Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Gypsum merupakan produk samping dari beberapa reaksi kimia, umumnya digunakan sebagai konstruksi dalam industri atau material bahan bangunan, digunakan juga di bidang pendidikan, bidang seni, di bidang kedokteran umum maupun kedokteran gigi. Dalam bidang kedokteran gigi, penggunaan gipsum ini sangat meluas, dan juga salah satu bahan yang sering digunakan. Penggunaan bahan tersebut dapat digunakan dalam membuat model untuk gigi tiruan, yang terdapat campuran plaster didalam kandungannya, plaster jenis lain yang dikenal sebagai stone gigi, diaduk dengan air,dituang ke dalam cetakan, dan dibiarkan mengeras, cetakan plaster yang mengeras tersebut berfungsi sebagai mold untuk membentuk model positif, atau model plaster. Pada model inilah gigi tiruan dibuat tanpa diperlukan kehadiran pasien. Selain itu, ada juga produksi gypsum sintesis yang merupakan terobosan karena mampu mengubah bahan buangan yang mencemari lingkungan menjadi produk baru yang bernilai ekonomi. Sebagai wallboard, gypsum yang diproduksi secara benar ternyata memiliki kualitas lebih baik daripada gypsum yang diperoleh dari penambangan. FYI, AS merupakan Negara perintis dalam memproduksi gipsum sintesis. Seringnya pemakaian bahan gipsum ini dalam bidang kedokteran gigi dikarenakan terdapat banyak keuntungan yang dapat dirasakan, yaitu mudah penggunaannya, harganya terjangkau, ketepatan dan kestabilan dimensi baik, mamapu menghasilkan detail halus dari bahan cetak. Dan ada juga kerugiannya,

gypsum memiliki bahan radioaktif yag tidak baik untuk kesehatan tubuh. Untuk kerugian tersebut, kita dapat menanggulanginya dengan cara penanggulangan yang dapat menghindarkan kita dari bahan radioaktif tersebut saat sedang proses menggunakan gypsum.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari gypsum ? 2. Apa saja komposisi dari gypsum ? 3. Apa saja macam, sifat, & fungsi dari masing-masing tipe gypsum ? 4. Apa saja sifat dari gypsum ? 5. Apa saja syarat syarat dari gypsum? 6. Bagaimana cara manipulasi gypsum yang baik dan benar ? 7. Bagaimana tahap pembuatan model studi, pembuatan die, dan pembuatan model kerja ? 8. Faktor faktor apa saja yang dapat mempengaruhi manipulasi gypsum ? 9. Faktor faktor apa saja yang dapat mempegaruhi setting time ?

1.3 Tujuan 1. Mahasiswa mampu memahami pengertian beserta macam macam gypsum. 2. Mahasiswa mampu memahami komposisi, sifat, dan syarat dari gypsum. 3. Mahasiswa mampu memahami tahap tahap dan cara manipulasi yang baik dan benar. 4. Mahasiswa mampu memahami faktor faktor yang dapat mempengaruhi manipulasi gips.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Gypsum 2.1.1 Gypsum dalam bidang Kedokteran Gigi Gypsum adalah mineral yang ditambang dari berbagai belahan dunia, merupakan produk samping dari beerapa proses kimia. Secara kimiawi, gypsum yang dihasilkan untuk tujuan kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat. Gypsum pada kedokteran gigi digunakan untuk membuat model studi dari rongga mulut serta struktur maksilo-fasial dan sebagai piranti penting untuk pekerjaan laboratorium kedokteran gigi yang melibatkan pembuatan protesa gigi. Gips adalah kalsium sulfat dihidrat, (CaSO4 . 2H2O). Saat mengeras, dimana suhunya cukup tinggi untuk menghilangkan kadar airnya, gips berubah menjadi kalsium sulfat hemihidrat, ((CaSO4)2 . H2O), dan pada temperatur lebih tinggi. Gypsum sendiri dapat dibagi menjadi dua jenis secara umum sebelum diklasifikasikan yaitu : Plaster dan stone gigi. Kandungan utama plaster dan stone gigi adalah kalsium sulfat hemihidrat ((CaSO4)2 . H2O) bergantung pada metode pengapuran bentuk hemihidrat yang berbeda dapat diperoleh. Bentuk ini disebut hemihidrat dan -hemihidrat. Adanya penulisan -hemihidrat dan -hemihidratini menurut kandungan mineral yang ada didalamnya. ( Kenneth J. Anusavice, 2004 : 156). Penggunaan gypsum dalam kedokteran gigi juga dapat diperlihatkan dalam membuat gigi tiruan. Misalnya, campuran plaster of Paris dan air ditempatkan dalam sendok cetak dan ditekan pada jaringan rahang. Plaster dibiarkan mengeras dan

kemudian cetakan dikeluarkan. Dokter gigi sekarang memiliki bentuk negative dari jaringan yang dibentuk tersebut yang dibuat dalam rongga mulut. Bila jenis plaster lain yang dikenal dengan stone gigi, yang sekarang diaduk dengan air sekarang diaduk dengan air kemudian dituang kedalam cetakan model negative yang tadi lalu dibiarkan sampai mengeras. Lalu cetakan plaster yang mengeras tersebut menjadi mold untuk menjadi model positif atau model master. Pada model inilah gigi tiruan dibuat tanpa kehadiran pasien. ( Kenneth J. Anusavice, 2004 : 155).

