Anda di halaman 1dari 9

LINGUISTIK UMUM NAMA NPM JUDUL :NETTI :10070055 : A. KOMPOSISI B. PEMENDEKAN C.

MORFOFONEMIK KOMPOSISI Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun yang terikat, sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru. Komposisi terdapat dalam banyak bahasa. Misalnya: lalu lintas, daya saing, dan rumah sakit dalam bahasa Indonesia; akhirulkalam, malaikatmaut, dan hajarucaswa dalam bahasa arab; dan bicboard, bluebird, dan grcenhouse dalam bahasa inggris. Dalam bahasa Indonesia proses komposisi ini sangat produktif. al ini dapat dipahami karena dalam perkembangannya bahasa Indonesia banyak sekali memerlukan kosa kata untuk menampung konsep!konsep yang belum ada kosa katanya atau istilahnya dalam bahasa Indonesia. "mpamanya, untuk konsep #sapi kecil$ atau #sapi yang belum dewasa$ disebut anak sapi, yakni hasil penggabungan kata anak dan sapi, padahaldalam bahasa lain ada pedet %bahasa jawa& dan ada bull %bahasa inggris&. 'roduktifnya proses komposisi itu dalam bahasa Indonesia menimbulkan berbagai masalah dan berbagai pendapat karena komposisi itu memilki jenis dan makna yang berbeda!beda. Kata mejemuk di dalam bahasa Indonesia sejak dulu sampai sekarang belum pernah terselesaikan dalam arti sampai kini pendapat tentang konsep masih simpang siur yang mengundang banyak perdebatan. (inguistik kelompok lain, ada juga yang menyatakan sebuah komposis adalah kata majemuk kalau identitas leksikal komposisi itu sudah berubah dari identitas leksikal unsur!unsurnya.

PEMENDEKAN 'emendekan adalah proses penaggalan bagian!bagian leksem atau gabungan leksem sehingga menjadi sebuah bentuk singkat, tetapi maknanya tetap sama dengan makna bentuk utuhnya. Dalam berbagai kepustakaan, hasil proses pemendekan ini biasanya dibedakan atas penggalan, singkatan dak akronim. )ang dimaksud dengan singkatan adalah hasil proses pemendekan , yang antara lain berupa: a& Misalnya: (. %(iter&, * %radius&, b& Misalnya: lm %halamn&, dng %dengan&, rhs %rahasia&, dan bhs %bahasa&. ,kronim adalah hasil pemendekan yang berupa kali atau dapat dilapalkan sebagai kata. Dalam bahasa Indonesia pemendekan ini menjadi sangat produktif adalah karena bahasa Indonesia seringkali tidak mempunyai kata un tuk menyatakan suatu konsep yang agak pelik atau sangat pelik. . %haji&, Kg %kilogram&, KM %kilometer&, D'* %Dewan 'erwakilan *akyat&, dan "I %"ni+ersitas Indonesia&. 'engekalan beberapa huruf dari sebuah leksem. 'engekalan huruf awal dari sebuah leksem atau huruf!huruf awal dari gabungan leksem.

MORFOFONEMIK Morfofonemik disebut juga morfonemik, morfofonologi atau morfonologi, atau peristiwa berubahnya wujud morfenis dalam suatu proses morfologi baik afiksasi, reduplikasi maupun komposisi. 'erubahan fonem dalam proses morfofonemik ini dapat berwujud: %-& pemunculan fonem, %.& pelepasan fonem, %/& peluruhan fonem, %0& perubahan fonem, dan %1& pergeseran fonem. %0-& 2ejarah 3 wan sejaraawan ,nak 3 !nda ananda 4er 3 renang berenang 2eperti tanpa dari namanya, yang merupakan gabungan dari dua bidang studi yaitu morfologi dan fonelogi, atau morfologi dan fonologi, atau morfologi dan fonemik, bidang kajian morfologi atau morfofonemik ini meskipun biasanya dibahas dalam tataran morfologi, tetapi sebenarnya lebih banyak menyyangkut masalah fonologi.

