Anda di halaman 1dari 22

Pemeriksaan Tumbuh Kembang Anak

Andry Susanto Mahasiswa Fakultas Kedokteran Tahun 2012 Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta 10.2012.371 Kelompok E6 Email: andry_ssss@yahoo.com
============================================================

Abstrak Penanganan pasien dewasa dan anak itu sangat berbeda , mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan terapi pada pasien anak ( khususnya bayi & balita ) selain keluhan penyakit perlu ditekankan pada tumbuh kembangnya. Secara alloanamnesis harus didapatkan data lengkap dari anak tersebut. Pemeriksaan fisik dibagi menjadi pemeriksaan fisik untuk bayi dan balita, dimana salah satu tahapannya adalah antropometri, yaitu peniaian tumbuh kembang anak secara fisik. Diperlukan juga terapiberupa imunisasi untuk melindungi anak dari penyakit infeksi.

Pendahuluan Latar Belakang Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil. Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya. Tujuan Mengetahui faktor-faktor yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak serta mengenali dan memahami tumbuh kembang anak yang normal.

Pembahasan

Anamnesis Dalam kasus ini digunakan teknik alloanamnesis yaitu mendapatkan informasi tentang pasien dari orang lain karena pasien tidak dapat menjelaskan keluhannya .Pasien usia 8 bulan datang ke polikilinik karena belum dapat duduk sendiri. Dari faktor ibu , riwayat kehamilan tidak ada komplikasi, lahir dengan cara normal, tanpa komplikasi dan bayi dengan kuat menangis. Faktor anak yaitu: tumbuh kembang anak, RPS&RPD, imunisasi, nutrisi & riwayat penyakit keluarga.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Antropometri Antropometri menurut Hinchiliff (1999) adalah pengukuran tubuh manusia dan bagian-bagiannya dengan maksud untuk membandingkan dan menentukan norma-norma untuk jenis kelamin,usia, berat badan, suku bangsa dll. Antropometri dilakukan pada anakanak untuk menilai tumbuh kembang anak sehingga dapat ditentukan apakah tumbuh kembang anak berjalan normal atau tidak. Ketepatan dan ketelitian pengukuran sangat penting dalam menilai pertumbuhan secara benar. Kesalahan atau kelalaian dalam cara pengukuran akan mempengaruhi hasil pengamatan.1 Adapun cara pengukurannya adalah sebagai berikut : Pengukuran Berat Badan Berat badan merupakan indikator untuk keadaan gizi anak. Gangguan pada berat badan biasanya menggambarkan gangguan yang bersifat perubahan akut/jangka pendek. Alasan mengapa pengukuran berat badan merupakan pilihan utama: 1.Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu singkat karena perubahan konsumsi makanan dan kesehatan 2.Memberikan gambaran status gizi sekarang, jika dilakukan periodik memberikan gambaran pertumbuhan 3.Umum dan luas dipakai di Indonesia 4. Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan pengukur 5.Digunakan dalam KMS 6.BB/TB merupakan indeks yang tidak tergantung umur
2

7.Alat ukur dapat diperoleh di pedesaan dengan ketelitian tinggi ( dacin )

Pengukuran berat badan menggunakan timbangan menggunakan timbangan bayi : 1. Untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun 2. Letakkan timbangan pada meja datar, tidak mudah bergoyang. 3. Lihat jarum atau angka harus menunjuk ke angka 0. 4. Bayi sebaiknya telanjang 5. Baringkan bayi dengan hati-hati di atas timbangan. 6. Lihat jarum timbangan sampai berhenti. 7. Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan. 8. Bila bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan kekiri.

Gambar1 : Timbangan Bayi Sumber : www.images.google.com

Pengkuran berat badan menggunakan timbangan injak 1. Letakkan timbangan di lantai yang datar

2. Lihat jarum atau angka harus menunjuk ke 0 3. Anak pakai baju sehari-hari yang tipis (tidak pakai alas kaki, jaket, topi, jam tangan, kalung, dan tidak memegang sesuatu)
3

4. Anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegangi 5. Lihat jarum timbangan sampai berhenti 6. Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan 7. Bila anak terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri.

