Anda di halaman 1dari 20

BIOREMEDIASI

ACH. KHUMAIDI (136080100111005) Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya

1. PENDAHULUAN

Seiring dengan semakin bertambahnya pencemaran yang terjadi di biosfer, maka kebutuhan untuk mengaplikasikan teknologi bioremediasi juga semakin bertambah. Bioremediasi merupakan pengembangan dari bidang bioteknologi lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam

mengendalikan pencemaran. Bioremediasi bukanlah konsep baru dalam mikrobiologi terapan, karena mikroba telah banyak digunakan selama bertahuntahun dalam mengurangi senyawa organik dan bahan beracun baik yang berasal dari limbah rumah tangga maupun dari industri. Hal yang baru adalah bahwa teknik bioremediasi terbukti sangat efektif dan murah dari sisi ekonomi untuk membersihkan tanah dan air yang trekontaminasi oleh senyawa-senyawa kimia toksik atau beracun. Mikroba yang sering digunakan dalam proses bioremediasi adalah bakteri, jamur, yis, dan alga. Degradasi senyawa kimia oleh mikroba di lingkungan merupakan proses yang sangat penting untuk mengurangi kadar bahan-bahan berbahaya di lingkungan, yang berlangsung melalui suatu seri reaksi kimia yang cukup kompleks. Dalam proses degradasinya, mikroba menggunakan senyawa kimia tersebut untuk pertumbuhan dan reproduksinya melalui berbagai proses oksidasi. Kemampuan bakteri dalam menyerap atau menurunkan kandungan logam berat dari lingkungan, baik dari tanah maupun dari perairan juga telah banyak dipelajari. Beberapa bakteri seperti

Pseudomonas aeruginosa, Acinetobacter calcoaceticus, Arthrobacter sp., Streptomyces viridans, dan lain-lain menghasilkan senyawa biosurfaktan / bioemulsi yang dapat menyerap berbagai jenis logam berat seperti Cd, Cr, Pb, Cu dan Zn dari tanah yang terkontaminasi. Desulfovibrio desulfuricans dapat mengendapkan uranium melalui proses reduksi. Berbagai jenis Baccillus yang

membentuk biofilm pada permukaan perairan dapat menyerap Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, dan Zn dari dalam air. Mikroba yang membentuk film dalam ekosistem perairan juga memiliki peranan yang penting dalam bioremediasi logam. Saccharomyces cerevisiae dan Candida sp. Dapat mengakumulasi Pb dari dalam perairan, Citrobacter dan Rhizopus arrhizus memiliki kemampuan menyerap uranium (Roane et al .1998). Secara ekonomi dan fungsi, penggunaan teknik bioremediasi harus dapat berkompetisi dalam teknologi remediasi lainnya, seperti pembakaran (insinerasi) atau perlakuan kimia. Sebelum suatu

teknikbioremediasi diaplikasikan, informasi tentang keadaan lokasi dan potensi mikroorganisme harus sudah diketahui. Untuk itu perlu dilakukan uji laboratorium untuk mengetahui kecepatan degradasi pada suatu fungsi lingkungan tertentu seperti pH, konsentrasi oksigen, nutrien, komposisi mikroba, ukuran partikel tanah, dan juga suhu. Masalah utama yang sering dijumpai dalam aplikasi mikroorganisme untuk bioremediasi adalah menurun atau hilangnya potensi mikroba. Walaupun dalam percobaan laboratorium mikroba menunjukkan aktivitas degradasi yang tinggi, ternyata tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan dalam percobaan di lapangan (in situ). Untuk meningkatkan keefektifan penggunaan mikroorganisme dalam bioremediasi dapat dilakukan dengan melakukan dua strategi berikut. Pertama; Biostimulan yaitu suatu teknik menambahkan nutrien tertantu dengan tujuan merangsang aktivitas mikroba-mikroba tempatan (indigenous). Atlas dan Berta (1992), teknik biostimulasi ini telah sukses dalam mengendalikan tumpahan minyak di perairan dan kontaminasi senyawa hidrokarbon (PAH) di tanah. Lieberg and Cutright (1999), nutrien yang sering ditambahkan adalah fosfor dan nitrogen. Kedua; Bioaugmentasi yaitu dengan mengintroduksi mikroba tertentu pada daerah yang akan diremediasi. Di samping masalah di atas, lambatnya kecepatan degradasi polutan di lingkungan disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut: enzim-enzim degradatif yang dihasilkan oleh mikroba tidak mampu mengkatalis reaksi degradasi polutan yang tidak alami, kelarutan polutan dalam air sangat rendah, dan polutan terikat kuat dengan partikel-partikel organik atau partikel tanah. Selain itu, pengaruh lingkungan seperti pH, temperatur, dan kelembapan tanah juga sangat berperan dalam menentukan kesuksesan proses bioremediasi.

