Anda di halaman 1dari 23

1

AUDITING MANAJEMEN
Dosen : Dr. Syamsu Alam, SE., M.Si., Ak.

MODUL 4 REVIEW DAN PENGUJIAN SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMI - JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA 2012

REVIEW DAN PENGUJIAN TERHADAP SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN


Tahap review dan pengujian sistem pengendalian manajemen mempunyai dua tujuan, yaitu: a. Untuk memperoleh pemeriksaan bukti-bukti atas ketiga elemen atas sasaran guna menentukan apakah sasaran sementara

pemeriksaan sementara dapat diubah menjadi sasaran pemeriksaan yang sesungguhnya (firm audit objective). b. Untuk menentukan bahwa bukti-bukti yang diperoleh dari klien adalah bukti-bukti yang kompeten, sehingga diperoleh keyakinan bahwa pemeriksaan dapat dilanjutkan ke tahapan selanjutnya. Akan tetapi jika bukti-bukti yang diperoleh dirasakan oleh pemeriksa sebagai bukti yang tidak kompeten maka pemeriksa harus segera mempertimbangkan sumber-sumber bukti alternatif. Dan di antara sumber-sumber bukti alternatif tersebut haruslah dipilih yang terbaik. Dalam pemeriksaan laporan keuangan, akuntan pemeriksa dalam melakukan review dan pengujian terhadap pengendalian intern dapat menggunakan tiga alat, yaitu daftar pertanyaan yang dibukukan (uniform questionnaires), bagan alir (flow chart) dan pengujian transaksi (test of transaction). Demikian pula akuntan pemeriksa yang melakukan pemeriksaan kinerja dalam mere view dan melakukan pengujian terhadap sistem pengendalian manajemen suatu organisasi atau suatu program dapat pula menggunakan tiga alat yang sama. Hanya saja daftar pertanyaan yang digunakan lebih bervariasi sesuai dengan karakteristik organisasi atau program yang diperiksa. Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang bersifat mendasar yang sering digunakan dalam melakukan review dan pengujian terhadap sistem pengendalian manajemen: a. Bagaimana pelaksanaan aktivitas operasi yang sesungguhnya? b. Apakah berbagai tahapan dalam pemrosesan transaksi memang diperlukan

dan berguna? c. Apakah hasil transaksi yang terjadi berhasil mencapai sasaran organisasi, memenuhi peraturan perundang-undangan dan praktek-praktek yang sehat? d. Apakah efektivitas pengawasan berhasil dilaksanakan? e. Apakah sistem yang dilaksanakan dapat memberikan pengawas an dan pengendalian yang memadai atas pengeluaran, penerima-an dan keamanan berbagai sumber organisasi? f. Apakah praktek yang dilaksanakan organisasi dapat memberikan perlindungan bagi kepentingan pihak ketiga (seperti pembayar pajak, pemegang saham dan manajemen puncak)? g. Adakah duplikasi pelaksanaan kegiatan? h. Apakah dana telah digunakan secara tepat dan bijaksana? i. Apakah manajemen memberikan pertanggungjawabannya secara memadai? j. Adakah pemborosan dalam pola dan pelaksanaan manajemen? k. Apakah karyawan perusahaan berkompeten dalam pelaksanaan tugas-tugasnya? l. Adakah standar dan sudahkah standar digunakan untuk menilai kinerja manajemen? m. Adakah prosedur dan kebijakan tertulis yang jelas dan tegas? Adapun teknik-teknik yang sering digunakan dalam melaksana-kan review dan pengujian terhadap sistem pengendalian manajemen adalah: a. Melakukan wawancara dengan berbagai aras manajemen yang ada dalam organisasi. b. Melakukan observasi keliling. c. Melakukan pengujian singkat (brief audit test atau audit probes). d. Melakukan review dan menganalisis data-data yang relevan. e. Menganalisis berbagai dokumen dan laporan. Kelima teknik tersebut haruslah dikombinasikan sedemikian rupa sehingga diperoleh informasi yang memadai atas efektivitas sistem pengendalian manajemen organisasi atau program yang diperiksa. Untuk

dapat melaksanakannya dengan baik tentu saja akuntan pemeriksa harus merencanakan lebih dahulu dengan cermat melalui pembuatan program pemeriksaan untuk tahap review dan pengujian terhadap sistem pengendalian manajemen yang sesuai dengan kondisi organisasi atau program yang diperiksa dan mengalokasikan staf pemeriksa sebaik-baiknya. Pada tahap pelaksanaan review dan pengujian terhadap sistem pengendalian manajemen ini, peranan "judgment" dan kejelian (ingenuity) staf pemeriksa sangatlah dominan terutama dalam memilih kejadian atau tindakan manajemen atau transaksi yang mewakili (representatif) untuk diuji melalui pengujian singkat (audit probes). Pada akhir tahap review dan pengujian terhadap sistem pengenGalian manajemen masih hams dilakukan post-review analysis dan pengambilan kesimpulan yang merupakan langkah pemeriksa selanjut-nya guna meneritukan apakah pemeriksaan akan dilanjutkan ke tahap pemeriksaan terinci atau menghentikan pemeriksaan dan membatalkan kontrak. PENGERTIAN SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN Isitilah pengendalian manajemen (management control) digunakan untuk menunjukkan keseluruhan sistem yang ada dalam organisasi, termasuk di dalamnya perencanaan, penetapan kebijaksanaan dan penetapan prosedur serta semua praktek yang sebenarnya dilaksanakan oleh organisasi dalam menangani semua peristiwa yang terjadi dalam suatu entitas. Pengendalian manajemen bertujuan untuk menjamin terlaksananya strategi yang telah dicanangkan secara efisien dan efektif oleh fungsionaris yang memperoleh limpahan wewenang dan efektivitas operasi ditinjau dari hasil yang diinginkan. Pengendalian manajemen mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dibandingkan dengan pengendalian intern. Sebagai contoh, jika seorang pemeriksa yang independen melaksanakan pemeriksaan keuangan, maka pemeriksa tersebut akan melakukan review dan pengujian atas pengendalian intern dari perusahaan yang diperiksa. Pengendalian intern jika dijabarkan

lebih lanjut akan terdiri dari dua tipe pengendalian, yaitu pengendalian akuntansi (accounting control) dan pengendalian administratif (administrative control). Dalam melakukan review dan pengujian atas pengendalian intern pada pemeriksaan keuangan, ternyata pemeriksa melakukan review atas pengendalian akuntansi dan sebagian dari pengendalian administratif yaitu terbatas hanya pada pengendalian administratif yang berkaitan dengan pengendalian akuntansi. Sedangkan pengendalian manajemen meliputi semua aktivitas menajemen baik yang berkaitan dengan akuntansi maupun yang tidak; baik yang berkaitan dengan aktivitas manajerial yang bersifat intern maupun yang bersifat ekstern Pemeriksaan keuangan yang dilakukan oleh seorang pemeriksa yang independen jika ditinjau dari sudut pandang pengendalian manajemen pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari sistem pengendalian manajemen ekstern (external management control system) dan tidaklah seharusnya merupakan bagian dari sistem pengendalian manajemen intern (internal management control system). Di bidang akuntansi saja, pengendalian manajemen intern (intern management control) mempunyai arti sama dengan pengendalian intern. Perolehan diperolehnya bukti-bukti atas ketiga elemen dari sasaran pemeriksaan sementara, maka pemeriksa akan dapat menentukan apakah dimungkinkan memperoleh sasaran pemeriksaan yang sebenarnya yang dapat digunakan sebagai dasar bagi tahap pemeriksaan terinci. Sedangkan dengan diperolehnya keyakinan atas kompetensi bukti selama melakukan review dan pengujian atas sistem pengendalian manajemen, maka pemeriksa akan dapat menentukan keandalan/daya andal informasi yang diperoleh dari sistem manajemen entitas yang diperiksa. KARAKTERISTIK YANG BAIK Sistem pengendalian manajemen organisasi yang baik haruslah memiliki hal-hal berikut: SISTEM PENGENDALIAN MANAJE MEN