Gambar 2 : Timbangan Badan Sumber : www.images.google.com

Pengukuran Tinggi Badan/Panjang Badan Tinggi Badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan gizi dalam waktu singkat. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama.1,2 Untuk bayi atau anak yang belum dapat berdiri dapat menggunakan infantometer. Cara mengukur dengan posisi berbaring yaitu :

1. Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang 2. Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar. 3. Kepala bayi menempel pada pembatas angka 0. 4. Petugas 1 : ke2 tangan pegang kepala bayi agar tetap menempel pada pembatas angka 0 (pembatas kepala).
4

5. Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi dengan lengan kiri bawah agar lurus, sedangkan tangan menjaga agar posisi kaki tetap lurus (tidak fleksi ataupun ekstensi). Tangan kanan menekan batas kaki ke telapak kaki. 6. Petugas 2 membaca angka di tepi di luar pengukur.

Gambar 3 : Cara pengukuran tinggi badan ( bayi & balita) Sumber : www.images.google.com

Untuk anak yang sudah dapat berdiri dapat menggunakan microtoise. Cara mengukur pada posisi berdiri yaitu :

1. Anak tidak pakai sandal atau sepatu. 2. Berdiri tegak menghadap ke depan, kedua mata kaki rapat. 3. Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur. 4. Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubunubun. 5. Baca angka pada batas tersebut.

Gambar 4: cara pengukuran tinggi badan pada anak-anak Sumber : www.images.google.com

Pengukuran Lingkar Kepala Pengukuran lingkar kepala bertujuan untuk mengetahui lingkar kepala anak dalam batas normal atau di luar batas normal. Lingkar kepala dihubungkan dengan ukuran otak dan tulang tengkorak. Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar lingkar kepala tidak menggambarkan keadaan kesehatan dan gizi. 1,2 Cara mengukur lingkar kepala yaitu : 1. Pita ukur diletakkan pada oksiput melingkar ke arah supraorbita dan glabela. 2. Baca angka pada pertemuan dengan angka 0. 3. Hasil dicatat pada grafik lingkar kepala menurut umur dan jenis kelamin. 4. Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran sekarang.

Gambar 5 : cara pengukuran lingkar kepala Sumber : www.images.google.com

Pengukuran Lingkar Lengan Atas

Merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi karena mudah, murah dan cepat. Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit. Lingkar lengan atas mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan status KEP (Kurang Energi Protein) pada balita. Namun kelemahannya adalah :1,2 1. Baku lingkar lengan atas yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia 2. Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada tinggi badan 3. Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif untuk golongan dewasa.

Gambar 6: cara pengukuran lingkar lengan atas Sumber : www.images.google.com Faktor Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Faktor Internal ( Genetik ) Merupakan modal dasar mencapai hasil proses pertumbuhan. Melalui genetik juga dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan, yang ditandai dengan: (1) Intensitas dan kecepatan pembelahan (2) Derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan (3) Umur pubertas (4) Berhentinya pertumbuhan tulang. Yang termasuk faktor internal antara lain faktor bawaan yang normal dan patologis, jenis kelamin, obstetrik, dan ras (suku bangsa). Jika potensi genetik dapat berinteraksi dalam lingkungan yang baik dan optimal maka pertumbuhan juga akan optimal. Gangguan pertumbuhan di negara maju sering diakibatkan oleh faktor genetik, sedangkan di negara berkembang selain disebabkan oleh faktor genetik, juga oleh lingkungan yang tidak memungkinkan seseorang tumbuh secara optimal sehingga kematian balita di negara berkembang cukup tinggi.3
8

Faktor Eksternal (lingkungan)

