Anda di halaman 1dari 25

Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras

i
Kata Pengantar



Pertama sekali kami ingin menyampaikan puji dan syukur kehadirat Allah SWT,
yang mana dengan rahmat dan hidayah-Nya telah menolong kami menyelesaikan
makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penulis tidak
akan sanggup menyelesaikan kertas kerja ini dengan baik yang mana merupakan tugas
dari mata kuliah Anak Berkebutuhan Khusus semester 6, tahun ajaran 2012/2013.

Tujuan utama dari pembuatan kertas kerja ini adalah untuk menjelaskan secara
gamblang kepada pembaca tentang Anak Tuna Laras. Kertas kerja ini berisikan hasil
wawancara kelompok kami dengan salah seorang anak tuna laras yang berada di
simpang Aksara. Tujuannya ialah agar pembaca mendapatkan pemahaman yang jelas
tentang pengertian, karakteristik, dan spesifikasi dari anak tuna laras.

Namun begitu, kami menyadari bahwasanya kertas kerja ini masih jauh dari
sempurna. Kami mengakui keterbatasan dan ketidakmapuan kami, dan oleh karena itu,
kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan kertas
kerja ini.

Akhir sekali, kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada semua orang yang
telah memberikan kerjasama sepenuhnya dalam penyusunan kertas kerja ini, serta
gagasan dan koreksi yang sangat membantu. Kami juga tak lupa mengucapkan terima
kasih yang seikhlas-ikhlasnya kepada Drs. Bapak Maryono, sebagai dosen
pembimbing dalam mata kuliah Anak Berkebutuhan Khusus.


Penulis,
20 May, 2013

Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



1

BAB 1:
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Anak-anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang memiliki keunikan
tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, yang membedakan mereka dari anak-anak
normal pada umumnya. Keadaan inilah yang menuntut pemahaman terhadap hakikat
anak berkebutuhan khusus. Membicarakan anak-anak berkebutuhan khusus,
sesungguhnya banyak sekali variasi dan derajat kelainan. Ini mencakup anak-anak yang
mengalami kelainan fisik, mental-intelektual, sosial-emosional, maupun masalah
akademik. Yang termasuk kedalam kategori anak berkebutuhan khusus (ABK) antara
lain: tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, tuna laras, kesulitan belajar,
gangguan prilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan, anak autis, anak
hiperaktif (ADHD/Attention Deficit with Hiperactivity Disorder), dan lain-lain.
Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB)
sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLBbagian A untuk tunanetra, SLB
bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untu dan k
tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.
Sebelumnya anak tuna laras sedikit sekali di ekspos media, maka dari itu
sangat sedikit sekali orang mengetahui tentang anak-anak tersebut. Anak-anak tersebut
jika kita melihat tentunya sama dengan anak-anak yang biasa tetapi yang
membedakannya hanya tingkah lakunya yang luar biasa nakal, tiada ciri fisik khusus
yang membedakannya dengan anak lainnya. Oleh karena itu dalam makalah ini, penulis
ingin membahas tentang anak tuna laras.
Ruang lingkup masalah dalam makalah ini, yaitu definisi anak tuna laras, jenis
dan karakteristik dari anak tuna laras, dan metode yang tepat untuk anak berkebutuhan
khusus.
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk menjelaskan definisi anak tuna
laras, mengidentifikasi jenis dan karakteristik dari anak tuna laras, dan menjelaskan
strategi yang tepat untuk mengatasi permasalahan anak tuna laras tersebut.
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



2


BAB 2:
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tuna Laras
Istilah Tuna Laras berasal dari kata tuna dan laras. Tuna berarti kurang,
sedangkan laras berarti sesuai. Jadi anak tunalaras anak yang bertingkah laku kurang
sesuai dengan linkungan. Anak tuna laras tidak sama dengan anak yang mengalami
kerusakan pendengaran atau penglihatan. Mereka ini menyadari apa yang terjadi pada
dirinya yaitu kehilangan pendengaran atau penglihatan. Berbeda halnya dengan anak
tunalaras, yang mengalami gangguan bukan pada fisiknya melainkan pada prilaku yang
wujudnya tidak diharapkan oleh lingkungannya. Perilakunya sering bertentangan
dengan norma-norma yang terdapat didalam masyarakat tempat ia berada. Tingkah
lakunya sering membuat orang menjadi marah, karena merasa terganggu atau dirugikan,
sehingga tidak jarang mereka terpaksa berhubungan dengan polisi, kepala sekolah
bahkan dengan pengadilan.
Umumnya anak tuna laras tidak bahagia dengan dirinya dan tidak popular
dilingkungan teman-temannya serta tidak berhasil disekolah. Sering mereka berselisih
dengan lingkungan karena tingkah laku yang tidak terkendali dan sangat mengganggu
seperti tingkah laku yang agresif, hiperaktif, menutup diri dan tidak peduli dengan
lingkungannya, serta sering melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma yang
ada dimasyarakat.
Di masyarakat kita banyak istilah untuk memberikan label kepada anak tuna
laras. Istilah yang digunakan biasanya tergantung pada sudut pandang keilmuan yang
mereka geluti, misalnya : guru pada umumnya, akan menyebut anak sulit diatur, anak
sukar, anak nakal; guru pendidikan luar biasa (PLB), menyebut anak tuna laras; pekerja
sosial (social worker), menyebutnya anak social maladjustment; ahli psikologi
(psikolog), anak terganggu emosi atau anak terhambat emosi; ahli hukum (Lawyer),
menyebut juvenile deliquence, anak nakal, anak pelanggar hukum. Orang tua dan
masyarakat awam, biasanya menyebut anak nakal, anak keras kepala, anak jahat, dan
sebagainya.
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



