Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM STERIL PEMBUATAAN SEDIAAN VITAMIN B1 INJEKSI

Untuk memenuhi sebagian persyaratan penilaian menempuh mata kuliah Praktikum Steril yang Dibina oleh Bapak Fandi, Ssi.Apt

OLEH Ria Nurul Aini NIM 10.033 KH

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA AKADEMI FARMASI PUTRA INDONESIA MALANG Juni 2012

JURNAL PRAKTIKUM STERIL SEDIAAN INJEKSI VITAMIN B1

A. TANGGAL PRAKTIKUM Minggu, 27 Mei 2012 B. TUJUAN PRAKTIKUM Untuk mengetahui cara pembuatan injeksi Thiamin Hcl dengan metode sterilisasi yang sesuai. C. DASAR TEORI Injeksi Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspense, atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir. Pembuatan sediaan yang akan digunakan untuk injeksi harus hati hati untuk menghindari kontaminasi mikroba dan bahan asing. Cara Pembuatan Obat Yang Baik (CPOB) mensyaratkan pula tiap wadah akhir injeksi harus diamati satu per satu secara fisik. Dalam pembuatan obat suntik, syarat utamanya ialah obat harus steril, tidak terontaminasi bahan asng, dan disimpan dalam wadah yang menjamin sterilitas. Keuntungan sediaan injeksi 1. Bekerja cepat 2. Dapat digunakan untuk obat yang rusak jika terkena cairan lambung 3. Kemurnian dan takaran zat berkhasiat lebih terjamin 4. Dapat digunakan sebagai depo terapi Kerugian sediaan injeksi 1. Bekerja cepat jika terjadi kesalahan sukar dilakukan pencegahan 2. Cara pemberian lebih sukar harus memakai tenaga khusus 3. Kemungkinan terjadi infeksi pada bekas suntikan 4. Secara ekonomis lebih mahal dibandngkan dengan sediaan oral. Syarat syarat injeksi . Harus aman dipakai, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan atau efek toksik.

2. Jika obat suntik berupa larutan, maka harus jernih, benbas dari partikel padat kecuali dalam bentuk suspense

3. Isohidris, mempunyai pH 7,4 4. Isotonis Sebaiknya larutan injeksi harus isotonis , jika terpaksa dapat sedikit hipertonis, tetapi jangan sampai hipotonis. Jika larutan hipertonis disuntikkan, air dalam sel akan ditarik keluar dari sel sehingga sel akan mengerut tetapi keaadn ini bersifat sementara dan tidak merusak sel , namun jika larutan hipotonis disuntikkan, air dari larutan injeksiakan diserap dan masuk kedalam sel akibatnya sel akan mengembang dan pecah fdan keadaan ini bersifat tetap. 5. Steril 6. Bebas dari pirogen 7. Tidak boleh berwarna, kecuali zat berkhasiatnya berwarna Klasifikasi sediaan injeksi :

1. Larutan sejati dengan pembawa air, contohnya : Injeksi Vitamin C 2. Larutan sejati dengan pembawa minyak, contohnya : Injeksi Kamfer 3. Larutan sejati dengan pembawa campuran, contohnya : Injeksi Phenobarbital 4. Suspensi steril dengan pembawa air, contohnya : Inj Calciferol (vitamin D2) 5. Suspensi steril dengan pembawa minyak, contonhya : Inj Bismuthsubsalisilat. 6. Emulsi steril, contohnya : Infus Ivelip 20% 7. Serbuk kering dilarutkan dengan air Faktor factor yang mempengaruhi pembuatan obat suntik : A. Pelarut dan Pembawa 1. Pelarut dan pembawa air untuk obat suntik a. Pelarut yang paling sering digunakan dalam obat suntik secara besar besaran adalah air untuk injeksi atau disebut WFI (Water for Injection) Persyaratan WFI menurut standar BP (2001) dan EP (2002) tidak boleh mengandung : Total karbonorganik tidak boleh lebih dari 0,5 mg per liter. Klorin tidak boleh lebih dari 0,5 ppm Ammonia tidak boleh lebih dari 0,1 ppm Nitrat tidak noleh lebih dari 0,2 ppm

