Anda di halaman 1dari 23

MODUL 4 GOOD GOVERNANCE DAN PEMERINTAH YANG BERSIH

Good governance pada dasarnya paradigma yang menekankan pada praktek pemerintah yang berorientasi pada pencapaian efisiensi yang pada akhirnya menekankan juga pada pentingnya penghargaan pada aspek-aspek individual sebagai warga negara.

KB. 1 Konsep Dasar dan Implementasi Good Governance A. PENGERTIAN GOOD GOVERNANCE Konsep governance merupakan konsep yang sudah lama. Sudah lamanya dengan peradaban manusia itu sendiri. Fokus dari governance adalah pada faktor- faktor formal dan informal yang terlibat dalam pengambilan keputusan dan Implementasinya (proses pemerintah) secara bersama-sama oleh pemerintah dan institusi- institusi lain di luar pemerintah. Konteks penggunaan istilah yang kemudian sangat popular adalah good governance pengertian Indonesia sering diterjemahkan sebagai tata kelola yang baik. yang dalam

Penggunaan kata good dalam istilah governance, mengandung dua pemahaman yaitu: 1. Nilai-nilai yang menjunjung tinggi keinginan dan kehendak rakyat dan nilai-nilai yang dapat meningkatkan kemampuan rakyat dalam mencapai tujuan kemandirian, pembangunan yang berkelanjutan dan keadilan social 2. Aspek- aspek fungsional dari pemerintah yang efektif dan efisien dalam melaksanakan tugasnya untuk mencapai tujuan tujuan yang telah di tetapkan.

Menurut Suryanto ada tiga hal yang melatar belakangi munculnya good governance, yaitu: 1. Munculnya fenomena yang disebut Samuel P. Huntington sebagai gelombang demokrasi berskala besar. 2. Terjadinya kehancuran secara sistematis berbagai dasar institusional bagi pengelolaan distribusi sumber-sumber ekonomi pada sebagian masyarakat dunia ketiga. 3. Terakumulasinya kegagalan struktur adjusment program yang di prakarsai oleh IMF dan Bank Dunia.

Hukum Tata Pemerintahan

Good governance merupakan konsep yang dilahirkan oleh para pakar untuk mendukung keberhasilan pembangunan, meskipun tidak semua pakar telah menyetujui keberhasilan pembangunan pada good governance. Bank Dunia mendefinisikan good governance sebagai kerangka kerja kelembagaan yang memberikan kesempatan kepada warga negara untuk melakukan interaksi dan transaksi secara bebas, pada berbagai tingkatan yang berbeda untuk memenuhi aspirasi sosial, politik, dan ekonomi. Sedangkan Adil Khan dalam perspektif teori pembangunan good governance dimaknai sebagai ..... suatu kerangka kerja politik dan birokratis yang menyediakan suatu lingkungan makro ekonomi yang memadai untuk investasi dan pertumbuhan, yang mengejar pencapaian kebijakan-kebijakan yang distribusional dan kesetaraan; dengan menciptakan intervensi kewirausahaan di mana dan kapan dibutuhkan dan mempraktekkan prinsip-prinsip manajemen kejujuran dan efisien. Kepemimpinan politik yang memiliki komitmen dan imajinatif yang ditunjukkan dengan adanya birokrasi yang efisien dan akuntabel sebagai kunci tata kelola yang baik di suatu negara. Dalam kerangka good governance, pemerintah bukan lagi sebagai lembaga tunggal yang berperan sebagai pengatur dan penyedia layanan serta kebutuhan masyarakat, karena good governance menghendaki bekerjanya tiga pilar secara harmonis antara negara (state), pelaku pasar (privat), dan masyarakat (civil society).

B. PRINSIP- PRINSIP DAN PRASYARAT GOOD GOVERNANCE Pencapaian good governance bukanlah persoalan yang mudahdan sederhana karena menyangkut interaksi yang kompleks berbagai kekuatan politik, sosial, ekonomi, dan budaya yang ada dalam suatu negara. Salah satu determinan penting dalam pencapaian kinerja pembangunan dalam konteks good governance adalah kinerja birokrasi. Menurut Ari Dwipayana meskipun governance mengisyaratkan berkurangnya peran negara, akan tetapi tidak berarti peran negara ditinggalkan. Ada enam prinsip bagaiman pemerintah mengambil peran dalam kerangka governance yaitu: 1. Dalam kolaborasi yang dibangun, negara tetap bermain sebagai figur kunci namun tidak dominan, yang memiliki kapasitas unruk mengkoordinasi aktor-aktor pada institusi semi dan non-pemerintah, untuk mencapai tujuan-tujuan publik. 2. Kekuasaan yang dimiliki negara harus ditransformasikan, dari yang semula kekuasaan atas menjadi kekuasaan untuk menyelenggarakan kepentingan, memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah publik.
Hukum Tata Pemerintahan 2

3. Negara, NGO, swasta, dan masyarakat lokal merupakan aktor-aktor yang memiliki posisi dan peran saling menyeimbangkan. 4. Negara harus ampu mendesain ulang struktur dan kultur organisasinya. 5. Negara harus melibatkan semua pilar masyarakat dalam proses kebijakan. 6. Negara harus mampu meningkatkan responsivitas, adapsi, dan akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan kepentingan, pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah publik. Menurut Dharma Syawan (2004:227 ) sekurang kurangnya ada 4 unsur yang harus terpenuhi sebagai pelaksanaan good governance yaitu 1. Accountabiliti ( Pertanggung jawaban),yang bias dilihat dari dua aspek yaitu Pertanggung jawaban politik dan Pertanggung jawaban public. 2. Participatory ( pelibatan masyarakat ), yaitu adanya usaha yang mendorong semua warga Negara untuk menggunakan hak-haknya dalam setiap pengambilan kebijakan. 3. Transparency (keterbukaan), yaitu diwujudkan dengan keterbukaan aliran informasi. 4. Rule of law ( Supremasi hukum ), yaitu adanya kerangka hukum yang diperlukan untuk menjamin hak-hak warga negara dalam menegakkan pemerintah. Pertanggung jawaban

Menurut Santoso ada lima persyaratan agar good governance bisa diwujudkan yaitu: 1. Lembaga perwakilan rakyat memiliki legitimasi politik dan mampu menjalankan fungsi kontrol yang efektif. 2. Pengadilan yang independen ( mandiri,bersih,dan profesional ) 3. Aparatur pemerintah yang profesional dan memiliki integritas yang kokoh. 4. Masyarakat sipil yang kuat sehingga mampu melaksanakan fungsi kontrol public. 5. Desentralisasi dan lembaga-lembaga perwakilan di daerah yang kuat.

