Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM MANAJEMEN NYERI DAN PEMERIKSAAN SPESIMEN 1. Manajemen Nyeri a.

Definisi Asosiasi Internasional untuk Penelitian Nyeri (1979) mendefinisikan nyeri sebagai suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial yang dirasakan dalam kejadian dimana terjadi kerusakan. Mahon (1994) memaparkan bahwa nyeri dapat memiliki sifat yang mendominasi yang mengganggu kemampuan individu berhubungan dengan orang lain dalam merawat diri sendiri. Meinhart dan McCaffery (1983) mendeskripsikan tiga fase pengalaman nyeri. Pertama, fase antisipasi yang terjadi sebelum seseorang mempersepsikan nyeri. Fase ini memungkinkan individu untuk belajar tentang nyeri dan upaya untuk menghilangkannya. Kedua, sensasi nyeri yang berhubungan dengan kemampuan toleransi pada nyeri. Klien yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap nyeri mampu menahan nyeri tanpa bantuan. Ketiga, fase akibat yang terjadi ketika nyeri telah berkurang. Gil K. dalam Anesthesiol Report 2 (1990) memaparkan sembilan faktor yang dapat mempengaruhi respon klien terhadap nyeri, antara lain: usia, jenis kelamin, kebudayaan, makna nyeri, perhatian, ansietas, pengalaman sebelumnya, gaya koping, dan dukungan keluarga dan sosial. b. Penatalaksanaan Nyeri 1) Penatalaksanaan Nyeri secara Farmakologi Penatalaksanaan nyeri secara farmakologi melibatkan penggunaan opiat (narkotik), nonopiat/obat AINS (anti inflamasi nonsteroid), obat-obat adjuvans atau koanalgesik. Analgesik opiat mencakup derrivat opium seperti morfin dan kodein. Narkotik meredakan nyeri dan memberikan perasaan euforia. Ketika memberikan analgesik apapun, perawat harus meninjau efek sampingnya. Semua opiat menimbulkan sedikit rasa kantuk pada awalnya ketika pertama kali diberikan, tetapi dengan pemberian yang teratur, efek samping ini cenderung menurun. Opiat juga menyebabkan mual, muntah, konstipasi, dan depresi pernapasan serta harus digunakan secara hati-hati pada klien yang mengalami gangguan pernapasan. Opiat dapat diberikan melalui berbagai rute seperti oral, nasal, transdermal, rektum, subkutan, intramuskular, intravena dan intraspinal. Nonopiat (analgesik non-narkotik) termasuk obat AINS seperti aspirin dan ibuprofen. Nonopiat mengurangi nyeri dengan cara bekerja di ujung saraf perifer pada daerah luka dan menurunkan tingkat mediator inflamasi yang dihasilkan di daerah luka. Penatalaksanaan farmakologi nyeri ringan hingga sedang harus dimulai dengan obat AINS, kecuali ada kontraindikasi khusus (U.S. Department of Health ang Human Services, 1992a, p. 16). Analgesik adjuvans adalah obat yang dikembangkan untuk tujuan selain penghilang nyeri tetapi obat ini dapat mengurangi nyeri kronis tipe tertentu selain melakukan kerja primernya. Sedatif ringan atau obat ini dapat mengurangi nyeri