Logam berat (Cu, Fe, Pb) tidak boleh lebih dari 0,1 ppm Oksidator tidak boleh lebih dari 5 ppm Bebas pirogen pH 5,0 7,0

Penyimpanan air untuk injeksi (WFI) harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat pada temperature dibwah atau diatas kisaran temperature ideal mikroba dapat tumbuh. Air untuk obat suntik bertujuan dalam waktu 24 jam sesudah penampungan

b. Steril Water for Injection (air steril untuk injeksi) adalah air untuk injeksi yang disterilkan dan dikemas dengan cara yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya. Syarat steril water for injection adalah cairan jernih : steril, bebas pirogen, tak berbau, tak berwarna, tak berasa, tidak mengandung logam logam berat seperti Cu, Fe, Pb, zat zat pereduksi dan lain lain, pH 5,0 7,0 c. Bacteriostatic Water for Injection adalah air steril untuk obat suntik yag mengandung satu atau lebih zat antimikroba yang sesuai. d. Sodium Chloride Injection adalah larutan steril dan isotonic natrium klorida dalam air untuk obat suntik. Larutan tidak mengandung zat antimikroba. e. Bacteriostatic Sodium Chloride Injection adalah larutan steril dan isotonic natrium klorida dalam air untuk obat suntik. Larutan mengandung satu atau lebih zat antimikroba yang sesuai dan harus tertera dalam etiket. 2. Pelarut dan pembawa bukan air. a. Minyak : Olea neutralisata ad injectionem Setiap Farmakope mencantumkan jenis minyak tumbuhan (nabati) yang berbeda beda. Minyak kacang (Oleum Arachidis), minyak zaitun (Oleum Olivarum), minyak mendel, minyak bunga matahari, minyak kedelai, minyak biji kapuk,dan minyak wijen (Oleum Sesami) adalah beberapa jenis minyak yang digunakan sebagai pembawa injeksi. Minyak harus netral secara fisiologis dan dapat diterima tubuh dengan baik. Persyaratan untuk tingkat ini adalah tingkat kemurnian yang tinggi dan menunjukkan bilangan asam dan bilangan peroksida yang rendah. Minyak setelah disterilkan disebut Olea netralisata ad injectionem.

b. Bukan minyak, yaitu : Alcohol, Propylenglycol, Glycerine, dan lain lain dicampur air dapat dipakai sebagai pelarut obat suntik, di samping melarutkan, ternyata mempertinggi stabilitas obat dan larutannya pula. B. Cara Pemberian Pemberian secara i.v menimbulkan efek yang lebih cepat daripada i.m dan lebih cepat daripada s.c. C. Partikel Zat Aktif dan Bentuk Polimorfisme Semakin halus ukuran partikel zat aktif, semakin cepat efek yang ditimbulkan. Kemudian, bentuk amorf memberikan efek yang lebih cepat daripada bentuk kristal. D. Zat Pengawet Penambahan bahan pengawet bergantung pada bahan aktif yang digunakan dalam pembuatan formula obat suntik. E. Bentuk Sediaan Larutan sejati memberikan efek yang lebih cepat daripada larutan suspense (Sustained release action) atau emulsi. F. Tonisitas Larutan Obat Suntik 1. Isotonis Jika suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah, sehingga tidak terjadi pertukaran cairan di antara keduanya, maka larutan dikatakan isotonic (ekuivalen dengan larutan 0,9% NaCl) 2. Isoosmotik Jika suatu larutan memiliki tekanan osmose sama dengan tekanan osmose serum darah, maka larutan dikatakan isoosmotik. 3. Hipotonis Turunnya titik beku kecil, yaitu tekanan osmosenya lebih rendah dari serum darah, sehingga menyebabkan air akan melintasi membrane sel darah merah yang semipermeabel memperbesar volume sel darah merah sel sel darah merah, yang disebut Hemolisa. 4. Hipertonis dan menyebabkan

peningkatan tekanan dalam sel. Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya

Turunnya titik beku besar, yaitu tekanan osmosenya lebih tinggi dari serum darah, sehingga menyebabkan air keluar dari sel darah merah melintasi membrane semipermeabel dan mengakibatkan terjadinya penciutan sel sel darah merah, yang disebut Plasmolisa. Beberapa cara dapat menjadikan larutan isotonis : a. Penurunan titik beku W = (0,52 a)/b

W = jumlah (g) bahan pembantu isotonic dalam 100 ml larutan a = turunnya titik beku air akibat zat terlarut, dihitung dengan

memperbanyak nilai untuk larutann 1% b/v. b = turunnya titik beku air yang dihasilkan oleh 1% b/v bahan pembantu

isotonis. b. Kesetaraan dengan garam natrium klorida Ekivalensi natrium klorida memberikan jumlah natrium klorida (g) yang menghasilkan tekanan osmotic sama seperti 1 gram bahan obat dnegan syarat bahwa baik natrium klorida maupun bahan obat berada dalam larutan bervolume sama. Maka, 1 gram bahan obat ekuivalen dengan tekanan osmotic dari x gram natrium klorida. Dengan bantuan ekuivalensi natrium klorida, kita dapat menghitung volume air yang dibutuhkan untuk membuat larutan bahan obat isotonik. c. Kesetaraan volume isotonic Perhitungan didasarkan pada kenyataan bahwa larutan isotonic ditambah larutan isotonic hasilnya larutan isotonic. Rumus : V = w x E x 111,1 V w E 111,1 = volume larutan bahan obat isotonic yang dicari (ml) = masa bahan obat (g) dan larutan yang dibuat = ekuivalensi natrium klorida = volume larutan isotonic (ml) yang mengandung 1 gram natrium klorida = 111,1 ml d. Perhitungan dengan tetapan Liso

Rumus : Dt f = Liso . C Berlaku bila tidak ada data pada tabel penurunan titik beku. Tahapan perhitungan : 1. Cari bahan molekul obat. 2. Berdasarkan struktur kimia senyawa, tentukan tipe isotoniknya 3. Cari harga Liso dari tabel berdasarkan tipe isotonic 4. Hitung dengan rumus Dt f = Liso . C penurunan titik beku. 5. Hitung selisih penurunan titik beku. 6. Hitung kekurangan tonisitas. 7. Dengan melihat tabel, hitung kekurangan zat untuk mencapai isotonic. G. pH Obat Suntik 1. Isohidris : kondisi suatu larutan zat yang pH nya sesuai dengan pH fisiologis tubuh sekitar 7,4. 2. Euhidris : usaha pendekatan larutan suatu zat secara teknis ke arah pH fisiologis tubuh dilakukan pada zat yang tidak stabil pada pH fisiologis seperti garam alkaloid, vitamin C. Menurut BP : 1. Dalam pembuatan obat suntik, kita perlu menetapkan pH obat suntik. 2. Beberapa obat suntik harus dibuat dalam jarak pH tertentu. 3. Untuk memperoleh pH tertentu, kita menggunakan bantuan dapar. Fungsi larutan dapar dalam obat suntik adalah : 1. Meningkatkan stabilitas obat, misalnya : injeksi vitamin C dan injeksi luminal. 2. Mengurangi rasa nyeri dan iritasi. 3. Dapat pula menghambat pertumbuhan bakteri (bukan tujuan sebenarnya). 4. Meningkatkan aktivitas fisiologis obat. H. Stabilisasi USP mengijinkan penambahan zat zat yang sesuai ke dalam sediaan yang resmi digunakan sebagai obat suntik. Tujuannya adalah meningkatkan kestabilan asal sesuia dengan monografi masing masing, tidak berbahaya dalam jumlah yang diberikan, dan tidak mengganggu efek terapi sediaan. Senyawa senyawa penambah kebanyakan adalah pengawet antimikroba, dapar, penambah kelarutan, antioksidan, dan zat zat

