Anda di halaman 1dari 17

DAFTAR ISI

1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
1.
2.

JUDUL
KATA PENGANTAR......................................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................................
ii
BAB I PEMBAHASAN
JUDUL PENELITIAN........................................................................................................
1
WAKTU..............................................................................................................................
1
TUJUAN PENELITIAN.....................................................................................................
1
LANDASAN TEORI..........................................................................................................
1
RUMUSAN MASLAH.......................................................................................................
8
BAB II KEGIATAN
ALAT DAN BAHAN.........................................................................................................
8
LANGKAH KERJA............................................................................................................
9...........................................................................................................................................
HASIL PENGAMATAN....................................................................................................
13
PEMBAHASAN.................................................................................................................
14
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN...................................................................................................................
19
SARAN...............................................................................................................................
19
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Dengan nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Segala puji dan
syukur bagi Allah swt yang dengan ridho-Nya kita dapat menyelesaikan laporan
penelitian ini dengan baik dan lancar. Sholawat dan salam tetap kami haturkan kepada
junjungan kita Nabi besar Muhammad saw dan untuk para keluarga, sahabat dan

pengikut-pengikutnya yang setia mendampingi beliau. Terima kasih kepada keluarga, ibu
guru, dan teman-teman yang terlibat dalam pembuatan makalah ini yang dengan do'a dan
bimbingannya laporan penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik dan lancar.
Dalam laporan penelititan ini, kami meneliti tentang Pengaruh Intensitas Cahaya
Terhadap Proses Fotosintesis pada Tanaman Hydrrilla yang kami buat berdasarkan hasil
penelitian yang kami lakukan selama beberapa hari dan refrensi yang kami ambil dari
berbagai sumber, diantaranya buku dan internet. Laporan penelitian ini diharapkan bisa
menambah wawasan dan pengetahuan yang selama ini kita cari. Kami berharap bisa
dimafaatkan semaksimal dan sebaik mugkin.
Tidak gading yang tak retak, demikian pula laporan penelitian ini, oleh karena itu
saran dan kritik yang membangun tetap kami nantikan dan kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.

Gerung, November 2011

Penyusun

BAB I PENDAHULAN
1. Judul Penelitian
Pengaruh Suhu dan pH terhadap Aktivitas Enzim Katalase

2. Waktu
Kami melakukan penelitian ini pada hari Rabu tanggal 28 September 2011.

3. Tujuan Penelitian
Adapun penelitian ini kami lakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh
suhu dan pH terhadap aktivitas enzim katalase.

4. Landasan Teori
Semua makhluk hidup memerlukan energi. Energi itu digunakan untuk tumbuh,
bergerak, mencari makanan, mengeluarkan sisa-sisa makanan, menanggapi rangsangan,
dan reproduksi. Tanpa energi, semua proses kehidupan akan terhenti. Sumber energi
utama bagi makhluk hidup di bumi adalah matahari. Energi matahari ditangkap oleh
tumbuhan dan diubah menjadi persenyawaan kimia. Selanjutnya, energi kimia yang
tersimpan dalam tumbuhan berpindah ke makhluk hidup lain pada saat tumbuhan
dimakan oleh makhluk hidup tersebut. Di dalam tubuh makhluk hidup terjadi
perombakan berbagai senyawa kimia untuk berbagai keperluan hidupnya.
Energi tersebut dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk lainnya, yang disebut
transformasi energi. Makhluk hidup mampu melakukan transformasi energi melalui
proses metabolisme
Metabolisme merupakan suatau reaksi kimia yang terjadi didalam tubuh makhluk
hidup. Reaksi metabolisme tersebut dimaksudkan untuk memperoleh energi, menyimpan
energi, menyusun bahan makanan, merombak bahan makanan, memasukkan atau
mengeluarkn zat - zat, melakukan gerakan, menyusun struktur sel, merombak struktur
struktur sel yang tidak dapat digunakan lagi, dan menanggapi rangs.
Tentunya dalam suatu reaksi kimia terdapat zat zat atau senyawa senyawa
baik yang sifatnya menghambat (inhibitor), atau mempercepat reaksi (aktivator).
Senyawa senyawa yang mempercepat suatu reaksi dikenal dengan sebutan katalisator.
Katalisator adalah suatu zat yang mempercepat laju reaksi reaksi kimia pada suhu
tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu. Suatu katalis berperan
dalam reaksi tapi bukan sebagai pereaksi ataupun produk.
Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat atau memungkinkan reaksi
pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis
menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Katalis
mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi. Metabolisme yang
merupakan reaksi kimia memiliki katalisator yang disebut dengan enzim .
1.5 Hipotesa
Karena enzim katalase terbentuk atas senyawa protein, maka enzim ini juga memiliki ciri
ciri yang sama dengan protein. Kerja enzim akan sangat dipengaruhi oleh suhu dan
derajat keasaman lingkungannya.

