Anda di halaman 1dari 16

BAB I GAMBARAN UMUM USAHA

1.1. Sejarah Lahirnya Usaha

1.1.1. Profil Desa Kelurahan Meteseh berada di Kecamatan Tembalang. Di perumahan Dinar Asri terdapat sekitar 35 Kepala Keluarga yang mendiami Kelurahan Meteseh. Sebagian besar masyarakatnya memiliki usaha kecil menengah sebagai wirausaha, beberapa di antaranya adalah produsen bakpao, nugget, pecel ,toko sembako, dll. Lokasi Meteseh ini dekat dengan jalanan besar yang hampir dilewati oleh mobil truck besar. Kondisi Kelurahan Meteseh sangat memperhatikan jika hujan turun cukup besar maka daerah sekitar Meteseh akan terendam oleh banjir rob. Keadaan lingkungan yang seperti ini membuat para warga kesulitan dalam melakukan aktivitasnya seharihari. Disatu sisi para warga tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan ekonomi, hampir seluruh warga Kelurahan Meteseh. 1.1.2. Profil Usaha Usaha sebagai penjahit dan penjual makanan serabutan ini dilakoni oleh Ibu Tuti Suprapti sejak anak-anak beliau masih kecil hingga sekarang. Hal ini dikarenakan beliau ingin dapat mengembangkan usaha dan meningkatkan perekonomian keluarganya. Beliau menjahit setiap hari secara tidak menentu, tergantung berdasarkan adanya pesanan yang masuk kepada beliau begitu juga halnya dengan makanan berupa pepes ikan kakap yang tidak menentu. Beliau menjahit pesanan di rumahnya sesuai dengan pesanan yang ada, misalkan berupa baju, tutup gallon, tempat handphone, ataupun berjualan spray kasur menggunakan sebuah katalog. Untuk makanan sendiri biasanya beliau mengirim makanan nya ke warung-warung sederhana yang berada di daerah Tembalang, Citarum, dan daerah sekitar. 1

1.1.3. Profil Pengusaha Tabel 1. Biodata Pengusaha Pendidikan Terakhir SMA SMA SMA SMA D3

Nama Suami Istri Anak 1 Anak 2 Anak 3 Anak 4 Anak 5

Nama Alm. Juharman M.Y Tuti Suprapti Susi Arianty Didit Arianto Litik Ari Susanto Luluk Ari Prasetyo Antonius Rahmatji Deasari

Usia 63 65 43 41 39 35 30

Agama Buddha Katolik Islam Katolik Katolik Katolik Katolik

1.2.

Lokasi Tempat Usaha Gambar1. Peta Lokasi Usaha

Gambar 2. Tempat Usaha Ibu Tuti

BAB II KONDISI USAHA 2.1 Kondisi Tempat Usaha Kondisi tempat usaha Ibu Tuti kecil dan minimalis sekali. Lokasinya cenderung sederhana dan tidak tertata dengan rapi. Lantai rumah sudah terbuat dari keramik. Dalam rumah Ibu Tuti hanya terdapat 1 ruang tamu, 2 kamar timur, ,1 halaman, 1 teras, 1 dapur, 1 gudang dan 1 toilet. Ibu Tuti menyiapkan keperluan-keperluan untuk menjahit di ruang tamunya sedangkan untuk membuat makanan seperti memasak di dapurnya karena ruangan dapur yang paling luas. Berikut denah rumah Ibu Tuti atau tempat usaha : Gambar 3. Denah Rumah

Gambar 4. Denah Ruang Produksi

2.2. Kondisi Manajemen Dalam bisnis yang di kelola oleh Ibu Tuti, beliau tidak menerapkan cara menghitung laba/ rugi. Ibu Tuti hanya memikirkan jika beliau menjahit dan beliau menjualkan hasil jahitan nya itu terjual maka beliau mendapatkan keuntungan, jika hasil jualan masih maka modal tidak kembali. Untuk penjualan barang-barang lain seperti spray kasur, beliau hanya mengambil keuntungan dari catalog yang ada dengan cara menaikkan harga sedikit dari harga asli. 2.3. Kondisi Status Usaha Usaha yang dibangun oleh Ibu Tuti adalah Home Industri atau usaha kecil. Usaha jahit dan menjual makanan ini mulai dirintis sejak anak-anak beliau masih kecil atau dimulai sejak zaman dahulu. Usaha ini disebut wiraswasta atau bekerja sendiri dan dibawah pimpinan pemiliknya sendiri. Melalui usaha ini Ibu Tuti dapat memenuhi segala kebutuhan hidup dan keluarga. 2.4. Kondisi Teknologi Dalam proses penjahitan ini, Ibu Tuti menggunakan alat-alat yang sangat sederhana bisa dikatakan tidak menggunakan alat-alat teknologi modern. Alat-alat yang digunakan : Mesin Jahit : Alat utama yang digunakan dalam proses menjahit

Jarum Jahit proses menjahit Gunting Penggaris Pensil Meteran akan digunakan.

