.553 0 3.351.908 208.983

Jumlah 338.075 264.486 183.180 124.411 137.553 3.560.891

Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

c. Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha Dari tabel penduduk bekerja menurut lapangan usaha menunjukkan bahwa 44,02 persen penduduk bekerja di bidang pertanian, hal ini menunjukkan bahwa penyediaan lapangan kerja di bidang pertanian lebih besar dibandingkan dengan penyediaan lapangan kerja lainnya. Tabel 2.139 Penduduk Bekerja Menurut Lapangan Usaha Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2012
Lapangan Usaha Lainnya No Kabupaten /Kota Pertanian Industri pengolahan Perdaganga dan Hotel Angkutan, Komunikasi Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan 200 3.730 797 531 1.583 4.464 865 2.965 1.016 164 917 1.826 746 1.580 3.099 559 1.293 459 1.246 2.590 734 Jasa Kemasyara katan (Pertamba ngan, Listrik, dan Air Minum) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara 25.177 106.970 45.490 95.845 45.468 118.099 73.292 44.686 31.690 29.564 192.854 65.620 82.856 44.173 66.439 64.046 60.248 81.212 74.166 45.764 65.827 6.503 11.906 3.716 3.223 6.731 32.850 3.746 14.654 13.742 2.842 12.785 3.793 18.709 9.288 6.406 2.531 18.711 1.693 7.101 7.396 1.728 2.033 7.244 3.431 10.836 13.583 16.314 2.168 7.103 7.136 3.134 11.177 1.741 8.332 2.804 5.157 2.415 4.200 4.367 4.796 6.693 3.674 7.591 31.533 10.492 21.079 20.069 52.188 12.448 29.206 27.220 9.909 42.778 11.074 31.643 22.052 23.540 7.914 14.142 4.196 16.256 14.960 5.150 1.324 9.867 4.731 12.0822 8.350 12.653 3.503 8.046 7.891 2.081 17.649 1.780 5.860 7.825 2.970 1.569 4.690 4.794 1.723 3.216 2.639 8.813 16.833 15.361 11.027 14.852 32.886 16.200 26.881 22.674 15.181 42.496 12.119 18.146 14.952 18.180 11.079 14.973 8.960 14.888 14.085 10.010 423 172 809 1.978 3.146 3.757 271 803 2.287 1.108 1.436 0 2.163 1.596 933 610 410 248 1.408 7.065 231 52.064 188.255 84.827 156.601 113.782 273.211 112.493 134.344 113.656 63.983 322.088 97.953 168.455 104.710 126.724 90.720 118.667 105.929 121.584 101.769 89.993 Jml

Bangunan n, Restoran Pergudangan,

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-97

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Lapangan Usaha Lainnya No Kabupaten /Kota Pertanian Industri pengolahan Perdaganga dan Hotel Angkutan, Komunikasi Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan 24.394 1.639 746 58.143 Jasa Kemasyara katan (Pertamba ngan, Listrik, dan Air Minum) 22 23 24 Makassar Parepare Palopo 2.336 2.391 11.570 1.475.783 27.966 2.941 4.919 225.880 46.291 3.919 2.885 181.433 160.556 19.762 18.324 614.082 47.443 4.805 4.111 181.602 185.680 16.160 12.543 574.976 7.642 202 875 40.009 502.308 51.819 55.973 3.351.908 Jml

Bangunan n, Restoran Pergudangan,

Total se provinsi

Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

d. Angka Partisipasi Angkatan Kerja Angka partisipasi angkatan kerja dalam kurun lima tahun terakhir relatif stagnan, tidak ada peningkatan yang cukup signifikan, hal ini tentunya perlu menjadi perhatian di masa yang akan datang. Tabel 2.140 Angka Partisipasi Angkatan Kerja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang/Urusan Angkatan Kerja 15 Tahun keatas Jumlah Penduduk Usia 15 Tahun keatas Angka Partisipasi Angkatan Kerja 62,02 62,48 64,14 64,32 62,82 Jiwa 5.559.748 5.660.624 5.567.601 5.616.709 5.667.985 Satuan Jiwa TAHUN 2008 3.447.879 2009 3.536.920 2010 3.571.317 2011 3.612.424 2012 3.560.891

Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

e. Angka Sengketa Pengusaha-Pekerja Per Tahun Angka sengketa antara pengusaha dengan pekerja selama kurun waktu lima tahun rata-rata sebesat 14,5 persen, pada tahun 2012 jumlah perusahaan sebesar 11.358 perusahaan dengan jumlah sengketa sebanyak 142, hal ini tentunya perlu upaya pemerintah untuk dapat memfasilitasi sengketa antara pemilik perusahaan dan karyawan. Tabel 2.141 Angka Sengketa Pengusaha-Pekerja Per Tahun Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun No Bidang/Urusan Satuan 2008 2009 2010 2011 2012 a. Jumlah sengketa Jml 16 276 210 189 142 pengusaha pekerja b. Jumlah Perusahaan Jml 10.177 11.348 12.059 11.067 11.358 c. Angka Sengketa 1,57 24,32 17,41 17,08 12,50 Pengusaha-Pekerja per-Tahun
Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-98

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

f. Pencari Kerja Yang Ditempatkan Pencari kerja yang ditempatkan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, pada tahun 2008 pencari kerja yang ditempatkan sebesar 7,59 persen dan pada tahun 2012 menjadi 12,80 persen. Tabel 2.142 Pencari Kerja Yang Ditempatkan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Jumlah Pencari kerja yang ditempatkan Jumlah pencari kerja yang mendaftar Pencari Kerja yang ditempatkan % 7,59 7,69 11,43 9,06 12,80 Orang 193.939,00 204.373,00 225.371,00 232.496,00 235.115,00 Satuan Orang Tahun 2008 14.728 2009 15.722 2010 25.754 2011 21.067 2012 30.094

Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

g. Pengangguran Terbuka Pengangguran terbuka dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, dimana pada tahun 2008 pengangguran terbuka sebesar 9,04 persen dan pada tahun 2012 menurun menjadi 5,87 persen atau turun sebesar 3,17 point. Tingkat 2.143 Pengangguran Terbuka Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang/Urusan Jumlah penganggur terbuka usia angkatan kerja Jumlah penduduk angkatan kerja Tingkat Pengangguran Terbuka Satuan Orang Orang % Tahun 2008 311,768 3,447,879 9.04 2009 314,664 3,536,920 8.90 2010 298,952 3,571,317 8.37 2011 236,926 3,612,424 6.56 2012 208,983 3,560,891 5.87

Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

i. Keselamatan Dan Perlindungan persentase jumlah perusahaan yang menerapkan keselematan dan kesehatan kerja selama kurun waktu lima tahun dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 sebesar 100 persen. Tabel 2.144 Keselamatan Dan Perlindungan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang/Urusan Jumlah perusahaan yang menerapkan K3 Jumlah perusahaan di wilayah kabupaten Satuan Jml Jml Tahun 2008 10.177 10.177 2009 11.348 11.348 2010 12.059 12.059 2011 11.067 11.067 2012 11.358 11.358

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-99

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No c.

Bidang/Urusan Keselamatan dan Perlindungan

Satuan %

Tahun 2008 100 2009 100 2010 100 2011 100 2012 100

Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

k. Perselisihan Buruh Dan Pengusaha Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah persentase penyelesaian perselisihan buruh dan Pengusaha terhadap pemerintah sebesar seratus persen tiap tahunnya. Tabel 2.145 Perselisihan Buruh Dan Pengusaha Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. Bidang Urusan Jumlah penyelesaian perselisihan buruh dan pengusaha dengan kebijakan Pemda Jumlah kejadian perselisihan buruh dan pengusaha dengan kebijakan Pemda persentase penyelesaian perselisihan Buruh dan Pengusaha Terhadap Kebijakan Pemerintah Daerah Satuan Jml Jml % Tahun 2008 16 16 100 2009 276 276 100 2010 210 210 100 2011 189 189 100 2012 142 142 100

Sumber Data : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.15. Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah a. persentase Koperasi Aktif Kabupaten/Kota persentase koperasi aktif mengalami penurunan, dari tahun 2008 persentase koperasi aktif sebesar 75 persen dan pada tahun 2012 menurun menjadi 69 persen. Tabel 2.146 persentase Koperasi Aktif Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun No Bidang/Urusan 2008 2009 2010 2011 2012 a. Jumlah Koperasi Aktif 5.327 4.949 5.105 5.452 5.554 b. Jumlah Koperasi 7.017 7.292 7.497 7.958 8.026 c. persentase Koperasi Aktif 75 67 68 68 69
Sumber Data : Dinas Koperasi dan UKM Prov. Sul-Sel Tahun 2013

b. Jumlah UKM Non BPR/LKM Jumlah UMKM Non BPR/LKM mengalami peningkatan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pada tahun 2008 jumlah umkm sebesar 801.947 dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 916.232, atau meningkat sebesar 99.616 (12 persen). Tabel 2.147 Jumlah UKM Non BPR/LKM Provinsi Sualawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 Uraian Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM 2008 788.024 23 2009 824.417 22 Tahun 2010 860.163 22 2011 894.163 22 2012 916.232 22

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-100

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 3

Uraian

Jumlah UMKM Non BPR/LKM Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2008 801.947

2009 820.324

Tahun 2010 856.909

2011 889.396

2012 901.563

Tabel 2.148 Jumlah UKM Non BPR/LKM Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2008 26.013 2 25.882 27.875 1 27.735 15.490 15.412 12.790 12.726 27.871 27.731 24.607 24.483 51.176 1 50.920 24.236 24.114 27.480 27.342 2009 27.998 2 27.858 29.951 1 29.801 16.990 16.905 14.158 14.087 29.946 29.796 26.535 26.402 54.337 1 54.065 26.147 26.016 29.543 29.395 Tahun 2010 29.210 2 29.063 31.253 1 31.096 17.717 17.628 14.752 14.678 31.248 31.091 27.689 27.550 56.724 1 56.440 27.283 27.148 30.832 30.677 2011 30.113 2 29.962 31.904 1 31.744 18.098 18.007 15.221 15.144 31.899 31.729 28.269 28.127 57.885 1 57,595 27.855 27.715 31.475 31.317 2012 30.554 2 30.401 32.372 1 32.210 18.358 18.266 15.515 15.437 32.367 32.205 28.952 28.807 58.742 1 58.448 28.262 28.120 31.936 31.776

No 1

Kabupaten/Kota Kabupaten Maros Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Pangkep Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Barru Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kota Pare-Pare Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Pinrang Jumlah seluruh UMKM Jumlah UMKM non BPR Jumlah UKM non BPR Kabupaten Sidrap Jumlah UMKM non BPR Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Wajo Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Soppeng Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Luwu Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UKM non BPR

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-101

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 10

Kabupaten/Kota Kota Palopo Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Luwu Utara Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Luwu Timur Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Tana Toraja Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Toraja Utara Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Bone Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Sinjai Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Bulukumba Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Bantaeng Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Selayar Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR Kabupaten Jeneponto Jumlah seluruh UMKM Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR

2008 11.545 1 11.487 20.821 1 20.716 16.966 1 16.881 24.852 1 24.727 6.414 6.381 73.679 3 73.310 21.389 21.282 38.534 38.341 19.657 19.558 12.834 1 12.769 33.338 33.171

2009 12.851 12.786 22.569 1 22.456 18.532 1 18.439 19.962 1 19.862 14.323 14.251 77.889 3 77.499 23.205 23.088 41.090 40.884 21.356 21.249 14.215 1 14.143 35.675 35..496

Tahun 2010 13.383 13.316 23.543 1 23.425 19.324 1 19.227 14.298 1 14.226 21.459 21.351 81.325 3 80.918 24.211 24.089 42.871 42.656 22.281 22.169 14.822 1 14.747 37.238 37.051

2011 13.811 13.471 24.040 1 23.919 19.737 1 19.638 14.754 1 14.680 22.130 22.019 85.418 3 84.990 24.479 24,356 44.184 43.963 22.753 22.639 15.145 1 15.069 38.009 37.818

2012 14.076 14.005 24.390 1 24.268 20.022 1 19.921 14.964 1 14.889 22.450 22.337 87.372 3 86.935 24.714 24.590 44.836 44.611 23.083 22.967 15.361 1 15.284 38.568 38.375

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-102

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 21

Kabupaten/Kota

2008

2009

Tahun 2010 35.922 2 35.742 17.706 17.617 77.613 3 77.224 147.482 5 146.744

2011 36.667 2 36.483 18.087 17.996 79.971 3 79.568 162.259 5 161.447

2012 37.206 2 37.019 18.347 18.255 81.157 3 80.751 172.632 5 171.768

Kabupaten Takalar Jumlah seluruh UMKM 32.143 34.420 Jumlah BPR/LKM 2 2 Jumlah UMKM non BPR 31.982 34.247 22 Kabupaten Enrekang Jumlah seluruh UMKM 15.474 16.977 Jumlah BPR/LKM Jumlah UMKM non BPR 15.396 16.892 23 Kabupaten Gowa Jumlah seluruh UMKM 70.268 74.327 Jumlah BPR/LKM 3 3 Jumlah UMKM non BPR 69.916 73.955 24 Kota Makassar Jumlah seluruh UMKM 152.585 141.421 Jumlah BPR/LKM 6 5 Jumlah UMKM non BPR 151.822 140.712 Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Prov. Sul-Sel Tahun 2013

c. Jumlah Usaha Mikro Dan Kecil persentase jumlah usaha mikro dan kecil dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, pada tahun 2008 persentase usaha mikro dan kecil sebesar 97,22 persen dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 99,26 persen, atau bertambah 2 point. Tabel 2.149 Usaha Mikro Dan Kecil Provinsi Sualawesi Selatan Tahun 2008-2012 No a b c d. Bidang/Urusan Jumlah usaha mikro Jumlah usaha kecil Jumlah UKM Usaha Mikro dan Kecil Satuan jml jml jml % Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 691,162 723,288 755,292 780,452 797,081 92,448 96,760 101,205 109,323 112,657 805,989 824,416 860,810 894,160 916,500 97.22 99.47 99.50 99.51 99.26

Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 2.150 Jumlah Usaha Mikro Dan Jumlah seluruh UMKM Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2008 23.106 26.761 25.620 28.623 2009 24.234 27.998 26.851 29.951 Tahun 2010 25.361 29.236 28.082 31.279 2011 26.019 30.113 28.551 31.904 2012 26.358 30.565 28.910 32.383
II-103

No 1

Kabupaten/Kota Kabupaten Maros Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Pangkep Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 3

Kabupaten/Kota Kabupaten Barru Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kota Pare-Pare Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Pinrang Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Sidrap Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Wajo Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Soppeng Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Luwu Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kota Palopo Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Luwu Utara Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Luwu Timur Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Tana Toraja Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Toraja Utara Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Bone Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Sinjai Jumlah Usaha Mikro Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Bulukumba Jumlah Usaha Mikro

2008 14.495 16.238 11.214 13.538 24.906 28.619 22.779 25.355 46.727 51.924 22.232 24.984 26.434 28.228 9.642 12.293 18.271 21.569 15.589 17.714 23.768 25.600 6.082 7.162 69.332 74.427 20.297 22.137 36.376

2009 15.217 16.990 11.741 14.158 26.035 29.946 23.782 26.535 48.778 54.337 23.219 26.147 27.550 29.543 10.116 12.851 19.160 22.569 16.284 18.532 18.402 19.962 12.165 14.323 72.511 77.889 21.288 23.205 38.104

Tahun 2010 15.939 17.743 12.267 14.778 27.163 31.274 24.784 27.715 50.828 56.750 24.206 27.309 28.667 30.858 10.590 13.409 20.049 23.569 16.978 19.350 13.036 14.324 18.247 21.485 75.689 81.351 22.280 24.237 39.833

2011 16.206 18.098 12.600 15.221 27.633 31.899 25.200 28.269 51.679 57.885 24.615 27.855 29.130 31.475 10.892 13.811 20.403 24.040 17.268 19.737 13.358 14.754 18.730 22.130 78.739 85.418 22.462 24.479 40.926

2012 16.409 18.369 12.828 15.526 27.991 32.378 25.518 28.963 52.331 58.753 24.929 28.273 29.484 31.947 11.099 14.087 20.673 24.401 17.490 20.033 13.524 14.975 18.979 22.461 80.213 87.383 22.645 24.725 41.490

10

11

12

13

14

15

16

17

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-104

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No

Kabupaten/Kota

Jumlah seluruh UMKM 18 Kabupaten Bantaeng Jumlah Usaha Mikro 19.356 20.257 21.158 Jumlah seluruh UMKM 20.405 21.356 22.307 19 Kabupaten Selayar Jumlah Usaha Mikro 12.879 13.498 14.117 Jumlah seluruh UMKM 13.582 14.215 14.848 20 Kabupaten Jeneponto Jumlah Usaha Mikro 31.081 32.625 34.169 Jumlah seluruh UMKM 34.086 35.675 37.264 21 Kabupaten Takalar Jumlah Usaha Mikro 28.947 30.390 31.834 Jumlah seluruh UMKM 32.891 34.420 35.948 22 Kabupaten Enrekang Jumlah Usaha Mikro 14.731 15.371 16.012 Jumlah seluruh UMKM 16.222 16.977 17.732 23 Kabupaten Gowa Jumlah Usaha Mikro 61.697 64.878 68.060 Jumlah seluruh UMKM 71.016 74.327 77.639 24 Kota Makassar Jumlah Usaha Mikro 105.601 110.772 115.943 Jumlah seluruh UMKM 153.333 141.420 147.508 Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2008 39.282

2009 41.090

Tahun 2010 42.897

2011 44.184 21.493 22.753 14.355 15.145 34.728 38.009 32.373 36.667 16.278 18.087 69.807 79.968 127.007 162.259

2012 44.847 21.749 23.094 14.537 15.372 35.155 38.579 32.786 37.217 16.481 18.358 70.707 81.168 134.795 172.643

Tabel 2.151 Jumlah Usaha Kecil Dan Jumlah seluruh UMKM Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No 1 Kabupaten/Kota Kabupaten Maros Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Pangkep Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Barru Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kota Pare-Pare Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Pinrang Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Tahun 2008 3.524 26.761 2.896 28.623 1.686 16.238 2.192 13.538 3.595 28.619 2009 3.634 27.998 2.992 29.951 1.715 16.990 2.285 14.158 3.794 29.946 2010 3.743 29.236 3.086 31.279 1.745 17.743 2.378 14.778 3.993 31.274 2011 3.926 30.113 3.245 31.904 1.833 18.098 2.489 15.221 4.150 31.899 2012 4.075 30.565 3.365 32.383 1.901 18.369 2.565 15.526 4.269 32.378
II-105

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 6

Kabupaten/Kota Kabupaten Sidrap Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Wajo Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Soppeng Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Luwu Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kota Palopo Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Luwu Utara Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Luwu Timur Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Tana Toraja Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Toraja Utara Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Bone Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Sinjai Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Bulukumba Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Bantaeng Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Selayar Jumlah Usaha Kecil Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Jeneponto Jumlah Usaha Kecil

Tahun 2008 2.499 25.355 4.995 51.924 2.678 24.984 1.734 28.228 2.501 12.293 3.186 21.569 1.998 17.714 1.752 25.600 1.074 7.162 4.936 74.427 1.814 22.137 2.689 39.282 1.010 20.405 665 13.582 2.976 2009 2.676 26.535 5.357 54.337 2.853 26.147 1.932 29.543 2.584 12.851 3.295 22.569 2.120 18.532 1.486 19.962 2.149 14.323 5.218 77.889 1.854 23.205 2.767 41.090 1.060 21.356 679 14.215 3.021 2010 2.853 27.715 5.719 56.750 3.027 27.309 2.129 30.858 2.668 13.409 3.405 23.569 2.243 19.350 1.219 14.324 3.223 21.485 5.501 81.351 1.894 24.237 2.844 42.897 1.109 22.307 692 14.848 3.207 2011 2.992 28.269 6.003 57.885 3.164 27.855 2.283 31.475 2.769 13.811 3.523 24.040 2.340 19.737 1.326 14.754 3.384 22.130 6.518 85.418 1.955 24.479 3.037 44.184 1.220 22.753 751 15.145 3.350 2012 3.098 28.963 6.220 58.753 3.268 28.273 2.401 31.947 2.838 14.087 3.613 24.401 2.414 20.033 1.382 14.975 3.467 22.461 7.009 87.383 2.016 24.725 3.137 44.847 1.306 23.094 797 15.372 3.350
II-106

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 21

Kabupaten/Kota

Tahun 2008 34.086 2009 35.675 2010 37.264 2011 38.009 4.196 36.667 1.749 18.087 9.985 79.968 33.135 162.259 2012 38.579 4.334 37.217 1.817 18.358 10.284 81.168 33.731 172.643

Jumlah seluruh UMKM Kabupaten Takalar Jumlah Usaha Kecil 3.848 3.933 4.017 Jumlah seluruh UMKM 32.891 34.420 35.948 22 Kabupaten Enrekang Jumlah Usaha Kecil 1.434 1.548 1.661 Jumlah seluruh UMKM 16.222 16.977 17.732 23 Kabupaten Gowa Jumlah Usaha Kecil 9.145 9.274 9.402 Jumlah seluruh UMKM 71.016 74.327 77.639 24 Kota Makassar Jumlah Usaha Kecil 27.621 28.534 29.447 Jumlah seluruh UMKM 153.333 141.420 147.508 Sumber : Dinas Koperasi dan UKM Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.3.1.16. Penanaman Modal a. Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA) Jumlah investor berskala nasional mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2008 sampai dengan 2012. Peningkatan tersebut sebesar 500 persen. Peningkatan investor tersebut tidak terlepas dari dukungan beberapa kebijakan pemerintah daerah yang memberi berbagai kemudahan dan kerjasama terhadap investor. Tabel 2.152 Jumlah Investor Berskala Nasional (PMDN/PMA) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Tahun No Jumlah Investor 2008 2009 2010 2011 2012 1 PMA 12 6 34 53 42 2 PMDN 4 6 23 49 54 3 Total 16 12 57 102 96
Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Tahun 2013

b. Jumlah Nilai Investasi (PMDN/PMA) Seiring dengan meningkatnya jumlah investor, maka nilai investasi pun semakin meningkat, hingga akhir tahun 2012 nilai investasi sebesar 8,144 trilyun atau meningkat sebesar 6,761 trilyun lebih dari tahun 2008, dimana pada tahun 2008 nilai investasi sebesar 1,382 trilyun. Tabel 2.153 Jumlah Nilai Investasi (PMDN/PMA) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No 1. Jumlah Investasi Persetujuan Jumlah Proyek Nilai Investasi 18 7.379.499.289.163 33 5.553.150.057.462 14 4.073.669.821.053 20 9.683.212.201.289 26 21.604.651.396.034 Tahun 2008 2009 2020 2011 2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-107

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 2.

Jumlah Investasi Realisasi Jumlah Proyek Nilai Investasi

Tahun 2008 16 1.382.214.465.255 2009 12 1.918.263.711.520 2020 57 7.630.256.431.280 2011 102 4.881.895.243.368 2012 96 8.144.168.200.000

Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Tahun 2013

c. Rasio Daya Serap Tenaga Kerja (PMDN/PMA) Meningkatnya investor yang masuk ke Provinsi Sulawesi Selatan tentunya akan berdampak juga kepada penyediaan Lapangan Kerja, dari tahun 2008 rasio daya serap tenaga kerja sebesar 242 dan pada tahun 2012 mengalami peningkatan yang sangat drastis sebesar 863, atau naik sebesar 621 point. Tabel 2.154 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja (PMDN/PMA) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Tahun No. Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 1 Jumlah Tenaga Kerja PMA/PMDN 3.876 1.096 5.211 22.025 82.879 2 Jumlah Seluruh PMA/PMDN 16 12 57 102 96 3 Rasio Daya Serap Tenaga Kerja 242 91 91 216 863
Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Tahun 2013

d. Kenaikan/Penurunan Nilai Realisasi PMDN (Milyar Rupiah) Dari tabel data sebahagian besar perusahaan pada tahun 2012 sudah melaksanakan IUT (Izin Usaha Tetap) pada tahun sebelumnya dimana pada tahun 2012 tersebut investasi di hitung berdasarkan LKPM (Laporan Kegiatan Penanaman Modal). Tabel 2.155 Kenaikan/Penurunan Nilai Realisasi PMDN (Milyar Rupiah) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Capaian Capaian Rumus Kinerja 2011 Kinerja 2012
Realisasi PMDN Thn 2012 - Realisasi PMDN Thn 2011 (Rp. 2.318.829.900.000 - Rp. 3.986.302.703.368) Rp. 3.986.302.703.368 Realisasi PMDN Thn 2011

100%

2,41%

-41,83%

Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-108

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.3.1.17. Kebudayaan Penyelenggaraan Festival Seni Dan Budaya, Sarana Penyelenggaraan Seni Dan Budaya Benda, Situs Dan Kawasan Cagar Budaya Yang Dilestarikan Tabel 2.156 Seni & Kebudayaan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2012
Budaya Jumlah No Kabupaten/Kota Penyelenggaraan festival seni dan budaya 1 a. 1 2 3 b. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Kota Makassar Pare-Pare Palopo Jumlah (Kota) Kabupaten/Kota Maros Pangkep Baru Sidrap Pinrang Soppeng Bone Wajo Enrekang Tana Toraja Toraja Utara Luwu Luwu Utara Luwu Timur Gowa Takalar Jeneponto Bantaeng Sinjai Bulikumba Selayar 1 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 5 1 1 1 2 1 2 29 37 2 6 10 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 75 75 27 12 11 27 22 25 21 11 19 8 0 8 25 27 23 12 13 43 21 505 719 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 3 0 0 0 0 0 1 0 1 1 0 8 12 0,00 0,00 3,70 0,00 0,00 0,00 4,55 0,00 0,00 0,00 15,79 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 4,35 0,00 7,69 2,33 0,00 1,58 1,67 6 1 1 8 2 1 1 4 188 23 3 214 3 0 1 4 1,60 0,00 33,33 1,87 2 3 Jumlah Jumlah sarana penyelenggaraan seni dan budaya Benda Situs dan Kawasan cagar budaya di daerah 4 6 Jumlah Benda Situs dan kawasan cagar budaya yang dilestarikan 7 % Benda Situs dan kawasan cagar budaya yang di lestarikan 8 = 7/6*100%

Jumlah (Kabupaten) Jumlah se Provinsi (Kabupaten + Kota)

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2013


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-109

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.3.1.18. Kepemudaan Dan Olahraga a. Jumlah Organisasi Pemuda Jumlah organisasi pemuda dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 dalam kurun waktu lima tahun rata-rata mengalami peningkatan sebesar 12 persen tiap tahunnya. Tabel 2.157 Jumlah Organisasi Pemuda Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 NO 1` 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 KABUPATEN / KOTA Kota Makassar Kabupaten Gowa Kab. Takalar Kab. Jeneponto Kab. Bantaeng Kab. Bulukumba Kab. Selayar Kab. Sinjai Kab. Bone Kab. Soppeng Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Barru Kota Pare - Pare Kab. Pinrang Kab. Sidrap Kab. Wajo Kota Palopo Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kab. Enrekang Kab. Tana Toraja Kab. Toraja Utara JUMLAH 2008 15 32 0 43 0 11 12 19 25 0 52 24 30 11 4 28 20 46 6 0 0 9 14 17 41 8 2009 15 32 16 43 0 11 12 12 37 23 52 24 30 11 20 28 23 24 6 25 17 9 15 17 502 Tahun 2010 15 32 16 43 0 11 12 12 37 23 52 24 30 11 20 28 23 24 6 25 17 9 15 17 502 2011 15 32 17 43 22 11 12 19 81 23 52 24 29 11 20 28 69 22 6 27 16 9 14 17 619 2012 15 32 17 43 50 11 12 50 114 10 52 24 29 11 20 28 22 22 6 27 16 9 14 17 651

Sumber : Dinas Pemuda & Olahraga Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-110

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Jumlah Klub Olahraga Jumlah organisasi olahraga mengalami peningkatan tiap tahunnya, pada tahun 2008 jumlah organisasi olahraga sebesar 1.311, dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 1.532. Tabel 2.158 Jumlah Klub Olahraga Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Tahun No Kabupaten / Kota 2008 2009 2010 2011 2012 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kota Makassar Kab. Gowa Kab. Takalar Kab. Jeneponto Kab. Bantaeng Kab. Bulukumba Kab. Selayar Kab. Sinjai Kab. Bone Kab. Soppeng Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Barru Kota Pare-Pare Kab. Pinrang Kab. Sidrap Kab. Wajo Kota Palopo Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kab. Enrekang Kab. Tana Toraja Kab. Toraja Utara Jumlah 71 103 12 51 46 8 192 38 62 6 10 10 6 47 50 168 49 60 10 91 199 9 5 8 1.311 71 103 12 51 46 8 192 38 62 6 10 10 6 47 50 168 49 60 10 91 199 9 5 8 1.311 71 103 11 50 33 8 192 38 62 6 10 10 6 47 50 168 49 60 10 91 199 9 5 8 1.251 71 103 10 51 11 8 192 125 12 6 10 10 51 59 50 200 36 60 15 91 199 11 5 8 1.394 71 103 10 51 11 8 192 125 39 6 10 10 51 59 50 200 31 60 15 91 199 11 36 93 1.532

Sumber : Dinas Pemuda & Olahraga Prov. Sul-Sel Tahun 2013

c. Jumlah Kegiatan Kepemudaan Jumlah kegiatan kepemudaan dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami peningkatan, pada tahun 2008 kegiatan kepemudaan sebanyak 105 dan meningkat menjadi 144 pada tahun 2012. Tabel 2.159 Jumlah Kegiatan Kepemudaan Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Tahun No Kabupaten / Kota 2008 2009 2010 2011 2012 1. 2. 3. Kota Makassar Kab. Gowa Kab. Takalar 7 3 6 7 3 6 7 3 6 7 3 6 7 3 6
II-111

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten / Kota Kab. Jeneponto Kab. Bantaeng Kab. Bulukumba Kab. Selayar Kab. Sinjai Kab. Bone Kab. Soppeng Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Barru Kota Pare-Pare Kab. Pinrang Kab. Sidrap Kab. Wajo Kota Palopo Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kab. Enrekang Kab. Tana Toraja Kab. Toraja Utara Jumlah

2008

4 3 3 12 4 3 1 4 5 2 5 5 4 9 6 2 1 6 4 3 3 105

2009

4 3 3 12 4 3 1 4 5 2 5 5 4 9 6 2 1 6 4 3 3 105

Tahun 2010 4 3 3 12 4 3 1 4 5 2 5 5 4 9 6 2 1 6 4 3 3 105

2011

4 3 3 12 4 3 1 4 5 2 5 5 4 9 6 2 1 6 4 3 3 105

2012

4 2 3 11 1 16 1 16 5 2 12 5 11 11 8 5 1 6 2 3 3 144

Sumber : Dinas Pemuda & Olahraga Prov. Sul-Sel 2013

d. Jumlah Kegiatan Olahraga Jumlah kegiatan olahraga dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami peningkatan, pada tahun 2008 kegiatan kepemudaan sebanyak 106 kegiatan dan meningkat menjadi 143 kegiatan pada tahun 2012. Tabel 2.160 Jumlah Kegiatan Olahraga Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 11 Kabupaten / Kota Kota Makassar Kab. Gowa Kab. Takalar Kab. Jeneponto Kab. Bantaeng Kab. Bulukumba Kab. Selayar Kab. Sinjai Kab. Bone Kab. Soppeng Kab. Maros 2008 7 1 1 1 2 2 9 2 1 2 3 2009 7 1 1 1 2 2 9 2 1 2 3 Tahun 2010 7 1 1 1 2 2 9 2 1 2 3 2011 7 1 1 1 2 2 9 2 10 2 9 2012 7 1 1 1 2 2 9 2 10 2 9
II-112

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten / Kota Kab. Pangkep Kab. Barru Kota Pare-Pare Kab. Pinrang Kab. Sidrap Kab. Wajo Kota Palopo Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kab. Enrekang Kab. Tana Toraja Kab. Toraja Utara Jumlah

2008

3 2 5 5 7 5 8 3 1 1 5 15 15 106

2009

3 2 5 5 7 5 8 3 1 1 5 15 15 106

Tahun 2010 3 2 5 5 7 5 8 3 1 1 5 15 15 106

2011

3 2 12 11 9 7 8 6 3 1 5 15 15 143

2012

3 2 12 11 9 7 8 6 3 1 5 15 15 143

Sumber: Dinas Pemuda & Olahraga Prov. Sul-Sel 2013

e. Jumlah Gelanggang/Balai Remaja(Selain Milik Swasta) Jumlah gelanggang olahraga dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami peningkatan, pada tahun 2008 jumlah gelanggang olahraga sebanyak 40 dan meningkat menjadi 43 gelanggang olahraga pada tahun 2012. Tabel 2.161 Jumlah Gelanggang/Balai Remaja Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
NO Uraian Jumlah Gelanggang Tahun 2008 2009 2010 2011 2012

40

41

42

42

43

Sumber: Dinas Pemuda & Olahraga Prov. Sul-Sel 2013

f. Lapangan Olahraga Jumlah lapangan olahraga dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami peningkatan, pada tahun 2008 jumlah lapangan olahraga sebanyak 2.494 dan meningkat menjadi 2.480 lapangan olahraga pada tahun 2012. Tabel 2.162 Jumlah Gedung/Lapangan Olahraga Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten / Kota Kota Makassar Kab. Gowa Kab. Takalar Kab. Jeneponto Kab. Bantaeng Kab. Bulukumba Kab. Selayar Kab. Sinjai Kab. Bone 2008 254 8 7 49 43 4 4 16 226 2009 254 8 7 49 43 4 4 16 226 Tahun 2010 256 8 7 32 4 4 4 31 226 2011 256 8 7 32 43 4 4 17 226 2012 256 8 7 32 43 4 4 32 226
II-113

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten / Kota Kab. Soppeng Kab. Maros Kab. Pangkep Kab. Barru Kota Pare-Pare Kab. Pinrang Kab. Sidrap Kab. Wajo Kota Palopo Kab. Luwu Kab. Luwu Utara Kab. Luwu Timur Kab. Enrekang Kab. Tana Toraja Kab. Toraja Utara Jumlah

2008 28 23 30 11 155 5 273 566 64 56 55 159 248 90 120 2.494

2009 28 23 30 11 155 5 273 566 64 56 55 159 248 90 120 2.494

Tahun 2010 29 12 30 11 92 5 273 571 68 56 72 9 386 103 68 2.357

2011

28 12 30 11 82 5 273 571 68 56 6 9 386 103 68 2.305

2012 29 13 120 11 82 5 273 571 68 58 72 9 386 103 68 2.480

Sumber: Dinas Pemuda & Olahraga Prov. Sul-Sel 2013

2.3.1.19. Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri Kegiatan Pembinaan Politik Daerah Pembinaan terhadap LSM, Ormas, OKP dan Politik Daerah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, pada tahun 2008 pembinaan dilakukan sebanyak 4 dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 10. Tabel 2.163 Kegiatan Pembinaan LSM, Ormas, OKP dan Politik Daerah Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 No. 1 2 3 Kegiatan Pembinaan Terhadap LSM, Ormas Dan OKP Pembinaan Politik Daerah Jumlah 2008 2 2 4 2009 2 5 7 Tahun 2010 2011 3 3 5 8 3 6 2012 4 5 9

Sumber : Badan Penanaman ModalProv. Sul-Sel 2013

2.3.1.20. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian Dan Persandian a. Organisasi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan 1. Struktur Organisasi Pemerintah Provinsi Sejalan dengan pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007, maka sesuai dengan kebutuhan daerah dan perkembangan yang terjadi, hingga tahun 2012 telah ditetapkan 1.442 jabatan struktural dalam lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Tabel 2.164 Jumlah Jabatan Struktural Pemerintah Provinsi (Menurut PP.41 Tahun 2007) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008 N0. uraian 1 Eselon I.b Jumlah 1
II-114

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

N0. 2 3 4 5 6 7

uraian Eselon II.a Eselon II.b Eselon III.a Eselon III.b Eselon IV.a Eselon IV.b Jumlah

Jumlah

46 17 356 25 997 0 1,442

Sumber Data : Biro Organisasi Setda Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Jumlah jabatan struktural tersebut tersebar pada berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dimana dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 2007 tersebut, hingga tahun 2012 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memiliki 170 SKPD termasuk didalamnya 105 Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD). 2. Satuan Kerja Pemerintah Provinsi a. Sekretariat Daerah Tabel 2.165 Jumlah SKPD Lingkup Pemerintah Provinsi (Menurut PP.41 Tahun 2007) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008 No. 1 2 3 4 5 6 7 SKPD sekertariat Daerah Staf Ahli Sekertariat DPRD Dinas daerah lembaga Teknis Daerah UPT Dinas UPT Badan Jumlah Jumlah 15 5 1 19 25 99 6 170

Sumber Data : Biro Organisasi Setda Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Sekretariat daerah merupakan unsur staf yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Daerah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur. Tugas pokok sekretariat Daerah adalah membantu Gubernur dalam penyelenggaraan pemerintahan Provinsi, administrasi, organisasi dan tatalaksana serta memberikan pelayanan administratif kepada seluruh perangkat dearah provinsi. Untuk melaksanakan tugas tersebut, fungsi sekretariat daerah adalah : - Pengkoordinasian perumusan kebijakan Pemerintah Provinsi; - Penyelenggaraan administrasi pemerintahan; - Pengelolaan sumber daya aparatur, keuangan, prasarana dan sarana Pemerintahan Provinsi; - Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya. Adapun susunan organisasi sekretariat adalah sebagai berikut : 1.) Asisten Pemerintahan.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-115

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.)

3.)

4.)

Biro Pemerintahan Umum Biro Pemerintahan Daerah Biro Hukum dan HAM Asisten Ekonomi dan Pembangunan. Biro Bina Perekonomian. Biro Bina Pembangunan. Biro Kerjasama. Asisten Kesejahteraan Rakyat Biro Bina Kesejahteraan Biro Bina Mental dan Spiritual Biro Bina Napza dan HIV/AIDS Asisten Administrasi Biro Organisasi dan Kepegawaian Biro Humas dan Protokol Biro Umum dan Perlengkapan Biro Pengelolaan Aset Daerah.

b. Sekretariat DPRD Sekretariat DPRD mempunyai tugas pokok membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. Untuk menjalankan tugasnya Sekretariat DPRD mempunyai fungsi : Fasilitasi rapat-rapat dan peninjauan/kunjungan kerja DPRD; Koordinasi penyusunan produk-produk hukum; Pelaksanaan urusan RT, ketatausahaan, sarana prasarana, keamanan ketertiban, kepegawaian dan adm. keanggotaan DPRD; Penyusunan/perencanaan angg. dan pengelolaan keuangan DPRD; Pembinaan dan pengembangan hubungan masyarakat, keprotokolan, pengkajian data dan pengelolaan informasi; Fasilitasi penerimaan tamu dan aspirasi masyarakat. Adapun struktur organisasi sekretariat dewan adalah sebagai berikut : Sekretaris DPRD. Kelompok Jabatan Fungsional. Bagian Persidangan. Bagian Umum.. Bagian Keuangan. Bagian Dokumentasi, Publikasi dan Protokol. c. Dinas-Dinas Daerah Dinas-dinas merupakan unsur pelaksana pemerintah Provinsi yang dipimpin oleh seorang kepala dinas yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Dinas-dinas Daerah ini melaksanakan tugas dan fungsi operasional untuk bidangbidang tertentu. Jumlah dinas yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 19 dinas.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-116

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.166 Jumlah dan Nomenklatur Dinas (Menurut PP.41 Tahun 2007) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008
NO 1 2 3 4 5 6 7 Dinas Kesehatan Dinas Pendidikan Dinas Pemuda dan Olahraga Dinas Sosial Dinas TK dan Transmigrasi Dinas Kebudayaan dan Keparawisata Dinas Pertanian TP dan Holtikultura Dinas NO 11 12 13 14 15 16 17 Dinas Kehutanan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Koperasi dan UMKM Dinas Pengelolaan SD air Dinas Bina Marga Dinas Tata Ruang dan Permungkiman Dinas Energi dan SD Mineral Dinas Perhubungan, Komunikasi dan 18 Informatika 19 Dinas Pendapatan daerah 20 Dinas

8 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan 9 Dinas Kelautan dan Perikanan 10 Dinas Perkebunan

Sumber Data : Biro Organisasi Setda Prov. Sul-Sel Tahun 2013

d. Lembaga Teknis Daerah dan Lembaga Lain Lembaga teknis daerah merupakan unsur penunjang pemerintah daerah yang dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah. Lembaga teknis daerah dan lembaga lain di Provinsi Sulawesi Selatan berjumlah 25 buah. Tabel 2.167 Jumlah dan Nomenklatur Lembaga Teknis Daerah (Menurut PP.41 Tahun 2007) Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Lembaga Teknis Daerah Inspektorat Provinsi Badan Perencanaan pembangunan daerah badan Kepegawaian daerah Badan Pengelolaan Keuangan daerah Badan Kesbang dan Politik Badan Lingkungan Hidup Daerah Badan Ketahanan Pangan Daerah Badan Koordinasi Penanaman Modal Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah NO Lembaga Teknis Daerah 14 Badan Lintas kabupaten dan Kota 15 rumah Sakit Umum Daerah LABUANG BAJI 16 Rumah Sakit Khususdaerah DADI 17 Satuan Polisi pamong Praja 18 Kantor perhubungan Pemerintah 19 Sekertariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah 20 badan Penanggulangan bencana Daerah 21 Sekertariat dewan Pengurus Korpri 22 Sek. Badan Koordinasi Penyuluhan Provinsi 23 RSU Daerah Haji Makassar

Badan Pemberdayaan Masy. Pemdes dan Kel badan Pemberdayaan Perempuan dan KB 24 RSK Daerah Ibu dan Anak Pertiwi Badan Pendidikan dan Pelatihan 25 RSK daerah Ibu dan Siti Fatimah Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sumber Data : Biro Organisasi Setda Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-117

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 Penduduk Rasio jumlah polisi pamong praja per 10.000 penduduk meningkat tiap tahunnya, pada tahun 2008 sebesar 1,70 dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 2,09. Tabel 2.168 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 Penduduk Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No a. b. Bidang/Urusan Jumlah polisi pamong praja Jumlah penduduk Rasio jumlah polisi pamong Praja per 10.000 penduduk orang 7.700.255 1,70 7.805.024 2,23 7.908.519 1,97 8.034.776 2,17 8.306.848 2,09 Satuan orang Tahun 2008 1.346 2009 1.767 2010 1.580 2011 1.744 2012 1.679

Sumber: Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-118

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.169 Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2008 No Kabupaten/kota Jumlah Pol. PP Jmlah Pddk Rasio Jumlah Pol. PP 2009 Jmlah Pddk Rasio Jumlah Pol. PP 2010 Jmlah Pddk Rasio Jumlah Pol. PP 2011 Jmlah Pddk Rasio JumlahP ol. PP 2012 Jmlah Pddk Rasio

I II 1 2 3 III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Provinsi Kota Kota Makassar Kota Pare-Pare Kota Palopo Kabupaten Maros Pangkep Barru Pinrang Sidrap Wajo Soppeng Enrekang Tana Toraja Toraja utara Luwu Luwu Utara Lumu timur Bone

89 75 67 71 141 46 43 147 43 61 65 49 40 38 49 38 82 1.253.656 117.591 141.996 303.211 295.137 161.732 346.988 250.666 378.512 229.502 188.070 461.012 324.229 313.674 230.821 705.717 0,60 5,70 5,00 4,65 1,56 2,66 4,24 1,72 1,61 2,83 2,61 0,87 1,17 1,56 1,65 1,16

111 113 48 52 95 45 62 15 44 68 69 49 40 5 40 65 42 138 1.271.870 118.842 146.482 306.687 298.701 162.985 351.042 252.483 381.066 230.744 190.576 240.249 229.090 328.180 321.979 237.354 711.748 0,89 4,04 3,55 3,10 1,51 3,80 0,43 1,74 1,78 2,99 2,57 1,66 0,22 1,22 2,02 1,77 1,94

111 113 48 52 95 45 62 15 40 43 81 49 55 5 38 69 40 140 1.338.663 129.262 147.932 319.002 305.737 165.983 351.118 271.911 385.109 223.826 190.248 221.081 216.762 332.482 287.472 243.069 717.682 0,84 3,71 3,52 2,98 1,47 3,74 0,43 1,47 1,12 3,62 2,58 2,49 0,23 1,14 2,40 1,65 1,95

116 107 45 48 93 45 59 38 39 54 81 30 52 40 36 77 38 142 1.352.136 130.563 149.421 322.212 308.814 167.653 354.652 274.648 388.985 226.079 192.163 223.306 218.943 335.828 290.365 245.515 724.905 0,79 3,45 3,21 2,89 1,46 3,52 1,07 1,42 1,39 3,58 1,56 2,33 1,83 1,07 2,65 1,55 1,96

112 97 43 48 80 43 59 157 38 54 75 30 52 40 33 78 38 140 1.368.902 132.181 151.273 326.207 312.643 169.731 359.049 278.053 393.808 231.919 194.545 226.074 221.657 339.992 293.965 248.559 733.893 0,71 3,25 3,17 2,45 1,38 3,48 4,37 1,37 1,37 3,23 1,54 2,30 1,80 0,97 2,65 1,53 1,91

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-119

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2008 No Kabupaten/kota Jumlah Pol. PP Jmlah Pddk Rasio Jumlah Pol. PP

2009 Jmlah Pddk Rasio Jumlah Pol. PP

2010 Jmlah Pddk Rasio Jumlah Pol. PP

2011 Jmlah Pddk Rasio JumlahP ol. PP

2012 Jmlah Pddk Rasio

15 16 17 18 19 20 21

Sinjai Kep.Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sul-Sel

68 52 89 62 75 96 63 1.649

225.943 119.811 390.543 172.849 332.334 255.154 605.876 7.805.024

3,01 4,34 2,28 3,59 2,26 3,76 1,04 2,11

68 52 89 47 66 96 63 1.582

228.304 121.749 394.746 174.176 334.175 257.974 617.317 7.908.519

2,98 4,27 2,25 2,70 1,98 3,72 1,02 2,00

68 55 84 51 89 83 60 1.591

228.879 122.055 394.560 176.699 342.700 269.603 652.941 8.034.776

2,97 4,51 2,13 2,89 2,60 3,08 0,92 1,98

71 60 82 49 84 78 63 1.627

231.182 123.283 398.531 178.477 346.149 272.316 659.512 8.115.638

3,07 4,87 2,06 2,75 2,43 2,86 0,96 2,00

69 52 71 46 84 78 66 1.683

231.182 123.283 398.531 178.477 346.149 272.316 659.512 8.191.901

2,98 4,22 1,78 2,58 2,43 2,86 1,00 2,05

Sumber: Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Sul-Sel 2013

c. Jumlah Linmas Per Jumlah 10.000 Penduduk Rasio jumlah linmas per 10.000 penduduk meningkat tiap tahunnya, pada tahun 2008 sebesar 35,91 dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 38,77. Tabel 2.170 Rasio Jumlah Linmas Per 10.000 Penduduk Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2008 No Kabupaten/kota Jumlah linmas Jmlah Pddk Rasio Jumlah linmas 2009 Jmlah Pddk Rasio Jumlah linmas 2010 Jmlah Pddk Rasio Jumlah linmas 2011 Jmlah Pddk Rasio Jumlah linmas 2012 Jmlah Pddk Rasio

II Kota 1 Kota Makassar 2 Kota Pare-Pare 3 Kota Palopo III Kabupaten 1430 220 480 1.253.656 117.591 141.996 11,41 18,71 33,80 1430 220 480 1.271.870 118.842 146.482 11,24 18,51 32,77 1430 220 480 1.338.663 129.262 147.932 10,68 17,02 32,45 2145 308 672 1.352.136 130.563 149.421 15,86 23,59 44,97 2.145 286 672 1.368.902 132.181 151.273 15,67 21,64 44,42

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-120

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2008 No Kabupaten/kota Jumlah linmas Jmlah Pddk Rasio Jumlah linmas

2009 Jmlah Pddk Rasio Jumlah linmas

2010 Jmlah Pddk Rasio Jumlah linmas

2011 Jmlah Pddk Rasio Jumlah linmas

2012 Jmlah Pddk Rasio

1 Maros 2 Pangkep 3 Barru 4 Pinrang 5 Sidrap 6 Wajo 7 Soppeng 8 Enrekang 9 Tana Toraja 10 Toraja utara 11 Luwu 12 Luwu Utara 13 Lumu Timur 14 Bone 15 Sinjai 16 Kep.Selayar 17 Bulukumba 18 Bantaeng 19 Jeneponto 20 Takalar 21 Gowa Sul-Sel

1030 1020 540 1040 1060 1760 700 1290 1600 2270 1710 1070 3720 790 740 1260 670 1130 830 1670 28.030

303.211 295.137 161.732 346.988 250.666 378.512 229.502 188.070 461.012 324.229 313.674 230.821 705.717 225.943 119.811 390.543 172.849 332.334 255.154 605.876 7.805.024

33,97 34,56 33,39 29,97 42,29 46,50 30,50 68,59 34,71 70,01 54,52 46,36 52,71 34,96 61,76 32,26 38,76 34,00 32,53 27,56 35,91

1030 1020 540 1040 1060 1760 700 1290 800 800 2270 1710 1070 3710 790 740 1260 670 1130 830 1670 28.020

306.687 298.701 162.985 351.042 252.483 381.066 230.744 190.576 240.249 229.090 328.180 321.979 237.354 711.748 228.304 121.749 394.746 174.176 334.175 257.974 617.317 7.908.519

33,58 34,15 33,13 29,63 41,98 46,19 30,34 67,69 33,30 34,92 69,17 53,11 45,08 52,13 34,60 60,78 31,92 38,47 33,81 32,17 27,05 35,43

1030 1020 540 1040 1060 1760 700 1290 800 800 2270 1710 1070 3710 790 740 1260 670 1130 830 1670 28.020

319.002 305.737 165.983 351.118 271.911 385.109 223.826 190.248 221.081 216.762 332.482 287.472 243.069 717.682 228.879 122.055 394.560 176.699 342.700 269.603 652.941 8.034.776

32,29 33,36 32,53 29,62 38,98 45,70 31,27 67,81 36,19 36,91 68,27 59,48 44,02 51,69 34,52 60,63 31,93 37,92 32,97 30,79 25,58 34,87

1296 1020 540 1040 1060 1760 700 1290 800 800 2270 1780 1070 4901 1106 740 1260 670 1130 830 2004 31.192

322.212 308.814 167.653 354.652 274.648 388.985 226.079 192.163 223.306 218.943 335.828 290.365 245.515 724.905 231.182 123.283 398.531 178.477 346.149 272.316 659.512 8.115.638

40,22 33,03 32,21 29,32 38,59 45,25 30,96 67,13 35,83 36,54 67,59 61,30 43,58 67,61 47,84 60,02 31,62 37,54 32,64 30,48 30,39 38,43

1404 1122 540 1040 1060 1760 700 1290 800 800 2270 1780 1070 5278 1106 740 1260 670 1130 830 2004 31.757

326.207 312.643 169.731 359.049 278.053 393.808 231.919 194.545 226.074 221.657 339.992 293.965 248.559 733.893 231.182 123.283 398.531 178.477 346.149 272.316 659.512 8.191.901

43,04 35,89 31,82 28,97 38,12 44,69 30,18 66,31 35,39 36,09 66,77 60,55 43,05 71,92 47,84 60,02 31,62 37,54 32,64 30,48 30,39 38,77

Sumber: Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-121

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

d.Rasio Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan Rasio jumlah Pos Siskamling per desa/kelurahan dan kabupaten/kota tidak mengalami peningkatan atau stagnan tiap tahunnya, dimana pada tahun 2008 sebesar 3,2 namun pada tahun 2012 tetap tidak terjadi perubahan sebesar 3,2. Tabel 2.171 Rasio Jumlah Pos Siskamling Per Jumlah Desa/Kelurahan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2008 No Kabupaten/kota Jmlah Pos Siskmlng Jmlh Desa/ Kelurahan Rasio Jmlah Pos Siskmlng 2009 Jmlh Desa/ Kelurahan Rasi o Jmlah Pos Siskmlng 2010 Jmlh Desa/ Kelurahan Jmlah Rasio Pos Siskmlng 2011 Jmlh Desa/ Kelurahn Jmlah Rasio Pos Siskmlng 2012 Jmlh Desa/ Kelurahn Rasio

II 1 2 3 III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Kota Kota Makassar Kota Pare-Pare Kota Palopo Kabupaten Maros Pangkep Barru Pinrang Sidrap Wajo Soppeng Enrekang Tana Toraja Toraja utara Luwu 681 227 3,00 309 306 162 312 318 528 210 387 480 103 102 54 104 106 176 70 129 160 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 309 306 162 312 318 528 210 387 480 453 681 103 102 54 104 106 176 70 129 160 151 227 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 309 306 162 312 318 528 210 387 480 453 681 103 102 54 104 106 176 70 129 160 151 227 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 309 306 162 312 318 528 210 387 480 453 681 103 102 54 104 106 176 70 129 160 151 227 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 309 306 162 312 318 528 210 387 489 456 681 103 102 54 104 106 176 70 129 163 152 227 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 1.001 176 336 143 22 48 7,00 8,00 7,00 1.001 176 336 143 22 48 7,00 8,00 7,00 1.001 176 336 143 22 48 7,00 8,00 7,00 1.001 176 336 143 22 48 7,00 8,00 7,00 1.001 176 336 143 22 48 7,00 8,00 7,00

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-122

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2008 No Kabupaten/kota Jmlah Pos Siskmlng Jmlh Desa/ Kelurahan Rasio Jmlah Pos Siskmlng

2009 Jmlh Desa/ Kelurahan Rasi o Jmlah Pos Siskmlng

2010 Jmlh Desa/ Kelurahan Jmlah Rasio Pos Siskmlng

2011 Jmlh Desa/ Kelurahn Jmlah Rasio Pos Siskmlng

2012 Jmlh Desa/ Kelurahn Rasio

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Luwu Utara Lumu Timur Bone Sinjai Kep.Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Se Sul-Sel

513 321 1.116 237 222 378 201 339 249 501 9.283

171 107 372 79 74 126 67 113 83 167 2.803

3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,2

531 321 1.113 237 222 393 201 339 249 501 9.766

177 107 371 79 74 131 67 113 83 167 2.964

3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,2

531 321 1.113 237 222 393 201 339 249 501 9.766

177 107 371 79 74 131 67 113 83 167 2.964

3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,2

531 321 1.116 237 222 393 201 339 249 501 9.769

177 107 372 79 74 131 67 113 83 167 2.965

3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,2

531 321 1.116 237 222 393 201 339 249 501 9.781

177 107 372 79 74 131 67 113 83 167 2.969

3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,2

Sumber: Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-123

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

e. Penegakan PERDA Rasio penegakan PERDA mengalami penurunan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, dimana pada tahun 2008 sebesar 100 persen namun pada tahun 2012 terjadi penurunan, dimana hanya sebesar 91 persen. Tabel 2.172 Penegakan PERDA Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2008 No Kabupaten/kota Jmlh Pnylsaian penegakan perda I II 1 2 3 III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Provinsi Kota Kota Makassar Kota Pare-Pare Kota Palopo Kabupaten Maros Pangkep Barru Pinrang Sidrap Wajo Soppeng Enrekang Tana Toraja Toraja utara 6 13 16 1 7 6 6 13 16 1 7 6 100% 100% 14 14 100% 100% 100% 100% 100% 14 4 19 14 4 19 100% 100% 100% 51 25 14 14 24 6 1 3 5 51 25 14 14 61 6 2 3 5 100% 100% 100% 100% 39% 100% 50% 100% 100% 56 17 2 3 10 5 100 17 6 3 10 5 56% 100% 33% 100% 100% 100% 56 17 2 3 10 5 100 17 6 3 10 5 56% 100% 33% 100% 100% 100% 51 26 7 51 26 7 100% 100% 100% 51 26 7 51 26 7 100% 100% 100% 97 4 97 4 100% 100% 152 6 152 6 100% 100% 793 321 5 793 427 5 100% 75% 100% 48 332 97 48 332 97 100% 100% 100% 87 332 97 87 332 97 100% 100% 100% 9 Jmlh Pelanggarn Rasio Perda 9 100% Jmlh Pnylsaian penegakan perda 9 2009 Jmlh Pelanggaran Perda 9 100% Rasio Jmlh Pnylsaian penegakn perda 9 2010 Jmlh Desa/ Kelurahan 9 Jmlh Pnylsaian Rasio 100% penegakan perda 9 2011 Jmlh Pelanggaran Perda 9 100% Rasio Jmlh Pnylsaian penegakan perda 12 2012 Jmlh Pelanggan Perda 12 100% Rasio

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-124

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2008 No Kabupaten/kota Jmlh Pnylsaian penegakan perda 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Luwu Luwu Utara Lumu Timur Bone Sinjai Kep.Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Se Sul-Sel 178 4 14 4 362 178 4 14 4 362 100% 14 274 100% 100% 100% 100% 3 33 3 3 100% 6 Jmlh Pelanggarn Rasio Perda Jmlh Pnylsaian penegakan perda

2009 Jmlh Pelanggaran Perda 6 100% Rasio Jmlh Pnylsaian penegakn perda 47 4 2 33 100% 8 69 30 3 100% 22 22 21 14 274 100% 100% 3 1.499

2010 Jmlh Desa/ Kelurahan 47 4 2 8 69 30 22 22 21 7 1.647 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 43% 91% 4 327 1.355 47 Jmlh Pnylsaian Rasio 100% penegakan perda 2 51 4 4 44 209

2011 Jmlh Pelanggaran Perda 18 63 4 4 44 209 74 4 327 1.458 11% 81% 100% 100% 100% 100% 64% 100% 100% 93% Rasio Jmlh Pnylsaian penegakan perda 2 51 4 4 100 207 57 4 307 1.441

2012 Jmlh Pelanggan Perda 18 63 4 4 124 207 74 4 327 1.578 11% 81% 100% 100% 81% 100% 77% 100% 94% 91% Rasio

Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-125

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

f. Cakupan Patroli Petugas Satpol PP Cakupan patroli petugas satpol PP mengalami peningkatan tiap tahunnya, dimana pada tahun 2008 jumlah patroli petugas satpol PP sebesar 362 petugas satpol PP, dan pada Tahun 2012 meningkat menjadi 2072 petugas patroli satpol PP, atau mengalami peningkatan sebesar 100 persen lebih dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Tabel 2.173 Cakupan Patroli Petugas Satpol PP Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008 s.d 2012
2008 Jumlah Patroli petugas No Kabupaten / Kota Sat.Pol.PP Pemantauan dan Penyelesaian pelanggaran k3 dalam 24 jam 2009 Jumlah Patroli petugas Sat.Pol.PP Pemantauan dan Penyelesaian pelanggaran k3 dalam 24 jam 2010 Jumlah Patroli petugas Sat.Pol.PP Pemantauan dan k3 dalam 24 jam 2011 Jumlah Patroli petugas Sat.Pol.PP Pemantauan dan k3 dalam 24 jam 2012 Jumlah Patroli petugas Sat.Pol.PP Pemantauan dan Penyelesaian pelanggaran k3 dalam 24 jam

Penyelesaian pelanggaran Penyelesaian pelanggaran

I II 1 2 3 III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Provinsi Kota Kota Makassar Kota ParePare Kota Palopo Kabupaten Maros Pangkep Barru Pinrang Sindrap Wajo Soppeng Enrekang Tana Toraja Toraja Utara Luwu Luwu Utara Luwu Timur Bone Sinjai Kep.Selayar Bulukumba Banteang Jeneponto Takalar Gowa Se Sul-Sel

120

100

12

50

97 4

152 0 6

793 557 5

580 243 117

931 183 196

6 13 16 1 7 6 3 178 4 14 4 362

0 14 4 19 14

33

14 385

51 26 4 6 28 2 12 20 4 12 47 18 43 42 8 27 31 22 43 20 506 2427

51 30 31 14 46 19 17 65 35 97 36 213 46 12 133 21 35 49 35 29 17 1983

51 30 3 3 85 12 7 66 10 65 16 65 43 3 133 12 49 22 20 17 2072

Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-126

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

g. Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3 (Ketertiban, Ketentraman, Keindahan)Di Kabupaten Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (Ketertiban, Ketentraman dan Keindahan) mengalami peningkatan tiap tahunnya, dimana pada tahun 2008, persentase penyelesaian pelanggaran K3 sebesar 52 persen dan pada Tahun 2012 meningkat menjadi 91 persen. Tabel 2.174 Tingkat Penyelesaian Pelanggaran K3 (Ketertiban, Ketentraman, Keindahan) Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2008 No Kabupaten/kota Jmlh Pnylsaian Pelanggaran K3 I II 1 2 3 III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Provinsi Kota Kota Makassar Kota Pare-Pare Kota Palopo Kabupaten Maros Pangkep Barru Pinrang Sidrap Wajo Soppeng Enrekang Tana Toraja Toraja utara 6 13 16 1 7 6 6 13 16 1 7 6 100% 100% 14 14 100% 100% 100% 100% 100% 14 4 19 14 4 19 100% 100% 100% 0 0 51 15 7 14 34 8 6 26 30 64 51 35 7 14 49 8 6 52 30 85 100% 43% 100% 100% 69% 100% 100% 50% 100% 75% 51 13 22 14 46 19 17 65 35 97 51 30 31 14 46 19 17 65 35 97 100% 43% 71% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 51 30 3 3 61 12 7 64 10 65 51 30 3 3 85 12 7 66 10 65 100% 100% 100% 100% 72% 100% 100% 97% 100% 100% 97 4 97 4 100% 100% 152 0 6 152 0 6 100% 100% 163 418 50 217 557 66 75% 75% 76% 545 35 98 580 35 117 94% 100% 84% 931 169 98 931 183 196 100% 92% 50% Jmlh Pelanggar an K3 2009 Jmlh Pnylsaian Rasio Pelanggaran K3 Jmlh Pelangga Rasio ran K3 2010 Jmlh Pnylsaian Pelanggaran K3 Jmlh Pelangg aran K3 Rasio 2011 Jmlh Pnylsaian Pelanggaran K3 Jmlh Pelangga ran K3 2012 Rasi Jmlh Pnylsaian o Pelanggaran K3 Jmlh Pelanggar an K3 Rasio

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-127

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2008 No Kabupaten/kota Jmlh Pnylsaian Pelanggaran K3 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Luwu Luwu Utara Lumu Timur Bone Sinjai Kep.Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sul-Sel 3 178 4 14 4 353 Jmlh Pelanggar an K3 3 178 4 14 4 353 52% 100% 100% 100% 100% 100%

2009 Jmlh Pnylsaian Rasio Pelanggaran K3 6 Jmlh Pelangga Rasio ran K3 6 100%

2010 Jmlh Pnylsaian Pelanggaran K3 30 80 10 3 Jmlh Pelangg aran K3 40 106 46 3 8 101 25 23 30 20 7 1.586 75% 75% 22% 100% 100% 75% 100% 100% 100% 100% 100% 76% Rasio

2011 Jmlh Pnylsaian Pelanggaran K3 36 23 46 12 103 21 35 49 35 29 17 1.463 Jmlh Pelangga ran K3 36 213 46 12 133 21 35 49 35 29 17 1.763

2012 Rasi Jmlh Pnylsaian o 100% 11% 100% 100% 77% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 83% 39 12 20 12 1.844 49 22 20 17 2.022 80% 55% 100% 71% 91% Pelanggaran K3 16 50 43 3 133 12 Jmlh Pelanggar an K3 16 65 43 3 133 12 100% 77% 100% 100% 100% 100% Rasio

33

33

100%

8 76 25

100%

23 30 20

14 265

14 265

100% 40%

7 1.198

Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-128

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

h. Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) Di Kabupaten Petugas perlindungan masyarakat (Linmas) di Kabupaten mangalami peningkatan dalam kurun waktu lima tahun terkahir, peningkatan tersebut rata-rata sebesar 3,27 persen pertahunnya. Tabel 2.175 Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No Kabupaten / Kota 2008 2009 2010 2011 2012 Jumlah Linmas II 1 2 3 III 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Kota Kota Makassar Kota Pare-Pare Kota Palopo Kabupaten Maros Pangkep Barru Pinrang Sindrap Wajo Soppeng Enrekang Tana Toraja Toraja Utara Luwu Luwu Utara Luwu Timur Bone Sinjai Kep.Selayar Bulukumba Banteang Jeneponto Takalar Gowa Se Sul-Sel 2270 1710 1070 3720 790 740 1260 670 1130 830 1670 28.030 1030 1020 540 1040 1060 1760 700 1290 1600 1030 1020 540 1040 1060 1760 700 1290 800 800 2270 1710 1070 3710 790 740 1260 670 1130 830 1670 28.020 1030 1020 540 1040 1060 1760 700 1290 800 800 2270 1710 1070 3710 790 740 1260 670 1130 830 1670 28.020 1296 1020 540 1040 1060 1760 700 1290 800 800 2270 1780 1070 4901 1106 740 1260 670 1130 830 2004 31.192 1404 1122 540 1040 1060 1760 700 1290 800 800 2270 1780 1070 5278 1106 740 1260 670 1130 830 2004 31.757 1430 220 480 1430 220 480 1430 220 480 2145 308 672 2145 286 672 Jumlah Linmas Jumlah Linmas Jumlah Linmas Jumlah Linmas

