Anda di halaman 1dari 14

ARSITEKTUR VERNAKULAR

Kesederhanaan, Kepolosan, Kelurusan, dan Ketenangan Batin

ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL JEPANG

1.

Pengertian Arsitektur Vernakular Arsitektur Vernakular atau arsitektur tradisional adalah arsitektur yang

terbentuk dari proses yang berangsur lama dan berulang-ulang sesuai dengan perilaku, kebiasaan, dan kebudayaan di tempat asalnya. Pembentukan arsitektur berangsur dengan sangat lama sehingga sikap bentuknya akan mengakar. Arsitektur Vernakular yaitu istilah yang digunakan untuk

mengkategorikan metode konstruksi yang menggunakan sumber daya lokal yang tersedia dan tradisi untuk memenuhi kebutuhan dan keadaan setempat. Arsitektur Vernakular cenderung berkembang dari waktu ke waktu untuk menceminkan lingkungan, budaya dan sejarah konteks yang ada.

2.

Ciri-Ciri Arsitektur Vernakular Adapun ciri-ciri dari Arsitektur Vernacular ini adalah sebagai berikut : Menggunakan bahan lokal Menggunakan pengetahuan lokal Menggunakan teknik yang sederhana Suatu produk dari masyarakat lokal Suatu yang berkaitan dengan budaya

3.

Arsitektur Rumah Tradisional Jepang

3.1

EKSTERIOR RUMAH TRADISIONAL JEPANG

Gambar 3.1 .1 Tampilan depan rumah tradisional atau fasad rumah dengan bangku duduk yang didominasi bahan kayu serta pintu geser arah horizontal dan vertical dari kayu. Zaman Edo berlangsung sekitar tahun 1600- 1868 ketika jepang di bawah pemerintahan Sogun menutup pengaruh dan hubungannya dengan dunia Barat. Pola perkembangan kota kecil di sepanjang jalur Nakasendo, salah satu di antaranya desa kuno Tsumago terdapat banyak bangunan rumah tinggal yang bercorak arsitektur tradisional Jepang gaya Edo.

Gambar 3.1.2 Rumah tradisional jepang berbahan kayu dan atap ditindih batu dengan aksesori fasad khas jepang.

Beberapa jalan kecil berupa gang juga sangat menarik diikuti karena dari jalan kecil tersebut kita dapat melihat taman gaya Jepang di area halaman belakang dan depan rumah. Taman yang dilengkapi kolam batu alam dilengkapi bonsai, pancuran air dari bambu, dan kerajinan bambu lain menambah daya tarik kawasan ini. Kebanyakan bangunan utama di kawasan ini terbuat dari papan yang bila kita lihat lebih jauh menunjukkan kedekatan kehidupan Tsumago dengan pertanian, perdagangan, dan bisnis jasa yang menjadi mata pencarian utama penduduk pada masa Sogun.

Atap yang ditindih batu untuk menahan agar tidak terbang tertiup angin dengan talang air pada sisi atap dan menyalurkan air ke tanah yang terbuat dari bambu juga menunjukkan kecerdikan dan pemikiran unsur teknis tukang bangunan masa Edo. Ruangan dengan lantai tanah, tatami, dan fondasi batu alam yang ditindih bangunan bahan kayu menjadi salah satu ciri khusus. Dengan struktur bangunan kayu berpintu geser dengan teralis kayu horizontal dan vertikal memperlihatkan gaya arsitektur tradisional jepang kuno.

Gambar 3.1.3 Tidak hanya citranya, tetapi konstruksinya pun sederhana sekali semakin sedikit, semakin baik. Prinsip ini sudah diambil alih dalam seni arsitektur

3.2

INTERIOR RUMAH TRADISIONAL JEPANG Sudah sejak abad ke 18 masyrakat Barat yang sudah diresapi citarasa matematika dan penalaran segala bidang kehidupan menemukan jepang sebagai negeri selera ningrat dan citarasa yang sangat cocok dengan dambaan manusia kebudayan industri yakni perpaduan antara yang eksak matematis dan yang menumbuhkan haru pada segala yang indah. Maka garis-garis dan kepolosan dinding-dinding geometrik yang menandai seluruh arsitektur jepang mereka jadikan contoh ekspresi.

