Anda di halaman 1dari 5

Stress 1.

Definisi Stress adalah respon seseorang pada suatu hal atau suatu kejadian yang mengancam atau menantang individu tersebut. Sedangkan suatu hal atau suatu kejadian yang menimbulkan stress disebut dengan stressor (Feldman, 2009). Kehidupan manusia dipenuhi dengan kondisi stress. Meskipun demikian, munculnya stress dapat bervariasi pada masing-masing orang dan bersifat sangat personal dan dipengaruhi oleh multifaktor. Faktor-faktor itu di antara lain persepsi, interpretasi, dan peran seseorang dalam suatu hal/kejadian yang berpotensi menjadi stressor (Feldman, 2009). Stressor yang berupa kejadian-kejadian dalam hidup dapat dikategorikan menjadi: a. Cataclysmic events Merupakan stressor yang kuat, muncul tiba-tiba, dan mempengaruhi banyak orang. Contohnya adalah bencana alam dan kondisi konflik. Akan tetapi, terdapat perbedaan dari kedua contoh tersebut. Pada kejadian bencana alam, munculnya stress cenderung tidak setinggi kondisi konflik. Hal ini disebabkan oleh pada kejadian bencana alam, terdapat resolusi yang jelas, sehingga orang-orang dapat kembali memandang ke masa depan karena kejadian yang buruk telah terlewati. Selain itu juga rasa simpati antarindividu dapat lebih terbentuk, sehingga ada fungsi sosial yang mengurangi stressor. b. Personal stressors Stressor personal melibatkan kejadian-kejadian pada hidup yang khusus, seperti meninggalnya anggota keluarga, kehilangan pekerjaan, bahkan hal positif seperti pernikahan. Biasanya respon stress yang timbul bersifat sedang, namun cenderung membaik seiring berjalannya waktu. c. Background stressors Merupakan stressor yang ringan dan biasa terjadi pada kehidupan sehari-hari dan dapat menimbulkan stress ringan. Akan tetapi, dapat pula timbul efek merugikan jangka panjang apabila berlangsung dalam jangka waktu lama dan stressor yang beragam. 2. General Adaptation Syndrome Model General adaptation syndrome model (GAS) adalah suatu model yang mengilustrasikan tahap-tahap dari efek stress jangka panjang pada suatu individu. Penggagasnya adalah Hans Seyle. Model ini mengemukakan bahwa respon fisiologis

terhadap stress terdiri dari suatu pola tertentu tanpa memperhatikan sumber stressornya. Fase-fase dari (GAS) terdiri dari: a. Alarm and mobilization Muncul ketika seseorang menyadari adanya suatu stressor. Pada tahap ini sistem saraf simpatis menajdi aktif, hal ini membantu individu untuk menangani stressor yang ada. b. Resistance (adaptation to stress) Apabila stressor tetap ada, maka individu akan menginjak tahap kedua, resistensi. Pada tahap ini, tubuh akan bersiap untuk menghadapi stressor tersebut (Feldman, 2009), dikarakterisasikan oleh adanya sekresi hormon atau zat-zat kimia tertentu (Jiloha dan Bhatia, 2010). c. Exhaustion Merupakan tahap terakhir dari GAS, dimana kemampuan individu untuk beradaptasi terhadap stressor menurun menuju suatu titik dimana muncul konsekuensi negatif dari stress, dapat berupa keluhan fisik dan gejala psikologis (tidak dapat berkonsentrasi, perasaannya menjadi lebih sensitif, atau pada tingkat yang lebih lanjut dapat muncul disorientasi dan lepas dari realitas) (Feldman, 2009). Apabila seseorang telah mencapai tahap exhaustion, hal ini dapat menjadi suatu proses pemulihan diri, dimana keluhan yang muncul akan memaksa individu untuk lepas dari stressor, hal ini akan memberikan waktu untuk mengurangi stress yang muncul. 3. Stress dan Psikoneuroimmunologi Psikoneuroimmunologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara faktor psikologis, sistem imun, dan otak. Konsekuensi stress pada tubuh dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu: a. Efek fisiologis langsung, seperti meningkatnya tekanan darah, menurunnya fungsi sistem imun, meningkatnya aktivitas hormon, dan munculnya kondisi psikofisiologis. b. Kecenderungan melakukan kegiatan yang membahayakan kesehatan, seperti meningkatnya kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol, menurunnya asupan gizi, kurang tidur, dan meningkatnya penggunaan obat. c. Sikap yang berkaitan tidak langsung dengan kesehatan, seperti berkurangnya kepatuhan terhadap pengobatan, penundaan untuk berkonsultasi dengan