A. Pengertian Enzim
Pada awalnya, enzim dikenal sebagai protein oleh Sumner ( 1926 ) yang telah
berhasil mengisolasi urease dari tumbuhan kara pedang. Urease adalah enzimysng dapat
menguraikan urea menjadi CO2 dan NH3. Beberapa tahun kemudian Northrop dan Kunits
dapat mengisolasi pepsin, tripsin, dan kinotripsin. Kemudian makin banyak enzim yang
telah dapat diisolasi dan telah dibuktikan bahwa enzim tersebut ialah protein

Dari hasil penelitian para ahli biokim ternyata banyak enzim mempunyai gugus
bukan protein, jadi termasuk golongan protein majemuk. Gugus bukan protein ini disebut
dengan kofaktor ada yang terikat kuat pada protein dan ada pula yang tidak terikat kuat
oleh protein.. Gugus terikat kuat pada bagian protein artinya sukar terurai dalam larutan
yang disebut dengan Prostetik, sedang yang tidak begitu terikat kuat ( mudah dipisahkan
secara dialisis ) disebut dengan Koenzim. Keduanya ini dapat memungkinkan enzim
bekerja terhadap substrat.
Enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis (senyawa
yang mempercepat proses reaksi tanpa habis bereaksi) dalam suatu reaksi kimia organic.
Molekul awal yang disebut substrat akan dipercepat perubahannya menjadi molekul lain
yang disebut produk. Jenis produk yang akan dihasilkan bergantung pada suatu
kondisi/zat, yang disebut promoter. Semua proses biologis sel memerlukan enzim agar
dapat berlangsung dengan cukup cepat dalam suatu arah lintasan metabolisme yang
ditentukan oleh hormon sebagai promoter.
Enzim bekerja dengan cara bereaksi dengan molekul substrat untuk menghasilkan
senyawa intermediat melalui suatu reaksi kimia organik yang membutuhkan energi
aktivasi lebih rendah, sehingga percepatan reaksi kimia terjadi karena reaksi kimia
dengan energi aktivasi lebih tinggi membutuhkan waktu lebih lama.
Meskipun senyawa katalis dapat berubah pada reaksi awal, pada reaksi akhir
molekul katalis akan kembali ke bentuk semula.
Sebagian besar enzim bekerja secara khas, yang artinya setiap jenis enzim hanya
dapat bekerja pada satu macam senyawa atau reaksi kimia. Hal ini disebabkan perbedaan
struktur kimia tiap enzim yang bersifat tetap. Sebagai contoh, enzim -amilase hanya
dapat digunakan pada proses perombakan pati menjadi glukosa.
B. Sifat-Sifat Enzim
Sebagai katalis dalam reaksi-reaksi di dalam tubuh organisme, enzim memiliki
beberapa sifat, yaitu:
1. Enzim adalah protein, karenanya enzim bersifat thermolabil, membutuhkan pH dan suhu
yang tepat.
2. Enzim bekerja secara spesifik, dimana satu enzim hanya bekerja pada satu substrat.
3.

Enzim berfungsi sebagai katalis, yaitu mempercepat terjadinya reaksi kimia tanpa
mengubah kesetimbangan reaksi.

4. Enzim hanya diperlukan dalam jumlah sedikit.


5. Enzim dapat bekerja secara bolak-balik.
6. Kerja enzim dipengaruhi oleh lingkungan, seperti oleh suhu, pH, konsentrasi, dan lainlain
C. Faktor-Faktor Yang Mempengruhi Enzim
1. Suhu
Enzim tidak dapat bekerja secara optimal apabila suhu lingkungan terlalu rendah
atau terlalu tinggi. Jika suhu lingkungan mencapai 0 C atau lebih rendah lagi, enzim

tidak aktif. Jika suhu lingkungan mencapai 40 C atau lebih, enzim akan mengalami
denaturasi (rusak). Denaturasi merupakan rusaknya bentuk tiga dimensi enzim yang
menyebabkan enzim tidak dapat lagi berikatan dengan substratnya sehingga aktivasi
enzim menurun atau hilang (Diah,2006). Suhu optimal enzim bagi masing-masing
organisme berbeda-beda. Untuk hewan berdarah dingin, suhu optimal enzim adalah 25
C, sementara suhu optimal hewan berdarah panas, termasuk manusia, adalah 37 C.
2. Derajat keasaman (pH)
Setiap enzim mempunyai pH optimal masing-masing, sesuai dengan "tempat
kerja"-nya. Misalnya enzim pepsin, karena bekerja di lambung yang bersuasana asam,
memiliki pH optimal 2. Sedangkan enzim katalase dapat bekerja optimal pada pH netral
yakni pH sama dengan 7. Contoh lain, enzim ptialin, karena bekerja di mulut yang
bersuasana basa, memiliki pH optimal 7,5-8. Di luar pH yang sesuai, enzim tidak dapat
bekerja secara optimal atau strukturnya akan mengalami kerusakan atau denaturasi.
Denaturasi merupakan rusaknya bentuk tiga dimensi enzim yang menyebabkan enzim
tidak dapat lagi berikatan dengan substratnya sehingga aktivasi enzim menurun atau
hilang (Diah,2006). Hal ini akan menyebabkan enzim kehilangan fungsinya sama sekali.
Pada penelitian kali ini kami menggunakan unsure H2O2, NaOH, dan HCl.
H2O2
Hidrogen peroksida (H2O2) adalah cairan bening , agak lebih kental daripada air,
yang merupakan oksidator kuat. Hidrogen peroksida dengan rumus kimia H2O2
merupakan bahan kimia anorganik yang memiliki sifat oksidator kuat. H2O2 tidak
berwarna dan memiliki bau yang khas agak keasaman. H2O2 larut dengan sangat baik
dalam air. Dalam kondisi normal hidrogen peroksida sangat stabil, dengan laju
dekomposisi yang sangat rendah. Pada saat mengalami dekomposisi hidrogen peroksida
terurai menjadi air dan gas oksigen, dengan mengikuti reaksi eksotermis berikut:

H2O2 --> O2 + H2O + kalor (panas)


Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida adalah gas hidrogen (H2) dan gas
oksigen (O2). Teknologi yang banyak digunakan di dalam industri hidrogen peroksida
adalah auto oksidasi Anthraquinone Senyawa H2O2 yang ada dalam tubuh sangat
berbahaya. Maka enzim katalase menguraikan H2O2 menjadi H2O dan gas O2 yang tidak
berbahaya bagi tubuh.
NaOH
Natrium hidroksida (NaOH) merupakan basa kuat yang menerima proton dari
Na+. Basa ini mengandung unsur dari golongan alkali, yakni Natrium (Na+). Ciri lain dari
golongan alkali adalah reduktor kuat dan mampu mereduksi asam, mudah larut dalam air,
merupakan penghantar arus listrik yang baik dan panas, urutan kereaktifannya meningkat
seiring dengan bertambahnya berta atom. NaOH biasanya digunakan sebagai pelarut
disebabkan kegunaan dan efektifitasnya sangat banyak antara lain untuk menetralkan
asam. NaOH dihasilkan dari elektrolisis larutan NaCl dan merupakan basa kuat . NaOH

sangat Reaktif dalam bereaksi dengan lautan asam, ekses yang melebihi keperluan
netralisasi akan bereaksi dengan material fospatida. Natrium hidroksida (NaOH)
merupakan basa kuat yang menerima proton dari Na+. Basa ini mengandung unsur dari
golongan alkali, yakni Natrium (Na+). Cirri lain dari golongan alkali adalah reduktor kuat
dan mampu mereduksi asam, mudah larut dalam air, merupakan penghantar arus listrik
yang baik dan panas, urutan kereaktifannya meningkat seiring dengan bertambahnya
berta atom (Linggih, 1988).
HCl
Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). Ia adalah
asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga
digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan wewanti
keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif.
Asam lambung merupakan salah satu sekresi utama lambung. Ia utamanya terdiri
dari asam klorida dan mengasamkan kandungan perut hingga mencapai pH sekitar 1
sampai dengan 2. Ion klorida (Cl) dan hidrogen (H+) disekresikan secara terpisah di
bagian fundus perut yang berada di bagian teratas lambung oleh sel parietal mukosa
lambung ke dalam jaringan sekretori kanalikulus sebelum memasuki lumen perut. Asam
lambung berfungsi untuk membantu pencernaan makanan dan mencegah mikroorganisme
masuk lebih jauh ke dalam usus. pH asam lambung yang rendah akan mendenaturasi
protein, sehingga akan lebih mudah dicerna oleh enzim pepsin. pH yang rendah ini juga
akan mengaktivasi prekursor enzim pepsinogen. Setelah meninggalkan lambung, asam
klorida dalam kim akan dinetralisasi oleh natrium bikarbonat dalam usus dua belas jari.
3. Konsentrasi enzim, substrat, dan kofaktor
Jika pH dan suhu suatu sistem enzim dalam keadaan konstan serta jumlah substrat
berlebihan, maka laju reaksi sebanding dengan jumlah enzim yang ada. Jika pH, suhu
dan konsentrasi enzim dalam keadaan konstan, maka reaksi awal hinga batas tertentu
sebanding dengan substrat yang ada. Jika enzim memerlukan suatu koenzim atau ion
kofaktor, maka konsentrasi substrat dapat menetukan laju reaksi.
4. Inhibitor enzim
Kerja enzim dapat dihambat, baik bersifat sementara maupun tetap oleh inhibitor
berupa zat kimia tertentu. Pada konsentrasi substrat yang rendah akan terlihat dampak
inhibitor terhadap laju reaksi.
1. Struktur dan Mekanisme
Berdasarkan strukturnya, enzim terdiri atas komponen yang disebut apoenzim
yang berupa protein dan komponen lain yang disebut gugus prostetik yang berupa
nonprotein. Beberapa jenis vitamin seperti kelompok vitamin B merupakan koenzim.
Jadi, enzim yang utuh tersusun atas bagian protein yang aktif yang disebut apoenzim dan
koenzim, yang bersatu dan kemudian disebut holoenzim.
Enzim bekerja dengan dua cara, yaitu menurut Teori Kunci-Gembok (Lock and
Key Theory) dan Teori Kecocokan Induksi (Induced Fit Theory).
Menurut teori kunci-gembok, terjadinya reaksi antara substrat dengan enzim
karena adanya kesesuaian bentuk ruang antara substrat dengan situs aktif (active site) dari
enzim, sehingga sisi aktif enzim cenderung kaku. Substrat berperan sebagai kunci masuk

