Anda di halaman 1dari 11

A.

Definisi Efusi pleura adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2 !. Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura permukaan "isceral dan parietal, proses penyakit primer jarang merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. #ecara mengandung sejumlah kecil cairan ($ sampai %$ml! berfungsi memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi 2 2!. yang terletak diantara terjadi tetapi biasanya normal, ruang pleural sebagai pelumas yang (#melt&er C #u&anne,

Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. ('rice C #yl"ia, %(($! B. Anatomi )isiologi 'leura 'leura adalah membrane tispis yang membungkus paru. *apisan terluar membrane paru menempel pada dinding rongga toraks. *apisan dalam pleura menempel ke paru. 'ada saat ekspansi rongga toraks terjadi selama inspirasi, lapisan terluar mengembang, daya ini disalurkan ke pleura lapisan dalam, yang akan mengembangkan paru. Di anrata lapisan dalam dan luar terdapat ruang+rongga pleura. ,uang ini terisi beberapa milliliter cairan yang mengelilingi dan membasahi paru. Cairan pleura memiliki tekanan negati"e dan mela-an gaya kolaps elastic paru. .ekanisme ini membantu paru tetap dapat mengembang (Co-rin, 2 (!.

Dalam keadaan normal seharusnya tidak ada rongga kosong diantara kedua pleura, karena biasanya hanya terdapat % /2 cc cairan yang merupakan lapisan tipis serosa yang selalu bergerak secara teratur. #etiap saat jumlah cairan dalam rongga pleura bisa menjadi lebih dari cukup untuk memisahkan kedua pleura. 0ika terjadi, maka kelebihan tersebut akan dipompa keluar melalui pembulu limfatik dari rongga pleura ke mediastinum. 'ermukaan superior diafragma dan permukaan lateral pleura parietalis, memerlukan adanya keseimbangan antara produksi cairan pleura oleh pleura parietalis dan absorpsi oleh pleura "iceralis. 1leh karena itu rongga pleura disebut sebagai ruang potensial, karena ruang ini normalnya begitu sempit, sehingga bukan merupakan ruang fisik yang jelas (2uyton dan 3all, %((4!.

C. Etiologi %. #ecara patologis, efusi pleura disebabkan oleh keadaan/keadaan5 a. .eningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal jantung! b. .enurunnya tekanan osmotic koloid plasma (misalnya hipoproteinemia! c. .eningkatnya permeabilitas kapiler (misalnya infeksi bakteri! d. Berkurangnya absorbsi limfatik 2. 'enyebab efusi pleura dilihat dari jenis cairan yang dihasilkannya adalah5 a. 6ransudat disebabkan karena gagal jantung, sirosis hepatis dan ascites, hipoproteinemia pada nefrotik sindrom, obstruksi "ena ca"a superior, pasca bedah abdomen, dialisis peritoneal, dan atelektasis akut. b. Eksudat disebabkan karena infeksi, pneumonia, 6BC, "irus, jamur, parasit, dan abses

D. 'atofisiologi 'ada umumnya, efusi terjadi karena penyakit pleura hampir mirip plasma (eksudat! sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultrafiltrat plasma (transudat!. Efusi dalam hubungannya dengan pleuritis disebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder (efek samping dari! peradangan atau keterlibatan neoplasma. Contoh bagi efusi pleura dengan pleura normal adalah payah jantung kongestif. 'asien dengan pleura yang a-alnya normal pun dapat mengalami efusi pleura ketika terjadi payah+gagal jantung kongestif. 7etika jantung tidak dapat memompakan darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh terjadilah peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler yang selanjutnya menyebabkan hipertensi kapiler sistemik. Cairan yang berada dalam pembuluh darah pada area tersebut selanjutnya menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura. 'eningkatan pembentukan cairan dari pleura parietalis karena hipertensi kapiler sistemik dan penurunan reabsorbsi menyebabkan pengumpulan abnormal cairan pleura. Adanya hipoalbuminemia juga akan mengakibatkan terjadinya efusi pleura. 'eningkatan pembentukan cairan pleura dan berkurangnya reabsorbsi. 3al tersebut berdasarkan adanya penurunan pada tekanan onkotik intra"askuler (tekanan osmotic yang dilakukan oleh protein!. *uas efusi pleura yang mengancam "olume paru/paru, sebagian akan tergantung atas kekuatan relatif paru/paru dan dinding dada. Dalam batas pernapasan normal, dinding dada

cenderung rekoil ke luar sementara paru/paru cenderung untuk rekoil ke dalam (paru/paru tidak dapat berkembang secara maksimal melainkan cenderung untuk mengempis!.

