Anda di halaman 1dari 7

The Iran VS United States Claims Tribunal A.

Pendahuluan Persengketaan internasional adalah suatu hal yang biasa terjadi dalam suatu hubungan khususnya dalam hubungan internasional antara subjek-subjek hukum internasional, yaitu negara, individu, karena para subjek tersebut tidak dapat terlepas dari berbagai macam kenyataan bahwa mereka berkedudukan sebagai makhluk social/zoon politicon[1] dalam teori yang diungkapkan oleh aristoles dalam buku ethic nicomaceae baik dalam arti person maupun rechtperson. Subjeksubjek hukum internasional yang ada di dunia sama seperti manusia tidak dapat berdiri sendirisendiri oleh karena itu Negara mengadakan hubungan-hubungan internasional diadakan antarnegara, Negara dengan individu atau Negara dengan organisasi internasional lainnya, namun kondisi tersebut tidak selamannya terjalin dengan baik dan acap kali hubungan itu menimbulkan sengketa diantara mereka. Persengketaan yang timbul dari suatu hubungan internasional yang ada diantara subjek-subjek hukum internasional tersebut biasanya berpangkal pada permasalahan seputar sengketa perbatasan, kerusakan sumber daya alam, perdagangan internasional maupun terhadap isu-isu baru seperti terorisme[2]. Apabila sengketa tersebut terjadi maka hukum internasional memainkan peran penting dalam penyelesaian sengketa tersebut, hukum internasional memberikan suatu pengaturan yang berbagai macam dalam metode penanganan dan penyelesaian sengketa internasional secara damai. Secara garis besar dalam penyelesaian sengketa oleh hukum internasional maka kita akan menemukan 2 metode penyelesaian, yaitu : 1. penyelesaian sengketa internasional secara diplomatic. 2. penyelesaian sengketa internasional secara hukum[3]. Sebagai bagai contoh dalam makalah ini akan diangkat suatu pembahasan mengenai penyelesaian sengketa secara damai berdasarkan hukum internasional pada kasus The Iran Vs United States Claims Tribunal, kasus tersebut terjadi pada periode tahun 1970an yang diawali dengan permasalahan poltik yang terjadi diantara kedua negara tersebut. B. Latarbelakang Permasalahan Kasus The Iran VS United States Claims Tribunal Kasus persengketaan antara iran vs usa bergulir dikarenakan pada tahun 1979 terjadi suatu revolusi besar di negara iran yang menjadi awal jatuhnya Shah Reza Pahlevi yang merupakan seorang raja pada negeri iran, kejatuhan Shah Reza Pahlevi merupakan awal dari buruknya hubungan antara negara Iran yang pada saat itu melakukan revolusi besar terhadap bentuk negaranya dengan Amerika Serikat yang terkesan terlalu campur tangan terhadap urusan dalam negeri Negara Iran karena melindungi Shah Reza Pahlevi[4]. Karena berbagai pergolakan politik yang terjadi antara kedua negara tersebut akhirnya menimbulkan suatu dampak yang sangat besar bagi pecahnya hubungan antara Republic Islam Iran dengan negara Amerika Serikat, perselisihan mulai timbul akibat penahanan 52 warga negara amerika dalam kedutaan besar Amerika Serikat di Teheran yang terjadi pada tahun 1979, karena penahanan tersebut Pemerintah Amerika Serikat dibawah pimpinan Jimmy Carter melakukan suatu upaya pembebasan para sandera dengan menggelar operasi militer dengan nama Operation Eagle Claw, namun upaya pembebasan tersebut mengalami kegagalan sehingga akhirnya berujung pada pembekuan seluruh asset milik negara maupun warga Iran oleh Amerika Serikat. Setelah berbagai kejadian panas