ke dalam situs aktif, yang berperan sebagai gembok, sehingga terjadi kompleks enzimsubstrat. Pada saat ikatan kompleks enzim-substrat terputus, produk hasil reaksi akan
dilepas dan enzim akan kembali pada konfigurasi semula. Berbeda dengan teori kunci
gembok, menurut teori kecocokan induksi reaksi antara enzim dengan substrat
berlangsung karena adanya induksi substrat terhadap situs aktif enzim sedemikian rupa
sehingga keduanya merupakan struktur yang komplemen atau saling melengkapi.
Menurut teori ini situs aktif tidak bersifat kaku, tetapi lebih fleksibel.
2. Enzim Katalase
Enzim katalase adalah enzim yang dapat menguraikan hidrogen peroksida (H2O2)
yang tidak baik bagi tubuh makhluk hidup menjadi air (H2O) dan oksigen (O2) yang sama
sekali tidak berbahaya. Senyawa H2O2 yang ada dalam tubuh sangat berbahaya. Maka
enzim katalase menguraikan H2O2 menjadi H2O dan gas O2 yang tidak berbahaya bagi
tubuh.
Selain itu, enzim ini di dalam tubuh manusia juga menguraikan zat-zat oksidatif
lainnya seperti fenol, asam format, maupun alkohol yang juga berbahaya bagi tubuh
manusia. Dengan begitu, berbagai racun yang masuk ke dalam tubuh manusia menjadi
tidak berbahaya lagi bagi tubuh. kesemua proses di atas biasanya terjadi di dalam organ
hati. Demikian cara kerja enzim katalase pada hati manusia.Enzim katalase terdapat
hampir di semua makhluk hidup. Enzim ini diproduksi oleh sel bagian badan mikro, yaitu
Peroksisom. Organ yang paling dominan menghasilkan enzim ini adalah bagian hati
(lever). Bagi sel, enzim ini adalah bodyguard yang melindungi bagian dalam sel dari
kondisi oksidatif dan racun (toksin) yang bagi kebanyakan orgnisme ekuivalen dengan
kerusakan.
Enzim katalase yang dihasilkan peroksisom pada hati akan mengalami denaturasi
(kerusakan) pada suhu yang tinggi ataupun pada suasana asam dan basa, begitu pula
dengan enzim katalase yang dihasilkan oleh kentang. Enzim katalase bekerja secara
optimal pada suhu kamar (300 C) dan suasana netral . Hal ini dapat dilihat pada suasana
asam, basa, dan suhu tinggi, laju reksi menjadi sangat lambat, bahkan terhenti sama
sekali. Indikasinya adalah ada tidaknya busa merupakan indikator adanya air dalam
wujud uap. Sedangkan menyala atau tidaknya bara merupakan indikator adanya gas
oksigen dalam tabung tersebut. Apabial busa yang dihasilkan banyak maka bara api akan
menyala, sedangkan apabila busa yang dihasilkan sedikit, maka bara api tidak akan
menyala. Yang dimana pada suhu normal dan pH netral, reaksi berjalan dengan lancar.
3. Rumusan Masalah
Adapun dari uraian di atas kami mendapatkan rumusan masalah dari penelitian ini adalah
Adakah pengaruh suhu dan pH terhadap aktivitas enzim katalase.

BAB II KEGIATAN
1. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Tabung reaksi (10 buah)
2. Gelas kimia (2 buah)
3. Termometer (1 buah)
4. Pipet tetes (3 buah)
5. Lumpang porselin (1 set)
6. Rak tabung reaksi (1 buah)
7. Pyrex (1 buah)
8. Kaki tiga (1 buah)
9. Kassa (1 buah)
10. Pembakar spirtus (1buah)
11. Silet (1 buah)
12. Tissu ekstrak (2 lembar)
13. Penggaris (1 buah)
14. Korek Api (1 kotak)
15. Lidi
16. Stopwatch
B. Bahan
1. Ekstrak larutan hati ayam
2. Ekstrak larutan kentang
3. Larutan H2O2
4. Larutan HCl
5. Larutan NaOH
6. Larutan H2O
7. Es batu

2. Langkah Kerja
A. Persiapan
Siapkan alat dan bahan yang di butuhkan untuk kegiata praktikum ini

B. Kegiatan
Ekstrak hati ayam
1.

Buatlah ekstrak hati ayam dengan mencincang , kemudian haluskan dengan


menggunakan lumpang poselin dan campurkan dengan larutan H2O murni secukupnya.

2.

Masukkan ekstrah hati ayam tadi kedalam 5 tabung reaksi yang sudah diberi tanda ,
misalnya tanda untuk ekstrak hati ditandai dengan anngka, dengan menyaringnya
menggunakan tissu ekstrak yang telah dilipat seperti kerucut, yang dimana masingmasing tabung reaksi diisi sampai dengan ke tinggian 1 cm, dengan ketentuan sebagai
berikut:

Tabung reaksi 1 untuk ekstrak hati + H2O2


Tabung reaksi 2 untuk ekstrak hati + H2O2 + dipanaskan
Tabung reaksi 3 untuk ekstrak hati + H2O2 + didinginkan
Tabung reaksi4 untuk ekstrak hati + H2O2 + HCl
Tabung reaksi 5 untuk ekstrak hati + H2O2 + NaOH
Adapun perlakuan-perlakuan pada masing-masing tabung reaksi sebagai berikut:
a.

Tabung 1 untuk ekstrak hati + H2O2

1. Tambahkan ekstarak dengan 5 tetes larutan H2O2


2. Setelah itu kocok dan ukur ketinggian busanya
3. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
b. Tabung reaksi 2 untuk ekstrak hati + H2O2 + dipanaskan
1.

