Anda di halaman 1dari 115

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kesehatan Ibu merupakan komponen yang sangat penting dalam kesehatan reproduksi karena seluruh komponen yang lain sangat dipengaruhi oleh kesehatan ibu. Apabila Ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi kuat. Ibu yang sehat juga menciptakan keluarga sehat dan bahagia. Menurut WHO, kematian ibu adalah kematian seorang wanita waktu hamil atau dalam 42 hari sesudah berakhirnya kehamilan oleh sebab apapun terlepas dari tuanya kehamilan dan tindakan yang dilakukan untuk mengakhiri kehamilannya. Angka kematian ibu diperhitungkan terhadap 100.000 kelahiran hidup ( Sarwono, 2009) ukuran yang dipakai untuk menilai baik-buruknya keadaan pelayanan kesehatan dalam suatu negara atau daerah ialah angka kematian Ibu (AKI). Bila AKI tinggi, berarti pelayanan kesehatan ibu belum baik. Sebaliknya bila AKI rendah berarti pelayanan kesehatan ibu sudah baik. Di kawasan ASEAN, Indonesia mempunyai AKI dan AKB yang paling tinggi, menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (2007) Angka Kematian Ibu adalah 228 per 100.000 Sedangkan badan pusat statistic mengetemasikan AKB pada tahun 2007 sebesar 34/1000 kelahiran hidup. Angka ini sedikit menurun jika dibandingkan AKB pada tahun sebesar 35/1000 kelahiran hidup. Sementara target Rencana pembangungan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) adalah sebesar 226 per 100.000. Selain itu angka kematian ibu merupakan salah satu target yang ditentukan dalan tujuan ke 5 pembangunan millennium yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai 2002 sampai 2003

sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai resiko jumlah kematian ibu. Dari hasil survei yang dilakukan, AKI dari waktu ke waktu telah menunjukan penurunan, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan

pembangunan millennium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus. Berdasarkan uraian diatas bidan sebagai salah satu pemberi pelayanan kebidanan terdepan berkewajiban turut melaksanakan dan menyukseskan Program dan Kebijakan Pemerintah dalam upaya menurunkan AKI dan AKB. Keberadaan bidan di tengah-tengah masyarakat, memiliki peran yang strategis terutama dalam pemeliharaan kesehatan ibu dan anak. Bidan juga turut mempersiapkan generasi bangsa Indonesia sejak dalam kandungan, bahkan bidan juga memberikan konsultasi tentang kesehatan reproduksi pada remaja. Menanggapi kenyataan di atas , penulis melakukan manajemen asuhan kebidanan dari mulai hamil khususnya trimester III, bersalin, nifas serta perawatan dan pengawasan pada bayi baru lahir dengan pendekatan Manajemen Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. A usia 24 tahun G1 P0 A0 Di Rumah Bersalin Anny Rahardjo tanggal 18 Agustus 2011 s/d 14 November 2011 Rumah Bersalin Anny Rahardjo melayani pelayanan yang

berkesinambungan, mulai dari neonatus, bayi, balita, remaja, orang dewasa, sampai menopause. Alasan mengambil pasien yang bernama Ny. A umur 24 tahun G1P0A0 karena lokasi antara rumah pasien dan klinik mudah dijangkau serta Ny. A bersedia untuk menjadi pasien komprehensif.

1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum Dengan pengambilan studi kasus ini diharapkan mahasiswi mampu melaksanakan Asuhan Kebidanan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir dengan menggunakan pendekatan manajemen varney kemudian dilanjutkan dengan pendokumentasian menggunakan SOAP.

1.2.2 Tujuan Khusus 1) Mahasiswi dapat melakukan pengkajian tentang kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir 2) Mahasiswi mampu menentukan diagnosa, masalah dan kebutuhan berdasarkan data obyektif dan akurat yang ditemukan selama masa kehamilan , Persalinan , Nifas dan bayi baru lahir 3) Mahasiswi mampu mengidentifikasi diagnosa, masalah dan kebutuhan potensial yang terjadi selama kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir. 4) Mahasiswi mampu mengetahui kebutuhan akan tindakan segera kepada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir sesuai dengan manajemen asuhan kebidanan 5) Mahasiswi mampu merencanakan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir sesuai dengan masalah yamg perlu di utamakan. 6) Mahasiswi mampu melaksanakan semua asuhan yang telah direncanakan sesuai kebutuhan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi baru lahir. 7) Mahasiswi mampu mengevaluasi semua asuhan yang telah diberikan kepada ibu 8) Mahasiswa mampu mendokumentasikan seluruh asuhan yang telah diberikan kepada ibu

1.3 Manfaat Penulisan 1.3.1 Bagi Bidan Praktek Swasta ( BPS ) a. Sebagai perbandingan dan berbagi informasi mengenai apa yang penulis temukan saat mendapatkan teori dan saat penulis temukan di Bidan Praktek Swasta.Sehingga diharapkan Bidan Praktek Swasta dapat meningkatkan pelayanan antenatal care,

intra natal, post natal dan perinatal sesuai dengan standar pelayanan kebidanan.

1.3.2

Bagi Institusi a. Sebagai sumbangan pikiran untuk bacaan di perpustakaan Akademi Kebidanan Bhinneka Jakarta Satu. b. Sebagai tolak ukur institusi apakah teori yang selama ini diberikan pada Kebidanan proses belajar Jakarta mengajar di Satu sudah Akademi bisa di

Bhinneka

implementasikan sebaik-baiknya oleh mahasiswa.

1.3.3 Bagi Penulis a. Dapat memberikan asuhan yang menyeluruh berdasarkan asuhan yang sesuai kebutuhan ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas serta bayi baru lahir. b. Dapat terjun langsung di lapangan sesuai dengan teori yang diberikan di kelas. c. Sebagai penambah pengalaman penulis tentang manajemen dan asuhan kebidanan pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir.

1.4 Ruang Lingkup Dalam penulisan laporan studi kasus ini, di batasi dalam ruang lingkup yang mencakup Ny. A Di Rumah Bersalin Anny Rahardjo dan rumah pasien mulai dari masa hamil, bersalin, nifas dan bayinya yang di mulai sejak tanggal 18 Agustus s/d 14 November 2011 dengan praktik langsung pada pasien dalam keadaaan normal dan sehat . 1.5 Metode Penelitian Penulisan studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:

1. Wawancara, observasi, dan pemeriksaan langsung kepada klien sehingga data yang diperoleh lebih akurat dan aktual. 2. Kepustakaan, membaca buku buku yang diperlukan. 3. Partisipasi aktif, melakukan asuhan kebidanan secara langsung pada pasien Ny.A dan keluarga.

1.6 Sistematika Penulisan Adapun Sistematika Penulisan Laporan Studi Kasus ini adalah: BAB 1 : PENDAHULUAN Menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, ruang lingkup, metode penulisan & sistematika penulisan. BAB II : TINJAUAN TEORI Menguraikan tentang konsep dasar asuhan kebidanan pada kehamilan, persalinan, nifas dan juga bayi baru lahir serta pendokumentasian menajemen asuhan kebidanan. BAB III : TINJAUAN KASUS Menampilkan seluruh kasus pengkajian dan asuhan yang di berikan pada ANC, INC, PNC & BBL. BAB IV : PEMBAHASAN Pembahasan kasus yang akan membahas tentang Subjektif, Objektif, Assement, dan Planning. BAB V : PENUTUP Kesimpulan dan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA KEHAMILAN

2.1.1 Pengertian Kehamilan Normal Masa kehamilan dimulai dari hasil konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) di hitung dari hari pertama haid terakhir. (Syaifuddin, 2009). Proses kehamilan merupakan mata rantai yang berkesinambung dan terdiri dari : ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implatansi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.(Manuaba, 2010) Kehamilan di bagi dalam 3 triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan , triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. (syaifuddin, 2009) Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genitalia wanita akan mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam perkembangannya mengeluarkan hormon somatomamotropin, estrogen, dan progesteron yang menyebabkan perubahan pada bagian-bagian tubuh, Namun karena asuhan komprehensif pada Ny. A dimulai dari usia 32 minggu maka pada teori kehamilan ini hanya akan membahas mengenai perubahan fisiologis pada usia kehamilan 28-40 minggu.

2.1.2 Perubahan-perubahan tubuh yang terjadi pada masa kehamilan. a. Uterus Rahim atau uterus yang semula besarnya sejempol atau beratnya 30 gram akan mengalami hipertrofi dan hyperplasia, sehingga menjadi

seberat 1000 gram saat akhir kehamilan. Hubungan antara besarnya rahim dan usia kehamilan penting untuk diketahui kerena kemungkinan peyimpangan kehamilan seperti hamil kembar, hamil mola hidatidosa, hamil dengan hidramnion yang akan teraba lebih besar. ( Manuaba, 2010) Memantau Tumbuh Kembang Janin (nilai normal) ( syaifuddin , 2009) Tinggi fundus Uteri Usia kehamilan Dalam cm Menurut penunjuk badan 28 minggu 32 minggu 36 minggu 25 cm ( 2 cm) 27 ( 2 cm) 30 cm ( 2 cm) Ditengah antara pusat-PX Pada PX

Pada triwulan akhir ismus akan berkembang menjadi segmen bawah uterus. Pada akhir kehamilan otot-otot uterus akan melebar dan menipis. Batas antara segmen atas yang tebal dan segmen yang tipis disebut dengan lingkaran retraksi fisiologis. Sejak awal kehamilan uterus akan mengalami kontraksi yang teratur namun tidak disertai nyeri yang disebut kontraksi Braxton Hicks sampai bulan terakhir biasanya kontraksi ini sangat jarang dan meningkat pada satu dua minggu sebelum persalinan. Pada akhir kehamilan kontraksi ini akan menyebabkan rasa tidak nyaman dan dianggap sebagai persalinan palsu. Peningkatan vaskularisasi, kongesti, dan edema jaringan dinding uterus dan hipertrofi kelenjar serviks menyebabkan berbagai perubahan yang dikenali sebagai Chadwick, Goodell, dan Hegar. Tanda Chadwick adalah perubahan warna menjadi kebiruan atau keunguan pada vulva, vagina dan serviks. Tanda Goodell adalah perubahan kosistensi serviks seperi konsistensi bibir dibandingkan dengan konsistensi kenyal seperti konsistensi ujung hidung pada saat sebelum hamil. Tanda Hegar adalah pelunakan dan komprebilitas ismus serviks

sehingga ujung-ujung jari seakan dapat ditemukan apabila ismus ditekan dari arah yang berlawanan.( Sarwono, 2009)

b. Ovarium Indung telur yang mengandung korpus luteum gravidarum akan meneruskan fungsinya sapai terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu dengan mengeluarkan korionik gonadotropin.

c. Payudara Payudara mengalami perkembangan dan pertumbuhan sebagai persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Perkembangan payudara disebabkan dari pengaruh hormone estrogen, progesterone, dan somatomamotrofin. Payudara perlu dipersiapkan sejak bayi belum lahir agar dapat segera berfungsi denganbaik saat diperlukan. d. Perubahan Metabolisme Ibu 1. Metabolisme basal naik sebesar 15 sampai 20% dari semula, terutama pada trisemester 3 2. Keseimbangan asam basa mengalami penurunan dari 155 mEq per liter menjadi 145 mEq per liter disebabkan hemodilusi darah dan kebutuhan mineral yang diperlukan janin. 3. Kebutuhan protein wanita hamil makin tinggi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, perkembangan organ kehamilan, dan persiapan laktasi. Dalam makanan diperlukan protein tinggi sekitar 0,5 g / kg berat badan atau sebutir telur ayam sehari. 4. Kebutuhan kalori didapat dari karbohidrat, lemak, dan protein. 5. Kebutuhan zat mineral untuk ibu hamil : Kalsium 1,5 gram setiap hari, 30 sampai 40 gram untuk pembentukan tulang janin. Forfor, rata-rata 2 gram dalam sehari

Zat besi 800 mg atau 30 sampai 50 mg sehari (minimal 90 tablet selama hamil) 6. Air, ibu hamil memerlukan air cukup banyak dan dapat terjadi retensi air. 7. Berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5 kg sampai 16, 5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan sekitar 0,5 kg/minggu.

Beberapa Gejala dan Tanda Bahaya Selama Kehamilan Perdarahan Nyeri hebat di Daerah Abdominopelvikum Muntah berlebihan yang berlangsung selama kehamilan Disuria Menggigil atau demam Ketuban pecah dini atau sebelum waktunya Uterus lebih besar atau lebih kecil dari usia kehamilan. Pergerakkan janin kurang atau tidak ada sama sekali Gangguan penglihatan Nyeri epigastrium Sakit kepala hebat Edema seluruh tubuh

2.1.3 Asuhan Antenatal 2.1.3.1 Definisi Asuhan antenatal dalah upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama kehamilan (Adrianz , George.2009.ilmu kebidanan sarwono prawirihardjo.hal 278 ). Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan antenatal.

10

Pemeriksaan antenatal yang lengkap adalah K1, K2, K3, dan K4. Hal ini berarti minimal dilakukan sekali kunjungan antenatal hingga usia kehamilan 28 minggu, sekali kunjungan antenatal selama kehamilan 28-36 minggu dan sebanyak dua kali kunjungan untuk asuhan antenatal pada usia kehamilan diatas 36 minggu ( Sarwono, 2009 ) 2.1.3.2 Menurut PWS KIA 2009, Pelayanan /asuhan standar minimal 10T 1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan. 2. Ukur tekanan darah. 3. Nilai Status Gizi (ukur lingkar lengan atas). 4. Ukur tinggi fundus uteri. 5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ). 6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT) bila diperlukan. 7. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan. 8. Test laboratorium (rutin dan khusus). 9. Tatalaksana kasus 10. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan. 2.1.3.3 Jadwal pemberian imunisasi TT pada WUS (wanita usia subur) 1. TT 1, diberikan dengan dosis 0,5 cc. 2. TT 2, jarak pemberian 4 minggu setelah TT 1, dapat memberikan perlindungan selama 3 tahun, dosis pemberian 0,5 cc. 3. TT 3, jarak pemberian 6 bulan setelah TT 2, masa perlindungan 5 tahun, dosis pemberian 0,5 cc. 4. TT 4, jarak pemberian 1 tahun setelah TT 3, masa perlindungan 10 tahun, dosis pemberian 0,5 cc. 5. TT 5, jarak pemberian 1 tahun setelah TT 4, masa perlindungan 25 tahun, dosis pemberian 0,5 cc.

11

2.1.3.4 Pemeriksaan Rutin dan Penelusuran Penyulit selama Kehamilan Dalam buku ilmu kebidanan Saewono Prawirohardjo pada pemeriksaan rutin, dilakukan pula pencatatan data klien dan keluarganya serta pemeriksaan fisik dan obstetrik seperti dibawah ini.

o Pengkajian Data Identifikasi dan Riwayat Kesehatan Data Umum Pribadi Nama Usia Alamat Pekerjaan Ibu/Suami Lamanya menikah Kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan Keluhan Saat Ini Jenis dan sifat gangguan yang dirasakan ibu Lamanya mengalami gangguan tersebut Riwayat Haid Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) Usia Kehamilan dan Taksiran Persalinan (Rumus Naegel tanggal HPHT ditambah 7 dan bulan dikurangi 3) Riwayat Kehamilan dan Persalinan Asuhan antenatal, persalinan, dan nifas kehamilan sebelumnya Cara Persalinan Jumlah dan jenis kelamin anak hidup Berat badan lahir Cara pemberian asupan bagi bayi yang dilahirkan Informasi dan saat persalinan atau keguguran terakhir Riwayat Kehamilan Saat Ini Identifikasi kehamilan

12

Identifikasi kehamilan)

penyulit

(preeclampsia

atau

hipertensi

dalam

Penyakit lain yang diderita Gerakan bayi dalam kendungan Riwayat Penyakit dalam Keluarga Diabetes Mellitus,Hipertensi atau Hamil Kembar Kelainan Bawaan Riwayat Penyakit Ibu Penyakit yang pernah diderita ibu DM, HDK, Infeksi Saluran Kemih Penyakit Jantung Infeksi Virus Berbahaya Alergi obat atau makanan tertentu Pernah mendapat transfusi darah dan indikasi tindakan tersebut Inkompatibilitas Rhesus Paparan sinar X/Rontgen Riwayat Penyakit yang Memerlukan Tindakan Pembedahan Dilatasi dan kuretase Reparasi Vagina Seksio Sesarea Serviks Inkompeten Operasi non-ginekologi Riwayat Mengikuti Program Keluarga Berencana Riwayat Imunisasi Riwayat Menyusui Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Tanda-tanda vital Pemeriksaan Jantung dan Paru Pemeriksaan Payudara

13

Kelainan Otot dan Rangka serta neurologik Pemeriksaan Abdomen Inspeksi o Bentuk dan ukuran abdomen o Parut bekas operasi o Tanda-tanda kehamilan o Gerakkan Janin o Varises atau pelebaran Vena o Hernia o Edema Palpasi o Tinggi fundus uteri o Punggung bayi o Sejauh mana bagian terbawah janin masuk pintu atas panggul Auskultasi o 10 minggu dengan Dopller o 20 minggu dengan fetoskop pinard Inspekulo vagina untuk identifikasi vaginitis pada trisemesterr I dan II Laboratorium o Pemeriksaan Analisis urin rutin Analisis tinja rutin Hb, MCV Golongan darah Gula darah Antigen Hepatitis B virus Antibodi Rubela HIV/VDRL Ultrasonografi Interpretasi Data

14

a. Diagnosa ibu 1) Hamil atau tidak 2) Primi atau multi gravida 3) Pernah Abortus atau tidak 4) Tuanya kehamilan b. Diagnosa janin 1) Anak hidup atau mati 2) Anak tunggal atau kembar 3) Anak intrauterin atau ekstrauterin 4) Letak anak Antisipasi Masalah/ Resiko yang Berhubungan Masalah potensial dalam kaitannya dengan diagnosa kebidanan adalah masalah yang mungkin timbul dan bila tidak segera diatasi akan mengganggu keselamatan hidup pasien. Oleh karena itu masalah potensial harus segera diantisipasi, dicegah, diawasi dan segera dipersiapkan tindakan untuk mengatasinya. Tindakan Segera / Kolaborasi Kegiatan kolaborasi adalah kegiatan yang dilakukan bersama dengan tenaga kesehatan lain. Kegiatan rujukan adalah kegiatan penyiapan yang dilakukan oleh bidan terhadap pasien yang akan dirujuk ke tenaga kesehatan lain yang terkait. Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan konsultasi, atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi atau kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan klien.

15

Dalam rumusan ini termasuk tindakan segera yang mampu dilakukan secara mandiri atau bersifat rujukan. Kaji ulang apakah tindakan segera ini benar-benar dibutuhkan. Mengembangkan Rencana Asuhan Menyeluruh a. Tentukan kebutuhan untuk uji laboratorium, berkonsultasi dengan dokter. b. c. d. e. f. g. Berikan pendidikan kesehatan sesuai dengan kebutuhan. Tentukan kebutuhan untuk mengurangi ketidaknyamanan Tentukan kebutuhan untuk pengobatan. Tentukan kebutuhan untuk konseling atau petunjuk antisipasi. Jadwalkan kunjungan berikutnya. Beritahu ibu untuk datang ke fasilitas pelayanan kesehatan bila ada keluhan.

Kunjungan ulang untuk wanita yang berkembang secara normal biasanya terjadwal sebagai berikut : 1) Antara 0 dan 28 minggu gestasi, setiap 1 bulan 2) Antara 28 dan 36 minggu gestasi, setiap 2 minggu 3) Antara 36 minggu masa gestasi dan kelahiran setiap 1 minggu Pelaksanaan Tindakan Langkah pelaksanaan di dalam manajemen kebidanan dilakukan oleh bidan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pada langkah pelaksanaan ini, bidan melakukannya secara mandiri. Pada pelaksanaan penanganan kasus-kasus yang di dalamnya memerlukan tindakan di luar kewenangan, bidan perlu melakukan tindakan intervensi, bidan mengawasi dan memonitor kemajuan kesehatan pasien. Pelaksanaan tindakan selalu diupayakan dalam waktu yang singkat, efektif, hemat dan berkualitas.

