Anda di halaman 1dari 9

Hukum Islam 1.

Musyarri, Mahkum fih, Mahkum bih, dan Mahkum alaih Hukum menurut bahasa ialah menetapkan sesuatu atas yang lain. Sedangkan menurut syara, ialah firman pembuat syara (syari) yang berhubungan dengan perbuatan orang dewasa (mukallaf), firman mana mengandung tuntutan, membolehkan sesuatu atau men adikan sesuatu sebagai adanya yang lain. !engan pengertian hukum seperti diatas, maka tidaklah berarti bahwa hokum syara hanyalah berupa firman (wahyu"nas) yang datang dari pembuat syara semata#mata, tanpa memasukkan dalil# dalil syara lain yang tidak berupa nas, seperti i ma, $iyas dan lian#lain. !alil syara ini kendati tidak berupa nas, namun apabila kita teiti adalah berasal dari nas uga. !engan demikian dalil#dalil tersebut termasuk firman dari pembuat syara, sekalipun tidak se%ara langsung. !alam setiap bahasan usul fi$ih, topi% huku selalu dikaitkan dengan Hakim (musyari), mahkum fih, dan mahkum bih yang berkaitan dengan taklif (perbuatan dan nilainya) dan mahkum alaih (mukallaf). !alam leksiologi usuliyah, term musyari pada la&imnya disebut sebagai 'hakim( yakni yang membuat hokum. Muhammad )bu *ahrah menyatakan bahwa umhur ulama Islam sepakat bahwasannya )llah swt adalah satu#satunya Hakim dalam Islam, dan tiada syariah tanpa )llah swt. !alam kaitan ini )llah berfirman+

Menetapkan hokum itu hanyalah hak )llah. !ia menerangkan yang sebenarnya dan dia pemberi keputusan yang paling balk. ,leh karena )llah swt sebagai !&at yang membuat syariah, maka dengan demikian yang dimaksud dengan musyari adalah )llah swt itu sendiri. Sedangkan fungsi -abi saw hanyalah sebagai penyampai hukum#hukum#-ya yang telah di%iptakan. !engan demiukian, ia bukanlah sebagai pen%ipta hokum, sebagaimana seringkali disalah artikan oleh kalangan tertentu. Hnya sa a tugas nubuwah itu tidak lepas dari %ontrol )llah swt, apalagi apa yang disampaikan oleh .osul saw itu pada hakikatnya adalah wahyu uga.1 /ang elas, bahwa )llah swt dalam memberikan taklif (beban tanggung awab) kepada mukallaf sudah barang tentu mengandung makna kemaslahatan yang akan mendatangkan kebaikan (khoir) dan menolak kerusakan bagi manusia. Suatu pembebanan di%iptakan bukan untuk kepentingan )llah sendiri, melainkan untu0k mukallaf semata. 1arena itu )llah menetapkan hokum akan
1