Oleh karena itu, seleksi, baik yang dilakukan secara konvensional maupun melalui manipulasi genetika untuk mendapatkan mikroba-mikroba yang potensial, merupakan agenda yang sangat penting dalam mikrobiologi lingkungan. Di samping itu, proses degradsi komplit di lingkungan umumnya dilakukan oleh konsorsium mikroorganisme bukan oleh mikroorganisme sejenis. 2. POKOK DAN SUB POKOK BAHASAN

2.1 Pengertian Bioremediasi Bioremediasi berasal dari dua kata yaitu bio dan remediasi yang dapat diartikan sebagai proses dalam menyelesaikan masalah. Menurut Munir (2006), bioremediasimerupakan pengembangan dari bidang bioteknologi

lingkungan dengan memanfaatkan proses biologi dalam mengendalikan pencemaran. Menurut Sunarko (2001), bioremediasimempunyai potensi untuk menjadi salah satu teknologi lingkungan yang bersih, alami, dan paling murah untuk mengantisipasi masalah-masalah lingkungan. Menurut Ciroreksoko(1996), bioremediasi diartikan sebagai proses pendegradasian bahan organik berbahaya secara biologis menjadi senyawa lain seperti karbondioksida (CO2), metan, dan air. Sedangkan menurut Craword (1996), bioremediasi merujuk pada penggunaan secara produktif proses biodegradatif untuk menghilangkan atau mendetoksi polutan (biasanya

kontaminan tanah, air dan sedimen) yang mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan masyarakat. Jadi bioremediasi adalah salah satu teknologi alternatif untuk mengatasi masalah lingkungan dengan memanfaatkan bantuan mikroorganisme.

Mikroorganisme yang dimaksud adalah khamir, fungi (mycoremediasi), yeast, alga dan bakteri yang berfungsi sebagai agen bioremediator. Selain dengan memanfaatkan mikroorganisme, bioremediasi juga dapat pula memanfaatkan tanaman air. Tanaman air memiliki kemampuan secara umum untuk menetralisir komponen-komponen tertentu di dalam perairan dan sangat bermanfaat dalam proses pengolahan limbah cair ( misalnya menyingkirkan kelebihan nutrien, logam dan bakteri patogen). Penggunaan tumbuhan ini biasa dikenal dengan istilah fitoremediasi. Bioremediasi juga dapat dikatakan sebagai proses penguraian limbah organik/anorganik polutan secara biologi dalam kondisi terkendali.

2.1.1 Tujuan Bioremediasi Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air) atau dengan kata lain mengontrol, mereduksi atau bahkan mereduksi bahan pencemar dari lingkungan. 2.1.2 Jenis-jenis Mikroorganisme yang berperan dalam bioremediasi Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bioremediasi adalah salah satu teknologi alternatif untuk mengatasi masalah lingkungan dengan memanfaatkan bantuan mikroorganisme. Mikroorganisme yang dimaksud adalah khamir, fungi (mycoremediasi), yeast, alga dan bakteri. Mikroorganisme akan mendegradasi zat pencemar atau polutan menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun. Polutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu bahan pencemar organik dan sintetik (buatan). Bahan pencemar dapat dibedakan berdasarkan

kemampuan terdegradasinya di lingkungan yaitu : a. Bahan pencemar yang mudah terdegradasi (biodegradable pollutant), yaitu bahan yang mudah terdegradasi di lingkungan dan dapat diuraikan atau didekomposisi, baik secara alamiah yang dilakukan oleh dekomposer (bakteri dan jamur) ataupun yang disengaja oleh manusia, contohnya adalah limbah rumah tangga. Jenis polutan ini akan menimbulkan masalah lingkungan bila kecepatan produksinya lebih cepat dari kecepatan degradasinya. b. Bahan pencemar yang sukar terdegradasi atau lambat sekali terdegradasi (nondegradable pollutant), dapat menimbulkan masalah lingkungan yang cukup serius. Contohnya adalah jenis logam berat seperti timbal (Pb) dan merkuri. Sedangkan senyawa-senyawa pencemar menurut keberadaannya dapat dibedakan menjadi : a. Senyawa-senyawa yang secara alami ditemukan di alam dan jumlahnya (konsentrasinya) sangat tinggi, contohnya antara lain minyak mentah (hasil penyulingan), fosfat dan logam berat. b. Senyawa xenobiotik yaitu senyawa kimia hasil rekayasa manusia yang sebelumnya tidak pernah ditemukan di alam, contohnya adalah pestisida, herbisida, plastik dan serat sintesis. Dalam bioremediasi, lintasan biodegradasi berbagai senyawa kimia yang berbahaya dapat dimengerti berdasarkan lintasan mekanisme dari beberapa