16

Evaluasi Langkah akhir dari proses manajemen kebidanan adalah evaluasi. Evaluasi adalah tindakan pengukuran antara keberhasilan dan rencana.Jadi tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan kebidanan telah ditetapkan di dalam rencana tindakan. Hal yang dievaluasi meliputi apakah kebutuhan telah terpenuhi dan mengatasi diagnosis serta masalah yang telah diidentifikasi. Evaluasi tidak hanya dilakukan dengan membandingkan keberhasilan dengan tindakan. Evaluasi juga dilakukan dengan membandingkan keberhasilan dengan langkah-langkah sebelumnya. Hasil evaluasi

merupakan langkah awal dari langkah identifikasi dan analisis masalah selanjutnya, bila diperlukan.

2.2 ASUHAN KEBIDANAN PADA PERSALINAN NORMAL

2.2.1 Pengertian Persalinan Persalinan dan kelahiran normal adalah pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan 937-40 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik ibu maupun pada janin.( Syaifuddin, 2009) Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai penyulit. (JNPK-KR, 2008) Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus berkontraksi dan

menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu belum jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan serviks.

17

Beberapa istilah yang berkaitan dengan usia kehamilan dan berat janin yang dilahirkan sebagai berikut ( Manuaba, 2010) : Abortus ,terhentinya dan dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar kandungan : usia kehamilan sebelum 28 minggu , berat janin kurang dari 1000 gram. Persalinan prematuritas. Persalinan yang terjadi saat usia kehamilan 28 minggu sampai 36 minggu , berat janin kurang dari 2500 gram Persalinan aterm. Persalinan antara usia kehamilan 37 sampai 42 minggu berat janin di atas 2500 gram Persalinan serotinus. Persalinan antara usia kehamilan 37 sampai 42 minggu berat janin di atas 2500 gram Persalinan presipitatus . persalinan berlangsung cepat kurang dari 3 jam. Menurut cara persalinan dibagi menjadi : Persalinan biasa atau normal (eutosia) adalah proses kelahiran janin pada kehamilan cukup bulan (aterm, 37-42 minggu), pada janin letak memanjang, presentasi belakang kepala yang disusul dengan pengeluaran plasenta dan seluruh proses kelahiran itu berakhir dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tindakan/pertolongan buatan dan tanpa komplikasi. Persalinan abnormal adalah persalinan pervaginam dengan bantuan alat-alat maupun melalui dinding perut dengan operasi caesarea.

2.2.2 Asuhan Persalinan dengan Lima Benang Merah Dalam melakukan asuhan diperlukan beberapa aspek yang saling berhubungan untuk mencapai asuhan yang maksimal. Kelima aspek tersebut dikenal dengan 5 benang merah diantaranya (JNPKKR 2008) : 1. 2. 3. Membuat keputusan klinik Asuhan sayang ibu dan sayang bayi Pencegahan infeksi

18

4. 5.

Pencatatan (rekam medis) Rujukan

2.2.3 Kala dalam Persalinan Persalinan dibagi dalam 4 kala, yaitu : 1. Kala I dimulai saat mulai persalinan sampai pembukaan lengkap (10 cm), proses ini di bagi dalam 2 fase, fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm (saifuddin.2009) .pada permulaan HIS, kala pembukaan berlansung tidak begitu kuat sehingga parturient masih dapat berjalan-jalan. Lamanya kala I untuk primigravida berlangsung selama 12 jam sedangkan multigravida sekitar 8 jam. Berdasarkan kurva Friedman diperhitungkan primigravida pembukaan 1 cm/jam pada multi 2 cm/jam. Kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif. 2. Kala II dimulai dari pembukaan lengkap(10 cm) sampai bayi lahir.gejala utama kala II yaitu : o His semakin kuat , dengan interval 2-3 menit dengan durasi 50 sampai 100 detik o Menjelang akhir kala I ketuban pecah dan ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak . o Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan mengejan, karena ertekannya pleksus Frankenhauser. o Kedua kekuatan His dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga kepala membuka pintu, suboksiput bertindak sebagai hipomoglion berturut-turut lahir ubun-ubun besar, dahi, hidung, muka, dan kepala seluruhnya. Proses ini biasanya berlangsung selama 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi. 3. Kala III kala pelepasan plasenta dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah kala II kontraksi uterus berhenti sekitar 5 sampai 10 menit.

19

Dengan lahirnya bayi , mulai berlangsung pelepasan plasenta pada lapisan Nitabusch, karena sifat retraksi otot Rahim. Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan adanya tanda-tanda uterus menjadi bundar, uterus terdorong keatas karena plasenta dilepas ke segmen bawah Rahim, tali pusat bertambah panjang, terjadi perdarahan . Kala IV dimulai dimulai setelah lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum. Tujuan asuhan persalinan ialah memberikan asuhan yang memadai selama persalinan dalam upaya mencapai pertolongan persalinan yang bersih dan aman, dengan memperhatikan aspek sayang ibu dan sayang bayi. (Syaifuddin, 2009)

2.2.4 Tanda dan gejala persalian sudah dekat Terjadi Lightening menjelang minggu ke- 36 minggu pada primigravida terjadi penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul yang disebabkan oleh kontraksi Braxton Hicks, ketegangan dinding perut, ketegangan ligamentum rotundum, gaya berat janin di mana kepala ke arah bawah. Masuknya kepala bayi ke pintu atas panggul dirasakan ibu hamil sebagai terasa ringan di bagian atas, rasa sesaknya berkurang di bagian bawah terasa sesak, terjadi kesulitan saat berjalan, dan sering berkemih, perasaan tidak nyaman akibat panggul yang menyeluruh, kram pada tungkai, dan peningkatan statis pada vena Perubahan Serviks Mendekati persalinan serviks semakin matang. Konsistensi serviks menjadi seperti pudding dan terjadi sedikit penipisan. Persalinan Palsu Persalinan palsu terdiri dari kontraksi uterus yang sangat nyeri, yang member pengaruh signifikan terhadap serviks. Kontraksi pada persalinan palsu sebenarnya terjadi karena kontraksi Braxton hicks yang tidak nyeri, yang telah terjadi sejak 6 minggu kehamilan.

20

2.2.5 Tanda Persalinan Terjadinya His Persalinan . His persalinan mempunyai ciri khas pinggang terasa nyeri yang menjalar ke depan, sifatnya teratur, intervalnya makin pendek, dan kekuatannya maikn besar, mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks, makin beraktivitas ( jalan) kekuatan semakin besar. Bloody Show atau pengeluaran lendir campur darah. Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan

pendataran dan pembukaan. Pembukaan menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis servikalis lepas. Terjadi perdarahan karena pembuluh darah pecah. Ketuban Pecah Dini Pada kondisi normal, ketuban pecah pada akhir kala 1 persalinan. Pecah ketuban paling sering terjadi sewaktu-waktu pada persalinan aktif ( Keman, kusnarman. 2009.hal 306 ). Warna air ketuban putih keruh berarti tidak ada indikasi hipoksia dalam rahim atau selama proses persalinan. KPD dialami oleh 80% wanita hamil dan mengalami persalinan spontan dalam 24 jam.

2.2.6 Mekanisme Persalinan Normal Mekanisme persalinan merupakan serangkaian perubahan posisi dari bagian presentasi janin yang merupakan suatu bentuk adaptasi atau akomodasi bagian kepala janin terhadapjalan lahir. Presentasi janin paling umum dipastikan dengan palpasi abdomen dan kadangkala diperkuat sebelum atau pada saat awal persalinan dengan pemeriksaan vagina (toucher). Dalam mempelajari mekanisme persalinan ini, sebelumnya kita harus mempunyai pemahaman yang baik tentang anatomi panggul dan jalan lahir serta anatomi dari kepala janin. Di samping itu perlu juga memahami

21

definisi dari istilah berikut : letak, sikap, presentasi, denominator dan posisi janin. Janin dengan presentasi belakang kepala, ditemukan hampir sekitar 95 % dari semua kehamilan.Presentasi janin paling umum dipastikan dengan palpasi abdomen dan kadangkala diperkuat sebelum atau pada saat awal persalinan dengan pemeriksaan vagina (toucher). Pada kebanyakan kasus, presentasi belakang kepala masuk dalampintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang. Oleh karena itu kita uraikan dulu mekanisme persalinan dalam presentasi belakang kepala dengan posisi ubun-ubun kecil melintang dan anterior.

Gerakan-gerakan utama dari mekanisme persalinan adalah : 1. Penurunan kepala. 2. Fleksi. 3. Rotasi dalam ( putaran paksi dalam) 4. Ekstensi. 5. Rotasi luar ( putaran paksi luar) 6. Ekspulsi. Dalam kenyataannya beberapa gerakan terjadi bersamaan, akan tetapi untuk lebih jelasnya akan dibicarakan gerakan itu satu persatu.

a. Penurunan Kepala Pada primigravida, masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul biasanya sudah terjadi pada bulan terakhir dari kehamilan jika pada primigravida mingu ke 36 kepala belum masuk ke pintu atas panggul harus mendapat perhatian karena ada beberapa kemungkinan seperti terdapat kesempitan panggul, lilitan tali pusat, kepala janin dalam keadaan ekstensi, kemungkinan plasenta previa, tumor yang menghalangi masuk ke PAP dan pendular abdomen (Manuaba, Ida Bagus.2010 hal.125). Namun pada multigravida biasanya kepala masuk PAP baru terjadi pada permulaan persalinan. Masuknya kepala ke dalam PAP, biasanya dengan

22

sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan. Masuknya kepala melewati pintu atas panggul (PAP), dapat dalam keadaan asinklitismus yaitu bila sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir tepat di antara simpisis dan promontorium. Pada sinklitismus os parietal depan dan belakang sama tingginya. Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati simpisis atau agak ke belakang mendekati promontorium, maka dikatakan kepala dalam keadaan asinklitismus, ada 2 jenis asinklitismus yaitu : Asinklitismus posterior adalah apabila sutura sagitalis mendekati simpisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal depan. Asinklitismus anterior yaitu apabila Bila sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang. Penurunan kepala lebih lanjut terjadi pada kala I dan kala II persalinan. Hal ini disebabkan karena adanya kontraksi dan retraksi dari segmen atas rahim, yang menyebabkan tekanan langsung fundus pada bokong janin. Dalam waktu yang bersamaan terjadi relaksasi dari segmen bawah rahim, sehingga terjadi penipisan dan dilatasi servik. Keadaan ini menyebabkan bayi terdorong ke dalam jalan lahir. Penurunan kepala ini juga disebabkan karena tekanan cairan intra uterine, kekuatan mengejan atau adanya kontraksi otot-otot abdomen dan melurusnya badan anak. Sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir tepat di antara simpisis dan promontorium. Sutura sagitalis mendekati simpisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal depan Sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang

b. Fleksi Pada awal persalinan, kepala bayi dalam keadaan fleksi yang ringan. Dengan majunya kepala biasanya fleksi juga bertambah. Pada pergerakan ini dagu dibawa lebih dekat ke arah dada janin sehingga ubun-ubun kecil

23

lebih rendah dari ubun-ubun besar hal ini disebabkan karena adanya tahanan dari dinding seviks, dinding pelvis dan lantai pelvis. Dengan adanya fleksi, diameter suboccipito bregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter suboccipito frontalis (11 cm). sampai di dasar panggul, biasanya kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal.

c. Rotasi Dalam (Putaran Paksi Dalam) Putaran paksi dalam adalah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan janin memutar ke depan ke bawah simpisis.

d. Ekstensi Sesudah kepala janin sampai di dasar panggul dan ubun-ubun kecil berada di bawah simpisis, maka terjadilah ekstensi dari kepala janin. Hal ini di sebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan ke atas sehingga kepala harus mengadakan fleksi untuk melewatinya. Kalau kepala yang fleksi penuh pada waktu mencapai dasar panggul tidak melakukan ekstensi maka kepala akan tertekan pada perineum dan dapat menembusnya. Subocciput yang tertahan pada pinggir bawah simpisis akan menjadi pusat pemutaran (hypomochlion), maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum: ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan dagu bayi dengan gerakan ekstensi.

e. Rotasi Luar (Putaran Paksi Luar) Kepala yang sudah lahir selanjutnya mengalami restitusi yaitu kepala bayi memutar kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam. Bahu melintasi pintu dalam keadaan miring. Di dalam rongga panggul bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang dilaluinya, sehingga di dasar panggul setelah kepala bayi lahir, bahu mengalami putaran dalam dimana ukuran

24

bahu (diameter bisa kromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul. Bersamaan dengan itu kepala bayi juga melanjutkan putaran hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber ischiadikum sepihak.

f. Ekspulsi Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai di bawah simpisis dan menjadi hipomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Setelah kedua bahu bayi lahir , selanjutnya seluruh badan bayi dilahirkan searah dengan sumbu jalan lahir.

2.2.7 Persiapan Penolong Persalinan Salah satu persiapan penting bagi penolong adalah memastikan penerapan prinsip dan praktik pencegahan infeksi (PI) yang dianjurkan seperti mencuci tangan, memakai sarung tangan, memakai perlengkapan perlindungan diri, persiapan tempat persalinan, peralatan dan obat dan persiapan ibu dan keluarga.

2.2.8 Asuhan Sayang Ibu Menganjurkan ibu untuk selalu didampingi keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayinya. Penolong juga dapat memberikan dukungan dan semangat kepada ibu dan anggota keluarganya dengan menentramkan hati ibu lakukan bimbingan dan tawarkan bantuan jika diperlukan. Beritahu ibu tentang cara dan tujuan setiap tindakan setiap kali penolong akan melakukannya, jawab setiap pertanyaan yang diajukan ibu dan jelaskan hasil pemeriksaan yang dilakukan misalnya pemeriksaan dalam, tekanan darah, nadi, denyut jantung janin.

2.2.9 Penatalaksanaan Kala I persalinan 1. Pengkajian

25

Anamnesa Anamnesa dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang riwayat kesehatan dan kehamilan. Tanda dan gejala inpartu (1) Sejak kapan mulai sakit perut (2) Jarak setiap rasa sakit (3) Lamanya rasa sakit (4) Apakah sudah mengeluarkan : lendir bercampur darah, darah, cairan (5) Bagaimana rasa/kedaan perut bagian bawah (6) Bagaimana gerak janin dalam perut Pemeriksaan Pemeriksaan fisik meliputi : Keadaan umum Apakah tampak sakit (1) Bagaimana kesadarannya (2) Apakah tampak pucat (anemis) Pemeriksaan tanda-tanda vital (1) Tekanan darah (2) Nadi (3) Suhu (4) Pernafasan Pemeriksaan Fisik a) Kepala Muka Terlihat pucat, adanya edema dan cloasma gravidarum di wajah Rambut Rambut kering/berminyak, rambut rontok dan adanya infeksi pada kulit kepala

26

Mata Oedem pada kelopak mata, anemis pada konjungtiva dan ikterus pada mata Telinga Ketajaman pendengaran, adanya serumen yang menimbun Hidung Adanya polip, infeksi dan pengeluaran sekret Mulut dan kerongkongan Caries pada gigi, adanya pendarahan/pembengkakan pada gusi dan pengeluaran pus Leher Apakah vena terbendung di leher (misalnya pada penyakit jantung) apakah Kelenjar Tiroid membesar atau Kelenjar Getah Bening membengkak. Dada (1) Ukuran payudara dan simestris tidaknya (2) Puting payudara : mendatar, menonjol, masuk (3) Keluarnya kolostrum atau cairan lain (4) Adanya massa pada payudara (5) Hiperpigmentasi pada areola Punggung dan pinggang Posisi tulang punggung pada trimester III biasanya lordosis fisiologis, apakah ada nyeri atau tidak. Ekstremitas atas dan bawah 1) Edema pada jari 2) Kuku jari pucat 3) Varices 4) Tanda homan 5) Refleks patella Pemeriksaan Abdomen a. Inspeksi

27

1) Lihat pembesaran pada perut dan arahnya 2) Apakah tampak gerakan janin 3) Apakah ada luka bekas operasi b. Palpasi 1) Pengukuran tinggi uterus 2) Menentukan letak presentasi dan penurunan janin 3) Kontraksi 4) Kontraksi rahim bersifat berkala dan yang harus diperhatikan adalah frekuensinya, lamanya,

kekuatannya dan interval antara kedua kontraksi. c. Auskultasi Frekuensi denyut jantung normal antara 120 sampai 140 per menit. Nilai keteraturan bunyi jantung janin. Periksa apakah kurang dari 120 per menit atau lebih dari 150 per menit ( Manuaba. 2010), jika ada pertimbangkan adanya gangguan sirkulasi uteroplasenter pada janin. Pemeriksaan genitalia a. Inspeksi Apakah ada pendarahan pervaginam atau tidak, apakah sudah keluar air-air atau tidak b. Vaginal Toucher Pemeriksaan dalam dilakukan dengan tujuan untuk menetapkan apakah parturien inpartu, menetapkan titik awal rencana persalinan dan menetapkan ramalan

perjalanan persalinan. Pemeriksaan dalam dilakukan berdasarkan indikasi

sehingga dapat menghindari infeksi. Indikasi pemeriksaan dalam berdasarkan : (1) Bila ketuban pecah sebelum waktunya (2) Untuk mengevaluasi pembukaan

28

(3) Terjadi indikasi untuk menyelesaikan persalinan atau rencana melakukan rujukan (4) Petunjuk partograf WHO setiap 4 jam

2. Interprestasi Data Diagnosa ibu a) Sudah dalam persalinan atau belum b) Adakah kegawatdaruratan saat persalinan c) Apakah persalinan berjalan dengan normal Diagnosa Janin a) Tunggal atau kembar b) Hidup atau tidak c) Letak janin d) Penurunan bagian terendah janin

3. Antisipasi Masalah/Resiko yang Berhubungan Apakah persalinan bermasalah atau tidak. Seperti kemajuan persalinan yang tidak sesuai dengan partograf, melewati garis waspada.

4. Tindakan Segera/kolaborasi Pada kasus-kasus kegawatdaruratan dan kasus penyulit yang melebihi tingkat keterampilan dan kemampuan petugas kesehatan dalam mengelola tindakan. Bantuan awal untuk menstabilkan kondisi ibu harus diberikan sesuai kebutuhan.

5. Rencana Asuhan 1) Lima kebutuhan seorang wanita dalam persalinan a. Asuhan fisik dan psikologis b. Kehadiran seorang pendamping secara terus menerus c. Pengurangan rasa sakit

29

d. Penerimaan atas sikap dan perilakunya e. Informasi dan kepastian tentang hasil persalinan yang aman 2) Persiapan persalinan/kelahiran a) Tempat yang aman, tenang dan menyenangkan. b) Penerangan yang cukup c) Tersedianya alat pertolongan pertama ibu dan bayi. d) Mempunyai persiapan untuk melakukan rujukan. e) Persiapan semua perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan esensial. f) Berikan asuhan sayang ibu selama persalinan (memberikan dukungan emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan cairan dan nutrisi, keleluasaan untuk ke kamar mandi secara teratur, pencegahan infeksi).

6. Pelaksanaan Tindakan Tindakan yang akan dilaksanakan sesuai dengan rencana

penatalaksanaan yang telah disusun, dengan mementingkan kebutuhan ibu.

