Anda di halaman 1dari 14

RUMUS KECEPATAN GERAKAN UDARA

a) Kecepatan dibawah 1 m/detik


V =
2
0,40
0,20 H/td
|
.
|

\
|
L. Hill
H =
Tc
F

b) Kecepatan diatas 1 m/detik
V =
2
0,40
0,13 H/td
|
.
|

\
|
L. Hill
V = Kecepatan gerakan udara
H = Daya pendingin
Td = 36,5 t (dalam
0
C)
t = suhu ruang (dalam
0
C)
F = Kata faktor
Tc = Waktu pendinginan rata-rata (detik)
H = Daya pendinginan

Jika H/td. Dibawah 0,6 maka V dibawah 1 m/detik dan jika H/Td. diatas 0,6 maka V
diatas 1 m/detik.

Catatan : Bila suhu sangat tinggi harus menggunakan thermometer kata untuk suhu
tinggi (52
0
C 55
0
C) maka Td = 53. 0 t atau Td = 46.0 t jika dipakai
thermometer kata suhu sedang.

c) Dengan menggunakan Nomogram cara menentukan kecepatan pergerakan udara dengan
Nomogram :
(1) Tentuka pada garis I besarnya kata faktor = titik 2.
(2) Tentukan pada garis II besarnya waktu pendinginan = titik 2.
(3) Hubungan kedua titik (1) dan titik (2) akan memotong garis III pada titik 3 yang
menentukan besarnya tenaga pendingin (Cooling Power).
(4) Tentukan titik 4 yang menunjukkan suhu udara pada garis 4.
(5) Hubungan titik 3 dan 4 dan akan memotong garis V pada titik 5.
Titik 5 menunjukkan besarnya kecepatan udara dalam Feet permenit/meter/menit.
d) Penilaian
Penilaian menurut Kriteria suhu bola basah :
Di dalam Surat Edaran Menteri Naker Transkop (sekarang Menteri Tenaga Kerja Trans)
No. SE.01/MEN/78 telah ditetapkan NAB (Nilai Ambang Batas) Iklim Kerja dan
Kebisingan ditempat kerja.
Penilaian dengan psychometer, ini akan mendapatkan nilai dari pada suhu bola basa (tw),
suhu udara (ta) dengan menggunakan chart atau tabel (lihat lampiran) akan didapatan
kelembaban udara dan tekanan partiel uap air diruang/lingkungan kerja.
Adapun cara untuk mendapatkan nilai rata-rata suhu bola basah digunakan rumus
sebagai berikut :
Sb. rata-2 =
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( )
tn t2 t1
tn Sbn .......... 2 Sb2 tl Sbl
+ +
+ + +

- Sb. 1, 2, n : Suhu bola basah pada tempat-tempat : 1, 2, dan n.
- Sb. 1,2 , n : waktu (dalam menit) dimana tenaga kerja berada pada tempat-tempat 1,
2, dan n.



Catatan :
Untuk tempat-tempat kerja tertentu yang diperkirakan mempunyai efek-efek panas
khusus, harus diperhatikan khusus hal-hal sebagai berikut :
- Adanya sumber panas yang menimbulkan panas radiasi cukup besar.
Misalnya : tempat-tempat pengecoran logam, peleburan bahan gelas, tanur, dll.
- Untuk tenaga kerja yang selama kerja harus berpindah-pindah tempat/lokasi yang
mempunyai perbedaan suhu lebih dari 5
0
C harus mendapat perhatian khusus, meskipun
suhu basahnya tidak menyimpang dari persyaratannya (NAB-nya).
Penilaian tersebut di atas belum mencakup semua faktor dari pada iklim kerja, sehingga
diperlukan nilai panas radiasi (R) dan daya pendinginan di mana harga-harga tersebut
didapat dari pengukuran dengan globe thermometer dan kata thermometer untuk dapat
menilai menurut criteria :
a. Indeks Suhu Basah dan Bola (I.S.B.B.)
b. Indeks Tekanan Panas (I.T.P.)
c. Indeks Kecepatan Keringan Yang Keluar selama 24 jam
d. Indeks Belding & Hatch.
e. Suhu efektif.
Namun di antara kelima cara pengukuran tersebut di atas 2 (dua) cara yang sering
dipakai yaitu a dan b karena untuk c, d dan e ada kelemahannya.

Penilaian Menurut Kriterian Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB).

Untuk menilai tekanan panas dengan ISBB dibedakan antara keadaan didalam ruangan
dimana tidak ada pengaruh sinar matahari dan diluar ruangan dimana terdapat sinar matahari.
Didalam ruangan berlaku rumus :
ISBB = 0,7 tw + 0,3 tg.