senyawa kimia alami seperti hidrokarbon, lignin, selulosa, dan hemiselulosa. Sebagian besar dari prosesnya, terutama tahap akhir metabolisme, umumnya berlangsung melalui proses yang sama. Polimer alami yang mendapat perhatian karena sukar terdegradasi di lingkungan adalah lignoselulosa (kayu) terutama bagian ligninnya. 2.2 Pencemaran Tanah oleh Toluena Senyawa aromatik merupakan senyawa yang relatif sulit mengalami biodegradasi sehingga dikenal sebagai senyawa rekalsitran Atlas & Bartha 1987, salah satunya dijumpai path minyak bumi. Path awalnya mikroorganisme pendegradasi minyak bumi dianggap hanya dijumpai pada daerah yang bersinggungan dengan minyak bumi, tetapi bukti menunjukkan bahwa

mikroorganisme pendegradasi minyak tersebar luas di alam Schlegel 1993. Hingga saat mi lebih dan 108 spesies bakteri marnpu mendegradasi hidrokarbon, di antaranya yaitu: Akali genes, Bacillus, Flavobacterium, Nocardia,

Pseudonwnas, dan Vibrio Berry & Francis 1987. Industri pengeboran minyak bumi serta industri hilirnya sangat potensial menyebabkan air, tanah, dan udara tercemar. Berbagai usaha untuk mengatasi pencemaran telah dilakukan antara lain dengan melakukan perbaikan path sistem eksplorasi, eksploatasi, pengolahan dan penyaluran minyak bumi, serta pengelolaan limbab. Adapun penanganan pencemaran yang sejauh mi telah dilakukan meliputi penanganan fisik, biologi, dan kimiawi. Kehadiran mikroorganisme pendegradasi cemaran hidrokarbon path habitatnya akan mampu melakukan remediasi atau pemulihan, tetapi

denganjumlah populasinya yang rendah dan suplemen nutrien tertentu menyebabkan kemampuan remediasinya rendah. Keefektifan bioremediasi sangat ditentukan oleh konsentrasi mikrob pendegradasi cemaran, konsentrasi cemaran, faktor fisik seperti suhu dan pH optimum, dan faktor kimia seperti ketersediaan oksigen dan nutrien (Bouwer, 1992).

2.3 Pencemaran Minyak Bumi Minyak bumi merupakan salah satu sumber energi utama yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Terlepas dari semua hal positif yang didapat dari penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi, ada beberapa hal negatif yang sebaiknya dijadikan pertimbangan ketika menggunakan minyak

bumi dalam eksploitasi, pengolahan, maupun dalam pendistribusian. Oleh karena itu, Pemanfaatan minyak bumi yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan tentu akan merugikan manusia itu sendiri dan pada akhirnya pencemaran lingkungan tersebut akan berdampak negatif khususnya kepada kesehatan masyarakat. Fenomena tersebut memacu upaya penanggulangan melalui berbagai proses kimia, fisik dan biologi untuk menekan akumulasi senyawa organic toksik pada lingkungan tanpa menimbulkan kerusakan ekosistem di kemudian hari. 3.3 Pencemaran Pada Tanah Bekas Tambang Batu Bara Indonesia merupakan negara penghasil timah peringkat ke-2, tembaga peringkat ke-3, nikel peringkat ke-4 dan emas peringkat ke-8 dunia (Gautama, 2007). Namun demikian, pertambangan selalu mempunyai dua sisi yang saling berlawanan, sebagai sumber kemakmuran sekaligus perusak lingkungan yang sangat potensial. Sebagai sumber kemakmuran sudah tidak diragukan lagi bahwa sektor ini merupakan salah satu tulang punggung pendapatan negara selama bertahun-tahun. Sebagai perusak lingkungan, praktek pertambangan terbuka (open pit mining) yang paling banyak diterapkan pada penambangan batubara dapat mengubah iklim mikro dan tanah akibat seluruh lapisan tanah di atas deposit batubara disingkirkan. Permasalahan yang paling berat akibat penambangan terbuka adalah terjadinya fenomena acid mine drainage (AMD) atau acid rock drainage (ARD) akibat teroksidasinya mineral bersulfur (Untung, 1993) dengan ditandai berubahnya warna air menjadi merah jingga. AMD akan memberikan serangkaian dampak yang saling berkaitan, yaitu menurunnya pH, ketersediaan dan keseimbangan unsur hara dalam tanah terganggu, serta kelarutan unsur-unsur mikro yang umumnya merupakan unsur logam meningkat (Marschner, 1995; Havlin et al., 1999).

METODE PENULISAN

Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah review jurnal yang memuat informasi tentang bioremediasi. Bioremediasi tanah tercemar toluna dengan penambahan Bacillus sp. Karakteristik dan penambahan konsorsum mikroba local dalam media mengandung minyak bumi. Pamanfaatan bakteri pereduksi untuk bioremediasi tanah bekas tambang batu bara.