7. Evaluasi Untuk melakukan evaluasi pada ibu selama persalinan digunakan partograf. Partograf merupakan alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. Setiap kegiatan atau tindakan yang dilakukan harus dicatat oleh bidan. 1) Partograf Partograf adalah alat bantu yang digunakan selama fase aktif persalinan. 2) Pencatatan pada lembar depan partograf Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi dimulai pada fase aktif persalinan dan menyediakan lajur dan

30

kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif persalinan, termasuk: a) Informasi tentang ibu Nama, umur, gravida, para, abortus, nomor catatan medis, tanggal dan mulai waktu dirawat, waktu pecahnya selaput ketuban. b) Kondisi janin DJJ, warna ketuban, penyusupan kepala janin. c) Kemajuan persalinan Pembukaan serviks, penurunan bagian terbawah janin, garis waspada, dan garis bertindak. d) Jam dan waktu Waktu mulainya fase aktif persalinan, waktu aktual saat pemeriksaan. e) Kontraksi uterus, frekuensi dan lamanya. f) Obat-obatan dan cairan yang diberikan g) Oksitosin, obat-obatan lainnya, dan cairan infuse. h) Kondisi ibu Nadi, tekanan darah, temperatur tubuh, dan urine. i) Asuhan, pengamatan, dan keputusan klinik lainnya 3) Pencatatan pada lembar belakang partograf Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal terjadi selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak persalinan kala I hingga kala IV. a) Data dasar Tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat persalinan, catatan, alasan merujuk, tempat rujukan, dan pendamping saat merujuk. b) Kala I

31

Pertanyaan tentang partograf melewati garis waspada, masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil penatalaksanaannya tersebut. c) Kala II Episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia bahu, masalah penyerta, penatalaksanaan, dan hasilnya. d) Kala III Lama kala III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat terkendali, pemijatan fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir >30 menit, laserasi, atonia uteri, jumlah perdarahn, masalah penyerta, penatalaksanaan, dan hasilnya. e) Bayi baru lahir Berat, panjang, jenis kelamin, penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta, penatalaksanaan,dan hasilnya. f) Kala IV Tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi uterus, Kandung kemih, perdarahan. 2.2.10 Penatalaksanaan Fisiologis Kala II Proses fisiologis kala dua persalinan diartikan sebagai serangkaian peristiwa alamiah yang terjadi sepanjang periode tersebut dan diakhiri dengan kelahiran bayi secara normal.

2.2.10.1 Membimbing ibu untuk meneran Bila tanda pasti kala dua telah diperoleh, tunggu sampai ibu merasakan adanya dorongan meneran, Mendiagnosis kala dua persalinan dan mulai meneran Cuci tangan Pakai sarung tangan DTT/ steri untuk pemeriksaan dalam

32

Jika pembukaan belum lengkap, bantu ibu untuk mendapatkan posisi yang nyaman, pantau kondisi ibu dan bayi. Jika ibu ingin meneran namun pembukaan belum lengkap, beri semangat dan katakan pada ibu bahwa saat ini belum boleh meneran. Jika pembukaan lengkap dan ibu ingin meneran, bantu ibu mengambil posisi yang nyaman, bombing ibu meneran secara efektif dan benar. Catat hasil pemantauan pada partograf. . Pastikan ibu beristirahat diantara kontraksi. Jika pembukaan sudah lengkap namun tidak ada dorongan meneran , bantu ibu mobilisasi beri cukup nutrisi dan pantau DJJ . Jika ibu tetap ada dorongan untuk meneran setelah 60 menit pembukaan lengkap, anjurkan ibu mulai meneran di setiap kontraksi. Anjurkan ibu mobilisasi secara teratur, tawarkan minum dan pantau DJJ. Lakukan stimulasi putting susu. Jika bayi tidak lahir setelah 60 menit upaya tersebut diatas , rujuk ibu.

2.2.10.2

Menolong Kelahiran Bayi

Melahirkan kepala Saat kepala bayi 5-6 cm membuka vulva, letakkan kain yang bersih dan kering di bawah bokong ibu dan siapkan kain atau handuk bersih di atas perut ibu ( untuk mengeringkan bayi segera setelah bayi lahir. Lindungi perineum dengan satu tangan di bawah kain yang bersih dan kering , ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar kepala bayi tetap fleksi pada saat keluar melewati introitus vagina dan perineum. Periksa Tali Pusat Pada Leher Jika terdapat lilitan tali pusat yang longgar kendorkan dengan melewati kepala bayi. Namun jika tali pusat menempel dengan erat maka

33

jepit tali pusat dengan klem 2 tempat dengan jarat 3 cm, kemudian potong tali pusat antara 2 klem tersebut. Melahirkan Bahu Tunggu bayi melakukan putaran paksi luar, letakkan tangan biparietal di kepala bayi, minta ibu meneran sambil menarik kepala bayi kerah bawah dan lateral tubuh bayi hingga bahu depan melewati simfisis. Setelah bahu depan lahir, gerakkan kepala ke atas dan lateral tubuh bayi sehingga bahu bawah dan seluruh dada dapt dilahirkan. Melahirkan Seluruh Tubuh Bayi Saat bahu posterior lahir, geser tangan bawah kea rah perineum dan sanggah bahu dan lengan atas bayi pada tangan tersebut. Lanjutkan penelusuran dan memegang tubuh bayi ke bagian punggung, bokong dan kaki, jepi kaki bayi dengan tangan atas di antara kaki bayi dan pegang dengan ibu jari dan ketiga kaki lainnya. Letakkan bayi diatas kain atau handuk yang telah disiapkan pada perut ibu. Memotong Tali Pusat Dengan menggunakan klem steril jepi tali pusat pada sekita 3 cm dari dinding perut dari titk jepitan tekan tali pusat kemudian dorong isi tali pusat kearah ibu lakukan jepitan kedua dengan jarak 2 cm dari tempat kepitan pertama. Lindungi bayi dengan satu tangan menjadi landasan tali pusat tangan yang lain memotong tali pusat. Ikat tali pusat dengan benang atau klem plastik tali pusat yang steril. Ganti handuk basah dengan kain yang bersih dan kering kemudian selimuti bayi.

2.2.11 Penatalaksanaan Persalinan Kala III Persalinan kala tiga dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Kala ini tidak boleh lebih dari 30 menit (JNPK-KR. 2009)

34

Manajemen Aktif Kala III Tujuannya adalah menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, menscgah perdarahan, sehingga dapat mengurangi kehilangan darah kala tiga persalinan dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis. Manajemen aktif kala tiga terdiri dari : 1. Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit setelah kelahiran bayi setelah sebelumnya mengecek apakah ada janin kedua atau tidak, 2. Pindahkan klem penjepit tali pusat saat kala dua dan melakukan penegangan tali pusat terkendali dengan tangan memegang klem dan tangan yang lain menekan uterus ke arah lumbal dan kepala ibu , saat ada tanda- tanda pelepasan tali pusat seperti perubahan tinggi fundud uterus , tali pusat memanjang, dan semburan darah maka lahirkan plasenta dengan teknik Brand Andrew, 3. Massase fundus uteri selama 15 detik.

2.2.12 Asuhan dan Pemantauan Kala IV Evaluasi tinggi fundus uteri, sebagai patokan umumnya tinggi fundus uteri setinggi atau beberapa jari dibawah pusat setelah plasenta lahir. memperkirakan jumlah kehilangan darah secara keseluruhan, periksa kemungkinan perdarahn dari robekan maupun dari sisa plasenta yang mungkin tertinggal. Evaluasi keadaan umum ibu, dokumentasikan seluruh asuhan dan temuan selama persalinan kala empat di bagian belakang partograf, segera setelah asuhan diberikan atau setelah penilaian dilakukan.

2.3 ASUHAN KEBIDANAN PADA MASA NIFAS

2.3.1 Pengertian Masa Nifas Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil.masa nifas

35

berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Saifuddin, 2009). Masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari menurut hitungan awam nerupakan masa nifas. Masa ini penting sekali untuk terus dipantau nifas merupakan masa pembersihan rahim, sama halnya seperti masa haid ( Sitti Saleha, Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas, 2009 hal. 2)

2.3.2 Tahap-tahap dalam Masa Nifas Menurut buku Siti Saleha (2009) tahap dalam masa nifas dibagi menjadi 3 yaitu : 1) Periode Immediate Postpartum Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Pada masa ini sering terdapat banyak masalah misalnya pendarahan karena atonia uteri. Karena itu bidan dengan teratur harus melakukan pemeriksaan kontraksi uterus, pengeluaran lokia, tekanan darah, dan suhu. 2) Periode Early Postpartum (24 jam 1 minggu) Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, lokia tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan serta ibu dapat menyusui dengan baik. 3) Periode Late Postpartum Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari-hari termasuk konseling KB.

2.3.3 Perubahan Fisiologis Masa Nifas Selama hamil terjadi perubahan pada sistem tubuh wanita, diantaranya terjadi perubahan pada sistem reproduksi, sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem muscusloskeletal, sistem endokrin, sistem

kardiovaskuler, sistem hematologi, dan perubahan pada tanda-tanda vital. Pada masa postpartum perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi saat sebelum hamil (Sujiyatini, 2010 hal.127).Adapun perubahannya adalah sebagai berikut :

36

Involusi Uterus Involusi uterus melibatkan reorganisasi dan penanggalan

decidua/endometrium dan pengelupasan lapisan pada tempat implatansi plasenta sebagai tanda penurunan ukuran dan berat serta perubahan tempat uterus, warna dan jumlah lochia. Dengan adanya involusi uterus, maka lapisan luar dari decidua yang mengelilingi situs plasenya akan menjadi nekrotik. Decidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Campuran antara darah dan decidua tersebut dinamakan lochia. Lochia berbau amis yang tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda - beda pada setiap wanita Menurut buku catatan kuliah asuhan kebidanan ibu nifas askeb III 2010 Perubahan lochia dibagi berdasarkan waktu dan warnya yaitu: 1) Lochia Rubra waktu 1 3 hari warnanya merah kehitaman. 2) Lochia Sanginolenta waktu 3 7 hari waranya putih bercampur merah. 3) Lochia Serosa waktu 7 14 hari warnanya kekuningan / kecoklatan. 4) Lochia Alba waktu > 14 hari warnanya putih. Perubahan pada vulva, vagina dan perineum Vulva dan vagina mengalami penekanan serta perenggangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, vulva akan dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali seperti sebelum hamil. Begitu juga dengan perineum menjadi kendur dan pada hari ke 5 post natal perineum sudah mendapatkan sebagian besar tonusnya. Perubahan Sistem Pencernaan Motilitas otot traktus akan menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir, buang air besar secara spontan akan tertunda dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Akan tetapi proses konstipasi juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan ibu dan kekhawatiran lukanya akan terbuka bila buang air besar.

37

Perubahan Sistem Urinaria Diperlukan kira-kira dua sampai 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali keadaan semula. Perubahan Sistem Musculoskeletal Dinding perut dan peritoneum longgar karena diregang begitu lama, etapi biasanya kembali dalam 6 minggu. Melalui latihan postnatal, otototot dari dinding abdomen seharusnya dapat normal kembali dalam beberapa minggu. Striae pada dinding abdomen tidak dapat menghilang secara sempurna. Perubahan Sistem Endokrin Hormon plasenta menurun dengan cepat setelah persalinan. Prolaktin darah meningkat dengan cepat pada wanita tidak menyusui menurun dalam waktu 2 minggu. Perubahan Tanda- Tanda Vital Suhu badan setelah persalinan mungkin naik 0,5 OC tetapi tidak melebihi 38 oC bila lebih dari 38 oC kemungkinan terjadi infeksi. Nadi setelah persalinan bisa terjadi bradikardi puerperial 40-50 kali/menit. Nadi yang melebihi 100 kali/menit adalah indikasi infeksi. Tekanan darah biasanya tidak berubah. Pernafasan berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya. Perubahan Sistem Kardiovaskuler Volume darah ibu relatif akan bertambah. Timbul nya

haemokonsentrasi membuat volume darah kembali seperti sediakala, umumnya hal ini terjadi pada hari ke 3 5 postpartum. Asuhan masa nifas normal merupakan wewenang dan tanggung jawab bidan untuk melaksanakan kompetensi dan keterampilan memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu (.Suherni , Perawatan Masa Nifas , 2009)

38

2.3.4 Tujuan Asuhan Masa Nifas : Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologik. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyususi, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

Asuhan nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa kematian 60 % kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50 % kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama.

2.3.5 Kunjungan Nifas Menurut Pemantauan Wilayah Sekitar (PWS KIA 2009) kunjungan nifas (KF) dilakukan paling sedikit 3 kali yaitu : Kunjungan nifas pertama pada masa 6 jam sampai dengan 3 hari setelah persalinan. Kunjungan nifas ke dua dalam waktu 2 minggu setelah persalinan (8 14 hari). Kunjungan nifas ke tiga dalam waktu 6 minggu setelah persalinan (36 42 hari).

2.3.6 Pengkajian Data Fisik dan Psikososial Langkah awal yang dilakukan bidan dalam memberikan asuhan masa nifas adalah melakukan pengkajian data. 1. Pengkajian Data Dalam asuhan masa nifas normal meliputi : a. Riwayat Kesehatan

39

Hal yang perlu dikaji dalam riwayat kesehatan adalah : 1. Keluhan yang dirasakan ibu saat ini 2. Adakah kesulitan atau gangguan dalam pemenuhan kebutuhan seharihari misalnya pola makan, buang air besar atau buang air kecil, kebutuhan istirahat, mobilisasi. 3. Riwayat tentang persalinan ini meliputi adakah komplikasi, laserasi atau episiotomya. 4. Obat/ Suplemen yang dikonsumsi saat ini misalnya tablet besi. 5. Perasaan ibu saat ini berkaitan dengan kelahiran bayi, penerimaan terhadap peran baru sebagai orangtua termasuk suasana hati yang dirasakan ibu sekarang, kecemasan, kekhawatiran. 6. Adakah kesulitan dalam pemberian ASI dan perwatan bayi sehari-hari. 7. Bagaimana rencana menyusui nanti ( ASI Eksklusif atau tidak), rencana merawat bayi di rumah (dilakukan ibu sendiri atau dibantu orang tua) 8. Bagaimana dukungan suami atau keluarga terhadap ibu.

b. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik, bidan harus melakuan pemeriksaan menyeluruh dan terutama berfokus pada masa nifas yaitu : 1. Keadaan umum, kesadaran. 2. Tanda-tanda vital : tekanan darah, suhu, nadi dan pernafasan. 3. Payudara : pembesaran, putting susu, (menonjol/mendatar, adakah nyeri dan lecet pada putting), ASI/kolostrum sudah keluar, adakah pembengkakan, radang atau benjolan abnormal. 4. Abdomen : Tinggi Fundus Uteri, kontraksi uterus. 5. Kandung kemih kosong / penuh

40

6. Genitalia da perineum : pengeluaran lochea (jenis, warna, jumlah, bau), oedema, peradangan. Keadaan jahitan, nanah, tanda-tanda infeksi pada luka jahitan, kebersihan perineum,hemorroid pada anus. 7. Ektremitas bawah : pergerakkan, gumpalan darah pada otot kaki yang menyebabkan nyeri, oedema, homans sign, varises.

2. Merumuskan Diagnosa / Masalah Aktual/Masalah Potensial Langkah selanjutnya setelah memperoleh data adalah melakukan analisa data dan interpretasi data sehingga didapatkan rumusan diagnose. Berdasarkan data yang diperoleh bidan akan memperoleh kesimpulan apakah masa nifas ibu normal atau tidak.

3. Merencanakan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Berdasarkan diagnose yang didapat, bidan dapat merencanakan asuhan pada ibu. Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Berikan konseling pada ibu tentang pendidikan kesehatan seperti selalu menjaga kebesihan diri, istirahat cukup dan senantiasa menyususi bayinya. Beritahu ibu untuk segera menghubungi bidan jika dirumah terjadi tanda-tanda bahaya. Tanda- tanda bahaya ibu nifas diantaranya perdarahan banyak, pengeluaran vagina berbau busuk, sakit kepala hebat, demam tinggi, pembengkakan wajah/tangan, payudara merah panas dan sakit. Beri petunjuk bagaimana dan dimana harus menghubungi bidan. Beri suplemen zat besi. Diskusikan tentang rencana Kontrasepsi pasca persalinan

41

Rencanakan kunjungan ulang untuk pemeriksaan pasca salin lanjutan. Buat kesepakatan apakah ibu datang ke bidan atau bidan akan melakukan home visite.

4. Pelaksanaan Asuhan Kebidanan Pelaksanaan asuhan kebidanan dapat dilakukan dengan tindakan mandiri atau kolaborasi. Disamping itu diperlukan tindakan pengawasan pada ibu nifas untuk memastikan ibu dan bayi dalam kondisi sehat. Berikan pendidikan/ penyuluhan sesuai dengan perencanaan. Pastikan ibu mengikuti rencana yang disusun. Untuk itu dalam membuat perencanaan bidan harus selalu mendiskusikan dengan ibu dan keluarga sehingga pelaksanaan asuhan menjadi tanggung jawab bersama.

5. Evaluasi Asuhan Kebidanan Evaluasi dalam asuhan kebidanan diperlukan untuk mengetahui keberhasilan asuhan yang diberikan. Evaluasi keefektifan asuhan yang diberikan apakah tindakan yang dilakukan sudah sesuai dengan perencanaan. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ingat kembali tujuan asuhan kebidanan yang dan evaluasi efektifitas tindakan dalam mengatasi masalah. Evaluasi dapat dilakukan saat ibu melakukan kunjungan ulang. Saat itu bidan dapat melakukan penilaian keberhasilan asuhan (Suherni , 2009 hal.125)

2.3.7 Keluarga Berencana 2.3.7.1 Peran bidan Bidan memiliki peranan penting dalam meningkatkan jumlah penerimaan dan kualitas metode KB kepada masyarakat. Sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan bidan, metode KB yang dapat

dilaksanankan adalah metode sederhana ( kondom, pentang berkala,

42

pemakaian spemisida, senggama terputus,), metode kontrasepsi efektif ( hormonal seperti suntik dan susuk, AKDR), metode MKE kontap (bidan dapat memberi petunjuk tempat dan waktu kontap dapat dilaksanakan), dan metode menghilangkan kehamilan ( bidan dapat menunjuk tempat pelayanan untuk menghilangkan kehamilan yang tidak dikehendaki). ( Manuaba, 2010) 2.3.7.2 Metode KB sederhana Metode KB sederhana yaitu metode KB yang digunakan tanpa bantuan orang lain. Yang termasuk metode KB sederhana adalah kondom, pantang berkala, senggama terputus, dan spermisid. Metode sederhana akan lebih efektif apabila penggunaannya diperhitungkan dengan masa subur. a. Kondom Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang dapat dibuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewan yang dipasang pada penis saat barhubungan seksual.Cara kerja kondom adalah menampung sperma sehingga tidak masuk kedalam kanalis servikalis. Keuntungan kondom adalah murah, mudah didapatkan, tidak memerlukan pengawasan medis, berfungsi ganda karena dapat mencegah penyakit menular seksual. Sedangkan kerugian dari kondom adalah kenikmatan hubungan seksual terganggu, mungkin alergi terhadap karet atau jelinya yang mengandung spermisid, dan sulit dipasarkan kepada masyarakat dengan pendidikan rendah b. Pantang berkala Pantang berkala adalah suatu metode KB sederhana dengan tidak melakukan hubungan badan pada saat-saat tertentu. Metode pantang berkala dikenal 2 sistem, yaitu sistem kalender dan penilaian suhu basal. o Pantang berkala dengan sistem kalender

43

Metode ini memerlukan siklus menstruasi yang teratur sehingga dapat memperhitungkan masa untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan dengan tidak melakukan hubungan seks. Bidan dapat membantu masyarakat untuk menghitung masa subur terjadi. Sistem pantang berkala akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan pemakaian kondom. Masa subur wanita dapat dihitung dengan melakukan perhitungan minggu subur sebagai berikut : Menstruasi wanita teratur antara 26 sampai 30 hari Masa subur dapat diperhitungkan yaitu menstruasi hari pertama ditambah 12 yang merupakan hari pertama minggi subur dan akhir minggu subur adalah hari pertama menstruasi ditambah 19 Puncak minggu subur adalah hari pertama menstruasi ditambah 14 o Pantang berkala dengan sistem suhu basal Pantang berkala dengan sistem pengukuran suhu basal

memerlukan pengetahuan dan metod pengukuran yang akurat, sehingga dapat bermanfaat. Kegagalan sistem suhu basal berkisar antara 10 20 %. Kelemahan sistem ini adalah pengukuran suhu basal merepotkan dan tidak akurat, hanya dapat digunakan oleh mereka yang terdidik dan hanya berguna pada siklus menstruasi 20 sampai 30 hari.

c. Senggama terputus Senggama terputus adalah mengeluarkan kemaluan pria menjelang ejakulasi. Kekurangan metode ini adalah mengganggu kepuasan dua belah pihak, kegagalan hamil sekitar 30 sampai 35 % karena semen keluar sebelum puncak kenikmatan terlambat mengeluarkan kemaluan, semen yang tertumpah diluar sebagian dapat masuk ke genitalia dan dapat menimbulkan ketegangan jiwa dua belah pihak.

