Anda di halaman 1dari 12

Problem Based Learning Gangguan Psikiatris Kepribadian Cemas

Disusun Oleh: Henry Reinaldo 102010221 F-7 30 Desember 2012

Pendahuluan Problem Based Learning (PBL) kali ini membahas mengenai permasalahan psikiatrik/kejiwaan, yang merupakan masalah yang penting dan banyak dijumpai di masyarakat Indonesia. Gangguan kejiwaan ini ada banyak macamnya, dari yang kurang mengganggu sampai yang bisa sangat mengganggu dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain disekitarnya. Gangguan kejiwaan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah mengenai gangguan kepribadian cemas, yang nantinya dapat dibagi lagi menjadi beberapa jenis. Gangguan cemas ini sebenarnya dapat dialami sebagai suatu fenomena yang fisiologis, namun jika sudah berlebihan maka dapat disebut patologis. Permasalahannya adalah banyak orang yang mengalami gangguan kejiwaan namun tidak terlalu menyadarinya atau tidak mau menganggap dirinya sakit sehingga tidak mau menemui dokter kejiwaan, sehingga tidak diobati dan akhirnya bisa berdampak merugikan lingkungan sekitarnya. Sebagai dokter

penting untuk mengetahui secara umum mengenai gangguan kejiwaan seperti ini, agar dapat memberi penjelasan yang baik kepada pasien untuk selanjutnya diedukasi dan dirujuk kepada bagian psikiatri. Anamnesis Anamnesis merupakan bagian yang sangat penting dalam mendiagnosis masalah psikiatrik. Dalam melakukan anamnesis dan pemeriksaan psikiatrik, selalu pastikan adanya privasi dan jelaskan pada pasien siapa anda. Pertama tanyakan apa yang menjadi masalah pasien. Jika gejala sudah berlangsung lama, tanyakan mengapa mereka kini datang mencari bantuan medis. Bagaimana mereka datang mencari bantuan medis? (misalnya keinginan pribadi, upaya bunuh diri, ditemukan berkeliaran dalam keadaan bingung, dll).1 Untuk riwayat penyakit sekarang, tanyakan apa gejala yang ada saat ini, misalnya merasa rendah diri, mendengar suara-suara, ketakutan, bingung, atau ingin mati. Eksplorasi gejala utama secara rinci dan temukan semua efek fisik, psikologis, dan sosial yang terkait. Terapi apa yang pernah dicoba selama ini dan bagaimana efeknya? Apa hal yang diyakini pasien merupakan pemicu, memperberat atau mengubah penyakit? Kapan pertama kali gejala muncul? Apa yang diperhatikan dan dikatakan oleh orang lain mengalami dirinya? (keluarga, teman, kerabat lainnya).1 Riwayat penyakit dahulu. Dapatkan ringkasan kronologis dari semua episode gangguan mental dan terapi yang pernah dijalani termasuk perawatan di rumah sakit, kontak sebelumnya dengan dokter umum, psikiater, psikolog, konselor, dll. Tanyakan mengenai dosis, durasi terapi, keampuhan, efek samping, dan ketergantungan pasien pada obat yang diresepkan sebelumnya. Tanyakan mengenai upaya bunuh diri atau perilaku menyakiti diri sendiri yang pernah dilakukan.1 Riwayat pribadi juga penting untuk digali, riwayat pribadi adalah tinjauan atas tahapan dalam kehidupan pasien. Tanyakan hal-hal berikut; (1) kelahiran dan komplikasinya, (2) perkembangan awal, (3) masa anak-anak (lingkungan rumah, adakah masalah dalam keluarga pada masa anak-anak), (4) pendidikan dan kualifikasi (termasuk hubungan dengan teman sebaya dan guru), (5) pekerjaan (setiap pekerjaan yang pernah dilakukan oleh pasien, alasan perubahan pekerjaan, kepuasan pekerjaan, hubungan dengan rekan kerja, pekerjaan sekarang), (6) hubungan (termasuk pernikahan, orang tua, anak), riwayat seksual dan penilaian tingkat fungsi pasien dalam keluarga dahulu dan saat ini, dan peran sosial, (7)