PEMBAHASAN

1. Bioremediasi Tanah Tercemar Toluena dengan Penambahan Baccillus Galur Lokal Bakteri dan cendawan diketahui mampu mendegradasi hidrokarbon (Swannell & Head 1994). Di antara bakteri yang dikenal mampu mendegradasi hidrokarbon yaitu Bacillus. Bacillus merupakan bakteri pembentuk spora yang bersifat kosmopolit dan memerlukan syarat hidup yang sederhana, aerob dan fakultatif anaerob, selnya berbentuk batang, memproduksi katalase, dan bersifat gram positif (Claus & Barkley 1980). Irianto & Anggorowati 1997 serta Irianto & Andriani 1998 berhasil mendapatkan beberapa isolat Bacillus yang mampu mendegradasi hidrokarbon alifatik, sildik, dan aromatik. Bahan-bahan yang digunakan dalam penellitian ini, antara lain Bacillus UK41 dan Bacillus UK44 diisolasi dan Taman Nasional Ujungkulon. Tanah yang digunakan dalam penelitian ini berasal dan lokasi pengeboran minyak Lemigas di Cepu. Tanah sebanyak 500 g ditambahi akuades steril sehingga menjadi bubur dan ditempatkan dalam ember plastik tanpa aerasi. Dalam penelitian ini disiapkan sebanyak 48 ember. Masing-masing lumpur ditambahi 0.25% urea. Karakteristik unggul antara lain tumbuh pada media kaldu nutrien pada pH 5.0-9.5 dan suhu 15-50C, mampu menggunakan sumber karbon berbagai jenis KR antara lain glukosa, laktosa galaktosa, xilosa, arabinosa, sukrosa serta turunan hidrokarbon toluena, heksana, benzena, dan nafthalena. Pengamatan dilakukan pada awal percobaan, akhir minggu ke- 1, akhir minggu ke-2 dan akhir minggu ke-3. Beberapa peubah yang diamnati yaitu kadar toluena sisa dengan GC Noegrohati 1983, CO2 bebas APHA 1985, sel mikrob, nilai pH dengan pH meter Honba F8-L, nilai oksigen terlarut (Alaerts & Santika 1987), kadar COD (Alaerts & Santika 1987), dan BOD5 APHA 1985. Hasil menunjukkan bahwa populasi mikrob terus meningkat dan awal percobaan hingga akhir minggu ke-3. Peningkatan populasi yang berarti umumnya terjadi pada minggu ke-1 hingga akhir minggu ke-2. Peningkatan paling besar terjadi path perlakuan inokulasi canipuran Bacillus UK41 dan U42, hal ini menunjukkan bahwa kerja kedua isolat tersebut sinergis, baik di antara keduanya maupun dengan mikrob endogen substrat tersebut. Sedangkan mikrob endogen path kontrol baru menunjukkan peningkatan yang berarti setelah

minggu ke-2, hal ini menunjukkan bahwa penambahan nutrien berupa urea 0.25% terbukti mampu meningkatkan kinerja mikrob endogen dalam

bioremediasi tanah yang tercemar hidrokarbon. Nilai pH substrat terus menurun sejalan dengan berlangsungnya proses bioremediasi. Selama proses remediasi berlangsung biodegradasi, senyawa hidrokarbon baik alifatik, siklik maupun aromatik akan dipecah menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana sehingga terbentuk asetil-KoA dan selanjutnya masuk ke sikius asam tnikarboksilat. Dan rangkaian reaksi tersebut dihasilkan berbagai senyawa seperti asam-asam organik, metana, H20 dan CO2 (Madigan et al. 1997). Senyawa hasil degradasi hidrokarbon yang bersifat asam berperan pada penurunan nilai pH substrat. Pada pH tinggi urea akan berupa gas sehingga akan segera dibebaskan ke udara dan hal ini berperan pula pada penurunan pH. Hasil pada akhir percobaan masih menunjukkan kecenderungan penurunan pH, hal ini diduga karena biodegradasi hidrokarbon masih terus berlangsung dan belum semua proses telah mencapai fase akhir biodegradasi. Penurunan pH yang terbesar terjadi pada kontrol yaitu dan pH 9.35 menjadi 7.54-7.83. Nilai BOD menunjukkan kecenderungan terus menurun sejalan dengan berlangsungnya proses bioremediasi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa inokulasi Bacillus UK41 dan UK44 ataupun campurannya berhasil menurunkan nilai COD, berarti bahwa meskipun sebagian hidrokarbon yang ada pada substrat digolongkan sebagai rekalsitran, tetapi terbukti bahwa mikrob yang ditambahkan mampu melakukan biodegradasi terhadap senyawa rekalsitran tersebut. Tidak semua senyawa rekalsitran yang ada dalam tanah yang tercemar tersebut dapat didegradasi, hal ini dibuktikan dengan penurunan nilai COD yang relatif rendah yaitu antara 39.93 pada kontrol hingga 51 .67 pada perlakuan campuran Bacillus UK4 1 dan U K44. Toluena sendiri terbukti mampu didegradasi dalam jumlah relatif cukup tinggi. Penurunan kadar oksigen ter!arut jika terus berlanjut akan berakibat pada kekurangan oksigen dan lingkungan akan menjadi anaerob. Keadaan anaerob menyebabkan penurunan laju biodegradasi, tetapi proses biodegradasi tidak akan terhenti. Bacillus UK4I maupun UK44 serta beberapa mikrob endogen substrat memiliki sifat fakultatif anaerob (Inianto & Komar 1998), hal ini berarti pada kondisi anaerob proses biodegradasi akan tetap berlangsung meskipun hanya terhadap senyawasenyawa antara dan dengan laju yang Iebih lambat.