Sumber : Satuan Polisi Pamong Praja Prov. Sul-Sel 2013

2.3.1.21. Ketahanan Pangan a. Regulasi Ketahanan Pangan Pada tahun 2008-2012 telah dikeluarkan 1 Perda dan 4 Pergub terkait dengan regulasi pada ketahanan pangan daerah.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-129

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.176 Regulasi Ketahanan Pangan Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Bidang/Urusan Regulasi Ketahanan Pangan Satuan Dokumen 2008 0 2009 1 Tahun 2010 1 2011 2 2012 1

Sumber :Badan Ketahanan Pangan Daerah Prov. Sul-Sel 2013

b. Ketersediaan Pangan Utama Dari data tabel memperlihatkan bahwa ketersediaan pangan utama (Beras) di Sulawesi Selatan selama periode tahun 2008-2012 masih tersedia (surplus) 2-3 kali lipat dari kebutuhan konsumsi penduduk Sulawesi Selatan. Tabel 2.177 Ketersediaan Pangan Utama Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No 1. 2. 1 Bidang/Urusan Rata rata konsumsi beras Konsumsi beras penduduk Ketersediaan Pangan Utama (Beras) % 258,63 274,70 279,49 293,76 352,67 Satuan Kg/Kap /Thn Kg/Thn 892.894.746 884.963.276 881.414.927 863.503.883 855.878.199 Tahun 2008 114,4 2009 111,9 2010 109,7 2011 106,4 2012 104,5

Sumber :Badan Ketahanan Pangan Daerah Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-130

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.3.1.22. Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa a. Rata-Rata Jumlah Kelompok Binaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Dari data tabel memperlihatkan bahwa rata-rata peningkatan jumlah kelompok binaan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat selama periode tahun 2008-2012 sebesar 1,38 persen tiap tahunnya. Tabel 2.178 Rata-Rata Jumlah Kelompok Binaan LPM Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Kabupaten / Kota Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Bone Maros Pangkep Barru Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang JUMLAH LPM 74 126 67 113 77 167 80 372 103 102 54 70 176 105 104 112 2008 JUMLAH KLP BINAAN LPM 148 252 201 226 154 501 240 744 206 204 108 140 352 210 208 224 RATARATA JUML. LPM 2,00 2,00 3,00 2,00 2,00 3,00 3,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 JUMLAH LPM 74 126 67 113 83 167 80 372 103 102 54 70 176 106 104 129 2009 JUMLAH KLP BINAAN LPM 148 252 201 226 166 501 240 744 206 204 108 140 352 212 208 258 RATARATA JUML. LPM 2,00 2,00 3,00 2,00 2,00 3,00 3,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 JUMLAH LPM 74 126 67 113 83 167 80 372 103 102 54 70 176 106 104 129 2010 JUMLAH KLP BINAAN LPM 222 378 201 339 249 501 240 1116 309 306 162 210 528 318 312 387 RATARATA JUML. LPM 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 JUMLAH LPM 74 126 67 113 83 167 80 372 103 102 54 70 176 106 104 129 2011 JUMLAH KLP BINAAN LPM 222 378 201 339 249 501 240 1116 309 306 162 210 528 318 312 387 RATARATA JUML. LPM 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 JUMLAH LPM 88 136 67 113 100 167 80 372 103 103 55 70 176 106 108 129 2012 JUMLAH KLP BINAAN LPM 256 398 201 339 283 501 240 1116 309 308 164 210 528 318 320 387 RATARATA JUML.LPM 2,91 2,93 3,00 3,00 2,83 3,00 3,00 3,00 3,00 2,99 2,98 3,00 3,00 3,00 2,96 3,00

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-131

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten / Kota Luwu Tator Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare-Pare Palopo JUMLAH

JUMLAH LPM 192 310 171 99 0 143 22 48 2.887

2008 JUMLAH KLP BINAAN LPM 384 620 342 198 0 429 66 144 6301

RATARATA JUML. LPM 2,00 2,00 2,00 2,00 0,00 3,00 3,00 3,00 2,18

JUMLAH LPM 227 159 171 99 151 143 22 48 2.946

2009 JUMLAH KLP BINAAN LPM 454 318 342 198 302 429 66 144 6419

RATARATA JUML. LPM 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 3,00 3,00 3,00 2,18

JUMLAH LPM 227 159 171 99 151 143 22 48 2.946

2010 JUMLAH KLP BINAAN LPM 681 477 513 297 453 572 88 192 9051

RATARATA JUML. LPM 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 4,00 4,00 4,00 3,07

JUMLAH LPM 227 160 171 107 151 143 22 48 2.955

2011 JUMLAH KLP BINAAN LPM 681 478 513 305 453 572 88 192 9060

RATARATA JUML. LPM 3,00 2,99 3,00 2,85 3,00 4,00 4,00 4,00 3,07

JUMLAH LPM 227 160 173 127 151 143 22 48 3.024

2012 JUMLAH KLP BINAAN LPM 681 478 517 361 453 572 88 192 9220

RATARATA JUML.LPM 3,00 2,99 2,99 2,84 3,00 4,00 4,00 4,00 3,05

Sumber: BPMPDK Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-132

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Rata-Rata Jumlah Kelompok Binaan PKK Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK dari tahun 2008 sampai dengan 2012 mengalami penurunan, dimana pada tahun 2008 sebesar 3,24 dan pada tahun 2012 menjadi 1,48. Tabel 2.179 Rata-Rata Jumlah Kelompok Binaan PKK Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
2008 NO. KABUPATEN/KOTA Jumlah PKK 3 2.177 3.121 876 8.704 1.691 5.911 2.666 6.730 1.487 1.825 5.737 Juml. Klp. Binaan 4 4.865 7.147 4.141 24.909 7.276 19.823 24.235 12.385 7.194 5.635 14.302 Rata-rata JMLH KLP Binaan PKK 5 = 4/3 2,23 2,29 4,73 2,86 4,30 3,35 9,09 1,84 4,84 3,09 2,49 Jumlah PKK 6 2.180 3.434 359 7.739 1.698 29.758 2.806 6.730 1.502 530 5.849 2009 Juml. Klp. Binaan 7 4.871 6.880 2.814 38.787 7.733 22.281 17.787 11.994 7.111 5.471 14.544 Rata-rata JMLH KLP Binaan PKK 8=7/6 2,23 2,00 7,84 5,01 4,55 0,75 6,34 1,78 4,73 10,32 2,49 Jumlah PKK 9 2.177 3.470 983 7.783 816 5.808 3.591 6.730 1.591 2.574 5.804 2010 Juml. Klp. Binaan 10 4.596 6.339 6.756 49.982 7.475 16.880 14.993 12.458 6.260 6.678 14.666 Ratarata JMLH KLP Binaan PKK 11=10/9 2,11 1,83 6,87 6,42 9,16 2,91 4,18 1,85 3,93 2,59 2,53 2011 Jumlah PKK 12 2.183 7.317 901 6.691 1.043 4.755 2.981 4.799 1.145 3.665 5.808 Juml. Klp. Binaan 13 14.912 12.152 5.111 24.158 6.798 15.289 16.354 6.813 4.817 5.636 13.965 Rata-rata JMLH KLP Binaan PKK 14=13/12 6,83 1,66 5,67 3,61 6,52 3,22 5,49 1,42 4,21 1,54 2,40 Jumlah PKK 15 2.260 3.236 901 6.691 990 6.071 2.586 3.338 1.454 3.665 5.960 2012 Juml. Klp. Binaan 16 13.473 3.121 1.950 8.441 2.289 6.462 5.735 4.387 2.438 3.069 6.914 Rata-rata JMLH KLP Binaan PKK 17=16/15 5,96 0,96 2,16 1,26 2,31 1,06 2,22 1,31 1,68 0,84 1,16

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

2 BANTAENG BULUKUMBA BARRU BONE ENREKANG GOWA JENEPONTO LUWU LUWU UTARA LUWU TIMUR MAKASSAR

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-133

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2008 NO. KABUPATEN/KOTA Jumlah PKK 3 2.132 865 514 2.032 2.215 787 2.442 1.935 2.068 4.383 1.714 3.450 65.462 2.878 15.211 211.839 Juml. Klp. Binaan 4 5.301 5.918 2.468 4.582 5.590 3.691 5.629 4.498 8.683 15.478 1,68 4,41 3,24 Rata-rata JMLH KLP Binaan PKK 5 = 4/3 2,49 6,84 4,80 2,25 2,52 4,69 2,31 2,32 4,20 3,53 Jumlah PKK 6 2.132 1.129 453 2.082 2.297 1.043 2.345 2.040 939 4.083 1.995 2.031 3.454 88.608

2009 Juml. Klp. Binaan 7 5.275 5.011 1.707 4.946 8.874 3.680 6.155 4.962 4.640 15.477 9.894 3.448 14.918 229.260 Rata-rata JMLH KLP Binaan PKK 8=7/6 2,47 4,44 3,77 2,38 3,86 3,53 2,62 2,43 4,94 3,79 4,96 1,70 4,32 2,59 Jumlah PKK 9 2.091 1.090 419 2.120 2.152 950 2.345 2.040 1.874 4.083 1.994 2.122 3.419 68.026

2010 Juml. Klp. Binaan 10 5.138 4.526 1.736 4.600 9.326 3.651 5.909 5.042 7.737 15.460 10.025 4.482 11.174 235.889

1 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

2 MAROS PALOPO PARE - PARE PANGKEP PINRANG SELAYAR SINJAI SIDRAP SOPPENG TANA TORAJA TORAJA UTARA TAKALAR WAJO JUMLAH

Ratarata JMLH KLP Binaan PKK 11=10/9 2,46 4,15 4,14 2,17 4,33 3,84 2,52 2,47 4,13 3,79 5,03 2,11 3,27 3,47

2011 Jumlah PKK 12 1.683 3.322 419 1.603 2.344 600 5.352 1.806 2.110 4.083 1.995 1.947 2.798 71.350 Juml. Klp. Binaan 13 4.214 8.734 1.739 4.786 8.098 4.191 4.615 6.008 5.197 9.566 7.645 4.676 10.121 205.595 Rata-rata JMLH KLP Binaan PKK 14=13/12 2,50 2,63 4,15 2,99 3,45 6,99 0,86 3,33 2,46 2,34 3,83 2,40 3,62 2,88 Jumlah PKK 15 1.663 1.007 419 1.669 2.344 600 5.352 1.806 1.926 4.083 1.966 1.631 2.804 64.422

2012 Juml. Klp. Binaan 16 2.314 5.897 1.585 1.318 4.160 1.992 3.268 3.716 2.383 2.869 2.707 2.015 3.043 95.562 Rata-rata JMLH KLP Binaan PKK 17=16/15 1,39 5,86 3,78 0,79 1,77 3,32 0,61 2,06 1,24 0,70 1,38 1,24 1,09 1,48

Sumber: BPMPDK Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-134

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

d. Jumlah LPM Berprestasi persentase jumlah LPM Berprestasi dari tahun 2008 hingga tahun 2012 tidak mengalami perubahan yang berarti, selama kurun waktu lima tahun terakhir rata-rata persentase LPM berprestasi hanya tumbuh 0,1 persen. Tabel 2.180 Jumlah LPM Berprestasi Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
2008 No Kabupaten / Kota JUMLAH LPM LPM BER PRESTASI (%) JUMLAH LPM 2009 JUMLAH LPM BER PRESTASI LPM BER PRESTASI (%) JUMLAH LPM 2010 LPM BER PRESTASI (%) JUMLAH LPM 2011 LPM BER PRESTASI (%) JUMLAH LPM 2012 LPM BERPRESTASI (%)

JUMLAH LPM BER PRESTASI

JUMLAH LPM BER PRESTASI

JUMLAH LPM BER PRESTASI

JUMLAH LPM BER PRESTASI

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Bone Maros Pangkep Barru Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang

74 126 67 113 77 167 80 372 103 102 54 70 176 105 104 112

12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12

16,22 9,52 17,91 10,62 15,58 7,19 15,00 3,23 11,65 11,76 22,22 17,14 6,82 11,43 11,54 10,71

74 126 67 113 83 167 80 372 103 102 54 70 176 106 104 129

12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12

16,22 9,52 17,91 10,62 14,46 7,19 15,00 3,23 11,65 11,76 22,22 17,14 6,82 11,32 11,54 9,30

74 126 67 113 83 167 80 372 103 102 54 70 176 106 104 129

12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12

16,22 9,52 17,91 10,62 14,46 7,19 15,00 3,23 11,65 11,76 22,22 17,14 6,82 11,32 11,54 9,30

74 126 67 113 83 167 80 372 103 102 54 70 176 106 104 129

12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12

16,22 9,52 17,91 10,62 14,46 7,19 15,00 3,23 11,65 11,76 22,22 17,14 6,82 11,32 11,54 9,30

88 136 67 113 100 167 80 372 103 103 55 70 176 106 108 129

12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12

13,64 8,82 17,91 10,62 12,00 7,19 15,00 3,23 11,65 11,65 21,82 17,14 6,82 11,32 11,11 9,30

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-135

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2008 No Kabupaten / Kota JUMLAH LPM LPM BER PRESTASI (%) JUMLAH LPM

2009 JUMLAH LPM BER PRESTASI LPM BER PRESTASI (%) JUMLAH LPM

2010 LPM BER PRESTASI (%) JUMLAH LPM

2011 LPM BER PRESTASI (%) JUMLAH LPM

2012 LPM BERPRESTASI (%)

JUMLAH LPM BER PRESTASI

JUMLAH LPM BER PRESTASI

JUMLAH LPM BER PRESTASI

JUMLAH LPM BER PRESTASI

17 18 19 20 21 22 23 24

Luwu Tator Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare-Pare Palopo JUMLAH

192 310 171 99 0 143 22 48 2.887

12 12 12 12 0 12 12 12 276

6,25 3,87 7,02 12,12 0,00 8,39 54,55 25,00 9,56

227 159 171 99 151 143 22 48 2.946

12 12 12 12 12 12 12 12 288

5,29 7,55 7,02 12,12 7,95 8,39 54,55 25,00 9,78

227 159 171 99 151 143 22 48 2.946

12 12 12 12 12 12 12 12 288

5,29 7,55 7,02 12,12 7,95 8,39 54,55 25,00 9,78

227 160 171 107 151 143 22 48 2.955

12 12 12 12 12 12 12 12 288

5,29 7,50 7,02 11,21 7,95 8,39 54,55 25,00 9,75

227 160 173 127 151 143 22 48 3.024

12 12 12 12 12 12 12 12 288

5,29 7,50 6,94 9,45 7,95 8,39 54,55 25,00 9,52

Sumber: BPMPDK Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-136

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

e. PKK Aktif Persentase Jumlah PKK aktif dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 rata-rata sebesar 97 persen tiap tahunnya, hal ini tentunya suatu prestasi yang membanggakan dikarenakan hampir semua jumlah PKK yang ada merupakan PKK yang aktif. Tabel 2.181 PKK Aktif Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
2008 NO. KABUPATEN/KOTA Jumlah PKK
3

2009 PKK Aktif (%)


5= 4/3x100%

2010 PKK Aktif (%)


8=7/6x100%

2011 PKK Aktif (%)


11=10/9x100%

2012 PKK Aktif (%)


14=13/12x100%

Juml. PKK Aktif


4

Jumlah PKK
6

Juml. PKK Aktif


7

Jumlah PKK
9

Juml. PKK Aktif


10

Jumlah PKK
12

Juml. PKK Aktif


13

Jumlah PKK
15

Juml. PKK Aktif


16

PKK Aktif (%)


17=16/15x100%

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

BANTAENG BULUKUMBA BARRU BONE ENREKANG GOWA JENEPONTO LUWU LUWU UTARA LUWU TIMUR MAKASSAR MAROS PALOPO PARE - PARE PANGKEP PINRANG

2.177 3.121 876 8.704 1.691 5.911 2.666 6.730 1.487 1.825 5.737 2.132 865 514 2.032 2.215

2.177 3.059 867 8.530 1.657 5.793 2.133 6.326 1.457 1.789 5.622 2.132 848 504 1.991 1.750

100,00 98,00 99,00 98,00 98,00 98,00 80,00 94,00 98,00 98,00 98,00 100,00 98,00 98,00 98,00 79,00

2.180 3.434 359 7.739 1.698 29.758 2.806 6.730 1.502 530 5.849 2.132 1.129 453 2.082 2.297

2.180 3.365 355 7.584 1.664 29.163 2.245 6.326 1.472 519 5.732 2.132 1.106 448 2.040 1.838

100,00 98,00 99,00 98,00 98,00 98,00 80,00 94,00 98,00 98,00 98,00 100,00 98,00 99,00 98,00 80,00

2.177 3.470 983 7.783 816 5.808 3.591 6.730 1.591 2.574 5.804 2.091 1.090 419 2.120 2.152

2.177 3.401 973 7.627 800 5.692 2.909 6.394 1.559 2.523 5.688 2.091 1.068 419 2.078 1.722

100,00 98,00 99,00 98,00 98,00 98,00 81,00 95,00 98,00 98,00 98,00 100,00 98,00 100,00 98,00 80,00

2.183 7.317 901 6.691 1.043 4.755 2.981 4.799 1.145 3.665 5.808 1.683 3.322 419 1.603 2.344

2.183 7.171 892 6.557 1.022 4.660 2.444 4.607 1.122 3.592 5.750 1.683 3.256 411 1.571 1.899

100,00 98,00 99,00 98,00 98,00 98,00 82,00 96,00 98,00 98,00 99,00 100,00 98,00 98,00 98,00 81,00

2.260 3.236 901 6.691 990 6.071 2.586 3.338 1.454 3.665 5.960 1.663 1.007 419 1.669 2.344

2.260 3.203 892 6.557 980 5.950 2.146 3.204 1.425 3.592 5.900 1.663 987 411 1.636 1.899

100,00 99,00 99,00 98,00 99,03 98,00 83,00 96,00 98,00 98,00 99,00 100,00 98,00 98,00 98,00 81,00

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-137

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2008 NO. KABUPATEN/KOTA Jumlah PKK 787 2.442 1.935 2.068 4.383 1.714 3.450 65.462 1.680 3.381 69.146 Juml. PKK Aktif 771 2.393 1.742 2.027 4.383 PKK Aktif (%) 98,00 98,00 90,00 98,00 100,00 0,00 98,00 98,00 94,67 Jumlah PKK 1.043 2.345 2.040 939 4.083 1.995 2.031 3.454 88.608

2009 Juml. PKK Aktif 1.022 2.298 1.836 920 4.083 1.955 1.990 3.385 85.661 PKK Aktif (%) 98,00 98,00 90,00 98,00 100,00 98,00 98,00 98,00 96,67 Jumlah PKK 950 2.345 2.040 1.874 4.083 1.994 2.122 3.419 68.026

2010 Juml. PKK Aktif 931 2.298 1.856 1.837 4.083 1.954 2.080 3.351 65.508 PKK Aktif (%) 98,00 98,00 91,00 98,00 100,00 98,00 98,00 98,00 96,30 Jumlah PKK 600 5.352 1.806 2.110 4.083 1.995 1.947 2.798 71.350

2011 Juml. PKK Aktif 588 5.245 1.662 2.068 4.083 1.955 1.908 2.742 69.069 PKK Aktif (%) 98,00 98,00 92,00 98,00 100,00 98,00 98,00 98,00 96,80 Jumlah PKK 600 5.352 1.806 1.926 4.083 1.966 1.631 2.804 64.422

2012 Juml. PKK Aktif 588 5.245 1.680 1.887 4.083 1.927 1.598 2.748 62.792 PKK Aktif (%) 98,00 98,00 93,00 98,00 100,00 98,00 98,00 98,00 97,47

17 18 19 20 21 22 23 24

SELAYAR SINJAI SIDRAP SOPPENG TANA TORAJA TORAJA UTARA TAKALAR WAJO JUMLAH

Sumber: BPMPDK Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-138

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

f. Posyandu Aktif persentase Jumlah Posyandu aktif dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 rata-rata sebesar 98 persen tiap tahunnya, ini tentunya didukung dengan meningkatnya kesadaran masyarakat tentang arti kesehatan. Tabel 2.182 Posyandu Aktif Menurut Kbupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
2008 NO. KABUPAT EN/KOTA Total Posya ndu 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 2 Makassar Gowa Takalar Jeneponto Bantaeng Bulukumba Selayar Sinjai Maros Pangkep Barru Pare-pare Bone Soppeng 3 910 577 359 428 254 471 248 309 386 272 198 112 783 311 Juml. Posyandu Aktif 4 910 577 359 428 193 436 248 309 389 272 198 110 783 298 Posyandu Aktif (%) 5= 4/3x100% 100.00 100.00 100.00 100.00 75.98 92.57 100.00 100.00 100.78 100.00 100.00 98.21 100.00 95.82 Total Posya ndu 6 284 655 387 381 254 482 258 316 386 303 209 114 915 196 2009 Juml. Posyandu Aktif 7 284 655 387 363 193 482 258 316 386 303 197 110 915 170 Posyand u Aktif (%) 8=7/6x1 00% 100.00 100.00 100.00 95.28 75.98 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 94.26 96.49 100.00 86.73 Total Posya ndu 9 939 688 402 411 254 511 258 318 391 300 197 115 3,491 324 2010 Juml. Posyandu Aktif 10 939 668 387 355 193 511 252 317 390 300 197 112 3,491 324 Posyand u Aktif (%) 11=10/9 x100% 100.00 97.09 96.27 86.37 75.98 100.00 97.67 99.69 99.74 100.00 100.00 97.39 100.00 100.00 Total Posya ndu 12 894 492 390 365 200 472 258 322 386 305 192 115 875 309 2011 Juml. Posyandu Aktif 13 894 492 390 365 200 472 258 322 386 305 192 112 875 271 Posyand u Aktif (%) 14=13/1 2x100% 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 97.39 100.00 87.70 Total Posya ndu 15 920 613 374 328 200 454 258 322 369 342 227 115 875 302 2012 Juml. Posyand u Aktif 16 920 613 374 323 200 454 258 322 369 342 227 112 875 302 Posyandu Aktif (%) 17=16/15x 100% 100.00 100.00 100.00 98.48 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 97.39 100.00 100.00

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-139

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Wajo Sidrap Pinrang Luwu Luwu Utara Luwu Timur Palopo Enrekang Toraja Toraja Utara JUMLAH

443 278 338 350 247 230 131 360 246 8,241

424 255 338 348 247 230 128 275 246 8,001

95.71 91.73 100.00 99.43 100.00 100.00 97.71 76.39 100.00 97.09

442 315 353 372 267 177 139 257 246 135 7,843

419 315 319 334 267 177 139 257 246 135 7,627

94.80 100.00 90.37 89.78 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 100.00 97.25

733 308 354 378 288 232 136 279 246 143 11,696

733 308 349 363 278 232 136 267 246 143 11,491

100.00 100.00 98.59 96.03 96.53 100.00 100.00 95.70 100.00 100.00 98.25

704 309 363 378 340 245 198 225 246 135 8,718

704 309 342 378 340 227 127 225 246 135 8,567

100.00 100.00 94.21 100.00 100.00 92.65 64.14 100.00 100.00 100.00 98.27

707 310 353 382 287 245 206 228 246 138 8,801

707 310 342 382 287 245 127 228 246 138 8,703

100.00 100.00 96.88 100.00 100.00 100.00 61.65 100.00 100.00 100.00 98.89

Sumber: BPMPDK Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-140

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

g. Swadaya Masyarakat Terhadap Program Pemberdayaan Masyarakat Swadaya masyarakat dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 pada beberapa Kabupaten/Kota mengalami peningkatan tiap tahunnya, Kabupaten Luwu Timur merupakan salah satu Kabupaten/Kota yang mengalami peningkatan cukup pesat, dimana pada tahun 2008 sebesar 4,41 persen dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 36,31 persen. Tabel 2.183 Swadaya Masyarakat Terhadap Program Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Kabupaten Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkajene Kepulauan Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Nilai Swadaya Masyarakat Thn 2008 4.77% 0.37% 0.00% 7.46% 0.48% 1.56% 0.44% 6.32% 9.38% 3.76% 10.93% 0.17% 1.45% 4.38% 6.53% 13.70% 2.64% 10.69% 10.58% 4.41% Thn 2009 2.28% 0.35% 0.00% 0.00% 0.11% 1.97% 1.66% 8.75% 0.00% 10.51% 0.35% 1.59% 4.51% 3.78% 17.60% 12.86% 13.22% 0.00% 9.14% 11.32% Thn 2010 1.53% 0.15% 6.91% 0.00% 5.10% 1.22% 2.77% 6.30% 0.00% 6.42% 0.54% 0.21% 2.08% 2.88% 4.08% 26.62% 5.35% 1.87% 4.24% 21.72% Thn 2011 1.32% 1.42% 3.32% 0.00% 0.00% 0.17% 3.01% 6.16% 0.03% 5.36% 1.17% 1.57% 2.01% 2.07% 2.50% 17.76% 9.65% 9.13% 2.11% 31.22% Thn 2012 2.72% 1.26% 7.74% 0.00% 0.98% 0.07% 0.69% 5.85% 0.00% 6.06% 0.13% 0.44% 1.88% 1.30% 2.02% 12.08% 5.41% 11.85% 3.21% 36.31%

Sumber: BPMPDK Prov. Sul-Sel 2013

h. Pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat Tabel 2.184 Pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 No 1 2 Kabupaten Selayar Bulukumba Thn 2008 4.77% 0.37% Nilai Swadaya Masyarakat Thn 2009 Thn 2010 Thn 2011 2.24% 1.52% 1.31% 0.34% 0.15% 1.41% Thn 2012 2.69% 1.25%

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-141

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Kabupaten Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkajene Kepulauan Barru Bone Soppeng Wajo Sidenreng Rappang Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur

Thn 2008 0.00% 7.46% 0.48% 1.56% 0.44% 6.32% 9.38% 3.76% 10.93% 0.17% 1.45% 4.38% 6.53% 13.70% 2.64% 10.69% 10.58% 4.41%

Nilai Swadaya Masyarakat Thn 2009 Thn 2010 Thn 2011 0.00% 6.89% 3.29% 0.43% 0.10% 1.94% 1.63% 8.61% 0.54% 10.34% 0.35% 1.57% 4.44% 3.72% 17.32% 12.66% 13.01% 0.61% 9.00% 11.14% 0.36% 5.08% 1.22% 2.76% 6.27% 0.00% 6.40% 0.54% 0.21% 2.07% 2.87% 4.06% 26.52% 5.34% 1.87% 4.22% 21.65% 0.45% 0.32% 0.17% 2.99% 6.11% 0.03% 5.32% 1.16% 1.56% 1.99% 2.05% 2.48% 17.63% 9.58% 9.06% 2.10% 30.98%

Thn 2012 7.65% 0.60% 0.96% 0.07% 0.68% 5.78% 0.60% 5.99% 0.12% 0.44% 1.86% 1.28% 1.99% 11.94% 5.34% 11.71% 3.17% 35.88%

Sumber: BPMPDK Prov. Sul-Sel 2013

2.3.1.23. Kearsipan a. Tabel Peningkatan Sdm Pengelola Kearsipan Tabel 2.185 Pengelolan Arsip & Peningkatan SDM Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No a. b. Bidang Urusan Pengelolaan Arsip Secara Baku Peningkatan SDM Pengelolaan Kearsipan Satuan % Orang 2008 32 500 Tahun 2009 2010 2011 2012 46 54 58,5 64,6 700 1.000 1.500 2.340

Sumber: Sekretariat KPID Prov. Sul-Sel 2013

2.3.1.24. Komunikasi Dan Informatika a. Jumlah Penyiaran Radio/TV Lokal Tabel 2.186 Jumlah Lembaga Penyiaran Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No a. Bidang Urusan Televisi 2008 10 Tahun 2009 2010 17 23 2011 13 2012 4
II-142

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No b. c. d.

Bidang Urusan Radio Swasta Radio Publik Radio Komunitas Jumlah

2008 7 1 18

Tahun 2009 2010 1 1 2 2 3 1 24 30

2011 9 3 4 31

2012 4 2 7 17

Sumber: Sekretariat KPID Prov. Sul-Sel 2013

2.3.1.25. Perpustakaan

Tabel 2.187 Jumlah Perpustakaan, Pengunjung & Koleksi Buku Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Uraian 2008 746 2009 910 Tahun 2010 1.393 2011 1.595 2012 1.728

No a. b. c.

Jml Perpustakaan Jml Pengunjung Perpustakaan Jml Koleksi Buku

236.913 236.913 249.716 308.305 310.953 219.052 219.052 230.375 234.166 236.672

Sumber Data : Badan Arsip & Perpustakaan Prov. Sul-Sel 2013

2.3.2. Fokus Layanan Urusan Pilihan Fokus layanan urusan pilihan diarahkan pada urusan pertanian, kehutanan, energi, sumberdaya mineral, pariwisata, kelautan dan perikanan, perdagangan, industri dan ketransmigrasian. 2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan 2.3.2.1. Pertanian a. Produktivitas Padi Atau Bahan Pangan Utama Lokal Lainnya Data tabel 2.176 menunjukkan terjadi penurunan produktivitas padi dan jagung pada tahun 2010 karena pada tahun 2010 terjadi perubahan iklim dimana hampir sepanjang tahun terjadi hujan. Tabel 2.188 Produktivitas Padi Atau Bahan Pangan Utama Lokal Lainnya Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No a. b. c. Bidang Urusan Padi Jagung Kedelai Satuan % % % 2008 48,83 41,94 15,29 2009 50,16 46,58 16,00 Tahun 2010 49,44 44,27 15,11 2011 50,74 47,80 15,73 2012 50,98 46,58 15,00

Sumber : Dinas Pertanian Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-143

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Kontribusi Sektor Pertanian dan Perkebunan Terhadap PDRB Tabel 2.189 Kontribusi Sektor Pertanian dan Perkebunan Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No a. b. Bidang Urusan Sektor Pertanian Sektor Perkebunan Satuan % % 2008 29,45 6,52 2009 28,02 6,05 Tahun 2010 25,83 5,35 2011 25,32 5,05 2012 24,79 4,48

Sumber : Dinas Pertanian Prov. Sul-Sel 2013

c. Produksi Daging (Kg) dari berbagai komoditas ternak di provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Terjadi penurunan produksi daging pada ternak kerbau sekitar 4,16%/ tahun dari target peningkatan 3% per tahun ini disebabkan ternak kerbau belum menjadi primadona masyarakat sulsel secara umum. Penurunan tingkat produksi daging dari berbagai komoditas unggas ini merupakan pengaruh distribusi silang dari peningkatan produksi daging dari ayam ras pedaging yang meningkat secara signifikan.
Tabel 1.190 Produksi Daging (Kg) dari Berbagai Komoditas Ternak Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenis Ternak Sapi Kerbau Kuda Kambing Domba Babi Ayam Buras Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Itik 1.302.568 844.807 765.238 668.170 682.001 9.728.406 10.709.824 10.692.339 11.594.378 12.869.760 14,58 -5,17 3 2 2008 9.503.867 2.950.160 429.540 764.132 752 2.337.133 9.299.571 1.205.415 2009 8.215.598 2.169.070 420.250 583.347 1.286 1.699.042 5.127.604 2.999.102 Tahun 2010 9.055.961 1.546.125 805.375 885.785 1.399 1.863.357 5.373.582 1.371.055 2011 11.025.604 1.825.745 868.375 901.522 960 2.397.305 5.483.403 1.440.884 2012 11.135.860 1.839.463 877.059 964.629 939,32 2.541.143 5.596.910 1.599.382 -0,33 7 R (%) 8,97 -4,67 3,71 5,60 0,60 4,17 -3,92 I (%) 6,07 3 6 2 2 2 2

Sumber ; Dinas Peternakan Provinsi Sulawesi Selatan

2.3.2.2. Kehutanan a. Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Kritis Kondisi kerusakan hutan dan lahan di Sulawesi Selatan selama periode 2008-2012 mengalami peningkatan kualitas melalui penanganan rehabilitasi hutan dan lahan kritis, yakni dari luas total hutan dan lahan kritis sebanyak 1.183.017 Ha tahun 2008 menjadi 615.056 Ha tahun 2012. Penanganan kerusakan hutan dan lahan melalui rehabilitasi hutan dan lahan kritis di Sulawesi Selatan dilakukan secara bersinergi antara Pemerintah, pemerintah provinsi Sulawesi Selatan dan pemerintah kabupaten/kota.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-144

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.191 Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Kritis Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang Urusan Luas hutan dan lahan kritis yang direhabilitasi Luas total hutan dan lahan kritis Rehabilitasi hutan dan Lahan Kritis % 1,51 4,81 10,21 22,94 18,80 Ha 1.183.007 682.784 669.652 642.293 615.065 Satuan Ha Tahun 2008 17.920,00 2009 32.831,00 2010 68.398,33 2011 147.389,28 2012 115.628,91

Sumber : Dinas Kehutanan Prov. Sul-Sel 2013

Berdasarkan data, jumlah luas hutan yang direhabilitasi setiap tahun mengalami peningkatan, yakni dari 17,92 ribu ha tahun 2008 meningkat menjadi 115,63 ribu ha tahun 2012 atau dari 1,51 persen menjadi 18,80 persen. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat pemulihan kondisi hutan yang telah rusak sehingga bisa menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Tabel 2.192 Rehabilitasi Hutan Dan Lahan Kritis Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten / Kota Makassar Gowa Takalar Jeneponto Bantaeng Bulukumba Selayar Sinjai Maros Pangkep Barru Pare-Pare Sidrap Soppeng Wajo Bone Pinrang Enrekang Tana Toraja Luwu Palopo Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Jumlah Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis (Ha) 2008 975 350 750 378 529 359 775 775 1,100 800 175 600 1,025 300 540 2,186 3,200 1,520 533 1,050 17,920 2009 926 2,075 675 775 400 475 1,175 725 875 1,350 925 20 600 1,125 600 2,480 3,300 2,850 3,700 745 1,335 3,600 2,100 32,831 2010 252 3,752 1,026 2,027 2,277 3,401 1,875 4,003 3,000 2,775 1,727 1,054 1,400 5,001 3,747 3,502 3,140 1,317 3,739 11,496 1,142 3,913 1,453 1,377 68,398 2011 929 7,206 3,839 11,225 4,731 4,307 2,743 8,381 12,465 6,977 4,859 914 4,314 8,583 15,566 7,324 3,687 4,266 5,338 14,836 2,007 3,837 3,627 5,428 147,389 2012 881 6,872 2,942 3,610 3,204 6,237 1,832 3,579 3,997 1,997 8,890 120 2,576 10,783 3,816 6,420 4,058 5,974 8,500 6,756 2,217 13,344 2,999 4,026 115,628

Sumber : Dinas Kehutanan Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-145

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Kerusakan Kawasan Hutan Luas kerusakan kawasan hutan selama kurun waktu 2008-2012 cenderung mengalami penurunan, yakni dari 336.346 ha atau sebesar 15,94 persen tahun 2008 menurun menjadi 271.399 ha atau sebesar 10,75 persen tahun 2012. Penurunan luas kerusakan kawasan hutan di Sulawesi Selatan merupakan upaya yang saling bersinergi antara pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota serta pelibatan masyarakat mengingat hutan merupakan salah satu sumber daya pembangunan Sulawesi Selatan.. Tabel 2.193 Kerusakan Kawasan Hutan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. Bidang Urusan Luas kerusakan kawasan hutan Luas kawasan hutan Kerusakan Kawasan Hutan Satuan Ha Ha % 2008 336.346 2.109.612 15,94 2009 366.793 2.109.612 17,39 Tahun 2010 380.603 2.523.494 15,08 2011 349.696 2.523.494 13,86 2012 271.399 2.523.494 10,75

Sumber : Dinas Kehutanan Prov. Sul-Sel 2013

Tabel 2.194 Kerusakan Kawasan Hutan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
Luas Kawasan Hutan (Ha) 73,321 7,536 9,600 5,792 12,793 450,836 18,913 65,323 27,558 68,180 2,313 69,721 47,275 24,149 140,135 71,605 82,089 113,000 259,944 10,290 378,901 533,943 50,277 2,523,494 Luas Kerusakan Kawasan Hutan (Ha) 2008 31,674 5,612 2,659 1,468 294 162 1,036 17,852 11,962 20,469 2,107 9,893 5,328 6,024 41,838 26,577 20,717 51,138 10,472 2,217 39,917 26,932 336,346 2009 30,699 5,262 1,909 1,090 235 162 775 17,077 10,862 19,669 2,107 9,718 4,728 4,999 41,538 26,037 18,531 47,938 10,472 7,285 39,384 66,316 366,793 2010 28,624 4,587 1,134 790 235 162 725 16,202 9,512 18,744 2,087 9,118 3,603 4,399 39,058 22,737 15,681 44,238 9,727 5,950 35,784 64,216 43,290 380,603 2011 26,549 3,912 359 390 235 162 725 15,327 8,162 17,819 2,067 8,518 2,478 3,799 36,578 19,437 12,831 40,538 8,982 4,615 32,184 62,116 41,913 349,696 2012 19,343 73 359 390 235 162 725 2,862 1,185 12,960 1,153 4,204 2,478 3,816 29,254 15,750 8,565 35,200 6,756 2,608 28,347 58,489 36,485 271,399

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten / Kota Makassar Gowa Takalar Jeneponto Bantaeng Bulukumba Selayar Sinjai Maros Pangkep Barru Pare-Pare Sidrap Soppeng Wajo Bone Pinrang Enrekang Tana Toraja Luwu Palopo Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara JUMLAH

Sumber : Dinas Kehutanan Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-146

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

c. Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap PDRB Tabel 2.195 Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang Urusan Jumlah kontribusi PDRB dari sektor kehutanan b. Jumlah PDRB Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap PDRB Milyar % 85.143,19 0,11 99.954,59 0,11 117.862,21 0,10 137.389,98 0,10 137.389,98 0,10 Satuan Milyar Tahun 2008 98,05 2009 112,51 2010 122,50 2011 138,05 2012 138,05

Sumber : Dinas Kehutanan Prov. Sul-Sel 2013

2.3.2.3Energi Dan Sumber Daya Mineral a. Pertambangan Tanpa Ijin Sampai saat ini, izin pertambangan di Sulawesi Selatan semakin diperketat dengan maksud untuk menghindari terjadinya penambang-penambang liar dan apabila masih ada yang melakukan pelanggaran akan diberi sanksi tegas. Selama periode 2008-2012, pertambangan tanpa izin sebesar 53,33 persen tahun 2008 cenderung mengalami penurunan menjadi 46,83 persen tahun 2012. Begitu pula luas penambangan liar yang ditertibkan dan luas area penambangan liar juga mengalami penurunan. Tabel 2.196 Pertambangan Tanpa Ijin Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No a. Bidang Urusan Satuan Tahun 2008 2009 2010 2011 2012

Luas penambangan liar Ha 60,00 31,93 12,160 yang ditertibkan b. Luas area penambangan Ha 112,50 76,45 25,97 liar Pertambangan Tanpa % 53,33 41,77 46,83 Ijin Sumber : Dinas ESDM Prov. Sul-Sel 2013 Sesuai data, jumlah luas penambangan liar yang ditertibkan pada tahun 2008 sebanyak 60,00 ha menurun menjadi 12,16 ha pada tahun 2012. Sementara luas area penambangan liar pada tahun 2008 sebanyak 122,50 ha juga mengalami penurunan menjadi 25,97 ha pada tahun 2012. b. Kontribusi Sektor Pertambangan Terhadap PDRB Kontribusi sektor pertambangan terhadap Produk Domestik Regional Bruto di Sulawesi Selatan terus mengalami penurunan setiap tahunnya, yakni dari 7,26 persen tahun 2008 menurun menjadi 5,63 persen tahun 2012. Walaupun sektor pertambangan bukan menjadi sektor unggulan namun kontribusinya terhadap PDRB diharapkan bisa lebih ditingkatkan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-147

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.197 Kontribusi Sektor Pertambangan Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun No Bidang Urusan Satuan 2008 2009 2010 2011 Kontribusi Sektor % 7,26 5,51 5,63 5,51 Pertambangan Terhadap PDRB
Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

2012 5,63

2.3.2.4. Pariwisata a. Kunjungan Pariwisata Potensi pariwisata di Sulawesi Selatan sangat beranekaragam jenisnya sehingga daerah ini cukup memberi kontribusi terhadap nasional mengenai jumlah kunjungan wisatawan. Selama periode 2008-2012, kunjungan wisatawan di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan setiap tahunnya sebesar 24,37 persen, yakni dari 2,06 juta orang tahun 2008 meningkat menjadi 4,94 juta jiwa tahun 2012. Tabel 2.198 Kunjungan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun Bidang/Urusan Satuan 2008 2009 2010 2011 2012 Kunjungan Wisata orang 2,063,236 2,751,42 3,810,62 4,523,38 4,936,56 7 3 1 7 Sumber Data : Dinas Kebudayaan dan PariwisataProv. Sul-Sel 2013 Hal ini tentu tidak terlepas dari Program Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan yang setiap tahunnya melaksanakan event-event pariwisata setiap tahunnya antara lain Lovely December, Expedition Takabonerate Island, dan berbagai event kepariwisataan lainnya. b. Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap PDRB Tabel 2.199 Kontribusi Sektor Pariwisata Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No. a. b. c. Lapangan usaha Hotel Restoran Hiburan dan Rekreasi 1.309.474,07 1,54 1.558.942,65 1,56 1.851.860,86 1,57 2.163.757,29 1,57 2.544.778,75 1,60 9.428.813,62 1,57 Total (Juta Rp.) Total (%) Jumlah Kontrobusi PDRB Sektor Wisata (per Tahun) 2.008 171.496,12 1.082.522,41 55.455,54 2.009 201.694,68 1.282.431,48 74.816,49 2.010 247.744,46 1.504.949,82 99.166,58 2.011 294.242,65 1.751.934,80 117.579,84 2.012 358.047,59 2.045.051,21 141.679,95 Jumlah 1.273.225,50 7.666.889,72 488.698,40

Sumber Data : Dinas Kebudayaan dan PariwisataProv. Sul-Sel 2013

2.3.2.5. Perikanan & Kelautan a. Produksi Perikanan Selama kurun waktu 2008-2012, produksi perikanan di Sulawesi Selatan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2012, produksi ikan berhasil
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-148

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

melampaui target sebesar 176,20 persen atau selisih sebesar 1,08 juta ton, dimana produksi ikan yang dicapai sebesar 2,50 juta ton sementara target hanya sebesar 1,42 juta ton. Produksi perikanan didukung dari produksi perikanan budidaya dan produksi perikanan tangkap dimana untuk produksi perikanan tangkap fokus pada pengelolaan dan pemanfaatan perikanan tangkap sedangkan perikanan budidaya fokus pada peningkatan produksi. Capaian kinerja produksi perikanan dapat melampaui target karena dukungan prasarana, pengawasan dan konservasi sumber daya ikan serta peningkatan dan pembinaan mutu produksi perikanan. Tabel 2.200 Produksi Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. b. c. d. Bidang/Urusan Jumlah produksi ikan Target daerah Produksi Perikanan Jumlah produksi perikanan tangkap Target daerah Produksi Perikanan Tangkap Jumlah produksi perikanan budidaya Target Daerah Produksi Perikanan Budidaya Satuan ton ton % ton ton % ton ton % Tahun 2008 1.093.367,30 1.049.517,70 104,20 256.927,30 308.087,00 83,39 836.440,00 741.430,70 112,80 2009 1.142.376,20 1.223.292,80 93,40 226.476,50 316.176,00 71,63 915.899,70 907.117,00 100,97 2010 1.852.336,10 1.316.443,80 140,70 223.807,90 324.578,00 68,87 1.629.077,80 991.865,50 164,24 2011 2.036.522,70 1.363.245,00 149,40 237.807,90 332.891,8 71,44 1.798.714,80 1.030.353,00 117,13 2012 2.495.576,20 1.416.629,00 176,20 259.881,00 341.632,00 76,07 2.235.654,80 1.074.997,00 210,83

e. f.

Sumber: Dinas Kelautan & Perikanan Prov. Sul-Sel 2013

b. Komoditi Unggulan Komoditi unggulan udang, bandeng dan rumput laut merupakan komoditi yang dominan pada produksi perikanan propinsi Sulawesi Selatan. Tahun 2008 capaian produksi udang yakni 99,10 persen meningkat menjadi 100,19 persen pada tahun 2011. Tahun 2012, produksi udang mencapai 28.145,6 ton meningkat 4,92 persen dari tahun 2011 namun dilihat dari pencapaian target hanya mencapai 91,64 persen. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi udang pada tahun 2012 salah satunya adalah serangan virus penyakit yang melanda beberapa wilayah Sulawesi Selatan. Tabel 2.201 Produksi Komoditi Unggulan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No I. a. b. II. a. b. III e. Bidang/Urusan UDANG Jumlah produksi Udang Target daerah Produksi Udang BANDENG Jumlah produksi Bandneg Target daerah Produksi Bandeng RUMPUT LAUT Jumlah produksi Rumput Laut ton ton % ton ton % Ton 17.733 17.894,0 99,10 60.549 61.469,5 104,2 748.528 17.829 21.490,0 82,96 64.790 63.928,9 93,4 824.027 22.840 23.918,9 95,49 78.188 71.881,0 140,7 1.517.690 26.825 26.772,9 100,19 83.309 73.318,6 149,4 1.675.80 7 28.145,6 30.714,0 91,64 89.708 76.984,5 176,2 2.104.446 Satuan Tahun 2008 2009 2010 2011 2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-149

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No f.

Bidang/Urusan Target Daerah Produksi R.Laut

Satuan Ton %

Tahun 2008 649.730,4 104,2 2009 810.640,0 93,4 2010 880.577 140,7 2011 915.161 149,4 2012 951.876 176,2

Sumber: Dinas Kelautan & Perikanan Prov. Sul-Sel 2013

Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya dan strategi pengembangan dal am menangani permasalahan tersebut yaitu meningkatkan pengawasan dan pembinaan terhadap pembudidaya dalam menghadapi virus penyakit udang. c. Konsumsi Ikan Konsumsi ikan di Sulawesi Selatan selama periode 2008-2012 cenderung mengalami peningkatan setiap tahun sehingga pada tahun 2012 konsumsi ikan berhasil melampaui target sebesar 100,90 persen, dimana konsumsi ikan yang dicapai sebesar 41,80 kg sementara target daerah hanya sebesar 41,40 kg. Tabel 2.202 Konsumsi Ikan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2008 a. Jumlah konsumsi ikan Kg 35,30 b. Target daerah Kg 40,50 Konsumsi Ikan % 87,20 Sumber: Dinas Kelautan & Perikanan Prov. Sul-Sel 2013 No Bidang/Urusan Satuan Tahun 2009 35,60 40,70 87,50 2010 37,70 40,90 92,20 2011 40,30 41,20 97,80 2012 41,80 41,40 100,90

Capaian kinerja konsumsi ikan berhasil melampaui target karena Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah mencanangkan program gemar makan ikan sebagai upaya untuk meningkatkan tingkat konsumsi protein asal ikan. d. Cakupan Bina Kelompok Nelayan Cakupan bina kelompok nelayan yang mendapat bantuan di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan, yakni 0,37 persen tahun 2008 meningkat menjadi 0,56 persen tahun 2012 atau dari 168 kelompok menjadi 551 kelompok. Tabel 2.203 Cakupan Bina Kelompok Nelayan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 N o a. Bidang/Urusan Jumlah kelompok Nelayan yang Mendapatkan Bantuan Jumlah Kelompok Nelayan Cakupan Bina Kelompok Nelayan Satua n Jml 2008 168 2009 163 Tahun 2010 383 2011 342 2012 551

b. c.

Jml %

45.554 0,37

47.214 0,35

55.448 56.000 98.411 0,69 0,61 0,56

Sumber: Dinas Kelautan & Perikanan Prov. Sul-Sel 2013

Apabila dibandingkan dengan jumlah kelompok nelayan yang ada, tentu sangat sedikit yang mendapat bantuan. Dari hasil analisis terlihat bahwa terlihat bahwa
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-150

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

peningkatan jumlah kelompok nelayan selama periode 2008-2012 mengalami peningkatan sebesar 21,24 persen. Jika hal ini tidak mendapat perhatian, maka jumlah kelompok nelayan yan mendapatkan bantuan akan semakin mengecil setiap tahunnya. e. Produksi Perikanan Kelompok Nelayan Sesuai data terlihat bahwa kontirbusi produksi perikanan kelompok nelayan mengalami peningkatan, yakni dari 36,88 persen tahun 2008 meningkat menjadi 72 persen tahun 2012. Begitu pula bila dibandingkan dengan jumlah produksi ikan di Sulawesi Selatan selama periode 2008-2012, maka kontribusi produksi ikan dari kelompok nelayan mengalami peningkatan sebesar 21,97 persen, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan jumlah produksi ikan di daerah yang hanya mengalami peningkatan sebesar 3,27 persen. Tabel 2.204 Produksi Perikanan Kelompok Nelayan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No a. Bidang/Urusan Jumlah produksi ikan kontribusi hasil kelompok nelayan (pembudidaya) b. Jumlah Produksi Ikan di Daerah Produksi Perikanan Kelompok Nelayan % 36,88 34,52 69,07 61,07 56,21 Ton 1.019.430 1.093.367 1.142.376 2.036.523 2.495.536 Satuan Ton 403.234 394.348 1.279.409 1.243.704 1.402.741 Tahun 2008 2009 2010 2011 2012

Sumber: Dinas Kelautan & Perikanan Prov. Sul-Sel 2013

Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa jumlah produksi ikan di daerah terdiri atas kontribusi produksi kelompok nelayan dan pembudidaya ikan. Hal ini menunjukkan bahwa apabila bantuan pemerintah lebih ditingkatkan pada kelompok nelayan dan pembudidaya ikan akan berimplikasi terhadap kontribusinya terhadap total produksi ikan di daerah. 2.3.2.6. Perdagangan a. Kontribusi Sektor Perdagangan Terhadap PDRB Tabel 2.205 Kontribusi Sektor Perdagangan& Industri Terhadap PDRB Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
Tahun No 1. 2. 3. 4. Uraian Perdagangan, Hotel & Restoran Industri Pengolahan Pertambangan Komsumsi Rumah tangga 11.060,44 6.201,50 47.393,16 12,99 0,07 0,56 12.514,89 5.503,78 52.780,92 0,13 0,06 0,53 14.457,26 7.168,66 59.616,78 0,13 0,06 0,51 14.457,26 8.345,80 66.264,06 0,12 0,07 0,48 16.789,29 8.803,04 75.278,70 0,12 6,42 0,47 2008 milyar 13.913,80 % 16,34 2009 Milyar 16.690,29 % 0,17 2010 Milyar 20.434,95 % 0,17 2011 Milyar 20.434,95 % 0,17 2012 Milyar 24.136,35 % 0,18

Sumber : Dinas Perindustrian &Perdagangan Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-151

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Tabel Ekspor Bersih Perdagangan Tabel 2.206 Ekspor Bersih Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun 2008 2009 2010 2011 2012 EKSPOR (Juta US$) 1.892,92 1.344,32 2.016,91 1.773,57 1.446,19 871,56 IMPOR (Juta US$) 649,11 987,32 1.305,41 1.302,41 SURPLUS (Juta US$) 1021,4 695,21 1029,6 468,16 143,78 Sumber : Dinas Perindustrian & Perdagangan Prov. Sul-Sel 2013 Kegiatan 2.4. Aspek Daya Saing Daerah Provinsi Sulawesi Selatan merupakan daerah yang strategis karena merupakan pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang memiliki keunggulan kompetitif dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Disamping itu, Sulawesi Selatan memiliki potensi yang besar, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang sangat berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi regional dan bahkan nasional. 2.4.1 Kemampuan Ekonomi Daerah Kondisi perekonomian daerah Sulawesi Selatan tumbuh cukup baik selama kurun waktu 2008-2012 dengan rata-rata pertumbuhan 7,60 persen per tahun. Perkembangan PDRB Sulawesi Selatan berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) mencapai Rp 85,14 triliun pada tahun 2008 meningkat menjadi Rp 159,43 trilliun pada tahun 2012. PDRB per kapita pada tahun 2008 mencapai Rp 10,83 juta mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yaitu Rp 19,19 juta pada tahun 2012. Dari sisi penggunaan perekonomian Sulawesi Selatan selama kurun waktu 20082012 masih didominasi oleh komponen konsumsi rumah tangga mencapai 55,66 persen tahun 2008 mengalami penurunan kontribusi hingga mencapai 47,22 persen tahun 2012 dan konsumsi pemerintah pada kurun waktu yang sama terus mengalami peningkatan kontribusi, yakni dari sebesar 17,29 persen menjadi 31,99 persen. Sementara untuk komponen lainnya yang memiliki peran yang cukup besar adalah komponen ekspor dan impor. Komponen ekspor pada tahun 2008 sebesar 37,76 persen menurun menjadi 19,73 persen tahun 2012, sementara impor sebesar 33,15 persen menjadi 19,73 persen. Sedangka proporsi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) pada kurun waktu yang sama mencapai 20,25 persen mencapai 27,61 persen dan Lembaga Swasta Nirlaba hanya sebesar 0,67 persen menjadi 0,79 persen. 2.4.1.1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian Dan Persandian a. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk pengeluaran makanan di Sulawesi Selatan pada tahun 2011 adalah sebesar 51,40 persen atau mengalami penurunan sebesar 6,31 poin jika dibandingkan dengan tahun 2010. Kalau diamati perbedaan pengeluaran pada kedua golongan pengeluaran tersebut (makanan dan non makanan) maka terlihat dengan jelas bahwa sebagian besar pendapatan masyarakat masih digunakan untuk keperluan konsumsi makanan tetapi untuk saat ini cenderung bergeser. Masih dominannya pengeluaran konsumsi makanan dibanding pengeluaran konsumsi non makanan merupakan gambaran kesejahteraan masyarakat yang masih perlu ditingkatkan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-152

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

akan tetapi tahun 2011 sudah terlihat ada perubahan pergeseran pola hidup masyarakat yang mengarah ke konsumsi non makanan yang menandakan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tabel 2.207 persentase Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Per Kapita Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No. 1 2 3 Uraian Total Pengeluaran RT Pangan Jumlah RT Jumlah Tahun 2008 1,134,554 1,783,932 63.60 2009 1,727,885 1,865,662 92.62 2010 1,726,021 1,848,068 93.40 2011 2,048,77 1,892,944 108.23 2012

Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

Pengeluaran rata-rata per kapita menurut golongan pengeluaran di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2008 hingga 2012 mengalami pergeseran. Jumlah rumah tangga dengan golongan pengeluaran di bawah 200 ribu rupiah cenderung mengalami penurunan sedangkan jumlah rumahtangga dengan golongan pengeluaran lebih besar dari 200 ribu rupiah cenderung mengalami peningkatan. Hal ini mengindikasikan terjadinya kenaikan pendapatan di tingkat rumah tangga. b. Pengeluaran Konsumsi Non Pangan Per Kapita Selama periode 2008-2011, persentase pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Sulawesi Selatan masih didominasi oleh kelompok bahan pangan yang persentasenya cenderung menurun sehingga berbanding terbalik dengan persentase kelompok bahan non pangan yang cenderung meningkat. Tabel 2.208 persentase Konsumsi RT non-Pangan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No. 1 2 3 Uraian Total Pengeluaran RT Non Pangan Total Pengeluaran Rasio (1/2) Tahun 2008 438,601 1,134,554 38,66 2009 746,327 1,727,885 63,19 2010 729,903 1,726,021 42,29 2011 995,636 2,048,777 48,60 2012

Sumber: BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

persentase pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Sulawesi Selatan untuk kelompok bahan pangan selama periode 2008-2011 cenderung menurun, yakni dari 61.34 persen menjadi 51.40 persen. Sementara persentase pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita untuk kelompok bahan non pangan cenderung meningkat dan hampir berimbang, yakni dari 38.66 persen menjadi 48.60 persen. Selama kurun waktu 2008-2011, data pengeluaran konsumsi makanan menunjukkan kecenderungan menurun sebaliknya untuk non makanan kecenderungannya meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola konsumsi dari makanan ke non makanan. Hal ini menunjukkan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Selatan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-153

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

c. Produktivitas Total Daerah Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta membawa tingkat kesejahteran masyarakat menjadi lebih sejahtera, tetapi pertumbuhan tersebut hanya dinikmati oleh sekelompok kecil masyarakat, sedangkan masyarakat lain tidak menikmati. Untuk itu kemampuan ekonomi dapat dilihat dari produktivitas pada masing-masing sektor lapangan usaha PDRB Sulawesi Selatan. Produktivitas total daerah dapat menggambarkan seberapa besar tingkat produktivitas tiap sektor dalam rangka mendorong perekonomian suatu daerah. Dari Sembilan sektor, yang berkontribusi terbesar terhadap PDRB Sulawesi Selatan adalah sektor pertanian, disusul oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor jasa, dan sektor industri pengolahan. Sektor yang kontribusinya paling kecil adalah sektor pertambangan dan penggalian. Tabel 2.209 Produktivitas Per Sektor Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
2 0 0 8 No. Kabupaten/Kota P D R B (Atas Dasar Harga Berlaku) Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Bersih Konstruksi Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Sewa, dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa 2 Jumlah Angkatan Kerja ( Rp Milyar ) 1 85.143,20 25.071,81 6.201,50 11.060,44 838,10 4.253,53 13.913,80 6.972,02 5.203,00 11.629,00 3.447.879 29,45 7,28 12,99 0,98 5,00 16,34 8,19 6,11 13,66 100 % 2 0 0 9 ( Rp Milyar ) 99.954,61 28.008,21 5.503,78 12.514,89 949,24 5.387,79 16.690,29 7.953,95 6.241,52 16.704,94 3.536.920 28,02 5,51 12,52 0,95 5,39 16,70 7,96 6,24 16,71 100 % 2 0 1 0 ( Rp Milyar ) 117.862,20 30.442,43 7.119,68 14.457,26 1.087,97 6.534,51 20.434,95 9.445,57 7.810,11 20.529,72 3.571.317 25,83 6,04 12,27 0,92 5,54 17,34 8,01 6,63 17,42 100 % 2 0 1 1 ( Rp Milyar ) 137.389,88 34.788,23 8.345,85 16.789,29 1.245,91 7.760,90 24.236,35 10.849,84 9.513,69 23.859,82 3.612.424 25,32 6,07 12,22 0,91 5,65 17,64 7,90 6,92 17,37 100 % 2 0 1 2 ( Rp Milyar ) 159.427,10 39.518,40 8.803,00 19.492,50 1.439,20 9.109,80 28.349,60 12.982,90 11.803,30 27.928,40 3.642.426 24,79 5,52 12,23 0,90 5,71 17,78 8,14 7,40 17,52 100 %

Sumber: BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

d. Nilai Tukar Petani Nilai Tukar Petani (NTP) diukur dari besarnya indeks yang diterima petani dengan jumlah indeks yang diterima petani. Berdasarkan tabel di bawah ini, terlihat bahwa Nilai Tukar Petanidi Provinsi Sulawesi Selatan mengalami peningkatan dari semula pada tahun 2008 sebesar 100,20 meningkat menjadi 108,11 pada tahun 2012.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-154

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.210 Nilai Tukar Petani Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun No. Uraian 2008 2009 2010 Indeks yang diterima petani 1 113,21 123,10 130,31 (It) 2 3 Indeks yang dibayar petani (Ib) Nilai Tukar Petani (NTP) 112,99 100,19 122,30 100,65 128,22 101,63

2011 142,43 132,99 107,09

2012 151,04 139,70 108,11

Sumber: BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

Dilihat dari indikator Nilai Tukar Petani (NTP), menunjukkan bahwa NTP meningkat nyata pada tahun 2012 dimana saat itu nilainya sebesar 108.11. Tingginya NTP tahun 2012 disebabkan oleh produksi komoditas pertanian khususnya padi sawah yang cukup tinggi, sementara harga sarana produksi pertanian terutama pupuk serta harga barang dan jasa yang dikonsumsi petani, saat itu relatif stabil. Kondisi ini menjadikan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dibutuhkan petani, sehingga petani dapat menikmati keuntungan dari usahatani serta mencapai perbaikan daya beli. Pada periode tahun 2008-2012, mengalami peningkatan dari 100.20 menjadi 108.11. Hal ini memperlihatkan bahwa NTP bertahan di atas angka 100, artinya petani masih menikmati keuntungan dari usahataninya, meskipun produksi agak mengalami gangguan karena cuaca dan iklim. 2.4.2. Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastruktur 2.4.2.1. Perhubungan a. Rasio Panjang Jalan Per Jumlah Kendaraan Rasio panjang jalan per jumlah kendaraan pada tahun 2008 sebesar 0,015 persen dan pada tahun 2012 menjadi 0,013 persen, ini menunjukkan bahwa penambahan panjang jalan tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada. Tabel 2.211 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
NO 1. 2. 3. Uraian Panjang Jalan Jumlah Kendaraan Rasio Tahun 2008 24.307,13 2009 24.307,13 2010 2011 2012 32.486,391 32.432 32.432

1.613.240 0.015

1.742.861 0.0139

1.874.851 0.017

2.186.263 0.014

2.446.819 0.0132

Sumber : Dinas Bina Marga Prov. Sul-Sel 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-155

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.212 Rasio Panjang Jalan per Jumlah Kendaraan Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2011 No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Kabupaten/kota 2 Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo Jumlah Panjang Jalan 3 795,700 1.512,611 609,371 1.520,390 943,885 2.700,090 1.436,676 1.479,881 831,133 905,481 2.867,842 939,793 1.565,425 1.509,164 863,983 1.158,879 1.453,999 1.570,627 2.777,185 2.538,993 1.628,827 391,909 484,546 32.486,391 Jumlah Kendaraan 4 10,446 70,171 21,292 26,752 58,373 177,793 33,091 35,084 70,877 27,773 126,311 45,809 97,803 57,673 121,715 25,041 65,796 42,472 49,031 59,807 1,067,351 85,668 70,690 2,446,819 Rasio 5 0,076 0,021 0,028 0,056 0,016 0,015 0,043 0,042 0,011 0,032 0,022 0,020 0,016 0,026 0,007 0,046 0,022 0,036 0,056 0,042 0,0015 0,0045 0,0068 0,0132

Sumber : Dinas Bina Marga Prov. Sul-Sel Tahun 2012

2.4.2.2. Penataan Ruang a. Ketaatan Terhadap RTRW Persentase realisasi RTRW terhadap rencana peruntukan RTRW pada tahun 2009, dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 0,52. Tabel 2.213 Ketaatan Terhadap RTRW Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2009-2012 Tahun No Uraian 2009 2010 2011 1. Realisasi RTRW 93 120 128 2. Rencana Peruntukan 266 266 266 RTRW 3. Rasio (1./2.) 0,35 0,45 0,48
Sumber : Bappeda Prov. Sul-SelTahun 2013

sebesar 0,35

2012 138 266 0,52

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-156

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

b. Wilayah Produktif

Persentase luas wilayah produktif terhadap luas seluruh wiayah budidaya sebesar 0,40 pada tahun 2009, dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 0,35.

Tabel 2.214 persentase Luas Wilayah Produktif Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 2009 1.241.313 2.551.072 0,40

No 1. 2. 3.

Uraian Luas Wilayah produktif Luas Seluruh Wil. Budidaya Rasio (1./2.)