C. IMPLIKASI PENERAPAN GOOG GOVERNANCE Secara mendasar pendekatan ini bertujuan mengurangi pemerintah yang boros dan meningkatkan produktivitas pemerintah ,dengan meningkatkan kemampuan dalam bermitra baik dengan dunia usaha maupun dengan warga Negara.
Hukum Tata Pemerintahan 3

Menurut James D. Wolfonsohn ( pernah menjabat Presiden Bank Dunia ) negara yang tidak memiliki empat struktur diibaratkan sebagai perahu kecil yang memiliki lubang besar. Keempat struktur tersebut adalah : 1. Good governance kamu membutuhkan pemerintahan yang memiliki kapasitas,

memiliki orang-orang terlatih ,memiliki hukum yang jelas dan transparan,dan adanya memerangi korupsi, sebagai isu tertinggi. 2. A justice system that work ( suatu sistem keadilan yang dapat bekerja ). 3. A system financial that work ( suatu sistem keuangan yang dapat bekerja ). 4. A social system that work ( suatu sistem sosial yang bekerja ).

Dengan penerapan good governance , birokrasi juga dituntut mengembangkan budaya birokrasi yang baru yang memungkinkan adanya layanan publik yang efisien ,sistem pengadilan yang dapat diandalkan serta administrasi bias dipertanggungjawabkan kepada publik.

Menurut Moeljarto ( 2004:11) setidaknya ada dua kompetensi yang harus dimiliki oleh birokrasi yaitu: 1. Birokrasi haruslah mampu memberikan pelayan publik dengan adil dan sebaik- baiknya 2. Birokrasi harus memiliki kompetensi untuk memberdayakan masyarakat sipil dengan menciptakan enabling social sett inklusif

Untuk mewujudkan profesionalisme birokrasi diperlukan upaya sadar melalui : 1. Role modelling. 2. Rekruitmen,kondisi kerja dan pelatihan, 3. Pendekatan proses belajar (learning process approach) 4. Pembentukan profesionalisme, dimana pengembangan sumber daya birokrasi harus dilakukan bersama-sama dengan penguatan organisasi dan reformasi kelembagaan. 5. Pembentukan profesionalisme memerlukan kontrol sosial dari masyarakat.

Hukum Tata Pemerintahan

KB 2. Membangun Pemerintah yang Bersih

A. KORUPSI VERSUS PEMERINTAHAN YANG BERSIH Korupsi merupakan istilah yang tidak asing terlebih bagi orang Indonesia . Setiap hari apabila kita mengikuti pemberitaan di media massa,baik cetak maupun elektronik, masalah korupsi akan selalu ada di dalam pemberitaan. Kenyataan ini menjadi suatu alat ukur sederhana betapa tindakan korupsi masih sangat banyak di Negara ini. Korupsi senantiasa identik dengan keberadaan birokrasi. Istilah korupsi (Diknas ,1988) diartikan sebagai penyelewengan atau pengelapan (uang Negara ,perusahaan, dan sebagainya ) untuk keuntungan pribadi dan orang lain. Istilah korupsi di Indonesia pertama kali digunakan sebagai istilah yuridis digunakan dalam Peraturan Penguasa Militer PRT/PM/06/1975 tentang pemberantasan korupsi. Dalam peraturan korupsi di berikan pengertian sebagai, perbuatan perbuatan yang merugikan keuangan dan perekonomian Negara. Peraturan ini juga mencoba merumuskan tindakan tindakan yang dapat dikategorikan sebagai tindakan korupsi yaitu: 1. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapa pun juga untuk kepentingan diri sendiri,untuk kepentingan orang lain ,atau untuk suatu badan yang langsung menyebabkan kerugian bagi keuangan dan perekonomian Negara. 2. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang pejabat yang menerima gaji ataupun Negara atau daerah yang dengan mempergunakan kesempatan atau kewenangan atau kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh jabatan ,langsung membawa keuntungan atau material baginya.

Menurut Wahyu Kumorotomo terdapat unsur yangmelekat pada tindakan korupsi, yaitu : 1. Setiap korupsi bersumber pada kekuasaan yang didelegasikan 2. Korupsi melibatkan fungsi ganda yang kontradiktif melakukannya. 3. Korupsi dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. pejabat- pejabat yang

Hukum Tata Pemerintahan

4. Orang orang yang mempraktekkan korupsi biasanya berusaha untuk merahasia perbuatannya. 5. Korupsi dilakukan secara sadar dan sengaja oleh para pelakunya.

Syed Husein Alatas ( 1987: vii-x ) mengemukakan ada tujuh kategori 1. Korupsi transaktif ( transactive corruption.) 2. Korupsi memeras (extortive corruption ) 3. Korupsi investif (investive corruption ) 4. Korupsi nepotisme( nepotistic corruption ) 5. Korupsi defensive (defensive corruption ) 6. Korupsi otogenik ( autogenic corruption ) 7. Korupsi dukungan( supportive corruption )

Ciri umum dari korupsi menurut Sanjeev Sabhlok adalah : 1. Korupsi terkait dengan kebutuhan atau tuntutan pemberi atau penyedia layanan. 2. Korupsi berkaitan dengan imbalan material, meskipun ada yang berbentuk bukan material. 3. Korupsi adalah kegiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan biasanya dirahasiakan dari mata publik. 4. Imbalan yang didapatkan dari hasil korupsi / suap biasanya tidak akan dikembalikan kepada lembaga pemerintah atau pemberi suap.

