Anda di halaman 1dari 51

PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS KESEHATAN PRIMER TERHADAP PERILAKU PEMERIKSAAN

DETEKSI DINI KANKER SERVIKS DI PUSKESMAS KOTA YOGYAKARTA

Disusun oleh CLARA MONICA SUDARMAN 20110310033

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2014

HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL KTI HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP PETUGAS KESEHATAN PRIMER TERHADAP PERILAKU PEMERIKSAAN DETEKSI DINI KANKER SERVIKS DI PUSKESMAS KOTA YOGYAKARTA

Disusun oleh: CLARA MONICA SUDARMAN 20110310033

Telah disetujui pada tanggal: .. April 2013

Dosen pembimbing

..................................... NIK : ......

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum, Wr. Wb. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan Proposal Karya Tulis Ilmiah berjudul Hubungan tingkat Pengetahuan dan Sikap Petugas Kesehatan Primer terhadap Perilaku Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks dengan baik. Proposal Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai syarat untuk menyelesaikan pendidikan di Program Studi Kedokteran Umum Program Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ucapan terima kasih kepada dr. Brian Prima Artha, Sp.OG selaku pembimbing yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan ketekunan dalam penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak lain yang ikut membantu dalam proses penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini yaitu: 1. Dr. H. Ardi Pramono Sp.An, M. Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 2. Dr. Alfaina Wahyuni, Sp.Og, M. Kes, selaku Kepala Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. 3. Kedua orang tua, H. Ngaji Sudarman dan Hj. Sri Indarningsih , kakak-adik dan keluarga yang selalu memberi dukungan setiap saat. 4. Nafi Udin Arif yang senantiasa membantu. 5. Teman-teman kelompok Karya Tulis Ilmiah.

6. Sahabat sekalian Anindita, Khaulla, Ganang, Inamyart, Arga, Vebrina, Vivian. 7. Teman-teman Kedokteran Umum UMY angkatan 2011. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini, penulis mohon kritik dan saran dari pembaca. Semoga Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Yogyakarta, 24 April 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL .................................................................................... HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................ DAFTAR TABEL ......................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ........................................................... B. Rumusan Masalah .................................................................... C. Tujuan Penelitian ..................................................................... D. Manfaat Penelitian ................................................................... F. Keaslian Penelitian ................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka ...................................................................... 1. ASI .................................................................................... 2. ASI Eksklusi ..................................................................... 3. ASI-Non Eksklusif ............................................................ 4. Bayi dan Pertumbuhan ...................................................... 11 11 11 22 25 1 4 5 5 6 i ii iii iv vi viii ix x

B. Kerangka Konsep .................................................................... C. Hipotesis................................................................................... BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ..................................................................... B. Populasi dan Sampel Penelitian ............................................... C. Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................. D. Variabel Penelitian ................................................................... E. Definisi Operasional................................................................. F. Alat dan Bahan Penelitian ........................................................ G. Jalannya Penelitian ................................................................... H. Analisis Data ............................................................................ DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. LAMPIRAN

34 35

36 36 38 39 39 40 42 43 45

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR SINGKATAN DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Sampai saat ini, kanker serviks merupakan salah satu kanker yang paling sering diderita perempuan di dunia. Kanker pada leher rahim ini dialami oleh lebih dari 1,5 juta wanita dalam 5 tahun terakhir dengan angka kejadian per tahun lebih dari 520.000 kasus dan sekitar 265.000 orang meninggal di seluruh dunia. Kanker serviks menempati peringkat kedua dari segi jumlah penderita kanker pada perempuan di Indonesia. Berdasarkan data 5 tahun terakhir terjadi lebih dari 59.000 kasus kanker serviks dengan angka kejadian per tahun lebih dari 20.000 kasus dan sekitar 9.400 orang meninggal (GLOBOCAN, 2012). Oemiati, dkk. (2011) menunjukkan bahwa prevalensi tumor tertinggi berdasarkan provinsi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 9,66% dengan urutan jenis tumor tertinggi di Indonesia adalah tumor ovarium dan serviks yang mempunyai risiko berkembang menjadi kanker ovarium atau kanker serviks. Insidensi kanker serviks yang tinggi dapat meningkatkan beban kesehatan negara. Semestinya penyakit ini dapat dicegah dengan deteksi dini lesi prakanker, yaitu perubahan sel pada lapisan epitel serviks yang apabila segera diobati tidak akan berlanjut menjadi kanker serviks.

Insidensi kanker serviks turun sekitar 70%

selama 50 tahun terakhir

karena adanya program deteksi dini dan tatalaksana yang baik di Amerika Serikat, sedangkan angka penderita penyakit ini tidak mengalami penurunan, bahkan meningkat karena pengelolaan deteksi dini yang buruk dan populasi perempuan yang terus meningkat terjadi di negara-negara berkembang (Nuranna, dkk., 2008). Kanker yang disebabkan oleh infeksi virus human papilloma (HPV) ini umumnya tidak menunjukan gejala, bahkan ketika infeksi tersebut sudah menyebabkan lesi prakanker (Ocviyanti dan Handoko, 2013). Hal tersebut tentu merupakan faktor penyulit diagnosis dan terapi dini sehingga sebagian besar pasien dengan kanker serviks terdeteksi pada stadium lanjut yang memiliki resiko tinggi kematian. Metode tepat untuk menurunkan angka insidensi kejadian kanker serviks adalah dengan melakukan deteksi dini dan bila perlu terapi untuk lesi prakanker yang ditemukan. Tes Pap Smear dan tes IVA (inspeksi visual dengan aplikasi asam asetat) telah berhasil digunakan sebagai metode deteksi dini pencegahan kanker serviks di semua negara. Tes Pap Smear adalah pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks untuk dapat mendeteksi lesi prakanker, sedangkan tes IVA dilakukan dengan lebih sederhana karena tanpa memerlukan fasilitas laboratorium yaitu dengan mengoleskan asam cuka pada rahim dan mengamati perubahannya. Kedua metode tersebut memiliki spesifitas dan sensitivitas bervariasi antara 50-98% (Kustiyati