kronis tipe tertentu selain melakukan kerja primernya. Sedatif ringan atau obat penenang, sebagai contoh, dapat membantu mengurangi spasme otot yang menyakitkan, kecemasan, stres, dan ketegangan sehinggaklien dapat tidur nyenyak di hari. Antidepresan digunakan untuk mengatasi depresi dan gangguan alam perasaan yang mendasarinya, tetapi dapat juga menguatkan strategi nyeri lainnya. 2) Penatalaksanaan Nyeri secara Nonfarmakologi Strategi penatalaksanaan nyeri secara fisik Penatalaksanaan nyeri secara nonfarmakologi terdiri dari berbagai strategi pentalaksanaan nyeri secara fisik dan kognitif-perilaku. Intervensi fisik meliputi stimulasi kutaneus, imobilisasi, stimulasi saraf elektrik transkutaneus (SSET), dan akupuntur. Stimulasi Saraf Elektrik Transkutaneus (SSET) SSET adalah metode yang menggunakan stimulasi listrik voltase rendah secara langsung di area nyeri yang teridentifikasi, pada titik akupresur, sepanjang area saraf perifer yang mempersarafi area nyeri tersebut, atau sepanjang kolom spinal. Unit SSET terdiri dari alat portabel yang menggunakan baterai dengan kabel timah dan bantalan elektroda ditempelkan pada area kulit yang dipilih. Tujuan dari penggunaan unit SSET yaitu: (1) mengurangi nyeri kronis dan akut, (2) menurunkan kebutuhan opiat dan kemungkina ndepresi fungsi pernapasan karena penggunaan narkotik dan (3) memfasilitasi keterlibatan klien dalam penatalaksanaan pengendalian nyeri. Intervensi fisik nonfarmakologi Intervensi fisik Teknik stimulasi kutaneus uraian Dapat meredakan nyeri sementara secara efektif. Teknik ini mendistraksi klien dan memfokuskan perhatian pada stimulus taktil, jauh dari sensasi yang menyakitkan, sehingga mengurangi persepsi nyeri Suatu tindakan yang nyaman sehingga dapat membantu relaksasi, menurunkan ketegangan otot, dan dapat menurunkan kecemasan Mandi hangat, bantalan pemanas, kantong es, masase es, kompres panas atau gingin, dan rendam jongkok hangat atau dingin secara umum dapat meredakan nyeri dan meningkatkan pemulihan area yang cedera Suatu bentuk penyembuhan dengan ahli terapi menekan harinya pada area spesifik. Enam ratus lima puluh tujuh titik dapat dimasase menurut teori yang mendasari akupresur. Titik-titik tersebut sama dengan titik yang digunakan dalam akupuntur dalam masase shiatsu Tindakan menstimulasi kulit pada area yang berlawanan dengan area nyeri (misal, menstimulasi lutut kiri jika nyerinya pada lutut kanan). Area kontralateral mungkin saja digaruk karena gatal, dimasase karena kram, atau diberi kompres dengan kemasan dingin atau salep analgesik. Metode ini

masase

kompres panas dan dingin

akupresur

stimulasi kontralateral

Imobilisasi

berguana ketika area yang nyeri tidak dapat disentuh karena hipertensif, menggunakan perban atau gips, atau ketika nyeri dirasakan pada bagian tubuh yang sudah tidak ada lagi (nyeri phantom) Imobilisasi atau pembatasan gerak bagian tubuh yang sakit dapat membantu mengatasi nyeri akut. Belat atau alat penyangga harus dapat menahan sendi pada posisi fungsi yang optimal dan harus dilepas secara teratur untuk memberikan latihan rentang pergerakan sendi