3

Samuel A. Kirk menyatakan bahwa anak tuna laras adalah mereka yang
terganggu perkembangan emosi, menunjukan adanya konflik dan tekanan batin,
menunjukan kecemasan, penderita neorotis atau bertingkah laku psikotis. Dengan
terganggunya aspek emosi dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain atau
lingkungannya. Lebih lanjut Kirk menjelaskan, tuna laras adalah suatu tingkah laku
yang tidak sesuai dengan culture permissive atau menurut norma-norma keluarga,
sekolah, dan masyarakat luas.
Hal ini sejalan dengan UU-RI No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional junto PP No.72 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa, yang berbunyi : Tuna
laras adalah gangguan atau hambatan atau kelainan tingkah laku sehingga kurang dapat
menyesuaikann diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Menurut Nelson (1981) : Seorang anak dikatakan tunalaras, apabila tingkah laku
mereka menimpang dari ukuran menurut norma usia dan jenis kelaminnya, dilakukan
dengan frekwensi dan intensitas relative tinggi, serta dalam waktu yang relative lama.
Sedangkan Maud A. Merril mengemukakan, bahwa seseorang anak digolongkan tuna
laras (nakal) apabila tingkah laku mereka ada kecenderungan-kecenderungan anti sosial
yang memuncak dan menimbulkan gangguan-gangguan, sehingga yang berwajib
terpaksa mengambil tindakan dengan jalan menangkap dan mengasingkannya.
Berdasarkan dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa, anak
tuna laras adalah anak yang secara kondisi dan terus menerus menunjukan
penyimpangan tingkah laku pada tingkat berat dan mempengaruhi proses belajar dan
bimbingan seperti halnya anak lain. Ketidakmampuan menjalin hubungan baik dengan
orang lain dan gangguan belajarnya tidak disebabkan oleh kelainan fisik, syaraf, atau
intelegensi.

2.2. Klasifikasi Anak Tuna Laras
Klasifikasi yang dimaksud disini ialah penggolongan anak tuna laras atas jenis
penyimpangan perilakunya, sifat-sifat khas dari setiap golongan, dan taraf berat
ringannya ketunalarasan seorang anak. Setiap orang dapat menyatakan seorang anak
menyimpang tingkah lakunya dari anak yang normal, tetapi tidak banyak yang
mengetahui, berapa macam jenis ketunalarasan itu, apa ciri-cirinya, dan seberapa berat
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



4

ketunalarasan yang dialami seseorang. Bila diperhatikan dengan cermat tingkah laku
anak-anak, baik di rumah, di sekolah ataupun di masyarakat luas, dapat beraneka ragam
tingkah laku yang mereka tunjukkan. Ada anak yang diam dan malu, tak suka bergaul
dengan teman sebayanya, ada pula yang ribut suaranya, seolah-olah minta diperhatikan
terus, dan ada pula yang sibuk mengganggu temannya, dan tak pernah duduk diam
ditempatnya dan sebagainya.
Menurut Hallahan dan Kauffman (1986), kenyataannya banyak sekali hal-hal
dapat menyebabkan anak terjadi tunalaras, karena itu anak tunalaras dapat diklasifikan
sesuai dengan masalah yang dialaminya. Tetapi belum ada kesepakatan mengenai
sistem untuk menetapkan pengklasifikasian tersebut disebabkan beberapa masalah,
antara lain :
a. Kurangnya realibitas dan validitas system klasifikasi. Klasifikasi
ketunalarasan itu sering berubah-ubah sesuai dengan siapa orang yang
membuat klasifikasi tersebut
b. Kebanyakan orang tua menduga-duga saja mengapa anak menjadi anak yang
tunalaras
c. Pertimbangan yang berdasarkan Undang-undang.
Selanjutnya, pengklasifikasian anak tuna laras banyak ragamnya di antaranya
sebagai berikut:
1. Klasifikasi yang dikemukakan oleh Rosembra dkk. (1992).
Anak tuna laras dapat dikelompokkan atas tingkah laku yang beresiko tinggi dan
yang beresiko rendah. Diantara yang beresiko tinggi yaitu: hiperaktif, agresif,
pembangkang, delinkuensi dan anak yang menarik diri dari pergaulan social.
Sedangkan yang beresiko rendah yaitu autism dan skizofrenia.
Secara umum anak tuna laras menunjukkan ciri-ciri tingkah laku yang ada
persamaannya pada setiap klasifikasi, yaitu kekacauan tingkah laku, kecemasan
dan menarik diri, kurang dewasa, dan agresif. Selain pembagian diatas, masih
banyak tingkah laku anak-anak yang dapat digolongkan tuna laras yang belum
mendapat layanan khusus, misalnya anak merasa bahagia bila melihat api karena
ingin selalu membakar saja, anak yang suka meninggalkan rumah,
penyimpangan seks, dan sebagainya.
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



