Anda di halaman 1dari 12

TY-BASED COSTING SYSTEM DALAM MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA

RAWAT INAP

(STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG)

SKRIPSI

disusun dan diajukan untuk memenuhi sebagai salah satu syarat untuk

mencapai derajat Sarjana Strata-1 jurusan Akuntansi

pada Fakultas Ekonomi UII

Oleh :

Nama : Fieda Femala

No Mahasiswa : 00312268

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

YOGYAKARTA

2007

i
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

“ Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang

sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau

diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan

disebutkan dalam referensi. Dan apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak

benar maka saya sanggup menerima hukuman/sangsi apapun sesuai peraturan yang berlaku.”

Yogyakarta, 21-09-2007

Penyusun,

(FIEDA FEMALA)

ii
ABSTRAK

Dalam penentuan harga pokok produk, sistim akuntansi biaya tradisional

kurang sesuai lagi untuk diterapkan di era tekhnologi yang modern seperti saat ini. Karena

sistem ini mempunyai beberapa kelemahan. Diantaranya adalah memberikan informasi biaya

yang terdistorsi. Distorsi timbul karena adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya,

sehingga mengakibatkan kesalahan penentuan biaya, pembuatan keputusan, perencanaan, dan

pengendalian (Supriyono, 1999: 259). Distorsi tersebut juga mengakibatkan

undercost/overcost terhadap produk (Hansen & Mowen, 2005). Adanya berbagai kelemahan

tersebut dapat diatasi dengan penggunaan metode Activity-Based Costing.

Activity-Based Costing adalah metode penentuan harga pokok yang menelusur biaya ke

aktivitas, kemudian ke produk. Perbedaan utama penghitungan harga pokok produk antara

akuntansi biaya tradisional dengan ABC adalah jumlah cost driver (pemicu biaya) yang

digunakan dalam metode ABC lebih banyak dibandingkan dalam sistem akuntansi biaya

tradisional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perhitungan tarif rawat inap dengan menggunakan

metode ABC, apabila dibandingkan dengan metode tradisional maka metode ABC

memberikan hasil yang lebih besar kecuali pada kelas VIP dan Utama I yang memberikan

hasil lebih kecil. Hal ini disebabkan karena pembebanan biaya overhead pada masing-masing

produk. Pada metode akuntansi biaya tradisional biaya overhead pada masing-masing produk

hanya dibebankan pada satu cost driver saja. Akibatnya cenderung terjadi distorsi pada

pembebanan biaya overhead. Sedangkan pada metode ABC, biaya overhead pada masing-

masing produk dibebankan pada banyak cost driver. Sehingga dalam metode ABC, telah

mampu mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara tepat berdasarkan konsumsi

masing-masing aktivitas.

xvii 1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

Dalam era globalisasi dan ditunjang perkembangan dunia usaha yang semakin

pesat mengakibatkan naiknya persaingan bisnis. Masing-masing perusahaan saling

beradu strategi dalam usaha menarik konsumen. Persaingan tersebut tidak hanya

persaingan bisnis dibidang manufaktur/industri tetapi juga dibidang usaha pelayanan

jasa. Salah satu bentuk usaha pelayanan jasa adalah jasa kesehatan, terutama jasa

rumah sakit. Hal ini terbukti semakin banyaknya rumah sakit yang didirikan baik

pemerintah maupun swasta. Akibat dari perkembangan rumah sakit yang semakin

pesat ini, menimbulkan persaingan yang ketat pula. Sehingga menuntut adanya

persaingan atas produk dan kepercayaan pelanggan.

Tugas utama rumah sakit adalah memberikan jasa pengobatan, perawatan, dan

pelayanan kesehatan. Dalam memberikan jasa pelayanan kesehatan, rumah sakit

memperoleh penghasilan dari pendapatan jasa dan fasilitas yang diberikan. Salah

satunya adalah jasa rawat inap. Dimana pendapatan dari jasa tersebut didapat dari tarif

yang harus dibayar oleh pemakai jasa rawat inap. Penentuan tarif jasa rawat inap

merupakan suatu keputusan yang sangat penting. Karena dapat mempengaruhi

profitabilitas suatu rumah sakit. Dengan adanya berbagai macam fasilitas pada jasa 2
rawat inap, serta jumlah biaya overhead yang tinggi, maka semakin menuntut

ketepatan dalam pembebanan biaya yang sesungguhnya.