Tahun 2010 2011 2012 1.241.313 1.816.757 1.816.757 2.551.072 2.551.072 2.551.072 0,49 0,35 0,35

Sumber : Bappeda Prov. Sul-SelTahun 2013

c. Luas Wilayah Industri Peraturan Daerah Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang RTRWP Sulsel menetapkan luasan kawasan budidaya seluas 2.551.072 hektar yang diutamakan untuk pengembangan kawasan yang mendukung komoditas unggulan Provinsi Sulawesi Selatan. Kebijakan pengembangan komoditas unggulan pada pengembangan wilayah Provinsi Sulawesi Selatan diarahkan pada pengembangan agroindustri komoditas unggulan. Luas wilayah industry di Sulawesi Selatan yang merupakan realisasi luas wilayah industry terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW sampai tahun 2012 baru mencapai 0,03 dengan membangun industry dan kawasan industry seluas 7,92 Km2. Tabel 2.215 persentase Luas Wilayah Industri Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 No 1. 2. 3. Uraian Luas Wilayah Industri Luas Seluruh Wil. Budidaya Rasio 2008 6.92 25.511 0.03 2009 6.92 25.511 0.03 Tahun 2010 6.92 25.511 0.03 2011 7.92 25.511 0.03 2012 7.92 25.511 0.03

Sumber : Bappeda Prov. Sul-SelTahun 2013

Tabel 2.216 persentase Luas Wilayah Industri Menurut Kab/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun2012
NO
(1)

Kabupaten/kota
(2)

Luas Wilayah Industri (Km2)


(3)

Luas Seluruh Wil. Budidaya (Km2)


(4)

Rasio
(5=3/4)

1 2 3 4 5 6

Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa

2.14 1.09 2.89 0.78 1.00 0.90

440.10 676.63 224.00 605.03 365.53 782.56

0.49 0.16 1.29 0.13 0.27 0.12

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-157

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

NO 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten/kota Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare-Pare Palopo

Luas Wilayah Industri (Km2) 2.89 3.33 1.89 5.00 6.51 0.00 0.00 1.40 1.17 0.00 35.78 0.00 0.00 29.86 0.00 2.44 1.73 1.09

Luas Seluruh Wil. Budidaya (Km2) 393.14 1,019.54 659.18 673.76 2,274.01 927.42 1,592.30 1,2545.68 1,051.34 1,026.46 1,822.92 1,128.23 4,305.62 3,625.92 378.89 122.63 52.86 117.76

Rasio 0.74 0.33 0.29 0.74 0.29 0.00 0.00 0.11 0.11 0.00 1.96 0.00 0.00 0.82 0.00 1.99 3.27 0.93

Sumber : Bappeda Prov. Sul-SelTahun 2013

d. Luas Wilayah Banjir Persentase Luas wilayah kebanjiran sebesar 20,20 Ha dari seluruh wilayah budidaya, dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 persentase wilayah banjir tidak mengalami perubahan. Tabel 2.217 Persentase Luas Wilayah Banjir Provinsi SulawesiSelatanTahun 2008-2012
NO 1. 2. 3. Uraian Luas Wilayah Kebanjiran Luas Seluruh Wil. Budidaya Rasio Tahun 2008 5,154 25,511 20.20 2009 5,154 25,511 20.20 2010 5,154 25,511 20.20 2011 5,154 25,511 20.20 2012 5,154 25,511 20.20

Sumber : Dinas Tata Ruang& Pemukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013 Tabel 2.218 Persentase Luas Wilayah Banjir Menurut Kabupaten/Kota Provinsi SulawesiSelatan Tahun 2012
NO
(1)

Kabupaten/kota Luas Wilayah Kebanjiran


(2) (3)

Luas Seluruh Wil. Budidaya


(4)

Rasio
(5=3/4)

1 2 3 4 5 6

Kepulauan Selayar Bulukumba Bantaeng Jeneponto Takalar Gowa

0.00 332.26 110.59 338.80 48.38 187.11

440.10 676.63 24.00 605.03 365.53 782.56

0.00 49.11 49.37 56.00 13.23 23.91

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-158

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

NO
(1)

Kabupaten/kota Luas Wilayah Kebanjiran


(2) (3)

Luas Seluruh Wil. Budidaya


(4)

Rasio
(5=3/4)

7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Sinjai Maros Pangkep Barru Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare-Pare Palopo

125.24 534.31 235.97 27.96 457.99 90.20 32.47 297.97 145.91 9.72 1,185.69 9.11 596.40 277.76 16.36 51.00 7.49 35.33

393.14 1,019.54 659.18 673.76 2,274.01 927.42 1,592.30 1,245.68 1,051.34 1,026.46 1,822.92 1,128.23 4,305.62 3,625.92 378.89 122.63 52.86 117.76

31.86 52.41 35.80 4.15 20.14 9.73 2.04 23.92 13.88 0.95 65.04 0.81 13.85 7.66 4.32 41.59 14.17 30.00

Sumber : Dinas Tata Ruang& Pemukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2013 Peraturan Daerah Sulawesi Selatan Nomor 9 Tahun 2009 tentang RTRWP Sulsel menetapkan luasan kawasan budidaya seluas 2.551.072 hektar yang diutamakan untuk pengembangan kawasan yang mendukung komoditas unggulan Provinsi Sulawesi Selatan. persentase luas wilayah kebanjiran terhadap luas wilayah budidaya di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 20,20, yang pada umumnya melanda wilayah yang memang merupakan kawasan rawan banjir sebagaimana ditetapkan pada RTRWP Sulsel dan merupakan kawasan sentra produksi pangan sehingga jika tidak mendapatkan penanganan yang baik dapat menurunkan produktifitas komoditas pertanian dan perikanan di Sulawesi Selatan. e. Luas Wilayah Perkotaan Persentae luas wilayah perkotaan dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2012 rata mengalami meningkat sebesar 15,96 persen dari luas seluruh wilayah budidaya. Tabel 2.219 persentase Luas Wilayah Perkotaan Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 Tahun No Uraian 2008 2009 2010 2011 2012 Luas Wilayah 1 4,072. 4,072 4,072 4,072 4,072 Perkotaan Luas Seluruh 2 25,511 25,511 25,511 25,511 25,511 Wilayah Budidaya 3 Rasio 15.96 15.96 15.06 15.96 15.96
Sumber : Bappeda Prov. Sul-Sel Tahun 2013
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-159

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.220 persentase Luas Wilayah PerkotaanMenurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan Tahun2012 Kabupaten / Luas Wilayah Luas Seluruh Wilayah No 2 Kota Perkotaan (Km ) Budidaya (Km2) Kepulauan 1 136.87 440.10 Selayar 2 Bulukumba 187.95 676.63 3 Bantaeng 28.85 224.00 4 Jeneponto 69.49 605.03 5 Takalar 51.24 365.53 6 Gowa 28.09 782.56 7 Sinjai 65.51 393.14 8 Maros 108.24 1,019.54 9 Pangkep 83.20 659.18 10 Barru 199.32 673.76 11 Bone 126.35 2,274.01 12 Soppeng 278.00 927.42 13 Wajo 42.67 1,592.30 14 Sidrap 65.90 1,245.68 15 Pinrang 96.26 1,051.34 16 Enrekang 51.24 1,026.46 17 Luwu 59.26 1.822.92 18 Tana Toraja 39.75 1,128.23 19 Luwu Utara 1,088.85 4,305.62 20 Luwu Timur 721.80 3,625.92 21 Toraja Utara 10.29 378.89 22 Makassar 175.77 122.63 23 Pare Pare 99.33 52.86 24 Palopo 258.17 117.76
Sumber : Bappeda Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rasio 31.10 27.78 12.88 11.49 14.02 3.59 16.66 10.62 11.62 29.58 2.68 5.29 9.16 4.99 9.16 4.99 3.25 3.52 25.29 19.91 2.72 143.33 187.91 219.23

2.4.2.3 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian Dan Persandian a. Tabel Jenis Dan Jumlah Bank Dan Cabang Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan/atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat. Berdasarkan jenisnya, bank di Sulawesi Selatan dibagi dalam 2 (dua) kelompok, yakni jenis Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang masing-masing terdiri Bank Konvensional dan Bank Syariah. Pengertian bank umum menurut Peraturan Bank Indonesia No. 9/7/PBI/2007 adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Jasa yang diberikan oleh bank umum bersifat umum, artinya dapat memberikan seluruh jasa perbankan yang ada. Bank umum sering disebut bank komersial (commercial bank).
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-160

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan BPR jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan kegiatan bank umum. Bank Umum Konvensional adalah Bank Konvensional yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank Perkreditan Rakyat adalah Bank Konvensional yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. Tabel 2.221 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012 No. 1 Uraian Bank Umum Konvensional Syariah Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Konvensional Syariah T o t a l 2008 155 147 8 35 21 14 190 Tahun 2009 2010 2011 168 176 207 158 164 188 10 12 19 37 23 14 205 39 25 14 215 39 25 14 246 2012 233 210 23 40 26 14 273

Sumber: Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah I Sulawesi, Maluku, danPapua, 2013

Kantor Cabang adalah kantor cabang Bank Syariah yang bertanggung jawab kepada kantor pusat Bank yang bersangkutan dengan alamat tempat usaha yang jelas sesuai dengan lokasi kantor cabang tersebut melakukan usahanya. Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah. Jenis Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga tersebar di kabupaten/kota, namun masih didominasi oleh Bank Umum Konvensional. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.222 Jenis dan Jumlah Bank dan Cabangnya Di Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2012 Bank Umum BPR Kabupaten / No Kota Konvensional Syariah Konvensional Syariah Kepulauan 1 2 0 1 0 Selayar 2 Bulukumba 8 1 1 0 3 Bantaeng 7 0 0 0 4 Jeneponto 6 0 0 0 5 Takalar 6 0 1 1 6 Gowa 13 4 3 3 7 Sinjai 6 0 0 0 8 Maros 8 1 0 1 9 Pangkep 8 1 0 0 10 Barru 7 0 0 0
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-161

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

No 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Kabupaten / Kota Bone Soppeng Wajo Sidrap Pinrang Enrekang Luwu Tana Toraja Luwu Utara Luwu Timur Toraja Utara Makassar Pare Pare Palopo Jumlah

Bank Umum Konvensional Syariah 10 2 7 0 10 3 8 0 8 0 6 0 9 0 5 0 7 0 6 0 5 0 35 6 12 3 11 2 210 23

BPR Konvensional Syariah 1 1 0 1 1 2 0 0 0 0 0 0 1 0 2 0 1 0 2 0 0 0 9 4 0 0 3 1 28 14

Sumber: Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah I Sulawesi, Maluku, danPapua, 2013

Jumlah bank dan cabangnya di kabupaten/kota mengalami peningkatan selama tahun 2012. Bank umum masih mendominasi jumlah bank di kabupaten/kota, yakni sebesar 233 buah bank yang terdiri dari 210 bank konvensional dan 23 bank syariah, sementara Bank Perkreditan Rakyat (BPR) hanya sebesar 40 buah bank yang terdiri dari 26 bank konvensional dan 14 bank syariah. Jumlah bank dan cabangnya terbanyak di Kota Makassar, yakni sebanyak 54 bank umum yang terdiri dari 35 bank konvensional dan 6 bank syariah serta 13 buah BPR yang terdiri dari 9 bank konvensional dan 4 bank syariah. Sementara terendah di Kabupaten Kepulauan Selayar yang hanya 3 buah bank yang terdiri dari 2 Bank Umum dan 1 Bank Perkreditan Rakyat. b. Tabel Jenis Kelas Dan Jumlah Penginapan/Hotel Jumlah penginapan/hotel selama ini terus tumbuh dan berkembang seiring perkembangan Sulawesi Selatan sebagai pintu gerbang Kawasan Timur Indonesia. Oleh karena itu, yang perlu mendapat perhatian bahwa bagaimana meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengunjung sehingga bisa membuat pencitraan yang lebih baik. Kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari jumlah hotel yang ada tetapi juga diukur dari jumlah ketersediaan kamar dan jumlah tempat tidur. Tabel 2.223 Jumlah Hotel, Kamar, dan Tempat Tidur Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2011 No . 1 2 3 Uraian Jumlah Hotel (Unit) Jumlah Kamar (Unit) Jumlah Tempat Tidur (Buah) 2008 487 9.835 18.222 Tahun 2009 509 10.114 16.295 2010 552 8.176 16.087 2011 412 6.562 11.013

Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-162

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.4.2.4. Lingkungan Hidup a. persentase Rumah Tangga (RT) Yang Menggunakan Air Bersih Ketersediaan air bersih sangat esensial untuk meningkatkan derajat kesehatan penduduk untuk bisa hidup sehat. Hidup sehat sangat terkait dengan pola hidup yang bersih, baik bersih lingkungan maupun bersih sumber air. Oleh karena itu, ketersediaan sumber air bersih bagi rumah tangga saat ini belum sebanding dengan jumlah rumah tangga yang ada. Berdasarkan tabel berikut ini, sumber-sumber air air bersih berasal dari leding, sumur, mata air, sungai/danau/waduk, pompa air, air hujan, dan air kemasan. Tabel 2.224 persentase Rumah Tangga (RT) yang Menggunakan Air Bersih Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2011 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Sumber Air Bersih Leding (Perpipaan) Sumur Terlindungi Sumur Tidak Terlindungi Mata Air Terlindungi Mata Air Tidak Terlindungi Sungai /Danau/Waduk Pompa air Air Hujan Air Kemasan Lainnya Total Jumlah Rumah Tangga yang menggunakan air bersih Jumlah Rumah Tangga 2008 371,160 442,192 220,158 131,190 128,131 33,391 307,835 10,997 126,122 5,261
1.468.602 1.776.419

2009

Tahun 2010 329,032 436,422 153,474 204,126 68,426 25,878 289,025 24,659 323,259 1,901
1.569.811 1.803.764

2011 274,911 409,721 159,018 176,798 100,337 27,421 326,793 22,480 394,872 593
1.566.153 1.892.944 82,74

399,228 452,209 193,040 180,886 114,798 28,969 318,625 14,381 158,991 4,535
1.544.403 1.865.662

persentase Rumah Tangga yang 82,67 82,78 87,03 menggunakan air bersih Sumber : Dinas Tata Ruang& Pemukiman Prov. Sul-Sel Tahun 2012

2.4.2.5. Komunikasi Dan Informatika a. Rasio Ketersediaan Daya Listrik Selama periode 2008-2012, ketersediaan daya listrik di Sulawesi Selatan masih mencukupi. Hal ini terlihat kebutuhan dan ketersediaan produksi cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. Terlihat bahwa kebutuhan daya listrik tahun 2008 sebesar 2.873 GWH meningkat menjadi 3.758 GWH tahun 2012. Di sisi lain ketersedian produksi listrik juga mengalami peningkatan sebesar 3.304 GWH tahun 2008 menjadi 4.307 GWH tahun 2012. Kebutuhan listrik masih didominasi di tingkat rumah tangga yang setiap tahunnya juga mengalami peningkatan dari 1.441 GWH tahun 2008 menjadi 1.803 GWH. Apabila dibandingkan antara kebutuhan dan ketersediaan listrik, terlihat bahwa ketersediaan listrik masih surplus sebesar 549 GWH tahun 2012. Tentu hal ini peluang untuk berinvestasi di bidang industri masih bisa kita kembangkan di Sulawesi Selatan.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 II-163

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.225 Rasio Ketersediaan Daya Listrik Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
Bidang/Urusan 1. Kebutuhan - Rumah tangga - Komersial - Publik - Industri 2. Susut & losses (T&D) 3. Susut pemakaian sendiri 4. Total susut & losses 5. Faktor beban 6. Produksi 7. Beban puncak 8. Kapasitas terpasang (Existing) 9. Kapasitas dibutuhkan 10. Total Kapasitas Sistem 11. Daya Tambahan Satuan GWH GWH GWH GWH GWH % % % % GWH MW MW MW MW MW Tahun 2008 2.873 1.441 438 285 709 13,0 2,0 15,0 55 3.304 686 479 960 1.439 190 2009 3.071 1.532 438 309 746 12,9 2,0 14,9 55 3.528 732 470 1.205 1.675 556 2010 3.282 1.622 533 336 791 12,8 2,0 14,8 55 3.768 782 460 1.095 1.555 635 2011 3.512 1.712 588 368 843 12,7 2,0 14,7 55 4.028 836 451 1.170 1.621 719 2012 3.758 1.803 650 403 903 12,6 2,0 14,6 55 4.307 894 442 1.251 1.693 809

Sumber : Rencana Umum Kelistrikan Nasional Tahun 2008-2027

b. persentase Rumah Tangga (RT) Yang Menggunakan Listrik Pengunaan listrik rumah tangga di Sulawesi Selatan belum sepenuhnya terpenuhi sesuai jumlah rumah tangga yang ada. Untuk memenuhi kebutuhan listrik di tingkat rumah tangga, Pemerintah Daerah masih berupaya mencari potensi sumber listrik, baik pembangkit listrik tenaga air maupun pembangkit listrik lainnya. Tabel 2.226 Rumah Tangga Pengguna Listrik Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2011 No a. b. Bidang/Urusan Jumlah Rumah Tangga Pengguna Listrik Jumlah Seluruh Rumah Tangga Rumah Tangga Pengguna Listrik
Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

Satuan jml jml %

Tahun 2008 2009 2010 1.572.637 1.683.033 1.716.768 1.776.419 1.865.662 1.856.204 88,53 90,21 92,49

2011 1.758.212 1.892.944 92,88

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-164

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

2.4.3. Fokus Iklim Berinvestasi 2.4.3.1. Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Adminstrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian Dan Persandian a. Tabel Angka Kriminalitas Tindak kriminalitas akan memunculkan rasa tidak aman bagi masyarakat. Berbagai bentuk kejahatan seperti pencurian, penipuan, dan perampokan, maupun kekerasan dan kejahatan susila, masih sering terjadi. Dengan masih adanya jumlah kejahatan yang tinggi ini, keleluasaan masyarakat untuk melakukan kegiatannya masingmasing menjadi terganggu. Oleh sebab itu upaya untuk menciptakan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas merupakan salah satu prioritas untuk mewujudkan stabilitas penyelenggaraan pemerintahan terutama menjaga iklim berinvestasi di daerah. Pemerintah daerah dapat terselenggara dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat, menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat, serta menanggulangi kriminalitas sehingga secara kuantitas dan kualitas tindak kriminalitas dapat diminimalisir. Tabel 2.227 Angka Kriminalitas Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
TAHUN NO 1 2 3 4 5 6 7 Jenis Kriminal Jml Kasus Narkoba Jml Kasus Pembunuhan Jml Kasus Seksual Jml Kasus Penganiayaan Jml Kasus Pencurian jml Kasus Penipuan Jml Kasus Pemalsuan Uang 8 Total Jml Tindak Kriminal Selama 1 (Satu) Tahun 9 10 Jml Penduduk Angka Kriminalitas (8)/(9) 7,874,439 192 7,908,519 225 8,034,776 240 8,115,638 272 8,733,745 250 15,137 5,094 17,832 5,944 19,276 6,543 22,051 6,955 21,852 7,335 20 16 16 18 8 7 23 20 14 10 1,154 567 1,224 678 1,437 789 1,850 609 1,649 883 435 1,726 5,310 1,782 6,275 1,964 6,832 1,902 6,830 2,000 3,142 1,973 3,674 2,564 3,896 2,879 4,613 3,307 4,338 3,131 367 284 469 344 438 333 523 435 529 433 104 94 110 95 101 92 114 105 94 80 364 2008 Lapor Selesai 434 387 2009 Lapor Selesai 463 460 2010 Lapor Selesai 479 634 2011 Lapor Selesai 577 734 2012 Lapor Selesai 798

Sumber : Badan Kesatuan Bangsa & Politik Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-165

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Jumlah tindak kriminalitas di Sulawesi Selatan selama periode 2008-2012 mengalami peningkatan, yakni sebesar 15.137 kasus tahun 2008 menjadi 21.852 kasus tahun 2012 atau meningkat sebesar 9,61 persen. Dari seratus ribu penduduk terjadi 194 kasus tahun 2008 menjadi 263 kasus tahun 2012. Angka kriminalitas di Sulawesi Selatan selama periode 2008-2012 juga mengalami peningkatan kecuali kasus pembunuhan dan kasus pemalsuan uang yang mengalami penurunan. Angka kriminalitas masih didominasi kasus pencurian, yakni sebesar 4.350 kasus tahun 2008 meningkat menjadi 6.830 kasus tahun 2012 atau meningkat sebesar 11,94 persen. b. Jumlah Demo Selama periode 2008-2012, jumlah demonstrasi di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan setiap tahunnya, yakni dari 782 demosntrasi tahun 2008 meningkat menjadi 1.315 demonstrasi tahun 2012 atau meningkat sebesar 13,88 persen. Untuk tahun 2012, demostrasi tertinggi terjadi pada bidang politik, yakni sebanyak 98 kali, disusul demonstrasi di bidang ekonomi sebanyak 79 kali, dan demonstrasi terkecil terjadi pada kasus pemogokan kerja sebanyak 6 kali. Tabel 2.228 Jumlah Demo Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2008-2012
NO 1 2 3 4 JENIS KRIMINAL Bidang Politik Bidang Ekonomi Kasus Pemogokan Kerja Jumlah Demonstrasi/Unjuk Rasa 2008 26 59 3 782 2009 264 75 25 902 TAHUN 2010 2011 187 47 128 106 11 2 1.377 1.183 2012 98 79 6 1.315

Sumber : Badan Kesatuan Bangsa & Politik Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2.4.4. Fokus Sumber Daya Manusia 2.4.4.1. Ketengakerjaan a. Tabel Rasio Ketergantungan Rasio ketergantungan (dependency ratio) dapat digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang. Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Usia ketergantungan penduduk Sulawesi Selatan dibagi dalam 2 (dua) kelompok, yakni kelompok penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) dan kelompok penduduk usia tidak produktif (usia < 15 Tahun dan > 64 Tahun). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-166

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.229 Rasio Ketergantungan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 Tahun No. Uraian 2008 2009 2010 2011 1 Jumlah Penduduk Usia < 15 Tahun 2.449.556 2.423.540 2.482.509 2.507.465 2 Jumlah Penduduk Usia > 64 Tahun 448.705 476.104 442.073 445.856 Penduduk Usia Tidak 3 Jumlah 2.898.261 2.899.644 2.924.582 2.953.321 Produktif (1) dan (2) 4 Jumlah Penduduk Usia 15-64 Tahun 4.873.410 5.008.875 5.110.194 5.162.317 5 Rasio Ketergantungan (3)/(4) 59,47 57,89 57,23 57,21
Sumber : BPS Sulawesi Selatan Tahun 2013

2012 2.487.874 464.894 2.952.768 5.354.080 55,15

Rasio ketergantungan pada periode 2008-2012 mengalami penurunan, yakni dari 59.47 persen pada tahun 2008 menjadi 55.15 persen pada tahun 2012 atau menurun sebesar 1.90 persen. artinya setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif) mempunyai tanggungan sebanyak 59 orang pada tahun 2008 menurun menjadi 55 orang tahun 2012 yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi. Dari indikator ini terlihat bahwa pada tahun 2012 penduduk usia kerja di Sulawesi Selatan masih dibebani tanggung jawab akan penduduk muda yang proporsinya lebih banyak dibandingkan tanggung jawab terhadap penduduk tua. 2.5. Keterkaitan Dokumen Perencanaan 2.5.1. keterkaitan dengan RPJPN, RPJMN, dan RPJMD Keterkaitan Dokumen Perencanaan

Tabel 2.230

RPJPN 20052025 VISI

RPJMN 2009 2014 VISI

RPJMD SULSEL 2013 2018 VISI

Sulawesi Selatan sebagai TERWUJUDNYA Pilar Utama Pembangunan INDONESIA YANG INDONESIA YANG Nasional dan Simpul MANDIRI, MAJU, ADIL DAN SEJAHTERA, DEMOKRATIS, Jejaring Akselerasi MAKMUR DAN BERKEADILAN Kesejahteraan pada Tahun 2018

MISI
1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila 2. Mewujudkan bangsa yang

MISI Misi 1: Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera


Misi 2: Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi

MISI
1. Mendorong Semakin Berkembangnya Masyarakat yang Religius Dan Kerukunan intra dan antar Ummat Beragama. 2. Meningkatkan Kualitas

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-167

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

RPJPN 20052025
berdaya-saing 3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum 4. Mewujudkan Indonesia aman, damai, dan bersatu 5. Mewujudkan pemerataan pembangunan dan berkeadilan 6. Mewujudkan Indonesia asri dan lestari 7. Mewujudkan Indonesia menjadi negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional 8. Mewujudkan Indonesia berperan penting dalam pergaulan dunia internasional

RPJMN 2009 2014 Misi 3: Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang

RPJMD SULSEL 2013 2018


Kemakmuran Ekonomi Kesejahteraan Sosial dan Kelestariaan Lingkungan. Meningkatkan Akses dan kualitas pelayanan Pendidikan, Kesehatan dan infrastruktur Wilayah. Meningkatakan daya Saing daerah dan sinergitas regional,nasional dan,global. Meningkatkan Kualitas Demokrasi dan Kepastian Hukum. Meningkatkan Kualitas Ketertiban,Keamanan Dan Kesatuan Bangsa. Meningkatkan Perwujudan Kepemerintahan yang baik

3.

4.

5.

6.

7.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-168

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

PRIORITAS peningkatan kemampuan sdm dan teknologi kondisi aman dan damai yang makin mantap Kesejahteraan rakyat terus membaik Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan Daya saing semakin kuat dan kompetitif Ketersediaan infrastruktur jalan, jembatan, irigasi, energy terwujudnya kota tanpa permukiman kumuh.

PRIORITAS/AGENDA
Agenda I : Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Agenda II : Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan Agenda III : Penegakan Pilar Demokrasi Agenda IV : Penegakkan Hukum Dan Pemberantasan Korupsi

TUJUAN
1. Meningkatkan Kualitas Kehidupan Religius masyarakat dan kerukunan intra dan antar umat beragama. 2. Meningkatkan Kualitas Kemakmuran Ekonomi, meningkatkan kualitas kesejahteraan sosial,Meningkatkan Kelestarian Lingkungan Dan Sumber Daya Alam. 3. Meningkatkan Akses Dan Kualitas Layanan Pendidikan, Meningkatkan Akses Dan Layanan Kesehatan, Meningkatkan Akses dan Kualitas layanan Infrastruktur 4. Meningkatkan daya Saing daerah, Meningkatkan Kerja sama antar kabupaten/kota serta sinergitas nasional dan global. 5. Meningkatkan Kualitas Penyelenggaraan demokrasi dan penegakan hokum, Meningkatkan kesetaraan gender dan perlindungan anak. 6. Memelihara Ketertiban dan ketentraman dalam masyarakat, memelihara harmoni sosial dan kesatuan bangsa. 7. Mewujudkan Pemerintahan yang Baik.

Penjelasan : Berdasarkan kajian hubungan anatara RPJPN (2005 2025), RPJMN (2009 2014), dan RPJMD (2013 2018) Provinsi Sulawesi Selatan, digambarkan sebagai berikut: 1. Visi Sulawesi Selatan sesuai/sejalan/selaras dengan visi RPJPN (2005 2025) dan Visi RPJMN (2009 2014) 2. Misi Sulawesi Selatan sesuai/sejalan/selaras dengan Misi RPJPN (2005 2025) dan Misi RPJMN (2009 2014) 3. Beberapa capaian indikator sulawesi selatan yang mendukung pencapaian target sasaran RPJMN (2009 2014) yang masih perlu ditingkatkan antaralain seperti table berikut:
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-169

Bab II Gambaran Umum dan Kondisi Daerah

Tabel 2.231 Beberapa Indikator Makro Sosial Ekonomi Yang Mendukung Sasaran RPJMN 2009-2014 NO URAIAN SULSEL 2012 88,73 0,41 5,87 9,82 19,47 8,37 70,45 7,95 643.590 72,70 NASIONAL 2012 92,91 0,41 6,14 11,66 33,34 6,5 71,10 7,94 TARGET RPJMD 2013-2018 95,00 0,39 5,30 5,0-6,5 30,2 8,2-8,4 73,10 8,12 662,78 76,50-77,50

1. Angka melek huruf (%) 2. Ketimpangan pendapatan (gini ratio) 3. Tingkat pengangguran terbuka (%) 4. Penduduk miskin (%) 5. PDRB per kapita (Juta) 6. Pertumbuhan ekonomi (%) 7. Angka harapan hidup (Thn) 8. Rata-rata lama sekolah (Thn) 9. Daya beli (Rp) 10. IPM

72,77

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

II-170

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN


Pelaksanaan otonomi daerah yang secara efektif dimulai sejak Tahun 2001 berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, membawa konsekuensi semakin besarnya tugas, tanggung jawab dan kewenangan Pemerintah Daerah dalam melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan daerah yang terdiri atas pelayanan publik, pengaturan dan pemberdayaan masyarakat. Sejalan dengan pembebanan tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah yang semakin besar, maka dibutuhkan anggaran yang lebih besar pula untuk dapat memenuhi kebutuhan terutama untuk membiayai urusan yang menjadi kewajiban pemerintah.Oleh karena itu, desentralisasi kewenangan tersebut, diikuti dengan desentralisasi fiskal yang diatur dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah yang kemudian juga diganti dengan UndangUndang Nomor 33 tahun 2004, di mana Pemerintah Pusat memberikan bagian dana bagi hasil yang lebih besar kepada Pemerintah daerah dari sumber-sumber penerimaan yang dikelola oleh Pemerintah Pusat. Selain itu, Pemerintah juga melakukan penguatan fiskal daerah dengan menetapkan Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000 tentang Pajak daerah dan retribusi Daerah yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009. Dengan regulasi tersebut, secara perlahan-lahan penerimaan pendapatan daerah mengalami peningkatan yang cukup signifikan, sekalipun pada awalnya sempat mengalami penurunan akibat dipangkasnya beberapa jenis pungutan pajak dan retribusi daerah yang dianggap kontra produktif dengan kegiatan perekonomian masyarakat. Hasil pengelolaan pendapatan daerah yang terus membaik, harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, keuangan Negara/Daerah. Karena itu, upaya-upaya peningkatan pendapatan daerah tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi, kepentingan umum dan tidak boleh menghambat arus lalu lintas barang/jasa/penduduk dari satu Daerah ke Daerah yang lainnya. Selanjutnya berkaitan dengan aturan pengelolaan keuangan daerah, ditetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, yang menegaskan bahwa Keuangan Daerah harus dikelola secara tertib, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggungjawab sesuai dengan azas kepatutan dan rasa keadilan. Peraturan Pemerintah tersebut dijabarkan lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 tahun 2011, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bansos yang Bersumber dari APBD sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 39 tahun 2012, Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 3 tahun 2011 Tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan.dan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 tahun 2012 tentang Partisipasi Pihak Ketiga
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-1

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Dalam Pembangunan Daerah di Provinsi Sulawesi Selatan. Adapun penggunaan Penganggaran Belanja Tidak Terduga sesuai Peraturan Gubernur no 151 tahun 2009 tentang Tatacara Pemberian dan Pertanggungjawaban Belanja Tidak Terduga Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 77 Tahun 2011 tentang Tatacara Penganggaran, Pelaksanaan dan Penatausahaan, Pertanggung jawaban dan pelaporan serta Monitoring dan Evaluasi Hibah dan Bansos yang Bersumber dari APBD provinsi Sulawesi Selatan, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 55 tahun 2012. Aturan pengelolaan keuangan daerah yang telah ditetapkan tersebut, ditambah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, merupakan acuan didalam penetapan APBD yang merupakan instrument yang menjamin terciptanya disiplin dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan pendapatan maupun belanja daerah. Struktur APBD Sulawesi Selatan terdiri dari : (1) penerimaan daerah yang didalamnya terdapat pendapatan daerah dan penerimaan pembiayaan daerah; dan (2) Pengeluaran Daerah yang didalamnya terdapat Belanja Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. Sejalan dengan alokasi dana transfer Pemerintah yang sebagian besar telah diberikan diskresi sepenuhnya kepada pemerintah daerah. Seluruh penerimaan dan pengeluaran daerah yang menjadi hak dan kewajiban harus diadministrasikan dalam APBD. Pengelolaan keuangan daerah selain dilakukan secara efektif dan efisien yang diharapkan dapat mendukung tata kelola pemerintah daerah yang baik bersandarkan pada prinsip-prinsip transparansi, responsivitas, efisien, efektif, akuntabilitas, partisipatif, terukur, berkeadilan, responsif gender dan berwawasan lingkungan. 3.1 Kinerja Keuangan Masa Lalu 3.1.1. Kinerja Pelaksanaan APBD Sepanjang Tahun Anggaran 2008-2012, pendapatan daerah Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan, namun dari sisi kuantitas, pendapatan daerah tidak pernah bertumbuh negatif dibandingkan tahun sebelumnya. a. Pendapatan Daerah Secara garis besar, Akun Pendapatan Daerah terdiri atas 3 kelompok, yaitu Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, PAD terdiri atas: (1) Penerimaan Pajak Daerah; (2) Penerimaan Retribusi Daerah; (3) Penerimaan Hasil Pengelolaan Kekayaan Darah yang Dipisahkan; dan (4) Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah. Adapun Penerimaan Dana Perimbangan bersumber dari: (1) Bagi Hasil Pajak; (2) Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA); (3) Dana Alokasi Umum; dan (4) Dana Alokasi Khusus. Sedangkan penerimaan Lain-Lain Pendapatan yang Sah bersumber dari: (1) Bantuan/Hibah; (2) Dana Penyesuaian; dan (3) Dana Darurat.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-2

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Sepanjang Tahun Anggaran 2008-2012, pendapatan daerah Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan, yaitu dari Rp2,133 Trilyun lebih pada Tahun 2008, menjadi Rp 4,433 Trilyun lebih pada Tahun 2012. Hal ini berarti dalam lima tahun terakhir, pendapatan daerah Provinsi Sulawesi Selatan meningkat sebesar Rp2,300 Trilyun lebih, atau 107,81%. Di antara ketiga kelompok pendapatan, terlihat bahwa Lain-Lain Penerimaan yang Sah mengalami peningkatan yang paling tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah pusat yang mengalihkan penyaluran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) melalui Rekening Pemerintah Provinsi sejak Tahun 2012.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-3

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.1 Pertumbuhan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2008-2012 Provinsi Sulawesi Selatan
No. I. A. B C PAD PAJAK DAERAH RETRIBUSI DAERAH HASIL PERUSDA DAN KEKAYAAN DAERAH YANG DIPISAHKAN D II. A. 1 2 B C III. LAIN-2 PAD YG SAH DANA PERIMBANGAN BAGI HASIL Bagi Hasil Pajak Bagian Hasil SDA DANA ALOKASI UMUM DANA ALOKASI KHUSUS LAIN2 PENDAPATAN YG SAH 42.720.448.716,08 894.934.381.775,00 203.086.439.175,00 177.167.583.611,00 25.918.855.564,00 656.710.942.600,00 35.137.000.000,00 37.879.709.419,86 914.502.833.938,07 206.231.439.938,07 197.154.690.457,07 9.076.749.481,00 663.422.394.000,00 44.849.000.000,00 18.481.139.000,00 50.673.190.257,52 959.942.494.138,00 224.389.792.670,00 217.385.913.240,00 7.003.879.430,00 706.276.399.000,00 29.276.302.468,00 58.543.731.728,00 56.448.288.661,34 1.106.989.189.303,00 248.345.220.303,00 230.606.604.752,00 17.738.615.551,00 816.757.969.000,00 41.886.000.000,00 44.061.750.000,00 68.966.124.142,68 1.349.192.580.666,00 309.478.526.666,00 299.680.576.480,00 9.797.950.186,00 996.939.584.000,00 42.774.470.000,00 885.994.042.700,00 61,44 50,76 52,39 69,15 (62,20) 51,81 21,74 4.809,60 12,29 10,15 10,48 13,83 (12,44) 10,36 4,35 961,92 JENIS PENDAPATAN PERTUMBUHAN REALISASI PENDAPATAN DAERAH TA. 2008 1.238.690.401.106,42 1.068.165.045.129,00 72.972.983.049,00 54.831.924.212,34 TA. 2009 1.242.766.168.254,16 1.044.931.821.166,00 100.604.092.641,06 59.350.545.027,24 TA. 2010 1.545.589.709.031,25 1.334.804.020.758,00 108.560.876.582,73 51.551.621.433,00 TA. 2011 1.959.515.902.109,82 1.729.075.998.236,50 111.624.999.823,98 62.366.615.388,00 TA. 2012 2.198.776.396.284,65 1.949.194.027.676,00 113.058.779.473,62 67.557.464.992,35 %Pertum buhan 77,51 82,48 54,93 23,21 RataRata 15,50 16,50 10,99 4,64

TOTAL PENDAPATAN

2.133.624.782.881,42

2.175.750.141.192,23

2.564.075.934.897,25

3.110.566.841.412,82

4.433.963.019.650,65

107,81

21,56

Sumber: Dinas Pendapatan Daerah Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-4

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Pendapatan Asli Daerah Dalam lima tahun anggaran terakhir, penerimaan PAD meningkat sebesar Rp960 Milyar lebih, atau 77,51%, yaitu dari Rp1,238 Trilyun lebih pada Tahun 2008, menjadi Rp2,198 Trilyun lebih pada Tahun 2012dengan rata-rata peningkatan sebesar 15,50% per Tahun. Peningkatan terbesar disumbang oleh Penerimaan pajak daerah yang bertumbuh sebesar Rp881 Milyar lebih, atau 82,48%, yaitu dari Rp1,068 Trilyun lebih pada Tahun 2008 menjadi Rp1,949 Trilyun lebih pada Tahun 2012.Hal ini merupakan dampak atas pemberlakuan peraturan daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2010 tentang pajak daerah yang berlaku pada tahun 2011 sebagai amanah Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam struktur APBD Provinsi Sulawesi Selatan, PAD mampu memberi konstribusi rata-rata sebesar 57,61 % per Tahun., bahkan mencapai 63 % pada tahun 2011. Konstribusi PAD mengalami penurunan pada tahun 2012 karena meningkatnya penerimaan yang bersumber dari pendapatan lain-lain yang sah sejak disalurkannya dana Bantuan Operasional Sekolah BOS melalui rekening Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Dana Perimbangan: Untuk Dana Perimbangan, terjadi peningkatan sebesar Rp454 Milyar lebih atau 50,76%, yaitu dari Rp894 Milyar lebih pada Tahun 2008 menjadi Rp1,349 Trilyun lebih pada Tahun 2012. Berdasarkan data pertumbuhan realisasi pendapatan daerah TA.2008-2012 pada Tabel 3.1, dana perimbangan mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 10,15% per tahun. Peningkatan yang tertinggi terjadi pada tahun 2012 yang disebabkan karena pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menerima alokasi kurang bayar dari Dana Bagi Hasil PPH dan PBB tahun 2010 yang dialokasikan dalam APBNP 2012. Selain itu, penerimaan DAU yang selama ini meningkat rata-rata sebesar 8% per tahun, khusus pada tahun 2012 meningkat sebesar 22% dibandingkan tahun sebelumnya. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah : Berdasarkan data pertumbuhan realisasi pendapatan daerah TA. 2008-2012 pada Tabel 3.1. Penerimaan yang bersumber dari Pendapatan Lain-Lain yang Sah sangat fluktuatif karena penerimaan ini bukan bersumber dari potensi yang dimiliki oleh Daerah, melainkan sesuai dengan arah kebijakan Pemerintah. b. Belanja Daerah Berdasarkan kinerja pendapatan daerah yang telah dicapai tahun 2008-2012 menunjukkan angka peningkatan yang cukup signifikan terbukti dari tahun 2008realisasi pendapatan sebesar Rp.2.133.624.782.881,42 dan pada tahun 2012 realisasi pendapatan meningkat menjadi Rp.4.433.963.019.650,65 atau mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 20,92%. Pertumbuhan pendapatan yang telah dicapai menjadi dasar di dalam pengelolaan belanja daerah, baik belanja langsung (BL) maupun belanja tidak langsung (BTL). Besarnya realisasi belanjatersebut diprioritaskan untuk meningkatkan pelayanan masyarakatmelalui program-program yang berpedoman pada prinsip-prinsip penganggaran.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-5

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Belanja Daerah Tahun Anggaran 2008-2012, disusun dengan pendekatan anggaran kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan, dengan memperhatikan kinerja satuan kerja perangkat daerah dalam pelaksanaan tugas, pokok dan fungsinya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas dan integrasi perencanan terhadap penganggaran daerah, serta menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran ke dalam program dan kegiatan sesuiai agenda strategis yang akan tertuang dalam RPJMD 2013-2018. Analisis Belanja Daerah adalah instrumen penting untuk mengetahui kecenderungan belanja daerah pada periode tahun 2008-2012 dan kearah mana yang diinginkan selama lima tahun ke depan (2013-2018) sesuai pencapaian visi, misi pemerintah daerah. Berdasarkan Tabel 3.2. Realisasi Belanja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012 yang menunjukkan klasifikasi Belanja Daerah nampak mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari Rp.2,13 Trilyun lebih pada tahun 2008 menjadi sebesar Rp.4,6 Trilyun lebih pada Tahun 2012. Tingkat pertumbuhan Belanja Daerah yang dicapai rata-rata 22,32 persen per tahun, lebih tinggi dibandingkan tingkat pertumbuhan pendapatan daerah.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-6

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.2. Realisasi Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
NO . A. 1 2 3 4 5 6 7 8 B. 1 2 3 URAIAN BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Hibah Belanja Bantuan Sosial Belanja Bagi Hasil Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tidak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal TOTAL Tahun Anggaran 2008 Rp. 1.322.638.511.973,96 61,96 413.690.299.745,00 318.270.255,00 151.586.442.800,00 423.728.417.465,00 329.563.873.708,96 3.751.208.000,00 811.882.058.374,70 38,04 101.518.645.052,00 435.182.478.107,70 275.180.935.215,00 2.134.520.570.348,66 Tahun Anggaran 2009 Rp. 1.236.898.964.802,02 58,28 481.693.703.701,00 229.376.483,02 73.519.402.054,00 362.740.343.517,00 318.120.459.047,00 595.680.000,00 885.292.826.573,20 41,72 121.502.604.306,20 467.927.553.833,00 295.862.668.434,00 2.122.191.791.375,22 Tahun Anggaran 2010 Rp. 1.500.511.909.700,10 60,35 500.173.239.646,00 146.029.132,12 79.196.000.580,00 25.016.900.000,00 503.954.302.768,98 389.647.140.573,00 2.378.297.000,00 985.647.855.797,44 39,65 122.037.635.222,44 559.961.996.677,00 303.648.223.898,00 2.486.159.765.497,54 Tahun Anggaran 2011 Rp. 1.820.969.739.157,10 57,32 609.703.853.472,44 65.198.380,42 97.116.151.746,00 19.510.369.538,00 630.352.515.085,24 463.265.650.935,00 956.000.000,00 1.356.073.570.598,19 42,68 146.363.313.814,10 742.024.939.855,09 467.685.316.929,00 3.177.043.309.755,29 Tahun Anggaran 2012 Rp. 3.135.433.892.531,82 68,11 713.658.235.159,00 1.205.710.313.175,00 676.635.862.601,82 538.874.428.596,00 555.053.000,00 1.468.214.387.895,34 31,89 157.196.580.444,34 933.865.895.538,00 377.151.911.913,00 4.603.648.280.427,16 Rata-Rata Pertu mbuhan (%) 27,09 61,21 14,81 (54,90) 291,04 (59,87) 14,24 13,56 28,35 16,56 38,79 11,86 21,39 11,20 22,32

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-7

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Selama periode Tahun 2008-2012, pelaksanaan APBD khususnya aspek Belanja Daerah tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang terjadi antara lain : (i) Proses perencanaan dan penganggaran APBD yang belum sesuai jadwal yang ditetapkan, meskipun penetapan APBD masih bisa tepat waktu. (ii) Realisasi belanja yang belum sesuai dengan target anggaran kas. (iii) Realisasi DAK yang masih terkendala dalam pelaksanaannya. (iv) Proses pengadaan barang yang masih perlu pembenahan pada SKPD/UPTD/Biro. Permasalahan-permasalahan tersebut menjadi suatu pelajaran bagi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk menjadi catatan perbaikan di masa mendatang dalam rangkan penyelenggaraan pemerintah yang baik. 3.1.2. Neraca Daerah Analisa neraca daerah bertujuan untuk mengetahui kemampuan keuangan daerah melalui perhitungan rasio likuiditas, solvabilitas dan rasio aktivitas serta kemampuan asset daerah untuk penyediaan dana pembangunan daerah. Selanjutnya mengenai gambaran neraca daerah Provinsi Sulawesi Selatan dalam kurun waktu Tahun 2008-2013 disajikan pada Tabel 3.3.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-8

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.3. Neraca Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun Anggaran 2008 - 2012
Tahun 2008 URAIAN ASET ASET LANCAR Kas Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Penerimaan Kas di Bendahara Pengeluaran Investasi Jangka Pendek Investasi dalam Saham Investasi dalam Obligasi Piutang Piutang Pajak Piutang Retribusi Piutang Dana Baqi Hasil Piutang Dana Alokasi Umum Piutang Dana Alokasi Khusus Bagian Lancar Pinjaman Kepada BUMD Bagian Lancar Taqihan Penjualan Anqsuran Bagian Lancar Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Piutang Lain-lain 2.533.851.691,96 21.315.653.553,72 21.191.033.673,72 20.992.129.341,72 21.366.742.554,38 243.065.754.438,52 214.207.177.628,52 138.681.169.376,80 6.112.572.525,38 69.413.435.726,34 16.806.236.693,00 9.137.605.435,00 4.851.567.413,04 283.212.153,00 283.163.115.215,12 237.768.715.506,77 224.407.958.105,45 6.485.623.772,00 6.875.133.629,32 29.032.368.336,98 5.925.285.535,00 860.614.529,26 604.633.531,00 326.181.188,00 540.753.844.459,96 296.306.163.817,18 282.820.884.249,41 4.787.392.871,27 8.697.886.696,50 195.334.598.993,72 172.838.082.796,00 443.027.000,00 664.933.024,00 197.522.500,00 569.748.060.528,92 213.671.118.427,78 210.780.723.710,11 1.175.126.201,00 1.715.268.516,67 244.458.119.830,72 222.281.957.525,00 401.271.883,00 604.633.531,00 178.127.550,00 503.606.857.122,43 44.083.247.181,52 39.190.667.574,27 973.037.840,25 3.919.541.767,00 280.656.799.277,38 257.255.261.376,00 1.320.533.951,00 604.633.531,00 109.627.865,00 (Audited) Rp. Tahun 2009 (Audited) Rp. Tahun 2010 (Audited) Rp. Tahun 2011 (Audited) Rp. Tahun 2012 (Audited) Rp. Rata-Rata Pertumbuhan (%)

25,30 (17,91) (23,16) (3,84)

171,38 22,22

(18,14)

185,37

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-9

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tahun 2008 URAIAN Persediaan Persediaan Persediaan Hibah INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Nonpermanen Pinjaman Kepada Perusanaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi Dana Bergulir Investasi Nonpermanen Lainnya Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Penyertaan Modal dalam Proyek Pembangunan Penyertaan Modal Perusahaan Patungan Investasi Permanen Lainnya ASET TETAP Tanah Tanah Peralatan dan Mesin Alat-alat Berat 9.298.557.714.190,80 4.269.262.661.846,00 4.269.262.661.846,00 453.579.142.027,00 17.075.420.000,00 5.617.125.000,00 220.442.403.000,00 220.442.403.000,00 226.059.528.000,00 5.617.125.000,00 (Audited) Rp. 12.052.340.117,00 12.052.340.117,00

Tahun 2009 (Audited) Rp. 16.362.031.371,37 16.362.031.371,37 233.531.627.500,00 11.454.224.500,00 11.454.224.500,00 222.077.403.000,00 222.077.403.000,00 9.291.203.209.395,80 3.988.241.433.259,00 3.988.241.433.259,00 506.745.871.400,00 21.092.820.000,00

Tahun 2010 (Audited) Rp. 49.113.081.649,06 12.469.602.699,06 36.643.478.950,00 251.776.364.773,00 16.647.206.100,00 16.647.206.100,00 235.129.158.673,00 235.129.158.673,00 9.558.319.645.633,80 3.994.504.533.259,00 3.994.504.533.259,00 594.657.340.226,00 25.420.409.250,00

Tahun 2011 (Audited) Rp. 111.618.822.270,42 19.656.635.820,42 91.962.186.450,00 262.776.364.773,00 16.647.206.100,00 16.647.206.100,00 246.129.158.673,00 246.129.158.673,00 9.966.822.272.086,80 3.989.728.282.799,00 3.989.728.282.799,00 666.350.988.614,00 25.570.151.750,00

Tahun 2012 (Audited) Rp. 178.866.810.663,53 8.449.456.813,53 170.417.353.850,00 464.703.766.610,65 464.703.766.610,65 464.703.766.610,65 10.277.171.458.032,10 3.991.013.523.434,00 3.991.013.523.434,00 723.917.411.576,00 27.770.816.750,00

Rata-Rata Pertumbuhan (%)

105,86 3,15 23,08 12,31

12,31 25,03 25,03

2,55 (1,63) (1,63) 12,44 13,31

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-10

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tahun 2008 URAIAN Alat-alat Angkutan Alat Benqkel Alat Pertanian dan Petemakan Alat-aiat Kantor dan Rumah Tangga Alat Studio dan Alat Komunikasi Alat Ukur Alat-alat Kedokteran Alat Laboratorium Alat Keamanan Gedung dan Bangunan Banqunan Gedung Bangunan Monumen URAIAN Jalan, Irigasi dan Jaringan Jalan dan Jembatan Banqunan Air (Irigasi} Instalasi Jarinqan Aset Tetap Lainnya Buku dan Perpustakaan Baranq Bercorak Kesenian/Kebudayaan (Audited) Rp. 120.786.967.018,00 2.059.619.483,00 10.908.913.874,00 187.360.197.645,00 13.786.462.289,00 4.788.603.620,00 56.070.017.850,00 40.163.510.748,00 579.429.500,00 636.976.211.379,48 628.766.831.379,48 8.209.380.000,00 Tahun 2008 (Audited) Rp. 3.908.763.025.492,32 3.755.409.775.240,32 84.966.340.055,00 34.017.146.697,00 34.369.763.500,00 16.796.583.266,00 11.560.580.606,00 1.477.679.950,00

Tahun 2009 (Audited) Rp. 130.741.650.808,00 3.535.306.483,00 12.756.753.874,00 209.773.595.683,00 16.226.707.189,00 5.578.888.620,00 61.881.182.345,00 44.400.586.898,00 758.379.500,00 668.592.541.916,48 659.457.422.916,48 9.135.119.000,00 Tahun 2009 (Audited) Rp. 4.093.524.086.010,32 3.898.835.155.958,32 114.420.672.855,00 38.214.154.347,00 42.054.102.850,00 18.055.625.066,00 12.318.757.006,00 1.646.350.350,00

Tahun 2010 (Audited) Rp. 137.878.975.787,00 5.325.023.454,00 24.383.347.874,00 232.753.152.243,00 18.725.727.385,00 5.828.828.620,00 93.939.541.295,00 49.479.025.818,00 923.308.500,00 693.773.751.276,48 684.264.832.276,48 9.508.919.000,00 Tahun 2010 (Audited) Rp. 4.223.172.899.091,32 3.999.023.121.343,32 141.893.175.301,00 39.441.924.597,00 42.814.677.850,00 19.176.395.266,00 12.793.211.406,00 1.901.006.150,00

Tahun 2011 (Audited) Rp. 167.059.389.775,00 6.949.263.954,00 27.142.054.174,00 249.148.789.932,00 22.904.588.378,00 5.972.793.370,00 107.079.757.265,00 53.354.657.516,00 1.169.542.500,00 717.410.930.901,48 707.902.011.901,48 9.508.919.000,00 Tahun 2011 (Audited) Rp. 4.504.935.357.409,32 4.273.262.320.307,32 169.227.539.855,00 41.493.313.597,00 20.952.183.650,00 20.969.289.191,00 13.242.141.831,00 2.093.004.650,00

Tahun 2012 (Audited) Rp. 178.793.558.424,00 8.955.616.692,00 27.336.044.174,00 267.131.967.363,00 27.398.855.272,00 6.002.543.370,00 119.719.844.415,00 59.154.622.616,00 1.653.542.500,00 749.055.350.561,48 739.546.431.561,48 9.508.919.000,00 Tahun 2012 (Audited) Rp. 4.777.434.115.606,59 4.511.774.772.004,59 179.051.289.855,00 42.503.743.097,00 44.104.310.650,00 22.305.631.691,00 13.796.844.331,00 2.365.364.650,00

Rata-Rata Pertumbuhan (%)

10,47 45,41 30,03 9,29 18,76 5,99 21,99 10,17 30,17 4,14 4,14 3,84
Rata-Rata Pertumbuhan (%)

5,15 4,71 20,94 5,80 20,90 7,36 4,53 12,50

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-11

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tahun 2008 URAIAN Hewan/Ternak dan Tumbuhan Aset Tetap Renovasi Konstruksi Dalam Pengerjaan Konstruksi Dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Aset Tetap Akumulasi Penyusutan Aset Tetap ... DANA CADANGAN Dana Cadanqan ASET LAINNYA Taqihan Penjualan Angsuran Taqihan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Kemitraan dengan Fihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain JUMLAH ASET KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utanq Perhitungan Pihak Ketiga Utang Bunga Utang Pajak Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Dalam Negeri Pendapatan Diterima Dimuka 13.180.090.180,00 13.180.090.180,00 5.015.939.339,00 5.015.939.339,00 9.772.698.935.968,32 6.785.492.878,79 5.386.248.467,47 3.335.762.606,00 94.536.450,81 699.622.205,66 (Audited) Rp. 3.758.322.710,00

Tahun 2009 (Audited) Rp. 4.090.517.710,00 16.043.651.744,00 16.043.651.744,00 7.648.631.639,00 7.286.672.089,00 361.959.550,00 9.815.546.583.749,92 3.975.214.558,88 3.275.592.353,22 61.683.357,00 616.773.155,00 699.622.205,66 -

Tahun 2010 (Audited) Rp. 4.482.177.710,00 33.034.726.515,00 33.034.726.515,00 10.393.650.244,00 104.933.540,00 9.715.385.989,00 573.330.715,00 10.361.243.505.110,80 14.989.953.390,53 14.989.953.390,53 1.000.480.800,00 30.841.678,89 699.622.205,66 -

Tahun 2011 (Audited) Rp. 5.634.142.710,00 210.680.000,00 67.427.423.172,00 67.427.423.172,00 12.354.201.444,00 64.653.740,00 11.716.216.989,00 573.330.715,00 10.811.700.898.832,70 25.748.413.554,70 25.748.413.554,70 11.603.067.055,68 38.273.116,00 -

Tahun 2012 (Audited) Rp. 5.634.142.710,00 509.280.000,00 13.445.425.163,00 13.445.425.163,00 14.349.958.694,00 18.943.140,00 14.112.966.989,00 218.048.565,00 11.259.832.040.459,20 251.455.026.045,61 251.455.026.045,61 25.164.608.377,25 336.937.881,00 -

Rata-Rata Pertumbuhan (%)

11,03 35,43 37,92 37,92

30,85

29,91 3,62 296,01 316,70

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-12

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tahun 2008 URAIAN Utang Bagi Hasil Pajak ke Kab/Kota Utang Janqka Pendek Lainnya KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utanq Dalam Neqeri Utanq Luar Neqeri Utang Jangka Panjanq Lainnya EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Sisa Lebih Pembiayaan Anqqaran (SILPA) Pendapatan yang ditangguhkan Cadanqan Piutang Cadangan Persediaan Dana yang Harus Disediakan untuk Pernbayaran Utang Jangka Pendek Ekuitas Dana Investasi Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap lainnya Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang 9.298.557.714.190,80 5.015.939.339,00 (1.399.244.411,32) 9.528.233.937.118,48 226.059.528.000,00 1.256.327.205,00 1.399.244.411,32 1.399.244.411,32 9.765.913.443.089,53 237.679.505.971,05 204.118.335.086,14 6.753.079.936,38 16.806.236.693,00 12.052.340.117,00 (2.050.485.861,47) (Audited) Rp.