E. 'ath-ay

2angguan jantung kongestif, #8, asites

9nfeksi, neoplasma, infark paru

'eningkatan tekanan "ena sistemik dan tekanan kapiler dinding dada

peningkatan permeabilitas membran kapiler

peningkatan kapasitas reabsorbsi pembuluh darah suppleura dan aliran getah bening akan menurun filtrasi cairan kerongga pleura dan paru meningkat transudat penumpukan cairan dirongga pleura menekan paru ekspansi paru menurun sesak nafas pola nafas tidak efektif

kegagalan drainase limfatik cairan pleura meningkat

eksudat

pemasangan :#D resiko infeksi

suplai oksigen tidak sesuai kebutuhan intoleransi akti"itas

). .anifestasi 7linis %. Batuk 2. Dispnea ber"ariasi ;. Adanya keluhan nyeri dada (nyeri pleuritik! <. 'ada efusi yang berat terjadi penonjolan ruang interkosta. $. 'ergerakan dada berkurang dan terhambat pada bagian yang mengalami efusi. =. 'erkusi meredup diatas efusi pleura. 4. #uara nafas berkurang diatas efusi pleura. >. )remitus fokal dan raba berkurang.

2. 'emeriksaan 'enunjang %. ,ontgen 6hora? Dalam foto thoraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat permukaan yang melengkung jika jumlah cairan @ ; cc. 'ergeseran mediastinum kadang ditemukan.

2. C6/#can 6hora? Berperan penting dalam mendeteksi ketidaknormalan konfigurasi trakea serta cabang utama bronkus, menentukan lesi pada pleura dan secara umum mengungkapkan sifat serta derajat kelainan bayangan yang terdapat pada paru dan jaringan toraks lainnya.

;. Altrasound Altrasound dapat membantu mendeteksi cairan pleura yang timbul dan sering digunakan dalam menuntun penusukan jarum untuk mengambil cairan pleura pada torakosentesis.

3. 'enatalaksanaan %. 9rigasi cairan garam fisiologis atau larutan antiseptik (Betadine!. 2. 'leurodesis, untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi. ;. 6orasentesis5 untuk membuang cairan, mendapatkan spesimen (analisis!, menghilangkan dispnea. <. Drainase cairan (:ater #eal Drainage! jika efusi menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri, dispnea, dll. Cairan efusi sebanyak % B %,2 liter perlu dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatnya edema paru, jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikutya baru dapat dilakukan % jam kemudian. $. Antibiotika jika terdapat empiema

A#A3A8 7E'E,A:A6A8 A. 'engkajian %. 9dentitas pasien

'ada tahap ini pera-at perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien. 2. 7eluhan utama 7eluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas, rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas. ;. ,i-ayat penyakit sekarang 'asien dengan effusi pleura biasanya akan dia-ali dengan adanya tanda/tanda seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat pada dada, berat badan menurun dan sebagainya. 'erlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan/keluhannya tersebut. <. ,i-ayat penyakit dahulu 6anyakan kepada pasien apakah pasien pernah menderita penyakit seperti 6BC paru, pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan sebagainya. 3al ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi. $. ,i-ayat penyakit keluarga 'erlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit/penyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti Ca paru, asma, 6B paru dan lain sebagainya. =. 1bser"asi 66C 4. 'emeriksaan )isik a. 9nspeksi 5 %! 6ingkat kesadaran pasien, ekspresi -ajah, perilaku, mood untuk mengetahui tingkat kecemasan dan keteganagan pasien. 2! 'ergerakan dinding dada tertinggal pada dada yang sakit ;! 9nspeksi adanya sianosis <! 7edalaman pernapasan, ,,, 'enggunaan otot aksesoris pernapasan dan ekspansi dada.

b. 'alpasi5 %! 'ergerakan dinding dada tertinggal pada dada yang sakit 2! Cocal fremitus menurun di dada yang sakit ;! 'alpasi suhu tubuh. 0ika dingin berarti berarti terjadi kegagalan transport oksigen. c. 'erkusi5 %! #uara perkusi redup sampai pekak tergantung jumlah cairanya.

d. Auskultasi5 %! #uara napas menurun sampai menghilang pada dada yang sakit

B. Diagnosa 7epera-atan %. 7etidakefektifan pola napas b.d penurunan ekspansi paru akibat adanya penumpukan cairan dalam rongga pleura. 2. 7etidakseimbangan nutrisi5 kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan akibat sesak napas. ;. 9ntoleran akti"itas b.d ketidak seimbangan suplai dengan kebutuhan oksigen. <. ,esiko infeksi b.d adanya luka pemasangan :#D.

C. 'erencanaan D?%5 7etidakefektifan pola napas b.d penurunan ekspansi paru akibat adanya penumpukan cairan dalam rongga pleura. 6ujuan5 pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal 7riteria hasil5 9rama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal, pada pemeriksaan sinar D dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan, bunyi nafas terdengar jelas. 9nter"ensi5 %. 7aji kedalaman pernapasan.