44

d. Spermisida Spermisida adalah zat kimia yang dapat melumpuhkan samapai mematikan spermatozoa yang digunakan menjelang melakukan hubungan seksual. Setelah pemasangan sekitar 5 sampai 10 menit, hubungan seksual dapat dilakukan agar spermasid dapat berfungsi. Kekurangan spernasid selain merepotkan , nilai kepuasan berkurang, dapat menimbulkan alergi, kejadian hamil tinggi sekitar 30 sampai 35 % karena pemasangan kurang sempurna atau terlalu cepat melakukan senggama.

2.3.7.3 Metode KB efektif a. PIL Pil adalah suatu cara untuk mencegah kehamilan yang berisi hormon yang digunakan dengan diminum setiap hari. Macam-macam pil: mini pil, pil kombinasi, dan pil pasca senggama Keuntungan pil: 1. Bila diminum pil sesuai dengan aturan dijamin berhasil 100% 2. Dapat dipakai pengobatan beberapa masalah: Ketegangan menjelang menstruasi Perdarahan menstruasi tidak teratur Nyeri pada saat menstruasi Pengobatan pasangan mandul Dapat meningkatkan libido Kerugian pil: 1. Harus minum pil setiap hari 2. Dalam waktu panjang menekan fungsi ovarium 3. Penyulit ringan Berat badan bertambah Rambut rontok Mual hingga muntah Mempengaruhi fungsi hati dan ginjal

45

b. Suntik Suntik adalah suatu cara untuk mencegah kehamilan yang berisi hormonal yang diberikan dengan cara penyuntikan. Macam-macam: Depo Provera (interval 12 minggu), Norigest (interval 8 minggu), Cyclofem (interval 4 minggu) Keuntungan: 1. Pemberian sederhana setiap 8-12 minggu 2. Tingkat efektifitas tinggi 3. Hubungan seks dengan suntikan bebas 4. Pengawasan medik yang ringan 5. Dapat dipakai pasca persalinan, pasca keguguran, dan pasca menstruasi 6. Tidak mengganggu pengelluaran laktasi dan tumbuh kembang bayi 7. Suntikan KB Cyclofem diberikan setiap bulan dan peserta KB akan mendapatkan menstruasi. Kerugian: 1. Perdarahan 2. Terjadi amenorea 3. Masih terjadi kemungkinan hamil Waktu yang tepat untuk pemakaian Suntik KB Sedang menstruasi (sampai hari ke 7) Bila tidak sedang menstruasi hari ke 8 atau lebih, boleh disuntik, namun perlindungan ganda (kondom) selama 2x24 jam. Sedang menyusui segera setelah nifas (6 minggu)

c. AKDR AKDR adalah suatu cara mencegah kehamilan dengan memasukkan alat kontrasepsi ke dalam rongga rahim Macam-macam AKDR: Inert dibuat dari plastic (Lippes Loop/Spiral), mengandung tembaga (TCU 380A, TCU 200, Micu 250, Micu 375 dan Nova T), mengandung hormon steroid.

46

Keuntungan Dapat diterima oleh masyarakat dengan baik Pada saat pemasangan tidak memerlukan teknik medis yang sulit Control medis yang ringan Penyulit tidak terlalu berat Pulihnya kesuburan setelah AKDR dicabut berlangsung baik Kerugian Masih dapat terjadi kehamilan Terdapat perdarahan: spoting dan menometroraghia Leokirea, sehingga menguras protein tubuh dan liang senggama terasa lebih basah Dapat terjadi infeksi Tingkat akhir infeksi menimbulkan kemandulan primer (sekunder dan KE) Tali AKDR dapat menimbulkan perlukaan portio uteri dan mengganggu hubungan seksual Waktu yang tepat untuk pemasangan IUD/AKDR 40 hari pasca persalinan Segera setelah keguguran Saat haid Menggantikan KB lainnya d. Susuk KB Susuk KB adalah suatu cara mencegah kehamilan yang berupa kapsul dipasang pada lengan kiri atas bawah kulit. Macam-macam susuk KB: Norplant (5 tahun terdiri 2 kapsul), Implant (3 tahun terdiri 1 kapsul) Keuntungan: Dipasang selama 5 tahun Control medis ringan Dapat dilayani didaerah pedesaan Penyulit medis tidak terlalu tinggi

47

Biaya ringan Kerugian: Menimbulkan gangguan menstruasi, yaitu tidak dapat menstruasi dan terjadi perdarahan yang tidak teratur Berat badan bertambah Liang senggama kering Waktu yang tepat untuk pemasangan Susuk/Implant Sewaktu haid berlangsung atau masa pra ovulasi dari siklus haid, sehingga adanya kehamilan dapat disingkirkan.

2.4 ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR

2.4.1 Pengertian Proses persalinan merupakan proses yang sebagian proses yang terfokus pada ibu meski begitu karena proses tersebut merupakan pengeluaran hasil kehamilan ( bayi) maka penatalaksanaan persalinan baru dapat dikatakan berhasil apabila selain ibunya, bayi yang dilahirkam juga berada dalam kondisi yang optimal. Memberikan asuhan segera aman dan bersih untuk bayi merupakan bagian asuhan essensial asuhan bayi baru lahir.

2.4.1 Perubahan Adaptasi Fisiologi BBL 1) Perubahan Sistem Pernafasan Interaksi secara sistem pernapasan, kardiovaskuler dan susunan syaraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan

berkesinambungan serta denyut jantung yang diperlukan untuk kehidupan. Jadi sistem harus berfungsi secara normal. Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru dan mengembangkan jaringan alveolus untuk pertama kali. 2) Perubahan Pada Sistem Peredaran Darah

48

Perubahan yang paling menonjol adalah penutupan foramen ovale pada atrium jantung dan penutupan duktus arterius antara arteri paru-paru dan aorta. Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem pembuluh tubuh. Pada saat tali pusat kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigen ulang. Pernafasan pertama menurunkan resistensi pembuluh darah paruparu dan meningkatkan tekanan atrium kanan. Oksigen pada pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya sistem pembuluh darah paru-paru. 3) Sistem Pengaturan Suhu Mekanisme kehilangan panas bayi ada 4 macam , yaitu a) Evaporasi yaitu cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi. Kehilangan panas terjadi karena menguapnya air tubuh pada permukaan tubuh bayi setelah lahir b) Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh dengan permukaan yang dingin c) Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi pada saat bayi ditempatkan pada benda yang mempunyai temperatur tubuh lebih rendah dari temperatur tubuh bayi d) Radiasi adalah kehilangan panas pada bayi pada saat bayi berada di udara luar

4) Adaptasi Immunologi Kemampuan melakukan lokalisasi infeksi masih rendah, sehingga infkesi ringan pun dapat dengan mudah berubah menjadi infeksi umum. 2.4.2 Pencegahan Infeksi Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan infeksi atau kontaminasi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung

49

maupun saat setelah lahir sebelum menangani bayi baru lahir pastikan penolong persalinan telah melakukan upaya pencegahan infeksi seperti berikut: o Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi o Memakai sarung tangan bersih o Pastikan semua peralatan dan bahan yang akan digunakan seperti klem, gunting, penghisap lender DeLee dan benang tali pusat telah didisinfeksi tingkat tinggu atau steril. Gunakan bola karet yang baru dan bersih jika akan melakukan pengisapan lender. o Pastikan semua pakaian, handuk, selimut, dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih.

2.4.3 Penilaian Segera setelah lahir, letakkan bayi di atas kain bersih dan kering yang disiapkan di perut ibu. Bila hal tersebut tidak memungkinkan letakkan bayi dekat ibu pastikan area tersebut bersih dan kering. Segera pula lakukan penilaian awal dengan menjawab 2 pertanyaan : o Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan? o Apakan bayi bergerak dengan aktif atau lemas? o Jika bayi tidak bernafas lakukan tindakan resusitasi.

2.4.4 Pencegahan kehilangan panas Hipotermia mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah atau tidak segera dikeringkan dan diselimuti walaupun di dalam ruangan relatif hangat. Cegah terjadinya kehilangan panas melalui upaya berikut : Keringkan bayi dengan seksama Selimuti bayi dengan kain bersih dan hangat Selimuti bagian kepala bayi Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.

50

Tempatkan bayi di lingkungan yang hanga 2.4.5 Memotong dan merawat tali pusat Tindakan untuk mengikat tali pusat Celupkan tangan yang masih penuh darah ke larutan klorin 0,5 % Bilas dengan air DTT lalu keringkan dengan handuk Ikat tali pusat dengan jarak 1 cm dari dinding perut bayi . Gunakan benign atau klem plastik penjepi tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril. Kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati.lepaskan klem dan masukan ke dalam larutan klorin 0,5 % Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih. Nasehat untuk merawat tali pusat Jangan membungkus tali pusat dengan mengoleskan cairan atau bahan apapun. Mengoleskan alcohol atau betadine (terutama jika pemotong tali pusat tidak terjamin DTT atau steril) masih diperbolehkan asal tidak dikompreskan karena menyebabkan tali pusat lembab. Beri nasihat pada ibu dan keluarga sebelum meninggalkan bayi

2.4.6 Pengukuran Berat dan Panjang Bayi Bayi baru lahir harus ditimbang berat lahirnya. Dua hal yang selalu ingin di ketahui orang tua tentang bayinya yang baru lahir adalah jenis kelamin dan beratnya. Pengukuran panjang lahir tidak rutin dilakukan karena tidak banyak bermakna. Pengukuran dengan menggunakan pita ukur tidak akurat. Bila diperlukan data mengenai panjang badan lahir, maka sebaiknya dilakukan menggunakan stadiometer bayi dengan menjaga bayi dalam posisi lurus dan ektremitas dalam keadaan ekstensi.

2.4.7 Pemberian ASI Bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam waktu satu jam setelah lahir atau lebih di kenal dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD didefinisikan sebagai proses membiarkan bayi menyusu sendiri setelah

51

kelahiran (Yuliarti, Nurheti.2010. Keajaiban ASI. hal 25 ). Memulai pemberian ASI secara dini akan merangsang produksi susu dan memperkuat refkleks menghisap bayi. Refleks menghisap bayi paling kuat beberapa jam pertama setelah lahir. Menurut situs www.lusa.web.id/gizi-seimbang-bagi-bayi/ diposting pada tanggal 20 Maret 2009 Bayi usia 0-6 bulan dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila mencapai keadaan sebagai berikut: 1. Bayi minum ASI tiap 2-3 jam atau dalam 24 jam minimal mendapatkan ASI 8 kali pada 2-3 minggu pertama. 2. Berat badan waktu lahir telah tercapai sekurang-kurangnya akhir 2 minggu setelah lahir dan selama itu tidak terjadi penurunan berat badan lebih 10 %. 3. Kurve pertumbuhan berat badan memuaskan, yaitu

menunjukkan berat badan pada triwulan ke 1: 150-250 gr setiap minggu, triwulan ke 2 : 500-600 gr setiap bulan, triwulan ke 3 : 350-450 gr setiap bulan, triwulan ke 4 :250-350 gr setiap bulan atau berat badan naik 2 kali lipat berat badan waktu lahir pada umur 4-5 bulan dan 3 kali lipat pada umur satu tahun. 4. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering, dan warna menjadi lebih muda pada hari kelima setelah lahir. 5. Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak 6-8 x sehari. 6. Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI. 7. Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis. 8. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal. 9. Pertmbuhan berat badan bayi dan tinggi badan sesuai dengan grafik pertumbuhan 10. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan rentang usianya). 11. Bayi kelihatan puas, sewaktu-waktu saat lapar bangun

dan tidur dengan cukup.

52

12. Bayi menyusu dengan kuat (rakus), kemudian melemah dan tertidur pulas.

2.4.8 Pemberian Identitas Bayi Label nama bayi atau nama ibu harus diletakkan pada pergelangan tangan atau kaki sejak diruang bersalin. Pemasangan dilakukan dengan sesuai agar tidak terlalu ketat atau terlalu longgar.

2.4.9 Pencegahan Infeksi pada Mata Tetes mata atau salep mata harus diberikan satu jam setelah kelahiran upaya profilaksis mata tidak efektif jika diberikan lebih dari satu jam setelah kelahiran. Profilaksis mata yang sering digunakan adalah klorampenikol 1 % ada juga salep mata eritromisin dan salep mata

tetrasiklin 1 % yang efektif digunakan untuk mencegah konjunctivitis gonore.

2.4.10 Profilaksis Perdarahan Bayi Baru Lahir Semua bayi baru lahir harus diberikan vitamin KI (fetomenadion atau Neo K ) injeksi 1 mg intramuskuler pada paha luar sebelah kiri sesegera mungkin untuk mencegah perdarahan bayi baru lahir akibat defisiensi vitamin K yang dapat dialami sebagian bayi baru lahir.

2.4.11 Pemberian Immunisasi Hepatitis B Imunisasi hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi Hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan ibu-bayi. Terdapat 2 jadwal imunisasi Hepatitis B. Jadwal pertama, imunisasi hepatitis B sebanyak 3 kali, yaitu pada usia 0 , 1 dam 6 bulan. Jadwal kedua yaitu sebanyak 4 kali yaitu pada usia 0, dan DPT+Hepatitis B pada 2, 3 dan 4 bulan usia bayi.

2.4.12 Memandikan bayi

53

Bayi sedikitnya dimandikan enam jam setelah lahir. Memandikan bayi dalam beberapa jam setelah lahir dapat menyebabkan hipotermia yang sangat membahayakan kesehatan bayi baru lahir. (JNPK-KR 2008 hal 98). Suhu ruangan saat memandikan bayi harus hangat ( > 25 oC) dan suhu air yang optimal 40 oC untuk bayi kurang dari 2 bulan dan berangsur turun sampai 30 oC untuk bayi di atas 2 bulan.

2.4.13 Pelayanan Kesehatan Neonatus Pelaksanaan pelayanan kesehatan neonatus : 1. Kunjungan Neonatal ke-1 (KN 1) dilakukan pada kurun waktu 6 48 Jam setelah lahir. 2. Kunjungan Neonatal ke-2 (KN 2) dilakukan pada kurun waktu hari ke 3 sampai dengan hari ke 7 setelah lahir. 3. Kunjungan Neonatal ke-3 (KN 3) dilakukan pada kurun waktu hari ke 8 sampai dengan hari ke 28 setelah lahir.

54

BAB III PENGKAJIAN

3.1 ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

No. reg Nama Pengkaji Hari.tanggal Waktu Tempat

: 168 : Siti Susanti : 18 Agustus 2011 : 20.00 WIB : RB. Anny Rahardjo

I. PENGKAJIAN 1. Identitas Nama Umur Kebangsaan Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat rumah : Ny. A : 24 Tahun : Indonesia : Islam : SMA : IRT : Jl. Kramat Utara 06/10 N0.1 Telepon : 02187796424 Nama Suami Umur Kebangsaan Agama Pendidikan Pekerjaan : Tn. B : 24 Tahun : Indonesia : Islam : SMA : Wiraswasta

Alamat rumah : Jl.Kramat Utara 06/10 No. 1

A. Keluhan Utama

: Tidak ada

B. Riwayat Kehamilan Sekarang HPHT Siklus Haid : 04 Januari 2011 : 28 hari : Pertengahan bulan Mei TP : 11 Oktober 2011

Pergerakan Janin Pertama Kali

55

Pergerakan janin dalam 24 jam terakhir Tanda- tanda bahaya/penyulit Obat yang dikonsumsi (termasuk jamu) Imunisasi TT 1 Imunisasi TT 2 Kekhawatiran kekhawatiran khusus

: Aktif 16 kali : Tidak ada : Tidak ada : 24 Mei 2011 : 23 Juni 2011 : Tidak ada

D. Riwayat kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu : No Tgl/thn lahir Usia Kehamilan Jenis Persalinan Tempat persalinan / penolong 1. Hamil ini penyulit JK PB/ BB Keadaan anak Nifas

E. Riwayat kesehatan / Penyakit Riwayat kesehatan yang diderita sekarang / dulu Riwayat Keturunan Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada : Tidak Ada : Tidak Ada

F. Riwayat Psikososial : Status Pernikahan : Suami yang ke : Istri yang ke : Lamanya Pernikahan Respon Ibu / Keluarga terhadap kehamilan Jenis kelamin yang diharapkan Bentuk dukungan keluarga Adat Istiadat yang Berhubungan dengan kehamilan Pengambil Keputusan dalam keluarga Rencana Persalinan :1 :1 : 1 tahun : Positif : Sama saja : Perhatian : Tidak ada : Suami

56

Tempat Penolong Persalinan Pendamping Persalinan Persiapan Persalinan

: RB Anny Rahardjo : Bidan : Suami : Dana dan Perlengkapan Bayi

Riwayat KB terakhir Jenis Kontrasepsi Lama Penggunaan G. Aktifitas sehari hari Nutrisi Pola Makan (frekuensi) Makanan yang Dikonsumsi Makanan yang tidak disukai Perubahan Porsi makan Alergi terhadap makanan : Tidak ada : Tidak ada

: Bisa Melakukan Aktifitasnya sendiri : Cukup : 3 x/hari : Nasi, ikan, sayur, buah, dan susu : Tidak ada : Lebih banyak , lebih sering : Tidak ada

H. Eliminasi BAB Frekuensi Konsistensi BAK Frekuensi Warna : 8-10 x/hari : kuning jernih : 1 x sehari : lembek

I. Pola Istirahat dan Tidur Tidur Malam Tidur Siang : 6-8 jam/hari : 1 jam/hari

J. Kebiasaan Hidup sehari-hari Obat-obatan / jamu : Tidak ada

57

Alergi Terhadap Obat Merokok Minuman beralkohol NAPZA

: Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

K. Aktifitas sehari-hari

: Mencuci,Memasak, Menyapu dll.

L. Hubungan Seksual

: Berlangsung

Hubungan seks dalam kehamilan : Tidak ada masalah.

