Anda di halaman 1dari 36

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Akhir-akhir ini makin banyak limbah-limbah dari pabrik, rumah tangga, perusahaan, kantor-kantor, sekolah dan sebagainya yang berupa cair, padat bahkan berupa zat gas dan semuanya itu berbahaya bagi kehidupan kita. Tetapi ada limbah yang lebih berbahaya lagi yang disebut dengan limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Hal tersebut sebenarnya bukan merupakan masalah kecil dan sepele, karena apabila limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) tersebut dibiarkan ataupun dianggap sepele penanganannya, atau bahkan melakukan penanganan yang salah dalam menanganani limbah B3 tersebut, maka dampak dari limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (AB3) tersebut akan semakin meluas, bahkan dampaknya pun akan sangat dirasakan bagi lingkungan sekitar kita, dan tentu saja dampak tersebut akan menjurus pada kehidupan makhluk hidup baik dampak yang akan dirasakan dalam jangka pendek ataupun dampak yang akan dirasakan dalam jangka panjang dimasa yang akan datang (Yusriadi, 2012) Telah terjadi peristiwa luapan Lumpur Lapindo Sidoarjo Surabaya, Jawa Timur pada Tanggal 28 Mei 2006, sekitar pukul 22.00, karena terjadinya kebocoran gas hidrogen sulfida (H2S) di areal ladang eksplorasi gas Rig TMMJ # 01, di lokasi Banjar Panji perusahaan PT. Lapindo Brantas (Lapindo) di Desa

Ronokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Dimana kebocoran gas tersebut berupa semburan asap putih dari rekahan tanah, membumbung tinggi sekitar 10 meter. Semburan gas tersebut disertai keluarnya cairan lumpur dan meluber kelahan warga. Semburan lumpur panas di kabupaten Sidoarjo sampai saat ini belum juga bisa teratasi. Semburan yang akhirnya membentuk kubangan lumpur panas ini telah memporak-porandakan sumber-sumber penghidupan

warga setempat dan sekitarnya. Hasil laporan, tak kurang 10 pabrik harus tutup, dimana 90 hektar sawah dan pemukiman penduduk tak bisa digunakan dan ditempati lagi, begitu pula dengan tambak-tambak bandeng, belum lagi jalan tol Surabaya-Gempol yang harus ditutup karena semua tergenang lumpur panas. Berdasarkan data yang didapat WALHI Jawa Timur, yang mencatat jumlah pengungsi di lokasi Pasar Porong Baru sejumlah 1110 Kepala Keluarga dengan Rincian 4345 jiwa dan 433 Balita, Lokasi Kedung Bendo jumlah pengungsi sebanyak 241 Kepala Keluarga yang terdiri dari 1111 Jiwa dan 103 Balita, Lokasi Balai Desa Ronokenongo sejumlah 177 Kepala keluarga dengan rincian 660 jiwa (Kompas, 2006) Kita tidak akan tahu seberapa parah kelak dampak tersebut akan terjadi, namun seperti kata pepatah Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati, hal tersebut menjadi salah satu aspek pendorong bagi kita semua agar lebih berupaya mencegah dampak dari limbah Bahan Berbahaya dan Beracun tersebut, ketimbang menyaksikan dampak dari limbah B3 tersebut telah terjadi dihadapan kita, dan kita semakin sulit untuk menanggulanginya.
2

Secara garis besar, hal tersebut menjadi salah satu patokan bagi kita, bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan tanggung jawab kita bersama untuk menanggulanginya, khususnya pada masalah limbah Bahan Berbahaya dan (B3) Beracun tersebut. Maka dari itu penulis mengangkat topic ini untuk diketahui lebih lanjut tentang masalah B3 tersebut. Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu perlu adanya suatu tempat yang digunakan untuk penyimpanan sementara limbah B3 sebelum diserahkan kepada pemanfaat dan atau pengolah dan atau penimbun limbah B3. Secara umum suatu tempat penyimpanan bahan berbahaya dan beracun haruslah dirancang untuk menghindari, atau setidaknya meminimalkan, munculnya risiko bahaya yang dapat menimbulkan dampak pada manusia, lingkungan, dan harta benda. Tempat penyimpanan bahan berbahaya dan beracun harus sejak awal dirancang agar sesuai dengan bahan yang akan disimpan. Perubahan jenis bahan yang disimpan akan mengubah rancangan dan tata letak tempat penyimpanan. Oleh sebab itu, konstruksi dari Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) Limbah B3 yang baik harus memiliki system ventilasi, penerangan yang sesuai dengan standar yang ada, sistem penyalur petir