c. Prosedur 1. Lakukan pengkajian yang komprehensif tentang nyeri, termasuk lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, atau beratnya nyeri dan faktor presipitasi 2. Amati perlakuan non verbal yang menunjukkan ketidaknyamanan, khususnya ketidakmampuan komunikasi efektif. 3. Pastikan pasien menerima analgesik yang tepat (apabila ada) 4. Gunakan strategi komunikasi terapeutik yang dapat diterima tentang pengalaman nyeri dan merasa menerima respon pasien terhadap nyeri. 5. Identifikasi dampak pengalaman nyeri terhadap kualitas hidup. 6. Evaluasi pasca mengalami nyeri termasuk riwayat individu dan keluarga mengalami nyeri kronik atau yang menimbulkan ketidakmampuan. 7. Evaluasi bersama klien tentang efektivitas pengukuran kontrol paska nyeri yang dapat digunakan. 8. Bantu pasien dan keluarga untuk memperoleh dukungan 9. Bersama keluarga mengidentifikasi kebutuhan untuk mengkaji kenyamanan pasien dan merencanakan monitoring tindakan 10. Beri informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama berakhir, antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur 11. Ajarkan kepada pasien untuk mengontrol faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien mengalami ketidaknyamanan (misal: temperature ruangan, cahaya, kebisingan) 12. Mengajarkan pada pasien bagaimana mengurangi atau menghilangkan faktor yang menjadi presipitasi atau meningkatkan pengalaman nyeri (misal: ketakutan, kelemahan, monoton, dan rendahnya pengetahuan) 13. Pilih dan implementasikan berbagai pengukuran (misal: farmakologi, nonfarmakologi, dan interpersonal) untuk memfasilitasi penurun nyeri 14. Mengajarkan kepada pasien untuk mempertimbangkan jenis dan sumber nyeri ketika memilih strategi penurun nyeri 15. Anjurkan pasien untuk memantau nyerinya sendiri dan intervensi segera 16. Ajarkan teknik penggunaan nonfarmakologi (misal: biofeedback, TENS, hypnosis, relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas, acupressure, terapi dingin/panas, dan pijatan) 17. Jelaskan tentang penggunaan analgetik untuk penurun nyeri yang optimal 18. Gunakan pengukuran control nyeri sebelum nyeri meningkat

19. Lakukan verifikasi tingkat ketidaknyamanan dengan pasien, catat perubahan pada rekam medik. 20. Evaluasi keefektifan pengukuran kontrol nyeri yang dilakukan dengan pengkajian terus-menerus terhadap pengalaman nyeri 21. Modifikasi pengukuran kontrol nyeri pada respon pasien 22. Dorong istirahat yang adekuat/tidur untuk memfasilitasi penurunan nyeri 23. Anjurkan pasien untuk mendiskusikan pengalaman nyeri, sesuai keperluan 24. Beri informasi yang akurat untuk mendukung pengetahuan keluarga dan respon untuk pengalaman nyeri 25. Melibatkan keluarga dalam modalitas penurun nyeri, jika mungkin 26. Pantau kepuasan pasien dengan manajemen nyeri pada rentang spesifik 2. Pemeriksaan Spesimen Urin a. Jenis dan tujuan 1. Bilirubin Pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi penyakit obstruksi saluran empedu, penyakit hepar, kanker hepar. Cara pemeriksaan: a. gunakan Ictotet b. teteskan urin 5 tetes c. masukkan tablet dan tambahkan 2 tetes air d. hasil positif jika warna biru atau ungu e. bila merah berarti hasilnya negatif 2. Asam urat Pemeriksaan asam urat bertujuan untuk mendeteksi berbagai kelainan penyakit ginjal, eklamsia, keracunan timah hitam, leukemia dengan diet tinggi purin, kolitis dan ulserativa. 3. Pemeriksaan lain, seperti urobilinogen untuk menentukan kadar kerusakan hepar, penyakit hemolitik dan infeksi berat. Pemeriksaan urinalisis seperti berat jenis urin, kadar glukosa, keton dan lain-lain. Pemeriksaan kadar protein dalam urin untuk menentukan kadar kerusakan glomerulus. Jenis sampel urin: Urine sewaktu/urine acak (random): Urine sewaktu adalah urine yang dikeluarkan setiap saat dan tidak ditentukan secara khusus. Mungkin sampel encer, isotonik, atau hipertonik dan mungkin mengandung sel darah putih, bakteri, dan epitel skuamosa sebagai kontaminan. Jenis sampel ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin tanpa pendapat khusus. Urine pagi: Pengumpulan sampel pada pagi hari setelah bangun tidur, dilakukan sebelum makan atau menelan cairan apapun. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsur-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan. Urine pagi baik untuk pemeriksaan sedimen dan pemeriksaan rutin serta tes kehamilan berdasarkan adanya HCG (human chorionic gonadothropin) dalam urine. Urine tampung 24 jam: Urine tampung 24 jam adalah urine yang dikeluarkan selama 24 jam terus-menerus dan dikumpulkan dalam satu wadah. Urine jenis ini