Diluar ruangan berlaku rumus :
ISBB = 0,7 tw + 0,2 tg + 0,1 ta.

Dimana :
tw : suhu bola basah
tg : suhu globe
ta : suhu udara/kering

Hasil dari perhitungan dengan rumus tersebut diatas dibandingkan dengan tabel dibawah ini :
Variasi Kerja
I S B B (
0
C)
Kerja Ringan Kerja Sedang Kerja Berat
Kerja terus menerus
Kerja 75% - istirahat 25%
Kerja 50% - istirahat 50%
Kerja 25% - istirahat 75%
30,0
30,6
31,4
32,2
26,7
28,0
29,4
31,1
25,5
25,0
27,9
30,0
Keterangan :
- Kerja terus menerus berarti tidak diperlukan istirahat yang disebabkan tekanan panas
selama waktu kerja.
Kerja 75% - istirahat 25% berarti dalam 1 jam kerja orang tersebut boleh bekerja selama
45 menit diselingi istirahat 15 menit ditempat kerja, kemudian bekerja lagi selama 45
menit dan istirahat lagi selama 15 menit dst.
Bila ada tempat istirahat khusus dengan ISBB kurang dari 24
o
C, maka waktu istirahat
dapat diperpendek sebanyak 25%.
Pengetrapan I.S.B.B. ini masih diteliti terus oleh Pusat Bina Hyperkes & Keselamatan
Kerja, apakah cocok untuk kondisi Indonesia.

Penilaian Menurut Indeks Tekanan Panas
Rumus keseimbangan panas :
M + C + R E = 0
Dimana :
M : panas yang dihasilkan oleh proses metabolic.
C : panas yang dipencarkan / diabsorbsi dengan jalan konveksi.
R : panas yang dipancarkan / diabsorbsi dengan jalan radiasi
E : panas yang dipancarkan oleh penguapan keringan

Pengukuran Panas :
Dari macam-macam penyelidikan yang telah dilakukan bertahun-tahun, menunjukkan bahwa
panas badan yang dihasilkan oleh setiap orang dengan berat + 154 pound tinggi +172 cm. dan
luas permukaan kulit 1,85 m
2
penyesuaian terhadap panas dapat diperkirakan untuk tiap
derajat kegiatan berbeda-beda.

Contoh :
Pekerjaan
Panas yang dihasilkan
BTU/jam
- Orang dalam keadaan tiduran ............................................
- Orang dalam keadaan duduk ..............................................
- Orang mengerjakan pekerjaan ringan ................................
- Orang yang mengerjakan pekerjaan sedang ......................
- Orang yang mengerjakan pekerjaan berat .........................
250
400
450 600
650 1400
1400 2000
BTU = British Thermal Unit. 1000 BTU = 252 kcal.
Langkah langkah perhitungan :
1. Pencatatan hasil-hasil pengukuran
ta = tk
tk = tb
tg = globe thermometer
T = thermometer kata
F = Kata faktor ...................................................................... H =
T
F

2. Besarnya kecepatan gerakan udara :
V =
0,40
0.20 - H/Td
kecepatan dibawah 1 m/detik
V =
0,40
0.13 - H/Td
kecepatan diatas 1 m/detik
atau :
V =
2
k
a
ta tr
H
1/b

|
|
.
|

\
|

|
|
.
|

\
|


trk : temperature rata-rata kata thermometer
a & b : harga-2 konstante (lihat tabel)

3. Besarnya panas konveksi (C)
C = 6 V
0,6
(ta 35) .. kcal/jam
Harga C bisa positif/negative

4. Besarnya panas radiasi (R)
R = 11 (tr 35) .. kcal/jam

tr = tg + 1.44 V
0,5
(tg ta)
0
C

5. Besarnya panas penguapan maximum (Emax)
E
max
= 12 V
0,6
(42 pa)
pa = tekanan ump. air dapat dicari menggunakan psychometer chart, demikian pula
untuk kelembaban.

dari psychrometer
6. Panas yang dibutuhkan untuk menetralisir panas yang diderita (panas radiasi,
panas conveksi, panas metabolisme) disebut panas penguapan (E req)
E
req
= M + C + R
M = disesuaikan dengan beban kerja (lihat tabel).
7. H.S.I = I.T.P = 100% x
E
E
max
req

