Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA DAN PEMULIAAN IKAN Rangkai Kelamin Pada Ikan

Oleh : BAMBANG ALI AKBAR C1K 011 011 KELOMPOK IV

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN UNIVERSITAS MATARAM 2014

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan praktikum Genetika Dan Pemuliaan Ikan ini telah selesai disusun oleh : Nama NIM Kelompok : Bambang Ali Akbar : C1K 011 011 : IV (empat) Laporan Rangkai Kelamin Pada Ikan ini disusun sebagai syarat agar dapat lulus dalam praktikum mata kuliah Genetika Dan Pemuliaan Ikan.

Mataram, 12 April 2014

Mengetahui; Dosen pembimbing praktikum,

Dewi Nuraeni S, S.Pi., M.Biotech NIP : 197903062003122002

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Sebagian besar jenis kelamin pada ikan mengikuti tipe XY. Pada ikan jantan memiliki tipe XY dan ikan betina XX. Pada ikan terdapat gen terangkai kromosom X dan gen terangkai kromosom Y yang menyebabkan munculnya fenotip tertentu yang nampak pada jantan atau betina saja bahkan pada jantan dan betina. Penurunan karakter oleh gen tunggal menyimpang dari pola Mendel jika alel secara keseluruhan tidak menunjukkan sifat dominan atau sifat resesif yaitu ketika gen tertentu memiliki lebih dari dua alel atau ketika satu gen menghasilkan lebih dari satu fenotip. Alel dapat menunjukkan tingkat dominansi atau resesif yang berbeda satu dengan lainnya. Pada penyilangan yang dilakukan Mendel, anakan F1 selalu menunjukkan salah satu sifat dari sifat kedua induknya karena satu alel dari pasangan alel menunjukkan complete dominance (dominansi lengkap) terhadap alel lainnya dari pasangan tersebut. Pada beberapa gen, tidak ada alel yang secara lengkap mendominasi, sehingga anakan F1 memiliki fenotipe diantara variasi kedua induknya.

1.2.Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu : 1. Melihat adanya gen terangkai kromosom X 2. Melihat adanya gen terangkai kromosom Y 3. Melihat adanya dominansi 4. Melihat ekspresi gen atas dasar homozigot atau heterozigot

1.3.Manfaat Praktikum Adapun manfaat praktikum ini dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana rangkai kelamin pada ikan dan dapat menentukan genotip dan fenotip dari ikan guppy.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gen-gen yang terangkai pada kromosom kelamin sering disebut dengan gen terangkai kelamin yang dibedakan menjadi gen terangkai Y yang terpaut pada kromosom Y dan gen terangkai X yang terpaut pada kromosom X. Gen yang terpaut pada kromosom X tidak memiliki alel pada kromosom Y sehingga penurunan sifat gen terpaut X sedikit lain dari pada gen-gen autosom. Karena tidak memiliki alel pada kromosom Y, maka gen terpaut seks akan mampu menunjukkan ekspresinya meskipun dalam keadaan tunggal, baik dominan maupun resesif. (Sisunandar.2012: 39). Penurunan karakter oleh gen tunggal menyimpang dari pola Mendel jika alel secara keseluruhan tidak menunjukkan sifat dominan atau sifat resesif yaitu ketika gen tertentu memiliki lebih dari dua alel atau ketika satu gen menghasilkan lebih dari satu fenotipe. Alel dapat menunjukkan tingkat dominansi atau resesif yang berbeda satu dengan lainnya. Pada penyilanganpea yang dilakukan Mendel, anakan F1 selalu menunjukkan salah satu sifat dari sifat kedua induknya karena satu alel dari pasangan alel menunjukkancomplete dominance (dominansi lengkap) terhadap alel lainnya dari pasangan tersebut. Pada beberapa gen, tidak ada alel yang secara lengkap mendominasi, sehingga anakan F1 memiliki fenotipe diantara variasi kedua induknya. Fenomena ini disebut incomplete dominance dan ditunjukkan oleh penyilangan tanaman snapdragon berbunga merah dan putih dimana seluruh hibrid F1 memiliki bunga berwarna pink. Fenotipe ketiga ini muncul karena bunga dari heterozigot memiliki pigmen merah lebih sedikit dibandingkan dengan homozigot warna merah (Campbell dkk, 2010). Hukum Mendel I atau hukum segregasi membahas tentang pemisahan faktorfaktor pembawa sifat (alel) pada waktu pembentukan gamet. Hukum segregasi menyatakan bahwa alel-alel akan berpisah secara bebas dari diploid menjadi haploid pada saat pembentukan gamet. Dengan demikian setiap sel gamet hanya mengandung

satu gen dari alelnya. Fenomena ini dapat diamati pada persilangan monohibrid, yaitu persilangan dua individu dengan satu sifat beda. Untuk mengujinya, Mendel melakukan perkawinan silang antara antara ercis berbunga ungu dengan ercis berbunga putih dengan satu faktor pembawa sifat (Nuraini, 2008). Hukum Mendel II atau the law of independent assortment membahas

mengenai perkawinan silang yang menyangkut dua atau lebih pasangan sifat berbeda, maka pewarisan dari masing-masing pasangan faktor sifat-sifat tersebut adalah bebas sendiri-sendiri (masing-masing tidak tergantung satu sama lain). Keturunan pertama menunjukkan sifat fenotipe dominan dan keturunan kedua menunjukkan fenotipe dominan dan resesif dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Untuk mengujinya, Mendel melakukan perkawinan silang antara antara ercis biji kuning dengan bentuk bulat RRYY dengan ercis biji hijau dengan bentuk keriput (Nuraini, 2008).

BAB III METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 7 April 2014 pukul 13.30 sampai dengan 15.30 WITA bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan Universitas Mataram.

3.2. Alat dan Bahan No. 1. 2. 3. 4. Nama Alat dan Bahan Akuarium Seser kecil Ikan guppy jantan Ikan guppy betina Fungsi Sebagai media/wadah Air dan Ikan Sebagai alat praktikum Sebagai bahan yang diamati Sebagai bahan yang diamati

3.3.Cara Kerja 1. Diambil ikan guppy jantan dan betina masing-masing 8 ekor 2. Diamati tanda-tanda yang ada pada ikan jantan dan betina 3. Dituliskan tanda tersebut terdapat pada jantan atau betina 4. Disimpulkan tentang gen terangkai seks kromosom 5. Dikembalikan ikan pada tempat semula.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.Hasil Pengamatan Jenis Ikan Kelamin Jantan 1 2 3 4 Betina 1 2 3 4 Gen terangkai kromosom X fenotip Ekor berwarna orange Ekor berwarna orange Ekor berwarna orange Putih genotip XcpY XcpY XcpY XcpY Gen terangkai kromosom Y fenotip genotip Tidak ada XY bintik Tidak ada XY bintik Tidak ada XY bintik Tidak ada XY bintik -

berwarna XcpXcp/Xcp Xch XcpXch/Xcp Xcp Xcp Xcp/ Putih dan bintik Xcp Xch hitam Xch Xch Transparan

Ekor orange Kuning

4.2.Pembahasan Gen yang terangkai kromosom X pada ikan guppy jantan rata-rata memiliki fenotip warna ekor orange dan hanya satu ikan yang memiliki ekor berwarna putih, sedangkan genotif pada semua ikan guppy jantan yaitu XcpY. Pada gen yang terangkai kromosom Y fenotip ikan guppy jantan tidak memiliki bintik hitam dan merah serta memiliki genotip XY. Ikan guppy betina memiliki ciri-ciri ekor berwarna orange,kuning dan transparan pada fenotipnya dan memiliki genotip xcp xcp/xcp xch. Pewarisan fenotip terangkai X mengikuti pola criss-cross inheritance atau pewarisan bersilang yang artinya fenotip ayah diwariskan pada anak betina, sedang fenotip induk betina diwariskan pada anak jantan. Pewarisan fenotip yang ditentukan oleh gen terangkai X pada ikan guppy yaitu adanya pigmentasi pinna caudalis (ekor berpigmen kelam) dan ekor transparan. Pada rangkaian genotip dan fenotip ikan guppy alel Xch harus berada dalam keadaan homozigot untuk menghasilkan fenotip ekor transparan pada ikan betina (XchXch). Perkawinan sedarah dan persilangan lebih bermanfaat daripada seleksi biasa tanpa perkawinan sedarah, jika ada kemungkinan dominasi berlebihan, jadi apabila genotype heterozigot lebih baik daripada ke-2 homozigot. Dengan melakukan seleksi dapat menjadikan semuanya homozigot. Akan tetapi jika ada kemungkinan bagi dominasi berlebihan, maka yang heterozigot lebih baik daripada kedua homozigot. Kemunduran akibat perkawinan sedarah dan heterosis adalah 2 gejala yang bertentangan yang mempunyai sebabsebab genetic yang sama. Hal ini sangat erat berhubungan dengan variasi kegenotipean bukan tambahan dengan variasi sebagai akibat dari kedominanan. Perkawinan sedarah juga akan mengakibatkan bertambah frekuensi kehomozigotan dan frekuensi keheterozigotan berkurang. Pewarisan fenotip terangkai X mengikuti pola Criss-cross inheritance (pewarisan bersilang), fenotip ayah diwariskan pada betina, fenotip ibu kepada jantan Cara untuk mendapatkan ikan jantan berekor transparan adalah bila betina memiliki alel resesif Xch dan pada praktikum ini hanya satu ikan guppy betina yang memiliki fenotip ekor brwarna transparan yaitu ikan no.

4 dan tidak terdapat pada ikan jantan itu artinya tidak adanya guppy jantan yang mewarisi fenotip gen terangkai kromosom Y, dimana ditubuh ikan guppy tidak terlihat adanya pigmentasi maculatus. Sedangkan gen yang terangkai kromosom X terdapat 2 gen yang terangkai yaitu pada ikan betina dengan genotip XcpXcp/XcpXch.

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat ditaraik dari praktikum ini adalah : 1. Adanya 2 gen teranggkai kromosom X pada ikan Betina dengan genotip XcpXcp/XcpXch serta adanya sifat resesif pada ikan betina yang memiliki warna transparan pada sirip ekornya (XchXch) sifat dominan induk betina yang diwariskan pada anakan betina. 2. Tidak adanya guppy jantan yang mewarisi fenotip gen terangkai kromosom Y, dimana ditubuh ikan guppy tidak terlihat adanya pigmentasi maculatus. 3. Adanya dominasi pewarisan kromosom X pada ikan guppy jantan dari indukan jantan, yaitu dengan pewarisan pigmentasi caudalis yang indah. 4. Adanya ekpresi gen atas dasar heterozigot pada ikan betina serta homozigot pada ikan jantan.

5.2. Saran Diharapkan agar praktikum selanjutnya tidak ada keributan dan lebih tertib lagi, untuk dosen pembimbing praktikum agar lebih tegas lagi kepada praktikan tidak seperti praktikum sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, Neil A. Reece, Jane B. dan Can Mitchell. 2010. Biologi Jilid I Edisi Kedelapan. Erlangga. Jakarta. Nuraini. Tuti. 2008. Genetika Dasar (Mendelisme). http://shiroi-kiba.blogspot.com. [Diakses pada April 2013].

Sisunandar. 2012. Penuntun Praktikum Genetika. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Purwokerto.