tersebut maka hubungan diplomatic antara amerika serikat dengan pemerintah republic islam iran mengalami pemutusan hubungan sejak 7 April 1980. C. Pembahasan Atas persengketaan yang terjadi antara negara Amerika Serikat dengan negara Republik Islam Iran maka sebagai upaya mendamaikan kedua negara tersebut Pemerintahan Republik Demokratik Algeria menawarkan diri untuk menjadi penegah dalam upaya penyelesaian sengketa dalam mencarikan solusi yang menguntungkan dan dapat diterima kedua negara tersebut. Algeria melakukan berbagai upaya yang cukup besar kepada kedua negara agar dapat menjalankan kewajiban yang telah dibuat oleh para pihak pada suatu kesepakatan damai dalam rangka penyelesaian krisis, yang terjadi pada 19 Januari 1981. Pemerintah Algeria bertindak sebagai penengah membantu kedua negara yang bersengketa yaitu antara Amerika Serikat dan Iran untuk memuat segala kewajiban dari kedua negara dalam bentuk dokumen perjanjian yang mengikat kedua negara tersebut, perjanjian yang dibuat oleh kedua negara tersebut terbagi menjadi 2 perjanjian pokok yaitu : 1. The General Declaration. 2. The Claim Settlement Declaration atau yang juga dikenal dengan nama The Algerian Declaration. Bentuk penyelesaian yang dilakukan dalam penanganan atas kasus yang terjadi antara Amerika serikat dan Republik Islam Iran merupakan suatu penyelesaian sengketa yang dilakukan dengan cara damai, seperti yang telah disebutkan pada pendahuluan sebelumnya cara-cara penyelesaian sengketa menurut hukum internasional terbagi kedalam dua metode secara garis besar, yaitu penyelesaian secara diplomatic dengan suatu metode penyelesaian dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang baik dapat dilakukan oleh kedua pihak yang bersengketa secara langsung maupun dengan bantuan pihak ketiga sebagai pihak penengah. Cara-cara penyelesaian secara diplomatic ini dapat lakukan dengan berbagai metode yang biasa dikenal dalam kebiasaan hukum internasional seperti penyelesaian sengketa dengan cara negosiasi, inquiry atau penemuan fakta-fakta, good offices atau jasa-jasa baik, mediasi, dan konsiliasi[5]. Sedangkan metode penyelesaian lainnya adalah metode penyelesaian secara hukum atau pengadilan. Dalam metode penyelesaian secara hukum dikenal dengan dua cara penyelesaian yaitu penyelesaian dengan arbitrase dan penyelesaian dengan menggunakan pengadilan internasional atau Internasional Court of Justice. Dalam penyelesaian persengketaan yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Republik Islam Iran maka metode penyelesaian yang digunakan adalah kedua bentuk metode penyelesaian secara damai baik dengan penggunaan cara-cara diplomatic maupun penyelesaian dengan cara-cara pengadilan. Penggunaan cara-cara penyelesaian tersebut dapat kita ketahui dari upaya jasa-jasa baik yang dilakukan oleh pemerintah alegeria yang menawarkan diri sebagai pihak ketiga yang membantu menengahi permasalahan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Republic Islam Iran. Menurut pendapat Sarjana Jerman Bindschedler jasa-jasa baik atau good offices didefinisikan sebagai the involvement of one or more states or an internasional organization in a dispute between states with the aim of settling it or contributing too its settlement[6]. Jasa-jasa baik yang dilakukan oleh Pemerintah Algeria dalam upaya penyelesaian sengketa adalah agar kontak