Faktor lingkungan sangat menentukan tercapainya potensi genetik yang optimal. Kondisi lingkungan yang buruk berakibat kondisi genetik optimal tidak dapat tercapai. Yang termasuk faktor lingkungan adalah bio-fisik-psikososial. Faktor ini mempengaruhi setiap individu sejak masa konsepsi sampai akhir hayat.3 Faktor lingkungan dibagi dua: Lingkungan Pranatal Mempengaruhi pertumbuhan janin sejak konsepsi hingga lahir. Meliputi gizi ibu saat hamil, mekanisme toksin/zat kimia, endokrin, radiasi, infeksi, stres, anoksia embrio. Lingkungan Pascanatal Dipengaruhi oleh lingkungan , meliputi lingkungan biologis, lingkungan fisik, faktor psikososial, keluarga dan adat-istiadat.

FAKTOR I Internal a. Genetik

CONTOH

Individu (keluarga) Ras/lingkungan intrauterin plasenta)

(ketidakcukupan

b. Obstetrik

Individu (keluarga) Ras/lingkungan intrauterin plasenta)

(ketidakcukupan

c. Seks II Eksternal a. Gizi

Laki-laki lebih panjang dan berat

Fetus (diet maternal: protein, energi dan iodium) Bayi (ASI dan susu botol) Anak (protein, energi, iodium, zink, vitamin D dan asam folat)

b. Obat-obatan c. Lingkungan d. Penyakit

Alkohol, tembakau dan kecanduan obat-obat lainnya Iklim Daerah kumuh

1. Endokrin 2. Infeksi 3. Kongenital 4. Penyakit kronis

Hormon pertumbuhan Bakteri akut dan kronis, virus dan cacing Anemia sel sabit, kelainan metabolisme sejak lahir Kanker, malabsorpsi usus halus, jantung, ginjal dan hati Kemunduran mental/emosi

5. Psikologis

Tabel 1 : Faktor internal & external.4

1. Tumbuh Kembang Anak a. Definisi Anak Menurut UU RI no 4 1979 , yang disebut anak adalah usia 0-21 tahun dan belum menikah. Namun , menurut UU Perlindungan Anak no 23 tahun 2002, anak yaitu usia 0-18 tahun, termasuk janin dalam kandungan.5 b. Ciri Khas Anak o Bertumbuh dan berkembang secara kontinyu sejak konsepsi sampai dengan akhir masa remaja o Pola khas dan teratur yaitu sefalo-kaudal, proksimo-distal o Tahap nya berurutan ,deferensiasi dan integrasi : inner to outer, simple to complex.5

Gambar 7 : Pertumbuhan anak Sumber : www.images.google.com

10

Pengertian Tumbuh Kembang Pertumbuhan ialah proses normal pertambahan ukuran organisme sebagai akibat pertambahan jaringan pada yang telah ada sebelumnya. Pertumbuhan berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bias diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram), ukuran panjang (cm, meter) umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan ialah proses pertumbuhan dan diferensiasi. Definisi lain dari perkembangan ialah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Istilah Perkembangan meliputi pertumbuhan fisik, maupun pematangan fungsi, emosi dan perilaku sosial.5

Kebutuhan Dasar Anak Kebutuhan fisik biomedik (ASUH) meliputi :6 1. Asupan nutrisi seimbang 2. Perawatan kesehatan dasar (ASI, imunisasi) 3. Sandang, pangan, hygiene sanitasi. Kebutuhan emosi (ASIH) meliputi : Kasih sayang yaitu ikatan batin (bonding) dan rasa percaya (basic trust) Kebutuhan stimulasi mental (ASAH) Proses pendidikan, pelatihan, rekreasi. Tahapan Tumbuh Kembang7 1. Neonatus (lahir 28 hari) Pada tahap ini, perkembangan neonatus sangat memungkinkan untuk dikembangkan sesuai keinginan. 2. Bayi (1 bulan 1 tahun) Umur 0-3 bulan 1.Mengangkat kepala setinggi 45 derajat 2.Menggerakkan kepala dari kanan/kiri ke tengah 3.Melihat dan menatap wajah orang lain 4.Mengoceh sponta atau bereaksi dengan mengoceh 5.Suka tertawa keras
11