Dari hasil HSI uang didapatkan, kita coba menafsirkan besar kecilnya pengarh panas
terhadap tibih tenaga kerja.
- HSI kurang dari 10%
Tidak ada perubahan panas (neutral)
- HSI 10% - 30%
Tidak ada perubahan panas dan keadaan lain sesuai untuk pekerjaan-pekerjaan yang
memerlukan pikiran, kecepatan dan ketelitian.
- HSI 40% - 60%
Keadaan lingkungan ada perubahan panas untuk tenaga kerja yang sehat masih
mampu menahannya.
- HSI 70% - 90%
Untuk mengerjakan pekerjaan dalam keadaan semacam ini, dibutuhkan tenaga kerja
yang betul-betul fit dan kwalifiet, sebaikny pekerjaan diseleksi:
pemeriksaaan kesehatan
mencoba dengan pekerjaan tersebut (aklimitasi)
- HSI 100%
keadaan lingkungan sudah jelek
hanya dapat dilayani oleh tenaga kerja yang masih muda, fit dan sudah beraklimatasi.
- HSI lebih dari 100%
Tenaga kerja yang bekerja dilingkungan semacam ini akan terganggu kesehatannya.
Semua contoh diatas hanya berlaku selama sief (8 jam/hari). Untuk lingkungan kerja
dimana harga HSI = 100 sebaiknya harus sudah diperhitungkan sampai berapa lama
tenaga kerja diperkenankan exposed terhadap panas tersebut (lingkungan pekerjaan), dan
berapa lama waktu minimum yang diharuskan bekerja tersebut harus istirahat di tempat-
tempat yang betul-betul neutral.
Bila harga HSI lebih dari seratus percent berarti tenaga kerja tidak diperkenankan bekerja
ditempat tersebut selama 8 jam/hari.
Untuk itu harus diperhitungkan waktu lamanya tenaga kerja diperkenankan exposed.

8. Waktu pemaparan maximum yang diperkenankan
= jam
E E
62,5
max req


Disamping itu juga harus diperhitungkan waktu lamanya tenaga kerja boleh beristirahat.
Waktu pemulihan minimum :
= jam
E E
250
req max


Catatan :
- Ruang istirahat harus berada dengan kondisi lingkungan kerja.
- Pengetrapan I.T.P untuk Indonesia masih diteliti terus dan diperkirakan perlu
dikoreksi + 40% mengingat kondisi iklim dan tenaga kerja di Indonesia.
























KEBISINGAN
ad. (2) Pengukuran ini pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan tingkat kebisingan rata-
rata yang diterima tenaga kerja selama 8 jam berturut-turut, sehingga hasilnya dapat
dihubungkan dengan penelitian terhadap tenaga kerja yang bersangkutan.
Oleh karena itu pengukuran harus dilakukan selama jam kerja secara intensif dan
bila tenaga kerja selalu berpindah tempat, maka harus dilakukan pengukuran tingkat
kebisingannya pada tempat dimana tenaga kerja berada ditempat-tempat tersebut,
selanjutnya diperhitungkan tingkat kebisingan rata-rata yang diterima tenaga kerja
selama 8 jam kerja perhari.

Untuk keperluan itu, dipergunakan rumus ekuivalen tingkat kebisingan kontinyu (TK
ek
).
F = t/8 Antilog { 0,1 (Tk 85) }
TK
ek
= 85
1 , 0
log
+
Ft

Keterangan :
F : Fraksi, untuk tingkat kebisingan dan waktu terbatas;
Ft : Fraksi total yang diterima selama 8 jam kerja/hari
(merupakan jumlah dari tiap-tiap fraksi)
Tk : Tingkat kebisingan terukur
TK
ek
: Ekuivalen Tingkat Kebisingan Kontinyu

Catatan : Apabila didalam tempat pengukuran ditemukan suatu bunyi impulsive, maka
untuk memperoleh bunyi yang menetap, tingkat kebisingan terukur harus ditambah
10 desibel.
Selain perhitungan dengan rumus maka dapat digunakan dengan menggunakan
NOMOGRAM.
Contoh Perhitungan.
Contoh 1.
Tenaga kerja yang selama bekerja berpindah-pindah tempat, yang tingkat kebisingannya
berbeda-beda sebagai berikut:
Pada tempat a selama 2 jam, pada tingkat kebisingan 100 dB.A
Pada tempat b selama 1 jam, pada tingkat kebisingan 120 dB.A
Pada tempat c selama jam, pada tingkat kebisingan 85 dB.A
Pada tempat d selama 4 jam, pada tingkat kebisingan 80 dB.A

Maka tingkat kebisingan rata-rata selama 8 jam kerja adalah sebagai berikut:
- Fa. = 2/8 antilog {0,1 (100 85) }
= 1/4 antilog 1.5 = 1/4 . 10
1.5

= 7.9.
- Fc = /8 antilog {0,1 (85 85) }
= 1/16 antilog 0 = 1/16 . 10
0

= 0,0625.
- Fd. = 4 /8 antilog {0,1 (80 85) }
= 4 /8 antilog - 0.5 = 9/16 . 10
-0.5

= 0.1778.
- Ft = Fa + Fa + Fc + Fd
= 7.9 + 395.25 + 0.0625 + 0.1778
= 403.4203
- TK
ek
= 85
0.1
403.4203 . log
+
= 85
0.1
2.61
+
= 111.05.
Jadi tingkat kebisingan rata-rata adalah 111.05
(NAB. Kebisingan adalah 85 dB.A, sesuai dengan Surat Edaran Menteri Nakertnas. No.
SE.01/MEN/1978, tentang iklan kerja dan kebisingan ditempat kerja).

