Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA FARMASI
TITIK EUTEKTIKUM

OLEH :

NAMA NIM KELOMPOK ASISTEN

: SRI NURLIANA BASRY : 1201061 : VIII ( DELAPAN) : Syamsu Nur S.farm, Apt

LABORATORIUM KIMIA FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI MAKASSAR 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Titik eutektikum merupakan titik dimana terjadi percampuran dispersi padat yang memiliki suhu lebur paling rendah yang dimana terjadi kesetimbangan antara fase padat dan fase cair. Besarnya titik lebur suatu zat padat dipengaruhi oleh Bentuk dan sifat ikatan atomatom.Dalam bidang farmasi, suatu senyawa obat murni dapat ditentukan kemurniannya salah satunya dengan jalan penentuan titik leburnya. Selain itu penentuan titik lebur dari suatu bahan obat juga digunakan dalam pembuatan sediaan obat (terutama untuk obat yang diberikan melalui rektal), dan diperlukan pada penentuan cara penyimpanan suatu sediaan obat agar tidak mudah rusak pada suhu kamar tertentu. Hal inilah yang melatar belakangi diadakan

praktikum ini dengan maksud agar mahasiswa memahami cara penentuan titik lebur suatu senyawa obat.

1.2 Maksud dan Tujuan percobaan 1.2.1 Maksud Percobaan Agar dapat mengetahui dan memahami cara penentuan titik lebur dari suatu zat padat dengan alat thile 1.2. Tujuan Percobaan Menentukan titik lebur dari zat padat yaitu asam salisilat dengan menggunakan paraffin cair sebagai medium penghantar panas. 1.3 Prinsip percobaan Menimbang asam salisilat dan mentol dengan

perbandingan asam salisilat-mentol (0,5:0 ; 0,4:0,1 ; 0,3:0,2) dan mentol-asam salisilat (0,5:0 ; 0,4:0,1 ; 0,3:0,2) kemudian di masukan kedalam pipa kapiler(ditotolkan),ikat pada termometer dan masukkan kedalam labu tile kemudian amati (catat waktu dan suhu) dan bandingkan suhu lebur zat dengan literatur yang ada.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Teori Umum Titik didih normal adalah temperature dimana tekanan uap cairan menjadi sama dengan tekanan luar yaitu 760 mmHg (system terbuka) ( 1 ). Titik didih suatu cairan ialah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu sama dengan tekanan luar (tekanan yang dikenakan pada permukaan cairan). Apabila tekanan uap sama dengan tekanan luar, maka gelembung uap yang terbentuk dalam cairan dapat mendorong diri ke permukaan menuju fase gas. Oleh karena itu, titik didih suatu cairan bergantung pada tekanan luar ( 2 ). Jarak lebur zat adalah jarak antara suhu awal dan suhu akhir peleburan zat. Suhu awal dicatat pada saat zat mulai menciut atau membentuk tetesan pada dinding pipa kapiler, suhu akhir dicatat pada saat hilangnya fase padat. ( 3). Suhu lebur zat adalah suhu pada saat zat tepat melebur seluruhnya yang ditunjukkan pada saat fase padat tepat hilang Titik beku atau titik leleh dari senyawa murni adalah temperature di mana fase padat dan fase cair berada dalam

keseimbangan pada tekanan atm. Keseimbangan di sini berarti kecenderungan zat padat berubah menjadi wujud cair sama dengan kecenderungan terjadinya proses sebaliknya, karena cairan dan padatan keduanya mempunyai kecenderungan melepaskan diri yang sama ( 4 ). Sekarang jika zat terlarut dilarutkan dalam cairan pada titik tripel (air bebas udara, dimana zat padat, zat cair dan uap ada dalam keseimbangan, terletak pada tekanan 4,58 mm Hg dan temperature 0,0098o C), kecenderungan melepaskan diri atau tekanan uap pelarut cair mengalami penurunan di bawah tekanan pelarut murni. Temperatur harus turun dengan maksud menata kembali

kesetimbangan antara cair dan padat. Karena kenyataan ini, titik beku larutan selalu lebih rendah daripada pelarut murni. Dianggap pelarut membeku dalam keadaan murni daripada sebagai larutan padat yang mengandung zat terlarut. Apabila komplikasi semacam ini muncul, perhitungan khusus, tidak diterangkan di sini, harus dilakukan ( 4 ). Makin pekat larutan, semakin jauh terpisah kurva pelarut dan larutan dalam diagram dan semakin besar juga penurunan titik beku. Sehubungan dengan itu, keadaan yang ada memperlihatkan