Tahun 2009 (Audited) Rp. 1.897.513.635,56 699.622.205,66 699.622.205,66 9.811.571.369.190,24 279.887.522.861,10 230.666.318.579,77 6.485.623.772,00 29.032.368.336,98 16.362.031.371,37 (2.658.819.199,02) 9.531.683.846.329,14 233.531.627.500,00 9.291.203.209.395,80 7.648.631.639,00 (699.622.205,66)

Tahun 2010 (Audited) Rp. 13.259.008.705,98 10.346.253.551.720,23 525.763.891.069,43 290.514.746.369,91 4.790.936.647,27 195.334.598.993,72 49.113.081.649,06 (13.989.472.590,53) 9.820.489.660.650,80 251.776.364.773,00 9.558.319.645.633,80 10.393.650.244,00 -

Tahun 2011 (Audited) Rp. 11.300.408.250,14 2.806.665.132,88 10.786.163.165.278,00 543.999.646.974,22 212.455.096.589,78 1.177.748.722,00 244.458.119.830,72 111.618.822.270,42 (25.710.140.438,70) 10.242.163.518.303,80 262.776.364.773,00 9.967.032.952.086,80 12.354.201.444,00 -

Tahun 2012 (Audited) Rp. 219.499.700.404,36 6.453.779.383,00 11.008.377.014.413,50 252.151.831.076,82 42.653.395.045,27 1.092.914.255,25 280.656.799.277,38 178.866.810.663,53 (251.118.088.164,61) 10.756.225.183.336,70 464.703.766.610,65 10.277.171.458.032,00 14.349.958.694,00 -

Rata-Rata Pertumbuhan (%)

175,23

3,06 13,86 (16,96) (28,18) 171,38 105,86 354,08 3,09 23,08 2,55 30,85

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-13

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tahun 2008 URAIAN Ekuitas Dana Cadangan Diinvestasikan dalam Dana Cadangan JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (Audited) Rp. 9.772.698.935.968,32

Tahun 2009 (Audited) Rp. 9.815.546.583.749,12

Tahun 2010 (Audited) Rp. 10.361.243.505.110,76

Tahun 2011 (Audited) Rp. 10.811.911.578.832,72

Tahun 2012 (Audited) Rp. 11.259.832.040.459,15

Rata-Rata Pertumbuhan (%)

3,62

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-14

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Dari aspek kewajiban daerah, terlihat bahwa kewajiban pemerintah daerah semakin menurun dari tahun ke tahun dari tahun 2008 hingga tahun 2012. Untuk equitas dana lancar memperlihatkan posisi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun lalu cukup siqnifikan peningkatan dari tahun 2008 sd tahun 2010, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2011 dan 2012. Berdasarkan data neraca daerah sebagaimana ditampilkan dalam Tabel 3.3. serta hasil perhitungan rasio keuangan sebagaimana disajikan pada Tabel 3.4. Analisa terhadap Keuangan Daerah (Neraca dan Rasio) Provinsi Sulsel, menunjukkan bahwa kemampuan keuangan Pemerintah Provinsi Sulsel dalam kondisi sehat sebagaimana ditunjukkan oleh Neraca serta rasio-rasio keuangan (likuiditas, solvabilitas dan aktivitas) Tahun 2008 -2012 yang hasilnya menunjukkan kondisi positif. Tabel 3.4. Analisa Rasio Keuangan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
No. 1 A. 1 2 B. 1 2 C. 1 2 Rasio Likuiditas Rasio Lancar (Current Ratio) Rasio Quick (Quick Ratio) Rasio Solvabilitas Rasio Total Hutang Terhadap Total Aset Rasio Total Hutang Terhadap Ekuitas Rasio Aktivitas Rata-rata Umur Piutang Rata-rata Umur Persediaan 7.88 1.52 3.84 2.38 15.97 4.66 25.80 9.43 21.61 11.96 0.07% 0.07% 0.04% 0.04% 0.14% 0.14% 0.24% 0.24% 2.23% 2.28% 4512.71% 4288.95% 8034.06% 7534.55% 3607.44% 3279.80% 2212.75% 1779.25% 200.28% 129.14% URAIAN 2 Tahun 2008 3 Tahun 2009 4 Tahun 2010 5 Tahun 2011 6 Tahun 2012 7

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rasio lancar adalah rasio keuangan yang menyajikan pengukuran kemampuan sumber daya dalam bentuk aset lancar untuk menyelesaikan setiap kewajiban jangka pendek pemerintah daerah yang telah jatuh tempo sampai dengan 12 bulan dari tanggal neraca (rasio yang hasilnya lebih dari 150% - 300% menunjukkan kondisi keuangan yang baik). Rasio cepat (quick ratio) adalah rasio keuangan yang menyajikan pengukuran kemampuan aset lancar dalam bentuk kas dan setara kas untuk menyelesaikan setiap kewajiban jangka pendek pemerintah daerah yang telah jatuh tempo sampai dengan 12 bulan dari tanggal neraca (rasio yang hasilnya lebih dari 100% - 200% menunjukkan kondisi keuangan yang baik. Rasio lancar dan rasio cepat Provinsi Sulsel tahun 2008 2012 menunjukkan bahwa semua kewajiban jangka pendek Provinsi Sulsel dalam periode tersebut dapat didanai dari aset lancar dalam periode yang sama, apabila kewajiban jangka pendek tersebut telah jatuh tempo.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-15

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Rasio Total Hutang/Kewajiban terhadap Total Aset adalah rasio keuangan yang menyajikan bahwa setiap kewajiban pemerintah daerah mampu didanai dengan aset pemerintah daerah (makin kecil dari 1%, maka rasio ini makin baik). Rasio Total Hutang terhadap Total Aset Provinsi Sulsel tahun 2008 2012 menunjukkan bahwa apabila keseluruhan kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang Provinsi Sulsel dalam periode tersebut telah jatuh tempo maka dapat didanai dari total aset dalam periode yang sama. Rasio Total kewajiban terhadap ekuitas dana/modal adalah rasio keuangan yang menyajikan bahwa setiap kewajiban pemerintah daerah mampu didanai dengan ekuitas dana pemerintah daerah (makin kecil dari 1%, maka rasio ini makin baik). Rasio Total Hutang terhadap Ekuitas Dana/Modal Provinsi Sulsel tahun 2008 2012 menunjukkan bahwa apabila keseluruhan kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang Provinsi Sulsel dalam periode tersebut telah jatuh tempo, maka dapat didanai dari Ekuitas Dana/Modal dalam periode yang sama. Rata-rata umur piutang adalah pengukuran aktivitas keuangan yang menyajikan bahwa secara rata-rata piutang dapat ditagih dalam jangka waktu beberapa hari oleh pemerintah daerah. Rata-rata umur piutang Provinsi Sulsel tahun 2008 2012 menunjukkan bahwa piutang Provinsi Sulsel dapat terealisasi menjadi kas dalam waktu 8 (delapan) hari pada tahun 2008, sedangkan pada tahun 2012 menjadi 22 (dua puluh dua) hari. Rata-rata umur persediaan adalah pengukuran aktivitas keuangan yang menyajikan bahwa secara rata-rata persediaan dapat digunakan dalam waktu beberapa hari pada kegiatan pemerintah daerah. Rata-rata persediaan Provinsi Sulsel tahun 2008 2012 menunjukkan bahwa persediaan barang Provinsi Sulsel secara umum baru dapat digunakan setelah tersimpan sebagai persediaan selama waktu 2 (dua) hari pada tahun 2008, sedangkan pada tahun 2012 menjadi 12 (dua belas) hari. Tabel 3.5 Hasil Analisa Neraca Keuangan Pemerintah Provinsi Sulsel Tahun 2008-2012
NO. 1 A 1 2 B 1 URAIAN 2 Rasio Likuiditas Rasio lancar (current ratio) (%) Rasio quick (quick ratio) (%) Rasio Solvabilitas Rasio total hutang terhadap total asset (total debt to total asset)(%) Rasio hutang terhadap modal (total debt to equity) (%) Rasio Aktivitas Rata-rata umur piutang (hari) (Average Days NILAI 3 >1 >1 KETERANGAN 4 Sangat mampu memenuhi kewajiban jangka pendek Sangat mampu memenuhi kewajiban jangka pendek secara cepat

>1

Mampu melunasi hutang dengan aset yang tersedia

2 C 1

>1

Mampu melunasi hutang dengan modal yang tersedia

>1

Dibutuhkan waktu 5,99 hari untuk merubah piutang menjadi Kas

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-16

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

2 NO. 1 A 1

Inventory) Rata-rata umur persediaan (hari) (Average Days Receible) URAIAN 2 Rasio Likuiditas Rasio lancar (current ratio) (%)

>1 NILAI 3

Dibutuhkan waktu sekitar 15,02 hari dalam penggunaan persediaan untuk pelayanan publik KETERANGAN 4 pengukuran kemampuan sumber daya dalam bentuk aset lancar untuk menyelesaikan setiap kewajiban jangka pendek pemerintah daerah yang telah jatuh tempo sampai dengan 12 bulan dari tanggal neraca pengukuran kemampuan aset lancar dalam bentuk kas dan setara kas untuk menyelesaikan setiap kewajiban jangka pendek pemerintah daerah yang telah jatuh tempo sampai dengan 12 bulan dari tanggal neraca rasio keuangan yang menyajikan bahwa setiap kewajiban pemerintah daerah mampu didanai dengan aset pemerintah daerah rasio keuangan yang menyajikan bahwa setiap kewajiban pemerintah daerah mampu didanai dengan ekuitas dana pemerintah daerah pengukuran aktivitas keuangan yang menyajikan bahwa secara rata-rata piutang dapat ditagih dalam jangka waktu beberapa hari oleh pemerintah daerah pengukuran aktivitas keuangan yang menyajikan bahwa secara rata-rata persediaan dapat digunakan dalam waktu beberapa hari pada kegiatan pemerintah daerah

150 300%

2 B 1

Rasio quick (quick ratio) (%) Rasio Solvabilitas Rasio total hutang terhadap total asset (total debt to total asset)(%) Rasio hutang terhadap ekuitas (total debt to equity) (%) Rasio Aktivitas Rata-rata umur piutang (hari) (Average Days Inventory) Rata-rata umur persediaan (hari) (Average Days Receible)

100 200%

< 1%

2 C 1

< 1%

hari

hari

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

3.2

Kebijakan Pengelolaan Keuangan Masa Lalu Kemampuan fiskal daerah (fiscal capacity) merupakan faktor yang sangat krusial dalam keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan daerah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, meningkatkan kesejahteraan umum dan pembangunan daerah secara umum. Karena itu, upaya optimalisasi sumber-sumber pendapatan daerah, perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan secara terpadu dan sinergi antar-SKPD/unit kerja pengelola pendapatan daerah. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan hingga saat ini, yakni pmulai tahun 2010, Tahun 2011, dan Tahun 2012 telah memperoleh penilaian atas hasil pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dengan predikat tertinggi, yakni Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Keberhasilan memperoleh predikat WTP selama tiga tahun berturut-turut ini merupakan prestasi yang baru pertama kali diperoleh oleh suatu penyelenggara pemeritah baik di pusat maupun di daerah , dan ini menunjukan tingkat keberhasilan Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan dalam pengelolaan keuangan daerah. Hal ini sejalan dengan prioritas pertama dalam RPJMN Tahun 2010-2014, yakni Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-17

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

3.2.1. Proporsi Penggunaan Anggaran a. Kebijakan Pendapatan Daerah Kebijakan Pendapatan Daerah sepanjang tahun 2008-2012 diarahkan pada upaya peningkatan pendapatan daerah dengan memaksimalkan penggalian potensi pendapatan daerah melalui program intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah, dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, aspek kewenangan, aspek potensi, aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. Optimalisasi pengelolaan pendapatan daerah dilakukan dengan mensinergikan program intensifikasi dan ekstensifikasi sumber-sumber pendapatan daerah. Intensifikasi difokuskan pada upaya peningkatan kualitas pelayanan pajak dan retribusi daerah, penyederhanaan birokrasi, peningkatan tertib administrasi, penegakan sanksi, peningkatan komunikasi dan informasi kepada masyarakat serta reformasi sistem perpajakan daerah sebagai salah satu tujuan implementasi Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 10 tahun 2010 tentang Pajak Daerah. Sedangkan ekstensifikasi difokuskan pada upaya penyesuaian regulasi atas pengelolaan retribusi daerah menyusul ditetapkannnya Undang-Undang No.28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Beberapa kegiatan strategis yang berkaitan dengan upaya peningkatan pendapatan daerah antara lain: a. Pada tahapan ekstensifikasi, telah dilakukan penyusunan Peraturan Daerah di bidang pendapatan, masing-masing: i. Peraturan Daerah No.3 Tahun 2008 tentang Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah; ii. Peraturan Daerah No.4 Tahun 2008 tentang Retribusi Perizinan Tertentu; iii. Peraturan Daerah No.5 Tahun 2008 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah; iv. Peraturan Daerah No.10 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah; v. Peraturan Daerah No.9 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum; vi. Peraturan Daerah No.10 Tahun 2011 tentang Retribusi Perizinan Tertentu; vii. Peraturan Daerah No.1 Tahun 2012 tentang Retribusi Jasa Usaha; viii. Peraturan Daerah No.6 Tahun 2012 tentang Partisipasi Pihak ketiga dalam Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan; b. Pada tahapan intensifikasi, upaya peningkatan pendapatan daerah dilakukan dengan meng-intensifkan dan meng-efektifkan kegiatan: i. Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan pajak dan retribusi daerah (perbaikan/renovasi tempat pelayanan, penambahan akses pelayanan pajak dan retribusi daerah); ii. Penguatan kelembagaan (s.d akhir tahun 2012, UPTD Dispenda telah terbentuk pada seluruh kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan dan beberapa UPTD di instansi teknis untuk pelayanan Retribusi Daerah); iii. Peningkatan kualitas SDM;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-18

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

iv. Peningkatan koordinasi dengan Pemerintah, lintas Pemerintah Daerah/sektor/SKPD. v. Peningkatan monitoring dan evaluasi Pendapatan Daerah; vi. Penegakan Sanksi; vii. Penyederhanaan birokrasi pelayanan (penerapan on line sistem pelayanan pajak, penerapan standar ISO 9001-2000 di kantor Samsat, Samsat Keliling, Drive Thru Pelayanan Pajak Kendaraan Bermotor, Gerai Samsat di pusat perbelanjaan); viii. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pelayanan public ( SMS info pembayaran pajak kendaraan bermotor, pelayanan pembayaran retribusi pelayanan kesehatan yang terintegrasi dengan PT. Bank Sulselbar, pembentukan website) ix. Pemutakhiran data objek dan subjek pajak; x. Sosialisasi peraturan perundang-undangan di sektor Pajak Daerah dan Restribusi Daerah. b. Kebijakan Belanja Daerah Belanja daerah merupakan perwujudan dari kebijakan penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan. Melihat perkembangan realisasi Belanja Daerah pada periode tahun 2008-2012, menunjukkan bahwa realisasi anggaran Belanja Tidak Langsung lebih besar dari pada alokasi Belanja Langsung atau rata-rata sekitar 61,21 persen dari total Belanja Daerah. Realisasi Belanja Tidak Langsung menunjukkan trend meningkat dari tahun ke tahun yaitu sebesar Rp.1,32 Trilyun lebih pada Tahun 2008 meningkat menjadi Rp.3,13 Triyun lebih pada tahun 2012. Peningkatan Belanja Tidak Langsung tidak hanya berdasarkan pertimbangan kebutuhan aparatur, namun juga adanya belanja transfer yang terus meningkat yang menjadi bagian dari komponen Belanja Tidak Langsung. Bagian dari belanja tidak langsung yang mengalami peningkatan yang cukup signifikan sejak tahun 2008 2012 adalah belanja bagi hasil kepada kabupaten/kota serta bantuan keuangan kepada kabupaten/kota dan pemerintahan desa dalam rangka peningkatan pemberian layanan dasar kepada masyarakat Provinsi Sulsel dalam bentuk program pendidikan gratis, kesehatan gratis, serta membangun dan memelihara infrastruktur. Proporsi Belanja Modal menunjukkan trend meningkat dari tahun ke tahun yaitu sebesar Rp.275,18 Milyar lebih pada Tahun 2008 meningkat menjadi Rp.377,15 Milyar lebih pada tahun 2012. Tabel 3.6 dibawah ini akan menampilkan perbandingan antara total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur dengan total belanja lainnya ditambah dengan pengeluaran pembiayaan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-19

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.6. Analisis Proporsi Belanja Pemenuhan Kebutuhan Aparatur Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
NO. 1 2 3 4 5 URAIAN Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 Total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (Rp.) (a) 542.009.127.213,00 644.259.538.396,59 651.917.321.842,50 781.538.861.604,45 892.058.473.626,62

Total Pengeluaran (Belanja+ Pembiayaan Pengeluaran) (Rp.) (b) 1.801.022.167.079,87 1.814.559.888.358,52 2.072.364.882.071,95 2.615.875.448.949,66 3.985.495.621.514,46 Rata-rata %

Persentase (a)/(b)x 100% 30,09 35,51 1,46 29,88 22,38 9,86

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Berdasarkan perbandingan antara total belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur dengan total belanja lainnya ditambah dengan pengeluaran pembiayaan pada Tabel 3.6 di atas, menunjukkan bahwa belanja pemenuhan kebutuhan aparatur rata-rata pertahun sekitar29,86 persen, hal ini berarti ada sekitar 70,14 persen pendapatan daerah diperuntukkan untuk kegiatan lain yang menunjang pencapaian visi, misi Kepala Daerah. Dengan memperhatikan porsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur yang secara rata-rata sebesar 29,86 persen per tahun, hal itu masih dibawah batas toleransi yaitu sebesar 30 persen dari Total Belanja Daeerah ditambah Pengeluaran Pembiayaan. Hal itu menunjukkan bahwa selama kurun waktu 5 (lima) tahun pemerintah Provinsi Sulsel sangat mengutamakan kepentingan anggaran pelayanan publik terbukti secara rata-rata selama lima tahun total pengeluaran sebesar 70,14 persen per tahun dari Belanja Daerah ditambah Pengeluaran Pembiayaan. Dalam analisis ini kebutuhan belanja untuk aparatur dipandang ekuivalen dengan kebutuhan belanja tidak langsung yaitu belanja yang tersedia tidak berkaitan langsung dengan program ataupun kegiatan yang dilaksanakan. Terkait dengan ini maka pada periode pemerintah lima tahun kedepan, peningkatan pendapatan daerah diupakan meningkat lebih tinggi dibanding periode yang lalu. Kebijakan Belanja Daerah untuk lima tahun kedepan secara umum diarahkan pada upaya sebagai berikut : 1) Memprirotaskan pemenuhan kebutuhan belanja daerah wajib berupa gaji dan tunjangan pegawai lainnya sekira 10-20 persen per tahun. 2) Meningkatkan terus proporsi belanja yang bersentuhan langsung dengan layanan dasar pada masyarakat seperti; pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang pengalokasian anggarannya melalui kelompok belanja tidak langsung dan kelompok belanja langsung. Khusus Belanja Modal pengalokasian anggarannya disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan. 3) Memenuhi proporsi Belanja Daerah sesuai dengan Visi Misi Kepala Daerah, Prioritas Pembangunan dan Urusan pemerintahan. Arahan kebijakan Belanja Daerah yang dilaksanakan pada masa lalu tetap menjadi acuan kebijakan pada periode Tahun 2013-2018, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan, yaitu sebagai berikut : 1) Prioritisasi pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi yang terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-20

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

2) Belanja untuk memenuhi kewajiban daerah dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. 3) Alokasi penggunaan dana perimbangan diperuntukkan sesuai dengan sasarannya seperti (i) penerimaan dana bagi hasil pajak diprioritaskan untuk membiayai pembangunan pemukiman, irigasi, jalan, jembatan dan drainase; (ii) dana alokasi umum diprioritaskan untuk membiayai gaji dan tunjangan pns lainnya, alokasi anggaran fungsi kesehatan dan fungsi pendidikan, sosial, pembangunan fisik sarana dan prasarana dalam rangka peningkatan pelayanan dasar dan pelayanan umum bagi masyarakat; (iv) alokasi penggunaan dana alokasi khusus dialokasikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. 4) Alokasi Belanja Pegawai diperuntukkan untuk pegawai negeri sipil, pegawai tidak tetap, belanja DPRD yang mengacu pada ketentuan perundang-undangan termasuk dialokasikan pula anggaran tambahan penghasilan bagi pegawai. 5) Penyediaan dana untuk kejadian luar biasa meliputi penanggulangan bencana alam, penanggulangan bencana sosial, dan kegiatan tanggap darurat dalam rangka pencegahan gangguan terhadap stabilitas penyelenggaraan pemerintahan demi terciptanya keamanan, ketentraman dan ketertiban masyarakat di daerah dengan menggunakan dana Belanja Tidak Terduga sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 6) Pemberian Hibah kepada pemerintah, pemerintah daerah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat dan organisasi kemasyarakatan untuk menunjang pencapaian sasaran program dan kegiatan pemerintah daerah dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas dan manfaat untuk masyarakat, disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan dilakukan setelah memprioritaskan pemenuhan belanja urusan wajib yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, yang bersifat tidak mengikat dan tidak wajib. 7) Belanja Bantuan sosial kepada Individu, keluarga, dan/atau masyarakat yang mengalami keadaan yang tidak stabil sebagai akibat dari krisis sosial, ekonomi, politik, bencana atau fenomena alam agar dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum serta Lembaga non pemerintahan bidang pendidikan, keagamaan, dan bidang lain yang berperan untuk melindungi individu, kelompok, dan/masyarakat dari kemungkinan terjadinya resiko sosial, dengan tujuan untuk menunjang pencapaian sasaran program dan kegiatan pemerintah daerah dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, rasionalitas, dan manfaat untuk masyarakat, yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan dilakukan secara selektif serta setelah memprioritaskan pemenuhan belanja urusan wajib yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan, yang bersifat tidak mengikat dan tidak wajib. c. Kebijakan Pembiayaan Daerah Pembiayaan Daerah merupakan transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara Pendapatan Daerah dan Belanja Daerah. Jika Pendapatan Daerah lebih kecil dari Belanja Daerah, maka terjadi transaksi keuangan yang defisit dan harus ditutupi dengan Penerimaan Daerah. Jika Pendapatan Daerah lebih besar dari Belanja Daerah, maka terjadi transaksi keuangan yang surplus dan harus digunakan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-21

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

untuk Pengeluaran Daerah. Oleh sebab itu, Pembiayaan Daerah terdiri Penerimaan Pembiayaan Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang selanjutnya dijabarkan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011, Penerimaan Pembiayaan Daerah bersumber dari antara lain : a. Sisa lebih Perhitungan Anggaran Tahun Sebelumnya (SiLPA); b. Pencairan Dana Cadangan; c. Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dispisahkan; d. Penerimaan Pinjaman Daerah; e. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman; f. Penerimaan Piutang Daerah; g. Penerimaan Pembayaran Askes; h. Penerimaan Pembayaran Pihak Ketiga; i. Penerimaan Piutang Pihak Ketiga; Sedangkan Pengeluaran Pembiayaan Daerah bersumber dari antara lain: a. Pembentukan Dana Cadangan; b. Penyertaan Modal (Investasi) Daerah; c. Pembayaran Pokok Utang; d. Pemberian Pinjaman Daerah; e. Pembayaran Utang Belanja. 3.2.2. Analisis Pembiayaan Daerah Analisis Pembiayaan Daerah dimaksudkan untuk memberi gambaran atau informasi pengaruh kebijakan pembiayaan daerah pada tahun anggaran sebelumnya terhadap surplus atau defisit belanja daerah. Gambaran ini menjadi bahan untuk menentukan kebijakan pembiayaan pemerintah daerah Provinsi Sulawesi Selatan periode tahun 2013-2018 terutama terkait dengan penghitungan kapasitas pendanaan pembangunan daerah. Untuk mengetahui besaran dari pendanaan pembangunan, maka kondisi realisasi anggaran pendapatan dan belanja daerah perlu dijelaskan tentang posisi surplus belanja dan/atau defisit belanja selama periode pemerintahan yang lalu. a. Surplus/Defisit Dengan memperhatikan pendapatan dan belanja daerah periode lalu, maka gambaran surplus/defisit dalam anggaran daerah dapat diketahui. Kondisi anggaran defisit/ surplus tidak selalu sama dengan realisasi anggaran. Pada periode pemerintahan sebelumnya Realisasi APBD berada posisi desifit dan/atau surplus. Posisi realisasi anggaran defisit terjadi pada Tahun Anggaran 2008, 2011 dan 2012, sedangkan posisi realisasi anggaran surplus terjadi pada Tahun Anggaran 2009 dan 2010. Posisi realisasi anggaran defisit Tahun Anggaran 2008 sebesar Rp.895 Juta lebih, dan Tahun Anggaran 2011 sebesar Rp.66,47 Milyar lebih dan Tahun Anggaran 2012 defisit anggaran sebesar Rp.169,68 Milyar lebih. Sedangkan posisi surplus anggaran pada Tahun Anggaran 2009 sebesar Rp.53,55 Milyar lebih dan Tahun Anggaran 2010 sebesar Rp.77,91 Milyar lebih.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-22

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.7. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
Tahun NO. 1. 1.1. 1.2. 1.3. URAIAN PENDAPATAN PAD Pendapatan Transfer Lain-lain Pendapatan Yang Sah BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tidak Terduga Surplus/Defisit 2008 Rp. 2.133.624.782.881,42 1.238.690.401.106,42 894.934.381.775,00 Tahun 2009 Rp. 2.175.750.141.192,23 1.242.766.168.254,16 914.502.833.938,07 18.481.139.000,00 Tahun 2010 Rp. 2.564.075.934.897,33 1.545.589.709.031,33 959.942.494.138,00 58.543.731.728,00 Tahun 2011 Rp. 3.110.566.841.412,82 1.959.515.902.109,82 1.106.989.189.303,00 44.061.750.000,00 Tahun 2012 Rp. 4.433.963.019.650,65 2.198.776.396.284,65 1.349.192.580.666,00 885.994.042.700,00 Rata-Rata Pertumbuhan (%) 20,92 15,92 11,09

2 2.1. 2.2. 2.3.

2.134.520.570.348,66 1.855.588.427.133,66 275.180.935.215,00 3.751.208.000,00

2.122.191.791.375,22 1.825.733.442.941,22 295.862.668.434,00 595.680.000,00

2.486.159.765.497,54 2.180.133.244.599,54 303.648.223.898,00 2.378.297.000,00

3.177.043.309.755,29 2.708.401.992.826,29 467.685.316.929,00 956.000.000,00

4.603.648.280.427,16 4.225.941.315.514,16 377.151.911.913,00 555.053.000,00

22,32 24,52 11,20 28,35

(895.787.467,24)

53.558.349.817,01

77.916.169.399,79

(66.476.468.342,47)

(169.685.260.776,51)

Sumber : BPKD dan Dinas Pendapatan Daerah Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Defisit anggaran ditutup dengan Sisa lebih Perhitungan Anggaran Tahun Sebelumnya, sedangkan Surplus anggaran Provinsi Sulsel ditetapkan sebagai sumber pendapatan daerah pada tahun aggaran berikutnya. Dengan rasio antara defisit dengan nilai PDRB berlaku transaksi keuangan Provinsi Sulsel pada masa pemerintahan sebelumnya masih cukup baik. Jika dihubungkan dengan ketentuan batas maksimal defisit yang ditetapkan oleh Kementerian Dalam Negeri maupun Kementerian Keuangan yang memberi batasan maksimal defisit adalah 3 persen kecuali tahun 2012 keatas dengan batas maksimal defisit adalah 6 persen maka defisit anggaran Provinsi Sulsel Tahun Anggaran 2008 sebesar 0,04 persen, Tahun Anggaran sebesar 2011 sebesar 2,14 persen dan Tahun Anggaran 2012 sebesar 3,83 persen, masih tergolong baik. Pada Tabel 3.7 diatas nampak bahwa perbandingan antara Pendapatan Daerah dengan Belanja Daerah menghasilkan data surplus/defisit. Data defisit atau surplus pada tahun anggaran ditambahkan dengan pengeluaran pembiayaan, sehingga pada akhirnya diperoleh defisit atau surplus secara riil. Tahun Anggaran 2008, 2011 dan 2012 APBD Provinsi Sulawesi Selatan menghasilkan data defisit, sedangkan Tahun Anggaran 2009 dan 2010 APBD Provinsi Sulawesi Selatan menghasilkan data surplus. Posisi surplus dikarenakan realisasi pendapatan daerah lebih besar dibandingkan belanja daerah, sedangkan posisi defisit dikarenakan realisasi pendapatan daerah lebih kecil dibandingkan belanja daerah. b. Penerimaan dan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Dalam APBD Provinsi Sulsel periode Tahun Anggaran 2008-2012 diperoleh gambaran bahwa Tahun Anggaran 2008, 2011 dan 2012 mengalami defisit dan Tahun Anggaran 2009 dan 2010 mengalami surplus. Tingkat realisasi penerimaan pembiayaan berfluktasi dengan kisaran anggaran diatas Rp.200 Milyar lebih kecuali realisasi penerimaan pembiayaan Tahun Anggaran 2009 sejumlah Rp.183 Milyar lebih, dengan rata-rata realisasi penerimaan pembiayaan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-23

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

selama 5 (lima) tahun sebesar Rp.225 Milyar lebih, yang didominasi oleh Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Sebelumnya (SiLPA) sebagai penyumbang terbesar dari angka realisasi penerimaan pembiayaan. Sedangkan realisasi pengeluaran pembiayaan sangat berfluktasi dengan rata-rata realisasi pengeluaran pembiayaan selama 5 (lima) tahun sebesar Rp.7,8 Milyar lebih, yang didominasi oleh Penyertaan Modal (Investasi) Daerah. Tabel 3.8. Realisasi Anggaran Pembiayaan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
NO. 3. 3.1. 3.2. 3.3. URAIAN PEMBIAYAAN Penerimaan Daerah Pengeluaran Daerah Pembiayaan Netto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SiLPA) Tahun 2008 Rp. Tahun 2009 Rp. Tahun 2010 Rp. Tahun 2011 Rp.

Tahun 2012 Rp.

208.259.976.519,38 3.245.853.966,00 205.014.122.553,38 204.118.335.086,14

183.706.090.468,42 6.598.121.705,66 177.107.968.762,76 230.666.318.579,77

230.448.199.175,77 17.849.622.205,65 212.598.576.970,12 290.514.746.369,91

290.514.746.369,91 11.699.622.205,66 278.815.124.164,25 212.338.655.821,78

212.338.655.821,78 212.338.655.821,78 42.653.395.045,27

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Tabel 3.9 memperlihatkan defisit riil anggaran Provinsi Sulawesi Selatan periode Tahun 2008-2012. Pada tabel terdahulu nampak bahwa posisi defisit anggaran terjadi pada APBD Tahun Anggaran 2008, 2011 dan 2012, yang masih dibawah standar yang ditetapkan oleh Kementrian Keuangan dan Kementrian Dalam Negeri yaitu maksimal 3 persen, kecuali Tahun Anggaran 2012 ditetapkan batas maksimal defisit anggaran sebesar 6 persen. Tabel 3.9. Defisit Riil Anggaran Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2008-2012
NO. 1 URAIAN Realisasi Pendapatan Daerah Dikurangi realisasi : 2 3 Belanja Daerah 2.134.520.570.348,66 Pengeluaran Pembiayaan Daerah 3.245.853.966,00 2.122.191.791.375,22 6.598.121.705,66 2.486.159.765.497,54 17.849.622.205,65 3.177.043.309.755,29 11.699.622.205,66 Tahun 2008 (Rp) 2.133.624.782.881,42 Tahun 2009 (Rp) 2.175.750.141.192,23 Tahun 2010 (Rp) 2.564.075.934.897,33 Tahun 2011 (Rp) 3.110.566.841.412,82

Tahun 2012 (Rp)

4.433.963.019.650,65

4.604.089.225.379,16 -

Defisit Riil (4.141.641.433,24)


Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang dipisahkan Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman 208.233.768.425,38

46.960.228.111,35
183.232.856.332,42

60.066.547.194,14
230.447.065.415,77

(78.176.090.548,13)
290.514.746.369,91

(170.126.205.728,51)
212.338.655.821,78

2 3 4 5

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-24

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

NO.

URAIAN Daerah Penerimaan Piutang Daerah Penerimaan Pembayaran ASKES Penerimaan Pembayaran Pihak ke III Penerimaan Piutang Pihak ke III Total Realisasi Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan

Tahun 2008 (Rp)

Tahun 2009 (Rp)

Tahun 2010 (Rp)

Tahun 2011 (Rp)

Tahun 2012 (Rp)

6 7 8 9 B

26.208.094,00 -

78.006.136,00

208.259.976.519,38

395.228.000,00 183.706.090.468,42

1.133.760,00 230.448.199.175,77

290.514.746.369,91

212.338.655.821,78

204.118.335.086,14

230.666.318.579,77

290.514.746.369,91

212.338.655.821,78

42.212.450.093,27

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Sisa lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan adalah dana yang dapat dipergunakan untuk penganggaran tahun berikutnya. Dari tabel 3.9 dapat dijelaskan bahwa secara keseluruhan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2008 sebesar Rp.204 Milyar lebih meningkat menjadi Rp.230 Milyar lebih pada tahun 2009 atau naik 13,01 persen dari tahun sebelumnya, selanjutnya meningkat lagi menjadi sebesar Rp.290 Milyar pada Tahun 2010 atau naik 25,95 persen, namun pada Tahun Anggaran 2011 mengalami penurunan sebesar Rp.212 Milyar lebih atau turun -26,91 persen dan pada Tahun Anggaran 2012 menurun lagi menjadi sebesar Rp.42 milyar lebih atau menurun -80,12 persen. Dengan mencermati tabel tersebut diatas, komponen terbesar dalam menutup defisit masih mengutamakan penerimaan dari SiLPA dibandingkan dengan penerimaan pembiayaan lainnya. Untuk masa pemerintahan lima tahun kedepan, kebijakan penutup defisit diupayakan secara bertahap pada sumber-sumber penerimaan pembiayaan lainnya, artinya pemerintah provinsi Sulsel perlu terus meningkatkan upaya untuk mencari sumber-sumber penerimaan pembiayaan lainnya. SiLPA yang terjadi pada periode pemerintahan sebelumnya diakibatkan oleh faktor-faktor antara lain : (i) sisa penghematan belanja atau efisiensi anggaran belanja; (ii) sisa anggaran karena kegiatan yang tertunda yang dilanjutkan pada tahun anggaran berikutnya; (iii) yang pelampauan penerimaan pendapatn asli daerah. Tabel 3.10 Komposisi Penutup Defisit Riil Anggaran Provinsi Sulsel Tahun 2008-2012
NO. 1 2 3 URAIAN Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Tahun Anggaran sebelumnya Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Tahun 2008 (%) (5.027,81) Proporsi dari total defisit riil Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (%) (%) (%) 390,19 383,65 (371,62) Tahun 2012 (%) (124,81) -

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-25

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

NO. dipisahkan 4 5 6 7 8 9

URAIAN

Tahun 2008 (%) (0,63) (5.028,44)

Proporsi dari total defisit riil Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 (%) (%) (%) 0,17 0,84 391,20 0,00 383,65 (371,62)

Tahun 2012 (%) (124,81)

Penerimaan Pinjaman Daerah Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah Penerimaan Piutang Daerah Penerimaan Pembayaran ASKES Penerimaan Pembayaran Pihak ke III Penerimaan Piutang Pihak ke III Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Dari tabel 3.10 nampak item-item penutup defisit riil anggaran Provinsi Sulsel tahun Anggaran 2008-2012, yang hanya terdiri dari dua komponen yaitu SiLPA dan komponen penerimaan pembiayaan lainnya. Komponen SiLPA menempati posisi terbesar dalam menutup defisit riil yaitu menutup defisit pada Tahun 2008 sebesar 5.027,81 persen, dan pada tahun 2011 menurun sebesar 371,62 persen selanjutnya menurun lagi pada tahun 2012 sebesar 124,81 persen.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-26

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tahun 2008 NO. URAIAN Rp. % dari SiLPA 100,00 8,23

Tabel 3.11. Realisasi Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) Riil Provinsi Sulsel Tahun 2008-2012
Tahun 2009 Tahun 2010 Tahun 2011 Rp. % dari SiLPA 100,00 (33,37) Rp. % dari SiLPA 100,00 29,45 Rp. % dari SiLPA 100,00 (5,75)

Tahun 2012 Rp. % dari SiLPA 100,00

Rata-rata Pertumbuhan % (16,97) 100,24

1 2

Jumlah SiLPA Pelampauan penerimaan PAD Pelampauan penerimaan dana perimbangan Pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah Sisa penghematan belanja atau akibat lainnya Pelampauan Penerimaan Pembiayaan Sisa Pengeluaran Pembiayaan

204.118.335.086,14 16.793.275.015,33

230.666.318.579,77 (76.978.082.563,81)

290.514.746.369,91 85.543.798.098,65

212.338.655.821,78 (12.202.551.854,38)

42.653.395.045,27 (168.973.716.007,65)

(396,16)

(13.966.018.001,40)

(6,84)

(2.407.867.912,93)

(1,04)

(14.660.748.536,00)

(5,05)

15.869.829.083,00

7,47

21.720.883.639,00

50,92

63,68

(4.000.000.000,00)

(1,96)

435.000.000,00

0,19

(423.000.000,00)

(0,15)

(83.999.587.300,00)

(196,94)

(102,03)

205.310.723.944,21

100,58

333.366.235.379,89

144,52

220.272.438.416,91

75,82

208.671.000.798,82

98,27

273.905.814.713,92

642,17

13,61

26.208.094,00

0,01

(20.412.244.617,72)

(8,85)

(218.119.404,00)

(0,08)

(19.546,05)

45.853.966,00

0,02

(3.336.721.705,66)

(1,45)

377.794,35

0,00

377.794,34

0,00

(1.894,21)

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-27

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.11 memperlihatkan SiLPA yang terjadi selama periode tahun 2008-2012 disebabkan oleh beberapa faktor antara lain (i) pelampauan penerimaan PAD dengan rata-rata pertumbuhannya sebesar 100,24 persen pertahun; (ii) pelampauan penerimaan dana perimbangan dengan rata-rata pertumbuhannya sebesar 63,68 persen pertahun; (iii) pelampauan penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah dengan rata-rata penurunan pertumbuhannya sebesar (102,03) persen pertahun; (iv) sisa penghematan belanja atau akibat lainnya dengan rata-rata pertumbuhannya sebesar 13,61 persen pertahun; (v) pelampauan penerimaan pembiayaan dengan rata-rata penurunan pertumbuhannya sebesar (19.546,06) persen pertahun; dan (vi) sisa pengeluaran pembiayaan dengan rata-rata penurunan pertumbuhannya sebesar (1.894,21) persen pertahun; Faktor penyumbang terbesar dalam posisi SiLPA selama periode tahun 20082012 adalah sisa penghematan belanja atau akibat lainnya dengan rata-rata pertumbuhannya sebesar 13,61 persen pertahun, dan data terbesar adalah pada Tahun 2009 yaitu sebesar Rp.333 Milyar lebih, selanjutnya pada Tahun 2012 sebesar Rp.273 Milyar lebih, dan pada Tahun 2010 sebesar Rp.220 milyar lebih lalu selanjutnya pada tahun 2008 dan 2011 sebesar rata-rata diatas Rp.200 Milyar lebih. Tabel 3.12. Sisa Lebih Riil pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan Provinsi Sulsel Tahun 2008-2012
NO. 1 URAIAN Saldo Kas Neraca Daerah Dikurangi : Kewajiban kepada Pihak Ketiga sampai dengan akhir tahun belum terselesaikan Kegiatan Lanjutan Tahun 2008 (Rp) 204.164.189.052,14 Tahun 2009 (Rp) 234.003.040.285,43 Tahun 2010 (Rp) 290.514.368.575,68 Tahun 2011 (Rp) 212.338.278.027,44 Tahun 2012 (Rp) 42.212.450.093,27

45.853.966

3.336.721.705,66

377.794,35

(377.794,34)

Sisa Lebih (Riil) Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan

204.118.335.086,14

230.666.318.579,77

290.514.746.369,91

212.338.655.821,78

42.212.450.093,27

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Kebijakan Pengelolaan Keuangan Daerah khusunya aspek analisis pembiayaan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : (i) Realisasi kebijakan anggaran surplus khususnya pada Tahun 2009 dan 2010, sementara kebijakan anggaran defisit terjadi pada Tahun 2008, 2011 dan 2012. Pada kondisi anggaran defisit, kebijakan penerimaan pembiayaan lebih diutamakan dari SILPA daripada sumber penerimaan pembiayaan lainnya.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-28

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

3.3. Kerangka pendanaan Tahun 2013-2018 Dalam Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 dinyatakan bahwa, kerangka pendanaan adalah program dan kegiatan yang disusun untuk mencapai sasaran hasil pembangunan yang pendanaannya diperoleh dari Anggaran Pemerintah Daerah, sebagai bagian integral dari upaya pembangunan daerah secara utuh. Bagian ini menganalisis kerangka pendanaan yang bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun kedepan yakni 2013-2018. Suatu kapasitas riil keuangan daerah adalah total penerimaan daerah setelah dikurangkan dengan berbagai pos atau belanja dan pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama. Untuk mengetahui kapasitas fiscal riil keuangan daerah, maka yang pertama dianalisis adalah seluruh pengeluaran periodik wajib dan prioritas utama pada masa sebelumnya.Selanjutnya dilakukan perhitungan dan analisis proyeksi pendapatan daerah dan belanja daerah dengan terlebih dahulu melakukan proyeksi asumsi makro ekonomi daerah seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, tingkat pengangguran. Tujuan dari perhitungan asumsi makro adalah untuk mengetahui besaran pendapatan dan belanja yang diperlukan dalam lima tahun kedepan. 3.3.1. Analisis Pengeluaran Periodik Wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Belanja yang sifatnya wajib adalah belanja yang harus dianggarkan setiap tahun anggaran. Untuk belanja tidak langsung, secara absolute meningkat setiap tahun dari Rp.921 Milyar lebih pada Tahun 2008 menjadi Rp.1,70 Trilyun lebih pada Tahun 2012 dengan pertumbuhan yang cukup fluktuatif rata-rata 17,05 persen pertahun. Pada tahun 2012, keuangan daerah mengalami defisit anggaran. Komponen belanja wajib pada belanja tidak langsung terbesar adalah belanja bagi hasil kab/kota dengan rata-rata Rp.727,98 milyar lebih per tahun atau rata-rata pertumbuhan 10,90 persen dari total belanja wajib tidak langsung. Untuk belanja tambahan penghasilan bertumbuh cukup signifikan pada tahun 2012 dan diprediksikan mengalami peningkatan setiap tahun pada lima tahun ke depan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-29

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.13. Pengeluaran Periodik, Wajib Dan Mengikat Serta Prioritas Utama Provinsi Sulsel Tahun 2008-2012
Tahun 2008 (real) NO. A 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 B 1 2 3 4 5 6 7 8 C 1 2 URAIAN BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Gaji dan Tunjangan Tambahan Penghasilan PNSD Belanja Penerimaan Anggota dan Pimpinan DPRD serta operasional KDH/WKDH Biaya Pungut PBB Tambahan Penghasilan Guru PNSD Insentif Pajak Daerah Insentif Retribusi Daerah Insentif Komisioner Belanja Bunga Belanja Hibah PILKADA Belanja Bagi Hasil Kab/Kota BELANJA LANGSUNG Belanja telepon Belanja air Belanja listrik Belanja Pajak Bumi dan Bangunan Belanja Premi Asuransi Belanja Perawatan Kendaraan Bermotor Belanja Sewa Perlengkapan dan Peralatan Kantor Belanja Beasiswa Pendidikan PNS PEMBIAYAAN PENGELUARAN Pembentukan Dana Cadangan Pembayaran Pokok Utang TOTAL (A+B+C) 400.000.000,00 487.019.715.573,87 44.757.459.149,22 4,63 4.185.938.891,00 2.139.695.400,00 9.550.444.500,00 89.650.000,00 1.953.084.750,00 22.981.756.108,22 2.152.839.500,00 1.704.050.000,00 700.000.000,00 700.000.000,00 967.420.992.001,09 400.000.000,00 532.928.635.345,44 42.881.694.946,00 3,93 4.041.587.823,00 2.300.844.235,00 10.447.697.186,00 90.000.000,00 1.843.177.000,00 21.483.971.702,00 1.517.367.000,00 1.157.050.000,00 761.400.000,00 761.400.000,00 1.092.055.383.679,03 150.000.000,00 544.406.332.099,95 50.673.022.109,20 4,53 4.126.851.386,00 2.094.901.609,96 13.439.902.176,04 280.222.626,00 2.067.660.000,00 26.260.884.311,20 1.777.100.000,00 625.500.000,00 700.000.000,00 700.000.000,00 1.118.327.562.926,65 150.000.000,00 681.996.825.626,41 51.574.415.415,00 3,78 3.936.199.743,00 2.453.326.450,00 14.267.429.702,00 166.215.626,00 2.183.100.000,00 25.949.371.394,00 2.203.822.500,00 414.950.000,00 700.000.000,00 700.000.000,00 1.363.921.664.723,86 50.000.000,00 245.758.368.075,00 727.988.101.116,22 49.548.226.295,00 2,83 3.628.278.700,00 2.693.226.000,00 14.312.827.592,00 257.241.504,00 2.018.160.000,00 24.688.239.499,00 1.566.653.000,00 383.600.000,00 1.752.010.300.256,84 (3,45) 6,37 11,13 56,46 1,14 2,42 (4,33) (29,81) 0,18 0,18 16,43 10,90 2,96 (32,29) Rp. 921.963.532.851,87 95,37 345.198.327.147,49 21.112.127.000,00 10.464.726.270,00 3.142.888.693,00 54.625.748.167,51 Tahun 2009 (real) Rp. 1.048.412.288.733,03 96,07 389.226.920.452,08 52.935.650.000,00 10.010.501.509,00 1.814.924.846,00 61.095.656.580,51 Tahun 2010 (real) Rp. 1.066.954.540.817,45 95,47 404.177.948.017,00 73.184.625.272,00 10.267.872.402,00 2.193.134.920,00 2.460.000.000,00 30.114.628.106,50 Tahun 2011 (real) Rp. 1.311.647.249.308,86 96,22 441.267.307.431,81 133.103.182.844,65 11.037.647.614,01 2.174.007.413,00 1.062.000.000,00 40.611.219.358,98 245.059.020,00 Tahun 2012 (real) Rp. 1.702.462.073.961,84 97,17 463.253.625.759,00 197.301.378.273,00 11.643.140.190,00 738.000.000,00 55.129.469.859,62 599.990.689,00 7,69 79,77 2,80 (21,83) 7,93 36,21 Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi 17,05

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013 Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-30

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Berdasarkan uraian dan penyajian tabel sebelumnya, secara umum disimpulkan mengenai analisi kebijakan penggunaan anggaran belanja antara lain : (i) Proporsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (belanja tidak langsung) dalam APBD setiap tahunnya rata-rata 29,86 persen dari total belanja daerah yang berarti masih tergolong rendah sehingga kondisi ini masih searah yang diinginkan oleh nasional mengenai proporsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan di luar belanja untuk aparatur berkisar 71,42 persen. (ii) Faktor penyebab yang melatarbelakangi besaran proporsi belanja untuk pemenuhan kebutuhan aparatur (belanja tidak langsung) antara lain karena didalam belanja tidak langsung teralokasi belanja bantuan sosial, belanja hibah serta belum diterapkannya sistem penganggaran dengan menggunakan Standar Analisa Belanja (SAB), belum efektifnya pola pengintegrasian antara target capaian pada Standar Pelayanan Minimum dengan penganggarannya. Selain itu, masih belum optimalnya pemanfaatan potensi serta rendahnya realisasi PAD menyebabkan masih sebagian besar alokasi DAU diserap untuk memenuhi kebutuhan belanja tidak langsung khususnya pada belanja wajib, sehingga alokasi belanja langsung menjadi sangat terbatas. 3.3.2. Proyeksi Data Peningkatan efektifitas pengelolaan keuangan daerah adalah sebuah tuntutan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah dirumuskan dalam periode 20132018.Pengelolaan Keuangan Daerah yang dimaksudkan meliputi pengelolaan pendapatan, pengelolaan belanja dan pengelolaan pembiayaan.Untuk menghasikan pengelolaan keuangan yang lebih efisien dan efektif terutama terkait dengan proyeksi peningkatan pendapatan daerah, belanja pemerintah dan defisit anggaran yang tidak melampaui ambang batas sesuai dengan peraturan yang ada, penetapan asumsi-asumsi yang akurat sebagai dasar rencana pengelolaan keuangan daerah menjadi prasyarat yang harus dipenuhi. Ada dua asumsi yang digunakan terkait dengan penyusunan rencana pengelolaan keuangan daerah, yaitu : (i) perkembangan ekonomi makro daerah, seperti pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan perkapita dan tingkat inflasi; dan (ii) pokok-pokok kebijakan fiskal Daerahyang ditetapkan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah, seperti perkiraan PAD, Dana Perimbangan dan Pendapatan lain-lain yang sah. Tabel 3.14 Asumsi APBD Provinsi Sulawesi SelatanTahun 2013-2018
No I. A. B. C D. E. Asumsi Ekonomi Makro Daerah Pertumbuhan Ekonomi Penduduk Miskin (Persen) Pengangguran Terbuka (Persen) Angka Melek Huruf Pendapatan Per Kapita (Juta) 2013 8,37 9,82 5,87 88,73 19 2014 7,80-8,00 8,5-9,0 5,70 90,14 22 Tahun 2015 2016 7,50-8,20 7,5-8,0 5,50 92,57 26 2017 8,00-8,20 6,5-7,5 5,40 93,78 28 2018 8,20-8,40 5,0-6,5 5,30 95,00 30

7,70-8,10 8,0-8,5 5,6 91,35 23

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-31

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

No II. A. B. C.

2013 Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal PAD (Rp. Juta) 2.641.160.646.495 Dana 1.464.742.120.541 Perimbangan (Rp Juta) Pendapatan lain890.596 lain yang sah (Rp Juta)

Asumsi

2014 3.062.836 1.573.061 910.188

Tahun 2015 3.378.301 1.717.393 924.625

2016 3.670.867 1.842.527 934.668

2017 3.972.415 1.947.679 1.001.010

2018 4.308.436 2.143.363 1.011.370

Sumber : Bappeda Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Pertumbuhan pendapatan diharapkan lebih baik dibandingkan periode lima tahun sebelumnya, dengan asumsi kegiatan ekonomi sector riil semakin meningkat yang akan memberi dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kemampuan daya beli masyarakat Sulawesi Selatan. Untuk itu PAD diharapkan meningkat 63,13 %, Dana Perimbangan sebesar 46,33 % dan Pendapatan lain-lain yang sah turun sekitar 13,56%. a. Strategi Peningkatan Pendapatan Daerah Dalam rangka memaksimalkan penerimaan pendapatan daerah Provinsi Sulawesi Selatan, kebijakan umum pengelolaan pendapatan daerah diarahkan kepada upaya untukmeningkatkan kapasitas fiskal daerah melalui peningkatan intensitas dan efektifitas program intensifikasi dan ekstensifikasi pengelolaansumber-sumber pendapatan daerah yang mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan memperhatikan aspek kewenangan, potensi daerah, aspek keadilan dan kepatutan, serta kemampuan masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk terus meningkatkan kemandirian daerah dengan semakin memperbesar peranan PAD sebagai sumber pembiayaan utama dalam struktur APBD Provinsi Sulawesi Selatan. Sampai dengan akhir periode RPJMD ini, ditargetkan kontribusi PAD terhadap total Pendapatan Daerah mencapai 58%. Untuk meningkatkan kemampuan fiskal Daerah, pemerintah daerah perlu mengedepankan sumber-sumber pembiayaan yang potensinya besar untuk menjadi fokus program dan kegiatan. Dilihat dari struktur APBD Provinsi Sulawesi Selatan, penerimaan yang bersumber dari kendaraan bermotor, yaitu Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor merupakan sumber pendapatan primadona dengan kontribusi rata-rata sebesar 94 % terhadap PAD dan sekitar 49 % terhadap APBD. Karena dampaknya yang begitu besar, maka pemerintah daerah perlu memberi perhatian khusus kepada ketiga jenis pajak tersebut, tentu saja dengan tidak mengabaikan sumber-sumber pendapatan daerah lainnya. Dalam upaya meningkatkan pendapatan daerah, beberapa strategi yang perlu dilakukan antara lain: (1) Penyesuaian regulasi sebagai dasar hukum pemungutan dan penguatan pengelolaan pemungutan; (2) Penguatan kelembagaan dan SDM petugas pemungut pajak dan retribusi (3) Penggalian potensi pendapatan baru sesuai kewenangan dan peraturan perundangundangan, terutama di luar pajak dan retribusi daerah; (4) Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan pendapatan daerah dengan memanfaatkan sistem informasi yang berbasis teknologi informasi; (5) Mendorong pembentukan sistem pembayaran pendapatan daerah yang langsung ke bank/lembaga keuangan;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 III-32

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

(6) (7) (8) (9)

Meningkatkan koordinasi, kerjasama dan dukungan antar SKPD yang terkait dengan pengelolaan pendapatan daerah; Meningkatkan evaluasi, monitoring dan pengawasan atas pengelolaan pendapatan daerah; Meningkatkan partisipasi dan peranan Pihak Ketiga penyediaan biaya pembangunan daerah; Khusus untuk Pajak Daerah, peningkatan pengelolaan pajak dilakukan melalui: a) meningkatkan intensitas dan efektivitas penagihan tunggakan pajak; b) meningkatkan kemudahan pembayaran pajak melalui: Peningkatan kapasitas sistem on line pembayaran pajak, Samsat Keliling, peningkatan efektivitas drive thru, penyederhanaan sistem dan prosedur pembayaran pajak. c) meningkatkan informasi dan komunikasi perpajakan daerah; d) meningkatkan efektivitas koordinasi dan keterbukaan antar instansi yang terkait dengan pelayanan perpajakan daerah. e) membentuk system pembayaran pajak melalui electronic payment(e-payment) dan secara bertahap menghapuskan system pembayaran pajak melalui petugas pajak. f) Pembentukan PPNS pajak daerah dan juru sita pajak daerah

b. Proyeksi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2013-2018 Beberapa kondisi yang mempengaruhi pendapatan daerah secara langsung adalah pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat, regulasi, iklim usaha yang kondusif, keamanan dan stabilitas sosial politik, serta kebijakan pemerintah daerah. Dengan asumsi semua kondisi tersebut di atas berada pada tingkat yang optimum, dan tidak ada perubahan regulasi atau regulasi baru yang bersifat kontraproduktif dengan kelancaran pengelolaan pendapatan daerah, maka dipredikasi pendapatan daerah akan terus meningkat secara signifikan sebagaimana dalam tabel berikut ini. c. Belanja Daerah pada tahun 2013 - 2018 Pembangunan kedepan membutuhkan suatu perencanaan sistimatis terutama terhadap kerangka Pendanaan dan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama lima tahun kedepan. Berdasarkan proyeksi penerimaan daerah, belanja, pengeluaran pembiayaan yang wajib/ mengikat dan prioritas utama serta belanja tidak mengikat, maka dapat diproyeksikan kapasitas riil keuangan daerah untuk membiayai program/kegiatan selama lima tahun kedepan (2013-2018) dalam Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan. Anggaran Belanja Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Selatan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan public terutama masyarakat miskin yang kurang beruntung (pro-poor), pertumbuhan ekonomi (Pro-growth), perluasan lapangan kerja (pro-job) dan berwawasan lingkungan (pro-enviroment). Dengan berpedoman pada prinsip-prinsip penganggaran, belanja daerah disusun melalui pendekatan anggaran berbasis kinerja yang berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan dengan memperhatikan prestasi kerja setiap satuan kerja perangkat daerah dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan akuntabilitas perencanaan anggaran serta menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran ke dalam program dan kegiatan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-33

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.15 Proyeksi Pendapatan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018
No.
1

JENIS PENDAPATAN
2

TARGET 2013
3

PROYEKSI 2014
4

PROYEKSI 2015
5

PROYEKSI 2016
6

PROYEKSI 2017
7

PROYEKSI 2018
8

peningk. dari 20132018


9

Rata2/Thn
10

I. A. B C D II. A. 1 2 B C III.

PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) PAJAK DAERAH RETRIBUSI DAERAH HASIL PERUSDA DAN KEKAYAAN DAERAH YANG DIPISAHKAN LAIN-LAIN P A D YANG SAH DANA PERIMBANGAN BAGI HASIL Bagi Hasil Pajak Bagian Hasil Bukan Pajak/ S D A DANA ALOKASI UMUM DANA ALOKASI KHUSUS LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH

2.641.160.646.495 2.336.516.471.172 69.783.226.700 71.344.948.623

3.062.836.598.401,00 2.790.139.679.684 73.190.590.700 67.751.328.017

3.378.301.525.000 3.066.431.100.000 55.275.425.000 71.525.000.000

3.670.867.980.000 3.331.462.480.000 63.638.000.000 73.800.500.000

3.972.415.770.000 3.603.531.450.000 71.448.620.000 76.350.500.000

4.308.436.600.000 3.910.994.900.000 78.539.400.000 78.001.000.000

63,13% 67,39% 12,55% 9,33%

13% 13% 3% 2%

163.516.000.000 1.464.742.120.541 310.706.342.541 300.085.252.730 10.621.089.811 1.089.771.438.000 64.264.340.000 890.596.560.000

131.755.000.000 1.573.061.517.259 290.486.296.259 278.891.983.359 10.594.312.900 1.209.598.741.000 72.976.480.000 910.188.802.000

185.070.000.000 1.717.393.466.280 323.455.050.000 309.389.050.000 14.066.000.000 1.306.366.640.280 87.571.776.000 924.625.000.000

201.967.000.000 1.842.527.050.000 352.764.400.000 339.003.600.000 13.760.800.000 1.397.812.300.000 91.950.350.000 934.668.250.000

221.085.200.000 1.947.679.750.000 380.671.250.000 366.595.250.000 14.076.000.000 1.467.702.000.000 99.306.500.000 1.001.010.750.000

240.901.300.000 2.143.363.150.000 412.052.450.000 395.762.250.000 16.290.200.000 1.555.760.100.000 175.550.600.000 1.011.370.850.000

47,33% 46,33% 32,62% 31,88% 53,38% 42,76% 173,17% 13,56%

10% 9% 7% 6% 11% 9% 35% 3%

TOTAL PENDAPATAN 4.996.499.327.036 Sumber : Dinas Pendapatan Daerah Prov. Sul-Sel Tahun 2013

5.546.086.917.660,00

6.020.319.991.280

6.448.063.280.000

6.921.106.270.000

7.463.170.600.000

49,37%

10%

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-34

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Kebijakan belanja daerah tahun 2013-2018 diarahkan untuk mendukung pencapaian sasaran program prioritas pembangunan daerah, dilakukan melalui pengaturan pola pembelanjaan yang proporsional, efisien dan efektif yaitu : Gratis Lima juta Paket Bibit Pertanian, Peternakan, Perkebunan, Perikanan dan 100 juta Bibit Tanaman Hutan, Gratis modal Pengembangan Usaha Mikro Kecil, Gratis paket modal pengembangan 100 wirausaha pedesaan pada setiap desa, Pembangunan industri minimal 24 unit sesuai potensi Kab/Kota di Sulawesi Selatan, membuka 500 ribu lapangan kerja baru dalam rangka penurunan presentase jumlah pengangguran dan Gratis Paket kualitas Rumah Rakyat Miskin, Gratis biaya pendidikan bagi mahasiswa terpilih untuk sekolah kejuruan khusus seperti sekolah penerbangan, pramugari, SMK pertanian, perkebunan, perikanan dan melanjutkan beasiswa bagi mahasiswa S2 dan S3, Gratis peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui Boarding Scholl untuk Guru SD, SMP, SMA, Guru mnegaji, Muballig, Khatib dan Alim Ulama serta mengentaskan 4 Kabupaten Daerah Tertinggal (Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Toraja Utara, Jeneponto dan Kepulauan Selayar). Pemeliharaan dan pembangunan infrastruktur wilayah dan kawasan untuk mendukung pengembangan aktifitas ekonomi yang kesemuanya berujung pada peningkatan pendapatan perkapita sebesar Rp. 30 juta per tahun. Serta program pendidikan dan kesehatan gratis adalah suatu program dari Pemerintah Provinsi Sulawesi selatan yang termasuk dalam program prioritas yang harus dilaksanakan dan diharapkan dapat memenuhi kewajiban dari peraturan perundang undangan.Proyeksi SiLPA Riil Tahun 2013-2018 diperkirakan mengalami kenaikan minimal 10% sebaperti terlihat pada tabel berikut : Tabel 3.16 Proyeksi SiLPA Riil Pemerintah Provinsi Sulsel Tahun 2013-2018
Realisasi URAIAN Tahun Dasar 2012 Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran 27 42.212.450.093, 60 Tahun 2013 (Rp) 46.433.695.102, 86 Tahun 2014 (Rp) 51.077.064.612, 14 Tahun Proyeksi Tahun 2015 (Rp) 56.184.771.074, 56 Tahun 2016 (Rp) 61.803.248.181, 71 67.983.572.999, Tahun 2017 Tahun 2018 (Rp) 74.781.930.299,68

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Berdasarkan data-data diatas maka perkiraan kapasitas riil kemampuan keuangan daerah untuk mendanai pembangunan dalam jangka waktu lima tahun mendatang yaitu tahun 2013-2018 disajikan sebagai betrikut : 3.3.3. Penghitungan Kerangka Pendanaan Kerangka pendanaan bertujuan untuk menghitung kapasitas riil keuangan daerah yang akan dialokasikan untuk pendanaan program pembangunan jangka menengah daerah selama 5 (lima) tahun ke depan. Berdasarkan proyeksi penerimaan daerah dan belanja serta pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama serta belanja tidak mengikat, maka dapat diproyeksikan kapasitas riil keuangan daerah yang akan digunakan untuk membiayai program/kegiatan selama 5 tahun kedepan (2012 2017) dalam Rencana Pembangunan Jangka menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-35

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.17 Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah untuk Mendanai Pembangunan Daerah Provinsi Sulsel Tahun 2013 2018
NO 1 2 3 4 5 URAIAN Pendapatan Pencairan dana cadangan Sisa Lebih Riil Perhitungan Anggaran Total Penerimaan Dikurangi : Belanja dan Pengeluaran Pembiayaan yang wajib dan Mengikat serta Prioritas Utama Kapasitas riil kemampuan keuangan Tahun 2013 (Rp) 4.996.499.327.036,00 46.433.695.102,60 5.068.999.293.631,60 1.920.816.230.608,16 Tahun Proyeksi Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018 (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) 5.546.086.917.660,00 6.020.319.991.280,00 6.448.063.280.000,00 6.921.106.270.000,00 7.463.170.600.000,00 51.077.064.612,86 56.184.771.074,14 61.803.248.181,56 67.983.572.999,71 74.781.930.299,68 5.685.628.692.612,86 6.151.125.621.074,14 6.626.782.048.181,56 7.136.265.072.999,71 7.679.040.930.299,68 2.083.734.310.778,23 2.415.853.722.183,59 2.635.374.876.055,16 3.109.351.937.024,86 3.190.016.672.065,75

3.148.183.063.023,44

3.601.894.381.834,62 3.735.271.898.890,55 3.991.407.172.126,39 4.026.913.135.974,86 4.489.024.258.233,93

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-36

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.18 Rencana Penggunaan Kapasitas Riil Kemampuan Keuangan Daerah Provinsi Sulsel Tahun 2013 2018
NO. I II.a II.b II.c II.d II URAIAN Kapasitas riil kemampuan keuangan Rencana alokasi pengeluaran prioritas I Belanja Langsung Pembentukan Dana Cadangan Dikurangi : Belanja Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Pengeluaran pembiayaan yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas (IIa+IIb-IIc-IId) Sisa kapasitas riil kekampuan keuangan daerah setelah menghitung alokasi pengeluaran prioritas I (I+II) Rencana alokasi pengeluaran prioritas II Belanja Tidak Langsung Dikurangi : Belanja Tidak Langsung yang wajib dan mengikat serta prioritas utama Total rencana pengeluaran prioritas II (III.a-III.b) Surplus anggaran riil atau Berimbang (I-II-III) Proyeksi Tahun 2013 (Rp) 3.148.183.063.023,44 2.071.809.060.121,00 62.612.735.559,22 1.630.000.000,00 2.007.566.324.561,78 5.155.749.387.585,22 Tahun 2014 (Rp) 3.601.894.381.834,62 2.251.837.963.362,59 60.717.058.933,00 2.191.120.904.429,59 5.793.015.286.264,21 Tahun 2015 (Rp) 3.735.271.898.890,55 2.288.625.023.850,75 71.393.224.908,20 136.000.000.000,00 2.081.231.798.942,55 5.816.503.697.833,10 Tahun 2016 (Rp) 3.991.407.172.126,39 2.494.235.820.021,32 78.823.659.915,00 136.000.000.000,00 2.279.412.160.106,32 6.270.819.332.232,72 Tahun 2017 4.026.913.135.974,86 2.528.245.283.388,52 83.467.541.955,00 136.000.000.000,00 2.308.777.741.433,52 6.335.690.877.408,38 Tahun 2018 (Rp) 4.489.024.258.233,93 2.846.633.051.328,05 87.586.706.959,00 92.000.000.000,00 2.667.046.344.369,05 7.156.070.602.602,98

III.a III.b III

3.572.588.057.332,94 1.858.203.495.048,94 1.714.384.562.284,00 (573.767.823.822,34)

3.621.572.333.983,04 2.023.017.251.845,23 1.598.555.082.137,80 (187.781.604.732,77)

3.840.314.290.001,92 2.208.460.497.275,39 1.631.853.792.726,53 22.186.307.221,48

4.129.059.074.547,68 2.420.551.216.140,16 1.708.507.858.407,52 3.487.153.612,55

4.618.168.172.969,12 2.889.884.395.069,86 1.728.283.777.899,27 (10.148.383.357,94)

4.793.461.148.839,08 3.010.429.965.106,75 1.783.031.183.732,33 38.946.730.132,55

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-37

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Berdasarkan kebijakan kapasitas riil kemampuan anggaran daerah, selanjutnya perlu ditetapkan kebijakan alokasi tentatif dari kapasitas riil kemampuan anggaran daerah tersebut kedalam berbagai program sesuai urutan prioritas. Prioritas program dilkelompokkan menjadi Kelompok Prioritas I, Kelompok Prioritas II, Kelompok Prioritas III. Kelompok Prioritas I mendapat Prioritas pertama sebelum Kelompok Prioritas II. Kelompok Prioritas III mendapat alokasi anggaran setelah Kelompok Prioritas I dan II terpenuhi kebutuhan dananya. Adapun ketentuan prioritas anggaran sebagai berikut: Tabel 3.19 Ketentuan Umum Kelompok Prioritas Anggaran Provinsi Sulawesi Selatan KELOMPOK KETENTUAN UMUM PRIORITAS 1 2 Merupakan program pembangunan daerah dengan tema atau program unggulan (dedicated) Kepala Daerah sebagaimana diamanatkan dalam RPJMN dan amanat/kebijakan nasional yang definitif harus dilaksanakan oleh daerah pada tahun rencana, termasuk untuk prioritas bidang pendidikan 20% dan kesehatan 10% sesuai ketentuan teknis yang berlaku. Program KP I terdiri dari kebijakan prioritas yaitu Gratis SPP bagi mahasiswa baru, baik PTN maupun PTS, Bantuan Lima Juta Paket Bibit Pertanian, Peternakan, Perkebunan, Perikanan dan 100 juta Bibit Tanaman Hutan, Gratis Modal Pengembangan Usaha Mikro Kecil, Gratis paket modal pengembangan 100 wirausaha pedesaan pada setiap desa, dukungan untuk fasilitasi dan regulasi pembangunan industri minimal 24 unit sesuai potensi Kab/Kota di Sulawesi Selatan, Membuka 500 ribu lapangan kerja baru, Gratis Paket peningkatan kualitas Rumah Rakyat Miskin, Melanjutkan Pendidikan Gratis sampai tingkat SMA, Melanjutkan kesehatan gratis, Gratis biaya pendidikan bagi mahasiswa terpilih untuk sekolah Kejuruan Khusus seperti sekolah penerbangan, pramugari, SMK pertanian, perkebunan, perikanan dan melanjutkan beasiswa bagi mahasiswa S2 dan S3 secara terbatas, Gratis peningkatan kualitas pengajar melalui Boarding School untuk ; Guru SD, SMP, SMA, Guru Mengaji, Mubalig, Khatib dan Alim Ulama. Program KP I juga memuat kebijakan strategis antara lain Program Pengembangan Pendidikan, Kepemuadaan, dan Keolahragaan; Program Kapasitas Infrastruktur Daerah; Program Pengembangan Kawasan Strategis; dan Program Pengelolaan Sumberdaya Air dan Peningkatan Kapasitas Infrastruktur Organisasi. Disamping itu, KP I juga diperuntukkan bagi prioritas belanja yang wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. PRIORITAS II (KP II) Program KP II merupakan program prioritas di tingkat SKPD yang tidak terkait langsung dengan pelayanan masyarakat dan merupakan penjabaran dari analisis per urusan.

PRIORITAS I (KP I)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-38

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

KELOMPOK PRIORITAS

KETENTUAN UMUM KP II berhubungan dengan program/kegiatan unggulan SKPD yang paling berdampak luas pada masing-masing segmentasi masyarakat yang dilayani sesuai dengan prioritas dan permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan layanan dasar serta tugas dan fungsi SKPD termasuk peningkatan kapasitas kelembagaan yang berhubungan dengan itu

PRIORITAS III (KP III)

KP III merupakan prioritas yang dimaksudkan untuk alokasi belanja-belanja tidak langsung seperti : tambahan penghasilan PNS, belanja hibah, belanja bantuan sosial kemasyarakatan, serta belanja tidak terduga. Pengalokasian dana pada KP III harus memperhatikan (mendahulukan) pemenuhan dana pada prioritas I dan II terlebih dahulu untuk menunjukkan urutan prioritas yang benar.