dan Winarni, 2011). Jika dibandingkan dengan wanita di negara-negara maju, amat sedikit jumlah perempuan di negara berkembang yang mempunyai akses pada pelayanan deteksi dini kanker serviks,

diperkirakan hanya 5% perempuan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang pernah menjalani pemeriksaan untuk deteksi dini kanker serviks selama 5 tahun terakhir (Huda, 2011). Angka insidensi kanker serviks di Indonesia masih tinggi, walaupun tes deteksi dini seperti Pap Smear dan IVA sudah cukup lama ditetapkan menjadi kebijakan deteksi dini kanker serviks oleh departemen kesehatan. Beberapa alasan tentang hal tersebut mengemukakan belum adanya sistem pelayanan yang terorganisasi baik, mulai dari deteksi dini sampai penanganan kanker leher rahim stadium lanjut. Adanya keterbatasan sarana dan prasana, termasuk tenaga ahli yang kompeten dalam menangani penyakit ini secara merata menjadi tantangan tersendiri dalam pencegahan kanker serviks (Nuranna, dkk., 2008). Tenaga ahli kompeten sebagai tenaga ahli dalam deteksi dini kanker serviks adalah seorang yang memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik mengenai kanker serviks secara umum dan pemeriksaan deteksi dini secara khusus. Tenaga ahli yang diharapkan adalah petugas pelayanan kesehatan primer, terutama dokter umum dan bidan di puskesmas. Dokter umum dan bidan adalah petugas kesehatan pertama yang paling memungkinkan pertama kali menangani pasien sebelum pasien dirujuk ke perawatan yang lebih intensif.

Penelitian yang dilakukan di lima wilayah di Jakarta memberikan hasil sebanyak 52,8% petugas kesehatan primer memiliki pengetahuan yang kurang mengenai kanker serviks, sedangkan 66,7% memiliki sikap cukup baik mengenai program deteksi dini kanker serviks, dan 76,8% memiliki perilaku yang kurang mengenai deteksi dini kanker serviks. Perilaku yang buruk ditunjukan dengan 31,8% petugas kesehatan primer langsung merujuk pasien dengan keluhan menyerupai kanker serviks tanpa melakukan tes deteksi dini terlebih dahulu dan sebagian besar petugas kesehatan primer menyatakan tidak pernah melakukan pemeriksaan genitalia interna dan eksterna (Fauziah, dkk., 2011). Penjelasan mengenai hubungan pengetahuan yang buruk dan sikap yang hanya cukup terhadap perilaku yang buruk pemeriksaan deteksi dini kanker serviks belum dijabarkan. Hal tersebut penting untuk diketahui karena fakta menunjukan bahwa masih tingginya angka insidensi kanker serviks di Indonesia yang disebabkan karena angka deteksi dini kanker serviks yang rendah. Data ini sangat bermanfaat sebagai acuan evaluasi terhadap deteksi dini kanker serviks terutama pada petugas kesehatan primer sehingga dapat meningkatkan upaya pencegahan penyakit kanker serviks. Berdasarkan latar belakang di atas, untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku perilaku deteksi dini kanker serviks, maka diperlukan penelitian dengan judul Hubungan tingkat Pengetahuan dan Sikap Petugas Kesehatan Primer terhadap Perilaku

Pemeriksaan Yogyakarta.

Deteksi

Dini

Kanker

Serviks

di

Puskesmas

Kota

Dalam masalah kesehatan, Al-Quran lebih banyak menjelaskan tindakan-tindakan yang bersifat pencegahan (preventif), daripada tindakan pengobatan dan penyembuhan (kuratif). Hal ini harus direnungkan dan menjadi panduan manusia dalam membangun kesehatan individu dan masyarakat. Tindakan-tindakan preventif yang dijelaskan di dalam AlQuran sebenarnya tidak dijelaskan secara khusus sebagai upaya untuk menjaga kesehatan, namun merupakan bagian ibadah ritual dan panduan hidup keseharian. Sebagai manusia kita harus percaya bahwa Allah telah memberikan petunjuk adanya suatu penyakit dan akan memberikan kesembuhan bagi orang-orang yang beriman. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Quran surat Yunus ayat 57: )75( Artinya: Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (10: 57)

B. Rumusan Masalah Apakah terdapat hubungan tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks di puskesmas kota Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Secara umum peneliti ingin mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks di puskesmas kota Yogyakarta. 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui tingkat pengetahuan petugas kesehatan primer terhadap deteksi dini kanker serviks di puskesmas kota Yogyakarta. b. Mengetahui nilai sikap petugas kesehatan primer terhadap deteksi dini kanker serviks di puskesmas kota Yogyakarta. c. Mengetahui nilai perilaku petugas kesehatan primer terhadap deteksi dini kanker serviks di puskesmas kota Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu: 1. Manfaat Teoritis Untuk pengembangan pengetahuan tentang hubungan tingkat

pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. 2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti

Hasil penelitian ini dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. b. Bagi Petugas Kesehatan Primer Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada petugas kesehatan primer tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. c. Bagi Instansi 1) Bagi Perpustakaan Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta Hasil penelitian ini dapat menambah kepustakaan bagi dosen dan mahasiswa sehingga memperluas pengetahuan tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. 2) Bagi Profesi Dokter Bagi dunia pendidikan kedokteran hasil penelitian ini bermanfaat sebagai sumber informasi untuk pengembangan ilmu kedokteran khususnya dan sebagai acuan atau sumber data untuk penelitian berikutnya yang berkaitan dengan hubungan

tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks. 3) Bagi pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Kesehatan Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai tambahan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan mengenai hubungan tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks.

