Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS FILTRASI GINJAL

Oleh: Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Siti Nur Hidayah : B1J011026 :I :2 : Arya Nugraha

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2013

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Ginjal adalah organ ber vaskularisasi tinggi yang menerima kurang lebih 25 % darah cardiac output. Masing-masing ginjal mengandung 1 juta nefron, yang berkembang dalam fetus sejak usia 35 minggu kehamilan. Masing-masing nefron terbentuk atas 2 bagian yaitu glomerulus yang terdiri dari bundel kapiler berdinding tipis yang berfungsi sebagai filter, dan sebuah tubulus yang berfungsi untuk mengalirkan cairan ultrafiltrat dari glomerulus. Fungsi ginjal normal ditandai dengan 3 hal pokok yaitu ultrafiltrasi glomerulus, reabsorpsi air dan solut yang difiltrasi dalam tubulus, serta sekresi ion-ion organik dan nonorganik tubulus (Guyton, 1996). Umumnya jumlah ginjal sepasang (dua buah) yang terdapat di dalam rongga perut, mempunyai bentuk menyerupai kacang buncis dengan hilus renalis yakni tempat masuknya pembuluh darah dan keluarnya ureter, mempunyai permukaan yang rata, kecuali pada sapi ginjalnya berlobus. Selubung ginjal (Ren) disebut kapsula ginjal, tersusun dari campuran jaringan ikat yakni serabut kolagen dan beberapa serabut elastis (Asmoro, 2012). Ginjal mempunyai fungsi yang sangat komplek, yakni sebagai filtrasi, absorpsi aktif maupun pasif, resorpsi dan sekresi. Total darah ke dua ginjal dapat mencapai 1200 cc/menit atau sebesar 1700 liter darah / hari. Semua ini akan difiltrasi oleh glomeruli dimana setiap menit dihasilkan 125 cc filtrat glomeruli atau 170 liter filtrat glomeruli setiap 24 jam pada ke dua ginjal. Dari jumlah ini beberapa bagian di resorpsi lagi keluar dari tubulus (Nurcahyo, 2012). Untuk mengetahui fungsi ginjal dalam melakukan filtrasi maka dilakukanlah praktikum analisis fitrasi ginjal ini sebagai gambaran dari fungsi filtrasi ginjal pada mamalia.

1.2. Tujuan Tujuan praktikum Analisis Filtrasi Ginjal adalah untuk menganalisis senyawa yang dapat melewati filter sebagai gambaran fungsi filtrasi ginjal mamalia.

II. MATERI DAN METODE

2.1. Materi

Bahan yang digunakan dalam praktikum analisis filtrasi ginjal adalah larutan benedicts, larutan biuret, larutan KI, larutan protein 1% , larutan glukosa 1%, larutan amilum 1%, dan akuades. Alat yang digunakan dalam praktikum analisis filtrasi ginjal adalah tabung reaksi, pipet tetes, tabung erlenmeyer, corong gelas, kertas GF/F pemanas air, rak tabung reaksi dan gelas ukur.

2.2. Metode 1. 1 mL larutan uji (protein, glukosa, amilum dan akuades) dimasukan ke dalam empat tabung yang telah di siapkan. 2. 3. Masing-masing tabung reaksi diberi label sesuai dengan isi larutan. 1 mL larutan biuret diambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan protein, amati dan catat perubahan warna yang terjadi. 4. 1 mL larutan benedicts ditambahkan ke dalam tabung reaksi berisi larutan glukosa. Panaskan campuran larutan tersebut selama 5 menit pada suhu 100 0C, amati dan catat perubahan warna yang terjadi. 5. Beberapa tetes larutan KI ditambahkan ke dalam tabung reaksi berisi larutan amilum sampai terjadi perubahan warna, amati perubahan warna tersebut dan catat hasilnya. 6. 1 mL larutan biuret ditambahkan kedalam tabung yang berisi akuades. Amati dan catat perubahan warna yang terjadi. 7. 4 tabung reaksi disiapkan, lalu isi dengan larutan uji (protein, glukosa, amilum, akuades) masing-masing sebanyak 2 mL. 8. Larutan uji disaring dengan kertas filter G/GF menggunakan corong gelas dan tabung erlenmeyer. 9. Percobaan pada langkah 3-6 diulangi terhadap filtrat hasil filtrasi.