pembantu farmasi lainnya. Zat pewarna dilarang keras diberikan dalam sediaan parenteral. Agar sediaan obat injeksi tetap stabil, maka kita perlu memperhatikan hal hal berikut : 1. Untuk mencegah reaksi oksidasi, kita hendaknya mengupayakan agar obat tidak kontak dengan oksigen. 2. Bila oksidasi dikatalisis oleh logam berat, maka penawarnya dilakukan reaksi komplekson dengan penambahan garam dinatrium EDTA. 3. Bila ada rangsangan akibat cahaya terhadap proses oksidasi, maka pembuatan dan penyimpanan larutan injeksi sebaiknya terlindung dari cahaya. 4. Bila bahan obat tidak dapat disterilisasi dengan panas, maka tersedia penyaring bebas kuman. 5. Bila bahan obat rusak karena hidrolisis, maka lebih baik kita meraciknya dalam ampul kering. 6. Untuk menghindari kontaminasi bakteri ke dalam preparat injeksi, kita memerlukan penambahan bahan pengawet. I. Volume Obat Suntik Volume yang disiapkan untuk obat suntik tergantung pada kelarutan zat aktif, tetapi juga dipengaruhi oleh cara pemberian. J. Biofarmasetika Obat suntik diberikan ke dalam tubuh dengan berbagai cara pemberian. Dalam pembuatan formula steril, berbagai macam cara pemberian dengan biofarmasetika saling mempengaruhi. Formula obat suntik dapat dibuat dalam bentuk larutan air, suspensi air, atau minyak. Emulsi memiliki absorbs dan distribusi obat berbeda. K. Gravitasi Faktor gravitasi sangat penting dalam pembuatan obat suntik pada golongan obat anestesi. Pada pemberian obat anestesi secara intraspinal dan inhalasi, gravitasi mempengaruhi pergerakan obat dalam mencapai sasaran. Pasien kadang membutuhkan operasi pada bagian bawah tubuh dengan sebaiknya memiringkan kepala ke bawah. Harus dilakukan pemilihan larutan yang digunakan secara benar agar pergerakan obat mencapai sasaran L. Wadah dan Penutup

Wadah dari botol kaca dengan dari plastik mempengaruhi proses sterilisasi sediaan obat yang akan dibuat. Wadah infus terbuat dari plastic dengan bahan polipropilen menghasilkan bentuk softbag yang dapat disterilkan dengan cara overkill.

Pembuatan larutan injeksi a. Cara Aseptis Digunakan jika bahan obat tidak dapat disterilkan karena akan rusak atau terurai. Cara : Zat pembawa, zat pembantu, wadah, alat-alat gelas untuk pembuatan dan alat lain yang diperlukan disterilkan sendiri-sendiri. Kemudian bahan obat, zat pembawa dan zat pembantu dicampur secara aseptic diruang aseptikhingga terbentuk larutan injeksi dan dikemas secara aseptic. b. Cara Non-Aseptik Dilakukan sterilisasi akhir Cara : Bahan obat dan zat pembantu dilarutkan kedalam zat pembawa dan dibuat larutan injeksi . Saring hingga jernih dan tidak boleh ada serat yang terbawa ke dalam filtrate larutan. Msukkan kedalam wadah dalam keadaan bersih dan sedapat mungkin aseptic. Setelah dikemas, hasilnya disterilkan dengan cara yang cocok.