2.1.2 Kegunaan Gypsum di bidang Kedokteran Gigi 1. Memperoleh cetakan yang akurat jaringan rongga mulut. 2. Restorasi. 3. Piranti orthodonti. 4. Impression Plaster, digunakan dalam pengambilan cetakan untuk rahang yang edentulous (tidak ada gigi). 5. Plaster of Paris a) Mounting atau pemasangan model pada artikulator atau okludator. b) Sebagai bahan study model. c) Sebagai bahan tanam pada proses flasking. d) Sebagai bahan impression (impression material) yang dimodifikasi dengan bahan kimia. 6. Dental stone a) Sebagai bahan pembuatan model dan die.

b) Sebagai binder bagi bahan investment yang sesuai untuk penuangan alloy pada suhu dibawah 1200 derajat celcius. 7. Investment Gips untuk Prosedur Inlay Casting, bahan ini digunakan untuk memperoleh mold dalam proses casting, pada pembuatan inlay, crown dan bridge. 8. Investment Gips untuk Chrom Cobalt Base Alloy, bahan ini digunakan sebagai
bahan tanam dalam prosedur casting pada pembuatan metal prothesa, partial prothesa dan bridge.

2.2 Komposisi gypsum Komposisi/bahan utama dalam gypsum yaitu kalsium sulfat dihidrate dengan rumus kimia (CaSO4 . 2H2O) . Prosentase komposisi kimia dalam kalsium sulfat dihidrate yaitu: Calcium (Ca) Hidrogen (H) CalCium Oksida (CaO) Air (H2O) Sulfur (S) = 23,28 % = 2,34 % = 32,57 % = 20,93 % = 18,62 %

Selain itu, dalam gypsum juga terdapat 1. Calcium sulfate hemihydrat merupakan konstitusi utama dari gypsum yang digunakan di bidang kedokteran gigi. 2. Gypsum cetak sama seperti di atas dengan bahan tambahan seperti natrium sulphate, borax, dan zat pewarna.

3. Hexagonal calcium sulphate, bila terdapat, akan mengalami hydrasi dengan cepat. 4. Orthorhombic calcium sulphate, yang dapat dihasilkan dari gypsum yang terlalu banyak overheating sewaktu pembuatan, bereaksi sangat lambat dengan air (dikenal dengan gypsum gosong atau dead burnt plaster). 5. Adanya impurity lain, baik yang didapati dari bahan baku gypsum maupun yang terjadi selama proses pembuatan. 6. Bahan akselerator dan retardus yang ditambahkan a) Akselerator (bisa mempercepat waktu setting) Contoh Natrium sulfat bertindak sebagai akselerator dengan cara

mempercepat pembentukan larutan kalsium sulfat hemihydrate. b) Retardus (bisa memperlambat waktu setting) Contoh Natrium citrate, bahan ini mengurangi kecepatan pelarutan

hemihydrate dan juga terabsorbsi ke dalam inti kristalisasi sehingga meracuni inti dan menyebabkannya tidak efektif.

2.3 Macam Gypsum 2.3.1 Klasifikasi Gypsum 2.3.1.1 Plaster Cetak ( type I ) Dinamakan plaster of paris. Merupakan jenis bahan bangunan berdasarkan kalsium sulfat hemihidrat. Digunakan dari bahan bangunan mirip adukan semen dan

didapat dari pemanasan 150C. Setelah pengeringan, plaster tetap sangat lembut dan mudah dimanipulasi dengan alat logam maupun ampelas. Cocok sebagai finishing, bukan bahan materi. Karena waktu setting cepat, dibutuhkan retardans untuk memperlambat. Gypsum tipe I saat ini jarang digunakan dalam kedokteran gigi, lebih banyak diganti dengan hidrokoloid atau bahan elastomer. Gypsum tipe I biasa nya digunakan untuk mencetak rahang tak bergigi dan memiliki kekuatan kompresi 580 + 290 psi.

