Anda di halaman 1dari 10

134 DIMENSI SOSIAL, EKONOMI, DAN LINGKUNGAN PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN PADA TAMAN WISATA ALAM GILI

MATRA, KABUPATEN LOMBOK BARAT SOCIAL, ECONOMIC AND ENVIRONMENTAL DIMENSION OF RESOURCES AND ENVIRONMENT USAGE IN THE NATURE TOURISM PARK GILI MATRA, WEST LOMBOK REGENCY Addinul Yakin Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram E-mail: deo2yakin@yahoo.com ABSTRAK Interaksi antara ekonomi dan lingkungan melalui kelembagaan adalah penting sekali dalam membangun institusi ekonomi oleh pemerintah atau badan-badan yang bertanggungjawab lainnya yang secara implisit mengarahkan prilakunya dalam kaitannya dengan penggunaan sumberdaya. Dalam hal ini, dimensi sosial ekonomi masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya sangat penting dalam merumuskan kebijakan lingkungan yang sesuai. Kawasan Taman Wisata Alam Laut Gili Matra (TWALGM) telah menjadi sumber utama penghasilan masyarakat baik nelayan maupun pelaku ekonomi pariwisata. Dengan menggunakan jumlah biaya perjalanan wisatawan selama tinggal di Pulau Lombok yaitu sebesar Rp.345 866 per kapita, maka dengan total kunjungan wisatawan ke kawasan Gili Indah sebanyak 85140 orang maka potensial nilai ekonomi pariwisata dari kawasan TWALGM mencapai Rp. 29.447.031.240,- per tahun. Namun demikian, aktivitas sosial ekonomi pada kawasan ini juga telah menimbulkan kekhawatirkan adanya dampak sosial seperti kesusilaan, keamanan, dan perubahan gaya hidup masih terjadi. Selain itu aktivitas ekonomi tersebut juga telah menyebabkan degradasi lingkungan ekosistem terumbu karang dan kondisi pantai. Ini memberikan implikasi bahwa pengelolaan lingkungan yang lebih baik serta mengurangi dampak sosial yang terjadi bisa menarik lebih banyak wisatawan and menciptakan lebih banyak benefit sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan. Oleh karena itu perlu dikembangkan strategi konservasi dan program perlindungan lingkungan termasuk kemungkinan penerapan biaya masuk lingkungan ke kawasan sebagai salah satu metode untuk menghasiulkan dana yang memadai untuk membiayai program-program konservasi. ABSTRACT Interaction between economy and environment through institutions is pivotal in developing economic institutions either by government or other responsible agencies implicitly direct their behaviours in using natural resources. In this relation, social economic characteristics of communities relating to resource use are important in formulating appropriate environmental policies. TWALGM area has been the main source of employment and incomes of the local people and the region. By using travel cost per capita spent by tourists on Lombok Island of Rp.345 866 with total visitors of 85140 people per year, the potensial benefit generated from tourism activities in the area is up to Rp. 29.447.031.240,- per year. However, social economic activities on this area have creates some doubts of social impacts on ethical and religious values, security, and changes in lifestyle. They also have created environmental degradation on coralreefs ecosystem and coastal areas. This implies that better environmental management of the area may attract more tourists and create more social-economic benefits for the people in the area. Thus, it needs some kinds of conservation strategies and environmental protection programs to mitigate those problems, such as environmental entry fee program to the area as a means of generating considerable amount of money to finance conservation programs. ______________________ Kata kunci: Ekosistem terumbu karang, interaksi ekonomi, kebijakan lingkungan, valuasi lingkungan, keinginan membayar, biaya masuk lingkungan Keywords: coral reef ecosystems, environmental policy, environmental valuation, willingness to pay, environmental entry fee