(grounding), sistem labeling dan memiliki penataan ruang yang sesuai dengan standar. Pada Percetakan Digital Kios belum mempunyai Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) limbah B3 sehingga tidak sesuai dengan Keputusan Kepala Bapedal Kep.01/Bapedal/09/1955 tentang tata cara Penyimpanan dan

Pengumpulan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang menyatakan bahwa perusahaan yang mengahsilkan llimbah B3 wajib mempunyai tempat penyimpanan sementara/gudang limbah B3 sebelum dibuang ke perusahaan pemusnah limbah indusrtri. Saat ini limbah pada Percetakan Digital Kios dibuang di selokan tepat di depan Percetakan Digital Kios tersebut. Oleh karena itu, praktikan mengambil limbah percetakan sebagai sampel praktikum guna mengukur nilai TSR, kadar air, pH, suhu dan warna limbah padat (lumpur) Percetakan Digital Kios yang beralamat di jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar.

B. Tujuan Percobaan 1. Untuk mengukur nilai temperatur limbah percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar
4

2.

Untuk mengukur nilai pH dari limbah percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar

3.

Untuk mengukur nilai Total Solid Residu (TSR) dari limbah percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar

4.

Untuk mengukur kadar air (PM) dari limbah percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar

C. Manfaat Percobaan 1. Mahasiswa dapat mengetahui nilai temperatur limbah percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar 2. 3. Mahasiswa dapat mengetahui nilai pH dari limbah percetakan Digital Kios Mahasiswa dapat mengetahui nilai Total Solid Residu (TSR) dari limbah percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar 4. Mahasiswa dapat mengetahui kadar air (PM) dari limbah percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Limbah B3

1. Definisi Limbah B3 Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dan debu, cair atau padat. Diantara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Defenisi dari limbah B3 ialah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracu karena sifat (toxicity, flammability, reactivity dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia

(BAPEDAL, 1995) Sumber Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Limbah B3 dari sumber tidak spesifik. Berasal bukan dari proses utamanya, tetapi berasal dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, pencegahan korosi, pelarut kerak, pengemasan, dll. Limbah B3 dari sumber spesifik. Limbah B3 sisa proses suatu industri atau kegiatan yang secara spesifik dapat ditentukan berdasarkan kajian ilmiah.

2. Klasifikasi Limbah B3 Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi: a) Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap. b) Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi. c) Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengan lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut. d) Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik.

Bahan Berbahaya Beracun (B3) dan pengelolaannya, yang dibagi menjadi 4 klasifikasi, yaitu : 1) Klasifikasi I meliputi : a) Bahan kimia atau sesuatu yang telah terbukti dan diduga keras dapat menimbulkan bahaya yang fatal dan luas, secara langsung atau tidak langsung karena sulit penanganan dan pengamanannya.
7

b) Bahan kimia atau sesuatu yang baru yang belum dikenal dan patut diduga menimbulkan bahaya. 2) Klasifikasi II meliputi : a) Bahan radiasi. b) Bahan yang mudah meledak karena gangguan mekanik. c) Bahan beracun atau bahan lainnya yang mudah menguap dengan LD50 (rat) kurang dari 500 mg/kg atau yang setara, mudah diabsorpsi kulit atau selaput lendir. d) Bahan etilogik/biomedik. e) Gas atau cairan beracun atau mudah menyala yang dimampatkan. f) Gas atau cairan atau campurannya yang bertitik nyala kurang dari 35oC. g) Bahan padat yang mempunyai sifat dapat menyala sendiri. 3) Klasifikasi III meliputi : a) Bahan yang dapat meledak karena sebab sebab lain, tetapi tidak mudah meledak karena sebab sebab seperti bahan klasifikasi II. b) Bahan beracun dengan LD50 (rat) kurang dari 500 mg/kg atau setara tetapi tidak mempunyai sifat seperti bahan beracun klasifikasi II. c) Bahan atau uapnya yang dapat menimbulkan iritasi atau sensitisasi, luka nyeri. d) Gas atau cairan atau campurannya dengan bahan padat yang bertitik nyala 35o Celcius sampai 60o C.
8

e) Bahan pengoksidasi organik. f) Bahan pengoksidasi kuat. g) Bahan atau uapnya yang bersifat karsinogenik, tetratogenik dan mutagenik. h) Alat atau barang barang elektronika yang menimbulkan radiasi atau bahaya lainnya. 4) Klasifikasi IV meliputi : a) Bahan beracun dengan LD50 (rat) diatas 500 mg/kg atau yang setara. b) Bahan pengoksid sedang. c) Bahan korosif sedang dan lemah. d) Bahan yang mudah terbakar Klasifikasi limbah B3 di Indonesia didasarkan atas 2 hal, yaitu karakteristik dan sumber limbah tersebut. PP-18/1999 mengkategorikan limbah B3 berdasarkan sumbernya dari mana limbah tersebut dihasilkan. Sistematika klasifikasi ini identik dengan yang digunakan oleh US-EPA, yaitu limbah kelas F, K, P, dan U seperti yang tercantum dalam RCRA (PP18/1999) Di Indonesia, klasifikasi limbah B3 berdasarkan sumbernya dibagi menjadi 3 golongan. a. Limbah B3 dari sumber yang non-spesifik: Suatu limbah dinyatakan sebagai limbah B3 jika limbah tersebut mengandung salah satu atau
9

lebih senyawa kimia seperti yang tercantum dalam Daftar I dari PP18/1999. b. Limbah B3 dari sumber yang spesifik: Suatu limbah dinyatakan sebagai limbah B3 jika limbah tersebut berasal dari industri seperti yang tercantum dalam Daftar 2 dari PP-18/1999. c. Limbah B3 dari sisa kemasan, tumpahan, bahan kadaluwarsa: Suatu limbah dinyatakan limbah B3 jika limbah tersebut merupakan sisa kemasan, tumpahan, ataupun bahan kadaluwarsa dari suatu produk yang mengandung salah satu atau lebih senyawa kimia seperti yang tercantum dalam Daftar 3 dari PP-18/1999. 3. Karakteristik Limbah B3 Adapun karakteristik Limbah B3 meliputi : a. Mudah Meledak Limbah mudah meledak (explosive) adalah limbah yang pada temperatur dan tekanan standar dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan/atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya. Limbah B3 yang paling berbahaya adalah limbah kimia jenis peroksida organik, karena selain bersifat oksidator kuat juga mempunyai sifat kimia tidak stabil. Kebanyakan senyawa ini sangat sensitif terhadap guncangan, gesekan, dan panas, serta dapat terdekomposisi secara eksotermis dengan melepas panas yang sangat tinggi. Contohnya antara lain adalah asetil
10

peroksida, benzoil peroksida, kumen peroksida, dan asam perasetat. Limbah lain yang bersifat eksplosif adalah limbah kimia jenis monomer yang mempunyai kemampuan berpolimerisasi secara spontan sambil melepaskan gas bertekanan serta panas yang tinggi. Contohnya antara lain butadiena dan metakrilat. b. Mudah Terbakar Limbah mudah terbakar (flammable) adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat sebagai berikut: a) Limbah berupa cairan: mengandung alkohol kurang dari 24% (vol) dan/atau mempunyai titik nyala tidak lebih dari 60 derajat Celcius. b) Limbah bukan berupa cairan: pada suhu dan tekanan standar dapat mudah menyebabkan kebakaran melalui gesekan, penyerapan uap air atau perubahan kimia secara spontan, dan apabila terbakar dapat menyebabkan kebakaran yang terus menerus. c) Merupakan limbah bertekanan yang mudah terbakar. d) Merupakan limbah pengoksidasi. Walaupun limbah ini kebanyakan adalah jenis pelarut organik, namun dapat pula berbentuk padat seperti kalium, litium hidrida, dan natrium hidrida, yang apabila berkontak dengan udara dapat terbakar secara spontan. Limbah B3 jenis ini dinamakan limbah pyrophoric. c. Reaktif Limbah reaktif adalah limbah yang mempunyai salah satu sifat berikut:
11

a) Pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan. b) Dapat bereaksi hebat dengan air. c) Apabila bercampur dengan air berpotensi menimbulkan ledakan, menghasilkan gas, uap, atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan bagi kesehatan manusia dan lingkungan. d) Merupakan limbah sianida, sulfida, atau amoniak yang pada kondisi pH antara 2 dan 12,5 dapat menghasilkan gas, uapa, atau asap beracun dalam jumlah yang membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan. e) Mudah meledak atau bereaksi pada suhu dan tekanan standar. f) Dapat menyebabkan kebakaran karena melepas atau menerima oksigen, atau limbah peroksida organik yang tidak stabil dalam suhu tinggi. Limbah jenis ini dapat bereaksi secara spontan jika berkontak atau bercampur dengan air atau udara. Contohnya asam sulfat bereaksi secara spontan dengan air menghasilkan panas yang tinggi (eksotermis). Beberapa jenis logam seperti kalium, natrium, dan litium juga reaktif terhadap air menghasilkan gas hidrogen yang mudah terbakar. Limbah lain yang berbentuk debu yang sangat halus dari bahan logam, katalis, atau batu bara reaktif terhadap udara dan berpotensi terbakar atau

12

meledak. Adapun bahan pengoksidasi (oksidan) bersifat reaktif terhadap bahan organik seperti asam nitrat, hipoklorit, dan perklorat. d. Menyebabkan Infeksi Limbah yang menyebabkan infeksi (infeksius) adalah limbah-limbah yang berpotensi menginfeksi makhluk hidup. Contohnya antara lain peralatan medis bekas pakai, bagian tubuh yang diamputasi dan cairan dari tubuh manusia yang terinfeksi, limbah laboratorium atau limbah lainnya yang terinfeksi kuman penyakit yang dapat menular. Limbah jenis ini umumnya berupa limbah rumah sakit atau laboratorium klinik. e. Korosif Limbah korosif adalah limbah yang menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit atau mengkorosikan baja. Limbah ini mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk limbah yang bersfat asam dan sama atau lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa. Limbah korosif dapat merusak atau menghancurkan jaringan makhluk hidup akibat adanya efek kimia. Contohnya adalah asam, basa, dan halogen yang mana efeknya terhadap tubuh manusia antara lain iritasi, terbakar, dan hancurnya jaringan tubuh. f. Beracun berdasarkan TCLP Test Limbah beracun (toksik) adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan, yang penentuannya dilakukan dengan pengujian Toxicity Characteristic Leaching Procedure. Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui mobilitas bahan pencemar yang
13

terkandung dalam suatu limbah akibat adanya efek pencucian (leaching). Metode ini dikembangkan oleh US-EPA untuk mengetahui tingkat bahaya air rembesan (leachate) dari suatu landfill limbah domestik, yang pada waktu itu juga digunakan sebagai landfill limbah B3 (co-disposal). Nilai ambang batas TCLP ditetapkan oleh pemerintah dalam PP-18/1999. Jika nilai TCLP untuk suatu parameter tertentu melampaui nilai baku mutu, maka limbah tersebut dikategorikan sebagai limbah B3. g. Beracun berdasarkan Toxicity Test Limbah beracun (toksik) adalah limbah yang mengandung racun dengan bahaya akut, yang penentuannya dilakukan dengan uji toxicity bio-assay. Uji ini adalah penentuan dosis (gram pencemar per kilogram berat badan) yang dapat menyebbabkan kematian 50% populasi makhluk hidup yang dijadikan percobaan (LD50). Pengujian ini biasanya menggunakan hewan percobaan seperti mencit, tikus, kelinci, anjing, dan lain-lain. Sejumlah limbah B3 dimasukkan ke dalam tubuh binatang percobaan tersebut melalui beberapa rute (kecuali pernafasan) seperti intravena, mulut, kulit, anus, mata, dsb. Dosis limbah B3 divariasikan sesuai dengan berat tubuh binatang percobaan. Apabila nilainya lebih kecil dari 15 gram per kilogram berat badan hewan uji, maka limbah tersebut dikategorikan limbah B3. Data toksisitas (LD50) untuk bahan murni (bukan campuran)

14

dapat pula diperoleh dari MSDS atau referensi lainnya seperti Saxs Dangerous Properties. Peningkatan karakteristik materi yang disebut B3 ini menunjukan bahwa pemerintah sebenarnya memberikan perhatian khusus untuk pengelolaan lingkungan Indonesia. Hanya memang perlu menjadi perhatian bahwa implementasi dari Peraturan masih sangat kurang di negara ini. Pengelolaan dan pengolahan limbah B3. Pengelolaan limbah B3 meliputi kegiatan pengumpulan, pengangkutan, pemanfatan,

pengolahan dan penimbunan. Setiap kegiatan pengelolaan limbah B3 harus mendapatkan perizinan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan setiap aktivitas tahapan pengelolaan limbah B3 harus dilaporkan ke KLH. Untuk aktivitas pengelolaan limbah B3 di daerah, aktivitas kegiatan pengelolaan selain dilaporkan ke KLH juga ditembuskan ke Bapedalda setempat. Pengolahan limbah B3 mengacu kepada Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Nomor Kep-

03/BAPEDAL/09/1995 tertanggal 5 September 1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun 4. Penyebab Limbah B3 Menurut hasil identifikasi

Badan

Lingkungan

Hidup

Daerah

menyebutkan, setidaknya ada empat persoalan utama terkait dengan persoalan Limbah B3 di Daerah, yaitu:

15

a.

Belum adanya kemampuan pihak pengusaha untuk melakukan pengolahan Limbah B3 dengan baik. Kemampuan pihak pengusaha ini sesungguhnya erat kaitannya dengan kesadaran hukum. Namun kepatuhan terhadap aturan hukum itupun terkait dengan pengetahuan yang biasanya diserap melalui ada tidaknya sosialisasi suatu peraturan hukum.

b.

Belum tersedianya lokasi untuk melakukan pengelolaan B3 dan Limbah B3, baik yang di fasilitasi oleh pemerintah maupun oleh swasta. Hal ini tidak terlepas dari kondisi Daerah yang melihat urgensinya pengaturan Limbah B3. Kurangnya daya tarik pemerintah dan pengusaha boleh jadi karena Yogyakarta tidak merupakan kota industri. Sehingga dalam kalkulasi dampak Daerah tidak tergolong wilayah industri berat. Itulah sebabnya pihak pemerintah baru saat ini terdorong untuk mengelola dampak B3 secara lebih serius;

c.

Tidak terkontrolnya pembuangan Limbah B3 dari pelaku usaha ke media lingkungan;

d.

Belum tersedianya perangkat hukum di daerah yang berfungsi sebagai instrumen pengendalian . Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan untuk mengajukan suatu langkah konseptual dan strategis dalam penanggulangan Limbah B3 secara lebih baik, di masa mendatang.

5. Pengaruh Limbah B3 terhadap Kesehatan

16

Pengaruh Limbah B3 terhadap Kesehatan dan Lingkungan Dengan karakteistik yang dimilikinya, B3 mempengaruhi kesehatan dengan mencelakakan manusia secara langsung (akibat ledakan, kebakaran, reaktif dan korosif) dan maupun tidak langsung (toksik akut dan kronis) bagi manusia. Zat toksik yang dihasilkan oleh limbah B3 masuk ke tubuh manusia melalui : a. Oral yaitu melalui mulut dan kemudian saluran pencernaan, sulit mencapai peredaran darah. b. Inhalasi yaitu melalui saluran pernapasan, bersifat cepat memasuki peredaran darah. c. Dermal yaitu melalui kulit sehingga mudah masuk ke dalam peredaran darah. d. Peritonial yaitu melalui suntikan, langsung memasuki peredaran darah. Ada 4 proses yang dialami bahan beracun di dalam organisme, yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme dan sekresi. Untuk mengetahui efek negatif bahan toksikan tersebut di dalam tubuh, perlu diketahui perihal zat toksik dan sistem biologis manusia serta interaksi antara keduanya. Zat toksik akan dibawa oleh darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh dan kemudian mengganggu organ tubuh antara lain: keracunan neurotaksik, zat toksik akan dibawa menuju otak, atau zat toksik akan ditimbun dan diproses pada jaringan lemak, otot, tulang, syaraf, liver, pankreas, usus dan kemudian setelah melalui proses- sisanya akan disekresikan ke luar tubuh. Pengaruh
17

limbah B3 terhadap mahluk hidup, khususnya manusia terdiri atas 2 kategori yaitu efek akut, dan efek kronis. Efek akut dapat menimbulkan akibat berupa kerusakan susunan syaraf, kerusakan sistem pencernaan, kerusakan sistem kardio vasculer, kerusakan sistem pernafasan, kerusakan pada kulit, dan kematian. Sementara itu, efek kronis dapat menimbulkan efek karsinogenik (pendorong terjadinya kanker), efek mutagenik (pendorong mutasi sel tubuh), efek teratogenik (pendorong terjadinya cacat bawaan), dan kerusakan sistem reproduksi. Bagian organ tubuh yang terkena pengaruh adalah: Ginjal (umumnya disebabkan zat toksik Cadmium); Tulang (umumnya disebabkan zat toksik Benzene); Otak (umumnya disebabkan zat toksik Methyl Mercury); Liver (umumnya disebabkan zat toksik Carbon Tetrachlorida);Paru-paru (umumnya disebabkan zat toksik Paraquat); Mata (umumnya disebabkan zat toksik Khloroquin). Selain itu, dikenal juga efek yang mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi. B. Tinjauan Khusus Limbah Percetakan Pada masa sekarang ini, percetakan merupakan industri penting di setiap negara maju di dunia. Sebelum produk percetakan siap dipasarkan atau diperlihatkan, produk tersebut harus melalui rangkaian tahapan yang termasuk didalamnya, persiapan seni gambar, pemasangan gambar dan operasi penyelesaian. Litografi, dan gravure telah menjadi metode percetakan tradisional yang paling umum digunakan. Akan tetapi, teknologi dan peralatan yang maju belakangan ini telah memopulerkan beberapa metode lainnya, termasuk Screen

18

Printing, Flexography, Heat Transfer Printing, dan Foto kopi. Percetakan layar dilakukan dengan layar halus, biasanya terbuat dari kawat atau nilon yang dipasang pada suatu bingkai. Sebuah stensil diproduksi di atas layar untuk menutup area non gambar. Tinta diperes melalui stensil dan layar ke atas bahan kain, kertas, atau bahan lainya. Karena tinta yang digunakan pada screen printing lebih bayak dari pada metode percetakan lain, cetakan layar biasanya harus dikeringkan dahulu melalui pengering tinta sebelum dilekatkan.

a. Karakteristik fisik limbah percetakan umumnya berupa : 1. Suspended Solid (SS) Adalah banyaknya zat padat yang tersuspensi didalam air. Zat zat padat dalam air sangat penting bagi penentuan komponen komponen air secara lengkap, juga untuk perencanaan serta pengawasan proses proses pengolahan air buangan. 2. Total Suspended Solid (TSS) Zat zat padat yang berada dalam suspense dapat dibedakan menurut ukuranya sebagai pertikel tersuspensi biasa (partikel tersuspensi). Jenis pertikel koloid tersebut adalah penyebab kekeruhan dalam air yang disebabkan oleh penyimpanan dalam air yang disebabkan oleh penyimpanaan nyata yang menembus suspensi. Zat padat tersuspensi kemudian dapat diklasifikasikan lagi menjadi zat padat terapung yang selalu bersifat organis dan zat padat terhadap yang bersifat organis dan inorganis. Zat padat terendap adalah zat padat dalam
19

suspense yang dalam keadaan tenang dapat mengendap setelah waktu tertentu karena pengaruh gaya beratnya (Alaerts et al, 1984). 3. Total Dissolved Solid (TDS) Zat padat terlarut terdiri dari bagian organik dan anorganik yang tidak dapat disaring. Padatan ini dapat diukur berdasarkan metode gravimetri. TDS mempunyai pengaruh buruk pada unit unit pengolahan limbah yakni menimbulkan korosi karena kadar garam mineral yang tinggi seperti garam garam sulfat dan klorida. 4. Kekeruhan. Kekeruhan didalam air disebabkan oleh adanya tersuspensi, seperti lumpur, zat organik, plankton dan zat zat halus lainnya. Pengukuran kekeruhan dalam air berdasarkan pengukuran intensitas btcahaya yang dipendarkan oleh zat zat tersuspensi dalam air. 5. Warna. Warna didalam air dapat disebabkan oleh adanya ion ion metal alam (besi dan mangan), humus, plankton, tanaman air, dan buangan industri. Warna dapat dibedakan menjadi warna sejati (true color) dan warna semu (apparent color). Warna sejati disebabkan oleh zat zat organik yang terlarut dalam air. Sedangkan warna semu disebabkan oleh partikel partikel tersuspensi dalam air. Standar yang digunakan dalam pengukuran warna adalah larutan Platina Cobalt dalam satuan mg/l PtCo. Kekeruhan dan zat tersuspensi dapat menganggu pemeriksaan warna. Ganguan tersebut dapat dihilangkan dengan penyaringan (Alaerts et al, 1984). b. Beberapa karakteristik kimianya adalah :
20

1. pH.

pH menunjukkan kadar asam atau basa suatu larutan, melalui

aktifitas ionhidrogen H+ . Karena konsentrasi H2O pada system kesetimbangan selalu konstan, maka nilai pH biasanya berada pada range 1 14, dimana pH 7 merupakan kondisi netral. Pada saat kondisi asam meningkat, maka nilai pH akan turun, dan pada saat kondisi alkali meningkat, maka nilai pH akan meeningkat pula. Pengukuran nilai pH dapat dilakukan dengan mengunakan pH meter atau kertas indicator pH. Apabila mengunakan dengan kertas indikator, nilai pH dapat ditentukan dengan membandingkan antara warna kertas indikator yang telah dicelupkan dalam larutan yang akan diukur dengan warna standar. Ketelitian kertas pH berada sekitar 0,2 sampai 0,5 satuan pH. 2. Chemical Oxygen Demand (COD). Chemical Oxygen Demand atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat zat organik yang ada dalam air. COD dinyatakan dalam ppm (part per million) atau mg O2/liter (Alaerts et al, 1984).

21

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. 2. Gelas Sampel Cawan Porselen Kertas pH Universal Termometer Spatula Kassa Oven Desikator Timbangan Gegep 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 unit 1 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 buah

Bahan a. Limbah percetakan (sampel 75% solid, 25% air) b. Air besih (aquades)

B. Waktu dan Tempat Praktikum

22

1. Pengambilan Sampel a. Waktu b. Tempat : Rabu, 26 Maret 2014 pukul 10.40 WITA. : Percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10

Kota Makassar 2. Praktikum di Laboratorium a. Waktu b. Tempat : Kamis - Jumat, 26 - 27 Maret 2014 pukul 10.00 WITA. : Laboratorium Terpadu Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Hasanuddin C. Prosedur Kerja 1. Pengambilan Sampel a. b. c. Gelas plastik disiapkan Sampel limbah diambil menggunakan gelas plastik. Kemudian sampel yang telah diambil dimasukkan kedalam wadah plastik kemudian diberikan label. d. Wadah gelas plastik ditutup rapat.

2. Pengukuran di laboratorium a. b. Alat dan bahan disiapkan dalam keadaan bersih Untuk mendapatkan massa konstan cawan porselen, maka cawan kosong tersebut dimasukkan kedalam oven dan dipanaskan dengan suhu 105 derajat selama dua jam, menggunakan kassa dan tang/gegep c. Limbah percetakan dalam gelas sampel, diukur pH nya dengan menggunakan kertas pH universal. Namun untuk mendapatkan pHnya,
23

maka sampel diaduk terlebih dahulu, kertas dicelup hingga warna kertas pH berubah. d. Setelah mengukur pH, sampel diaduk kembali lalu diukur suhunya dengan menggunakn termometer. e. Setelah 2 jam, cawan porselen tersebut dikeluarkan dari oven lalu

didinginkan di desikator, tutup kemudian penutupnya diputar searah jarum jam selama 5 menit, lalu penutup ditutup rapat dan didiamkan selama 15 menit. f. g. Cawan porselen yang telah didinginkan dan ditimbang Limbah dimasukkan kedalam cawan sebanyak 5 gram menggunakan spatula. h. i. Kemudian cawan dimasukkan kedalam oven, dipanaskan selama 8 jam. Setelah dipanaskan, kembali didinginkan di desikator. Tutup lalu penutupnya diputar searah jarum jam selama 5 menit dan didiamkan selama 15 menit. j. Sampel pada cawan porselen ditimbang dengan timbangan untuk mendapatkan massa konstannya.

24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan Setelah praktikan melakukan praktikum di Laboratorium Terpadu Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, maka didapatkan hasil dari praktikum tersebut yaitu sebagai berikut: Tabel I Hasil pengukuran pH, suhu dan warna limbah Percetakan Digital Kios Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar di dalam Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin Indikator Ph Suhu Warna
Sumber : Data Primer, 2014

Hasil 7 25o C Hitam

Berdasarkan hasil pengukuran pH, suhu dan warna limbah Percetakan Digital Kios di dalam Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin maka didapatkanlah indikator pH Limbah Percetakan Digital Kios dengan hasil nilai 7, sedangkan suhu Limbah Percetakan Digital Kios dengan hasil 25o C dan warna Limbah Percetakan Digital Kios adalah warna hitam.

25

Adapun hasil pengukuran cawan dan limbah Percetakan Digital Kios sebelum dan sesudah dipanaskan di dalam Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin berdasarkan pengukuran yang dilakukan oleh praktikan adalah sebagai berikut: Tabel II Hasil pengukuran cawan dan limbah Percetakan Digital Kios sebelum dan sesudah dipanaskan di dalam Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin Cawan Kosong (1) 28,8924 gr Cawan berisi limbah sebelum dipanaskan (2) 34,0785 gr Cawan berisi limbah sesudah dipanaskan (3) 30,7004 gr

Sumber : Data Primer, 2014

Berat limbah : (2) (1) = 5,1861 gr Berat padat : (3) (1) = 1,808 gr TSR = Padatan/limbah x 100% 1,808/5,1861 = 34,86%

pm = (100 TSR) pm = 100 34% = 65,14%

Berdasarkan hasil pengukuran cawan dan limbah Percetakan Digital Kios di dalam Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin maka didapatkanlah hasil dari cawan kosong seberat 28,8924 gr, cawan yang berisi limbah sebelum dipanaskan seberat 34,0785 gr, dan cawan berisi limbah sesudah dipanaskan seberat 30,7004 gr. Berat limbah Percetakan Digital Kios seberat 5,1861 gr, berat padat seberat 1,808 gr. Total Solid Residu (TSR) senilai 34,86% dan kadar air (pm) senilai 65,14%
26

B. Pembahasan Pada Tabel I hasil pengukuran pH, suhu dan warna limbah Percetakan Digital Kios di dalam Laboratorium Terpadu FKM Universitas Hasanuddin didapatkan: a. Hasil pengukuran pH Percetakan Digital Kios senilai 7. Aktivitas mikroorganisme secara signifikan dipengaruhi oleh pH adalah parameter untuk mengetahui intensitas tingkat kesamaan/kebiasaan dari suatu larutan yang dinyatakan dengan konsentrasi ion hidrogen terlarut. Keasaman atau kealkalian tanah (PH) adalah suatu parameter penunjuk keaktifan ion H dalam suatu larutan yang berkeseimbangan dengan H tidak terdisosiasi dari senyawa-senyawa dapat larut dan tidak larut yang ada dalam sistem (Poerwowidodo,1991) Kapasitas keasaman menujukkan ikatan ion H terdisosiasi ditambah H tidak terdisosiasi di dalam sistem air limbah (Poerwidodo,1992). Nilai pH limbah adalah ukuran kemasaman atau kebasaan limbah. Air limbah yang tidak tercemar memiliki pH antara 6.5-7.5 , dengan demikian pH limbah percetakan Digital Kios yg senilai 7 tersebut masih terbilang normal. Sifat air bergantung pada besar kecilnya pH. Air yang memiliki pH lebih kecil dari pH normal akan bersifat masam, sedangkan air yang memilki pH lebih besar dari pH normal akan bersifat basa.

27

b. Suhu limbah percetakan Digital Kios adalah 25o C dimana Limbah yang mudah meledak adalah limbah yang pada suhu dan tekanan standar (25 0C, 760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan/atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya. c. Sedangkan warna limbah percetakan Digital Kios adalah warna Hitam dikarenakan warna limbah tersebut berasal dari percetakan yang notabene menggunakan tinta berwarna hitam. d. Pada tabel II menunjukkan hasil nilai limbah, limbah padat, TSR dan juga kadar air limbah Percetakan Digital Kios. Berat limbah Percetakan Digital Kios seberat 5,1861 gr, berat padat seberat 1,808 gr. Total Solid Residu (TSR) senilai 34,86% dan kadar air (pm) senilai 65,14%

28

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pemeriksaan nilai pH, suhu dan warna dari limbah percetakan Digital Kios di Laboratorum Terpadu FKM Universitas Hasanuddin maka praktikan dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: a. Nilai pH dari limbah percetakan Digital Kios di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar adalah pH 7. b. Suhu dari limbah percetakan Digital Kios di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar adalah 27o C. c. Warna dari limbah percetakan Digital Kios di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar adalah warna Hitam. d. Berat limbah percetakan Digital Kios dari di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar yaitu 5,1861 gr e. Berat padat limbah percetakan Digital Kios di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 10 Kota Makassar yaitu 1,808 gr f. Nilai Total Solid Residu (TSR) senilai 34,86% dan nilai kadar air (pm) adalah senilai 65,14%

29

B. Saran Setelah praktikan melakukan praktikum di Laboratorum Terpadu FKM Universitas Hasanuddin dan telah menyusun Laporan Praktikum Pengukuran Nilai, TSR, Kadar Air, pH, Suhu dan Warna Limbah Padat (Lumpur) Percetakan Digital Kios, maka praktikan ingin memberi saran sebagai berikut. 1. Sebaiknya disediakan lokasi untuk melakukan pengelolaan B3 dan Limbah B3, baik yang di fasilitasi oleh pemerintah maupun oleh swasta. Hal ini tidak terlepas dari kondisi Daerah yang melihat urgensinya pengaturan Limbah B3. 2. Mengontrol pembuangan Limbah B3 dari pelaku usaha ke media lingkungan.

30

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts et al, 1984. Klasifikasi Limbah Percetakan, Jakarta

BAPEDAL, 1995. Klasifikasi Limbah B3. Jakarta, Indonesia

Kompas, 2006. Lumpur Lapindo. Sidoarjo, Jawa Timur diakses pada tanggal 30 Maret 2013

Poerwowidodo,1991. Keasaman dan Kealkalian Tanah. Surabaya, Jawa Timur

Siahaan, N.H.T., Ekologi Pembangunan dan Hukum Tata Lingkungan, Jakarta: Erlangga Slamet, Juli Soemirat. 1994. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, Yusriadi,2012. Definisi Limbah B3. http://blog.ub.ac.id/yusriadiblog/2012/10/11/definisi-limbah-b3.html. Diakses pada tanggal 30 Maret 2014

31

LAMPIRAN

32

Gambar 1. Anggota anggota kelompok 2 Limbah Percetakan (Georgius, Jumrianti, Rifkah, Hilda, Rifal)

Gambar 2. Sampel Limbah Percetakan Digital Kios

33

Gambar 3. Limbah diaduk sebelum dicelupkan kertas pH universal

Gambar 4. Pengukuran suhu limbah menggunakan Termometer

34

Gambar 5. Memasukkan sampel kedalam cawan menggunakan spatula

Gambar 6. Cawan berisi limbah dimasukkan ke dalam oven

35

Gambar 7. Cawan didinginkan di desikator

Gambar 8. Cawan ditimbang menggunakan timbangan

36

Anda mungkin juga menyukai