Anda di halaman 1dari 6

Jenis-jenis keracunan (FK-UI,1995) dapat dibagi berdasarkan : 1. Cara terjadinya, terdiri dari : a.

Self Poisoning Pada keadaan ini pasien memakan obat dengan dosis yang berlebih tetapi dengan pengetahuan bahwa dosis ini tak membahayakan. Pasien tidak bermaksud bunuh diri, hanya bermaksud untuk mencari perhatian saja. b. Attempted Suicide Pada keadaan ini, pasien bermaksud unutk bunuh diri, bisa berakhir dengan kematian atau pasien dpat sembuh bila salah tafsir dengan dosis yang dipakai. c. Accidental Poisoning Keracunan yang merupakan kecelakaan, tanpa adanya faktor kesengajaan. d. Homicidal Poisoning Keracunan akibat tindakan kriminal yaitu seseorang dengan sengaja meracuni orang lain. Mula waktu terjadi, terdiri dari : a. Keracunan kronik Keracunan yang gejalanya timbul perlahan dan lama setelah pajanan. Gejala dapat timbul secara akut setelah pemajanan berkali-kali dalam dosis relatif kecil. Ciri khasnya adalah zat penyebab diekskresikan 24 jam lebih lama dan waktu paruh lebih panjang sehingga terjadi akumulasi. b. Keracunan Akut Biasanya terjadi mendadak setelah makan sesuatu, sering mengenai banyak orang (pada keracunan makanan dapat mengenai seluruh keluarga atau penduduk sekampung), dan gejalanya seperti sindrom penyakit muntah, diare, konvulsi, dan koma. Menurut alat tubuh yang terkena Pada jenis ini, keracunan digolongkan berdasarkan organ yang terkena, contohnya racun hati, racun ginjal, racun SSP, racun jantung. Menurt jenis bahan kimia Golongan zat kimia tertentu biasanya memperlihatkan sifat toksik yang sama, misalnya golongan alkohol, fenol, logam berat, organoklorin dan sebagainya. Penggolongan keracunan yang lain (Brunner & Suddarth, 2001) didasarkan pada : 1. Racun yang tertelan atau tercerna 2. Keracunan korosif, yaitu keracunan yang disebabkan oleh zat korosif yang meliputi produk alkalin (Lye, pembersih kering, pembersih toilet, deterjen non pospat, pembersih oven, tablet klinitest, dan baterai yang digunakan untuk jam, kalkulator, dan kamera) dan produk asam (pembersih toilet, pembersih kolam renang, pembersih logam, penghilang karat, dan asam baterai) 3. Keracunan melalui inhalasi, yaitu keracunan yang disebabkan oleh gas (karbon monoksida, karbon dioksida, Hydrogen Sulfid ) 4. Keracunan kontaminasi kulit (luka bakar kimiawi) 5. Keracunan melalui tusukan yang terdiri dari sengatan serangga (tawon, kalajengking, dan laba-laba) dan gigitan ular 6. Keracunan makanan, yaitu keracunan yang disebabkan oleh perubahan kimia (fermentasi) dan pembusukkan karena kerja bakteri (daging busuk) pada bahan makanan, misalnya ubi ketela (singkong) yang mengandung asam sianida (HCn), jengkol, tempe bongkrek, dan racun pada udang maupun kepiting 7. Penyalahgunaan zat yang terdiri dari penyalahgunaan obat stimulan (Amphetamin), depresan (barbiturat), atau halusinogen (morfin), dan penyalahgunaan alkohol.

2.

3.

4.