Gambar 1. Bahan Plaster cetak

Gambar 2. Gypsum type I

2.3.1.2 Plaster Model ( type II ) Dinamakan Plaster of model. Tipe ini umumnya digunakan di laboratorium sebagai model studi pembangunan mengartikulasikan batu gips. Pada dasarnya bahan gypsum tipe II sama dengan tipe I namun lebih kuat. Setting time 3 menit dan mudah dimanipulasi. Gypsum tipe II memliki harga paling murah diantara gypsum yang lain. Biasanya berwarna putih alami, jadi terlihat kontras dengan stone yang pada umumnya berwarna dan memiliki kekuatan kompresi 1300 psi.

Gambar 3. Bahan Plaster model

Gambar 4. Gypsum type II, Extra White, Modelling

Gambar 5. Gypsum type II for general use

2.3.1.3 Dental Stone ( type III ) Dinamakan Dental stone. Gypsum tipe III memiliki kandungan utama kalsium sulfat hemihidrat dan merupakan hasil pengapuran gypsum. Gypsum tipe III lebih kuat dari tipe II karena memerlukan air lebih sedikit serta ideal untuk pembuatan model dari full atau partial denture, model ortodonsi dan lain lain. Secara tradisional, gypsum tipe III berwarana kuning atau putih dan memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam 20,7 Mpa (3000 psi), tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa (5000psi). Bahan ini ditujukan untuk pengecoran dalam membentuk gigi tiruan penuh yang cocok dengan jaringan lunak.

Gambar 6. Gypsum type III for orthodontic

Gambar 7. Gypsum type III for models

2.3.1.4 Dental stone, high strength low expansion ( type IV ) Dinamakan Dental stone high strength low expansion. Persyaratan utama bagi bahan stone untuk pembuatan die adalah kekuatan, kekerasan, dan ekspansi pengerasan minimal. Digunakan sebagai die stone untuk pembuatan model restorasi. Gypsum tipe IV memiliki kekuatan kompresi 5000 psi atau 19amper 2x lebih kuat dari tipe III.

Gambar 8. Gypsum type IV

Gambar 9. Extra-hard die stone

10

Gambar 10. Extra-hard gypsum Type IV for orthodontic models

2.3.1.5 Dental Stone, high strength high expansion ( tipe V ) Dinamakan Dental stone high strength high expansion. Gypsum tipe V merupakan produk gypsum yang paling tinggi daya kompresi dan kekuatannya. Biasanya digunakan sebagai casting atau pembentukan positif logam, juga digunakan untuk crown, brides, dies, maupun cetak parsial. Gypsum ini berwarna biru atau hijau serta paling banyak membutuhkan biaya dibandingkan semua produk gips. Ini merupakan produk gypsum yang dibuat akhir akhir ini dan memiliki kekuatan kolpresi yang lebih tinggi dibandingkan stone gigi type IV, kekuatan kompresi type V ini sekisatar 7000psi. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan menurunkan lebih jauh rasio W:P. Ekspansi pengerasan ditingkatkan dari maksimal 0,10% - 0,30%.

Gambar 11. Dental stone Type V


11

2.3.2 Klasifikasi berdasarkan Proses Terbentuknya 2.3.2.1 Gypsum Alam Gypsum alam merupakan mineral hidrous sulfat yang mengandung dua

molekul air dengan rumus kimia (CaSO4 . 2H2O), dimana jenis batuannya adalah satinspar,alabaster,gypsite kekuningan hingga abu-abu. Batuan gypsum yang berbentuk granular dan buram, mengandung sedikit dolomite,batu kapur,dari kadar CaSO4 76% Gipsit dan selenit.Dengan warna bervariasi dari putih

2.3.2.2 Gypsum Sintesis Gypsum sintesis merupakan gypsum yang diperoleh dengan memproses air laut dan air kawah yang banyak yang mengandung sulfat dengan menambahkan unsure kalsium ke dalamnya dan sumber lainnya adalah gypsum sebagai produk sampingan pembuatan asam fosfat,asam sulfat,dan asam nitrat . (Sentono, 1992)

2.4 Sifat Gypsum 2.4.1 Sifat Kimia (komposisi) Gypsum Bahan dasar gypsum adalah mineral gypsum kalsium sulfat dihidrat (CaSO4 . 2H2O). Apabila dipanaskan, (CaSO4 . 2H2O) akan kehilangan 1,5 grammol H2O yang kemudian akan menjadi kalsium sulfat hemihidrat ((CaSO4)2 . H2O) , yakni produk gypsum yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi. Berikut dibawah ini adalah proses reaksi nya :

12

(2 CaSO4 . 2 H2O) + pemanasan ((CaSO4) 2 . H2O) + (3 H2O) Calcium Sulfate Dehydrate Calcium Sulfate Hemihydrate