Dalam menentukan harga pokok produk terkadang rumah sakit masih

menggunakan akuntansi biaya tradisional. Dimana sistem ini tidak sesuai dengan

lingkungan pemanufakturan yang maju, pada diversifiksi (keanekaragaman) produk

yang tinggi (Bunyamin Lumenta, 1989). Biaya produk yang dihasilkan oleh sistem

akuntansi biaya tradisional memberikan informasi biaya yang terdistorsi. Distorsi

timbul karena adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya, sehingga

mengakibatkan kesalahan penentuan biaya, pembuatan keputusan, perencanaan, dan

pengendalian (Supriyono, 1999: 259). Distorsi tersebut juga mengakibatkan

undercost/overcost terhadap produk (Hansen & Mowen, 2005).

Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, kemudian pada tahun 1800-an dan

awal 1900-an lahirlah suatu sistem penentuan harga pokok produk berbasis aktivitas

yang dirancang untuk mengatasi distorsi pada akuntansi biaya tradisional. Sistem

akuntansi ini disebut Activit-Based Costing. Definisi metode Activity-Based Costing

(ABC) merupakan suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya

keaktivitas dan kemudian keproduk (Hansen & Mowen, 1992)

Perbedaan utama penghitungan harga pokok produk antara akuntansi biaya

tradisional dengan ABC adalah jumlah cost driver (pemicu biaya) yang digunakan.

Dalam sistem penentuan harga pokok produk 3


dengan metode ABC menggunakan cost driver dalam jumlah lebih banyak

dibandingkan dalam sistem akuntansi biaya tradisional yang hanya menggunakan satu

atau dua cost driver berdasarkan unit.

Dalam metode ABC, menganggap bahwa timbulnya biaya disebabkan oleh

adanya aktivitas yang dihasilkan produk. Pendekatan ini menggunakan cost driver

yang berdasar pada aktivitas yang menimbulkan biaya dan akan lebih baik apabila

diterapakan pada perusahaan yang menghasilkan keanekaragaman produk.

Rumah sakit merupakan salah satu perusahaan jasa yang menghasilkan

keanekaragaman produk. Dimana output yang dijual lebih dari satu. Keanekaragaman

produk pada rumah sakit mengakibatkan banyaknya jenis biaya dan aktivitas yang

terjadi pada rumah sakit, sehingga menuntut ketepatan pembebanan biaya overhead

dalam penentuan harga pokok produk. Metode ABC dinilai dapat mengukur secara

cermat biaya-biaya yang keluar dari setiap aktivitas. Hal ini disebabkan karena

banyaknya cost driver yang digunakan dalam pembebanan biaya overhead, sehingga

dalam metode ABC dapat meningkatkan ketelitian dalam perincian biaya, dan

ketepatan pembebanan biaya lebih akurat.

RSUD Batang merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah yang

melayani kesehatan bagi masyarakat sekitar Batang. Dalam perhitungan biaya rawat

inap, RSUD Batang masih menggunakan sistem akuntansi biaya tradisional. Padahal

perhitungan biaya rawat inap sangat 4


penting karena berkaitan dengan masalah penentuan harga pokok rawat

inap.Yang pada akhirnya akan mempengaruhi penentuan harga jualnya atau tarif

rawat inap.Dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan

judul :

‘‘PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM

DALAM MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP

(STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG)” 5


1.2 Rumusan masalah

1. Bagaimanakah cara menghitung tarif jasa rawat inap pada RSUD Batang dengan

menggunakan Activity-Based Costing System.

2. Apakah ada perbedaan besarnya tarif jasa rawat inap pada RSUD Batang dengan

menggunakan perhitungan akuntansi biaya tradisional dan Activity-Based Costing

System.

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui penerapan Activity-Based Costing System dalam kaitannya

dengan penentuan tarif jasa rawat inap pada RSUD Batang.

2. Untuk mengetahui perbandingan besarnya tarif jasa rawat inap, dengan

menggunakan metode akuntansi biaya tradisional dan Activity-Based Costing

System pada RSUD Batang.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberikan pengetahuan mengenai penerapan Activity-Based Costing System

dalam kaitannya dengan penentuan tarif jasa rawat inap.

2. Memberikan alternative cara perhitungan tarif jasa rawat inap dengan

menggunakan konsep Activity-Based Costing System.

3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan cara penghitunagan tarif jasa rawat

inap dengan menggunakan konsep Activity-Based Costing System.

4. Membantu rumah sakit dalam menghitung dan menentukan tarif jasa rawat inap

dengan menggunakan metode Activity-Based Costing Syste6


BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Activity-Based Costing

Activity Based Costing merupakan metode yang menerapkan konsep-konsep akuntansi

aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat.

