Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK) 1. ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA.

Indera pendengaran merupakan bagian dari organ sensori khusus yang mampu mendeteksi sebagai stimulus bunyi. Indera pendengaran sangat penting dalam percakapan dan komunikasi sehari-hari. Organ yang berperan dalam indera pendengaran adalah telinga. STRUKTUR TELINGA: 1. Telinga Luar Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna / aurikula) dan saluran telinga luar (meatus auditorius eksternus). Daun telinga terletak di dua sisi kepala setinggi mata. Tersusun oleh tulang rawan atau kartilago dan otot kecil yang di lapisi oleh kulit sehingga menjadi tinggi keras dan lentur. Daun telinga di persarafi oleh saraf fasialis. ungsi dari daun telinga adalah mengumpulkan gelombang suara untuk di teruskan kesaluran telinga luar yang selanjutnya ke gendang telinga.

!aluran telinga luar merupakan lintasan yang sempit" panjangnya sekitar #"$ cm dari dauun telinga ke membran timpani. !aluran ini tidak beraturan dan di lapisi oleh kulit yang mengandung kelenjar khusus" glandula seruminosa yang menghasilkan serumen. !erumen ini berfungsi untuk melindungi kulit dari bakteri" menangkap benda asing yang masuk ke telinga. !erumen juga dapat mengganggu pendengaran jika terlalu banyak. %atas telinga luar dengan telinga tengah adalah membran timpani atau gendang telinga. &embran timpani berbentuk kerucut dengan diameter sekitar 1 cm. Tersusun atas tiga lapisan" yaitu bagian luar adalah lapisan epitel" bagian tengah lapisan fibrosa dan lapisan dalam adalah mukosa. ungsi dari membran timpani adalah melindungi organ telinga tengah dan menghantarkan fibrilasi suara dari telinga luar ke tulang pendengaran (osikel). 'ekuatan getaran suara mempengaruhi tegangan" ukuran" dan ketebalan membran timpani. #. Telinga Tengah Telingga tengah merupakan rongga yang berisi udara dalam bagian petrosus tulang temporal. (ongga tersebut di lalui oleh tiga tulang kecil yaitu meleus, inkus, dan stapes yang membentang dari membran timpani keforamen o)ale. !esuai dengan namanya tulang meleus bentuknya seperti palu dan menempel pada membran timpani. Tulang inkus mehubungkan meleus dengan stapes dan tulang stapes melekat pada jendela o)al di pintu masuk telinga dalam. Tulang stapes di sokong oleh otot stapedius yang berperan menstabilkan hubungan antara stapes dengan jendela o)al dan mengatur hantaran suara. *ika telinga menerima suara yang keras" maka otot stapedius akan berkontraksi sehingga rangkaian tulang akan kaku " sehingga hanya sedikit suara yang di hantarkan. ungsi dari tulang-tulang pendengaran adalah mengarahkan getaran dari membran timpani ke fenesta vestibuli yang merupakan pemisah antara telinga tengah dengan telinga dalam. (ongga telinga tengah berhubungan dengan tuba eustachius yang menghubungkan telinga tengah dengan faring. ungsi tuba eustachius adalah untuk keseimbangan tekana antara sisi timpani dengan cara membuka atau menutup. +ada keadaan biasa tuba menutup" tetapi dapat membuka pada saat menguap" menelan atau mengunyah. ,. Telinga Dalam atau Labirin. Telinga dalam atau labirin mengandung organ-organ yang sensitif untuk pendengaran" keseimbangan dan saraf kranial ke delapan. Telinga dalam berisi