Hasil yang diperoleh dari pemanasan merupakan bubuk (powder). Bila kalsium sulfat hemihidrat dicampur dengan air, maka akan terjadi reaksi kimia : ((CaSO4) 2 . H2O) + (3 H2O) (2 CaSO4 . 2H2O) + 3900 kal/gmol Reaksi yang terjadi exothermic yang menghasilkan panas. Bila 1 gmol kalsium sulfat hemihidrat bereaksi dengan 1,5 gmol air (H2O), maka akah dihasilkan 1gmol kalsium sulfat dihidrat dan panas yang dikeluarkan sebesar 3900 kalori. Kelarutannya dalam air 2,1 gr tiapm liter air pada suhu 40o C ; 1,8 gr tiap liter air pada suhu 0o C ; 1,9 gr tiap liter pada suhu 70o - 90o C Kelarutannya bertambah dengan penambahan HCl atau HNO3. Apabila dipanaskan,kalsium sulfat dihidrate,akan kehilangan 1,5 gr mmol H-2O yang kemudian akan menjadi kalsium sulfat hemihydrates.Hasil yang diperoleh berupa bubuk/powder .Namun,bila kalsium sulfat kemihydrate dicampu dengan air maka akan mengahasilkan panas (proses eksothermis) dan dihasilkan kalsium sulfat dehydrate.

2.4.2 Sifat Fisik Gypsum Gypsum secara umum mempunyai kelompok yang terdiri dari gypsum batuan, gipsit alabaster, satin spar dan selenit. Gipsum juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat terjadinya, yaitu endapan danau garam, berasosiasi dengan

13

belerang, terbentuk sekitar fumarol vulkanik, efflorescence pada tanah atau gua-gua kapur, tuduh kubah garam, penudung oksida besi (gossan) pada endapan pirit di daerah batu gamping. Warna : putih, kuning, abu-abu, merah jingga, hitam bila tak murni Massa jenis : 2,31 2,35 Keras seperti mutiara terutama permukaannya Kilap seperti sutra Konduktivitasnya rendah Sistem kristalin monoklinik

Gypsum alami yang berwarna putih kekuningan

Butiran Gypsum

14

2.4.3 Viskositas Viskositas adalah sebuah ukuran penolakan sebuah fluid terhadap perubahan bentuk di bawah tekanan shear. Biasanya diterima sebagai "kekentalan", atau penolakan terhadap penuangan. Viskositas berkisar 21.000-101.000 centipoises (cp). Perbandingan dari dental stone high strength diaduk dengan tangan dan dengan vacuum

Viskositas dari dental stone high strength dan impression plaster Material Viskositas (cp)

Dental stone high strength

A B C D E Impression Plaster

27.000 29.000 50.000 54.000 101.000 23.000

15

2.4.4 Compressive Strength Kekuatan kompresi atau biasa disebut compressive strength merupakan kekuatan yang diperoleh bila kelebihan air yang dibutuhkan untuk hidrasi hemihidrat tertinggal dalam contoh bahan uji. Besarnya Kekuatan kompresi dari beberapa produk gypsum yang paling rendah ialah 12 MPa dan yang paling tinggi 38 MPa atau sekitar 7000psi. Berikut data kekuatan kompresi dari macam-macam gypsum : 1. Plaster cetak (type I) memiliki kekujatan kompresi 580 290 psi 2. Plaster model (type II) memiliki kekuatan kompresi 1300 psi 3. Stone type III memiliki kekuatan kompresi minimal 1 jam 20,7 Mpa atau sekitar 3000 psi, tetapi tidak melebihi 34,5 Mpa atau sekitar 5000psi 4. Type IV memiliki kekuatan kompresi 34,5 Mpa atau sekitar 5000 psi 5. Ini merupakan produk gypsum yang dibuat akhir akhir ini, dan memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibandingkan stone gigi type IV, kekuatan kompresi type V ini sekitar 7000psi. Kekuatan yang ditingkatkan ini diperoleh dengan menurunkan lebih jauh rasio W/P Compressive strength ini berhubungan dengan rasio W/P dan pengadukan. Jika air yang digunakan lebih banyak, maka compressive strength nya turun. Berikut ialah compressive strength dari 3 tipe gypsum yang berbeda 1 jam setelah pengerasan : Model Plaster 12,5 MPa Dental Stone 31 MPa Dental Stone High strength 45 MPa

16

2.4.5 Surface Hardness and Abrasion Resistance Surface Hardness (kekerasan permukaan) dan abrasion resistance (ketahanan abrasi) sangat penting diperhatikan agar tidak banyak atau bahkan tidak ada kehilangan bentuk pada model selama proses manipulasi untuk mempelajari oklusi atau membuat restorasi. Morfologi partikel gypsum menentukan sifat produk gypsum. Dua faktor yang berkontribusi terhadap kekuatan dan daya tahan abrasi produk akhir ialah bentuk partikel dan porositas. Untuk meningkatkan kekerasan pada permukaan gypsum yang telah mengeras, dapat ditambahkan epoxy atau monomer metal metakrilat.