2. Karakteristik dan Pertumbuhan Konsorsium Mikroba Lokal Dalam Media Mengandung Minyak Bumi Teknik ini dilakukan berdasarkan optimasi proses biologi dalam mengurangi bahkan memulihkan dari bahan pencemar. Inti dari bioremediasi lahan tercemar bahan organik adalah upaya menghilangkan efek racun (detoks) atau dengan menghidrolisis bahan penemar menjadi karbon dioksida (CO2)dan air (H2O). Bahan-bahan yang digunakan antara lain minyak mentah (crude oil) dari lapangan blok Cepu, akuades, media Bushnell-Haas (BH) dengan komposisi MgSO4 0.2 g/L, KH2PO4 1 g/L, K2HPO4 1 g/L, FeCl3.3H2O, 0.05 g/L, CaCl2.2H2O 0.02 g/L, yeast extract, 12 g/L, NH4NO3 1 g/L. Selain itu juga digunakan media nutrien agar (NA) yang terdiri atas pepton 15 g/L, yeast extract 3 g/L, NaCl 6 g/L, Glukosa 1 g/L, dan agar 12 g/L.

Gambar . Isolat cepu yang digunakan dalam proses screening, a) isolat 1; b) 2; c) kontrol. Isolat yang digunakan selama penelitian merupakan hasil isolasi dari sampel minyak mentah (crude oil) dari sumur minyak yang terdapat di blok cepu. Sampel setelah dikembangbiakan dan diaklimatisasikan dalam media tumbuh mengandung 5% minyak mentah serta secara visual menunjukkan kemampuan dalam mendegradasi minyak mentah, baru kemudian diuji kemampuannya dalam memanfaatkan minyak mentah sebagai sumber nutrien untuk pertumbuhannya. Pengambilan sampel dilakukan setiap 3-5 hari sekali hingga pengambilan kelima dan seterusnya dilakukan pengambilan sampel tiap satu minggu sekali. Parameter yang dianalisis antara lain adalah pH, jumlah koloni (CFU/ml) dan pertumbuhan bakteri. Sampel yang dianalisa berasal dari media perlakuan 1 dengan pemberian konsorsium mikroba 1 kali, media perlakuan 2 dengan pemberian konsorsium mikroba 2 kali, dan media kontrol. Jumlah Koloni dan Kurva Standar. Jumlah koloni dihitung dengan menggunakan teknik tandard plate count. Sebanyak 100 l bakteri pada faktor pengenceran 10-5, 10-6, dan 10-7 disebar pada media NA kemudian

10

diinkubasi pada suhu 30 C selama 48 jam. Jumlah koloni yang tumbuh kemudian dicatat dan diplotkan dengan nilai absorban pada panjang gelombang 600 nm. Kurva standar didapat dari hubungan antara nilai absorban dan jumlah koloni. Pertumbuhan Bakteri (Ciawi et al.). Pertumbuhan bakteri diukur dengan nilai absorban pada panjang gelombang 600 nm. Sampel diencerkan terlebih dahulu dengan NaCl fisiologis (0.9%) sehingga dihasilkan nilai absorban sampel.

Gambar i Kultur hasil isolasi

Gambar ii. Performan kelima kultur mikroba di bawah mikroskop

Dibuat kurva standar yang dihasilkan dari plot nilai absorban terhadap jumlah koloni yang tumbuh pada cawan agar. Jumlah koloni yang tumbuh dari sampling kedua hingga kelima diplotkan terhadap nilai absorbannya pada panjang gelombang 600 nm, sehingga diperoleh kurva standar dengan persamaan Y = 0,0002X + 0,3455, dimana nilai R2 = 0,713 sebagai pendekatan dalam memperoleh jumlah kepadatan pertumbuhan mikroba. Pola Pertumbuhan bakteri sampai dengan pengambilan sampel VIII atau setelah sekitar 45 hari disajikan pada grafik di bawah ini.

