Anda di halaman 1dari 22

Tugas Individu

DASAR-DASAR ILMU TANAH

Nama Nim

: Haerawati : L22110279

JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

Soal ! 1) Pengertian Tanah 2) Tanah Tergenang 3) Tanah Sulfat Masam

Jawab : 1) Pengertian Tanah Dan Defenisi Tanah : a. Pengertian Dan Defenisi tanah : Tanah (bahasa Yunani: pedon; bahasa Latin: solum) adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernapas dan tumbuh. Tanah juga menjadi habitat hidup berbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. Ilmu yang mempelajari berbagai aspek mengenai tanah dikenal sebagai ilmu tanah. Dari segi klimatologi, tanah memegang peranan penting sebagai penyimpan air dan menekan erosi, meskipun tanah sendiri juga dapat tererosi. Komposisi tanah berbeda-beda pada satu lokasi dengan lokasi yang lain. Air dan udara merupakan bagian dari tanah. Definisi tanah dari waktu ke waktu mengalami pengembangan pengertian. Saat ini terdapat 4 pengertian tentang tanah yang diuraikan lebih rinci sebagai berikut. Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Ahli Geologi Ahli geologi akhir abad XIX mendefinisikan tanah sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit yaitu lapisan partikel Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Pedologi halus.

Pada tahun 1870 seorang ahli pedologi yaitu Dokuchaev mendefinisikan tanah sebagai bahan padat (bahan mineral atau bahan organik) yang terletak dipermukaan, yang telah dan sedang serta terus menerus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1) bahan induk, (2) iklim, (3) organisme, (4) topografi, dan (5) waktu. Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Edaphologi Seorang ahli edaphologi dari Inggris bernama Dr. H. L. Jones mendefiniskan tanah sebagai media tumbuh tanaman. Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Ilmu Tanah Terkini Pada tahun 2005 seorang doktor ilmu tanah dari Indonesia bernama Hanafiah mendefiniskan tanah secara lebih komperhensif bahwa tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang hara dan sumber penyuplai hara atau nutrisi (meliputi: senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur essensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, dan Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zatzat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan. Perbedaan pemahaman pengertian tanah antara pendekatan pedologi dan edaphologi adalah sebagai berikut: Kajian Pedologi Kajian pedologi mendefinisikan tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan pengetahuan alam murni. Beberapa contoh kajian lebih lanjut tentang tanah dengan landasan pendekatan pedologi adalah: fisika tanah, kimia tanah, biologi tanah, morfologi tanah, klasifikasi tanah, survei tanah, pemetaan tanah, analisis bentang lahan, dan ilmu ukur tanah. Kajian Edaphologi

Kajian edaphologi mendefinisikan tanah berdasarkan peranan tanah tersebut sebagai media tumbuh tanaman. Beberapa contoh kajian tanah tingkat lanjut yang dilandasi pendekatan edaphologi adalah: kesuburan tanah, konservasi tanah dan air, agrohidrologi, pupuk dan pemupukan, ekologi tanah, dan bioteknologi tanah. Paduan antara Pedologi dan Edaphologi Kajian ilmu tanah tingkat lanjut yang dilandasi kedua pendekatan yaitu pedologi dan edaphologi adalah: pengelolaan tanah dan air, evaluasi kesesuaian lahan, tata guna lahan, pengelolaan tanah rawa, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. b. Profil Tanah

Pengertian profil tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah. Tanah yang telah mengalami perkembangan lanjut akan memiliki horisonisasi yang lengkap, yaitu terdiri dari: 1. horison O, 2. horison A, 3. horison Eluviasi, 4. horison B, 5. lapisan C, dan 6. bahan induk tanah (R). Harisonisasi dalam profil tanah secara pemodelan disajikan dalam Gambar 2.