10. Hasil pengamatan dicatatlah dan masukan ke dalam tabel.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil 3.1.1. Tabel Perbedaan Intensitas Warna NO. tabung 1 2 3 4 Larutan Intensitas Warna (sebelum filtrasi-tab. Reaksi) +++ +++ +++ Intensitas Warna (setelah filtrasi-fitrat) ++ ++ +++

Protein Glukosa Amilum Akuades

Gambar 3.1. Larutan Akuades

Gambar 3.2. Larutan Protein

Gambar 3. 3. Larutan Glukosa

Gambar 3.4. Larutan Amilum

3.2. Pembahasan Ginjal merupakan organ yang kompak, terikat pada dinding dorsal dan terletak retroperitoneal. Ginjal menghasilkan urin yang merupakan jalur utama ekskresi toksikan. Ginjal mempunyai volume aliran darah yang tinggi,

mengkonsentrasi toksikan pada filtrat, dan membawa toksikan melalui sel tubulus, serta mengaktifkan toksikan tertentu. Akibatnya ginjal merupakan organ sasaran utama dari efek toksik (Santoso dan anni, 2006). Ginjal terletak dibagian belakang abdomen atas, dibelakang peritonium (retroperitoneal), didepan dua kosta terakhir dan tiga otot-otot besar (transversus abdominis, kuadratus lumborum dan psoas mayor) di bawah hati dan limpa. Di bagian atas (superior) ginjal terdapat kelenjar adrenal (juga disebut kelenjar suprarenal). Kedua ginjal terletak di sekitar vertebra T12 hingga L3. Ginjal pada orang dewasa berukuran panjang 11-12 cm, lebar 5-7 cm, tebal 2,3-3 cm, kira-kira sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Berat kedua ginjal kurang dari 1% berat seluruh tubuh atau kurang lebih beratnya antara 120-150 gram (Asmoro, 2012).

Gambar Letak Ginjal Bentuknya seperti biji kacang, dengan lekukan yang menghadap ke dalam. Jumlahnya ada 2 buah yaitu kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari pada ginjal wanita. Ginjal kanan biasanya terletak sedikit ke bawah dibandingkan ginjal kiri untuk memberi tempat lobus hepatis dexter yang besar. Ginjal dipertahankan dalam posisi tersebut oleh bantalan lemak yang tebal. Kedua ginjal dibungkus oleh dua lapisan lemak

(lemak perirenal dan lemak pararenal) yang membantu meredam guncangan (Asmoro, 2012). Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat cortex renalis di bagian luar, yang berwarna coklat gelap, dan medulla renalis di bagian dalam yang berwarna coklat lebih terang dibandingkan cortex. Bagian medulla berbentuk kerucut yang disebut pyramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis (Asmoro, 2012). Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus. Pelvis renalis berbentuk corong yang menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga kaliks renalis majores yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga kaliks renalis minores. Medulla terbagi menjadi bagian segitiga yang disebut piramid. Piramid-piramid tersebut dikelilingi oleh bagian korteks dan tersusun dari segmensegmen tubulus dan duktus pengumpul nefron. Papila atau apeks dari tiap piramid membentuk duktus papilaris bellini yang terbentuk dari kesatuan bagian terminal dari banyak duktus pengumpul (Asmoro, 2012).