Bahan aktif obat nyamuk bakar merupakan insektisida organik sintesis yaitu pyrethoid. Insektisida pyrethroid diperoleh dari campuran alami, pyrethrum, dari pengeringan pangkal bunga dari bunga Chrysanthemum cineriaefolium. Bahan aktif pada obat nyamuk bakar dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan memberikan efek negatif bagi tubuh. Prosesnya zat obat nyamuk bakar masuk ke dalam tubuh manusia, diawali dengan melalui pernafasan dan kulit. Bahan aktif dari obat nyamuk yang masuk melalui pernafasan dan kulit lalu akan beredar dalam darah. Setelah itu menyebar pada sel-sel tubuh. Ada yang ke pernafasan, ke otak lewat susunan saraf pusat, dan lain-lain. Efek terbesar akan dialami oleh organ yang sensitif. Karena, obat nyamuk lebih banyak melalui hirupan, maka yang biasanya yang terganggu adalah sistem pernafasan. Sementara efek samping pada kulit sangat tergantung pada daya sensitifitas atau kepekaan kulit.(Anonim, 2008) Gangguan-gangguan pada organ tubuh manusia akan terjadi jika pemakaian obat nyamuk tidak terkontrol atau dosisnya yang berlebihan. Orang yang memiliki alergi akan lebih cepat menunjukkan reaksi. Alergi yang paling banyak muncul biasanya mengenai saluran nafasnya sehingga menimbulkan batuk. Reaksi terhadap obat nyamuk dapat timbul dalam rangkaian waktu yang berbeda. Bisa cepat, dapat juga lambat. Orang yang organ pernafasannya sensitif akan bereaksi saat itu juga atau beberapa menit setelah menghirup bau obat nyamuk. Tapi, ada juga yang setelah enam jam baru batuk-batuk. Obat nyamuk dapat juga menjadi faktor pencetus asma. Dampak ini terlihat pada anak yang mengidap asma. Pada orang yang memiliki kulit sensitif, kulitnya akan kemerahan jika terkena bahan-bahan dalam obat nyamuk. Jika digaruk, maka akan timbul lecet dan mungkin bisa menjadi eksim. Pada obat nyamuk semprot bahan aktif yang sering digunakan adalah Propoxur, Imiprotrin, Tetrametrin, D-fenotrin, Pralletrin, Cypermetrin, D-Phenotrin dan bahanbahan aktif lain yang sering digunakan dalam obat nyamuk bakar seperti D-Alletrin, Alletrin dan Metoflutrin. (Anonim, 2007) Dari bahan-bahan aktif penyusun obat nyamuk tersebut, bahan aktif yang paling berbahaya untuk kesehatan adalah propoxur. Sementara bahan bahan aktif yang lainnya relatif aman digunakan hingga saat ini jika penggunaannya tidak melebihi batas yang telah ditentukan. Propoxur juga biasa disebut Aprocarb (senyawa karbamat) banyak digunakan dalam racun pembasmi nyamuk yang memiliki resiko merusak kesehatan karena dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara. Termakan atau terminum bersama makanan atau minuman yang tercemar, dihirup dalam bentuk gas dan asap, termasuk yang langsung menuju paru-paru lalu masuk ke dalam aliran darah. Atau terserap melalui kulit dengan atau tanpa terlebih dahulu menyebabkan luka pada kulit. (A. Hadyana dan Meity, 2004) Propoxur termasuk dalam insektisida atau racun pembasmi hama, dan di Indonesia racun-racun tersebut dijual secara bebas kepada masyarakat luas yang awam akan pengertian bahaya bahan kimia. Propoxur termasuk racun kelas menengah. Jika terhirup maupun terserap tubuh manusia dapat mengaburkan penglihatan, keringat berlebih, pusing, sakit kepala, dan badan lemah. Propoxur juga dapat menurunkan aktivitas enzim yang berperan pada saraf transmisi, dan berpengaruh buruk pada hati dan reproduksi. (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, 2008) Efek bahaya akut pada kesehatan misalnya ketika ketidaksengajaan menelan propoxur. Proses pencernaan dapat mengalami mual, muntah, kehilangan selera makan, kram abdominal, dan diare. Jika terkena mata dapat menyebabkan iritasi mata dan kerusakan pada beberapa individu. Kontak mata secara langsung bisa menghasilkan air mata, pelipatan pada kelopak mata, kehilangan fokus dan pengaburan penglihatan. Efek bahaya kronis ketika kontak berulang kali terhadap unsur ini bisa menyebabkan memori menjadi lemah dan hilangnya konsentrasi, depresi parah, sifat lekas marah, kebingungan, kelesuan, emosional, berbagai kesulitan berbicara, sakit kepala, disorientasi pada ruang, penundaan waktu untuk bereaksi, berjalan sambil tidur, keadaan mengantuk atau kesulitan untuk tidur. Suatu kondisi seperti influensa dengan rasa muak, lemah, anorexia dan rasa tidak enak badan telah dilaporkan. Obat nyamuk lotion adalah obat nyamuk yang digemari penggunanya karena selain aromanya yang wangi juga sangat praktis untuk digunakan. Tapi dibalik itusemua tersimpan fakta bahwa obat nyamuk tersebut memakai bahan aktif yang sangat berbahaya. Biasanya obat lotion pengusir nyamuk di Indonesia adalah Diethilumie atau DEET. DEET merupakan bahan aktif yang banyak dan sering digunakan untuk pelindung kulit terhadap nyamuk di Indonesia. Bahan lain yang sering digunakan diantaranya dalam lotion adalah permetrin dan picaridin. Selain itu ada juga bahan yang berasal dari tumbuhan, seperti cedar, geranium, lavender, citrovella bawang putih, dan canyroyal.