M. Personal Hygiene Mandi Ganti Pakaian Dalam Iritasi Vagina : 2 x / hari : 2 x / hari : Tidak ada

PEMERIKSAAN Keadaan Umum Kesadaran Kesadaran Emosional : Baik : Compos Mentis : Stabil

Tanda vital Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu : 120/80 mmHg : 78 x/menit : 22 x / menit : 36,5C

Antropometri TB BB sebelum hamil BB sekarang LILA : 150 Cm : 50 kg : 58 kg : 24 Cm

58

Pemeriksaan fisik Kepala Rambut Mata o Pelpebrae o Konjunctiva o Selera Hidung Telinga Mulut / Gigi : Stomatis Gusi Caries Leher : Kelenjar Tyroid Klenjar Getah Bening Vena Jugularis Dada Retraksi dinding dada Bunyi pernapasan Irama : Tidak ada : Normal : Teratur : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran : Tidak odema : Tidak pucat : Tidak kuning : Simetris, bersih dan tidak ada polip : Simetris, bersih, dan tidak ada serumen : Tidak ada : Bersih : Tidak ada : Tidak rontok dan bersih

Payudara : Bentuk Puting susu Areola Pengeluaran Benjolan Tanda retraksi Kebersihan Lain-lain

: Simetris : Menonjol : Hiperpigmentasi : Belum ada : Tidak ada : Tidak ada : Baik : Tidak ada

59

Abdomen Inspeksi Bekas luka operasi Bentuk perut Striae / linea nigra Palpasi TFU (Mc Donald) Leopold I TFU : 29 cm : : Pertengahan pusat dan PX Teraba satu bagian bulat, lunak, tidak melenting Leopold II : Bagian kiri perut ibu teraba bagian-bagian kecil janin Bagian kanan perut ibu teraba satu bagian keras, memanjang seperti papan Leopold III : Teraba satu bagian bulat, keras dan melenting Kepala belum masuk PAP Leopold IV Taksiran Berat Janin Auskultasi DJJ : 148 X / menit : Konvergen : ( 29 - 12) x 155 = 2635 gram : Tidak ada : Bulat memanjang : Ada

Punctum Maksimum : Kuadran kanan di bawah pusat ibu Ekstremitas Telapak tangan Varices Refleks patela Odema Pinggang Pemeriksaan Genetalia Eksterna : Tidak di lakukan : Tidak sianosis : Tidak ada : (+) / (+) pada kiri dan kanan : Tidak ada odema : Tidak ada nyeri ketuk

60

Labia mayora Labia minora Urifisium uretra Vulva Varices Pengeluran Bau Kelenjar skene Kelenjar bartolini Lain-lain Genetalia Interna Pemeriksaan Dalam Dinding vagina Serviks dan vagina Pelvimetri klinis Promontorium Conjugata diagonalis Linea inominata Spina ischiadika Distansia interspinarium Sakrum Arcus pubis Kesan panggul Anus (haemoroid) Pemeriksaan penunjang Laboratorium :

: Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan : Tidak di lakukan

Darah Hb

: 12,7 gr% Rh : (+ ) positif

Golongan darah : O Urine : Glukosa Protein USG : Tidak dilakukan : (-) negatif : (-) negatif

61

II. INTERPRETASI DATA G1P0A0, hamil 32 minggu 2 hari Janin tunggal, hidup, intrauterin, presentasi kepala

III. ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL ATAU DIAGNOSA LAIN Tidak ada

IV. KEBUTUHAN SEGERA Tidak ada

V. PERENCANAAN TINDAKAN 1. Beri inform consent persetujuan bahwa ibu siap didampingi. 2. Beritahu hasil pemeriksaan saat ini 3. Beritahu tanda-tanda bahaya kehamilan 4. Ingatkan ibu untuk istirahat cukup. 5. Beritahu konsumsi menu gizi seimbang 6. Beritahu ibu tentang persiapan persalinan 7. Beitahu tentang IMDdan ASI esklusif 8. Berikan Obat 9. Beritahu kapan ibu akan datang untuk kunjungan ulang berikutnya 10. Dokumentasikan seluruh hasil asuhan kebidanan

VI. PELAKSANAAN 1. Memberikan inform consent persetujuan bahwa ibu bersedia didampingi selama kehamilan, persalinan, perawatan bayi baru lahir sampai 6 minggu post partum. 2. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu, bahwa untuk saat ini keadaan ibu dan janinnya dalam kondisi sehat. 3. Menjelaskan tanda-tanda bahaya kehamilan, yaitu: Pengelihatan kabur Sakit kepala yang hebat

62

Nyeri perut yang hebat Pergerakkan Janin kurang atau tidak ada sama sekali Kontraksi yang hebat Muka, kaki, dan tangan bengkak Perdarahan pervaginam 4. Menjelaskan ibu untuk banyak mengonsumsi makanan cukup karbohidrat sepaerti nasi cukup protein seperi ikan cukup lemak seperti daging dan makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral seperti sayur-sayuran dan buah. 5. Menjelaskan kepada ibu untuk mulai mempersiapkan keperluan persalinannya seperti tempat, dana, perlengkapan ibu dan bayi, pendamping, donor, kendaraan. 6. Menjelaskan kepada ibu tentang Inisiasi Menyusu Dini yaitu meletakan bayi segera setelah lahir diantara payudara ibu skin kontak untuk mencari putting susu ibu dan Menjelaskan kepada ibu tentang ASI esklusif, ASI yang diberikan kepada bayi selama 6 bulan tanpa tambahan makan yang lain kecuali vitamin dan obat. 7. Memberikan Ramabion yang mengandung Fe 300 mg sebagai penambah darah 1 x sehari dengan air putih atau lebih baik dengan air jeruk jika ibu mual ketika meminumnya , Fe dapat diminum sebelum tidur malam dan berikan tablet Vit C untuk penyerapan Fe yang lebih baik. Memberi ibu Licokalk yang mengandung kalsium 500 mg diminum 1x sehari untuk pertumbuhan tulang janin dan memenuhi kebutuhan ibu akan kalsium diminum pagi hari dengan air putih. 8. Menjelaskan kepada ibu kapan kunjungan ulang berikutnya, yaitu tanggal 1 September 2011 atau jika ibu ada keluhan. 9. Mendokumentasikan seluruh asuhan kebidanan yang telah dilakukan.

VII. EVALUASI 1. Ibu dan suami mengerti dan bersedia menandatangani inform consent 2. Ibu mengatakan mengerti dengan keadaan kondisinya dan janinnya

63

3. Ibu mengatakan mengerti tentang tanda-tanda bahaya kehamilan 4. Ibu mengatakan mengerti makanan apa saja yang akan di konsumsinya. 5. Ibu sudah menyiapkan sebagian keperluan persalinannya. 6. Ibu bersedia melakukan IMD yang merupakan pintu gerbang untuk pemberian ASI eksklusif dan Ibu mengatakan mengerti tentang ASI esklusif, dan ibu berjanji setelah melahirkan nanti akan memberikan ASI esklusif kepada anaknya. 7. Ibu bersedia meminum obat yang diberikan. 8. Ibu mengatakan mengerti kapan ia akan datang untuk kunjungan ulang berikutnya, dan ibu mengatakan akan datang pada tanggal 1 September 2011. 9. Seluruh asuhan kebidanan telah di dokumentasikan.

Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil Kunjungan Antenatal Kedua Tanggal Pukul Tempat : 1 September 2011 : 09.00 WIB : RB Anny Rahardjo

S O

: Ibu mengatakan tidak ada keluhan : Keadaan umum Keadaan Emosional Tanda-tanda Vital TD Nadi Antropometri BB sekarang Lila : 58,5 kg : 24 cm : Bersih : 110/70 mmHg : 80 x/menit RR : 20x/menit : Baik : Stabil Kesadaran : Compos Mentis

Suhu : 37 oC

Pemeriksaan Fisik Rambut

64

Muka Mata : Sklera Konjungtiva Mulut : Lidah Gigi Stomatitis Leher : Kel. Tiroid Kel. KGB Payudara : Bentuk Benjolan Putting susu Areola Pengeluaran Tanda-tanda retraksi Palpasi Abdomen TFU (Mc Donald) Leopold I

: Cloasma : Tidak Kuning : Tidak Pucat : Bersih : Tidak caries : Tidak Ada : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran : Simetris : Tidak Ada : Menonjol : Hiperpigmentasi : Tidak Ada : Tidak ada

: : 30 cm : TFU 3 jari di bawah PX Teraba lunak, tidak bulat, tidak melenting Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba panjang lurus, memanjang seperti papan, Bagian kiri perut ibu teraba bagian bagian terkecil janin Leopold III : Teraba bulat, keras, sudah tidak melenting Kepala sudah masuk PAP Leopold IV : Divergen 4/5 : (30 - 12) x 155 = 2790 gram

Taksiran Berat Janin Auskultasi DJJ P. Maksimum Ektremitas

: 142 x / menit , teratur : Kuadran kanan bawah pusat ibu

65

Ekstremitas atas Ektremitas bawah Reflek patella

: Tidak odema : Tidak ada varises , tidak odema : Positif pada kiri dan kanan

ASSESMENT G1P0A0, hamil 34 minggu 2 hari Janin tunggal, hidup, intrauterin, presentasi kepala

PLANNING 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu, bahwa untuk saat ini keadaan ibu dan janinnya dalam kondisi sehat. Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan. 2. Mengingatkan kembali kepada ibu tentang tanda-tanda bahaya

kehamilan, yaitu: Pengelihatan kabur Sakit kepala yang hebat Nyeri perut yang hebat Pergerakkan Janin kurang atau tidak ada sama sekali Kontraksi yang hebat Muka, kaki, dan tangan bengkak Perdarahan pervaginam 3. Mengingatkan ibu untuk banyak mengonsumsi makanan berizi seimnbang. Makanan yang cukup karbohidrat seperti pada nasi cukup protein seperti ikan, tahu atau tempe cukup lemak seperti daging dan makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral seperti sayursayuran dan buah. Ibu bersedia mengonsumsi makanan bergizi seimbang seperti nasi, sayur, tahu, ikan dan buah. 4. Mengingatkan kepada ibu untuk mulai mempersiapkan keperluan persalinannya seperti tempat, dana, perlengkapan ibu dan bayi, pendamping, donor, kendaraan. Ibu mengaku sudah mempersiapkan semua keperluan persalinannya

66

5. Mengingatkan kepada ibu tentang Inisiasi Menyusu Dini yaitu melakukan skin kontak dengan meletakan bayi diantara payudara ibu segera setelah lahir untuk mencari putting susu ibu dan menjelaskan kepada ibu tentang ASI esklusif, yaitu ASI yang diberikan kepada bayi selama 6 bulan tanpa tambahan makan yang lain kecuali obat dan vitamin . Ibu mengerti dan bersedia melakukan IMD dan ASI eksklusif. 6. Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri. Ibu mandi 2 x sehari agar badan tetap bersih dan ibu sebisa mungkin mengganti pakaian dalam 3 x 1 agar tetap bersih. Ibu mengerti tentang menjaga kebersihan dirinya. 7. Memberikan Ramabion yang mengandung Fe 300 mg sebagai penambah darah 1 x sehari dengan air putih atau lebih baik dengan air jeruk jika ibu mual ketika meminumnya , Fe dapat diminum sebelum tidur malam dan berikan tablet Vit C untuk penyerapan Fe yang lebih baik serta Licokalk yang mengandung kalsium 500 mg diminum 1x sehari untuk pertumbuhan tulang janin dan memenuhi kebutuhan ibu akan kalsium diminum pagi hari. Ibu bersedia meminum tablet Fe dan Kalsium serta tahu cara meminumnya. 8. Menjelaskan kepada ibu kapan kunjungan ulang berikutnya, yaitu tanggal 15 September 2011 atau jika ada keluhan. Ibu mengatakan mengerti kapan ia akan datang untuk kunjungan ulang berikutnya,dan mengatakan akan datang pada tanggal tersebut atau jika ada keluhan. 9. Mendokumentasikan seluruh asuhan yang diberikan ibu

Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil Kunjungan Antenatal Ketiga Tanggal Pukul Tempat : 15 September 2011 : 20.30 WIB : RB Anny Rahardjo

67

S O

: Ibu mengatakan tidak ada keluhan : Keadaan umum Keadaan Emosional Tanda-tanda Vital TD RR Nadi Suhu Antropometri BB sekarang Lila Pemeriksaan Fisik Rambut Muka Mata : Sklera Konjungtiva Mulut : Lidah Gigi Stomatitis Leher : Kel. Tiroid Kel. KGB Payudara Bentuk Benjolan Putting susu Areola Pengeluaran Tanda-tanda retaraksi : Simetris : Tidak Ada : Menonjol : Hiperpigmentasi : Tidak Ada : Tidak ada : Bersih : Cloasma : Tidak Kuning : Tidak Pucat : Bersih : Tidak caries : Tidak Ada : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran : 59 Kg : 24 Cm : 120/80 mmHg : 20 x/menit : 76 x/menit : 36,5 oC : Baik : Stabil Kesadaran : Compos Mentis

Palpasi

68

TFU (Mc Donald) Leopold I

: 31 cm : TFU 2 jari di bawah PX Teraba lunak, tidak bulat, tidak melenting)

Leopold II

: Bagian kanan perut teraba panjang lurus, memanjang seperti papan Bagian kiri perut ibu teraba bagian bagian terkecil janin

Leopold III

: Teraba bulat, keras, sudah tidak melenting Kepala sudah masuk PAP

Leopold IV Taksiran Berat Janin Auskultasi DJJ Punctum Maksimum Ektremitas Ekstremitas atas Ektremitas bawah Reflek patella

: Divergen 4/5 : ( 31 12 ) x 155 = 2945 gram

: 146 x / menit , teratur : Kuadran kanan bawah pusat ibu

: Tidak odema : Tidak ada varises , tidak odem : Positif pada kiri dan kanan

ASSESMENT G1P0A0, hamil 36 minggu 2 hari Janin tunggal, hidup, intrauterin, presentasi kepala

PLANNING 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu, bahwa untuk saat ini keadaan ibu janinnya dalam kondisi sehat. Ibu mengerti tentang hasil pemriksaan. 2. Mengingatkan kembali kepada ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan, yaitu: a. Sakit kepala yang hebat b. Pengelihatan kabur

69

c. Nyeri Ulu hati d. Pergerakkan Janin kurang atau tidak ada sama sekali e. Perdarahan pervaginam f. Muka, kaki, dan tangan bengkak 3. Mengingatkan ibu untuk banyak mengonsumsi makanan cukup karbohidrat seperti nasi cukup protein seperi ikan cukup lemak seperti daging dan makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral seperti sayur-sayuran dan buah. Ibu bersedia mengonsumsi makanan yang bergizi seperti nasi, sayur, tahu, ikan dan buah. 4. Mengingatkan ibu tentang perlengkapan persalinannya seperti tempat, dana, perlengkapan ibu dan bayi, pendamping, donor, kendaraan. Ibu mengaku sudah mempersiapkan semua keperluan persalinannya 5. Mengingatkan kepada ibu tentang Inisiasi Menyusu Dini yaitu dengan skin kontak meletakan bayi diantara payudara ibu untuk mencari putting susu ibu dan Menjelaskan kepada ibu tentang ASI esklusif, yaitu ASI yang di berikan kepada bayi selama 6 bulan tanpa tambahan makan

yang lain kecuali obat dan vitamin. Ibu mengerti dan bersedia melakukan IMD dan ASI eksklusif. 6. Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri yaitu ibu mandi 2 x sehari agar badan tetap bersih dan ibu sebisa mungkin mengganti pakaian dalam 3 x 1 agar tetap bersih. Ibu mengerti tentang menjaga kebersihan dirinya. 7. Memberikan Novabion yang mengandung Fe 250 mg sebagai penambah darah 1 x sehari dengan air putih atau lebih baik dengan air jeruk jika ibu mual ketika meminumnya , Fe dapat diminum sebelum tidur malam dan berikan tablet Vit C untuk penyerapan Fe yang lebih baik serta Licokalk yang mengandung kalsium 500 mg diminum 1x sehari untuk pertumbuhan tulang janin dan memenuhi kebutuhan ibu akan kalsium diminum pagi hari. Ibu bersedia meminum tablet Fe dan Kalsium serta tahu cara meminumnya.

70

8. Menjelaskan kepada ibu kapan kunjungan ulang berikutnya, yaitu tanggal 22 September 2011atau jika ada keluhan. Ibu mengatakan mengerti kapan ia akan datang untuk kunjungan ulang berikutnya,dan ibu mengatakan akan datang. pada tanggal 22 September 2011 atau jika ada keluhan dan ibu mengerti. 9. Mendokumentasikan seluruh asuhan

Asuhan Kebidanan pada Ibu Hamil Kunjungan Antenatal Keempat

Tanggal Pukul Tempat

: 22 September 2011 : 20.00 WIB : RB Anny Rahardjo

S O

: Ibu mengatakan nyeri pinggang : Keadaan umum Keadaan Emosional Tanda-tanda Vital TD RR Nadi Suhu Antropometri BB sekarang Lila : 59 Kg : 24, 5 Cm : 110/80 mmHg : 20x/menit, : 76 x/menit, : 36,8 oC, : Baik : Stabil Kesadaran : Compos Mentis

Pemeriksaan Fisik Rambut Muka : Bersih : Cloasma

71

Mata : Sklera Konjungtiva Mulut : Lidah Gigi Stomatitis Leher : Kel. Tiroid Kel. KGB Payudara Bentuk Benjolan Putting susu Areola Pengeluaran Tanda retraksi Palpasi

: Tidak Kuning : Tidak Pucat : Bersih : Tidak caries : Tidak Ada : Tidak ada pembesaran : Tidak ada pembesaran

: Simetris : Tidak Ada : Menonjol : Hiperpigmentasi : Tidak Ada : Tidak ada

TFU (Mc Donald) : 32 cm Leopold I : TFU 1 jari di bawah PX Teraba lunak, tidak bulat, tidak melenting Leopold II : Bagian kanan perut teraba panjang lurus, seperti papan Bagian kiri perut ibu teraba bagian bagian terkecil janin Leopold III : Teraba bulat, keras, sudah tidak melenting Kepala sudah masuk PAP Leopold IV : Divergen 4/5 : ( 32 12 ) x 155 = 3100 gram

Taksiran Berat Janin Auskultasi DJJ Punctum Maksi Ektremitas

: 146 x / menit , teratur : Kuadran kanan bawah pusat ibu

72

Ekstremitas atas Ektremitas bawah Reflek patella ASSESMENT G1P0A0, hamil 37 minggu 2 hari

: Tidak odema : Tidak ada varises , tidak odem : Positif pada kiri dan kanan

Janin tunggal, hidup, intrauterin, presentasi kepala

PLANNING 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu, bahwa untuk saat ini keadaan ibu dan janinnya dalam kondisi sehat. Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan. 2. Menjelaskan kepada ibu bahwa nyeri pingang saat kehamilan tua adalah sesuatu yang wajar karena perut ibu semakin membesar sehingga posisi tulang punggung condong ke depan yang menyebabkan nyeri pinggang cara mengatasinya yaitu ibu dianjurkan untuk jongkok jika akan megangkat benda, serta ketika bangun tidur ibu dianjurkan untuk meiring terlebih dahulu kemudian menekuk lututnya baru bengun perlaha-lahan. Ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan. 3. Mengingatkan kembali kepada ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan, yaitu: a. Sakit kepala yang hebat b. Pengelihatan kabur c. Nyeri Ulu hati d. Pergerakkan Janin kurang atau tidak ada sama sekali e. Perdarahan pervaginam f. Muka, kaki, dan tangan bengkak 4. Menjelaskan kepada ibu tentang tanda-tanda persalinan seperti mules yang teratur dan sering, keluar lendir campur darah, serta keluar air-air dari jalan lahir. Jika ibu mengalami hal tersebut ibu harus segera datang ke Bidan. Ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan da bersedia datang jika mengalami hal tersebut.

73

5. Mengingatkan kepada ibu untuk mulai mempersiapkan keperluan persalinannya seperti tempat, dana, perlengkapan ibu dan bayi, pendamping, donor, kendaraan. Ibu mengaku sudah mempersiapkan semua keperluan persalinannya. 6. Mengingatkan ibu untuk banyak mengonsumsi makanan cukup

karbohidrat seperti pada nasi cukup protein seperti ikan, tahu atau tempe cukup lemak seperti daging dan makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral seperti sayur-sayuran dan buah. Ibu bersedia mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang seperti nasi, sayur, tahu, ikan dan buah. 7. Mengingatkan kepada ibu tentang Inisiasi Menyusu Dini yaitu melakukan skin kontak dengan meletakan bayi segera setelah lahir diantara payudara ibu (skin to skin) untuk mencari putting susu ibu dan Menjelaskan kepada ibu tentang ASI esklusif, yaitu ASI yang diberikan kepada bayi selama 6 bulan tanpa tambahan makan yang lain kecuali vitamin dan obat. Ibu mengerti dan bersedia melakukan IMD dan ASI eksklusif. 8. Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri yaitu ibu mandi 2 x sehari agar badan tetap bersih dan ibu sebisa mungkin mengganti pakaian dalam 3 x 1 agar tetap bersih. Ibu mengerti tentang menjaga kebersihan dirinya. 9. Memberikan Folamil yang mengandung Fe 60 mg sebagai penambah darah 1 x sehari dengan air putih atau lebih baik dengan air jeruk jika ibu mual ketika meminumnya , Fe dapat diminum sebelum tidur malam dan berikan tablet Vit C untuk penyerapan Fe yang lebih baik serta Licokalk yang mengandung kalsium 500 mg diminum 1x sehari untuk pertumbuhan tulang janin dan memenuhi kebutuhan ibu akan kalsium diminum pagi hari. Ibu bersedia meminum tablet Fe dan Kalsium serta tahu cara meminumnya. 10. Menjelaskan kepada ibu kapan kunjungan ulang berikutnya, yaitu tanggal 29 September 2011 atau jika ada keluhan. Ibu mengatakan mengerti kapan

74

ia akan datang untuk kunjungan ulang berikutnya,dan ibu mengatakan akan datang pada tanggal tersebut atau jika ada keluhan. 11. Mendokumentasikan seluruh asuhan yang diberikan.