Panaskan larutan H2O murni dengan gelas kimia secukupnya kira-kira sampai ujung
tabung reaksi 2 yang terisi ekrstrak tercelup dengan menggunakan pembakar sepirtus
yang dilengkapi dengan kaki tiga dan

plat baja, sampai suhu larutan H 2O murni

mencapai 40 0C
2. Masukan ekstrak kedalam larutan H2O murni yang telah dipanaskan sampai suhunya 40
0

C tadi dan tunggu selama 5 menit

3. Tambahkan ektrak dengan 5 tetes larutan H2O2


4. kocok dan ukur ketinggian busanya
5. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
c.

Tabung reaksi 3 untuk ekstrak hati + H2O2 + didinginkan

1. Masukan es batu kedalam gelas kimia

2. Campurkan dengan larutan H2O murni secukupnya


3. Kemudian masukan tabung reaksi 3 yang berisi ekstrak kedalam campuran es batu dan
larutan H2O murni tadi dan tunggu selama 5 menit
4. Tambahkan ekstrak dengan 5 tetes larutan H2O2
5. Kocok dan ukur ketinggian busanya
6. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
d. Tabung reaksi 4 untuk ekstrak hati + H2O2 + HCl
1. Tambahkan ekstrak dengan larutan HCl sebanyak 5 tetes
2. Tambahkan ekstrak dengan 5 tetes larutan H2O2
3. Kocok dan ukur ketinggian busanya
4. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
e.

Tabung reaksi 5 untuk ekstrak hati + H2O2 + NaOH

1. Tambahkan ekstrak dengan larutan NaOH sebanyak 5 tetes


2. Tambahkan ekstrak dengan 5 tetes larutan H2O2
3. Kocok dan ukur ketinggian busanya
4. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
Ekstrak Kentang
1.

Buatlah ekstrak kentang dengan mengiris tipis-tipis , kemudian haluskan dengan


menggunakan lumpang poselin dan campurkan dengan larutan H2O murni secukupnya.

2.

Masukkan ekstrak kentang tadi kedalam 5 tabung reaksi yang sudah diberi tanda ,
misalnya tanda untuk ekstrak kentang ditandai dengan huruf , dengan menyaringnya
menggunakan tissu ekstrak yang telah dilipat seperti kerucut, yang dimana masingmasing tabung reaksi diisi sampai dengan ke tinggian 1 cm, dengan ketentuan sebagai
berikut:

Tabung reaksi A untuk ekstrak kentang + H2O2


Tabung reaksi B untuk ekstrak kentang + H2O2 + dipanaskan
Tabung reaksi C untuk ekstrak kentang + H2O2 + didinginkan
Tabung reaksi D untuk ekstrak kentang + H2O2 + HCl
Tabung reaksi E untuk ekstrak kentang + H2O2 + NaOH
Adapun perlakuan-perlakuan pada masing-masing tabung reaksi sebagai berikut:
a.

Tabung A untuk ekstrak kentang + H2O2

1. Tambahkan ekstarak dengan 5 tetes larutan H2O2


2. Setelah itu kocok dan ukur ketinggian busanya
3. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
b. Tabung reaksi B untuk ekstrak kentang + H2O2 + dipanaskan
1.

Panaskan larutan H2O murni dengan gelas kimia secukupnya kira-kira sampai ujung
tabung reaksi 2 yang terisi ekrstrak tercelup dengan menggunakan pembakar sepirtus
yang dilengkapi dengan kaki tiga dan

plat baja, sampai suhu larutan H 2O murni

mencapai 40 0C
2. Masukan ekstrak kedalam larutan H2O murni yang telah dipanaskan sampai suhunya 40
0

C tadi dan tunggu selama 5 menit

3. Tambahkan ektrak dengan 5 tetes larutan H2O2


4. kocok dan ukur ketinggian busanya
5. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
c.

Tabung reaksi C untuk ekstrak kentang + H2O2 + didinginkan

1. Masukan es batu kedalam gelas kimia


2. Campurkan dengan larutan H2O murni secukupnya
3. Kemudian masukan tabung reaksi 3 yang berisi ekstrak kedalam campuran es batu dan
larutan H2O murni tadi dan tunggu selama 5 menit
4. Tambahkan ekstrak dengan 5 tetes larutan H2O2
5. Kocok dan ukur ketinggian busanya
6. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
d. Tabung reaksi D untuk ekstrak kentang + H2O2 + HCl
1. Tambahkan ekstrak dengan larutan HCl sebanyak 5 tetes
2. Tambahkan ekstrak dengan 5 tetes larutan H2O2
3. Kocok dan ukur ketinggian busanya
4. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa
e.