11

Gambar iii. Profil pertumbuhan bakteri pada tiap perlakuan

Pertumbuhan

bakteri

biasanya

dipengaruhi

oleh

banyak

faktor,

diantaranya adalah nilai pH, suhu, nutrien, ketersediaan oksigen, dan faktorfaktor lainnya. Dari grafik profil pertumbuhan bakteri di atas, teramati bahwa pertumbuhan bakteri diantara perlakuan 1x dan 2x berbeda dengan blanko. Titik tertinggi pertama pertumbuhan mikroba terjadi pada pengambilan sampel III atau setelah masa inkubasi 9 hari. Perbedaan pertumbuhan tersebut diduga terjadi karena adanya perbedaan produksi biosurfaktan yang dihasilkan oleh

konsorsium bakteri pada masing-msing perlakuan. Biosurfaktan berperan dalam pembentukan emulsi minyak-media yang dapat dimanfaatkan oleh bakteri sebagai sumber karbon. Data tersebut didukung oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai indeks emulsi (IE24) tercapai maksimal setelah inkubasi selama 5-10 hari. Selanjutnya titik tertinggi kedua tercapai pada pengambilan sampel VIII untuk perlakuan 1x dan 2x. Dengan semakin bertambahnya nilai absorban diharapkan sebagai indikasi pertambahan kepadatan mikroba semakin meningkat atau dengan kata lain konsorsium mikroba telah mampu memanfaatkan minyak mentah sebagai sumber karbon dalam melipat gandakan kepadatan sel dalam media uji tersebut. Rahman et al. Dalam penelitiannya yang menggunakan konsorsium dari lima bakteri

menyatakan bahwa populasi bakteri tertinggi tercapai setelah 60 hari inkubasi. Hasil tersebut didapat dari nilai absorban pada panjang gelombang 595 nm. Waktu inkubasi selama penelitian sekitar 45 hari.

12

Pertumbuhan bakteri yang optimal merupakan salah satu indikasi bahwa bakteri dapat bertahan hidup dalam media garam minimal (media BH) yang disuplementasi oleh minyak mentah. Pertumbuhan mikroba yang baik tersebut didukung oleh perubahan nilai pH selama penelitian berada pada kisaran 7.0 - 8.5 mengingat kondisi pH merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bakteri. Nilai pH yang optimal berkaitan erat dengan kerja enzim bakteri, karena degradasi minyak dilakukan oleh serangkaian enzim yang terdapat pada bakteri. Pada nilai pH sekitar 5.5-8.0 bakteri yang mendegradasi hidrokarbon masih melakukan aktivitasnya. Meskipun demikian nilai pH optimum berada pada kisaran pH netral dan sedikit basa (slight base). Apabila dihubungkan dengan grafik profil pertumbuhan bakteri, nilai absorban tertinggi tercapai pada nilai pH 7.6 yaitu pada pengambilan sampel VIII.

3. Pemanfaatan Bakteri Pereduksi Sulfat (BPS) untuk Bioremediasi Tanah Bekas Tambang Batubara Hasil penelitian Widyati (2006) menunjukkan bahwa kandungan sulfat pada tanah bekas tambang batubara PT. Bukit Asam di Sumatera Selatan mencapai 60.000 ppm, pH 2,8 dan kandungan logam-logam jauh di atas ambang batas untuk air bersih. Permasalahan yang paling berat akibat penambangan terbuka adalah terjadinya fenomena acid mine drainage (AMD) atau acid rock drainage (ARD) akibat teroksidasinya mineral bersulfur (Untung, 1993) dengan ditandai berubahnya warna air menjadi merah jingga. AMD akan memberikan serangkaian dampak yang saling berkaitan, yaitu menurunnya pH, ketersediaan dan keseimbangan unsur hara dalam tanah terganggu, serta kelarutan unsurunsur mikro yang umumnya merupakan unsur logam meningkat (Marschner, 1995; Havlin et al., 1999). Kualitas lingkungan perairan yang demikian dapat mengganggu kesehatan manusia dan kehidupan lainnya. Disamping itu, kondisi tanah yang demikian degraded, mengakibatkan kegiatan revegetasi memerlukan biaya yang mahal. Dengan demikian masalah yang harus diatasi terlebih dahulu dalam mengendalikan AMD adalah memperbaiki kondisi tanah. Salah satu metode yang ramah lingkungan adalah bioremediasi (pemanfaatan mikroba). Kelompok mikroba yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah bekas tambang batubara adalah bakteri pereduksi sulfat (BPS). Dalam aktivitas