cairan dan berada pada petrosa tulang temporal. Telinga dalam tersusun atas dua bagian yaitu labirin tulangg dan labiriin membranosa. a. Labirin Tulang Labirin tulang merupakan ruang berisikan cairan menyerupai cairan serebrospinalis yang di sebut cairn perilimf. Labirin tulang tersusun atas vestibula, kanalis semisirkularis dan koklea. -estibula menghubungkan koklea dengan kanalis semisirkularis. !aluran semisirkularis merupakan tiga saluran yang berisi cairan yang berfungsi menjaga keseimbangan pada saat kepala di gerakkan. .airan tersebut bergerak di salah satu saluran sesuai arah gerakan kepala. !aluran ini mengandung sel-sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan untuk disampaikan pesan ke otak sehingga terjadi proses keseimbangan. 'oklea berbentuk seperti rumah siput" didalamnya terdapat duktus koklearis yang berisi cairan endolimf dan banyak reseptor pendengaran. 'oklea bagian labirin di bagi atas tiga ruangan /skala0 yaitu bagian atas disebut skala vestibuli" bagian tengah disebut skala media" dan pada bagian dasar disebut skala timpani. 1ntara skala )estibuli dengan skala media dipisahkan oleh membran reisier dan antara skala media dengan skala timpani dipisahkan oleh membran basiler. b. Labirin &embranosa. Labirin membranosa terendam dalam cairan perilimf dan mengandung cairan endolimf. 'edua cairan tersebut terdapat keseimbangan yang tepat dalam telinga dalam sehingga pengaturan keseimbangan tetap terjaga. Labirin membranosa tersusun atas utrikulus" sakulus" dan kanalis semisirkularis" duktus koklearis" dan organ korti. 2trikulus terhubung dengan duktus semisirkularis" sedangkan sakulus terhubung dengan duktus koklearis dalam koklea. Organ korti terletak pada membrane basiler" tersusun atas selsel rambut yang merupakan reseptor pendengaran. 1da dua tipe sel rambut yaitu sel rambut baris tunggal interna dan tiga baris sel rambut eksterna. +ada bagian samping dan dasar sel rambut bersinap dengan jaringan ujung saraf koklearis. Mekanisme Penden a!an : 3elombang suara dari luar dikumpulkan oleh daun telinga /pinna0" masuk ke saluran eksterna pendengaran /meatus dan kanalis auditorius eksterna0 yang

selanjutnya masuk ke membrane timpani. 1danya gelombang suara yang masuk ke membrane timpani menyebabkan membrane timpani bergetar dan bergerak maju mundur. 3erakan ini juga mengakibatkan tulang-tulang pendengaran seperti meleus" inkus" dan stapes ikut bergerak dan selanjutnya stapes menggerakkan foramen o)ale serta menggerakkan cairan perilimf pada skala )estibule. 3etaran selanjutnya melalui membrane reisner yang mendorong endolimf dan membrane basiler ke arah bawah dan selanjutnya menggerak perilimf pada skala timpani. +ergerakan cairan dalam skala timpani menimbulkan potensial aksi pada sel rambut yang selanjuttnya diubah menjadi inpuls listrik. Inpuls listrik selanjutnya dihantarkan ke nukleus koklearis" thalamus kemudian korteks pendengaran untuk diasosiasikan. /Tarwoto" #445 6 #,7-#$,0. ". PENGERTIAN Otitis &edia !upuratif 'ronik /O&!'0 ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan keluarnya sekret dari telinga tengah secara terus menerus atau hilang timbul. !ekret mungkin encer atau kental" bening" atau berupa nanah. %iasanya disertai gangguan pendengaran. /1rif &ansjoer" #441 6 8#0. *adi" menurut saya Otitis &edia !upuratif 'ronik /O&!'0 atau yang biasa disebut dengan istilah sehari-hari congek. Dalam perjalanannya penyakit ini dapat berasal dari O&1 stadium perforasi yang berlanjut" sekret tetap keluar dari telinga tengah dalam bentuk encer" bening ataupun mukopurulen. +roses hilang timbul atau terus menerus lebih dari # minggu berturut-turut. Tetap terjadi perforasi pada membran timpani. +erforasi yaitu membran timpani tidak intake 9 terdapat lubang pada membran timpani itu sendiri. #. ETIOLOGI. !ebagian besar Otitis &edia !upuratif 'ronik /O&!'0 merupakan kelanjutan dari Otitis &edia 1kut /O&10 yang prosesnya sudah berjalan lebih dari # bulan. %eberapa faktor penyebab adalah terapi yang terlambat" terapi tidak adekuat" )irulensi kuman tinggi" dan daya tahan tubuh rendah. %ila kurang dari # bulan disebut subakut. !ebagian kecil disebabkan oleh perforasi membran timpani terjadi akibat trauma telinga tengah. 'uman penyebab biasanya kuman gram positif aerob" pada infeksi yang sudah berlangsung lama sering juga terdapat kuman gram negatif dan kuman anaerob. /1rif &ansjoer" #441 6 8#0. 'uman penyebab O&!' antara lain kuman !taphylococcus aureus /#:;0" +seudomonas aeruginosa /15",;0" !treptococcus epidermidimis /14",;0" gram positif lain /18"1;0 dan kuman gram negatif lain /<"8;0. %iasanya pasien mendapat infeksi telinga ini setelah menderita saluran napas atas misalnya influen=a atau sakit tenggorokan. &elalui