a. Pernyataan tujuan organisasi. b. Rencana organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuan. c. Kualitas dan kuantitas karyawan yang sesuai dengan tanggung jawab yang dipikul dan pemisahan fungsi yang memadai. d. Sistem pembuatan kebijakan dan praktek-paktek yang sehat pada masing-masing unit organisasi. e. Sistem review yang efektif pada setiap aras aktivitas guna memperoleh keyakinan bahwa kebijakan dan praktek-praktek yang sehat telah dilaksanakan sebagaimana telah digariskan. 1. Pernyataan Tujuan Organisasi Jarang sekali suatu organisasi dapat melakukan aktivi-tasnya secara efektif jika organisasi tersebut tidak mengetahui secara pasti apa yang harus diperbuat. Banyak organisasi yang masih beroperasi dengan prinsip bagaimana suatu kegiatan harus dilakukan bukannya dengan dasar prinsip apa yang harus dilakukan dan mengapa harus dilakukan. Hal ini disebabkan karena sering kali apa yang diinginkan oleh manajemen puncak suatu organisasi tidaklah diketahui oleh para bawahannya. Apa yang diketahui oleh para manajer menengah dan manajer bawah (manajer operasional) sering kali hanya masalah bagaimana melaksanakan kegiatan sedangkan masalah apa dan mengapa yang dikerjakan yang memang merupakan tanggung jawab manajemen puncak organisasi tidaklah dikomunikasikan pada aras manajemen yang lebih rendah. Permasalahan mengenai apa dan mengapa yang harus dikerjakan oleh suatu organisasi adalah berkenaan dengan tujuan organisasi itu sendiri. Guna pencapaian efektivitas kegiatan organisasi perlu merumuskan dan menyata- kan secara tegas apa yang sebenarnya merupakan tujuan didirikannya organisasi tersebut. Pernyataan tujuan organisasi yang telah dirumuskan secara tegas haruslah segera dikomunikasikan dengan baik kepada semua aras manajemen.

Tujuan organisasi ditinjau dari jangkauan waktunya dapat dibagi menjadi dua, yaitu tujuan organisasi yang berjangka panjang (objective) yang sering dinyatakan dalam pernyataan yang bersifat sangat luas mengenai apa yang ingin dicapai oleh organisasi dan tujuan organisasi yang berjangka pendek (goal). Demikian pula dengan istilah strategi yang menyangkut jangka waktu pendek sehingga lebih erat kaitannya dengan goal daripada objective, yaitu merupakan taktik yang digunakan oleh organisasi untuk mencapai tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Strategi perlu juga dinyatakan secara tegas dan dikomunikasikan dengan baik ke seluruh aras manajemen. 2. Rencana Organisasi Setelah pernyataan tujuan organisasi dan strategi dinyatakan dengan tegas dan dikomunikasikan dengan baik, maka langkah berikutnya pemeriksa perlu mengevaluasi lebih lanjut untuk mengetahui apakah syarat sistem pengendalian manajemen yang baik dipenuhi oleh organisasi yaitu yang berkenaan dengan penilaian guna mengetahui apakah organisasi telah diorganisir dengan baik dalam mencapai tujuannya. Pemeriksa harus mengevaluasi apakah tanggung jawab telah dibebankan sepadan dengan pelimpahan wewenang guna memikul tanggung jawab yang bersangkutan. Pemeriksa harus mengevaluasi apakah masingmasing fungsionaris bertanggung jawab atas berbagai aktivitas yang dilaksanakan pada pihak ketiga dan apakah kegiatan masing-masing fungsionaris yang bertanggung jawab telah di review guna menentukan apakah pelaksanaan kegiatan telah sesuai dengan tugas yang dibebankan. Informasi yang berkenaan dengan pelimpahan wewenang, pembebanan tanggung jawab dan jalur komunikasi formal dapat diperoleh melalui bagan organisasi. Karakteristik bagan organisasi sangat bervariasi sesuai dengan tujuan dan tanggung jawab organisasi yang bersangkutan. Rencana organisasi selain dinyatakan melalui bagan organisasi juga

dinyatakan melalui bagan alir (flow chart) yang menunjukkan aliran transaksi dan informasi dalam organisasi. Akuntan pemeriksa perlu menelaah aliran transaksi dan informasi dalam organisasi untuk itu akuntan pemeriksa harus mendokumentasikan aliran transaksi dan informasi yang ada dalam organisasi sedemikian rupa sehingga mudah bagi akuntan pemeriksa melakukan penelaahan secara seksama guna memperoleh keyakinan bahwa aliran transaksi dan informasi dalam organisasi telah ditangani secara memadai dalam melaksanakan strategi organisasi untuk mencapai tujuan. 3. Kualitas dan Kuantitas Karyawan yang Memadai Tidak ada satu organisasi yang dapat diharapkan beroperasi secara memuaskan jika tugas dan tanggung jawab yang telah dipisahkan dengan baik tidak didukung oleh jajaran karyawan yang terampil, berdedikasi dan jujur serta mampu melaksanakan tugas dan memikul tanggung jawab dengan baik. Berikut ini adalah berbagai aspek yang berkaitan dengan kualitas dan kuantitas jajaran karyawan organisasi yang harus dinilai oleh akuntan pemeriksa guna menentukan baik tidaknya sistem pengendalian manajemen yang berkenaan dengan kuantitas dan kualitas karyawannya: a. Apakah spesifikasi dan deskrispsi tersedia untuk masing-masing jabatan yang ada dalam organisasi. b. Apakah karyawan yang direktur utama memenuhi kualifikasi jabatan yang diisinya. c. Apakah jumlah karyawan cukup untuk menangani semua pekerjaan dengan baik. d. Adakah program peningkatan kualitas dan keterampilan karyawan. e. Adakah penyeliaan yang memadai terhadap pelaksanaan pekerjaan. f. Apakah para karyawan mengetahui tidak hanya apa yang mereka kerjakan tetapi juga mengapa mereka harus mengerjakannya