2.4.6 Setting expansion Semua produk gips mengalami setting expansion (perubahan

dimensi/ekspansi selama proses pengerasan). Ekspansi pada dental plaster biasanya 0,00%-0,30%. Pada dental stone 0,00%-0,20%, dental stone high strength 0,00%0,10%, dan pada dental stone high strength high expansion adalah 0,10%-0,30%. Setting expansion bisa dikontrol dengan memanipulasi variable. Campuran yang kental dan cara pengadukan yang cepat bisa meningkatkan jumlah setting expansion, sedangkan campuran yang lebih encer atau cair dan cara pengadukan yang lambat dapat mengurangi jumlah setting expansion.

17

Tabel perubahan dimensi yang terjadi selama proses pengerasan gypsum. (sumber : A.R. Docking)

2.5 Syarat gypsum 1. Sifat mekanis baik, artinya harus kuat sehingga tidak mudah rusak atau tergores selama proses pembuatan piranti restorasi atau saat ukir malam, dll. 2. Dapat mereproduksi detail yang halus dengan batas yang tajam. 3. Memiliki stabilitas dimensional yang baik (menunjukkan perubahan dimensi yang sangat kecil saat setting dan hendaknya cukup stabil). 4. Kompatibel dengan bahan cetak, tidak terjadi interaksi antara permukaan cetakan dengan permukaan model, die.

18

2.6 Manipulasi gypsum Plaster atau gips hendaknya dicampur dengan air atau larutan PE dengan perbandingan 100gr dengan 50 sampai 60ml. Harus dijaga agar tidak terbentuk gelembung udara sewaktu mengaduk karena gelembung ini dapat muncul di permukaan dan dapat menyebabkan ketidaktepatan hasil cetakan (Combe,1992) Untuk lebih detailnya, manipulasi dipengaruhi oleh hal hal sebagai berikut :

2.6.1 Pemilihan Untuk proses awal, harus dilakukan pemilihan gips berdasarkan aplikasi yang akan dibuat. Sebagai contoh dental plaster dipilih karena rendahnya kebutuhan fisik dan biaya yang digunakan dalam proses manipulasi. Namun ada kalanya kita memilih dental stone karena dibutuhkan kekuatan dan akurasi yang bagus dalam working castnya. Di beberapa instansi, sebuah kombinasi yang terdiri dari satu atau lebih produk gypsum sangat cocok karena dapat mengurangi pengeluaran biaya.

2.6.2 Perbandingan W/P ( rasio air/bubuk ) Banyaknya air dan hemihidrat harus diukur secara akurat dari beratnya. Rasio air terhadap bubuk hemihidrat biasanya tercermin dalam rasio W/P atau hasil bagi yang diperoleh bila berat (atau volume) dari air dibagi dengan berat bubuk. Perbandingan atau rasio biasanya disingkat sebagai W/P. Misalnya, perbandingan W/P adalah 0,6, bila 100gr stone gigi dicampur dengan 60 ml air. Perbandingan W/P adalah faktor penting dalam menentukan sifat fisik dan kimia dari produk gypsum akhir. Misalnya, semakin tinggi perbandingan W/P, semakin lama waktu pengerasan dan semakin lemah produk gypsum. Meskipun perbandingan W/P bervariasi untuk

19

untuk merek plaster atau stone tertentu, berikut ini adalah beberapa kisaran umum yang dianjurkan: Plaster tipe II 0,45-0,50. Stone tipe III 0,28-0,30 dan stone tipe IV 0,22-0,24

2.6.3 Temperatur Temperatur air yang ideal adalah sama dengan suhu ruangan (25oC). Karena apabila suhu air kurang 100 F akan mempercepat setting sedangkan bila suhu air lebih 100 F akan memperlambat setting, dan jika suhu air mencapai 212 F maka gips tidak akan setting.

2.6.4 Pencampuran (mixing) Begitu pengadukan dimulai, pembentukan kristal ini meningkat, pada saat yang sama, kristal-kristal diputuskan oleh spatula pengaduk dan didistribusikan merata dalam adukan dengan hasil pembentukan lebih banyak nukleus kristalisasi. Untuk menguji kekerasan gypsum: Uji Gillmore untuk Pengerasan Awal Adukan gypsum dibentangkan.Jarum direndahkan sampai ke

permukaan,dan saat ketika jarum tidak meninggalkan jejas disebut pengerasan awal. Uji Vicat untuk Waktu Pengerasan Jarum dengan tongkat pluger diperberat,didirikan dan dipegang berkontak dengan adukan.Begitu setelah kilap menghilang,pluger dilepas.Waktu yang terentang sampai jarum tidak lagi menembus sampai dasar adukan dikenal sebagai waktu pengerasan.Dalam beberapa kasus,pengukuran

20

Vicat dan Gillmore awal terjadi bersamaan,sementara pada keadaan lain terdapatb sedikit perbedaan . Uji Gillmore untuk Pengerasan Akhir Tahap selanjutnya dalam proses pengerasan dapat diukur dengan penggunaan jarum Gillmore yang lebih berat.Waktu yang terentang sampai hanya meninggalkan sedikit jejas yang masih dapat diamati pada permukaan disebut waktu pengerasan akhir.