6.Bereaksi terkejut terhadap suara keras 7.Membalas tersenyum ketika diajak bicara atau tersenyum 8.Mengenal ibu dengan penglihatan, pendengaran, penciuman, dan kontak

Umur 3-6 bulan -Berbalik dari telungkup ke terlentang -Mengangkat kepala setinggi 90 derajat -Mempertahankan kepala tetap tegak dan stabil -Menggenggam pensil -Meraih benda yang ada dalam jangkauannya -Memegang tangannya sendiri -Berusaha memperluas pandangan -Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil -Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik -Tersenyum ketika melihat gambar atau mainan yang menarik saat bermain sendiri

Umur 6-9 bulan -duduk tanpa dibantu -tengkurap dan berbalik sendiri -merangkak meraih benda atau mendekati seseorang -memindahkan benda dari satu tangan ke tangan yang lain -memegang benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk -bergembira dengan melempar benda-benda -mengeluarkan kata-kata tanpa arti -mengenal muka anggota keluarga dan takut pada orang lain -mulai berpartisipasi dalam permainan tepuk tangan

Umur 9-12 bulan -berdiri sendiri tanpa dibantu -berjalan dengan dituntun -menirukan suara -mengulang bunyi yang didengarnya -belajar menyatakan satu atau dua kata
12

-mengerti perintah sederhana atau larangan -minat yang besar dalam mengeksplorasi sekitarnya -ingin menyentuh apa saja dan memasukkan benda-benda ke mulutnya -berpartisipasi dalam permainan

Todler (1-3 tahun) Peningkatan kemampuan psikososial dan perkembangan motorik. Anak usia 12-18 bulan : -mulai mampu berjalan dan mengeksplorasi rumah serta sekeliling rumah -menyusun 2 atau 3 kotak -dapat mengatakan 5-10 kata -memperlihatkan rasa cemburu dan rasa bersaing Anak usia 18-24 bulan : -mampu naik turun tangga -menyusun 6 kotak -menunjuk mata dan hidungnya -menyusun dua kata -belajar makan sendiri -menggambar garis di kertas atau pasir -mulai belajar mengontrol buang air besar dan buang air kecil -menaruh minat kepada apa yang dikerjakan oleh orang yang lebih besar -memperlihatkan minat kepada anak lain dan bermain-main dengan mereka Anak usia 2-3 tahun : -anak belajar meloncat, memanjat, melompat dengan satu kaki
13

-membuat jembatan dengan 3 kotak -mampu menyusun kalimat -mempergunakan kata-kata saya atau aku -bertanya -mengerti kata-kata yang ditujukan kepadanya -menggambar lingkaran -bermain dengan anak lain -menyadari adanya lingkungan lain di luar keluarganya

Jenis-jenis imunisasi pada anak < 1 tahun.7


BCG

HEPATITIS B

POLIO DPT CAMPAK Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya melalui darah placenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.

JENIS IMUNISASI Sesuai dengan program pemerintah, anak-anak wajib mendapatkan imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit yaitu TBC, difteria, tetanus, batuk rejan (pertusis), polio,
14