Gambar Nefron Ginjal Bagian luar ginjal diselaputi jaringan ikat padat yang membentuk kapsula renalis. Ginjal mendapat suplai darah dari arteri renalis yang kemudian bercabangcabang menjadi glomerulus. Glomerulus dan tubulus ginjal menyusun nefron

(nephron) yang berperan sebagai unit fungsional terkecil dalam pembentukan urin. Kapsula bowman dari glomerulus merupakan tempat filtrasi darah, kemudian cairan hasil filtrasi (ultrafiltrat) melewati tubulus ginjal dan akhirnya terbentuk urin. Glomerulus dan tubulus paling banyak terdapat pada bagian korteks renalis. Ginjal merupakann organ ekskresi terpenting melalui pembentukan air kencing (urin). Air kencing ditampung pada pelvis renalis dan dikeluarkan lewat ureter menuju ke vesica urinaria (Guyton.1996). Mekanisme kerja ginjal dalam proses filtrasi dapat di gambarkan dalam percobaan praktikum analisis filtrasi ginjal. Praktikum analisis filtrasi ginjal menggunakan kertas GF/F sebagai gambaran dari glomerulus pada ginjal yang berfungsi untuk memfiltrasi darah menjadi urin. Apabila larutan dapat tersaring oleh kertas GF/F tersebut maka larutan tersebut juga dapat tersaring pada ginjal mamalia. Begitu pula sebaliknya larutan yang tidak dapat tersaring dengan kertas GF/F tersebut juga tidak dapat tersaring pada ginjal mamalia, dengan demikian percobaan ini dapat di gunakan sebagai analisis filtrasi ginjal mamalia. Reagen yang digunakan dalam praktikum diantaranya adalah Larutan KI yang digunakan untuk menguji kandungan karbohidrat(amilum). Bila larutan yang kita tetesi lugol menghitam, maka larutan tersebut mengandung karbohidrat. Semakin hitam berarti larutan tersebut banyak kandungan karbohidratnya. Biuret adalah reagen yang digunakan untuk menguji kandungan protein. Bila larutan itu mengandung protein maka setelah bereaksi dengan biuret akan menghasilkan warna ungu/ warna lembayung. Benedicts adalah reagen yang digunakan untuk menguji kandungan glokusa pada larutan. Bila larutan itu mengandung glukosa maka setelah bereaksi dengan benedicts akan menghasilkan warna merah bata (Rohyami, 2012). Hasil praktikum menunjukan bahwa larutan protein dan akuades yang diberi reagen biuret berubah warna menjadi biru keunguan. Setelah dilakukan proses penyaringan warna larutan menjadi sedikit memudar. Larutan glukosa yang di beri reagen benedicts kemudian dipanaskan selama 5 menit menghasilkan warna merah bata. Setelah dilakukan penyaringan warna larutan menjadi lebih bening. Hal ini menunjukan bahwa protein dan air tidak disaring dalam ginjal namun ikut menjadi urin, sementara larutan glukosa tersaring di dalam ginjal. Larutan amilum yang di

tetesi dengan larutan reagen KI tidak menunjukan perubahan warna. Hal ini di karenakan konsentrasi larutan KI terlalu sedikit yaitu hanya 1 % sehingga larutan tidak mengalami perubahan warna setelah ditetesi larutan KI yang seharusnya berubah menjadi warna kehitaman (Rohyami, 2012). Umunya molekul dengan raidus 4nm atau lebih tidak tersaring, sebaliknya molekul 2 nm atau kurang akan tersaring tanpa batasan. Bagaimanapun karakteristik juga mempengaruhi kemampuan dari komponen darah untuk menyebrangi filtrasi. Selain itu beban listirk (electric charged ) dari sretiap molekul juga mempengaruhi filtrasi. Kation lebih mudah tersaring dari pada anionBahan-bahan kecil yang dapat terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak mengandung protein (Guyton.1996). Konsentrasi urin dalam ginjal membutuhkan reabsorpsi air yang dimediasi oleh saluran air, dalam mengumpulkan saluran, proses ini dikendalikan oleh hormon antidiuretik arginin-vasopressin yang mengikat reseptor V2 dan menginduksi akumulasi sitosolik siklik AMP (cAMP), fosforilasi dari aquaporin oleh protein kinase A di Ser 256, dan penyisipan Aquaporin ke dalam membran plasma apikal utama sel. Hasil Kekurangan air dan aquaporin dalam jangka panjang