Bahan aktif DEET merupakan bahan korosif. Walaupun telah ditambahkan dengan zat zat lain seperti aloe vera atau yang berfungsi sebagai zat pelembab lain zat ini tetap berbahaya. Jika tertelan DEET dalam dosis kecil menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan seperti mual dan. Dosis yang lebih tinggi menyebabkan hipertensi takikardia, kejang, depresi, lethargi, ataksia, tremor, opasthomus, hypertomia, hepatitis toksik, dan koma. Ketika digunakan secara langsung pada kulit, masalah yang sering muncul adalah iritasi kulit termasuk eritema (kemerahan pada kulit). (Waldvoge, 2005) Pada obat nyamuk elektrik bahan aktif penyusunnya sebagian besar sama dengan bahan aktif obat nyamuk bakar, jadi efek bahaya yang ditimbulkan juga hampir sama dengan efek bahaya pada obat nyamuk bakar.

Baygon ada beberapa macam type, tapi kandungan bahan aktif yg lengkap terdiri dari 3 macam, yaitu : 1. Sipermetrin Merupakan jenis bahan aktif pada kelompok pyrethoid, Piredtroid adalah racun axonix, yaitu beracun terhadapa serabut syaraf. Piretroid terikat pada protein pada syaraf yang dikenal sebagai voltage-gate sodiun chanel. Pada keadaan normal, protein membuka untuk memberikan rangsangan pada syaraf dan menghentikan sinyal syaraf. Piretroid terikat pada gerbang ini, dan mencegah menutup secara normal yang menghasilkan rangsangan syaraf secara berkelanjutan. Hal tersebut menyebabkan tremor dan gerakan in-koordinasi pada orang yang keracunan, Biasanya terlihat kejang-kejang. Senyawa tersebut mengandung racun neurotoxin yang bekerja dengan cepat dalam tubuh serangga. Sipermetrin bekerja sebagai racun kontak dan perut. 2.Transfultrin, Merupakan bahan aktif kelompok Organofosfat, menyerang enzim cholinesterase yang berfungsi memecah asetilkolin menjadi asetil dan kolin. Organofosfat mampu berikatan dengan sisi aktif dari enzim ini sehingga kerja enzim ini terhambat. Jika enzim ini dihambat, maka asetilkolin tidak dapat pecah sehingga jumlah asetilkolin yang meningkat dapat menimbulkan otot bergerak dan tidak dapat dikendalikan. Senyawa ini berperan sebagai neurotransmiter pada ganglia sistem saraf simpatik dan parasimpatik, yang mana senyawa ini berikatan dengan reseptor nikotinik. Inhibisi kholinesterase pada ganglia sistem saraf simpatik dapat menimbulkan midriasis, takikardi, dan hipertensi. Sedangkan, penghambatan kholinesterase pada ganglia sistem saraf parasimpatik menimbulkan efek miosis, bradikardi, dan salivasi. bila keracunan selama empat jam bisa menurunkan kadar eritrosit atau sel darah merah.

3.Imiprotrin Efek yang ditimbulkan apabila keracunan imiprothrin antara lain hipersensitivitas, fibrilasi otot, tremor, ataksia, pernapasan tidak teratur/cepat, excess salivasi, urinasi, nonkarsinogenik dan nonmutagenik Pada keracunan akut gejala timbul dalam 30-60 menit dan mencapai puncaknya dalam 2-8 jam. Pada keracunan ringan gejala yang timbul adalah anorexia, sakit kepala, gelisah, tremor lidah dan kelopak mata, miosis dan penglihatan kabur. Sedangkan gejala pada keracunan berat adalah diare, pupil pinpoint sukar bernapas, edema paru, sianosis, kejang.

Gejala Tanda dan gejala dari intoksikasi organofosfat terbagi menjadi 3 bagian: (1) efek muskarinik, (2) efek nikotinik, dan (3) efek Sistem Saraf Pusat a. Efek muskarinik Tanda dan gejala yang timbul 12-24 jam pertama setelah terpapar termasuk: diare, urinasi, miosis (tidak pada 10% kasus), bronkospasma/bradikardi, mual muntah, peningkatan lakrimasi, hipersalivasi dan hipotensi. Efek muskarinik menurut sistem organ termasuk: 1. Kardiovaskular - Bradikardi, hipotensi 2. Respiratori bronkospasma, batuk, depresi saluran pernafasan 3. Gastrointestinal hipersalivasi, mual muntah, nyeri abdomen, diare, inkontinensia alvi 4. Genitourinari Inkontinensia urin 5. Mata mata kabur, miosis 6. Kelenjar Lakrimasi meningkat, keringat berlebihan b. Efek Nikotinik Efek nikotinik termasuklah fasikulasi otot, kram, lemah, dan gagal diafragma yang bisa menyebabkan paralisis otot. Efek nikotinik autonom termasuk hipertensi, takikardi, midriasis, dan pucat. c. Efek sistem saraf pusat Efek sistem saraf pusat termasuk emosi labil, insomnia, gelisah, bingung, cemas, depresi salur nafas, ataksia, tremors, kejang, dan koma. Kita dapat menduga terjadinya keracunan dengan golongan ini jika : ( 3 ) 1. Gejala gejala timbul cepat , bila > 6 jam jelas bukan keracunan dengan insektisida golongan ini. 2. Gejala gejala progresif , makin lama makin hebat , sehingga jika tidak segera mendapatkan pertolongan dapat berakibat fatal , terjadi depresi pernafasan dan blok jantung. 3. Gejala gejala tidak dapat dimasukkan kedalam suatu sindroma penyakit apapun , gejala dapat seperti gastro enteritis , ensephalitis , pneumonia, dll. 4. Dengan terapi yang lazim tidak menolong. 5. Anamnesa ada kontak dengan keracunan golongan ini Prinsip Pertolongan pada Keracunan Prinsip pertolongan pada keracunan adalah mencegah penyebaran racun ke dalam tubuh yaitu dengan cara : a. Emetic, yaitu mengeluarkan racun yang tertelan dengan jalan dimuntahkan, memberikan obat pencahar untuk mencegah absorpsi lanjut oleh usus dan mempercepat defikasi b. Cathartic, yaitu mencuci atau menguras isi lambung (Gastric Lavage) dengan menggunakan kateter lambung melalui mulut memakai air hangat biasa atau larutan khusus untuk lambung c. Neutralizer, yaitu menetralkan racun dengan memberikan obat antidote khusus dan antidote umum d. Mengencerkan bahan racun yang terkonsumsi oleh tubuh dengan cara memberikan minum yang banyak.

1. Stabilisasi Penatalaksanaan keracunan pada waktu pertama kali berupa tindakan resusitasi kardiopulmoner yang dilakukan dengan cepat dan tepat berupa pembebasan jalan napas, perbaikan fungsi pernapasan, dan perbaikan sistem sirkulasi darah. 2. Dekontaminasi Dekontaminasi merupakan terapi intervensi yang bertujuan untuk menurunkan pemaparan terhadap racun, mengurangi absorpsi dan mencegah kerusakan.

Faktor di dalam tubuh (internal) antara lain : a. Usia, usia merupakan fenomena alam, semakin lama seseorang hidup maka usiapun akan bertambah. Seseorang dengan bertambah usia maka kadar rata-rata cholinesterase dalam darah akan semakin rendah sehingga akan mempermudah terjadinya keracunan pestisida2) b. Status gizi, buruknya keadaan gizi seseorang akan berakibat menurunnya daya tahan dan meningkatnya kepekaan terhadap infeksi. Kondisi gizi yang buruk, protein yang ada tubuh sangat terbatas dan enzim kholinesterase terbentuk dari protein, sehingga pembentukan enzim kholinesterase akan terganggu. Dikatakan bahwa orang yang memiliki tingkat gizi baik cenderung miliki kadar rata-rata kholinesterase lebih besar c. Jenis Kelamin, kadar kholin bebas dalam plasma darah laki-laki normal rata-rata 4,4 g/ml. Analisis dilakukan selama beberapa bulan menunjukkan bahwa tiap-tiap individu mempertahankan kadarnya dalam plasma hingga relatif konstan dan kadar ini tidak meningkat setelah makan atau pemberian oral sejumlah besar kholin. Ini menunjukkan adanya mekanisme dalam tubuh untuk mempertahankan kholin dalam plasma pada kadar yang konstan. Jenis kelamin sangat mempengaruhi akatifitas enzim kholinestrase, jenis kelamin laki-laki lebih rendah dibandingkan jenis kelamin perempuan karena pada perempuan lebih banyak kandungan enzim kolinesterase,