Gambar 2. Pemodelan dari profil tanah dengan deferensiasi horison yang lengkap, sebagai penciri tingkat perkembangan sistem tanah. Pengertian dari beberapa istilah penamaan horison dalam profil tanah adalah sebagai berikut: 1) Horison O adalah horison tanah yang tersusun dari serasah atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa), 2) Horison A adalah horison yang tersusun dari bahan mineral berkandungan bahan organik tinggi sehingga berwarna agak gelap. 3) Lapisan Eluviasi atau Horison Eluviasi adalah horison yang telah mengalami proses eluviasi (pencucian) sangat intensif sehingga kadar bahan organik tanah, liat silikat, Fe dan Al rendah tetapi kada pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) serta mineral resisten lainnya tinggi, sehingga berwarna agak terang. 4) Horison B adalah horison illuvial atau horison pengendapan sehingga terjadi akumulasi dari bahan-bahan yang tercuci dari horison diatasnya. 5) Horison C adalah lapisan tanah yang bahan penyusunnya masih serupa dengan batuan induk (R) atau belum terjadi perubahan. 6) Batuan induk tanah (R) merupakan bagian terdalam dari tanah dan masih berupa batuan. Lapisan tanah atas (top soil) terdiri dari: 1) horison O, dan 2) horison A.

Lapisan tanah bawah (sub soil) terdiri dari: 1) horison E, dan 2) horison B. Solum tanah meliputi: 1) lapisan tanah atas, dan 2) lapisan tanah bawah. Batas Peralihan Horison Batas peralihan horison pada profil tanah terlihat secara visual dalam beberapa kategori, yaitu: 1) batas horison dikategorikan nyata apabila peralihan kurang dari 2,5 cm, 2) batas horison dikategorikan jelas apabila peralihan terjadi dengan jarak berkisar antara 2,5 cm sampai 6,5 cm, 3) batas horison dikategorikan berangsur apabila peralihan terjadi dengan jarak berkisar antara 6,5 cm sampai 12,5 cm, dan 4) batas horison dikategorikan baur apabila peralihan terjadi dengan jarak lebih dari 12,5 cm. Bentuk Topografi Batas Horison Bentuk topografi dari batas harison dalam profil tanah yang terlihat secara visual dibagi dalam 4 kategori, yaitu: 1) bentuk topografi datar, 2) berombak, 3) tidak teratur, dan 4) terputus. Contoh gambaran dari batas horison dan bentuk topografi dari batas tersebut disajikan dalam Gambar 3 dan Gambar 4 berikut.

Gambar 3. Batas horison yang nyata terjadi pada peralihan dari horison A ke horison B, dan batas horison yang jelas terjadi pada peralihan antara horison B ke horison C. Kedua batas terswebut bertopografi datar.

Gambar 4. Bentuk topografi bergelombang dari batas horison yang terjadi antara horison B dengan horison C dalam sistem tanah. Pedon dan Polipedon Sistem tanah tersusun dari unit-unit terkiecil yang disebut pedon. Kumpulan pedon-pedon yang sama sifatnya yang membentu suatu hamparan disebut polipedon. Gambaran dari tiga dimensi tanah yang tersusun dari tiga polypedon yang berbeda disajikan dalam Gambar 5 berikut.

Gambar 5. Sistem tanah yang tersusun dari tiga polypedon yang berbeda. Kegunaan Profil Tanah Pemahaman yang mendalam mengenai profil tanah akan membantu dalam pemanfaatan berikut: 1) mengetahui kedalaman lapisan olah tanah (top soil), lapisan dalam tanah (sub soil) dan solum tanah, sehingga membantu dalam menetapkan jenis tanaman yang sesuai untuk ditanam pada tanah tersebut. Tanah dengan kedalaman lapisan olah berkisar 20 cm sesuai untuk ditanaman tanaman padi, kedelai, kacang tanah dan jagung, tetapi tidak sesuai untuk ditanaman dengan tanaman perkebunan yang berakar dalam. Begitu juga sebaliknya. 2) kelengkapan atau differensiasi horison-horison pada profil yang mencirikan tingkat perkembangan tanah dan umur tanah. 3) warna tanah yang menunjukkan kondisi aerob (warna terang) atau anaerob (berwarna kelabu) dan tngginya kadar kadungan bahan organik tanah (berwarna hitam/gelap), sehingga diketahui tingkat kesuburan tanah. c. Komponen Penyusun tanah Suatu tanah tersusun dari 4 komponen utama, yaitu: 1) bahan padatan berupa bahan mineral, 2) bahan padatan berupa bahan organik, 3) air, dan 4) udara. Tanah mineral yang subur tersusun dari 45% bahan tanah mineral, 5% bahan organik tanah, 25 % air dan 25% udara, seperti yang disajikan dalam Gambar 6 berikut.