: untuk menyambungkan benang dalam

: untuk memotong kain,busa, dan benang. : untuk mengukur panjang dan lebar kain. : untuk member tanda pada jahitan. : untuk mengukur panjangnya kain yang

2.5. Kondisi Operasionalisasi Usaha Bahan baku yang digunakan dalam proses penjahitan ini mudah didapatkan

karena bahan - bahan yang digunakan bersifat umum. Selain itu harganya pun terjangkau. Berikut ini adalah daftar harga bahan baku yang digunakan dalam pembuatan tutup kulkas untuk satu kali produksi : Bahan Kain Model Jumlah 1,5 m Harga (Rp) 15.000 Keterangan Untuk 1 kali produksi Benang 1 gulung 1.000 Untuk 1 kali produksi Busa 1m 9.000 Untuk 1 kali produksi Resleting 2 buah 1000 Untuk 1 kali produksi Total 26.000

Dari daftar harga bahan baku diatas diketahui bahwa untuk satu kali produksi pembuatan tutup kulkas dibutuhkan modal awal sebesar Rp 26.000,00 dengan tambahan biaya transport dalam pembelian bahan sekitar Rp 6.500,00. Tutup kulkas hasil jahitan ibu Tuti ini dijual dengan harga Rp.45.000. Jadi laba yang diperoleh Ibu Tuti per hari sebesar Rp.12.500,00 dalam 1 produk hasil jahitan tutup kulkas Ibu Tuti.

Di bawah ini adalah langkah-langkah pembuatan es dawet ayu : 1. Mengukur kain, kemudian dipotong sesuai pesanan. 2. Mengukur busa sesuai ukuran kain. 3. Mempersiapkan mesin jahit dengan memasang benang di mesin jahit. 4. Menutupi busa dengan kain seolah menempel menggunakan jarum pentul. 5. Kain dan busa kemudian dijahit menjadi satu membentuk silang atau bisa disesuaikan dengan pesanan. 6. Setelah kain dan busa selesai dijahit, bagian pinggiran yang belum raoi kemudian dijahit dengan kain hitam hingga rapi.

BAB III ANALISIS SWOT

SWOT adalah singkatan dari kata-kata Strength (kekuatan perusahaan) Weaknesses (kelemahan perusahaan), Opportunities (peluang bisnis) dan Threats (hambatan untuk mencapai tujuan). Analisis SWOT adalah analisis yang terdiri dari analisis lingkungan mikro yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan, dan analisis lingkungan makro yang bertujuan untuk mengetahui peluang dan ancaman bagi perusahaan. Menurut Kotler (2008 : 88) mengemukakan bahwa : Analisis SWOT adalah evaluasi terhadap keseluruhan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. 3.1.Analisis SWOT dari sisi Pengusaha 3.1.1. Strengths Bidang Menjahit Ibu Tuti ini merupakan satu-satunya yang ada di daerah perumahan dan menurut penduduk/tetangga hasil jahitan Ibu Tuti cukup rapih dan bagus . 3.1.2. Weaknesses 1. Tidak adanya pesanan secara menetap 2. Modal usaha masih terbatas 3. Memiliki segmen pasar yang terlalu sempit 3.1.3. Opportunities 1. Akan lebih mudah dikenal oleh masyarakat luar bila jasa jahit dan produk lanjutan jahitan Ibu Tuti dipasarkan secara online 2. Dapat memberikan variasi hasil jahitan

3.1.4. Threats 1. Pesaing baru akan bermunculan apabila usaha hasil produksi jahitan Ibu Titi telah tersebar luas 2. Banyak pembeli yang memesan dan membayarnya terkadang beberapa hari setelah menerima barang.

3.2.Analisis SWOT dari sisi Produk 3.2.1. Strengths 1. Belum adanya pesaing dari bidang menjahit di daerah

Kelurahan Meteseh 2. Harga bahan baku murah karena didapat langsung dari pusat 3.2.2. Weaknesses 1. Kurang efektif dan efisien karena proses produksi dilakukan jika ada pesanan saja 2. Alat produksi yang digunakan masih terbilang sederhana dan manual 3.2.3. Oppurtunities 1. Dapat dilakukan perluasan pada daerah pemasaran

3.2.4. Threats 1. Harga barang baku yang kurang stabil di masa kini 2. Adanya pembeli yang berhutang membuat perjalanan modal menjadi terhambat

BAB IV PERENCANAAN PROGRAM DAN PELAKSANAANNYA

1.1. Deskripsi Program 1.1.1. Program Utama Program utama yang kami rencanakan dalam mengembangkan usaha olahan produk jahit ini adalah inovasi produk baru. Dimana kami akan memberikan jenis jahitan dengan inovasi baru Tentunya program penambahan inovasi baru seperti pembuatan celana modern ataupun seragam sekolah sehingga multifungsi untuk produk jahitan dari Ibu Tuti. Dari hal ini tidak mustahil produk jahitan Ibu Tuti akan berkembang dalam hal-hal produk jahitan yang tentunya disertai oleh model dan alat jahit tambahan. Tentunya program utama ini dubutuhkan mesin baru untuk pengembangan produk ibu Tuti.