4. Kebijakan dan Praktek yang Sehat Kebijakan dan praktek-praktek yang sehat dihasilkan dari perencanaan jangka pendek dan jangka panjang. Apa yang dikehendaki oleh organisasi hendaknya dapat selaras dengan apa yang dikehendaki oleh masing-masing individu dalam organisasi serta perlu adanya komunikasi timbal balik antar dua kelompok kepentingan utama yang ada dalam organisasi terse-but guna pelaksanaan aktivitas secara ekonomis, efisien dan efektif. Seperangkat kebijakan biasanya dikomunikasikan dalam bentuk buku pedoman kebijakan (policy manual) dan praktek-praktek yang sehat biasanya dikomunikasikan dalam bentuk buku pedoman prosedur operasional (procedures manual). 5. Sistem Review yang Efektif Pengelolaan aktivitas yang efektif memerlukan perencanaan yang matang. Manajemen harus juga merencanakan sumber-sumber yang berbentuk jajaran karyawan, material dan dana. Lebih lanjut manajemen harus menetapkan sasaran yang harus dicapai sekaligus sebagai tolok ukur pengukuran efisiensi dan efektivitas kinerja. Akuntan pemeriksa haruslah memeriksa semua perencanaan dan rencana yang ada dalam organisasi dalam bentuk apapun. Dan juga pemeriksa harus memeriksa dan mengikuti semua metode yang dilakukan oleh manajemen dalam memban-dingkan kinerja sesungguhnya dengan rencana atau anggaran. Pendekatan demikian ini akan mengakibatkan akuntan pemeriksa dapat melakukan pengamatan secara langsung terhadap kelemahan maupun kekuatan sistem pengendalian manajemen secara keseluruhan. Lebih lanjut akuntan pemeriksa harus memperoleh keyakinan bahwa para penyelia telah melakukan hal-hal berikut dengan baik: a. Kebijakan yang telah digariskan ditaati dengan baik. b. Prosedur-prosedur dilaksanakan secara ekonomis dan efisien.

10

c. Prosedur-prosedur yang telah digariskan berjalan secara efektif. Elemen sistem review yang lain yang harus ada dalam sistem pengendalian manajemen yang baik adalah adanya fungsi pelaporan intern dan fungsi pemeriksaan intern. Dalam hal ini akuntan pemeriksa harus menilai sifat dan efektivitas metode review dan pelaporan intern dalam hubungannya dengan masing-masing langsung aktivitas merupakan yang direview. review Penyeliaan lain yang (supervision) elemen

meunjukkan baik tidaknya sistem pengendalian manajemen karena metode penyeliaan merupakan hal yang sangat penting guna menentukan penyebab kelemahan-kelemahan operasi.

11

KASUS KASUS
KASUS 1 PEMERIKSAAN PENGELOLAAN Informasi yang Berhubungan dengan Sistem Pengendalian Manajemen Tujuan Evan dan para anggota tim pemeriksanya mulai meng-adakan observasi terhadap aktivitas pembelian, penyimpanan dan pengeluaran busi; mengecek catatan program servis dan mengamati kondisi penservisan yang sebenarnya; dan akhirnya mengamati proses pembuangan/penghentian pemakaian. Pemeriksa menelaah catatan-catatan yang digunakan oleh petugas penghitung kebutuhan dalam menentukan jumlah busi yang diperlukan untuk kemudian jumlah tersebut dipesan kepada pemasok oleh bagian pembelian. Dari hasil penelaahan menunjukkan bahwa ketahanan rata-rata busi platina adalah berkisar antara 6.000 kilometer sampai dengan 10.000 kilometer jarak tempuh kendaraan. Pemeriksa juga menelaah pesanan-pesanan pembelian yang ditentukan oleh kelompok pembelian (bagian dari bengkel servis yang bertanggung jawab atas fungsi pembelian) dan menunjukkan bahwa pesanan-pesanan pembelian yang ditentukan oleh kelompok pembelian didasarkan pada ketahanan rata-rata busi untuk jarak tempuh antara 6.000 kilometer sampai dengan 10.000 kilometer jarak tempuh kendaraan. Pemeriksa juga melakukan penelaah atas buku petunjuk teknis penggunaan busi platina, yang menunjukkan bahwa ketahanan minimum busi platina adalah sebesar 30.000 kilometer jarak tempuh kendaraan. Catatan-catatan servis menunjukkan bahwa 5.000 buah mobil dan truk yang memperoleh beberapa kali servis dalam jangka waktu satu tahun dari bengkel servis tersebut dan kebanyakan mobil dan truk tersebut mempunyai silinder enam buah atau delapan buah. Dari pengamatan atas aktivitas para mekanik dalam melakukan servis pada kendaraan pemeriksa menemukan bahwa para mekanik melakukan penggantian busi setiap kali para mekanik ini melakukan servis pada sebuah kendaraan yang mana merupakan aktivitas rutin yang selalu dilaksanakan dalam melakukan penservisan kendaraan. DIMINTA : Lakukan tahap review dan pengujian atas sistem pengendalian manajemen.

12

KASUS 2. PEMERIKSAAN PROGRAM PENGANTAR Pemeriksa negara bagian ABC, Tuan Gabriel memperoleh surat dari Gubernur negara bagian ABC yang berbunyi sebagai berikut: Tuan Gabrial yang terhormat, Saya merasa prihatin atas dua musibah kebakaran yang menim-pa dua rumah jompo di negara bagian kita sehingga menewas-kan 31 orang penghuni kedua rumah jompo tersebut. Saya sangat mengharapkan bantuan Saudara untuk melakukan investigasi terhadap hal-hal yang menyebabkan terjadinya dua musibah kebakaran sekaligus saya mengharapkan usulan Saudara guna menetapkan tindakan pencegahan yang dapat menghindarkan terulangnya musibah yang serupa di masa yang akan datang. Lebih lanjut saya megharapkan Saudara dapat melakukan pemeriksaan terhadap hal-hal berikut ini: a. Apakah sistem "sprinkler" yang dipasang pada gedung dapat mencegah kebakaran atau meredakan keganasan kebakaran. b. Apakah fasilitas yang terpasang pada kota XYZ telah memenuhi kode etik keselamatan guna memenuhi persyaratan untuk dapat ikut serta dalam program yang memperoleh bantuan dari pemerintah pusat. c. Apakah fasilitas yang terpasang pada kota XYZ telah memenuhi peraturan dari departemen sosial mengenai standar keselamatan. d. Ketelitian dan keabsahan inspeksi yang dilakukan oleh dinas kebakaran kota XYZ terhadap semua fasilitas anti kebakaran pada gedung-gedung. e. Prosedur inspeksi dan kualifikasi petugas inspeksi. f. Kualitas personal yang telah dilatih dalam membantu para penghuni rumah jompo selama jika terjadi musibah kebakaran. g. Dan hal-hal lain yang menurut penilaian Saudara dapat mencegah, mengurangi dan menanggulangi musibah kebakaran. Saya merasa sedikit kuatir tentang apakah persyaratan pemerintah pusat mengenai segi keselamatan rumah jompo telah terpenuhi dan apakah rumah-rumah jompo yang ada di kota kita akan masih berhak ikut serta dalam program perawatan kesehat-an (medicare) dan bantuan kesehatan (medicaid) yang disubsidi oleh pemerintah pusat kalau ternyata rumah-rumah jompo di kota kita mempunyai banyak kelemahan. Hormat saya, Ivon Kristi