saluran yang menghubungkan antara hidup dan telinga /tuba 1uditorius0" infeksi di saluran napas atas yang tidak diobati dengan baik dapat menjalar sampai mengenai telinga. $. PATOFISIOLOGI. O&!' dibagi dalam # jenis" yaitu benigna atau tipe mukosa" dan maligna atau tipe tulang. %erdasarkan sekret yang keluar dari ka)um timpani secara aktif juga dikenal tipe aktif dan tipe tenang. /1rif &ansjoer" #441 6 8#0. +ada O&!' benigna" peradangan terbatas pada mukosa saja" tidak mengenai tulang. +erforasi terletak di sentral. *arang menimbulkan komplikasi berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom. /1rif &ansjoer" #441 6 8#0. O&!' tipe maligna disertai dengan kolesteatom. +erforasi terletak marginal" subtotal" atau di atik. !ering menimbulkan komplikasi yang berbahaya atau fatal. /1rif &ansjoer" #441 6 8#0. 'olesteotoma yaitu suatu kista epiterial yang berisi deskuamasi epitel /keratin0. Deskuamasi terbentuk terus" lalu menumpuk. !ehingga kolesteotoma bertambah besar.

PATH%A& OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK (OMSK)

'. TANDA DAN GE(ALA +asien mengeluh otore" )ertigo" tinitus" rasa penuh ditelinga atau gangguan pendengaran. /1rif &ansjoer" #441 6 8#0. >yeri telinga atau tidak nyaman biasanya ringan dan seperti merasakan adanya tekanan ditelinga. 3ejala-gejala tersebut dapat terjadi secara terus menerus atau intermiten dan dapat terjadi pada salah satu atau pada kedua telinga. /www.health central.com" #4470.

a. Telinga berair /otorrhoe0 !ekret bersifat purulen / kental" putih0 atau mukoid / seperti air dan encer0 tergantung stadium peradangan. !ekret yang mukus dihasilkan oleh akti)itas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. +ada O&!' tipe jinak" cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. 'eluarnya sekretbiasanya hilang timbul. &eningkatnya jumlah sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari liang telinga luar setelah mandi atau berenang. +ada O&!' stadium inaktif tidak dijumpai adanya sekret telinga. !ekret yang sangat bau" berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil" berwarna putih" mengkilap. +ada O&!' tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. !ekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. !uatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. b. 3angguan pendengaran Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran. %iasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. 3angguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat hebat" karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom" dapat menghambat bunyi dengan efektif ke fenestra o)alis. %ila tidak dijumpai kolesteatom" tuli konduktif kurang dari #4 db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran masih baik. 'erusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari ,4 db. %eratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. +ada O&!' tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang pendengaran" tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus diinterpretasikan secara hati-hati. +enurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat /foramen rotundum0 atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. %ila terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat" hantaran tulang dapat menggambarkan sisa fungsi kohlea. c. Otalgia / nyeri telinga0

>yeri tidak la=im dikeluhkan penderita O&!'" dan bila ada merupakan suatu tanda yang serius. +ada O&!' keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. >yeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret" terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis" atau ancaman pembentukan abses otak. >yeri telinga mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. >yeri merupakan tanda berkembang komplikasi O&!' seperti +etrositis" subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis. d. -ertigo -ertigo pada penderita O&!' merupakan gejala yang serius lainnya. 'eluhan)ertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. -ertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan )ertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. +enyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan )ertigo. -ertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum. istula merupakan temuan yang serius" karena infeksi kemudian dapat berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul labirinitis dan dari sana mungkin berlanj ut menjadi meningitis. 2ji fistula perlu dilakukan pada kasus O&!' dengan riwayat )ertigo. 2ji ini memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membran timpani" dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah. TANDA KLINIS Tanda-tanda klinis O&!' tipe maligna 6 a. 1danya 1bses atau fistel retroaurikular b. *aringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari ka)um timpani. c. +us yang selalu aktif atau berbau busuk / aroma kolesteatom0 d. oto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