B. USAHA-USAHA MEMBERANTAS KORUPSI Melakukan pemberantas korupsi memang bukan pekerjaan mudah,terlebih korupsi telah bekerja secara sistematik dan terstruktur , serta telah bersemayam lama dalam berbagai segi tatanan social ,dan telah menghancurkan kecerdasan emosional menghancurkan human dan social capital bangsa. Maka penangan korupsi memerlukan strategi terstruktur yang menurut Bambang Widjojanto membawa dua konsekuensi yaitu : 1. Kemampuan merumuskan problematika dan dampak korupsi secara komprehensif menjadi sesuatu yang penting disertai dengan upaya sistematik yang mengajukan solusi alternatif guna melawan korupsi.

Hukum Tata Pemerintahan

2. Perlawanan atas korupsi bisa dilakukan dengan berbagai upaya legal dan sosial serta dapat dilakukan dari titik manapun.

Di Indonesia sejak tahun 1971 telah berusaha melakukan upaya penanganan korupsi, yang dibuktikan dengan diterbitkannya UU yang terkait dengan penanganan korupsi, yaitu: 1. UU No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Korupsi 2. UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme 3. UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi 4. UU No. 20 Tahun 2001 perubahan atas UU No. 31 Tahun 1999

Disamping UU, juga dilakukan dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui UU No. 30 Tahun 2003, dan juga Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tim Tastipikor) melalui Keppres No. 11 Tahun 2005. Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah, tetapi korupsi masih tetap mewarnai proses penyelenggaraan pemerintah. Dalam penanganan korupsi dibutuhkan sistem akuntabilitas keuangan, sistem hukum yang bisa memaksa bekerjanya norma hukum dan juga transformasi sosial secara masif . Menurut Kumorotomo diperlukan strategi yang komprehensif, yaitu: 1. Cara sistemik struktural : yang harus dilakukan adalah mendayagunakan segenap suprastruktur maupun infrastruktur politik dan pada saat yang sama membenahi birokrasi sehingga lubang lubang yang dapat dimasuki oleh tindakan tindakan korup dapat di tutup. 2. Cara abolisionistik dalam hal ini korupsi diasumsikan sebagai kejahatan yang harus diberantas. Yang sangat penting dalam strategi ini adalah adanya penegakan hukum secara konsisten sehingga masyarakat menjadi percaya dan timbul keberanian untuk melakukan pelaporan apabila menemui tindakan- tindakan korup. 3. Cara moralistik:cara ini dilakukan dengan pembinaan mental dan moral manusia melalui ceramah,pendidikan etika dan hukum,agar orang tidak mudah terbujuk untuk melakukan segala bentuk penyalahgunaan wewenang.

Sementara itu Klitgard (1998:124-126 ) mengemukakan adanya lima pedoman strategi dalam kerangka kebijakan mengurangi korupsi.
Hukum Tata Pemerintahan 7

1. Memilih

Pegawai

yang jujur ,dan cakap

dengan cara dilakukan dengan

memberhentikan orang-orang yang tidak jujur dengan cara mengevaluasi riwayat pekerjaan serta penerimaan pegawai dengan sistem kecakapan dan menjauhkan kemungkinan adanya nepotisme. 2. Sementara hukuman dilakukan dengan cara: memperbesar hukuman formal dan bagi pelaku korupsi kelas kakap dilakukan publikasi secara luas, memperbesar kewenangan atasan langsung untuk memberikan sanksi. 3. Dilakukan dengan mengidentifikasi bagian bagian yang rawan tindak korupsi terutama dengan menempatkan orang-orang dengan keahlian khusus yang bias segera menangkap sinyal- sinyal terjadinya tindakan penyimpangan. 4. Bisa dilakukan dengan mengembangkan dengan polah rotasi( di tempat- tempat yang basah ) yang mengurangi penguatan diskresi kewenangan yang tidak terkontrol, memperjelas dan membatasi pengaruh pelaksanaan pada keputusan yang bersifat penting. 5. Mengubah sikap masyarakat dalam memandang korupsi dengan memberikan kesadaran yang lebih luas kepada masyarakat bahwa korupsi memberikan kerugian moral kepada masyarakat untuk jangka waktu yang panjang.

Indonesia harus bisa belajar dari bangsa lain di kawasan Asia seperti Hongkong, Thailand, Malaysia, Singapura dan Korea Selatan yang telah berhasil melakukan penanganan korupsi dengan baik. Di Indonesia, penegakan hukum ternodai oleh pelanggaran yang dilakukan oleh aparat penegak hukum itu sendiri seperti fenomena mafia peradilan, praktek hukum yang berideologi uang (maraknya venalitiy). Oleh karena itu, menurut Riewanto harus ada upaya integral untuk melakukan pemberantasan korupsi dengan cara : 1. Mensterilkan institusi dan aparat hukum dari korupsi 2. Mendesain peradilan korupsi yang efektif 3. Mendesain produk UU yang memperkuat Pemberantasan Korupsi.