Berdasarkan uraian ketentuan umum dan pertimbangan-pertimbangan pada Tabel 3.19, maka jumlah alokasi anggaran pembangunan masing-masing prioritas seperti dituangkan pada Tabel 3.19

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-39

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.20 Jumlah Anggaran Berdasarkan Kelompok Prioritas Provinsi Sulsel Tahun Anggaran 2013-2018
KELOMPOK PRIORITAS KP I KP II KP III TAHUN

NO. 1 2 3

2013

2014

2015

2016

2017

2018

1.729.268.208.957,00 1.830.246.176.347,19 1.844.035.450.015,42 2.023.138.293.411,31 2.035.225.426.590,38 2.316.182.090.659,57 345.290.442.164,00 399.303.923.015,40 420.358.619.166,17 452.935.010.308,73 481.477.850.742,66 527.677.504.072,38

3.572.588.057.332,94 3.748.810.578.014,46 3.953.790.790.147,07 4.150.342.855.407,82 4.637.438.062.885,28 4.784.206.977.840,14 5.647.146.708.453,94 5.978.360.677.377,05 6.218.184.859.328,66 6.626.416.159.127,85 7.154.141.340.218,31 7.628.066.572.572,09

Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-40

Bab III Gambaran Pengelolaan Keuangan Daerah Serta Kerangka Pendanaannya

Tabel 3.21 Jumlah Anggaran Berdasarkan Belanja Lansung dan Tidak Lansung Provinsi Sulsel Tahun Anggaran 2013-2018
NO. 1 BELANJA BELANJA LANGSUNG BELANJA TDK LANGSUNG TAHUN 2013 2.074.558.651.121,00 36,74 2 3.572.588.057.332,94 63,26 5.647.146.708.453,94
Sumber : BPKD Prov. Sul-Sel Tahun 2013

2014 2.229.550.099.362,59 37,29 3.748.810.578.014,46 62,71 5.978.360.677.377,05

2015 2.264.394.069.181,59 36,42 3.953.790.790.147,07 63,58 6.218.184.859.328,66

2016 2.476.073.303.720,03 37,37 4.150.342.855.407,82 62,63 6.626.416.159.127,85

2017 2.516.703.277.333,03 35,18 4.637.438.062.885,28 64,82 7.154.141.340.218,31

2018 2.843.859.594.731,95 37,28 4.784.206.977.840,14 62,72 7.628.066.572.572,09

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

III-41

Tabel. 3.22 KEBIJAKAN ALOKASI ANGGARAN PROVINSI SULAWESI SELATAN TAHUN 2013-2018
NO. KELOMPOK PRIORITAS TARGET TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2015 PROYEKSI TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018

1 2

KELOMPOK PRIORITAS I Dinas Pendidikan Dinas Kesehatan + BKOM


UPTD PUS. PLYN KESH. GIGI & MULUT UPTD AKPER ANGING MAMMIRI UPTD BALAI KES. KULIT, KLMN & KSMTK UPTD BALAI KESH KERJA MASY. UPTD BALAI PELAYANAN KESEHATAN UPTD TRANFUSI DARAH UPTD RS SAYANG RAKYAT

1.729.268.208.957,00
14.829.000.000,00 12.346.571.000,00 4.350.000.000,00 9.350.000.000,00 3.150.000.000,00 2.009.473.000,00 1.750.000.000,00 6.150.000.000,00 12.215.408.900,00 44.514.561.400,00 32.618.570.800,00 25.523.488.600,00 17.668.517.900,00 14.434.191.400,00 835.456.496.293,00 124.109.395.700,00 75.055.325.000,00 25.776.000.000,00 24.538.278.000,00 12.400.000.000,00 4.649.000.000,00 11.562.400.000,00 9.100.000.000,00 13.585.175.000,00 13.978.815.600,00 45.600.000.000,00 15.745.000.000,00 20.935.000.000,00 11.524.000.000,00 104.646.716.000,00 29.248.358.000,00 28.231.052.000,00 16.810.000.000,00 14.361.978.000,00 23.270.000.000,00 32.933.335.714,00 34.842.100.650,00

1.830.246.176.347,19
105.848.978.800,00 39.899.229.394,41 4.774.441.275,70 9.500.000.000,00 3.500.000.000,00 2.208.388.080,36 1.922.831.469,65 6.744.957.236,95 13.436.949.790,00 46.939.174.346,47 35.880.427.880,00 26.854.494.330,00 18.603.058.245,00 15.194.484.670,00 550.428.527.840,99 146.483.755.000,00 109.000.000.000,00 27.000.000.000,00 110.092.278.000,00 13.000.000.000,00 6.000.000.000,00 12.000.000.000,00 12.497.300.000,00 38.000.000.000,00 15.000.000.000,00 30.000.000.000,00 25.000.000.000,00 21.000.000.000,00 13.000.000.000,00 113.426.716.000,00 44.662.750.167,10 44.293.358.000,00 17.000.000.000,00 24.913.643.000,00 24.500.000.000,00 57.370.999.000,00 44.269.433.820,56

1.844.035.450.015,42
119.858.584.531,00 45.339.834.459,13 5.013.163.339,49 9.975.000.000,00 3.675.000.000,00 2.318.807.484,38 2.018.973.043,14 7.082.205.098,80 14.108.797.279,50 49.344.921.133,79 37.755.377.814,00 28.257.533.476,50 19.589.437.052,25 15.996.650.973,50 341.186.758.783,04 159.082.130.500,00 191.750.000.000,00 29.131.948.855,93 138.401.505.800,00 13.650.000.000,00 6.300.000.000,00 13.200.000.000,00 12.952.300.000,00 38.400.000.000,00 16.200.000.000,00 31.500.000.000,00 65.750.000.000,00 22.050.000.000,00 14.090.871.703,94 122.719.387.600,00 46.175.555.575,45 45.789.693.800,00 17.850.000.000,00 26.630.007.300,00 25.725.000.000,00 59.183.098.900,00 45.982.905.511,58

2.023.138.293.411,31
136.001.830.005,00 53.216.617.905,04 5.765.137.840,41 11.471.250.000,00 4.226.250.000,00 2.666.628.607,03 2.321.818.999,61 8.144.535.863,62 16.225.116.871,43 56.610.963.015,10 43.329.663.092,10 32.429.817.624,98 22.466.004.125,59 18.349.462.342,53 402.077.267.733,65 177.792.843.550,00 191.940.000.000,00 32.087.832.025,16 127.041.656.380,00 15.697.500.000,00 6.930.000.000,00 15.180.000.000,00 13.430.050.000,00 45.240.000.000,00 18.630.000.000,00 36.225.000.000,00 68.112.500.000,00 24.255.000.000,00 15.359.833.874,33 132.263.826.360,00 48.981.111.133,00 48.560.663.180,00 19.635.000.000,00 29.993.008.030,00 28.297.500.000,00 62.601.408.790,00 49.581.196.062,74

2.035.225.426.590,38
152.107.996.918,00 58.888.273.695,54 6.341.651.624,46 12.618.375.000,00 4.648.875.000,00 2.933.291.467,74 2.554.000.899,57 8.958.989.449,98 17.847.628.558,57 62.272.059.316,61 47.662.629.401,31 35.672.799.387,47 24.712.604.538,15 20.184.408.576,78 444.364.948.506,29 168.072.127.905,00 75.680.000.000,00 35.354.067.153,84 123.945.822.018,00 16.482.375.000,00 7.969.500.000,00 17.457.000.000,00 14.934.962.500,00 50.626.000.000,00 21.424.500.000,00 41.658.750.000,00 70.829.375.000,00 27.893.250.000,00 16.895.817.261,77 145.990.208.996,00 50.796.722.246,30 51.608.729.498,00 20.616.750.000,00 27.828.183.833,00 30.278.325.000,00 65.538.612.169,00 51.575.815.669,02

2.316.182.090.659,57
169.858.249.267,00 77.122.533.585,10 6.975.816.786,90 13.880.212.500,00 5.113.762.500,00 3.226.620.614,51 2.809.400.989,52 9.854.888.394,98 19.632.391.414,42 68.499.265.248,27 52.428.892.341,44 39.240.079.326,22 27.183.864.991,96 22.202.849.434,46 551.130.991.836,12 184.879.340.695,50 83.148.000.000,00 39.572.947.797,98 155.140.404.219,80 18.130.612.500,00 8.766.450.000,00 19.202.700.000,00 16.588.728.750,00 56.219.900.000,00 23.566.950.000,00 45.824.625.000,00 57.912.312.500,00 30.682.575.000,00 18.585.398.987,94 160.589.229.895,60 54.064.394.470,93 56.156.930.647,80 22.678.425.000,00 32.411.002.216,30 33.306.157.500,00 71.861.789.010,90 57.733.397.235,92

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

RSUD Labuang Baji RSKD RSU. Haji Makasar RSIA Sitti Fatimah Rumah Sakit Bersalin Pertiwi Dinas Bina Marga Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Dinas Tata Ruang dan Pemukiman BAPPEDA Dinas Perhubungan, Kom & Informatika Badan Lingkungan Hidup Daerah Badan Pemb. Perempuan dan KB Dinas Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Koperasi dan UMKM Badan Koord Penanaman Modal Daerah Dinas Kebudayaan & Kepariwisataan Dinas Pemuda dan Olahraga Badan Pemberdayaan Masy. PD & K Badan Perpustakaan & Arsip Daerah Dinas Pertanian T.Pangan & Horti Dinas Perkebunan Dinas Peternakan & Kesehatan Hewan Sekretariat Badan Koord. Penyuluhan Dinas Kehutanan Dinas Energi & Sumberdaya Mineral Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Perindustrian dan Perdagangan

KELOMPOK PRIORITAS II
1

345.290.442.164,00
111.001.040.000,00 3.750.000.000,00 2.430.000.000,00 3.700.000.000,00

399.303.923.015,40
131.836.063.576,76 4.957.266.735,45 3.748.000.000,00 4.500.000.000,00

420.358.619.166,17
138.324.866.755,60 5.205.130.072,22 3.935.400.000,00 4.725.000.000,00

452.935.010.308,73
148.454.853.431,16 5.725.643.079,44 4.328.940.000,00 5.197.500.000,00

481.477.850.742,66
155.515.075.403,68 6.011.925.233,42 4.545.387.000,00 5.457.375.000,00

527.677.504.072,38
166.882.939.674,04 6.613.117.756,76 4.999.925.700,00 6.003.112.500,00

Sekretariat Daerah Biro Pemerintahan Umum Biro Pemerintahan Daerah Biro Hukum & Ham

NO.

KELOMPOK PRIORITAS

TARGET TAHUN 2013 4.863.020.000,00 4.775.000.000,00 3.550.000.000,00 4.550.000.000,00 4.640.000.000,00 2.830.000.000,00 3.445.000.000,00 7.450.000.000,00 58.915.000.000,00 5.500.000.000,00 69.750.000.000,00 31.342.250.000,00 6.225.000.000,00 12.650.000.000,00 8.940.348.223,00 2.700.000.000,00 47.647.891.441,00 9.730.000.000,00 9.000.000.000,00 1.371.000.000,00 1.900.000.000,00 7.935.000.000,00 9.087.912.500,00 13.310.000.000,00 2.700.000.000,00 TAHUN 2014 5.500.000.000,00 6.500.000.000,00 5.500.000.000,00 5.000.000.000,00 5.500.000.000,00 3.500.000.000,00 5.104.201.500,00 8.857.789.500,00 66.000.000.000,00 6.546.930.500,00 73.500.000.000,00 35.237.417.590,83 8.000.000.000,00 15.800.000.000,00 10.000.000.000,00 3.500.471.582,69 56.030.286.013,05 13.100.000.000,00 10.299.684.252,08 2.500.000.000,00 2.500.000.000,00 8.000.000.000,00 10.500.000.000,00 15.000.000.000,00 3.500.000.000,00 TAHUN 2015 5.775.000.000,00 6.747.000.000,00 6.000.000.000,00 5.250.000.000,00 5.775.000.000,00 3.675.000.000,00 5.359.411.575,00 9.300.678.975,00 69.050.000.000,00 6.874.277.025,00 76.440.000.000,00 36.999.288.470,37 8.400.000.000,00 16.590.000.000,00 10.500.000.000,00 3.675.495.161,82 59.231.800.313,70 14.250.000.000,00 10.814.668.464,68 2.750.000.000,00 2.625.000.000,00 8.800.000.000,00 11.445.000.000,00 15.750.000.000,00 3.762.500.000,00

PROYEKSI TAHUN 2016 6.352.500.000,00 7.421.700.000,00 6.600.000.000,00 5.775.000.000,00 6.352.500.000,00 4.042.500.000,00 5.895.352.732,50 10.230.746.872,50 72.252.500.000,00 7.561.704.727,50 80.262.000.000,00 38.849.252.893,89 8.820.000.000,00 17.419.500.000,00 11.025.000.000,00 3.859.269.919,91 63.798.390.329,39 16.547.500.000,00 12.436.868.734,38 3.162.500.000,00 3.018.750.000,00 9.680.000.000,00 13.161.750.000,00 18.112.500.000,00 4.326.875.000,00 TAHUN 2017 6.670.125.000,00 7.644.351.000,00 6.930.000.000,00 6.063.750.000,00 6.670.125.000,00 4.244.625.000,00 6.190.120.369,13 10.742.284.216,13 75.615.125.000,00 7.939.789.963,88 87.124.888.750,00 40.791.715.538,58 9.261.000.000,00 18.116.280.000,00 11.576.250.000,00 4.052.233.415,91 68.284.309.845,86 17.274.875.000,00 13.120.896.514,77 3.320.625.000,00 3.169.687.500,00 10.696.400.000,00 14.477.925.000,00 19.936.126.273,86 4.759.562.500,00 TAHUN 2018 7.337.137.500,00 8.255.899.080,00 7.623.000.000,00 6.670.125.000,00 7.337.137.500,00 4.669.087.500,00 6.809.132.406,04 11.816.512.637,74 79.145.881.250,00 8.733.768.960,26 95.837.377.625,00 42.831.301.315,51 10.650.150.000,00 20.109.070.800,00 12.733.875.000,00 4.457.456.757,50 76.149.540.830,44 18.802.362.500,00 14.432.986.166,25 3.818.718.750,00 3.645.140.625,00 11.766.040.000,00 15.925.717.500,00 23.923.351.528,63 5.711.475.000,00

Biro Bina Perekonomian Biro Bina Pembangunan Biro Kerjasama Biro Bina Kesejahteraan Biro Mental Spiritual Biro NAPZA & HIV-AIDS Biro Organisasi & Kepegawaian Biro Humas & Protokol Biro Umum dan Perlengkapan Biro Pengelolaan Asset
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Sekretariat DPRD Badan Pengelolaan Keuangan Daerah BALITBANGDA Inspektorat Provinsi Kantor Penghubung Pemda Badan Lintas Kabupaten dan Kota Dinas Pendapatan Daerah Badan Pendidikan dan Pelatihan Badan Kepegawaian Daerah Sekretariat KPID Sekretariat Dewan Pengurus Korpri
Badan Penanggulangan Bencana Daerah

Badan Ketahanan Pangan Daerah Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Satuan Polisi Pamong Praja

KELOMPOK PRIORITAS III


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 16 17 18 GAJI DAN TUNJANGAN TAMBAHAN PENGHASILAN PNS BELANJA PENERIMAAN DPRD & KDH/WKDH BIAYA PUNGUT PBB TAMBAHAN PENGHASILAN GURU PNS INSENTIF PAJAK DAERAH INSENTIF RETRIBUSI DAERAH BUNGA HIBAH Organisasi Kemasyarakatan HIBAH Bea Mahasiswa Program S2 dan S3 HIBAH PILKADA HIBAH DANA BOS BANTUAN SOSIAL BAGI HASIL PAJAK DAERAH BANTUAN KEUANGAN BELANJA TIDAK TERDUGA POKOK PINJAMAN TOTAL BELANJA DAERAH BELANJA TDK LANGSUNG

3.572.588.057.332,94
507.283.715.556,00 201.426.250.000,00 11.990.145.389,74 2.413.797.530,00 729.000.000,00 66.654.177.158,89 503.078.225,00 46.250.000.000,00 29.967.000.000,00 52.448.000.000,00 177.899.831.236,00 964.666.830.000,00 2.000.000.000,00 843.053.499.953,31 650.302.732.284,00 15.000.000.000,00 5.647.146.708.453,94 3.572.588.057.332,94 63,26

3.748.810.578.014,46
549.439.566.090,50 211.497.562.500,00 12.229.948.297,53 10.755.016.000,00 846.000.000,00 83.704.190.390,51 1.994.009.159,00 39.500.000.000,00 25.000.000.000,00 1.500.000.000,00 878.420.850.000,00 1.264.760.375.778,52 655.258.059.798,40 13.500.000.000,00 5.978.360.677.377,05 3.748.810.578.014,46 62,71

4.089.790.790.147,07
587.900.335.716,84 222.072.440.625,00 12.474.547.263,49 11.292.766.800,00 862.920.000,00 94.649.986.515,00 2.033.889.342,18 39.500.000.000,00 23.125.000.000,00 1.552.500.000,00 895.989.267.000,00 1.000.000.000,00 1.386.055.271.200,00 661.856.615.684,57 13.000.000.000,00 136.000.000.000,00 6.218.184.859.328,66 3.953.790.790.147,07 63,58

4.286.342.855.407,82
629.053.359.217,01 233.176.062.656,25 12.724.038.208,76 11.857.405.140,00 880.178.400,00 105.606.816.755,70 2.074.567.129,02 39.500.000.000,00 21.390.625.000,00 1.615.005.000,00 913.909.052.340,00 950.000.000,00 1.493.735.630.260,00 670.923.602.801,08 12.500.000.000,00 136.000.000.000,00 6.626.416.159.127,85 4.150.342.855.407,82 62,63

4.773.438.062.885,28
641.634.426.401,35 235.507.823.282,81 12.978.518.972,93 11.050.275.397,00 897.781.968,00 108.689.649.713,15 2.116.058.471,60 39.500.000.000,00 19.786.328.125,00 1.689.515.010,00 350.774.007.109,29 932.187.233.386,80 900.000.000,00 1.599.052.433.573,00 668.205.173.349,34 12.000.000.000,00 136.000.000.000,00 7.154.141.340.218,31 4.637.438.062.885,28 64,82

4.876.206.977.840,14
705.797.869.041,49 282.609.387.939,38 13.238.089.352,39 13.072.789.166,00 915.737.607,36 100.436.682.196,96 2.158.379.641,04 20.000.000.000,00 18.302.353.515,63 1.778.430.040,00 250.229.183.277,08 950.830.978.054,54 850.000.000,00 1.736.121.092.494,00 675.873.725.483,04 11.500.000.000,00 92.000.000.000,00 7.628.066.572.572,09 4.784.206.977.840,14 62,72

NO.

KELOMPOK PRIORITAS BELANJA LANGSUNG TOTAL PENERIMAAN PEMBIAYAAN TOTAL PENGELUARAN PEMBIAYAAN Total Pendapatan Total Belanja Defisit

TARGET TAHUN 2013 TAHUN 2014 TAHUN 2015

PROYEKSI TAHUN 2016 TAHUN 2017 TAHUN 2018

2.074.558.651.121,00
36,74 623.461.518.924,94 1.630.000.000,00 4.996.499.327.036,00 5.647.146.708.453,94 (650.647.381.417,94) (13,02)

2.229.550.099.362,59
37,29 207.450.636.000,00 5.546.086.917.660,00 5.978.360.677.377,05 (432.273.759.717,05) (7,79)

2.264.394.069.181,59
36,42 136.000.000.000,00 6.020.319.991.280,00 6.218.184.859.328,66 (197.864.868.048,66) (3,29)

2.476.073.303.720,03
37,37 136.000.000.000,00 6.448.063.280.000,00 6.626.416.159.127,85 (178.352.879.127,85) (2,77)

2.516.703.277.333,03
35,18 136.000.000.000,00 6.921.106.270.000,00 7.154.141.340.218,31 (233.035.070.218,31) (3,37)

2.843.859.594.731,95
37,28 92.000.000.000,00 7.463.170.600.000,00 7.628.066.572.572,09 (164.895.972.572,09) (2,21)

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS


Perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan dalam kerangka keterpaduan perencanaan pembangunan nasional maupun regional. Oleh karena itu tahap awal dari perencanaan pembangunan daerah dimulai dengan melakukan analisis terhadap hasil pembangunan dan permasalahannya. Tujuannya adalah agar perencanaan pembangunan daerah dapat bersinergi dan memberikan kontribusi dalam pemecahan permasalahan pembangunan baik di daerah, regional maupun tingkat nasional. Perspektif selama 5 tahun ke depan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2013-2018 didasarkan pada kondisi objektif saat ini dan masa lalu dan diprediksi kedepan. Prediksi dilakukan terhadap indikator-indikator pembangunan yang bersifat makro baik ekonomi, politik, maupun sosial. Perspektif Provinsi Sulawesi Selatan untuk lima tahun kedepan dijabarkan kedalam permasalahan pembangunan dan isu-isu strategis, yang akan diuraikan dalam uraian berikut. 4.1. Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan pembangunan daerah adalah perbedaan pencapaian antara kinerja pembangunan yang dicapai saat ini dengan yang direncanakan serta antara apa yang ingin dicapai di masa datang dengan kondisi saat ini. Perbedaan dimaksud dilihat dari kesenjangan pencapaain daerah, maupun dengan pencapaian nasional. Permasalahan pembangunan daerah dalam RPJMD ini diidentifikasi dan dianalisis berdasarkan urusan pemerintah sebagai berikut :

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-1

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

Tabel IV.I Permasalahan Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No


A I 1. 1.1.

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN

ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Pertumbuhan PDRB Pertumbuhan ekonomi sebesar 8- Pertumbuhan ekonomi masih didominasi Peningkatan dan pemerataan kemampuan daya beli 8,5, berada di atas rata-rata faktor konsumsi ketimbang faktor investasi masyarakat. pertumbuhan ekonomi nasional sehingga menyebabkan pertumbuhan yang Terbukanya kesempatan kerja. dengan laju pertumbuhan yang tidak berkualitas Berkurangnya jumlah penduduk miskin lebih tinggi. Peningkatan kegiatan ekonomi. Laju inflasi provinsi Menekan laju inflasi di bawah rata-rata nasional Laju inflasi dipengaruhi oleh turunnya nilai uang (naiknya harga barang pada umumnya, khususnya barang impor) Upaya pemerintah untuk meningkatkan tabungan masyarakat Kebijakan Fiskal (menaikkan pajak) Pengendalian harga dan distribusi barang Membuka lapangan kerja Meningkatnya nilai tambah Meningkatnya investasi Mengembangkan kewirausahaan dengan pengembangan komoditas unggulan daerah; Percepatan penciptaan lapangan wirausaha baru Peningkatan peran dan tanggungjawab masyarakat untuk melaporkan tindak kejahatan yang dialaminya dan sebagai saksi;
IV-2

1.2.

1.3.

PDRB per kapita

Pendapatan perkapita signifikant meningkat, namun masih dibawah rata-rata nasional 0,4 Hingga September 2012, penduduk miskin mencapai 805,92 ribu orang atau 9,82%, yang berada di bawah rata-rata nasional (11,66%) Penurunan angka kriminilalitas guna mendukung Sulsel wilayah yang aman untuk berinvestasi.

1.4. 1.5.

Indeks Gini Persentase penduduk diatas garis kemiskinan

Masih tingginya tingkat pertumbuhan penduduk Belum optimalnya peningkatan nilai produksi masing-masing kelompok usaha Kesenjangan pendapatan Kurangnya lapangan kerja baru dan akses ke lapangan pekerjaan Rendahnya tingkat keterampilan Penanganan laporan masyarakat yang memakan waktu yang lama. Rasio polisi dengan jumlah penduduk masih

1.6.

Angka kriminalitas yang tertangani

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


rendah

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Peningkatan penanganan laporan tindak kriminal

II 1. 1.1.

Fokus Kesejahteraan Masyarakat


Pendidikan Angka melek huruf Sangat rendah dibanding target nasional (2011:92,99). Sulsel 2011:88,07 Kegiatankegiatan pelestarian seperti program koran ibu, kelompok belajar masyarakat (KBM), kelompok belajar usaha (KBU), frekuensinya masih sangat rendah. Banyaknya lansia yang tidak bisa membaca Angka rata-rata lama sekolah Masih rendahnya tingkat partisipasi sekolah berada dibawah target nasional pada semua jenjang pendidikan pada tahun 2011, nasional sebesar Masih rendahanya akses penduduk usia 7,94, Sulsel 7,92 sekolah mendapatkan pendidikan Kurangnya akses dan layanan Pendidikan di jenjang SD/MI Memfasilitasi kab./kota untuk mengoptimalkan kelompok belajar masyarakat; memfasilitasi kab/kota untuk mengoptimalkan kelompok belajar usaha; peningkatan koordinasi dan sinergitas antar pemangku kepentingan. Meningkatkan kualitas layanan pendidikan gratis pada semua jenjang pendidikan Meningkatkan akses pendidikan pada penduduk usia sekolah dengan peningkatan partisipasi masyarakat terhadap akses sekolah dijenjang SD, maka jenjang berikutnya diantisipasi dengan berbagai program dan kegiatan terutama pada perluasan akses dan layanan pendidikan Meningktanya jumlah penduduk untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

1.2.

Angka rata-rata lama sekolah

1.3.

Angka partisipasi kasar SD/MI

Menurun dari tahun 2007- 2011 (110,80-102,09)

1.4.

Angka pendidikan yang ditamatkan Angka Partisipasi Murni Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B

1.5. 1.5.1.

Dominan penduduk angkatan kerja adalah pendidikan SD Semakin lama semakin menurun presentasenya APM SD/MI/Paket A diatas ratarata nasional tahun 2013 Nasional = 95.42% .Sulawesi Selatan 97.90% APM sejak tahun 2008 2012 masih dibawah rata-rata national th 2008 Nas = 71,98% Prov.

Masih rendahnya akses pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi

Kondisi layanan pendidikan dasar antar kabupaten / kota belum berimbang; Banyak usia sekolah SD (12 tahun) sudah dijenjang SMP dan Usia Sekolah SMP (13 Th) sudah dijenjang SMA

Difasililitasi Kab./Kota. untuk disamakan angka disparitasnya terutama menyangkut sarana prasarana Sosialisasi dan Penerapan Standa Pelayanan Minimal (SPM) untuk jenjang disatuan pendidiikan

1.5.2.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-3

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


70,14. Pada tahun 2012 Nas 82,69% Prov = 76,74% APM sejak tahun 2008 2012 masih dibawah rata-rata Nasional Tahun 2008 Nas = 49,85% Prov 48,29 dan pada tahun 2012 Nasional 77,87% Prov 62,37% AKB Mengalami penurunan

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Sosialisasi dan Penerapan Standa Pelayanan Minimal (SPM) untuk jenjang disatuan pendidiikan

1.5.3.

Angka Partisipasi Murni (APM)) SMA/SMK/MA/Paket C Kesehatan Angka kematian bayi

Sama dengan permasalahan di jenjang SMP

2. 2.1.

2.2. 2.3.

Angka usia harapan hidup Persentase balita gizi buruk

Usia Harapan Hidup mengalami peningkatan. Terjadi peningkatan persentase gixi buruk, dari tahun 2008-2012.

Masih tingginya angka kematian bayi. Kurangnya pemahaman akan pentingnya kesehatan ibu hamil Masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan Angka harapan hidup masih dibawah ratarata nasional Persentase Balita Gizi Buruk yang meningkat tiap tahunnya. Sistim survailans yang kurang berjalan baik untuk mendeteksi mereka yang rentang gizi buruk

Meningkatkan kualitas pelayanan terutama ibu dan anak. Memberikan pelatihan dan pemahaman terkait pola hidup sehat terhadap ibu hamil dan menyusui. Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat peningkatan akses masyarakat dalam pelayanan kesehatan dan gizi yang bermutu; Meningkatkan pengetahun keluarga dalam pengasuhan anak Pembuatan regulasi dalam rangka penguatan koordinasi/kerjasama dengan Lintas Sektor terkait untuk penanganan kasus gizi buruk Adanya PRONA sertifikasi lahan Optimalisasi Balai Latihan Kerja ( BLK ) dan Lembaga Latihan Kerja ( LLK ) baik yang dikelola secara langsung oleh Pemerintah maupun Swasta dengan melakukan berbagai jenis pelatihan guna

3. 3.1. 4. 4.1.

Persentase penduduk memiliki lahan bersertifikat

Pertanahan

2,88% (pada tahun 2012)

Ketenagakerjaan Rasio penduduk yang bekerja

Kurangnya kesadaran penduduk akan pentingnya legalitas kepemilikan lahan Masih rendahnya kompetensi tenaga kerja berakibat rendahnya daya saing tenaga kerja di pasar kerja atau lowongan kerja tidak terpenuhi karena tidak kesesuaian kompetensi yang dibutuhkan.

Meningkatkan kualitas dan keterampilan tenaga kerja

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-4

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


meningkatkan kompetensi tenaga kerja dengan menitikberatkan pada pelatihan berbasis kompetensi Penataan kembali link and match kurikulum diklat kebutuhan jabatan pasar kerja sehingga ketidaksesuaian tersebut dapat diminimalisir Pengembangan sistem kerjasama kemitraan antara dunia usaha dengan lembaga pelatihan agar dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja yang terlatih dan sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan Optimalisasi sistem informasi pasar kerja dan penempatan tenaga kerja lokal, dalam dan luar negeri

III 1. 1.1.

Fokus Seni Budaya dan Olahraga


Kebudayaan Jumlah grup kesenian 290 grup kesenian tahun 2012 Masih lemahnya manajemen grup kesenian Belum terinvetarisasinya grup kesenian secara akurat Belum terorganisirnya grup-grup kesenian yang ada Terbatasnya gedung kesenian yang representatif Belum meratanya penyediaan klub olahraga yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai; Bimbingan teknis pengelolaan manajerial grup kesenian Pelaksanaan inventarisasi grup kesenian di kabupaten/kota Perlu dilakukan pembinaan sanggar seni se Sulawesi Selatan. Dukungan untuk pembangunan gedung kesenian yang representatif di Kabupaten/kota. Peningkatan jumlah dan kualitas klub olahraga; Peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan pola hidup sehat melalui olahraga; Peningkatan upaya fasilitasi penyediaan sarana dan

1.2. 2. 2.1.

Jumlah gedung Pemuda dan Olahraga Jumlah klub olahraga

2 gedung kesenian tahun 2012

Peningkatan jumlah dan kualitas klub olahraga

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-5

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
2.2.

URUSAN/IKK
Jumlah gedung olahraga

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Jumlah gedung olahraga diharapkan terus bertambah dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai

PERMASALAHAN
Terbatasnya sarana dan prasarana keolahragaan Belum maksimalnya sinkronisasi program dan kegiatan antar Pemprov dan kab/kota dalam rangka pembinaan pengembangan potensi kepemudaan.

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


prasarana klub olahraga Meningkatkan koordinasi baik antara pusat maupun daerah Peningkatan upaya fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana gedung olahraga

B I 1. 1.1. 1.1.1.

1.1.2.

1.1.3.

Fokus Layanan Urusan Wajib Pendidikan Pendidikan dasar: Angka partisipasi sekolah Angka partisipasi sekolah (APS) pada jenjang pendidikan SD/MI mengalami peningkatan setiap tahun selama periode 2007-2011. APS SD/MI (7-12 tahun) meningkat dari 95,40 persen pada tahun 2007 menjadi 97,16 persen pada tahun 2011 atau mengalami peningkatan sebesar 2,23 persen partiisipasi sekolah diatas rata-rata nasional Rasio ketersediaan Pada tahun 2007 rasio sekolah/penduduk usia ketersediaan sekolah per sekolah penduduk usia sekolah untuk pendidikan dasar adalah sebesar 142,5 kemudian pada tahun 2011 terjadi penurunan menjadi 133,8. Rasio guru/murid Rasio dari tahun 2008 ke 2012 mengalami penurunan dan lebih rendah dari rasio ideal 1 : 25

ASPEK PELAYANAN UMUM

Angka partisipasi sekolah masih dibawah rata-rata karena masih kurnag pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan terutama di wolayah pedesaan

Meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan pada semua jenjang

Belum meratanya sebaran jumlah sekolah pada daerah-daerah tertentu

Perlunya pemerataan pembangunan sekolah khususnya didaerah-daerah terpencil, tertinggal, terbelakang

Formasi kebutuhan khususnya untuk daerah terpencil dan kepulauan kurang diminati calon pendidik.

Diperlukan koordinasi antara pusat, provinsi dan kabupaten dalam sistem rekrutmen penerimaan pegawai khususnya untuk guru/pendidik.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-6

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Bgitu pula untuk SMP/MTs terlihat rasio menurun bahkan lebih rendah dibanding rasio SD

PERMASALAHAN
Program pemerataan guru belum dioptimalkan sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi pendidik. Formasi kebutuhan khususnya untuk daerah terpencil dan kepulauan kurang diminati calon pendidik. Program pemerataan guru belum dioptimalkan sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi pendidik. Kurang ruang kelas untuk memperbanyak rombongan belajar

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Perlu dibangun sistem pemerataan dengan berbasis teknologi informasi yang disesuaikan kualifikasi dan kompetensi pendidik. Peningkatan kesejahteraan guru melalui tunjangan khusus, disesuaikan dengan kondisi daerah Diperlukan koordinasi antara pusat, provinsi dan kabupaten dalam sistem rekrutmen penerimaan pegawai khususnya untuk guru/pendidik. Perlu dibangun sistem pemerataan dengan berbasis teknologi informasi yang disesuaikan kualifikasi dan kompetensi pendidik. Difasiliatasi satuan pendidikan khususnya di SMA untuk menambah ruang kelas baru atau teori. Memfasilitasi Kab./kota untuk menganalisis data pendidik agar ditetapkan jenis type sekolah yang perlu ditempuh dalam suatu wilayah Koordinasi yang intensif ke pusat untuk peningkatan beasiaswa misikin dan unit cost BOS SMA Difasilitasi bangun RKB yang dilengkapi dengan asrama siswa Perlu dibuka kelas jauh didaerah terpencil

1.1.4.

Rasio guru/murid per kelas rata-rata

1.2. 1.2.1.

Pendidikan menengah: Angka partisipasi sekolah

Rasio guru/murid/kelas rata-rata untuk SD bervariasi dari tahun 2008 sampai dengan taun 2012, begitu pula rasio murid/kelas tidak melampaui standar ideal 1 : 32 Namun demikian rasio murid/kelas SMP melampaui standar ideal dan tertinggi ditahun 2012 untuk SMP mencapai 1 : 60

1.2.2.

Rasio ketersediaan sekolah terhadap penduduk usia sekolah

1.2.3.

Rasio guru terhadap murid

Capaian APS Masih dibawah rata2 Pertumbuhan jumlah penduduk usia 16-18 Nasional tahun 2012 = 60.78% tahun, belum sepenuhnya diimbangi dengan Sulawesi Selatan 59,55% pertumbuhan sekolah dijenjang menengah Ditargetkan capaian indikatornya minimal sama dengan capaian nasional. Rasio ketersediaan sekolah Beberapa lokasi/pemukiman penduduk, terhadap penduduk usia sekolah geografisnya sulit dijangkau dengan dijenjang pendidikan menengah kendaraan roda 4 , sehingga masih ada usia dari tahun 2008 sampai dengan sekolah pendidikan menengah tidak 2012 cenderung menurun . Tahun melanjutkan sekoahnya, 2007 = 506, tahun 2012 424 capaian rasio guru terhadap siswa Ditribusi penempatan dan pemerataan guru untuk jenjang pendidikan belum optimal menengah belum memenuhi rasio ideal 1 : 25 Sulawesi Selatan pada

Diintensifkan koordinasi dan konsultasi pusat, provinsi dan daerah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-7

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
1.2.4.

URUSAN/IKK
Rasio guru terhadap murid per kelas rata- rata

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


tahun 2013 hanya mencapai 1 : 13 Rasio guru terhadap murid perkelas rata-rata selama periode 2008-2013 menunjukkah rasio yang memadai walaupun masih bervariasi. Namun demikian rasio murid/kelas dari tahun 2008 sd 2012 semuanya melampuai standar ideal 1 : 32 sesuai standar pelayanan minimal pendidikan
88.39% pada tahun 2012

PERMASALAHAN
Kurangnya ruang kelas unruk memperbanyak rombongan belajar

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Difasilitasi untuk penambahan ruang kelas baru atau ruang teori

1.2.5. 1.3. 1.3.1.

1.3.2.

1.4. 1.4.1.

Kondisi sarana pendidikan utamanya ruang kelas SD mencapai 97% kondisi baik. Tahun 2012 kondiri ruang kelas yang rusak mencapai 39.69%atau yang baik mencapai 60,31% Sekolah pendidikan Kondisi sarana pendidikan untuk SMP/MTs dan SMP dan SMA sederajat terjadi SMA/SMK/MA kondisi peningkatan perbaikan sarana. bangunan baik Dari tahun 2008 kondisi baik untuk SMP 67.63% naik menjadi77.30% ditahun 2012. Begitu pula unuk SMA dari 60% tahun 2008 naik/ ada perbaikan sehingga menjadi 75% Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Pendidikan Anak Usia Dini APK PAUD Sulawesi Selatan

Penduduk yang berusia >15 Tahun melek huruf (tidak buta aksara) Fasilitas Pendidikan: Sekolah pendidikan SD/MI kondisi bangunan baik

Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan Program Pendidikan Gratis pentingnya pendidikan Kurangnya koordiansi antara dearah, provinsi dan pusat Perlu penempatan/aturan lebih awal diterima di Kab./Kota. diintensifkan penggunaan DAK lebih banyakke perbaikan sarana kelas Peninjauan prioritas/strong point usulan daerah/provinsi ke musrembang lebih fokus ke perbaikan sarana kelas Dukungan dana lain yang tidak hanya bersumber dari APBD Koordinasi antara Pemerintah Provinsi dengan Kab/Kota pedrlu ditingkatkan.

Minimnya anggaran tidak sebanding dengan jumlaha sekolah yang ada

Partisipasi masyarakat kurang minat

Sosialisasi tentang pendidikan bagi anak usia

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-8

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK
(PAUD)

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


mengaami peningkatan. Tahun 2008 (47,69) sampai 2012 (50,40). Namun demikian masih dibawah rata-rata nasional tahun 2008 (50,84) dan tahun 2012 (55,24) Rasio menunjukkan adanya penurunan daru tahun 2008 untuk SD = 2.35 menjadi 1.20 pada tahun 2012. Namun demikian baik untuk SD, SMP dan SM angka putus sekoah diupayakan dibawah 1 % Menurunnya angka putus sekolah pada tingkat sekolah menengah pertama (SMP) Menurunnya angka putus sekolah pada tingkat sekolah menengah atas (SMA) Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang sekolah dasar (SD) Mencapai 100% Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) Mencapai 100% Meningkatnya angka kelulusan pada jenjang sekolah menengah atas (SMA) Mencapai 100%

PERMASALAHAN
menyekolahkan anaknya di usia dini Biaya penyelenggaraan pendidikan di lembaga PAUD -

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


dini diberbagai media dan dakwah Mendorong kab/kota dan masyarakat membuka dan membentuk lembaga PAUD Fasilitasi bantuan subsidi kepada lembaga PAUD

1.5. 1.5.1.

Angka Putus Sekolah: Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI

Tidak optimalnya pendataan dan anailisisnya terhadap penyebab putus sekoah Bantuan subsidi belum memenuhi target

Pemantapan pendataan pendidikan teruatama penyebab putus sekolah Program retrival perlu dikembangkan, diupayakan kembali.

1.5.2. 1.5.3. 1.6. 1.6.1.

Angka Putus Sekolah (APS) SMP/MTs Angka Putus Sekolah (APS) SMA/SMK/MA AngkaKelulusan: Angka Kelulusan (AL) SD/MI

Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan

Meningkatnya dukungan terhadap dukungan pelayanan pendidikan Meningkatnya dukungan terhadap dukungan pelayanan pendidikan Peningkatan mutu dan kualitas tenaga pendidik; Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran yang berkualitas Peningkatan mutu dan kualitas tenaga pendidik; Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran yang berkualitas Peningkatan mutu dan kualitas tenaga pendidik; Koordinasi antar tingkatan pemerintah untuk fasilitasi penyediaan sarana dan prasarana
IV-9

1.6.2.

Angka Kelulusan (AL) SMP/MTs Angka Kelulusan (AL) SMA/SMK/MA

1.6.3.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
1.6.4.

URUSAN/IKK
Angka Melanjutkan (AM) dari SD/MI ke SMP/MTs

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Angka melanjutkan untuk SD/MI ke SMP/MTs meningkat dari tahun 2008 mencapai 91,31% menjadi 97,48% pada tahun 2012. Namun harus diupayakan mencapai standar ideal 98% Meningkatnya angka melanjutkan dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Persentase guru berkualifikasi dari SD ke SM mengalami peningkatan baik dijenjang SD maupun SM. Dari tahun 2008 jumlah guru yang disertifikasi 33.380 pada tahun 2008, naik menjadi 76.622 pada tahun 2012 atau naik 129.54% Meningkatnya rasio posyandu per satuan balita Rasio Puskesmas tahun 2012 sebesar 5/100.000 penduduk, berarti 1 PKM melayani 20.000 Penduduk. Rasio Pustu tahun 2012 sebesar 15/100.000 penduduk, berarti 1 Pustu melayani 6.667 Penduduk Rasio RS tahun 2012 sebesar 1,14/100.000 penduduk. Artinya

PERMASALAHAN
Terbatasnya kemampuan ekonomi orang tua siswa untuk membiayai anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi.

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


pembelajaran yang berkualitas Difalitasi bantuan subsidi untuk pembiayaan ke jenjang pendidikan berikutnya (SMP ke SMA dan SMA ke perguruan tinggi)

1.6.5.

Angka Melanjutkan (AM) dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA Guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV

Terbatasnya kemampuan ekonomi orang tua siswa untuk membiayai anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Masih rendahnya guru yang memenuhi kualifikasi S1/D-IV

Difalitasi bantuan subsidi untuk pembiayaan ke jenjang pendidikan berikutnya (SMP ke SMA dan SMA ke perguruan tinggi) Adanya program gratis peningkatan kualitas tenaga pengajar melalui boarding school

1.6.6.

2. 2.1. 2.2.

Kesehatan Rasio posyandu per satuan balita Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per satuan penduduk

Menurunnya jumlah balita yang dilayani di posyandu Belum optimalnya penyediaan jumlah fasilitas kesehatan yang didukung oleh ketersediaan tenaga medis.

Meningkatnya pemerataan posyandu Peningkatan jumlah pemerataan fasilitas kesehatan ; Koordinasi antar tingkatan pemerintahan unuk penyediaan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan yang berkualitas

2.3.

Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk

Jika dilihat dari rasio RS terhadap penduduk sudah mencukupi, namun jumlah Tempat

Perlu peningkatan Kelas Rumah Sakit Peningkatan jumlah Tempat Tidur Kelas III

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-10

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


1 RS sudah melayani kurang dari 100.000 Penduduk Capaian Rasio Tenaga 2013 : dr. Spesialis 5/100.000 Penduduk dr. Umum 15/100.000 Pddk dr. Gigi 7/100.000 Pddk Meningkatkan jumlah tenaga medis terutama di daerah-daerah terpencil Capaian tahun 2012 sebesar 57,33%, masih dibawah target (65%) Capaian tahun 2012 sebesar 93,68%, sudah melebihi target (89%).

PERMASALAHAN
Tidur kelas III masih kurang Tidak meratanya persebaran dokter didaerah-daerah terpencil, tertinggal, dan terbelakang Kurangnya minat tenaga medis untuk ditempatkan didaerah terpencil Kemampuan Bidan untuk mengidentiifikasi komplikasi masih rendah Puskesmas PONED belum mampu melakukan penatalaksanaan pelayanan PONED standar Tidak semua Bidan Desa menetap di wilayah kerjanya ANC (Antenatal Care) terpadu yang berkualitas belum optimal Tidak semua persalinan oleh nakes dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan Pergantian petugas membawa dampak ketrampilan petugas terlatih Sarana dan prasarana penunjang pemberian imunisasi yang terstandarisasi Kantong-kantong daerah tak terjangkau imunisasi mempunyai risiko timbulnya dan menyebarnya penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi Masih rendahnya pemahaman masyarakat

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Perlu dibuat regulasi/aturan agar perekrutan tenaga kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan di unit pelayanan kesehatan Perlu ada aturan tersendiri untuk penempatan Dokter Spesialis di RSUD Kabupaten/Kota Meningkatkan insentif tenaga medis khususnya didaerah-daerah terpencil yang mengarah pada pemerataan persebaran tenaga medis Peningkatan Kapasitas Bidan Penguatan Puskesmas PONED

2.4.

Rasio dokter per satuan penduduk

2.5. 2.6.

Rasio tenaga medis persatuan penduduk Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani

2.7.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan

Penegakan regulasi tentang Bidan Desa Peningkatan kapasitas SDM Kesehatan Peningkatan fasilitas pelayanan KIA di sarana pelayanan kesehatan Mengkaji dan Menganalisi data hingga merencanakan kegiatan ditingkat puskesmas, identifikasi masalah dan mencari solusi Revitalisasi outreach (daerah sulit dijangkau) melalui pelayanan posyandu, pustu yang terjadwal antara petugas dan masyarakat Memperkuat kemitraan dengan lintas sektor terkait, Lembaga pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan untuk menjamin ketersediaan petugas yang terampil

2.8.

Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI)

Tahun 2012 Target UCI sebessar 90 persen, realisasi hanya 87,1 persen

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-11

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Capaian 2012 sebesar 100%, sudah sesuai dengan SPM Bidang Kesehatan

PERMASALAHAN
akan pentingnya pemberian Imunisasi

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


dan meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat pemberian imunisasi Penanganan Medis secara intensif Penanganan Gizi Buruk di tingkat Rumah Tangga (Pasca Rawat) Perlu regulasi tentang Ketenangaan Penyediaan Buffer Stock Bahan Antisipasi KLB Gizi Buruk Melakukan intervensi ke Rumah Sakit untuk melakukan Program TB DOTS Mengefektifkan AKMS (Advokasi, Komunikasi, Mobilisasi Sosial) Program TB Peningkatan peran serta masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Peningkatan ketersediaan obat di Rumah Sakit/Balai Kesehatan Masyarakat Membuat jejaring antara Rumah Sakit dengan Penyedia Layanan Darah Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan terhadap bayi melalui peningkatan kapasitas petugas dan ketersediaan sarana dan prasarana Peningkatan dan pemerataan Ketersediaan Infrastruktur dan SDM

2.9.

Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan

2.10.

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA

Terjadi peningkatan penemuan penderita TB per 100.000 Penduduk (Tahun 2012 : 153/100.000 Penduduk) Capaian Tahun 2012 sebesar 67,12% telah melebihi target (60%). Capaian 2008-2012 telah mencapai 100% dan telah sesuai dengan SPM Bidang Kesehatan Indikator ini sudah melebihi target yang ditetapkan. Indikator ini ditargetkan sebesar 87% dan pada tahun 2012 telah berhasil dicapai sebesar 99,45% Indikator Kunjungan Rawat Jalan sudah melebihi target yang ditetapkan. Indikator ini ditargetkan sebesar 15% dan pada tahun 2012 telah berhasil dicapai

2.11. 2.12.

Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin Cakupan kunjungan bayi

Dari jumlah yang dirawat tidak seluruhnya sembuh/pulih. Hal ini disebabkan : Adanya penyakit penyerta Pasien Pulang Paksa Mutasi tenaga terlatih di Kabupaten/Kota cukup tinggi Belum semua fasilitas pelayanan kesehatan melakukan Program TB DOTS (Directly Observed Treatment Short/Pengobatan Jangka Pendek) Pemahaman masyarakat tentang TB belum optimal Angka Bebas jentik masih rendah Masih terjadi KLB DBD di beberapa lokasi Masih sering terjadi pembebanan biaya tambahan pada masyarakat miskin (khususnya biaya obat dan darah)

2.13.

2.14.

Cakupan puskesmas

Akses keterjangkauan pada Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-12

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


sebesar 23,60% dan Kunjungan Rawat Inap ditargetkan 1,5% dan pada tahun 2012 cakupan Rawat Inap 0,25% Peningkatan jumlah dan cakupan pelayanan PUSTU pada wilayah terpencil kinerja transportasi jalan ditunjukkan dengan bertambahnya kapasitas jaringan jalan dari 24.307 Km pada tahun 2008 menjadi 32.486 Km pada Tahun 2012 dengan kondisi Baik mencapai 53,16% (17.332 Km), sedang rusak 4.749 Km (13,09%) dan rusak berat 6.167 Km (21,17%). Meningkatkan rasio jaringan irigasi, dan efektifitas dan efisiensi pengelolaan jaringan irigasi. Rasio jaringan irigasi saat ini 1 Km jaringan irigasi mengariri lahan budidaya seluas 0,90 km2, tingkat efektifitas pengelolaan jaringan irigasi saat ini 81% yang menunjukkan bahwa masih terdapat 19% luas lahan budidaya yang belum terairi, sedangkan tingkat efisiensi menunjukkan bahwa petani belum mampu

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN

2.15. 3. 3.1.

Cakupan pembantu puskesmas PekerjaanUmum Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik

Belum meratanya akses dan kualitas cakupan pelayanan puskesmas Rendahnya kinerja jaringan jalan

Peningkatan dan pemerataan jumlah PUSTU yang didukung oleh infrastruktur dan SDM yang memadai Prioritisasi pembangunan dan preservasi jalan pada kawasan strategis

3.2.

Rasio Jaringan Irigasi

Masih besarnya persentase lahan budidaya yang belum terairi dan rendahnya kemampuan masyarakat untuk mengelola sumber daya air.

Peningkatan rasio lahan budidaya yang terairi oleh jaringan irigasi dan peningkatan kemampuan petani untuk mengelola sumber daya air

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-13

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


untuk mengelola sumberdaya secara sepadan

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN

3.3. 3.4.

Rasio tempat ibadah per satuan 403 pada tahun 2011 penduduk Persentase rumah tinggal Persentase rumah tangga bersanitasi bersanitasi adalah 75,28 %. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat lebih dari 24% rumah tangga yang belum mengakses sanitasi. Rasio tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk

Masih kurangnya tempat ibadah Masih rendahnya cakupan pelayanan sanitasi terhadap rumah tangga serta belum diterapkannya PHBS oleh masyarakat. Peningkatan rumah tangga yang dapat mengakses sanitasi yang layak Peningkatan pemahaman masyarakat akan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi masyarakat melalui pembangunan prasarana dan sarana sanitasi di sekolah dan tempat umum serta peningkatan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan drainase lingkungan. Peningkatan jumlah sarana persampahan pada tiap lingkungan permukiman secara berimbang dengan jumlah penduduk yang ditunjang oleh institusi pengelola yang profesional; Mengurangi timbulan sampah dengan menerapan prinsip 3R. Peningkatan aksesibilitas MBR akan rumah yang layak melalui fasilitasi peningkatan kualitas perumahan dan fasilitasi penyediaan rumah susun; Peningkatan jaminan kualitas perumahan dengan menerapkan standarisasi perijinan dalam membangun rumah khususnya bagi MBR; Peningkatan kualitas lingkungan permukiman melalui penyediaan sarana dasar, prasarana dan utilitas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan kawasan perumahan. Peningkatan kualitas dan cakupan prasarana, sarana
IV-14

3.5.

Rasio daya tampung TPS terhadap Pesatnya laju pertambahan dan aktivitas jumlah penduduk adalah 0,23, penduduk belum didukung oleh keberadaan yang menunjukkan bahwa TPS sarana persampahan berupa TPS serta hanya dapat menampung sampah institusi pengelola yang memadai. terhadap 23 orang setiap 1.000 penduduk di Sulawesi Selatan. Rasio rumah layak huni sebesar 0,23 menunjukkan bahwa masih terdapat 0,77 penduduk yang belum menempati rumah layak huni. Rasio permukiman layak huni menunjukkan bahwa 86,11 % dari luas kawasan permukiman di Sulawesi Selatan merupakan kawasan permukiman layak huni. Peningkatan kualitas lingkungan Masih besarnya jumlah rumah tangga yang menempati rumah tidak layak huni akibat keterbatasan akses MBR terhadap penguasaan lahan dan pembiayaan perumahan. Masih terdapat 13,89% luasan kawasan permukiman yang belum layak huni.

3.6.

Rasio rumah layak huni

3.7.

Rasio permukiman layak huni

3.8.

Lingkungan Pemukiman

Belum optimalnya cakupan pelayanan dan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


permukiman

PERMASALAHAN
jumlah parasarana, sarana dan utilitas lingkungan permukiman Belum terpetakannya wilayah yang akan dilayani oleh sistem penyediaan air minum serta belum optimalnya pemanfaatan dan pengelolaan air baku air minum

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


dan utilitas lingkungan permukiman. Peningkatan cakupan pengguna air bersih khususnya pada masyarakat perdesaan yang belum terjangkau oleh PDAM melalui penyediaan sarana dan prasarana air minum dan penambahan kapasitas dan sistem sambungan rumah air minum serta perlindungan sumber air baku dari pencemaran lingkungan Pengembangan dan pemanfaatan potensi energi lokal khususnya energi baru terbarukan untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan listrik di perdesaan dan melakukan pengembangan Desa Mandiri Energi.

4. 4.1.

Perumahan Rumah tangga pengguna air bersih

Akses masyarakat terhadap air bersih telah mencapai 84,75% yang menunjukkan bahwa 1.556.153 sudah terlayani oleh air bersih baik dari PDAM maupun sumber lainnya yang terlindungi.

4.2.

Rumah tangga pengguna listrik Rumah tangga pengguna listrik sudah mencapai 70,63% yang sumber utamanya adalah listrik PLN sebesar 66,51%. Rumah tangga yang menggunakan listrik di Sulawesi Selatan didominasi oleh RT pengguna listrik dengan daya 900 watt sebesar 46,44%. Rumah tangga berSanitasi Persentase rumah tangga bersanitasi adalah 75,28 %. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat lebih dari 24% rumah tangga yang belum mengakses sanitasi. Rasio Luas pemukiman yang tertata 13,98 persen

Persentase pemanfaatan energi baru terbarukan masih rendah untuk pembakit listrik baik skala menengah maupun skala kecil masih rendah

4.3.

Masih rendahnya cakupan pelayanan sanitasi terhadap rumah tangga serta belum diterapkannya PHBS oleh masyarakat.

Peningkatan rumah tangga yang dapat mengakses sanitasi yang layak dan pembangunan prasarana dan sarana sanitasi di sekolah dan tempat umum sebagai upaya meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Optimalnya pelaksanaan identifikasi lokasi dan kebutuhan penangan lingkungan permukiman kumuh; Optimalnya peningkatan pengetahuan dan pemahaman akan pola hidup bersih dan sehat.

4.4.

Lingkungan pemukiman kumuh

Belum optimalnya pelaksanaan identifikasi lokasi dan kebutuhan penangan lingkungan permukiman kumuh; Belum optimalnya pengetahuan dan pemahaman akan pola hidup bersih dan sehat.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-15

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
4.5.

URUSAN/IKK
Rumah layak huni

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Rasio rumah layak huni sebesar 0,23 menunjukkan bahwa masih terdapat 0,77 penduduk yang belum menempati rumah layak huni.

PERMASALAHAN
Masih besarnya jumlah rumah tangga yang menempati rumah tidak layak huni akibat keterbatasan akses MBR terhadap penguasaan lahan dan pembiayaan perumahan. Belum terealisasinya keberadaan RTH khususnya kawasan perkotaan sebagaimana arahan UU No 26/2007 tentang Penataan Ruang

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Peningkatan aksesibilitas MBR akan rumah yang layak melalui fasilitasi peningkatan kualitas perumahan dan fasilitasi penyediaan rumah susun; dan Peningkatan jaminan kualitas perumahan dengan menerapkan standarisasi perijinan dalam membangun rumah khususnya bagi MBR; Mewujudkan sinkronisasi program pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan meningkatkan upaya pencapaian luasan RTH pada kawasan perkotaan

5. 5.1.

Penataan Ruang Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB

Rasio RTH per satuan luas wilayah berHPL adalah 17,73 menunjukkan bahwa luasan RTH pada wilayah yang ber HPL/HGB luasannya masih besar 24 kab/kota telah memiliki RPJPD

6. 6.1.

Perencanaan Pembangunan Tersedianya dokumen perencanaan RPJPD yg telah ditetapkan dgn PERDA

6.2.

Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg telah ditetapkan dgn PERDA/PERKADA

Semua Kab/Kota telah memeiliki RPJMD yang ditetapkan dengan Perda

Dokumen RPJPD tidak tersedia (Kab.Sinjai & Palopo) Belum optimalnya sinergitas kebijakan pembangunan antar tingkatan pemerintah guna optimalisasi pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan

6.3. 6.4.

Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg telah ditetapkan dgn PERKADA Penjabaran Program RPJMD

Semua SKPD Provinsi dan Kab/kota memiliki RKPD yang ditetapkan oleh Perkada Konsistensi antara Dokumen

Belum optimalnya konsistensi penjabaran

Pemda Provinsi dan Pemda Kab/Kota telah mengacu pada aturan dalam menyususn dokumen perencanaan Optimalisasi dan peningkatan koordinasi dan sinergitas kebijakan pembangunan antar tingkatan pemerintahan; Pemda Provinsi dan Pemda Kab/Kota telah mengacu pada aturan dalam menyususn dokumen perencanaan Belum optimalnya sinergitas kebijakan pembangunan antar tingkatan pemerintah guna optimalisasi pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan Pemda Provinsi dan Pemda Kab/Kota telah mengacu pada aturan dalam menyususn dokumen perencanaan Penyusunan RKPD mengacu dan konsisten pada
IV-16

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK
kedalam RKPD

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


RKPD dan Dokumen Perencanaan Pembangunan (RTR dan RPJMD) kinerja pelayanan transportasi udara pada Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, dimana jumlah pergerakan penumpang sebesar 8.594.339 penumpang. Kinerja pelayanan transportasi laut, khususnya pada pelabuhan Internasional Soekarno-Hatta (Makassar) juga berkinerja baik yang ditunjukkan dengan jumlah peningkatan penumpang tiap tahunnya sebesar 8% yang pada tahun 2012 berjumlah 1.317.814 orang, dan peningkatan bongkar muat tiap tahun sebesar 11,19% yang pada tahun 2012 telah mencapai 15.73 Ton/TEU Tersedia data KIR kendaraan di beberapa kabupaten/kota Jumlah pelabuhan laut adalah 62, pelabuhan udara berjumlah 13, dan jumlah terminal bis 26.

PERMASALAHAN
RPJMD dan RTR dalam dokumen RKPD

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


dokumen perencanaan (RTR dan RPJMD) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Peningkatan pelayanan dan kapasitas transportasi umum melalui peningkatan keterpaduan transportasi antar moda dan antar wilayah

7. 7.1.

Perhubungan Jumlah arus penumpang angkutan umum

Penyebaran pembangunan dan pengembangan transportasi umum masih terpusat di wilayah perkotaan sehingga terjadi ketimpangan pelayanan transportasi antar wilayah perkotaan dan perdesaan

7.2. 7.3.

Jumlah uji kir angkutan umum Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis

Belum terintegrasinya transportasi antar moda serta belum optimalnya pengelolaan dan pelayanan pelabuhan laut/udara/terminal

Peningkatan kualitas pelayanan dan manajemen pengelolaan pelabuhan laut/udara/terminal dan penerapan sistem transportasi multimoda serta peningkatan aksesibilitas pelayanan transportasi khususnya pada kawasan perdesaan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-17

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
8. 8.1.

URUSAN/IKK
LingkunganHidup Persentase penanganan sampah

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Timbulan sampah pada tahun 2012 sudah mencapai 2,6 Juta M3/tahun yang meningkat dari tahun 2008 yang timbulan sampahnya sebesar 2,4 juta M3/tahun Cakupan air bersih di Sulawesi Selatan pada tahun 2012 sudah mencapai 82,52%, dengan persentase rumah tangga yang menggunakan air bersih sudah mencapai 84,75%.. rasio luas permukiman yang tertata pada tahun 2009 sebesar 61,48 meningkat menjadi 86,11 pada akhir tahun 2012. luasannya meningkat, menjadi 114.346 hektar pada tahun 2012 Sampai tahun 2012 telah dilakukan pemantauan pada 5 sungai lintas kab/kota dari 27 sungai lintas kab/kota yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan. dan diharapkan pada akhir tahun perencanaan telah dilakukan pemantauan pada 27 sungai dan 2 danau prioritas Sampai tahun 2012 telah dilakukan pemantauan kualitas udara ambient pada 10 kab/kota

PERMASALAHAN
Penanganan sampah masih terfokus pada penanganan timbulan sampah dan belum melakukan upaya pengurangan volume sampah dari sumbernya Belum terpetakannya wilayah yang akan dilayani oleh sistem penyediaan air minum serta belum optimalnya pemanfaatan dan pengelolaan air baku air minum

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan persampahan melalui upaya pengurangan timbulan sampah mulai dari sumbernya dengan penerapan 3R serta optimalisasi kinerja pengelolaan layanan persampahan Peningkatan cakupan pengguna air bersih khususnya pada masyarakat perdesaan yang belum terjangkau oleh PDAM melalui penyediaan sarana dan prasarana air minum dan penambahan kapasitas dan sistem sambungan rumah air minum serta perlindungan sumber air baku dari pencemaran lingkungan Peningkatan kualitas lingkungan permukiman melalui penyediaan sarana dasar, prasarana dan utilitas umum yang memadai dan terpadu dengan pengembangan kawasan perumahan. Peningkatan kapasitas SDM dan institusi serta sistem informasi lingkungan hidup yang terintegrasi guna ketetapan perencanaan, monitoring dan evaluasi

8.2.

Persentase Pendudukberaksesairminum

8.3.

PersentaseLuaspemukiman yang tertata

Masih terdapat 13,89% luasan kawasan permukiman yang belum layak huni.

8.4.

Pencemaran status mutu air

Belum optimalnya penanganan kerusakan lingkungan akibat rendahnya ketersediaan sistem data dan informasi yang terintegrasi

8.5.

Pencemaran status mutu udara ambient

Belum optimal dan meratanya pemantauan kualitas udara ambient

Peningkatan kapasitas SDM dan institusi serta sistem informasi lingkungan hidup yang terintegrasi guna ketetapan perencanaan, monitoring dan
IV-18

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


evaluasi

8.6.

Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal.

8.7.

Tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk

di Provinsi Sulawesi Selatan , dan Belum optimalnya penanganan kerusakan diharapkan pada akhir tahun lingkungan akibat rendahnya ketersediaan perencanaan telah dilakukan sistem data dan informasi yang terintegrasi pemantauan pada seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Pelaksanaan AMDAL pada tahun Kualitas dan mutu dokumen AMDAL masih 2012 sudah mencapai 98,21% dari memerlukan peningkatan guna 335 perusahaan yang wajib mengoptimalkan upaya mitigasi terhadap melaksanakan AMDAL terhadap pelaksanaan kegiatan guna keberlanjutan kegiatannya lingkungan Rasio daya tampung TPS terhadap Pesatnya laju pertambahan dan aktivitas jumlah penduduk yang sampai penduduk belum didukung oleh keberadaan pada tahun 2012 belum mencapai sarana persampahan berupa TPS serta 0,01. institusi pengelola yang memadai. Ppersentase jumlah pengaduan yang ditindaklanjuti dari 22 kasus di tahun 2012 semuanya sudah mendapat penanganan Sampai dengan tahun 2012, jumlah tanah yang telah disertifikasi seluas 223.387.225 M2 dengan jumlah bidang sebanyak 39.514 bidang 88,46% dari78 total kasus pada tahun 2012 Belum optimalnya peran masyarakat dalam memberikan informasi terkait perusakan lingkungan

Peningkatan kapasitas SDM dan institusi pengawasan pelaksanaan AMDAL

8.8.

Penegakan hukum lingkungan

9. 9.1.

Pertanahan Persentase luas lahan bersertifikat

Peningkatan jumlah sarana persampahan pada tiap lingkungan permukiman secara berimbang dengan jumlah penduduk yang ditunjang oleh institusi pengelola yang profesional;, dan meningkatkan peran masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah dengan menerapkan prinsip 3R. Peningkatan kapasitas SDM dan institusi serta sistem informasi lingkungan hidup yang terintegrasi dalam penegakan hukum lingkungan serta sosialisasi dan SOP pengaduan perusakan lingkungan kepada pemangku kepentingan Peningkatan ketersediaan informasi mengenai kesesuaian pola tata guna tanah dengan rencana tata ruang

Belum terintegrasinya penggunaan tanah dengan RTRWK yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian dalam penggunaan dan pemanfaatan tanah Kurangnya administrasi pendukung

9.2.

Penyelesaian kasus tanah Negara

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-19

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
10. 10.1. 10.2. 10.3. 10.4. 10.5. 10.6.

URUSAN/IKK
Rasio penduduk berKTP per satuan penduduk Rasio bayi berakte kelahiran

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


63% dari total yang menikah pada tahun 2012 66% dari total kelahiran pada tahun 2012 17% dari total yang menikah pada tahun 2012 49.71% dari total penduduk wajib KTP 31.52% dari total jumlah penduduk Tersedia database kependudukan skala provinsi yang akurat

PERMASALAHAN
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Kurangnya kesadaran masyarakat tentang administrasi kependudukan Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan ( SIAK ) secara terpadu terkendala dengan belum adanya jaringan komunikasi dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil pada server yang ada di Provinsi, sehingga proses penyediaan database di Provinsi dilakukan server manual melalui back up data kependudukan dari Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) masing-masing kabupaten/kota Rendahnya persentase perempuan di lembaga legislatif Tingginya dominasi laki-laki pada jabatan struktural strategis di lembaga pemerintah (eksekutif) Belum ada kebijakan afirmasi untuk

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan pelayanan dan pemahaman kepada masyarakat tentang administrasi kependudukan Peningkatan kapasitas dan pengetahuan aparatur pemerintah dalam penyusunan database kependudukan yang berkualitas dan akura; Peningkatan koordinasi antar tingkatan pemerintahan dalam pengoperasian dan pemeliharaan sistem informasi dan database kependudukan.

Kependudukan dan Catatan Sipil

Rasio pasangan berakte nikah Kepemilikan KTP Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk Ketersediaan database kependudukan skala provinsi

11. 11.1.

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Persentase partisipasi % partisipasi perempuan di perempuan di lembaga lembaga legislative baru mencapai pemerintah 14, 23% % partisipasi perempuan di lembaga pemerintah provinsi = 45%

Meningkatkan upaya pendidikan politik bagi perempuan di masyarakat dan lembaga Peningkatan kapasitas dan skill caleg perempuan, aktifis organisasi perempuan, dan tokoh perempuan (toma, toga, toda) Kebijakan afirmasi untuk memberi ruang yang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-20

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


% partisipasi perempuan di jabatan struktural pemerintah (eksekutif) baru mencapai 34,53% 24% dari jumlah total tenaga kerja swasta pada tahun 2012

PERMASALAHAN
mendorong keterwakilan perempuan di jabatan strategis lembaga pemerintah Rendahnya akses dan partisipasi perempuan di lembaga swasta yg disebabkan adanya persyaratan perusahaan Rendahnya persentase perempuan di jabatan strategis pada lembaga swasta Semakin tingginya jumlah korban KDRT di kalangan perempuan dan anak Belum berjalan secara maksimal fungsi layanan penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di kab/kota dalam lembaga terpadu

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


setara antara aparatur perempuan dan laki-laki dalam menduduki jabatan struktural lembaga pemerintah Kebijakan dan tindakan teknis yang bersifat afirmasi untuk meningkatkan akses dan partisipasi perempuan di ranah publik Peningkatan kapasitas/skill manajemen pekerja perempuan di lembaga swasta Peningkatan ketahan keluarga Peningkatan upaya KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) kepada seluruh masyarakat dan lembaga pemerhati perempuan dan anak, dalam hal pencegahan, deteksi dini, dan penanganan kasus KDRT Optimalisasi penerapan SPM bidang Layanan terpadu Penanganan Korban Kekerasan thd Perempuan dan Anak Komite Aksi Pemberantasan Pekerjaan terburuk bagi Anak harus lebih maksimal bekerja Peningkatan akses dan jaminan kesehatan dan pendidikan secara khusus bagi tenaga kerja di bawah umur /anak yang terpaksa bekerja Peningkatan ketahanan ekonomi keluarga Jaminan memperoleh hak pendidikan bagi anakanak dari keluarga kurang mampu Peningkatan akses dan partisipasi angkatan kerja perempuan di sektor strategis Memperketat pengawasan penerapan hak

11.2.