Addinul Yakin:Dimensi Sosial

135

PENDAHULUAN Latar belakang Indonesia memiliki terumbu karang (coral reefs) yang paling kaya keragaman biologisnya di dunia serta mencakup 60 persen spesies terumbu karang keras dunia (World Bank, 2003) sehingga merupakan salah satu kekayaan alam terbesar Indonesia. Terumbu karang juga memiliki fungsi ekosistem yang penting yang menyediakan barang dan jasa yang penting bagi ummat manusia sekaligus menjadi daya tarik wisata, selain nilai pendidikan dan ilmu pengetahuan (Cesar, 2002). Selain itu ekosistem terumbu karang memainkan peran multifungsi sebagai purifikasi hara, penyediaan habitat untuk ikan dan burung-burung yang bermigrasi, serta untuk kontrol erosi. Sampai saat ini, serangkaian ancaman seperti pengeboman ikan (blast fishing), sedimentasi dan polusi, penangkapan berlebihan, dan pembangunan pariwisata telah merusak kondisi terumbu karang dan ekosistemnya (Cesar, 1996; Soede, dkk., 1999). Satu survey 1998 menemukan bahwa kondisi terumbu karang di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan, di mana hanya 5,3 % sangat baik (tutupan terumbu karang, 76-100 %); 21.7 % baik (51-75 %); 33,5 % cukup baik (26-50 %); dan 39,5 % jelek (0-25 %) (World Bank, 2003). Mengingat nilai ekonomi, budaya, sosial, ekologis terumbu karang yang tinggi (Pendleton, 1995) pada satu sisi dan tingkat degradasi yang semakin parah pada sisi lain maka pengelolaan terumbu karang berkelanjutan telah menjadi perhatian kontemporer (Bunce and Gustavson, 1998). Pulau Lombok memiliki sumberdaya terumbu karang yang sangat kaya. Salah satu lokasi yang sangat populer sebagai obyek wisata adalah Kawasan Gili Indah yang terdiri dari Gili Air, Gili Terawangan, dan Gili Meno yang masuk wilayah Kabupaten Lombok Barat. Oleh Menteri kehutanan dengan Surat keputusan nomor 85 tahun 1993, kawasan ini telah ditetapkan sebagai salah satu Taman Nasional dengan luas 2,954 hektar, yang dikenal dengan Taman Wisata Alam Gili Matra (TWAGM). Namun demikian, kegiatan pertambangan karang dan penangkapan ikan dengan bahan peledak masih berlangsung sehingga telah mengakibatkan kerusakan lingkungan terumbu karang yang signifikan, meskipun serangkaian program partisipasi masyarakat dan beberapa kebijakan telah dikeluarkan (Hidayat, 2003; 2004, Anonim, 2003).

Sejauh ini, penelitian-penelitian tentang valuasi sumberdaya terumbu karang di Asia Tenggara sangat terbatas and apapun studi valuasi tentang hal tersebut dilakukan di wilayah ini akan menerima pengakuan internasional jika dilakukan dengan baik dengan analisis yang teliti dan teknik yang memadai (Ruitenbeek, 1999). Selanjutnya Cesar melaporkan bahwa 93 persen studi di Asia Selatan dan Asia Tenggara ditujukan untuk mengestimasi nilai penggunaan langsung (direct use values) dan hanya sekitar 7 persen yang mengkaji tentang Indirect use and non-use values (Cesar, 2002), sehingga usaha untuk mengatasi konflik antara konservasi dan konversi sumberdaya pantai dan kelautan masih perlu dikembangkan. Sementara itu, kebijakan lingkungan sekarang ini lebih dititikberatkan pada pendekatan hukum dan regulasi (command control approach) yang cendrung kurang efektif pelaksanaannya karena biaya dan fasilitas yang dibutuhkan untuk penegakannya (law enforcement) cukup mahal. Apalagi dalam Rencana Strategis Pengelolaan Pesisir dan laut di propinsi Nusa Tenggara Barat oleh Bappeda Tk. I NTB (1999) belum merumuskan secara jelas tentang model pengelolaan ekosistem pesisir (terutama terumbu karang dan mangrove). Lebih lanjut, adanya kepentingan ekonomi komunitas lokal dan nasional pada satu sisi dan semakin mengkhawatirkannya tingkat kerusakan sumberdaya dan lingkungan yang terjadi merupakan bukti bahwa pilihan-pilihan kebijakan lingkungan dan model pengelolaan sumberdaya pantai dan kelautan berkelanjutan menjadi sangat penting untuk diidentifikasi dan dirumuskan. Sementara itu, interaksi antara ekonomi dan lingkungan melalui kelembagaan adalah penting sekali terhadap ekonomi sumberdaya dan lingkungan, dalam pendirian institusi ekonomi, pemerintah atau badan-badan yang bertanggungjawab lainnya secara implisit mengarahkan prilakunya dalam kaitan dengan penggunaan sumberdaya. Oleh karena itu, apapun diskusi tentang pembangunan berkelanjutan dan konservasi modal alam harus menyediakan perlakuan yang eksplisit dari institusi ekonomi dan peranannya dalam menciptakan insentif yang perlu untuk mencapai tujuan tersebut (Veeman dan Politylo, 2003). Oleh karena itu, karakteristik sosial ekonomi masyarakat dalam kaitannya dengan penggunaan sumberdaya sangat penting dalam merumuskan kebijakan lingkungan. Oleh karena itu, paper ini mendiskusikan dan menganalisis aspek-aspek sosial