C. STANDAR ETIKA DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN. Etika pemerintahan merupakan condition sine quanon dalam mewujudkan pemerintah yang bersih. Dengan demikian etika dapat dimaknai sebagai ajaran tentang cara-cara perilaku yang baik. Perilaku yang baik tentu mengandung nilai-nilai keutamaan .Oleh sebab itu nilai-nilai
Hukum Tata Pemerintahan 8

tersebut dimanifestasikan dalam segala segi kehidupan. Baik dalam kehidupan politik, ekonomi, maupun social. Pada masa pemerintahan Yunani Kuno kehidupan politik telah dipedomani oleh empat unsur manifestasi kebaikan manusia yang disebut Four Cardinal Virtues yaitu: 1. Prudence (kebijaksanaan, pertimbangan yang baik) 2. Justice (keadilan) 3. Fortitude (kekuatan moral) 4. Temperance (kesederhanaan dan pengendalian diri) Secara historis landasan etika sudah dikembangkan sejak manusia mengenal dunia peradaban, terutama sebagai pedoman bermasyarakat. Dan sepanjang sejarah telah berkembang begitu banyak gagasan-gagasan agung yang merubah kehidupan manusia, yang oleh Adler diringkas menjadi 6 gagasan yaitu : 1. Keindahan (beauty) 2. Persamaan (equity) 3. Kebaikan (goodness) 4. Keadilan (justice) 5. Kebebasan (liberty) 6. Kebenaran (truth)

Tidak mudah menentukan standart perilaku etis dan lebih mudah membuat ukuran sebaliknya yaitu perilaku yang dinilai tidak etis atau tidak bermoral. Menurut Steinberg perilaku etis mengandung dorongan untuk memajukan kepentingan umum dan kebaikan bersama yang sesungguhnya merupakan tujuan intrinsik pemerintahan. Oleh karena itu,wujud perilaku etis dalam pemerintahan dalam pewujudnya adalah: 1. Tidak membiarkan terjadinya perbuatan-perbuatan yang tidak etis. 2. Bekerja sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. 3. Menahan informasi hanya apabila diperlukan menurut hukum. 4. Memahami kapan harus bersikap dan berkata tidak kepada atasan apabila di suruh melakukan perbuatan tidak etis.

Standar- standar perilaku etis yang dijadikan pedoman bertindak oleh para penyelenggara Negara biasa disebut kode etik korps. Di Amerika Serikat misalnya ada nilai-nilai dasar yang harus dipegang teguh oleh pejabat administrasi dalam menjalankan fungsinya seperti:
Hukum Tata Pemerintahan 9

a. Pelayanan kepada masyarakat adalah di atas pelayanan kepada diri sendiri. b. Rakyat adalah berdaulat dan mereka yang bekerja dalam instansi pemerintah pada akhirnya bertanggung jawab kepada rakyat . c. Hukum mengatur semua tindakan dari instansi pemerintah. d. Manajemen yang efisien dan efektif adalah dasar bagi administrasi Negara. e. Sistem penilaian kecakapan, kesempatan yang sama, dan asas-asas itikad yang abaik akan didukung, dijalankan, dan dikembangkan f. Perlindungan terhadap kepercayaan rakyat adalah sangat penting. g. Pelayanan kepada rakyat menurut kepekaan khusus dengan ciri-ciri keadilan. h. Hati nurani memegang perang penting dalam memilih arah tindakan. i. Para administrator negara tida hanya terlibat untuk mencegah hal yang salah, tetapi juga mengusahakan hal yang benar.

Pegawai Negeri di Indonesia jaga memiliki kode etik yang dikenal dengan panca prasetia KORPRI yang antara lain bahwa sebagai manusia yang percaya kepada Tuhan maka: 1. Setia dan taat kepada Negara kesatuan dan pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1954. 2. Menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan Negara serta memegang teguh rahasia jabatan dan rahasia Negara 3. Mengutamakan kepentingan Negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan 4. Bertekad memelihara persatuan dan kesatuan bangsa serta kesetiakawanan KORPRI 5. Berjuang menegakkan kejujuran dan keadilan ,serta meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme.

Hukum Tata Pemerintahan

10

MODUL 5 SISTEM PENGAWASAN

KB 1. Sistem Pengawasan Pengertian Pengawasan Pengawasan adalah salah satu fungsi penting dalam kehidupan organisasi termasuk dalam organisasi yang disebut negara. Negara merupakan organisasi yang paling kompleks di mana untuk mencapai tujuannya ia harus melakukan banyak campur tangan terhadap warga negaranya. Dalam upaya mencapai tujuan,negara melakukan tindakan-tindakan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis melalui penerapan prinsip-prinsip manajemen organisasi. Fungsi dasar dari manajemen tersebut meliputi fungsi 1. Perencanaan 2. Pelaksanaan 3. Pengawasan Walaupun pengawasan adalah fungsi terakhir dari manajemen tetapi bukan berarti pengawasan itu dilakukan setelah dua fungsi yang lain yaitu ,Perencanaan , dan pelaksanaan dilakukan tetapi pengawasan sudah bisa dilakukan sejak tahap perencanaan walaupun pelaksanaan ,karena pengawasan sebagai fungsi manajemen bermaksud untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan tingkat kegagalan atas pelaksanaan sebuah rencana kerja atau program. Dengan demikian fungsi pengawasan menjadi sangat penting baik untuk menghindari atau mencegah terjadinya penyalahgunaan wewenang ,penyelewengan ataupun kekeliruan. Robert J. Mockler mengemukakan unsur-unsur penting dari proses pengawasan .pengawasan manajemen adalah suatu usaha yang sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan , merancang sistem informasi umpan balik ,membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Henry Fayol pengawasan adalah ketetapan dalam menguji suatu persetujuan yang disesuaikan dengan instruksi dan prinsip perencanaan yang sudah tidak dapat dipungkiri lagi.
Hukum Tata Pemerintahan 11

Prof

Sondang Siagian;pengawasan adalah proses pengamatan pelaksanaan seluruh

kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Prof Stephen Robein; pengawasan adalah sebagai suatu proses mengikuti

perkembangan kegiatan untuk menjamin jalanya pekerjaan sehingga dapat selesai secara sempurna sebagaimana yang direncanakan sebelumnya.