Gambar 3.2.1

Interior dan pemilihan bahan rumah Jepang Tradisional ini pun masih sama napas cita rasanya. Dinding-dinding tipis, nyaris tidak bermateri (kertas pun masih dipakai untuk dinding-dinding ruangan). Tidak aman memang dan sangat dingin di musim salju,tetapi sikap Shinto satu dengan alam tetap dimenangkan Melalui gambar ini dan seterusnya kita dapat mempelajari dampak dan hikmah akrsitektur tradisional Jepang yang kontemporer secara lebih terperinci. Tampaklah betapa sangat mungkinlah modernisasi dengan bahasa kontemporer, tanpa meninggalkan kekhasan pribadi pribumi.

Maka perhatikan gambar 3.2.1 dalam pasal 9 dari arsitektur modern tahun-tahun 20-30an. Tampaklah ciri ke Jepangan pada bangunan dan perabot rumah itu.

Gambar 3.2.2 Citarasa kepolosan dan kesederhanaan yang bernapas Shinto itu lebih meluas lagi sesudah Perang Dunia II, yang ternyata sedambaan dengan citarasa menusia yang baru saja dianiaya oleh wabah bahasa Meriam dan bom dunia industri. Di sini selera dan citra arjuna sangatlah jelas. Perhatikan dinding-dinding, lantai dan langit-langit. Semua serba bidang polos, dapat dikatakan tanpa hiasan apapun. Satusatunya hiasan hanyalah permainan garis-garis lurus dan bidang-bidang murni. Ditambah gambar bergaya sangat hekmat goresan, kaligrafi sajak satu saja di ruang utama dengan tokonominya.

Gambar 3.2.3 Dalam ruang utama, tempat penerimaan tamu, dibuat panggung kecil yang berdinding mundur sebagai tempat keramat, suatu fokus, tempat orientasi diri psikologis dalam rumah, yang disebut tokonoma. Kadang-kadang lukisan diganti dengan yang lain, atau dipajang satu syair dengan seni kaligrafi indah, demi percakapan tenbtang puisi atau tukar-menukar kearifan, pengetahuan budaya.

Gambar 3.2.4

Ruang Panti minum Bosen , dari biara Kohoran. Lihatlah bagaimana sekian unsur kontras bermain dalam melodi tesa-antitesa-sintesa: 1. Luar dan Dalam. 2. Garis bidang geometrik lurus-datar-ketat dan bentukbentuk organik luwes. 3. Kebersihan polos netral warna di dalam dan yang serba variasi warna-warni di luar.

Gambar 3.2.5

Denah Rumah tradisional Jepang dengan pembagian ruang yang berbentuk sederhana yaitu kotak atau persegi. Manusia modern abad ke 20 memang sedang gandrung pada segala hal yang geometris. Tetapi geometriks yang menyentuh kalbu hati. Dan apa yang menjadi kenyataan budaya arsitektur dari seorang tokoh dan perintis arsitektur modern, Mies Van der Rohe? Mies van der Rohe merumuskannya demikian: semakin sedikit semakin baik. Tetapi perumusan yang menjadi tersohor itu praktis sudah dikerjakan berabad-abad oleh orang-orang yang berjiwa Shinto dan Budha Zen.

4.

Faktor-Faktor Arsitektur Jepang Arsitektur jepang mengeksperesikan ketenangan dan kedisiplinan tata

ilmiah. Akan tetapi jiwa Jepang Tradisional mencari keheningan dan ketenangan di dalam perasaan yang bersamadi. Jepang membangun dengan bahan-bahan yang sangat ringan, dengan kayu, bambu, jerami, kertas dan sutera. Dan jepang lebih suka dengan hal yang transparan, hemat pula dalam pemilihan bahanbahan, seolah-olah rohani tanpa membutuhkan materi. Arsitektur Jepang memang adalah arstitektur murni. Dinding rumah Jepang hamper tidak mempunyai materi, hanya selaput belaka karenanya begitu tipis. Tiang-tiang sangat semampai, sederhana seolah

memohon agar jangan diperhatikan, lebih suka terdiam dan tenggelam saja dalam dinding selaput yang transparan. Shinto adalah salah satu kepercayaan Jepang yaitu kesatuan tunggal dirinya dengan semesta alam alam yang bukan topic serba ramai bahkan serba liar (alam tak pernah liar sebenarnya) melainkan yang bening-bening, sangat terbatas flora dan faunanya. Begitulah pengahayatan dari citra-wastu Jepang.

Gambar 4.1

Gambar 4.2

Pintu geser transparan dan ruang dalam tanpa perabotan.