2.6.5 Waktu Pengerasan Awal Waktu Kerja Setelah dicampur selama 1 menit, working time dimulai. Selama viscositas dari campuran bertambah, bahan tidak lagi mengalir dan mulai megeruh. Saat mulai mengeruh berarti campuran telah mencapai initial setting. Atau bisa dilihat pada awal campuran dimana bahan menjadi kaku tetapi tidak keras dan tidak dapat dibentuk serta terjadi ekspansi termis atau adanya panas. Pada umumnya, initial setting terjadi selama 8 10 menit mulai dari awal pengadukan. Reaksi setting : ((CaSO4)2 . H2O )+ (3 H2O) (2 CaSO4 . 2 H2O) + panas

2.6.6 Waktu Pengerasan Akhir (Finnal Setting Time) Final setting dicapai saat bahan dapat dengan aman dibentuk, tetapi memiliki kekuatan dan resistensi yang minimal. Saat final setting reaksi kimia selesai dan model terasa dingin saat disentuh.Sebagian besar pabrik merekomendasikan 1 jam sampai akhirnya bahan bisa dengan aman dilepas dari cetakan. Final Setting Time harus:

21

Aman untuk dimanipulasi Kekerasan dan ketahanan abrasi minimal Reaksi kimia sempurna Dingin bila dipegang permukaannya

2.6.7 Metode Control Setting Time Kelarutan hemihidrat dapat ditingkatkan atau dikurangi, misal bila kelarutannya ditingkatkan, maka kejenuhan dari kalsium sulfat akan lebih besar. Kecepatan deposisi kristalin juga ditingkatkan. Beberapa Metode untuk

mengendalikan waktu pengerasan yaitu: 1. Mengurangi atau meningkatkan kelarutan hemihidrat 2. Mengurangi atau meningkatkan jumlah nukleus kristalisasi 3. Waktu pengerasan juga dapat dikurangi maupun ditingkatkan

2.7 Manipulasi 2.7.1 Tahapan Pembuatan Model Study 1. Setelah cetakan alginat dibuat, bahan dicetak pada cetakan alginat 2. Diamkan hingga bahan kering 3. Kemudian alginat dan bahan di pisahkan Model study ini biasa nya digunakan untuk cetakan gigi tiruan

22

2.7.2 Tahapan Pembuatan Model Stone atau Die 1. Campuran ditempatkan pada sendok cetak yang sesuai, yang dimasukkan kedalam rongga mulut. 2. Bahan cetak harus menempel pada sendok cetak sehingga hasil cetakan dapat ditarik dari sekitar gigi. 3. Ketebalan cetakan antara sendok cetak dengan jaringan harus sekurang kurangnya 3mm. 4. Kemudian cetakan dimasukkan kedalam rongga mulut, biarkan selama 7 menit. 5. Setelah cetakan dikeluarkan dari mulut, cetakan harus segera dicuci di bawah air mengalir untuk membersihkan cairan rongga mulut dari permukaannya. 6

2.7.3 Tahapan Pembuatan Model Kerja 1. Air dimasukkan terlebih dahulu ke dalam rubber atau plastic bowl kurang lebih hingga 130mm 2. Setelah itu, masukkan bubuk gypsum ke dalam nya secara perlahan 3. Diamkan selama 20 detik 4. Aduklah dengan spatula berbentuk round-edge yang lebarnya sekitar 2025mm dan panjangnya 100mm 5. Aduklah selama 1 menit (2 putaran/detik) hingga halus, homogen, dan permukaan nya mengkilap 6. Jika hasil porus, dapat ditanggulangi dengan menggunakan vibrasi yang gunanya membantu mengalirkan adonan ke dalam cetakan dan mengeluarkan gelembung udara

23

2.8 Faktor yang Mempengaruhi Manipulasi Gypsum 2.8.1 Hindari Terjebaknya Udara Adanya kandungan udara dalam pencampuran gips akan dapat menyebabkan porositas pada hasil akhir dari gips. Sehingga terlebih dulu menuangkan air ke dalam wadah setelah itu memasukkan powder.

2.8.2 Penyimpanan Gips dapat menyerap air dari lingkungan. Kelembaban dan tempat yang delat dengan sumber air akan berpengaruh buruk pada powdernya. Hal ini akan mempengruhi waktu setting, sehingga gips sebaiknya disimpan dalam kontainer tertutup.