Menurut Prof .Arifin Abdurrahman terdapat beberapa faktor yang membantu pengawasan dan mencegah terjadinya penyelewengan dan penyalahgunaan wewenang yaitu: 1. Filsafat yang dianut oleh bangsa yang bersangkutan 2. Agama yang mendasari seseorang 3. Kebijakan yang dijalankan 4. Anggaran pembiayaan yang mendukung 5. Penempatan pegawai dan prosedur kerjanya 6. Kemantapan koordinasi dan organisasi.

KB 2. Fungsi Pengawasan Tujuan dilakukannya pengawasan secara umum adalah sama dalam setiap organisasi yaitu untuk mencegah dan mengatasi tindakan penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan organisasi. Jadi pengawasan dapat berfungsi sebagai landasan kerja dan pedoman bagi para penyelenggara negara dalam melaksanakan tugasnya .Hal ini sesuai dengan fungsi hukum dalam kehidupan masyarakat ( SF. Marbun 2001: 268) yaitu 1. Direktif, hukum berfungsi sebagai pengarah dalam membangun masyarakat yang akan dicapai sesuai dengan tujuan bernegara. 2. Integratif, fungsi hukum adalah sebagai Pembina dan pengikat kesatuan bangsa. 3. Stabilitatif , hukum berfungsi sebagai memelihara dan menjaga keselarasan

,keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. 4. Perefektif, fungsi hukum adalah sebagai penyempurnaan terhadap tindakan

masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 5. Korektif, fungsi hukum adalah sebagai alat koreksi terhadap masyarakat maupun para penyelenggara negara agar tercipta masyarakat yang adil.
Hukum Tata Pemerintahan 12

A. MENGAPA TERJADI PENYELEWENGAN Lord Acton berpendapat bahwa power atau kekuasaan senagai penyebab tindakan korupsi. Sementara Wong An Shih berpendapat bahwa penyebab tindakan korupsi adalah karena sifat manusia yang buruk dan hukum yang jelek pula sehingga dari pendapat tersebut beliau lebih menekankan factor subjektif ( Syed Hussein Alatas, 1981:70 ) Jika kita sudah bisa mendiagnosa penyakit penyelewengan dengan mengetahui faktor penyebabnya secara jelas dan benar maka sebuah terapi baru bisa dilakukan. Faktor subjektif manusia sebagai penyebab utama tindakan penyalahgunaan Kekuasaan maka tindakan yang harus dilakukan adalah dengan menitik beratkan perhatian pada unsur manusia melalui pembinaan pegawai dalam hal disiplin dan mental. B. PERMASALAHAN DALAM PENGAWASAN Pengawasan sebagai salah satu fungi penting dalam pemerintahan tidak dapat ditinggalkan dalam usaha mencapai tujuan namun di masyarakat masih banyak dijumpai adanya tindakan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan walaupun pengawasan telah dilakukan secara terus menerus oleh berbagai pihak dan lembaga. Permasalahan yang timbul dalam pengawasan,diantaranya . 1. Persepsi Masyarakat terhadap Pengawasan dan Pengawas. 2. Tindak lanjut dari Pengawasan. 3. Koordinasi Pengawasan.

C. UKURAN KEBERHASILAN PENGAWASAN Ukuran keberhasilan pengawasan adalah terletak pada tujuan dari pengawasan itu sendiri yaitu untuk mengetahui dan memahami pelaksanaan dari suatu kegiatan apakah sesuai atau tidak dengan yang seharusnya yang kemudian dilakukan perbaikan perbaikan . Jadi tujuan pengawasan pada dasar nya adalah melakukan pemantauan atas pelaksanaan suatu kegiatan dan mengembalikan pada jalur yang sebenarnya apabila terjadi penyimpangan sehingga tujuan-tujuan dari organisasi tersebut akan tercapai .
Hukum Tata Pemerintahan 13

Adapun fungsi pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintah adalah untuk mencegah timbulnya segalah bentuk penyimpangan tugas pemerintahan dari pada yang telah digariskan ( preventif ) dan menindak untuk memperbaiki penyimpangan yang terjadi ( represif ).

KB. 3 Bentuk Pengawasan 1. Pengawasan Politik Dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan jumlah penduduk secara cepat maka tidak mungkin lagi seluruh penduduk dan seluruh lapisan masyarakat secara bersama-sama melakukan pengawasan atas jalannya pemerintah ,sehubungan dengan hal tersebut kemudian dibentuk partai- partai politik sebagai infrastruktur politik dan sebagai suprastruktur politik mereka diberi kursi di parlemen sebagai lembaga legislatif yang mempunya tugas mengawasi lembaga eksekutif dengan berbagai hak yang dimiliki oleh anggota yang mempunyai lembaga ini. Fungsi pengawasan politik yang dijalankan oleh lembaga legislatif angket,hak interpelasi,dan pemerintah. adalah , Hak

menyatakan pendapat dan hak meminta keterangan terhadap

2. Pengawasan Ekonomi. Pengawasan ekonomi meliputi pengawasan terhadap pengelolaan keuangan negara termasuk pengelolaan keuangan daerah oleh karena itu pengawasan ini dimulai: 1. Pengawasan penyusunan anggaran. 2. Pengawasan pelaksanaan anggaran . 3. Pengawasan perhitungan anggaran. Berdasarkan Peraturan pemerintah No. 39 Tahun 2007 tentang pengelolaan keuangan Negara / Daerah ,pengawasan keuangan dilakukan melalui mekanisme pertanggung jawaban keuangan yang dilakukan secara periodik dan berjenjang. 1. Pengendalian internal terhadap pengelolaan keuangan negara / daerah dilakukan oleh menteri/ pimpinan lembaga negara/ Gubernur / Bupati/ Wali kota / kepala satuan kerja. 2. Pengendalian fungsional terhadap pengelolaan keuangan negara / daerah dilakukan oleh aparat pengawas fungsional pusat/ daerah ( inspektorat daerah dan oleh BPK )