,asional5 mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. 2. 1bser"asi tanda/tanda "ital (suhu, nadi, tekanan darah, ,, dan respon pasien!. ,asional 5 'eningkatan ,, dan tachcardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. ;. Berikan klien posisi semi fo-ler. ,asional5 memaksimalkan ekspansi paru. <. 'eriksa+a-asi :#D, bila terpasang. ,asional5 menghindari kegagalan mengeluarkan cairan dari rongga pleura. $. Ajarkan teknik relaksasi. ,asional5 untuk memperbaiki pola napas =. 7olaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian 12 dan obat/obatan serta foto thora?. ,asional 5 'emberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hipoksia. Dengan foto thora? dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru. D?25 7etidakseimbangan nutrisi5 kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan akibat sesak napas. 6ujuan5 kebutuhan nutrisi terpenuhi 7riteria 3asil5 berat badan, hasil laboratorium dalam batas normal 9nter"ensi5 %. Catat status nutrisi pasien. ,asional5 mengetahui derajat masalah dan pilihan inter"ensi yang tepat. 2. Berikan makanan sedikit tapi sering. ,asional5 .emaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan. ;. Anjurkan keluarga klien untuk memba-a makanan dari rumah dan berikan pada klien kecuali kontra indikasi. ,asional5 membantu memenuhi kebutuhan personal. <. Beri moti"asi tentang pentingnya nutrisi.

,asional 5 7ebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya, kebiasaannya, agama, ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. $. 7olaborasi dengan ahli gi&i. ,asional5 pemberian nutrisi dapat dihitung dengan tepat. D?;5 9ntoleran akti"itas b.d ketidak seimbangan suplai dengan kebutuhan oksigen. 6ujuan5 pasien mampu melakukan aktifitas seoptimal mungkin 7riteria 3asil5 6erpenuhinya akti"itas secara optimal, pasien kelihatan segar dan bersemangat. 9nter"ensi5 %. 7aji respon 9ndi"idu terhadap akti"itas . ,asional5 agar dapat dinilai tingkat intoleran aktifitas 2. .eningkatkan Akti"itas #ecara bertahap. ,asional5 agar tidak terjadi kelelahan. ;. Ajarkan 7lien metode penghematan energi untuk akti"itas. ,asional5 7lien dapat berakti"itas secara bertahap sehingga tidak terjadi keleahan. <. 7olaborasi dengan ahli terapi okupasi, jika perlu. ,asional5 untuk melatih ketahanan

D?<5 ,esiko infeksi b.d tindakan in"asif pemasangan :#D. 6ujuan5tidak terjadi infeksi 7riteria 3asil5 tidak ada tanda/tanda infeksi, 66C normal , kadar leukosit $ / % +mm; 9nter"ensi5 %. 9dentifikasi tanda/tanda terjadi infeksi. ,asional5 9nfeksi yang diketahui secara dini mudah diatasi sehingga tidak terjadi perluasan infeksi. 2. Anjurkan klien dan keluarga ikut menjaga kebrsihan sekitar luka dan pemasangan alat, serta kebersihan lingkungan serta tehnik mencuci tangan sebelum tindakan. ,asional5 perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi. ;. *akukan pera-atan luka pada pemasangan :#D. ,asional5 luka yang tera-att dan bersih dapat mencegah terjadinya infeksi. <. Berikan terapi antibiotik bila diperlukan. ,asional5 antibiotik digunakan untuk pencegahan infeksi.

D. 9mplementasi 9mplementasi merupakan pelaksanaan rencana kepera-atan oleh pera-at terhadap pasien. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan rencana kepera-atan diantaranya 5 9nter"ensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan "alidasi, ketrampilan interpersonal, teknikal dan intelektual dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologis klien dilindungi serta dokumentasi inter"ensi dan respon pasien. 'ada tahap implementasi ini merupakan aplikasi secara kongkrit dari rencana inter"ensi yang telah dibuat untuk mengatasi masalah kesehatan dan pera-atan yang muncul pada pasien (Budianna 7eliat, %((<,<!.

E. E"aluasi 6ujuan dari e"aluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana kepera-atan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang (A#. .idar 3, dkk, %(>(!. 7riteria dalam menentukan tercapainya suatu tujuan, pasien 5 %. .ampu mempertahankan fungsi paru secara normal. 2. 7ebutuhan nutrisi terpenuhi. ;. .ampu melakukan aktifitas seoptimal mungkin <. 6idak terjadi infeksi $. .ampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak lagi cemas.

DA)6A, 'A#6A7A Al sagaff 3 dan .ukti. A, Dasar Dasar Ilmu Penyakit Paru, Airlangga Ani"ersity 'ress, #urabaya E %(($ Arif .uttaFin, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dgn Gangguan Sistem Pernapasan Cor-in, Eli&abeth 0. 2 (.Buku Saku PATOFISIOLOGI.0akarta 5 E2C =. Te t!""k "# $e%i&al Physi"l"gy' ((th e%' Phila%elphia , 'A,

2uyton, A.C. and 3all, 0.E., 2 A#A5 Else"ier #aunders.

7eliat, Budi Anna. Pr"ses Keperawatan, Arcan 0akarta E %((% .ansjoer, A, 2 )7A9. %, Kapita Selekta Ke%"kteran )%isi ke * 0ilid 9, 0akarta 5 .edia Aesculapius

'edoman Diagnosis dan6erapi + A') ilmu penyakit paru, %((<, %%% 'rice, # G :ilson, *, 2 0akarta. $' Pat"#isi"l"gi+ K"nsep Klinis Pr"ses,Pr"ses Penyakit' Edisi =. E2C,