E. Keaslian Penelitian Sepengetahuan penulis, penelitian tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer terhadap perilaku pemeriksaan deteksi dini kanker serviks ini belum pernah dilakukan di puskesmas kota Yogyakarta. Penelitian yang terkait dengan penelitian ini adalah : Tabel 1.1 Keaslian Penelitian NO PENELITI 1 Bakemeier RF, Krebs LU, Murphy JR, Shen Z, Ryals T (1995) JUDUL PENELITIAN Attitudes of Colorado health professionals toward breast and cervical cancer screening in Hispanic women HASIL PENELITIAN Sikap dokter, perawat, dan petugas kesehatan terhadap deteksi dini kanker serviks cukup baik dengan kendala biaya, masalah sosial, dan rasa malu pada pasien PERSAMAAN PERBEDAAN

Meneliti sikap 1. Sampel penyedia yang layanan digunakan kesehatan dokter, terhadap perawat dan deteksi dini petugas kanker serviks kesehatan dengan desain 2. Variabe penelitian l bebas yang analitik cross digunakan sectional sikap dokter,

T Aldrich, D Becker, S G garcia, D Lara (2003)

Mexican physicians' knowledge and attitudes about the human papillomavirus and cervical cancer: a national survey

1. 80% dokter umum dan dokter kandungan mempunyai pengetahuan yang cukup baik tentang HPV dan kanker serviks, tetapi tidak memiliki pengetahuan rinci 2. Dokter kandungan memiliki pengetahuan tentang HPV dan kanker serviks lebih baik daripada dokter umum 3. Dokter umum dan dokter kandungan mendukung adanya deteksi, pengelolaan, dan konseling dini mengenai HPV dan kanker serviks 1. 52, 8% petugas layanan primer memiliki pengetahuan kurang mengenai kanker serviks 2. 66,7% petugas layanan primer memiliki sikap cukup mengenai deteksi dini kanker serviks 3. 76,8% petugas layanan primer

Meneliti pengetahuan dan sikap penyedia layanan kesehatan terhadap kanker serviks dalam hal skrining dan pengelolaan.

perawat dan petugas kesehatan 1. Desain penelitian yang digunakan analitik X2 2. Sampel yang digunakan dokter umum dan dokter kandungan

Rathi MF, Jimmy PW, Rossalina L, Amanda PU, Rahmat C, Setyawati B (2008)

Deteksi Dini Kanker Serviks pada Pusat Pelayanan Primer di Lima Wilayah DKI Jakarta

Meneliti pengetahuan, sikap, dan perilaku petugas kesehatan primer terhadap deteksi dini kanker serviks dengan metode penelitian cross sectional

Desain penelitian deskriptive atau hanya pemaparan suatu kasus

memiliki perilaku kurang mengenai deteksi dini kanker serviks

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Deteksi Dini Kanker Serviks Deteksi dini kanker ialah usaha untuk mengidentifikasi atau mengenali penyakit atau kelainan yang secara klinis belum jelas, dengan menggunakan tes (uji), pemeriksaan, atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara tepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat, benar-benar sehat, dan yang tampak sehat tapi sesungguhnya menderita kelainan (Rasjidi, 2008). Deteksi dini bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit pada stadium yang lebih awal atau dengan kata lain menemukan adanya kelainan sejak dini, yaitu kanker yang masih dapat disembuhkan untuk mengurangi morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) akibat kanker (Rasjidi, 2008). Oleh karena itu, mengetahui kanker serviks beserta seluk-beluknya sejak dini adalah suatu hal yang sangat perlu untuk mengantisipasi, bahkan mungkin wajib bagi wanita yang sudah terserang penyakit mematikan ini. Sebab, dengan mengetahui kanker serviks sejak dini, berarti sudah mempunyai peluang yang sangat besar untuk bisa melakukan pencegahan atau pengobatan sendiri (Tilong, 2012). 1.1 Pengertian Kanker Serviks

Menurut Rasjidi (2010), kanker serviks adalah satu jenis keganasan atau neoplasma yang lokasinya terletak di daerah serviks yaitu daerah leher rahim atau mulut rahim. Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim, tetapi terbentuknya secara perlahan. Awalnya beberapa sel berubah dari normal menjadi sel-sel prakanker, baru kemudian menjadi sel kanker. Terjadiya dapat bertahun-tahun namun, adakalanya terjadi lebih cepat. Perubahan itu sering disebut displasia (Soebachman, 2011). 1.2 Penyebab Kanker Serviks Kanker serviks merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh HPV atau Human Papilloma Virus onkogenik, mempunyai persentase yang cukup tinggi dalam menyebabkan kanker serviks, yaitu sekitar 99,7% (Tilong, 2012). Infeksi dari Human Papiloma Virus (HPV), biasanya terjadi pada perempuan usia subur. HPV ditularkan melalui hubungan seksual dan ditemukan pada 95% kasus kanker mulut rahim. Infeksi HPV dapat menetap menjadi displasia atau tumbuh secara sempurna (Kumalasari dan

Andhyantoro, 2012). Terdapat 200 tipe HPV yang sudah teridentifikasi dan terdapat 100 tipe HPV yang dapat menginfeksi manusia. HPV resiko tinggi menyebabkan kanker (onkogenik) yaitu tipe 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58. Sebanyak 70% dari kanker serviks

disebabkan oleh HPV 16 dan 18. HPV resiko tipe rendah yaitu tipe 6, 11, 32, 42, 43, dan 44 hanya menyebabkan kutil kelamin yang jinak (Kumalasari dan Andhyantoro, 2012). 1.3 Gejala Kanker Serviks Kanker serviks pada stadium dini sering tidak

menunjukkan gejala atau tanda-tanda yang khas, bahkan kadangkadang tidak ada gejala sama sekali (Kumalasari dan

Andhyantoro,2012). Menurut Soebachman (2011), gejala sering kali baru terlihat ketika kanker telah berkembang lebih jauh dan telah menyebar ke daerah di dekatnya. Gejala yang utama terjadi pada kanker serviks menurut Mardjikoen (2005) adalah : 1) Perdarahan per vaginam : pada stadium awal terjadi perdarahan sedikit pasca kontak, sering terjadi pasca koitus atau periksa dalam. Penyebab perdarahan per vaginam adalah eksfoliasi jaringan kanker. 2) Sekret per vaginam: pada stadium awal berupa keputihan bertambah, disebabkan iritasi oleh lesi kanker atau peradangan glandula serviks, disebabkan hipersekresi. Adanya progresi penyakit, maka sekret bertambah, encer seperti air, berbau amis, bila terjadi infeksi timbul bau busuk atau bersifat purulen.

3) Nyeri : umumnya pada stadium sedang, lanjut atau bila disertai infeksi. Sering berlokasi di abdomen bawah, regio gluteal atau sakrokoksigeal. Nyeri abdomen bawah tengah mungkin disebabkan lesi kanker serviks atau parametrium disertai infeksi atau akumulasi cairan, pus dalam kavum uteri yang menyebabkan uterus kontraksi. Nyeri intermiten abdomen bawah satu atau kedua sisi mungkin disebabkan oleh kompresi atau invasi tumor sehingga ureter obstruksi dan dilatasi. Bila timbul hidronefrosis dapat menimbulkan nyeri area ginjal. Nyeri tungkai bawah, gluteal, sakrum umumnya disebabkan desakan atau invasi tumor terhadap saraf kavum pelvis. 4) Gejala saluran urinarius: sering kali karena infeksi, dapat timbul polakisuria, urgensi dan disuria. Dengan progresi kanker, dapat mengenai buli-buli, timbul hematuria, piuria, hingga terbentuk fistel sisto-vagina. Bila lesi mengenai ligamen kardinal, mendesak atau invasi ureter, timbul hidronefrosis, akhirnya menyebabkan uremia. Tidak sedikit pasien stadium lanjut meninggal akibat uremia. 5) Gejala saluran pencernaan: ketika lesi kanker serviks menyebar ke ligamen kardinal, ligament sakral, dapat menekan rektum, timbul obstipasi, bila tumor menginvasi

rektum dapat timbul hematokezia, akhirnya timbul fistel rektovaginal. 6) Gejala sistemik: semangat melemah, letih, demam, mengurus, anemia, udem.

1.4 Faktor Risiko Kanker Serviks Menurut Kumalasari dan Andhyantoro (2012), beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menyebabkan perempuan terpapar Human Pappiloma Virus diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Menikah atau memulai aktivitas seksual pada usia muda. Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda perempuan melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. 2. Jumlah kehamilan dan partus. Semakin sering partus samakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks. 3. Perilaku seksual. Berdasarkan penelitian, resiko kanker serviks meningkat lebih dari 10 kali bila berhubungan dengan enam atau lebih mitra seks, atau bila berhubungan seks pertama di bawah umur 15 tahun. 4. Riwayat infeksi di daerah kelamin dan radang panggul. Infeksi menular seksual (IMS) dapat menjadi peluang meningkatnya resiko terkena kanker serviks.

5. Sosial ekonomi. Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah, mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas, dan kebersihan perseorangan. 6. Hygiene dan sirkumsisi. Adanya pengaruh mudah terjadinya kanker serviks pada perempuan yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada prianonsirkumsisi, hygiene penis tidak terawat sehingga banyak terdapat kumpulan smegma. 7. Merokok dan alat kontrasepsi dalam rahim. Zat nikotin dan berbagai zat lain dalam rokok dapat menurunkan daya tahan serviks dan menyebabkan kerusakan DNA epitel serviks sehingga timbul kanker serviks. Sedangkan pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim akan berpengaruh terhadap kanker serviks yaitu bermula dari adanya erosi di serviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terusmenerus. 8. Defisiensi zat gizi. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa defisiensi asam folat dan pada wanita yang rendah konsumsi beta karoten dan vitamin (A,C, dan E) dapat meningkatkan resiko terkena kanker serviks. 1.5 Metode Deteksi Dini Kanker Serviks

Kebanyakan kanker serviks dapat dicegah. Ada dua cara untuk mencegah penyakit ini yaitu dengan menemukan dan mengobati prakanker serviks sebelum menjadi kanker serviks, kemudian mencegah terjadinya prakanker serviks. Maka cara terbaik untuk mengatasinya adalah deteksi dini alias tidak menunggu sampai gejala muncul. (Soebachman, 2011). Skrining pemeriksaan kanker serviks yang dapat dilakukan dapat dilakukan yakni : tes Pap smear, IVA, kolposkopi, servikografi, tes HPV (Nuranna,2010). Program deteksi dini kanker serviks yang terdapat di puskesmas adalah uji Pap Smear dan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), berikut adalah penjelasan mengenai keduanya: a. Uji Pap Smear i) Pengertian Pap Smear Pap smear test atau papanicolaou smear diambil dari nama dokter Yunani yang menemukan metode ini, yaitu Goerge N. Papanicolaou, yang merancang metode

mewarnai pulasan sampel sel-sel untuk diperiksa sekitar 50 tahun yang lalu. Pap smear test merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) menggunakan alat yang dinamakan speculum dan dilakukan oleh bidan ataupun ahli

kandungan. Pemeriksaan ini bermanfaat mengetahui adanya

HPV ataupun sel karsinoma penyebab kanker serviks (Tilong, 2012). ii) Akurasi uji Pap Smear Akurasi pelayanan, pap smear tergantung dari kualitas dan

termasuk

pengambilan,

persiapan,

interpretasi hasil. Spesifisitas pap smear biasanya lebih dari 90% (WHO, 2006). Sensitivitas pap smear bila dikerjakan setiap tahun mencapai 90%, setiap 2 tahun 87%, setiap 3 tahun 78% dan bila setiap 5 tahun mencapai 68% (Andrijono, 2010). iii) Indikasi uji Pap Smear Berikut beberapa kelompok yang seharusnya

melakukan pap smear menurut WHO (2006): a. Wanita yang berusia 25-65 tahun yang tidak pernah melakukan pap smear sebelumnya atau pernah sekali 3 tahun yang lalu.

b. Wanita yang pernah melakukan pap smear sebelumnya namun dilaporkan inadekuat atau menunjukkan hasil abnormalitas ringan.

c. Wanita yang memiliki keluhan perdarahan abnormal, perdarahan setelah senggama atau setelah menopause, atau gejala abnormal lainnya.

d. Wanita yang memiliki serviks yang abnormal.

iv)

Interpretasi uji Pap Smear

Dikenal beberapa sistem pelaporan hasil pemeriksaan Pap smear, yaitu sistem Papanicolaou, sistem Cervical Intraepithel Neoplasm (CIN), dan sistem Bethesda. Sistem pelaporan yang berkembang adalah sistem Bethesda, Bethesda 1988 direvisi menjadi Bethesda 2001. Klasifikasi Bethesda memperkenalkan dua kategori untuk derajat lesi prakanker, lesi derajat rendah ( low grade squamous epithelial lesion ) setara dengan CIN I dan lesi derajat tinggi ( high grade squamous epithelial lesion ) setara dengan CIN II dan CIN III. Klasifikasi Sistem Bethesda menurut Price (2006):

(1) ASCUS (sel skuamosa atipikal yang tidak dapat ditentukan secara signifikan). Sel skuamosa adalah sel datar, tipis yang membentuk permukaan serviks.

(2) LSIL (tingkat rendah [perubahan dini dalam ukuran dan bentuk sel] lesi intraepithelial skuamosa). Lesi mengacu pada

daerah jaringan abnormal; intraepithelial berarti bahwa sel abnormal hanya terdapat pada permukaan lapisan sel-sel.

(3) HSIL (sel skuamosa intraepithelial tingkat-tinggi). Tingkat tinggi berarti bahwa terdapat perubahan yang lebih jelas dalam ukuran dan bentuk abnormal sel-sel (prekanker) yang terlihat berbeda dengan sel-sel normal.

b. Uji IVA i) Pengertian IVA IVA singkatan dari Inspeksi Visual dengan Asam Asetat, yaitu suatu metode pemeriksaan dengan mengoles serviksa atau leher rahim menggunakan lidi wotten yang telah dicelupkan ke dalam asam asetat atau asam cuka 3-5 % dengan mata telanjang (Kumalasari dan Andhyantoro, 2012). IVA dilakukan hanya untuk deteksi dini. Jika terlihat tanda yang mencurigakan, maka metode deteksi lainnya yang lebih lanjut harus dilakukan. Metode tersebut memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan pap smear test yang selama ini lebih popular (Tilong, 2012). ii) Tujuan Pemeriksaan IVA

1.

Mendapatkan kanker serviks pada stadium lebih awal.

2.

Mendeteksi secara dini adanya perubahan sel mulut rahim yang dapat mengarah ke kanker mulut rahim beberapa tahun kemudian.

3.

Penanganan

secara

dini

dapat

dilakukan

sehingga terhindar dari kanker mulut rahim. 4. Pengobatan diharapkan berhasil lebih baik (Wiknjosastro, 2005) iii) Indikasi Pemeriksaan IVA 1. 2. Setiap wanita yang sudah atau pernah menikah. Wanita yang beresiko tinggi terkena kanker serviks, seperti perokok, menikah muda, sering berganti pasangan. 3. 4. Memiliki banyak anak Mengidap penyakit menular seksual (Sukaca, 2009). iv) Interpretasi Pemeriksaan IVA Bila terdapat lesi kanker, maka akan terjadi perubahan warna agak keputihan pada leher rahim yang diperiksa (Tilong, 2012). Daerah yang tidak normal akan berubah warna menjadi putih (acetowhite) dengan batas yang tegas, dan mengindikasikan bahwa serviks mungkin

memiliki lesi prakanker. Jika tidak ada perubahan warna, maka dapat dianggap tidak ada infeksi pada serviks (Kumalasari dan Andhyantoro, 2012). Menurut Tilong (2012), dalam hal ini beberapa kategori yang dapat dipergunakan dalam pemeriksaan metode IVA. Berikut adalah beberapa kategori yang dapat dipergunakan pada pemeriksaan dengan metode IVA yakni : a. IVA negatif yang merupakan serviks normal. b. IVA radang , yakni serviks dengan radang (senvisitis) atau kelainan jinak lainnya (polip serviks). c. IVA positif, yakni apabila ditemukan bercak putih (aceto white epithelium). Kelompok ini yang menjadi sasaran temuan screening kanker serviks dengan metode IVA karena temuan ini mengarah pada diagnosis serviks prakanker. d. IVA kanker serviks. Tahap ini berupaya untuk penurunan temuan stadium kanker serviks sehingga masih akan bermanfaat bagi penurunan kematian akibat kanker serviks, yakni ditemukan pada stadium invasif dini (stadium IB-II A). v) Perbandingan uji IVA dengan uji pap Smear

Menurut

Tilong

(2012),

adapun

beberapa

keunggulanm metode IVA dibandingkan pap smear adalah sebagai berikut : a. Tidak memerlukan alat tes laboratorium yang canggih (alat pengambil sampel jaringan, preparat, regen, mikroskop, dan lain sebagainya). b. Tidak memerlukan teknisi lab khusus untuk pembacaan hasil tes. c. Hasilnya langsung diketahui, tidak memakai waktu berminggu-minggu. d. Sensitivitas IVA dalam mendeteksi kelainan leher rahim lebih tinggi daripada pap smear test (sekitar 75 %), meskipun dari segi kepastian lebih rendah (sekitar 85 %). e. Biayanya sangat murah (bahkan, gratis bila dipuskesmas). 2. Pengetahuan 2.1 Definisi Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari Tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yaitu: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan atau kognitif yang merupakan domain yang sangat

penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Notoatmodjo, 2007). Menurut Suparlan Suhartono (2008:48), pengetahuan

adalah sesuatu yang ada secara niscaya pada diri manusia. Keberadaannya diawali dari kecendrungan psikis manusia sebagai bawaan kodrat manusia, yaitu dorongan ingin tahu yang bersumber dari kehendak atau kemauan. 2.2 Tingkatan Pengetahuan Menurut Notoatmodjo tingkat pengetahuan terdiri dari 6 tingkatan, yakni : a. Tahu (Know) Tahu diartikan mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Tahu merupaan tingkat pengetahuan yang paling rendah dengan mengingat kembali tahap suatu yang spesifik dari keseluruhan bahan yang dipelajari atau rangsangan. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai sutau kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar. c. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan suatu materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. d. Analisa (Analysis)

Analisa adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen tetapi di dalam suatu struktur organisasi tersebut masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (Shintesis) Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan pengetahuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. 2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007), terdapat 6 faktor yang

mempengaruhi pengetahuan, yaitu: a. Pengalaman Pengalaman yang diperoleh dari pengalaman sendiri maupun orang lain akan menambah pengetahuan seseorang. Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan profesional, serta dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari

keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang kerjanya. b. Tingkat Pendidikan

Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seeorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi. Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang didapat tentang kesehatan, tetapi perlu ditekankan bahwa seorang yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah pula. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada pendidikan non formal. c. Keyakinan Pengetahuan dapat berdasar pada keyakinan yang telah didapat seseorang secara turun temurun, dapat bersifat positif maupun negatif. d. Fasilitas Fasilitas mencakup sumber informasi yang dapat menambah pengetahuan seseorang, misalnya koran, majalah, radio, televisi, dan buku e. Penghasilan Penghasilan secara tidak langsung berpengaruh terhadap

pengetahuan. Seseorang dengan penghasilan besar dapat membeli fasilitas sumber informasi dan mengemban pendidikan yang lebih tinggi pula. f. Sosial Budaya

Kebudayaan seseorang akan mempengaruhi keyakinan, sikap, persepsi dan pengetahuan seseorang. 3. Sikap 3.1 Definisi Sikap Sikap adalah merupakan reaksi dan respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau objek. Sikap tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap obyek (Notoatmodjo, 2007). Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah terhadap respon individu pada semua objek dan situasi yang berkaitan dengannya. (Widayatun,T.R, 2009) 3.2 Komponen Sikap Struktur sikap menurut Azwar (2008) dibagi menjadi 3 komponen yang saling menunjang yaitu: 1. Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. 2. Kompenen affektif menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Aspek

emosional inilah yang biasanya berakar paling dalam dan merupakan aspek yang paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin. 3. Komponen konatif menunjukkan bagaimana

kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang yang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. 3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sikap Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keluarga terhadap obyek sikap antara lain : a. Pengalaman Pribadi Kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi berulang-ulang dan terus-menerus, lama-kelamaan secara bertahap diserap kedalam individu dan mempengaruhi terbentuknya sikap. Pengalaman pribadi yang melibatkan faktor emosional akan menimbulkan kesan yang kuat pada suatu individu. b. Pengaruh orang lain yang dianggap penting Dalam pembentukan sikap, pengaruh orang lain sangat berperan sehingga individu cenderung memiliki sikap yang searah dengan sikap orang yang dianggap penting. Kecenderungan dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut. c. Kebudayaan

Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya, karena tanpa disadari kebudayaan telah memberikan corak pengalaman pada individu-individu masyarakatnya. d. Media Massa Media masa elektronik maupun media cetak sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Berita yang seharusnya faktual cenderung dipengaruhi oleh sikap penulisnya, akibatnya berpengaruh terhadap sikap konsumennya. e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga agama menentukan sistem kepercayaan, sehingga tidak

mengherankan apabila konsep tersebut juga mempengaruhi pembentukan sikap. f. Faktor Emosional Sikap yang didasari oleh emosi fungsinya hanya sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego, sikap yang demikian merupakan sikap sementara dan segera berlalu setelah frustasinya hilang, namun bisa juga menjadi sikap yang lebih persisten dan bertahan lama. (Azwar, 2009). 3.4 Tingkatan Sikap Menurut Notoatmodjo (2003) sikap terdiri dari 4 tingkatan yakni : a. Menerima (receiving)

Menerima

diartikan

bahwa

orang

(subyek)

mau

dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). b. Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi sikap, karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. Terlepas pekerjaan itu benar atau salah adalah berarti orang menerima ide tersebut. c. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. d. Bertanggung jawab (responsible) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. 4. Perilaku 4.1 Definisi Perilaku Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Jadi yang dimaksud perilaku manusia pada hakikatnya adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan sangat luas anatara lain, berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007). Sedangkan menurut Sunaryo (2006), perilaku

adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respon serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung. 4.2 Bentuk Perilaku Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) : a. Perilaku tertutup (convert behaviour) Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain. b. Perilaku terbuka (overt behaviour) Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Sedangkan, menurut Sunaryo (2006), bentuk perilaku ada dua macam, yaitu: a. Perilaku pasif (respons internal)

Perilaku yang sifatnya masih tertutup, terjadi dalam diri individu dan tidak dapat diamati secara langsung. Perilaku ini sebatas sikap, belum ada tindakan yang nyata. Contoh: berpikir, berangan-angan, dan sebagainya. b. Perilaku Aktif (respons eksternal)

Perilaku yang sifatnya terbuka. Perilaku aktif adalah perilaku yang dapat diamati langsung dan berupa tindakan yang nyata, contohnya: melakukan penyuluhan, mengerjakan soal ulangan, dan sebagainya. 4.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Menurut Loawrence Green yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007) bahwa perilaku itu sendiri dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor yaitu: 1. Faktor Predisposisi Terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan

keyakinan, nilai-nilai dan motivasi. 2. Faktor Enabling / pendukung Terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan. 3. Faktor Reenforcing / pendorong Terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas lainnya yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

4.4 Proses terbentuk Perilaku Sedangkan menurut Roger dikutip (Notoatmodjo, 2007), sebelum orang menghadapi perilaku baru dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan : 1. Awarness (kesadaran) Dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap objek stimulus. 2. Interest (tertarik) Dimana orang tertarik dengan stimulus. 3. Evaluasi (penilaian) Rasa menimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. 4. Trial (mencoba) Seseorang telah berperilaku baru sesuai dengan

pengetahuan serta sikap terhadap stimulus. 5. Adopsi (mengadapsi) Subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus.

B. Kerangka Konsep Tingkat Pengetahuan Petugas Kesehatan Primer Perilaku terhadap Pemeriksaan Deteksi Dini Kanker Serviks

Sikap Petugas Kesehatan Primer

1. Pengalaman Kerja 2. Pendidikan 3. Informasi

C. Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah, dasar teori dan kerangka konsep, dapat dikemukakan hipotesis yaitu: H1
:

Tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer baik,

maka perilaku terhadap pemeriksaan deteksi dini kanker serviks baik dan apabila tingkat pengetahuan dan sikap petugas kesehatan primer buruk, maka perilaku terhadap pemeriksaan deteksi dini kanker serviks buruk. Ho : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan petugas

kesehatan primer dengan baik dan buruknya perilaku terhadap pemeriksaan deteksi dini kanker serviks.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian observational analyticcross sectional.

B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian Populasi penelitian ini adalah petugas kesehatan primer yaitu dokter umum dan bidan yang bekerja di puskesmas-puskesmas kota Yogyakarta. Populasi penelitian ini adalah 18 puskesmas di kota Yogyakarta dengan jumlah dokter umum adalah 3 orang dan jumlah bidan 2 orang pada masing-masing puskesmas. Sehingga total jumlah dokter adalah 54 dokter umum dan jumlah bidan 36 orang. 2. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Untuk menentukan besarnya sampel maka menggunakan rumus Arikunto (2006) yaitu apabila jumlah populasi kurang dari 100 orang maka seluruh populasi dijadikan sampel, tetapi apabila jumlah populasi diatas 100 orang maka diambil antara 10-15% atau 20-25%. Sehingga karena jumlah populasi penelitian ini kurang dari 100 orang

yaitu 54 dokter umum dan 36 bidan maka seluruh populasi dijadikan sampel. Kriteria inklusi subyek penelitian: a. Tercatat sebagai dokter umum atau bidan tetap puskesmaspuskesmas di Yogyakarta. b. Pengalaman kerja sebagai dokter umum atau bidan selama tahun. c. Bersedia berpartisipasi dan menjadi responden dalam penelitian dengan mengisi dan menandatangani lembar pernyataan persetujuan serta kooperatif. Kriteria eksklusi subyek penelitian: Subyek penelitian akan dikeluarkan dari subyek penelitian apabila: a. Responden tidak mengisi kuesioner dengan lengkap. 3. Besar Sampel Besar sampel penelitian adalah 54 dokter umum dan 36 bidan. 4. Cara Pengambilan Sampel Sampel didapatkan dari penyaringan populasi berdasarkan kriteria inklusi, kemudian kriteria eksklusi menggunakan kuesioner. 1

Responden mengisi inform consent sebelum mengisi kuesioner.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah di puskesmas-puskesmas kota Yogyakarta karena menurut hasil penelitian menunjukan prevalensi tumor tertinggi

berdasarkan provinsi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 9,66% dengan urutan jenis risiko kanker tertinggi adalah kanker ovarium dan serviks. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2014-Juli2014. D. Variabel Penelitian 1. Variabel bebas/independent: Tingkat pengetahuan petugas

kesehatan primer dan sikap petugas kesehatan primer 2. Variabel terikat/dependent: Perilaku petugas kesehatan primer

terhadap pemeriksaan deteksi dini kanker serviks 3. Variabel luar: Pengalaman Kerja, Pendidikan, Informasi

E. Definisi Operasional Variabel Cara Ukur dan Alat Ukur hasil dari Kuesioner Tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu terhadap deteksi dini kanker serviks Definisi Kategori Skala

Pengetahuan Petugas Kesehatan Primer

1. Baik jika Ordinal responde n mampu menjawa b pertanya an dengan benar 76100% 2. Cukup jika responde n mampu menjawa b pertanya an dengan

benar 6075% 3. Kurang jika responde n mampu menjawa b pertanya an dengan benar <60% Sikap Petugas Kesehatan Primer reaksi dan Kuesioner respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau objek terhadap deteksi dini kanker serviks suatu Kuesioner kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan terhadap deteksi dini kanker serviks Ordinal

Perilaku Petugas Kesehatan Primer

Ordinal

F. Alat dan Bahan Penelitian Kuesioner merupakan alat dan bahan penelitian yang paling tepat jika peneliti beranggapan bahwa responden merupakan orang yang paling tahu

tentang dirinya sendiri. Kuesioner yang digunakan dibuat oleh peneliti dengan mengacu pada jurnal penelitian sebelumnya. G. Jalannya Penelitian 1. Tahap pra penelitian Tahap ini meliputi observasi, studi pendahuluan, dan studi pustaka untuk menentukan tempat serta populasi dan sampel penelitian dengan mencari referensi seperti jurnal penelitian terdahulu dan jurnal terkait penelitian sekarang. 2. Tahap persiapan penelitian Tahap persiapan penelitian mencakup kegiatan perumusan masalah, penyusunan proposal, penyusunan alat dan bahan penelitian, pengurusan surat izin untuk melaksanakan penelitian. 3. Tahap pelaksanaaan Pelaksanaan penelitian dimulai dengan dilakukannya wawancara dengan kuesioner kepada petugas kesehatan primer, yaitu dokter umum dan bidan, di puskesmas-puskesmas kota Yogyakarta yang bersedia berpartisipasi menjadi responden. Sebelum pengisian

kuesioner dimulai, perlu dipastikan bahwa responden telah sesuai dengan kriteria inklusi. Kemudian peneliti memberikan penjelasan pada responden mengenai maksud dan tujuan penelitian, serta mengenai kuesioner yang akan diajukan. Jika sampel bersedia menjadi responden maka dipersilahkan menandatangani surat pernyataan informed consent. Pelaksanaan penelitian dimulai dengan pemberian

kuesioner kepada responden. Peneliti mendampingi selama pengisian kuesioner dari awal sampai akhir. Hal tersebut dikarenakan apabila terdapat pertanyaan yang tidak dipahami, maka responden dapat menanyakan langsung pada peneliti. Kuesioner yang telah diisi kemudian dikumpul kembali dan peneliti melakukan pengecekan ulang untuk melihat kelengkapan pengisian kuesioner. 4. Tahap penyelesaian Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan bantuan program komputer, penyusunan karya tulis ilmiah dan dilanjutkan dengan pendadaran.