kesamaan dengan yang diterangkan untuk kenaikan titik didih, dan

penurunan titik didih sebanding dengan konsentrasi molao zat terlarut ( 4 ). Beberapa metode tersedia untuk penentuan penurunan titik beku. Yang termasuk ini adalah ( 4 ) : 1. 2. Metode Backmann dan Metode keseimbangan Peralatan untuk penentuan titik didih larutan dengan

mempergunakan metode Beckmann. Alat ini terdiri dari suatu tabung berjaket di mana pada salah satu sisinya ada tempat untuk memasukkan bahan yang akan diuji. Termometer Beckmann dipasang pada tabung dan terandam dalam larutan yang akan diuji. Pengaduk gelas dipasang pada tabung melelui tutupnya dan digerakkan dengan tangan atau dengan motor. Tabung dan jaketnya dipasang dalam suatu bejana berisi campuran pendingin es dan garam. Dalam melakukan penentuan, temperature dibaca pada thermometer diferensial Beckmann pada titik didih pelarut murni, air. Berat zat terlarut yang diketahui dimasukkan dalam peralatan, yang berisi berat tertentu pelarut, dan titik beku larutan dibaca dan dicatat ( 5 ).

Metode kesetimbangan adalah prosedur yang paling teliti untuk memperoleh data titik beku. Titik beku pelarut murni ditentukan secara teliti dengan mencampur pelarut padat dan cair (es dan air) dalam sebuah tabung berjaket atau labu Dewar. Apabila tercapai kesetimbangan, temperatur campuran dibaca dengan thermometer Beckmann. ( 6 ). II.2 Uraian Bahan 1. Asam Salisilat (F1 III,56 ) Nama Resmi Nama Lain RM / BM Suhu Lebur Pemerian : ACIDUM SALICYLICUM : Asam salisilat : C7H6O3 / 138, 12 : 158,5o 161o C : Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk

berwarna putih; hapir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam. Kelarutan : Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) P; mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P ; larut dalam larutan amonium asetat P, dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat P dan natrium sitrap P.

Penyimpanan Kegunaan 2.

: Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai sampel

Paraffin cair (F1 III, 475 ) Nama Resmi Nama lain Penyusun : PARAFFINUM LIQUIDUM : Parafin cair : Campuran hidrokarbon yang diperoleh dari minyak mineral; sebaggai zat pemantap dapat

ditambahkan tokoferol atau butil hidroksitoluen tidak lebih dari 10 bpj. Bobot Jenis Suhu lebur Pemerian : 0,870 g/ml sampai 0,890 g/ml : 300 0C : Cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi; tidak berwarna; hampir tidak berbau; hampir tidak mempunyai rasa. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut dalam kloroform P dan dalam eter P Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat : Sebagai media penghantar panas

3.

Methol (F1 III, 362) Nama Resmi Nama Lain Suhu Lebur Pemerian : MENTHOLUM : Mentol : 41 0C - 44 0C : Hablur berbentuk jarum atau prisma, tidak

berwarna bau tajam seperti minyak permen, rasa agak panas dan aromatic diikuti rasa dingin. Kelarutan : Sukar larut dalam air, sangat mudah larut dalam Etanol 95 % P, dalam klorofom P, dalam eter P, mudah larut dalam paraffin cair dan dalam minyak atsir. Penyimpanan Kegunaan : Dalam wadah tertutup rapat. : Sebagai sampel

BAB III

METODE KERJA

III.1 Alat dan Bahan III.1.2 Alat Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu benang godam,klem, korek api, labu tile, lampu spiritus, pipa kapiler, statif, termometer, dan timbangan. III.1 2 Bahan Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu asam salisilat, paraffin cair dan mentol. III.2 Cara Kerja 1. Disipkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Timbang asam salisilat-metol dengan perbandingan 0,5:0 ; 0,4:0,1 ; 0,3 : 0,2 lalu campur hingga homogen. 3. Masukkan campuran tersebut kedalam pipa kapiler dengan cara ditotolkan. 4. Ikatkan pipa kapiler pada termometer dan masukkan dalam labu tile yang telah berisi paraffin.