13

Dalam bulan Januari 1976,sebuah rumah jompo di kota XYZ mengalami musibah kebakaran sehingga menewaskan 23 orang penghuninya. Seminggu kemudian sebuah rumah jompo yang lain yang berlokasi di pinggiran kota XYZ juga mengalami musibah kebakaran yang menelan korban 8 jiwa manusia. Negara bagian ABC memiliki lebih kurang 500 rumah jompo yang dapat memberikan fasilitas perawatan terpadu melalui proram fasilitas perawatan terampil (Skilled Nursing Facilities/SNF) atau fasilitas perawatan pratama melalui program fasilitas perawatan menengah (Intermediate Care Facilities/ ICF), tergantung pada tingkat perawatan yang tersedia dan partisipasi dalam program yang dicanangkan oleh pemerintah pusat berkenaan dengan penyelenggaraan rumah jompo. Bantuan kesehatan (medicaid) didasarkan pada Hak ke XX yang ada pada undang-undang keamanan masyarakat (Title XIX of the Sosial Security ACT) yang telah disempurnakan. Bantuan kesehatan tersebut berupa program bantuan uang (grant-in-aid) yang diberikan oleh pemerintah pusat guna membayar sebagian (50 sampai 78%) dari total biaya yang terjadi pada negara bagian atas pelayanan jasa medis kepada orang-orang yang tidak mampu. Pada tingkat pusat program bantuan kesehatan dikelola oleh bagian jasa rehabilitasi dan sosial (Social and Rehabilitation Service/SRS) yang bernaung di bawah Departemen Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan (Health, Education and Welfare/HEW Department). Negara bagian berkewajiban untuk memprakarsai dan mengelola program bantuan kesehatan masing-masing sesuai dengan undang-undang keamanan masyarakat. Undang-undang tersebut mewajibkan program bantuan kesehatan masing-masing negara bagian menyediakan jasa fasilitas perawatan terpadu. Sedangkan jasa fasilitas perawatan pratama yang merawat pasien tanpa memerlukan jasa perawatan terampil bersifat opsional, negara bagian diperbolehkan tidak menyediakan jasa fasilitas perawatan pratama. Perawatan kesehatan (medicare) didasarkan pada Hak ke XVIII yang ada pada undang-undang keamanan masyarakat (Title XVIII of the Social Security Act). Perawatan kesehatan tersebut berupa program asuransi kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat bagi orang-orang lanjut usia dan orang-orang tak mampu. Bagian A dari perawatan kesehatan memberikan asuransi biaya opname di rumah sakit dan semua biaya yang terjadi karena pemanfaatan jasa fasilitas perawatan terampil untuk jangka waktu 20 hari pertama setelah dirawat di rumah sakit, dan juga biaya tambahan (dalam jumlah tertentu seharinya) sampai dengan jangka waktu tambahan 80 hari. Fasilitas perawatan menengah tidak ikut berpartisipasi dalam program perawatan kesehatan. Negara bagian ABC memiliki lebih kurang 200 fasilitas perawatan terampil yang ikut berpartisipasi dalam program perawatan kesehatan, ditambah dengan 200 fasilitas perawatan menengah yang ikut berpartisipasi dalam program bantuan kesehatan. Pembayaran-pembayaran untuk penyelenggaraan program bantuan kesehatan pada fasilitas perawatan terampil dan fasilitas perawatan menengah pada tahun anggaran 1986 baik oleh pemerintah pusat maupun negara bagian ABC berjumlah lebih kurang 160 milyar rupiah, dan untuk penyelenggaraan program

14

perawatan kesehatan pada fasilitas perawatan terampil berjumlah lebih kurang 8 milyar rupiah. Berbagai standar telah digariskan oleh hukum dan peraturan yang mana harus dipatuhi oleh semua fasilitas perawatan yang ikut berpartisipasi dalam program perawatan kesehatan atau bantuan kesehatan. Persyaratan pemerintah pusat atas keselamatan dari bahaya kebakaran yang mana telah pula diakui sebagai persyaratan yang digariskan oleh pemerintah negara bagian, adalah sesuai dengan kode keselamatan jiwa (life safety code) yang dibuat oleh asosiasi perlin-dungan dari bahaya kebakaran nasional (national fire protection association) dan telah direvisi pada tahun 1973. Peraturan departemen kesehatan, pendidikan dan kesejateraan mensyaratkan bahwa masing-masing fasilitas perawatan yang ikut berpartisipasi dalam program perawatan kesehatan maupun bantuan kesehatan harus diinspeksi dan diperiksa paling sedikit sekali dalam setahun oleh inspektur negara bagian (yaitu petugas negara bagian yang dikontrak oleh pemerintah pusat) guna menentukan apakah masing-masing fasilitas perawatan mematuhi persyaratan pusat (departemen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan), termasuk juga mematuhi kode keselamatan jiwa. Fasilitas perawatan yang tidak sepenuhnya mematuhi standar keselamatan dari bahaya kebakaran dapat diberi sangsi yang berkenaan dengan jangka waktu yang terbatas diperbolehkan memanfaatkan kedua program sementara menunggu tindakan-tindakan perbaikan guna memenuhi secara lengkap standar keselamatan dari bahaya kebakaran. Dan kalau ternyata dalam batas waktu tertentu berbagai kekurangan belum dapat dihilangkan maka hak pemanfaatan kedua program tersebut dapat dibatalkan. Kode keselamatan dari bahaya kebakaran masyarakat adanya "sprinkler" otomatis yang terbesar pada seluruh bangunan fasilitas perawatan, konstruksi bangunan yang tahan api selama 2 jam, dan bahan bangunan yang tidak dapat terbakar selama 1 jam. Tingkat ketahanan bangunan dari api bervariasi tergantung dari bahan bangunan yang digunakan dan struktur/konstruksi bangunannya. Suatu bangunan diklasifikasikan sebagai bangunan dengan konstruksi yang tahan api selama 2 jam jika struktur bangunan yang terdiri dari dinding, penyekat, tiang penyangga, lantai dan atas terbuat dari bahan yang tahan api selama 1,5 jam sampai 4 jam. Asosiasi perlindungan dari bahaya kebakaran nasional (national fire protection association) mensyaratkan bahwa bahan bangunan yang tidak dapat terbakar selama 1 jam jika bahan bangunan tersebut tidak akan musnah atau menjadi abu selama 1 sampai 2 jam terbakar. Kedua persyaratan tersebut dimaksudkan agar supaya jika terjadi kebakaran masih tersedia cukup waktu untuk memindahkan para penghuni rumah jompo dengan selamat. Amandemen keamanan sosial tahun 1967 memungkinkan terjadinya pengecualian terhadap peraturan departemen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan jika ternyata pemasangan alat anti kebakaran tertentu secara ketat justru menyebabkan akibat negatif bagi kesehatan dan keselamatan para penghuni rumah jompo, misalnya sistem sprinkler yang mungkin karena suhu panas dari pemanas ruangan atau kompor yang digunakan dalam kamar akan meledak dan