Tinjauan bahan Tinjauan farmakologi Vitamin B1 Penggunaan Selain pada defisiensi tiamin, juga digunakan pada neuralgia. Kombinasi dengan dengan piridoksin dan Vit B12 dalam dosis tinggi digunakan sebagai vitamin neurotropik. Efek samping Memberikan efek toksik bila diberikan per oral, bila terjadi kelebihan thiamin cepat diekskresi melalui urin. Meskipun jarang terjadi reaksi anafilaktoid dapat terjadi setelah pemberian IV dosis besar pada pasien yang sensitive dan beberapa diantaranya bersifat fatal. Reaksi hipersensitivitas terjadi setelah menyuntik agen ini. Beberapa kelembutan atau nyeri otot dapat mengakibatkan setelah injeksi IM. Resorbsi

Maksimal pada penggunaan oral adalah 8 15 mg sehari. Setelah diserap, tiamin disalurkan ke semua organ dengan konsentrasi terbesar di hati, ginjal, jantung, dan otak. Tiamin dalam dosis tinggi tidak menyebabkan keracunan, karena kelebihannya diekskresikan melalui kemih dalam bentuk utuh atau sebagai metabolitnya. Tempat absorbsi Tiamin yang diserap dari saluran pencernaan dan dimetabolisme oleh hati. Eliminasi dalam ginjal, mayoritas yang metabolit dan didistribusikan secara luas ke sebagian besar tubuh. Interaksi obat Bila dicampurkan dengan sodium sulfit, potassium metabisulfit dan sodium hidrosulfit dapat menurrunkan kestabilan thiamin Hcl di dalam larutan. Thiamin Hcl tidak stabil dalam larutan basa atau netral atau dengan agen oksidasi atau mengurangi. Hal ini paling stabil pada pH 2. OTT Dengan riboflavin dalam larutan jejak presipitation dari thiocrom atau chloroflafin terjadi dengan benzilpenicillin kompatibel dengan suntikan dekstrosa atau addictive containing metabisulfit. Sifat fisika kimia Thiamin Hcl Sifat fisika Organoleptis Bau Warna Rasa Kelarutan : serbuk hablur atau hablur kecil : khas lemah mirip ragi : putih : pahit : mudah larut dalam air, larut dalam air panas, sukar larut dalam etanol (95%), praktis tidak larut dalam eter dan dalam benzene. Larut dalam gliserol. Sifat kimia Nama lain Rumus molekul Berat molekul pH : vitamin B1 : C12H17ClN4OS.Hcl : 337,27 : 3,4

Tinjauan metode sterilisasi

1. Sterilisasi dengan cara fisik A. Pemanasan Air dan uap adalah media panas yang baik. Dalam waktu relatif singkat, alat yang akan disterilkan akan mencapai suhu yang diinginkan. Udara adalah penyalur panas yang kurang baik. Oleh karena itu, untuk mecapai suhu yang diinginkan akan membutuhkan waktu yang cukup lama. 1. Panas kering Cara ini untuk membunuh mikroba hanya memakai udara panas kering yang tinggi. Sterilisasi panas kering dibedakan atas : a. Panas membara Dengan jalan menaruh benda yang akan di sterilkan dalam nyala api bunsen sampai merah membara. Alat yang disterilkan yaitu sengkelit, jarum, ujung pinset dan ujung gunting. b. Melidah apikan Dengan melewatkan benda dalam api bunsen, namun tidak sampai menyala terbakar. Alat yang disterilkan yaitu scalpel, kaca benda, mulut tabung dan mulut botol. c. Udara kering Oven merupakan ciri umum yang dimaksud.Alat ini terbuat dari kotak logam, udara yang terddapat di dalamnya mendapat udara panas melalui panas dari nyala listrik. Oven digunakan untuk mensterilisasi alat yang terbuat dari kaca dan kertas yang tahan terhadap suhu tinggi. Alat yang disterilisasi : Erlenmeyer, cawan petri, labu ukur, batang pengaduk, pipet tetes, gelas ukur, tabung reaksi, 2. Panas Basah Yang dimaksud panas basah adalah pemansan menggunakan air atau uap air.Uap air adalah media penyalur panas yang terbaik dan terkuat daya penetrasinya.Panas basah mematikan mikroba.Oleh karena koagulasi dan denaturasi enzim dan protein protoplasma mikroba.Untuk mematikan spora diperlukan panas basah selama 15 menit pada suhu 121 oC. Sterilisasi panas basah dapat dibedakan atas tiga golongan yaitu : a. Panas basah <100 oC (Pasteurisasi) Pasteurisasi yaitu pemanasan pada suhu 60 oC selama 30 menit. Pasteurisasi tidak dapat membunuh spora atau dipanaskan pada suhu 71,6 80 oC selama 15 30 detik kemudian cepat cepat didinginkan. b. Panas basah pada suhu 100 oC Di sini menggunakan air mendidih (suhu 100 oC) selama 10 menit. Untuk mematikan bentuk spora dilakukan pemansan 3 hari berturut turut selama 15 45 menit sehingga spora yang tidak mati pada pemanasan pertama akan beruah menjadi bentuk vegetatif pada hari kedua