pengaruh budaya dan agama, (8) setiap riwayat fisik, emosional, seksual, penganiayaan lain, trauma, dan (9) riwayat penahanan atau hukuman.1 Teliti juga kepribadian pasien dari hal karakter seperti mood yang umum, sosiabilitas, motivasi pasien, kemudian minat pasien misalnya hobinya, dan apa yang menjadi keyakinan pasien, berkaitan dengan agama, moral dan pandangan politik bila perlu. Riwayat sosial pasien seperti perencanaan hidup pasien dan hubungan serius yang dijalaninya juga penting ditanyakan. Tanyakan mengenai penggunaan alkohol, rokok dan obat lain (misalnya mariyuana, kokain, opium, obat sedatif-hipnotik, stimulan, halusinogen). Jika ada, tanyakan kapan pertama kali menggunakannya, jumlah yang dikonsumsi, bagaimana cara menggunakan/memasukkannya. Teliti apakah ada bukti ketergantungan.1 Buatlah silsilah keluarga. Masukkan semua informasi yang tersedia mengenai penyakit medis umum dan penyakit psikiatrik yang dialami keluarga dekat. Informasi ini harus mencakup setiap riwayat gangguan mood, psikosis, bunuh diri dan penyalahgunaan zat. Tinjauan sistem meliputi gejala-gejala saat ini yang belum disebutkan dalam anamnesis keluhan utama. Gejala khusus yang relevan adalah gangguan tidur, selera makan, gejala sistemik seperti demam dan lelah, serta gejala neurologis.1 Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik perlu dilakukan untuk mengevaluasi kondisi medis umum (termasuk neurologis) pasien. Paling penting dilakukan adalah pemeriksaan status mental. Pemeriksaan status mental adalah kumpulan data yang sistematis berdasarkan pengamatan perilaku pasien selama wawancara. Tujuan dari pemeriksaan status mental adalah mendapatkan bukti gejala-gejala saat ini dan tanda-tanda gangguan mental yang mungkin diderita oleh pasien. Selain itu, didapatkan pula bukti mengenai wawasan pasien, nilai-nilai dan kemampuan pemikiran abstrak, untuk memberitahukan keputusan mengenai strategi terapi dan pilihan tempat terapi yang sesuai. Pemeriksaan status mental mengandung elemen berikut:1 1. Penampilan dan perilaku umum pasien. Nilailah: tingkah laku, kontak, kontak mata, ekspresi wajah, pakaian, kebersihan, perawatan diri (misalnya kerapian, tata rias), postur, aktivitas motorik (agitasi atau keterbelakangan?), gerak abnormal (tremor, stereotipi, tik, korea), kelainan cara berjalan, kelainan fisik yang terlihat jelas (misalnya bukti membahayakan diri sendiri, penggunaan obat).

2.

Ciri bicara dan bahasa pasien (misalnya kecepatan, irama, struktur, aliran gagasan, dan gambaran patologis seperti perseverasi, ketidakjelasan, inkoherensi, penekanan pikiran, blok pikiran, atau neologisme).

3.

Mood. Mood apa yang mendominasi? Apakah pasien tampak tertekan, sangat gembira, euforia, cemas, takut, curiga, marah? Lihat adakah peningkatan variabilitas mood (labilitas) atau penurunan (reaktivitas berkurang).

4.

Pikiran dan persepsi pasien saat ini. Gejala kognitif dan perseptual dari gangguan mental tertentu, biasanya terungkap dengan pertanyaan tertentu seperti halusinasi, delusi, ide rujukan, obsesi dan kompulsi. Pikiran, perasaan dan impuls untuk bunuh diri, melakukan pembunuhan, melakukan kekerasan, atau mencederai diri sendiri. Jika terdapat pikiran semacam ini, cari tahu intensitas dan spesifitasnya, kapan terjadi dan apa yang mencegah pasien melakukannya.

5. 6.

Wawasan pasien mengenai situasinya sekarang dan keinginan mendapat terapi. Status kognitif pasien, termasuk; tingkat kesadaran, orientasi (hari, tanggal, waktu), perhatian dan konsentrasi, fungsi bahasa (menyebut nama benda, kelancaran bicara, pemahaman, pengulangan, membaca, menulis), ingatan (jangka panjang dan pendek, ingatan segera), tingkat pengetahuan (sesuai usia, latar belakang pendidikan, sosial), berhitung, menggambar (misalnya menyalin gambar atau menggambar jam), pemikiran abstrak (misalnya menjelaskan kesamaan atau mengartikan peribahasa), fungsi eksekutif (sistem frontal) (misalnya membuat daftar, mencegah jawaban impulsif, menahan gangguan, mengenali kontraindikasi), kualitas penilaian.

