Anda di halaman 1dari 5

VII.

Pembahasan Analgetik merupakan obat yang mengurangi bahkan mungkin menghilangkan rasa sakit tanpa diikuti hilangnya kesadaran. Antipiretik adalah obat yang digunakan untuk menurunkan demam. Antiinflamasi adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena mikroorganisme Obat analgetik, antipiretik serta obat antiinflamasi non steroid (AINS) merupakan salah satu kelompok obat yang banyak diresepkan dan uga digunakan tanpa resep dokter. Obat!obat ini merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, se"ara kimia. #alaupun demikian obat!obat ini ternyata memiliki banyak persamaan dalam efek samping Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan kerusakan aringan. $ekanisme nyeri se"ara sederhana dimulai dari transduksi stimuli akibat kerusakan aringan dalam saraf sensorik men adi akti%lin & ke kornu dorsalisitas listrik kemudian ditransmisikan melalui serabut saraf bermielin A delta dan saraf tidak bermielin & ke kornu dorsalis medula spinalis, talamus dan korteks serebri, implus listrik tersebut dipersepsikan dan didiskriminasikan sebagai katalis dan kuantitas nyeri setelah mengalami modulasisepan ang saraf perifer dan disusunan saraf pusat. 'angsangan yang dapat mengakibatkan nyeri dapat berupa rangsangan mekanik, suhu, dan agen kimia(i yang dilepaskan karena trauma)inflamasi. *emam atau febris merupakan suatu keadaan dimana ter adi peningkatan suhu tubuh, dimana suhu tersebut melebihi dari suhu normal. Proses perubahan suhu yang ter adi saat tubuh dalam keadaan sakit lebih dikarenakan oleh +at toksin yang masuk kedalam tubuh. ,mumnya, perasaan keadaan sakit ter adikarena adanya peradangan. Proses peradangan itu sendiri sebenarnya merupakan mekanisme pertahanan dasar tubuh terhadap adanya serangan yang mengan"am keadaan fisiologis tubuh. Proses peradangan dia(ali dengan masuknya +at toksin (mikroorganisme) kedalam tubuh yang dikenal sebagai pirogen eksogen. *engan masuknya mikroorganisme tersebut, tubuh berusaha mela(an dan men"egahnya dengan memerintahkan tentara pertahanan tubuh berupa leukosit, makrofag dan limfosit untuk memakan (fagositosit) dimana tentara tubuh akan mengeluarkan sen ata berupa +at kimia yang dikenal sebagai pirogen

endogen (khususnya I-!.) yang berfungsi sebagai antiinfeksi dan selan utnya akan merangsang sel!sel indotel hipotalamus untuk mengeluarkan suhu substansi yaitu asam ara"hidonat dimana asam ini dapat keluar dengan adanya bantuan en/im fossolopase A0 dan asam tersebut akan memea"u pengeluaran prostaglandin (P120) yang dibantu oleh en+im siklooksigenase (&O3). Prostaglandin ini mempengaruhi ker a termostat hipotalamus dan hipotalamus akan meningkatkan titik patokan suhu tubuh (diatas suhu normal). Peningkatan titik patokan ini dikarenakan termostal tubuh (hipotalamus) merasa bah(a tubuh sekarang diba(ah batas normal akibatnya ter adilah respon dingin atau menggil dan ditu ukan menghasilkan panas tubuh yang lebih banyak dan ter adilah demam. Pada praktikum kali ini yaitu pengu ian efek analgetika bertu uan untuk mengenal, mempraktekkan dan membandingan daya analgetik Asetosal, dan asam mefenemat menggunakan metode rangsang kimia. 4ahan yang digunakan sebagai perangsang kimia adalah larutan steril Asam Asetat glasial yang diberikan se"ara intraperitoneal. Pada praktikum pemberian larutan steril Asam Asetat glasial diberikan 56 menit setelah pemberian obat hal ini diharapkan agar obat yang diberikan belum beker a sehingga Asam Asetat langsung berefek dan uga untuk mempermudah pengamatan onset dari obat itu. -arutan asam asetat diberikan setelah 56 menit, ini bertu uan agar obat yang telah diberikan sebelumnya sudah mengalami fase absorbsi untuk meredakan rasa nyeri. Selama beberapa menit kemudian, setelah diberi larutan asam asetat .7 men"it akan menggeliat dengan ditandai perut ke ang dan kaki ditarik ke belakang. 8umlah geliat men"it dihitung setiap 9 menit selama 56 menit. Pada praktikum kali ini obat!obat analgetik yang diperbandingkan adalah obat!obat analgetik golongan non narkotik) perifer yaitu, Asetosal, dan Asam $efenamat. $en"it diberi : ekor untuk setiap kelompok yaitu kelompok kontrol, kelompok asam mefenamat, dan kelompok asetosal. ;elompok kontrol yang digunakan pada per"obaan ini adalah larutan suspensi gom arab (P2A). <e(an per"obaan hanya diberikan P2A pada a(al per"obaan dan penginduksi asam asetat pada 56 menit setelah pemberian P2A tanpa pemberian sedian analgesik. Pada kelompok