Hukum Tata Pemerintahan

14

3. Pengawasan Yudisial. Kekuasaan yudisial adalah kekuasaan yang terpisah dari eksekutif dan legislatif, di Indonesia kekuasaan yudisial ada pada Mahkamah Agung. Apa ada interpresi bahwa suatu peraturan perundang undangan pertentangan dengan peraturan perundang yang lebih tinggi, demikian pula apabila terjadi gugatan dari masyarakat terhadap pelaksanaan pemerintah yang dianggap tidak benar atau tidak sesuai hukum yang berlaku 4. Pengawasan Masyarakat Pelaksanaan kepentingan berbentuk: 1. Pengawasan langsung 2. Pengawasan pendapat. pengawasan oleh organisasi kemasyarakatan terutama golongan

A. PENGAWASAN TERHADAP PENYELENGGARAA PEMERINTAH DAERAH Pelaksanaan pengawasan terhadap penyelenggaraan di daerah berdasarkan pada peraturan pemerintah No.20 Tahun 2001 tentang pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintah daerah . Jenis pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah pusat terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah adalah : 1. Pengawasan Preventif Yaitu pengawasan yang dimaksudkan untuk mencegah agar pemerintah daerah tidak mengambil kebijakan yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang undangan yang berlaku dan bertentangan dengan kepentingan umum

2. Pengawasan Represif. Keputusan Menteri Dalam Negeri No.41 Tahun 2001 dimana pengawasan represif atas kebijakan daerah berupa produk hukum yang telah dikeluarkan oleh daerah yaitu: a. Produk- produk Kebijakan Daerah 1. Peraturan Daerah Provinsi 2. Keputusan Gubernur yang bersifat mengatur 3. Keputusan DPRD tentang tata tertib DPRD Provinsi. 4. Keputusan DPRD tentang kedudukan keuangan anggota DPRD. 5. Keputusan Pimpinan DPRD Provinsi.
Hukum Tata Pemerintahan 15

6. Peraturan Daerah Kabupaten / kota tentang pajak dan retribusi daerah

B. PROSEDUR DAN TATA CARA PELAKSANAAN PENGAWASAN. 1. Pengawasan Politik Dalam melaksanakan pengawasan politik DPRD dapat melakukan tindakan: a. Mengundang pejabat pejabat di lingkungan pemerintah daerah untuk dimintai keterangan ,pendapat dan sarang b. Menerima dan meminta dan mengusahakan untuk memperoleh keterangan dari pejabat atau pihak pihak terkait. c. Meminta pihak- pihak tertentu melakukan penyelidikan dan atau memeriksa. d. Memberi saran mengenai langkah-langkah preventif dan represif kepada pejabat yang berwenang.

2. Pengawasan oleh Masyarakat. Dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik (good governance ) dan juga pemerintahan yang bersih dari KKN kemudian pemerintah mengeluarkan PP No. 68 Tahun 1999 tentang tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan Negara ,dimana peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintah yang bersih ,peran serta masyarakat tersebut dalam bentuk: 1. Hak mencari, memperoleh dan memberikan informasi mengenai penyelenggaraan negara. 2. Hak untuk memperoleh layanan yang sama dan adil penyelenggaraan negara. 3. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab atas kebijakan penyelenggara negara. 4. Hak memperoleh perlindungan hukum

3. Pengawasan Peradilan Mahkamah Agung sebagai lembaga peradilan tertinggi menjalankan tiga fungsi yaitu, fungsi peradilan, fungsi administrasi , dan fungsi ketatanegaraan .Fungsi peradilan adalah fungsi mengadili atau menyelenggarakan peradilan yang terdiri atas: 1. Peradilan kasasi.
Hukum Tata Pemerintahan 16

2. Pengadilan sengketa antar lembaga peradilan. 3. Peradilan untuk meninjau kembali. 4. Peradilan untuk menguji materiil atas peraturan perundangan yaitu mahkamah konstitusi. Fungsi administratif : 1. Pengawasan . 2. Mengatur. 3. Administratif. 4. Pengawasan melalui Judicial Review Mahkamah Konstitusi dapat melakukan Judicial Review atas semua peraturan dan perundangan ,artinya MK dapat secara aktif menilai atau menguji peraturan perundangan yang bertentangan dengan peraturan perundangan lain.

5. Pengawasan melalui Pengadilan Tata Usaha Negara. Tindakan hukum yang dilakukan oleh pejabat negara yang dinilai tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dapat dibatalkan oleh PTUN, hal ini berkait dengan tugas, wewenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara.

6. Pengawasan terhadap Para Penyelenggara Negara dan Pegawai Negeri Sipil . Yang dimaksud dengan penyelenggara negara adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi eksekutif ,legislatif ataupun yudikatif dan pejabat lain yang berfungsi tugasnya berkaitan dengan penyelenggara negara sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku . Prosedur pengawasan terhadap penyelenggara negara dan PNS yang melakukan tindak pidana umum maupun khusus dilakukan seperti prosedur dan tata cara pemeriksaan terhadap anggota masyarakat lain yang disangka melakukan tindak pidana .