mengakibatkan pengumpulan ekspresi di saluran ginjal. Manusia dan tikus, kemampuan berkonsentrasi urin menurun sejalan dengan usia, sehingga poliuria dan menurunkan osmolalitas urine . Beberapa strain tikus, cacat ini telah dikaitkan hilangnya nefron atau gangguan sekresi aquaporin (Combet, 2008). Tubulus konvulatus proksimalis dan distalis merupakan tempat terjadinya proses resorpsi dan ekskresi, dimana beberapa bahan seperti glukosa dan sekitar 50 % natrium klorida dan sejumlah air di resorpsi oleh sel tubulus melalui absorbsi aktif yang memerlukan energi, sedangkan air berdifusi secara pasif. Selanjutnya filtrat glomeruli yang tidak mengalami resorpsi diteruskan ke distal sampai tubulus kolektivus. Daerah ini terjadi pemekatan urin atau pengenceran terakhir tergantung dari keadaan cukup tidaknya anti-diuretik hormon (ADH). Hormon ini berpengaruh terhadap permeabilitas tubulus kolektivus terhadap air (Snell, 2006).

Berikut ini merupakan proses pembentukan urin pada mamalia menurut Gyuton (1996): 1. Penyaringan ( Filtrasi) Filtrasi darah terjadi di glomerulus, dimana jaringan kapiler dengan struktur spesifik dibuat untuk menahan komonen selular dan medium-molekular-protein besar kedalam vascular system, menekan cairan yang identik dengan plasma di elektrolitnya dan komposisi air. Cairan ini disebut filtrate glomerular. Tumpukan glomerulus tersusun dari jaringan kapiler. Di mamalia, arteri renal terkirim dari arteriol afferent dan melanjut sebagai arteriol eferen yang meninggalkan glomrerulus. Tumpukan glomerulus dibungkus didalam lapisan sel epithelium yang disebut kapsula bowman. Area antara glomerulus dan kapsula bowman disebut bowman space dan merupakan bagian yang mengumpulkan filtrate glomerular, yang menyalurkan ke segmen pertama dari tubulus proksimal. Struktur kapiler glomerular terdiri atas 3 lapisan yaitu endothelium capiler, membran dasar, epiutelium visceral. Endothelium kapiler terdiri satu lapisan sel yang perpanjangan sitoplasmik yang ditembus oleh jendela atau fenestrate (Guyton.1996). Dinding kapiler glomerular membuat rintangan untuk pergerakan air dan solute menyebrangi kapiler glomerular. Tekanan hidrostatik darah didalam kapiler dan tekanan oncotik dari cairan di dalam bowman space merupakan kekuatn untuk proses filtrasi. Normalnya tekanan oncotik di bowman space tidak ada karena molekul protein yang medium-besar tidak tersaring. Rintangan untuk filtrasi ( filtration barrier ) bersifat selektiv permeable. Normalnya komponen seluler dan protein plasmatetap didalam darah, sedangkan air dan larutan akan bebas tersaring (Guyton.1996). 2. Penyerapan ( Absorsorbsi) Tubulus proksimal bertanggung jawab terhadap reabsorbsi bagian terbesar dari filtered solute. Kecepatan dan kemampuan reabsorbsi dan sekresi dari tubulus renal tiak sama. Umumnya pada tubulus proksimal bertanggung jawab untuk mereabsorbsi ultrafiltrate lebih luas dari tubulus yang lain. Paling tidak 60% kandungan yang tersaring direabsorbsi sebelum cairan meninggalkan tubulus proksimal. Tubulus proksimal tersusun dan mempunyai hubungan dengan kapiler peritubular yang memfasilitasi pergerakan dari komponen cairan tubulus melalui 2 jalur : jalur

