Anda di halaman 1dari 17

DISUSUN OLEH: NAMA KELAS MATA KULIAH DOSEN PEMBIMBING : ANA SARI YANI : III.

B : ALJABAR LINIER : Nyayu Fahriza.F, S,Si. M,Pd

KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillah, Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. Karena berkat rahmat karuniaNya lah kami dapat menyelesaikan Artikel Ruang Vektor Umum ini. Dalam menyelesaikan tugas ini kami mendapat banyak sekali bantuan dari berbagai pihak dan media, untuk bantuan tersebut kami megucapkan banyak terima kasih. Dan tidak lupa kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Nyayu Fahriza,F.S,Si, mpd yang telah banyak memberi bimbingan serta petunjuk kepada kami. Kami telah berusaha semaksimal mungkin dalam penyelesaian makalah ini, Kami pun menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami mohon maaf apabila masih terdapat kesalahan kekurangan. dan kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah yang kami buat ini dapat berguna bagi penulis maupun pembaca, dan dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Wassalmualaikum Wr. Wb.

Palembang,

Desenber 2012

Penulis.

BAB V RUANG VEKTOR UMUM 5. 1. Ruang Vektor Real


Dalam bagian ini kita akan mengatakan sekumpulan aksioma yang jika dipenuhi oleh sekelompok himpunan, maka himpunan tersebut dapat dikatakan vektor. Aksioma Ruang Vektor. Definisi berikut terdiri dari sepuluh aksioma. Definisi : Misalkan V adalah sembarang himpunan dengan elemen yang didalamnya diberikan operasi penjumlahan dan perkalian dengan skalar. Jika sepuluh aksioma ini dipenuhi oleh
, , di V dan skalar k,l yang sembarang, maka kita dapat

menyebut V sebagai ruang vektor dan elemen-elemen di dalam V disebut vektor. Aksioma tersebut adalah:

1) Jika u dan v adalah objek-objek pada V, maka u + v berada pada V 2) u + v = v + u 3) u + (v + w ) = ( u + v) + w 4) Di dalam V terdapat suatu objek 0, yang disebut vektor nol untuk V, sedemikian rupa sehingga 0 + u = u + 0 = u untuk semua u pada V. 5) Untuk setiap u pada V, terdapat suatu objek u pada V, yang disebut sebagai negative dari u, sedemikian rupa sehingga u + (-u) = (-u) + u = 0 6) Jika k adalah skalar sebarang dan u adalah objek sebarang pada V, maka ku terdapat pada V. 7) k (u + v) = ku + kv 8) (k + l)u = ku + lu 9) k (lu) = (kl) (u) 10) l u = u CATATAN: Skalar dapat berupa real atau bilangan kompleks, tergantung pada aplikasinya. Ruang vektor dimana skalar-skalarnya adalah bilangan kompleks disebut ruang vektor kompleks, dan ruang vektor dimana skalar-skalarnya merupakan bilangan real disebut ruang vektor real.

Perhatikan ruang vektor R2 dan R3 yang telah dibahas pada bagian lain. Komponenkomponen yang terlibat dalam ruang vektor tersebut ialah: 1. Himpunan pasangan berurutan (2 bilangan real untuk R2 dan 3 bilangan real untuk R3) 2. Himpunan skalar (untuk mendefinisikan perkalian vektor dan skalar) 3. Operasi vektor (yaitu operasi tambah) yang memenuhi sifat-sifat tertentu 4. Operasi perkalian vektor dengan skalar yang memenuhi sifat-sifat tertentu

Contoh : Himpunan yang bukan merupakan Ruang Vektor. Misalkan V = R2 dan didefinisikan operasi-operasi penjumlahan dan perkalian skalar sebagai berikut: Jika u = (u1, u2) dan v = (v1, v2) maka didefinisikan u + v = ( u1 + v1 , u2 + v2 ) dan jika k adalah bilangan real sebarang, maka definisikan ku = ( ku1 , 0 ) Sebagai contoh, jika u = (2,4), v = (-3,5), dan k = 7, maka u + v = ( 2 + (-3), 4 +5) = (-1, 9) ku = 7u = ( 7 .2 , 0 ) = (14, 0) Operasi penjumlahan merupakan operasi penjumlahan standar pada R2, tetapi operasi perkalian skalar bukan merupakan perkalian skalar standar. Pada bagian latihan, kami akan meminta anda untuk menunjukkan bahwa kesembilan aksioma ruang vektor pertama terpenuhi; namun demikian, terdapat nilai-nilai u yang menyebabkan Aksioma 10 tidak berlaku, sebagai contoh , jika u = (u1, u2) sedemikian rupa sehingga u2 0, maka
lu = l (u1, u2) = ( l . u1 , 0 ) = (u1 , 0) u

