Anda di halaman 1dari 18

Konsep atau prinsip yang harus dipelajari: 1.

Konsep yang mendasari mekanisme kontraksi otot dan proses penyediaan energi bagi kontraksi otot 2. Struktur (makros dan mikros) sistem muskuloskeletal tulang dan otot) yang menunjang konsep diatas 3. Konsep terjadinya reaksi peradangan 4. Konsep terjadinya penyembuhan dan regenerasi jaringan tulang dan otot
1. Mekanisme terjadinya kontraksi otot Jawab: Inisiasi dan eksekusi kontraksi otot meliputi tahap-tahap sebagai berikut: Potensial aksi dari saraf motorik sampai pada serat otot Terminal akson mensekresikan asetilkolin Asetilkolin bekerja pada reseptor membran serat otot Pembukaan kanal pada membran otot, diikuti masuknya ion sodium kebagian dalam membran serat otot, menyebabkan timbulnya potensial aksi pada serat otot. Potensial aksi menjalar sepanjang serat otot, menyebabkan sarkoplasmic reticulum melepaskan ion kalsium. Ion kalsium memulai kekuatan tarik-menarik dan bersinggungan satu sama lain antara filamen aktin dan miosin, yang merupakan proses kontraksi. Setelah sepersekian detik, ion kalsium dipompa balik kedalam sarkoplasmik retikulum, sehingga proses kontraksi berhenti. Keterangan: mahasiswa juga perlu menjelaskan sampai pada mekanisme molekuler dari proses kontraksi, setelah mekanisme diatas dipahami dengan baik.

Mekanisme molekuler kontraksi otot:

2. Proses penyediaan energi yang diperlukan otot untuk berkontraksi: Kontraksi otot tergantung pada suplai ATP Mahasiswa perlu mengingat lagi mengenai Siklus Asam sitrat (siklus Kreb)

Beberapa sumber energi yang digunakan untuk refosforilasi ADP menjadi ATP:

o Fosfokreatin, yang dipecah menjadi kreatin, fosfat, dan energi. Energi yang dilepaskan digunakan untuk pembentukan ATP. o Glikolisis dari glikogen yang tersimpan di otot. o Metabolisme oksidatif, yaitu mengkombinasikan oksigen dengan produk akhir glikolisis dan berbagai macam bahan makanan seluler untuk membebaskan ATP 3. Struktur sistem muskuloskeletal (tulang dan otot) yang berperan dalam proses terjadinya gerak Jawab: axial skeleton dan otot-otot axial skeleton, appendicular skeleton dan otot-otot appendikular skeleton. 4. Proses terbentuknya tanda radang (proses inflamasi) akut tersebut pada trauma Jawab: Proses peradangan meliputi tahap-tahap sebagai berikut: Inisiasi mekanisme yang bertanggung jawab untuk melokalisir dan membersihkan benda asing atau jaringan yang mengalami trauma. Amplifikasi respon peradangan Terminasi respon peradangan

Pada kondisi tertentu, kemampuan bersihan jaringan yang rusak dan benda asing terganggu, atau mekanisme regulasi keradangan berubah/terganggu, dapat mencetuskan terjadinya reaksi peradangan persisten (peradangan kronik). 5. Proses penyembuhan dan regenerasi jaringan otot rangka: Jawab: Sesudah mengalami kerusakan/robekan, serat otot memiliki kapasitas terbatas untuk melakukan regenerasi. Kerusakan yang berat akan diperbaiki dengan pembentukan jaringan ikat fibrosa, dengan meninggalkan jaringan parut. Namun demikian pada otot rangka orang dewasa terdapat sel satelit diantara sarkolemma dan endomisium, yang diduga merupakan cadangan sel-sel mioblas embrional. 6. Proses penyembuhan dan regenerasi jaringan tulang pasca trauma/fraktur: Jawab: Pada proses penyembuhan fraktur, terdapat beberapa fase penyembuhan, antara lain: Fase reaktif, yang terdiri dari proses peradangan dan pembentukan jaringan granulasi.

Fase reparatif, yang terdiri dari proses pembentukan kallus dan deposisi tulang lamelar. Fase remodeling.