Muhammad Djakfar, Hukum Bisnis (Malang: UIN Press, 2009 ,!"#

memperoleh pahala bagi yang berbuat keba ikan, di samping menetapkan hokum kan memikul dosa bagi yang berbuat keburukan (ke ahatan). 2ustru karena itu, elas sekali tu uan#tu uan yang akan diraih dengan diberlakukannya hokum Islam, yakni untuk kemaslahatan, kerahmatan dan keadilan serta kebahagiaan dan terpeliharanya indi3idu dan masyarakat dalamkehidupan peradaban dunianya. 4ntuk men%apai tu uan tersebut menurut )r# .okhili#Islam meletakkan undang#undang atas dasar prinsip menghilangkan kesulitan dan kemadharatan, terwu udnya keadilan dan musyawarah, pemeliharaan hak#hak indi3idu dan masyarakat, melaksanakan amanah, dan kreatifitas ulama dalam meme%ahkan masalah fi$hiyah di mana prinsip#prinsip tersebut diikuti dengan akhlak yang mulia. Selain itu hikum yang ditetapkan Islam yang berpi ak pada kemaslahatan itu diharapkan ter adi sepan ang hayat manusia. 5. 6u uan#tu uan Hukum Islam (syariah) 7ebih auh pabila diklasifikasikan, tu uan hokum Islam dibagi men adi tiga, yakni tu uan syara mensyariatkan hokum Islam, tu uan pembebanan hokum Islam bagi mukallaf dan tu uan mukallaf dalam menerima hokum Islam. a. 6u uan syara mensyariatkan hokum Islam 6u uan ma%am ini terbagi atas tiga tingkatan, yaitu tingkatan al#!laruriyah, al#Hi aiyah, dan al# 6ahsiniyah. 6ingkatan al#!laruriyah, yaitu tingkatan esensi dalam kehidupan manusia, baik kehisupan diniyah (agama) maupun dunyawiyah (keduniaan). )dapun yang dimaksud dengan tingkatan Ha iyah adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk menghilangkan kesulitan dan menolak masya$at.5 Sedangkan yang dimaksud tingkatan al#tashiniyah, dalah segala sesuatu yang berhubungan dengan kewibawaan dan keutamaan akhlak sekadar untuk memenuhi keindahan tradisi, baik dalam bidang ibadah, muamalah, kebiasaan maupun u$ubat.8 b. 6u uan pewmbenaan hokum Islam bagi mukallaf Setiap taklif yang diberikan pada manusia selalu selaras dengan kemampuannya. )llah swt membuat hokum adalah untuk kepentingan manusia, karena itu semua yang dibebankan dapat dilakukan. )dapun tu uan syara dalam pembebanan hokum terhadap mukallaf, antara lain adalah+
2

I$id%,#"10 I$id%,10"11

&

agar mukallaf tidak menuruti hawa nafsunya dan selalu men adi hamba )llah swt yang baik (9abd)

men adikan mukallaf sebagai orang yang subtantif falam beramal, seperti bersifat ikhlas dalam beramal agar hasilnya berkualitas

dan men adikan mukallaf sebagai orang yang men aga tabiiyah atau keotentikan syara agar menghasilkan ibadah yang sesuai tuntunan dan menghasilkan tu uan ditaklifkannya syara, seperti perolehan maslahah dan trerhindar dari mafsadah.

%. 6u uan mukallaf dalam menerima hokum Islam 6idak semua perbuatan mukallaf mempunyai nilai ibadah, karena hal itu ditentukan oleh niatnya. :isa adi perbuatan mu kallaf sebagian ada yang dikategorikan hanya sebagai adat atau tradisi sehari#hari yang sudah lama dipraktikkan da nada pula yang dikataegorikan sebagai perbuatan ibadah. )dapun tu uan#tu uan mukallaf dalam penerimaan hgukum antara lain+ ;elaksanaan taklif merupakan daya ikhtiar dan kemauan mukallaf, artinya bukan karena paksaan agar mendapat pahala ;elaksanaan syara harus sesuai dengan yang disyariatkan, karena ika tidak maka amalan itu bukan merupakan amalan syara dan tidak mendapat pahala ;elaksanaan syara harus sesuai dengan tu uan di%iptakannya syara, ika tidak maka akan batal ;elaksanaan syara harus mendatangkan manfaat dan menolak madlarat (mara bahaya) ;elaksanaan syara merupakan manifestasi dari pemenuhan hak )llah ;elaksanaan syara bagi mukallaf tidak boleh direkayasa

Selan utnya hukum Islam, sebagaimana system hukum yang lain, pasti bertumpu pada sumber yang men adi landasnnya. !alam kaitan dengan sumber ini, hokum Islam bertumpu pada empat sumber pokok yaitu al#<uran, sunnah (Hadis), I ma dan I tihad atau <iyas. Hukum Islam pada prinsipnya merupakan a aran Ilahi (.abb) yang harus dipatuhi oleh manusia tanpa ke%uali, sebagai rasa ketundukan hanya kepada#-ya. !alam hal ini manusia berfungsi sebagai ob ek, sekaligus sebagai sub ek pelaku hokum itu sendiri. Hal ini bias ter adi, karena dengan