jadi, V bukan merupakan ruang vektor untuk operasi-operasi tersebut. Contoh : Ruang Vektor Nol Misalkan V terdiri dari suatu objek tunggal, yang dinotasikan dengan 0, dan didefinisikan 0 + 0 = 0 dan k0 =0

Untuk semua skalar k. Pemeriksaan untuk mengetahui apakah semua aksioma ruang vektor telah terpenuhi dapat dilakukan dengan mudah. Kita menyebut ruang vektor ini sebagai ruang vektor nol.
Kita pelajari dari R2 dan R3 sifat-sifat berikut ini. Jika A, B, C vektor di R2 atau R3 maka (A + B) + C = A + (B + C) Ada suatu vektor yang disebut Vektor nol dan dilambangkan dengan O, yaitu (0,0) untuk R2 dan (0,0,0) untuk R3 Untuk setiap vektor A di R2 atau R3 ada vektor A sehingga A + (-A) = O Untuk A dan B vektor di R2 atau R3 berlaku A + B = B + A Untuk setiap skalar c dan vektor A dan B di R2 atau R3 berlaku c(A+B)=cA + cB Untuk skalar c1 dan c2 dan vektor A di R2 atau R3 berlaku (c1+c2)A = c1A + c2A Untuk skalar c1 dan c2 dan vektor A, B di R2 atau R3 berlaku (c1c2)A = c1(c2A) Untuk skalar satuan 1 berlaku 1A = A untuk setiap A vektor di R2 ata R3

Sifat- sifat vektor Teorema Misalkan V adalah suatu ruang vektor, u adalah suatu vektor pada V, dan k adalah suatu skalar, maka: a. 0u = 0 b. k0 = 0 c. (-1)u = -u d. Jika ku = 0 , maka k = 0 atau u = 0

Kita akan membuktikan bagian (a) dan (c) dan meninggalkan bukti-bukti bagian yang lainnya sebagai latihan. Bukti (a). kita dapat menulis 0u + 0u = ( 0 + 0 ) u [ aksioma 8 ]
= 0u [ sifat dari bilangan 0 ]

Berdasarkan aksioma 5, vektor 0u memiliki bentuk negative, -0u. dengan menambahkan negatifnya ini pada kedua ruas diatas dan menghasilkan

[0u + 0u ] + (- 0u ) = 0u + ( -0u ) Atau 0u + [0u + (-0u ) ] = 0u + ( -0u ) [ aksioma 3] 0u +0 = 0 0u = 0 [ aksioma 5 ] [ aksioma 4 ]

Bukti (c). untuk menunjukkan (-1)u = -u, kami harus memperlihatkan bahwa u + (-1)u =0. Untuk melihat ini amati bahwa u + (-1)u = Iu + (-1)u [ aksioma 10 ] = (1 + (-1)) u [ aksioma 8 ] = 0u [ sifat dari bilangan ] =0 [ bagian (a) diatas ]

5.2 SubRuang ( Ruang Bagian)


Definisi: Suatu sub himpunan W dari suatu ruang vektor V disebut subruang dari V jika W itu juga merupakan sebuah ruang vektor dibawah penjumlahan dan perkalian skalar yang didefinisikan pada V.
Jika W adalah himpunan dari satu atau lebih vektor dari sebuah ruang vektor V, maka W adalah subruang dari V jika dan hanya jika kondisi-kondisi berikut berlaku 1) Jika u dan v adalah vektor-vektor pada W, maka u + v terletak di W 2) Jika k adalah sebarang skalar dan u adalah sebarang vektor pada W, ku berada di W