campak (measles, morbili) dan hepatitis B.Sedangkan imunisasi terhadap penyakit lain seperti gondongan (mumps), campak Jerman (rubella), tifus, radang selaput otak (meningitis) Hib, hepatitis A,cacar air (chicken pox, varicella) dan rabies tidak diwajibkan, tetapi dianjurkan.Berikut ini penjelasan mengenai beberapa vaksin yang sering diberikan pada anak: 1. Vaksin BCG Penularan penyakit TBC terhadap seorang anak dapat terjadi karena terhirupnya percikan udara yang mengandung kuman TBC. Kuman ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, seperti paru-paru (paling sering terjadi),kelenjar getah bening, tulang, sendi, ginjal, hati, atau selaput otak (yangterberat). Pemberian imunisasi BCG sebaiknya dilakukan pada bayi yang barulahir sampai usia 12 bulan, tetapi imunisasi ini sebaiknya dilakukan sebelum,bayi berumur 2 bulan. Imunisasi ini cukup diberikan satu kali saja.Bila pemberian imunisasi ini "berhasil," maka setelah beberapa minggu di tempat suntikan akan timbul benjolan kecil. Karena luka suntikan meninggalkan bekas, maka pada bayi perempuan, suntikan sebaiknya dilakukan dipaha kanan atas. Biasanya setelah suntikan BCG diberikan, bayi tidak menderita demam.

2. Vaksin DPT (Difteria, Pertusis, Tetanus) Kuman difteri sangat ganas dan mudah menular. Gejalanya adalah demam tinggi dan tampak adanya selaput putih kotor pada tonsil (amandel) yang dengan cepat meluas dan menutupi jalan napas. Selain itu racun yang dihasilkan kuman difteri dapat menyerang otot jantung, ginjal, dan beberapa serabutsaraf. Racun dari kuman tetanus merusak sel saraf pusat tulang belakang,mengakibatkan kejang dan kaku seluruh tubuh. Pertusis (batuk 100 hari) cukupparah bila menyerang anak balita, bahkan penyakit ini dapat menyebabkan kematian.Di Indonesia vaksin terhadap difteri, pertusis, dan tetanus terdapat dalam 3jenis kemasan, yaitu: kemasan tunggal khusus untuk tetanus, bentuk kombinasi DT, dan kombinasi DPT. Imunisasi dasar DPT diberikan 3 kali, yaitu sejakbayi berumur 2 bulan dengan selang waktu penyuntikan minimal selama 4minggu. Suntikan pertama tidak memberikan perlindungan apa-apa, itu sebabnya suntikan ini harus diberikan sebanyak 3 kali. Imunisasi ulang pertama dilakukan pada usia 1 _ - 2 tahun atau kurang lebih 1 tahun setelah suntikan imunisasi dasar ke-3. Imunisasi ulang berikutnya dilakukan pada usia 6 tahun atau kelas 1 SD. Pada saat kelas 6 SD diberikan lagi imunisasi ulang dengan vaksin DT (tanpa P). Reaksi yang terjadi biasanya demam ringan,
15

pembengkakan dan nyeri di tempat suntikan selama 1-2 hari. Imunisasi ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sakit parah dan yang menderita kejang demam kompleks.

3. Vaksin Polio Gejala yang umum terjadi akibat serangan virus polio adalah anak mendadak lumpuh pada salah satu anggota geraknya setelah demam selama 2-5 hari.Terdapat 2 jenis vaksin yang beredar, dan di Indonesia yang umum diberikan adalah vaksin Sabin (kuman yang dilemahkan). Cara pemberiannya melalui mulut.Di beberapa negara dikenal pula Tetravaccine, yaitu kombinasi DPT dan polio.Imunisasi dasar diberikan sejak anak baru lahir atau berumur beberapa hari dan selanjutnya diberikan setiap 4-6 minggu. Pemberian vaksin polio dapat dilakukan bersamaan dengan BCG, vaksin hepatitis B, dan DPT. Imunisasi ulangan diberikan bersamaan dengan imunisasi ulang DPT.