Penilaian fungsional juga harus dilakukan, mecakup penilaian aktivitas fisik dari kehidupan sehari-hari, misalnya makan, menggunakan toilet, berpindah, mandi, dan berpakaian. Seharusnya juga mencakup penilaian aktivitas sehari-hari yang lebih canggih, seperti mengemudi atau menggunakan transportasi umum, mengkonsumsi obat sesuai resep, berbelanja, mengatur keuangan, berkomunikasi melalui surat atau telepon, dan merawat anak atau orang lain yang tergantung.1 Pemeriksaan Penunjang Pada masalah psikiatrik, sebenarnya tidak ada pemeriksaan penunjang spesifik yang dilakukan, baik untuk diagnosis maupun menentukan terapi. Pemeriksaan penunjang dilakukan hanya untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain yang merupakan penyakit organik, karena sebelum menegakkan diagnosis gangguan psikiatrik fungsional, maka

gangguan orgnaik harus disingkirkan terlebih dahulu. Pada kasus dimana gejala fisik yang dirasakan adalah jantung berdegup kencang, maka beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah EKG, ekokardiogram, maupun foto polos thorax, dan ketika tidak didapati apa-apa, maka diagnosis gangguan organik dapat disingkirkan dan dapat dipikirkan kemungkinan gangguan fungsional. Differential Diagnosis Sehubungan dengan kasus yang dibahas, akan kita ambil beberapa diagnosis banding, barulah nantinya akan kita tegakkan diagnosis kerja. Setelah kemungkinan gangguan organik disingkirkan, masalah yang kita pikirkan adalah fungsional, dalam hal ini adalah gangguan kepribadian cemas. Gangguan kepribadian cemas ini terbagi menjadi banyak jenis, namun hanya akan dibahas beberapa yang paling mendekati/berkaitan dengan kasus. Kecemasan mungkin bersifat akut (sebentar saja) atau menahun (dialami selama jangka waktu yang lama). Wajar bagi seseorang yang mengalami gangguan kepanikan untuk memperlihatkan gejala-gejala kecemasan pada umumnya. Kecemasan tanpa serangan kepanikan dinamakan gangguan kecemasan pada umumnya. Gangguan kepanikan maupun gangguan pada umumnya disebabkan oleh faktor penyebab, tanda-tanda, dan gejala-gejala yang sama.2 1. Gangguan cemas panik. Serangan kecemasan yang berulang atau kepanikan seiring dengan kegugupan, dinamakan gangguan kepanikan. Serangan-serangan ini sering dikaitkan dengan perasaan akan terjadi malapetaka. Gangguan kepanikan dapat timbul secara lambat, dengan perasaan tegang pada umumnya serta rasa gugup yang tidak menyenangkan, atau timbul secara tiba-tiba dengan gangguan kecemasan akut. Sekalipun gangguan kepanikan lebih lazim ditemukan di kalangan orang muda dewasa, mungkin juga muncul di kalangan remaja. Gangguan kepanikan biasanya tidak berhubungan dengan penyakit mental lainnya dan sering kelihatan timbul tanpa faktor-faktor pemicu. Faktor-faktor pemicu ialah faktor yang mempercepat awal tanda serta gejala suatu penyakit. Termasuk gejala gangguan kepanikan yang wajar ialah perasaan panik, palpitasi (degup jantung yang keras dan kesadaran denyut jantung), rasa sakit di dada, sulit bernafas atau bernafas cepat dan rasa pusing atau rasa lemah. Kebanyakan orang mengutarakan kepanikan sebagai perasaan yang aneh, ganjil atau ketakutan seolah-olah akan terjadi sesuatu hal yang amat buruk. Penting untuk diingat bahwa pasien tidak selalu akan mampu mengenali penyebab ketakutan serta kegugupannya, atau konsekuensi dari peristiwa yang pasien cemaskan. Kriteria diagnostik untuk gangguan