akalnya manusia mampu membedakan antara hak dan kewa iban, antara halal dan haram, mana wilayah yang boleh diker akan dan mana wilayah yang dilarang. :agi selain manusia, semua ini mustahil bias diker akan. 2ustru karena itu istilah mukallaf yakni orang yang dikanai aturan hokum hanyalah manusia, setelah ia men adi mumayyi&, yakni %ukup akal yang mampu membedakan mana yang wa ib diker akan dan mana yang haram dier akan, mana yang benar dan mana yang batil. ,rang yang mumayyi& dalam Islam dipakai sebagai standar kedewasaan yang %akap hokum dan mampu membedakan mana hak dan mana kewa iban. !engan demikian, didalam Islampun, sama halnya dengan didalam ketentuan hokum positif, di mana anak#anak yang belum dewasa atau yang masih di dalam pengampuan dianggap belum %akap hokum sehingga dianggap tidak sah dalam melakukan tindakan (hubungan) hokum. !alam sistematika a aran Islam, hubungan manusia dengan 6uhan (3errtikal) dikenal dengan istilah ibadah. Sedangkan dalam kaitan hubungan antara manusia dengan sesamanya, tau makhluk lain dan lingkungannya (hori&ontal) dikenal dan diatur dalam ketentuan muamalah. =!alam ketentuan# ketentuan muamalah inilah segala aktifitas bisnis (ekonomi) yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya diatur se%ara rin%i. 8. >iri#%iri 1has Hukum Islam Hal lain yang perlu dikeepankan dalam ruang ini adalah %iri#%iri khas huku Islam itu sendiri. ?athi .idhwan, dalam bukunya 'Min ?alsafah al#6asyri al#Islam( menyatakan bahwa %iri#%iri khas hokum Islam ada tiga ma%am yakni+ Manusiawi (insani). Islam disyariatkan bukanlah sekedar membawa kemaslahatan, tetapi uga untuk memenuhi tabiat manusia, baik yang berlahiriyah maupun batiniah. :ermoral (akhla$i). Maksudnya adalah bahwa hokum Islam itu berpi ak pada kode etik yakni suatu %iri yang mendudukkan kehormatan 6uhan dan sesame manusia se%ara roposional sehingga masing#masing kelompok merasa dihargai dan diakui eksistensinya. 4ni3ersal, yang maksudnya adalah hokum Islam men%akup totalitas masyarakat yang ada tanpa mendiskriminasikan bangsa dan suku. =. @atak#watak Hukum Islam 7ebih auh lagi yang perlu dikedepankan adalah tentang watak#watak yang dimiliki oleh hokum Islam. )ntara lain, yaitu takamul (kesempurnaan), wasatiyah (keharmonisan), dan harakah (dinamis).
'

I$id%,11"1!

6akamul (kesempurnaan)

Islam disyariatkan kepada -abi Muhammad saw dan pengikutnya merupakan penyempurna bagi agama#agama sebelumnya, karena Islam yang saat ini telah dipela ari oleh seluruh manusia yang mengakuinya adalah agama wahyu terakhir dan tidak akan berubah sampai akhir nanti. ?irman )llah swt+

';ada hari ini telah 1usempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah 1u%iptakan kepadamu nikmat#1u, dan telah 1u ridhai Islam itu adi agama bagimu.( Hukum Islam mampu menghimpun segala studi dan aspek yang berbeda#beda didalam suatu kesatuan, sehingga hokum Islam itu bersifat syumul (uni3ersal) yang dapat melayani semua golongan (bangsa) di planet bumi. :etapa banyak indikasi yang mengisyaratkan kesempurnaan a aran Islam yang bersumber pokok dari /ang Maha Segala#galanya yang meliputi berbagai ranah kehidupan.Misalnya, akidah, politik#ketatanegaraan, so%ial#kemasyrakatan, budaya, pertahanan# keamanan, kependudukan, kesehatan, kehakiman, perekonomian, dan lain sebagainya. 1husu yang berkaitan dengan ranah perekonomian (bisnis), disyariatkan hokum diharamkannya praktik riba. ual#beli,

'Sesungguhnya ual beli itu sama dengan riba, padahal )llah tidak menghalalkan ual beli dan mengharamkan riba.( 7ebih dari itu Islam mewa ibkan &akat dari hasil usaha (%orporate), hasil pertambangan, hasil pertanian, dan lain sebagainya yangh kesemuanya itu mempunyai nilai bisnis guna memenuhi kebutuhan hidup manusia. Semua ini merupakan indikasi disyariatkannya ker a yang berbasis ekonomi yang dia arkan dalam Islam. @asatiyah (keharmonisan)

)pabila di%ermati, banyak didapati didalam hokum Islam yang selalu mengambil alan tengah, alan seimbang yang tidak memberatkan salah satunya, menyelaraskan antara yang ideal dan fa%tual, yang empiri% dan metaempirik, asmani dan rohani, dan sebagainya. Indikasi karakter wastiyah ini antara lain, hokum Islam tidak memihak hokum nasrani dan hokum /ahudi, tetapi mengambil alan tengah.