LINGUISTIK UMUM NAMA NPM JUDUL : RINA SANTIANI : 10070070 : A. MAKNA REFERENSI DAN NON REFERNSIAL B. MAKNA DENOTATIF DAN MAKNA KONOTATIF

RINGKASAN MATERI A. MAKNA REFERENSI DAN NON REFERNSIAL 2ebuah kata atau leksem disebut bermakna referensial kalau ada refernsinya tau acuannya. Kata!kata seperti kuda, merah dan gambar adalah termasuk kata! kata yang bermakna refernsial karena ada acuanya dalam dunia nyata. 2ebaliknya kata!kata seperti dan, atau, dan karena adalsh termasuk kata!kata yang tidak bermakna referensial, Karena kata!kata itu tidak mempunyai referens. 4erkenaan dengan acuan ini ada sejumlah kata yang disebut kata!kata deiktik, yang acuannya tidak menetap pada suatu maujud melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain. B. MAKNA DENOTATIF DAN MAKNA KONOTATIF Makna Denotatif adalah makna asli, makna asal atau m akna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Kalau makna Denotatif mengacu pada makna asli atau makna sebenarnya dari sebuah kata atau leksem maka makna Konotatif adalah makna lain yang #ditambahkan$ pada makna denotatif tadi yang berhubungan degan nilai rasa dari orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. 4erkenaan dengan masalah konotasi ini, satu hal yang harus anda ingat adalah bahwa konotasi sebuah kata bias berbeda antara seorang dengan orang lain, antara satu daerah dengan daerah lain.

LINGUISTIK UMUM NAMA NPM JUDUL : LESTARI SOPHIA SIREGAR : 10070042 : PERUBAHAN FONEM

RINGKASAN MATERI PERUBAHAN FONEM 'erubahan yang terjadi pada kasus fonem 5o5 bahasa Indonesia itu besifat fonetis, tidak mengubah fonem 5o5 menjadi fonem lain. 1. Asi i!"si asimilasi adalah peristiwa berubahnya bunyi manjadi bunyi yang lain sebagai akibat dari bunyi yang ada di lingkungannya, sehingga bunyi itu menjadi sama atau mempunyai cirri!ciri yang sama dengan bunyi yang mempengaruhinya. 6ontohnya: %sabtu& dalam bahasa Indonesia la7im diungkapkan saptu&, dimana %4& diubah menjadi %'& sebagai akibat pengaruh bunyi %t& 2. Disi i!"si Disimilasi adalah peristiwa berubahnya itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berubah itu menyebabkan dua buah fonem yang sama menjadi berbeda atau berlainan. 6ontoh dalam bahasa Indonesia adalah kata %cipta& menjadi %cinta& yang berasal dari bahasa sansekerta %citta&. ,da yang menyatakan juga bahwa disimilasi adalah perubahan bunyi dua bunyi yang atau mirip menjadi bunyi yang tidak sama atau berbeda -. kata bahasa Indonesia belajar 8balajar9 dari penggabungan pretiks ber 8bar9 dan bentuk dasar ajar 8ajar9. :etapi mestinya kalau tidak ada perubahan menjadi belajar 8barajar9. :etapi karena ada dua bunyi 8r9, maka 8r9 yang pertama diperbedakan atau didisimilasikan menjadi 8L9 sehingga menjadi 8balajar9. Karena perubahan tersebut sudah menembus batas fonem, yaiut 8r9 merupakan alofon dari

fonem 5r5 dan 8-9 merupakan alofon dari fonem 5-5, maka disebut disimilasi fonemis. #. K$%&'"(si Kontaksi adalah mengurai atau memendekkan dimana bunyi itu panjang seperti tidak tahu menjadi mudah tahu. Dalam percakapan yang cepat atau dalam situasi yang informal seringkali penutur mengikat atau memperpendek ujarannya. "mpamanya, dalam bahasa Indonesia ungkapan tidak tahu diucapkan menjadi ndak tahu; "ngkapan yang itu tadi menjadi yang tutadi;. Dalam bahasa Inggris kita jumpai bentuk shallnot menjadi ahan;t; bentuk will not menjadi won;t; bentuk are not menjadi aren;t; dan bentuk it is menjadi it;s. dalam bahasa ,rab bentuk 8kayfa haluka9 diucapkan menjadi 8kayfa haluk9 atau 8keif hal9. Dalam pemendekan seperti ini, yang dapat berupa hilangnya sebuah fonem atau lebih, ada yang berupa kontraksi. Dalam kontraksi pemendekan itu menjadi sati segmen dengan pelafalannya sendiri!sendiri. Misalnya, shall nt yang menjadi shan;t, dimana fonem 5e5 dari shall diubah menjadi 5a5 dalam shan;t.