obat standar, he(an u i diberi asetosal manakala pada kelompok obat u i, he(an per"obaan diberi obat analgetik asam mefenamat. Selepas 56 menit pemberian asetosal dan asam mefenamat, masing!masing kelompok diberi penginduksi asam asetat. P2A, asetosal, dan asam mefenamat diberi se"ara oral pada he(an per"obaan. Asam asetat merupakan asam lemah yang tidak terkon ugasi dalam tubuh, pemberian sediaan asam asetat terhadap he(an per"obaan akan merangsang prostaglandin untuk menimbulkan rasa nyeri akibat adanya kerusakan aringan atau inflamasi. Prostaglandin meyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimia(i sehingga prostaglandin dapat menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimia(i seperti bradikinin dan histamine merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata. Akibat dari adanya rasa nyeri inilah he(an per"obaan akan menggeliatkan kaki belakangnya saat efek dari penginduksi ini beker a. Pemberian dilakukan se"ara intraperitoneal karena memungkinkan sediaan lebih mudah diabsorbsi oleh tubuh, "epat memberikan efek, men"egah penguraian asam asetat pada aringan fisiologik organ tertentu, serta efek merusak aringan tubuh ika pada organ tertentu. $isalnya apabila asam asetat .7 diberikan per oral, akan merusak saluran pen"ernaan, karena sifat kerongkongan "enderung bersifat tidak tahan terhadap asam. Setelah pemberian asam asetat, gerakan geliat he(an diamati dan umlah geliat di"atat setiap 9 menit selama :6 menit. *ari hasil pengamatan yang diperoleh, purata umlah geliat men"it kontrol lebih banyak dibanding men"it yang diberikan asam mefenamat. <al ini ter adi karena karena men"it kontrol tidak memiliki perlindungan terhadap nyeri yang disebabkan karena pemberian asam asetat sebagai penyebab ter adinya nyeri. Asam mefenamat merupakan bukan golongan obat bebas ke"uali yang 096mg untuk orang de(asa. Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehigga interaksi dengan obat antikoagulan harus diperhatkan. 1fek samping terhadap saluran "erna sering timbul misalnya dyspepsia dan ge ala lain terhadap mukosa lambung. Asam mefenamat merupakan kelompok antiinflamasi nonsteroid beker a dengan "ara menghambat sintesa prostaglandin dalam aringan tubuh dengan menghambat en+yme siklooksignase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi, dan antipiretik.

4erfungsi sebagai penghilang rasa nyeri dari ringan sampai sedang dalam kondisi akut atau kronik, terrmasuk nyeri karna trauma, nyeri sendi, nyeri otot, sakit sehabis melahirkan dan oprasi, nyeri se(aktu haid, sakit kepala dan sakit gigi dan uga sebagai antipiretik pada keadaan demam. Asetosal memiliki daya analgetik paling kuat dari golongan analgetik non!narkotika ini. Asetosal menghambat biosintesis prostaglandin yang menstimulasi SSP, sehingga dapat menghambat ter adinya perangsangan reseptor nyeri. Prostaglandin akan dilepaskan oleh sel yang mengalami kerusakan. Pembentukan prostaglandin dihambat dengan menghambat en+im siklooksigenase yang bertugas mengubah asam ara"hidonat men adi endoperoksida (P220)P2<). P2< akan memproduksi prostaglandin, sehingga se"ara tidak langsung obat analgesik menghambat pembentukan prostaglandin. Prostaglandin berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerusakan aringan atau inflamasi dan menyebabkan sensiti%itas reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimia(i. Asetosal merupakan sediaan yang efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya pada sakit kepala, mialgia, atralgia dan nyeri lain yang berasal dari inegumen, sediaan ini uga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. 1fek analgetikanya auh lebih lemah daripada efek analgetika opiat tetapi sediaan ini tidak menimbulkan ketagihan efek samping sentral yang merugikan. Asetosal beker a dengan mengubah persepsi modalitas sensorik nyeri, tanpa mempengaruhi sensorik lain. Pemberian asetosal dalam kelompok ini uga akan menun ukkan efek analgesik setelah diberi penginduksi asam asetat. =etapi, dari hasil pengamatan antara umlah geliat men"it yang diberi asetosal, asam mefenamat dan kontrol, hasil menun ukkan bah(a, umlah geliat men"it yang diberi asetosal lebih banyak dibanding men"it yang diberi asam mefenamat dan men"it kontrol. <al ini ter adi, mungkin karena, obat analgesik asetosal yang diberi tidak benar!benar masuk ke dalam darah hingga ini menyebabkan efek yang timbul men adi kurang dari yang diinginkan. *ari perhitungan dan grafik yang dibuat menun ukkan men"it yang diberi asam mefenamat memiliki umlah geliat yang paling sedikit, diikuti asetosal dan kemudian men"it

"ontrol. *ata yang diperoleh tidak mengikuti teori yang sepatutnya. Seharusnya men"it yang memiliki umlah geliat paling sedikit adalah men"it yang diberi asetosal, diikuti asam mefenamat dan kemudian men"it "ontrol karena men"it "ontrol tidak diberi apa!apa obat analgesik. Penyimpangan ini dapat ter adi karena beberapa faktor, yaitu ketika sudah 56 menit setelah pemberian analgetik, tidak segera disuntikan asam asatet sehingga efek obat analgetiknya sudah berkurang, faktor fisiologis dari men"it, yang mengalami beberapa kali per"obaan sehingga kemungkinan men"it stress, (aktu penyuntikan ada larutan yang tumpah sehingga mengurangi dosis obat analgetik yang diberikan, pengambilan larutan sto"k yang tidak diko"ok dahulu, sehingga dosis yang diambil tiap spuit berbeda, karena larutan sto"k yang dibuat adalah bentuk sediaan suspensi, seharusnya dalam pengambilan diko"ok terlebih dahulu, agar bahan obat yang diambil, bukan hanya larutannya.

Anda mungkin juga menyukai