Partisipasi perempuan di lembaga swasta

11.3.

Rasio KDRT

Semakin tahun terjadi peningkatan. Tahun 2012 mencapai 728 kasus

11.4.

Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur

Tahun 2012 mencapai 264.971 pekerja anak

Masih banyak anak-anak yang terlibat dlam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk anak Tidak ada jaminan kesehatan dan pendidikan bagi tenaga kerja di bawah umur Kemiskinan rumah tangga dan rendahnya pendidikan menjadi pemicu meningkatnya jumlah tenaga kerja di bawah umur Rendahnya tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan karena terbatasnya akses perempuan di sektor publik sebagai akibat

11.5.

Partisipasi angkatan kerja perempuan

Partisipasi angkatan kerja perempuan lebih rendah dibanding laki-laki

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-21

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET

PERMASALAHAN
dari budaya patriarkhi Rendahnya komitmen perusahaan dalam menerapkan hak perlindungan perempuan Terdapat perbedaan upah tenaga kerja laki dan perempuan

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


perlindungan bagi pekerja perempuan di perusahaan/lembaga swasta Kebijakan afirmasi untuk mendorong kesetaraan upah tenaga kerja laki dan perempuan Memperbaiki mekanisme layanan terpadu di provinsi dan kab/kota Meningkatkan kapasitas lembaga layanan lintas sektor Komitmen SKPD dan lembaga terkait layanan perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan Pengelolaan pengendalian penduduk secara holistik lintas sektor Peningkatan pemahaman masyarakat tentang perencanaan kelahiran anak Penyebarluasan KIE Genre (Generasi Berencana) Membangun jejaring dengan kader/tenaga lapangan sektor lain dan memaksimalkan fungsi tenaga lapangan tersebut terkait urgensi KB melalui peningkatan kapasitas Mendorong kepesertaan KB pria Membangun kemitraan dengan lintas stakeholders dan layanan kesehatan untuk meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan KB kepada masyarakat.

11.6.

Cakupan penyelesaian pengaduan perlindungan perempuan dan anak dari tindakan kekerasan

Penyelesaian kasus pengaduan pada tahun 2012 mencapai 728 kasus, dan terjadi trend peningkatan kasus KDRT setiap tahun

Penyelesaian pengaduan melalui layanan terpadu belum berjalan maksimal Masih banyak kab/kota yang belum menyediakan layanan terpadu perlindungan perempuan dan anak korban kekerasan

12. 12.1.

Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Rata-rata jumlah anak per 1,68 anak dari jumlah keluarga keluarga pada tahun 2012

12.2.

Rasio akseptor KB

Tahun 2012 mencapai 27,47 persen

Rendahnya kesadaran tanggungjawab kependudukan di kalangan masyarakat dan stakeholders pemerintah Kurangnya pemahaman masyarakat tentang keluarga berencana Terbatasnya tenaga lapangan penyuluh KB, utamanya di daerah terpencil, pegunungan, dan kepulauan Masih rendahnya partisipasi KB Pria Akses berKB masyarakat miskin dan terpencil (pegunungan da kepulauan) masih rendah

12.3.

Cakupan peserta KB aktif

73,47 persen di tahun 2012

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-22

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
12.4.

URUSAN/IKK
Keluarga Pra Sejahtera dan Keluarga Sejahtera I

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Tahun 2012 = 38,29 %

PERMASALAHAN
Tingginya persentase keluarga pra-sejahtera dan sejahtera I Meningkatnya pernikahan dini di kalangan anak remaja Terbatasnya dana yang dialokasikan setiap tahun sehingga sarana dan prasarana pendukung sangat terbatas. Belum optimalnya dan akuratnya pendataan PMKS. Belum tersedianya kriteria PMKS yang akan mendapatkan bantuan. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap masalah kesejahteraan sosial. Kompleksitas penyandang masalah semakin bertambah Rendahnya keterampilan tenaga kerja Tidak adanya kesepakatan tentang upah antara pegusaha dengan tenaga pekerja Tingkat pendidikan tenaga kerja relatif masih rendah Ketidaksesuaian antara jenis pendidikan dan kebutuhan pasar kerja yang tersedia Jumlah pertumbuhan angkatan kerja tidak

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Penguatan ketahanan ekonomi keluarga Peningkatan partisipasi berKB Bimbingan serta pengajaran tentang dampak negatif pernikahan dini untuk mendorong pendewasaan usia kawin dan perencanaan keluarga; Diperlukan peningkatan anggaran dan sasaran pada masing-masing kegiatan. Mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin. Optimalisasi peningkatan ketersediaan data PMKS yang akurat; Memperluas jangkauan pelayanan kepada penerima manfaat Penyediaan SOP dan penentuan kriteria PMKS yang akan mendapatkan bantuan. Adanya komitmen pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat melalui upaya pemberdayaan sosial, rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial Pembekalan dan pelatihan tenaga kerja baik skil maupun kemapuan manajemen Penetapan upah minimum regional yang disesuaikan dengan kemampuan dari perusahaan Pembangunan balai latihan yang bertaraf internasional Pembangunan sekolah kejuruan yang berbasis kebutuhan pasar kerja Perlu komitmen untuk membuat
IV-23

13. 13.1. 13.2.

Sosial Sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi PMKS yg memperoleh bantuan sosial

Semakin meningkat dari tahun ke tahun Peningkatan jumlah PMKS yang memeperoleh bantuan sosial

13.3.

Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial

Berfluktuasi

14. 14.1. 14.2. 14.3. 14.4. 14.5.

Ketenagakerjaan Angka partisipasi angkatan kerja Angka sengketa pengusahapekerja per tahun Tingkat partisipasi angkatan kerja Pencari kerja yang ditempatkan Tingkat pengangguran terbuka

Peningkatan angka partisipasi kerja Penurunan angka sengketa pengusaha-pekerja Peningkatan partisipasi angkatan kerja Peningkatan jumlah angka pencari kerja yang ditempatkan Penurunan tingkat penganguran

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


terbuka

PERMASALAHAN
sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia. Informasi pasar kerja masih terbatas.

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


programperencannan tentang target penempatan tenaga kerja dalam menciptakan lapangan kerja baru. Pengembanagan sistem informasi pasar kerja melalui online sistem Meningkatkan jumlah tenaga kerja yang menerima jamsostek. Meningkatkan peran lembaga penyelesaian perselisihan

14.6. 14.7.

15. 15.1

Keselamatan dan perlindungan Peningkatan upaya keselamatan dan perlindungan tebaga kerja Perselisihan buruh dan Peningkatan jumlah perselisihan pengusaha terhadap kebijakan buruh dan pengusaha yang pemerintah daerah tertangani akibat kebijakan pemerintah daerah Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Total jumlah Koperasi 8.026 unit Persentase koperasi aktif

Terbatasnya jamsostek bagi tenaga kerja Tidak adanya kesepahaman antara pihak buruh dan pengusaha

- Rendahnya peran aparat kecamatan dan desa/kelurahan dalam pembinaan Koperasi - Kurangnya regulasi sektor ekonomi untuk mendorong kegiatan usaha koperasi

- Pelibatan aparat kecamatan dan desa/kelurahan dalam pembinaan Koperasi diwilayahnya - Dibutuhkan regulasi sektor ekonomi yang berpihak pada Koperasi

15.2 15.3

Persentase Koperasi Besar

Meningkatnya jumlah Koperasi besar sebanyak 55 Unit Meningkatnya jumlah usaha kecil menjadi usaha menengah sebanyak 158.718 unit

- Terbatasnya pengelola usaha yang memiliki kemampuan (akreditasi) manajeria - Kemampuan produksi, akses pasar masih sangat terbatas - Wawasan kewirausahaan masih kurang - Skim kredit khusus untuk UMK yang murah dan mudah tidak tersedia - Tidak adanya regulasi untuk pengembangan UMK - Kurangnya kemitraan usaha

- Peningkatan manajerial pengelola usaha melalui lembaga yang terakreditasi - Peningkatan tehnis manajerial pengelola UMK - Penyediaan skim khusus bagi UMK - Ada regulasi usaha yang berpihak pada UMK

Persentase jumlah usaha kecil menjadi menengah

15.4

Persentase jumlah Usaha

Meningkatnya jumlah usaha

- Mendorong terciptanya kerjasama usaha

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-24

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK
menengah menjadi usaha besar

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


menengah menjadi usaha besar sebanyak 3.503 unit Jumlah investor yang berinvestasi sebanyak 283 Jumlah investasi PMA/PMDN sebesar Rp. 23.956.798.051.423,Jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 115.087 orang Realisasi investasi tahun 2012 Rp. 2.318.829.900.000,- menurun bila dibandingkan dengan realisasi investasi tahun 2011 Rp. 3.986.302.703.368,Penyelenggaraan festival seni dan budaya 37 kali pertahunnya yang sudah sesuai dengan agenda event budaya daerah Sarana penyelenggaraan seni dan budaya ada 10 gedung Jumlah 72 situs

PERMASALAHAN
- Tidak tersedia reward bagi pelaku usaha yang berhasil Masih perlu dukungan infrastruktur dan regulasi Masih perlu dukungan infrastruktur dan regulasi Masih perlu dukungan infrastruktur dan regulasi

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


- Penyediaan rewadr bagi pelaku UMK

16. 16.1. 16.2. 16.3. 16.4.

Penanaman Modal Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA) Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA) Rasio daya serap tenaga kerja Kenaikan / penurunan Nilai Realisasi PMDN (milyar rupiah) Kebudayaan Penyelenggaraan festival seni dan budaya Sarana penyelenggaraan seni dan budaya Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan Kepemudaan dan Olahraga Jumlah organisasi pemuda

Diperlukan promosi investasi lebih fokus terhadap investasi yang dibutuhkan danpelayanan perizinan yang transparan dan cepat. Diperlukan promosi investasi lebih fokus terhadap investasi yang dibutuhkan danpelayanan perizinan yang transparan dan cepat. Diperlukan promosi investasi lebih fokus terhadap investasi yang dibutuhkan danpelayanan perizinan yang transparan dan cepat.

17. 17.1.

Masih banyaknya event daerah yang belum teragendakan pelaksanaan Masih kurangnya gedung kesenian yang representatif. Masih banyaknya warisan budaya khususnya Benda Cagar Budaya (BCB)/situs/kawasan cagar budaya yang belum terdaftar Belum terpolanya pemberdayaan pemuda

Perlu inventarisasi event daerah yang belum teragendakan untuk dimasukkan ke dalam event daerah Perlu adanya peningkatan sarana gedung kesenian di Kabupaten/Kota. Perlu adanya inventarisasi warisan budaya khususnya Benda Cagar Budaya (BCB)/situs/kawasan cagar budaya. Memfasilitasi secara terbatas baik teknis, manajemen, maupun dana dalam rangka mendinamisasi dunia kepemudaan
IV-25

17.2. 17.3. 18. 18.1.

Optimalisasi dukungan organisasi pemuda

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
18.2. 18.3. 18.4. 18.5. 18.6. 19. 19.1. 19.2. 20. 20.1. 20.2. 20.3. 20.4.

URUSAN/IKK
Jumlah organisasi olahraga Jumlah kegiatan kepemudaan Jumlah kegiatan olahraga Gelanggang / balai remaja (selain milik swasta) Lapangan olahraga

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Peningkatan jumlah organisasi olahraga Peningkatan jumlah kegiatan kepemudaan Peningkatan jumlah kegiatan olahraga 43 gelanggang pada tahun 2012

PERMASALAHAN
Belum terpolanya pemassalan dan pembibitan olahraga Belum optimalnya koordinasi antara organisasi pemuda dan pemberdayaan organisasi pemuda Belum optimalnya ketersediaannya sarana dan prasarana kegiatan Keterbatasan anggaran

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Meningkatkan pola pembibitan dan pembinaan atlit melalui pusat pendidikan dan latihan olagraga pelajar Perlu adanya dorongan serta dukungan untuk pengembangan generasi muda dalam meningkatkan produktifitas dan prestasi Perlu adanya fasilitasi sarana dan prasarana yang memadai dan berkualitas Perlibatan pihak swasta Ketersediaan lahan Perlibatan pihak swasta

2.480 lapangan

Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Kegiatan pembinaan terhadap 4 kegiatan pada tahun 2012 LSM, Ormas dan OKP Kegiatan pembinaan politik 6 kegiatan pada tahun 2012 daerah Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 10.000 penduduk Rasio jumlah Linmas per Jumlah 10.000 Penduduk Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan Pertumbuhan ekonomi 2 pada tahun 2012

Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian
38,77 pada tahun 2012 85 pada tahun 2012 8,37% pada tahun 2012 Belum berimbangnya jumlah polisi pamong praja dengan jumlah penduduk Belum berimbangnya jumlah Linmas dengan jumlah penduduk Belum optimalnya peran masyarakat dalam pemanfaatan pos siskamling Belum meratanya pertumbuhan ekonomi antar wilayah Sebaran penduduk miskin pada wilayahwilayah terpencil Terbatasnya PPNS penegak PERDA

20.5. 20.6.

Kemiskinan Penegakan PERDA

805.92 ribu jiwa pada tahun 2012 91% pada tahun 2012

Penempatan polisi pamong praja secara berimbang sesuai dengan kebutuhan Penempatan Linmas secara berimbang sesuai dengan kebutuhan Peningkatan kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan pos siskamling Infrastruktur yang baik Keamanan yang kondusif Iklim investasi yang semakin baik Perbaikan akses infrastruktur, distribusi pangan Makin tingginya kesadaran masyarakat terhadap
IV-26

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
20.7.

URUSAN/IKK
Cakupan patroli petugas Satpol PP Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan) di Kabupaten Petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas) di Kabupaten KetahananPangan Regulasi ketahanan pangan

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


2072 pada tahun 2012

PERMASALAHAN
Masih kurangnya intensitas cakupan patroli petugas Satpol PP Masih kurangnya sarana prasarana Kurangnya tenaga penyidik

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


peraturan perundang-undangan Ketersediaan sarana dan prasarana pendukung cakupan patroli petugas Satpol PP Ketersediaan tenaga penyidik

20.8.

91% pada tahun 2012

20.9. 21. 21.1.

31.757 pada tahun 2012

Belum berimbangnya jumlah Linmas dengan jumlah penduduk Regulasi Ketahanan Pangan masih kurang Sanksi terhadap pelanggaran Peraturan Keamanan Pangan belum Optimal Laju peningkatan produksi pangan cenderung melandai sedangkan pertambahan penduduk lebih besar dari 1 %. Belum Optimalnya sistem cadangan pangan daerah untuk mengantisipasi kondisi darurat bencana alam. Masih Rendahnya Kelompok Binaan Pada Setiap Desa ( Hanya 1 Binaan Kelompok Pada Masing-masing LPM) Masih ada PKK di Desa Dan Kelurahan yang belum membina Kelompok sesuai dengan jumlah Kelompok Binaan Yang Harus Di

Penempatan Linmas secara berimbang sesuai dengan kebutuhan Koordinasi dengan instansi terkait dalam melaksanakan regulasi Ketahanan Pangan secara Optimal Tingkat Produksi utama (beras) Pengendalian Pertumbuhan Penduduk

21.2.

Ketersediaan pangan utama

Tersedia regulasi yang mendukung pemberdayaan masyarakat dalam pemenuhan Hak atas Pangan Ketersediaan Pangan utama (beras) tersedia sepanjang tahun minimal 2 kali kebutuhan pangan penduduk

22. 22.1.

Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Rata-rata jumlah kelompok rata-rata jumlah kelompok binaan binaan lembaga pemberdayaan LPM = 1 klp binaan masyarakat (LPM) Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK rata-rata kelompok binaan PKK = 48 klp binaan

22.2.

Pembinaan Terhadap Kelompok Binaan Agar meningkatkan Jumlah Kelompok Binaan Pada Masing-Masing LPM pada setiap Desa (menjadikan 2 Kelompok Binaan Pada Masing-Masing LPM) Pengoptimalan Fungsi dan Tanggung Jawab Penggerak PKK Provinsi, Kabupaten/Kota Kecamatan dan Desa/Kelurahan agar Rutin membina
IV-27

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Bina.

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Kelompok Binaan PKK pada Masing-masing POKJA. Pendataan dan Inventarisasi Data LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat di Setiap Kabupaten/Kota. Pemberian Penilaian Kinerja kepada LPM yang dilakukan setiap SKPD yang berkaitan langsung dengan kegiatan LPM Memperlancar Akses Transportasi Dan Komunikasi Pada Setiap Desa/Kelurahan yang letaknya terpencil agar rutin dilakukan pembinaan pada PKK Desa. Meningkatkan Sumber Daya Manusia Kader Posyandu dan Pemberian Dukungan Sarana Dan Prsarana yang Layak kepada Posyandu Didasa/Kelurahan khususnya didaerah terpencil. Mengiatkan Program-Program Pemerintah yang bertujuan meningkatkan swadaya Gotong Royong Masyarakat serta melakukan Pendataan secara rutin Kegiatan Pembangunan yang dilakukan secara swadaya. Mengaktifkan dan memfungsikan Kembali KelopokKelompok Pemelihara Pasca Pembangunan Program Pemberdayaan Masyarakat di Desa/Kelurahan Serta mengaggarkan pada APBDes Kegiatan Pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat

22.3.

Jumlah LSM

22.4.

LPM Berprestasi

22.5.

PKK aktif

22.6.

Posyandu aktif

22.7.

Swadaya Masyarakat terhadap Program pemberdayaan masyarakat

22.8.

Pemeliharaan Pasca Program pemberdayaan masyarakat

49,51% (759 LSM Aktif dari 1.533 Data LSM Aktif belum terinventaris dengan Total LSM) baik pada setiap Kabupaten/Kota Khususnya LSM yang bergerak dibidang Pemberdayaan Masyarakat 0,96 % (144 LPM Berprestasi dari Masih Rendahnya aktivitas penghargaan yang 15.020 Total LPM) di lakukan oleh Pemerintah Provinsi Dan Kabupaten dalam menilai Kinerja Kelembagaan LSM di bidang Pemberdayaan Masyarakat 97,47 % (61.310 PKK Aktif dari Desa/Kelurahan yang letaknya terpencil 62.903 PKK) (Daerah Pegunungan dan Kepulauan) sulit dilakukan pembinaan oleh TP-PKK Desa,Kecamatan,Kabupaten Dan Provinsi 98,89 % (8.703 Posyandu Aktif Masih ada Sebagian Posyandu Yang Belum dari 8.801 total Posyandu) memiliki kader yang terlatih serta sarana dan prasarana yang layak khususnya di daerah Desa/Kelurahan terpencil. Persentase swadaya masyarakat Masih rendahnya Program-Program terhadap program pemberdayaan Pemerintah yang bertujuan meningkatkan sebesar 65,50% Swadaya Gotong Royong Masyarakat serta Belum terdatanya dengan Baik Kontribusi Swadaya Masyarakat terhadap kegiatan pembangunan khususnya di Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Persentase peran masyrakat dalam Kurang Berfungsinya Kelompok Masyarakat pemeliharaan sarana dan pemelihara Pembangunan yang di prasarana terbangun sebesar Desa/Kelurahan dan tidak dianggarkan dalam 65,92% APBDes pemeliharaan Pasca Program Pemberdayaan Masyarakat.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-28

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
23. 24.1.

URUSAN/IKK
Kearsipan Pengelolaan arsip secara baku

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Belum optimalnya pengelolaan kearsipan pada SKPD

PERMASALAHAN
Sarana dan prasaran pengelolaan dan penyimpanan arsip masih kurang. Arsip-arsip yang berada di SKPD masih masuk dalam kategori kacau, belum tertata sesuai kaidah kerasipan. Tidak tersedianya sarana dan prasarana dan belum terlaksananya system kearsipan yang baku di setiap SKPD. Rendahnya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya arsip. Belum terwujudnya Unit Kearsipan disetiap SKPD, sesuai amanah UU No. 43 Tahun Tentang Kearsipan. Ketersediaan dan kapasitas sumberdaya manusia pengelola arsip belum memadai, Belum optimalnya pembinaan kearsipan di SKPD yang di sebabkan oleh kurangnya Tenaga Fungsional Kearsipan (Arsiparis). Masih terdapat beberapa wilayah yang belum terjangkau jaringan komunikasi yang berkualitas Masih terdapat beberapa wilayah yang belum terjangkau fasilitas wartel/warnet yang berkualitas Keberadaan surat kabar yang memberikan

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana pengelolaan kearsipan yang berkualitas; Peningkatan pemahaman dan kapasitas aparat terkait pengelolaan arsip; kurangnya komitmen para pimpinan SKPD akan pentingnya arsip Peningkatan pemahaman aparatur akan pentingnya pengelolaan arsip; Penyediaan unit pengelolaan arsip pada tiap SKPD berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan.

24.2.

Peningkatan SDM pengelola kearsipan

Peningkatan pengetahuan dan minat minat aparatur tentang kepentingan penglolaan kearsipan; Peningkatan kesejahteraan aparatur fungsional kearsipan. Penyediaan sarana dan prasarana jaringan komunikasi pada wilayah yang belum terjangkau pelayanan jaringan komunikasi Penyediaan sarana dan prasarana jaringan komunikasi pada wilayah yang belum terjangkau pelayanan jaringan komunikasi; Peningkatan kualitas dan jangkauan jaringan komunikasi Peningkatan jumlah, kualitas dan kapasitas media

24. 25.1. 25.2.

Komunikasi dan Informatika Jumlah jaringan komunikasi Masih terbatasnya jumlah dan kualitas jaringan komunikasi Rasio wartel/warnet terhadap penduduk Masih rendahnya rasio wartel dan warnet terhadap jumlag penduuduk Masih terbatasnya jumlah dan

25.3.

Jumlah surat kabar

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-29

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK
nasional/lokal

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


kualitas surat kabar naional/lokal Masih terbatasnya jumlah dan kualitas penyiaran radio/TV lokal

PERMASALAHAN
informasi up to date terutama terkait dengan informasi penyelenggaraan pemerintahan daerah masih terbatas. Keberadaan stasiun televisi dan siaran radio lokal yang masih terbatas dan kemampuan jangkauan siarannya yang belum mampu menjangkau seluruh wilayah; Kurangnya tenaga komisioner yang memantau kontent penyiaran, terutama penyiaran TV lokal. Sarana dan prasarana pendukungperpustakaan termasuk prasarana kantor belum memadai; Terbatasnya pendanaan untuk pengembangan perpustakaan. Belum adanya gedung perpustakaan yang representatif. Belum optimalnya pengelolaan Perpustakaan. Terbatasnya tenaga fungsional perpustakaan (Pustakawan). Masih kurangnya minat baca masyarakat yang disebabkan oleh rendahnya budaya membaca masyarakat. Kuantitas dan kualitas bahan pustaka masih kurang.

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


cetak lokal yang ada di daerah; Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah dalam peningkatan kualitas dan kapasitas media cetak lokal Peningkatan fasilitasi pemerintah dalam peningatan kualitas dan jangkauan penyiaran radio lokal; Peningkatan peran masyarakat dalam memacu peningkatan jangakauan penyiaran radio/TV lokal.

25.4.

Jumlah penyiaran radio/TV lokal

25. 26.1.

Perpustakaan Jumlah perpustakaan

Jumlah perpustakaan belum memenuhi dapat kebutuhan masyarakat

Peningkatan kualitas sarana dan prasarana perpustakaan yang berkualitas; Peningkatan peran dan pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah terkait peran perpustakaan dalam peningkatan kualitas pendidikan Peningkatan peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan perpustakaan Peningkatan pemahaman masyarakat akan peran profesi pustakawan Peningkatan fasilitasi dan sosialisasi pemerintah baik untuk memacu peningkatan minat baca masyarakat Peningkatan koordinasi dan kerjasama antar pemerintah dan penerbit dalam pengadaan bahan bacaan yang bermutu; Peningkatan peran pemangku kepentingan untuk

26.2.

Jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah

Peningkatan jumlah pengunjunng perpustakaan per tahun masih rendah Jumlah koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah masih terbatas

26.3.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-30

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


berpartisipasi dalam pengadaan bahan bacaan yang bermutu

II 1. 1.1.

Fokus Layanan Urusan Pilihan Pertanian Produktivitas padi atau bahan Produktifitas padi dalam 5 tahun pangan utama lokal lainnya per terakhir mengalamipeningkatan hektar 1,58 % tetapi peningkatan luas panen leebih besar sebesar 5,02 % sehingga capaian peningkatan produksi setiap tahun didominasi oleh penambahan luas panen

Penyediaan sarana produksi spt benih dan pupuk belum memenuhi prinsip 5T (tepat waktu, tepat jenis, tepat jumlah, tepat tempat dan tepat harga) Belum optimalnya dukungan sarana dan prasarana seperti jaringan irigasi, alat mesin pertanian, sarana pasca panen dan sarana perhubungan.

1.2.

Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB

Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB paling tinggi dibanding sektor lainnya Kontribusi sector Perkebunan terhadap PDRB 4,48 %

Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB mengalami penurunan dari 29,45 5 tahun 2008 menjadi 24,79 % pada thn 2012 Nilai tambah dan mutu hasil perkebunan masih belum optimal.(Dinas Perkebunan)

1.3.

Kontribusi sub sektor pertanian (tanaman bahan makanan) terhadap PDRB

Kontribusi sub sektor pertanian (tanaman bahan makanan ) terhadap PDRB paling tinggi disbanding sub sektor lainnya

Kontribusi sub sektor pertanian (tanaman bahan makanan ) terhadap PDRB mengalami penurunan dari 13,94 % tahun 2008 menjadi 12,08 % pada thn 2012

Ketersediaan benih dan produksi lainnya yang memenuhi prinsip 5 T Pengendalian OPT dan pengawalan teknologi Pembangunan dan rehabilitasidan jaringan irigasi Pengembangan sumber air irigasi alternatif seperti embung dll. Fasilitasi penyediaan alsintan danlembaga penyedia alsintan Fasilitasipermodalan dan pembiayaan usaha tani lainnya Ketersediaan agroinput memenuhi prinsip5 T Peningkatan jalan penghubung darikantong produksi ke pasar dan industri Fasilitasi permodalan dan pembiayaanusaha tani lainnya Penyediaan sarana pengolahan yang memadai di sektor Perkebunan Perbaikan dan Peningkatan Mutu hasil Perkebunan. Ketersediaan agroinput memenuhi prinsip5 T Peningkatan jalan penghubung darikantong produksi ke pasar dan industri Fasilitasi permodalan dan pembiayaanusaha tani lainnya Pemeliharaan tanaman secara intensif yang
IV-31

1.4.

Kontribusi sektor perkebunan

Kontribusi sektor Perkebunan

Produktifitas tanaman Perkebunan belum

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK
(tanaman keras) terhadap PDRB

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


tehdp PDRB 4,48 %

PERMASALAHAN
optimal, masih di bawah potensi kemampuan lahan

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


berkelanjutan Penyediaan sarana dan prasarana produksi yang memadai Perbaikan tanaman melalui peremajaan dan rehabilitas serta pemilihan tanaman yang unggul yang tahan terhadap Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan anomali iklim. Penyediaan data dan informasi kontribusi kelompok petani terhadap PDRB; Peningkatan kapasitas dan pengetahuan kelompok petani agar dapat berkontribusi optimal dalam PDRB Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah guna memacu peningkatan kontribusi kelompok petani. Peningkatan kapasitas dan pengetahuan kelompok petani dalam menjalankan usaha peningkatan kualitas produksi pertanian; Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah guna memacu peningkatan usaha dan produksi kelompok tani. Meningkatkan sarana dan prasarana, penerapan tekhnologi produksi dan manajemen produksi

1.5.

Kontribusi Produksi kelompok petani terhadap PDRB

Kontribusi produksi kelompok petani terhadap PDRB belum teridentifikasi

1.6.

Cakupan bina kelompok petani

Cakupan kelompok petani yang menjalankan usaha melalui pembinaan masih sangat rendah

1.7.

Produksi daginng dari berbagai komoditas ternak

2. 2.1.

Kehutanan Rehabilitasi hutan dan lahan kritis

Target pada tahun 2012 diharapkan sebesar 2 persen per tahun namun terjadi penurunan sebesar -3,9 persen dari yang ditergetkan Jumlah luas hutan yang direhabilitasi setiap tahun mengalami peningkatan, yakni

Belum tersedianya data dan informasi terkait produksi kelompok petani terhadap PDRB Belum optimalnya kapasitas dan pengetahuan kelompok petani dalam peningkatan pendapatan; Belum optimalnya peran dan fasilitasi pemerintah dalam memacu peningkatan produksi kelompok tani Belum optimalnya kapasitas dan pengetahuan kelompok petani dalam menjalankan usaha peningkatan kualitas produksi pertanian; Belum optimalnya peran dan fasilitasi pemerintah dalam memacu peningkatan usaha dan produksi kelompok tani Rendahnya produksi daging

Besarnya laju deforestrasi dan degradasi hutan serta tersedianya data dan informasi laju degradasi kawasan hutan

Penyelesaian tata batas kawasan hutan, batas luar, dan batas fungsi kawasan hutan serta penguatan upaya peningkatan kapasitas pengelolaan kawasan
IV-32

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


dari 17,92 ribu ha tahun 2008 meningkat menjadi 115,63 ribu ha tahun 2012 atau dari 2,62 persen menjadi 21,98 persen Kerusakan hutan masih 12% dibandingkan dengan luas Kontribusi sektor kehutanan masih di bawah 1 %,

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


hutan melalui peningkatan kapasitas polisi hutan

2.2.

Kerusakan Kawasan Hutan

Besarnya laju deforestrasi dan degradasi hutan serta tersedianya data dan informasi laju degradasi kawasan hutan Secara ekonomi kontribusi sektor kehutanan masih rendah namun kontribusi intangiblenya tidak dihitung Belum terpadunya kegiatan perencanaan dan pengembangan pertambangan dengan reancana tata ruang Belum terpadunya kegiatan perencanaan dan pengembangan pertambangan dengan reancana tata ruang

2.3. 3. 3.1.

Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB

Energi dan Sumber Daya Mineral Pertambangan tanpa ijin Penanganan pertambangan tanpa ijin masih dibawah 47% Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB
Kontribusi masih pada tahun 2012 5,63% masih dibawah capaian tahun 2008 namun cenderung stabil di angka tersebut selama 4 tahun berikutnya Kunjungan mengalami peningkatan setiap tahunnya sebesar 24,37 persen, yakni dari 2,06 juta orang tahun 2008 meningkat menjadi 4,94 juta jiwa tahun 2012.

Penyelesaian tata batas kawasan hutan, batas luar, dan batas fungsi kawasan hutan serta penguatan upaya peningkatan kapasitas pengelolaan kawasan hutan melalui peningkatan kapasitas polisi hutan Perlu menghitung kontriusi intangible dari sektor kehutanan untuk menjadi pertimbangan ekonomi lingkungan Sinkronisasi perencanaan dan pengembangan pertambangan dengan rencana tata ruang serta konsistensi pemanfaatan rencana tata ruang dan penegakan hukum Sinkronisasi perencanaan dan pengembangan pertambangan dengan rencana tata ruang serta konsistensi pemanfaatan rencana tata ruang dan penegakan hukum Peningkatan sarana dan prasarana akses ke DTW Optimalisasi promosi DTW baru dan perbaikan infrastruktur. Perlu peningkatan promosi baik Dalam maupun Luar Negeri.

3.2.

4. 4.1.

Pariwisata Kunjungan wisata

Belum optimalnya sarana dan prasarana Daerah Tujuan Wisata (DTW) Masih banyak DTW baru yang belum terjangkau.

4.2.

Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB

Konstribusi terhadap PDRB rata- Masih rendahnya promosi pada segmen rata 1,57 persen selama lima tahun pasar internasional.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-33

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
5. 5.1.

URUSAN/IKK
Kelautan dan Perikanan Produksi perikanan

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Jumlah produksi ikan pada 2012 sebesar 2.495.576,20 atau 176 persen dari produk perikanan

PERMASALAHAN
Belum terintegrasinya sistem produksi dari hulu ke hilir Kualitas armada kapal penangkap ikan masih rendah Virus penyakit Mutu produksi perikanan kurang berdaya saing Kualitas SDM

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Memanfaatkan potensi yang ada dengan menerapkan teknologi serta membangun jejaring bisnis perikanan Pengembangan sektor hulu ke hilir dan revitalisasi sistem produksi dalam rangka penyediaan bahan baku industrialisasi Pembinaan dan Pengawasan dalam pengelolaan Sumberdaya perikanan dan kelautan Pembinaan produk nilai tambah dan diseminasi teknologi pengolahan Peningkatan mutu dan jaminan keamanan pangan

5.2.

Konsumsi ikan

Pada tahun 2012 konsumsi ikan berhasil melampaui target sebesar 100,90 persen, dimana konsumsi ikan yang dicapai sebesar 41,80 kg sementara target daerah hanya sebesar 41,40 kg. Cakupan bina kelompok nelayan yang mendapat bantuan di Sulawesi Selatan mengalami peningkatan, yakni 0,37 persen tahun 2008 meningkat menjadi 0,72 persen tahun 2012 atau dari 168 kelompok menjadi 708 kelompok. Jumlah produk kelompok sebesar 72 persen dari produk daerah.

Persaingan Konsumsi protein hewan lain Penurunan Stok Ikan

Komoditas perikanan dimasukkan dalam UU pangan


Strategis

5.3.

Cakupan bina kelompok nelayan, pembudidaya dan pengolah

Kurangnya monitoring terhadap Inovasi teknologi pada usaha perikanan keberhasilan bina kelompok nelayan Pengelolaan potensi dengan berbasis komoditas, Belum terintegrasinya sistem produksi dari kawasan serta pembenahan sistem dan manajemen Hulu ke Hilir usaha kelembagaan Rendahnya produktivitas dan daya saing usaha kelautan dan perikanan Kemiskinan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan Keterbatasan infrastruktur perikanan budidaya tangkap dan pengolahan hasil kelautan dan perikanan (air bersih,listrik,BBM,sistem rantai dingin, pelabuhan perikanan. Kualitas kelembagaan nelayan, pembudidaya dan pengolah Meningkatkan pembinaan kelembagaan masyarakat usaha perikanan dan kelautan agar dapat menghasilkan produk yang berdaya saing

5.4.

Produksi perikanan kelompok nelayan, pembudidaya dan pengolah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-34

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET

PERMASALAHAN
Terbatasnya akses permodalan untuk usaha perikanan

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN

6. 6.1.

Perdagangan Kontribusi sektor Perdagangan Rata-rata 17 persen selama lima terhadap PDRB tahun

Belum optimalnya peran sektor perdagangan terhadap peningkatan PDRB Sulsel

6.2.

Ekspor Bersih Perdagangan

Ekspor bersih sebesar US1.446,19 juta pada tahun 2012

Belum optimalnya kontribusi ekspor terhadap pembangunan Sulsel

Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal 7. 7.1. 7.2. 8. 8.1. 8.2. Perindustrian Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB Pertumbuhan Industri. Ketransmigrasian Transmigran swakarsa Mandiri (TSM) Kontribusi transmigrasi terhadap PDRB

Persentase usaha informal dan kelompok pedagang yang aktif

Masih bersarnya jumlah kelompok pedagang dan usaha informal yang aktif dan mandiri; Masih rendahnya tingkat keterampilan dan kapasitas pengelolaan usaha Kurangnya investasi sektor industri pengolahan Kurangnya investasi sektor industri pengolahan Program sudah tidak ada Belum tersedianya data dan informasi kontribusi transmigrasi terhadap PDRB akibat pelaksanaan transmigrasi belum bersinergi dengan baik

Optimalisasi peran sektor perdagangan terhadap PDRB; Peningkatan koordinasi antar tingkatan pemerintahan dalam upaya memacu kontribusi sektor perdagangan terhadap PDRB Optimalisasi peran dan kontribusi ekspor terhadap pembangunan; Peningkatan koordinasi antar tingkatan pemerintahan dalam upaya memacu nilai ekspor sektor perdagangan Peningkatan upaya pembinaan dan faslitasi kelompok pedagang dan usaha informal; Peningkatan keterampilan dan kapasitas pengelolaan usaha Iklim investasi yang semakin baik Iklim investasi yang semakin baik Peningkatan koordinasi dan sinergitas pelaksanaan program transmigrasi; Penyediaan data dan informasi yang berkualitas dan bersinergi antar tingkatan pemerintahan terkait

Pertumbuhan sektor industri 12,23 persen Pertumbuhan industri 9,32 persen (ADHK) Sejak tahun 2000 tidak ada lagi transmigrasi swakarsa mandiri Kontribusi transmigrasi terhadap PDRB belum dapat digambarkan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-35

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
C I 1. 1.1.

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


transmigrasi

ASPEK DAYA SAING DAERAH

1.2.

1.3. 2. 2.1.

II 1. 1.1.

Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Pengeluaran konsumsi rumah Rata-rata pengeluaran per kapita Konsumsi rumah tangga per kapita masih Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah dalam tangga per kapita sebulan untuk pengeluaran didominasi kelompok pangan yang idealnya mendukung peningkatan konsumsi kelompok non makanan di Sulawesi Selatan kelompok non pangan pangan pada tahun 2011 adalah sebesar 51,40 persen atau mengalami penurunan sebesar 6,31 poin jika dibandingkan dengan tahun 2010. Pengeluaran konsumsi non persentase pengeluaran Konsumsi non pangan lebih rendah Peningkatan peran dan fasilitasi pemerintah dalam pangan perkapita konsumsi rumah tangga per dibanding konsumsi pangan per kapita mendukung peningkatan konsumsi kelompok non kapita meningkat dan hampir pangan berimbang, yakni dari 38.66 persen menjadi 48.60 persen. Produktivitas total daerah PDRB meningkat signifikant dari Masih didominasi sektor pertanian yang Industri pengolahan pertanian meningkat tahun ketahun pemasarannya dalam bentuk komoditi Sarana produksi pertanian meningkat primer Pertanian Nilai tukar petani Nilai tukar petani di Sulsel berada Kemampuan daya beli masyarakat meningkat di atas rata-rata provinsi tetangga Jumlah produksi hasil pertanian meningkat dari semula pada tahun 2008 sebesar 100,20 meningkat menjadi 108,11 pada tahun 2012. Fokus Fasilitas Wilayah/Infrastuktur Perhubungan Rasio panjang jalan per jumlah Pertambahan jumlah kendaraan Kurangnya pembangunan infrstruktur jalan Meningkatnya kemampuan masyarakat membeli kendaraan lebih tinggi dibanding baru kendaraan baru
IV-36

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
1.2. 1.3.

URUSAN/IKK
Jumlah orang/ barang yang terangkut angkutan umum Jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/ terminal per tahun

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


peetambahan panjang jalan Jumlah arus barang dan orang semakin meningkat Jumlah penumpang penumpang Domestik sebesar 8.481.423 penumpang dan Internasional sebesar 112.916 penumpang di Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar tahun 2012, total sebesar 8.594.339 penumpang. Pelabuhan Makassar mengalami peningkatan, dengan jumlah peningkatan penumpang tiap tahunnya sebesar 8% yang pada tahun 2012 berjumlah 1.317.814 orang, dan peningkatan bongkar muat tiap tahun sebesar 11,19% yang pada tahun 2012 telah mencapai 15.73 Ton/TEU. Sampai saat ini rasio kesesuaian pelaksanaan pembangunan yang sesuai dengan RTRWP sudah mencapai 0,52 yang diindikasikan dengan telah dilaksanakannya 138 program pembangunan utama pada indikasi program utama RTRWP

PERMASALAHAN

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Semakin giatnya perekonomian dan lancarnya transportasi kedaerah Peningkatan kualitas pelayanan dan manajemen pengelolaan pelabuhan laut/udara/terminal Penerapan sistem transportasi multimoda serta peningkatan aksesibilitas pelayanan transportasi khususnya pada kawasan perdesaan

Belum terintegrasinya transportasi antar moda serta belum optimalnya pengelolaan dan pelayanan pelabuhan laut/udara/terminal

2. 2.1.

Penataan Ruang Ketaatan terhadap RTRW

Belum sinkronnya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pada rencana tata ruang Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap

Adanya upaya pengendalian pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten yang berbatasan dengan perkotaan Upaya Mewujudkan sinkronisasi program pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan meningkatkan upaya pengendalian pemanfaatan ruang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-37

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
2.2.

URUSAN/IKK
Luas wilayah produktif

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


Luas wilayah produktif Sulawesi Selatan berdasarkan RTRWP Sulawesi Selatan sudah mencapai 0,35 dengan mengembangkan kawasan produktif seluas 1.816.757 hektar. Luas wilayah industry di Sulawesi Selatan sesuai dengan RTRW sampai tahun 2012 baru mencapai 0,03 dengan membangun industry dan kawasan industry seluas 7,92 Km2 Persentase luas wilayah kebanjiran terhadap luas wilayah budidaya di Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 20,20 persen.

PERMASALAHAN
Belum sinkronnya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pada rencana tata ruang Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap Belum sinkronnya program pembangunan antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pada rencana tata ruang Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Adanya pengembangan kawasan peternakan di Kabupaten Enrekang dan Sidenreng Rappang, Adanya pengembangan kawasan permukiman Kota Baru Mamminasata Adanya pengembangan Kawasan Strategis Provinsi yaitu Kawasan Pusat Bisnis Terpadu Center Point of Indonesia Adanya upaya pengendalian pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten yang berbatasan dengan perkotaan

2.3.

Luas wilayah industri

2.4.

Luas wilayah kebanjiran

2.5.

3. 3.1. 3.2.

Belum sinkronnya program pembangunan Adanya upaya pengendalian pemanfaatan ruang antar sektor dan antar wilayah yang mengacu pada wilayah kabupaten yang berbatasan dengan pada rencana tata ruang perkotaan Belum tersedianya instrumen pengendalian yang optimal terhadap pelanggaran rencana tata ruang Luas wilayah perkotaan Realisasi luas kawasan perkotaan Belum sinkronnya program pembangunan Sinergitas dan sinkronisasi program pembangunan terhadap luas rencana wilayah antar sektor dan antar wilayah yang mengacu kawasan perkotaan yang mengacu pada RTR; budidaya sesuai RTRWP Sulsel pada rencana tata ruang Penyiapan instrumen pengendalian pemanfaatan saat ini mencapai 15,96. Belum tersedianya instrumen pengendalian ruang. yang optimal terhadap pelanggaran rencana tata ruang Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Jenis dan jumlah bank dan Peningkatan dan pemeretaan Jenis dan jumlah bank belum merata di Tingginya kesadaran masyrakat menggunakan jasa cabang jumlah dan jenis bank setiap kabupaten/kota perbankan Jumlah tabungan dan nasabah meningkat Jenis, kelas, dan jumlah Makin tingginya minat Belum optimalnya peran pemerintah dalam Peningkatan peran pemerintah dalam memfasilitasi restoran
IV-38

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


masyrakat untuk membuka usaha restoran Meningkatnya jumlah masyarakat yang berkunjung ke restoran Makin tingginya minat masyrakat untuk membuka usaha penginapan/hotel; Meningkatnya jumlah masyarakat yang berkunjung dan menggunakan fasilitas penginapan/hotel. Cakupan pengguna air bersih sebesar 83,63% dengan total rumah tangga sebesar 1.583.095 RT yang menggunakan air bersih

PERMASALAHAN
memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan restoran yang sehat, dan halal; Masih terbatasnya jumlah restoran yang terdaftar dan tersertifikasi Belum optimalnya peran pemerintah dalam memfasilitasi masyarakat dalam pengelolaan penginapan/hotel; Masih terdapat beberapa penginapan/hotel yang sesuai dengan syarat dan persyaratan.

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


pengelolaan restoran yang sehat dan halal; Peingkatan kapasitas dan pemahaman masyarakat akan pengelolaan restoran yang sehat dan halal. Peningkatan peran pemerintah dalam memfasilitasi pengelolaan penginapan/hotel; Peingkatan kapasitas dan pemahaman masyarakat terkait syarat dan persyaratan pendirian penginapan/hotel..

3.3.

Jenis, kelas, dan jumlah penginapan/ hotel

4. 4.1.

Lingkungan Hidup Persentase Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih

5. 5.1.

Masih rendahnya cakupan RT yang Peningkatan cakupan pelayanan air bersih di menggunakan air bersih dari sumber yang tingkat rumah tangga; aman; Peningkatan upaya konservasi sumber air baku Makin berkurangnya kapasitas air baku untuk memenuhi kebutuhan RT Persentase pemanfaatan energi baru terbarukan masih rendah untuk pembangkit listrik baik skala menengah maupun skala kecil masih rendah Kurangnya inovasi baru untuk pembangkit listrik Laju pertumbuhan permintaan energy didominasi oleh kebutuhan komersial sebesar 32% dan pertumbuhan kebutuhan industry sebesar 21%, Persentase pemanfaatan energi baru Pengembangan dan pemanfaatan potensi energi lokal khususnya energi baru terbarukan Meningkatkan pemenuhan kebutuhan listrik di perdesaan dan melalui pengembangan Desa Mandiri Energi.

Komunikas dan Informatika Rasio ketersediaan daya listrik Kebutuhan listrik di Sulawesi Selatan pada tahun 2012 sebesar 3.758 GWH didominasi oleh kebutuhan untuk rumah tangga sebesar 48%, disusul oleh kebutuhan untuk industry sebesar 24%, untuk komersial sebesar 17,3%, dan sisanya untuk kebutuhan publik. Persentase rumah tangga yang

5.2.

Persentase rumah tangga yang

Pengembangan dan pemanfaatan potensi energi


IV-39

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No

URUSAN/IKK
menggunakan listrik

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


menggunakan listrik di Sulawesi Selatan didominasi oleh pengguna listrik dengan daya 900 watt sebesar 44% dari seluruh rumah tangga pengguna listrik

PERMASALAHAN
terbarukan masih rendah Semakin tinggi permintaan sambungan baru untuk RT

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


lokal khususnya energi baru terbarukan Meningkatkan pemenuhan kebutuhan listrik di perdesaan dan melalui pengembangan Desa Mandiri Energi.

III 1. 1.1.

1.2.

1.3.

Fokus Iklim Berinvestasi Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian Angka kriminalitas Jumlah tindak kriminalitas di Masih tingginya angka kriminal akibat Peningkatan kualitas dan frekwesi pelaksanaan Provinsi Sulawesi Selatan sosialisasi hukum yang kurang sosialisasi perangkat hukum; mengalami peningkatan selama Masih rendahnya pendidikan Peningkatan peran masyarakat dalam pelaksanaan lima tahun terakhir (2008-2012), keamanan dan ketertiban masyarakat Kurangnya jumlah aparat penegak hukum Pada tahun 2008 hingga tahun Mengaktifkan Kantibmas 2011, jumlah tindak kriminalitas meningkat dari 15.137 kasus menjadi 22.051 kasus Jumlah demo Peningkatan koordinasi dan kerjasama dalam Tingginya jumlah demonstasi dan Masih rentang aksi demonstrasi penanganan demonstrasi; Belum tersedianya sarana penyaluran aspirasi meningkat dari tahun ketahun yang benar Penyediaan sarana dan prasarana penyaluran aspirasi masyarakat dan mahasiswa Jumlah dan macam pajak dan Jenis-jenis pajak dan retribusi Masih terdapat pungutan di tingkat Pengawasan atas implementasiPerda Pajak dan retribusi daerah yang dapat dikelolaPemda telah Kabupaten/kota yang bersifat kontra retribusi daerah di Tingkat Kabupaten/Kota ditetapkan secara CloseList produktif dengan iklim investasi di daerah berdasarkan UU 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Jumlah Perda yang mendukung iklim usaha Perda yang berkaitan dengan investasi masih belum mendukung pengembangan iklim Kurangnya dukungan legislasi yang mendukung pengembangan investasi sehingga mempengaruhi jumlah investasi Peningkatan jumlah perda yang mendukung iklim usaha

1.4.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-40

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

No
1.5. IV 1.

URUSAN/IKK

TAFSIRAN CAPAIAN TARGET


usaha di Sulawesi Selatan Desa swasembada sebesar 500 desa dari sejumlah 2.192 desa/kelurahan

PERMASALAHAN
yang terealissasi di Sulsel Masih lemahnya peran, kapasitas dan kemampuan pemerintahan desa dalam pelaksanaan pembangunan Tingginya urbanisasi ke kota Kurangnya keterarmpilan bekerja Pendapatan tenaga kerja di sektor pertanian rendah Masih mahalnya biaya pendidikan tingkat perguruan tinggi Naiknya persentase penduduk yang belum dan tidak produktif.

FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN


Peningkatan kapasitas aparat dan kelembagaan pemerintah desa Meningkatnya kegiatan agro industri Meningkatnya permintaan tenaga kerja sektor perkebunan dari negara tetangga Fasilitasi peningkatan rasio lulusan siswa dan mahasiswa yang mealnjutkan pendidikan tinggi melalui pemberian bantuan biaya/beasiswa Adanya program-program yang terkait dengan program penurunan tingkat kelahiran bayi, program Keluarga Berencana (KB).

Persentase desa berstatus swasembada terhadap total desa Fokus Sumber Daya Manusia Ketenagakerjaan Jumlah angkatan kerja 3.560.891 Penduduk yg bekerja 3.351.908 Tingkat Pengangguran Terbuka mencapai 5,9% (208.980 org) Rasio lulusan S1/S2/S3 Rasio ketergantungan Perbandingan lulusan S1, S2 dan S3 masih dibawah nasional Perbandingan antara banyaknya penduduk yang belum dan tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan 65 tahun keatas) dengan banyaknya penduduk yang termasuk produktif secara ekonomi (15-64 tahun).

1.1. 1.2.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

IV-41

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

4.2. Issu Strategis Isu strategis dalam perencanaan pembangunan jangka menengah daerah merupakan kondisi aktual yang perlu diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan daerah karena penting, mendasar, mendesak dan berdampak jangka panjang bagi keberlanjutan pembangunan serta signifikan bagi daerah sesuai dengan tujuan penyelenggaraan pemerintahan daerah dimasa yang akan datang. Issu strategis pembangunan daerah Provinsi Sulawesi Selatan dalam lima tahun ke depan dirumuskan dengan mensistesa fakta-fakta permasalahan pembangunan maupun permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan yang telah disampaikan pada bahagian sebelumnya dengan issu-issu eksternal atau issu-issu global. 4.2.1. Issu Global Dalam penyelenggaran pembangunan daerah, dapat ditemukan beberapa kondisi yang dapat mempengaruhi kebijakan yang akan ditempuh. Kondisi tersebut bersifat eksternal atau kondisi dari luar yang tidak dapat dikontrol sepenuhnya, namun dapat diantisipasi dampaknya ataupun dapat dioptimalkan peluang yang ditimbulkannya. Kondisi eksternal tersebut umumnya berlaku secara nasional maupun internasional dan berdampak secara langsung dan berdimensi waktu yang panjang yang akan mempengaruhi perjalanan pelaksanaan pembagunan, sehingg memerlukan perhatian khusus. Berikut beberapa kondisi ataupun issu global yang dipandang dapat mempengaruhi perjalanan kebijakan pembangunan didaerah. Perubahan Iklim dan Bencana Alam, paradigma masa lalu menyebutkan bahwa masalah lingkungan global lebih banyak dipengaruhi faktor alam, seperti iklim, yang mencakup temperatur, curah hujan, kelembaban, tekanan udara dll. Belakangan mulai disadari bahwa aktifitas manusia pun mempengaruhi iklim dan lingkungan secara signifikan. Sebagai gambaran bahwa penebangan hutan, mempengaruhi perubahan suhu dan curah hujan secara lokal. Ketika area hutan yang hilang semakin luas, maka akibat yang ditimbulkan bukan lagi lokal tapi sudah berskala regional. Pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya alam yang tidak diimbangi oleh upaya penanggulangan yang mengatasnamakan kesejahteraan hidup manusia tampaknya akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan lingkungan hidup. Hal ini tidak hanya mengancam keberlangsungan lingkungan alam, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia sendiri. Isu pemanasan global dan perubahan iklim hanyalah sebagian dari sekian banyak isu lingkungan untuk diperhatikan yang tidak hanya bersifat lokal tetapi global, demikian halnya dengan Indonesia. Di Indonesia masih menghadapi tantangan besar di mana model pembangunan ekonomi yang dikembangkan telah menggerakkan pembangunan ekonomi yang cenderung bersifat ekstraktif atau mengandalkan eksploitasi sumberdaya alam secara langsung. Bahkan ada kecenderungan besar di mana upaya mempertahankan fungsi lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari masih jauh dari yang diharapkan. Penyebab Pemanasan Global ini cukup kompleks, meliputi meningkatnya gas rumah kaca seperti CO2 dan Metana yang berasal dari Industri, Kendaraan bermotor dan mahluk hidup penghasil metana alamiah seperti bakteri. Selain itu juga terjadinya kerusakan hutan alami akibat alih fungsi hutan menjadi pemukiman, industri, Pertanian dan fungsi lainya. Sehingga luas hutan setiap tahunnya terus berkurang yang berakibat
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-42

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

meningkatnya jumlah gas rumah kaca karena fungsi hutan sebagai paru-paru dunia berkurang. Eksploitasi hutan yang dilakukan masyarakat sekitar kawasan hutan juga tidak luput dari factor kondisi sosial ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, usaha untuk menghentikan perusakan hutan tidak cukup dilakukan hanya dengan menghentikan kegiatan yang sifatnya merusak saja, melainkan juga dituntut untuk melawan kecenderungan yang terjadi dengan berbagai macam usaha rehabilitasi lahan dan hutan yang telah rusak. Untuk mengantisipasi berbagai dampak negatif yang ditimbulkan, maka sangat dibutuhkan adanya suatu sistem pengelolaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan yang efisien dan berwawasan lingkungan, yang mampu memanfaatkan potensi sumberdaya setempat secara optimal. Sehingga masyarakat memiliki kepedulian dan tanggung jawab dalam menjaga hutan tersebut. Terorisme global, Aksi-aksi kekerasan terorisme internasional di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia akan menjadi ancaman dan tantangan terbesar bagi pelaksanaan kebijakan politik luar negeri Indonesia di masa mendatang. Di tingkat bilateral Indonesia terus dituntut untuk meningkatkan kerjasama dengan berbagai negara seperti Australia, AS, Jepang dan negara-negara tetangga Asia Tenggara lainnya untuk meningkatkan kemampuan aparatur negara dalam memerangi terorisme internasional. Masalah kejahatan yang berbentuk kejahatan trans nasional seperti penyelundupan, perdagangan norkotika, penyelundupan manusia merupakan ancaman serius bagi negara seperti Indonesia yang memiliki posisi geografis yang strategis bagi suburnya pertumbuhan jenis-jenis kejahatan lintas batas tersebut. Karena itu, sebagai negara asal maupun transit bagi operasi tindak kejahatan trans nasional, Indonesia dituntut untuk terus meningkatkan upaya-upaya dalam menekan kejahatan lintas batas tersebut melalui suatu format kerjasama dengan negara-negara tetangga secara komprehensif. Hal yang sama juga berlaku di tingkat regional, misalnya ASEAN di mana Indonesia perlu mendorong berlanjutnya kerjasama kongkrit antar negara dalam pemberantasan terorisme internasional. Masalah terorisme tidak dapat dipisahkan dari isu radikalisme dan kemiskinan. Karena itu, penanganan isu terorisme mesti menyentuh isu-isu kesejahteraan, penciptaan kehidupan yang lebih baik dan penyelenggaraan dialog antaragama yang konstruktif. Dalam masalah kecenderungan penggunaan kekerasan dan ancaman terorisme internasional, masyarakat internasional memang memerlukan soliditas sikap dalam memerangi tindakan yang tidak manusiawi tersebut. Namun demikian, pada saat bersamaan masyarakat dunia juga dituntut untuk menekuni kemungkinan akar permasalahan sesungguhnya yang menjadi pemicu utama menguatnya aksi-aksi kekerasan internasional dewasa ini. Perdagangan Bebas, Globalisasi telah merambah hampir disemua ranah kehidupan masyarakat, baik itu bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), budaya, pendidikan dan lain-lain. Walaupun istilah globalisasi telah menjadi suatu kosakata yang umum, tetapi suka atau tidak suka, masyarakat diseluruh pelosok dunia sekarang ini telah hidup dalam suatu habitat global, transparan, tanpa batas, saling mengait (linkage), dan saling ketergantungan (interdependence). Skenario liberalisasi melalui perjanjian perdagangan bebas memberikan dampak keseluruh pelosok negeri.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-43

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

Contoh globalisasi yang nyata dirasakan saat ini seperti masuknya barang-barang impor dari China dan negara-negara ASEAN lainnya akan menyerbu sampai ke desa-desa. Indonesia sekarang ini berada didalam kondisi yang sangat terbuka dan sangat bersaing. Dengan diberlakukannya Perdagangan Bebas banyak memberi dampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. Dunia yang tanpa batas, keluar masuk barang yang intens serta interaksi dengan dunia luar disatu sisi memberikan dampak positif bagi perkembangan masyarakat melalui upaya peningkatan kualiatas dan inovasi produk lokal. Namun disisi yang lain, pemberlakuan ini dapat menambah penderitaan sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih berada dibawah garis kemiskinan. Mereka digiring kepada sebuah dunia dimana kekuatan pasar menjadi panglima. Hilangnya subsidi dan peranan dari negara dalam bidang ekonomi berdampak multiplyer effect pada kemiskinan yang meningkat dan akan mengarah pada tingginya angka kriminal. Hal ini mengakibatkan kerja keras pemerintah, yakni mengerjakan dua hal sekaligus, yakni perbaikan ekonomi dan sekaligus melakukan reformasi terhadap masalah-masalah sosial. Kondisi sosial ekonomi serta semua potensi yang ada pada masyarakat Sulawesi Selatan, diharapkan pemerintah dapat menempuh suatu kebijakan yang rasional untuk mengantar masuk dalam kancah perekonomian global. Demokrasi dan HAM, dari tahun ketahun gelombang kesadaran eksistensi kehadiran manusia dimasyarakatnya semakin meningkat seiring dengan meningkanya pendidikan dan informasi. Peningkatan peran di mayarakat seperti demokratisasi akan terus berlangsung dan tidak akan mungkin dapat dicegah kemajuannya. Pemerintahpemerintah otoriter di dunia kalaupun belum dapat runtuh seluruhnya diperkirakan akan mengalami perlemahan yang serius. Keberhasilan negara otoriter pada tahun-tahun sebelumnya dalam mencegah demokratisasi, seperti halnya yang terjadi di beberapa negara bekas Uni Soviet, Afrika Utara dan Asia Selatan, hanya akan menunda sebentar keberhasilannya. Saat ini gelombang demokrasi sedang melanda negara-negara di Timur Tengah dan efek domino yang ditimbulkannya menjadi permasalahan yang bermuara pada persoalan kemanusiaan. Bahkan negara-negara demokrasi maju sekalipun sedang mengalami dinamika-dinamika koreksi dalam hal demokrasi, berkaitan dengan peran negara dan masyarakat sipil. Traficking, Kasus tindak pidana perdagangan orang saat ini terus terjadi, dimana negara Indonesia menjadi bagian dari praktek ini. Tindak kejahatan terhadap kemanusiaan ini terjadi sejak di daerah atau negara asal, daerah transit hingga ke daerah atau negara tujuan. Keterbatasan ekonomi, minimnya tingkat pendidikan sering kali menjadi dasar alasan kelompok ini terjerat dalam human trafficking. Beragam cara dipakai pelaku untuk menarik dan mengontrol korban diantaranya janji pekerjaan bergaji tinggi, hingga ancaman kekerasan. Hal tersebut banyak terjadi karena adanya masalah ketidakseimbangan hubungan negara-negara maju dengan negara-negara berkembang khususnya dalam konteks hubungan perdagangan dan ekonomi. Sebagai perbandingan bahwa Perdagangan Orang dan Penyelundupan Manusia merupakan kejahatan dengan nilai keuntungan terbesar ke-3 (tiga) setelah kejahatan Penyelundupan Senjata dan Peredaran Narkoba. Di Indonesia praktek ini dapat terjadi dengan modus pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, dimana dua komponen yang saling memperkuat yakni antara kurangnya lapangan kerja yang tersedia dan rendahnya ketrampilan yang dimiliki. Sulawesi Selatan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-44

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

dapat mengambil peran dalam mengurangi dampak dari hal ini dengan upaya penciptaan lapangan kerja dan peningkatan keterampian tenaga kerja. 4.2.2. Issu Strategis Daerah Issu strategis daerah hasil sintesa fakta-fakta permasalahan pembangunan maupun permasalahan dalam penyelenggaraan pemerintahan yang telah disampaikan pada bahagian sebelumnya dengan issu-issu global. Selain issu global, penyusunan RPJMD ini juga memperhatikan secara khusus dampak terhadap lingkungan hidup dari program-program yang akan dilaksanakan, seperti yang telah diamanahkan oleh Permendagri No. 67 Tahun 2012 tentang Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis. Pada proses kajian KLHS tersebut, didapatkan gambaran perkiraan pengaruh dari pelaksanaan pembangunan sehingga diperlukan mitigasi dari dampak negatif dengan: 1. Memperhatikan RTRWP dan RTRWK dan penerapan kaidah lingkungan hidup dalam setiap pelaksanaan pembangunan. Hal ini antara lain dapat pula berupa penerapan AMDAL dan RKL / RPL maupun UKL / UPL sesuai dengan perundangan yang berlaku. 2. Pada sektor pertanian, penerapan pertanian ramah lingkungan antara lain dengan pemakaian pupuk berimbang, pemanfaatan pupuk anorganik, pemakaian benih rendah emisi, dan pengolahan lahan tanpa bakar serta memperhatikan daya dukung lahan dan kesesuaian lahan dalam setiap kegiatan perlu dilakukan. Hal ini dapat dilakukan secara terintegrasi dalam masing-masing program atau dengan membuat kegiatan berupa Sosialisasi dan Penerapan Pertanian Ramah Lingkungan. Disamping itu disarankankan pula dengan menerapkan pertanian dengan menggunakan sistem SRI (sistem of rice intensification) yaitu pengembangan padi dengan air berimbang serta mengembangkan pengelolaan sistem irigasi yang partisipatif. 3. Pada Sektor peternakan, pengintegrasian program dengan usaha memberikan akses terhadap sistem pengkandangan yang layak dan sesuai dengan kaidah lingkungan harus dilakukan. Agar hasil ternak lebih bermanfaat maka direkomendasikan pula untuk memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk an-organik dan mengembangkan biogas yang dapat menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca sekaligus dapat mengurangi tingkat pemakaian energi fosil. 4. Dalam kaitannya dengan isu kerusakan kawasan pesisir dan ekosistemnya, maka direkomendasikan untuk mempertahakan mangrove yang ada sekaligus mengembangkannya sebagai usaha perlindungan dan pemulihan ekosistem wilayah pesisir. 5. Hal lain yang sangat penting adalah pemantapan moral dan akhlak masyarakat dalam menjamin keseimbangan pembangunan. Issu lain yang dianalisis dalam penyusunan RPJMD ini adalah issu pengarusutamaan gender. Sehingga dalam penentuan kebijakan dan program-program yang dilakukan dianalisis terlebih dahulu kaitannya dan atau pengaruhnya terhadap issuissu gender yang analisisnya secara lengkap diulampirkan secara terpisah dengan dokumen ini. Adapun daftar issu strategis secara keseluruhan daerah ini disajikan dengan pendekatan urusan pemerintahan, yakni urusan wajib dan urusan pilihan. Pendekatan urusan akan lebih mempermudah didalam menentukan stakeholder terkait dalam menentukan kebijakan yang akan dilakukan menghadapi issu strategis tersebut
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-45