). PENATALAKSANAAN. &enurut 1rief &ansjoer" dkk. #441 halaman 8# - 8, 6 Terapinya sering lama dan harus berulang-ulang karena 6 a. 1danya perforasi membran timpani yang permanen b. Terdapat sumber infeksi di faring" nasofaring" hidung" dan sinus paranasal"

c. Telah terbentuk jaringan patologik yang ire)ersibel dalam rongga mastoid d. 3i=i dan kebersihan yang kurang. +rinsip terapi O&!' tipe benigna ialah konser)atif atau dengan medikamentosa. %ila sekret yang keluar terus menerus" maka diberikan obat pencuci telinga" berupa larutan ?#O# ,; selama ,-$ hari. !etelah sekret berkurang" maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kartikosteroid. %anyak ahli berpendapat bahwa semua obat tetes yang dijual di pasaran saat ini mengandung antibiotika yang bersifat ototoksik. Oleh sebab itu penulis menganjurkan agar obat tetes telinga jangan diberikan secara terus menerus lebih dari 1 atau # minggu atau pada O&!' yang sudah tenang. !ecara oral diberikan antibiotika dari golongan ampisilin" atau eritromisin" /bila pasien alergi terhadap penisilin0" sebelum tes resistensi diterima. +ada infeksi yang dicurigai karena penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin asam kla)ulanat. %ila sekret telah kering" tetapi perforasi masih ada setelah diobser)asi selama # bulan" maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen" memperbaiki membran timpani yang perforasi" mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat" serta memperbaiki pendengaran. %ila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada" atau terjadinya infeksi berulang" maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu" mungkin juga perlu melakukan pembedahan" misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi. +rinsip terapi O&!' tipe maligna ialah pembedahan" yaitu mastoidektomi. *adi" bila terdapat O&!' tipe maligna" maka terapi yang tepat ialah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanopplasti. Terapi konser)atif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. %ila terdapat abses subperiosteal retroaurikuler" maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum kemudian dilakukan mastoidektomi. In*eksi +e,in a +en a- dan mas+.id. (ongga telinga tengah dan rongga mastoid berhubungan langsung melalui aditus adantrum. Oleh karena itu infeksi kronis telinga tengah yang sudah berlangsung lama biasanya disertai infeksi kronis di rongga mastoid. Infeksi rongga mastoid dikenal dengan mastoiditis. %eberapa ahli menggolongkan mastoiditis ke dalam komplikasi O&!'.

(enis /em0eda-an /ada OMSK. 1da beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat dilakukan pada O&!' dengan mastoiditis kronis" baik tipe benigna atau maligna" antara lain adalah sebagai berikut 6 a. mastoidektomi sederhana /simple mastoidectomy0" b. mastoidektomi radikal" c. mastoidektomi radikal dengan modifikasi" d. miringoplasti" e. timpanoplasti" f. pendekatan ganda timpanoplasti /.ombined approach tympanoplasty0. *enis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau koleasteatom" sarana yang tersedia serta pengalaman operator. !esuai dengan luasnya infeksi atau luasnya kerusakan yang sudah terjadi" kadangkadang dilakukan kombinasi dari jenis operasi itu atau modifikasinya. 1. &astoidektomi sederhana. Operasi ini dilakukan pada O&!' tipe benigna yang dengan pengobatan konser)atif tidak sembuh. Dengan tindakan operasi ini dilakukan permbersihan ruang mastoid dari jaringan patologik. Tujuannya ialah supaya infeksi tenang dan telinga tidak berair lagi. +ada operasi ini fungsi pendengaran tidak diperbaiki. #. &astoidektomi (adikal. Operasi ini dilakukan pada O&!' maligna dengan infeksi atau kolesteatom yang sudah meluas. +ada operasi ini rongga mastoid dan ka)um timpani dibersihkan dari semua jaringan patologik. Dinding batas antara liang telinga luar dan telinga tengah tengah dengan rongga mastoid diruntuhkan" sehingga ketiga daerah anatomi tersebut menjadi suatu ruangan. Tujuan operasi ini ialah untuk membuang semua jaringan patologik dan mencegah komplikasi ke intrakranial. ungsi pendengaran tidak diperbaiki. 'erugian operasi ini ialah pasien tidak diperbolehkan berenang seumur hidupnya. +asien harus datang dengan teratur untuk kontrol" supaya tidak terjadi infeksi kembali. +endengaran berkurang sekali" sehingga dapat menghambat pendidikan atau karier pasien.