4. Vaksin Campak (Morbili, Measles) Penyakit ini sangat mudah menular. Gejala yang khas adalah timbulnya bercakbercak merah di kulit setelah 3-5 hari anak menderita demam, batuk,atau pilek. Bercak merah ini mula-mula timbul di pipi yang menjalar ke muka,tubuh, dan anggota badan. Bercak merah ini akan menjadi coklat kehitaman dan menghilang dalam waktu 7-10 hari.Pada stadium demam, penyakit campak sangat mudah menular. Sedangkan pada anak yang kurang gizi, penyakit ini dapat diikuti oleh komplikasi yang cukup berat seperti radang otak (encephalitis), radang paru, atau radang saluran kencing. Bayi baru lahir biasanya telah mendapat kekebalan pasif dari ibunya ketika dalam kandungan dan kekebalan ini bertahan hingga usia bayi mencapai 6 bulan.Imunisasi campak diberikan kepada anak usia 9 bulan. Biasanya tidak terdapatreaksi akibat imunisasi. Namun adakalanya terjadi demam ringan atau sedikitbercak merah pada pipi di bawah telinga, atau pembengkakan pada tempat suntikan.

5. Vaksin Hepatitis B Cara penularan hepatitis B dapat terjadi melalui mulut, transfusi darah, dan jarum suntik. Pada bayi, hepatitis B dapat tertular dari ibu melalui plasenta semasa bayi dalam kandungan atau pada saat kelahiran. Virus ini menyerang hati dan dapat menjadi kronik/menahun yang mungkin berkembang menjadi cirrhosis (pengerasan) hati dan kanker hati di kemudian hari.Imunisasi dasar hepatitis B diberikan 3 kali dengan tenggang waktu 1

16

bulan antara suntikan pertama dan kedua, dan tenggang waktu 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga. Imunisasi ulang diberikan 5 tahun setelah pemberian imunisasi dasar.

6. Vaksin MMR (Measles, Mumps, Rubella) Vaksin ini masih diimpor dan harganya cukup mahal. Penyakit gondonga sebenarnya tidak berbahaya, tetapi bisa mengakibatkan komplikasi yang serius seperti radang otak dan radang buah pelir (pada pria) atau kandung telur (pada wanita) dan dapat mengakibatkan kemandulan. Penyakit rubella sebenarnya ringan, tetapi dapat membahayakan karena dapat merusak janin dalam kandungan pada masa kehamilan muda. Imunisasi MMR diberikan satu kali setelah anak berumur 15 bulan. Imunisasi ulang dilakukan setelah anak berusia 12 tahun.

7. Vaksin Tifus/ Demam Tifoid Vaksin ini tidak diwajibkan dengan pertimbangan bahwa penyakit tifus tidak berbahaya pada anak dan jarang menimbulkan komplikasi. Gejala penyakit yang khas adalah demam tinggi yang dapat berlangsung lebih dari 1 minggu disertai dengan lidah yang tampak kotor, sakit kepala, mulut kering, rasa mual, lesu,dan kadang-kadang disertai sembelit atau mencret. Ada 2 jenis vaksin demam tifoid, yaitu vaksin oral (Vivotif) dan vaksin suntikan (TyphimVi). Vaksin suntikan diberikan sekali pada anak umur 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun.Vaksin oral diberikan pada anak umur 6 tahun atau lebih. Kemasan vaksin oral terdiri dari 3 kapsul yang diminum sekali sehari dengan selang waktu 1 hari.

8. Vaksin Radang Selaput Otak Haemophilus influenzae tipe B (Hib) Penyakit ini berbahaya dan paling sering menyerang anak usia 6-12 bulan.Radang selaput otak Hib sering mengakibatkan cacat saraf atau kematian. DiIndonesia telah beredar 2 jenis vaksin Hib, yaitu ActHIB buatan Perancis dan PedvaxHIB buatan USA.PedvaxHIB: Imunisasi dasar diberikan 2 kali pada usia 2-14 bulan dengan selang waktu 2 bulan. Bila dosis kedua diberikan pada usia di bawah 12 bulan, maka imunisasi ulangan harus diberikan paling cepat 2 bulan setelah suntikan kedua. Untuk anak yang baru mendapat imunisasi setelah berusia lebih dari 15 bulan, maka imunisasi cukup diberikan satu kali tanpa ulangan. ActHIB: Imunisasi dasar diberikan pada usia 2-6 bulan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu 1-2 bulan. Imunisasi ulangan diberikan 12

17

bulan setelah imunisasi terakhir. Bila imunisasi diberikan pada usia 1-5 tahun maka cukup diberikan satu kali tanpa ulangan.

