Anda di halaman 1dari 10

UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS FARMASI

MAKALAH
LUPUS ERITMATASUS

Oleh : Kelompok 7 Patology A 1. MUSTIKA 2. JUMRIATI 3. AULIA NILAWATI 4. JUMARNI 5. HENDRIANI PARAMITHA

MAKASSAR 2014

BAB I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Penyakit sistemik lupus eritmatasus (SLE) tampaknya terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan auto antibodi yang berlebihan, limfadenopati terjadi pada 50% dari seluruh pasien SLE pada waktu tertentu selama perjalanan penyakit tersebut. Sistemik lupus eritematosus (SLE) merupakan salah satu penyakit autoimun yang disebabkan oleh disregulasi sistim imunitas dan secara garis besar dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu endokrin-metabolik, lingkungan dan genetik.Gangguan renal juga terdapat pada sekitar 52% penderita SLE. Pada sebagian pasien, gangguan awal pada kulit dapat menjadi prekursor untuk terjadinya gangguan yang bersifat lebih sistemik. I.2. Rumusan Masalah 1. Apa defenisi sistemik lupus eritmatasus? 2. Apa etiologi dari sistemik lupus eritmatasus? 3. Bagaimana patofisiologi sistemik lupus eritmatasus? 4. Apa saja manifestasi klinik sistemik lupus eritmatasus? 5. Bagaimana pemeriksaan diagnostik untuk sistemik lupus eritmatasus? 6. Bagaimana penatalaksanaan untuk sistemik lupus eritmatasus? 7. Bagaimana konsep keperawatan sistemik lupus eritmatasus? I.3. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui defenisi sistemik lupus eritmatasus 2. Untuk mengetahui etiologi dari sistemik lupus eritmatasus 3. Untuk mengetahui patofisiologi sistemik lupus eritmatasus 4. Untuk mengetahui manifestasi klinik sistemik lupus eritmatasus 5. Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik untuk sistemik lupus eritmatasus
2

6. Untuk mengetahui penatalaksanaan untuk sistemik lupus eritmatasus 7. Untuk mengetahui konsep keperawatan sistemik lupus eritmatasus

I.4. Manfaat Penulisan a) Penulis mendapat kesempatan berlatih mengintegrasikan hasil bacaan dengan gagasan sendri, kemudian mengembangkannya menjadi pemikiran yang lebih matang. b) Meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta dan data secara jelas dan sistematis. c) Dengan menulis makalah ini, penulis akan merasakan

kepuasan intelektual, yaitu satu kepuasan yang berkaitan dengan kemampuan untuk menyajikan pengetahuan.

BAB II ISI

II.1 Etiologi

Belum diketahui dengan jelas , namun terdapat banyak bukti bahwa Sistemik lupus erythematosus (SLE) bersifat multifaktor, mencakup : a. Genetik b. Infeksi c. Lingkungan d. Stress e. Cahaya matahari f. Faktor Resiko : hormon; imunitas; obat

II.3. Patofisiologi Penyakit SLE tampaknya terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal dan lingkungan. Obat-obat tertentu hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan disamping makanan seperti kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE akibat senyawa kimia atau obat-obatan. Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya merangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali.

II.4. Manifestasi Klinis Keluhan utama dan pertama SLE adalah artralgia, dapat juga timbul artritis nonerosif pada dua atau lebih sendi perifer. Pasien mengeluh lemas, lesu dan capek sehingga menghalanginya beraktivitas. Demam pegal linu seluruh tubuh, nyeri otot dan penurunan BB-terdapat kelainan kulit spesifik berupa bercak malar menyerupai kupu-kupu dimuka dan eritema umum yang menonjol. Terdapat kelainan kulit menahun berupa bercak diskoid yang bermula sebagai eritema papul atau plak bersisik. Dapat pula terjadi kelaian darah berupa anemia hemoditik, kelainan ginjal, pneumonitis, kelainan jantung, gastrointestinal, gangguan saraf dan kelainan psikatrik. II.5 Penatalaksanaan Penanganan SLE mencakup penatalaksanaan penyakit akut dan kronik. Penyakit akut memerlukan intervensi yang ditujukan untuk mengendalikan peningkatan aktivitas penyakit atau eksaserbasi yang dapat meliputi setiap sistem organ. Penatalaksanaan keadaan yang lebih kronik meliputi pemantauan periodik dan pengenalan berbagai perubahan klinis yang bermakna yang memerlukan penyesuian terapi. Preparat NSAID digunakan untuk mengatasi manifestasi klinis minor dan kerapkali dipakai bersama kortikosteroid dalam upaya untuk meminimalkan kebutuhan kortikosteroid, kortikosteroid merupakan satu-satunya obat paling penting yang tersedia untuk pengobatan SLE. Preporat ini digunakan secara topikal untuk mengobati manifestasi kistaneus. Pemberian bolus IV dianggap sebagai terapi alternatif yang bisa menggantikan terapi oral dosis tinggi. Obat-obat antimalaria merupakan preparat yang efektif untuk mengatasi gejala kutaneus muskula skelatal dan sistemik ringan dari SLE. Preparat imunosupresan digunakan karena efeknya pada fungsi imun.

