Anda di halaman 1dari 3

1. Process of open and close the mouth Membuka [Penggerak utamanya adalah : M. Pterygoideus lateralis] M.

Pterigoideus lateralis menarik processus condilaris ke depan menuju eminentia articularis.Pada saat bersamaan,serabut posterior M. Temporalis harus relaks dan keadaan ini diikuti dengan relaksasi M. Maseter,serabut anterior M. Temporalis, dan M. Pterigoideus medialis yang berlangsung cepat dan lancar. Keadaan ini akan memungkinkan mandibula berotasi di sekitar sumbu horizontal sehingga processus condilaris akan bergerak ke depan sedang angulus mandibula begerak ke belakang. Dagu akan terdepresi , keadaan ini dibantu dengan gerak membuka yang kuat oleh M. Digastricus,M. Geniohyoideus , dan M. Mylohyoideus yang berkontraksi terhadap os hyoid . Menutup [Penggerak utamanya adalah : M. Maseter , M. Temporalis, M. Pterigoideus Medialis] Rahang dapat menutup pada berbagai posisi.Mulai dari menutp pada posisi protusi penuh sampai menutup pada keadaan processus condilaris berada pada posisi paling posterior dalam fossa mandibula . Pada posisi protusi memerlukan kontraksi M. Pterigoideus Lateralis\yang dibantu M. Pterigoideus Medialis. Caput mandibula akan tetap pada posisi ke depan eminentia articularis . Pada gerak menutup retrusi, serabut posterior M. Temporalis akan bekerjasama dengan M.Maseter untuk mengembalikan processus condilaris ke dalam fossa mandibula. Sehingga gigi geligi dapat saling kontak pada oklusi normal. Pada gerak menutup cavum oris, kekuatan yang dikeluarkan otot pengunyahan akan diteruskan terutama melalui gigi geligi ke rangka wajah bagian atas. M. Pterigoideus Lateralis dan serabut posterior M. Temporalis cenderung menghilangkan tekanan dari caput mandibula pada saat otot-otot ini berkontraksi. Keadaan ini berhubungan dengan fakta bahwa sumbu rotasi mandibula akan melintas di sekitar ramus. 2. Kind of TMJ disorder 1. Dislokasi misalnya luksasi terjadi bila kapsul dan ligamen temporomandibula mengalami gangguan sehingga memungkinkan processus condylaris untuk bergerak lebih kedepan dari eminentia articularis dan ke superior pada saat membuka mulut. Kontriksi otot dan spasme yang terjadi selanjutnya akan mengunci processus condylaris dalam posisi ini, sehingga mengakibatkan gerakan menutup. Dislokasi dapat terjadi satu sisi atau dua sisi, dan kadang terjadi secara sepontan bila mulut dubuka lebar, misalnya pada saat makan atau mengunyah. Dislokasi dapat juga ditimbulkan oleh trauma saat penahanan mandibula waktu dilakukan anestesi umum atau akibat pukulan. Dislokasi dapat bersifat kronis dan kambuh, dimana pasien akan mengalami serangkaian serangan yang menyebabkan kelemahan abnormal kapsul pendukung dan ligamen(subluksasi kronis) (Pedersen, 1996). 2. Kelainan internal ini jika perlekatan meniscus pada kutub processus condylaris lateral mengendur atau terputus, atau jika zona bilaminar mengalami kerusakan atau degenerasi akibat trauma atau penyakit sendi ataupun keduanya, maka stabilitas sendi akan terganggu. Akibatnya

akan terjadi pergeseran discus kearah anteromedial akibat tidak adanya penahanan terhadap pergerakan musculus pterygoideus laterralis superior. Berkurangnya pergeseran kearah anterior yang spontan dari discus ini akan menimbulkan kliking yang khas, yang akan terjadi bila jarak antara insisal meningkat. Sumber klikingsendi ini berhubungan dengan pergeseran prosescus condylaris melewati pita posterior meniscus yang tebal. Dengan memendeknya pergeseran anterior dari meniscus, terjadi kliking berikutnya. Pada tahap inilah discus akan bersifat fibrokartilagenus, yang mendorong terbentuknya konfirgurasi cembung-cembung (Pedersen, 1996). Closed lock merupakan akibat dari pergeseran discus ke anterior yang terus bertahan. Bila pita posterior dari discus yang mengalami deformasi tertahan di anterior processus condylaris, akan terbentuk barier mekanis untuk pergeseran processus condylaris yang normal. Jarak antar insisial jarang melebihi 25 mm, tidak terjadi translasi, dan fenomena clicking hilang. Closed lock dapat terjadi sebentar-sebentar dengan disela oleh clicking dan locking, atau bisa juga bersifat permanen. Pada kondisi parsisten, jarak antar insisal secara bertahap akan meningkat akibat peregangan dari perlekatan posterior discus, dan bukannya oleh karena pengurangan pergeseran yang terjadi. Keadaan ini dapat berkembang ke arah perforasi discus yang disertai dengan osteoarthritis pada processus condylaris dan eminentia articularis (Pedersen, 1996). 3. Closed lock akut Keadaan closed lock yang akut biasanya diakibatkan oleh trauma yang menyebabkan processus condylaris terdorong ke posterior dan akibat terjadi cedera pada perlekatan posterior. Rasa sakit atau tidak enak yang ditimbulkan dapat sangat parah, dan keadaan ini kadang disebut sebagai discitis. Discitis ini lebih menggambarkan keradangan pada perlekatan discus daripada keadaan discus yang avaskular/aneural (Pedersen, 1996). 4. Artritis. Keradanga sendi temporomandibula yang disebabkan oleh trauma, atritis tertentu, dan infeksi disebut sebagai artritis. Trauma, baik akut atau pun kronis, menyebabkan suatu keadaan progresif yang ditandai dengan pembekaan, rasa sakit yang timbul hilang dan keterbatasan luas pergerakan sendi yang terlibat (Pedersen, 1996). 5. Spasme otot. Miospasme atau kekejangan otot, yaitu kontraksi tak sadar dari satu atau kelompok otot yang terjadi secara tiba-tiba, biasanya nyeri dan sering kali dapat menimbulkan gangguan fungsi. Devisiasi mandibula saat membuka mulut dan berbagai macam gangguan/keterbatasan pergerakan merupakan tanda obyektif dari miospasme. Bila musculus maseter dan temporalis mengalami kekejangan satu sisi, maka pergerakan membuka dari mandibula akan tertahan, dan akan terjadi deviasi mandibula ke arah sisi yang kejang. Pada saat membuka mulut mengunyah dan menutupkan gerakan akan timbul rasa nyeri ekstraartikular. Bil;a musculus pterygoideus lateralis inferior mengalami spasme akan terjadi maloklusi akut, yang ditunjukkan dengan tidak beroklusinya gigi-gigi posterior pada sisi yang sama dengan musculus tersebut, dan terjadi kontak prematur gigi-gigi anterior pada sisi yang berlawanan. Nyeri akibat spasme pterygoideus lateralis kadang terasa pada sendi itu sendiri. Bila terjadi

kekejangan pada musculus masseter, temporalis, dan musculus pterygoideus lateralis inferior terjadi secara berurutan, baik unilateral ataupun bilateral, maka dapat timbul maloklusi akut (Pedersen, 1996). 3.