kepanikan adalah sebagai berikut; (a) Setidak-tidaknya terjadi tiga kali serangan kepanikan dalam jangka waktu tinga minggu. Serangan-serangan ini mestinya tidak terjadi dalam situasi sewaktu anda melakukan kegiatan fisik yang berat atau dalam situasi yang mengancam keselamatan jiwa. (b) Ketakutan dan keprihatinan terdapat dalam setiap serangan kepanikan bersama dengan, setidak-tidaknya, empat dari gejala berikut ini: susah bernapas, sadar akan detak jantung atau degup jantung yang keras, sakit dada atau rasa tidak nyaman, rasa tercekik atau mau mati lemas, rasa gamang atau kehilangan keseimbangan, rasa kesemutan di tangan dan kaki, rasa seolah-olah mimpi, serangan rasa panas atau dingin, berkeringat, rasa mau pingsan, dan rasa gemetaran. (c) Rasa cemas akan meninggal, akan menjadi gila atau melakukan sesuatu di luar kendali, selama serangan kepanikan tersebut berlangsung. (d) Setidak-tidaknya satu serangan akan disusul oleh setidak-tidaknya satu bulan atau lebih lama dari hal-hal berikut: [1] senantiasa cemas akan mendapat serangan lagi, [2] sangat cemas tentang hasil atau konsekuensi yang besar kemungkinan akan diakibatkan oleh serangan kepanikan, seperti misalnya mendapat serangan jantung, atau menjadi gila, [3] terjadi perubahan besar dalam perilaku berhubungan dengan serangan-serangan tersebut. (e) Tidak ada masalah fisik yang berhubungan atau masalah penyakit jiwa lain seperti depresi berat. (f) Tidak ada hubungannya dengan rasa takut berada di tengah keramaian. Frekuensi serangan kepanikan berbeda dari orang ke orang. Ada beberapa orang yang hanya terserang beberapa kali saja selama hidupnya, sementara orang lain mungkin selang beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan. Kadang-kadang serangan kepanikan tiba-tiba berhenti tanpa sebab jelas. Tingkat kegawatan serat lama berlangsungnya gejala-gejala ini, berbeda pada setiap serangan.2 2. Gangguan kecemasan umum (Generalized anxiety disorder).2,3 Pada kasus ini, penderita menunjukkan simtom-simtom sebagai berikut: (a) senantiasa diliputi ketegangan, rasa was-was dan keresahan yang bersifat tak menentu (diffuse uneasiness), (b) terlalu peka (mudah tersinggung) dalam pergaulan, dan sering merasa tidak mampu, minder, depresi serta sedih, (c) sulit berkonsentrasi dan mengambil keputusan , serba takut salah, (d) rasa tegang menjadikan yang bersangkutaan selalu bersikap tegang-lamban, bereaksi secara berlebihan terhadap rangsangan yang datang secara tiba-tiba atau yang tak diharapkan, dan selalu melakukan gerakan-gerakan neurotik tertentu, seperti mematah-matahkan buku jari, mendeham, dan sebagainya, (e) sering mengeluh bahwa ototnya tegang, khususnya pada leher dan sekitar bagian atas bahu, mengalami diare ringan yang kronik, sering buang air kecil, dan menderita gangguan tidur berupa insomnia dan mimpi buruk,

(f) mengeluarkan banyak keringat dan telapak tangannya sering basah, (g) sering berdebar-debar dan tekanan darahnya tinggi, (h) sering mengalami gangguan pernafasan dan berdebar-debar tanpa sebab yang jelas, (i) sering mengalami anxiety attacks atau tiba-tiba cemas tanpa ada sebab pemicunya yang jelas.3 Gejala-gejalanya dapat berupa berdebar-debar, sulit bernafas, berkeringat, pingsan, badan terasa dingin, terkencingkencing, atau sakit perut.2,3 Reaksi cemas memang wajar bila disebabkan oleh keadaan yang menimbulkan stres yang jelas. Namun kalau reaksi itu bersifat kronik dan dapat timbul oleh stressor yang sangat biasa sekalipun, misalnya berada dalam gelap, maka reaksi tersebut dapat disebut neurotik. Ada beberapa sebab munculnya gangguan kecemasan yang bersifat neurotik: (1) modeling, yaitu mencontoh orang tua yang memiliki sifat tegang dan pencemas, (2) tak mampu mengendalikan dorongan-dorongan yang dapat membahayakan atau mengancam ego, seperti: rasa bermusuhan terhadap seseorang, dorongan-dorongan seks, dan sebagainya. Perasaan dan dorongan semacam itu akan direpresikan, (3) membuat keputusan-keputusan yang menimbulkan kecemasan, (4) munculnya kembali trauma psikologis yang pernah dialami di masa lalu. Penderita semacam itu dapat ditolong dengan cara diberi obat-obatan tertentu untuk mengurangi rasa cemasnya untuk sementara. Selanjutnya perlu diberi konseling atau psikoterapi dengan tujuan menolongnya membedakan antara ancaman nyata dan khayalan, mempelajari cara-cara mengatasi persoalan yang efektif, dan mungkin perlu pula ditolong mengubah kondisi-kondisi di rumah yang dapat berakibat melestarikan gangguannya. Yang terakhir ini misalnya, mengajari anggota keluarga lain di ruymah agar tidak memberinya perhatian yang berlebihan, atau memberinya perhatian secara tepat.3

Gambar 1. Gangguan kecemasan

3.

Gangguan fobia. Fobia adalah perasaan takut yang bersifat menetap terhadap obyek atau situasi tertentu yang sesungguhnya tidak menimbulkan ancaman nyata bagi yang bersangkutan atau yang bahayanya terlalu dibesar-besarkan. Beberapa contoh fobia yang penting adalah sebagai berikut;3 a) Akrofobia, takut berada di ketinggian b) Agorafobia, takut berada di tempat umum c) Klaustrofobia, takut berada di tempat tertutup d) Hematofobia, takut melihat darah e) Monofobia, takut berada sendirian di suatu tempat f) Niktofobia, takut pada kegelapan g) Pirofobia, takut melihat api h) Zoofobia, takut pada binatang pada umumnya, atau hanya jenis binatang tertentu Fobia lebih lazim dialami oleh remaja dan orang dewasa muda daripada orang-orang lanjut usia atau anak-anak. Berbeda dari perasaan takut biasa, fobia memiliki beberapa sifat khusus seperti; perasaan takutnya intens dan mengganggu kegiatan sehari-hari si penderita, biasanya disertai gejala lain, seperti pusing-pusing, sakit perut, dsb. Pada umumnya fobia timbul akibat proses belajar yang tidak semestinya (faulty learning), seperti pernah mengalami trauma psikologis dalam situasi tertentu. Pada dasarnya cara menolong penderita fobia adalah dengan menolongnya memahami fobianya dan mempelajari cara-cara yang lebih efektif untuk mengatasi kecemasan dan situasi yang ditakutinya.3 Kemungkinan diagnosis yang juga harus dipikirkan adalah kepribadian anankastik

atau sering dikenal sebagai perilaku obsesif-kompulsif, karena pada pasien didapati merupakan orang yang perfeksionis. Obsesi adalah gagasan, bayangan, dan impuls yang timbul di dalam pikiran secara berulang, sangat mengganggu, dan pasien merasa tidak mampu untuk menghentikannya. Pikiran-pikiran yang muncul itu biasanya tidak dikehendaki, menumbulkan penderitaan, dan kadang menakutkan atau membahayakan (misalnya dorongan untuk melompat ke depan mobil yang sedang berjalan; pikirah bahwa pasien akan menyerang pasangannya), dan seringkali menimbulkan hendaya dalam menjalankan fungsi kehidupannya. Pasien dapat tanpa henti berpikir dengan keras (apakah pintu saya sudah dikunci?); banyak pasien kemudian mengembangkan ritual atau kompulsi (menghitung, menyentuh, membersihkan) untuk menyingkirkan peristiwa yang tidak diinginkan atau untuk memuaskan pikiran obsesinya (misal, obsesi tentang kekotoran akan menimbulkan suatu

ritual mencuci tangan). Kompulsi adalah obsesi yang dimanifestasikan, muncul pada 75% atau lebih pada gangguan obsesif. Tindakan ritual menghilangkan rasa cemas akibat obsesi sementara waktu. Pikiran yang muncul sering bersifat magis (anak saya tidak akan mengalami kecelakaan jika saya menapakkan tiap kaki sebanyak 30 kali), dan pasien biasanya menyadari hal ini.4 Gangguan obsesif kompulsif mengenai 2,3% populasi (perempuan:laki-laki = 1:1), menunjukkan derajat keparahan yang bervariasi, kronis dan beberapa diantaranya mengalami penyembuhan spontan. Pasien dengan gangguan obsesif kompulsif juga menderita perasaan depresif (80%). Pada sekitar 75% pasien, gejala pertama muncul saat usia 20-an, dimulai tiba-tiba atau muncul perlahan dan seringkali memiliki perjalanan penyakit yang episodik. Penyebab gangguan obsesif-kompulsif tidak diketahui, tetapi pada beberapa kasus tampak ada keterlibatan neuron serotonin sistem saraf pusat. Demikian terlihat pula perannya pada kerusakan sistem saraf otak (misalnya akibat trauma kepala), kortek orbitofrontal, kaudatus, neostriatum, globus palidus dan talamus. Meskipun terdapat peningkatan gangguan ansietas pada anggota keluarga, hanya beberapa yang meningkat menjadi gangguan obsesifkompulsif.4 Etiologi Penyebab paling umum kondisi ini diperkirakan genetik. Dengan demikian kondisi sering berjalan dalam keluarga. Faktor-faktor stres cenderung memperburuk dan memicu kondisi pada beberapa pasien. Yang tepat penyebab gangguan kecemasan tidak diketahui. Namun, penelitian telah menunjuk beberapa hal tertentu mungkin menjadi pemicu muncul kecemasan. Penyebab gangguan kecemasan dapat diringkas sebagai berikut;5 Gen-gen inherited dapat menentukan kecenderungan untuk mendapat gangguan kecemasan. Jenis kelamin wanita lebih rentan terhadap gangguan kecemasan daripada laki-laki. Gangguan kecemasan juga dapat dipicu oleh terutama stres, baik dari kerja, dll.

Hal ini terlihat terutama pada pasien dengan gangguan stres pasca trauma (PTSD). Pengalaman traumatis (misalnya seksual atau fisik cedera atau berbahaya di masa lalu) dapat mengakibatkan ketakutan dan kecemasan kemudian dalam hidup. Beberapa penyalahgunaan obat seperti amfetamin, LSD, atau ekstasi dan bahkan kopi dapat menyebabkan serangan kecemasan. Pengalaman yang signifikan seperti kehilangan pekerjaan, kehamilan atau pindah

rumah dapat mengakibatkan kecemasan presipitasi, timbul perlahan namun terus menerus (kronis).5 Terapi Pengobatan untuk keadaan kecemasan mencakup empat pendekatan utama. Pendekatan-pendekatan ini mencakup: psikoterapi, terapi relaksasi, meditasi, dan obatobatan. Psikoterapi merupaka istilah yang digunakan untuk banyak sekali metode pengobatan gangguan kejiwaan dan emosi, lebih banyak dengan teknik-teknik psikologi daripada melalui obat-obatan atau pengobatan fisik. Ada dua jenis utama psikoterapi untuk mengatasi keadaan kecemasan. Keadaan ini mencakup psikoterapi wawasan dalam dan psikoterapi pendukung.2 Psikoterapi wawasan dalam mencakup penentuan kekuatan diri sendiri yang berkenaan dengan (a) stabilitas hubungan anda dengan keluarga, sahabat dan lingkungan kerja anda, (b) motivasi untuk berobat dan (c) kemampuan menghadapi kesulitan dalam kehidupan. Jika masalah berhubungan dengan situasi-situasi khusus dan terbatas, pasien mungkin bebas dari konflik-konflik dalam melalui terapi jangka pendek, dan setelah masalahmasalah yang mendasari keadaan pasien terungkap. Pembebasan dari konflik-konflik dalam diri pasien akan menghilangkan gejala kecemasan. Jika penyebab-penyebab yang mendasari keadaan pasien berhubungan dengan kesulitan neurotik mungkin diperlukan psikoanalisis atau bentuk lain sejenis dari pengobatan jangka-panjang. Psikoterapi pendukung mencakup pembahasan kesulitan-kesulitan pasien dengan dokternya. Dokter perlu meyakinkan pasien tentang ketakutan-ketakutan yang tidak realistis dan memberi dorongan kepada pasien untuk menghadapi situasi dan/atau keadaan yang menimbulkan kecemasan. Sekalipun psikoterapi pendukung tidak akan menyembuhkan kecemasan yang dialami tetapi akan membantu pasien memahami situasi yang menyebabkan kecemasan dan mengubahnya agar stres yang pasien alami menjadi berkurang.2 Terapi relaksasi: teknik-teknik relaksasi dapat membantu menenangkan pikiran pasien, karena itu sebagai dokter harus bisa memberikan ide-ide kreatif dan mengajarkan cara merelaksasikan pikiran dari pasien, dapat juga dengan menyarankan mengambil waktu beristirahat seperti berlibur. Meditasi dapat dilakukan setiap hari oleh pasien untuk bisa menenangkan pikirannya, tidak butuh waktu lama untuk melakukan hal ini, cukup mengambil sedikit waktu setiap harinya untuk berdiam diri, menenangkan pikiran, dan menyatu dengan alam.2

Pemberian obat juga cukup penting dalam terapi, obat-obat yang biasa digunakan seperti diazepam, lorazepam, dan benzodiazepin. Pemberian diazepam biasa tidak dilakukan dengan cara suntikan, karena penyerapannya menjadi lambat sekali dan mungkin salah, diazepam sendiri juga tidak terlalu banyak digunakan. Lorazepam diberikan secara suntikan dan dapat diserap dengan cepat, dan akan memberi efek maksimum setelah dua jam. Kelompok obat benzodiazepin biasa diberikan, namun biasa menimbulkan kecanduan, terutama jika digunakan dalam jangka waktu cukup panjang (tiga bulan berturut-turut), karena itu penggunaan harus diperhatikan dan di-tappering off. Efek samping yang lazim dari kelompok obat benzodiazepin ini ialah rasa lelah dan mengantuk, khususnya pada tahap permulaan.2 Epidemiologi Prevalensi tidak diketahui. Rasio seks sama, walau pada beberapa jenis kecemasan rasio wanita sedikit lebih tinggi dibanding pria. Pola familial/genetik dapat memiliki lebih banyak gangguan ansietas maternal.6 Prognosis Kecemasan akut yang muncul pada orang dengan kepribadian yang sebelumnya stabil biasanya berlangsung singkat dan mempunyai prognosis yang baik. Keadaan kecemasan dan panik menahun serta berulang ditemukan orang dengan kepribadian ansietas, yang selalu takut-takut, malu-malu, bimbang, kuatir, dan cemas, dan akan sulit diberikan terapi karena sudah masuk menjadi kepribadian pasien tersebut, sehingga prognosis tidak terlalu baik, namun pasien masih dapat diajarkan bagaimana untuk mencegah dan lebih mengendalikan perasaan cemas yang mereka alami.7 Kesimpulan Nyonya P berusia 29 tahun mengalami gangguan kepribadian cemas: panik, yang merupakan gangguan fungsional, karena itu tidak ditemukan hasil apa-apa baik pada pemeriksaan fisik jantung maupun pemeriksaan penunjang. Nyonya P butuh terapi psikologis dan juga bantuan terapi obat-obatan agar mampu mengendalikan rasa panik yang ia alami, dan prognosisnya baik.

Daftar Pustaka 1. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga; 2005. h. 48-50. 2. Ramaiah S. Kecemasan, bagaimana mengatasi penyebabnya. Edisi ke-1. Jakarta: Pustaka Populer Obor; 2003.h. 14-40. 3. Supratakinya A. Mengenal perilaku abnormal. Yogyakarta: Penerbit Kanisius; 2003.h. 39-44. 4. 5. Tomb DA. Buku saku psikiatri. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2004.h. 107-8. Newsmedical. Penyebab kecemasan. Diunduh dari http://www.news-medical.net, 31 Desember 2012. 6. 7. Maulany RF. Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC;1997.h. 270. Ingram IM. Psikiatri: catatan kuliah. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 2007.h.64.