Kontras harmonis antara garis-garis alami organic dan geometri manusia, seperti yang tercitra pada gambar beranda Kohu-an. Kelompok arsitek Lucio Costa, Oscar, dan Kawn-kawan dalam wujud modern. Interior dan pemilhan bahan rumah Jepang modern ini gambar 4.1 dan 4.2 masih bernafas sama cita rasanya. Masih ada hal yang transparan dan tipis yaitu material kertas. Tidak hanya citranya, tetapi konstruksinya pun sederhana sekali. Ciri arsitektur jepang tampaknya mempunyai kharakteristik sendiri. Semua bidang polos, dapat dikatakan tanpa hiasan apapun. Satu-satunya hiasan hanyalah permainan garis-garis lurus dan bidang-bidang murni.

Taman ini keseluruhannya hanya terdiri dari pasir, kerikil, dan bongkahan cafas. Gambar 4.3 Melambangkan ombak-ombak samudera yang mengelilingi serta menjamah pulau-pulau. Orang diajak untuk mengheningkan diri. Membeningkan hati agar menemukan samudera napas semesta, dan begitu menghayati jati-diri, mengatasi semua dari nafsu yang tak benar.

Gambar 4.4

Gambar 4.3

Merangkai bunga bagi wanita Jepang adalah bentuk mencipta suatu dunia imaji-imaji kehidupan. Komposisinya teramat berkuantitas sedikit sekali. Agar kadar kualitas semakin memadat. Merangkai tata bunga dialami sebagai meditasi penciptaan. 5. Penutup Awal dari perkembangan arsitektur Budhis di Jepang telah mengalami satu proses yang evolusioner. Munculnya sekte-sekte baru dalam agama Budha, berakibat pula pada pembangunan bangunan baru, perubahan kekuasaan, perkembangan teknologi, dan kesemua hal tersebut dapat memberikan sumbangan yang beragam, terutama pada detail-detail bangunanya. Perkembangan desain dari kuil-kuil Budhis yang terdapat di China dan Jepang, merupakan produk yang sangat kompleks meskipun melalui sebuah proses perubahan yang lambat. Dari hasil proses tersebut, akhirnya memberikan adanya perpaduan di antaranya, pengaruh-silang (cross-influences), keunikan percampuran (hybridization), perubahan (alteration),dan

(idiosyncrasies). Dengan adanya perbedaan-perbedaan itu, akhirnya mereka membuat kodifikasi dan standarisasi, terutama yang berkaitan dengan skala dan proporsi. Di China sendiri, desain bangunan pertama kali dikodifikasi pada abad ke-12 melalui publikasi yang dikeluarkan oleh pihak pemerintah berupa standarisasi bangunan, yang tujuannya adalah untuk menggantikan pedoman yang telah ada yang dikeluarkan sekitar abad ke-8. Salah satu ciri yang kuat pada arsitektur vernakular adalah adanya kosmologi dalam penataan penataan lingkungan baik yang bersifat makro (pemukiman) maupun yang bersifat mikro (rumah). Orientasi kosmologi ini dapat ditandai dengan adanya ruang yang bersifat sakral maupun yang bersifat profan. Jepang, sebuah Negara dengan sejarah dan kebudayaan yang berkearifan lokalnya, negeri sakura ini mempunyai bentuk arsitektur yang sangat indah. Bentuk, fungsi dan tatanan arsitekturnya sangat jelas. Unik dengan modul-modul konstruksi yang sederhana diekspresikan dalam arsitektur Jepang, baik dalam pembagian ruang secara horizontal maupun secara vertikal.

DAFTAR PUSTAKA

Pengertian Arsitektur Vernakular (Tradisional) http://seputardunia23.blogspot.com/2013/03/arsitektur-vernakulartradisional.html

Pengertian Kosmologi http://arsitekiki.blogspot.com/2008/02/kosmologi-dan-arsitekurnusantara.html

Sejarah Jepang http://cvyufakaryamandiri.blogspot.com/2012/10/metode-dan-strukturbangunan.html

Arsitektur Rumah Tradisional Jepang http://rurucoret.blogspot.com/2009/02/arsitektur-tradisionaljepang.html

Wastu Citra, Mangunwijaya. Y.B Buku Pengantar Ke Ilmu Budaya Bentuk Arsiktektur, Sendi-Sendi Filsafat Beserta Contoh-Contoh Praktis.