9. Vaksin Hepatitis A Walaupun gejalanya lebih nyata dan lebih berat dari hepatitis B, penyakit ini jarang menyebabkan komplikasi atau kematian. Tanda-tandanya adalah demam, mual, lesu, mata dan kulit kekuningan disertai warna kencing seperti air teh. Biasanya akan sembuh dalam waktu 2-3 minggu. Imunisasi dasar dengan vaksin Havrix diberikan 2 kali dengan selang waktu 2-4 minggu. Dosis ke-3 diberikan 6 bulan setelah suntikan pertama. 10. Vaksin Cacar Air (Varicella) Cacar air merupakan penyakit yang sangat menular, tetapi ringan. Gejalanya khas, mula-mula timbul bintik kemerahan yang makin membesar membentuk gelembung berisi air dan akhirnya mengering dalam waktu 1 minggu. Gejala ini mula-mula muncul di daerah perut, dada dan punggung, kemudian menyebar ke muka, kepala dan anggota badan. Komplikasi yang mungkin timbul adalah radang kulit, radang paru (pneumonia), radang otak (encephalitis), atau varicella kongenital bila ibu menderita varicella pada kehamilan muda. Harga vaksin (Varillix) masih mahal, karena itu direkomendasikan diberikan pada anak berusia di atas 12 tahun yang belum pernah terkena varicella dan diulang 6-8 minggu kemudian.

Jadwal Pemberian Imunisasi Wajib 1 bulan : Hepatitis B-1, BCG, OPV-1 (oral polio vaccine) 2 bulan : Hepatitis B-2, DPT-1, OPV-2 3 bulan : DPT-2, OPV-3 4 bulan : DPT-3, OPV-4 7 bulan : Hepatitis B-3 9 bulan : Campak

18

Asupan Gizi Anak.8

Usia 0-12 bulan (bayi/infant) Energi 6 bulan pertama 6 bulan kedua Protein Berfungsi menyediakan asam amino yang merupakan bahan esensial untuk pertumbuhan jaringan. Untuk bayi prematur ditambah tirosin, sistein, dan taurin. 6 bulan pertama 6 bulan kedua Lemak Berfungsi untuk memenuhi kebutuhan energy, penyerapan vitamin larut lemak, kalsium dan mineral lain. Komposisi asam lemak esensial rasio asam linoleat dan linolenat penting karena berperan dalam perkembangan susunan syaraf. Kebutuhan belum ada anjuran : 30 % dari total energi, 3% dari asam linoleat. Karbohidrat Merupakan komponen terbesar dari asupan energy ( 40-50 % ), terutama laktosa. Vitamin dan Mineral Vit K,D,B12 Zat besi terdapat cadangan dalam tubuh bayi sampai usia 6 bulan. : 2.2 g/kg/hari : 2 g/kg/hari : 115-120 kkal/kg/hari : 105-110 kkal/kg/hari

19

Air/cairan Cairan dalam tubuh bayi sebanyak 70-75 % BB yang terdiri dari 50% intraseluler, 15% itertisial, dan 5% plasma. Kebutuhan ditentukan dari jumlah air yang hilang melalui paru-aru, kulit, feses, dan urin , sebagian untuk proses pertumbuhan serta pada keadaan tertentu dapt terjadi kebutuhan cairan yang meningkat . Rasio cairan : kalori = 1,5:1