Namun dari perspektif manajerial, sistem ABC menawarkan lebih dari sekedar

informasi biaya produk yang akurat akan tetapi juga menyediakan informasi tentang

biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya

secara akurat ke objek biaya selain produk, misalnya pelanggan dan saluran distribusi.

Pengertian akuntansi aktivitas menurut Amin Widjaja (1992; 27) adalah :

“Bahwa ABC Sistem tidak hanya memberikan kalkulasi biaya produk yang lebih

akurat, tetapi juga memberikan kalkulasi apa yang menimbulkan biaya dan bagaimana

mengelolanya, sehingga ABC System juga dikenal sebagai sistem manajemen yang

pertama.”

Sedangakan menurut Mulyadi (1993:34) memberikan pengertian ABC sebagai

berikut :

“ABC merupakan metode penentuan HPP (product costing) yang ditujukan untuk

menyajikan informasi harga pokok secara cermat bagi kepentingan manajemen,

dengan mengikursecara cermat konsumsi sumber daya alam setiap aktivitas yang

digunakan untuk menghasilkan produk.”

Pengertian ABC Sistem yang lain juga dikemukakan oleh Hansen and Mowen (1999:

321) sebagai berikut :

“Suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas

kemudian ke produk.” 7
Pengertian akuntansi aktivitas menurut Brimson (1991: 47) adalah:

“Suatu proses pengumpulan dan menelusuri biaya dan data performan terhadap suatu

aktivitas perusahaan dan memberikan umpan balik dari hasil aktual terhadap biaya

yang direncanakan untuk melakukan tindakan koreksi apabila diperlukan.”

Definisi lain dikemukakan oleh Garrison dan Norren (2000: 292) sebagai berikut:

“Metode costing yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer

untuk keputusan strategik dan keputusan lainnya yang mungkin akan mempengaruhi

kapasitas dan juga biaya tetap.”

2.2 Konsep-Konsep Dasar Activity Based Costing

Activity Based Costing Sistem adalah suatu sistem akuntansi yang terfokus pada aktivitas-

aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk/jasa. Activity Based Costing

menyediakan informasi perihal aktivitas-aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan

untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah setiap kejadian atau

transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost driver) yakni, bertindak sebagai faktor

penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi. Aktivitas-aktivitas ini menjadi

titik perhimpunan biaya. Dalam sistem ABC, biaya ditelusur ke aktivitas dan

kemudian ke produk. System ABC mengasumsikan bahwa aktivitas-aktivitaslah, yang

mengkonsumsi sumber daya dan bukannya produk. 8


Gambar 2.1

Konsep Dasar Activity Based Costing

Resources

Process View

Cost Driver Activities Performance

Cost Object

Sumber: Hansen, Don .R. dan Maryanne, M. Mowen, 2005

2.3 Perbandingan Biaya Produk Tradisional dan ABC

Metode ABC memandang bahwa biaya overhead dapat dilacak dengan secara memadai pada

berbagai produk secara individual. Biaya yang ditimbulkan oleh cost driver

berdasarkan unit adalah biaya yang dalam metode tradisional disebut sebagai biaya

variabel.

Metode ABC memperbaiki keakuratan perhitungan harga pokok produk dengan mengakui

bahwa banyak dari biaya overhead tetap bervariasi dalam proporsi untuk berubah

selain berdasarkan volume 9


produksi. Dengan memahami apa yang menyebabkan biaya-biaya tersebut meningkat dan

menurun, biaya tersebut dapat ditelusuri kemasing-masing produk. Hubungan sebab

akibat ini memungkinkan manajer untuk memperbaiki ketepatan kalkulasi biaya

produk yang dapat secara signifikan memperbaiki pengambilan keputusan (Hansen

dan Mowen, 1999: 157-158)

Digambarkan dalam tabel, perbedaan antara penentuan harga pokok produk tradisional dan

sistem ABC, yaitu:

Tabel 2.1

Perbedaan penetapan harga pokok produk

Tradisional dengan Metode Activity Based Costing Metode Metode Activity Based Costing

Penentuan Harga Pokok Produk Tradisional


Tujuan Inventory level Product Costing
Lingkup Tahap produksi Tahap desain, produk

Tahap pengembangan
Fokus Biaya bahan baku, tenaga Biaya overhead

kerja langsung
Periode Perode akuntansi Daur hidup produk
Teknologi yang digunakan Metode manual Komputer telekomunikas