steleh inkubasi pada shu 37 oC begituu pula spora yang tidak mati pada hari kedua, akan berubah menjadi bentuk vegetatif pada hari ketiga. c. Panas basah >100 oC Sterilisasi dengan cara ini hasilnya mutlak steril, sehingga biasa dipergunakan di rumah sakit dan laboratorium besar. Cara ini menggunakan tangki yang diisi dengan uap air yang disebut autoclave.Alat yang disterilkan adalah alat dari kaca, kain kasa, media pembenihan, cairan injeksi, dan bahan makanan. Autoclave : Autoclave berfungsi untuk mensterilisasi dengan uap panas bertekanan. Digunakan untuk mensterilisasi alat-alat gelas, kayu, plastic, larutan dan medium yang tidak tahan terhadap suhu tinggi. Dapat pula digunakan untuk melisiskan mikroba, untuk mematikan spora diperlukan panas basah selama 15 menit pada suhu 121C B. Filtrasi / Penyaringan Penyaringan dilakukan dengan mengalirka larutan melalui suatu alat penyaringan yang memiliki pori pori cukup kecil. Untuk menahan mikroorganisme dengan ukuran tertentu.Saringan yang umum digunakan tidak dapat menyaring virus. Penyaringan dilakukan dengan untuk mensterilkan cairan yang tidak tahan terhadap pemanasan dengan suhu tinggi seperti : serum, larutan yang mengandung enzim, toksin kuman, ekstrak sel, antibiotik dan asam amino. C. Radiasi / Penyinaran Mikroorganisme dapat dibunuh dengan penyinaran yang memakai sinar ultrraviolet yang panjang gelombangnya antara 220 290 nm. Radiasi paling efektif adalah 253,7 nm. Sinar matahari langsung mengandung sinar ultraviolet 290 nm, sehingga sinar matahari adalah sinar yang bersifat bakterida yang baik. 2. Sterilisasi Dengan Cara Kimia

Zat kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi dapat berwujud : a. Gas : Ozon, formaldehyde, ethylene oxide gas b. Larutan : deterjen, yodium, alcohol, peroksida fenol, formalin, AgNO3 dan merkuroklorid Sterilisasi dengan cara kimia antara lain dengan disenfektan. Daya kerja antimikroba disenfektan ditentukan oleh konsenntrasi, waktu dan suhu. Beberapa contoh desinfektan yang digunakan antara lain : Desinfektan lingkungan misalnya 1. Untuk permukaan meja : lisol 5%, formalin 4% dan alcohol. 2. Untuk di udara : natrium hipoklorit 1%, lisol 5% atau senyawa fenol lain

3. Desinfektan kulit atau luka : dicuci denngan air sabun, providon yodium dan etil alkohol 70%. Bentuk sediaan, dosis dan cara pemberian

D. RANCANGAN FORMULASI Formulasi R/ Thiamin Hcl 100 mg

Bahan tambahan yang cocok qs Aqua Pro Injection Perhitungan Isotonis Dengan metode Liso BM Thiamin Hcl = 337,27 Liso Thiamin Hcl = 3,4 Berat Thiamin = 0,1 tf = Liso x m/BM x 1000/V tf = 3,4 x 0,1/337,27 x 1000/2 tf = 3,4 x 0,00029 x 500 = 0,493 ( masuk rentang isotonis ) Tidak perlu penambahan NaCl Dengan metode ekivalensi NaCl Gram Thiamin Hcl = 0,1 gram ad 2 ml