Tabung reaksi E untuk ekstrak kentang + H2O2 + NaOH

1. Tambahkan ekstrak dengan larutan NaOH sebanyak 5 tetes


2. Tambahkan ekstrak dengan 5 tetes larutan H2O2
3. Kocok dan ukur ketinggian busanya
4. Masukan bara lidi yang sudah dibakar kedalam tabung sampai di atas permukaan busa

C. Pengamatan
1. Amatilah hasil reaksi pada masing-masing tabung reaksi
2. Tulislah hasil pengamatanmu pada tabel hasil pengamatan

3. Hasil Pengamatan
Adapun hasil pengamatan , kami tuliskan dalam tabel hasil pengamatan dibawah ini.
A. Tabel I Variabel Control

H2O2

Ekstrak

Busa
3
0,3

Hati Ayam
Kentang

Bara
Nyala
Tidak

B. Tabel II Pengruh Suhu

Suhu
00 C

Ekstrak
Hati Ayam
Kentang

Busa
0,5
`1,5

400 C
Bara
Tidak
Tidak

Busa
4
2

Bara
Nyala
Nyala

C. Tabel III Pengaruh pH

pH
Ekstrak
Hati Ayam
Kentang

HCl (asam)
Busa
0,5
2

Ketrangan :

Satuan untuk busa adalah cm

Indikator untuk bara nyala atau tidak

Bara
Tidak
Tidak

NaOH (basa)
Busa
Bara
0,5
Tidak
1,5
Tidak

Permasalahan
1. Apakah fungsi H2O2 ? (Kegunaan enzim katalase adalah menguraikan Hidogen Peroksida

(H2O2), merupakan senyawa racun dalam tubuh yang terbentuk pada proses pencernaan
makanan, sehingga disini H2O2 berfungsi sebagai substrat yang diuraikan oleh enzim.
2. Tuliskan reaksi kimia ekstrak enzim katalase dari H2O2 ? ( reaksi kimia dari ekstrak
enzim katalase dari H2O2 adalah sebagai berikut: 2H2O2 2H2O + O2 )
3. Mengapa terjadi gelembung ? ( Gelembung terjadi akibat dari enzim katalase
melakuakan penguraian hidrogen peroksida (H2O2) menjadi air (H2O) dan oksigen (O2) )
4. Apakah fungsi dari bara lidi ? ( Dalam percobaan ini bara lidi berfungsi sebagai indikator
ada tidaknya gas oksigen dalam tabung tersebut, yang timbul dari penguraian enzim
katalase terhadap hidrogen peroksida (H2O2) menjadi air (H2O) dan oksigen (O2), apabila
bara lidi menyala menandakan bahwa dalam tabung tersebut terdapat oksigen (O 2), yang
menandakan bahwa enzim katalase bekerja maksimal, sedangkan apabila bara lidi tidak
menyala menandakan bahwa dalam tabung tersebut tidak terdapat oksigen (O2), yang
menandakan bahwa enzim tidak bekerja secara maksimal

4. Pembahasan
Enzim adalah katalis yang terbuat dari protein dan dihasilkan oleh sel. Enzim
mempunyai sifat spesifik yaitu hanya mengatalisis reaksi kimia tertentu. Sebagai contoh
enzim katalase yang hanya menguraikan H2O2 menjadi H2O dan O2 dengan reaksi sebagai
berikut :
2H2O2 2H2O + O2
Enzim katalase adalah enzim yang dapat menguraikan hidrogen peroksida (H2O2)
yang tidak baik bagi tubuh makhluk hidup menjadi air (H2O) dan oksigen (O2) yang sama
sekali tidak berbahaya. Senyawa H2O2 yang ada dalam tubuh sangat berbahaya. Maka
enzim katalase menguraikan H2O2menjadi H2O dan gas O2 yang tidak berbahaya bagi
tubuh.
Selain itu, enzim ini di dalam tubuh manusia juga menguraikan zat-zat oksidatif
lainnya seperti fenol, asam format, maupun alkohol yang juga berbahaya bagi tubuh
manusia. Dengan begitu, berbagai racun yang masuk ke dalam tubuh manusia menjadi
tidak berbahaya lagi bagi tubuh. kesemua proses di atas biasanya terjadi di dalam organ

hati. Demikian cara kerja enzim katalase pada hati manusia.Enzim katalase terdapat
hampir di semua makhluk hidup. Enzim ini diproduksi oleh sel bagian badan mikro, yaitu
Peroksisom. Organ yang paling dominan menghasilkan enzim ini adalah bagian hati
(lever). Bagi sel, enzim ini adalah bodyguard yang melindungi bagian dalam sel dari
kondisi oksidatif dan racun (toksin) yang bagi kebanyakan orgnisme ekuivalen dengan
kerusakan.
Hal ini dapat dibuktikan dengan percobaan. Percobaan ini dilakukan dengan
menggunakan hati ayam dan kentang (sebagai perbandingan). Hati ayam digunakan
karena banyak mengandung enzim katalase. Hati ayam dan kentang kemudian dibuat
ekstrak. Yang terjadi pada ekstrak saat diberi perlakuan adalah sebagai berikut :

