Anda di halaman 1dari 2

Penerapan nanoteknologi pada baja

Tren dan perhatian dunia terhadap teknologi nano sangat tinggi akhir-akhir ini. Begitu pula di riset dan industri bahan seperti besi dan baja. Riset dan pengembangan teknologi nano untuk material baja yang dilakukan oleh negara Jepang merupakan riset pertama kali di dunia. Riset ini dikenal dengan nama STX-21 yang dilakukan oleh ational !nstitute "or #aterials S$ien$e % !#S&' dan Supermetal Proje$t dikoordinir oleh e( )nergy and !ndustrial Te$hnology *e+elopment ,rgani-ation % )*,&. .ntuk STX-21' proyek besar yang telah memasuki tahapan ke dua ini dimulai sejak tahun 1//0 dan mempunyai target utama yaitu meningkatkan kekuatan bahan dan umur pakai dua kali lipat. Salah satu keberhasilannya adalah meningkatkan kekuatan baja le+el 122#Pa menjadi 322#Pa tanpa menambah unsur $ampuran logam selain elemen dasarnya. 4elebihan lain dari baja ini selain kekuatannya adalah mudahnya proses daur ulang dari material ini' karena tidak perlu mereduksi5menghilangkan unsur lain dari baja tersebut. Teknologi nano yang diaplikasikan pada material baja ini adalah proses penge$ilan butir kristal baja sampai le+el submikro. Per$obaan di laboratorium berhasil memperke$il butir baja sampai 2.2 mikrometer %1512 pangkat minus 6 meter& dan inilah butir terke$il yang ada di dunia. Tetapi' proses produksi di industri hanya mampu menge$ilkan butir sampai 1 mikrometer dan ini merupakan terobosan besar' karena teknologi dan proses yang ada sekarang ini %dikenal dengan Thermome$hani$al Pro$ess %T#7P&& tidak mampu memperke$il butir diba(ah 89:mikrometer. *i bidang baja yang banyak digunakan sebagai material struktur' bangunan dan konstruksi' besar butir kristal mempunyai pengaruh sangat besar untuk si"at mekanika' baik kekuatan dan ketangguhannya. Pada umumnya' ketangguhan dan duktilitas logam akan menurun bila kekuatannya meningkat' tapi hal ini tidak berlaku untuk penge$ilan butir kristal. 4ekuatan dan ketangguhan akan meningkat bersamaan bila butir diperke$il.

Proses kon+ensional T#7P yang banyak diaplikasikan di industri baja mampu memperke$il butir kristal sampai 8 mikrometer tapi besar butir ini adalah ukuran terke$il yang mampu diproduksi oleh proses ini. Prinsip proses penge$ilan butir adalah %1& memperbanyak tempat nukleasi' %2& meningkatkan daya dorong %dri+ing "or$e& nukleasi dan %8& menurunkan ke$epatan pertumbuhan butir. Penyediaan tempat nukleasi sangat ditentukan oleh besar reduksi dan suhu proses rolling. Semakin besar reduksi dan semakin rendah suhu rolling maka semakin besar ke$epatan nukleasi. Tetapi' reduksi dan suhu rolling pada proses T#7P hanya 22; dan 0229322 derajat $el$ius' dan hal ini yang menyebabkan limit butir kristal yang dihasilkan hanya sampai 8 mikrometer. Teknologi nano yang mampu menge$ilkan butir sampai 1mikrometer dikenal dengan Proses suhu rendah dan de"ormasi besar. Proses ini dilakukan pada suhu di ba(ah 022 derajat dan :2; reduksi setiap pass. Sekarang ini ada 8 tipe dalam proses ini' yaitu %a& penge$ilan butir austenit pada suhu rendah %daerah austenit yang metastabil&' %b& rekristalisasi "erit dan %$& re+ersi austenit oleh panas hasil de"ormasi. #eskipun mekanisme penge$ilan butir pada setiap tipe berbeda tapi ketiganya mempunyai kesamaan yaitu reduksi yang sangat besar sehingga membuat de"ek yang akan menjadi tempat nukleasi' dan juga suhu rendah yang menyebabkan pemulihan de"ek itu terhambat.

Pengaplikasian baja hasil teknologi nano ini untuk material struktur dan konstruksi merupakan hal yang terpenting setelah keberhasilan memproduksinya. !ni adalah target pada riset dan pengembangan baja hasil teknologi nano yang dikenal dengan baja ultra %ultra steel&. Per$obaan untuk mengaplikasikan baja ini dilakukan bekerjasama dengan Japanese So$iety o" Steel 7onstru$tion %JSS7&. Baja yang diren$anakan akan digunakan untuk bahan konstruksi dan bangunan memasuki tahap uji $oba. .ntuk bahan konstruksi' baja ini digunakan sebagai mur %bolt& dan bahan jembatan konstruksi baja serta untuk meningkatkan sisi ekonomis dan ketahanan.