Gambar 6. Komposisi keempat komponen tanah (bahan mineral, bahan organik, air dan udara) yang menempati volume dari sistem tanah. Topografi atau Relief atau Kelerengan Lahan Faktor topografi atau relief yang mempengaruhi proses pembentukan tanah adalah: 1) kecuraman lereng, dan 2) bentuk lereng. Tanah yang berada pada lahan berlereng curam lebih peka terhadap terjadinya erosi, karena infiltrasi yang terjadi lebih rendah dan aliran permukaan (run off) lebih besar, sehingga daya rusak air hujan dan aliran permukaan lebih tinggi. Tanah yang terbentuk pada lereng yang lebih curam akan lebih dangkal, karena terkikis secara terus menerus saat terjadi hujan. Sedangkan tanah yang berada pada lahan yang berlereng landai sampai datar terbentuk lebih dalam, karena memiliki laju infiltrasi dan laju perkolasi yang lebih besar serta proses pembentukan horison berkembang lebih lanjut, sehingga membentuk profil tanah yang lebih dalam. Faktor kecuraman lereng ini mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4 cara, yaitu: 1) jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan massa tanah,

2) kedalaman air tanah, 3) besarnya erosi yang dapat terjadi, dan 4) arah pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Interaksi keempat mekanisme ini mempengaruhi proses pembentukan tanah antara lain: 1) ketebalan solum tanah, 2) ketebalan dan kandungan bahan organik horison A, 3) kandungan air tanah, 4) warna tanah, 5) tingkat perkembangan horison (pada tanah tergenang dan tanah berlereng terjal membentuk solum dangkal, sedangkan pada tanah cekungan dan datar membentuk solum dalam) , 6) reaksi tanah atau pH (pada tanah dengan air tanah dangkal mengalami salinisasi sehingga pH tanah netral sampai basa, sedangkan pada tanah dengan air tanah dalam mengalami proses pencucian intensif sehingga pH tanah rendah atau bereaksi asam), 7) kejenuhan basa tanah, dan 8) kandungan garam mudah larut. Relief atau bentuk permukaan tanah dapat dikelompokkan menjadi: 1) berbentuk cembung yang terdapat pada puncak bukit atau gunung, 2) berbentuk lereng yang curam yang terdapat pada punggung bukit dan gunung, 3) berbentuk cekungan dan datar pada kaki dan dasar bukit. Perbedaan relief atau bentuk permukaan tanah mempengaruhi proses pembentukan tanah. Sketsa bentuk permukaan lahan disajikan dalam Gambar 9 dan gambaran visual dari permukaan lahan disajikan dalam Gambar 10 berikut.

Gambar 9. Sketsa bentuk permukaan tanah atau relief yang mempengaruhi proses pembentukan tanah.

Gambar 10. Kenampakan visual dari bentuk permukaan tanah atau relief yang terdiri dari bagian puncak yang berbentuk cembung, bagian punggung yang curam, dan bagian kaki dan dasar bukit yang cekung dan datar. Waktu Faktor waktu juga mempengaruhi tingkat perkembangan tanah dan umur tanah. Berdasarkan lamanya waktu dalam proses pembentukan tanah, maka tanah dikelom-pokkan menjadi: 1) tanah muda dengan lamanya waktu pembentukan berkisar 100 tahun, 2) tanah dewasa dengan lamanya waktu pembentukan berkisar antara 1.000 tahun sampai dengan 10.000 tahun, dan 3) tanah tua dengan lamanya waktu pembentukan lebih dari jutaan tahun.

Waktu juga mempengaruhi tingkat perkembangan tanah, yaitu mulai dari fase: 1) awal, 2) juvenil, 3) viril, 4) senil, dan 5) fase akhir.