Proses penyembuhan itu sendiri sangat ditentukan oleh tersedianya sel prekursor yang akan berkembang menjadi kondroblas dan osteoblas, yang esensial untuk proses penyembuhan tulang. Sumber dari prekursor tersebut terdiri dari: Sumber primer, yaitu periosteum Sumber sekunder, yaitu sumsum tulang (jika ada), endosteum, pembuluh darah kecil, dan fibroblas.

Konsep yang harus dipelajari : 1. Struktur makroskopis dan mikroskopis sendi 2. Macam macam persendian berdasarkan struktur, sumbu gerak, fungsi dan kemungkinan gerakannya. 3. Reaksi jaringan persendian terhadap trauma atau cedera. 4. Konsep regenerasi sendi
1. Anatomi dan Histologi : Sendi dibagi dalam bentuk : Synartrosis : persendian melalui Jar. Ikat ( fixed ) Amphiartrosis : persendian melalui tulang rawan ( sightly movable ) Diarthrosis : persendian yang bebas digerakkan ( synovial joint ) Bentuk synarthrosis dan amphiartrosis : Synchondrosis Sutura Schindylesis Gomphosis Syndesmosis Symphisis

Struktur Diarthrosis :

Capsula fibrosa membungkus sendi selengkapnya Lapisan selaput sinovial melapisi capsula dan semua struktur intraarticular, kecuali discus fibrocartilago dan meniscus articularis Permukaan sendi dilapisi cartilago hyalin Cairan sinovial yg berfungsi sebagai pelumas dan nutrisi untuk sendi. Vaskularisasi : Cabang dari pleksus periarticularis menembus capsula articularis membentuk pleksus intraarticularis didalam lapisan sinovial. Aliran Limfatik : Plexus lymphaticus didalam lapisan sinovial mengalirkan getah bening ke limphonodi regional. Persarafan : Umum : saraf yang menginervasi otot yang menggerakkan sendi ikut mempersarafi sendi tersebut Capsula articularis mengandung banyak serabut saraf yang berfungsi dalam perasaan sakit, peregangan, posisi dan getaran sendi. Ujung saraf sensosrik khusus mencatat kecepatan dan arah gerakan sendi. 2. Klasifikasi Persendian : A. Menurut kompleksitas a. Sendi sederhana b. Sendi gabungan c. sendi kompleks B. Menurut bentuk a. Sendi datar b. Sendi engsel ( uniaxial ) c. sendi putar d. sendi bicondylar e. Sendi elipsoid f. sendi sellaris ( pelana ) g. Sendi spheroidal ( multiaxial ) Gerakan pada sendi :

Gerakan translasi : meluncur / menggeser Gerakan angular : fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi Gerakan sirkumduksi Gerakan rotasi

3.Reaksi jaringan persendian terhadap trauma dan cedera : Prinsip hampir sama dengan reaksi jaringan lain terhadap trauma. Terdapat 3 komponen penting yang terjadi : a. Perubahan penampang pembuluh darah b. Perubahan struktur pembuluh darah mikro c. Agregasi leukosit dilokasi jejas Faktor faktor yang mempengaruhi respon radang dan pemulihan : a. penyebab trauma atau cedera b. intensitas c. sifat jejas d. lokasi e. immobilisasi f. pertahanan tubuh dan kemampuan regenerasi 2. Konsep regenerasi sendi : Pada prinsipnya regenerasi sendi sama dengan regenerasi tulang dan jaringan ikat longgar maupun padat. Pemulihan jejas pada sendi merupakan penyembuhan jaringan ikat dan jaringan perkapuran yang terjadi akibat aktifitas osteoblast dan osteoklast.

Konsep atau prinsip yang harus dipelajari: 1. Konsep yang mendasari mekanisme penghantaran informasi dari perifer 2. Konsep yang mendasari mekanisme gerak refleks dan gerak yang dipelajari. 3. Struktur (makros dan mikros) dari sistem saraf yang menunjang kedua konsep diatas 4. Konsep regenerasi jaringan saraf