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Kunjungan Antenatal Kelima Tanggal Pukul Tempat : 29 September 2011 : 20.00 WIB : RB Anny Rahardjo

S O

: Ibu mengatakan tidak ada keluhan : Keadaan umum Keadaan Emosional Tanda-tanda Vital TD RR Nadi Suhu Antropometri BB sekarang Lila Pemeriksaan Fisik Rambut Muka Mata : Sklera Konjungtiva Mulut : Lidah Gigi Stomatitis Leher : Kel. Tiroid : Bersih : Cloasma : Tidak Kuning : Tidak Pucat : Bersih : Tidak caries : Tidak Ada : Tidak ada pembesaran : 59, 5 Kg : 24,5 Cm : 110/70 mmHg : 22x/menit : 78 x/menit : 36,8 oC : Baik : Stabil Kesadaran : Compos Mentis

75

Kel. KGB

: Tidak ada pembesaran

Payudara Bentuk Benjolan Putting susu Areola Pengeluaran : Simetris : Tidak Ada : Menonjol : Hiperpigmentasi : Tidak Ada

Tanda-tanda retaraksi : Tidak ada Palpasi TFU (Mc Donald) Leopold I : 32 cm : TFU 2 jari di bawah PX Teraba lunak, tidak bulat, tidak melenting Leopold II : Bagian kanan perut teraba panjang lurus, memanjang seperti papan Bagian kiri perut ibu teraba bagian bagian terkecil janin Leopold III : Teraba bulat, keras, sudah tidak melenting Kepala sudah masuk PAP Leopold IV Taksiran Berat Janin Auskultasi DJJ : 144 x / menit , teratur : Divergen 4/5 : ( 32 12 ) x 155 = 3100 gram

Punctum Maksimum : Kuadran kanan bawah pusat ibu Ektremitas Ekstremitas atas Ektremitas bawah Reflek patella : Tidak odema : Tidak ada varises , tidak odem : Positif pada kiri dan kanan

ASSESMENT G1P0A0, hamil 38 minggu 2 hari

76

Janin tunggal, hidup, intrauterin, presentasi kepala

PLANNING 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu, bahwa untuk saat ini keadaan ibu dan janinnya dalam kondisi sehat. Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan. 2. Mengingatkan kembali kepada ibu tentang tanda-tanda bahaya kehamilan, yaitu: a. Sakit kepala yang hebat b. Pengelihatan kabur c. Nyeri Ulu hati d. Pergerakkan Janin kurang atau tidak ada sama sekali e. Perdarahan pervaginam f. Muka, kaki, dan tangan bengkak 3. Menjelaskan kepada ibu tentang tanda-tanda persalinan seperti mules yang teratur dan sering, keluar lendir campur darah, serta keluar airair dari jalan lahir. Jika ibu mengalami hal tersebut ibu harus segera datang ke Bidan. Ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan da bersedia datang jika mengalami hal tersebut. 4. Mengingatkan kepada ibu untuk mulai mempersiapkan keperluan persalinannya seperti tempat, dana, perlengkapan ibu dan bayi, pendamping, donor, kendaraan. Ibu mengaku sudah mempersiapkan semua keperluan persalinannya 5. Mengingatkan ibu untuk banyak mengonsumsi makanan cukup karbohidrat seperti pada nasi cukup protein seperti ikan, tahu atau tempe cukup lemak seperti daging dan makanan yang banyak mengandung vitamin dan mineral seperti sayur-sayuran dan buah. Ibu bersedia mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang seperti nasi, sayur, tahu, ikan, dan buah. 6. Mengingatkan kepada ibu tentang Inisiasi Menyusu Dini yaitu melakukan skin kontak dengan meletakan bayi segera setelah lahir

77

diantara payudara ibu untuk mencari putting susu ibu dan Menjelaskan kepada ibu tentang ASI esklusif, yaitu ASI yang di berikan kepada bayi selama 6 bulan tanpa tambahan makan yang lain kecuali vitamin dan obat. Ibu mengerti dan bersedia melakukan IMD dan ASI eksklusif. 7. Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri yaitu ibu mandi 2 x sehari agar badan tetap bersih dan ibu sebisa mungkin mengganti pakaian dalam 3 x 1 agar tetap bersih. Ibu mengerti tentang menjaga kebersihan dirinya. 8. Memberikan Folamil yang mengandung Fe 60 mg sebagai penambah darah 1 x sehari dengan air putih atau lebih baik dengan air jeruk jika ibu mual ketika meminumnya , Fe dapat diminum sebelum tidur malam dan berikan tablet Vit C untuk penyerapan Fe yang lebih baik serta Licokalk yang mengandung kalsium 500 mg diminum 1x sehari untuk pertumbuhan tulang janin dan memenuhi kebutuhan ibu akan kalsium diminum pagi hari. Ibu bersedia meminum tablet Fe dan Kalsium serta tahu cara meminumnya. 9. Menjelaskan kepada ibu kapan kunjungan ulang berikutnya, yaitu tanggal 6 Oktober 2011 atau jika ada keluhan.Ibu mengatakan

mengerti kapan ia akan datang untuk kunjungan ulang berikutnya,dan ibu mengatakan akan datang pada tanggal tersebut atau jika ada keluhan. 10. Mendokumentasikan seluruh asuhan

78

3.2 ASUHAN PERSALINAN NORMAL

Kala I tanggal 3 Oktober 2011 Pukul : 15.00 WIB DATA SUBJEKTIF Quick check Sakit Kepala Hebat Penglihatan Kabur Nyeri ulu hati Pergerakkan janin Kurang Perdarahan Peraginam Bengkak seluruh tubuh Keluhan Utama Saat Masuk : Ibu datang dengan keluhan mules mules sejaksemalam keluar darah bercampur lendir pukul 06.00 WIB tanggal 3 Oktober 2011 Pergerakkan Fetus terakhir : 12 x dalam 24 jam 1. Tanda tanda persalinan Mules sejak pukul 22.00 WIB tanggal 2 Oktober 2011 Frekuensi 1 x / 20 menit, teratur Relaksasi Lokasi ketidaknyamanan 2. Pengeluaran Pervaginam Darah Lendir Air Ketuban Darah 3. Pola Nutrisi Makan terakhir Minum Terakhir 4. Pola Istirahat 5. Pola Eliminasi BAB terakhir : Tadi pagi : 2 jam lalu : 15 menit lalu : Cukup : Ada : Tidak ada : Tidak ada Volume : 30 cc : Baik : Pinggang dan terasa panas : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Keluar air-air dari jalan lahir : Tidak ada : Tidak ada

79

BAK terakhir 6. Kunjungan ANC

: 10 menit lalu : 8 kali, diRB Anny Rahardjo

7. Riwayat Kehamilan, Persalinan Nifas yang lalu No Tgl/th Lahir Anak 1. Hamil ini Usia Keha milan Jenis Persalinan Tempat Pertolongan Persalinan Penyulit JK BB/ TB Keadaan Nifas Anak

DATA OBJEKTIF Keadaan Umum Kesadaran Keadaan Emosional Tanda-tanda vital Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Antropometri TB BB sebelum hamil BB sekarang Lila Pemeriksaan Fisik Muka : Odema : Tidak ada : Tidak kuning : 150 cm : 50 kg : 60 kg : 24,5 cm : 110 / 80 mmHg : 82 x / menit : 20 x / menit : 36,5 C : Baik : Compos Mentis : Stabil

Mata : Konjungtiva : Tidak pucat Sklera Leher Pembesaran KGB : Tidak ada

Pembesaran Tiroid : Tidak ada

80

Dada Payudara Pembesaran Areola Putting Benjolan Pengeluaran Estremitas Udema Varices Refleks Patela Abdomen Inspeksi Bekas Luka Operasi Palpasi Uterus TFU (Mc Donald) Leopold I : TFU : 33 cm : 2 jari bawah PX Bagian fundus teraba lunak tidak melenting Leopold II : Bagian kanan perut ibu teraba keras panjang seperti papan Bagian kiri perut ibu teraba bagian bagian terkecil janin Leopold III :Teraba keras, bulat, sudah tidak melenting, Kepala sudah masuk PAP Leopold IV Taksiran Berat Janin HIS Relaksasi : Divergen 3/5 bagian : 33 -12 x 155 = 3255 gram : 3 x 10 menit, 35 detik : Baik : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : + kanan, + kiri : Simetris : Hiperpigmentasi : Menonjol : Tidak ada : Ada, Colostrum

81

Auskultasi DJJ Punctum Maksimum Anogenital Vulva : Tidak ada kelainan, tidak ada varises Pembesaran kelenjar Bartholini Pemeriksaan Dalam Dinding Vagina Portio Pembukaan Selaput Ketuban Presentasi Penurunan Posisi Moulage Anus Pemeriksaan Penunjang Laboratorium USG : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak ada kelainan. : Tipis, lunak : 8 cm : Positif : Kepala : Hodge II + : Ubun ubun kecil kanan di depan : Tidak ada : Tidak ada Hemoroid : Tidak ada : 138 kali / menit, teratur : Kuadran kanan bawah pusat ibu

ASSESMENT G1P0A0 hamil 38 minggu 6 hari inpartu kala I fase aktif Janin Tunggal, Hidup, Intrauterine presentasi kepala

PLANNING 1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan pada saat ini bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik dan ibu sedang dalam proses akan bersalin saat ini pembukaan 8 cm, ketuban masih utuh. Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan saat ini.

82

2. Mefasilitasi informed chioce dan Informed Consent. Menghadirkan keluarga. Informed Consent telah di tanda tangani oleh suami. 3. Memberikan dukungan. Menghadirkan pendamping. Ibu didampingi oleh suami. 4. Memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi ibu, ibu diberikan teh manis, ibu minum teh manis setengah gelas. 5. Menganjurkan mobilisasi senyaman ibu. Ibu memilih posisi miring kiri. 6. Menganjurkan ibu untuk tidak menahan BAB dan BAK. Ibu mengerti. 7. Mengajarkan teknik relaksasi yaitu dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya lewat mulut. Ibu mengerti. 8. Mengobservasi kandung kemih dilakukan pukul 15.35 WIB hasil : Kosong 9. Memantau his , DJJ, dan nadi ibu setiap 30 menit sekali dilakukan pukul 15.30 Wib. Hasil : His : 3 x 10 menit 40 detik, nadi : 80 x /menit, DJJ : 140x/menit 10. Memantau kemajuan persalinan dilakukan pukul 15.00 WIB . Hasil :

dinding vagina tidak ada kelainan, porsio tipis lunak, pembukaan 8 cm, ketuban masih utuh, presentasi kepala, penurunan H II +, posisi ubun ubun kecil kanan depan, molase tidak ada dilakukan setiap 4 jam sekali atau jika ada indikasi. 11. Mengobservasi tanda-tanda rupture uteri. Pukul 15. 30 wib hasilnya : tidak ada tanda-tanda rupture uteri. 12. Merencanakan partus pervaginam . Menyiapkan partus set, hecting set ,alat resusitasi dan ruangan bersalin, Perlengkapan ibu dan bayi dan obat obatan esensial. Semua telah disiapkan. 13. Mendokumentasikan seluruh asuhan dan partograph.

KALA II tanggal 3 Oktober 2011 pukul : 17.00 WIB

S : Ibu mengatakan mulesnya semakin sering dan ada keinginan meneran , ketuban pecah spontan pukul 16.50 WIB warna jernih volume 100 cc O : Keadaan Umum : Baik

83

Tanda - Tanda Vital Tekanan darah Suhu Nadi RR HIS Relaksasi Auskultasi DJJ Pemeriksaan Dalam Dinding Vagina Portio Pembukaan Ketuban Presentasi Penurunan Posisi Moulage : Tidak odema : Tidak teraba : 10 cm : Negatif : Kepala : Hodge III + : Ubun ubun kecil di depan : Tidak ada : 146 x / menit : 110 / 80 mmHg : 36,7 OC : 80 x / menit : 22 x / menit : 5 x 10 menit lamanya 50 detik : Baik

A: G1P0A0, hamil 38 minggu 6 hari partus kala II Janin, tunggal, hidup, intrauterine, presentasi kepala

P: Memberitahukan hasil pemeriksaan,bahwa ibu dan janin saat ini dalam keadaan baik serta pembukaan sudah lengkap, ada tanda-tanda gejala kala II dan ibu boleh meneran Memimpin persalinan apabila ada his, ibu meneran diberikan pujian, apabila tidak ada his, ibu relaksasi, diberikan nutrisi didengarkan DJJ. Mendekatkan partus set, hecting set, partus set dan hecting set telah didekatkan dan siap digunakan

84

Menolong persalinan secara langkah APN setelah diameter kepala 5-6 cm didepan vulva, bayi lahir pukul 17.30 WIB jenis kelamin laki-laki , menangis kuat, tonus otot aktif, kulit kemerahan.

Menjepit, memotong dan mengikat tali pusat sudah dilakukan. Melakukan IMD bayi dilakukan skin kontak diletakkan diantara kedua belah payudara ibu agak kebawah. Bayi sedang mencari putting susu.

KALA III tanggal 3 Oktober 2011 pukul : 17.30 WIB

S O

: Ibu merasa senang atas kelahiran bayinya dan perutnya masih terasa mules : Keadaan Umum : Baik Kesadaran Perlekatan Palpasi Uterus TFU : Compos Mentis : Baik : Tidak ada janin kedua : 2 jari dibawah pusat

Kontraksi : Baik Kandung Kemih : Kosong Perdarahan : 100 cc

: P1A0, Partus kala III

: Melakukan manajemen aktif kala III Memberitahu kepada ibu untuk disuntik oksitosin, menyutik ibu dengan oksitosin 10 IU menyutik sudah dilakukan Melakukan penegangan tali pusat terkendali Terlihat tanda tanda pelepasan plasenta, melihat adanya semburan darah, tali pusat memanjang, uterus globuler. Melahirkan plasenta, dengan teknik Brand Andrew. secara IM disepertiga paha bagian luar ,

85

Pukul 17.40 Wib plasenta lahir spontan lengkap dengan selaput. Masase fundus uterus selama 15 detik Mengecek luka jalan lahir, tidak ada robekan Menilai plasenta Kotiledon : utuh, Panjang 40 cm, Tebal 2 cm, Insersi tali pusat : Centralis , selaput ketuban: utuh

KALA IV tanggal 3 Oktober 2011 pukul : 17. 40 WIB

S O

: Ibu merasa senang karena proses persalinan berjalan lancar : Keadaan Umum Kesadaran TTV TD RR Nadi Suhu Palpasi Abdomen TFU Kontraksi Kandung Kemih Perdarahan Luka jalan lahir : 2 jari dibawah pusat : Baik : Kosong : 50 cc : Tidak ada : 110 / 80 mmHg : 20x / menit : 76 x / menit : 36,8 C : Baik : Compos Mentis

A: P1A0 partus kala IV P: Melakukan dekontaminasi sampah, alat-alat, dan sudah dilakukan. Membersihkan, merapihkan dan menyamankan ibu . Sudah dilakukan Melakukan dekontaminasi tempat tidur dan sudah dilakukan

86

Melakukan dekontaminasi APD dan sudah dilakukan Mengucapkan selamat kepada ibu atas kelahiran putranya. Mengajarkan Masase fundus uteri kepada ibu dan ibu mengerti.. Mengobservasi keadaan umum ibu seperti tanda-tanda vital, pendarahan, kontraksi uterus, kandung kemih, setiap 15 menit pada jam pertama, dan 30 menit pada jam kedua. Memberikan terapi oral vitamin dosis pertama yaitu vitamin A 200.000 IU pukul 18.00 WIB . Ibu mau meminumnya. Mendokumentasikan seluruh asuhan.

87

3.3 ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS Hari / tanggal : Senin, 3 Oktober 2011 Pukul Tempat : 19.40 WIB : RB. Anny Rahardjo

I.

PENGKAJIAN DATA SUBJEKTIF (S) Quick check : Sakit kepala hebat Penglihatan kabur Nyeri ulu hati Perdarahan abnormal Demam tinggi Bengkak seluruh tubuh : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada

Keluhan

: Ibu merasa masih mules

DATA OBJEKTIF Keadaan umum Kesadaran Keadaan emosional Tanda-tanda vital: Tekanan darah Suhu RR Nadi Pemeriksaan Fisik Muka: Mata Konjunctiva Sklera Leher: Kelenjar KGB : Tidak pucat : Tidak kuning : Tidak ada Pembesaran : 120 / 80 mmHg : 37 o C : 20x/menit : 80x/ menit : Baik : Compos Mentis : Stabil

88

Kelenjar tiroid Payudara Pengeluaran Bentuk Puting Benjolan Abdomen Tinggi fundus uteri Kontraksi uterus Kandung Kemih Anogenital : Vulva Kelenjar Bartholini Perdarahan Pengeluaran Lokhea Warna Jumlah Bau Ekstremitas Oedem ` Reflek patela Kemerahan Pemeriksaan Laboratorium

: Tidak ada pembesara

: Kolostrum : Simetris : Menonjol : Tidak Ada

: 2 jari bawah pusat : Baik : Kosong

: Tidak Ada Kelainan : Tidak Ada Pembesaran : Normal

: Merah : 1 pembalut penuh : Khas

: Negatif -/: Positif pada kiri dan kanan +/+ : Negatif : Tidak Dilakukan

ASSESMENT P2A0 post partum 2 Jam

PLANNING 1. Memberitahukan ibu hasil pemeriksaan saat ini ibu dan bayi dalam keadaan baik, dan rasa mules itu merupakan hal normal karena proses

89

perubahan alat alat reproduksi seperti sebelum hamil.Ibu mengerti dan paham akan penjelasan dari bidan 2. Menjelaskan tanda bahaya nifas seperti pendarahan banyak, lochea berbau, sakit kepala hebat, pandangan kabur, nyeri ulu hati, TFU melebihi pusat, demam tinggi jika ini terjadi segera hubungi tenaga kesehatan. Ibu mengerti tanda tanda bahaya nifas 3. Memberitahu ibu cara merawat payudara yang baik dan benar, membersihkan dengan waslap dan air hangat setiap mandi, bila putting lecet diusapin air susu yang keluar pada sekeliling aerola searah jarum jam.Ibu mengerti mengenai cara merawat payudara yaitu

membersihkan dengan air hangat setiap mandI. Ibu Mengerti. 4. Memberitahu cara menyusui yaitu areola masuk semua kedalam mulut bayi, dagu bayi menempel pada payudara ibu, perut bayi sejajar dengan perut ibu dan ibu mengerti. 5. Memberitahu ibu untuk mengonsumsi makanan bergizi cukup karbohidrat seperti pada nasi, protein seperti pada tahu , tempe, lemak seperti pada daging, vitamin dan mineral seperti pada sayur dan uah, menganjurkan ibu untuk minum air putih yang banyak minimal dari 8 gelas / hari dan ibu bersedia. 6. Memberitahu ibu untuk selalu menjaga personal hygine yaitu mandi minimal 2 kali sehari, sesering mungkin mengganti pembalut dan ibu mengerti. 7. Memberikan tablet Fe Etabion 250 mg sebagai penambah darah di minum 1x sehari dengan air putih atau dengan air jeruk diminum sebelum tidur. Ibu bersedia meminumnya. 8. Mendokumentasikan seluruh asuhan.

90

Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Kunjungan Nifas Pertama ( 6 jam 3 Hari) Hari/tanggal : Selasa, 4 Oktober 2011 Pukul Tempat : 07.30 WIB : RB Anny Rahardjo

Subjektif Ibu mengatakan perasaaannya lega dan senang karena putranya sudah lahir dengan selamat, perutnya masih terasa mules, ibu sudah makan , minum dan ibu sudah dapat ke kamar mandi sendiri.

