Anda di halaman 1dari 3

MANIFESTASI KLINIK NYERI Kebanyakan pasien dengan penyakit atau kondisi traumatik otot, tulang, dan sendi biasanya

mengalami nyeri. Nyeri tulang dapat dijelaskan secara khas sebagai nyeri dalam, tumpul yang bersifat membosankan, sementara nyeri otot dijelaskan sebagai pegal atau nyeri dan sering digambarkan sebagai kram otot. Nyeri fraktur tajam dan menusuk dan dapat dihilangkan dengan imobilisasi. Nyeri tajam juga bisa ditimbulkan oleh infeksi tulang akibat spasme otot atau penekanan pada saraf sensoris. Kebanyakan nyeri muskuloskeletal dapat dikurangi dengan istirahat. Nyeri yang bertambah karena aktivitas dapat menunjukkan memar sendi atau otot, sementara nyeri pada satu titik yang terus bertambah adalah proses infeksi (osteomielitis), tumor ganas, atau komplikasi vaskuler. Nyeri menyebar terdapat pada keadaan yang mengakibatkan tekanan pada serabyt saraf. Nyeri bisa berbeda-beda, dan pengkajian maupun penanganan keperawatannya harus dibedakan pula untuk masing-masing pasien. Nyeri dan ketidaknyamanan pasien harus berhasil ditangani. Bukan hanya karena nyeri menghabiskan tenaga tetapi berkepanjangan dapat menyebabkan pasien mengalami preokupasi dan mengalami ketergantungan.

PERUBAHAN PENGINDRAAN Gangguan sensoris sering berhubungan dengan masalah muskuloskeletal. Pasien mungkin menyatakan mengalami parestesia (perasaan terbakar atau kesemutan) dan kebas. Perasaan tersebut mungkin akibat penekanan pada serabut saraf ataupun gangguan peredaran darah. Pembengkakan jaringan lunak atau trauma langsung terhadap struktur tersebut dapat

mengganggu fungsinya. Kehilangan fungsi dapat terjadi akibat gangguan struktur saraf dan peredaran darah yang terletak sepanjang sistem muskuloskeletal. Status neurovaskuler di daerah

muskuloskeletal yang terkena harus dikaji untuk memperoleh informasi untuk perencanaan intervensi. PROSES KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GIPS PENGAKAJIAN Sebelum gips dipasang perawat harus menyelesaikan pengkajian kesehatan umum pasien, tanda dan gejala yang ada, status emosional, pemahaman mengenai perlunya gips, dan kondisi bagian tubuh yang harus diimobilisasi dengan gips. Pengakjian fisik bagian tubuh yang harus diimobilisasi harus melibatkan pengkajian status neurovaskuler, derajat dan lokasi

pembengkakan, memar, dan adanya abrasi kulit. DIAGNOSA KEPERAWATAN Berdasarkan data pengkajian, diagnosa keperawatan utama untuk pasien yang memakai gips harus meliputi: Kurang pengetahuan mengenai program pengobatan. Nyeri yang berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gips. Kurang perawatan diri: makan, mandi/higiene, berpakaian/berdandan, atau toileting karena keterbatasan mobilitas. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan laserasi dan abrasi. Potensial perubahan perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan respon fisiologik terhadap cedera atau gips yang restriktif. MASALAH KOLABORATIF KOMPLIKASI POTENSIAL Berdasarkan data pengkajian, potensial komplikasi yang bisa terjadi meliputi: Sindrom kompartemen. Luka tekan (dekubitus). Sindrom disuse.