II.6 Pemeriksaan Diagnostik a. Pemeriksaan Antibodi Antinuklear Untuk mengetahui akan adanya antibodi yang mampu menghancurkan inti dari sel-sel tubuh sendiri. Mengevaluasi pola ANA dan antibodi spesifik. b. Laju Endap Darah Untuk mengukur peradangan dan tidak berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit. c. Pemeriksaan Urin Untuk mengetahui adanya protein, sel darah putih, sel darah merah dan silinder. Uji ini dilakukan untuk menentukan adanya komplikasi ginjal dan untuk memantau perkembangan penyakit ini. d. Pemeriksaan Serum Mengungkapkan anemia yang sedang hingga berat, trombositopenia, leukositosis dan leukopenia. II.7 Asuhan Keperawatan 1. PENGKAJIAN a. Inspeksi Kulit. b. Pengkajian kardiovaskuler mencakup auskultasi untuk mendengarkan friction rub perikardium. c. Pembengkakan sendi, nyeri tekan, sendi yang terasa hangat, nyeri saat digerakkan dan kaku semuanya.

d. Pengkajian neurologik, ditujukan untuk mengenali dan menjelaskan setiap permasalahan pada sistem saraf pusat. e. Tanda-tanda depresi, kejang-kejang. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Resiko tinggi terhadap cedera b.d peningkatan kerentanan dermal sekunder terhadap proses penyakit. b. Resiko tinggi inefektif penatalaksanaan regimen terapeutik b.d kurang pengetahuan tentang SLE. c. Gangguan citra tubuh b.d perubahan dan ketergantungan fisik serta psikologis yang diakibatkan oleh penyakit kronis. II.8 Intervensi keperawatan a. Nyeri akut kronis berhubungan dengan distensi jaringan oleh akumulasi cairan atau proses inflamasi destruksi sendi, kulit. Tujuan : Menunjukkan nyeri atau terkontrol. Intervensi : Catat faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tnda rasa sakit non verbal. Berikan matras tinggikan laken tempat tidur sesuai kebutuhan. Tingkatkan istirahat ditempat tidur sesuai indikasi. Hindari gerakan yang menyentak. Beri obat sebelum aktivitas yang direncanakan sesuai petunjuk

b. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan lesi pada kulit. Tujuan : agar tidak terjadi lesi pada kulit Intervensi : Kaji warna dan kedalaman lesi perhatikan adanya nekrotik dan jaringan perut Beri perawatan pada lesi.

Pertahankan penutupan lesi. Hindari trauma. Intruksikan kepada pasien untuk tidak menggaruk lesi.

c. Mobilitas fisik kerusakan berhubungan dengan defometas skeletal Tujuan : Mempertahankan fungsi dengan tidak hadirnya atau pembatasan kontraktor. Intervensi : Memantau tingkat inflamasi sakit pada sendi. Pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas. Gunakan bantal kecil atau tipis dibawah leher. Berikan matras busa atau pengubah tekanan. Berikan obat sesuai indikasi

BAB III PENUTUP

III.1. Kesimpulan Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan salah satu penyakit autoimun yang disebabkan oleh disregulasi sistim imunitas. SLE dapat menyerang berbagai sistem organ dan keparahannya berkisar dari sangat ringan sampai berat. Etiologi belum dipastikan, secara garis besar dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu endokrin-metabolik, lingkungan dan genetik. Pencetus fungsi imun abnormal mengakibatkan pembentukan antibodi yang ditujukan terhadap berbagai komponen tubuh. Tidak ada suatu tes laboratorium tunggal yang dapat memastikan diagnosis SLE. Masalah yang paling sering dirasakan pasien adalah keletihan, gangguan integritas kulit, gangguan citra tubuh dan kurang pengetahuan untuk mengambil keputusan mengenai penatalaksanaan mandiri.

III.2. Saran Penulis menyadari bahwa dalam penyusunanya, besar harapan kami kepada para pembaca untuk bisa memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun agar makalah ini menjadi lebih sempurna.

DAFTAR PUSTAKA o Carpenito, Lynda Juall.1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC o Ramali, Ahmad.2003. Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambatan o Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius. o Brunner, Suddarth.2001. Keperawatan Medikal Bedah Vol 3. Jakarta: EGC o Price, Sylvia. A. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC

10