Anda di halaman 1dari 3

Berikut ini, tindakan-tindakan mitigasi yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat, yang dibagi ke dalam beberapa

bidang: 1. Kehutanan, misalnya: pencegahan kerusakan hutan (sebagai upaya untuk mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan); dan pencanangan one man five trees sebagai bagian dari upaya pelibatan masyarakat luas dalam mitigasi perubahan iklim. 2. Pertanian, misalnya: pembukaan dan persiapan lahan tanpa bakar (zero burning) dan optimasi pemanfaatan lahan; pengembangan pertanian organik dan ramah lingkungan; dan perlindungan terhadap kawasan bernilai konservasi tinggi di areal perkebunan. 3. Pertambangan dan Energi, misalnya: melakukan revegetasi terhadap lahan

terganggu akibat aktivitas pertambangan; penetapan rasio revegetasi terhadap lahan terganggu; melakukan efisisensi penggunaan BBM di sektor pertambangan; mengembangkan energi terbarukan; dan mendorong operasi rendah emisi di sektor pertambangan (carbon neutral). 4. Transportasi, misalnya: pengembangan transportasi yang ramah lingkungan; penetapan batasan emisi untuk setiap jenis kendaraan; dan pengembangan BBM alternatif berbasis nabati (Biodisel). 5. Lingkungan Hidup, misalnya: pemantauan kualitas udara ambient dan emisi; penghapusan bahan perusak ozon (BPO); penyusunan road map dan pemetaan pengurangan emisi CO2 dari semua sektor; pengelolaan sampah; penurunan beban pencemaran dari sektor industri dan domestik; dan penetapan dan pengembangan hutan kota. Sedangkan tindakan-tindakan adaptasi terhadap dampak dari bencana yang dihadapi misalnya: 1. Ketika terjadi kebakaran hutan besar-besaran, maka pemerintah dan masyarakat bersatu untuk memadamkan api tersebut dengan mengerahkan seluruh pasukan pemadam kebakaran yang profesional dan jumlah yang besar. 2. Ketika musibah banjir melanda Jakarta, warga mengungsi di wilayah yang tidak terkena banjir, dan pemerintah menyediakan fasilitas seperti perahu kecil, pakaian, serta bahan makanan yang dibutuhkan warga. 3. Ketika tsunami melanda Aceh, sebagian warga yang masih sempat mengerahkan sekuat tenaganya dapat mengungsi ke daerah yang lebih tinggi, seperti masjid yang kokoh dan memiliki lantai teratas yang cukup tinggi, wilayah pegunungan atau

dataran tinggi, atau mungkin menyediakan perahu yang kokoh seperti zaman nabi Nuh, yang memberi contoh kepada Umat Muslim. 4. Ketika sebuah gunung merapi meletus, maka warga yang tinggal di sekitar gunung tersebut harus segera mengungsi, jauh sebelum gunung benar-benar meletus, kemudian menggunakan masker agar mengurangi dampak emisi CO2 dan abu vulkanik yang bertebaran di lingkungan sekitar.

Kalau dilihat dari gejala fisis atmosfernya, letusan gunung merapi yang mengeluarkan atau memuntahkan awan panas dapat menyebabkan suhu di daerah gunung merapi meningkat. Dengan demikian tekanan di daerah letusan merapi menurun atau rendah, dan kelembaban (RH) juga menurun sehingga bersifat kering.

Jika debu vulkanik yang dikeluarkan dalam kapasitas banyak, maka dalam lapisan troposfer bumi yang mengandung partikel-partikel padat berupa debu vulkanik tadi, juga akan menghalangi proses radiasi matahari sehingga tidak dapat masuk ke permukaan bumi Hal ini menyebabkan suhu di daerah tersebut rendah (menurun), hal tersebut juga mempengaruhi pola sistem cuaca, karena radiasi matahari merupakan salah satu unsur utama dari unsurunsur yang mempengaruhi cuaca.

Gunung merapi yang memuntahkan awan panas dalam bentuk abu vulkanik, yang menyembur ke lapisan atmosfer bumi, juga dapat menyebabkan dampak yang cukup signifikan. Pada partikel debu vulkanik dapat di dibagi menjadi dua: 1. partikel debu vulkanik tersebut bersifat higroskopis, yakni dapat mengikat uap air, sehingga dengan demikian dapat memicu proses terjadinya kondensasi dan terbentuklah awan dengan catatan Rh (kelembaban) tinggi. Sehingga dapat meningkatnya curah hujan di daerah tersebut. 2. Partikel debu yang memicu kekeringan, yang mana dapat menimbulkan kekeringan sehingga curah hujan berkurang. Sehingga untuk daerah Jogjakarta dan sekitarnya (akibat Gunung Kelud) lalu, curah hujannya meningkat karena pembentukan awan yang mana disebabkan adanya suhu yang tinggi dan tekanan yang rendah, maka di daerah tersebut partikel debu menjadi bersifat higroskopis.