1. Konsep yang mendasari mekanisme penghantaran informasi dari perifer Jawab: Saat kaki Tn. Parto terkena alat ukir, terjadi proses transduksi pada reseptorreseptor nyeri di area yang terkena alat ukir, dimana rangsang mekanik diubah menjadi potensial aksi. Impuls nyeri dari perifer dikirim melalui serat nyeri (serat nyeri cepat dan serat nyeri lambat) menuju ke ganglion radiks dorsalis, dan dilanjutkan ke cornu posterior medula spinalis melalui radiks posterior. Impuls nyeri cepat yang tiba di cornu posterior medula spinalis, sebagian akan ditransmisikan ke interneuron di medula spinalis di segmen yang sama (intrasegmental) dan/atau di segmen yang berbeda (intersegmental). Sebagian impuls nyeri cepat yang lain akan ditransmisikan menuju ke korteks somatosensorik primer (setelah melewati talamus) dan ke serebelum (jaras asendens). 2. Konsep yang mendasari mekanisme gerak yang dipelajari. Jawab: Impuls yang sampai di korteks somatosensorik primer akan di transmisikan ke area kortikal yang lain (area motorik lobus frontal, area asosiasi kortikal), dan ke bagian subkortikal (ganglia basalis) pada kedua hemisfer.

Serebelum secara kontinyu memberikan kontrolnya terhadap area motorik lobus prefrontal. Gerakan direncanakan di korteks premotor area motor suplemental dengan bantuan ganglia basalis dan serebelum. Eksekusi gerakan yang disadari diperintahkan oleh neuron di korteks motorik primer menuju ke batang otak, medula spinalis (traktus kortikospinal), dan dilanjutkan menuju ke efektor.

Dari area asosiasi kortikal, selanjutnya impuls diinterpretasi di area Wernicke, diteruskan ke area Broca, dan menyebabkan terjadinya teriakan.

3. Konsep yang mendasari mekanisme gerak refleks. Jawab: Impuls yang sampai di cornu posterior medula spinalis, ditransmisikan menuju interneuron medula spinalis ipsilateral dan kontralateral, intersegmental dan intrasegmental. Pada sisi ipsilateral: o Impuls yang diterima oleh interneuron akan dilanjutkan ke neuron motorik anterior. o Dari neuron motorik anterior, impuls akan diteruskan menuju ke tungkai untuk melakukan fleksi spontan (flexor reflex) untuk menjauhi rangsang. Pada sisi kontralateral: o Impuls yang diterima oleh interneuron akan dilanjutkan ke neuron motorik anterior. o Dari neuron motorik anterior, impuls akan diteruskan menuju ke tungkai untuk melakukan ekstensi spontan (crossed extensor reflex) untuk menunjang tubuh agar tidak jatuh saat menjauhi rangsang. 4. Struktur (makros dan mikros) dari sistem saraf yang menunjang kedua konsep diatas. Jawab: Anatomi: o Saraf tepi: N. Spinalis, radix anterior, radix posterior.

o Medula spinalis: substansia alba, substansia grisea, columna dorsalis, columna lateralis (tractus corticospinalis), columna ventralis o Brainstem: Medulla oblongata Pons Mesencephalon Nn. Craniales Nuclei di brainstem: nucleus rubra, vestibuler, retikuler o Cortex: Area Broadmann Pembagian cortex: o Cerebellum: Histologi: o CNS: Neuron Neuroglia Schwann cell Cortex cerebelli Subcortex cerebelli: nucleus-nucleus profundus (dentatus, interpositus, fastigeal) Pedunculus cerebelli (superior, media, inferior) Frontal: cortex motoris primer, cortex premotor, area motor supplemental, area Broca. Parietal: cortex somatosensoris Occipital Temporal: Area Wernicke

o Subcortex: Thalamus: nucleus-nukleus di thalamus Ganglia basalis: bagian-bagian dari ganglia basalis

o Cerebellum:

Purkinje cell, granule cell, basket cell, stellate cell

5. Konsep regenerasi jaringan saraf Jawab: Pada jaringan saraf perifer: terdapat neurolemma (nukleus dan sitoplasma sel schwann yang membungkus sisi luar selubung myelin), sehingga akson dan dendrit yang putus akibat trauma dapat beregenerasi melalui saluran yang dibentuk oleh neurolemma tersebut. Pada jaringan saraf pusat: selubung myelin dibentuk oleh oligodendrosit, sehingga tidak terdapat neurolemma (yang hanya dihasilkan oleh sel schwann). Sehingga regenerasi sel neuron.