Dari tabel diketahui 0,25 gram NaCl setara dengan 1 gram Thiamin Hcl, jadi jumlah NaCl untuk 0,1 gram adalah 0,1 x 0,25 = 0,025 Larutan 2 ml memerlukan NaCl = 0,9 % x 2 ml = 0,018 gram Kekurangan NaCl yang diperlukan adalah = 0,025 0,018 gram = 0,007 gram Untuk 10 ml larutan injeksi Thiamin Hcl diperlukan NaCl sebanyak 0,035 gram. Karena jumlahnya terlalu kecil maka diabaikan ketika pengerjaan. Perhitungan dapar Untuk mendapatkan pH 7,4 dibutuhkan 90,9 ml Natrium Fosfat 0,2 M Diketahui : Molaritas Natrium Fosfat = 0,2 M BM Natrium Fosfat Volume Ditanya : = 358, 14 = 90,9 ml

Bobot Natrium Fosfat

Jawab M

: = gram / MR Volume (L)

0,2 M

= gram / 358,14 0,0909

Gram Gram

= 0,2 x 358,14 x 0,0909 = 6,51 gram

Dalam 90,9 ml Natrium Fosfat 0,2 M terdapat 6,51 gram Natrium Fosfat Maka dalam 10 ml larutan dibutuhkan 0,715 gram Natrium Fosfat Untuk mendapatkan pH 7,4 dibutuhkan 9,1 ml Asam Sitrat 0,1 M Diketahui : Molaritas Asam Sitrat BM Asam Sitrat Volume Asam Sitrat Ditanya : = 0,1 M = 210,14 = 9,1 ml

Bobot Asam Sitrat Jawab :

M = gram/BM Volume (L) Bobot asam sitrat = M x BM x volume = 0,1 x 210,14 x 0,0091 L = 0,19 gram Dalam 9,1 ml Asam Sitrat 0,1 M terdapat 0,19 gram Asam Sitrat Maka dalam 10 ml larutan dibutuhkan 0,208 gram Asam Sitrat Penimbangan bahan Volume yang akan dibuat 20 ml Thiamin Hcl = ( 0,1/2 ml x 20 ml ) + 20 % = 1,2 gram Bahan tambahan yang cocok : Natrium Fosfat Asam Sitrat Natrium Klorida = 1,43 gram + 20 % = 1,716 gram = 0,417 gram + 20 % = 0,5 gram = 0,035 gram + 20 % = 0,042 gram

Aqua Pro Injection ad Alasan pemilihan bahan :

= 20 ml + 20 % = 24 ml

Thiamin Hcl : digunakan untuk defisiensi vitamin B1 Bahan tambahan yang cocok : Natrium Fosfat : merupakan pendapar yang cocok dikarenakan pH Thiamin tidak sama dengan pH darah Asam Sitrat : merupakan pendapar yang cocok dikarenan pH Thiamin tidak sama dengan pH darah. Natrium Klorida : digunakan untuk meningkatkan tonisistas NaCl Aqua Pro Injection : merupakan pelarut yang baik untuk Thiamin Hcl, stabil pada penyimpanan dan aman untuk darah. E. METODOLOGI Alat : 1. Kaca arloji 2. Beaker glass 3. Erlenmeyer 4. Spatula 5. Batang pengaduk 6. Pinset 7. Gelas ukur 8. Spuit 9. Corong dan kertas saring 10. Ampul 11. Spuit 12. Oven 13. Autoclave Bahan : 1. Thiamin Hcl 2. Aqua pro injection Cara kerja : 1. Siapkan alat dan sterilkan