biasanya digunakan untuk analisa kuantitatif suatu zat dalam urine, misalnya ureum, kreatinin, natrium, dsb. Urine dikumpulkan dalam suatu botol besar bervolume 1.5 liter dan biasanya dibubuhi bahan pengawet, misalnya toluene. b. Alat dan bahan 1. Sarung tangan 2. botol penampung urin c. Prosedur Pengambilan sampel urin mid stream pada anak perempuan: Untuk sampel yang terpercaya, urin sebaiknya berada di kandung kemih paling lama 4 jam. Jangan membuka wadah penampung spesimen. Perawat menerima kontainer dan tabung vakum untuk tempat sampel urin yang akan diperiksa di lab.

Cuci tangan dan gunakan sarung tangan. Tidak lupa sebelumnya jelaskan prosedur yang akan dilakukan pada orang tua dan untuk anak yang sudah mulai mengerti

Regangkan/buka labia menggunakan jari

bersihkan area luar genital dengan air mengalir

keringkan menggunakan tisu/handuk dari arah depan ke belakang

buka tutup wadah/kontainer penampung urin. Biarkan anak BAK di toilet

pindahkan kontainer untuk menampung urin tengah (mid stream urine) dan isi sekitar 2/3 kontainer. Hindari menyentuh area dalam kontainer

pindahkan kontainer dan biarkan anak mengakhiri BAK-nya secara normal di toilet

Untuk anak laki-laki: pegang penis dengan satu tangan dan bersihkan ujung penis dengan gerakan memutar dari arah tengah keluar dan menggunakan swab antiseptik bersihkan daerah tersebut dengan air steril dan keringkan dengan bola kapas setelah klien mulai mengeluarkan aliran urin, letakan wadah pengumpul di bawah aliran urin dan kumpulkan 30 60 ml tutup kontainer. Buka label yang terdapat pada tutupnya. Jangan menyentuh jarum yang terdapat pada tutup kontainer. Pada permukaan datar dan keras, tekan setiap tabung dengan bagian penutupnya (stopper) terlebih dulu ke jarum hingga urin masuk ke dalam tabung. Isi setiap tabung yang telah disediakan. kocok tabung ke atas dan ke bawah sebanyak 6 kali. Kemudian bawa segera ke laboratorium untuk diperiksa 11. catat tanggal pengambilan dan beri label. Contoh label yang harus diisi:

12. buka sarung tangan 13. cuci tangan 3. Pengambilan Spesimen Feses Pemeriksaan dengan menggunakan spesimen feses bertujuan untuk mendeteksi adanya kuman, seperti kelompok salmonela, sigela, E. Coli, dan stafilokokus.