Agroteksos Vol.17 No.2 Agustus 2007

136 ekonomi, lingkungan dan kebijakan terhadap keberadaan kawasan Gili Indah sehingga mendapatkan potret yang utuh untuk perencanaan arah kebijakan pengelolaan kawasan berkelanjutan ke depan. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik sosial ekonomi, dan lingkungan bagi pengelolaan sumberdaya terumbu karang berkelanjutan di TWAGM. Untuk itu penelitian melakukan (1) identifikasi jenis pekerjaan dan pendapatan keluarga masyarakat Gili Indah; (2) identifikasi tentang interaksi ekonomi masyarakat dengan kawasan TWALGM; (3) identifikasi tentang persepsi masyarakat terhadap perubahan beberapa atribut sosial, ekonomi, dan lingkungan kawasan TWALGM terutama berkaitan dengan kualitas lingkungan terumbu karang, kondisi perikanan, dan potensi wisata (4) Faktor-faktor penentu dalam pengembangan pariwisata di kawasan TWALGM Manfaat penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang keberadaan TWAGM serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat serta interaksinya dengan kawasan sebagai data dasar dalam penelitian lebih lanjut tentang valuasi lingkungan kawasan dan formulasi pola pengelolaan berkelanjutan ke depan. METODE PENELITIAN Studi ini telah dilaksanakan di Kawasan Gili Indah yang terdiri dari: Gili Terawangan, Gili Meno, dan Gili Air di kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif dengan teknik survey. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan 3(tiga) cara yaitu (1) interview baik secara semi-struktur terhadap responden dan interview mendalam (in-depth interview) terhadap informan kunci (key informan) dibantu dengan daftar pertanyaan (questionnaire); (2) data sekunder dari penelitian terdahulu serta data dan laporan dari lembaga penelitian dan instansi terkait dengan substansi penelitian dan (3) Focus Group Discussion (FGD). Total responden yang terlibat dalam survey dalam untuk interview dan FGD ditentukan secara Kuota sebanyak 90 orang yang terdiri dari 60 orang dari Desa Gili Indah dan 30 orang yang berasal dari luar Gili (daratan) yaitu Desa Malaka dan Desa Pemenang Barat yang berbatasan langsung dengan Kawasan Gili Indah (akses penyebrangan). Komposisi responden terdiri dari 28 orang nelayan/petani, 10 Pegawai negeri/honor; 11 orang tokoh masyarakat; 21 orang pelaku bisnis pariwisata; Pemuda 9 orang dan 11 orang wanita. Data dan informasi baik kualitatif dan kuantitatif yang telah dikumpulkan meliputi (1) jenis pekerjaan dan pendapatan keluarga masyarakat Gili Indah; (2) Interaksi Ekonomi Masyarakat dengan Kawasan TWALGM; (3) persepsi masyarakat terhadap perubahan beberapa atribut sosial, ekonomi, dan lingkungan kawasan TWALGM terutama berkaitan dengan kualitas lingkungan terumbu karang, kondisi perikanan, dan potensi wisata (4) Faktor-faktor penentu dalam pengembangan pariwisata di kawasan TWALGM. Selanjutnya data dan informasi tersebut dianalisa dengan tabulasi sederhana serta uraian secara deskriptif sehingga memberikan gambaran lengkap tentang potret kawasan Gili Indah serta mengkaitkannya dengan urgensi valuasi lingkungan serta perlu pengaturan kelembagaan dan pola pengelolaan kawasan Gili Indah berkelanjutan ke depan. HASIL DAN PEMBAHASAN Jenis Pekerjaan dan Pendapatan Keluarga Hasil survey menunjukkan bahwa profesi nelayan dan bekerja pada sektor pariwisata merupakan sumber penghasilan sebagian besar masyarakat sekitar Kawasan Gili Indah. Kalau dilihat dari segi pendapatan rata-rata berdasarkan jenis pekerjaan, data pada tabel 15 juga menunjukkan bahwa pekerjaan pada bidang perhotelan dan restoran, pramuwisata/guide, pedagang dan usaha angkutan baik ojek, cidomo, maupun perahu motor. Sementara itu mereka yang memiliki pekerjaan sampingan adalah relatif kecil yaitu hanya sebesar 10 persen. Selanjutnya, peran Ibu rumahtangga dan wanita tidak kalah pentingnya dalam keluarga termasuk dalam kontribusinya terhadap ekonomi keluarga. Hasil survei terhadap jenis pekerjaan ibu rumahtangga dan wanita menunjukkan bahwa tingkat partisipasi wanita pada pekerjaan atau mencari nafkah keluarga adalah relatif kecil atau 18 persen, sedangkan sisanya (82 persen) hanya bekerja sebagai ibu rumahtangga. Jenisjenis pekerjaan di mana mereka terlibat adalah berdagang, pegawai cafe/restoran/hotel, berkebun dan tukang masak. Ke depan perlu ada program yang jelas bagi pemberdayaan perempuan melalui pendidikan dan latihan terutama yang terkait dengan pengembangan pariwisata di kawasan Gili Indah sehingga keberadaannya memberikan manfaat bagi wanita dan masyarakat secara keseluruhan.

Addinul Yakin:Dimensi Sosial

137 Tabel 1. Komposisi Jenis Pekerjaan baik Utama maupun Sampingan Kepala Rumahtangga (Responden) di Kawasan Gili Indah dan Sekitarnya, 2007 Jenis Pekerjaan Pekerjaan Utama 1.1 Nelayan/petani 1.2 PNS dan honorer 1.3 Angkutan Cidomo/ojek 1.4 Pegawai pada hotel/restoran 1.5 Pramuwisata 1.6 Pedagang Jumlah Pekerjaan sampingan 2.1 Pramuwisata 2.2 Pegawai honor 2.3 Angkutan 2.4 Penyewaan alat selam Jumlah Sumber: Data Primer Jumlah (orang) 28 14 10 20 4 14 90 2 1 1 5 9 Persentase (%) 32 16 11 22 5 16 100 22 11 11 56 100 Rata-Rata Pendapatan per bulan (Rp) 501.724 642.857 756.364 1.195.000 1.175.000 1.017.857 991.370 1.300.000 280.000 1.040.000 866.667 871.667

No 1

Interaksi Ekonomi Masyarakat dengan Kawasan TWALGM Keberadaan Kawasan Gili Indah memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar baik dalam pemanfaatan sumberdaya perairan maupun kegiatan yang terkait dengan bisnis pariwisata. Bagaimana ragam keterlibatan responden dalam interaksinya dengan keberadaan kawasan Wisata Gili Indah atau Gili Matra khususnya dalam aktivitas ekonomi bagi kehidupan mereka disajikan pada Tabel 2. Ditinjau dari interaksi masyarakat Gili Indah dan sekitarnya dengan Kawasan Taman Wisata Laut terumbu karang, data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa rangking tertinggi adalah menangkap ikan dan sejenisnya diikuti oleh bisnis pariwisata. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masyarakat lokal Gili adalah berprofesi sebagai nelayan dan kawasan ini kaya akan sumberdaya ikan. Selanjutnya, semenjak kawasan ini menjadi Taman Wisata Alam laut maka perkembangan pariwisata meningkat dengan semakin banyak wisatawan asing maupun wisatawan mancanegara yang berkunjung di kawasan ini, sehingga memberikan dampak terhadap lapangan pekerjaan dari bisnis pariwisata seperti hotel dan restoran, angkutan wisata (cidomo dan perahu motor), perdagangan (souvenir dan kebutuhan pokok) serta aktivitas lain yang menyertainya. Dengan kata lain, pengembangan pariwisata telah memberikan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha yang meningkat bagi masyarakat di sekitar kawasan.

Dampak Ekonomi keberadaan TWALGM Pemerintah Indonesia telah menempatkan sektor pariwisata ini sebagai sektor pembangunan dengan skala prioritas yang strategis. Dukungan sumberdaya alam serta keragaman seni dan budaya merupakan modal dasar bagi pengembangannya (Spillane, 1989). Pertumbuhan pariwisata yang tinggi akan memberikan dampak berganda (multiplier effects) terhadap pembangunan sektor terkait dalam perekonomian daerah dan nasional (Mathison and Wall, 1993; Bull, 1995). Sementara itu Pulau Lombok telah berkembang menjadi salah satu daerah tujuan wisata nasional (national tourist destination) yang diminati oleh wisatawan mancanegara dan nusantara, dan TWALGM merupakan salah satu tujuan wisata favorit. Berdasarkan data BPS (2005), kontribusi sektor-sektor yang terkait dengan pariwisata ini terhadap ekonomi kecamatan Pemenang dimana kawasan TWALGM berada relatif tinggi yaitu mencapai 48,33%. Oleh karena itu, keberadaan kawasan ini telah berdampak positif terhadap perekonomian daerah. Sebagai daerah obyek wisata, ketersediaan sarana perdagangan dan pariwisata di kawasan TWALGM ini adalah sangat tinggi, yaitu dari 107 hotel/penginapan yang ada di kecamatan Pemenang, 104 di antaranya berlokasi di desa Gili Indah. Berbagai jenis hotel yang ada memiliki tarif bervariasi yaitu dari Rp. 50.000 per malam sampai Rp. 5 juta per malam tergantung dari kondisi dan fasilitas yang tersedia.

Agroteksos Vol.17 No.2 Agustus 2007

138 Tabel 2. Interaksi Ekonomi Masyarakat dengan Kawasan Gili Indah, 2007 Jumlah (orang) 63 0 21 20 52 2 Rangking 1 6 3 4 2 5

No Jenis Interaksi 1 Menangkap ikan 2 Mengambil karang/hasil laut lainnya 3 Menjadi pramuwisata 4 Kerja di hotel/restoran 5 Bergelut dalam bisnis pariwisata 6 Terlibat dalam LSM Sumber: Data Primer Selain itu, rumah makan dan restoran di wilayah ini sudah menyediakan menu makanan dan minuman Barat dan local. Fasilitas lain yang tersedia adalah rental kaset, VCD/DVD serta took-toko souvenier. Terdapat juga fasilitas internet yang bisa digunakan oleh wisatawan untuk berkomunikasi dengan dunia luar (maya). Selain itu terdapat bisnis di bidang jasa snorkeling dan diving, yaitu yang dikelola oleh dream divers dan Blue Marlien Dive, yang kesemuanya menambah daya tarik kawasan ini. Aksesibilitas ke kecamatan Pemenang dan kawasan TWAGM relatif bagus. Dari Kota Mataram dapat diakses dengan kendaraan Umum dan Pribadi dengan kondisi Jalan hotmix yang bagus. Ada dua jalur untuk menuju kecamatan Pemenang dan Gili Indah. Pertama, melalui jalur Rembiga Gunung Sari dan melalui Pusuk. Jalur Kedua adalah melalui Ampenan dan Senggigi Kecamatan Batu Layar. Sementara itu aksesibilitas ke kawasan TWAGM dapat dilalui pada dua jalur dengan menggunakan perahu motor dan boat. Jalur pertama yaitu melalui Pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang , Kabupaten Lombok Barat. Untuk boat publik, dengan jumlah penumpang sebanyak 20-22 orang, tarif penumpang ke ketiga Gili sedikit bervariasi. Untuk menuju Gili Terawangan ongkosnya sebesar Rp. 8.000,- per orang, Gili Meno Rp. 7.500,- dank e Gili Air Rp. 7000,-. Namun demikian, perahu bermotor bisa dicharter baik pergi saja atau pulang pergi. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ketiga tempat tersebut bervariasi sekitar 35 - 50 menit tergantung cuaca dan kondisi gelombang. Boat publik ini beroperasi antara jam 08 pagi sampai dengan jam 16.00 sore. Frekwensi penyebrangan ke tiga gili tersebut tergantung dari banyaknya wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung. Frekwensi penyebrangan per hari berkisar antara 2-5 kali. Pada musim-musim ramai pengunjung yaitu bulan-bulan Juli dan Agustus biasanya frekwensi penyebrangan sangat tinggi dan semua fasilitas di Gili Indah terisi penuh. Jalur kedua bisa ditempuh dari jalur

senggigi dengan mencarter boat dengan biaya sekitar Rp. 300.000,-. Aturan mengenai sarana trasportasi yang boleh dioperasikan di Gili adalah bahwa kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dilarang beroperasi di kawasan Gili, sehingga sarana transportasi yang tersedia adalah hanya cidomo dan sepeda. Selain untuk memberikan peluang usaha bagi penduduk setempat, kebijakan ini dilakukan untuk menghindari polusi kendaraan bermotor dan melestarikan budaya setempat. Bagi yang ingin menaiki cidomo untuk mengitari wilayah luar dari Gili Terawangan misalnya, pengunjung bisa menyewa sekali puturan dengan biaya antara Rp. 35.000,- sampai Rp. 50.000,- tergantung tawarmenawar dan kondisi kunjungan. Pada saat kunjungan yang sangat padat, biayanya tidak bisa kurang dari Rp. 50.000,- per satu kali keliling. Pendapatan kotor mereka dari usaha angkutan cidomo cukup lumayan tinggi yaitu berkisar antara Rp. 100.000 sampai dengan Rp. 300.000 per hari. Ada yang menarik dari operasi cidomo ini yaitu 1 cidomo hanya boleh menaikkan penumpang maksimum sebanyak 3(tiga) orang. Jika penumpangnya lebih, maka kusir atau pemilik cidomo akan dikenakan denda sebesar Rp. 100.000,- dan tidak boleh beroperasi selama 1 minggu. Selain itu, pengunjung atau wisatawan di Gili Terawangan bisa menyewa sepeda dengan biaya sekitar Rp. 25.000,- per hari yang bisa digunakan untuk menikmati pemandangan sekitar kawasan Gili Indah. Besarnya nilai ekonomi pariwisata kawasan TWALGM sangat ditentukan oleh jumlah turis yang datang baik turis domestik maupun mancanegara, lama tinggal, jenis hotel dan akomodasi yang dipilih, jenis transportasi, dan konsumsi lainnya. Data BPS (2005) menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan ke kawasan ini cukup tinggi yaitu mencapai 85140 orang yaitu terdiri dari wisatawan mancanegara (ASEAN, Asia, Eropah, Amerika, Oceania, dan Afrika) sebanyak 69477 orang (81,60%) dan sisanya sebanyak 15.663 orang (18,40 %) merupakan wisatawan domestik. Semua wisatawan asing

Addinul Yakin:Dimensi Sosial

139 menginap di kawasan Gili Indah. Dengan menggunakan biaya perjalanan per kapita dari hasil kajian WWW (2001) oleh wisatawan (mancanegara dan domestic) selama tinggal di Pulau Lombok adalah sebesar Rp. 345 860, maka potensial nilai ekonomi pariwisata di kawasan TWALGM mencapai Rp. 29.447.031.240,- per tahun. Dalam hal ini, jika pemerintah menetapkan tiket masuk (entry fee) bagi setiap pengunjung ke kawasan TWALGM maka menghasilkan dana yang signifikan bagi pelestarian sumberdaya perairan laut dan pesisir di kawasan TWALGM tersebut. Hal itu sejalan dengan persepsi dan pendapatan masyarakat ketika ditanya apakah kehadiran pariwisata di kawasan tersebut memberikan dampak postif terhadap peningkatan pendapatan dan kesempatan kerja di kawasan Gili Indah. Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (67 %) menyatakan bahwa kehadiran pariwisata memberikan dampak positif terhadap kesempatan kerja mereka dan ini sejalan dengan pendapat mereka bahwa sebagian besar diantara mereka (69 persen) mengalami kenaikan pendapatan akibat dari perkembangan pariwisata di kawasan itu baik dari usaha yang telah ada maupun dari sumber pendapatan baru. Namun demikian, kehadiran pengembangan pariwisata di kawasan TWALGM juga memberikan dampak sosial bagi masyarakat seperti yang disajikan pada Tabel 5. Masalah sosial yang cukup menonjol adalah masalah kesusilaan. Ini bisa dipahami bahwa budaya wisatawan asing yang berpakaian yang tidak pantas serta budaya pergaulan yang tidak sesuai dengan budaya masyarakat lokal. Masalah keamanan dan kriminal juga sering terjadi khususnya di Gili Indah sehingga sering mengurangi kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Masalah sosial lain yang muncul adalah kecemburuan sosial karena perbedaan pendapatan dan kesempatan kerja serta perubahan gaya hidup sebagian masyarakat setelah berinteraksi dengan wisatawan asing. Dampak Sosial Keberadaan TWAGM Keberadaan TWAGM tidak hanya memberikan dampak sosial ekonomi yang positif bagi masyarakat tapi juga telah menimbulkan dampak sosial yang tidak kondusif bagi masyarakat setempat sebagai konsekuensi dari interaksi sosial ekonomi dan budaya di kawasan tersebut. Hasil identifikasi terhadap persepsi masyarakat terhadap dampak sosial dari kegiatan parisiwata di kawasan tersebut disajikan pada Tabel 4. Keamanan kawasan TWALGM cukup rawan, beberapa kasus gangguan keamanan yang sangat menonjol adalah penangkapan ikan dengan bom dan potassium. Sebelumnya, pengamanan kawasan dilakukan oleh Polisi dan Angkatan Laut, namun kedua institusi itu tidak dapat menekan gangguan keamanan kawasan, bahkan tindak pidana penangkapan ikan dapat terjadi 9 sampai 12 kali setiap harinya.

Tabel 3.

Pendapat Responden tentang Dampak Perkembangan Pariwisata di Kawasan terhadap kesempatan kerja dan Pendapatan Penduduk, 2007 Dampak terhadap Pendapatan 1.1. Meningkat 1.2. Sama saja 1.3. Berkurang Jumlah Kesempatan kerja 2.1. Meningkat 2.2. Sama saja 1.2. Berkurang Jumlah Jumlah (orang) 62 23 5 90 60 25 6 90

Gili Indah

No 1

Persentase (%) 69 26 5 100 67 28 5 100

Sumber: Data Primer

Agroteksos Vol.17 No.2 Agustus 2007

140

Tabel 4.

Pendapat masyarakat masalah sosial sebagai Dampak dari perkembangan pariwisata di kawasan Gili Indah Masalah Sosial Keamanan Kriminal Susila Konflik sosial/kecemburuan Gaya Hidup Jumlah (orang) 30 29 77 16 19 Ranking 2 3 1 5 4

No 1 2 3 4 5

Sumber: Data Primer

Dampak keberadaan TWAGM terhadap Perubahan beberapa Atribut Sosial Ekonomi dan Lingkungan Selama kawasan TWALGM menjadi obyek wisata telah terjadi banyak perubahan baik positif maupun negatif sebagai akibat dari interaksi sosial ekonomi dan budaya masyarakat dengan sumberdaya alam dan fisik kawasan. Responden diajukan pertanyaan tentang perubahan tersebut dengan membandingkan kondisi sekarang dengan kondisi sekitar 15 tahun yang lalu. Hasil identifikasi tentang pendapat masyarakat sekitar kawasan terhadap beberapa kondisi atribut sosial ekonomi dan lingkungan kawasan disajikan pada Tabel 5. Ditinjau dari ragam atribut sosial ekonomi dan lingkungan terkait dengan kawasan Gili Indah menunjukkan ada beberapa temuan yang menarik. Bahwa keberadaan TWAGM memberikan dampak perubahan yang beragam, baik positif, negatif, dan sama saja (tidak berpengaruh). Dari aspek lingkungan telah terjadi perubahan yang negatif dalam 10-15 tahun belakangan ini yaitu kondisi ekosistem terumbu karang dan kondisi pantai yang menurut sebagian besar masyarakat mengalami degradasi. Hal ini disebabkan karena aktivitas pengeboman ikan pada kawasan terumbu karang dan semakin banyak wisatawan yang berkunjung. Kemudian dilihat dari aspek pariwisata, jumlah turis yang berkunjung baik domestik maupun mancanegara, menurut pendapat sebagian besar responden adalah cendrung menurun, hal ini mungkin karena adanya peristiwa kerusuhan Sara 171 dan keamanan lainnya yang menyebabkan kunjungan wisata baik domestik dan mancanegara agak menurun, walaupun sekarang ini ada tanda-tanda peningkatan kunjungan. Sementara itu pada beberapa atribut seperti kualitas air laut, jenis

dan jumlah ikan, keragaman hayati menurut sebagian besar responden berada dalam kondisi yang relatif sama dengan 10-15 tahun yang lalu. Selanjutnya, sebagian besar responden berpendapat bahwa fasilitas, sarana dan prasarana pariwisata mengalami peningkatan terutama fasilitas hotel dan restoran serta bisnis pariwisata lainnya. Faktor-Faktor Penentu Pengembangan Ekonomi Pariwisata Kawasan TWAGM Meskipun aktivitas kepariwisataan sudah cukup berkembang maka perlu dilakukan pembenahan karena masih terdapat kekurangankekurangan baik dari aspek sarana prasarana maupun fasilitas yang tersedia serta faktor lain seperti pengembangan seni budaya dan promosi. Data pada Tabel 6 menunjukkan bahwa hal-hal yang harus mendapat perhatian yang utama adalah keamanan yang menjamin kenyamanan para wisatawan yang berkunjung. Hal penting lain yang harus diperhatikan adanya upaya peningkatan promosi pariwisata baik domestik terlebih lagi internasional sehingga keberadaan kawasan sebagai obyek wisata menjadi lebih populer sehingga bisa menarik lebih banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang selanjutnya dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat lokal. Hal selanjutnya yang perlu mendapat perhatian yaitu keberadaan prasarana jalan yang masih berupa jalan tanah dan berdebu, ke depan mungkin perlu diperkeras atau di aspal sehingga lebih nyaman digunakan oleh wisatawan dan masyarakat lokal. Selain itu fasilitas pariwisata perlu terus ditingkatkan untuk memenuhi ragam kepertingan wisatawan, dan pada saat yang sama perlu pengembangan seni budaya lokal sebagai daya tarik wisata dan sumber pendapatan baru masyarakat.

Addinul Yakin:Dimensi Sosial

141

Tabel 5.

Pendapat Responden terhadap Beberapa Atribut Sosial Ekonomi dan Lingkungan Kawasan Gili Indah, 2007 Atribut yang dinilai Kondisi sekarang di bandingkan dengan 15 tahun yang lalu Lebih baik/lebih banyak Sama saja (SS) Lebih jelek/sedikit (LB) (LJ) Jumlah % Jumlah % Jumlah % (Orang) (orang) (orang) 0 0 10 11 80 89 0 0 3 13 0 0 3 65 0 0 3 14 0 0 4 72 47 64 54 18 85 88 29 25 52 71 60 20 94 98 32 28 43 26 33 59 5 2 58 0 48 29 37 66 6 2 64 0

No

1 2 3 4 5 6 7 8 9

Kondisi ekosistem terumbu karang Jumlah ikan Jenis ikan Jumlah turis lokal Jumlah turis asing Keragaman spesies tumbuhan Kualitas air Kondisi pantai Fasilitas Pariwisata

Sumber: Data Primer diolah Tabel 6. Pendapat Responden tentang hal-hal Apakah yang harus diperbaiki atau dikembangkan bagi pengembangan Pariwisata di Kawasan Gili Indah, 2007 Jumlah (orang) 14 11 38 33 53 Ranking 4 5 2 3 1

No Faktor - faktor 1 Prasarana jalan 2 Seni budaya 3 Promosi 4 Perbaikan fasilitas pariwisata 5 Keamanan Sumber: Data Primer

KESIMPULAN DAN SARAN Keberadaan kawasan TWALGM tidak hanya untuk pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan, tetapi juga dikembangkan sebagai obyek wisata dan sumber kehidupan masyarakat sehingga berdampak terhadap kondisi sosial ekonomi dan lingkungan kawasan. Profesi nelayan dan bekerja pada sektor pariwisata merupakan sumber penghasilan utama sebagian besar masyarakat sekitar Kawasan TWALGM karena pengembangan pariwisata di kawasan tersebut memberikan kesempatan usaha dan bekerja yang lebih besar bagi masyarakat. Dengan menggunakan jumlah biaya perjalanan wisatawan yang diestimasi oleh WWF (2001) selama tinggal di Pulau Lombok yaitu sebesar Rp.345 866 per kapita, maka dengan total kunjungan wisatawan ke kawasan Gili Indah sebanyak 85140 orang maka potensial nilai ekonomi pariwisata dari kawasan TWALGM

mencapai Rp. 29.447.031.240,- per tahun. Walaupun demikian, keberadaan kawasan ini sebagai tujuan wisata juga telah menimbulkan kekhawatirkan tentang dampak sosial dan budaya seperti kesusilaan, keamanan, dan perubahan gaya hidup. Aktivitas sosial ekonomi baik penangkapan ikan dan kepariwisataan pada kawasan tersebut juga telah menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan ekosistem terumbu karang dan kondisi pantai. Sementara itu jumlah wisatawan yang berkunjung cendrung menurun, walaupun fasilitas, sarana dan prasarana pariwisata mengalami peningkatan yang signifikan. Mengingat pentingnya keberadaan TWALGM baik dari aspek sosial-budaya, ekonomi, dan lingkungan, maka diperlukan upaya untuk memformulasikan kebijakan untuk menjamin bahwa pengelolaan TWALGM berkelanjutan melalui pengembangan programprogram konservasi dan perlindungan lingAgroteksos Vol.17 No.2 Agustus 2007

142 kungan. Pendekatan hukum dan sosial yang telah dilakukan selama ini, harus juga diikuti dengan pendekatan ekonomi dengan melakukan estimasi besarnya willingness to pay masyarakat untuk konservasi terumbu karang, yang kemudian bisa ditransformasikan dalam bentuk biaya masuk ke kawasan untuk pembiayaan program-program konservasi dan pengelolaan kawasan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2003. Separo kondisi terumbu karang di NTB rusak. www. lomboknews,com. Bappeda Tk I NTB, 1999. Rencana Strategis Pengelolaan Pesisir dan Laut. Mataram NTB BPS, 2005. Kecamatan Pemenang Dalam Angka 2005. Mataram. BPS, 2006. Kabupaten Lombok Barat dalam Angka 2006. Mataram. Bull, A., 1995. The Economics of Travel and Tourism. Second Edition. Melbourne: Longman Australia Pty. Ltd. Bunce, L.L. and K R Gustavson, 1998. Coral Reef Valuation: A Rapid Socio Economic Assessment of Fishing, Watersports, and Hotel Operations in the Montego Bay Marine Park, Jamaica and An Analysis of Reef Management Implications, A Working Paper as a component of Marine System Valuation: An Application to Coral Reef Systems in the developing Tropics. Paris: World Bank. Cesar, H., 1996. Economic Analysis of Indonesian Coral Reefs. Working paper series. Paris: the World Bank. Cesar, H., 2002. The Biodiversity Benefits of Coral Reef Ecosystem: Values and Markets. Paris: OECD. Clark, John R., 1988. The Role of Protected Areas in Regional Development in Lugo, et.al., Ecological Development in the Humid Tropics: Guidelines for Planners. Winrock International, Alkansas. Hidayat, A., 2003. Governance Structure in Coral Reef Management: A Report from Gili Indah Village, West Lombok Indonesia. A Working Paper presented at Resource Economic Department, Humboldt University of Berlin. Hidayat, A., 2004. Determinants of Institutional Change and Collective Action in Coral Reef Management: Evidences from Lombok, Indonesia ISTECS JOURNAL, V (2004) 113. Krutilla, J.V., dan Anthony C. Fisher, 1985. The Economics of Natural Environment: Studies in the Valuation of Commodity and Amenity Resources. Washington D.C.: Resource for the Future. Mathieson, A. and Geoffrey Wall, 1993. Tourism: Economic, Physical and Social Impacts. New York: Longman Scientific and Technical and John Wiley and sons Inc. Moberg, F. and C. Folke, 1999. Ecological Goods and Services of Coral Reef Ecosystems. Ecological Economics, 29: 215-233. Pendleton, L.H., 1995. Valuing Coral Reef Protection. Ocean and Coastal Management, 26(2): 119-131. Pethig, Rudiger (editor), 1994. Valuing the Environment: Methodological and Measurement Issues. London: Kluwer Academic Publishers. Ruitenbeek, HJ (1999), Blue pricing of undersea treasures needs and opportunities for environmental economics research on coral reef management in South East Asia. Paper presented to the 12th Biannual Workshop of the Environmental Economics Program for South East Asia, Singapore, 11-14 May. IDRC, Singapore. Soede, C-Pet, H.S.J.Cesar, and J.S. Pet, 1999. An Economic Analysis of Blast Fishing in Indonesian Coral Reefs, Environmental Conservation 26(2): 83-93. Spash, C.L., 2002. Informing and forming preferences in environmental valuation: Coral reef biodiversity. Journal of Economic Psychology, 23(5): 665-687 Spillane, J. J., 1989. Ekonomi Pariwisata: Sejarah dan prospeknya. Penerbit Kanisius. Jakarta. Indonesia. Sterner, T., 2003. Policy Instruments for Environmental and Natural Resource Management. New York: Resource for the Future. Tietenberg, T., 1990. Environmental and Natural Resource Economics. New York: Harper Collins Publishers Inc. World Bank, 2003. Indonesia Environmental Monitor 2003: Special Focus on Reducing

Addinul Yakin:Dimensi Sosial

143 Pollution. Jakarta: World Bank Indonesia Office. WWF, 2001. Laporan Studi Valuasi Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Pulau Lombok, NTB. Yakin, A., 2004. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan: Teori dan Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Akademika Pressindo. Yakin, A., 2005. Community Involvement and Environmental Management of Rinjani National Park, Lombok Island in Mitsuda and Sayuti (editors), Sustainable Lombok: The Rich Nature and Rich People in the 21st Century. Mataram: Universitas Mataram Press: 93-120. Yap, H.T., 2001. Another Look at Coral Reef Degradation, Marine Pollution Bulletin, 42 (7) July 2001.

Agroteksos Vol.17 No.2 Agustus 2007