15

membuat para jompo terkejut dan panik ataupun mengakibatkan seranganjantung. Pengecualian terhadap fasilitas perawatan terampil yang berpartisipasi dalam program perawatan kesehatan disetujui oleh departemen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sejak tahun 1972; demikian pula program bantuan kesehatan. Prosedur pengecualian dimulai dengan pemberian rekomendasi oleh negara bagian yang berkenaan dengan kepatuhan terhadap standar keselamatan dari bahaya kebakaran untuk fasilitas perawatan terampil yang akan berpartisipasi dalam program perawatan kesehatan rhaupun bantuan kesehatan akan tetapi keputusan final berada di tangan direktur regional (kepala kantor wilayah) departemen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan. Sedang-kan pengecualian untuk fasilitas perawatan menengah dikeluarkan oleh inspektur negara bagian yang bersangkutaa Pada tanggal 28 Desember 1973 Kongres memberlakukan public law 93-204 yang memerintahkan departemen perumahan dan pengembangan pedesaan untuk memberikan bantuan pinjaman kepada fasilitas-fasilitas perawatan untuk membeli dan memasang peralatan anti kebakaran, termasuk sistem sprinkler otomatis. Berikut ini adalah berbagai informasi yang diperoleh dari laporan suatu komisi DPR yang bertugas menelaah kegiatan pemerintah pada tahun 1972: Laporan DPR 92-1321, "Penyelamatan dari bencana kebakaran di rumah jompo", dipublikasikan pada tanggal 9 Agustus 1972 oleh Komisi DPR yang bertugas menelaah kegiatan pemerintah. Temuan-temuan yang dilaporkan oleh komisi DPR antara lain: a. Selama dua dasa warsa (1951 sampai 1970) terjadi kebakaran atas rumah-rumah jompd yang menelan korban jiwa 496 orang sehingga rata-rata per tahun sebanyak 25 orang. Tahun 1971 dan tahun 1972 terdapat masing-masing 38 orang dan 30 orang meninggal di rumah jompo karena musibah kebakaran. b. Sedikitnya jumlah staf yang bertugas di malam hari dan banyaknya penghuni rumah jompo yang tidak mampu jalan merupakan penyebab utama kurang berhasilnya penyelamatan para penghuni rumah jompo dalam hal terjadi kebakaran di malam hari. c. Penggunaan sistem alarm pendeteksian kebakaran yang dihubungkan dengan dinas kebakaran yang terdekat mungkin dapat menghindarkan kerugian total baik material maupun jiwa manusia, tetapi hal tersebut tidaklah dapat mencegah kebakaran karena segera setelah timbul kebakaran maka korban jiwa pun jatuh walaupun dinas kebakaran secepat mungkin berusaha menanggulangi karena rumah jompo dihuni oleh orang-orang lanjut usia yang berbadan rata-rata lemah sehingga mungkin mereka terkejut/shock dan panik. d. Konstruksi bangunan yang tahan api tidaklah pada men cegah kobaran api jika pembangunannya tidak ditangani secara baik dan jika pada saat kebakaran terjadi ternyata pintu-pintu tidak ditutup maka kontruksi yang tahan api tersebut tidak akan mampu menahan penyerahan api. Hal ini terjadi pada kebakaran di rumah-rumah jompo di Marietta negara bagian Ohio pada tahun 1970 dan di Buechel negara bagian Kentucky pada tahun 1971.

16

e. Kematian pada saat terjadinya kebakaran rumah jompo rata-rata disebabkan oleh sesak napas dari gas beracun bukannya karena tubuh yang terbakar, meningkatnya penggunaan bahan-bahan yang lambat terbakar sehingga menimbulkan pembakaran yang tidak sempurna dan hanya menghasilkan gas-gas beracun dalam jumlah yang banyak. Pendapat ahli yang menyarankan penggunaan bahan-bahan tahan api/lambat terbakar ternyata justru meitgakibatkan meningkatnya jumlah korban jiwa karena kebakaran. f. Menurut dewan keselamatan nasional dan asosiasi rumah jompo Amerika, sistem sprinkler otomatis yang dipasang secara menyeluruh pada fasilitas bangunan tidak hanya pada daerah bahaya saja akan memberikan pencegahan terhadap kebakaran yang lebih besar karena sistem sprinkler akan secara otomatis mengaktifkan alarm suara sebagai tanda adanya kebakaran dan sekaligus memulai upaya pemadaman kebakaran. Hal inilah yang merupakan keunggulan sistem sprinkler otomatis yang tidak dapat digantikan oleh alarm yang otomatis secara efektif. g. Alasan di atas pulalah yang menjadi dasar bagi asosiasi pencegahan bahaya kebakaran nasional untuk mengharuskan pemasangan sistem pendeteksian dini dan sistem sprinkler otomatis pada semua rumah jompo baik yang baru maupun yang sudah ada tanpa menghiraukan tipe konstruksi bangunannya. h. Demikian pula The Fire Marshals Association of North America yang merupakan anggota dari State Fire Marshals menganut prinsip pemasangan sistem sprinkler otomatis pada semua lembaga dan rumah jompo yang merawat orang lanjut usia tanpa membedakan tipe konstruksi, sistem deteksi kebakaran atau sistem pencegahan yang lain. i. Komisi akreditasi rumah sakit gabungan menetapkan salah satu standar akreditasi terhadap fasilitas rumah jompo dan fasilitas rumah sakit harus menggunakan sistem sprinkler otomatis. j. Cara terbaik guna menghindari korban kebakaran ganda (korban jiwa karena terbakar dan korban jiwa karena gas beracun) adalah konstruksi bangunan yang dilengkapi dengan sistem sprinkler otomatis yang dapat memberi-kan pesan pada dinas kebakaran terdekat. k. Biaya pemasangan sistem sprinkler otomatis pada bangunan yang sudah berdiri lebih besar daripada pemasangan pada bangunan yang belum dibangun. Komisi DPR telah mengestimasi bahwa rata-rata biaya instalasi adalah sebesar Rp 800.000,00 untuk setiap kamar tidur. Biaya instalasi tersebut diamortisasi selama 20 tahun. Informasi-informasi berikut ini berkaitan langsung dengan kebakarankebakaran yang disebutkan oleh Gubernur dalam suratnya: Pada tanggal 20 Januari 1976 dan 4 Februari 1976 terjadi kebakaran pada fasilitas rumah jompo Alpha dan Beta yang menelan 31 jiwa penghuninya. Kedua rumah jompo merupakan fasilitas perawatan menengah yang ikut berpartisipasi dalam program bantuan kesehatan. Menurut laporan penyelidikan, kematian-kematian tersebut terjadi juga walaupun:

17

a. Fasilitas rumah jompo tersebut memenuhi persyaratan pence gahan kebakaran dari pemerintah pusat; b. Dinas kebakaran segera menjawab panggilan tanda bahaya kebakaran, dan c. Konstruksi bangunan berhasil membatasi kobaran api hanya pada ruang-ruang asal kebakaran. Laporan atas kematian yang terjadi disebabkan oleh asap dan gas beracun bukan karena jilatan api dan tidak terjadi kerusakan yang fatal terhadap ruang asal kebakaran. Pers penyelidik kebakaran-kebakaran tersebut menyatakan bahwa sistem sprinkler akan dapat mencegah kematian pada rumah jompo. Kedua rumah jompo tersebut memiliki konstruksi bangunan yang tahan api dan oleh sebab itu dibebaskan oleh kode keselamatan jiwa dari persyaratan pemasangan sistem sprinkler otomatis. KEBAKARAN DI RUMAH JOMPO ALPHA Kebakaran rumah jompo Alpha dimulai dari lantai tiga bangunan fasilitas pada tanggal 30 Januari 1976 pagi. Rumah jompo Alpha adalah merupakan fasilitas perawatan menegah yang berlokasi di kota XYZ dengan kapasitas kamar tidur sebanyak 28 buah yang dapat menampung 88 penghuni permanen. Penghuni rumah jompo Alpha meliputi juga pasien program bantuan perawatan. Pada waktu terjadi musibah kebakaran, rumah jompo Alpha memiliki peralatan anti kebakaran sebagai berikut: a. Tiga sistem alarm: (1) kotak tarikan (pullbox), (2) detector panas (baik yang dihubungkan ke dinas kebakaran kota XYZ maupun yang dihubungkan dengan ruang staf rumah jompo), and (3) detektor asap yang akan mengaktifkan alarm yang dihubungkan dengan ruang staf rumah jompo. b. Sistem informasi yang dapat memberikan lokasi kebakaran pada bangunan kepada staf rumah jompo (public-address system). c. Tiga buah alat pemadam kebakaran portabel. d. Sistem penerangan darurat dengan baterai. Meskipun tersedia tetapi kurang bermanfaat karena kebakaran terjadi pagi hari, asap tebal mengurangi intensitas cahayanya dan tidak tahan lama dari panasnya api dan meleleh karena terbuat dari plastic tidak tahan api. e. Pintu kamar yang dilapisi logam sehingga cukup dapat menahan api, panas dan asap jika ditutup selama kebakaran. f. Lantai, dinding dan langit-langit (ceilings) yang tahan api. Khusus untuk dinding tidak memungkinkan terjadi penyusunan api walaupun penutup dindingnya (wall paper) terbakar. Pada saat kebakaran terdapat 83 orang pasien yang dirawat pada rumah jompo Alpha (banyak di antaranya yang tidak dapat meninggalkan kursi roda). Di saat kebakaran terjadi 5 orang pembantu perawat rumah jompo, seorang pendeta dan 40 orang pasien berada di lantai tiga. Dua puluh delapan orang di antara 40

18

orang pasien di atas sedang mengikuti kebaktian pada kapel yang ada di lantai tiga di mana kapel tersebut tidak memiliki pintu sehingga langsung berhubungan dengan koridor. Seorang pembantu perawat mengetahui asal kebakaran dari kamar nomor 306 (lantai 3) yang berlokasi di tengah koridor satu-satunya yang ada di lantai tiga pada jam 11:40, dan segera memberitahu pendeta dan mengaktifkan alarm tarikan. Pendeta tersebut beserta 2 orang staf maintenen dan seorang staf pengelola rumah jompo berusaha memadamkan api dengan alat pemadam kebakaran portabel, tetapi gagal. Kepekatan asap dan panas memaksa mereka meninggalkan kamar nomor 306 setelah berusaha menutup pintu kamar yang menghubungkan kamar 306 dengan koridor. Konsentrasi perhatian segera berubah ke upaya memindahkan para pasien yang berada di kapel dan pasien lainnya yang berada di kamar. Mobil-mobil pemadam kebakaran dari dinas kebakaran di kota XYZ sampai ke rumah jompo Alpha pada pukul 11:46 yaitu kira-kira 3 menit 40 detik setelah menerima tanda alarm. Menanggapi tanda alarm yang pertama dinas kebakaran setempat mengirimkan 39 petugas pemadam kebakaran dengan 7 mobil kebakaran (4 buah pumpers, 2 buah hook dan ladder dan 1 buah snorkel). Ketiga mobil-mobil pemadam kebakaran datang ke rumah jompo, intensitas asap di lantai tiga telah mengakibatkan beberapa pasien pingsan. Menanggapi permintaan khusus dinas pemadam kebakaran mengirimkan 18 petugas pemadam kebakaran tambahan dan sampai di lokasi pada pukul 12:01 dengan dilengkapi peralatan khusus termasuk mobil snorkel. Menanggapi tanda alarm yang kedua dinas kebakaran setempat mengirimkan 44 petugas pemadam kebakaran dengan 1 halikopter, 1 mobil komunikasi dan 8 mobil kebakaran (4 buah pumpers, 2 buah hook dan ladder dan 2 buah watercannon turrets). Menanggapi telpon khusus dari dinas kebakaran dan kepolisian, organisasi-organisasi swasta (rumah sakit swasta) mengirimkan 10 mobil ambulan ke rumah jompo Alpha. Korban-korban yang luka diangkut ke rumah sakit dengan menggunakan ambulan dan 4 buah mobil dinas kebakaran. Sampai tanggal 20 Februari 1976, 23 orang penghuni rumah jompo meninggal karena menghirup asap (smoke inhalation), dan kebanyakan yang meninggal adalah mereka yang berada di kapel pada saat terjadi kebakaran. Kebakaran menghancurkan kamar nomor 306 dan merusak koridor. Kebakaran yang sebenarnya sedang-sedang saja tetapi menghasilkan asap dan panas yang hebat telah merusak koridor, kapel yang tidak mempunyai pintu dan menghancurkan kamar nomor 306 yang pintunya tidak tertutup. Sedangkan kamar-kamar yang pintunya ditutup tidak rusak karena panas dan asap. KEBAKARAN DI RUMAH JOMPO BETA Kebakaran rumah jompo Beta dimulai dari kamar 421 lantai empat bangunan fasilitas pada tanggal 4 Februari 1976 dini hari. Rumah jompo Beta merupakan fasilitas perawatan menengah yang berlokasi di kota KLM yang berbatasan dengan kota XYZ dengan kapasitas 618 penghuni permanen. Penghuni rumah jompo Beta meliputi juga pasien program bantuan perawatan.