Selain itu, hukum Islam menempatkan hak dan kewa iban sebagaimana mestinya se%ara proporsional. Hanya sa a Islam Menga arkan agar manusia sebelum menuntut haknya, terlebih
A

dahulu harus menunaikan kewa iban yang dibebankan kepadanya. !alam membelan akan harta,

umat Islam tidak boleh berlebih#lebihab dan tidak tidak boleh uga terlalu sedikit. Selain itu yang tidak kalah pentingnya, bahwa )llah swt memberikan taklif kepada umat Muhammad saw seimbang dengan balasan yang diterimanya. Inilah kiranya gambaran yang men%erminkan aspek keharmonisan atau keseimbangan yang sangat ditekankan di dalam a aran Islam. Harakah (!inamis)

Hukum Islam mempunyai kemampuan bergerak dan berkembang, mempunyai daya tahan hidup yang tak terbatas karena sumber pokoknya adalah )llah swt. :ahkan hukum Islam dapat membentuk diri sesuai dengan perkembangan dan kema uan &man dimanapun dan kapanpun sa a. !engan dibukanya pintu i tihad yang bias dilakukan oleh orang yang kompeten, maka hokum Islam mampu men awab segala tantangan masa, dapat memenuhi harapan &aman dengan tetap memelihara kepribadian dan nilai#nilai asasinya. Sekalipun dikatakan bahwa hokum Islam memiliki nilai samawi yang bersifat absolut dan uni3ersal tetapi ia uga mengakui adanya perbeaan konfigurasi hokum. Semangat keabsolutan dan keuni3ersalan hokum Islam tetap dipertahankan, sedangkan konfigurasi dari hokum itu dapat didinamisir, guna menghindarkandari kebekuan dan kelambanan yang dapat menghambat kreati3itas indi3idu, sehingga penekanannya ditu ukan pada penyesuaian tuntunan perubahan, agar esensi dari hokum Islam dapat dikembangkan dalam situasi yang senantiasa berubah#ubah. !engan demikian dapat disimpulkan bahwa pada intinya hokum islam, dalam hal#hal tertentu dapat disesuaikan dengan keadaan yang berubah, sekalipun perlu diakui ada wilayah permanen yang mustahil se%ara syarI untuk dirubah. @ilayah yang tidak mungkin berubah itu menyangkut ranah tauhid dan ibadah murni yang telah elas hukumnya. Seangkan untuk ranah diluar kedua wilayah itu Islam masih memberi ruang i tihad sesuai dengan ketentuan, misalnya masalah ekonomi yang selalu berkembanhg yang seringkali tidak ditemukan hukumnya se%ara langsung dan elas di dalam sumbet#sumber hokum yang ada khususnya al#<uran dan sunnah. 1arena itu dengan melihat watak kedinamisan hokum Islam itu akhirnya dikenal kaidah usuliah yang menyatakan 9perubahan huku menurut perubahan &aman, tempat, dan keadaan.(