Tindakan Kedaruratan Keracunan Pencernaan scara umum: 1) Menentukan zat yang merupakan racun, jumlah, kapan waktu tertelan,gejala,usia,berat pasein dan riwayst kesehatan yang tepat. Hubungi pusat control racun di area jika agent toksik tidak di ketahui atau jika di butuhkan mengidentifikasi antidote untuk agen toksik yang di ketahui. 2) Tangani syok yang tepat mungkin ini berhubungan dengan kerja kardiodepresan dari obat yang tertelan, opengumpi[ulan aliran vena di ekstreemitas bawah atau penurunan sirkulasi volume darah, sampai dengan meningkatnya permeabilitas kapiler. 3) Hilangkan atau kurangi absorpsi racun, hal berikut mungkin di gunakan: o Encerkan racun yang ada dalam lambung, sekaligus menghalagngi peneyrapannya dengan cara memberikan cairan dalam jumlah banyak. Cairan yang di gunakan adalah air biasa, susu, morit yang telagh di larutkan dalam air. o upayakan muntah, efektif di lakukan 4 jam setelah racun ditelan. Dapat di lakukan dengan cara merangsang dinding faring menggunakan jari. Dapat juga menggunakan sirup ipekak untuk merangsang muntah. Upaya muntah tidak boleh di lakukan pada klien dengan keracunan zat korosif dan pada klien tidak sadar o sirup ipekak untuk merangsang muntah pada klien sadar bilas lambung, sinpan aspirasi lambung untuk penyaringan toksologi o karbon di aktivasi diberikan jika racun adalah salah

satu yang dapat di absorpsi oleh karbon. o pemberian katartik sesuai indikasi. 4) Berikan terapi spesifik. Berikan antagonis kimia yang spesifik atau antagonis fisiologis secepat mungkin untuk merubah atau menurunkan egek toksin 5) Monitor klien yang mengalami kejang.racun mungkin memicu sistem syarap pusat atau klien mungkin mengalami kejang karena oksigen tidak adequate. 6) Bantu dalam menjalankan prosedur untuk mendukung penghilangan zat yang di telan jika hal-hal di atas tidak efektif diuresis untuk agen yang di keluarkan lewat jalur ginjal, dialisis dan karbon dosisi ganda. 7) Pantau tekanan vena sentral sesuai indikasi 8) Pantau cairan keseimbanagn cairan dan elektrolit 9) menurunkan peningkatan suhu 10) Berikan analgesik yang sesuai untuk nyeri;nyeri berat menyebabkan kolaps vasomotor dan penghambatan refleks fungsi fisiologik normal. 11) Bantu mendapatkan spesimen darah, urine, isi lambung dan muntah. 12) Observasi dengan ketat pada klien koma; karena keracunan akibat gangguan fungsi sel otak atau metabolisme. 13) Pantau dan atasi komplikasi seperti hipotensi, disritmia jantung dan kejang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keracunan 1. Cara masuk Keracunan paling cepat terjadi jika masuknya racun secara inhalasi. Cara masuk lain secara berturut-turut melalui intravena, intramuskular, intraperitoneal, subkutan, peroral dan paling lambat ialah melalui kulit yang sehat4,5. 2. Umur Orang tua dan anak-anak lebih sensitif misalnya pada barbiturat. Bayi prematur lebih rentan terhadap obat oleh karena eksresi melalui ginjal belum sempurna dan aktifitas mikrosom dalam hati belum cukup4. 3. Kondisi tubuh Penderita penyakit ginjal umumnya lebih mudah mengalami keracunan. Pada penderita demam dan penyakit lambung absorbsi jadi lebih lambat4. 4. Kebiasaan Berpengaruh pada golongan alkohol dan morfin dikarenakan terjadi toleransi pada orang yang mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol4. 5. Idiosinkrasi dan alergi pada vitamin E, penisilin, streptomisin dan prokain. Pengaruh langsung racun tergantung pada takaran, makin tingi takaran maka akan makin cepat (kuat) keracunan. Konsentrasi berpengaruh pada racun yang bersifat lokal, misalnya asam

sulfat4.