Hukum Tata Pemerintahan

17

MODUL 6 HUKUM KEPEGAWAIAN

KB 1. HAK DAN KEWAJIBAN PEGAWAI Hukum Kepegawaian adalah keseluruhan peraturan hukum yang mengatur segala hubungan antar pegawai dan pemerintah/negara serta segala kewajiban dan hak pegawai. Menurut pasal 1 dan 2 UU No. 8 Tahun 1974 jo UU No. 43 Tahun 1999 bahwa yang dimaksud dengan Pegawai Negeri adalah mereka yang telah memenuhi syarat syarat yang ditentukan dalam peraturan perundangan yang berlaku diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam suatu jabatan negeri dan diserahi tugas lainnya yang ditetapkan berdasarkan suatu peraturan perundangan undangan dan gaji menurut peraturan perundangan yang berlaku. Berdasarkan rumusan pasal 1 dan 2 di atas pegawai negeri terdiri atas : 1. Pegawai Negeri Sipil (Pegawai Negeri Sipil pusat, Pegawai Negeri Sipil Daerah, dan Pegawai Negeri Sipil lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah) 2. Anggota Angkatan Bersenjata RI Dalam UU Kepegawaian disebutkan kedudukan pegawai negeri adalah sebagai unsur aparatur negara abdi negara dan abdi masyarakat yang dengan penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, UUD 1945, Negara dan Pemerintah dalam menyelenggarakan tugas pemerintah dan pembangunan. Sedangkan arti kepegawaian adalah segala kegiatan yang menyangkut pengurusan mengenai hal kedudukan kewajiban, dan pembinaan Pegawai Negeri Sipil.

A. KEWAJIBAN PEGAWAI NEGERI Kewajiban pegawai negeri adalah segala sesuatu yang wajib dilakukan atau tidak dilakukan oleh pegawai berdasarkan peraturan perundang-undangan. Kewajiban kewajiban pegawai negeri ditetapkan sebagai berikut : 1. Wajib setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, UUD 1945, Negara dan pemerintah. 2. Wajib menaati segala peraturan perundangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab. 3. Wajib menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia jabatan kepada dan atas perintah pejabat yang wajib atas kuasa Undang undang.
Hukum Tata Pemerintahan 18

Untuk menjamin tata tertib dan kelancaran pelaksanaan tugas telah ditetapkan peraturan disiplin Pegawai Negeri yaitu Peraturan Pemerintah No. 30 tahun 1980 tentang peraturan disiplin Pegawai Negeri Sipil yang menetapkan kewajiban dan larangan bagi Pegawai Negeri Sipil. Disamping kewajiban yang ditetapkan dalam peraturan perundangan masih ada kewajiban lain yang mengikat Pegawai negeri seperti sikap dan tingkah laku yang jelek yang tidak boleh dilakukan dalam jabatan negeri maupun dalam masyarakat umum. Menurut sastra Dajtmika SH dan Drs. Marsono dalam buku hukum kepegawaian di Indonesia terdapat 2 kewajiban yang amat penting dan hendak lebih diperhatikan karena meskipun susah diketahui tetapi pada umumnya belum disadari betapa pentingnya kewajiban tersebut. Dua kewajiban itu adalah : 1. Bekerja untuk kepentingan umum 2. Menjalankan semua peraturan perundangan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan lembaga negara. B. HAK HAK PEGAWAI NEGERI Dalam hukum Kepegawaian disamping ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan bagi seorang pegawai negeri dan larangan untuk tidak berbuat sesuatu yang telah diuraikan di atas maka pada seorang pegawai negeri juga diberikan beberapa hak, yaitu : 1. Hak atas gaji yang layak sesuai dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya. 2. Hak atas kenaikan pangakat, dalam Peraturan Pemerintah No.3 Tahun 1980 mengenal beberapa macam Kenaikan pangkat PNS, yaitu : a. Kenaikan pangkat reguler b. Kenaikan pangkat pilihan c. Kenaikan pangkat istimewa d. Kenaikan pangkat pengabdian e. Kenaikan pangkat Anumerta f. Kenaikan pangkat dalam tugas belajar g. Kenaikan pangkat selama menjadi pejabat negara h. Kenaikan pangkat dalam penugasan i. Kenaikan pangkat selama menjalankan wajib meliter j. Sebagai penyesuaian ijazah
Hukum Tata Pemerintahan 19

k. Kenaikan pangkat lainnya 3. Hak cuti. Yang dimaksud cuti adalah keadaan tidak masuk kerja yang diizinkan dalam waktu tertentu. Jenis jenis cuti yang diberikan kepada PNS : a. Cuti tahunan b. Cuti besar c. Cuti Sakit d. Cuti Bersalin e. Cuti Karena alasan penting f. Cuti di luar tanggungan negara 4. Hak memperoleh perawatan di kala mengalami suatu kecelakaan karena menjalankan tugas kewajibannya 5. Hak memperoleh tunjangan saat menderita cacat jasmani atau rohani dalam menjalankan tugas kewajibannya 6. Hak memperoleh uang duka bagi keluarga dari PNS yang tewas 7. Hak atas pensiun

C. TANGGUNG JAWAB PEGAWAI NEGERI Menurut Siti Soetami terdapat 3 macam pertanggungjawaban pegawai negeri yaitu : 1. Pertanggung jawaban kepidanaan Dimana pelanggaran jabatan bukan diartikan sebagai pelanggaran atas peraturan jabatan melainkan berupa tindakan pidana seperti yang tersebut dalam KUHP Pidana. 2. Pertanggung jawaban keuangan keperdataan Tanggung jawab keuangan ini adalah tanggung jawab pegawai negeri atas kerugian yang dapat yang dapat dinilai dengan uang yang ditimbulkan olehnya dalam melakukan tugasnya baik kerugian itu pada pemerintah maupun pada pihak ketiga 3. Pertanggung jawaban disipliner atau administratif Adalah tanggung jawab pegawai yang tidak memenuhi kewajiban dalam dinas.