13

metabolismenya BPS dapat mereduksi sulfat menjadi H2S. Bahan-bahan yang digunakan antara lain Bakteri pereduksi sulfat (BPS) diisolasi dari limbah industri kertas (sludge) PT. Indah Kiat Pulp and Paper di Riau sedangkan tanah bekas tambang batubara diambil dari PT. Bukit Asam di Sumatra Selatan. Bakteri diisolasi pada media Postgate (Atlas and Park, 1993) yang mengandung (g/l) Na laktat (3,5), Mg.SO4 (2,0), NH4Cl (0,2), KH2PO4 (0,5), FeSO4. 7 H2O (0,5) dan Agar (16,0) dan pH 4 kemudian disterilkan pada suhu 121C tekanan 1 atmosfir selama 15 menit. Pertumbuhan BPS ditandai dengan timbulnya koloni berwarna coklat tua sampai hitam pada dasar tabung. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa pada perlakuan yang tidak diinokulasi dengan BPS konsentrasi sulfat dalam larutan tersebut relatif tidak mengalami perubahan. Sedangkan pada perlakuan yang diinokulasi dengan BPS terjadi penurunan dari konsentrasi sulfat sebesar 48.400 ppm pada hari ke-0 menjadi 9.300 ppm pada hari ke-20 setelah inkubasi. Pada percobaan ini BPS mulai menurunkan sulfat setelah hari ke-5 inkubasi. Dalam melakukan reduksi sulfat, BPS menggunakan sulfat sebagai sumber energi yaitu sebagai akseptor elektron dan menggunakan bahan organik sebagai sumber karbon (C). Karbon tersebut berperan selain sebagai donor elekton dalam metabolisme juga merupakan bahan penyusun selnya (Groudev et al., 2001). Sedangkan menurut Djurle (2004) BPS menggunakan donor elektron H2 dan sumber C (CO2) yang dapat diperoleh dari bahan organik. Reaksi reduksi sulfat oleh BPS menurut Van Houten (2003) dalam Djurle (2004) adalah sebagai berikut: SO4 2- + H2 + 2 H+ H2S + 4H2O Menurut Alexander (1977) BPS terdiri dari 2 genus, yaitu Desulfovibrio dan Desulfotomaculum. Desulfovibrio hidup pada kisaran pH 6 sampai netral, sedangkan Desulfotomaculum merupakan kelompok BPS yang termofil

(menyukai suhu yang tinggi). Dari hasil penelitian lingkungan tanah bekas tambang batubara setelah diberi perlakuan bioremediasi mempunyai pH sekitar 6 dan suhunya berkisar pada suhu ruangan (25C 30C) tidak termofil (>55C) sehingga kuat dugaan bahwa BPS yang ditemukan sangat dekat sifat-sifatnya dengan genus Desulfovibrio. Sedangkan menurut Feio et al. (1998) media Postgate yang digunakan merupakan media selektif yang paling cocok untuk mengisolasi BPS dari genus Desulfovibrio.

14

4. KESIMPULAN

Dari hasil analisis ketiga jurnal nasional yang terakreditasi (ISSN), dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Dari analisis jurnal Bioremediasi In Vitro Tanah Tercemar Toluena dengan Penambahan Baccillus Galur Lokal diperoleh, Inokulasi

campuran isolat lokal Bacillus UK41 dan UK44 terbukti mampu meningkatkan biodegradasi hidrokarbon dengan penurunan oksigen terlarut sebesar 83.93%. Meskipun mengalami penurunan kadar oksigen (keadaan anaerob), proses biodegradasi tetap berlangsung walaupun dengan laju yang lebih lambat. Dari pengamatan sampel mikroba dari lapangan minyak cepu, diperoleh konsorsium untuk dikembangkan menjadi kelompok mikroba

pendegaradasi minyak yang menunjukkan peningkatan yang cukup baik, meskipun belum diikuti dengan pengukuran pemanfaatan minyak yang digunakan oleh mikroba sebagai sumber karbon. Dari pengamatan pemanfaatan BPS untuk bioremediasi tanah bekas batubara, diperoleh Bakteri pereduksi sulfat (BPS) efektif digunakan dalam proses bioremediasi tanah bekas tambang batubara dengan waktu inkubasi 20 hari. Aktivitas BPS mampu menurunkan konsentrasi sulfat pada tanah bekas tambang batubara dengan efisiensi 89,76% dalam waktu inkubasi 20 hari. Penurunan sulfat tersebut dapat meningkatkan pH tanah bekas tambang batubara dari 4,15 menjadi 6,66 dalam waktu yang sama. Dan penelitian ini menyempurnakan penelitian yang sebelumnya, yaitu sudah memanfaatkan bahan organik (minyak) sebagai sumber karbon.