transeluler dan jalur paraseluler. Jalur transeluler, kandungan (substance ) dibawa oleh sel dari cairn tubulus melewati epical membrane plasma dan dilepaskan ke cairan interstisial dibagian darah dari sel, melewati basolateral membrane plasma (Sherwood, 2001). Jalur paraseluler, kandungan yang tereabsorbsi melewati jalur paraseluler bergerakdari vcairan tubulus menuju zonula ocludens yang merupakan struktur permeable yang mendempet sel tubulus proksimal satu daln lainnya. Paraselluler transport terjadi dari difusi pasif. Di tubulus proksimal terjadi transport Na melalui Na, K pump. Di kondisi optimal, Na, K, ATPase pump manekan tiga ion Na kedalam cairan interstisial dan mengeluarkan 2 ion K ke sel, sehingga konsentrasi Na di sel berkurang dan konsentrasi K di sel bertambah. Selanjutnya disebelah luar difusi K melalui canal K membuat sel polar. Jadi interior sel bersifat negative . pergerakan Na melewati sel apical difasilitasi spesifik transporters yang berada di membrane. Pergerakan Na melewati transporter ini berpasangan dengan larutan lainnya dalam satu pimpinan sebagai Na (contransport) atau berlawanan pimpinan

(countertransport ) (Sherwood, 2001). Substansi diangkut dari tubulus proksimal ke sel melalui mekanisme ini (secondary active transport ) termasuk gluukosa, asam amino, fosfat, sulfat, dan organic anion. Pengambilan active substansi ini menambah konsentrasi intraseluler dan membuat substansi melewati membrane plasma basolateral dan kedarah melalui pasif atau difusi terfasilitasi. Reabsorbsi dari bikarbonat oleh tubulus proksimal juga di pengaruhi gradient Na (Sherwood, 2001) 3. Penyerapan Kembali ( Reabsorbsi ) Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus kontortus distal. Substansi yang masih berguna seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Sisa sampah kelebihan garam, dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan dalam urin. Tiap hari tabung ginjal mereabsorbsi lebih dari 178 liter air, 1200 g garam, dan 150 g glukosa. Sebagian besar dari zat-zat ini direabsorbsi beberapa kali (Sherwood.2001).

Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder yang komposisinya sangat berbeda dengan urin primer, pada urin sekunder zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya ureum dari 0,03, dalam urin primer dapat mencapai 2% dalam urin sekunder. Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osn osis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal (Sherwood.2001). 4. Augmentasi Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal. Komposisi urin yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96% air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warm dan bau pada urin. Zat sisa metabolisme adalah hasil pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H20, NHS, zat warna empedu, dan asam urat (Sherwood.2001). Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut (Sherwood.2001). Amonia (NH3), hasil pembongkaran/pemecahan protein, merupakan zat yang beracun bagi sel. Oleh karena itu, zat ini harus dikeluarkan dari tubuh. Namun demikian, jika untuk sementara disimpan dalam tubuh zat tersebut akan dirombak menjadi zat yang kurang beracun, yaitu dalam bentuk urea. Zat warna empedu adalah sisa hasil perombakan sel darah merah yang dilaksanakan oleh hati dan disimpan pada kantong empedu. Zat inilah yang akan dioksidasi

jadi urobilinogen yang berguna memberi warna pada tinja dan urin.Asam urat merupakan sisa metabolisme yang mengandung nitrogen (sama dengan amonia) dan mempunyai daya racun lebih rendah dibandingkan amonia, karena daya larutnya di dalam air rendah (Sherwood.2001)