LINGUISTIK UMUM NAMA NPM JUDUL : PITRA SITOMPUL : 100700)# : INTONASI KALIMAT

RINGKASAN MATERI A. NADA <ada atau 'itch berkenaan dengan tinggi rendahnya suatu bunyi. 4ila suatu bunyi segmental diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, tentu akan disertai dengan nada yang tinggi. 2ebaliknya, kalau diucapkan dengan frekuensi getaran yang rendah, tentu disertai juga dengan nada rendah. Dalambahasa total seperti bahasa :hai dan bahasa =ietnam, nada bersifat fonemis, artinya dapat membedakan makna kata, dalam bahasa total, biasanya di kenal adanya lima macam nada, yaitu: a. nada naik atau meninggi yang biasanya di beri tanda garis ke atas %5&. b. <ada datar yang biasanya diberi tanda garis lurus mendatar %!& c. <ada turun naik yakni nada merendah lalu meninggi biasanya diberi tan garis %& d. <ada turun naik yaitu yang meninggi lalu merendah biasanya diberi tan garis %& 2ama halnya dengan tekanan, dan bahasa Indonesia nada juga tidak #bekerja$ pada tingkat fonemis, melainkan #bekerja$ pada tingkat sintaksis, karena dapat membedakan makna kalimat. =ariasi nada yang menyertai undur segmuntai dalam kalimat disebut intonasi, biasanya di bedakan menjadi empat, yaiut: a. <ada rendah, di tandai dengan angka b. <ada sedang, di tandai dengan angka . c. <ada tinggi, di tandai dengan angka / d. <ada sangat tinggi, di tandai dengan angka 0 2elain itu intonasi tentu yang diberikan pada akhir klausa dapat menentukan modus kalimat %lebih jauh lihat alim ->?0 dan 6haer .@@?&.

B. JEDA Aeda atau persendian berkenaan dengan hentian bunyia dalam arus ujaran. Disebut jeda karena adanya hentian itu, dan disebut persendian karena ditempat perhentian itulah terjadinya persambungan antara segmen ujaran. Aeda ini dapat bersifat penuh atau bersifat sementara. 4iasanya dibedakan adanya sendi dalam %internal juncture& dan sendi luar %open juncture&. 2endi dengan menunjukkan batas antara satu symbol dengan yang lain, sendi dalam ini yang menjadi batas slabel biasanya di tandai dengan tanda %3&, contoh: 8am 3 bil9 8lak 3 sa 3 na9 8ke 3 le 3 la 3 war9 2andi luar menunjukkan batas yang lebih besar dan slabel. Dalam hal ini biasanya dibedakan adanya: a. Aeda antar kata dalam frase, ditandai dengan garis miring tunggal %5& b. Aeda antar frase dalam klausa, ditandai dengan garis miring gand %55& c. Aeda antar kalimat dalam wacana5paragraf, ditandai dengan garis silang ganda %B& :ekanan dan jeda dalam bahasa Indonesia sangat penting karena tekanan dan jeda itu dapat mengubah makna kalimat, contoh: B buku 55 sejarah 5 baru B B buku 5 sejarah 55 baru B Kalimat pertama bermakna Cbuku mengenai sejarah baru; 2edangkan kalimat kedua bermakna Cbuku baru mengenai sejarah; C. TEMPO Dalam bab fonologi dan morfologi juga telah dibicarakan tentang intonasi yang dapat berwujud tekanan, nada, dan tempo. 'ada pembicaraan fonologi telah kita lihat bahwa tekanan nada atau tempo itu dapat bersifat fonemis pada bahasa!bahsa

tertentu. ,rtinya, ketiga nsur suprasegmental itu dapat membedakan makna kata karena berlaku sebagai fonem. Dalam bahasa Indonesia tampaknya intonasi ini %yang berupa tekanan, nasa atau tempo& tidak berlaku pada tataran fonologi dan morfologi. Melainkan hanya berlaku pada tataran sintaksis. 2ebuah kalusa yang sama. ,rtinya terdiri dari unsur segmental yang sama. Dapat menjadi kalimat deklaratif atau kalimat interogatif hanya dengan mengubah intonasinya. D. TEKANAN :ekanan atau stress menyangkut masalah keras lemahnya bunyi. 2uatu bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang kuat sehingga menyebabkan amplitudonya melebar, pasti dibarengi dengan tekanan keras. 2ebaliknya, sebuah bunyi segmental yang diucapkan dengan arus udara yang tidak kuat. 2ehingga amplitudonya menyempit pasti dibarengi dengan tekanan llunak. :ekanan ini mungkinterjadi secara tradisi, mungkin juga telah berpola, mungkin juga bersofat distingtip, artinya dapat membedakan makna, tapi mungkin juga tidak distingtif. Dalam bahada Indonesia tekanan tidak #berpran$ pada tingkat fonemis, melainkan berpran pada tingkat sintaksis, karena dapat membedakan makna kalimat.

Anda mungkin juga menyukai