H. Uji Validitas dan Reliabilitas 1. Pengujian Validitas Uji validitas pada penelitian ini menggunakan ... responden. Uji tersebut telah diolah menggunakan program komputer dengan uji ... (Pearson Correlation). Berdasarkan uji validitas tersebut, kuesioner tingkat pengetahuan petugas kesehatan primer terdapat ... item yang valid dari ... item, yaitu pertanyaan nomor ... . Kuesioner sikap petugas kesehatan primer terdapat ... item yang valid dari ... item, yaitu nomor ... . Kuesioner perilaku petugas kesehatan primer terdapat ... item yang valid dari ... item, yaitu nomor ... . 2. Pengujian Reliabilitas

Uji reliabilitas pada penelitian ini menggunakan uji ... (reability analysis model alpha) dengan ... responden. Menurut Imam Ghozali (2002), penggunaan teknik alpha-cronbach akan

menunjukan suatu instrument dapat dikatakan (reliable) bila memiliki koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,6 atau lebih. Setelah uji reliabilitas, kuesioner tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku petugas kesehatan terhadap deteksi dini kanker serviks secara berturut-turut adalah ..., ..., ... . Hal ini menunjukan kuesioner tersebut reliable.

I. Analisis Data Setelah dilakukan penelitian, data hasil penelitian akan diolah dengan menggunakan program komputer dengan uji ... dan uji ... sebagai alternatifnya.

DAFTAR PUSTAKA Globocan 2012 Cancer Fact Street. Cervical cancer incidence and mortality world wide in 2012 [Datribase on the Internet]. Lion (France): IARC. Diakses 07 April 2014, dari http://www.globocan.iarcfr/factsheets/cancers/cervic.acp Oemiati,R., Rahajeng,E., Kristanto,A.Y. (2011). Prevalensi Tumor dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Volume 39, 190 204. Nuranna,L., Purwoto,G., Madjid,A.O., Indarti,J., Putra,A.D., Hartono,P., et al. (2008). Skrining Kanker Leher Rahim dengan Metode Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA). Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1-36. Ocviyanti,D., Handoko,Y. (2013). Peran Dokter Umum dalam Pencegahan Kanker Serviks di Indonesia. Diakses 04 April 2014, dari http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/124 5/1221 Kustiyati,S., Winarni. (2011). Deteksi Dini Kanker Leher Rahim dengan Metode IVA di Wilayah Kerja Puskesmas Ngoresan Surakarta. GASTER, Volume 8, 681-694. Huda,G.A. (2011). Gambaran Pengetahuan Ibu mengenai Kanker Serviks dan Pap Smear di Kelurahan Campaka Tahun 2011 serta Faktor Faktor yang Berhubungan. Karya Tulis Ilmiah strata satu, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Fauziah,R.M., Wirawan,J.P., Lorianto,R., Utari,A.P., Cahyanur,R., Budiningsih,S. (2011). Deteksi Dini Kanker Serviks pada Pusat Pelayanan Primer di Lima Wilayah DKI Jakarta. J Indon med Assoc, Volume 61, 447-452.

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

8.

9. 10. 11. 12.

1. 2.

Deteksi Dini Kanker Serviks Rasjidi, Imam., 2008. Manual Prakanker Serviks, CV Agung Seto, Cetakan Pertama, Jakarta. Tilong, Adi, D., 2012. Bebas dari Ancaman Kanker Serviks, Flashbook. Cetakan Pertama, Yogyakarta. Kumalasari, Intan., Andhyantoro, Iwan., 2012. Kesehatan Reproduksi, Salemba Medika, Jakarta. Soebachman, Agustina., 2011. Awas 7 Kanker Paling Mematikan, Syura Media Utama, Cetakan Pertama, Yogyakarta. Indrawati, Maya., 2009. Bahaya Kanker Bagi Wanita dan Pria, AV Publisher, Cetakan Pertama, Jakarta. Nuranna, Laila., 2010. Pedoman Tatalaksana Kanker, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Mardjikoen P. Tumor ganas alat genital. Dalam: ilmu kandungan. Ed 2. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2005. hal. 381. World Health Organization. Comprehensive cervical cancer control:a guide to essential practice. [Online]. 2006 [diunduh pada hari Kamis tanggal 17 Feb 2011 pukul 11.00 WIB]; Pada website:http://screening.iarc.fr/doc/cervicalcancergep.pdf. Andrijono. Kanker serviks. Ed 3. Jakarta: Divisi Onkologi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI; 2010. hal. 11. Price SA, Wilson LM. Patofisologi konsep klinis proses-proses penyakit. Ed 6. Jakarta: EGC; 2006. hal. 1296 Sukaca E. Bertiani. 2009. Cara Cerdas Menghadapi KANKER SERVIK (Leher Rahim). Yogyakarta: Genius Printika Wiknjosastro, hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Pengetahuan Notoatmodjo S. 2007. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta: Rineka Cipta Suhartono Suparlan. (2008). Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar ruzz Media.

Sikap 1. Widayatun,T,R. 2009. Ilmu Perilaku M.A.104. Jakarta : CV Agung Seto 2. Azwar. 2008. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya.Yogyakarta : Pustaka Pelajar 3. Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta Perilaku 1. Sunaryo. 2006. Psikologi untuk Kesehatan. Jakarta : EGC 2. Notoatmodjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta