Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM SIFAT FISIK HASIL PERTANIAN

PENGUKURAN BENTUK DAN UKURAN PRODUK PERTANIAN

1. 2. 3. 4. 5.

Oleh : Lina Tiara Juita Neneng Oktifia Rifki Zulfiqar Fauzy Ardi Nugroho Triari Praptiwi

(A1H009017) (A1H009018) (A1H009022) (A1H009026) (A1H009063)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2011

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahan-bahan hasil pertanian seringkali mengalami kerusakan baik di lahan maupun dalam proses penanganan pascapanen. Kerusakan-kerusakan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya fisiologi, mekanis, termis, biologis dan kimia. Untuk mencegah kerusakan-kerusakan tersebut, diperlukan pengetahuan tentang karakteristik atau sifat teknik bahan hasil pertanian yang berkaitan dengan karakteristik fisik, mekanik dan termis. Dalam proses pengolahan suatu bahan hasil pertanian, bentuk dan ukuran suatu komoditi merupakan parameter yang penting didalam penilaian. Bentuk dan ukuran merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan pada suatu obyek. Pada umumnya bentuk dan ukuran ini digunakan untuk menggambarkan obyek secara visual. Dalam penggolongan tingkat mutu (grading) biasanya ukuran dan bentuk merupakan faktor mutu yang pertama kali dilihat. Mempelajari bentuk dan ukuran bahan pangan sangat penting dalam proses mensortasi buah atau sayur. Aplikasi tentang bentuk dan ukuran suatu bahan hasil pertanian sangat dibutuhkan didalam proses pengolahan,

penyimpanan dan pengemasan bahan hasil pertanian. Contohnya untuk merancang alat dan bangunan, untuk penanganan hasil pertanian dan sebagai standarisasi mutu. Bentuk dan ukuran ini juga dapat memudahkan dalam proses pengemasan. Semakin kecil bentuk dan ukuran suatu bahan hasil pertanian maka akan memudahkan dalam proses penyimpanan dan pengemasan. (Liza, 2010).

B. Tujuan

1. 2.

Praktikan mengetahui beberapa jenis bentuk produk pertanian. Praktikan dapat mengukur bentuk dan ukuran produk pertanian.

3.

Praktikan dapat menentukan bentuk suatu bahan hasil pertanian berdasarkan ukuran, kebundaran, dan kebulatan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Produk Pertanian

Awal perkembangan pertanian adalah pada zaman Mesopotamia yang merupakan awal perkembangan kebudayaan dan zaman yang turut menentukan sistem pertanian kuno. Pertanian adalah proses menghasilkan bahan pangan, serta produk-produk agroindustri dengan cara memanfaatkan sumber daya tumbuhan. Bahan pangan merupakan semua jenis bahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan yang bersifat aman, memiliki palatabilitas dan menyehatkan bagi manusia. Namun, walaupun sifat dasar dari pangan itu baik, jika penanganannya kurang baik maka akan menyebabkan terjadinya suatu penyimpangan yang mungkin dapat membahayakan bagi yang mengkonsumsinya. B. Bentuk dan Ukuran

Dalam proses pengolahan suatu bahan hasil pertanian, bentuk dan ukuran suatu komoditi merupakan parameter yang penting didalam penilaian. Bentuk dan ukuran merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan pada suatu obyek. Pada umumnya bentuk dan ukuran ini digunakan untuk menggambarkan obyek secara fisual. Dalam penggolongan tingkat mutu (grading) biasanya ukuran dan bentuk merupakan faktor mutu yang pertama kali di lihat. Beberapa kriteria yang termasuk ukuran adalah : 1. Bobot Bobot suatu bahan dapat diukur dengan berbagai jenis neraca sejak yang halus sampai kasar, tergantung kepada tingkat ketelitian pengukuran yang dikehendaki. Dimana bobot suatu bahan tersebut dapat dicatat sebagai bobot total, bobot rata-rata, dan bobot persatuan tertentu. 2. Volume Pengukuran volume ada dua pengertian yaitu : volume nyata (volume bahan

tesebut dalam suatu wadah tertentu) dan volume mutlak (suatu bahan adalah volume bahan itu sendiri). 3. Panjang, lebar dan diameter Panjang, lebar dan diameter suatu bahan dapat diukur dengan menggunakan berbagai alat pengukur seperti penggaris, mikrometer, dan vernier caliper. 4. Kerapatan Kerapatan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu : kerapatan nisbi (perbandingan antara kerapatan suatu bahan pada suatu suhu tertentu dengan kerapatan standar), nyata (perbandingan antara massa suatu bahan pada suhu tertentu dengan massa air pada suhu yang sama) dan kerapatan mutlak (perbandingan antara bobot dengan volume bahan). 5. Luas bidang Sebagian besar semua hasil pertanian memiliki ukuran yang tidak beraturan. Pengukuran luas bidang dari bahan yang tak beraturan di lakukan dengan dua cara yaitu : penimbangan dan simpons rule. Sedangkan yang termasuk ke dalam bentuk adalah : 1. Oval 2. Simetri 3. Melengkung

C. Kriteria Bentuk dan Bahan Hasil Pertanian

Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menjelaskan bentuk dan ukuran dari suatu bahan hasil pertanian yaitu : 1. Bentuk Acuan (charted standard) Di dalam metode ini, permukaan dari potongan melintang dan memanjang sampel atau bahan diukur dan kemudian dibandingkan dengan benruk-bentuk yang sudah ada pada bentuk acuan (chart standard). Tabel 1. Istilah dan deskripsi objek dari bentuk acuan NO a. BENTUK Bundar (round) DISKRIPSI Menyerupai bentuk bulatan (spheroid).

b. c. d. e.

Oblate Oblong Conic Ovate (bulat telur)

Datar pada bagian pangkal dan pucuknya. Diameter vertikal > diameter horizontal. Meruncing kearah bagian puncak. Bentuk seperti telur dan melebar pada bagian pangkal. Sumbu yang menghubungkan pangkal dan puncak tidak tegak lurus melainkan miring.

f.

Lopsided

g. h. i.

Obovate Elliptical Truncate

Bulat telur terbalik. Menyerupai bentuk (bulat panjang). Kedua ujungnya mendatar / persegi (kerucut terpotong).

j. k.

Unequal Ribbed

Setengah bagian > dari yang lain (tidak seimbang). Sisi-sisi pada potongan melintang menyerupai sudut-sudut.

l. m.

Regular (teratur) Irregular

Bagian horisontalnya menyerupai lingkaran. Potongan horisontalnya tidak berbentuk lingkaran. Sumber : (Mohsenin, 1980)

2. Kebundaran (roundness) Kebundaran adalah suatu ukuran ketajaman sudut-sudut dari suatu benda padat. Nilai kebundaran suatu bahan berkisar 0-1. Apabila nilai kebundaran suatu bahan hasil pertanian mendekati 1, maka bentuk bahan tersebut mendekati bundar. Persamaan untuk menghitung kebundaran (roundness) yaitu sebagai berikut:

Keterangan : Ap = Luas proyeksi terbesar dari bahan dalam posisi bebas Ac = Luas lingkaran terkecil r1 = diameter dalam r2 = diameter luar

3.

Kebulatan (Sphericity) Kebulatan (sphericity) dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara diameter bola yang mempunyai volume sama dengan objek dengan diameter bola terkecil yang dapat mengelilingi objek. Seperti halnya nilai kebundaran, nilai kebulatan suatu bahan juga berkisar antara 0 -1. Apabila nilai kebulatan suatu bahan hasil pertanian mendekati 1 maka bahan tersebut mendekati bentuk bola (bulat). Persamaan untuk menghitung kebulatan (sphericity) adalah sebagai berikut : Sphericity = Keterangan : a = Ukuran terpanjang bagian buah b = Ukuran pertengahan bagian buah c = Ukuran terpendek bagian buah

4. Pengukuran Dimensi Sumbu Untuk objek-objek yang berukuran kecil seperti biji-bijian, garis besar proyeksi dari setiap sampel dapat diukur dengan menggunakan sebuah alat photo pembesar (photographic enlarger), namun secara sederhana dapat pula dilakukan dengan metode proyeksi dengan menggunakan OHP (Overhead Projector). 5. Kemiripan terhadap Benda-benda Geometri Selain membandingkan dengan bentuk standar, penentuan bentuk bahan hasil pertanian dapat juga ditentukan dengan melihat kemiripan dengan benda-benda geometri tertentu, yaitu bulat memanjang (prolate spheroid), bulat membujur (oblate spheroid), dan kerucut berputar atau silinder. Setelah diketahui bentuk bahan berdasarkan kemiripan terhadap benda-benda geometri, maka volume dan luas permukaan bahan dapat dihitung. Persamaan untuk perhitungan kemiripan berdasarkan tipe atau jenisnya adalah sebagai berikut :

a.

Bulat memanjang (prolate spheroid) V= ( )

S = (2x x b2) + (2 x x Keterangan: V = Volume S = Luas permukaan

x sin e)

-1

a = sumbu memanjang elips (major axes) b = Sumbu membujur elips (minor axes) e = Eksentrisitas b. Bulat membujur (oblate spheroid)

V= (

c. Kerucut berputar atau silinder

Keterangan : r1 = Jari jari bagian dasar kerucut r2 = Jari jari bagian puncak kerucut h = Tinggi benda

III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Jangka sorong Penggaris Pensil Gelas ukur Neraca Kertas milimeter Jangka Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah : 1. Mangga 2. Kentang 3. Apel 4. Wortel 5. Mentimun

B. Prosedur Kerja

Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum ini adalah : 1. Menentukan buah yang akan digunakan. (Misalnya buah apel). 2. Mengukur panjang buah dengan cara menentukan a, b, c, di, dc sesuai dengan buah yang digunakan. Dengan ketentuan sebagai berikut ini : a = ukuran terpanjang bagian buah b = ukuran pertengahan bagian buah c = ukuran terpendek bagian buah di = diameter lingkaran terbesar di dalam obyek dc = diameter lingkaran terkecil yang membatasi obyek

3. Menghitung Ap, Ac pada produk buah dengan menggunakan kertas milimeter. 4. Menghitung kebundaran dan kebulatan produk buah. 5. Menghitung kekerasan produk buah dengan menggunakan alat yaitu

Fruits Hardness Tester sebanyak 3 kali ulangan, hasilnya dirata-ratakan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil yang diperoleh dalam praktikum kali ini adalah : Pengukuran bentuk dan ukuran buah apel Diketahui : a b c = 7,8 cm = 7,2 cm = 6,5 cm di = 7 cm dc = 9 cm

Ap = 4316 mm2 = 43,16 cm2 Ac = 5867 mm2 = 58,67 cm2 Ditanyakan : 1. Kebulatan apel 2. Kebundaran apel 3. Kekerasan apel Jawab : 1. Menghitung kebulatan apel Kebulatan = = = 0,92 cm = = 0,77 cm

2. Menghitung kebundaran apel Kebundaran =

= 0,74

3. Menghitung kekerasan apel (Hardness Tester) Pengukuran I = Pengukuran II = Pengukuran III = Rata-rata = = 25,48 kg/cm2 = 19,10 kg/cm2 = 19,10 kg/cm2

= = 21,23 kg/cm2

B. Pembahasan

Praktikum kali ini adalah mengenai bentuk dan ukuran bahan pangan. Kegiatan praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Kegiatan yang dilakukan adalah mengukur bentuk dan ukuran produk pertanian. Sifat fisik bahan hasil pertanian merupakan faktor yang sangat penting dalam menangani masalah-masalah yang berhubungan dengan merancang suatu alat khusus untuk suatu produk hasil pertanian atau analisa prilaku produk dan cara penanganannya. Karakteristik sifat fisik pertanian adalah bentuk, ukuran, luas permukaan, warna, penampakkan, berat, porositas, densitas dan kadar air. Bentuk dan ukuran sangat penting dalam perhitungan energi untuk pendinginan dan pengeringan, rancangan pengecilan ukuran, masalah distribusi dan penyimpanan bahan, seperti elektrostatistik, pantulan cahaya dalam evaluasi warna, dan dalam pengembangan alat grading dan sortasi. Dalam proses pengolahan suatu bahan hasil pertanian, bentuk dan ukuran suatu komoditi merupakan parameter yang penting di dalam penilaian. Bentuk dan ukuran merupakan 2 hal yang tidak dapat dipisahkan pada suatu obyek. Pada umumnya bentuk dan ukuran ini digunakan untuk menggambarkan obyek secara visual. Dalam penggolongan tingkat mutu (grading) biasanya ukuran dan bentuk merupakan faktor mutu yang pertama kali di lihat. Beberapa kriteria yang termasuk ukuran adalah : 1. Bobot Bobot suatu bahan dapat diukur dengan berbagai jenis neraca sejak yang halus sampai kasar, tergantung kepada tingkat ketelitian pengukuran yang di kehendaki. Dimana bobot suatu bahan tersebut dapat di catat sebagai bobot total, bobot rata-rata, dan bobot persatuan tertentu.

2.

Volume Pengukuran volume ada dua pengertian yaitu: volume nyata (volume bahan tesebut dalam suatu wadah tertentu) dan volume mutlak (suatu bahan adalah volume bahan itu sendiri).

3.

Panjang, lebar, diameter Panjang, lebar dan diameter suatu bahan dapat di ukur dengan menggunakan berbagai alat pengukur seperti penggaris, micrometer, dan vernier caliper.

4.

Kerapatan Kerapatan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu ; kerapatan nisbi (perbandingan antara kerapatan suatu bahan pada suatu suhu tertentu dengan kerapatan standar), nyata (perbandingan antara massa suatu bahan pada suhu tertentu dengan massa air pada suhu yang sama) dan kerapatan mutlak (perbandingan antara bobot dengan volume bahan).

5.

Luas bidang Sebagian besar semua hasil pertanian memiliki ukuran yang tidak beraturan. Pengukuran luas bidang dari bahan yang tak beraturan di lakukan dengan dua cara yaitu : penimbangan dan simpons rule. Sedangkan yang termasuk ke dalam bentuk adalah oval, simetri dan

melengkung. Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini yaitu berupa buah, baik buah mangga, kentang, apel, wortel dan mentimun. Namun bahan yang digunakan dalam pengamatan kelompok kami yaitu buah apel. Buah apel yang disediakan selanjutnya dilakukan pengukuran panjang a, b, c, di, dc, Ap dan Ac dengan cara menggambar terlebih dahulu bentuk buah apel pada kertas milimeter. a merupakan ukuran terpanjang bagian buah; b adalah ukuran pertengahan bagian buah; c adalah ukuran terpendek bagian buah; di adalah diameter lingkaran

terbesar di dalam obyek; dc adalah diameter lingkaran terkecil yang membatasi obyek; Ap adalah luas permukaan proyeksi terbesar dari bahan dalam posisi bebas; dan Ac adalah luas permukaan lingkaran terkecil yang membatasi. Berikut ini adalah gambar cara menentukan Ac dan Ap pada produk buah :

Gambar 1. Gambar untuk menentukan Ac dan Ap pada produk buah Pengukuran bentuk dan buah yang dihasilkan pada buah apel adalah : a b c di = 7,8 cm = 7,2 cm = 6,5 cm = 7 cm

dc = 9 cm Ap = 4316 mm2 = 43,16 cm2 Ac = 5867 mm2 = 58,67 cm2 Selanjutnya dilakukan perhitungan kebundaran dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Kebundaran = Maka kebundaran yang diperoleh pada buah apel dengan menggunakan rumus diatas adalah : Kebundaran = = 0,74 cm2

Kebundaran (roundness) adalah ukuran ketajaman sudut-sudut dari suatu benda padat. Nilai kebundaran suatu benda berkisar dari 0 - 1, apabila nilai mendekati 1 maka bentuk bahan tersebut mendekati bundar. Kebulatan merupakan perbandingan antara diameter bola pada tiga posisi sumbu : a = sumbu terpanjang b = sumbu intermediate c = sumbu terpendek

Nilai kebulatan suatu bahan berkisar 0 1, untuk nilai 1 berarti bahan mendekati bentuk bola (bulat). Perhitungan kebulatan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Kebulatan = Dapat juga dihitung dengan persamaan sebagai berikut : Keterangan : di = diameter lingkaran terbesar di dalam obyek dc= diameter lingkaran terkecil yg membatasi obyek Maka kebulatan yang diperoleh pada buah apel dengan menggunakan rumus diatas adalah : Kebulatan = = = 0,92 cm = 0,77 cm Kekerasan (hardness) merupakan salah satu sifat fisik yang termasuk dalam atribut tekstur yang penting dalam penilaian bahan makanan. Tekstur merupakan sifat bahan yang dapat dideteksi melalui mata, kulit, dan sensor dalam mulut yang dikelompokkan dalam parameter tekstur menjadi kekerasan, kohesivitas, viskositas, elastisitas, dan adhesivitas. Sifat tekstural roti tawar yang menonjol adalah lunak yang termasuk dalam parameter kekerasan. Dalam bahan makanan, tingkat kekerasan ditentukan sebagai gaya yang diperlukan untuk menekan bahan dengan gigi pengunyah untuk menghasilkan perubahan bentuk. Pengukuran kekerasan buah apel dapat dilakukan dengan cara menusukkan alat yang berupa Fruits Hardness Tester ke produk buah yang akan digunakan sebanyak 3 kali ulangan, selanjutnya dirata-ratakan. Maka berikut ini hasil pengukuran yang diperoleh : Pengukuran I = Pengukuran II = = 25,48 kg/cm2 = 19,10 kg/cm2

Pengukuran III = Rata-rata = = = 21,23 kg/cm2

= 19,10 kg/cm2

Adapun produk pertanian (buah) yang digunakan dalam praktikum kali ini selain buah apel yaitu buah wortel, mangga, kentang, pir dan mentimun. Hasil yang diperoleh dapat dilihat dibawah ini : a. Pengukuran bentuk dan ukuran buah wortel Diketahui : a b c Ap Ac = 11,5 cm = 4,7 cm = 5,9 cm = 4700 mm = 6400 mm di = 4,5 cm dc = 12,5 cm

Ditanyakan : 1. Kebulatan wortel 2. Kebundaran wortel 3. Kekerasan wortel Jawab : 1. Menghitung kebulatan wortel Kebulatan = = = 0,58 cm = = 0,36 cm

2. Menghitung kebundaran wortel Kebundaran =

= 0,073

3. Menghitung kekerasan wortel (Hardness Tester) Pengukuran I = Pengukuran II = = 0,394 kg/mm2 = 0,407 kg/mm2

Pengukuran III = Rata-rata = =

= 0,611 kg/mm2

= 0,37 kg/mm2 Luas = 0,785 mm2 b. Pengukuran bentuk dan ukuran buah mangga Diketahui : a b c Ap Ac = 12,92 cm = 8,18 cm = 8,41 cm = 84,77 cm2 = 156,72 cm2 di = 7,1 cm dc = 14,4 cm

Ditanyakan : 1. Kebulatan mangga 2. Kebundaran mangga 3. Kekerasan mangga Jawab : 1. Menghitung kebulatan mangga Kebulatan = = = 0,74 cm = = 0,56 cm

2. Menghitung kebundaran mangga Kebundaran =

= 0,54

3. Menghitung kekerasan mangga (Hardness Tester) Pengukuran I = 0,425 kg Pengukuran II = 0,4 kg Pengukuran III = 0,32 kg

Rata-rata = = = 0, 486 kg/mm2 c. Pengukuran bentuk dan ukuran buah kentang Diketahui : a b c Ap Ac = 10,9 cm = 8,9 cm = 9,3 cm = 45,8 cm2 = 57,99 cm2 di = 10,6 cm dc = 8,4 cm

Ditanyakan : 1. Kebulatan kentang 2. Kebundaran kentang 3. Kekerasan kentang Jawab : 1. Menghitung kebulatan kentang Kebulatan = = = 0,886 cm = = 0,77 cm

2. Menghitung kebundaran kentang Kebundaran =

= 0,74

3. Menghitung kekerasan kentang (Hardness Tester) Pengukuran I = 0,32 kg/mm2 Pengukuran II = 0,29 kg/mm2 Pengukuran III = 0,36 kg/mm2 Rata-rata = = 0,323 kg/m3 d. Pengukuran bentuk dan ukuran buah pir

Diketahui : a b c Ap Ac

= 8 cm = 7,6 cm = 7,6 cm = 5965 mm2 = 7105 mm2

di = 8 cm dc = 9,5 cm

Ditanyakan : 1. Kebulatan pir 2. Kebundaran pir 3. Kekerasan pir Jawab : 1. Menghitung kebulatan pir Kebulatan = = = 0,566 cm = = 0,84 cm

2. Menghitung kebundaran pir Kebundaran =

= 0,84

3. Menghitung kekerasan pir (Hardness Tester) Pengukuran I = 0,32 kg/mm2 Pengukuran II = kg/mm2 Pengukuran III = 0,24 kg/mm2 Rata-rata = = 0,2967 kg/mm2 e. Pengukuran bentuk dan ukuran buah mentimun Diketahui : a b c Ap Ac = 18,6 cm = 5,4 cm = 7,4 cm = 8,2 cm = 28,3 cm di = 5,3 cm dc = 18,6 cm

Ditanyakan : 1. Kebulatan mentimun

2. Kebundaran mentimun 3. Kekerasan mentimun Jawab : 1. Menghitung kebulatan mentimun Kebulatan = = = 0,487 cm = = 0,285 cm

2. Menghitung kebundaran mentimun Kebundaran =

= 0,29

3. Menghitung kekerasan mentimun (Hardness Tester) Pengukuran I = 0,27 kg/mm2 Pengukuran II = 0,2 kg/mm2 Pengukuran III = 0,25 kg/mm2 Rata-rata = = 0,24 kg/mm2 Tingkat kekerasan pada buah berbeda-beda berdasarkan tingkat kemasakan buah tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kekerasan buah adalah adalah suhu, tempat penyimpanan, respirasi dan transpirasi. Perubahan fisik dan kimia yang terjadi pada proses pematangan buah dan sayuran meliputi turgor sel, karbohidrat, gula sederhana, protein, pigmen, dan senyawa lainnya seperti turunan fenol dan asam organik. Pada buah mangga, kemasakan buah tertinggi berada pada bagian pangkal buah, disusul pada bagian tengah dan ujung buah. Sedangkan pada buah tomat, kemasakan buah tertinggi berada pada bagian tengah, kemudian berlanjut pada bagian pangkal dan ujung.

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Kebundaran atau roundness merupakan ukuran ketajaman sudut-sudut dari suatu benda padat nilai kebundaran suatu benda berkisar dari 0 1, apabila nilai mendekati 1 maka bentuk bahan tsb mendekati bundar. 2. Kebundaran (roundness) dapat dihitung menggunakan rumus : Kebundaran = Ap/Ac Dimana : Ap = luas permukaan proyeksi terbesar dr bhn dlm posisi bebas Ac = luas permukaan lingkaran terkecil yg membatasi 3. Kebulatan atau sphericity merupakan perbandingan antara diameter bola pd 3 posisi sumbu : a = sb terpanjang b = sb intermediate c = sb terpendek 4. Sphericity = [(a b c )1/3]/ a = diameter geometri rata-rata dibagi diameter terpanjang. Nilai kebulatan suatu bahan berkisar 0 1. Untuk nilai 1 berarti bahan mendekati bentuk bola (bulat) Dapat juga dihitung dengan persamaan sebagai berikut : Kebulatan = di/dc Dimana : di : diameter lingkaran terbesar di dalam obyek dc : diameter lingkaran terkecil yang membatasi obyek

B. Saran

1. 2.

Sebaiknya praktikum dilaksanakan di tempat yang lebih nyaman. Praktikan sebaiknya tidak ribut dalam kegiatan praktikum ini.

3.

Sebaiknya isi modul praktikum yang disediakan lebih dilengkapi, mencakup judul, alat dan bahan, prosedur kerja, dll.

4.

Alat dan bahan di dalam praktikum sebaiknya dilengkapi dan diperbanyak agar dapat menunjang proses kegiatan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Apandi, M. 1984. Teknologi Buah dan Sayur. Penerbit Alumni : Bandung. John D. Balya. 2011. Bentuk dan Ukuran. http://johnbalya.blogspot. com/ 2011/ 03/bentuk-dan-ukuran.html. Diakses tanggal 5 Desember 2011. Liza. 2010. Bentuk dan Ukuran. http://liza_bentuk_ukuran_multiply.com. Diakses tanggal 5 Desember 2011. Mikolehi. 2009. Tingkat Kematangan Buah. http://mikolehi.wordpress.com/dkuliah/. Diakses tanggal 5 Desember 2011. Pantastico, 1989. Fisiologi Pasca Panen dan Pemanfaatan Buah-buahan dan Sayuran-sayuran Tropika dan Subtropika. Gadjah Mada University Press: Jogjakarta.

PENILAIAN

1. Lina Tiara Juita 2. Neneng Oktifia 3. Rifki Zulfiqar Fauzy 4. Ardi Nugroho 5. Triari Praptiwi

: 95 : 95 : 95 : 95 : 95