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

4.2.2.1 Urusan Wajib Pemerintah Daerah a. Urusan Pendidikan Masih tingginya angka buta aksara serta angka partisipasi sekolah cenderung menurun; Standar pelayanan minimal pendidikan belum tercapai; Belum optimalnya aksesibilitas, sarana dan prasarana dan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan; b. Urusan Kesehatan Terbatasnya sumberdaya kesehatan, belum optimal pelayanan kesehatan, masih adanya ancaman penyakit menular maupun penyakit yang tidak menular, serta meningkatnya penyakit degeneratif, Kesadaran masyarakat untuk melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masih kurang; Gerakan SUN(Scaling Up Nutrition) untuk perbaikan Gizi anak atau perbaikan Gizi 1000 hari pertama kehidupan. c. Urusan Lingkungan Hidup Menurunnya daya tampung lingkungan akibat pencemaran dan pengrusakan lingkungan Menurunnya kapasitas dan kualitas sumber air baku Kesadaran masyarakat dan swasta dalam pengelolaan lingkungan hidup masih kurang; Dampak pemanasan global semakin meningkat d. Urusan Pekerjaan Umum Belum meratanya aksesibilitas pelayanan transportasi Belum optimalnya kinerja sarana dan prasana sumber daya air untuk mendukung ketahanan pangan Sulsel Rendahnya akses terhadap air minum dan sanitasi yang layak Tingkat kerusakan jalan, jembatan, prasarana dan sarana irigasi yang masih tinggi Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan sarana dan prasarana. e. Urusan Penataan ruang Belum semua wilayah mempunyai Rencana Dasar Tata Ruang, produk tata ruang yang telah disusun belum disadari sebagai produk yang mempunyai kekuatan hukum, dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam tertib penataan ruang. f. Urusan Perencanan Pembangunan Belum efektifnya perencanaan dari bawah ( bottom up planning) yang disebabkan oleh kurang akuratnya data pendukung perencanaan pembangunan, Masih terdapat kesulitan untuk memastikan adanya konsistensi antara perencanaan (program/kegiatan) pembangunan dan alokasi penganggarannya; g. Urusan Perumahan Belum optimalnya pengelolaan tanah pemerintah dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam perizinan dan pensertifikatan tanah.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-46

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

Belum memadainya penyediaan sarana dan prasarana dasar permukiman dan masih besarnya kesenjangan pemenuhan akan rumah layak huni. h. Urusan Kepemudaan dan Olah Raga Masih terbatasnya sarana dan prasarana pengembangan pemuda dan olah raga, dan kurangnya pembinaan pemuda dan olah raga. Masih kurangnya pembinaan kepemudaan, Masih kurangnya pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga, i. Urusan Penanaman Modal Belum optimalnya pengelolaan investasi. Iklim investasi belum kondusif khususnya dalam hal pelayanan perizinan; Lahan bagi usaha industri berskala menengah/besar terbatas. j. Urusan Koperasi, Usaha Kecil dan Menegah Pemberdayakan koperasi UMKM untuk menigkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan, Inovasi dan adopsi teknologi, pengembangan disain produk, yang berdampak pada diversifikasi produk masih rendah; Jaringan pasar industri kecil dan kemitraan dalam usaha pemasaran masih terbatas; k. Urusan Kependukan dan catatan Sipil Masih rendahnya kesadaran masyarakat dan aparat dalam tertib administrasi kependudukan. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk l. Urusan Ketenagakerjaan Masih terbatasnya lapangan kerja, Kualitas dan daya saing calon tenaga kerja belum sesuai kebutuhan pasar m. Urusan Ketahanan Pangan Belum optimalnya diversifikasi produk pangan lokal, Ketersediaan dan kedaulatan pangan belum menjadi fokus daerah, Kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi produk pangan lokal cenderung menurun. n. Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lemahnya kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak. Tingginya pengaruh negatif media terhadap pembentukan kepribadian anak, Anak jalanan, anak korban narkoba, anak terlantar dan anak putus sekolah masih ada; Tingginya bentuk kekerasan, eksploitasi, penelantaran, diskriminasi, dan perlakuan salah pada anak dan perempuan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-47

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

o. Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Belum meratanya pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan reproduksi, Jumlah penduduk indonesia naik dua kali lipat dalam 40 tahun terakhir, diprediksi mencapai 254,4 juta - 255,8 juta jiwa tahun 2015 (BPS dan lembaga demografi UI) bila pertambahan penduduk masih 1,49% (Rata-Rata dunia 1,16%) p. Urusan Perhubungan Kurangnya sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, Daya tampung infrastruktur transportasi Belum meratanya aksesibilitas pelayanan transportasi q. Urusan Komunikasi dan Informasi Belum optimalnya implementasi e-government dan pelayanan perijinan telekomunikasi. r. Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri Meningkatnya gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat dan kurangnya kesadaran masyarakat dalam mematuhi peraturan. Kesadaran masyarakat dalam berdemokrasi masih kurang, serta Jiwa nasionalisme dan patriotisme cenderung menurun; s. Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, dan Persandian Belum optimalnya pelayanan kepada masyarakat disebabkan terbatasnya kemampuan keuangan daerah, kompetensi sebagian pegawai belum sesuai dengan kebutuhan riil dan produk hukum daerah yang tidak sesuai dengan perkembangan. SKPD belum semua memiliki Standar Pelayanan Minimal dan Prosedur Standar Operasional; Masih terbatasnya pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan administrasi keuangan daerah (Pembiayaan, pendapatan dan belanja daerah) dalam rangka mendorong peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah; Penegakan dan pelaksanaan hukum dan perundang-undanganyang masih lemah Perlunya integrasi kegiatan mulai dari pra bencana, saat terjadi bencana, dan paska bencana secara seimbang dan sinergis. Peningkatan SDM aparatur yang memiliki integritas dan kompetensi yang di harapkan, Lemahnya infrastruktur pendukung pelaksanaan birokrasi. Kesadaran masyarakat terhadap tertib administrasi kependudukan masih kurang; Pengalokasian pegawai pada setiap SKPD tidak merata Perangkat daerah yang cenderung terlalu gemuk (banyaknya pada setiap SKPD) Munculnya berbagai masalah pertanahan termasuk asset Pemda yang bermasalah t. Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Belum optimalnya peran dan fungsi kelembagaan masyarakat desa, peran perempuan dalam pembangunan, dan tata kelola pemerintahan desa. Ketidakberdayaan masyarakat disebabkan Faktor ekonomi, rendahnya kapasitas SDM, dan terbatasnya Akses informasi, sarana, modal, pasar dan pelayanan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-48

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

Belum fokus dan tidak sinerginya gerakan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan antara pemerintah, pemprov, pemkab/pemkot dan desa . Perlunya diantisipasi akan berakhirnya program PNPM u. Urusan Sosial Masih cukup tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Tingginya konflik sosial di masyarakat dan kejadian bencana alam. Panti-panti sosial kurang diberdayakan v. Urusan Kebudayaan Masih rendahnya penerapan nilai-nilai luhur budaya dalam kehidupan sehari-hari, belum optimalnya pengelolaan kekayaan budaya, dan masih terbatasnya kualitas sumberdaya manusia pelaku budaya. Partisipasi generasi muda dalam seni dan budaya masih kurang; Masuknya nilai dan budaya asing yang berpengaruh negatif cukup banyak; Terjadinya degradasi nilai budaya dan kearifan lokal w. Urusan Statistik Belum optimalnya kualitas SDM dan komitmen dalam pengelolaan data dan statistik. Pembiayaan, sarana dan prasarana yang kurang x. Urusan Kearsipan Belum memadainya sumberdaya manusia dan sarana dan prasarana kearsipan. Kesadaran dan komitmen terhadap pentingnya data masih rendah. Regulasi tentang kearsipan belum dilaksanakan secara maksimal. Belum sinergi pengelolaan kearsipan di tingkap provinsi dan kab/kota. y. Urusan Perpustakaan Belum memadainya sumberdaya manusia dan sarana dan prasarana perpustakaan. Masih rendahnya minat baca masyarakat, terutama anak sekolah. Pengelolaan perpustakaan yang belum profesional Bahan bacaan perpustakaan yang masih minim 4.2.2.2. Urusan Pilihan Pemerintah Daerah a. Urusan Kelautan dan Perikanan Belum optimalnya tataguna dan tata kelola air serta fungsi kelembagaan petani pembudidaya perikanan, Kerusakan kawasan pesisir dan ekosistemnya Keterbatasan infastruktur/sarpras dari perikanan budidaya, tangkap dan pengelolaan hasil kelautan dan perikanan Rendahnya produktivitas dan daya saing usaha kelautan dan perikanan b. Urusan Pertanian Pengembangan penyediaan sarana dan prasarana perkebunan, peternakan, perikanan serta teknologi untuk mendukung peningkatan produksi dan produktivitas;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-49

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian masih cukup tinggi; Biaya produksi tidak sebanding dengan harga jual, serta belum optimalnya manajemen agribisnis. Pengembangan penyediaan sarana prasarana, teknologi dan kelembagaan untuk mendukung peningkatan produksi dan produktifitas serta nilai tambah hasil perkebunan. c. Urusan Kehutanan Degradasi hutan dan lahan; Alih fungsi lahan; Luas hutan semakin berkurang akibat dari kegiatan penambangan; Luas lahan kritis masih cukup banyak d. Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral Terbatasnya pasokan listrik untuk industri dan rumah tangga Masih banyak penambangan yang tidak ramah lingkungan. Potensi energi terbarukan seperti energi matahari dan mikrohidro belum dimanfaatkan secara optimal e. Urusan Pariwisata Masih kurangnya partisipasi mayarakat dalam pengembangan pariwisata, kreativitas, inovasi dan kompetensi daya saing ODTW, dan belum optimalnya kualitas SDM petugas dan pelaku usaha pariwisata. Keterpaduan dan sinergi antar pelaku wisata dalam pengembangan pariwisata masih rendah. f. Urusan Industri Masih kurangnya kualitas manajemen pengelolaan usaha bagi UMKM, Industri berbasis sumberdaya lokal belum berkembang secara merata Inovasi produk belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar, dan belum optimalnya kemitraan antar pelaku usaha. g. Urusan Perdagangan Rendahnya daya saing produk di pasar nasional maupun global, belum lancarnya distribusi bahan pokok/barang strategis, Kurang siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015 Kurang memadainya kondisi sarana prasarana pasar tradisional. h. Urusan Ketransmigrasian Animo masyarakat untuk bertransmigrasi lokal relative rendah dan ketidaksiapan lokasi transmigrasi; Semakin rendahnya Transmigrasi Umum dan Transmigrasi Swakarya Mandiri (TSM);

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-50

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

4.3

Standar Pelayanan Minimal (SPM) Reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Indonesia telah menyebabkan terjadinya sejumlah perubahan penting dan mendasar dalam tata pemerintahan dan tata kelola keuangan daerah yang pada akhirnya berimplikasi pada penyelenggaraan pelayanan publik di daerah. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Pasal 11 menyatakan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintah yang bersifat wajib yang berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh Pemerintah. SPM disusun oleh pemerintah pusat melalui kementerian sektoral, dan dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Penyusunan dan pengembangan SPM dilakukan oleh kementerian teknis di bawah koordinasi dari Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri. Hal ini diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal yang diikuti dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan Standar Pelayanan Minimal dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 79 Tahun 2007 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pencapaian Standar Pelayanan Minimal. Pelaksanaan penerapan SPM untuk pemerintah provinsi meliputi 9 (sembilan) bidang SPM yakni Perumahan, Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lingkungan Hidup, Ketenagakerjaan, Ketahanan Pangan, Kesenian, Perhubungan, dan Penanaman Modal. Selanjutnya hal-hal terkait dengan SPM seperti indikator, target dan batas waktu pencapaian yang ditetapkan oleh masing-masing kementerian terkait dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) SPM Bidang Perumahan (Peraturan Menteri Negara Perumahan Rakyat Republik Indonesia Nomor 22/Permen/M/2008) a. Cakupan ketersediaan rumah layak huni (100% pada tahun 2025); b. Cakupan layanan rumah layak huni yang terjangkau (70% pada tahun 2025); c. Cakupan lingkungan yang sehat dan aman yang didukung dengan PSU (100% pada tahun 2025). 2) SPM Bidang Sosial (Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 129/HUK/2008) a. Persentase kabupaten/kota yang menggunakan sarana prasarana tanggap darurat lengkap untuk evakuasi korban bencana skala provinsi (80% pada tahun 2015); b. Persentase PMKS skala provinsi yang memperoleh bantuan sosial, untuk pemenuhan kebutuhan dasar (80% pada tahun 2015); c. Persentase kabupaten/kota yang mengalami bencana memberikan bantuan sosial bagi korban bencana skala provinsi (80% pada tahun 2015); d. Persentase panti sosial skala provinsi yang melaksanakan standar operasional pelayanan kesejahteraan sosial (60% pada tahun 2015); e. Persentase panti sosial skala provinsi yang menyediakan sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial (80% pada tahun 2015); f. Persentase organisasi sosial/yayasan/LSM yang menyediakan sarana prasarana kesejahteraan sosial luar panti (60% pada tahun 2015).

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-51

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

3) SPM Bidang Lingkungan Hidup (Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 19 Tahun 2008) a. Prosentase jumlah sumber air yang dipantau kualitasnya, ditetapkan status mutu airnya dan diinformasikan status mutu airnya (70% pada tahun 2013); b. Prosentase jumlah kabupaten/kota yang dipantau kualitas udara ambiennya dan informasikan mutu udara ambiennya (100% pada tahun 2013); c. Prosentase jumlah pengaduan masyarakat akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang ditindaklanjuti (100% pada tahun 2013). 4) SPM Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2010) a. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan oleh petugas terlatih didalam unit pelayanan terpadu (100% pada tahun 2014); b. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KtP/A dan PPT/PKT di Rumah Sakit (100% pada tahun 2014); c. Cakupan layanan rehabilitasi yang diberikan oleh petugas rehabilitasi social terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan didalam unit pelayanan terpadu (75% pada tahun 2014); d. Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu (75% pada tahun 2014); e. Cakupan penegakan hukum dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan pengadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak (80% pada tahun 2014); f. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan bantuan hukum (50% pada tahun 2014); g. Cakupan layanan pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan (50% pada tahun 2014); h. Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan (100% pada tahun 2014). 5) SPM Bidang Ketenagakerjaan (Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Per.15/Men/X/2010) a. Besaran kasus yang diselesaikan dengan perjanjian bersama (50% pada tahun 2016); b. Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan berbasis masyarakat (60% pada tahun 2016); c. Besaran tenaga kerja yang mendapatkan pelatihan kewirausahaan (60% pada tahun 2016). 6) SPM Bidang Ketahanan Pangan (Peraturan Menteri 65/Permentan/OT.140/12/2010) a. Penguatan cadangan pangan (60% pada tahun 2015);
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-52

Pertanian

Nomor

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

b. Ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan di daerah (100% pada tahun 2015); c. Pengawasan dan pembinaan keamanan pangan (80% pada tahun 2015); d. Penanganan daerah rawan pangan (60% pada tahun 2015). 7) SPM Bidang Kesenian (Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.106/HK.501/MKP/2010) a. Cakupan kajian seni (50% pada tahun 2014); b. Cakupan fasilitas seni (30% pada tahun 2014); c. Cakupan gelar seni (75% pada tahun 2014); d. Cakupan misi kesenian (100% pada tahun 2014); e. Cakupan SDM kesenian (25% pada tahun 2014); f. Cakupan tempat (100% pada tahun 2014); g. Cakupan organisasi (34% pada tahun 2014). 8) SPM Bidang Perhubungan (Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 81 Tahun 2011) a. Tersedianya angkutan umum yang melayani wilayah yang telah tersedia jaringan jalan untuk jaringan jalan provinsi (100% pada tahun 2014); b. Tersedianya terminal angkutan penumpang tipe A pada setiap provinsi untuk melayani angkutan umum dalam trayek (100% pada tahun 2014); c. Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan (rambu, marka dan guardriil) dan penerangan jalan umum (PJU) pada jalan provinsi (100% pada tahun 2014); d. Terpenuhinya standar keselamatan bagi angkutan umum yang melayani trayek antar kota dalam provinsi (100% pada tahun 2014); e. Tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sebagai pengawas kelaikan kendaraan pada perusahaan angkutan umum, pengelola terminal dan pengelola perlengkapan jalan (100% pada tahun 2014); f. Tersedianya angkutan sungai dan danau untuk melayani jaringan trayek antar kabupaten/kota dalam provinsi pada wilayah yang alur pelayaran sungai dan danau yang dapat dilayari (75% pada tahun 2014); g. Tersedianya pelabuhan sungai dan danau untuk melayani kapal sungai dan danau yang beroperasi pada jaringan trayek antar kabupaten/kota dalam provinsi pada wilayah yang tersedia alur pelayaran sungai dan danau yang dapat dilayari (60% pada tahun 2014); h. Terpenuhinya standar keselamatan bagi kapal sungai dan danau yang beroperasi pada trayek antar kabupaten/kota dalam provinsi (100% pada tahun 2014); i. Tersedianya SDM yang memiliki kompetensi sebagai awak kapal angkutan sungai dan danau (100% pada tahun 2014); j. Tersedianya kapal penyebrangan yang beroprasi pada lintas antar kabupaten/kota dalam provinsi yang menghubungkan jalan provinsi yang terputus oleh perairan (75% pada tahun 2014); k. Tersedianya pelabuhan bagi setiap ibukota provinsi dan ibukota kabupaten/kota yang memiliki pelayanan angkutan penyebrangan yang beroperasi pada lintas antar kabupaten/kota dalam provinsi dan tidak ada alternatif jalan (75% pada tahun 2014);
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-53

Bab IV Analisis Isu-Isu Strategis

l. Tersedianya SDM yang memiliki kompetensi sebagai awak kapal penyebrangan dengan ukuran dibawah 7 GT (100% pada tahun 2014); m. Tersedianya kapal laut yang beroperasi pada lintas antar kabupaten/kota dalam provinsi pada wilayah yang memiliki alur pelayaran dan tidak ada alternative jalan (100% pada tahun 2014); n. Tersedianya dermaga pada setiap ibukota provinsi dan ibukota kabupaten/kota untuk melayani kapal laut yang beroperasi pada lintas trayek antar kabupaten/kota dalam provinsi pada wilayah yang memiliki alur pelayaran dan tidak ada alternatif jangkutan jalan (100% pada tahun 2014); o. Terpenuhinya standar keselamatan kapal dengan ukuran di bawah 7 GT dan kapal yang beroperasi antar kabupaten/kota dalam provinsi (100% pada tahun 2014); p. Tersedianya SDM yang memiliki kompetensi sebagai awak kapal untuk angkutan laut dengan ukuran dibawah 7 GT (100% pada tahun 2014). 9) SPM Bidang Penanaman Modal (Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 14 Tahun 2011) a. Terselenggaranya pelayanan perizinan bidang penanaman modal melalui pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di bidang penanaman modal : -Pendaftaran penanaman modal dalam negeri, izin usaha penanaman modal dalam negeri, perpanjangan rencana penggunaan tenaga kerja asing (RPTKA), perpanjangan izin memperkerjakan tenaga kerja asing yang bekerja di lebih 1 kabupaten/kota, sesuai kewenangan pemerintah provinsi (100% pada tahun 2014); b. Terselenggaranya bimbingan pelaksanaan kegiatan penanaman modal kepada masyarakat dunia usaha (1 kali/tahun pada tahun 2014); b. Tersedianya informasi peluang usaha sektor/bidang usaha ungulan (1 sektor/bidang usaha pertahun pada tahun 2014); c. Terselenggaranya fasilitasi pemerintah daerah dalam rangka kerjasama Antara Usaha Mikro Kecil, Menengah dan Koperasi (UMKMK) tingkat provinsi dengan pengusaha nasional/asing (1 kali/tahun pada tahun 2014); d. Terselenggaranya promosi peluang penanaman modal provinsi (1 kali/tahun pada tahun 2014); e. Terselenggaranya pelayanan perizinan bidang penanaman modal melalui pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) di bidang penanaman modal (100% pada tahun 2014); f. Terimplementasikannya sistem pelayanan informasi dan perizinan investasi secara elektronik (100% pada tahun 2014); g. Terselenggaranya sosialisasi kebijakan penanaman modal kepada masyarakat dunia usaha (1 kali/tahun pada tahun 2014).

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 IV-54

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN


5.1. Visi Sesuai dengan Permendagri 54/2010, visi dalam RPJMD ini adalah gambaran tentang kondisi Provinsi Sulawesi Selatan yang diharapkan terwujud/tercapai pada akhir periode 2013-2018. Substansi utama dari visi ini adalah rumusan visi Kapala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang penjelasan visinya dijabarkan sesuai sistem perencanaan pembangunan daerah. Berdasarkan substansi dan penjabaran tersebut maka visi RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan periode 2013-2018 adalah sebagai berikut. Sulawesi Selatan sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan pada Tahun 2018 Dalam rumusan visi ini ada tiga pokok visi yakni pilar utama pembangunan nasional, simpul jejaring dan akselerasi kesejahteraan. Penjelasan masing-masing pokok visi adalah sebagai berikut. Sulawesi Selatan pada tahun 2018 yang menjadi acuan dan berkontribusi nyata terhadap solusi persoalan mendasar bangsa Indonesia. Persoalan mendasar tersebut khususnya dalam perwujudan ketahanan dan kemandirian pangan pada komoditas strategis. Ini ditandai dengan posisi Sulawesi Selatan yang semakin menempatkan dirinya sebagai pusat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi luar pulau Jawa. Ini juga terkait dengan perwujudan pola ideal kehidupan beragama dan kerukunan antar ummat beragama, ketertiban dan keamanan serta akselerasi perbaikan kehidupan demokrasi.

Pilar Utama Pembangunan Nasional adalah gambaran tentang kondisi

Simpul Jejaring adalah gambaran tentang kondisi Sulawesi Selatan pada tahun 2018 yang menjadi simpul distribusi barang dan jasa, simpul layanan pendidikan dan kesehatan, serta simpul perhubungan darat, laut dan udara di Luar Jawa dan Kawasan Timur Indonesia khususnya.
pada tahun 2018 yang sudah mencapai fase akhir tinggal landas dan memasuki awal kematangan ekonomi. Pada saat itu, indeks pembangunan manusia berada pada kategori menengah-tinggi, pertumbuhan ekonomi berada di atas rata-rata nasional, pendapatan perkapita sekitar Rp.30 juta/tahun, angka kemiskinan dan pengangguran di bawah ratarata nasional, agroindustri berkembang pesat serta industri dan jasa berkontribusi signifikan dalam perekonomian. Ini juga ditandai oleh kondisi di mana Sulawesi Selatan semakin kuat mensinergikan kemajuan kabupaten dan kota serta semakin bersinergi dengan perkembangan regional, nasional dan internasional. 5.2. Misi Misi dalam RPJMD ini dimaksudkan sebagai upaya-upaya umum yang hendak dijalankan demi terwujudnya visi. Misi RPJMD Provinsi Sulawesi 2013-2018 dan penjelasannya adalah sebagai berikut.

Akselerasi Kesejahteraan adalah gambaran tentang kondisi Sulawesi Selatan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

V-1

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

(1) Mendorong semakin berkembangnya masyarakat yang religius dan kerukunan intra dan antar ummat beragama. Kebahagiaan (happiness) adalah pencapaian puncak dari seluruh upaya pembangunan. Misi Ini terkait dengan penciptaan kondisi bagi pemenuhan kehidupan rohaniah dan spiritualitas masyarakat sebagai salah satu landasan bagi pencapaian kebahagiaan yang hakiki. Dalam upaya umum ini tercakup penciptaan dukungan untuk kehidupan ummat beragama, baik laki-maupun perempuan, bagi terpenuhinya situasi yang kondusif dalam penyelenggaraan ibadah, kecukupan tempat beribadah, kapasitas penceramah agama, serta kerukunan intra dan antar umat beragama. (2) Meningkatkan kualitas kemakmuran ekonomi, kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan. Pencapaian kesejahteraan umum merupakan misi pokok kehidupan berbangsa dan bernegara. Upaya umum ini terkait dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan perkapita, penurunan angka kemiskinan, penurunan angka pengangguran, perbaikan distribusi pendapatan. Ini diupayakan seiring dengan akselerasi pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan, pengembangan industri, pengembangan wirausaha, penanganan masalah kesejahteraan sosial serta pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. Misi ini menseimbangkan antara upaya pertumbuhan kesejahteraan di satu sisi dengan pelestarian lingkungan dan pemerataan kesejahteraan di sisi lainnya, serta memperhatikan kesempatan yang adil antara laki-laki dan perempuan dalam akses dan penerimaan manfaatnya. (3) Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Misi ini mencakupi upaya-upaya untuk menjadikan Sulawesi Selatan sebagai simpul bagi pelayanan pendidikan, kesehatan dan perhubungan di luar Jaya, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Tercakup di dalamnya upaya untuk menjadikan Sulawesi Selatan sebagai simpul bagi pendidikan tinggi selain semakin memantapkan partisipasi wajib belajar 12 tahun, juga upaya menjadikan Sulawesi Selatan sebagai simpul layanan kesehatan seiring dengan pengembangan layanan rumah sakit berskala internasional sambil semakin memantapkan layanan kesehatan untuk lapisan bawah dan rumah tangga miskin. Pada misi ini juga tercakup upaya untuk semakin memajukan intrastruktur perhubungan darat, laut dan udara serta sarana/prasarana transportasi guna memposisikan Sulawesi sebagai simpul perhubungan dan transportasi di Kawasan Timur Indonesia dan luar Jawa umumnya. (4) Meningkatkan daya saing daerah dan sinergitas regional, nasional dan global. Peran pemerintah provinsi amat urgen dalam memfasilitasi, mengkordinasikan dan memberi energi kepada daerah kabupaten/kota untuk menghasilkan sinergi dalam mendorong pusat-pusat kemajuan. Misi ini mencakup upaya-upaya mengefektifkan kerjasama antar daerah kabupaten/kota intra Provinsi Sulawesi Selatan, meningkatkan kerjasama pembangunan antar provinsi regional Sulawesi dan kawasan Timur Indonesia, serta mendinamiskan sinergitas global dengan lembaga internasional. Selain itu, misi ini juga berfokus pada upaya meningkatkan daya saing daerah melalui perbaikan iklim investasi dan pengembangan inovasi daerah.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

V-2

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

(5) Meningkatkan kualitas demokrasi dan kepastian hukum. Kemajuan tatanan menuju peradaban yang baik mempersyaratkan terpatuhinya norma-norma kehidupan. Ini akan beriring dengan perwujudan kesetaraan dan fairness di dalam berbagai aspek tatanan. Misi ini mencakup upaya-upaya peningkatan kesadaran dan kepatuhan hukum, penciptaan iklim bagi persaingan usaha, serta pensubstansian demokrasi dalam tatanan. Selain itu, tercakup upaya-upaya perwujudan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak. (6) Meningkatkan kualitas ketertiban, keamanan dan kesatuan bangsa. Perwujudan ketertiban umum dan jaminan keamanan untuk semua (baik laki-laki maupun perempuan) merupakan esensi dari penyelenggaraan pembangunan. Tentu saja ini harus seiring dengan upaya untuk terus menerus memvitalkan manifestasi kesatuan bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Misi ini mencakup upaya pokok untuk mendukung perwujudan ketertiban dan ketenteraman, pencegahan dan penanganan konflik sosial, pemeliharaan harmoni sosial, penegakan pilar berbangsa dan bernegara, serta penegakan implementasi regulasi daerah. (7) Meningkatkan perwujudan kepemerintahan yang baik dan bersih. Kepemerintahan yang baik merupakan prasyarat bagi dorongan perubahan yang lebih efektif, efisien dan berkeadilan. Misi ini mencakup upaya-upaya pokok atas reformasi birokrasi, perbaikan sistem pelayanan, peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah dan aset daerah, perencanaan pembangunan, pengawasan dan pengendalian pembangunan. Keadaan demikian akan mendorong pengembangan relasi yang baik antara pemerintah, civil society dan dunia usaha. Setiap misi ini mempunyai keterkaitan dengan pokok-pokok visi. Gambaran keterkaitan pokok-pokok visi dengan pokok-pokok misi tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.1. Tabel 5-1: Keterkaitan Pokok-Pokok Visi, Misi dan Penjelasan Misi RPJMD
No. Pokok-Pokok Visi Misi Penjelasan Misi

1.

Visi: Sulawesi Selatan sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan pada Tahun 2018 Pilar Utama Pemba- Mendorong semakin ber- Mendukung terpenuhinya situasi ngunan Nasional kembangnya masyarakat kondusif untuk ummat dalam yang religius dan pelaksanaan ibadah, keterpenuhan kerukunan intra dan antar tempat beribadah, kapasitas penummat beragama. (Misi 1) ceramah agama, serta kerukunan intra dan antar umat beragama. Meningkatkan kualitas ke- Meningkatkan produktivitas dan makmuran ekonomi, kese- produksi perekonomian; jahteraan sosial dan keles- peningkatan dan pemerataan tarian lingkungan. (Misi 2) pendapatan; penurunan angka kemiskinan dan pengangguran;

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

V-3

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

Meningkatkan kualitas demokrasi dan kepastian hukum. (Misi 5)

Meningkatkan kualitas ketertiban, keamanan dan kesatuan bangsa. (Misi 6)

2.

Pusat Jejaring

Meningkatkan akses kualitas pelayanan didikan, kesehatan infrastruktur wilayah. 3)

dan pendan (Misi

Meningkatkan daya saing daerah dan sinergitas regional, nasional dan global. (Misi 4)

3.

Akselerasi Kesejahteraan

Meningkatkan kualitas kemakmuran ekonomi, kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan. (Misi 2)

akselerasi pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan; pengembangan industri, pengembangan wirausaha lokal; pembangunan pariwiisata, penanganan masalah kesejahteraan sosial; pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. Meningkatkan kesadaran dan kepatuhan hukum; pendidikan demokrasi; perwujudan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak; dukungan informasi dan komunikasi. Meningkatkan pemeliharaan ketertiban dan ketenteraman, pencegahan dan penanganan konflik sosial, pemeliharaan harmoni sosial, penegakan pilar berbangsa dan bernegara, penegakan implementasi regulasi daerah. Meningkatkan pemberantasan buta huruf, akselerasi akses pendidikan tinggi dan pemantapan wajib belajar 12 tahun; mengembangkan layanan rumah sakit berskala internasional dan memantapkan layanan kesehat-an lapisan bawah dan rumah tangga miskin; memajukan intrastruktur perhubungan darat, laut dan udara serta sarana/prasarana transportasi; Pengembangan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) dalam mendorong berkembangnya nilai tambah produksi dan kawasan andalan, inkubator dan cluster industri strategis, meingkatkan kerjasama antar Kabupaten/Kota Regional Sulawesi dan Indonesia Timur serta mendinamiskan sinergitas global. Meningkatkan produktivitas dan produksi perekonomian; peningkat-an dan pemerataan pendapatan; penurunan angka
V-4

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

kemiskinan dan pengangguran; akselerasi pemba-ngunan pertanian, perikanan dan kehutanan; pengembangan industri, pembangunan pariwisata, pengembangan wirausaha lokal; penanganan masalah kesejahteraan sosial; pelestarian lingkungan dan sumberdaya alam; Meningkatkan perwujudan Meningkatkan kualitas reformasi kepemerintahan yang baik. birokrasi; perbaikan sistem (Misi 7) pelayan-an; perencanaan pembangunan; pengawasan dan pengendalian pembangunan; peningkatan akuntabilitas dan transparansi, pengelolaan keuangan daerah (pembiayaan, pendapatan dan belanja) dan asset daerah;

5.3. Tujuan dan Sasaran Tujuan dalam RPJMD ini diartikan sebagai sesuatu yang diinginkan tercapai dan merupakan penjabaran dari misi, sementara sasaran adalah penjabaran dari tujuan. Dengan demikian, sebuah tujuan dapat terjabarkan ke dalam lebih dari satu sasaran. Tujuan dan sasaran RPJMD ini dalam perwujudannya memperhatikan pengalaman, aspirasi, partisipasi dan perolehan manfaat bagi laki-laki dan perempuan secara adil. Tujuan dan sasaran RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018 adalah sebagai berikut. Tabel 5.2 Keterkaitan misi, tujuan dan sasaran RPJMD Sulawesi Selatan 2013-2018 Misi Mendorong semakin berkembangnya masyarakat religius dan kerukunan ummat beragama. Tujuan Meningkatkan kualitas kehidupan religius masyarakat dan kerukunan intra dan antar umat beragama Sasaran Terjaminnya keadaan yang kondusif bagi penghayatan dan pengamalan agama (1) Terpeliharanya kerukunan intra dan antar ummat beragama (2)

Meningkatkan kualitas Meningkatkan kualitas ke- Meningkatnya produksi dan kemakmuran ekonomi, makmuran ekonomi produktivitas tanaman pangan kesejahteraan sosial dan hortikultura, peternakan, dan kelestarian perkebunan dan perikanan (3) ekosistem. Meningkatnya produksi dan produktivitas industri daerah (4) Meningkatnya kualitas dan peran koperasi dan UMKM (5)
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 V-5

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

Misi

Tujuan

Sasaran Berkembangnya daya saing pariwisata daerah (6) Terkendalinya luasan lahan pangan berkelanjutan guna mendukung Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional (7) Meningkatnya kapasitas penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan (8) Meningkatnya ketahanan pangan masyarakat (9) Berkurangnya penduduk miskin di desa dan kota (10) Meningkatnya pemenuhan kebutu-han hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial (11) Meningkatnya perlindungan fungsi lingkungan hidup dan penanganan dampak lingkungan hidup (12) Meningkatnya konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pemeliharaan keanekaragaman hayati (13) Meningkatnya kemampuan literasi dan minat baca masyarakat (14) Meningkatnya akses dan mutu penyelenggaraan wajib belajar 12 tahun (15) Berkembangnya pendidikan tinggi (16) Meningkatnya ketahanan budaya secara serasi dengan spirit zaman (17) Meningkatnya peran dan prestasi pemuda dan keolahragaan (18) Berkembangnya layanan rumah sakit bertaraf Internasional (19) Meningkatnya kualitas penanganan penyakit dan jaminan kesehatan masyarakat
V-6

Meningkatkan kualitas kesejahteraan sosial

Meningkatkan kelestarian lingkungan hidup dan sumber-daya alam

Meningkatkan akses Meningkatkan akses dan dan kualitas pelayanan kualitas layanan pen-didikan, kesehatan pendidikan dan infrastruktur.

Meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

Misi

Tujuan

Sasaran

(20) Meningkatnya kualitas pelayanan ke-sehatan ibu, anak dan gizi (21) Meningkatnya pola hidup sehat, keberdayaan masyarakat dalam masalah kesehatan, dan kesehatan lingkungan (22) Terkendalikannya pertumbuhan penduduk (23) Meningkatkan akses dan Meningkatnya kapasitas jalan kualitas layanan guna mendukung Sulawesi infrastruktur Selatan sebagai simpul transportasi luar Jawa (24) Tersedianya jaringan prasarana dan sarana transportasi yang terintegrasi antar moda dan antar wilayah yang mampu menunjang Sulawesi Selatan sebagai simpul perhubungan luar Jawa (25) Tersedianya akses dan layanan informasi dan komunikasi yang mampu menunjang Sulawesi Selatan sebagai simpul komunikasi dan informasi luar Jawa (26) Meningkatnya keterpenuhan kebutuhan akan rumah layak huni (khususnya rumah tangga miskin) dan infrastruktur permukiman yang berkualitas (27) Meningkatnya kualitas dan cakupan layanan daerah irigasi dan rawa serta pemanfaatan air tanah (28) Meningkatnya ketersediaan infrastruktur energi dan sumber daya mineral untuk mendukung peningkatan perekonomian wilayah (29) Tercukupinya infrastruktur dasar dan layanan dasar warga/masyarakat pesisir pulauRencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 V-7

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

Misi

Tujuan

Sasaran pulau kecil (30) Tersedianya infrastruktur dan kesiapsiagaan penanganan bencana (31 Terjaganya iklim investasi berkualitas yang mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa. (32) Terwujudnya daya saing tenaga kerja pada bidang yang mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa. (33) Berkembangnya Sistem Inovasi Daerah (SIDa) yang mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa (34) Efektifnya peran Sulawesi Selatan dalam mendorong kerjasama antar Kabupaten/Kota, klaster MP3EI, kerjasama regional Sulawesi dan Kawasan Timur Indonesia, dan kerjasama internasional (35 Meningkatnya percepatan pembangunan kawasan andalan (36) Meningkatnya kepatuhan masyarakat terhadap hukum dan norma sosial (37) Meningkatnya kualitas kehidupan demokrasi dan politik (38 Meningkatnya keberdayaan perempuan dan perlindungan anak (39) Terpeliharanya ketertiban, ketenteraman dan kenyamanan dalam masyarakat (40) wawasan, perilaku
V-8

Meningkatkan daya Meningkatkan daya saing saing daerah dan daerah sinergitas regional, nasional dan global.

Meningkatkan kerjasama antar kabupaten/kota serta sinergitas nasional dan global

Meningkatkan kualitas Meningkatkan kualitas pedemokrasi dan kepasti- nyelenggaraan demokrasi an hukum. dan penegakan hukum

Meningkatkan kesetaraan gender dan perlindungan anak Meningkatkan kualitas Memelihara ketertiban dan ketertiban, keamanan ketenteraman dalam dan kesatuan bangsa. masya-rakat

Memelihara harmoni Berkembangnya sosial dan kesatuan bangsa kesadaran dan


Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab V Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran

Misi

Tujuan

Sasaran

Meningkatkan perwujud-an kepemerintahan baik.

masyarakat yang mendukung kesatuan bangsa dan harmoni sosial dalam wadah NKRI (41) Mewujudkan kepemerin- Terwujudnya kelembagaan dan tahan yang baik dan bersih tata laksana pemerintahan yang daerah yang kuat dan transparan dalam mendukung reformasi birokrasi (42) Terwujudnya peningkatan kapasitas dan pendayagunaan aparatur pemerintahan daerah yang berkelanjutan (43) Terwujudnya pengelolaan keuangan (pembiayaan, pendapatan dan belanja) yang transparan, akuntabel, inovatif dan tertib (44) Terwujudnya perencanaan dan pengendalian pembangunan yang berkualitas, responsif gender dan memperhatikan kearifan lokal (45) Mewujudkan keberdayaan Meningkatnya kekuatan masyarakat dan kualitas kelembagaan dan kemampuan pemerintahan desa masyarakat (46) Meningkatnya kekuatan kelembagaan dan kemampuan pemerintahan desa (47)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

V-9

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN


Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komprehensif tentang bagaimana pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien. Selain itu, strategi juga berguna sebagai sarana untuk melakukan transformasi, reformasi dan perbaikan kinerja birokrasi Provinsi Sulawesi Selatan secara berkelanjutan. 6.1. Strategi Rumusan strategi merupakan pernyataan yang menjelaskan bagaimana sasaran akan dicapai. Ia merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi tersebut selanjutnya diperjelas dengan serangkaian arah kebijakan. Penetapan strategi dilakukan untuk menjawab cara pencapaian sasaran-sasaran pembangunan dan jangka waktu pencapaian sasaran-sasaran tersebut. Sebuah strategi dapat dilakukan untuk menjawab satu sasaran pembangunan ataupun lebih dari satu sasaran pembangunan, dengan mempertimbangkan aspek efektifitas dan efisiensi pencapaian target sasaran. Dalam kaitan ini, arsitektur perencanaan pembangunan daerah dipisahkan menjadi dua: (1) perencanaan strategik yaitu perencanaan pembangunan daerah yang menekankan pada pencapaian visi-misi pembangunan daerah; (2) perencanaan operasional yaitu perencanaan yang menekankan pada pencapaian kinerja layanan setiap urusan. Segala sesuatu yang secara langsung dimaksudkan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran RPJMD maka dianggap strategis, ini dijalankan melalui program pembangunan daerah dan program prioritas berdasarkan penyelenggaraan urusan pemerintahan. Perencanaan strategik ini didukung oleh keberhasilan kinerja dari implementasi perencanaan operasional dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan melalui program prioritas masing-masing urusan. Dalam perumusan strategi pembangunan daerah ada empat perspektif yang digunakan dalam mengarahkan keselarasan dengan pilihan program pembangunan daerah yakni (1) perspektif masyarakat/layanan; (2) perspektif proses internal; (3) perspektif kelembagaan; (4) perspektif keuangan. Berdasarkan pemahaman demikian, strategi pembangunan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan 2013-2018 dapat dilihat pada Tabel 6.1.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-1

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

Tabel 6.1 Strategi Pembangunan RPJMD Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 Visi: Sulawesi Selatan sebagai Pilar Utama Pembangunan Nasional dan Simpul Jejaring Akselerasi Kesejahteraan pada Tahun 2018 Misi 1: Mendorong semakin berkembangnya masyarakat yang religius dan kerukunan intra dan antar ummat beragama ( 2 sasaran) No. 1. Tujuan Sasaran Strategi

Meningkatkan kualitas ke-hidupan Terjaminnya keadaan yang kondusif bagi Penguatan kerjasama pemerintah dan tokoh religius masyarakat dan kerukunan penghayatan dan pengamalan agama (1) agama dalam pemeliharaan situasi kondusif bagi intra dan antar umat beragama Terpeliharanya kerukunan intra dan antar kehidupan beragama ummat beragama (2) Misi 2: Meningkatkan kualitas kemakmuran ekonomi, kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan (16 sasaran)

2.

Meningkatkan kualitas makmuran ekonomi

ke- Meningkatnya produksi dan produktivitas Penguatan dukungan ketersediaan sarana tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, produksi tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan dan perikanan (3) peternakan, perkebunan dan perikanan Meningkatnya produksi industri daerah (4) dan produktivitas Penguatan kapasitas teknologi dan manajerial industri yang sudah ada dan inisiasi industri baru

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-2

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

Meningkatnya kualitas dan peran koperasi dan Penguatan dukungan permodalan dan UMKM (5) manajemen koperasi dan UKM disertai dengan peningkatan daya saing pasar Berkembangnya daya saing pariwisata daerah (6) Peningkatan kualitas daya tarik wisata dan pengembangan destinasi wisata unggulan baru Terkendalinya luasan lahan pangan Pengendalian konversi lahan pertanian pangan berkelanjutan guna mendukung Sulawesi secara komplementer dengan optimalisasi lahan Selatan sebagai lumbung pangan nasional (7) pangan dan pencetakan lahan pangan baru Meningkatnya kapasitas penyuluhan pertanian, Penguatan akses informasi pelaku utama dan perikanan dan kehutanan (8) pelaku usaha bidang pertanian, perikanan dan kehutanan berbasis kordinasi kelembagaan penyluhan level provinsi dan kabupaten/kota Meningkatnya ketahanan pangan masyarakat (9) Peningkatan kordinasi sinergis lintas sektor dalam pengelolaan konsumsi pangan dan keamanan pangan

3.

Meningkatkan kualitas sejahteraan sosial

ke- Berkurangnya penduduk miskin di desa dan Pemenuhan hak dasar dan pemberdayaan orang kota (10) miskin Meningkatnya pemenuhan kebutuhan hidup Peningkatan pembinaan penyandang masalah kesejahteraan sosial (11) kebutuhan PMKS dan pemenuhan

4.

Meningkatkan kelestarian Meningkatnya perlindungan fungsi lingkungan Peningkatan kelestarian lingkungan hidup dan lingkungan hidup dan sumberdaya dan penanganan dampak lingkungan hidup (12) daya dukung lingkungan secara beriring dengan alam penanganan dampak lingkungan hidup. Meningkatnya konservasi dan rehabilitasi hutan Peningkatan keterlibatan multipihak dalam dan lahan kritis serta pemeliharaan gerakan penanganan lahan kritis dan pelestarian keanekaragaman hayati (13) sumberdaya hayati

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-3

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

Misi 3: Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur 5. Meningkatkan akses dan kualitas Meningkatnya kemampuan literasi dan minat Penuntasan buta huruf secara terpadu berbasis layanan pendidikan baca masyarakat (14) desa seiring dengan pengembangan minat baca Meningkatnya akses dan mutu penyelenggaraan Peningkatan efektivitas dukungan pembiayaan wajib belajar 12 tahun (15) pendidikan melalui pendidikan gratis Berkembangnya pendidikan tinggi (16) Dukungan pertama pembiayaan mahasiswa tahun

Meningkatnya ketahanan budaya secara serasi Revitalisasi dan dengan spirit zaman (17) budaya secara perubahan global

pengembangan adaptif-kreatif

kekayaan terhadap

Meningkatnya peran dan prestasi pemuda dan Pengembangan prestasi pemuda dan keolahragaan (18) keolahragaan termasuk penyediaan sarana dan prasarana pendukung 6. Meningkatkan akses dan kualitas Berkembangnya layanan rumah sakit bertaraf Kerjasama pihak swasta dan fasilitasi layanan kesehatan Internasional (19) kabupaten/kota dalam mendorong peningkatan kualifikasi rumah sakit Meningkatnya kualitas penanganan penyakit dan Mendorong keikutsertaan masyarakat dalam jaminan kesehatan masyarakat (20) sistem penjaminan kesehatan nasional Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan ibu, Penanganan komprehensif usia 1.000 hari anak dan gizi (21) kehidupan Meningkatnya pola hidup sehat, keberdayaan Penanaman nilai dan norma pola hidup sehat masyarakat dalam masalah kesehatan, dan serta pemberdayaan masyarakat dalam kesehatan lingkungan (22) kesehatan Terkendalikannya pertumbuhan penduduk (23)
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Peningkatan wawasan pembangunan berbasis

VI-4

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

kependudukan 7. Meningkatnya kapasitas jalan guna mendukung Pemeliharaan dan peningkatan kapasitas jalan Sulawesi Selatan sebagai simpul transportasi luar berbasis simpul jaringan intra dan ekstra Jawa (24) Sulawesi Selatan termasuk pengembangan kawasan strategis Tersedianya jaringan prasarana dan sarana Meningkatkan akses dan kualitas transportasi yang terintegrasi antar moda dan antar wilayah yang mampu menunjang Sulawesi layanan infrastruktur Selatan sebagai simpul perhubungan luar Jawa (25) Tersedianya akses dan layanan informasi dan komunikasi yang mampu menunjang Sulawesi Selatan sebagai simpul komunikasi dan informasi luar Jawa (26) Meningkatnya keterpenuhan kebutuhan akan rumah layak huni (khususnya rumah tangga miskin) dan infrastruktur permukiman yang berkualitas (27) Meningkatnya kualitas dan cakupan layanan daerah irigasi dan rawa serta pemanfaatan air tanah (28) Pengembangan prasarana transportasi massal, perkeretaapian lintas Sulawesi dan transportasi darat,transportasi udara, dan transportasi laut dalam kerangka Sulawesi Selatan sebagai hub perhubungan Sulawesi dan Kawasan Timur Indonesia Mendorong Kota Makassar sebagai sentra penyediaan dan jaringan komunikasi bagi perusahan telekomunikasi Dukungan pemenuhan rumah layak huni bagi rumah tangga miskin dan infrastruktur penduduk pulau kecil Penguatan keterpaduan hulu dan hilir dalam pengelolaan sumberdaya air serta peningkatan kapasitas infrastruktur irigasi

Meningkatnya ketersediaan infrastruktur energi Pengembangan sumber-sumber energi alternatif dan sumber daya mineral untuk mendukung terbarukan dan optimalisasi pengelolaan peningkatan perekonomian wilayah (29) sumberdaya mineral Tercukupinya infrastruktur dasar dan layanan Kordinasi lintas sektor dan daerah dalam dasar warga/masyarakat pesisir pulau-pulau pemenuhan infrastruktur dasar dan layanan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-5

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

kecil (30)

dasar pulau-pulau kecil

Tersedianya infrastruktur dan kesiapsiagaan Pengembangan daya resiliensi masyarakat atas penanganan bencana (31) bencana secara beriring dengan peningkatan kordinasi pemerintah dan lembaga lain dalam penanganan kebencanaan Misi 4: Meningkatkan daya saing daerah dan sinergitas regional, nasional dan global Meningkatkan daya saing daerah Terjaganya iklim investasi ber-kualitas yang Pengembangan kerjasama pembangunan dan mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul penguatan daya saing daerah jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa. (32) Terwujudnya daya saing tenaga kerja pada Peningkatan kompetensi tenaga kerja pada level bidang yang mendukung Sulawesi Selatan yang dapat bersaing pada tingkat internasional sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa. (33) Berkembangnya Sistem Inovasi Daerah yang Membangun sinergitas penelitian dan mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul pengembangan antara lembaga penelitian jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa (34) perguruan tinggi, pemerintah daerah dan dunia usaha Meningkatkan kerjasama antar Efektifnya peran Sulawesi Selatan dalam Pengembangan simpul sinergi antar pihak dan kabupaten/kota serta sinergitas mendorong kerjasama antar Kabupaten/Kota, antar wilayah secara multi-level provinsi, nasional dan global klaster MP3EI, kerjasama regional Sulawesi dan regional, nasional dan global Kawasan Timur Indonesia, dan kerjasama internasional (35) Meningkatnya percepatan kawasan andalan (36) pembangunan Peningkatan kualitas interkoneksitas fungsional antar kawasan baik secara forward linkage maupun backward linkage

8.

9.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-6

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

10.

Meningkatkan kualitas nyelenggaraan demokrasi penegakan hukum

Misi 5: Meningkatkan kualitas demokrasi dan kepastian hukum pe- Meningkatnya kepatuhan masyarakat terhadap Memperkuat kordinasi dengan instansi terkait dan hukum dan norma sosial (37) secara vertikal dan horizontal seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat atas hukum dan norma sosial Meningkatnya kualitas kehidupan demokrasi Meningkatkan pembinaan partai politik serta dan politik (38) penguatan civil society bagi perkembangan keadaan kondusif atas kehidupan demokrasi yang lebih substantif

11

Meningkatkan kesetaraan gender Meningkatnya keberdayaan perempuan dan Memperkuat keberdayaan perempuan di sektor dan perlindungan anak perlindungan anak (39) publik dan privat secara terkordinasikan dengan pelayanan perlindungan perempuan dan anak dari korban kekerasan Misi 6: Meningkatkan kualitas ketertiban, keamanan dan kesatuan bangsa Memelihara ketertiban dan Terpeliharanya ketertiban, ketenteraman dan Memperkuat sistem terpadu pengembangan ketenteraman dalam masya-rakat ke-nyamanan dalam masyarakat (40) ketertiban, ketenteraman dan ke-nyamanan. Memelihara harmoni sosial dan Berkembangnya wawasan, kesadar-an dan Meningkatkan kualitas modal sosial sebagai kesatuan bangsa perilaku masyarakat yang mendukung ke-satuan basis harmoni sosial dan kesatuan bangsa bangsa dan harmoni sosial dalam wadah NKRI (41) Misi 7: Meningkatkan perwujudan kepemerintahan yang baik dan bersih Mewujudkan kepemerin-tahan yang Terwujudnya kelembagaan dan tata laksana Penataan dan penguatan organisasi dan baik pemerintahan daerah yang kuat dan transparan manajemen SDM aparatur serta dalam mendukung reformasi birokrasi (42) penyempurnaan sistem pelayanan

12. 13.

14.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-7

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

Terwujudnya peningkatan kapasitas dan Mensinergikan pendidikan dan pelatihan pendayagunaan aparatur pemerintahan daerah aparatur dengan pembelajaran organisasi yang berkelanjutan (43) (learning organization) kearah peningkatan kompetensi individual dan peningkatan kapasitas organisasional Terwujudnya pengelolaan keuangan Mengefektifkan pengelolaan sumber-sumber (Pembiayaan, pendapatan dan belanja) yang pendapatan daerah secara seiring dengan transparan, akuntabel, inovatif dan tertib (44) pembelanjaan yang efektif dan efisien berbasis pada inovasi administratif dan teknis Terwujudnya perencanaan dan pengendalian Meningkatkan kualitas proses politik, pembangunan yang berkualitas, responsif teknokratis, partisipatif, top down-bottom up gender dan memperhatikan kearifan lokal (45) dan pengarusutamaan gender dalam perencanaan dengan memperhatikan penuh kearifan lokal 15. Mewujudkan keberdayaan Meningkatnya kekuatan kelembagaan masyarakat dan kualitas kemampuan masyarakat (46) pemerintahan desa Meningkatnya kekuatan kelembagaan kemampuan pemerintahan desa (47) dan Peningkatan keswadayaan masyarakat berbasis kearifan lokal dan Penguatan kapasitas pemerintahan desa dan kerangka otonomi desa

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-8

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

6.2. Arah Kebijakan Arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah merupakan pedoman untuk menentukan tahapan dan prioritas pembangunan lima tahunan guna mencapai sasaran RPJMD secara bertahap. Tahapan dan prioritas yang ditetapkan mencerminkan urgensi permasalahan dan isu strategis yang hendak diselesaikan berkaitan dengan pengaturan waktu. Kebijakan tahunan yang belum terlaksana tetap akan menjadi perhatian pada tahun berikutnya disamping kebijakan prioritas tahun berjalan. Penekanan prioritas kebijakan pada setiap tahapan berbeda-beda, namun memiliki kesinambungan dari satu periode ke periode lainnya dalam rangka mencapai sasaran tahapan lima tahunan dalam RPJMD. Dengan prioritisasi kebijakan tersebut bukan berarti program/kegiatan pembangunan oprasional SKPD di luar yang diprioritaskan tidak berjalan, ia tetap berjalan tetapi dengan penekanan strategis yang lebih rendah dibanding yang diprioritaskan. Kebijakan pembangunan dengan penekanan strategis lebih rendah dimaksud adalah program-program operasional pada semua SKPD yang melaksanakan program pembangunan daerah untuk memenuhi kewajiban penyelenggaraan semua urusan pemerintahan. Selain itu semua arah kebijakan pembangunan daerah diharapkan akan mengarah pada pengelolaan keuangan yang makin berkualitas, sehingga dapat mempetahankan predikat WTP dari tahun ketahun. Arah kebijakan pembangunan lima tahun Provinsi Sulawesi Selatan periode 20132018 adalah sebagai berikut. a. Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2013 Pembangunan tahun 2013 merupakan transisi dari periode RPJMD sebelumnya. Fokus pembangunan selain melanjutkan pencapaian periode RPJMD sebelumnya, juga meletakkan dasar-dasar bagi fokus pembangunan periode RPJMD saat ini. Kebijakan pembangunan pada tahun 2013 diarahkan kepada: 1. Pengembangan ekonomi kerakyatan: (1) Peningkatan produksi tanaman pangan; (2) Peningkatan populasi ternak; (3) Peningkatan produksi perikanan dan rumput laut; (4) Peningkatan produksi tanaman perkebunan; (5) Pengembangan komoditas garam; (6) Pengembangan industri lokal; (7) Penguatan permodalan dan manajerial UKM serta koperasi; (8) Penumbuhan wirausaha baru; (9) Peningkatan kualitas tenaga kerja dan calon tenaga kerja; (10) Pengembangan obyek wisata unggulan dan promosi wisata; (11) Penegakan regulasi lahan pangan berkelanjutan; (12) Penguatan penyuluhan pertanian, kehutanan dan perikanan; (13) Peningkatan akses masyarakat miskin terhadap usaha produktif; (14) Peningkatan bantuan dan jaminan penyandang masalah kesejahteraan sosial. (15) Peningkatan ketahanan pangan masyarakat 2. Pembangunan bidang Pendidikan dan Kebudayaan: (1) Pemberian bantuan SPP kepada mahasiswa baru;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 VI-9

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

3.

4.

(2) Peningkatan akses dan jenjang layanan pendidikan gratis; (3) Penuntasan buta huruf; (4) Pengembangan kekakayaan dan keragaman budaya; (5) Pengembangan organisasi dan kegiatan kepemudaan dan keolahragaan. Pembangunan bidang Kesehatan: (1) Dukungan pengembangan rumah sakit berakreditasi nasional; (2) Peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan gratis; (3) Penguatan jaminan kesehatan masyarakat; (4) Penanganan komprehensif ibu dan anak 1.000 hari pertama kehidupan; (5) Peningkatan upaya kesehatan preventif dan promotif; (6) Penguatan norma keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Pemberdayaan masyarakat dan penguatan kemandirian desa: (1) Penguatan kapasitas kelembagaan ekonomi pedesaan; (2) Penguatan kapasitas kelembagaan pemerintahan desa; (3) Penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat; (4) Penanggulangan kemiskinan.

b. Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2014 Tahun 2014 merupakan tahun terakhir dari berlakunya RPJMN 2010-2014. Karena itu, prioritas RPJMN menjadi perhatian. Selain itu, tahun 2014 merupakan tahun demokrasi dan politik, sehubungan dengan pelaksanaan pemilihan legislatif dan presiden, sehingga perhatian juga perlu diberikan terkait hal tersebut. Kebijakan pembangunan tahun 2014 diarahkan kepada: 1. Pemeliharaan ketertiban dan pengembangan demokrasi a) Penegakan hukum dan norma sosial; b) Dukungan penyelenggaraan pemilu; c) Pembinaan partai politik; d) Pemberdayaan perempuan; e) Perlindungan anak; f) Pemeliharaan ketertiban dan keamanan; g) Penguatan wawasan kesatuan bangsa. Pemantapan kehidupan beragama: a) Pemenuhan sarana/prasarana ibadah; b) Pemeliharaan kerukunan beragama. Pembinaan dan pengentasan masyarakat tidak mampu: a) Meningkatan akses masyarakat miskin terhadap usaha produktif; b) Pemenuhan kebutuhan penyandang masalah kesejahteraan sosial. Peningkatan kapasitas infrastruktur wilayah: a) Dukungan pembangunan jalur kereta api trans-Sulawesi; b) Peningkatan kapasitas jalan; c) Pengembangan Kawasan Strategis; d) Peningkatan kapasitas bandara; e) Peningkatan kapasitas pelabuhan; f) Pengembangan jaringan informasi dan komunikasi;
VI-10

2. 3. 4.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

5.

6.

7. 8. 9.

g) Pengembangan perumahan dan pemukiman; h) Pengelolaan sumberdaya air dan peningkatan kapasitas infrastruktur irigasi; i) Penguatan kapasitas listrik; j) Pengembangan energi terbarukan; k) Pembangunan pertambangan; l) Pemenuhan infrastruktur dasar masyarakat pesisir dan pulau; m) Peningkatan kapasitas penanganan bencana. Reformasi Birokrasi dan Penguatan Governance: a) Penguatan kelembagaan dan tatalaksana pemerintahan daerah; b) Peningkatan kompetensi aparatur ; c) Pengembangan transparansi birokrasi; d) Penguatan manajemen pembangunan dan pengendalian tata ruang; e) Penertiban pengelolaan keuangan dan asset daerah; f) Perbaikan administrasi pemerintahan umum; g) Penguatan dukungan pemerintahan kewilayahan. Peningkatan kelestarian dan penanganan dampak lingkungan: a) Perlindungan fungsi lingkungan; b) Penanganan dampak lingkungan; c) Konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis; Pengembangan ekonomi kerakyatan; Pengembangan pendidikan, kepemudaan, keolahragaan, dan kebudayaan; Pembangunan kesehatan

c. Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2015 Pada tahun 2015 legislatif baru dan kabinet baru mulai berjalan. Karena itu, sebagian dari kebijakan akan menyesuaikan diri dengan arahan dari kabinet baru tersebut. Kebijakan yang diprioritaskan pada tahun ini adalah:: 1. Pengembangan Kerjasama Daerah dan Daya Saing daerah: a) Pengembangan kerjasamaProvinsiSulawesi Selatan dengan Provinsi Luar Negeri; b) Pengembangan kerjasama Kabupaten/Kota dengan Kabupaten/Kota lain di Indonesia dan Luar Negeri; c) Pengembangan iklim dan sarana/prasarana pendukung investasi daerah; d) Pengembangan sistem jaringan distribusi komoditas strategis; e) Peningkatan kualitas tenaga kerja dan calon tenaga kerja; f) Penguatan sistem inovasi daerah; g) Pengembangan dukungan MP3EI dan BKPRS. 2. Pengembangan ekonomi kerakyatan; 3. Pengembangan pendidikan, kepemudaan, keolahragaan, dan kebudayaan Pembangunan kesehatan; 4. Peningkatan kapasitas infrastruktur wilayah. 5. Pengembangan Kawasan Strategis; 6. Pengelolaan sumberdaya air dan peningkatan kapasitas infrastruktur irigasi; 7. Reformasi Birokrasi dan Penguatan Kapasitas Kelembagaan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018 VI-11

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

d. Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2016 Pada tahun 2016 seluruh kebijakan pembangunan yang telah dijalankan pada tiga tahun sebelumnya diakselerasi pencapaian kinerjanya. Selain itu, juga dilakukan penyesuaian sebagai respons terhadap perubahan lingkungan strategis regional, nasional maupun global. Pada tahun ini juga dilakukan review RPJMD guna melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam merespons perubahan lingkungan strategis yang dianggap signifikan pengaruhnya. Prioritas kebijakan pembangunan pada tahun 2016 diarahkan pada: 1. Pengembangan ekonomi kerakyatan; 2. Pengembangan pendidikan, kepemudaan, keolahragaan, dan kebudayaan, Pembangunan kesehatan; 3. Peningkatan kapasitas infrastruktur wilayah; 4. Pengembangan Kawasan Strategis; 5. Peningkatan kapasitas birokrasi dan kelembagaan; e. Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2017 Pada tahun 2017 akselerasi dilakukan pada kebijakan-kebijakan yang target kinerjanya masih jauh dari pencapaian guna mengejar pencapaian target kinerja tersebut pada akhir periode RPJMD. Adapun prioritas kebijakan pada tahun ini adalah: 1. Pengembangan ekonomi kerakyatan; 2. Pengembangan pendidikan, kepemudaan, keolahragaan, dan kebudayaan, Pembangunan kesehatan; 3. Peningkatan kapasitas infrastruktur wiayah; 4. Pengembangan Kawasan Strategis; 5. Peningkatan kapasitas birokrasi dan kelembagaan; f. Arah Kebijakan Pembangunan Tahun 2018 Tahun 2018 merupakan tahun terakhir dari perode RPJMD 2013-2018. Pada tahun tersebut akan terselenggara pemilihan Gubernur secara bersamaan dengan beberapa kabupaten/kota. Karena itu, kebijakan terkait ketertiban dan demokrasi kembali menjadi prioritas pada tahun 2018. Selain itu, priorotas juga diberikan kepada target kinerja kebijakan yang belum tercapai pada tahun 2017. Adapun prioritas kebijakan pada tahun 2018 adalah: 1. Pemeliharaan ketertiban dan pengembangan demokrasi; 2. Pengembangan ekonomi kerakyatan; 3. Pengembangan pendidikan, kepemudaan, keolahragaan, dan kebudayaan, Pembangunan kesehatan; 4. Pengembangan Kawasan Strategis; 5. Peningkatan kapasitas birokrasi dan kelembagaan;

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-12

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

Tabel 6.2 Arah kebijakan No. Tujuan Sasaran Strategi 2013


Misi 1:

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

1.

Meningkatkan kualitas kehidupan religius masyarakat dan kerukunan intra dan antar umat beragama

Mendorong semakin berkembangnya masyarakat yang religius dan kerukunan intra dan antar ummat beragama

Terjaminnya keadaan yang kondusif bagi penghayatan dan pengamalan agama (1) Terpeliharanya kerukunan intra dan antar ummat beragama (2)

Penguatan kerjasama pemerintah dan tokoh agama dalam pemeliharaan situasi kondusif bagi kehidupan beragama

Pemantapan kehidupan beragama

Aksele-rasi pemantapan kehidupan beragama

2.

Misi 2: Meningkatkan kualitas kemakmuran ekonomi, kesejahteraan sosial dan kelestarian ekosistem Meningkatkan Meningkatnya Penguatan kualitas ke- produksi dan dukungan makmuran produktivitas ketersediaan ekonomi tanaman pangan sarana produksi dan hortikultura, tanaman pangan

Akse-lerasi pencapaian targettarget pemantapan kehidupan beragama yang tertinggal

Penyelesaian targettarget pemantapan kehidupan beragama yang terting-gal

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-13

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran

Strategi

peternakan, dan hortikultura, perkebunan dan peternakan, perikanan (3) perkebunan dan perikanan Meningkatnya produksi dan produktivitas industri daerah (4) Penguatan kapasitas teknologi dan manajerial industri yang sudah ada dan inisiasi industri baru Penguatan dukungan permodalan dan manajemen koperasi dan UKM disertai dan daya saing pasar Peningkatan kualitas daya tarik wisata dan pengembangan

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

Meningkatnya kualitas dan peran Koperasi dan UMKM (5)

Pengembangan ekonomi kerakyatan

Pengembangan ekonomi kerakyatan

Pengembangan ekonomi kerakyatan

Aksele-rasi pengembangan ekonomi kerakyatan

Akselerasi targettarget pengemba ngan ekonomi kerakyatan yang tertinggal

Penyelesaian targettarget pengemb angan ekonomi kerakyatan yang terting-gal

Berkembangnya daya saing pariwisata daerah (6)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-14

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran

Strategi destinasi wisata unggulan baru. Pengendalian konversi lahan pertanian pangan secara komplementer dengan optimalisasi lahan pangan dan pencetakan lahan pangan baru Penguatan akses informasi pelaku utama dan pelaku usaha bidang pertanian, perikanan dan kehutanan berbasis koordinasi kelembagaan penyuluhan level provinsi dan

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

Terkendalinya luasan lahan pangan berkelanjutan guna mendukung Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional (7) Meningkatnya kapasitas penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan (8)

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-15

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran Meningkatnya ketahanan pangan masyarakat (9)

Strategi Kab.Kota Peningkatan kordinasi sinergis lintas sektor dalam pengelolaan konsumsi pangan dan keamanan pangan Pemenuhan hak dasar dan pemberdayaan orang miskin Peningkatan pembinaan dan pemenuhan kebutuhan PMKS

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

3.

Meningkatkan kualitas kesejahteraan sosial

Berkurangnya penduduk miskin di desa dan kota (10) Meningkatnya pemenuhan kebutu-han hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial (11)

Pembinaan dan pengentasan masyarakat tidak mampu

Akselerasi pembinaan dan pengentasan masyarakat tidak mampu

Akselerasi targettarget pembinaan dan pengentasan masyarakat tidak mampu yang tertinggal

4.

Meningkatkan kelestarian lingkungan

Meningkatnya Peningkatan perlindungan kelestarian fungsi lingkungan lingkungan hidup

Penyelesaian target pembinaan dan pengentasan masyarakat tidak mampu yang tertinggal Penyelesaian

Peningkatan

Peningkatan

Aksele-rasi pening-

Akselerasi target-

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-16

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran

Strategi

hidup dan hidup dan sumberdaya penanganan alam dampak lingkungan hidup (12)

5.

Misi 3: Meningkatkan akses dan kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur Meningkatkan Meningkatnya Penuntasan buta akses dan kemampuan huruf secara kualitas layanan literasi dan minat terpadu berbasis pendidikan baca masyarakat desa seiring (14) dengan pengembangan

dan daya dukung lingkungan hidup secara beriring dengan penanganan dampak lingkungan hidup. Meningkatnya Peningkatan konservasi dan keterlibatan rehabilitasi hutan multipihak dalam dan lahan kritis gerakan serta penanganan pemeliharaan lahan kritis dan keanekaragaman pelestarian hayati (13) sumberdaya hayati.

2013

Arah Kebijakan 2014 2015 2016 2017 kelestari-an kelestari-an katan target dan dan kelestari-an peningkata penanga-nan penangadan n dampak nan penanga- kelestarian lingkung-an dampak nan dan lingkungdampak penangana an lingkun dampak ngan lingkungan yang tertinggal

2018 targettarget peningkatan kelestarian dan penanganan dampak lingkungan yang terting-gal

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-17

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran Meningkatnya akses dan mutu penyelenggaraan wajib belajar 12 tahun (15) Berkembangnya pendidikan tinggi (16) Meningkatnya ketahanan budaya secara serasi dengan spirit zaman (17) Meningkatnya peran dan prestasi pemuda dan keolahragaan (18)

Strategi

minat baca Peningkatan Pembaefektivitas ngunan dukungan bidang pembiayaan pendidikan pendidikan dan melalui pendidikan gratis kebudaya-an Dukungan pembiayaan mahasiswa tahun pertama Revitalisasi dan pengembangan kekayaan budaya secara adaptifkreatif terhadap perubahan global Pengembangan prestasi pemuda dan keolahragaan termasuk penyediaan sarana dan prasarana

2013

2018 PenyeleAksele-rasi Akselerasi saian Pembangun Pembangu pembatargettargetan bidang nan bidang ngunan target target pendidikan, pendidikan bidang pembangu pembakepemudaan ,kepemuda pendidinan bidang ngunan ,keolahragaa an,keolahra kan, pendidikan bidang n dan gaan dan kepemudaa ,kepemuda pendidikebudayaan kebudayaa n,keolahra an,keolahra kan yang n gaan dan gaan dan terting-gal kebukebudayaa dayaan n yang tertinggal

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-18

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No. 6.

Tujuan Meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan

Sasaran Berkembangnya layanan rumah sakit bertaraf Internasional (19)

Strategi pendukung Kerjasama pihak swasta dan fasilitasi kabupaten dalam mendorong peningkatan kualifikasi rumah sakit Mendorong keikutsertaan masyarakat dalam sistem penjaminan kesehatan nasional Penanganan komprehensif usia 1.000 hari pertama kelahiran Penanaman nilai dan norma pola hidup sehat serta pemberdayaan

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

Meningkatnya kualitas penanganan penyakit dan jaminan kesehatan masyarakat (20) Meningkatnya kualitas pelayanan ke-sehatan ibu, anak dan gizi (21) Meningkatnya pola hidup sehat, keberdayaan masyarakat dalam

Pembangunan bidang kesehatan

Pembangun an bidang kesehatan

Pembangu nan bidang kesehatan

Aksele-rasi pembangunan bidang kesehat-an

Akselerasi targettarget pembangunan bidang kesehatan yang tertinggal

Penyelesaian targettarget pembangunan bidang kesehatan yang terting-gal

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-19

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran masalah kesehatan, dan kesehatan lingkungan (22) Terkendalikannya pertumbuhan penduduk (23)

Strategi masyarakat dalam kesehatan Peningkatan wawasan pembangunan berbasis kependudukan Pemeliharaan dan peningkatan kapasitas jalan berbasis simpul jaringan intra dan ekstra Sulawesi Selatan termasuk pengembangan kawasan strategis Pengembangan prasarana transportasi massal, perkeretaapian lintas Sulawesi dan transportasi

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

7.

Meningkatkan akses dan kualitas layanan infrastruktur

Meningkatnya kapasitas jalan guna mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul transportasi luar Jawa (24) Tersedianya jaringan prasarana dan sarana transportasi yang terintegrasi antar moda dan antar wilayah yang

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-20

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran mampu menunjang Sulawesi Selatan sebagai simpul perhubungan luar Jawa (25)

Strategi darat,transportasi udara, dan transportasi laut dalam kerangka Sulawesi Selatan sebagai hub perhubungan Sulawesi dan Kawasan Timur Indonesia. Mendorong Kota Makassar sebagai sentra penyediaan dan jaringan komunikasi bagi perusahan telekomunikasi

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

Peningkatan kapasitas infrastruktur wilayah

Tersedianya akses dan layanan informasi dan komunikasi yang mampu menunjang Sulawesi Selatan sebagai simpul komunikasi dan informasi luar Jawa (26) Meningkatnya keterpenuhan kebutuhan akan rumah layak huni

Peningkatan kapasitas infrastruktur wilayah

Aksele-rasi peningkatan kapasitas infrastruktur wilayah

Akselerasi targettarget peningkatan kapasitas infrastruktur wilayah yang tertinggal

Penyelesaian targettarget peningkatan kapasitas infrastruktur yang terting-gal

Dukungan pemenuhan rumah layak huni bagi rumah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-21

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran (khususnya rumah tangga miskin) dan infrastruktur permukiman yang berkualitas (27) Meningkatnya kualitas dan cakupan layanan daerah irigasi dan rawa serta pemanfaatan air tanah (28)

Strategi tangga miskin dan infrastruktur pulau kecil.

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

Keterpaduan hulu dan hilir dalam pengelolaan sumberdaya air serta peningkatan kapasitas infrastruktur irigasi Meningkatnya Pengembangan ketersediaan sumber-sumber infrastruktur energi alternatif energi dan terbarukan dan sumber daya optimalisasi mineral untuk pengelolaan mendukung sumberdaya peningkatan mineral perekonomian
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-22

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran wilayah (29) Tercukupinya infrastruktur dasar dan layanan dasar warga/masyarakat pulau-pulau kecil (30)

Strategi

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

Kordinasi lintas sektor dan daerah dalam pemenuhan infrastruktur dasar dan layanan dasar pulau-pulau kecil dan terluar Tersedianya Pengembangan infrastruktur dan daya resiliensi kesiapsiagaan masyarakat atas penanganan bencana secara bencana (31) beriring dengan peningkatan kordinasi pemerintah dan lembaga lain dalam penanganan kebencanaan

8.

Meningkatkan

Misi 4: Meningkatkan daya saing daerah dan sinergitas regional, nasional dan global Terjaganya iklim Pengembangan
VI-23

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan daya daerah

Sasaran

Strategi kerjasama pembangunan dan penguatan daya saing daerah

saing investasi berkualitas yang mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa. (32) Terwujudnya daya saing tenaga kerja pada bidang yang mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa. (33) Berkembangnya Sistem Inovasi Daerah (SIDA) yang mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

Peningkatan kompetensi tenaga kerja pada level yang dapat bersaing pada tingkat international Membangun sinergitas penelitian dan pengembangan antara lembaga penelitian perguruan tinggi, pemerintah

Pengembangan kerjasama dan daya saing daerah

Aksele-rasi pengembangan kerja-sama dan daya saing daerah

Akelerasi targettarget kerjasama dan daya saing daerah yang tertinggal

Penyelesaian targettarget pengemb angan kerjasama dan daya saing daerah yang terting-gal

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-24

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan (34)

Sasaran

Strategi daerah dan dunia usaha Pengembangan simpul sinergi antar pihak dan antar wilayah secara multi-level provinsi, regional, nasional dan global

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

9.

Meningkatkan kerjasama antar kabupaten/kota serta sinergitas nasional dan global

Efektifnya peran Sulawesi Selatan dalam mendorong kerjasama antar Kabupaten/Kota, klaster MP3EI, kerjasama regional Sulawesi dan Kawasan Timur Indonesia, dan kerjasama internasional (35) Meningkatnya percepatan pembangunan kawasan andalan (36)

Peningkatan kualitas interkoneksitas fungsional antar kawasan baik secara forward linkage maupun backward linkage

Misi 5:

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-25

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No. 10.

Tujuan Meningkatkan kualitas penyelenggaraan demokrasi dan penegakan hukum

Sasaran Meningkatnya kepatuhan masyarakat terhadap hukum dan norma sosial (37)

Meningkatnya kualitas kehidupan demokrasi dan politik (38)

11

Meningkatkan Meningkatnya kesetaraan keberdayaan gender dan perempuan dan

Arah Kebijakan 2013 2014 2015 2016 Meningkatkan kualitas demokrasi dan kepastian hukum Memperkuat kordinasi dengan instansi terkait secara vertikal dan horizontal seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat atas hukum dan norma sosial Pemeliharaan Meningkatkan ketertiban Akselerasi pembinaan partai dan pemelihapolitik serta demokrasi raan penguatan civil ketertiban society bagi dan perkembangan pencapaikeadaan kondusif an demokatas kehidupan rasi demokrasi yang lebih substantif Memperkuat keberdayaan perempuan di Strategi

2017

2018

Akselerasi targettarget pencapaian demokrasi yang tertinggal

Penyelesaian targettarget pencapaian demokrasi yang terting-gal

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-26

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan perlindungan anak

Sasaran perlindungan anak (39)

Strategi sektor publik dan privat secara terkordinasikan dengan pelayanan perlindungan perempuan dan anak dari korban kekerasan

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

12.

Memelihara ketertiban dan ketenteraman dalam masyarakat Memelihara harmoni sosial dan kesatuan bangsa

13.

Misi 6: Meningkatkan kualitas ketertiban, keamanan dan kesatuan bangsa Terpeliharanya Memperkuat ketertiban, sistem terpadu ketenteraman dan pengembangan ke-nyamanan ketertiban, Pemelidalam masyarakat ketenteraman haraan (40) dan keketertiban nyamanan. dan demokrasi Berkembangnya Meningkatkan wawasan, kualitas modal kesadar-an dan sosial sebagai perilaku basis harmoni masyarakat yang sosial dan mendukung ke- kesatuan bangsa satuan bangsa dan

Akselerasi pemeliharaan ketertiban dan pencapaian demokrasi

Akselerasi targettarget ketertiban dan kesatuan bangsa yang tertinggal

Penyelesaian targettarget pemeliharaan ketertiban dan kesatuan bangsa yang terting-gal

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-27

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran harmoni sosial dalam wadah NKRI (41)

Strategi

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

14.

Mewujudkan kepemerintahan yang baik

Misi 7: Meningkatkan perwujudan kepemerintahan yang baik dan bersih Terwujudnya Penataan dan kelembagaan dan penguatan tata laksana organisasi dan pemerintahan manajemen daerah yang kuat, SDM aparatur dan transparan serta dalam penyempurnaan mendukung sistem pelayanan reformasi birokrasi (42) Terwujudnya Mensinergikan peningkatan pendidikan dan kapasitas dan pelatihan pendayagunaan aparatur dengan aparatur pembelajaran pemerintahan organisasi daerah yang (learning berkelanjutan (43) organization) kearah Reformasi penningkatan

Akselerasi reformasi birokrasi dan penguat-an governance

Akselerasi targettarget reformasi birokrasi dan penguat-an

Penyelesaian targettarget reformasi birokrasi

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-28

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran

Strategi kompetensi individual dan peningkatan kapasitas organisasional Mengefektifkan pengelolaan sumber-sumber pendapatan daerah secara seiring dengan pembelanjaan yang efektif dan efisien berbasis pada inovasi administratif dan teknis Meningkatkan kualitas proses politik, teknokratis, partisipatif, top down-bottom up dalam pengarusutamaan

2013

2014 birokrasi dan penguatan governance

Arah Kebijakan 2015 2016

2017 governance yang tertinggal

Terwujudnya pengelolaan keuangan (pembiayaan, pendapatan dan belanja) dan asset daerah yang transparan, akuntabel dan inovatif dan tertib (44) Terwujudnya perencanaan dan pengendalian pembangunan yang berkualitas, responsif gender dan memperhatikan

2018 dan penguatan governance yang terting-gal

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-29

Bab VI Strategi dan Arah Kebijakan

No.

Tujuan

Sasaran

Strategi

15.

kearifan lokal (45) gender yang makin signifikan dan memperhatikan penuh kearifan lokal Mewujudkan Meningkatnya Peningkatan keberdayaan kekuatan keswadayaan masyarakat dan kelembagaan dan masyarakat kualitas kemampuan berbasis kearifan pemerintahan masyarakat (46) lokal desa Meningkatnya Penguatan kekuatan kapasitas kelembagaan dan pemerintahan kemampuan desa dan pemerintahan kerangka desa (47) otonomi desa

2013

2014

Arah Kebijakan 2015 2016

2017

2018

Pemberdayaan masyarakat dan penguatan kemandirian desa

Akselerasi pemberday aan masyarakat dan penguatan kemandiria n desa

Akselerasi targettarget pemberdayaan masyarakat dan kemandirian desa yang tertinggal

Penyelesaian targettarget pemberdayaan masyarakat dan kemandirian desa yang terting-gal

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VI-30

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

BAB VII KEBIJAKAN UMUM DAN PROGRAM PEMBANGUNAN DAERAH Perumusan kebijakan umum bertujuan menjelaskan cara yang ditempuh untuk menterjemahkan strategi ke dalam rencana program-program prioritas pembangunan. Kebijakan umum pembangunan memberikan arah perumusan rencana program prioritas pembangunan yang disertai kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dan menjadi pedoman bagi SKPD dalam menyusun program dan kegiatan pada Rencana Strategis (Renstra) SKPD. Program-program strategis yang ditampilkan pada bagian ini merupakan program-program yang secara langsung mendukung pencapaian visi, misi pembangunan daerah. Berdasarkan strategi dan arah kebijakan yang telah ditetapkan, maka kebijakan umum pembangunan jangka menengah 2013-2018 Provinsi Sulawesi Selatan ditampilkan pada Tabel 7.1.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-1

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

Tabel 7.1. Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan 2013-2018 Capaian Kinerja Program Peningkatan Fungsi dan Peran Lembaga Keagamaan dan Tokoh Agama Pengembanga n Wawasan Kebangsaan Bidang Keagamaan Indikator Kinerja (Outcome) Jumlah pemuka agama/ lembaga keagamaan yang mendapatkan fasilitas/pembinaan Kondisi Awal 2012/(2013) 200 org pemuka agama/perwakilan lembaga keagamaan Kondisi Akhir (2018) 500 org pemuka agama/perwakilan lembaga keagamaan SKPD Penanggung Jawab Biro Mensprit

No. 1.

Sasaran Terjaminnya keadaan yang kondusif bagi penghayatan dan pengamalan agama

Strategi

Kebijakan Umum Fasilitasi sarana /prasarana ibadah dan pembinaan pemuka agama

Bidang Urusan Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri

2.

Penguatan Kerjasama pemerintah dan tokoh agama dalam pemeliharaan situasi kondusif bagi kehidupan Terpeliharanya kerukunan intra beragama dan antar ummat beragama

Pemeliharaan kerukunan beragama

Jumlah dai dan pemuka agama Dai dan pemuka agama Dai dan pemuka Kesatuan lainnya yang mendapatkan lainnya: 700 org agama lainnya: bangsa dan pembinaan/sosialisasi wawas5700 org politik dalam an kebangsaan negeri

Biro Mensprit

Meningkatnya produksi dan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura,

Penguatan dukungan ketersediaan sarana produksi tanaman pangan

Peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura

Peningkatan produksi tanaman pangan

Tingkat produksi dan produktivitas tanaman pangan utama dan hortikultura Produksi : Padi 5.003.010 ton

Pertanian

6.704.512 ton

Dinas Pertaninan Tanaman Pangan dan Hor-tikultura


VII-2

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Jagung Kedelai dan Palawija lainnya Produktivitas : Padi Jagung Kedelai dan Palawija lainnya Produksi Holtikultura : Kondisi Awal 2012/(2013) 1.515.330 ton 31.147 Ton 50,98 Kw/Ha 46,58 Kw/Ha 15,00 Kw/Ha 134.691 Ton Kondisi Akhir (2018) 1.706.507 ton 33.715 Ton 52,53 Kw/Ha 47,99 Kw/Ha 15,23 Kw/Ha 142.977 Ton

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

kehutanan, dan hortikultura, peternakan, peternakan, perkebunan, dan perkebunan dan perikanan. perikanan.

Peningkatan Produksi Ternak

Program Peningkatan Produksi, dan Mutu Produk Hortikultura Peningkatan Produksi dan Populasi Ternak Produksi Hasil Peternakan

Pertanian

Dinas Tanaman Pangan dan Hor-tikultura Dinas Peternak-an

Sapi Potong 1.112.893 ekor Sapi Perah 1.961 ekor Kerbau 103.160 ekor Kuda 156.545 ekor Ternak Kecil 1.175.924 ekor Unggas 53.474.612 ekor. Produksi Daging 38.107.146 Kg Produksi Telur 82.654.475 Kg Produksi Susu 2.897.820 Kg

Sapi Potong 2.562.757 ekor Sapi Perah3.429 ekor Kerbau 113.608 ekor Kuda 156.961 ekor Ternak Kecil 1.399.032 ekor Unggas 59.079.585 ekor Produksi Daging 81,814,343 Kg Produksi Telur 102.404.937 Kg Produksi Susu

Pertanian

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-3

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018) 4.598.476 Kg

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

Peningkatan Produksi Tanaman Perkebunan

Peningkatan Produksi, dan Produktivitas Tanaman Perkebunan

Peningkatan a. Pengelolaan produksi Perikanan perikanan Tangkap tangkap dan b.Pengembang budidaya an Perikanan Budidaya

Komoditi Unggulan (Kakao, Kelapa/Kopra, Kopi, Jambu Mente, Kelapa Sawit, Tembakau, Cengkeh, dan Lada Volume Produksi : Produktifitas : Nilai Produksi : Produksi perikanan tangkap dan budidaya

Pertanian

Dinas Perkebunan

391.831 Ton 1.038 kg/ha 7.473.523(jt) Produksi Perikanan : 2.495.536,3 ton Perikanan tangkap:
259.881,5 ton

Perikanan Budidaya 2.235.654,8 ton Produksi udang: 28.145,6 ton Produksi rumput laut: 2.104.446 ton Produksi Bandeng: 89.708,1 ton

593.951 Ton 1.113 kg/ha 12.589.550 (jt) Produksi Perikanan : 3.425.909,5 ton Perikanan tangkap: 275.869.4 ton Perikanan Budidaya : 3.150.040 ton Produksi udang 35.000 ton Produksi rumput laut: 3.000.000 ton Produksi Bandeng: 100.000 ton

Pertanian

Dinas Perikanan dan Kelautan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-4

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Kondisi Akhir (2018) Peningkatan Peningkatan Produksi Hasil Hutan Hasil hutan kayu produksi Usaha olahan 282.365,87 kehutanan Kehutanan m3 dan hasil hutan bukan kayu sebanyak 2.947,29 kg Meningkatnya Penguatan PengembangPengembang- Jumlah industri lokal kecil dan Enam unit indus-tri 24 unit industri produksi dan kapasitas an dukungan, an industri menengah yang berkembang lokal pada enam lokal pada 24 produktivitas teknologi dan fasilitasi dan kecil dan baik dari industri yang sudah kabupaten kabupaten/kota industri daerah manajerial insentif bagi menengah ada maupun yang baru /kota industri yang industri daerah sudah ada dan inisiasi industri baru Meningkatnya Penguatan Memperkuat Peningkatan Jumlah koperasi aktif Total koperasi 8.026 total Koperasi kualitas dan dukungan permodalan kualitas unit. Koperasi aktif 7.300 unit peran koperasi permodalan dan dan manajerial kelembagaan 5.554 unit. Koperasi Koperasi Aktif dan UMKM manajemen UMKM serta koperasi dan tidak aktif 2.472 unit. 1.288 unit koperasi koperasi dan koperasi UMKM (30,79%) tdk aktif (15%) UKM disertai dengan Jumlah koperasi besar Koperasi besar Koperasi besar peningkatan daya sebanyak 5 unit sebanyak 55 unit saing pasar. Meningkatnya jumlah usaha kecil menjadi Jumlah usaha kecil Terjadi peran dan usaha menengah 113.370 unit peningkatan jumlah jumlah usaha kecil
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) Hasil hutan kayu olahan 175.326,99 m3 dan hasil hutan bukan kayu sebanyak 2.309,28 kg

Bidang Urusan Kehutanan

SKPD Penanggung Jawab Dinas Kehutanan

Industri

Dinas Perindustrian dan Perdagangan

Koperasi

Dinas Koperasi dan UKM

Koperasi

Dinas Koperasi dan UKM

VII-5

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum koperasi dan UMKM dalam perekonomian daerah

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018) 8% sehingga kondisi akhir jumlah usaha kecil sebanyak 158.718 unit Terjadi peningkatan jumlah usaha menengah sebesar 5% per tahun sehingga kondisi akhir jumlah usaha menengah sebesar 3.503 unit Jumlah wirausaha baru sebanyak 313.845 orang

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

jumlah usaha menengah Jumlah menjadi usaha besar menengah 3.185 unit

usaha sebanyak

Koperasi

Dinas Koperasi dan UKM

Pengembang- Jumah wirausaha baru Jumlah wirausaha baru an kewirasesuai binaan sebanyak usahaan dan 12.045 orang keunggulan kompetitif UMKM Berkembangnya Peningkatan Peningkatan Pengembang- Jumlah wi-satawan nusantara 4.871.966 orang daya saing pari- kualitas daya kualitas obyek an pemasaran wisata daerah tarik wisata dan wisata pariwisata pengembangan destiasi wisata Jumlah wisatawan manca64.601 orang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Penumbuhan wirausaha baru

Koperasi

Dinas Koperasi dan UKM

7.000.000 orang

Pariwisata

170.000 orang

Pariwisata

Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Dinas

VII-6

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi unggulan baru

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) negara Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018)

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab Kebudayaan dan Kepariwisataan Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hor-tikultura

Terkendalinya luasan lahan pangan berkelanjutan guna mendukung Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan nasional

Meningkatnya kapa-sitas penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan

Pengembangan destinasi wisata unggulan Pengendalian Penegakan konversi lahan regulasi lahan pertanian pangan pangan secara berkelanjutan komplementer dengan optimalisasi lahan pangan dan pencetakan lahan pangan baru Penguatan akses Peningkatan informasi pelaku kordinasi utama dan penyuluhan pelaku usaha pertanian, perikanan dan kehutanan berbasis

Pengembang- Jumlah destinasi yang an destinasi didukung/difasilitasi menjadi Pariwisata destinasi wisata unggulan Program Jumlah Perda yang mengatur pengendalian pemanfaatan Lahan Pertanian lahan pangan berkelanjutan

2 obyek wisata

8 obyek wisata

Pariwisata

0 Perda

1 Perda

Pertanian

Pemberdayaa n kelembagaan penyuluh dan petani

Jumlah kecamatan yang memiliki balai penyuluhan pertanian, perikanan dan kehutanan (BP3K)berbasis teknologi informasi dan demplot pertanian, perikanan dan kehutana

120 BP3K

260 BP3K

Pertanian

Sekretariat Bakorluh

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-7

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018)

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

10

kordinasi kelembagaan penyuluhan, level provinsi dan kabupaten/kota Meningkatnya Peningkatan ketahanan kordinasi sinergis pangan lintas sektor masyarakat dalam pengelolaan konsumsi pangan keamanan pangan Berkurangnya Pemenuhan hak penduduk dasar dan miskin di desa pemberdayaan dan kota orang miskin

Pemberdayaan masyarakat dalam pemenuhan hak atas pangan

Penganekarag Skor Pola Pangan Harapan aman (PPH) peningkatan konsumsi diversifikasi pangan pangan dan keamanan pangan

81,6

93,1

Pertanian

BKPD

Kordinasi dan pelibatan multipihak dalam penanggulanga n kemiskinan

Program Perencanaan Pembanguna n Daerah Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Pedesaan

Tingkat realisasi kegiatan SKPD yang termuat dalam dokumen Rencana Strategis Penanggulangan Kemiskinan Daerah Jumlah RTM yang diberdayakan dan difasilitasi hak dasarnya

9,82 % (Desa: 4,44% dan Kota: 12,93%)

7,5%

Perencanaan Pembanguna n

Bappeda

2.120 RTM

6.370 RTM

Pemberdayaa n Masyarakat dan Desa

BPMPDK

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-8

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Penyelenggar aan dan kerjasama penyuluhan Pemberdayaa n Fakir Miskin, Komunitas Adat Terpencil (KAT) dan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Lainnya Perluasan dan pengembanga n kesempatan kerja Indikator Kinerja (Outcome) Jumlah rumah tangga tani yang keluar dari kemiskinan melalui paket kreatif penyuluhan Jumlah pemenuhan kebutuhan dasar bagi Penyandang masalah Kesejahteraan Sosial Kondisi Awal 2012/(2013) 0 rumah tangga tani Kondisi Akhir (2018) 7.500 rumah tangga tani

Bidang Urusan Pertanian

SKPD Penanggung Jawab Sekretariat Bakorluh

2446 Jiwa

16.429 Jiwa

Sosial

Dinas Sosial

Memperluas kesempatan kerja yang terbuka bagi anggota kelompok melalui pembinaan kelompok usaha mandiri, kelompok wirausaha produktif dan padat karya, serta pelatihan keterampilan bagi pencari kerja dan tenaga kerja putus sekolah.

880 orang

6500 orang

Tenaga Kerja

Dinas Tenaga Kerja

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-9

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No. 11

Sasaran Meningkatnya pemenuhan kebutuhan hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial

Strategi Peningkatan pembinaan dan pemenuhan kebutuhan penyandang masalah kesejahteraan sosial

Kebijakan Umum Pemenuhan kebutuhan penyandang masalah kesejahteraan sosial

Capaian Kinerja Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Indikator Kinerja (Outcome) Jumlah penyandang masalah kesejahteraan social yang mendapat pembinaan, bantuan dan pelayanan. Bantuan pemenuhan kebutuhan Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial kesejahteraan anak penyandang disabilitas dan trauma penghuni panti asuhan/panti jomp Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial Persentase peningkatan kapasitas perlindungan dan konservasi SDA Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018)

Bidang Urusan Sosial

SKPD Penanggung Jawab Dinas Sosial

2.446 Jiwa 582 Jiwa 459 Jiwa 245 Jiwa 155 Jiwa 238 Jiwa Persentase peningkatan kapasitas perlindungan dan konservasi SDA sebesar 20%.

16.429 Jiwa 3.920 Jiwa 3.345 Jiwa 1.650 Jiwa 2.624 Jiwa

4.772 Jiwa Persentase peningkatan kapasitas perlindungan dan konservasi SDA sebesar 100% Persentase pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sebesar 100% Lingkungan Hidup BLHD

12

Meningkatnya perlindungan fungsi lingkungan dan penanganan dampak lingkungan hidup

Peningkatan kelestarian dan daya dukung lingkungan hidup secara beriring dengan penanganan dampak lingkungan hidup

Perlindungan fungsi lingkungan hidup Penanganan dampak lingkungan

Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Program Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup

Persentase pengendalian Persentase pencemaran dan kerusakan pengendalian lingkungan hidup pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sebesar 20%

Lingkungan Hidup

BLHD

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-10

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum Antisipasi perubahan iklim

Capaian Kinerja Program Program Pengembanga n Kapasitas Pengelolaan Lingkungan Hidup Kondisi Awal 2012/(2013) Persentase peningkatan Persentase peningkatan kapasitas pengelolaan kapasitas pengelolaan lingkungan hidup lingkungan hidup sebesar 20% Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Akhir (2018) Persentase peningkatan kapasitas pengelolaan lingkungan hidup sebesar 100% Luas lahan kritis sebesar 395.885,28 ha

Bidang Urusan Lingkungan Hidup

SKPD Penanggung Jawab BLHD

13

Meningkatnya konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta pemeliharaan keanekaragaman hayati

Peningkatan keterlibatan multipihak dalam gerakan penanganan lahan kritis dan pelestarian sumber daya hayati

14

Meningkatnya kemampuan literasi dan minat baca masyarakat

Penuntasan buta huruf secara terpadu berbasis desa seiring dengan

Konservasi dan Program rehabilitasi Peningkatan hutan dan Fungsi dan lahan kritis Daya Dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) berbasis pemberdayaa n masyarakat Program Perlindungan Hutan dan Konservasi Sumberdaya Alam Meningkatnya Intensifikasi tingkat literasi dan Perluasan yang akses berkesetaraan pendidikan gender pada 10 keaksaraan

Luas lahan direhabilitasi

kritis

yang

Luas lahan kritis sebesar 525.885,28 ha

Kehutanan

Dishut

Luas tekanan terhadap hutan yang dikendalikan

Kebakaran hutan = 399,76 ha, Illegal logging = 111,19 m3

Kebakaran Hutan = 309.33 ha, Illegal logging = 86,04 m3

Kehutanan

Dishut

Pencapaian Pembinaan Keaksaraan Fungsional a. Angka melek huruf b.Jumlah Melek Aksara yang menerima SUKMA

Pendidikan 88.73%, (2012) 15,100 Org (2012) Huruf 95,00%, 386.700 Org

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-11

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi pengembangan minat baca

Kebijakan Umum kabupaten terendah Peningkatan gemar membaca masyarakat Penguatan fungsi perpustakaan dalam gerakan masyarakat membaca Pendidikan Gratis SD hingga SLTA

Capaian Kinerja Program fungsional Peningkatan Pendidikan Nonformal dan Informal Pengembanga n Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Taman bacaan masyarakat. 310 Paket 120 Paket Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018)

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

Pendidikan

Dinas Pendidikan

Jumlah perpustakaan

pengunjung

<400.000 orang

2 Juta orang

Arsip

Badan Arsip & Perpustakaan

15

Meningkatnya akses dan mutu penyelenggaraan wajib belajar 12 tahun

Peningkatan efektivitas dukungan pembiayaan pendidikan melalui pendidikan gratis

Pendidikan Angka Partisipasi Kasar (APK) Wajib Belajar SD sederajat 12 Tahun Angka Partisipasi Murni (APM) SD sederajat Angka Partispasi Sekolah (APS) SD sederajat Angka Partisipasi Kasar SMP Angka Partisipasi Murni SMP; Angka Partisipasi Sekolah SMP Angka Partisipasi Kasar SMA; Angka Partisipasi Murni SMA; Angka Partisipasi Sekolah SMA

103,05 97,90% 97.59% 98,95% 68,27% 87,69% 69,75% 47.92% 61,66%

104.03 104,10% 99.50% 113,5% 78,00% 95,00% 99,50% 64,25% 64,25%

Pendidikan

Dinas Pendidikan

Pendidikan

Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan

Pendidikan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-12

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) APK PAUD Persentase Pendidik PAUD yang berkualifikasi Kondisi Awal 2012/(2013) 50,40% Kondisi Akhir (2018) 97%

Bidang Urusan Pendidikan

SKPD Penanggung Jawab Dinas Pendidikan

Peningkatan Mutu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Gratis Peningkatan Peningkatan kualitas Kualifikasi pendidik dan Tenaga Pengajar tenaga Melalui kependidikan Boarding School untuk Guru SD, SMP, SMA, Guru Mengaji, Mubalig, Khatib, dan Alim Ulama

1. Persentase Pendidik yang Berkualifikasi S1/D4 bagi pendidik : a. SD b. SMP c. SMA d. SMK 2. Persentase Pendidik yang Bersertifikasi S1/D4 bagi a. SD b. SMP c. SMA d. SMK

Pendidikan

Dinas Pendidikan

35,00% 68,50% 70,00% 72,00%

45,00 % 77,00 % 80,00 % 83,50 %

35,00% 68,50% 70,00% 72,00%

45,00 % 77,00 % 80,00 % 83,50 %

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-13

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Peningkatan manajemen pelayanan pendidikan Indikator Kinerja (Outcome) 1. Persentase Jumlah Satuan Pendidikan yang sudah Terakreditasi pada Jenjang : a. SD Akreditasi B b. SMP Akreditasi A - Akreditasi B c. SMA Akreditasi A - Akreditasi B d. SMK Akreditasi A - Akreditasi B 2. Jumlah Tenaga Pengajar Keagamaan yang Menerima Bantuan Intensif bagi Guru Mengaji, Mubalig, Khatib, Alim Ulama Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018)

Bidang Urusan Pendidikan

SKPD Penanggung Jawab Dinas Pendidikan

66,10 % 16,00 % 35,00 % 22,00 % 41,00 % 24,00 % 37,00 % 3.100 Org

70,00 % 19,00 % 40,00 % 30,00 % 50,00 % 34,00 % 50,00 % 15.500 Org Pendidikan Dinas Pendidikan & Biro Mensprit

16

Berkembangnya pendidikan tinggi

Dukungan pembiayaan mahasiswa tahun pertama

SPP Gratis Mahasiswa tahun Perta-ma program studi akredi-tasi A, B dan C

Pengembanga Angka n Fasilitasi tamatan Pendidikan Tinggi Tinggi Jumlah SPP

melanjutkan (AM) SM ke perguruan

46,14% (2013)

49,72%

Pendidikan

Dinas Pendidikan

Mahasiswa Penerima Gratis PTN/PTS

22.000 org

133.639 org

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-14

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018)

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

17

Meningkatnya ketahanan budaya secara serasi dengan spirit zaman

Revitalisasi dan pengembangan kekayaan budaya secara adaptifkreatif terhadap perubahan global

Terakreditasi A, B, dan C Selektif dan Proporsional Gratis biaya Pengembanga 1. Jumlah SDM yang menerima Pendidikan n pendidikan pembiayaan pendidikan ; bagi mahasiswa vokasional a. penerbangan terpilih untuk b. pramugari sekolah c. pertanian kejuruan d. perkebunan khusus e. perikanan (Penerbangan, 2. Jumlah Mahasiswa Pramugari, Melanjutkan Pendidikan SMK a. S1 Pertanian, b. S2 Perkebunan, c. S3 Perikanan dan melanjutkan beasiswa S1, S2 & S3) Penggalian dan Pengelolaan Jumlah kawasan budaya yang pengembangan kekayaan dilestarikan nilai budaya budaya dan kearifan lokal serta Pengkajian, Jumlah kajian budaya lokal dan mengkaji nilai- Pengembang- jumlah pendokumentasian nilai baru yang an dan serta penyebarluasan naskah

Pendidikan 1 paket 1 paket 1 paket 1 paket 1 paket 5 paket 5 paket 5 paket 5 paket 5 paket

Dinas Pendidikan, Badan Diklat dan SKPD Pendukung

1000 Org 500 org 250 org

1650 orang 500 Org 450 Org

5 kawasan

33 kawasan

Kebudayaan

Dinas Pariwista dan Kebudayaan Dinas Pariwista dan Kebudayaan

(Belum ada data)

24 kajian budaya lokal berdasarkan kabupaten/kota

Kebudayaan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-15

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) sejarah budaya lokal Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018) yang dihasilkan dan 24 naskah sejarah budaya lokal berdasarkan kabupaten/kota yang disebarluaskan Satu kali setahun penyelenggaraan festival seni tradisi serumpun; 100% seni tradisi yang menonjol mengalami pengembangan menjadi kesenian kontemporer; satu kali setahun penyelenggaraan festival kesenian daerah 100% pengkajian dan pengembangan komunitas adat Bajo dan

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

dibawa oleh Pelestarian pergaulan Nilai-Nilai global Budaya (Pengelolaan keragaman budaya) Pengelolaan Keragaman Budaya

Cakupan penyelenggaraan festival seni tradisi serumpun; cakupan pengembangan kesenian kontemporer berbasis tradisi masyarakat Sulawesi Selatan; cakupan penyelenggaraan festival kesenian daerah Sulawesi Selatan

Kebudayaan

Dinas Pariwista dan Kebudayaan

Pelestarian dan pengembangan buda-ya maritim

Pengembanga n Budaya Maritim Berbasis Budaya Lokal

Cakupan pengkajian dan pengembangan komunitas spesifik maritim (komunitas adat Bajo dan komunitas konjo pembuat perahu tradional

0%

Kebudayaan

Dinas Pariwista dan Kebudayaan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-16

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Sulawesi Selatan Indikator Kinerja (Outcome) pinisi); cakupan pendokumentasian ritual masyarakat pesisir dan kepulauan; dan cakupan pengembangan museum budaya maritim Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018) komunitas konjo pembuat perahu tradisional pinisi; 100% pendokumentasian ritual masyarakat pesisir dan kepualuan; 100% pengembangan museum budaya maritim 100%

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

18

Meningkatnya peran dan prestasi pemuda dan keolahragaan

19

Pengembangan prestasi pemuda dan keolahragaan termasuk penyediaan sarana dan prasarana pendukung Berkembangnya Kerjasama layanan rumah dengan pihak sakit bertaraf swasta dalam Internasional mendorong peningkatan kualifikasi rumah sakit.

Peningkatan partisipasi pemuda

Peningkatan Presentase Peran Serta peningkatan Kepemudaan kepemudaan

kegiatan peran serta

97,26%

Pemuda dan Olahraga

Dinas Pemuda dan Olahraga

Pemerataan Standarisasi layanan Pelayanan kesehatan Kesehatan berkualitas di daerah

Jumlah RS yang terakreditasi Nasional, Jumlah PKM terakreditasi, Jumlah Regulasi/Standirasi Pelayanan

1 rumah sakit bertaraf internasional dan 1 bertaraf nasional

7 unit rumah sakit bertaraf internasional dan 21 bertaraf nasional

Kesehatan

Dinas Kesehatan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-17

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No. 20

Sasaran Meningkatnya kualitas penanganan penyakit dan jaminan kesehatan masyarakat

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Persentase ketersediaan obat generik Kondisi Awal 2012/(2013) 70% Kondisi Akhir (2018) 95%

Bidang Urusan Kesehatan

SKPD Penanggung Jawab Dinas Kesehatan

21

Mendorong Penguatan Pengadaan keikutsertaan buffer stock Obat, masyarakat obat Pengawasan dalam sistem Obat, penjaminan Makanan dan kesehatan Pengembanga nasional n Obat Asli Indonesia Penjaminan Jaminan kesehatan pemeliharaan masyarakat kesehatan masyarakat Penanggulanga Pengendalian n penyakit Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Meningkatnya Penanganan Peningkatan Peningkatan kualitas komprehensif pelayanan Pelayanan pelayanan ke- usia 1.000 hari kesehatan anak, Kesehatan sehatan ibu, pertama balita dan gizi Ibu, Anak, anak dan gizi kelahiran Balita dan Lansia Perbaikan gizi masyarakat

Cakupan kepesertaan jaminan kesehatan

100%

100%

Kesehatan

Dinas Kesehatan

Meningkatnya Persentase Desa yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) Cakupan pelayanan kesehatan anak dan balita

87,1%

100%

Dinas Kesehatan

100%

100%

Kesehatan

Dinas Kesehatan

Prevalensi balita gizi buruk Prevalensi balita gizi kurang

6,4% 18,6%

2% 8%

Kesehatan Kesehatan

Dinas Kesehatan Dinas

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-18

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) 35% Pratama: 60,69% Madya: 23,44% Purnama: 15% Mandiri: 2,43% 54,4% 24,47% Kondisi Akhir (2018) 32% Pratama: 5% Madya: 23% Purnama: 47% Mandiri: 25% 70% 25,35%

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab Kesehatan Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan

Prevalensi balita stunting 22 Meningkatnya pola hidup sehat, keberdayaan masyarakat dalam masalah kesehatan, dan kesehatan lingkungan Penanaman nilai dan norma pola hidup sehat serta pemberdayaan masyarakat dalam kesehatan Pemberdaya-an masyarakat dalam penanganan kesehatan Promosi Cakupan desa siaga aktif kesehatan dan pemberdayaa n masyarakat

Kesehatan Kesehatan

Cakupan PHBS rumah tangga Penguatan norma keluarga kecil, bahagia dan sejahtera Keluarga Rasio akseptor KB (Jumlah Berencana akseptor KB/Jumlah pasadan Keluarga ngan usia subur) Sejahtera Persentase keluar-ga prasejahtera

Kesehatan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Pekerjaan Umum

23

Terkendalikanny Peningkatan a pertumbuhan wawasan penduduk pembangunan berbasis kependudukan

Dinas Kesehatan BPPKB; Pendukung:BK KBN BPPKB; Pendukung:BK KBN Dinas Bina Marga

14,45%

11,05%

24

Meningkatnya Pemeliharaan Pemeliharaan kapasitas jalan dan peningkatan dan guna kapasitas jalan peningkatan

Penyelenggar aan Jalan

Persentase Kinerja Jaringan Jalan di Provinsi Sulawesi Selatan

83.6%

90,88 %

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-19

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul transportasi luar Jawa

Strategi berbasis simpul jaringan intra dan ekstra Sulawesi Selatan termasuk pengembangan kawasan strategis

Kebijakan Umum kapasitas jalan berbasis simpul jaringan intra dan ekstra Sulawesi Selatan

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Persentase Jalan Provinsi dalam kondisi mantap Kondisi Awal 2012/(2013) 77.73% Kondisi Akhir (2018) 92,03%

Bidang Urusan Pekerjaan Umum

SKPD Penanggung Jawab Dinas Bina Marga

25

Tersedianya jaringan prasarana dan sarana transportasi yang terintegrasi antar moda dan antar wilayah yang mampu menunjang Sulawesi Selatan sebagai simpul perhubungan luar Jawa

Pengembangan prasarana transportasi massal, perkeretaapian lintas Sulawesi dan transportasi darat,transportasi udara, dan transportasi laut dalam kerangka Sulawesi Selatan sebagai hub perhubungan Sulawesi dan Kawasan Timur Indonesia

Pengembangan prasarana transportasi massal

Pembanguna Dukungan pemerintah daerah Persentase perwujudan Persentase n transportasi dalam pembangunan pembangunan perwujudan massal transportasi massal transportasi massal 5% pembangunan transportasi massal 30% Pengembangan Pengembanga Peningkatan Persentase pelayanan Persentase prasarana dan n/ jaringanpelayananan angkutan angkutan angkutan pelayanan pelayanan Pemeliharaan jalan jalan pada jaringan angkutan jalan transportasi prasarana dan jalan provinsi 80% pada jaringan darat pelayanan jalan provinsi transportasi 100% darat Persentase pelayanan Persentase angkutan sungai dan pelayanan danau 60% angkutan sungai dan danau 80% Persentase pelayanan Persentase angkutan pelayanan

Perhubungan

Perhubungan

Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-20

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

26

Kondisi Akhir (2018) angkutan penyeberangan 80% Pengembangan Pengembanga Peningkatan kualitas jaringan Persentase pelayanan Persentase /Pemeliharaan n/ dan pelayanan transportasi transportasi udara 70% pelayanan prasarana dan Pemeliharaan udara transportasi udara pelayanan prasarana dan 80% transportasi pelayanan udara transportasi udara Pengembangan Pengembanga Peningkatan kualitas jaringan Persentase pelayanan Persentase /Pemeliharaan n/ dan pelayanan transportasi laut transportasi laut 80% pelayanan prasarana dan Pemeliharaan transportasi laut pelayanan prasarana dan 90% transportasi pelayanan laut transportasi laut Tersedianya Mendorong Pengembangan Pengembanga Persentase pencapaian Persentase layanan Persentase layanan akses dan Kota Makassar jaringan n/Pemelihara terhadap kualitas publik yang dapat publik yang dapat layanan sebagai sentra informasi dan an Prasarana penyelenggaraan diakses secara on line diakses secara on informasi dan penyediaan dan komunikasi dan telekomunikasi dan 35% line 60% komunikasi yang jaringan Pengawasan pemanfaatan teknologi TIK mampu komunikasi bagi Bidang Jumlah operator layanan telpon Jumlah operator Jumlah operator menunjang perusahan Kominfo, seluler yang berpusat di layanan telpon seluler layanan telpon Sulawesi Selatan telekomunikasi Media Massa, Sulawesi Selatan sebagai sentra yang berpusat di seluler yang sebagai simpul Pos dan
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) penyeberangan 60%

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

Pengembanga n/Pemelihara an prasarana dan pelayanan transportasi udara Pengembanga n/Pemelihara an prasarana dan pelayanan transportasi laut Komunikasi dan Informatika

Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika

Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika

Komunikasi dan Informatika

Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan, Komunikasi

VII-21

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran komunikasi dan informasi luar Jawa

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Telekomunik asi Indikator Kinerja (Outcome) jaringan hub-nya Kondisi Awal Kondisi Akhir 2012/(2013) (2018) Sulawesi Selatan berpusat di sebagai sentra jaringan Sulawesi Selatan hub-nya sebanyak 5 sebagai sentra jaringan hub-nya sebanyak 8 Rasio Rumah Layak Rasio Rumah Huni sebesar 0,23 Layak Huni sebesar 0,50 Pembangunan Negara 0% wisma Pembangunan wisma Negara 100%

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab dan Informatika

27

Meningkatnya keterpenuhan kebutuhan akan rumah layak huni (khususnya rumah tangga miskin) dan infrastruktur permukiman yang berkualitas (27)

Dukungan pemenuhan rumah layak huni bagi rumah tangga miskin dan infrastruktur penduduk pulau kecil.

Pengembangan perumahan dan pemukiman

Pengembanga Rasio Rumah Layak Huni n Perumahan dan Permukiman Terwujudnya penataan kawasan permukiman dan penataan bangunan, terbangunnya wisma Negara pada Kawasan COI Pengembanga Persentase rumah tangga n Kinerja bersanitasi Pengelolaan Air Minum Presentase penanganan sampah dan Penyehatan Lingkungan Persentase RT berakses air minum

Perumahan Rakyat Pekerjaan Umum

Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Dinas Tata Ruang dan Pemukiman

cakupan pelayanan cakupan pelayanan sanitasi 75,28% sanitasi 80%. Cakupan pelayanan Cakupan persampahan 81,23% pelayanan persampahan 85% Cakupan pelayanan air Cakupan minum sebesar 82,52% pelayanan air minum sebesar 86,22 %

Pekerjaan Umum Pekerjaan Umum Pekerjaan Umum

Dinas tata Ruang dan Pemukiman Dinas tata Ruang dan Pemukiman Dinas Tata Ruang dan Pemukiman

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-22

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No. 28

Sasaran Meningkatnya kualitas dan cakupan layanan daerah irigasi dan rawa serta pemanfaatan air tanah

Strategi Penguatan keterpaduan hulu dan hilir dalam pengelolaan sumberdaya air serta peningkatan kapasitas infrastruktur irigasi

Kondisi Awal Kondisi Akhir 2012/(2013) (2018) Peningkatan Pengembanga Meningkat dan terjaganya Tingkat efektifitas Tingkat efektifitas kualitas air dan n dan layanan irigasi pada areal seluas pengelolaan jaringan pengelolaan optimalisasi Pengelolaan, 470.958 Ha irigasi 81% jaringan irigasi pemanfaaatan Jaringan 90% air Irigasi, Rawa Luas lahan yang dilayani oleh 0 140.000 Ha dan Jaringan jaringan irigasi baru Pengairan Lainnya Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku Pembinaan dan Pengembanga n Desa Mandiri Energi Jumlah embung serba guna Terbangunnya embung Terbangunnya yang terbangun serbaguna sebanyak120 embung serbaguna buah sebanyak 600 buah Ratio elektrifikasi 66,5 Meningkatnya ratio elektrifikasi Terpenuhinya kebutuhan listrik Terpenuhinya pada 1.800 KK kebutuhan listrik pada 100 KK Ratio elektrifikasi 75 Terpenuhinya kebutuhan listrik pada 1.800 KK

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome)

Bidang Urusan Pekerjaan Umum

SKPD Penanggung Jawab Dinas PSDA

Pekerjaan Umum

Dinas PSDA

Pekerjaan Umum

Dinas PSDA

29

Meningkatnya ketersediaan infrastruktur energi dan sumber daya mineral untuk

Pengembangan sumber-sumber energi alternatif terbarukan dan optimalisasi pengelolaan

Peningkatan jangkauan pelayanan kelistrikan

Energi dan Sumberdaya Mineral Energi dan Sumberdaya Mineral

Dinas ESDM

Dinas ESDM

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-23

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran mendukung peningkatan perekonomian wilayah

Strategi sumberdaya mineral

Kebijakan Umum Pembangunan Sumberdaya Mineral, Batubara, Panas Bumi dan Air Tanah

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018) 45%

Bidang Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral

SKPD Penanggung Jawab Dinas ESDM

Pemetaan dan Persentase pemanfaatan 10% Penyelidikan sumber daya mineral, batubara, Geologi, dan panas bumi serta air tanah Sumberdaya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi serta Eksplorasi dan Penyediaan Air Tanah

30

Tercukupinya Kordinasi lintas Dukungan infrastruktur sektor dan pengembangan dasar dan daerah dalam ekonomi

Pengawasan dan Penertiban Kegiatan Rakyat yang Berpotensi Merusak Lingkungan Pemberdayaa n masyarakat pesisir dan

Persentase pengawasan dan Persentase kegiatan penertiban kegiatan rakyat yang PETI (Penambangan berpotensi merusak lingkungan Tanpa Ijin) sebanyak 65%

Persentase kegiatan PETI (Penambangan Tanpa Ijin) sebanyak 90%

Energi dan Sumberdaya Mineral

Dinas ESDM

Jumlah daerah pesisir dan pulau kecil yang mengalami pemberdayaan ekonomi

12

Kelautan dan Perikanan

Dinas Perikanan dan Kelautan

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-24

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran layanan dasar warga/masyarak at pesisir dan pulau2 kecil.

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) 0,1% Kondisi Akhir (2018) 50%

Bidang Urusan Kelautan dan Perikanan

SKPD Penanggung Jawab Dinas Perikanan dan Kelautan

31

Tersedianya infrastruktur dan kesiapsiagaan penanganan bencana.

pemenuhan masyarakat pulau kecil Luas Kawasan Konservasi perairan yang dikelola secara infrastruktur pesisir dan serta berkelanjutan (%) dasar dan pulau kecil konservasi layanan dasar sumberdaya pulau kecil kelautan dan perikanan Jumlah Perda Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan pengelolaan rehabilitasi terumbu karang Pengembangan Memperkuat Pencegahan, Meningkatnya kapasitas daerah daya resiliensi Pusat Mitigasi dan dalam pengurangan risiko masyarakat atas Pengendalian Kesiapsiagaan bencana bencana secara Operasi dan Penanggulang beriring dengan Penyiapan an Bencana peningkatan Logistik untuk Kedaruratan Meningkatnya kapasitas daerah kordinasi mendukung dan Logistik dalam penanganan darurat pemerintah dan penaggulangan Penaggulanga bencana lembaga lain bencana di n Bencana dalam kawasan timur Meningkatnya kapasitas daerah Rehabilitasi penanganan di Indonesia dalam penyelenggaraan dan kebencanaan pemulihan pasca bencana Rekonstruksi Pasca Bencana

2 Perda

Kelautan dan Perikanan

Dinas Perikanan dan Kelautan BKPBD & SKPD Pendukung

20%

100%

Pemerintahan Umum

25%

100%

Pemerintahan Umum

BKPBD

25%

100%

Pemerintahan Umum

BKPBD

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-25

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No. 32

Sasaran Terjaganya iklim investasi berkualitas yang mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa. Terwujudnya daya saing tenaga kerja pada bidang yang mendukung Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa Berkembangnya Sistem Inovasi Daerah (SIDa) yang mendukung

Strategi Pengembangan kerjasama pembangunan dan penguatan daya saing daerah.

Kebijakan Umum Pengembangan industri strategis dan pengembangan kerjasama regional dan promosi investasi

Capaian Kinerja Program Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi Indikator Kinerja (Outcome) - Jumlah investasi PMA dan PMDN Kondisi Awal 2012/(2013) Jumlah investasi sebesar Rp. 23 Triliun (2008-2012) Kondisi Akhir (2018) Jumlah investasi tahun 2013-2018 sebesar Rp. 35 Triliun

Bidang Urusan Penanaman Modal

SKPD Penanggung Jawab BKPMD

33

Peningkatan Peningkatan kompetensi kompetensi tenaga kerja pada tenaga kerja level yang dapat bersaing pada tingkat internasional

Perluasan dan Menurunnya jumlah Pengembanga pengangguran n Kesempatan Kerja Tingkat pengangguran terbuka

Jumlah pengangguran Jumlah terbuka usia angkatan pengangguran kerja 208.983 orang terbuka usia angkatan kerja 148.983 orang 5,87 % 5,30 %

Ketenagakerj aan

Dinas Tenaga Kerja

Ketenagakerj aan

34

Membangun sinergitas penelitian dan pengembangan antara lembaga

Kebijakan Penguatan SDM dan Iptek daerah

Penelitian, Jumlah hasil pene-litian yang 11 Pengembanga men-dukung perenca-naan n dan pembangun-an daerah pemanfaatan SDM dan

40

Pemerintahan Umum

Balitbangda Prov. Sulsel

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-26

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran Sulawesi Selatan sebagai simpul jejaring ekonomi dan jasa luar Jawa

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018)

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab

penelitian perguruan tinggi, pemerintah Kebijakan daerah dan dunia Penguatan usaha. Sistem Inovasi Daerah (SIDa)

35

Efektifnya peran Sulawesi Selatan dalam mendorong kerjasama antar Kabupaten/Kot a, klaster MP3EI, kerjasama regional Sulawesi dan Kawasan Timur Indonesia, dan kerjasama internasional

IPTEK Daerah. Pengembanga n Sistem Inovasi Daerah (SIDa) Pengembangan PengembangProgram simpul sinergi an dukungan Perencanaan antar pihak dan BKPRS dan Pembanguna antar wilayah MP3EI n Daerah secara multi-level provinsi, regional, nasional dan global Kerjasama

Jumlah prototype/paten 4 inovasi daerah yang dihasilkan

Pemerintahan Umum

Balitbangda Prov. Sulsel

Jumlah fasilitasi/ kordinasi dan ke-giatan pembangu-nan yang berjalan dalam kerangka kerjasama BKPRS, pengembangan koridor empat MP3EI, dan kerja-sama dengan lembaga donor

Jumlah Proyek yang masuk dalam list MP3EI 101 Proyek, Yang sudah di Ground Breaking 15 Proyek

Jumlah Yang di Ground Breaking 101 Proyek

Perencanaan

Bappeda

Pengembangan kerjasama Kabupaten/ Kota dengan

Jumlah MoU /PKS yang Pembanguna difasilitasi, jumlah kerjasama n Antar dipantau/di Monev Wilayah pelaksanaannya dalam kerangka BKPRS serta kerjasama antar Daerah dan Pihak Ketiga Pengembanga Jumlah kerjasama Sister City n Kerjasama yang berjalan Luar Negeri

71 MoU/PKS

321 MoU/PKS

Pemerintahan Umum

Biro Kerjasama

2 Kab/Kota

7 Kab/Kota

Pemerintahan Umum

Biro Kerjasama

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-27

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum Kabupaten/ Kota lain di Indonesia dan Luar Negeri

Capaian Kinerja Program Indikator Kinerja (Outcome) Jumlah Kerjasama dengan Lembaga Internasional Jumlah Kerjasama dalam Bidang Berbagai bidang dengan Provinsi dalam Berbagai Bidang dgn Provinsi lain di Luar Negeri Jumlah kerjasama antar kabupaten/ kota yang efektif terfasilitasi dan terkordinasikan dalam pengembangan kawasan andalan Kondisi Awal 2012/(2013) 6 MoU 1 MoU Kondisi Akhir (2018) 11 MoU 5 MoU

Bidang Urusan Pemerintahan Umum

SKPD Penanggung Jawab Biro Kerjasama

36

Meningkatnya percepatan pembangunan kawasan andalan

37

Peningkatan Penajaman kualitas kordinasi dan interkoneksitas fasilitasi fungsional antar keterkaitan kawasan baik industrial antar secara forward kawasan linkage maupun andalan backward linkage Meningkatnya Memperkuat Penataan kepatuhan koordinasi kebijakan masyarakat dengan instansi yuridis Pemda terhadap hukum terkait secara dan dan norma vertikal dan Peningkatan sosial horisontal seiring kualitas produk dengan hukum peningkatan kesadaran masyarakat atas hukum dan

Pengembangan kerjasama kawasan andalan

5 MoU / PKS

10 MoU / PKS

Kerjasama Daerah

Biro Kerjasama

Peningkatan sistem legislasi daerah

Jumlah kegiatan penataan produk hukum dan tugas yudisial Pemda dan diseminasinya

7 kegiatan/ tahun

7 kegiatan/ tahun

Pemerintahan Umum

Biro Hukum

Program peningkatan kualitas produk hukum

Jumlah kegiatan/fasilitasi penyusunan Produk Hukum Daerah /Ranperda hingga penetapan.

8 kegiatan/ Tahun

8 kegiatan/ tahun

Pemerintahan Umum

Biro Hukum & Satpol PP

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-28

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program daerah Pendidikan politik masyarakat Indikator Kinerja (Outcome) Kondisi Awal 2012/(2013) 7 kegiatan/ Tahun Kondisi Akhir (2018) 40 kegiatan selama 5 tahun

Bidang Urusan

SKPD Penanggung Jawab Badan Kesbangpol

38

39

norma sosial Meningkatnya Meningkatkan Pendidikan kualitas pembinaan partai politik dan kehidupan politik serta demokrasi demokrasi dan penguatan civil politik society bagi perkembangan keadaan kondusif atas kehidupan demokrasi yang lebih substantif Meningkatnya Memperkuat Pemberdaya-an keberdayaan keberdayaan perempuan perempuan dan perempuan di perlindungan sektor publik dan anak privat secara terkordinasikan dengan pelayanan perlindungan perempuan dan

Jumlah kegiatan pendidikan politik masyarakat bagi parpol, pengawasan ormas, parpol dan LSM, pembinaan politik pemuda Jumlah pokja Indeks Demokrasi Indonesia

Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri

1 pokja

1 pokja

Badan Kesbangpol

Peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan

Persentase parti-sipasi perempuan di lembaga pemerintah

45 %

47%

Persentase parti-sipasi perempuan di parlemen

14,23%

14,50%

Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak

BPPKB

BBPKB

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-29

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No.

Sasaran

Strategi

Kebijakan Umum

Capaian Kinerja Program Peningkatan kualitas hidup dan perlindung-an perem-puan dan anak Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan Indikator Kinerja (Outcome) Persentase kabu-paten/kota 0% yang menerapkan SPM layanan terpadu bidang perlindu-ngan perempuan dan anak dari korban kekerasan Kondisi Awal 2012/(2013) Kondisi Akhir (2018) 70%

Bidang Urusan Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak

SKPD Penanggung Jawab BPPKB

anak dari korban Perlindungan kekerasan anak

40

Terpeliharanya ketertiban, ketenteraman dan kenyamanan dalam masyarakat

Memperkuat sistem terpadu pengembangan ketertiban, ketenteraman dan kenyamanan.

Peningkatan Ketentraman, dan Ketertiban serta Perlindungan Masyarakat

Persentase peningkatan kualitas pelayanan keamanan, ketentraman dan ketertiban serta perlindungan masyarakat Terciptanya rasa aman bagi masyarakat

80%

100%

Pemerintahan Umum

Sat. Pol PP

8 Kegiatan

11 Kegiatan

41

Berkembangnya wawasan, kesadar-an dan perilaku masyarakat yang mendukung kesatuan bangsa dan harmoni sosial dalam wadah NKRI

Meningkatkan kualitas modal sosial sebagai basis harmoni sosial dan kesatuan bangsa

Penguatan wawasan kebangsaan dan pilar NKRI

Jumlah kegiatan penguatan kebangsaan dan pilar NKRI melibatkan pramuka dan generasi muda, Ormas dan LSM yang terlaksana Kemitraan Jumah kegiatan kemitraan pengembanga dengan Pokja pendidikan n wawasan wawasan kebangsaan yang kebangsaan terfasilitasi

Program pengembanga n wawasan kebangsaan

2 kegiatan

20 kegiatan selama 5 tahun

Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri

Badan Kesbangpol

Badan Kesbangpol

1 kegiatan/ tahun

5 kegiatan selama 5 tahun

Badan Kesbangpol

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-30

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No. 42

Sasaran Terwujudnya kelembagaan dan tata laksana pemerintahan daerah yang kuat dan transparan dalam mendukung reformasi birokrasi Terwujudnya peningkatan kapasitas bagi pendayagunaan aparatur pemerintahan daerah yang berkelanjutan

Strategi Penataan dan penguatan organisasi dan manajemen Pemerintahan serta penyempurnaan sistem pelayanan

Kebijakan Umum Penguatan kelembagaan dan tatalaksana pemerintahan daerah serta pengembangan transparansi birokrasi

Capaian Kinerja Program Pembinaan dan Pengembanga n Aparatur Indikator Kinerja (Outcome) Persentase pelayanan administrasi kepegawaian minimal yang terpenuhi dengan akurat dan tepat waktu. Kondisi Awal 2012/(2013) 80% Kondisi Akhir (2018) 100%

Bidang Urusan Pemerintahan Umum

SKPD Penanggung Jawab BKD

43

Mensinergikan pendidikan dan pelatihan aparatur dengan pembelajaran organisasi (learning organization) kearah penningkatan kompetensi individual dan peningkatan kapasitas organisasional

Peningkatan akuntabilitas dan kompetensi aparatur

Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur

Tercapainya kompetensi peserta mengikuti diklat

tingkat setelah

355 org

3.405 org

Pemerintahan Umum

Badan Diklat

Persentase pencapaian terhadap kualitas penyelenggaraan telekomunikasi dan pemanfaatan teknologi TIK Capaian skor Indeks Efektivitas Pemerintahan

35%

60%

Pemerintahan Umum

Dinas Perhubungan & Infokom

60%

80%

Pemerintahan Umum

Biro Pemerintahan Daerah

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2013-2018

VII-31

Bab VII Kebijakan Umum dan Program Prioritas Daerah

No. 44

Sasaran Terwujudnya pengelolaan keuangan (Pembiayaan, pendapatan, belanja) dan asset daerah yang transparan, akuntabel, inovatif dan tertib (44)

Strategi Mengefektifkan pengelolaan sumber-sumber pendapatan daerah seiring dengan pembelanjaan yang efektif dan efisien berbasis pada inovasi administratif dan tekhnis.

Kebijakan Umum Optimalisasi sumber-sumber pendapatan daerah berdasarkan kewenangan dan peraturan perundangundangan dengan memperhatikan aspek potensi, keadilan dan kemampuan masyarakat

Capaian Kinerja Program Peningkatan dan pengembanga n Pengelolaan Pendapatan Daerah Indikator Kinerja (Outcome) Peningkatan PAD Peningkatan penerimaan pendapatan daerah Persentase capaian target pendapatan setiap tahun Penurunan jumlah tunggakan pajak daerah Persentase akurasi data objek dan subjek pajak Persenta