Penanggungjawab : Tim Kelompok KKU 12

1.1.2. Program Pendukung 1.1.2.1. Pengadaan Peralatan Dalam pengembangan usaha dan inovasi baru tentunya diperlukan banyak modal seperti misalnya modal untuk bahan baku,maupun peralatan. Oleh karena modal bahan baku sudah ada maka kami merencanakan melakukan pengadaan peralatan untuk alat jahit baru yang lebih modern untuk mendukung inovasi baru ini, hal ini sebagai modal untuk peralatan menjahit. Pengadaan peralatan yang kami rencanakan meliputi alat jahit baru dan bahan baku lainnya.

Koordinator Program : Arief Budi Dharmawan (11.70.0012)

1.1.2.2. Pemberian Spanduk atau MMT

10

11

Pemberian Spanduk atau MMT diperlukan untuk memperluas pemasaram sehingga lebih banyak masyarakat yang tahu dan lebih mengenal jasa menjahit. Dengan adanya pemberian sapanduk atau MMT ini juga dapat membantu memudahkan pemesanan atau order sehingga dari segi ekonomi dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

Koordinator Program : Ezio Ano Dillan (10.13.0118)

1.1.2.3. Perbaikan Peralatan Produksi Perbaikan perlatan produksi penting dilakukan dikarenakan pemakaian peralatan produksi ini rutin digunakan dalam proses menjahit sehingga apabila peralatan yang digunakan tidak digunakan dan dirawat dengan baik nantinya akan menentukan kualitas hasil jahitan. Oleh karena itu, kami merencanakan melakukan perbaikan peralatan produksi yang meliputi benang jahit dan alat pendukung lainnya.

Koordinator Program : Maria Indie (11.40.0135)

1.1.2.4. Pengadaan Pembukuan Sederhana Pengadaan pembukuan sederhana tidak kalah penting untuk dilakukan. Hal ini dapat dilakukan untuk membantu memaksimalkan pendapatan yang diperoleh dan mengetahui pemasukan dan pengeluaran sehingga dapat dikontrol. Pengadaan pembukuan sederhana meliputi penyiapan buku dan membimbing langkah penulisan dalam pembukuan.

Koordinator : Retno Sri W (11.60.0155)

1.1.2.5. Manajemen Pengendalian Harga Manajemen pengendalian harga dapat dilakukan agar hasil penjualan ataupun keuntungan yang diperoleh konsisten. Manajemen pengendalian harga yang dilakukan meliputi penyetaraan harga untuk hasil jahitan yang dijual agar dapat bersaing di pasaran.

12

Koordinator : Stevalia Nugraheni (11.30.0167)

1.2. Jadwal Rencana Pelaksanaan Program Tabel 2 . Jadwal Rencana Pelaksanaan Program NO PROGRAM 1. UTAMA Inovasi Baru TAHAPAN Meminta saran dari pelaku usaha Meminta persetujuan pada pelaku usaha 2. PENDUKUNG Pengadaan Peralatan Melakukan survey harga peralatan Membeli peralatan yang sesuai 3. PENDUKUNG Melakukan survey harga Pemberian Spanduk atau MMT 4. PENDUKUNG Melakukan pendataan Perbaikan Peralatan Produksi peralatan Melakukan survey harga Membeli peralatan yang sesuai Memberikan informasi mengenai penggunaan. 4. PENDUKUNG Menyiapkan buku Pengadaan Pembukuan Sederhana 5. Membimbing langkah langkah penulisan dalam buku Minggu Minggu kedua bulan Mei Antara pemasukan dan pengeluaran dapat tertata lebih rapi Penghasilan yang Minggu keempat bulan April Melakukan pemasangan spanduk atau MMT Minggu ketiga bulan April Produk yang dipasarkan laku dan banyak dikenal orang Meningkatkan proses produksi Minggu ketiga bulan April Penjualan dapat berjalan lancar WAKTU Minggu kedua bulan April TARGET Dapat membantu dan menambah pendapatan

PENDUKUNG Meminta persetujuan

13

Manajemen Pengendalian Harga

kepada pelaku usaha Melakukan evaluasi secara berkala

kedua bulan Mei

didapatkan konsisten

BAB V DAFTAR PUSTAKA


Kotler, P dan Keller,K.L. 2007. Manajemen Pemasaran Edisi 12. Jakarta : Indeks

14

BAB VI LAMPIRAN

Lampiran 1. Proses Menjahit Gambar5 .Proses Pengukuran Kain (1)

Gambar6 .Proses Pengkuran Kain Pelapis

Gambar 7.Proses Jahit - Menjahit

15

16

Gambar 8.Barang Jadi ( Penutup Kulkas)