19

Pada waktu terjadi musibah kebakaran, rumah jompo Beta memiliki peralatan anti kebakaran sebagai berikut: a. Dua sistem alarm: (1) kotak tarikan (pullbox), dan (2) detector asap yang akan mengaktifkan alarm yang dihubungkan dengan dinas kebakaran kota ruang staf rumah jompo. Detektor asap secara otomatis akan menutup pintu-pintu aula (hall). b. Alat pemadam kebakaran portabel dan selang karet pemadam kebakaran pada masing-masing lantai. Selang karet pemadam kebakaran di lantai empat tidak berfungsi karena kesalahan operator pada saat memasangnya. c. Sistem informasi yang dapat memberikan lokasi kebakaran pada bangunan kepada staf rumah jompo (public-address system). d. Pintu kamar yang dilapisi logam sehingga cukup dapat menahan api, panas dan asap jika ditutup selama kebakaran. e. Sistem sprinkler pada lantai pertama dengan pipa vertikal ke delapan lantai yang lain. Menurut pejabat pengelola rumah jompo Beta, pipa-pipa horizontal dan sprinkler utama tidak dipasang delapan lantai yang lain karena pertimbangan finansial. Pada saat kebakaran terdapat 460 orang pasien yang dirawat pada rumah jompo Beta, 24 orang di antaranya berada di lantai empat sayap barat di mana terdapat kamar nomor 421. Kira-kira pada pukul 06:30 seorang perawat dan seorang pembantu perawat mendengar jeritan dan ditemukan adanya kebakaran di kamar nomor 421. Sementara pembantu perawat mengaktifkan alarm tarikan, perawat yang lain memindahkan dua orang penghuni kamar nomor 421. Penghuni kamar nomor 421 yang ketiga tidak berada di kamar tersebut pada saat itu. Petugas satpam yang mendengar bunyi alarm segera berusaha mp.mariamkan api dengan alat pemadam kebakaran portabel kemudian menggunakan selang pemadam kebakaran yang ternyata tidak dapat berfungsi normal, petugas satpam tersebut segera meninggalkan kamar 421 karena asap telah menghebat. Dua orang petugas maintenen mencoba memadamkan api dengan menggunakan selang pemadam kebakaran melalui jendela lantai lima tetapi mereka tidak dapat memadamkan lautan api. Mobil-mobil pemadam kebakaran dari dinas kebakaran sampel ke rumah jompo Beta pada pukul 06:44 setelah menerima tanda alarm yang diaktifkan detektor asap di lantai empat. Detektor asap secara otomatis menutup pintu-pintu asap yang menuju ke koridor dan menahan panas dan asap dari sayap barat. Walaupun kamar nomor 421 berbatas dengan pintu-pintu asap tetapi penghuni-penghuni luka dan ruangan pada sayap barat di sisi lain dari pintu asap tidak rusak. Delapan korban jiwa penghuni rumah jompo Beta dikarenakan penghirupan asap (smoke inhalation) di kamar lantai empat sayap barat yang tidak menutup pintu selama kebakaran. Asap dan panas juga merusak kamar-kamar dan koridor yang pintu asapnya tidak ditutup, sedangkan kamar-kamar di sayap barat yang pintu asapnya ditutup selama kebakaran penghuninya tidak luka dan hanya sedikit kerusakan yang terjadi.

20

Seorang pejabat kantor wilayah dinas kebakaran (state fire marshal officer) mengidentifikasi asal mula kebakaran yaitu dari kesalahan pemasangan kabel listrik pada lampu tidur. EVALUASI TERHADAP KEBAKARAN Seorang pejabat kantor wilayah dinas kebakaran (state fire marshal officer) menyimpulkan keganasan dua kebakaran di rumah jompo Alpha dan Beta sebagai berikut: (1) adanya nyala api yang tak kunjung padam selama kebakaran, (2) gas-gas dari benda yang terbakar terjebak oleh langit-langit dan dinding atas pada ruang yang terbakar, dan (3) penyemburan nyala api dan asap yang mematikan dari plastik dan vinil yang terbakar di ruangan asal mula kebakaran. Almari pakaian yang terbakar ternyata berlaku sebagai sumber panas dan sumber kerusakan pada kedua kebakaran rumah jompo. Asap tebal juga mengakibatkan kerusakan koridor, kamar-kamar yang tidak tertutup pintunya dan kapel. Di rumah jompo Alpha, kerugian paling fatal terutama terdapat di bagian kapel karena tidak memiliki pintu sehingga asap mematikan dengan mudah memasuki kapel tersebut. Di rumah jompo Beta, kerugian paling fatal tedapat pada kamar-kamar yang pintu-pintunya tidak ditutup. Kebakaran pada kedua rumah jompo membakar bahan-bahan yang menimbulkan gas beracun. Di rumah jompo Alpha, penutup dinding dan lantai dari bahan vinil klorida yang terbakar menghasilkan gas hidrogen klorida yang membakar paru-paru. Di rumah jompo Beta, kasur spon dari bahan polyurethane foam yang terbakar menghasilkan gas hidrogen sianida yang mematikan. Menurut ahli dari national fire prevention dan ahli dari control administration dari departemen perda-gangan, bahwa semua bahan yang mudah terbakar akan menghasilkan gas karbon monoksida dalam jumlah yang mematikan jika terbakar. Bukti medis tidak diperoleh oleh pemeriksa yang dapat mengidentifikasi jenis produk tertentu yang terbakar yang merupakan penyebab utama kematian yang ada. Menurut studi yang dilakukan oleh asosiasi rumah jompo dan konsultan bangunan yang dikontrak oleh departemen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan diperoleh informasi bahwa almari pakaian yang terbakar ternyata berlaku sebagai sumber panas (flashover) dan sumber kerusakan selama 5 menit terhitung mulai dari saat dinyalakan. Kesimpulan ini merupakan hasil eksperimen guna menguji kode etik keselamatan jiwa (life safety code) tahun 1967. KEPATUHAN TERHADAP STANDAR PENCEGAHAN KEBAKARAN (FIRE SAFETY STANDARDS) Kantor wilayah dinas kebakaran melakukan inspeksi terhadap fasilitas perawatan terampil sedangkan departemen kesehatan masya-rakat (public health department) melakukan inspeksi terhadap fasilitas perawatan menengah atas kepatuhan pada standar pencegahan kebakaran. Inspeksi kantor wilayah dinas kebakaran dilaksanakan oleh 44 orang inspektur yang memiliki latar belakang pengalaman di bidang kebakaran karena sebagian

21

mereka adalah mantan petugas pemadam kebakaran dan sebagian memiliki gelar akademik di bidang teknologi kebakaran. Seorang inspektur baru sebelum melakukan inspeksi akan memperoleh pendidikan di kelas dan on-the-job training termasuk standar pencegahan kebakaran. Para inspektur umumnya memerlukan waktu 1 sampai 1,5 hari setiap tahunnya untuk menginspeksi fasilitas perawatan terampil atas kepatuhannya dengan kode etik keselamatan jiwa dan peraturan-peraturan negara bagian; inspektur-inspektur akan melakukan tindak lanjut (follow-ups) ketidakpatuhan yang ada dalam interval waktu 30 hari sampai kelemahan-kelemahan yang ada dikoreksi. Inspektur dari departemen kesehatan masyarakat melakukan survei kesehatan dan keselamatan tahunan terhadap fasilitas perawatan menengah. Seksi arsitektural dari departemen ini memiliki 14 orang arsitek yang terdaftar (registered architects) dan 2 orang insinyur sipil. Seorang inspektur baru sebelum melakukan inspeksi akan memperoleh pendidikan di kelas dan on-the-job training termasuk standar pencegahan kebakaran. Para ispektur membutuhkan waktu 1 hari untuk melakukan inspeksi dan dalam periode waktu tertentu melakukan inspeksi kembali guna memverifikasi apakah tindakan koreksi terhadap berbagai kelemahan telah dilakukan. Inspektur juga melakukan tindak lanjut pada kelemahan kecil melalui korespondensi atau pada kesempatan inspeksi tahunan yang akan datang. Kantor wilayah departemen kesehatan, pendidikan dan kesejah-teraan juga melakukan penelaahan validasi guna memperoleh keyakinan atas pelaksanaan inspeksi-inspeksi dari negara bagian yang baik. Penelaahan ini dilakukan pada fasilitas-fasilitas perawatan yang dipilih secara acak. Kantor wilayah ini hanya memiliki 1 tim guna menelaah 3.600 buah fasilitas perawatan menengah dan fasilitas perawatan terampil yang ada di negara bagian ABC. Kota XYZ juga melakukan inspeksi terhadap fasilitas perawatan terampil dan fasilitas perawatan menengah yang ada (Kira-kira ada 100 buah termasuk rumah jompo yang lainnya) dengan menggunakan norma-norma pencegahan kebakaran yang berlaku di kota tersebut yang dilaksanakan oleh seorang kepala yang terlatih baik dan 11 orang pembantunya yang berpendidikan akademi kebakaran; mereka juga berkewajiban menginspeksi atas rumah sakit yang berada di kota tersebut. Hasil inspeksi dari negara bagian menunjukkan bahwa kedua rumah jompo pada dasarnya mematuhi standar pencegahan kebakaran. Departemen kesehatan publik menemukan dua kelemahan pada fasilitas perawatan menengah rumah jompo Alpha pada inspeksi bulan Desem-ber 1974. Dan menurut catatan dokumen menunjukkan bahwa rumah jompo tersebut telah mengoreksi kedua kelemahan dalam bulan April 1975, sehingga pada saat kebakaran kepatuhan terhadap kode etik keselamatan jiwa telah dipenuhi. Biro pencegahan kebakaran dari dinas kebakaran kota juga telah menginspeksi rumah jompo Alpha sebanyak 6 kali dalam tahun 1975, menunjukkan bahwa kedua kelemahan tersebut di atas telah dikoreksi dalam bulan Oktober 1975, dan tidak diperoleh adanya kelemahan yang lain pada inspeksi bulan-bulan Oktober, November dan Desember. Menurut salah seorang petugas biro tersebut bahwa karyawan rumah jompo Alpha cukup tanggap dan terampil dalam menghadapi