I$id%,1!"21

!engan tidak ada motif untuk melebih#lebihkan ke3enaran hokum Islam disbanding dengan hokum yang lain, akan tetapi karena hokum Islam itu bersumber dari )llah swt maka kualitas kebenarannya elas tidak perlu diragukan lagi. Sehingga akhirnya mun%ul istilah $athi (absolut) dan d&anni (relatif). !i dalam studi hikmatus syarI biasanya dia arkan rahasia#rahasia hokum itu. ,leh karena itu untuk memudahkan para pelaku bisnis muslim agar terdorong mengikuti a aran syariat, bagaimana mereka harus yakin bahwa segala ketentuan#ketentuan syariyang berkaitan dengan bisnis akan banyak mengandung niali dan hikmah yang tidak bahkan sulit dipahami. Mereka harus yakin bahwa nilai dan hikmah itu bukanlah untuk siapa, tetapi untuk diri mereka sendiri, tridak sa a di dunia, namun kelak di akhirat. Hal ini sebagai refleksi sifat rahman )llah st yang siap diberikan kepada siapapun yang mau berusaha dan mengikuti a aran#-ya. B H414M IS)7M ;engertian ;erkataan 'hokum( dan 'Islam( adalah perkataan dalam bahasa Indonesia. 2ika dua kata ini digabungkan adilah frase <uran, sunnah, dan i tihad. 1erangka !asar )gama Islam Islam mengandung a aran yang merupakan suatu system, yang terdiri atas a$idah (iman dan keyakinan), syariah (hokum), dan akhlak (moral). 1etiga hal ini merupakan kerangka dasar agama Islam, yakni yang mengatur segala tingkah laku manusia, baik hubungan manusia dengan 6uhannya, maupun hubungan manusia dengan dirinya sendiri, masyarakat, benda maupun atau makhluk 6uhan lainnya. 1erangka dasar inilah yang membedakan se%ara mendasar agama Islam dengan agama lainnya. !ari ketiga komponen agama islam yang men adi kerangka dasar se arah a aran Islam itu dikembangkan system#sistem Islam, misalnya system hokum Islam, system pendidikan Islam, system budaya Islam, system filsafah islam. !isebut system karena sebagai satu kesatuan, ia terdiri atas bagian#bagian yang saling menopang dan beker asama untuk men%apai satu tu uan, baik tu uan masing#masing system itu, maupun tu uan system a aran Islam se%ara keseluruhan. 1.)kidah (hukum Islam(. Se%ara sederhana hokum Islam bermakna hokum menurut agama Islam. !engan perkatan ini hokum Islam adalah hokum yang bersumber dari l#

I$id%,21

Se%ara etimologis a$idah berarti ikatan atau sangkutan. !alam pengertian teknis akidah bermakna iman, yakni keyakinan yang men adi pegangan hidup setiap pemeluk agama Islam. !engan demikian akidah merupakan keper%ayaan yang dilandasi keimanan. 5. Syariah Se%ara etimologis syariah berarti alan yang lurus atau alan yang harus ditempuh. Hal ini sesuai dengan firman )llah dalam surat )l#2atsiyah ayat 10 yang artinya+ '1emudian kami adikan kamu berada di atas suatu syariah (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syariah itu.( Syariah merupakan hokum dasar penafsiran#penafsirannya dalam hadist. Sebagai hukum yang berasal dari )llah, tasyri mempunyai beberapa %iri khas atau karakteristik, yaitu+ a) 6urun se%ara bertahap b) 6idak memberatkan %) Mengutamakan kepentingan umum d) 4ntuk kemaslahatan semua orang 8. )khlak )khlak berasal dari kata khuluk yang berarti perangai, sikap, tingkah laku, watak, budi pekerti. ;erkataan ini mempunyai hubungan dengan sikap, perangai, tingkah laku dan budi pekerti manusia terhadap 1halik dan makhluk. ,leh karena itu, sama seperti syariah, akhlak pun dapat dibagi dua, yatu berkenaan dengan sikap dan perbuatan manusia terhadap khalik, berkenaan dengan sikap dan perbuatan manusia terhadap sesama makhluk. Sikap terhadap sesame makhluk dibagi men adi dua yaitu akhlak terhadap sesama manusia, dan akhlak terhadap makhluk bukan manusia yang ada disekitar manusia. C yang prinsip, mutlak, benar, kekal, dan tidak dapat

dirubah. Ia merupakan hokum asasi yang bersumber dari wahyu )llah yakni al <uran dan

*$dul +a,hmad Budi-n-, Peradilan agama dan h-kum Islam di Ind-nesia (Malang: Ba.umedia Pu$lishing, 200& &9"'9

!aftar pustaka :udiono, )bdul .a%hmad. 5DD8. ;eradilan agama dan hokum Islam di Indonesia. Malang+:ayumedia ;ublishing.