A. Ekstrak Hati Ayam


1. Pada ekstrak hati ayam yang ditambahkan senyawa H2O2 tanpa dipanaskan, tanpa
didingimkan, dan tanpa penambahan asam maupun basa, dihasilkan busa setinggi 3 cm
dan bara api yang dimasukan menyala. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam hati yang
masih segar tersebut terdapat banyak peroksisom sehingga menghasilkan lebih banyak
enzim katalase. Enzim katalase ini kemudian menguraikan senyawa hydrogen peroksida
menjadi air dan oksigen. Dengan gelembung-gelembung udara dalam kategori banyak
sekali yang dapat membuat bara api besar, menunjukkan bahwa enzim tersebut telah
memecah senyawa H2O2 menjadi oksigen, karena bara api semakin besar dikarenakan
adanya oksigen.
2. Pada ekstrak hati ayam yang dipanaskan pada suhu 400 C dan ditambahkan 5 tetes H2O2 ,
menghasilkan busa setinggi 4 cm dan bara api yang dimasukan menyala. Hal tersebut
disebabkan karena enzim katalase akan rusak pada suhu tinggi, namun karena jumlah
enzim katalase yang terdapat didalam hati ayam cukup banyak, sehingga enzim katalase
masih dapat bekerja pada suhu tinggi , walaupun hanya sebagian yang mengalami
kerusakan , sehingga penguraian H2O2 menjadi H2O dan O2 sempurna dan O2 yang
dihasilkan juga lebih banyak.
3. Pada ekstrak hati ayam yang didinginkan dengan es batu dan ditambahkan 5 tetes H2O2
menghasilkan busa setinggi 0,5 cm dan bara api yang dimasukan tidak menyala. Hal
tersebut disebabkan karena enzim katalase tidak aktif apabila bekerja pada suhu 0 0C atau
lebih rendah lagi, sehingga penguraian H2O2 menjadi H2O dan O2 tidak sempurna dan
O2 yang dihasilkan juga tidak bamyak. Walaupun terdapat busa, namun udara yang
dihasilkan dari busa tersebut mempunyai suhu rendah sehingga bara api yang dimasukan
akan padam.
4. Pada ekstrak hati ayam yang ditambahkan 5 tetes NaOH dan 3 tetes H2O2 menghasilkan
busa setinggi 0,5 cm dan bara api yang dimasukan tidak menyala. Hal tersebut
menunjukkan bahwa enzim katalase dalam hati tidak bekerja, karena tidak
dipecahkannya senyawa H2O2 menjadi H2O dan O2. Hal tersebut disebabkan karena
terjadinya denaturasi. Denaturasi enzim perlakuan ini disebabkan oleh penambahan
NaOH yang merubah kondisi di sekitar molekul menjadi kondisi basa. Derajat keasaman

(pH) sangat mempengaruhi aktivitas enzim, sehingga kondisi basa tersebut merusak
enzim katalase yang bekerja pada pH netral.
5. Pada ekstrak hati ayam yang ditambahkan 5 tetes HCl dan 3 tetes H2O2 menghasilkan
busa setinggi 0,5 cm dan bara api yang dimasukan tidak menyala. Hal tersebut
menunjukkan bahwa enzim katalase dalam hati tidak bekerja, karena tidak
dipecahkannya senyawa H2O2 menjadi H2O dan O2. Hal tersebut disebabkan karena
terjadinya denaturasi. Denaturasi merupakan rusaknya bentuk tiga dimensi enzim yang
menyebabkan enzim tidak dapat lagi berikatan dengan substratnya sehingga aktivasi
enzim menurun atau hilang (Diah,2006). Denaturasi enzim perlakuan ini disebabkan oleh
penambahan HCl yang merubah kondisi di sekitar molekul menjadi kondisi asam. Derajat
keasaman (pH) sangat mempengaruhi aktivitas enzim, sehingga kondisi asam tersebut
merusak enzim katalase yang bekerja pada pH netral.
B. Ekstrak Kentang
1. Pada ekstrak kentang yang ditambahkan senyawa H2O2 tanpa dipanaskan, tanpa
didingimkan, dan tanpa penambahan asam maupun basa, dihasilkan busa setinggi 0,3 cm
dan bara api yang dimasukan tidak menyala. Hal tersebut menyimpang dari fakta bahwa
umbi kentang mengandung enzim katalase. Penyimpangan tersebut kemungkinan terjadi
karena beberapa faktor, diantaranya :
Tidak sterilnya tabung reaksi atau alat lain yang kemungkinan masih mengandung sisa
senyawa asam atau basa dari percobaan.
Rusaknya kandungan enzim dari umbi itu sendiri.
sehingga penguraian H2O2 menjadi H2O dan O2 yang dilakukan oleh enzim katalase
kurang maksimal dan O2 yang dihasilkan juga sidikit.
2. Pada ekstrak kentang yang dipanaskan pada suhu 40 0C dan ditambahkan 5 tetes H2O2 ,
menghasilkan busa setinggi 2 cm dan bara api yang dimasukan sedikit menyala. Hal
tersebut disebabkan karena enzim katalase akan rusak pada suhu tinggi, yang dimana
jumlah kandungan enzim katalase yang terdapat didalam kentang tidak terlalu banyak
seperti yang terdapat dalam hati ayam, sehimgga enzim katalase yang masih tersisa masih
dapat bekerja pada suhu tinggi dan hanya sebagian yang mengalami kerusakan,sehingga
penguraian H2O2 menjadi H2O dan O2 kurang sempurna dan O2 yang dihasilkan juga
lebih sedikit.
3. Pada ekstrak kentang yang didinginkan dengan es batu dan ditambahkan 5 tetes H2O2
menghasilkan busa setinggi 1,5 cm dan bara api yang dimasukan tidak menyala. Hal
tersebut disebabkan karena enzim katalase tidak aktif apabila bekerja pada suhu 0 0C atau
lebih rendah lagi. Walaupun penguraian H2O2 menjadi H2O dan O2 sempurna dan O2
yang dihasilkan cukup banyak, namun O2 tersebut memiliki suhu yang rendah, sehingga
bara api yang dimasukan tidak menyala. Hal tersebut menunjukkan bahwa enzim katalase
dalam hati masih bekerja, karena berhasil dipecahkannya senyawa H2O2 menjadi H2O dan
O2. Hasil dari perlakuan ini menunjukkan bahwa enzim katalase tidak rusak dalam suhu
rendah. Pada suhu rendah enzim hanya mengalami inaktif, dengan kata lain enzim akan
bekerja kembali ketika telah mencapai suhu yang sesuai dan bertemu dengan substrat
yang cocok (karena enzim bekerja secara spesifik).
4. Pada ekstrak kentang yang ditambahkan 5 tetes NaOH dan 3 tetes H2O2 menghasilkan
busa setinggi 1,5 cm dan bara api yang dimasukan tidak menyala. Hal tersebut
disebabkan oleh kinerja enzim katalase yang kurang maksimal jika ditambahkan dengan