22

situasi darurat kebakaran yang dilakukan melalui simulasi kebakaran selama Departemen kesehatan masyarakat negara bagian ABC mengidentifi- kasi adanya 10 kelemahan pada rumah jompo Beta dalam inspeksi bulan Desember 1975. Pada 7 Februari 1976, yaitu 3 hari setelah kebakaran, petugas kantor wilayah dinas kebakaran dalam inspeksi khususnya menemukan adanya 5 kelemahan dari kode etik keselamatan jiwa dan 27 kondisi yang melanggar peraturan negara bagian. Menurut departemen dan petugas kantor wilayah dinas kebakaran berbagai kelemahan di rumah jompo Beta tidaklah merupakan penyebab atau mendorong terjadinya asal mula kebakaran atau menghebatnya kebakaran. Seorang perawat dan seorang pembantu perawat, dua orang petugas maintenen dan yang lain membantu para penghuni rumah jompo selama terjadi kebakaran. Menurut staf rumah jompo Beta, minimum 12 kali latihan kebakaran diadakan setiap tahunnya termasuk uji coba keadaan darurat kebakaran dan alarm melalui simulasi. TEMUAN-TEMUAN INVESTIGASI TERHADAP SISTEM SPRINKLER DAN NORMA-NORMA PENCEGAHAN KEBAKARAN YANG LAIN 1. Sistem Sprinkler Menurut petugas kantor wilayah dinas kebakaran negara bagian ABC, sistem sprinkler mencegah timbulnya sumber panas (flashover) karena sistem sprinkler dapat mencegah akumulasi panas yang hebat pada langit-langit dan dinding. Menurut petugas dinas kebakaran kota XYZ, sistem sprinkler memberikan pencegahan terbaik terhadap kebakaran karena sistem tersebut memberikan tanda lokasi terjadinya kebakaran dan segera menyemprotkan 22 galon air dalam waktu 1 menit. Petugas ini juga yakin bahwa sistem sprinkler akan dapat memadamkan kebakaran dan mencegah korban j iwa. Setelah dilakukan investigasi terhadap kebakaran pada rumah jompo Alpha, sebuah panel khusus diwajibkan dipasang atas saran dari Walikota XYZ dan segera dimasukkan sebagai salah satu persyaratan yang tercantum dalam kode etik pencegahan kebakaran dan pembangunan gedung yang berlaku di kota XYZ. Panel yang disyaratkan tersebut adalah sistem sprinkler yang harus dipasang pada semua rumah jompo dan dihubungkan dengan sistem alarm kebakaran. Pada tanggal 4 Februari 1976, Walikota XYZ meminta persetujuan kepada Dewan Kota atas peraturan daerah yang mensyaratkan pemasangan sistem sprinkler. Peraturan daerah tersebut diajukan beberapa jam setelah terjadi kebakaran di rumah jompo Beta dan segera disetujui oleh Dewan Kota pada tanggal 7 April 1976 yang mewajibkan semua rumah jompo memasang sistem sprinkler paling lambat bulan Februari 1977. Menurut laporan insinyur-insinyur sipil dari departemen kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan atas kebakaran pada rumah jompo Alpha, yaitu bahwa untuk melengkapi staf pencegah kebakaran yang terlatih dan terampil adalah sistem sprinkler yang lengkap, kamar asap (smoke compartments), dan detektor asap. Hasil penelaahan terhadap area kebakaran, laporan dari departemen yang sama menyatakan:

23

Fasilitas-fasilitas yang terbakar masing-masing merupakan konstruksi tahan api, tetapi gagal memberikan pengamanan yang baik. Perlu kiranya beberapa norma pencegahan kebakaran yang lebih luas dari peraturan yang berlaku sekarang. 2. Perabotan Menurut laporan petugas kantor wilayah dinas kebakaran bahwa kebakaran pada kedua rumah jompo Alpha dan Beta menunjukkan bahwa kebakaran atas berbagai bahan penutup (coverings) seperti penutup lantai dan dinding serta perabotan dapat menyebabkan rumah jompo menjadi kamar gas. Sedangkan petugas yang lain mengatakan perlunya pemerintah pusat menentukan standar yang akan mengatur penggunaan perabotan di rumah-rumah jompo. 3. Latihan Menghadapi Keadaan Darurat Kebakaran Petugas daerah dan negara bagian menekankan pentingnya latihan menghadapi keadaan darurat kebakaran kepada para karyawan rumah-rumah jompo. Suatu komisi yang dibentuk oleh Walikota menyarankan bahwa selain dilakukan latihan tersebut di atas bagi para karyawan rumah jompo, perlu juga kiranya para karyawan rumah jompo dilibatkan langsung secara formal melalui training bagi petugas dinas kebakaran setiap 6 bulan. DIMINTA: 1. Tentukan tujuan program rumah jompo secara umum, dan tentu saja tujuan program yang berkaitan langsung dengan permintaan Gubernur negara bagian ABC? 2. Tentukan sasaran pemeriksaan terhadap program rumah jompo yang tentu saja berkaitan dengan pertanyaan Gubernur Negara bagian ABC dan sasaran pemeriksaan lain yang mungkin muncul di benak Tuan Evan. 3. Buatlah bagan organisasi yang berkenaan dengan pengelolaan rumah jompo Alpha untuk tingkat pusat (federal), tingkat negara bagian (state), dan tingkat kota (city), serta sebutkan organisasi independen yang ikut terlibat dalam pengelolaan rumah jompo. 4. Buatlah bagan alir (flow chart) pengendalian manajemen rumah jompo Alpha. 5. Tentukan program pemeriksaan untuk melakukan pengujian transaksi atas sistem sprinkler otomatis.