Anda di halaman 1dari 15

A. Pengertian

Demam

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Berdarah

Dengue

(DBD)

adalah

penyakit

yang

banyak

menyerang anak di bawah usia 15 tahun, namun tidak menutup kemungkinan

menyerang

kaum

dewasa

yang

ditandai

dengan

gejala

awal

demam

yang

mendadak serta timbul gejala perdarahan seperti ptekie, epitaksis, perdarahan

gusi,

hematemesis

dan

melena

(Thomas

Suroto

et-al,

Pencegahan

dan

hematemesis dan melena (Thomas Suroto et-al, Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah

Penanggulangan Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue, 2004).

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang terdapat pada

anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang biasanya

memburuk setelah dua hari pertama (Prof. Dr. HM. Syaifoellah Noer, Ilmu

Penyakit Dalam,2004).

DHF / DBD adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus dengue

yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan

nyamuk Aedes aegypti yang betina. (Suriadi : 2001).

Demam dengue adalah penyakit yang terdapat pada anak-anak dan

dewasa dengan

gejala

utama demam, nyeri otot

dan sendi,

yang

biasanya

memburuk setelah dua hari pertama terinfeksi virus ( Arif Mansjur : 2001).

Menurut Ngastiyah (2005) demam dengue adalah infeksi akut yang

disebabkan oleh arbovirus (arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan

nyamuk Aedes ( Aedes albocpictus dan Aedes aegypti ).

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit demam akut dengan

ciri-ciri demam, manifestasi perdarahan dan mengakibatkan renjatan yang dapat

menyebabkan kematian (Arief Monsjoer, 2000).

Jadi, Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang

ditandai dengan demam mendadak 2 – 7 hari, disertai dengan nyeri ulu hati, nyeri

otot, sendi dan kadang-kadang terjadi perdarahan.

B. Etiologi

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dangue yang termasuk

Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dangue yang termasuk kedalam arbo virus (Arthropod borne virus) grup B

kedalam arbo virus (Arthropod borne virus) grup B yang terdiri dari empat tipe

yaitu virus dengan tipe 1, 2, 3, 4. Keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di

Indonesia dan virus tersebut dikenal sebagai genus flavivirus, famili flaviviridae.

Virus dengue itu ditularkan melalui perantara nyamuk aedes aegypti. Disamping

pula terdapat nyamuk albopictus dan jenis lain tetapi nyamuk aedes aegypti

merupakan vektor utama. Karakteristik nyamuk aedes aegypti diantaranya yaitu

warna tubuh hitam dengan belang-belang putih, berkembang biak cara bertelur

digenangan air bersih seperti bak mandi, tempayan, vas bunga, ban bekas,

perkembangan dari telur menjadi nyamuk memerlukan waktu 7 – 10 hari dan

biasanya

nyamuk

menggigit

pagi

dan

sore

hari.

mencapai 100 m atau rata-rata 40 m.

Jangkauan

terbang

dapat

Penyakit DHF disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk

Aedes aegypti. Virus ini termasuk dalam kelompok arbovirus golongan B. Hingga

sekarang telah dapat diisolasi empat serotif virus dengue di Indonesia, yaitu DEN-

1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Namun yang paling banyak menyebebkan demam

berdarah adalah dengue tipe DEN-2 dan DEN-3. Di Indonesia dikenal dua jenis

nyamuk aedes, yaitu :

Aedes aegypti

1. Paling sering ditemukan

2. Nyamuk yang hidup di daerah tropis, terutama hidup dan berkembang biak di

dalam rumah, yaitu di tempat penampungan air jernih / tempat penampungan

air di sekitar rumah.

3. Nyamuk ini berbintik-bintik putih.

4. Biasanya menggigit pada pagi hari dan sore hari.

putih. 4. Biasanya menggigit pada pagi hari dan sore hari. 5. Jarak terbang 100 meter. Aedes

5. Jarak terbang 100 meter.

Aedes Albopictus

1. Tempat habitatnya di tempat air jernih, biasanya di sekitar rumah/pohon-

pohon yang dapat tertampung air hujan bersih, yaitu pohon pisang dan

tanaman pandan.

2. Mengigit pada waktu siang hari.

3. Berwarna hitam. Jarak terbang 50 meter.

C. Patofisiologi

1. Proses perjalanan penyakit

Nyamuk aedes aegypti pertama kali menghisap darah penderita DHF,

virus dengue akan terhisap kedalam tubuh nyamuk, berkembang biak dan

menyebar

ke

dalam

tubuh

nyamuk

antara

lain

ke

kelenjar

ludah.

Jika

kemudian nyamuk tersebut menusuk dan menghisap darah manusia sehat,

virus

dengue akan masuk

ke dalam peredaran darah dan menimbulkan

pengaruh penyakit di dalam tubuh manusia dengan manifestasi demam, nyeri

otot dan sendi, mual, muntah, sakit kepala, pembesaran kelenjar getah bening

dan terjadi pendarahan di bawah kulit. Kemudian infeksi virus dengue tersebut

akan membentuk kompleks virus-antibodi yang akan mengaktivasi system

komplemen yang berakibat dilepaskannya anafilatoksin C3a dan C5a. C5a

menyebabkan

meningginya

permeabilitas

dinding

pembuluh

darah

dan

menghilangnya

plasma

melalui

endotel

dinding

tersebut

dari

ruang

intravaskuler ke ruang ekstravaskuler. Volume plasma dapat berkurang sampai

30 % dan perembesan ini terbukti dengan adanya cairan di dalam rongga

(efusi pleura, asites). Sehingga terjadi hipovolemia, jika tidak segera diatasi

terjadinya perdarahan pada DHF trombosit mengakibatkan pengeluaran sehingga trombosit melekat satu sama
terjadinya
perdarahan
pada
DHF
trombosit
mengakibatkan
pengeluaran
sehingga
trombosit
melekat
satu
sama
trombosit
dihancurkan
oleh
RES
(

akan terjadi syok dan menyebabkan asidosis metabolic dan berakibat fatal

yaitu kematian.

Proses

terjadi

karena

porses

agregasi trombosit sebagai akibat dari perlekatan kompleks antigen – antibody

pada

ADP

Hal

(Adenosin

ini

akan

endothelial

membrane

diphospat)

lain.

menyebabkan

retikulo

system).Dan agregasi trombosit ini akan menyebabkan mengeluarkan platelet

faktor III mengakibatkan terjadinya KID (koagulasi intravascular diseminata)

ditandai dengan peningkatan FDP (Fibrinogen degradation product) sehingga

terjadi penurunan factor pembekuan.

Jadi perdarahan masih pada DHF diakibatkan oleh trombositopenia,

penurunan factor pembekuan, kelaian fungsi trombosit dan kerusakan dinding

endotel kapiler.

Anatomi dan Fisiologi Trombosit dan Pembekuan Trombosit atau

platelet bukan merupakan sel, melainkan pecahan glanular sel, berbentuk

piringan dan tidak berinti. Trombosit adalah bagian terkecil dari unsur selular

sumsum

tulang

dan

sangat

penting

peranannya

dalam

hemostatis

dan

pembekuan. Trombosit berdiameter 1–4 m dan berumur kira–kira 10 hari.

Kira–kira sepertiga berada dalam limpa sebadai suku cadang dan sisanya

berada

dalam

sirkulasi,

berjumlah

antara

150.000

dan

400.000/mm3.

Hemostatis

dan

pembekuan

adalah

serangkaian

kompleks

reaksi

yang

mengakibatkan

pengendalian

perdarahan

melalui

pembentukkan

bekuan

trombosit dan fibrin pada tempat cedera.

(Richard Walker, 2000, Under The Microscope, Heart–Clotting & Healing)

2.

Under The Microscope, Heart–Clotting & Healing) 2. Gambaran ini menunjukkan proses pembekuan dimana benang

Gambaran ini menunjukkan proses pembekuan dimana benang fibrin sudah

mulai terbentuk sehingga menjerat sel darah merah dan membuat sumbatan

pada pembuluh darah yang terluka sehingga perdarahan berhenti.

Manifestasi Klinik

Gejala klinis yang timbul pada pasien DHF diantaranya yaitu :

diawali dengan demam mendadak, anoreksia, mual muntah, nyeri kepala,

nyeri otot dan sendi. Beberapa pasien mengeluh nyeri tenggorokan, pasien

tidak enak di daerah epigastrium, nyeri di bawah lengkungan iga kanan,

timbulnya perdarahan seperti ptekia, ekimosis, perdarahan gusi, epitaksis, dan

terjadi hematemesis, melena.

Kriteria klinis Demam Berdarah Dengue (DBD) menurut WHO

(1986) :

a. Demam akut, yang tetap tinggi selama 2 – 7 hari, kemudia turun secara

lisis. Demam disertai gejala tidak spesifik seperti anoreksia, lemah, nyeri

sendi, nyeri kepala.

b. Manifestasi perdarahan, uji tourniquet positif, ptekia, ekimosis, perpura,

epitaksis, perdarahan gusi, hematesis, melena.

c. Pembesaran hati yang disertai nyeri tekan tana ikterus.

d. Dengan atau tanpa renjatan. Renjatan biasanya terjadi pada saat demam

turun ( hari ke 3 dan ke 7).

e. Kenaikan nilai hematokrit / hemokonsentrasi.

Dari Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak FKUI ( 1997 ) dan Ngastiyah

(1997), WHO pada tahun 1975 membagi derajat penyakit DHF dalam

empat derajat yaitu :

membagi derajat penyakit DHF dalam empat derajat yaitu : Derajat I : Demam disertai gejala tidak

Derajat I :

Demam disertai gejala tidak khas, hanya terdapat manifestasi perdarahan

(uji tourniket positif)

Derajat II :

Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan dikulit dan perdarahan lain

pada hidung (epistaksis)

Derajat III :

Ditemukan kegagalan sirkulasi darah dengan adanya nadi cepat dan lemah,

tekanan nadi menurun (kurang dari 20 mmHg) / hipotensi disertai kulit

dingin dan lembab serta anak gelisah.

Derajat IV :

Renjatan berat dengan nadi tak teraba dan tekanan darah yang tidak dapat

dikur, akral dingin dan anak akan mengalami syok.

3.

Komplikasi

Komplikasi yang timbul pada klien dengan DHF adalah :

a. Syok, akiab kehilangan cairan yang berlebihan dan terjadinya perbesaran

plasma.

b. Asidosis metabolic, ini terjadi karena syok yang tidak diatasi secara

adekuat.

c. Oedem paru, terjadi sebagai akibat pemberian cairan yang berlebihan

(overload).

d. Gagal ginjal akut, terjadi sebagai akibat dari syok yang tidak teratasi

dengan baik. Untuk mencegah ginjal maka setelah syok, diobati dengan

A.

menggantikan volume intravaskuler.

syok, diobati dengan A. menggantikan volume intravaskuler. e. Kematian Penatalaksanaan Medis 1. Penatalaksanaan pada

e. Kematian

Penatalaksanaan Medis

1. Penatalaksanaan pada penderita DHF adalah sebagai berikut :

a. Tirah baring.

b. Diit makanan lunak

c. Anjuran minum sebanyak 2 – 3 liter / hari dalam 24 jam. Dapat berupa

susu, teh manis, sirop, air tawar ditambah garam.

d. Berikan kompres air hangat untuk kenaikan suhu yang tinggi dan berikan

obat anti piretik dari golongan asetaminofen, eukinin atau dipiron. Hindari

pemakaian asetosal karena bahaya perdarahan.

e. Antibiotik diberika bila terdapat kekhawatiran infeksi sekunder.

2. Untuk penatalaksanaan DHF dengan renjatan yaitu :

a. Observasi keadaan umum, observasi tanda vital setiap jam

b. Pemeriksaan Hb, Ht setiap 4 – 6 jam pada hari pertama pengamatan

selanjutnya tiap 24 jam.

c.

Dalam keadaan renjatan, berikan cairan ringer laktat diguyur. Bila tidak

tampak perbaikan diusahakan pemberian ekspander plasma dengan jumlah

15-29 ml / kg berat badan. Dan setelah tanda vital ada kemajuan kadar

infuse dikurangi. Setelah itu pemberian cairan harus disesuaikan dengan

tingkat hematokrit dan tanda vital.

d. Berikan oksigen

3. Tranfusi darah dilakukan pada :

a. Pasien dengan perdarahan membahayakan (hematemesis, melena).

b. Pasien DSS yang pada pemeriksaan berkala menunjukan penurunan kadar

leucopenia, trombositopenia,
leucopenia,
trombositopenia,

dijumpai

Hb, Ht.

4. Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan hal berikut :

a. Pemeriksaan laboratorium

Dapat

hemokonsentrasi,

waktu

perdarahan memanjang, penurunan factor koagulasi. Pada pemeriksaan

kimia darah tampak hipoproteinemia, hiponatremia, SGOT, SGPT, ureum,

pH darah meningkat, Uji serologi untuk menentukan adanya infeksi virus

dengue.

b. Pemeriksaan radiologist

Pada foto thorak didapatkan efusi pleura (DBD derajat III/IV dan sebagian

besar derajat II). Sites dapat dideteksi dengan pemeriksaan Ultrasonografi

(USG).

B. Pengkajian Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada

praktek keperawatan yang langsung diberikan pada klien dengan menggunakan

metode ilmiah dengan pendekatan proses keperawatan tanpa mengabaikan faktor

bio

psiko

sosiala

dan

cultural

sebagai

kesatuan

yang

utuh

adapun

asuhan

keperawatan yang digunakan yaitu melalui tahap pengkajian, diagnosa, intervensi,

implementasi dan evaluasi.

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data melalui wawancara, observasi,

pemeriksaan fisik pada sasaran yang dituju, selain itu pengumpulan data dapat

diperoleh dari klien, keluarga, tenaga kesehatan, catatan medis, medical record

dan literature, hal-hal yang dikaji pada klien antara lain :

1. Identifikasi pasien meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama, alamat, rumah

apakah lingkungan tempat tinggal
apakah
lingkungan
tempat
tinggal

2. Riwayat kesehatan, meliputi riwayat kesehatan saat ini mencakup apa yang

menjadi keluhan pasien saat ini riwayat kesehatan masa lalu mencakup apa

yang menjadi keluhan pasien saat ini.

3. Riwayat kesehatan keluarga apakah ada keluarga lain yang menderita Demam

berdarah.

Riwayat

dekat

dengan

4. sosial

pasien

lingkungan yang mengandung asap dan debu, apakah lingkungan tempat

tinggal dekat dengan tempat pembuangan sampah.

5. Psikologis,

kaji

apakah

penyakit

ini

berdampak

pada

psikologis

pasien

misalnya kebiasaan sehari-hari meliputi pola nutrisi, pola eliminasi, pola

personal hygiene, pola istirahat dan tigur, pola aktivitas dan latihan, kebiasaan

yang mempengaruhi kesehatan sebelum sakit dan selama di rumah sakit.

6. Pemeriksaan fisik yang dilakukan mulai dari kepala sampai kaki dengan

teknik inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi. Pengkajian fisik pada klien

dengan demam berdarah antara lain aktivitas/istirahat (kelemahan, kelelahan,

nyeri

otot

dan

sendi)

sirkulasi

(trombositopenia,

leucopenia,

ekomosis,

epistaksis dan melena) eliminasi (melena, hematuri, konstipasi dan diare)

makanan/cairan

(anoreksia,

mual

dan

muntah)

neurosensori

(penurunan

kesadaran, pengsan dan pusing) nyeri (nyeri ulu hati, nyeri sendi dan otot)

pernafasan (takipnea, pernafasan dangkal) integument (bintik-bintik merah di

kulit, kulit dingin serta lembab, ptekkie) serta kejang dan demam tinggi.

7. Pemeriksaan laboratorium pemeriksaan darah lengkap

a) Pada

demam

berdarah

di

jumpai

hematokrit

pada

pemeriksaan

kimia

trombositopenia

darah

tampak

dan

penigkatan

hipoproteinemia,

hiponatremia, hipokloremia, SGOT, SGPT, ureum dan PH darah mungkin

C.

hipokloremia, SGOT, SGPT, ureum dan PH darah mungkin C. menigkat, reverse alkali menurun. b) Pemeriksaan darah

menigkat, reverse alkali menurun.

b) Pemeriksaan darah lengkap (hb . ht, lekosit, trombosit)

c) Air seni mungkin di temukan albuminuria ringan.

d) Pemeriksaan radiologist (pada foto thorak di dapatkan efusi pleura)

e) Pemeriksaan USG biasanya dapat mengetahui asites atau tidak.

Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah menguraikan kombinasi dari tanda dan

gejala yang memperlihatkan masalah kesehatan actual maupun potensial dan

perawat berdasarkan pendidikan dan pengalamannya mampu diakui, diizinkan dan

bertanggunng jawab untuk mengatasinya. (Dongoes,E marilynn.2000).

Menurut Marlyn E Doengoes terdapat 6 diagnosa keperawatan pada

Demam berdarah antara lain :

1. Gangguan keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan peningkatan permeabilitas kapiler,

3.

Nyeri epigastrik berhubungan dengan peningkatan sekresi gaster,

4. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake

yang kurang,

5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik,

6. Kurang

pengetahuan

informasi.

tentang

D. Perencanaan Keperawatan

penyakit

berhubungan

dengan

kurangnya

Adapun perencanaan keperawatan yang dibuat pada klien dengan Demam

kapiler . Tujuan : Setelah dilakukan diharapkan gangguan keseimbangan cairan dapat
kapiler .
Tujuan
: Setelah dilakukan
diharapkan
gangguan
keseimbangan
cairan
dapat

keperawatan

berdarah adalah sebagai berikut :

a.

Gangguan keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan peningkatan permeabilitas

tindakan

diatasi. Kriteria hasil : Suhu tubuh normal 36-37 ‘5 ºc, turgor kulit elastis .

Rencana tindakan : Awasi masukan dan haluaran ( mual muntah ) Rasional :

tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kadaan umum pasien,

observasi kulit (kering, membrane mukosa, penurunan turgor kulit ) Rasional :

menunjukan kehilangan cairan . Anjurkan klien untuk minum 2-3 liter / hari,

Rasional : dehidrasi dapat menyebabkan kematian sehingga perlu di waspadai.

Observasi adanya perdarahan, Rasional : kehilangan atau ketidakadekuatannya

penggantian faktor pembekuan dapat mencetuskan terjadinya perdarahan.

Memonitor nilai laboratorium (hemoglobin, hematokrit, lekosit dan trombosit)

Rasional : untuk kebutuhan pengganti dan keefektifan terapi. Kolaborasi

dengan dokter, pemberian terapi cairan infuse, Rasional : untuk mencegah

dehidrasi, pemberian terapi obat anti perdarahan

terjadinya perdarahan dan komplikasi.

rasional : untuk mencegah

b. Hypertermia berhubungan dengan proses infeksi virus dengue, Tujuan :

setelah dilaukan tindakan keperawatan selama diharapkan suhu tubuh dalam

batas normal ( 36-37 ºc) . Kriteria hasil : tanda-tanda vital dalam batas

normal,infeksi virus tidak terjadi . Rencana tindakan : ukur tanda-tanda vital

rasional : tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui kadaan umum

klien,

anjurkan

klien

banyak

minum

2-3

liter/24

jam

rasional

:

dapat

menurunkan

panas,

anjurkan

klien

mengenakan

pakaian

yang

tipis

dan

hangat, rasional : dapat berkurang/hilang. Kriteria hasil :
hangat, rasional :
dapat
berkurang/hilang.
Kriteria
hasil
:

menyerap keringat rasional : berpakaian yang tebal dapat meningkatkan suhu

tubuh,

berikan kompres

membantu mengurangi

demam, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik, rasional :

di gunakan untuk mengurangi demam meskipun demam mungkin dapat

berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme.

c. Gangguan rasa nyaman myeri epigastrik berhubungan dengan peningkatan

sekresi gaster. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan

nyeri

nyeri

epigastrik

epigastrik

berkurang/hilang, intervensi : kaji keluhan nyeri, lokasi, intensitas nyeri,

rasional ; memberikan informasi dasar dan pengawasan keefektifan. Rencana

tindakan : observasi tanda-tanda vital ,rasional : dapat mengetahui keadaan

umum klien. Berikan tindakan nyaman, rasional : meningkatkan relaksasi,

menurunkan

ketegangan

abdomen.

anjurkan

klien

melakukan

tekhnik

relaksasi, rasional : untuk mengurangi rasa nyeri, rasional : menurunkan rasa

nyeri, meningkatkan kenyamanan.

d.

Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake

yang kurang, Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan

kebutuhan nutrisi terpenuhi, Kriteria hasil : nafsu makan meningkat, berat

badan stabil, Rencana tindakan : beri makan sedikit demi sedikit tapi sering,

rasional : buruknya toleransi terhadap makan banyak mungkin berhubungan

dengan peningkatan tekanan intra abdomen, timbang berat badan tiap hari,

rasional : pengawasan kehilangan nutrisi dan keefektifan terapi, berikan

makanan yang bervariasi, rasional : dapat meningkatkan nafsu makan, awasi

toleransi terhadap masukan cairan dan makanan, rasional : dapat mengetahui

: klien dapat melakukan aktivitas tirah baring, berikan lingkungan yang
:
klien
dapat
melakukan
aktivitas
tirah
baring,
berikan
lingkungan
yang

hasil

informasi tentang pemasukan nutrisi, kolaborasi dengan ahli gizi, rasional :

membantu dalam menentukan pola nutrisi.

e. Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, Tujuan : setelah

dilakukan tindakan keperawatan di harapkan aktivitas dapat di tingkatkan.

Kriteria

tindakan

rasional

:

:

Rencana

tenang,

Tingkatkan

meningkatkan istirahat

(ketenangan, menyediakan energi yang digunakan

untuk penyembuhan ) dan ubah posisi dengan sering, rasional : meningkatkan

fungsi pernafasan dan untuk menurunkan kerusakan jaringan, tingkatkan

aktivitas sesuai toleransi, rasional : tirah baring yang lama dapat menurunkan

kemampuan beraktifitas, kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan

terapi obat, rasional : membantu dalam manajemen tidur.

f. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurangnya

informasi,

Tujuan

:

setelah

dilakukan

tindakan

keperawatan

diharapkan

pengetahuan klien bertambah, Kriteria hasil : klien mampu mengerti dan

memahami penyakit Demam berdarah. Rencana tindakan : kaji tingkat

pengetahuan

keluargaklien,

rasional

:

untuk

mengetahui

sejauh

mana

pengetahuan orang tua tentang penyakit Demam berdarah, kaji latar be;akang

pendidikan klien, rasional :agar perawat dapat memberikan penjelasan sesuai

dengan tingkat pendidikan sehingga penjelasan dapat dipahami dan tujuan

yang direncanakan dapat tercapai, beri penkes pada keluarga klien, rasional :

untuk mengetahui sejauh mana pemahaman orangtua klien setelah diberikan

penkes, berikan kesempatan pada klien untuk mengulangi kembali penjelasan

yang di berikan perawat, rasional : untuk memotivasi klien dan keluarga agar

E.

kooperatif selama perawat menjelaskan.

pada rencana tindakan dalam memberikan tindakan yang digunakan adalah pendekatan
pada
rencana
tindakan
dalam
memberikan
tindakan
yang
digunakan
adalah
pendekatan

Pelaksanaan Keperawatan

Implementasi merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk

yang

telah

membantu

disusun.

mencapai tujuan

keperawatan

Prinsip

keperawatan

menggunakan

komunikasi terapeutik sserta pen jelasan setiap tindakan pada pasien.

Pendekatan

secara

independent,

dependen, interdependent. Tindakan independent yaitu suatu kegiatan mandiri

yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dari dokter atau tenaga

kesehatan

lainnya,

Tindakan

dependent

adalah

tindakan

yang

berhubungan

dengan

pelaksanaan

tindakan

medis.

Tindakan

interdependent

adalah

suatu

kegiatan yang memerlukan suatu kerjasama dengan kesehatan lainnya.

Dalam melakukan tindakan keperawatan pada klien dengan penyakit

Demam

berdarah

yang

harus

diperhatikan

adalah

penanganan

terhadap

kekurangan cairan dan elektrolit, hypertermi, nyeri epigastrik, nutrisi, infeksi,

perdarahan, aktivitas setiap tindakan keperawatan yang telah di laksanakan di

catat dalam catatan keperawatan.

F. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang digunakan

sebagai alat ukur keberhasilan suatu asuhan keperawatan yang telah di buat

meskipun evaluasi dianggap tahap akhir dari proses keperawatan. Evaluasi ini

berguna untuk menilai setiap langkah dalam perencanaan, mengukur kemajuan

klien dalam mencapai tujuan akhir.

evaluasi proses di evaluasi akhir yang diharapkan pada
evaluasi proses di
evaluasi
akhir
yang
diharapkan
pada

klien

Evaluasi terdiri dari :

lakukan pada setiap akhir

melakukan tindakan keperawatan, evaluasi hasil memberikan arah apakah rencana

tindakan di hentikan di modifikasi atau dilanjutkan, evaluasi hasil di catat dan

dapat di lihat pada catatan perkembangan yang meliputi aspek subyektif, obyektif,

analisa dan palnning, evaluasi akhir yang menggambarkan apakah tujuan tercapai,

tercapai sebagian atau tidak sesuai dengan rencana atau timbul masalah baru.

Adapun

dengan

Demam

berdarah adalah keseimbangan cairan terpenuhi, suhu tubuh dalam batas normal,

tidak ada tanda-tanda infeksi, nyeri epigastrik hilang, tidak ada perdarahan yang

hebat, nafsu makan klien meningkat dan klien tidak lemas lagi.