langsung diantara kedua negara yang bersengketa tersebut tetap terjamin, dan upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah Algeria agar kontak tetap terjaga adalah dengan mempertemukan para pihak yang sedang bersengketa agar mau berunding dengan tujuan persengketaan yang terjadi agar mengalami suatu percepatan dalam penyelesaiannya. Hasil dari upaya dalam mempertemukan kedua negara dapat terlaksana dengan terbentuknya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran seperti yang telah disebutkan sebelumnya yaitu dalam kerangka perjanjian The General Declaration dan perjanjian The Claim Settlement Declaration atau yang juga dikenal dengan nama The Algerian Declaration. Metode yang telah digunakan Algeria dalam membantu dalam penyelesaian sengketa yang terhadi antara Amerika Serikat dan Republic Islam Iran tidak hanya sebatas melakukan upaya mempertemukan kedua negara yang bersengketa saja dalam artian turut melakukan upaya jasajasa baik, tetapi juga pada hasil kesepakatan yang telah dibuat oleh para pihak tersebut salah satunya menyatakan kesedian mereka untuk menyelesaikan kasus pensengketaan mereka melalui mekanisme penyelesain sengketa secara Arbitrase. Metode penyelesaian arbitrase adalah suatu metode penyelesaian secara hukum yang didefinisikan sebagai suatu alternative penyelesaian sengketa melalui pihak ketiga (badan arbitrase yang ditunjuk dan disepakati oleh para pihak atau negara secara sukarela untuk memutuskan sengketa yang bukan bersifat perdata dan putusannya bersifat final dan mengikat[7]. Badan arbitrase akan berfungsi apabila para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketa kepadanya. Para pihak dapat menyerahkan sengketa kepada arbitrase ketika sengketa itu sendiri belum atau telah lahir. Proses penyelesaian sengketa melalui arbitrase memiliki beberapa unsure penting yang positif : 1. Para pihak memiliki kebebasan dalam memilih hakimnya baik secara langsung maupun tidak langsung yang menunjuk arbitrator untuk salah satu atau kedua belah pihak . hal ini penting, karena apabila suatu negara menyerahkan sengketanya pada pihak ketiga maka negara tersebut harus mempercayakan sengketa yang diputuskan oleh pihak ketiga tersebut. 2. Para pihak memiliki kebebasan untuk menentukan hukum acara atau persyaratan bagaimana suatu putusan akan didasarkan misalnya dalam menentukan hukum acara dan hukum yang diterapkan dalam pokok sengketa dan lain-lainnya. 3. Sifat dari putusan arbitrase pada prinsipnya adalah final dan mengikat. 4. Persidangan arbitrase dimungkinkan untuk dilaksanakan secara rahasia, apabila para pihak menginginkan. 5. Para pihak sendiri yang menentukan tujuan atau tugas badan arbitrase.[8] The General Declaration Dalam The General Declaration terdapat dokumen utama mengenai kewajiban-kewajiban para pihak yang bersengketa dalam upaya untuk menyelesaikan persengketaan antara kedua negara tersebut. Pertama Iran berkewajiban untuk membebaskan para sandera yang ditahan dan sebagai gantainya Amerika Serikat harus menaati perjanjian The Algerian Declaration untuk mengembalikan dan memulihkan keadaan ekonomi iran yang diakibatkan setelah pembekuan

asset-aset negara tersebut oleh amerika terhitung sejak tanggal 14 november 1979 kepada keadaan semula jika dimungkinkan. Perbaikan kondisi ekonomi iran berkaitan dengan pengembalian asset-aset yang telah dibekukan maka diperlukan berbagai upaya dalam menghilangkan status pembekuan tersebut antaranya adalah dengan menghapuskan semua tuntutan hukum yang berkaitan dengan itu dan menghentikan segala proses pengadilaan yang berkaitan dengan itu pula, hal tersebut menjadi sangat penting sebagai salah satu cara dalam memecahkan krisis yang terjadi diantara kedua negara untuk memberikan upaya alternative dari suatu putusan dalam tuntutan ganti rugi oleh pihak amerika serikat melawan iran dan perusahaan negara tersebut. Berdasarkan kesepakatan dalam The General Declaration amerika sepakat untuk menerapkan inter alia, yaitu menghentikan segala proses hukum yang sedang berlangsung di Amerika yang berkaitan dengan tuntutan ganti rugi warga negaranya dan juga lembaga-lembaga dinegaranya melawan pemerintah iran dan perusahaan milik negara tersebut, menghapuskan segala tuntutan dan putusan yang didapatkan dari pada nya, untuk melarang segala kemungkinan yang akan terjadi terhadap adanya suatu tuntutan hukum pada kasus yang terjadi, dan membawa segala tuntutan tersebut kepada pengadilan Arbritase atau Claims Tribunal yang bersifat mengikat[9]. Berdasarkan perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak untuk bersepakat dalam membawa penyelesaian sengketa kepada badan arbitrase maka dalam hukum penyelesaian sengketa internasional khusunya mengenai metode penyelesaian secara arbitrase hal tesebut dikenal dengan istilah acta compromise. Dalam perjanjian arbitrase yang terdapat dalam The General Declaration dalam bab mengenai SETTLEMENT OF DISPUTES pada pasal 17 menyatakan bahwa If any other dispute arises between the parties as to the interpretation or performance of any provision of this Declaration,either party may submit the dispute to binding arbitration by the tribunal established by, and in accordance with the provisions of, the Claims Settlement Agreement. Any decision of the tribunal with respect to such dispute, including any award of damages to compensate for a loss resulting from a breach of this Declaration or the Claims Settlement Agreement, may be enforced by the prevailing party in the courts of any nation in accordance with its laws [10]. Jadi sebagai inti dari isi perjanjian dalam The General Declaration berisikan mengenai kewajibankewajiban yang harus dipenuhi oleh kedua negara dalam hal memulihkan kondisi tegang dengan berbagai upaya yang telah diperjanjikan oleh kedua belah pihak, dan sebagai kelanjutan penyelesaian jika dirasa diantara kedua pihak tiidak menjalankan keajiban-kewajiban yang telah diperjanjikan dalam akta tersebut maka perkara persengketaan dapat diajukan kepada pengadilan arbitrase yang dibentuk karena kasus ini. The Claims Settlement Declaration. Perjanjian The Claims Settlement Declaration merupakan suatu penegasan akan terbentuknya The Iran-United States Claims Tribunal ( pengadilan arbitrase antara Amerika Serikat dan Iran) sebagai suatu mekanisme penyelesaian sengketa yang mengikat para pihak dengan menggunakan arbitrase. The Iran-United States Claims Tribunal akan memberikan suatu putusan atas persengketaan yang berkaitan dengan segala tuntutan ganti rugi yang diajukan pada pengadilan arbritasi tersebut dengan dasar pertimbangan putusan yang tidak didasarkan pada hukum atau jurisdiksi pengadilan iran, Amerika Serikat ataupun pengadilan negara manapun. Dalam perjanjian The Claim Settlement Declaration mengatur berbagai macam hal yang berkaitan dengan komposisi, yurisdiksi dan prosedur penyelesaian sengketa dalam The Iran Vs United States Claims Tribunal Case, yaitu :