Konsep atau prinsip yang harus dipelajari : 1. Struktur normal sistem integumen dan asesoris kulit 2. Konsep yang mendasari proses transduksi bermacam stimulus pada reseptor kulit 3. Konsep yang mendasari penerimaan rangsang hingga sampai sistem saraf pusat 4. Konsep regenerasi kulit : Proses fisiologis regenerasi kulit Proses regenerasi kulit akibat trauma
Jawaban : 1. Mencakup kulit pembungkus dan turunannya, termasuk kuku, rambut dan kelenjarnya. Kulit terdiri dari 2 lapisan yaitu epidermis dan dermis. Bagian epidermis kulit terdapat 5 stratum yaitu : Stratum korneum Stratum lucidum Stratum granulosum Stratum spinosum

Stratum germinativum Kulit merupakan organ terbesar pada diri manusia yang berfungsi sebagai proteksi, sensasi, termoregulasi dan fungsi metabolik. 2. Pengaruh adanya rangsang panas yang menyebabkan kenaikan temperatur maupun

perubahannya akan berpengaruh terhadap respon inflamasi di jaringan kulit. Rangsangan panas pada temperatur 70C atau lebih dalam beberapa detik sudah dapat menyebabkan nekrosis jaringan epidermis, sedangkan pada temperatur 50C kulit masih dapat bertahan tanpa ada kerusakan sel selama 10 menit atau lebih. Luka bakar di kulit dibagi dalam 3 derajat : 1. Luka bakar derajat I : Ditandai adanya kongesti dan nyeri tanpa ada nekrosis jaringan. Terdapat jejas endotel ringan yang menghasilkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskuler dan edeme ringan. 2. Luka bakar derajat II : Ditandai adanya nekrosis dari epitel dan memisahkannya dengan dermis. 3. Luka bakar derajat III : Ditandai dengan kerusakan dari jaringan epitel dan dermis.

3. Macam-macam reseptor di kulit dan proses perangsangannya

Fisiologi klasifikasi dan fungsi serat saraf:

Mekanisme Potensial reseptor ada 4 proses : a. Deformasi mekanis dari reseptor, sehingga merengangkan membran resptor dan membuka kanal ion b. Aplikasi kimiawi dari membran reseptor sehingga membuka kanal ion c. Perubahan temperatur membran yang menyebabkan peningkatan permeabilitas membran d. Efek radiasi elektromagnetik.

Proses dasar perubahan membran potensial adalah perubahan permeabilitas membran reseptor yang diikuti oleh proses difusi ion melalui membran sehingga merubah potensial transmembran.

4.a. Proses fisiologis regenerasi kulit Stratum korneum atau lapisan tanduk merupakan permukaan epidermis paling atas dimana terdapat sel-sel jernih yang tidak berinti yang akan selalu mengalami keratinisasi dan diganti oleh sel-sel baru yang berasal dari lapisan di bawahnya melalui proses mitosis. b. Proses regenerasi kulit akibat trauma panas Proses regenerasi jaringan akibat trauma panas tergantung dari tingkat kerusakan jaringan. Pada luka bakar derajat I, penyembuhan hanya memerlukan pergantian dan perbaikan dari sel endotel yang terkena jejas. Luka bakar derajat II juga mengalami regenerasi tanpa meninggalkan scar (bekas) karena sel basal sebagai sumber sel untuk regenerasi pada epidermis tidak rusak. Luka bakar derajat III terdapat kerusakan dari epidermis, reepitelisasi dimulai dari daerah tersebut. Semakin dalam luka bakar, maka semakin dalam lapisan kulit yang mengalami kerusakan. Regenerasinya tidak dapat sempurna sehingga meninggalkan scar. Hal ini dapat diatasi dengan cara skin graft. Skin graft dilakukan berdasarkan tingkat lapisan kulit yang terkena.

KONSEP YANG HARUS DIPELAJARI : 1. Struktur (Anatomi dan Histologi) sistem saraf pusat yang berperan dalam mekanisme koordinasi dan keseimbangan. 2. Mekanisme terjadinya koordinasi tubuh terkait dengan fungsi cerebelum, ganglia basalis, dan sistem ekstrapiramidalis 3. Mekanisme terjadinya keseimbangan tubuh terkait dengan fungsi organ visual, vestibuler,cerebellum dan proprioseptif
Jawaban pertanyaan yang mungkin timbul : 1. Konsep yang mendasari mekanisme terjadinya keseimbangan tubuh , terkait dengan fungsi organ visual, vestibuler , cerebellum dan proprioseptif. (bella jatuh tersungkur pada saat dia berhenti berputar secara tiba-tiba )