2. Membuat Aqua PI dengan cara memanaskan sampai mendidih, tambahkan waktu 10 menit waktu mendidihkan dihitung setelah air mendidih. 3. Timbang zat aktif (thiamin Hcl) dan zat tambahan (Natrium Fosfat, Asam Sitrat) menggunakan kaca arloji 4. Masukkan Thiamin ke dalam gelas ukur, larutkan dengan sebagian air steril. 5. Masukkan Natrium Fosfat dan Asam Sitrak ke dalam gelas ukur, larutkan dengan sebagian air steril. 6. Bilas kaca arloji dengan Aqua PI 7. (4) + (5) campur ad homogen 8. Basahi kertas saring dengan Aqua PI sebelum digunakan 9. (7) saring ke dalam erlemeyer, bilas gelas ukur sebelumnya dengan Aqua PI. 10. (9) tambahkan Aqua PI ad 20 ml. 11. Masukkan dalam ampul menggunakan spuit. 12. Tutup ampul, sterilkan dengan autoklaf pada suhu 121 C selama 15 menit. F. EVALUASI 1. Kejernihan Pengujian visual ditujukan bagi pengotoran tidak larut, khususnya bahan melayang dan serpihan gelas. Pengotoran dapat berasal dari material penyaring, ketidakcermatan membersihkan ampul, dari udara yang masuk, atau pada saat membersihkan ampul. 2. Zat aktif (kadar) Pengujian dapat dilakukan dengan volumetric, spektrofotometer, HPLC, atau alat lain yang cocok secara kuantitatif dengan standar farmakope. 3. Sterilitas Pengujian dilakukan secara mikrobiologis dengan menggunakan media pertumbuhan tertentu. 4. Pirogenitas Pengujian dilakukan dengan hewan uji dan tes limulus 5. Keseragaman volume Pengujian dilakukan dengan alat ukur volume. Volume larutan tiap wadah harus sedikit lebih dari volume yang ditetapkan. 6. Keseragaman bobot

Kita hilangkan etiket dari 10 wadah. Kita cuci bagian luar wadah dengan air dan mengeringkannya. Kemudian timbang satu persatu dalam keadaan terbuka. Selanjutnya keluarkan isi wadah, cuci dengan air, lalu dengan etanol 95 % keringkan pada suhu 105 C hingga bobot tetap. Dinginkan dan timbang isi satu persatu. Bobot isi wadah tidak boleh menyimpang lebih dari batas tertentu dalam tabel, kecuali satu wadah yang boleh menyimpan tidak lebih dari 2 kali batas tertentu. Bobot yang tertera pada etiket Tidak lebih dari 120 mg Antara 120 300 mg 300 mg atau lebih 7. pH Pengujian dilakukan dengan kertas indicator pH atau dengan alat pH meter. 8. Homogenitas Pengujian homogenitas diberlakukan bagi suspense yang harus menunjukkan tampak luar homogeny setelah pengocokan dalam waktu tertentu menggunakan alat Viskometer Brookfield, sedangkan pengujian homogenitas emulsi dilakukan secara visual. 9. Toksisitas Dilakukan dengan pemeriksaan larva udang LD50. G. KESIMPULAN Pembuatan sediaan injeksi harus dilakukan dengan cara-cara yang steril sesuai sengan CPOB pembuatan sediaan injeksi. H. PEMBAHASAN Tehnik kerja yang dilakukan dalam pembuatan sediaan injeksi Antalgin masih banyak memiliki kekurangan dan tidak memenuhi syarat pembuatan sediaan steril antara lain : Seharusnya sediaan injeksi antalgin dilakukan sterilisasi akhir. Proses sterilisasi tersebut dilakukan dalam autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit. Suhu dan tekanan tinggi diperlukan untuk menghasilkan energi yang besar untuk membunuh bakteri, terutama endospora yang tahan panas. Penggunaan tekanan yang tinggi dapat menghancurkan dinding endospora Pada saat pembuatan seharusnya dilakukan diruangan yang steril, pembuatan dilakukan dengan cara-cara yang steril Batas penyimpangan dalam % 10 7,8 5

Syarat-syarat tersebut tidak dilakukan dikarena beberapa sebab antara lain : 1. 2. Keterbatasan waktu Sarana yang tidak memadahi