Masa kanak-kanak (Childhood)8 Dikelompokkan dalam tiga kategori 1. 1-3 tahun (toddler) 2. 4-6 tahun (prasekolah) 3. 6-10 (12) tahun (masa sekolah) Toddler dan prasekolah mempunyai pola makan transisi dari bayi ke dewasa. Energi 1-3 tahun 4-6 tahun Protein 1-3 tahun 4-6 tahun Lemak 30-35 % dari total energi, dan asam linoleat 1-2% dari total energi Mineral Kebutuhan meningkat dengan progresif . Ada 3 kelompok mineral : 1. Kalsium, fosfor, dan magnesium
20

: 100 kkal/kgBB/hari : 90 kkal/kgBBB/hari

: 1,2 g/kgBB/hari : 1,1g/kgBB/hari

2. Besi, iodium, dan elemen mineral 3. Zinc yang berfungsi untuk sintesis protein dan pembelahan sel

Pemberian makanan sehat untuk bayi dan balita8 Usia 0-6 bulan Pada usia ini , bayi hanya diberikan ASI eksklusif. ASI diberikan sedini mungkin dan tanpa jadwal serta tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih sampai bayi berumur 6 bulan. Usia 6-8 bulan Setelah melewati usia 6 bulan, maka bayi dapat diberikan makanan tambahan yang lumat seperti bubur tepung kacang hijau, bubur beras merah,susu,biscuit dicampur susu, buah-buahan matang yang mudah dilumat seperti pisang, alpukat, pepaya, dan sebagainya . namun ASI masih tetap diberikan Usia 8-12 bulan Dapat diberikan makanan lembek seperti bubur nasi, nasi tim, buah-buahan matang yang mudah dilumat. Seperti pada usia-usia sebelumnya ASI harus tetap diberikan. Usia 12-24 bulan Memberikan ASI sesuai keinginan anak. Sudah dapat diberikan nasi lembek yang ditambah telur/ayam/ikan/tempe/tahu/wortel/bayam dan diberikan 3 kali sehari. Diberikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan seperti bubur kacang hijau, pisang, dan biskuit. Usia >2 tahun Diberikan makanan yang biasa dimakan oleh keluarga 3 kali sehari yang terdiri dari nasi, lauk pauk, sayur, dan buah. Diberikan juga makanan selingan 2 kali sehari diantara waktu makan.

21

Kesimpulan Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor , salah satunya adalah genetik dan lingkungan . Kebutuhan dasar anak yang tercukupi juga akan membantu pertumbuhan anak agar optimal .

Daftar pustaka 1. Narendra MB,Sularyo TS, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh IG, Wiradisuria S. Buku Ajar Tumbuh Kembang Jilid I. Unit Koordinasi Kerja Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial Ikat an Dokter Indonesia, 2004.h.175-9

2. Narendra MB,Sularyo TS, Soetjiningsih, Suyitno H, Ranuh IG, Wiradisuria S. Buku Ajar Tumbuh Kembang Jilid II. Unit Koordinasi Kerja Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial Ikatan Dokter Indonesia, 2005. H.34-8 3. Hardjono S, Sulaiman I, Moersintowarti B.N. Gagal Tumbuh (Failure To Thrive). Continuing Education Ilmu Kesehatan Anak No.32,Oktober 2002.h 37-43 4. Schartz MW. Pedoman klinis pediatri. Jakarta : EGC:2004.h 25-31 5. Soetjiningsih. Tumbuh kembang anak. Jakarta: penerbit buku kedokteran

EGC;2007.h15-7 6. Cahyono JBSB, Lusi RA, Verawati, Sitorus R, Utami RCB, Dameria K. Vaksinasi , cara ampuh mencegah penyakit infeksi. Jakarta: Kanisius;2010.h. 165-9 7. Baratawidjaja,Garna K.Imunologi Dasar Edisi Ke 7 Cetakan ke 5.Jakarta:FK UI;2006.h 24-27 8. Narendra,Moersintowati B.Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Edisi

Pertama.Jakarta: IDAI,Sagung Seto: 2002.h. 13-18

22