Pemeriksaan feses dilakukan untuk: a. melihat ada tidaknya darah. Pemeriksaan ini menggunakan kertas tes Guaiac b. analisa produk diet dan sekresi saluran cerna. Bila feses mengandung banyak lemak (disebut: steatorrhea), kemungkinan ada masalah dalam penyerapan lemak di usus halus. Bila ditemukan kadar empedu rendah, kemungkinan terjadi obstruksi pada hati dan kandung empedu c. mendeteksi telur cacing dan parasit. Untuk pemeriksaan ini dilakukan tiga hari berturut-turut d. mendeteksi virus dan bakteri. Untuk pemeriksaan ini diperlukan jumlah feses sedikit untuk dikultur. Pengambilan perlu hati-hati agar tidak terkontaminasi. Pada lembar pengantar perlu dituliskan antibiotik yang telah dikonsumsi Sebelum pengambilan spesimen, perawat perlu mengingatkan klien akan hal-hal berikut: a. defekasi pada bedpan yang bersih b. bila memungkinkan, spesimen tidak terkontaminasi dengan urin atau darah menstruasi c. jangan meletakan tisue pembersih pada bedpan setelah defekasi karena dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan Alat dan bahan 1. sarung tangan 2. 10 % formalin kontainer 3. spatel steril 4. penampung feses (kontainer PVA) 5. pispot (toilet hat) 6. 2 label dengan rincian: nama anak, tanggal lahir, dan tanggal serta waktu pengambilan spesimen 7. Plastic bag Untuk diperhatikan: cairan yang ada di dalam botol untuk penyimpanan spesimen feses adalah bahan beracun dan harus disimpan jauh dari jangkauan anak-anak Prosedur a. Bayi (infant): segera setelah bayi BAB, ambil spesimen feses dari popoknya b. Toddler: jika anak toddler sudah dapat melakukan toilet training, kumpulkan fesesnya dari kursi toilet (potty chair). Jangan biarkan urin bercampur dengan spesimen feses. Anjurkan anak BAK terlebih dahulu untuk mengosongkan kandung kemihnya. Jika anak tidak terlatih untuk BAB/BAK di toilet, kumpulkan feses dari popoknya atau celana latihan (training pants) yang digunakannya c. Older child: Ketika anak sudah siap untuk memiliki gerakan usus, letakkan "toilet hat untuk mengumpulkan feses. Angkat toilet duduk, letakkan "toilet hat" lebih rendah kursi. Jangan biarkan urin ke kontak spesimen. Jangan mengumpulkan spesimen dari mangkuk toilet. 1. cuci tangan 2. gunakan sarung tangan 3. jelaskan prosedur yang akan dilakukan

4. 5. 6. 7.

tampung bahan dengan menggunakan spatel steril tempatkan ke dalam wadah steril dan ditutup rapat feses jangan tercampur dengan urin banyak anak-anak dengan diare, terutama anak-anak usia muda, tidak selalu dapat memberitahukan orang tua sebelumnya kapan mereka ingin BAB. Jadi tutup plastik berbentuk topi digunakan untuk mengumpulkan spesimen feses. Perangkat ini dapat dengan cepat ditempatkan di atas mangkuk toilet, atau di bawah bokong anak, untuk mengumpulkan sampel. Menggunakan perangkat penangkapan dapat mencegah kontaminasi feses dengan air dan kotoran. Cara lain untuk mengumpulkan sampel feses adalah menggunakan tempat bungkus plastik di atas kursi toilet. Kemudian tempatkan sampel feses dalam kontainer yang telah disediakan sebelum membawanya ke laboratorium. Anak tidak harus buang air kecil ke dalam wadah dan, jika mungkin, harus mengosongkan kandung kemihnya sebelum buang air besar sehingga sampel feses tidak diencerkan oleh urin. Untuk hasil terbaik, feses harus berada dalam suhu ruangan dan segera dibawa ke laboratorium maksimal 48 jam setelah sampel diambil. 8. jangan berikan barium atau minyak mineral yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri 9. catat tanggal pengambilan dan identitas klien, beri label pada wadah 10. buka sarung tangan 11. cuci tangan

Referensi Berman, A., Snyder, S.J., Kozier, B. & Glenora Erb. (2009). Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis edisi 5. Jakarta: EGC. Betz, C. L. & Sowden, L. A. (2009). Buku saku keperawatan pediatri, edisi kelima. (Alih bahasa: Eny, M.). Jakarta: EGC. Bowden, V. R. & Greenberg, C. S. (2008). Pediatric Nursing Procedures. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Hidayat, A. A. (2007). Buku saku praktikum keperawatan anak. Jakarta: EGC. Potter, P.A., dan Perry, A.G. (2006). Fundamental of Nursing: Concepts, Process, and Practice. 4th Ed. (Terj. Renata Komalasari, dkk.). Jakarta: EGC. Suwandono. (2012). Prosedur Tetap Manajemen Nyeri. RSU Banyumas.