Contoh 2 :
Hasil pengukuran sebagai tersebut diatas :
Lokasi a. selama 2 jam dengan tingkat kebisingan 95 dB.A.
Lokasi b. selama 1 jam dengan tingkat kebisingan 115 dB.A.
Lokasi c. selama jam dengan tingkat kebisingan 80 dB.A.

Berapa tingkat kebisingan yang diterima rata-rata oleh tenaga kerja. (leq).
1) Dengan menggunakan tabel I.
Lokasi a : 95 dB.A = 95-6 = 89 dB.A
Lokasi b : 115 dB.A = 115,-9 = 106 dB.A
Lokasi c : 80 dB.A = 80 12 = 68 dB.A


2) Mencari f (fractional exposure) dengan menggunakan tabel II.
Untuk 89 dB.A f = 2.5
Untuk 106 dB.A f = 126.0
Untuk 60 dB.A f = 0.0 +
Fractional exposure = 128.5

Dengan menggunakan tabel II dapat diketahui levelnya.
Fractional exposure 128,5 level menunjukkan 106 dB.A ini merupakan leq.

Disamping dengan menggunakan perhitungan tabel maka dapat pula dicari besarnya
tingkat kebisingan (leq) dengan menggunakan chart.

TABEL I : Penyesuaian hasil pengukuran untuk tingkat kebisingan pada pemaparan
yang tidak kontinyu
Lama pemaparan
perhari (Jam)
Penyesuaian hasil
pengukuran untuk
tingkat kebisingan
Lama pemaparan
Perhari (jam)
Penyesuaian hasil
pengukuran untuk
tingkat kebisingan

12.0
11.5
11.0
10.5
10.0
9.5
9.0
8.5
8.0


+ 1.8
+ 1.6
+ 1.4
+ 1.2
+ 0.9
+ 0.8
+ 0.5
+ 0.3
+ 0.0

7.5
7.0
6.5
6.0
5.5
5.0
4.5
4.0
3.5
3.0
2.5
2.0
1.5
1.0
0.5


0.3
0.6
1.0
1.2
1.7
2.0
2.5
3.0
3.6
4.3
5.0
6.0
7.3
9.0
12.0






TABEL II : Nilai fraksi pemaparan (f) untuk penyesuaian tingkat kebisingan ekuivalen
Tingkat kebisingan
(db.A)
Fraksi Pemaparan
(f)
Tingkat Kebisingan
(dB.A)
Fraksi Pemaparan
(f)

80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97


0.3
0.4
0.5
0.6
0.8
1.0
1.3
1.6
2.0
2.5
3.2
4.0
5.0
6.3
7.9
10.0
12.5
15.9

98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115


19.1
25.1
31.6
39.8
50.1
63.4
79.4
100.0
126.0
158.0
200.0
251.0
316.0
396.0
501.0
630.0
794.0
1000.0


















LEMBAR KERJA
ANGKA TINGKAT KEKERAPAN DAN KEPARAHAN KECELAKAAN
No.
Urut
Tempat
kejadian
(*)
Jumlah
tenaga
kerja
Jumlah
jam orang
kerja
Jumlah
kasus
kecelakaan
Jumlah
hari orang
yang
hilang
Tingkat
Kekerapan
kecelakaan
Keparahan
kecelakaan
1 X A1 B1 C1 D1
F1 =
B1
10 C1
6

S1 =
B1
10 D1
6


2 Y A2 B2 C2 D2
F1 =
B2
10 C2
6

S1 =
B2
10 D2
6


3 Z A3 B3 C3 D3
F1 =
B3
10 C3
6

S1 =
B3
10 D3
6










JUMLAH A B C D

CATATAN :
1. (*) Tempat kejadian Tempat kejadian dapat ditetapkan per bagian perusahaan, atau per
kabupaten, atau perkandit, atau perwilayah, atau persektor.
2. Angka Total Tingkat Kekerapan (Ft)
Ft =

B
10 D
6

3. Angkat Total Tingkat Keparahan (St)
St =

B
10 D
6