Objektif Keadaan umum Keadaan emosional Tanda-tanda vital Tekanan darah Nadi Pernafasan Suhu Pemeriksaan Fisik : Mata Konjungtiva : Tidak pucat Sklera Payudara Putting Palpasi Uterus TFU : Tidak kuning : Tidak bengkak : Tidak lecet : : 2 jari dibawah pusat : 110/80 mmHg : 78 x/menit : 18 x/menit : 36,8 0C : Baik : Stabil Kesadaran : Compos Mentis

Kontraksi uterus : Keras, Baik Pengeluaran pervaginam Lochea Volume : Rubra : 20 cc

91

Bau BAK

: Khas : (+)

Assesment P1 A0 post partum 14 jam

Planning 1. Memberitahukan kepada ibu hasil pemeriksaan, bahwa untuk saat ini keadaan ibu baik. Ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan. 2. Menjelaskan pada ibu penyebab mules pada ibu karena proses kembalinya rahim ke bentuk semula seperti sebelum hamil. Ibu mengerti 3. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup. Ibu bersedia. 4. Mengingatkan kepada ibu tentang personal hygiene seperti

membersihkan daerah genetalia ibu dan mengganti pembalut sesering mungkin. Ibu mengerti 5. Mengingatkan ibu untuk mengonsumsi makanan bergizi cukup karbohidrat seperti pada nasi, protein seperti pada tahu , tempe, lemak seperti pada daging, vitamin dan mineral seperti pada sayur dan uah, menganjurkan ibu untuk minum air putih yang banyak minimal dari 8 gelas / hari dan ibu bersedia. 6. Melakukan observasi kontraksi dan perdarahan. Pukul 07.30 wib . Hasil : kontraksi baik, perdarahan : 50 cc. 7. Mengingatkan kepada ibu tanda bahaya nifas, seperti : adanya tanda infeksi puerperalis (demam) , nyeri abdomen, sakit kepala terusmenerus, nyeri ulu hati, oedema, lokhea berbau busuk, pandangan kabur, nyeri ulu hati. Ibu mengerti penjelasan yang diberikan. 8. Memberikan tablet Fe Etabion 250 mg sebagai penambah darah di minum 1x sehari dengan air putih atau dengan air jeruk diminum sebelum tidur. Ibu bersedia meminumnya 9. Melakukan pendokumentasian. Sudah dilakukan.

92

Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Kunjungan Nifas Kedua ( 8 14 hari) Hari/ tanggal : Minggu, 16 Oktober 2011 Pukul Tempat : 09.00 WIB : Rumah Ny. A

Subjektif: Ibu mengatakan tidak ada keluhan, produksi ASI banyak. BAB (+)

Objektif: Keadaan umum Keadaan emosional Tanda-tanda vital Tekanan darah Nadi Suhu RR Pemeriksaan fisik Mata Konjungtiva : Tidak pucat Sklera Payudara Putting susu Palpasi Uterus TFU : Tidak teraba : Serosa : Khas : Tidak kuning : Tidak Bengkak : Tidak lecet : Baik : Stabil : : 110/70 mmHg : 82 x/menit : 36,9 C : 20 x/menit Kesadaran : Compos mentis

Pengeluaran Pervaginam Lochea Bau

Assesment

P1 A0 post partum 13 hari

93

Planning

1. Memberitahukan kepada ibu hasil pemeriksaan bahwa untuk saat ini keadaan ibu dalam keadaan baik. Ibu mengerti. 2. Mengingatkan kembali kepada ibu tanda bahaya nifas, yaitu : adanya tanda infeksi puerperalis (demam), nyeri abdomen, sakit kepala terusmenerus, nyeri ulu hati dan oedema, lokhea berbau busuk dan putting susu bengkak. 3. Mengingatkan ibu untuk istirahat yang cukup. Ibu bersedia. 4. Mengingatkan kepada ibu tentang personal hygiene seperti

membersihkan daerah genetalia ibu dan mengganti pembalut sesering mungkin. Ibu mengerti 5. Mengingatkan ibu untuk mengonsumsi makanan bergizi cukup karbohidrat seperti pada nasi, protein seperti pada tahu , tempe, lemak seperti pada daging, vitamin dan mineral seperti pada sayur dan uah, menganjurkan ibu untuk minum air putih yang banyak minimal dari 8 gelas / hari dan ibu bersedia. 6. Memotivasi dan member dukungan kepada ibu agar tetap memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya. Ibu merasa senang. 7. Memberitahu ibu tentang alat kontrasepsi setelah melahirkan seperti macam-macam alat kontrasepsi , keuntungan dan kerugiannya serta indikasi dan kontra indikasi. Ibu mengerti dan sedang memikirkan alat kontrasepsi yang sesuai kebutuhannya. 8. Memberikan tablet Fe Grahabion 250 mg sebagai penambah darah di minum 1x sehari dengan air putih atau dengan air jeruk diminum sebelum tidur. Ibu bersedia meminumnya 9. Membuat perjanjian kepada ibu untuk dilakukan kunjungan rumah tanggal 10 November 2011. Ibu bersedia dikunjungi kembali di rumahnya.

94

Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Kunjungan Nifas Ketiga ( 36 42 hari ) Hari/tanggal : Kamis, 10 November 2011 Pukul Tempat : 17.00 WIB : Rumah Ny. A

Subjektif: Ibu mengatakan ASI (+) dan tidak ada keluhan, Pada tanggal 30 Oktober 2011 Ibu telah disuntik KB Suntik 3 bulan di RB Anny Rahardjo Objektif: Keadaan umum Keadaan emosional Tanda- tanda vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan Pemeriksaan Fisik Mata : Konjungtiva Sklera Ekstremitas Payudara Putting susu Palpasi TFU : Sudah tidak teraba : Tidak pucat : Tidak kuning : Tidak ada oedema dan varises : Tidak bengkak , ASI banyak : Tidak lecet : Baik : Stabil : : 110/80 mmHg : 80 x/menit : 36,5 C : 20 x/menit Kesadaran : Compos mentis

Pengeluaran pervaginam : Tidak ada dan genetalia luar tampak bersih

Assesment: P1 A0 post partum 38 hari

95

Planning: 1. Memberitahukan kepada ibu hasil pemeriksaan keadaan ibu baik. Ibu mengerti 2. Memotivasi dan memuji ibu karena masih memberi bayinya ASI Eksklusif. Ibu merasa senang 3. Memberikan konseling jadwal pemberian Imunisasi pada Bayi. DPT I dan Polio II diberikan pada saat umur bayi 2 bulan, DPT II dan Polio III pada saat umur bayi 3 bulan, DPT III dan Polio IV pada saat bayi berumur 4 bulan dan Campak pada saat bayi berumur 9 bulan. Ibu mengerti tentang jadwal pemberian imunisasi. 4. Mendokumentasikan hasil pemeriksaan dan tindakan yang telah dilakukan. bahwa untuk saat ini

96

3.4 ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR

Tanggal Pukul Tempat

: 3 Oktober 2011 : 18.30 Wib : RB Anny Rahardjo

SUBJEKTIF Bayi Ny. A lahir pukul 17.30 Wib jenis kelamin laki-laki menangis kuat, tonus otot aktif kulit kemerahan, tidak ada tanda-tanda bahaya , IMD berhasil

OBJEKTIF Keadaan Umum Tanda-tanda Vital Suhu Pernapasan Nadi Antropometri Lingkar Keapala Lingkar Dada Lingkar Lengan Atas Berat Badan Panjang Badan Pemeriksaan secara fisik Kepala Bentuk Caput Suksedeneum Cephal Hematoma Molase Fontanela Mata Hidung : Bulat , Tidak ada kelainan : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak cekung : Simetris tidak ada pengeluaran : Ada lubang kanan kiri. : 34 cm : 33 cm : 11 cm : 3150 gr : 50 cm : 36 C : 42 x/menit : 140 x / menit : Baik

97

Tidak ada pernafasan cuping hidung Telinga Mulut/gigi Leher Dada Bentuk Bunyi Pernafasan Bunyi Jantung Payudara Perut Tali pusat : Normal Simetris : Normal tidak ada wheezing : Normal, tidak ada mur mur : Simetris kiri dan kana : Bentuk bulat, tidak ada omfalokel. : Tidak ada pendarahan, warna segar, ada tiga pembuluh Punggung Ekstremitas Gerakan Polidaktili Sidaktili Andaktili Genitalia Testis Uretra Anus Reflek 1. Reflek morro 2. Reflek rooting 3. Reflek sucking 4. Reflek tonic neck 5. Reflek grafs 6. Reflek suching 7. Reflek babynsky Eliminasi : Positif : Positif : Positif : Positif : Positif : Positif : Negatif : Telah turun ke skrotum : Ada : Positif, ada lubang : Normal : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada : Tidak ada spina bifida : Simetris : Tidak ada palatoskizis dan Labioskizis : Tidak ada kelainan.

98

Miksi Mekonium Pemberian Obat

: Positif : Positif

Vit K1 (Neo K) sebanyak 1 mg 0,5 cc secara IM di paha kiri sebelah luar Salep mata klorampenikol 1 mg Pemberian Peneng

ASSESSMENT Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan usia 1 jam

PLANNING 1. Memberitahu hasil pemeriksaaan kepada ibu bahwa bayi ibu saat ini dalam keadaan baik , bayi telah siberi salep mata kloampenicol 1 mg dan telah diberi Vit K1 (Neo K) 1 mg 0,5 cc secara IM di paha kiri sebelah luar dan ibu mengerti tentang hasil pemeriksaan. 2. Menganjurkan ibu untuk memberi bayinya ASI. Ibu sesering mungkin memberikan ASI kepada bayinya kapanpun bayi meminta, ibu bersedia member bayinya ASI. 3. Memberitahu pada ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya. Bayi dipeluk, atau dibedong serta mengganti popok secepatnya jika bayinya BAK atau BAB dan ibu mengerti. 4. Memberitahu ibu tentang tanda tanda bahaya pada bayi seperti: Pemberian Asi sulit, sulit menghisap atau hisapan lemah Kesulitan bernapas, Pernafasan cepat Bayi terus menerus tidur tanpa bangun, tali pusat berdarah atau berbau Warna abnormal kulit, bibir biru ( cianosis ), atau bayi sangat kuning Suhu terlalu panas atau terlalu dingin ( hipotermi ) jika ini terjadi segera hubungi tenaga kesehatan terdekat dan ibu mengerti. 5. Memberi tahu ibu bahwa 1 jam kemudian bayi akan di suntik Hepatitis B. Hepatitis B diimunisasikan pukul : 19. 55 WIB.

99

6.

Menginformasikan kepada ibu untuk memberikan Asi Eksklusif dan ibu bersedia. Melakukan penyuluhan mengenai perawatan tali pusat kepada ibu dan keluarga ,tali pusat dibungkus dengan kassa bersih tidak perlu diberi apapun. ibu mengerti.

7.

8.

Melengkapi pendokumentasian.

Asuhan Kebidanan Pada Neonatus Kunjungan Neonatus Pertama( 6 - 48 jam ) Hari Pukul Tempat : Selasa tanggal 4 Oktober 2011 : 07.40 WIB : RB Anny Rahardjo

Subjektif : Ibu mengatakan bayinya mau menyusu, menghisap dengan kuat, BAB (+) dan BAK (+)

Objektif: Keadaan umum TTV Nadi RR Suhu Antropometri BB PB Pemeriksaan Fisik Muka Bentuk Warna kulit Telinga : Simetris, tidak pucat : Kemerahan : Tidak ada kelainan : 3100 gr : 50 Cm : 138 x/menit : 45 x/menit : 37oC : Baik

100

Dada Bunyi jantung Bunyi pernapasan Abdomen Konsistensi Tali pusat Genitalia : lunak : Tidak ada perdarahan : Tidak ada kelainan : Tidak ada mur-mur : Tidak ada wheezing

Assesment: Neonatus Cukup Bulan Sesuai Dengan Masa Kehamilan Usia 14 jam

Planning: 1. Menjelaskan hasil pemeriksaan yang dilakukan pada ibu dan keluarga bahwa pada saat ini bayi dalam keadaan baik. Ibu mengerti hasil pemeriksaan saat ini 2. Mengingatkan ibu untuk sesering mungkin memberikan ASI kepada bayinya, ibu bersedia dan menyendawakan bayinya setelah disusui dan ibu mengerti. 3. Mengingatka ibu untuk memberi bayinya ASI ekslusif yaitu memberikan ASI saja selama 6 bulan tanpa diberi tambahan apapun kecuali vitamin dan obat. Ibu mengerti dan bersedia memberi bayinya ASI eksklusif. 4. Mengingatkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya dengan cara dipeluk, atau dibedong serta mengganti popok secepatnya jika bayinya BAK atau BAB dan ibu mengerti. 5. Memberitahukan ibu untuk menjaga kebersihan bayi yaitu dengan memandikan bayi 1-2 x sehari dengan air hangat lalu mengelap seluruh tubuh bayi dengan handuk hingga kering agar tidak terjadi hipotermi dan tidak memberi bedak pada daerah lipatan tubuh bayi dan pada kemaluan bayi serta memakaikan pakaian yang bersih dan hangat.

101

6.

Mengingatkan ibu tentang perawatan tali pusat yaitu tali pusat harus selalu kering dan dibungkus dengan kassa steril tanpa diberi apapun . Memberitahu ibu untuk menjemur bayi dibawah sinar matahari pagi antara pukul 07.00-08.00 wib selama 10 menit dengan tubuh bayi tanpa memakai pakaian dan matanya ditutup. Ibu bersedia melakukannya.

7.

8.

Menjelaskan pada ibu pentingnya imunisasi pada bayi seperti: HB, BCG, DPT, POLIO dan Campak. ibu mengerti

9.

Mengingatkan kembali kepada ibu tanda bahaya pada bayi, seperti : Demam, bayi tidak mau menyusui, bayi tidur terus-menerus, warna kulit bayi kebiru-biruan atau kekuning-kuningan dan suhu bayi terlalu dingin atau panas.

10. Membuat kesepakatan kepada ibu untuk kontrol di RB Anny Rahardjo pada tanggal 9 Oktober 2011. Ibu mengerti

Asuhan Kebidanan Pada Neonatus Kunjungan Neonatus Kedua ( 3-7 hari ) Hari/Tanggal : Minggu, 9 Oktober 2011 Pukul Tempat : 10.00 WIB : RB Anny Rahardjo

Subjektif : Ibu mengatakan bayinya tidak rewel dan menyusunya kuat, bayi BAK 8 x sehari, BAB 3 x sehari dengan warnaya kuning, konsitensi lunak.

Objektif: Keadaan umum Tanda-tanda vital Nadi Respirasi Suhu Antropometri : 130x/ menit : 48 x/menit : 36,8C : Baik

102

Berat badan Panjang badan Tali pusat Kulit Dada Bunyi jantung Bunyi pernapasan Genitalia

: 3000 gram : 50 cm : Kering tidak ada tanda-tanda infeksi : Tugor kulit baik. Warna kemerahan : Tidak ada retraksi dinding dada : Tidak ada mur-mur : Tidak ada wheezing : Tidak ada kelainan

Assesment: Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan Usia 6 hari

Planning: 1. Menjelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan bahwa untuk saat ini keadaan bayi dalam keadaan baik. Ibu mengerti. 2. Mengingatkan ibu untuk sesering mungkin memberikan ASI kepada bayinya, ibu bersedia dan menyendawakan bayinya setelah disusui dan ibu mengerti. 3. Memberikan imunisasi Polio per oral sebanyak 2 tetes. Imunisasi telah diberikan. 4. Memotivasi ibu untuk memberi bayinya ASI ekslusif yaitu memberikan ASI saja selama 6 bulan tanpa diberi tambahan apapun kecuali vitamin dan obat. Ibu mengerti dan bersedia memberi bayinya ASI eksklusif. 5. Mengingatkan ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya dengan cara dipeluk, atau dibedong serta mengganti popok secepatnya jika bayinya BAK atau BAB dan ibu mengerti. 6. Memberitahu ibu untuk menjemur bayi dibawah sinar matahari pagi antara pukul 07.00-08.00 wib selama 10 menit dengan tubuh bayi tanpa memakai pakaian dan matanya ditutup. Ibu bersedia melakukannya. 7. Mengingatkan kembali kepada ibu tanda bahaya pada bayi, seperti : Demam, bayi tidak mau menyusu, bayi tidur terus-menerus, warna kulit

103

bayi kebiru-biruan atau kekuning-kuningan dan suhu bayi terlalu dingin atau panas. 8. Membuat kesepakatan kepada ibu untuk kontrol pada tanggal 30 Oktober 2011 di RB Anny Rahardjo . Ibu mengerti dan bersedia 9. Melakukan pendokumentasian.

Asuhan Kebidanan Pada Neonatus Kunjungan Neonatus Ketiga ( 8 -28 hari) Hari/ Tanggal : 30 Oktober 2011 Pukul Tempat : 10.00 WIB : RB Anny Rahardjo

Subjektif: Ibu mengatakan bayinya menyusu dengan kuat,BAK 9 kali sehari, BAB 2 kali sehari, ibu mengatakan bayi hanya diberi ASI. Tali pusat puput pada tanggal 11 Oktober 2011

Objektif: Keadaan umum Tanda - tanda vital Nadi Suhu Rr Antropometri Berat Badan Panjang Badan Ekstremitas Gerakan Kulit : Aktif : Kemerahan, Turgor kulit baik : 3600 gr : 52 Cm : 130 x/menit : 36,6C : 44 x/menit : Baik

Assesment:

104

Neonatus Cukup Bulan Sesuai Masa Kehamilan Usia 27 hari

Planning: 1. Menjelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan bahwa untuk saat ini keadaan bayinya dalam keadaan baik. Ibu mengerti hasil pemeriksaan yang dilakukan pada saat ini. 2. Memberikan imunisasi BCG 0,05 cc secara Intra Cutan di bahu kanan, memberitahukan ibu bahwa imunisasi ini akan menimbulkan papul yang akan timbul 1-3 minggu kemudian , papul akan semakin lunak, hancur, luka ini akan memakan waktu 3 bulan untuk sembuh. Ibu tidak boleh menggunakan salep dan membiarkan luka kering sendiri dengan tetap menjaga kebersihannya juga dapat menimbulkan parut. 3. Memotivasi dan memberikan pujian kepada ibu karena masih memberikan ASI Eksklusif. Ibu merasa senang. 4. Menganjurkan kepada ibu untuk tetap melanjutkan pemberian imunisasi sesuai jadwal dan setiap kontrol ulang selalu membawa KMS bayi. Ibu mengatakan mengerti dan akan tetap melanjutkan imunisasinya sampai selesai serta akan membawa KMS nya. 5. Mendukumentasikan seluruh asuhan.

105

BAB IV PEMBAHASAN

Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan pada Ny.P mulai dari kehamilan, persalinan, bayi baru lahir serta nifas di RB Anny Rahardjo. Maka pada BAB ini penulis akan mencoba membahas kesenjangan antara teori dengan kenyataan praktik yang ada. Dalam pembahasan tersebut penulis membuat langkah-langkah dari ibu hamil, ibu bersalin, bayi baru lahir dan ibu nifas.