Fase awal ditandai baru terbentuk horison C. Fase juvenil ditandai dengan sudah terbentuk horison A diatas horison C, pada fase ini sering disebut tanah muda. Fase viril atau disebut tanah dewasa, dicirikan dengan sudah terbentuknya horison A, horison B, dan horison C. Fase senil atau disebut tanah tua, dicirikan proses pembentukan horison yang lengkap, meliputi: horison A1, horison A2, horison B1, horison B2, dan horison C. Fase akhir atau disebut tanah sangat tua dicirikan dengan mulai berkurangnya proses pelapukan dari system tanah tersebut. Contoh tanah muda adalah Entisol atau Aluvial atau Regosol. Contoh dari tanah dewasa adalah Inceptisol, Vertisol, dan Mollisol. Contoh dari tanah tua adalah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning, dan Oxisol atau Laterit.

d. Fungsi Tanah Lima fungsi utama tanah adalah: 1) tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran tanaman, 2) penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara), 3) penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh, hormon, vitamin, asam-asam organik, antibiotik, toksin anti hama, dan enzim yang dapat meningkatkan ketersediaan hara) dan siklus hara, dan 4) sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama dan penyakit tanaman,

5) lokasi pembangunan berbagai infrastruktur, seperti bangunan rumah, kantor, supermarket, jalan, terminal, stasiun dan bandara. Integrasi kelima fungsi utama tanah disajikan dalam Gambar 1 berikut.

Gambar 1. Lima fungsi utama tanah yang terintegrasi secara utuh.

Dua Pemahaman Penting Tentang Tanah Dua pemahaman utama yang sangat mendasari pengertian tentang tanah berdasar-kan ilmu pertanian adalah: 1) Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman. 2) Tanah berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama dan penyakit serta dampak negatif pestisida dan limbah industri yang berbahaya

2) Tanah Tergenang Lahan tanah tergenang adalah lahan yang dikelola sedemikian rupa untuk budidaya ikan dan udang pada tambak atau tanaman padi sawah, dimana padanya dilakukan penggenangan selama atau sebagian dari masa pertumbuhan oganisme budidaya. Yang membedakan lahan ini dari lahan rawa adalah masa penggenangan airnya, pada lahan tanah penggenangan tidak terjadi terusmenerus tetapi mengalami masa pengeringan. Tanah tergenang merupakan suatu keadaan di mana tanah tanah yang digunakan sebagai areal pertanaman atau areal budidaya ikan selalu dalam kondisi tergenang. Penggenangan yang dilakukan pada tanah ini akan mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan sifat kimia. Ikan atau udang dibudidayakan pada kondisi tanah tergenang. Penggenangan tanah akan mengakibatkan perubahan- perubahan sifat kimia tanah yang akan mempengaruhi pertumbuhan ikan atau udang. Perubahanperubahan kimia tanah yang tergenang terjadi setelah penggenangan antara lain : penurunan kadar oksigen dalam tanah, penurunan potensial redoks, perubahan pH tanah, reduksi besi (Fe) dan mangan (Mn), peningkatan suplai dan ketersediaan nitrogen, peningkatan ketersediaan fosfor. Proses pembentukan tanah tergenang meliputi berbagai proses; yaitu proses yang dipengaruhi oleh kondisi reduksi oksidasi ( redoks yang bergantian); penambahan dan pemindahan bahan kimia atau partikel tanah; perubahan sifat fisik, kimia, dan mikrobiologi tanah akibat irigasi( pada tanah kering ) atau perbaikan drainase ( pada tanah rawa ). Secara lebih rinci, proses tersebut meliputi: gleisasi dan eluviasi, pembentukan karatan besi dan mangan, pembentukan warna kelabu (grayzation), pembentukan lapisan tapak baja, pembentukan selaput (cutan), penyebaran kembali basa- basa, dan akumulasi atau dekomposisi dan perubahan bahan organic. Tanah Latosol meliputi tanah yang relatif masih muda hingga tanah yang relatif tua yang dalam taksonomi tanah termasuk inceptisol, ultisol hingga oxisol. Sebagian besar tanah tergenang ( tanah tambak ) terdapat pada tanah yang relatif muda. Daerah ini memiliki air yang dan iklim yang cukup basah. Tanahnya cukup subur sehingga mudah diolah dan permeabilitasnya baik. Pada