15

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts. C. & S.S. Santika. 1987. Metoda Penelitian Air. Surahaya: PT tsaha Nasional. Dalam jurnal Agus Irianto dan Syamsul Komar. 2000. Purwokerto Alexander, M. 1977. Introduction to Soil Microbiology. 2nd ed. John Willey & Son. New York. Dalam Jurnal Enny Widyati. 2007. Bogor Atlas, R.M and Berta, R. 1992. Hydocarbon biodegradationand oil spill bioremediation, Adv. Microbial Ecol. 12 : 287-338. Dalam Erman Munir. 2006. Pemanfaatan Mikroba dalam Bioremediasi: suatu Teknologi Alternatif untuk Pelestarian Lingkungan. Medan Claus, fl & R.C.W. Barkley. 1980. Genus Bacillus Cohn 1872. hIm.174. Di dalam: T.H.A. Sneath, N.S. Mair, M.E. Sharpe & JO. Holt.ed. Bergey `s. Manual of Systematic acteriology. Vol. 2. London:Williams and Wilkins. Dalam jurnal Agus Irianto dan Syamsul Komar. 2000. Purwokerto Ciawi Y et al. The degradation of diesel oil by consortium of bacteria in shakeflask cultures. Dalam Jurnal Wage Komarawidjaja. 2009. Jakarta Djurle, C. 2004. Development of a Model for Simulation of Biological Sulphate Reduction with Hidrogen as Energy Source. Master Thesis. Department of Chemical Engineering. Lund Institute of Technology. The Netherlands. Dalam Jurnal Enny Widyati. 2007. Bogor Feio, M.J., H.B. Beech, M. Carepo, J.M. Lopes, C.W.S. Cheung, R. Franco, J.Guezennec,J.R. Smith, J.I. Mitchell, J.J.G. Moura and A.R. Lino. 1998. Isolation and haracterization of a novel sulphate-reducing bacterium of the Desulfovibrio genus. Anaerobe (4): 117 130. Dalam Jurnal Enny Widyati. 2007. Bogor Groudev, S.N., K. Komnitsas, I.I. Spasova and I. Paspaliaris. 2001. Treatment of AMD by a natural wetland. Minerals Engineering 12: 261-270. Dalam Jurnal Enny Widyati. 2007. Bogor Havlin, J.L., J.B. Beaton, S.L. Tisdale SL and W.L. Nelson. 1999. Soil Fertility and fertilizers. An Introduction to Nutrient Management. Prentice Hall. New Jersey. Dalam Jurnal Enny Widyati. 2007. Bogor Irianto, A. & R. Andriani. 1998. Isolasi dan identifikasi Bacillus pendegradasi hidrokarbon dan perairan Nusakambangan, Cilacap. Laporan Pcnelitian.

16

Purwokerto: Fakultas Biologi Unsoed. Dalam jurnal Agus Irianto dan Syamsul Komar. 2000. Purwokerto Irianto, A. & D.E. Anggorowati. 1997. Isolasi dan identifikasi Baccillus pendegradasi toluen dari Sungal Donan, Cilacap, Laporan Penelitian. Purwokerto: Fakultas Biologi ijusoed. Dalam jurnal Agus Irianto dan Syamsul Komar. 2000. Purwokerto Levine, M. A. And Gealt, M. A. 1993. Biotreatmentof Industrial and Hazardous Easte McGraw Hill. Newyork. P.4. Dalam Erman Munir. 2006. Pemanfaatan Mikroba dalam Bioremediasi: suatu Teknologi Alternatif untuk Pelestarian Lingkungan. Medan Lieberg, E. W. And Cutright, T. J. 1999. The Investigation of Enhanced Bioremediation Through the Addition of Macro and Micro Nutrients in PAHs Contaminated Soil, Inter. Biodet. Biodegrad. 44: 55-64. Dalam Erman Munir. 2006. Pemanfaatan Mikroba dalam Bioremediasi: suatu Teknologi Alternatif untuk Pelestarian Lingkungan. Medan Litchfield, C. D. 1991. Practices, potensial and pitfall in the application of Biotechnology to Environmental Problem. In : Environmental

Biotechnology For Waste Treatment, ed. G. Saylor et. Al., Plenum Press, Newyork, pp. 147-157. Dalam Erman Munir. 2006. Pemanfaatan Mikroba dalam Bioremediasi: suatu Teknologi Alternatif untuk Pelestarian Lingkungan. Medan Madigan, M.T., J.M. Martinko & J. Parker. 1997. Brock's Biology of Microorganisms. Ed. ke-8. Englewood Cliffs: Prentice Hall. Dalam jurnal Agus Irianto dan Syamsul Komar. 2000. Purwokerto Marschner, H. 1995. Mineral Nutrition of Higher Plants. 2nd ed. Academic Press. London. Dalam Jurnal Enny Widyati. 2007. Bogor Swannell, RA'.J. & LM. Head. 1994. Oil spills, bioremediation comes of age Nature 368:396-397. Dalam jurnal Agus Irianto dan Syamsul Komar. 2000. Purwokerto Widyati, E. 2006. Bioremediasi Tanah Bekas tambang Batubara dengan Sludge Industri Kertas untuk Memacu Revegetasi Lahan. Disertasi Doktor. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor. Dalam Jurnal Enny Widyati. 2007. Bogor www.wilkipedia.com.thefreeencyclopedia/bioremediation.htm. [18 Juni 2006]. Dalam Jurnal Enny Widyati. 2007. Bogor Bioremediation.

17

Lampiran 1.

18

Lampiran 2.

19

Lampiran 3.

20