2.8.3 Kebersihan Peralatan manipulasi gips harus dijaga kebersihannya. Seperti yang disebut diatas waktu setting gips akan lebih cepat karena pengadukan. Bowl, spatula, dan vibrator harus segera dibersihkan segera sebelum setelah menipulasi, sehingga tidak terkontaminasi bahan lain (Hatrich dkk,2003).

2.9 Control setting time 2.9.1 Metode Control Setting Time Kelarutan hemihidrat dapat ditingkatkan atau dikurangi, misal bila kelarutannya ditingkatkan, maka kejenuhan dari kalsium sulfat akan lebih besar.

24

Kecepatan

deposisi

kristalin

juga

ditingkatkan.

Beberapa

Metode

untuk

mengendalikan waktu pengerasan yaitu: 1. Mengurangi atau meningkatkan kelarutan hemihidrat 2. Mengurangi atau meningkatkan jumlah nukleus kristalisasi 3. Waktu pengerasan juga dapat dikurangi maupun ditingkatkan

2.9.2 Faktor - faktor Control Setting Time Faktor-faktor yang dapat memengaruhi pengendalian waktu pengerasan yaitu 1. Ketidakmurnian Bila proses pengapuran tidak sempurna sehingga tetap terdapat partikel gypsum, atau bila pabrik menambahkan gypsum waktu pengerasan akan diperpendek karena peningkatan dalam potensi nucleus kristalisasi. Bila ortorombik anhidrat juga ada, periode induksi akan ditingkatkan; proses tersrbut dapat berkurang bila terdapat heksagonal anhidrat 2. Kehalusan Semakin halus ukuran partikel hemihidrat,semakin cepat adukan mengeras; khususnya bila produk tersebut telah digiling selama proses pembuatan. Tidak hanya kecepatan kelarutan hemihidrat menjadi meningkat, tetapi juga nucleus gypsum lebih banyak, karena itu kecepatan kristalisasi terjadi lebih cepat. 3. Rasio w/p Perbandingan air dan bubuk yang tepat akan sangat menentukan proses setting reaksi. Semakin banyak air yang digunakan untuk pengadukan,

25

semakin sedikit jumlah nukleus pada unit volume. Akibatnya, waktu pengerasan diperpanjang. Penambahan air setting time lambat. Penambahan satu bagian air mengurangi kekuatan sebesar 50% Pengurangan air mempercepat setting time, lebih sukar pencampuran dan manipulasi, ada udara terjebak, model tidak akurat Pengurangan rasio W/P tidak dianjurkan bila adonan akan dituangkan ke dalam hasil pencetakan. Pengurangan rasio w/p diperbolehkan bila adonan akan digunakan untuk maenanam model dalam articulator 4. Pengadukan (spatulation) Lebih panjang pengadukan akan mempercepat setting time Lebih cepat pengadukan akan menambah setting expansion

5. Temperatur Meski pun efek temperature pada waktu pengerasan cenderung menyesatkan dan mungkin bervariasi dari satu plester (atau stone) dengan yang lainnya, sedikit perubahan terjadi antara 0oC (32oF) dan 50oC (120oF) tetapi bila temperature adukan plester-air meningkat kurang lebih 50oC (120oF), peningkatan perlambatan terjadi bertahap. Begitu temperatur mencapai 100oC (212oF), tidak ada reaksi yang terjadi. Pada temperatur yang lebih tinggi, reaksi 2 terjadi kebalikan dengan kecenderungan Kristal-kristal gypsum apapun yang terbentuh diubah menjadi hemihidrat. 6. Perlambatan atau percepatan Metode yang paling praktis adalah dengan menambahkan bahan kimia. Bahan kimia yang berfungsi untuk mempercepat waktu pengerasan disebut

26

aselerator, sedangkan bahan kimia yang berfungsi untuk memperlambat waktu pengerasan disebut retarder.

2.9.3 Aselerator dan Retarder Pabrik menambahkan accelerator dan retarder dalam bubuk untuk mengubah kelarutan hemihidrat dalam air. Aselerator Aselerator yang sering digunakan adalah kalium sulfat. Larutan 2% kalium sulfat mempersingkat setting time dari 10 menit menjadi 4 menit daripada menggunakan air biasa (Craig, 1993). Ball mill accelerator (BMA) adalah bubuk kristal gypsum yang sangat halus. BMA mempercepat pembentukan kristal dengan cara pembentukan nucleation sites di mana kristal-kristal dapat terbentuk secepatnya. Penambahan ini dapat menyebabkan peningkatan densitas gypsum yang terbentuk dan penurunan makroporositas. (Gmouh in Austin, 2007). Sulfat yang larut bertindak sebagai aselerator, sementara bubuk gypsum (kalsium sulfat dihidrat) mempercepat proses reaksi. Jadi bila ditambahkan aselerator, kelarutan hemihidrat naik, setting time pendek gunakan larutan garam potassium sulfat (K2SO4) 2% yang ditambahkan dalam air, terra alba, Na2B4O7 Retarders Sitrat, asetat, dan borat umumnya memperlambat reaksi. Retarder umumnya bekerja dengan membentuk lapisan penyerap hemihidrat untuk mengurangi kelarutan dan menghambat pertumbuhan Kristal-