4.1

Kehamilan Ny. A melakukan kontak pertama dengan penulis pada tanggal 18 Agustus 2011 di RB Anny Rahardjo , ibu mengaku anak pertama dengan hari pertama haid terakhir yaitu tanggal 4 Januari 2011 , saat itu usia kehamilan ibu 32 minggu 2 hari , berdasarkan hasil pemeriksaan palpasi abdomen TFU ibu adalah 29 cm hal ini sesuai dengan teori Syaifuddin 2009 bahwa saat usia kehamilan ibu mencapai 32 minggu TFU 27 cm 2 cm. Selama hamil ibu mengalami kenaikan berat badan 10 kg hal ini sesuai teori Syaifudin 2009 bahwa kenaikan Berat badan ibu hamil akan bertambah antara 6,5 kg sampai 16, 5 kg selama hamil atau terjadi kenaikan berat badan sekitar 0,5 kg/minggu. Pada saat usia kehamilan ibu menginjak 34 minggu 2 hari kepala bayi telah masuk kedalam rongga panggul hal ini sesuai teori bahwa pada primigravida kepala bayi harus sudah masuk PAP sebelum usia kehamilan 36 minggu jika pada usia kehamilan 36 minggu kepala bayi belum masuk mempunyai beberapa kemungkinan seperti kemungkinan adanya CPD, terdapat lilitan tali pusat, kepala janin dalam keadaan ekstensi (Manuaba, Ida Bagus. 2010 hal . 125 ) Gerakkan pertama janin dirasakan ibu saat usia kehamilan 16 minggu hal ini sesuai teori bahwa pada kondisi tertentu ibu hamil dapat merasakan gerakkan halus hingga tendangan kaki di usia kehamilan 16-18 minggu (Adrianz , George.2009.ilmu kebidanan sarwono

106

prawirohardjo.hal 219). Ny A juga selalu melakukan kunjungan ulang sesuai jadwal yaitu usia kehamilan 0 dan 28 minggu kontrol setiap 1 bulan, 28 dan 36 minggu setiap 2 minggu dan 36 minggu masa gestasi dan kelahiran setiap 1 minggu. Ny A mendapat imunisasi TT sebanyak 2 kali yaitu TT 1 saat usia kehamilan 20 minggu dan TT 2 saat usia kehamilan 24 minggu hal ini sesuai dengan teori bahwa Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali dan diberikan sebelum kehamilan 8 bulan dengan Jarak pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu dengan begitu bayi mendapat perlindungan dari tetanus neonatorum. Namun yang didapat hanya selam 3 tahun. Pemberian imunisasi TT akan lebih baik apabila setelah suntikan TT2 klien dijadwalkan untuk melakukan TT selanjutnya sesuai dengan pendapat Saifuddin 2009. Kebutuhan zat besi pada ibu hamil berbeda dengan wanita tidak hamil. Perubahan fisiologis alami yang terjadi selama kehamilan akan mempengaruhi jumlah sel darah normal pada kehamilan. Peningkatan bolume darah ibu terutama terjadi akibat peningkatan plasma, bukan akibat peningkatan sel darah merah dalam sirkulasi, tetapi jumlahnya tidak seimbang dengan peningkatan volume plasma, ketidakseimbangan ini akan terlihat dalam bentuk penurunan Hb. Menurut Manuaba 2010, pemberian tablet Fe dosisnya > 50 mg/hari hal ini tidak sesuai teori bahwa Pemberian suplemen besi pada ibu hamil sebanyak 800 mg, atau 30-50 mg/ hari ( Manuaba, 2010) . Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu penyerapan ( Syaifuddin, 2009). Setiap kunjungan ibu diberikan tablet Fe dan dijelaskan bagaimana cara meminumnya selain itu ibu juga diberikan Vit C karena untuk mempermudah penyerapan zat besi. Kehamilan Ny. A berlangsung sampai usia kehamilan 38 minggu 6 hari berlangsung dengan normal dan tidak ada kesenjangan antara praktek dan teori. Standar pelayanan antenatal care pada RB Anny Rahardjo hanya 9T karena pada pemeriksaan laboratorium khusus tidak dilakukan, jika ada

107

pasien dengan indikasi tertentu yang memelukan pemeriksaan laboratorium khusus, pasien akan dikirim ke rumah sakit.

4.2 Persalinan 4.2.1 Kala I Ny A datang pada tanggal 3 Oktober 2011 sekitar pukul 15.00 wib, memasuki tanda-tanda inpartu yang disertai nyeri abdomen yang menjalar ke pinggang disertai keluar lendir campur darah, pengeluaran lendir ini terjadi karena adanya serviks mulai membuka dan mendatar . Darah berasal dari dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis.Pada pemeriksaan tanda-tanda vital ditemukan tekanan darah tinggi yaitu Tekanan Darah : 110 / 80 mmHg, Nadi: 82 x / menit, pernapasan: 20 x / menit, Suhu : 36,5 C, Palpasi, TFU 33 cm punggung terletak dibagian kanan perut ibu, presentasi kepala dengan kepala sudah masuk panggul 3/5 bagian, DJJ: 138 kali / menit, teratur, Punctum Maksimum kuadran kanan bawah pusat ibu, HIS 3 x 10 menit, 35 detik. Hasil pemeriksaan dalam pertama

didapatkan pembukaan porsio 8 cm, porsio tipis, lunak, ketuban (+), penurunan kepala HII+, lama Kala I berlangsung selama 10 jam . Hal ini sesuai dengan teori bahwa menurut profesor Ida Bagus Manuaba, SpOG bedasarkan kurva fredman, pada primi pembukaan 1 cm/jam pada multi 2 cm/jam. Asuhan yang diberikan kepada ibu yang pertama kali adalah menjelaskan kepada ibu dan keluarga bahwa keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik serta menjelaskan tentang kemajuan persalinan ( Sarwono. 2009) melakukan pemeriksaan TTV setiap 4 jam atau jika ada indikasi , memantau his dan DJJ setiap 30 menit, memberikan tindakan suportif , menganjurkan ibu untuk mobilisasi dengan posisi tidur miring kiri agar janin tidak kekurangan oksigen,mengajarkan bagaimana cara relaksasi yang baik untuk mengurangi rasa sakit,menghadirkan orang yang dianggap penting bagi ibu seperti suami atau keluarga ibu, pemberian nutrisi dan hidrasi diberikan sesuai dengan keinginan ibu yaitu teh manis hangat serta minuman yang

108

menberikan

tambahan

tenaga

selama

persalinan,

mencatat

dan

mendokumentasikan hasil pemeriksaan.

4.2.2 Kala II Pada Kala II pembukaan lengkap pukul 17.00 wib , keadaan umum ibu terlihat baik . Pemeriksaan tanda-tanda vital Tanda-tanda vital TD: 110 / 80 mmHg, Nadi: 80 x / menit RR: 22 x / menit Suhu 36,7 c, kontraksi uterus ibu mengalami peningkatan His 5 x 10 menit lama 50 detik,kekuatan nya kuat dan ada relaksasi , DJJ : 146 x/menit, teratur selama kala I dan Kala II DJJ berkisar antara 130-150 x/menit. Hal ini membuktikan bahwa janin dalam keadaan normal dan tidak mengalami kegawatdaruratan seperti yang terdapat dalam buku Sarwono (2009) yang menyebutkan bahwa DJJ normal berkisar antara 100-160 x/ menit. Pemeriksaan dalam pembukaan serviks telah lengkap (10 cm) Penurunan H III+, ketuban pecah spontan pukul 16.50 wib hal ini sesuai teori bahwa pada pecah ketuban paling sering terjadi sewaktu-waktu pada persalinan aktif ( Keman, kusnarman. 2009.hal 306 ). Warna air ketuban putih keruh berarti tidak ada indikasi hipoksia dalam rahim atau selama proses persalinan. Molase tidak ada. Pada Kala II ibu dipimpin persalinan selama 30 menit ,Hal ini sesuai dengan dengan yang mengatakan bahwa pada asuhan persalinan normal kala 2 dipimpin selama 60 menit jika ibu bersalin dipimpin lebih daripada itu maka segera dirujuk ( JNPK-KR.2009) . Pada pimpinan persalinan fundus masih didorong dengan tangan padahal ini sudah tidak diperbolehkan karena akan menyebabkan inversio uteri dan rupture. Pada pukul 17.30 wib bayi lahir spontan, menangis kuat, tonus otot aktif, jenis kelamin laki- laki, Hal ini sesuai teori bahwa penilaian awal bayi berdasarkan bayi menangis kuat atau tidak , gerakkan bayi aktif atau lemas. (JNPK-KR. 2009). Kemudian bayi diletakkan diatas perut ibu dan segera dikeringkan. Tali pusat diklem lalu dipotong dan di ikat setelah itu bayi dilakukan IMD.

4.2.3 Kala III

109

Lama kala III berlangsung selama 10 menit sesuai dengan teori bahwa plasenta harus dilahirkan dalam waktu > 30 menit. Intervensi aktif untuk mengeluarkan plasenta dengan melakukan MAK III seperti memberikan suntikan oksitosin 10 unit IM pada 1/3 paha luar , melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT) , penulis mengamati tanda-tanda pelepasan plasenta seperti semburan darah tiba-tiba , uterus globuler, tali pusat memanjang, segera lahirkan plasenta dengan teknik Brand Andrew , Masase fundus uteri selama 15 detik sesaat setelah plasenta lahir , hal ini sesuai dengan teori JNPK-KR 2009.

4.2.4 Kala IV Pada kala IV, ibu merasa lelah namun bahagia karena proses persalinan berjalan lancar . Pemantauan kala IV adalah mengobservasi keadaan umum ibu dan bayi serta melakukan pemantauan TTV, kontraksi uterus, TFU, kandung kemih, perdarahan, setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua .Pada pemeriksaan tanda-tanda vital TD: 110 / 80 mmHg,Nadi: 76 x / menit, Suhu : 36,8 C , TFU setelah plasenta lahir adalah 2 jari dibawah pusat hal ini sesuai dengan teori yang pernah penulis dapatkan segera setelah persalinan ibu diberi vitamin A 200.000 IU sebanyak 2 kali yaitu pada saat segera setelah persalinan dan 24 jam setelah pemberian yang pertama.

4.3

Nifas Pada perawatan nifas pengkajian KF I ( 6 jam 3 hari ) dilakukan pada 14 jam post partum. TD : 110/80 mmHg, Nadi : 78 x/menit, Pernafasan : 18 x/menit, Suhu : 36,8 0c pada Pemeriksaan Fisik tidak ada masalah , kontraksi uterus ibu baik dengan TFU 2 jari dibawah pusat, pengeluaran

pervaginam(Lochea) Rubra Volume 20 cc, bau : Khas , pengeluaran lochea berwarna merah kehitaman sesuai dengan teori bahwa pada hari ke-1 sampai ke 3 pengeluaran lochea rubra. pada masa ini ibu sudah dapat ke kamar mandi sendiri untuk BAK , sesuai dengan teori bahwa jika kondisi ibu pasca

110

persalinan memungkinkan dianjurkan melakukan mobilisasi dini karena dengan mobilisasi dini dapat melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi puerperium, mempercepat involusi alat kandungan, melancarkan alat gastrointestinal dll (Manuaba, 2010) . Asuhan kebidanan yang direncanakan pada ibu selama masa nifas adalah mengajarkan cara memeriksa kontraksi uterus, menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri dan mengajarkan cara membersihkan daerah kelamin , sebaiknya ibu menggunakan air sabun dan air untuk membersihkan daerah vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang kemudian membersihkan daerah sekitar anus, setidaknya ibu mengganti pembalut 2 kali sehari selain itu sebaiknya ibu mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya. Selain itu ibu juga diberitahu mengenai mengonsumsi makanan bergizi, menjelaskan tanda-tanda bahaya nifas, memberikan tablet Fe Ramabion 300 mg 1x1 sehari. Pada KF II (8-14 hari) penulis melakukan kunjungan rumah pada hari ke 13 pada pemeriksaan tanda-tanda vital tidak ada masalah , TFU sudah tidak teraba sesuai dengan teori bahwa involusi uterus pada minggu kedua TFU sudah tidak teraba ( Manuaba, 2010)

pengeluaran pervaginam berwarna kekuningan atau serosa. Pada nifas 13 hari ibu mengaku dalam pemberian ASI tidak ada masalah karena ibu selalu memberikan ASI dan menyusui bayinya dengan cara yang benar sehingga ibu tidak mengalami masalah-masalah seperti putting yang lecet maupun bendungan ASI. Pada kunjungan KF II , ibu juga diajarkan bagaimana melakukan senam nifas untuk mengembalikan otot-otot kembali semula, memotivasi ibu untuk selalu memberi bayinya ASI eksklusif , memberitahu ibu jadwal imunisasi, pemberian informasi mengenai hubungan seksual pasca melahirkan bahwa secara fisik aman untuk melakukan hubungan seksual begitu darah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu atau dua jari kedalam vagina tanpa rasa nyeri. Pada kunjungan ini pula merupakan waktu yang tepat untuk membicarakan metode KB dengan ibu sebagai upaya untuk menjarangkan kehamilan karena untuk membicarakan KB tidak perlu menunggu menstruasi karena pada beberapa wanita tidak mendapat

111

menstruasi dan terus langsung menjadi hamil (Manuaba, 2010). Pada saat ibu melakukan kontrol ulang bayinya hari ke 27 di RB Anny Rahardjo ibu memilih KB suntik 3 bulan. Pada KF III ( 36- 42 hari) penulis melakukan kunjungan rumah pada hari ke- 38 ibu mengatakan tidak ada keluhan dan masih memberi bayinya ASI tanpa tambahan apapun. Pada pemeriksaan semua normal , Pengeluaran pervaginam sudah tidak ada. Dukungan suami, keluarga dan teman sangat diperlukan dalam masa-masa perubahan psikologis masa nifas. Bentuk dukungan suami dapat membantu ibu dalam menjaga keadaan rumah dari segi ventilasi dan sanitasi rumah, sehingga didapat kenyamanan dan segi kesehatan baik bagi ibu dan bayi baru lahir. Dengan suasana rumah yang nyaman dan bersih serta sehat dapat membuat suasana hati klien menjadi lebih baik, dengan begitu klien akan lebih mudah dalam menjalani peran sebagai ibu. Dukungan keluarga khususnya ibu kandung klien dalam membantu merawat bayi merupakan salah satu bentuk aktivitas dalam pencapaian peran ibu unruk anak pertamanya. 4.4 BBL Bayi lahir spontan, menangis kuat, tonus otot aktif. Pada penanganan BBL segera setelah lahir , setelah dilakukan pemotongan tali pusat dan pengikatan, bayi dilakukan IMD selama 1 jam, bayi berhasil mendapatkan putting susu . setelah bayi melakukan IMD pengkajian dilakukan. Pada pemeriksaan tandatanda vital Suhu : 36,8 C, Pernapasan : 42x/menit, Nadi: 140 x / menit , Pada pengukuran antropometri didapatkan Lingkar Kepala: 34 cm, Lingkar Dada: 33 cm, Lingkar Lengan Atas: 11 cm, Berat Badan: 3150 gr, Panjang Badan: 50 cm . Pemeriksaan fisik tidak ada kelainan. Pada 1 jam pertama Bayi diberikan Vit K1 (Neo K) 0,5 cc 1 mg secara IM pada 1/3 paha kiri sebelah luar untuk mencegah pendarahan dan salep mata 1% klorampenikol , satu jam kemudian bayi diberi imunisasi Hepatitis B 0 sesuai dengan teori

112

JNPK-KR 2009. Setelah itu bayi dirawat gabung dengan ibu nya ( Manuaba 2010 hal. 211) Pada KN 1 (6-48 jam) bayi di kaji pada usia 14 jam , Ibu mengatakan bayinya mau menyusu, dan menghisap dengan kuat, bayi telah BAB (meconium ) dan BAK. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital tidak ada kelainan Nadi : 138 x/menit, Rr : 45 x/menit, S : 37oC, Berat badan bayi mengalami penurunan menjadi BB : 3100 gr hal ini sesuai teori . Pada Pemeriksaan Fisik tidak ada kelainan, Pada KN II yaitu pada hari ke 6, berat badan bayi mengalami penurunan yaitu menjadi 3000 gr hal ini tidak

menjadi masalah karena berat badan bayi akan menurun setelah lahir pada 2 minggu pertama namun tidak melebihi 10% , bayi BAK lebih dari 8 x sehari ini menandakan bayi cukup ASI (http://www.lusa.web.id/gizi-seimbang-bagibayi/ diposting pada tanggal 20 Maret 2009). Pada KN III saat bayi berusia 27 hari , ibu mengaku tali pusat sudah puput pada hari ke 8, pada KN III bayi diimunisasi BCG, berat badan bayi mengalami peningkatan yaitu 3800 gram dengan panjang badan 52 cm , bayi tidak mengalami masalah dari sejak lahir maupun sampai usia 28 hari.

113

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

5.1.1 Kehamilan Berdasarkan apa yang telah dilakukan secara komprehensif pada Ny. A selama kehamilannya tidak terdapat masalah potensial dan asuhan kebidanan dilakukan sesuai standar 10 T sehingga dalam hal ini pemeriksaan kehamilan lebih berfokus pada kesiapan ibu dalam menghadapi proses persalinan baik fisik maupun mental terlebih ini kehamilan ibu yang pertama. Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan gizi ibu juga menjadi tujuan pemeriksaan karena jika gizi ibu tercukupi maka pertumbuhan dan perkembangan janin akan berlangsung secara maksimal.

5.1.2 Persalinan Pada asuhan kebidanan intranatal tidak terdapat masalah dalam hal ini pertolongan persalinan yang bersih , aman, percegahan komplikasi serta konsep asuhan sayang ibu dan bayi. Hal ini untuk mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayi. Pada masa persalinan ibu mengaku cemas namun hal ini dapat teratasi dengan dukungan dari keluarga, pemberian nutrisi dan cairan.

5.1.3 Nifas Asuhan postpartum bertujuan untuk menjaga kesehatan ibu secara fisik maupun psikologis. Asuhan kebidanan postpartum yang dilakukan pada Ny. A tidak terdapat masalah. Ibu berhasil melakukan IMD dan ibu juga telah berusaha semaksimal mungkin memberi bayinya ASI eksklusif . Keluarga pun sangat mendukung dan senantiasa membantu ibu dalam merawat bayinya. Ibu juga ikut serta dalam program KB dengan memakai KB suntik 3 bulan untuk membantu mengatur kehamilan selanjutnya.

114

5.1.4 Bayi Baru Lahir Asuhan bayi baru lahir , bayi setelah lahir melakukan IMD dan berhasil. Kemudian pencegahan pendarahan dengan pemberian Vit K1 serta pemberian salep mata kloramphenikol 1 % untuk mencegah infeksi. Satu jam selanjutnya bayi diberi Hepatitis B 0. Bayi dapat menyusu dengan baik dan diberi ASI saja. Pada minggu pertama bayi mengalami penurunan berat badan namun ini tidak menjadi masalah karena wajar jika bayi turun berat badannya pada minggu pertama namun tidak boleh melebihi 10%. Ibu merawat tali pusat bayinya dengan membungkusnya dengan kain kassa yang bersih dan kering. Tali pusat bayi puput pada hari ke-8. Bayi diimunisasi BCG saat bayi melakukan KN III, Ibu juga berjanji akan melanjutkan imunisasi DPT , Hb 1 dan Polio 2 serta imunisasi selanjutnya.

5.2 Saran 5.2.1 Saran untuk Pasien 1. Memotivasi ibu utnuk memberikan ASI tanpa makanan tambahan apapun padabayinya hingga usia 6 bulan agar pemberian ASI eksklusif berhasil. 2. Menganjurkan ibu untuk menjaga pola makan seperti nasi, lauk pauk, sayur, buah dan susu untuk menunjang produksi ASI dan pola istirahdisesuaikan dengan kebutuhan agar dapat membagi waktu dengan pekerjaan rumah tangga. 3. Memberikan imunisasi sesuai yang telah dijadwalkan agar pemberian dan manfaat lebih maksimal 4. Bagi keluarga diharapkan selalu memberikan dukungan baik dukungan fisik, psikologis,dan bekerja sama dengan tenaga kesehatan agar asuhan yang diberikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh ibu dan bayinya dan menjalani kehidupan baru dengan anggota keluarga baru dengan ikhlas.

115

5.2.2 Saran untuk tempat/ lahan praktek 1. Dengan adanya study kasus ini ,diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kebidanan yang sesuai dengan standar pelayanan sehingga kebutuhan klien dapat terpenuhi. 2. Diharapkan setiap bidan mampu melakukan pendekatan dan menjalin hubungan saling percaya dengan klien. 3. Partograf harus digunakan untuk memantau persalinan yang berfungsi sebagai catatan atau rekam medic persalinan yang akan membantu dalam pembuatan keputusan klinik.

5.2.3 Saran untuk institusi pendidikan 1. Diharapkan makalah ini dapat diterima dan dijadikan acuan dalam pembuatan kompre selanjutnya. 2. Diharapkan institusi dapat meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih mendalam dengan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung peningkatan intelektualisme sehingga mahasiswa sebagai calon bidan dapat mampu memberikan pelayanan kebidanan yang sesuai dengan kebutuhan klien dan memberikan kontribusi yang positif bagi dunia kesehatan dan kesejahteraan wanita. 3. Diharapkan institusi dapat memperbanyak kegiatan praktek kerja lapangan sehingga mahasiswa dapat menerapkan teori yang pernah didapatkan di kampus agar mahasiswa lebih terampil.