1. Komposisi, pada lembaga arbitrase yang terbentuk dalam kasus yang terjadi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran maka berdasarkan pada pasal 3 ayat 1 perjanjian The Claims Settlement Declaration, hakim dalam arbitrase terdiri atas 9 orang anggota, tiga diantaranya ditunjuk oleh masing-masing negara yang bersengketa dan tiga anggota sisanya ditunjuk oleh keenam anggota yang dipilih oleh negara-negara sebelumnya. Dan para hakim-hakim tersebut adalah Krzysztof SKUBISZEWSKI (President and Chairman, Chamber Two), Mohsen AGHAHOSSEINI, George H. ALDRICH, Koorosh H. AMELI, Gaetano ARANGIO-RUIZ (Chairman, Chamber Three), Bengt BROMS (Chairman, Chamber One), Charles N. BROWER, Gabrielle Kirk McDONALD dan Hamid Reza OLOUMI YAZDI[11]. 2. Jurisdiksi, berdasarkan pada pasal 2 ayat 1-3 perjanjian The Claims Settlement Declaration, dalam pasal tersebut menyatakan bahwa jurisdiksi dari badan arbirase ini adalah untuk memutuskan segala tuntutan dari warga negara Amerika Serikat terhadap Iran dan juga tuntutan dari warga negara Iran kepada Amerika Serikat yang timbul akibat hutang, kontrak, pengambilalihan atau berbagai macam tindakan yang berakibat pada kerugian hak milik seseorang, dan diluar itu berdasarkan ayat 2 menyatakan bahwa jurisdiksi dari badan arbitrase ini juga meliputi segala tuntutan yang terjadi antara kedua negara tersebut akibat persengketaan yang terjadi pada kegiatan perdagangan, pembelian dan penjualan barang dan jasa. Pada ayat 3 badan arbitase ini juga memiliki kewenangan untuk menyelesaikan pertikaian yang berhubungan dengan pemaknaan dan pemenuhan kewajiban terhadap The Algiers Declarations berdasarkan pada pasal 16-17 perjanjian tersebut. 3. Prosedur, berdasarkan pasal 2 ayat 2 The Claims Settlement Declaration menyatakan bahwa segala permasalahan atau tuntutan yang berhubungan dengan sengketa bisnis maka arbitrase wajib bertindak dengan menerapkan aturan-aturan hukum perdagangan internasional berdasarkan United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL). Sedangkan berdasarkan ayat 3 menyatakan bahwa sgala tuntutan hanya dapat dilakukan jika jumlah kerugian yang diderita oleh penuntut dari kedua belah pihak mencapai tidak kurang dari $ 250.000, berdasarkan data dari lapangan kurang lebih terdapat 1000 tuntutan lebih yang menyatakan kerugiannya sekitar $ 250.000 dan hamper kira-kira 2.800 tuntutan yang kerugiannya hanya sedikit kurang dari angka batas pengajuan tuntutan[12], dan berdasarkan pada ayat selanjutnya menyatakan bahwa segala tuntutan harus sudah disampaikan pada badan arbitrase ini paling lambat dalam jangka waktu 6 bulan setelah president dalam arbitrase telah terpilih. D. Kesimpulan Kasus persengketaan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran merupakan suatu kasus yang terjadi pada awal tahun 1980-an, kasus tersebut timbul karena berbagai macam alasan baik yang bersifat politik ataupun ekonomi. Namun kasus yang sempat menjadi awal ketegangan hubungan antara Amerika serikat dan Republik Islam Iran tersebut dalam penyelesaian saat itu menggunakan teknik-teknik penyelesaian sengketa secara damai baik berupa teknik penyelesaian sengketa secara diplomatic maupun teknik penyelesaian sengketa secara hukum dengan menggunakan metode penyelesaian badan arbitrase atau Claims Tribunal. Penyelesain sengketa dengan cara damai adalah merupakan suatu metode penyelesaian sengketa yang sangat penting karena cara-cara ini mencegah atau menghindari negara-negara menggunakan cara-cara kekerasan, militer, atau perang sebagai cara penyelesaian sengketa diantara mereka. Peran hukum internasional dalam penyelesaian sengketa secara damai sangat