27

kristal gypsum yang ada. Jenis retarder lain terdiri dari garam yang membentuk suatu lapisan garam kalsium yang kurang larut dibandingkan dengan sulfat. Aksi bahan kimia tambahan ini juga mempengaruhi sifat lain seperti ekspansi pengerasan. (Anusavice, 2003). Borax (Na2B4O7 . 10 H2O) adalah retarder yang baik Penggunaan larutan borax 2% pada bubuk gypsum dapat

memperpanjang setting time menjadi beberapa jam. (Craig, 1993). Bila ditambahkan retarder, kelarutan hemihidrat berkurang, setting time panjang gunakan boraks, sodium sitrat, asetat. Kombinasi aselerator dan retarder dapat memperpanjang waktu pengerjaan pada gypsum sekaligus membuat gypsum mengeras (set) dalam jangka waktu yang masuk akal. (Austin, 2007). Accelerator dan retarder dikatakan sebagai antiexpansion agent dapat mengurangi terjadinya setting expansion. Contoh akselerator :

Kalsium asetat 1% setting expansion linier untuk kompensasi pengkerutan logam saat dingin. Contoh retarder :

Natrium sulfat mengurangi setting expantion 0,05%.

28

kekuatan kompresi suatu model plaster yang digambarkan terhadap waktu ketika aselerator dan retarder ditambahkan pada plaster, Peningkatan kekuatan merupakan ukuran kecepatan pengerasan atau kesempurnaan proses.

29

BAB III KESIMPULAN

Dalam serangkaian pembahasan yang ada, tim penulis menyimpulkan bahwa: 1. Gypsum adalah hasil tambang mineral yang didapat dari berbagai belahan dunia. Bahan ini merupakan produk samping dari beberapa proses kimia. Ditinjau dari sifat kimianya, gypsum yang dihasilkan untuk penggunaan dalam bidang kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat (CaSO4 . 2 H2O) murni. 2. Gypsum merupakan garam yang pertama kali mengendap akibat proses evaporasi air laut diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin bertambah. Sebagai mineral evaporit, endapan gypsum berbentuk lapisan di antara batuan-batuan sedimen seperti batu gamping, serpih merah, batu pasir, lempung, dan garam batu, serta sering pula berbentuk lapisan endapan dalam satuan batuan sedimen. 3. Dalam manipulasi gypsum, terdapat beberapa proses yang perlu diperhatikan yaitu pemilihan tipe gypsum, suhu, pencampuran (mixing), waktu pengerasan (initial- final setting time), serta penyimpanan dan kebersihannya. Pada proses pengolahan gypsum itu sendiri harus tepat dalam memperhitungkan takaran air/bubuk (rasio w/p), bahan separasi, waktu pengadukan, proses pengadukan, dan kontaminasi. 4. Tahap setting time mempunyai metode khusus, yang dimulai dari penambahan maupun pengurangan kelarutan hemihidrat, kemudian jumlah nucleus kristalisasi sehingga sampai pada mengurangi maupun mempercepat

30

waktu pengerasan. Sedangkan beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi pengerasan gypsum yaitu kehalusan: semakin halus ukuran partikel hemihidrat, semakin cepat adukan mengeras, rasio w/p: semakin banyak air yang digunakan untuk pengadukan, semakin sedikit jumlah nucleus pada unit volume. Lalu perlambatan dan percepatan: metode yang paling efektif dan praktis untuk mengendalikan waktu pengerasan adalah dengan cara menambahkan bahan kimia (aselerator) tertentu pada adukan plaster atau stone gigi.

31

DAFTAR PUSTAKA

Annusavice, Kenneth gigi.Jakarta:EGC

J.2003.Philips:buku

ajar

ilmu

bahan

kedokteran

Combe, EC.1992.Sari DentaL MateriaL.Penerjemah:Slamet Tarigan.Jakarta:Balai Pustaka Harty, F.J dan R. Ogston.1995.Kamus Kedokteran Gigi.Jakarta:EGC Banurea, R.2011.Jurnal Pemanfaatan Serbuk Batang Kelapa Sawit Sebagai Pengisi pada Pembuatan Lembaran Plafon Gypsum dengan Bahan Pengikat Poliuretan Winda,W.2001.Jurnal Beberapa Sifat dan Kegunaan dari Bahan Gypsum

32

Anda mungkin juga menyukai