Pada tahun 1999 Pemerintah melakukan perubahan atas UU Kepegawaian yaitu dengan dikeluarkannya UU No 43 tahun 1999 tentang perubahan atas UU no 8 tahun 1974 tentang pokok pokok kepegawaian dengan tujuan strategiknya adalah menciptakan aparatur negara yang profesional netral dari kegiatan politik, bermoral yang tinggi,
Hukum Tata Pemerintahan 20

berwawasan global mendukung persatuan dan kesatuan bangsa dan negara serta memiliki tingkat kesejahteraan secara materiil dan spiritual. KB 2. SANKSI ATAS PELANGGARAN HUKUM PEGAWAI NEGERI Menurut PP No. 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil yang dimaksud dengan Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil adalah peraturan yang mengatur kewajiban, larangan dan sanksi apabila kewajiban tersebut tidak di taati atau larangan dilanggar oleh PNS. Oleh karena itu, setiap ucapan, tulisan atau perbuatan Pegawai Negeri Sipil yang melanggar ketentuan tentang kewajiban dan larangan adalah pelanggaran disiplin. a) Yang dimaksud dengan ucapan adalah setiap kata kata yang diucapkan dihadapan atau dapat didengar oleh orang lain seperti dalam rapat, ceramah, diskusi, radio dan lain lain. b) Tulisan adalah pernyataan pikiran dan atau perasaan secara tertulis baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk gambar, karikatur, coretan dan lain lain yang serupa dengan itu. c) Perbuatan adalah setiap tingkah laku, sikap atau tindakan. Hukuman disiplin dapat dibagi menurut tingkat dan jenis ,masing masing sesuai dengan sifat dan berat atau ringannya pelanggaran yang diperbuat serta akibat yang ditimbulkan atas pelanggaran tersebut.

Menurut tingkat hukuman disiplin terdiri atas : 1. Hukuman disiplin ringan : Teguran lisan, teguran tertulis dan pernyataan tidak puas secara tertulis. 2. Hukuman disiplin sedang : Penundaan kenaikan gaji berkala, penurunan gaji, penundaan kenaikan pangkat. 3. Hukuman disiplin berat : Penurunan pangkat pembebasan dari jabatan pemberhentian tidak atas permintaan sendiri dan pemberhentian tidak dengan hormat

Dalam PP No. 30 Tahun 1980 tentang disiplin Pegawai Negeri sipil ditetapkan bahwa kewajiban yang harus dilakukan, larangan untuk tidak melakukan perbuatan tertentu dan serta tingkat dan jenis hukuman yang dapat dijatuhkan apabila kewajiban dan larang itu tidak ditaati oleh Pegawai Negeri sipil.

Hukum Tata Pemerintahan

21

A. TATA CARA PENJATUHAN HUKUMAN 1. Teguran lisan 2. Teguran tertulis 3. Pernyataan tidak puas secara tertulis 4. Penundaan kenaikan gaji berkala (KGB) 5. Penurunan gaji 6. Penundaan kenaikan pangkat 7. Penurunan pangkat 8. Pembebasan jabatan 9. Pemberhentian dengan tidak hormat atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil 10. Pemberhentian dengan tidak hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil

B. PEMBERHENTIAN PEGAWAI NEGERI Disamping pemberhentian dengan tidak hormat sebagai pegawai negeri sipil dapat diberhentikan dengan hormat karena : 1. Permintaan sendiri 2. Telah mencapai batas usia pensiun 3. Adanya penyederhanaan organisasi pemerintah 4. Tidak cakap jasmani dan rohani sehingga tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai Pegawai Negeri sipil

PP No. 32 tahun 1979 mengatur tentang pemberhentian Pegawai Negeri sipil yaitu : 1. Pemberhentian atas permintaan sendiri 2. Pemberhentian karena mencapai batas usia pensiun 3. Pemberhentian karena penyederhanaan organisasi 4. Pemberhentian karena tidak cakap jasmani dan rohani 5. Pemberhentian karena meninggal dunia/hilang 6. Pemberhentian karena meninggalkan tugas 7. Pemberhentian karena hal hal lain

Hukum Tata Pemerintahan

22

Sengketa tata usaha negara tertentu yang secara administrative akan diselesaikan melalui badan atau pejabat tata usaha negara yang berwenang maka suatu sengketa kepegawaian tidak dapat dibawa di muka hakim jika sengketa tersebut belum diselesaikan melalui upaya administrative, Pengadilan akan berwenang memeriksa , memutuskan dan menyelesaikan sengketa jika seluruh upaya administrative telah digunakan. C. BERLAKUNYA KEPUTUSAN HUKUMAN DISIPLIN 1. Jenis hukuman disiplin ringan mulai berlaku sejak tanggal disampaikan 2. Keputusan hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh Menteri, Jaksa Agung, Pimpinan Lembaga Tinggi Negara, Pimpina Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah dimualai sejak tanggal disampaikan kepada PNS, kecuali untuk jenis hukuman pemberhentian 3. Hukuman pemberhentian berupa pembebasan dari jabatan berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan

D. KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL Dalam rangka mewujudkan aparatur yang bersih dan berwibawa maka dalam melaksanakan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari maka setiap PNS wajib bersikap dan berpedoman pada etika dalam bernegara, dalam menyelenggarakan pemerintahanan, dalam berorganisasi, dalam bermasyarakat serta diri sendiri dan sesama PNS yang diatur dalam PP No. 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil dan kode etik instansi tempat PNS tersebut bekerja.

E. PERADILAN KEPEGAWIAN Berdasarkan UU Kepegawaian dalam hal terjadi perselisihan antar pegawai negeri dapat diselesaikan melalui badan oeradilan yaitu Pengadilan Tata Usaha Negara. Namun suatu sengketa belum dapat di bawa ke PTUN jika sengketa tersebut belum diselesaikan melaui upaya administratif yang tersedia. Semua sengketa yang telah diselesaikan melalui seluruh upaya administratif dapat diajukan ke PTUN dan atas putusan PTUN tersebut dapat pula diajukan kasasi. Selain PTUN terdapat juga suatu lembaga yang menangani sengketa kepegawaian yaitu Badan Pertimbangan Kepegawaian yang berada dan langsung bertanggung jawab kepada Presiden.
Hukum Tata Pemerintahan 23