senyawa yang memiliki pH tinggi, sehingga tidak sesuai dengan pH optimal enzim
katalase yang bekerja, yang dimana senyawa NaOH merupakan basa kuat yang memiliki
pH tinggi (pH > 7), sehingga penguraian H2O2 menjadi H2 dan O2 sempurna dan O2 yang
dihasilkan juga lebih banyak mengadung H2O, sehingga bara api tidak dapat manyala.
5. Pada ekstrak kentang yang ditambahkan 5 tetes HCl dan 3 tetes H2O2 menghasilkan
busa setinggi 2 cm dan bara api yang dimasukan tidak menyala. Hal tersebut disebabkan
oleh kinerja enzim katalase kurang maksimal jika ditambahkan dengan senyawa yang
memiliki pH rendah, sehingga tidak sesuai dengan pH optimal enzim katalase yang
bekerja, yang di mana HCl merupakan asam kuat yang memiliki pH rendah dengan pH
sekitar 1 sampai 2 (pH < 7), sehingga penguraian H2O2 menjadi H2O dan O2 sempurna
dan O2 yang dihasilkan juga lebih banyak mengadung H2O, sehingga bara api tidak dapat
manyala.

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, kami berkesimpulan
bahwa kerja enzim katalase dipengaruhi oleh temperatur dan derajat keasaman (pH). Jika
suhu terlalu tinggi, maka enzim akan mengalami kerusakan. Jika pH terlalu asam atau
basa, enzim juga tidak dapat bekerja secara optimal. Namun, kerja enzim katalase pada
suasana asam sedikit lebih baik daripada kerja enzim katalase pada suasana basa, apabila
dilihat dari tingginya busa yang terbentuk. Sedangkan kerja enzim katalase pada suhu
tinggi lebih baik daripada kerja enzim katalase pada suhu rendah, apabila dilihat dari
tinggi busa yang terbentuk dan nyala bara api yang dihasilkan.

2. Saran
Penelitian ini akan lebih sempurna, apabila dilakukan sesuai dengan ketentuanketentuan di atas, namun yang perlu kami ingatkan pada saat melakuakan penelitian ini

agar lebih sempuna, sehingga mendapatkan data yang lebih kongkrit adalah sebagai
berikut:
a. Pada saat melakukan penelitian yang berkaitan dengan pengaruh suhu, usahakan pada
saat menambahkan larutan H2O2 tabung reaksi jangan diangka dari larutan H2O yang
didinginkan maupun yang dipanasakan, karena apabila diangkat maka otomatis suhu
eksktrak juga akan berubah, sehingga data yang diperoleh menjadi kurang kongkrit.
b. Pada saat melakukan pengujian dengan bara api, usahakan jangan sampai bara tersebut
terkena busa, karena apabila terkena busa maka bara api tersebut akan padam.
c. Pada saat melakukan penelitian berhati-hatilah jeka berhadapan denga larutan kimia,
jangan sampai tersentuh oleh kulit, Karen larutan tersebut sangat berbahaya apabila
tersentuh oleh kulit, usahkan gunakanlah sarung tangan.
Mungkin hanya ini saran yang dapat kami sampaikan, somoga saran kami
ini dapat bermanfaat bagi yang ingin mencoba penelitian yang kami lakukan ini, dan
mendapatkan hasil yang lebih sempurna dibandingkan kami. Terima Kasih, Wassallam.

DAFTAR PUSTAKA
1. http://bawelnduties93.blogspot.com/2010/11/analisis-percobaan-enzim-katalasepada.html
2. http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20091019045321AA6L1wr,.
3. Aryulina, Diah. 2006. Biologi SMA dan MA Jilid 3 unt
4.
5.
6.
7.

http://id.wikipedia.org/wiki/Enzim
http://www.biologi-online.org/enzym
http://www.scribd.com/doc/61778700/LAPORAN-Enzim-Katalase
Syamsuri, Istamar. 2007. Biologi 3A untuk SMA KELAS XII SEMESTER 1. Malang.
Penerbit Erlangga.
8. http://mr-fabio2.blogspot.com/2008/09/laporan-enzim-katalase.html
9. http://anekailmu.blogspot.com/2007/04/mengenal-hidrogen-peroksida-h2o2.html
10. http://id.wikipedia.org/wiki/Natrium_hidroksida
11. http://intannursiam.wordpress.com/tag/pengertian-buffer/