Mekanisme organ vestibuler pada fungsi keseimbangan tubuh:

Bila putaran dengan tiba- tiba dihentikan, maka jelas akan timbul yaitu : cairan endolimfe tetap terus berputar sedangkan kanalis semiserkularisnya berhenti. Pada saat ini kupula akan berbelok ke arah yang berlawanan, sehingga sel rambut tak mengeluarkan impuls sama sekali. Sesudah beberapa detik, cairan endolimfe berhenti bergerak, dan kupula secara bertahap akan kembali ke posisi istirahat. Mekanisme cerebellum pada fungsi keseimbangan tubuh : Bagian dari cerebellum yaitu vestibuloserebelum berfungsi untuk

mempertahankan keseimbangan dan mengontrol gerakan mata. Seseorang dengan disfungsi vestibuloserebelum , keseimbangannya lebih terganggu pada sat melakukan gerakan cepat daripada dalam keadaan diam, terutama bila gerakan tersebut melibatkan perubahan arah gerakan tubuh yang merangsang kanalis semisirkularis. Vestibuloserebelum sangat berguna untuk mengatur keseimbangan antara kontraksi otot agonis dan otot antagonis pada punggung, pinggul, dan bahu sewaktu posisi tubuh berubah cepat seperti yang diperlukan aparatus vestibular Mekanisme organ visual pada fungsi keseimabangan tubuh: Setiap kali kepala berputar tiba-tiba, sinyal yang berasal dari kanalis semisirkularis akan menyebabkan mata berputar dengan arah yang berlawanan dengan arah putaran kepala. Keadaan ini timbul akibat adanya reflek yang diajarkan melaui nuklei vestibular dan fasikulus longitudinalis medial menuju nuklei okular. Gerakan rotasi atau gerakan linier tubuh akan segera

menggeser bayangan penglihatan yang ada pada retina, dan selanjutnya bayangan ini akan dipancarkan ke pusat keseimbangan.

Reseptor di mata

Reseptor di kulit

Reseptor di sendi & otot

Reseptor di kanalis semisirkularis dan organ otolit

Masukan penglihatan

Masukan kutaneus

Masukan proprioseptif

Masukkan vestibularis

Nukleus vestibularis (di batang otak)

Pengolahan terkoordinasi

Cerebellum

Keluaran ke neuron motorik otot-otot ekstremitas dan badan

Keluaran ke neuruon motorik otot-otot mata eksternal

Keluaran ke sistem saraf Pusat

Pemeliharan keseimbangan dan postur yang diinginkan

Kontrol gerakan Mata

Persepsi gerakan dan orientasi

2. Konsep yang mendasari mekanisme koordinasi tubuh terkait dengan fungsi cerebellum, gangglia basalis, dan sistem ekstrapiramidalis. (pada latihan balet yang dilakukan berulang kali dan rutin mampu memberikan gerakan menjinjit, berputar serta melayang dengan baik)

Korteks motorik

Spinoserebelum

Informasi perintah motorik

Membuat penyesuaian sesuai keperluan

Perintah motorik ke otot

Informasi kinerja yang sebenarnya

Pengaktifan reseptor di otot dan sendi

Gerakan

Kontraksi otot rangka

3. Struktur yang berperan dari proses koordinasi dan keseimbangan tubuh.

Organ vestibuler yang berperan dalam fungsi keseimbangan tubuh Anatomi organ vestibuler: bagian dari tulang labirin yang terdiri dari 3 kanalis semisirkularis dan vestibulum ( Sakulus dan utrikulus). Cairan endolimfe yang terdapat pada kanalis semisirkularis Pada makula terdapat beribu-ribu sel rambut. Pangkal dari sel rambut bersinaps dengan ujung-ujung sensorik saraf vestibulokokhlearis.

Cerebellum: Cerebellum bagian terbesar otak belakang, terletak posterior pons dan medulla oblongata. Cerebellum terdiri dari dua hemispherium cerebelli disambung oleh suatu vermis di median.cerebellum terdiri dari 3 bagian fungsional yang berbeda yaitu : Vestibuloserebelum, Spinoserebelum, dan Serebroserebellum.

Ganglia Basalis Sistem Ekstrapiramidal yang lain (kecuali cerebellum & ganglia Basalis)