Kondisi-kondisi (1) dan (2) sering kita jelaskan dengan menyatakan bahwa W tertutup dibawah penambahan dan tertutup di bawah perkalian skalar. Bukti : jika W adalah subruang dari V, maka semua aksioma ruang vektor dipenuhi; khususnya Aksioma 1 dan Aksioma 6 berlaku. Tetapi dalam hal ini persis merupakan kondisi (1) dan kondisi (2). Setiap ruang vektor pada V mempunyai paling sedikit dua subruang. V sendiri adalah sebuah subruang, dan himpunan {0} yang terdiri dari vektor nol saja pada V yang merupakan sebuah subruang yang kita namakan subruang nol (zero subspace). Contoh: Misalkan W sebarang bidang yang melalui titik asal dan misalkan u serta V sebarang vektor pada W. maka u + v harus terletak pada W karena u + v adalah diagonal jajaran genjang yang ditentukan oleh u dan v (gambar 1) dan k u harus terletak pada W untuk sebarang skalar k karena ku terletak pada garis yang melalui u. jadi W adalah subruang dari R3.

Contoh Perlihatkan bahwa himpunan W dari semua matriks 2 x 2 yang mempunyai bilangan nol pada diagonal utamanya adalah subruang dari ruang vektor M22 dari semua matriks 2 x 2 Pemecahan.

0 a12 A= a 21 0

0 b12 B= b 21 0

Adalah seberang dua matriks pada W dan K adalah sebarang skalar. Maka

ka12 0 kA = 0 ka 21

dan

a12 + b12 0 A+B= 0 a 21 + b 21

Oleh karena kA dan A + B mempunyai bilangan nol pada diagonal utama, maka kA dan A + B terletak pada W. Jadi, W adalah subruang dari M22. Contoh: Vektor-vektor i = (1, 0, 0) j = (0, 1, 0) dan k = (0, 0, 1) merentang R3 karena setiap vektor (a, b, c) pada R3 dapat kita tuliskan sebagai : (a, b, c) = ai + bj + ck Teorema : jika Ax = 0 adalah suatu sistem linier homogen yang terdiri dari m persamaan dengan n factor yang tidak diketahui, maka himpunan vektor solusinya adalah suatu subruang dari Rn. Contoh: ruang solusi yang merupakan subruang R3 Perhatikan sistem-sistem linier berikut:

a)

Penyelesaian: Solusinya adalah x = 2s 3t , y = s , z = t Dimana selanjutnya x = 2y 3z , atau x 2y + 3z =0 Ini merupakan persamaan bidang yang melewati titik asal dengan n = (1, -2, 3) sebagai vektor normal. Definisi: Suatu vektor w disebut suatu kombinasi linier dari vektor vektor v1, v2, .vr jika dapat dinyatakan dalam bentuk w = k1v1 + k2 v2 . + kr.vr Dimana k1, k2,..,, kr adalah skalar. Teorema Merentang (spanning) : Jika v1, v2, .vr adalah vektorvektor pada ruang vektor V, maka: 1) Himpunan W dari semua kombinasi linear v1, v2, .vr adalah subruang V

2) W adalah subruang terkecil dari V yang mengandung v1, v2, .vr, adalah arti bahwa setiap subruang lain dari V yang mengandung v1, v2,.,vr harus mengandung W

Kombinasi linear vi, v2, ..vr, maka kita dapatkan subruang V. subruang tersebut kita namakan ruang linear terentang oleh {v1, v2, .vr}, atau dengan lebih sederhana kita namakan ruang terentang oleh {v1, v2,.vr} Bukti : a. Untuk memperlihatkan bahwa W adalah subruang V, kita harus membuktikan bahwa W tertutup dibawah penambahan dan perkalian skalar. Jika u dan v adalah vektor-vektor pada W, maka u = c1v1 + c2v2 + + crvr dimana c1, c2, .cr, k1, k2,kr adalah skalar. Maka, u + v = (c1k1)v1 + (c2 + k2)v2 + + (cr+kr)vr dan, untuk sebarang skalar k, ku = (kc1) v1 + (kc2) v2 + ..+ (kcr) vr jadi u + v dan ku adalah kombinasi-kombinasi linear v1, v2, vr, dan sebagai konsekuensinya maka u + v dan ku terletak di W sehingga W tertutup di bawah penambahan dan perkalian skalar. b. Setiap vektor vi adalah kombinasi-kombinasi v1, v2, ..vr, karenanya dapat kita tulis vi = 0v1+0v2 + ..+ 1vi + ..0vr oleh karena itu, subruang w mengandung setiap vektor v1, v2, .vr misalkan W1 adalah sebarang subruang lain yang mengandung v1, v2, .vr. karena W-1 tertutup di bawah penambahan dan perkalian skalar, maka W-1 harus mengundang semua kombinasi linear. c1v1 + c2v2 dari v1,v2,vr jadi, W1 mengandung setiap vektor W. contoh:

Diketahui vektor-vektor
4

= ( 1, 1, 0, 1) ,

= (2, 1, 1,1 ), dan

= (1, 1, 1, -1 ) ,

dalam R . Tunjukkan bahwa vektor , dan . Penyelesaian:

= (4, 3, 2, 1 ) merupakan kombinasi linier dari

Supaya menjadi kombinasi linier dari k2, k3 sehingga: = k1

, dan

, maka harus ada skalar k1, ,

, k2 , k3 , atau dengan kata lain

(4, 3, 2, 1 ) = k1 ( 1, 1, 0, 1) + k2 (2, 1, 1,1 ) + k3 (1, 1, 1, -1 ) Didapat tiga persamaan, yaitu:; 4 = k1 + 2 k2 + k3 3 = k1 + k2 + k3 2 = k2 + k3 1 = k1 + k2 - k3 Untuk k1 = k2 = k3 = 1, maka sebagai kombinasi linier dari , = 1 . + , ini artinya dapat disajikan

, dan

5.3 Kebebasan Linear


Ketahui bahwa ruang vektor V direntang oleh himpunan vektor S = [v1,

v2..vr] jika setiap vektor pada V adalah kombinasi linear, v1, v2..vr. dengan merentang himpunan tersebut akan berguna dalam berbagai soal, karena mungkin kita sering menelaah ruang vektor V dengan menelaah terlebih dahulu vektor-vektor dengan merentang himpunan S. dan kemudian dengan memperluas hasil-hasil tersebut pada bagian selebihnya dari V. maka, kita perlu mempertahankan perentangan himpunan S sekecil mungkin. Permasalahan untuk mendapatkan peretangan himpunan terkecil untuk ruang vektor bergantung pada pengertian kita mengenai kebebasan linear. Definisi. Jika S = {v1, v2..vr} adalah himpunan vektor, maka persamaan vektor. k1v1 + k2v2 + ..krvr = 0 Mempunyai paling sedikit satu pemecahan, yakni k1 = 0, k2 = 0, .kr = 0

Jika ini adalah satu-satunya pemecahan, maka S kita namakan himpunan bebas linier (linearly independen). Jika ada pemecahan lain, maka S kita namakan himpunan tak-bebas linier (linier dependent). Contoh : Himpunan vector-vektor , dimana v1= (2, -1, 0, 3), v2 = (1, 2, 5, -1), dan

v3 = (7, -1, 5, 8) adalah himpunan tak bebas linier, karena 3v1 + v2 v3 = 0. Contoh : Tinjaulah vektor-vektor i = (1, 0, 0), j = (0, 1, 0) dan k = (0, 0, 1) pada R3. Ruas komponen persamaan vector K1 i + k2 j + k3 k = 0 K1(1, 0, 0) + k2(0, 1, 0) + k3(0, 0, 1) = 0 Jadi , K1 = 0, k2 = 0 dan k3 = 0; sehingga himpunan S = (i, j, k) bebas linier. Uraian serupa dapat digunakan untuk memperlihatkan bahwa vector-vector e1 = (0, 0, 0, , 1), e2 = (0, 1, 0, 0, , 0), ,en = (0, 0, 0, ,0) membentuk himpunan bebas linier pada Rn. Contoh Tinjaulah vektor-vektor i = (1, 0, 0), j = (0, 1, 0), dan k = (0, 0, 1) pada R3 ruas komponen persamaan vektor Kii + 1 + k2v2 + ..krvr = 0 Menjadi k1 = (1, 0, 0), + k2 (0, 1, 0) + k3(0, 0, 1) = (0, 0, 0) atau secara ekivalen menjadi (k1, k2, k3) = (0, 0, 0) Jadi, k1 = 0, k2 = 0, k3 =0; sehingga himpunan S = (i, j, k) bebas linear. Uraian serupa dapat digunakan untuk memperlihatkan bahwa vektor-vektor e1 = (1, 0, 0,..0), e2 = (0, 1, 0, ..0),.,cn = (0, 0, 0,..1) membentuk himpunan bebas linear pada Rn. Teorema 6. Himpunan S dengan dua vektor atau lebih adalah:

a) Tak bebas linear jika dan hanya paling tidak satu diantara vektor S dapat dinyatakan sebagai kombinasi linear dari vektor S lainnya b) Bebas linear jika dan hanya jika tidak ada vektor S yang dapat dinyatakan sebagai kombinasi dalam linear dalam vektor S lainnya . Teorema: a) Jika sebuah himpunan mengandung vektor nol, maka himpunan itu takbebas linear b) Sebuah himpunan yang mempunyai persis dua vektor tak bebas jika bebas satu dari vektor itu adalah perkalian dari skalar lainnya. Contoh: Dalam R2 atau R3 satu vektor adalah kelipatan skalar dari vektor lainnya jika hanya jika kedua vektor yang terletak pada garis yang sama yang melalui titik asal ditempatkan pada titik awalnya melalui titik asal. Jadi, berikutnya dari bagian (b) dari teorema 7 bahwa dalam R2 dan R3 dua vektor yang berbentuk himpunan tak bebas linear adalah jika dan hanya jika vektor itu terletak pada garis yang sama melalui titik asal yang

ditempatkan pada titik awalnya melalui titik asal itu sendiri. Teorema 8. misalkan S = {v1, v2, .vr) adalah himpunan vektor-vektor pada Rn jika r > n, maka S tak bebas linear. Bukti. v1 = (v11, v12, .v1n) v2 = (v21, v22, .v2n) vr = (vr1, vr2, .vrn) tinjaulah persamaan kiv1 + k2v2 + ..krvr = 0 Interfretasi Geometris di R2, dua vektor dikatakan bebas linear jika dan hanya jika kedua vektor tersebut tidak berada pada garis yang sama bila titik awal keduanya ada pada origin

diR3, himpunan yang terdiri dari 3 vektor dikatakan bebas linear jika dan hanya jika vektor-vektor tersebut tidak berada pada bidang yang sama bila titik awal ketiga vektor tersebut berada pada origin

Contoh interpretasi geometric dari ketakbebasan linier dalam R2 Z V2 V1 y V2 y Z

V1

x x

V1

V2

Gambar 4.6 (a) takbebas linier, (b) takbebas linier, (C) bebas linier

5.4 Basis dan Dimensi


Definisi. Jika V adalah sebarang ruang vektor dan S = {V1, V2,.....Vr} merupakan himpunan berhingga dari vektor-vektor pada V, maka S kita namakan basis untuk V jika i. ii. S bebes linear; S merentang V

Contoh: Misalkan

1 0 0 1 0 0 0 0 M1 = M2 = M3 = M4 = 0 0 0 0 1 0 0 1
Himpunan S = {M1, M2, M3, M4} adalah sebuah basis untuk ruang vektor M22 dari matriksmatriks 2x2. Untuk melihat bahwa S merentang M22, perhatikan bahwa sebuah vektor khas (matriks).

a b c d
Dapat ditulis sebagai

a b 1 0 0 1 0 0 0 0 c d = a 0 0 0 0 1 0 0 1
= aM1 + bM2 + cM3 + dM4 Untuk melihat bahwa S bebas linear, anggaplah bahwa aM1 + bM2 + cM3 + dM4 = 0 yakni

1 0 a +b 0 0

0 1 0 0 + c

0 0 1 0 + d

0 0 0 0 0 1 = 0 0

a b 0 0 c d = 0 0
Jadi, a = b = c = d = 0 sehingga S bebas linear. Definisi : Sebuah ruang vektor taknol V dinamakan berdimensi berhingga (finite dimensional) jika ruang fektor tersebut mengandung sebuah himpunan berhingga dari vektor-vektor {V1,V2,...Vn} yang membentuk sebuah basis. Jika tidak ada himpunan seperti itu, maka V dinamakan dimensi tak berhingga (infinite dimensional), tambahan lagi, kita akan menganggap ruang vektor nol sebagai ruang vektor berdimensi berhingga

walaupun ruang vektor tersebut tidak mempunyai himpunan bebas linearm sehingga basispun tidak ada. Teorema 9. Jika S = {V1,V2,.Vn} adalah basis untuk ruang vektor V, maka setiap himpunan dengan lebih dari n vektor adalah tak terbebas linear Bukti . Misalkan S= {W1, W2,.Wm} adalah sebarang himpunan m vektor pada V, dimana m>n. Kita ingin memperlihatkan bahwa S tak bebas linear. Karena S = {V1,V2.Vn} adalah sebuah basis maka setiap w dapat dinyatakan sebagai kombinasi linear dari vektorvektor S, katakanlah, w1 = a11v1 + a21v2 +an1vn w1 = a12v1 + a22v2 +an1vn

wm = a1mv1 + a2mv2 +anmvn Untuk memperlihatkan bahwa S tak bebas linear, maka kita harus cari skalar-skalar K1,K2Km, yang tidak semuanya nol, sehingga k1w1 + k2v2 +.kmwm = 0 Teorema 10. Sebarang dua basis untuk ruang vektor berdimensi berhingga mempunyai jumlah vektor yang sama. Bukti. :Misalkan S = {V1,V2.Vn} dan S {W1, W2,.Wm} adalah dua basis untuk sebuah ruang vektor V yang berdimensi berhingga. Karena S adalah sebuah basis dan S adalah himpunan basis linear, maka teorema 9 menunjukkan bahwa mn. Demikian juga, karena S adalah sebuah basis dan S bebas linear, kita juga memperoleh nm. maka m=n. Definisi. Dimensi sebuah ruangan vektor V yang berdimensi berhingga didefinisikan sebagai banyaknya vektor pada basis untuk V. Tambahan lagi, kita mendefinisikan ruang vektor nol mempunyai dimensi nol. Contoh Tentukanlah basis dan dimensi untuk ruang pemecahan dari sistem homogen.

2x1 + 2x2 - x3 + x5 = 0 - x1 - x2 + 2x3 - 3x4 + x5 = 0 x1 + x2 - 2x3 - x5 = 0 x3 + x4 + x5 = 0 Pemecahan. Pada contoh x1 = s 1, x2 = s, x3 = -t, x4 = 0, x5 = t, Sehingga vektor-vektor pemecahan tersebut dapat dituliskan sebagai

x1 s t s t 1 1 x s s 0 1 0 2 x 3 = t = 0 + t = 0 + 1 x 4 0 0 0 0 0 t 0 t 0 1 x5
Yang memperlihatkan bahwa vektor-vektor

1 1 0 0 v1 = 0 dan v 2 = 1 0 0 0 1
Teorema a) Jika S = {V1,V2.Vn} adalah sebuah himpunan n vektor bebas linear pada sebuah ruang V yang berdimensi n, maka S adalah sebuah basis untuk V. b) Jika S = {V1,V2.Vn} adalah sebuah himpunan n vektor yang merentang ruang V yang berdimensi n, maka S adalah basis untuk V c) Jika S = {V1,V2.Vr} adalah sebuah himpunan bebas linear pada ruang V yang berdimensi n dan r < n, maka S dapat diperbesar menjadi basis untuk V, yakni vektor-vektor {Vr,1.Vn} sehingga {V1,V2.{Vr,Vr +1,Vn} adalah sebuah basis untuk V.

DAFTAR PUSTAKA

Rorres, Anton. 2004. Aljabar Liniar Elementer versi kedelapan, jilid 1, Erlangga, Jakarta

aplikasi edisi

Heri Purwanto, Gina Indriani, Erlina Dayanti. 2005. Aljabar Linier. PT Ercontara Rajawali; Jakarta Santosa, R.Gunawan. 2008. Aljabar Linier Dasar, ANDI ; Jogjakarta. Anton.H. 1988. Elementary liniear Algebra. John Wiley dan Sons Inc. Sutojo,T.DKK. .2009.Teori dan aplikasi aljabar linier dan matriks, C.V. Andi Ofsset, Jogjakarta