tanah ini terbentuk profil tanah. Profil tanah tergenang tipikal memiliki ciri lapisan olah berwarna pucat (tereduksi), di bawahnya terdapat lapisan tapak bajak yang padat, kemudian lapisan Fe yang tipis diikuti oleh lapisan Mn. Di bagian bawahnya lagi ditemukan campuran karatan Fe dan Mn, sedangkan lapisan tanah terbawah merupakan tanah asli. Perubahan Fisik Tanah : 1. Agregat-agregat tanah tanah pecah menjadi butiran yang lebih halus. 2. Mineral-mineral montmorilonit mulai mengembang. 3. Oksida-oksida besi dan mangan direduksi. 4. Silikat dan BO mengalami hidrasi dan menyebabkan pengembangan. 5. Kohesi di dalam agregat-agregat berkurang dan kohesi di antara agregatagregat bertambah. 6. Meningkatnya permeabilitas tanah karena terlepasnya udara dari pori-pori tanah. 7. Penurunan perkolasi karena hancurnya agregat dan penyumbatan pori-pori tanah. Pelumpuran : 1. Pelumpuran adalah usaha mengolah dan mengaduk-aduk tanah dalam keadaan basah atau jenuh air. 2. Pelumpuran menyebabkan hacurnya agregat tanah menjadi butiran tunggal. 3. Pelumpuran yang sempurna hanya dapat dicapai jika pengolahan tanah dilakukan dalam basah atau jenuh air. Tingkat Pelumpuran : 1. Tanah yang mengandung banyak liat lebih mudah dilumpurkan dibanding mengandung banyak pasir. 2. Tanah yang mengandung liat montmorilonit lebih banyak lebih mudah dilumpurkan dibandingkan dengan tanah yang mengandung banyak kaolinit. 3. Tanah yang banyak mengandung natrium paling mudah dilumpurkan. 4. Tanah yang banyak mengandung bahan organik lebih sukar dilumpurkan.

5. Tanah yang tinTingkat Pelumpuranggi kandungan oksida besi dan aluminium juga lebih sukar dilumpurkan.` Tujuan Pelumpuran tanah : 1. Berkurangnya pori-pori non-kapiler (pori makro) dan bertambahnya poripori kapiler (pori mikro) 2. Meningkaynya berat isi tanah. 3. Berkurangnya perembesan dan perkolasi air. Perubahan Kimia : Perubahan Lapisan Oksidasi dan Reduksi. Tanah tergenang tidak seluruhnya tereduksi. setebal 1 10 mm tetap Lapisan paling atas

berada pada keadaan oksidasi, tergantung

tekanan oksigen terlarut dalam air. Perubahan pH : Pada tanah masam Fe(OH)3 + ePada tanah alkalis Pelapukan BO oleh jasad mikro sehingga CO2 Meningkatnya ion H+ dari asam karbonat. H2CO3 H+ + HCO3bertambahnya tekanan parsial Fe(OH)2 + OH-

Dekomposisi Bahan Organik : Dekomposisi BO berlangsung lebih lambat. Proses dekomposisi berlangsung pada tingkat energi yang lebih rendah. Produk akhir dekomposisi BO pada : 1. Kondisi aerobik seperti CO2, NO3-, dan SO4-. 2. Kondisi anaerobik seperti CO2, NH4+, metan, amina, merkaptan , H2S dan residu Perubahan Biologik : Oksigen dalam tanah segera turun menjadi nol dalam waktu kurang dari 1 hari setelah penggenangan. Mula-mula jasad mikro aerobik dengan cepat mengkonsumsi sisa oksigen dan kemudian menjadi dorman dan akhirnya mati. yang kurang mengalamihumifikasi.

Jasad mikro anaerobik fakultatif dan anaerobik berkembang dan mengambil alih dekomposisi bahan organik. Perubahan susunan jasad mikro menyebabkan perubahan-

perubahan biokimia dalam tanah. Peranan biokimia jasad mikro meliputi : 1. Proses pelarutan 2. Fiksasi 3. Mineralisasi 4. Immobilisasi 5. Oksidasi 6. Reduksi.