tenaga kesehatan, dan kurangnya minat untuk menemui tenaga kesehatan (Feldman, 2009). Stress dapat mempengaruhi sistem imun karena adanya pergantian fungsi dari sistem imun, dimana sistem imun mendapat stimulasi berlebihan. Hal ini menyebabkan sistem imun yang seharusnya menghadapi patogen yang memasuki tubuh menjadi menyerang tubuh itu sendiri dan merusak jaringan tubuh yang sehat. Selain itu juga respon sistem imun akan menurun, mempermudah terjadinya infeksi dan penyebaran dari sel tumor (Feldman, 2009). 4. Manajemen Stress dan Mekanisme Koping Stress Mekanisme koping stress adalah suatu usaha untuk mengontrol, mengurangi, atau belajar untuk menoleransi suatu ancaman yang menyebabkan stress. Mekanisme ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu: a. Koping yang berfokus pada emosi, dimana individu akan mencoba untuk mengatur emosinya dalam menghadapi stress, berusaha untuk mengubah perasaan yang dialaminya tentang suatu masalah. b. Koping yang berfokus pada masalah, dimana individu akan berusaha untuk memodifikasi masalah atau sumber yang menyebabkan stress (Feldman, 2009). Terdapat pula mekanisme koping lainnya yang tidak sesuai untuk menghadapi stress karena mekanisme koping ini cenderung menghindari kenyataan dan masalah, bukannya menghadapi dan menyelesaikan masalahnya, seperti: a. Avidant coping, dimana individu akan cenderung menghindari stressor. Hal ini bisa dilakukan dengan berharap sesuatu yang cenderung mustahil, atau dengan mengonsumsi obat, meminum minuman beralkohol, atau makan berlebihan. b. Defense mechanism, dimana individu akan berusaha untuk mengurangi kecemasan dengan menyembunyikan stressor dari dirinya sendiri dan orang lain. Mekanisme ini akan memberi kesempatan individu tersebut untuk menghindari stress dengan berpura-pura bahwa stressor itu tidak ada. c. Emotional insulation, dimana individu berhenti merasakan emosi apapun, sehingga individu tetap tidak akan terpengaruh dan tergerak oleh suatu pengalaman positif maupun negatif (Feldman, 2009). Orang-orang yang berhasil menghadapi stress adalah orang-orang dengan hardiness (ketabahan hati, ketahanan, daya tahan). Orang-orang dengan sifat ini

memandang stress dengan sikap yang optimis dan mengambil suatu tindakan untuk mengatasi stressor. Hardiness ini terdiri dari tiga komponen, yaitu: a. Komitmen, yaitu tendensi untuk bersikap total dalam apapun yang sedang individu itu lakukan disertai dengan perasaan dan keyakinan bahwa apa yang dilakukan itu penting dan berarti. b. Tantangan. Orang-orang dengan hardiness yakin bahwa perubahan adalah suatu hal yang wajar dalam kehidupan. Bagi mereka, perubahan bukanlah suatu ancaman bagi kehidupan mereka. c. Kontrol, yaitu persepsi bahwa individu tersebut dapat mempengaruhi kejadian-kejadian dalam hidupnya. Pada orang-orang yang menghadapi masalah yang sangat berat, hal utama dalam pemulihan psikologis adalah derajat dari resilience. Resilience adalah kemampuan untuk tetap bertahan, mengatasi, dan berkembang setelah mengalami kemalangan yang sangat besar (Feldman, 2009). Terdapat lima keterampilan untuk manajemen stress, yaitu: a. Self Observation Observasi diri penting dalam memahami penyebab dari stress dalam hidup. Selain itu juga memberikan pandangan tentang bagaimana diri bereaksi terhadap stress dan membantu mengidentifikasi pada tingkat stress mana yang dapat ditangani. b. Cognitive Restructuring Kemampuan kognitif berperan penting dalam stress dan proses koping. Terapi sikap kognitif dapat membantu individu untuk menyadari dan dapat mengubah pikiran, keyakinan, dan ekspektasi yang mempersulitt adaptasi. c. Relaxation Training Kemampuan seseorang untuk menenangkan diri sangat penting dalam manajemen stress. Orang dengan kemampuan relax yang baik akan dapat berfikir dengan lebih rasional dan mampu untuk merestrukturisasi kognisi yang negatif ketika dihadapkan dengan kejadian yang memicu stress. d. Time Management Hal ini penting dalam menentukan prioritas, sehingga individu dapat belajar untuk memfokuskan diri dalam tanggung jawab yang paling penting dan paling urgent. Selain itu juga mencegah individu untuk terlarut dalam pekerjaan-pekerjaan yang tidak penting dan tidak urgent (prioritas terendah).

Hal ini akan membantu individu untuk menjaga beban kerjanya lebih terkontrol. e. Problem Solving Pemecahan masalah meliputi beberapa tahap, yaitu identifikasi masalah, menciptakan beberapa alternatif, dan mengevaluasi alternatif yang ada kemudian menemukan solusi terbaik (Jiloha dan Bhatia, 2010).

DAFPUS: Feldman R.S. 2009. Understanding Psychology. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc. Jiloha R.C., Bhatia M.S. 2010. Psychiatry for General Practitioners. New Delhi: New Age International (P) Ltd., Publishers