Karbon dioksida dan air merupakan sisa oksidasi atau sisa pembakaran zat makanan yang berasal dari karbohidrat, lemak dan protein. Kedua senyawa tersebut tidak berbahaya bila kadarnya tidak berlebihan. Walaupun CO2 berupa zat sisa namun sebagian masih dapat dipakai sebagai dapar (penjaga kestabilan PH) dalam darah. Demikian juga H2O dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, misalnya sebagai pelarut (Sherwood.2001). Menurut Pearce (2006), kelainan atau penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi akibat gangguan filtrasi, antara lain adalah sebagai berikut. 1. Glomerulonefritis adalah peradangan yang terjadi di glomerulus sehingga proses filtrasi darah terganggu. 2. Batu ginjal adalah adanya objek keras yang ditemukan di pelvis renalis ginjal. Komposisi batu ginjal adalah asam urat, kalsium oksalat, dan kalsium fosfat. Batu ginjal terjadi karena terlalu banyak mengonsumsi garam mineral, tetapi sedikit mengonsumsi air. Batu ginjal tersebut sering mengakibatkan iritasi dan pendarahan pada bagian ginjal yang kontak dengannya. 3. Gagal ginjal, terjadi karena ketidakmampuan ginjal untuk melakukan fungsinya secara normal. Hal ini dapat terjadi karena senyawa toksik, seperti merkuri, arsenik, karbon tetraklorida, insektisida, antibiotik, dan obat penghilang sakit pada tingkat yang tinggi. Gagal ginjal dapat diatasi dengan dialisis. Kita lebih mengenalnya sebagai proses cuci darah. Jika kerusakan ginjal sangat parah, dapat dilakukan transplantasi ginjal yang baru. 4. Glikosuria, hematuria, dan albuminaria. Glikosuria adalah kelainan yang dicirikan dengan ditemukannya glukosa pada urine. Hal tersebut

menunjukkan adanya kelainan pada tubulus ginjal. Hematuria adalah kelainan dengan tanda ditemukannya sel darah merah di dalam urine. Penyebabnya adalah peradangan pada ginjal atau karena iritasi akibat bergesekan dengan batu ginjal. Albuminaria adalah kelainan, yang ditandai dengan

ditemukannya zat putih telur (albumin) dalam urine. Hal tersebut disebabkan kerusakan membran pada kapsula Bowman yang menyebabkan protein berukuran besar seperti albumin dapat lolos dari filtrasi 5. Anuria, Anuria adalah kegagalan ginjal sehingga tidak dapat membuat urine. Hal ini disebabkan oleh adanya kerusakan pada glomerulus. Akibatnya,

proses filtrasi tidak dapat dilakukan dan tidak ada urine yang dihasilkan. Sebagai akibat terjadinya anuria, maka akan timbul gangguan keseimbangan di dalam tubuh. Misalnya, penumpukan cairan, elektrolit, dan sisa-sisa metabolisme tubuh yang seharusnya keluar bersama urine.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. 2. Senyawa yang tersaring pada proses filtrasi adalah karbohidrat dan amilum. Sementara akuades dan protein lolos dari saringan glomerulus masuk ke dalam urin.

DAFTAR PUSTAKA

Asmoro, Galay B. 2012. http://www.slideshare.net/GalayBintangAsmoro /ginjal-1. Diakses tanggal 25 maret 2013. Combet S., S. Gouraud, R. Gobin, V. Berthonaud, G. Geelen, B. Corman, and J.-M. Verbavatz. 2008. Aquaporin-2 Downregulation in Kidney Medulla of Aging Rats is Posttranscriptional and is Abolished by Water Deprivation. Am J Physiol Renal Physiol 294: F1408F1414. Guyton, Hall. 1996. Text Book of Medical Physiology. New York : W B Saunders Company. Page 477 545. Nurcahyo, Heru. 2012. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan Dasar. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Pearce, Efelin C. 2006. Anatomi dan fisiologi untuk paramedic Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Rohyami. 2012. http://rohyami.staff.uii.ac.id/2012/04/10/uji-kualitatifurine/. Diakses tanggal 25 maret 2013. Santoso Heri Budi dan Anni Nurliani. 2006.Efek Doksisiklin Selama Masa Organogenesis pada Struktur Histologi Organ Hati dan Ginjal Fetus Mencit. Biosciantiae. Vol.3(1):15-27. Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem.. Jakarta: EGC. Snell, Richard S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Jakarta: Syaifuddin. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC.