Anda di halaman 1dari 22

SISTEM JARINGAN RUMAH SAKIT INSTALASI LABORATORIUM

Di susun oleh : Khusnul Khuluq Marifatul Kholisatin Martha Arifanny M. Ari Sandi (025) (026) (027) (028)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK SURABAYA 2013

Instalasi Laboratorium
1. PERANCANGAN LABORATORIUM KESEHATAN 1.1 1.1.1 Perencanaan Laboratorium satu ruang Gambar 1.1 memperlihatkan tata letak yang mungkin dari sebuah laboratorium medis perifer sebagai bagian dari pusat pelayanan kesehatan. Gambar ini menunjukkan sebuah laboratorium yang sesuai untuk melakukan beberapa atau seluruh teknik pemeriksaan yang dijelaskan dalam pedoman ini. Perencanaan ini terbatas untuk satu ruangan saja karena hanya ruangan tersebut yang tersedia untuk laboratorium. Ruangan sebaiknya berukuran sekurang-kurangnya 5 m x 6 m.

2.

Lingkup Sarana Pelayanan Laboratorium direncanakan mampu melayani tiga bidang keahlian yaitu patologi klinik, patologi anatomi dan forensik sampai batas tertentu dari pasien rawat inap, rawat jalan serta rujukan dari rumah sakit umum lain, Puskesmas atau Dokter Praktek Swasta. Pemeriksaan laboratorium pada Rumah Sakit Kelas B adalah : 1. Patologi klinik dengan pemeriksaan : - Hematologi sederhana - Hematologi lengkap - Hemostasis penyaring dan bank darah - Analisis urin dan tinja dan cairan tubuh lain - Serologi sederhana/ immunologi - Parasitologi dan mikologi - Mikrobiologi - Bakteriologis air - Kimia Klinik 2. Patologi Anatomi - Histopatologi lengkap - Sitologi lengkap - Histokimia - Imunopatologi - Patologi Molekuler 3. Forensik, yaitu melakukan pelayanan kamar mayat dan bedah mayat forensik - Otopsi forensik - Perawatan/pengawetan mayat - Visum et repertum mayat - Visum et repertum korban hidup - Medikolegal - Pemeriksaan histopatologi forensik - Pemertiksaan serologi forensik - Pemeriksaan forensik lain - Toksikologi forensik

Pelayanan laboratorium tersebut dilengkapi pula oleh fasilitas berikut : Blood Sampling Administrasi penerimaan spesimen Gudang regensia & bahan kimia Fasilitas pembuangan limbah Perpustakaan, atau setidaknya rak-rak buku

3.

KEBUTUHAN RUANG, FUNGSI DAN LUASAN RUANG SERTA KEBUTUHAN FASILITAS Kebutuhan Ruang, Fungsi dan Luasan Ruang serta Kebutuhan Fasilitas Pada Instalasi Laboratorium

No

Nama Ruangan Fungsi Ruangan

Besaran Ruang / Luas

Kebutuhan Fasilitas

A. 1. Ruang Administrasi dan Rekam Medis (Terdapat loket pendaftaran, loket pembayaran, dan loket pengambilan hasil) 2. Ruang Tunggu Pasien & Pengantar Pasien 3. Ruang Pengambilan/ Ruangan pasien & pengantar pasien Ruangan untuk staf

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK 3~5 m2/ petugas Meja, kursi, computer, printer, lemari, lemari arsip, dan peralatan kantor lainnya.

melaksanakan tugas administrasi, pendaftaran, pembayaran dan pengambilan hasil serta ruangan untuk penyimpanan sementara berkas film pasien yang sudah dievaluasi.

1~1,5 m2/ orang (min. 25 m2)

Tempat duduk, televisi & Telp umum (bila RS mampu),

menunggu diberikannya pelayanan lab. Ruang tempat pengambilan sample

Sesuai Kebutuhan

Meja. Kursi, jarum suntik dan pipetnya,

Penerimaan Bahan/ Sample

darah, pengumpulan sample urin, feses. Ruangan ini dilengkapi dengan toilet untuk pengambilan sampel urin dan feses

container urin, timbangan, tensimeter.

4.

Bank Darah

Ruang tempat pengambilan dan penyimpanan persediaan darah.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, refrigerator, freezer, blood pack transporter, blood bank, thermosealer, dll

5.

Ruang Konsultasi

Ruang tempat konsultasi pasien dengan dokter spesialis Patologi klinik.

Sesuai Kebutuhan

Meja, kursi, dan peralatan kantor lainnya.

6.

Laboratorium Sero Imunologi

Ruang pemeriksaan/ analilsis sero imunologi

Sesuai Kebutuhan dan jenis alat yang dipergunakan

Mikroskop fluorescence, sentrifuge, waterbath, autoanalyzer imunologi, rotator shaker, refrigerator, freezer, incubator, pipet otomatis dengan berbagai ukuran, pipet volume dengan berbagai ukuran, washing sink.

7.

Laboratorium Kimia Klinik

Ruang pemeriksaan/ analilsis kimia klinik.

Sesuai Kebutuhan dan jenis alat yang dipergunakan

Meja lab, spektrofotometer, sentrifus, water bath, electrophoresis protein, autoanalyzer kimia, electrolyte

analyzer, incubator, timbangan analitik, blood gas analyzer, pipet otomatis dengan berbagai ukuran, pipet volume dengan berbagai ukuran, washing sink 8. Laboratorium Hematologi Ruang pemeriksaan/ analilsis hematologi dan hemostasis, dll Sesuai Kebutuhan dan jenis alat yang dipergunakan Meja lab, spektrofotometer, autoanalyzer untuk hemostasis, autoanalyzer untuk hematologi, hematologi elektrophoresis, mikroskop binokuler, mikroskop binokuler dengan digital recorder, sentrifus, sentrifus hematokrit, water bath, Dift counter digital dan manual, rolling mixer/ rotator, incubator, haemocitometer, refractometer, refrigerator, pipet otomatis dengan berbagai ukuran, pipet volume dengan berbagai ukuran, washing sink, timer,

stopwatch

9.

Laboratorium Mikrobiologi

Ruang pemeriksaan/ analilsis mikrobiologi

Sesuai Kebutuhan dan jenis alat yang dipergunakan

Analytical balance, autoclave, automatic analyzer microbiologi, sterilisator kering dan basah, incubator, loop/kaca pembesar, mikropscope fluorescence, microscope binocular dengan digital reader, microscope binocular, microtitation plate incubator, petri dish, reader antibiotic, reader patri dish, rotator shaker, automatic reader analyzer untuk identifikasi dan resistensi kuman, pipet otomatis dengan berbagai ukuran, Bunsen, densimat, bio safety cabinet (BSC), anaerobic jar, washing sink

10. Laboratorium Urinalis Ket : Lab. Ini dapat

Ruang pemeriksaan/ analilsis urin

Sesuai Kebutuhan dan jenis alat yang dipergunakan

Automatic urin analyzer, sentrifus, laboratory refrigerator,

digabungkan dengan lab. Lain. 11. Ruang Penyimpanan Bio Material Ruang tempat penyimpanan bio material Sesuai Kebutuhan dan jenis alat yang dipergunakan 12. Ruang Sputum/ Dahak Ruang tempat pengambilan specimen dahak Sesuai Kebutuhan dan jenis alat yang dipergunakan

microscope binocular, refractometer, water bath, washing sink Rak, refrigerator, freezer, dll

Ruangan dengan resiko pajanan tinggi, dilengkapi fasilitas penggantian/pertukara n udara (exhause fan)

13. Gudang Regensia dan Bahan Habis Pakai 14. Ruang Cuci Peralatan 15. Ruang Diskusi dan Istirahat Personil. 16. Ruang Kepala Laboratorium

Ruang tempat penyimpanan regensia bersih dan bahan habis pakai. Ruang tempat pencucian regensia bekas pakai. Ruang tempat diskusi dan istirahat personil/ petugas lab. Ruang tempat kepala laboratorium bekerja dan melakukan kegiatan perencanaan dan manajemen.

Sesuai Kebutuhan

Rak/Lemari

Sesuai Kebutuhan Sesuai Kebutuhan

Lemari, sink

Meja, kursi, lemari, dll

Sesuai Kebutuhan

Kursi, meja, computer, printer, dan peralatan kantor lainnya.

17. Ruang Petugas Laboratorium 18. Ruang Ganti/

Ruang tempat istirahat petugas laboratorium. Ruang tempat ganti pakaian petugas

Sesuai Kebutuhan Sesuai

Kursi, meja, sofa, lemari loker

Loker 19. Dapur Kecil (;Pantry)

laboratorium. Sebagai tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di Instalasi CSSD dan sebagai tempat istirahat petugas.

Kebutuhan Sesuai Kebutuhan Perlengkapan dapur, kursi, meja, sink

20. KM/WC pasien

KM/WC dan pengambilan sample urin

@ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

21. KM/WC petugas

KM/WC

@ KM/WC pria/wanita luas 2 m2 3 m2

Kloset, wastafel, bak air

B C

LABORATORIUM PATOLOGI ANATOMI LABORATORIUM KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

4.

PERSYARATAN KHUSUS 1. Laboratorium skrining darah dilengkapi bak pencuci (sink) untuk membersihkan peralatan laboratorium. 2. Ruangan harus mudah dibersihkan, tidak menggunakan warna-warna yang menyilaukan. 3. Suhu ruangan harus dijaga antara 220- 270 C dengan kelembaban 50 70 %. 4. Stop kontak pada ruang penyimpanan darah dilengkapi dengan Catu Daya Pengganti Khusus (CDPK/UPS) 5. Memiliki sistem pembuangan air yang baik.

5.

ALUR KEGIATAN.

6.

INSTALASI PENUNJANG 6.1 INSTALASI LISTRIK Suplai energi listrik harus cukup untuk menjamin kontinuitas kerja sebuah laboratorium. Energi listrik tersebut dapat bersumber dari : Suplai listrik utama Generator Sistem suplai energi surya.

Laboratorium di daerah terpencil sering mengalami kesulitan dalam suplai energi listrik secara kontinu dan, karena itu, memerlukan generator pembangkit listrik lokal atau sistem suplai energi surya.

6.1.1 Sumber energi listrik Generator Energi listrik dapat dihasilkan oleh sebuah generator bahan bakar (fuel generator). Generator semacam ini dapat dibuat dengan memanfaatkan energi hasil pembakaran dari mesin kendaraan bermotor atau generator yang sudah dirancang khusus. Generator pembangkit listrik dapat menghasilkan arus bolak-balik sebesar 110 volt CV) atau 220 V dan umumnya dapat menghasilkan energi lebih besar dibandingkan mesin mobil. Mesin mobil menghasilkan arus searah sebesar 12 V atau 24 V, yang dapat disalurkan ke dalam baterai yang dapat diisi ulang . Jenis arus listrik yang tersedia akan memengaruhi pemilihan peralatan laboratorium; sebagai contoh, suatu alat yang memerlukan arus searah bisa mendapat suplai energi dari: - baterai - jaringan arus searah, menggunakan transformator - jaringan arus bolak-balik,menggunakan converter.

Instalasi jaringan arus searah, mudah dan aman dalam mengoperasikannya. Namun, untuk alat yang memerlukan arus searah bertegangan rendah (6V, 12V atau

24V) tegangan tinggi yang dihasilkan oleh jaringan arus searah perlu diubah dengan menggunakan transformator. Sementara, untuk alat yang memerlukan arus bolak-balik (110 V, 220 V atau 240 V) arus searah harus diubah menjadi arus bolak-balik dengan menggunakan inverter. Inverter berat dan mahal serta potensial untuk terjadi kehilangan energi secara signifikan dalam proses konversinya. Karena itu, lebih baik memilih peralatan yang menggunakan arus searah saja atau arus bolak-balik saja, sesuai dengan sumber energi yang tersedia, sehingga penggunaan converter dapat dihindari.

Sistem Suplai Energi Surya (sistem photovoltaic) Sebuah laboratorium dengan beberapa peralatan yang kebutuhan energinya rendah dapat dijalankan dengan suplai energy yang kecil. Untuk laboratorium di daerah terpencil, sistem suplai energi surya mungkin lebih sesuai dibandingkan generator karena sistem tersebut tidak bergantung pada suplai bahan bakar dan mudah dalam perawatannya. Sistem suplai energi surya terdiri atas tiga komponen: panel surya sebuah regulator pengisian elektronik baterai.

Panel surya Ada dua tipe panel surya yang tersedia di pasaran: panel sel silikon kristal panel sel silikon amorf.

Panel sel silikon amorf lebih murah, tetapi menghasilkan energi kurang efisien dibandingkan panel sel silikon kristal. Panel surya harus dipasang sedemikian rupa sehingga terpapar cahaya matahari secara langsung, karena terhalangnya cahaya dapat mengurangi efisiensi produksi energi. Panel surya harus diletakkan dengan sudut inklinasi sebesar 15. Sisi bawah panel harus memiliki ventilasi yang bebas. Jarak minimal antara si si bawah panel dan permukaan konstruksi penyangga harus lebih dari 5cm untuk mencegah pemanasan panel, yang dapat mengurangi efisiensi produksi energi.

6.2 INSTALASI AIR 6.2.1 INSTALASI SALURAN AIR : PROSEDUR SEDERHANA Kesalahan dalam instalasi saluran air (plumbing) dalam suatu laboratorium (air yang menetes, bak tampung yang terpampat, dsb.) dapat menimbulkan hambatan bermakna terhadap kelancaran pekerjaan laboratorium. Beberapa prosedur sederhana untuk memperbaiki saluran air diuraikan di bawah ini, seandainya seorang teknisi instalasi saluran air (plumber) belum ada.

6.2.1.1 ALAT DAN BAHAN Kunci inggris Kunci pipa Satu set obeng Sikat botol Cincin penutup untuk keran Sumbat karet, seperti yang digunakan untuk botol penisilin

Alat penyedot untuk pipa yang mampat Benang ulir dan bahan perekat sebagai pengunci keran, bila tersedia. Perhatian: Sebelum melakukan perbaikan saluran air, matikan sumber air utama.

6.2.1.2 Keran Keran terdiri dua bagian (Gambar 2.16) : - badan keran (B), tempat air mengalir - kepala keran (H), yang mengatur besarnya aliran air melalui cincin penutup (W).

Di antara kepala dan badan keran, terdapat pengunci keran (joint [J]) dari karet atau benang ulir.

Apa yang harus dilakukan bila air tetap mengalir padahal keran sudah ditutup Bila air tetap mengalir padahaI keran sudah ditutup, cincin penutup perlu diganti. 1. Buka kepala keran dengan kunci inggris (diputar berlawanan arah jarum jam) (Gbr. 2.17) 2. Lepaskan cincin yang rusak dari bagian dasar kepala keran (base [B]). Bila cincin dilekatkan (Gambar 2.18 [a]), Iepaskan dengan cara menariknya. Bila terpasang sekrup, lepaskan sekrup tersebut.

3. Ganti dengan cincin baru berjenis sama. 4. Bila air tetap bocor setelah cincin penutup diganti, kerusakan kemungkinan besar terletak pada "dudukan" (seating [8]) cincin(Gbr. 2.19 [a]). Letakkan sumbat karet pada lubang kebocoran (GbI'. 2.19 [b]). Tindakan ini bersifat sementara sebelum teknisi datang.

Apa yang harus dilakukan bila kebocoran terjadi di kepala keran

Bila kebocoran terjadi di kepala keran, pengunci keran (joint) harus diganti. 1. Lepaskan kepala keran dengan kunci inggris. 2. Ganti pengunci lama dengan pengunci baru berjenis sama. Bila pengunci terbuat dari benang ulir (tow): 1. Lepaskan pengunci lama, kikis bagian berulir menggunakan ujung pisau (Gbr. 2.20). 2. Pasang benang ulir baru pada bagian tadi, mulai dari ujung atas dan diputar searah jarum jam (Gbr. 2.21).

3. Oleskan bahan perekat (jointing compound) pada benang ulir tersebut (Gbr. 2.22).

4. Pasang kepala keran pada badan keran lalu putar ke bawah sedalam-dalamnya.

Mengganti keran Lepaskan sekrup keran yang rusak dengan kunci pipa (diputar berlawanan arah jarum jain). Pasang keran baru; bagian akhir badan keran berupa suatu bagian berulir. Lilitkan benang ulir dan oleskan bahan perekat seperti yang diterangkan di atas.

6.2.1.3 Bak tampung Komponen bak tampung (Gbr. 2.24) Bak tampung terdiri atas. - badan bak, terfiksasi ke tempat aliran keluar bak tampung oleh sebuab sambungan (J1); - leher angsa berbentuk U, terfiksasi ke badan bak oleh sebuah sambungan (J2). Keseluruhan bak tampung terhubung ke pipa pembuangan dengan sebuah sambungan (J3). Air pembuangan mengalir ke dalam reservoir yang selalu terisi air (seal). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah udara kotor dari pipa dan saluran pembuangan menuju bak tampung. Bak tampung dapat terpampat sehingga air limbah tidak dapat mengalir keluar.

Mengatasi pemampat dengan pengisap Letakkan pengisap di atas saluran pembuangan. Biarkan sedikit air tergenang di sekitar pengisap untuk membantu melekatkan pengisap. Pegangannya ditekan ke bawah untuk meratakan pengisap (Gbr. 2.25). Tarik pengisap ke atas, lalu tekan ke bawah lagi kuat-kuat. Ulangi beberapa kali secepat yang anda dapat lakukan. Isapan tersebut kemungkinan dapat menarik apa pun pemampat bak tampung.

Mengatasi pemampat dengan bahan klmla Dapat digunakan serbuk sodium (natrium) hidroksida 250 gram. Taburkan serbuk di dasar bak tampung di atas pipa pembuangan. Tuangkan dua liter air mendidih di atas serbuk

tersebut (hindari percikan air). Biarkan selama lima menit, kemudian bilas seluruh bak tamping dengan air dingin dari keran. Peringatan: Larutan natrium hidroksida sangat korosif dan harus digunakan dengan sangat hati-hati. Bila larutan ini terkena kulit atau mata, bagian tubuh yang terkena dibilas dengan air sebanyak-banyaknya.

Mengatasi pemampat dengan mengosongkan bak tampung Letakkan sebuah ember di bawah bak tampung. Lepaskan sekrup pada sambungan J2 dengan kunci yang sesuai (Gbr 2.26). Bersihkan bak tampung dengan sikat botol atau sepotong kawat. Bersihkan semua bahan sisa pembuangan. Bila terdapat endapan putih (limescale) cli dalam bak tampung, harus diangkat sampai bersih. Panaskan bak tampung di dalam larutan asam asetat (20 ml asamper liter air). Bak tampung dipasang kembali.

Apa yang harus dilakukan bila bak tampung bocor Bila tercium bau tak sedap dari pipa eembuangan bak tampung, reservoir air permanen (seal) di dasar bak tampung pasti mengalami kebocoran karena kerusakan sambungan J2. Kencangkan sekrup pada sambungan tersebut atau ganti dengan sambungan baru (Gbr. 2.27). Perhatian: Jangan menuangkan larutan asam kuat ke dalam bak tampung karena dapat menyebabkan korosi.

6.2.2 AIR UNTUK LABORATORIUM Demi kelancaran pekerjaan di suatu laboratorium medis, diperlukan sumber air yang adekuat. Untuk itu, diperlukan: air bersih air suling

air bebas-mineral (bila memungkinkan) air dapar (bila memungkinkan).

6.2.2.1 Air bersih Untuk memeriksa apakah sumber air bersih atau tidak, isi sebuah botol dengan air, lalu diamkan selama tiga jam. Periksa dasar botol. Bila terdapat endapan, air tersebut perlu disaring. Penyaringan Menggunakan tabung porselen berpori atau gelas penyaring "sintered" Jenis penyaring ini dapat dihubungkan' ke sebuah keran . Atau, dapat direndam di dalam wadah berisi air yang akan disaring (Gbr. 2.28). Perhatian : Penyaring jenis ini harus dibongkar sebulan sekali dan dicuci di dalam air mendidih yang telah disaring.

Menggunakan penyaring pasir Penyaring pasir dapat dibuat di laboratorium. Untuk membuatnya, diperlukan (Gbr.2.29): reservoir penyaring (wadah besar, seperti drum logam, pot tembikar besar, atau ember yang dilubangi) pasir (S) kerikil (G) .

Catatan: Air yang telah disaring dengan penyaring pasir hampir pasti terbebas dari partikel-partikel. Namun, air ini dapat mengandung senyawa kimia larut air dan bakteri .

Penyimpanan air Bila persediaan air terbatas atau bersumber dari tangki atau sumur, air sebaiknya disimpan sebanyak-banyaknya sebagai cadangan, dianjurkan dalam wadah kaca atau plastik. Air yang disimpan harus dituang terlebih dahulu sebelum disaring.

Sumber Air Bila tidak tersedia air mengalir di laboratorium, dapat dibuat sistem penyalur air sebagai berikut (lihat Gbr. 2.30). 1. Letakkan wadah air di atas rak tinggi. 2. Hubungkan sebuah selang karet ke dalam wadah sehingga air dapat mengalir ke bawah. 3. Selang dijepit dengan klem Mohr atau penjepit-sekrup keeil.

6.2.2.2

Air Suling Air suling tidak mengandung senyawa nonvolatil (misalnya, berbagai mineral),

tetapi dapat mengandung senyawa organic volatil. Pembuatan

Air suling dibuat menggunakan suatu penyuling, yaitu air biasa dipanaskan sampai mendidih, kemudian uap yang dihasilkan didinginkan dalam pipa pendingin sehingga terkondensasi menghasilkan air suling.

Jenis-jenis penyuling air yang tersedia: penyuling tembaga atau logam tahan-karat (alembics) penyuling kaca penyuling tenaga surya. Penyuling dipanaskan dengan gas, minyak tanah, listrik, atau tenaga surya, bergantung pada jenisnya. Kegunaan Air suling digunakan dalam pembuatan reagen dan untuk membilas berbagai peralatan gelas sebelum dikeringkan.

6.2.2.3

Air bebas mineral Air bebas-mineral (demineralized water) adalah air yang tidak mengandung ion,

tetapi mungkin saja masih mengandung senyawa organik. Kegunaan Air bebas-mineral dapat digunakan untuk: membilas peralatan gelas sebelum dikeringkan menyiapkan hampir seluruh reagen laboratorium medis, termasuk reagen pewarnaan.

6.2.2.4

Air Dapar Air suling biasanya bersifat asam dan air bebas-mineral juga akan menjadi asam

bila terpapar udara, Untuk beberapa prosedur laboratorium (persiapan pewarnaan, dll,), pH air harus berkisar 7,0 (pH neutral) dan harus tetap dipertahankan neutral. Untuk menghasilkan pH neutral tersebut, larutan garam pendapar (penyangga) dilarutkan dalam air (dinamakan air dapar),