&odifikasi operasi ini ialah dengan memasang tandur /graft0 pada rongga operasi serta membuat meatal plasty yang lebar" sehingga rongga operasi kering permanen" tetapi terdapat cacat anatomi" yaitu meatus luar liang telinga menjadi lebar. ,. &astoidektomi radikal dengan modifikasi /operasi %ondy0 Operasi ini dilakukan pada O&!' dengan kolesteatom di daerah atik" tetapi belum merusak ka)um timpani. !eluruh rongga mastoid dibersihkan dan dinding posterior liang telinga direndahkan. Tujuan operasi ialah untuk membuang semua jaringan patologik dari rongga mastoid" dan mempertahankan pendengaran yang masih ada. 7. &iringoplasti Operasi ini merupakan jenis timpanoplasti yang paling ringan" dikenal juga dengan nama timpanoplasti tipe I. (ekonstruksi hanya dilakukan pada membran timpani. Tujuan operasi ialah untuk mencegah berulangnya infeksi telinga tengah pada O&!' tipe benigna dengan perforasi yang menetap. Operasi ini dilakukan pada O&!' tipe benigna yang sudah tenang dengan ketulian ringan yang hanya disebabkan oleh perforasi membran timpani. $. Timpanoplasti Operasi ini dikerjakan pada O&!' tipe benigna dengan kerusakan yang lebih berat atau O&!' tipe benigna yang tidak bisa ditenangkan dengan pengobatan medikamentosa. Tujuan operasi ialah untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran. &enurut ung #447" terapi difokuskan kepada penghilangan gejala dan infeksi. 1ntibiotik mungkin dikesepkan untuk infeksi bakteri" terapi antibiotik biasanya untuk jangka panjang" yaitu melalui pemberian per oral atau tetes telinga jika ada perforasi membran tympani. +embedahan untuk mengangkat adenoid mungkin cocok untuk membuka tuba eustachius. +embedahan dengan membuka membrana tymponi /miringotomi0 dengan maksud untuk mengalirkan atau mengeluarkan cairan dari daerah ditelinga dalam. Decangestan atau antibismin dapat digunakan untuk membantu mengeluarkan cairan dari tuba eustachius. +ada operasi ini selain rekonstruksi membran timpani sering kali harus dilakukan juga rekonstruksi tulang pendengaran. %erdasarkan bentuk rekonstruksi tulang pendengaran yang dilakukan maka dikenal istilah timpanoplasti tipe II" III" I- dan -.

!ebelum rekonstruksi dikerjakan lebih dahulu dilakukan eksplorasi ka)um timpani dengan atau tanpa mastoidektomi" untuk membersihkan jaringan patologis. Tidak jarang pula operasi ini terpaksa dilalakukan dua tahap dengan jarak waktu : s9d 1# bulan. :. Timpanoplasti dengan pendekatan ganda /.ombined 1pproach Tympanoplasty0 Operasi ini merupakan teknik operasi timpanoplasti yang dikerjakan pada kasus O&!' tipe maligna atau O&!' tipe benigna dengan jaringan granulasi yang luas. Tujuan operasi untuk menyembuhkan penyakit serta memperbaiki pendengaran tanpa melakukan teknik mastoidektomi radikal /tanpa meruntuhkan dinding posterior ling telinga0. &embersihkan kolesteatom dan jaringan granulasi di ka)um timpani" dikerjakan melalui dua jalan /combined approach0 yaitu melalui liang telinga dan rongga mastoid dengan melakukan timpanotomi posterior. Teknik operasi ini pada O&!' tipe maligna belum disepakati oleh para ahli" oleh karena sering terjadi kambuhnya kolesteatoma kembali. 1. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 2ntuk melengkapi pemeriksaan" dapat dilakukan pemeriksaan klinik sebagaiberikut 6 a. +emeriksaan 1udiometri +ada pemeriksaan audiometri penderita O&!' biasanya didapati tuli konduktif. Tapi dapat pula dijumpai adanya tuli sensotineural" beratnya ketulian tergantung besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistim penghantaran suara ditelinga tengah. +aparela" %rady dan ?oel /15<40 melaporkan pada penderita O&!' ditemukan tuli sensorineural yang dihubungkan dengan difusi produk toksin ke dalam skala timpani melalui membran fenstra rotundum" sehingga menyebabkan penurunan ambang hantaran tulang secara temporer9permanen yang pada fase awal terbatas pada lengkung basal kohlea tapi dapat meluas kebagian apek kohlea. 3angguan pendengaran dapat dibagi dalam ketulian ringan" sedang" sedang berat" dan ketulian total" tergantung dari hasil pemeriksaan / audiometri atau test berbisik0. Derajat ketulian ditentukan dengan membandingkan rata-rata kehilangan intensitas pendengaran pada frekuensi percakapan terhadap skala I!O 15:7 yang eki)alen dengan skala 1>!I 15:5. Derajat ketulian dan nilai ambang pendengaran menurut I!O 15:7 dan 1>!I 15:5.