5.

Amati dan catat suhu pada saat melebur dan suhu pada saat telah melebur keseluruhan.

BAB IV

HASIL PENGAMATAN IV. 1 Tabel Pengamatan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. : Asam Salisilat 0,5 0,4 0,3 0 0,1 0,2 Mentol 0 0,1 0,2 0.5 0,4 0,3 Suhu 90 - 145 0C 30 - 60 0C 30 - 60 0C 30 30 0C 30 35 0C 30 33 0C

BAB V PEMBAHASAAN

Pada perbobaan kali ini hal yang pertama kali dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan, kemudian di timbang asam salisilat dan mentol dengan perbandingan (0,5:0 ; 0,4:0,1 ; 0,3 ;0,2) kemudian di masukkan kedalam pipa kapiler dengan cara di totolkan Sebelum dilakukan penotolan, terlebih dahulu asam salisilat dan mentol digerus, sebab penurunan titik lebur tidak hanya disebabkan oleh zat padat saja, tetapi juga disebabkan oleh besar dan banyaknya kristal. Setelah digerus maka luas permukaan akan bertambah dan lebih mudah menyerap panas. Kemudian pipa kapiler diikat pada termometer dan dimasukkan kedalam labu tile yang telah berisi paraffin cair setelah itu dipanaskan dengan menggunakan spiritus yang dilakukan dibagian segitiga dari labu tile dimaksudkan agar lebih mudah terjadi aliran panas sehingga suhu dalam labu tile lebih merata. Alasan digunakannya paraffin cair sebagai medium

penghantar panas adalah karena titik didihnya yang tinggi sehingga tidak akan mendidih/menguap sampai tercapai suhu lebur dari

sampel. Apabila medium penghantar panas mendidih maka akan terjadi floating yang akan mengganggu dan bisa saja medium

penghantar akan menguap habis sebelum tercapai suhu lebur dari sampel. Dari hasil pengukuran didapatkan suhu lebur dari asam salisilat-mentol adalah (0,5:0 = 145 0C, 0,4:0,1 = 60 0C, 0,3:0,2 = 60
0

C) dan suhu lebur dasi mentol-asam salisilat adalah(0,5:0 = 30 0C,

0,4:0,1 = 35 0C, 0,3:0,2 = 33 0C). Berarti suhu asam salisilat 88 0C dan mentol 32 0C. Cukup jauh berbeda dengan yang ada di teori yang mana titik lebur asam salisilat yaitu 158,5-161 oC.dan mentol 4144 0C Hal ini dapat disebabkan karena beberapa faktor kesalahan diantaranya adalah termometer yag digunakan dalam kondisi kurang baik, selain itu kesalahan pada penimbangan dan pengukuran juga dapat mempengaruhi jumlah kristal asam salisilat yang didapatkan.

BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan Dari hasil hasil praktikum, dapat diketahui titik lebur dari asam salisilat secara teoritis adalah 158,5-161oC dan mentol 41-44oC titik leburnya berdasarkan hasil praktikum adalah 88oC dan 32 oC

V.2 Saran Diharapkan kepada asisten agar selalu mendampingi praktikannya pada saat praktikum berlangsung untuk mencegah kecelakaan kerja.

Daftar Pustaka
1. http://rv-reskisari.blogspot.com/2012/06/penentuan-titiklebur.html. Diakses tanggal 25/03/2013 2. Sastrohamidjojo, hardjono. Kimia Dasar .Gadjah Mada

University Pres : Yogyakarta. 2001 3. Ditjen POM.Farmakope Indonesia.Departemen Kesehatan

Republik Indonesia:Jakarta.1979 4. Martin, Alfred dkk.Dasar-dasar Farmasi Fisik dalam Ilmu Farmasetik.Universitas Indonesia Press:Jakarta.1990 5. Satyajit D. Sarker dan Lutfur Nchar. Kimia untuk Mahasiswa Farmasi Bahan Kimia Organik, Alam dan Umum. Pustaka pelajar : Yogyakarta. 2009 6. http://dwi-jo.blogspot.com/2011/11/pengertian-titik-lebur-dantitik-beku.html. Diakses tanggal 25/03/2013