penting, karena hukum internasional tidak hanya mewajibkan suatu penyelesaian sengketa secara damai, namun juga memberi kebebasan seluas-luasnya pada negara-negara untuk menerapkan atau memanfaatkan mekanisme penyelesaian yang ada. Kedua telah disebutkan sebelumnya bahwa hukum internasional member keleluasaan kepada para pihak dalam memilih cara penyelesaian sengketanya. Disini terlihat bahwa hukum intenasional tidak bersifat mutlak, artinya bukan merupakan hal utama[13]. Jadi setiap penyelesaian sengketa antara para pihak dapat diselesaikan dengan berbagai macam cara yang dapat menyampingkan hukum internasional selama penyelesaian tersebut dilakukan dengan cara damai dan menggunakan metode-metode yang hasilnya menguntungkan kedua belah pihak. Daftar Pustaka Adolf, Huala, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2008. Backgraound information Iran United States Claim Tribunal, www.iusct.org, 8 April 2009. Mochtar Kusuma Atmadja, Pengantar Ilmu Hukum, Bina Cipta, Bandung, 1978. DECLARATION OF THE GOVERNMENT OF THE DEMOCRATIC AND POPULAR REPUBLIC OF ALGERIA (General Declaration), 19 January 1981. DECLARATION OF THE GOVERNMENT OF THE DEMOCRATIC AND POPULAR REPUBLIC OF ALGERIA CONCERNING THE SETTLEMENT OF CLAIMS BY THE GOVERNMENT OF THE UNITED STATES OF AMERICA AND THE GOVERNMENT OF THE ISLAMIC REPUBLIC OF IRAN (Claims Settlement Declaration), 19 January 1981. www.Indonesianradio.com, 8 April 2009.

[1] Mochtar Kusumaatmadja, Pengantar Ilmu Hukum, Penerbit Alumni, Bandung, 1999, hlm. 12. [2] Huala Adolf, Hukum Penyelesaian Sengketa Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, hlm. 1. [3] Ibid, hlm. 26. [4] www.Indonesianradio.com, 8 April 2009. [5] Huala Adolf, loc.cit. [6] Ibid, hlm. 30. [7] Ibid, hlm 40. [8] Ibid, hlm 41. [9] Backgraoun information Iran United States Claim Tribunal, www.iusct.org, 8 April 2009. [10] The General Declaration, article 17. 19 January 1981.

[11] www.iusct.org, 8 April 2009. [12] www.iusct.org, 8 April 2009.