Derajat ketulian >ilai ambang pendengaran >ormal Tuli ringan Tuli sedang Tuli sedang berat Tuli berat Tuli total 6 -14 d% sampai #: d% 6 #< d% sampai 74 d% 6 71 d% sampai $$ d% 6 $: d% sampai <4 d% 6 <1 d% sampai 54 d% 6 lebih dari 54 d%.

@)aluasi audimetri penting untuk menentukan fungsi konduktif dan fungsi kohlea. Dengan menggunakan audiometri nada murni pada hantaran udara dan tulang serta penilaian tutur" biasanya kerusakan tulang-tulang pendengaran dapat diperkirakan" dan bisa ditentukan manfaat operasi rekonstruksi telinga tengah untuk perbaikan pendengaran. 2ntuk melakukan e)aluasi ini" obser)asi berikut bias membantu 6 1. #. ,. 7. +erforasi biasa umumnya menyebabkan tuli konduktif tidak lebih dari 1$-#4 d% 'erusakan rangkaian tulang-tulang pendengaran menyebabkan tuli konduktif,4$4 d% apabila disertai perforasi. Diskontinuitas rangkaian tulang pendengaran dibelakang membran yang masih utuh menyebabkan tuli konduktif $$-:$ d%. 'elemahan diskriminasi tutur yang rendah" tidak peduli bagaimanapun keadaan hantaran tulang" menunjukan kerusakan kohlea parah. +emeriksaan audiologi pada O&!' harus dimulai oleh penilaian pendengarandengan menggunakan garpu tala dan test %arani. 1udiometri tutur dengan maskingadalah dianjurkan" terutama pada tuli konduktif bilateral dan tuli campur. b. +emeriksaan (adiologi. +emeriksaan radiografi daerah mastoid pada penyakit telinga kronis nilaidiagnostiknya terbatas dibandingkan dengan manfaat otoskopi dan audiometri. +emerikasaan radiologi biasanya mengungkapkan mastoid yang tampak sklerotik" lebih kecil dengan pneumatisasi leb ih sedikit dibandingkan mastoid yang satunya atau yang normal. @rosi tulang" terutama pada daerah atik memberi kesan kolesteatom. +royeksi radiografi yang sekarang biasa digunakan adalah 6 1. P!.2eksi S3-4,,e!" yang memperlihatkan luasnya pneumatisasi mastoid dariarah lateral dan atas. oto ini berguna untuk pembedahan karena

memperlihatkan posisi sinus lateral dan tegmen. +ada keadaan mastoid yang skleritik" gambaran radiografi ini sangat membantu ahli bedah untuk menghindari dura atau sinus lateral. #. P!.2eksi Ma2e! a+a4 O5en" diambil dari arah dan anterior telinga tengah. 1kantampak gambaran tulang-tulang pendengaran dan atik sehingga dapat diketahui apakah kerusakan tulang telah mengenai struktur-struktur. ,. P!.2eksi S+en6e!" memperlihatkan gambaran sepanjang piramid petrosusdan yang lebih jelas memperlihatkan kanalis auditorius interna" )estibulum dan kanalis semisirkularis. +royeksi ini menempatkan antrum dalam potongan melintang sehingga dapat menunjukan adanya pembesaran akibatkolesteatom. 7. P!.2eksi 7-a4se III" memberi gambaran atik secara longitudinal sehingga dapat memperlihatkan kerusakan dini dinding lateral atik. +olitomografi dan atau .T scan dapat menggambarkan kerusakan tulang oleh karena kolesteatom" ada atau tidak tulang-tulang pendengaran dan beberapa kasus terlihat fistula pada kanalis semisirkularis hori=ontal. 'eputusan untuk melakukan operasi jarang berdasarkan hanya dengan hasil A-ray saja. +ada keadaan tertentu seperti bila dijumpai sinus lateralis terletak lebih anterior menunjukan adanya penyakit mastoid. 8. PROGNOSIS %iasanya O&. berespon terhadap terapi dapat terjadi dalam beberapa bulan. %iasanya kerusakan bukan merupakan suatu ancaman bagi kehidupan penderita tetapi dapat menyebabkan ketidak nyamanan dan dapat berakhir dengan komplikasi yang serius / ung" #4470. 9. KOMPLIKASI 'erusakan yang permanen dari telinga dengan berkurangnya pandangan atau ketulian. &astuiditis .holesteatoma 1bses apidural /peradangan disekitar otak0 +aralisis wajah Labirin titis.

/ ung" #4470