3) Tanah sulfat masam Bahan sulfidik (pirit) merupakan hasil endapan marin. pirit terbentuk melalui serangkaian proses kimia, geokimia, dan biokimia secara bertahap. Ion-ion sulfat yang banyak terkandung dalam air laut oleh ayunan pasang diendapkan pada dataran-dataran pantai dan sebagian menjorok memasuki mintakat pasang surut. Besi yang merupakan penyusun mineral silikat dalam bahan induk tanah bersenyawa dengan sulfat. Pada dasarnya, persenyawaan antara sulfat dengan besi inilah yang membentuk pirit (Noor, 2004). Pembentukan pirit dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain 1) tingginya kandungan bahan organik, 2) suasana yang anaerob, 3) jumlah sulfat terlarut, da, 4) kadar besi terlarut (Dent, 1986). Pada tanah-tanah mineral rawa sering terjadi keracunan, antara lain oleh alumunium (Al), besi (Fe3+), sulfida (H2S), karbondioksida (CO2), dan asam-asam organik yang tinggi. Kadar Al pada tanah mineral rawa berkaitan dengan oksidasi pirit. Suasana yang sangat masam mempercepat pelapukan mineral alumino-silikat akibat perusakan kisi dari mineral tipe 2:2 (seperti monmorilonit) menjadi mineral tipe 1:1 (kaolinit) dengan membebaskan dan melarutkan Al yang lebih banyak (Notohadikusumo, 2000). Menurut klasifikasi tanah Badan Makanan dan Pertanian Dunia (FAO Unesco, 1994), tanah sulfat masam dibagi menjadi tiga jenis yaitu Thionic Fluvisol, Thionic Gleysol, dan Thionic Histosol. Istilah fluvi (fluviatil) menunjukkan arti sebagai hasil endapan (marin), gley menunjukkan kadar lempung yang tinggi, sedangkan histo menunjukkan adanya lapisan gambut diatas permukaan. Tanah sulfat masam ditandai warna tanah yang kelabu, bersifat mentah, dan kemasaman sedang sampat tinggi (Breemen dan Pons, 1978). Identifikasi dan mengenal tanah sulfat masam dapat dilakukan di lapangan secara cepat, mudah dan sederhana (Notohadiprawiro, 1985).

Warna matriks tanah pada lahan sulfat masam umumnya cokelat gelap untuk lapisan atas dan abu-abu (grey) untuk lapisan bawah yang menunjukkan adanya pirit. Warna coklat gelap menunjukkan tingginya kadar bahan organik, sedangkan warna abu-abu mencerminkan tingginya kadar mineral kaolinit (Breemen, 1982). Warna matriks tanah sulfat masam mempunyai hubungan dengan ada tidaknya pirit. Warna abu-abu gelap kehijauan (5Y 4/1) menunjukkan adanya pirit dan warna semakin gelap menunjukkan kadar pirit yang semakin tinggi (Noor, 2004). Teknologi Ameliorasi dan Pemupukan pada Lahan Sulfat Masam Ameliorasi tanah sulfat masam untuk memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah harus dilakukan terlebih dahulu sebelum pemupukan dilaksanakan. Pemupukan tanpa perbaikan tanah tidak akan efisien bahkan tidak respon. Produktivitas tanah sulfat masam biasanya rendah, disebabkan oleh tingginya kemasaman (pH rendah), kelarutan Fe, Al, dan Mn serta rendahnya ketersediaan unsur hara terutama P dan K dan kejenuhan basa yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman (Dent, 1986). Oleh karena itu tanah seperti ini memerlukan bahan pembenah tanah (amelioran) untuk memperbaiki kesuburan tanahnya sehingga produktivitas lahannya meningkat. Bahan amelioran yang dapat digunakan adalah kaptan dan Rock Phosphate. Kaptan digunakan untuk meningkatkan pH tanah sedangkan Rock Phosphate untuk memenuhi kebutuhan hara P-nya. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan kebutuhan kapur menurut (Mc Lean, 1982, dalam Al-Jabri, 2002) adalah 1) derajat pelapukan dari tipe bahan induk, 2) kandungan liat, 3) kandungan bahan organik, 4) bentuk kemasaman, 5) pH tanah awal, 6) penggunaan metode kebutuhan kapur, dan 7) waktu.

Penetapan kebutuhan kapur untuk tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui beberapa metode, yaitu : 1) kebutuhan kapur berdasarkan metode inkubasi, 2) metode titrasi, dan 3) berdasarkan Al-dd. Penetapan kebutuhan kapur dengan metode inkubasi dilakukan dengan mencampurkan kapur dan tanah serta air dalam beberapa dosis kapur selama beberapa waktu tertentu, biasanya dari satu minggu sampai beberapa minggu. Lalu kebutuhan kapur ditentukan pada nilai pH tertentu. Menurut Mc. Lean (1982 dalam Al-Jabri 2002), kelemahan metode ini adalah terjadinya akumulasi garam (Ca, Mg, dan K) sehubungan dengan aktivitas mikroba sehingga takaran kapurnya lebih tinggi. Penetapan kebutuhan kapur berdasarkan metode titrasi dengan NaOH 0,05 N untuk mencapai pH tertentu lebih rendah jika dibandingkan dengan metode inkubasi dan Al-dd KCl 1 N, tetapi cara ini lambat tidak sesuai untuk analisis rutin (Al-Jabri, 2002). Walaupun kebutuhan kapur dengan metode titrasi lebih rendah, tetapi sebagian besar dari kemasaman tanah tidak dinetralisir oleh basa. Hal ini disebabkan reaksi antara kation-kation asam yang dapat dititrasi berlangsung sangat lambat. Penetapan kebutuhan kapur berdasarkan Al-dd KCl 1,0 N banyak dipertanyakan, sebab tingkat keracunan Al bervariasi dengan tanaman dan tanah. Karena tingkat keracunan untuk suatu jenis tanaman mempunyai variasi lebar dalam tanah yang berbeda maka Al-dd tidak digunakan sebagai parameter yang menentukan keracunan tetapi persentase kejenuhannya. Lahan tanah sulfat masam kurang dioptimalkan Pemanfaatan tanah sulfat masam di Tanah Air belum optimal baru 9% yang dapat digunakan untuk mengoptimalkan produksi beragam komoditas budi daya perikanan di Tanah Air. Profesor Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan Andi Akhmad Mustafa mengatakan potensi tanah sulfat masam di Indonesia yang terbesar di dunia sekitar 6,6 juta hektare baru dimanfaatkan 612.000 hektare."Tambak tanah sulfat masam yang terlantar masih luas, lahan yang dimanfaatkan masih

berproduktivitas rendah, dan komoditas yang dibudidayakan masih terbatas," ujarnya saat acara Orasi Pengukuhan Profesor Riset Bidang Akuakultur Kementerian Kelautan dan Perikanan hari ini. Andi Akhmad merupakan pengajar Program Pascasarjana

Universitas Hasanuddin, Makassar. Menurutnya, pendayagunaan tambak tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanah yang sesuai dengan karakteristik dan pemilihan lokasi yang tepat.Dia menjelaskan jika tambak tanah sulfat masam itu diolah, maka dapat digunakan untuk budi daya seperti udang windu (penaeus monodon) dengan produksi yang memuaskan dan budidaya komoditas perikanan ikan payau. Andi memaparkan kunci keberhasilan implementasi teknologi pendayagunaan tambak tanah sulfat masam yaitu ketersediaan data dan informasi karakteristik tanah yang lebih akurat. Dia menuturkan pengelolaan tanah sulfat masam akan berdaya guna apabila dilakukan remediasi yang meliputi pengeringan, perendaman, dan pembilasan yang dilanjutkan dengan remediasi dengan cara pengapuran yang dilakukan berdasarkan karakteristik spesifik tanah. Lahan tambak yang ada di Indonesia, katanya, berada pada tanah sulfat masam dengan karakteristik tanah berupa pH yang rendah (kurang dari 3,5) dan kandungan unsur hara makro (terutama fosfor) rendah, sehingga berdampak pada produktivitas yang rendah. Akhmad menyarankan pengembangan lahan tambak dilakukan pada tambak yang ada dan tidak boleh dilakukan di kawasan konservasi serta tidak disarankan untuk mengkonversi kawasan mangrove menjadi tambak. Hambatan implementasi penelitian itu, katanya, sedikit

pengetahuan pembudidaya tambak mengenai karakteristik tanah sulfat masam dan pemahaman yang kurang tentang informasi geospasial.

Daftar Pustaka

http://science-cermin.blogspot.com/2011/03/i.html http://id.wikipedia.org/wiki/Tanah http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/tanahsawah/tanahsawah2. pdf http://sobatbaru.blogspot.com/2010/05/tanah-sulfat-masam.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21653/4/Chapter%20II.pdf http://www.bisnis.com/articles/lahan-tanah-sulfat-masam-kurang-dioptimalkan http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.