5

2. System klasifikasi kelainan perilaku yang dikemukakan oleh Quay, adalah
sebagai berikut:
- Anak yang mengalami gangguan perilaku yang kacau (conduct disorder)
mengacu pada tipe anak yang melawan kekuasaan, seperti bermusuhan
dengan polisi dan guru, kejam, jahat, suka menyerang, hiperaktif.
- Anak yang cemas-menarik diri (anxious-withdraw) adalah anak yang
pemalu, takut-takut, suka menyendiri, peka, dan penurut. Mereka
tertekan batinnya.
- Dimensi ketidakmatangan (immaturity) mengacu kepada anak yang tidak
ada perhatian, lambat, tidak berminat sekolah, pemalas, suka melamun
dan pendiam. Mereka mirip seperti anak autistic.
- Anak agresi sosialisasi (socialized-aggressive) mempunyai ciri atau
masalah perilaku yang sama dengan gangguan perilaku yang
bersosialisasi dengan gang tertentu. Anak tipe ini termasuk dalam
perilaku pencurian dan pembolosan. Mereka merupakan suatu bahaya
bagi masyarakat umum.
Muhammad Efendi dalam bukunya menuliskan, dilihat dari sumber pemicu
tumbuhnya perilaku menyimpang pada anak tunalaras dapat diklasifikasikan menjadi:
(1) penyimpangan tingkah laku ekstrem sebagai bentuk kelainan emosi, dan (2)
penyimpangan tingkah laku sebagai bentuk kelainan penyesuaian sosial. Beberapa
bentuk kelainan perilaku atau ketunalarasan yang dikategorikan kesulitan penyesuaian
perilaku sosial (social maladjusted) dan kelainan emosi (emotional disturb), dapat
diuraikan sebagai berikut:
1) Anak kesulitan penyesuaian sosial dapat dikelompokkan menjadi:
Anak agresif yang sukar bersosialisasi adalah anak yang benar-benar
tidak dapat menyesuaikan diri, baik di lingkungan rumah, sekolah,
maupun teman sebaya. Sikap ini dimanifestasikan dalam bentuk
memusuhi otoritas (guru, orang tua, polisi), suka balas dendam,
berkelahi, senang curang, mencela, dan lain-lain.
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



6

Anak agresif yang mampu bersosialisasi adalah anak yang tidak dapat
menyesuaikan diri di lingkungan rumah, sekolah, ataupun masyarakat,
tetapi mereka masih memiliki bentuk penyesuaian diri yang khusus,
yaitu dengan teman sebaya yang senasib (gang). Sikap anak tipe ini
dimanifestasikan dalam bentuk agresivisme, memusuhi otorita, setia
pada kelompok, ska melakukan kejahatan pengeroyokan serta
pembunuhan.
Anak yang menutup diri berlebihan (over inhibited children) adalah anak
yang tidak dapat menyesuaikan diri karena neurosis. Sikap anak tipe ini
dimanifestasikan dalam bentuk over sensitive, sangat pemalu, menarik
diri dari pergaulan, mudah tertekan, rendah diri, dan lain-lain.

2) Anak kelainan emosi, ekspresi wujudnya ditampakkan dalam bentuk:
Kecemasan mendalam tetapi kabur dan tidak menentu arah kecemasan
yang dituju (anxiety neurotic). Kondisi ini digunakan sebagai alat untuk
mempertahankan diri melalui represi.
Kelemahan seluruh jasmani dan rohani yang disertai dengan berbagai
keluhan sakit pada beberapa bagian badannya (astenica) yang sukar
diselesaikan. Alat untuk mempertahankan diri dari kondisi ini melalui
penarikan diri dari pergaulan.
Gejala yang merupakan tantangan balas dendam karena adanya
perlakuan yang kasar (hysterica konversia). Kondisi ini terjadi akibat
perlakuan kasar yang diterima sehingga ia juga akan berlaku kasar
terhadap orang lain sebagai balas dendam untuk kepuasan dirinya.

Walaupun karakteristik anak tunalaras sosial dan tunalaras emosi ada perbedaan
jika dilihat muara tumbuh kembangnya, namun dilihat dari wujud perilaku yang
ditampakkan keduanya menunjukkan gejala perilaku yang serupa, yaitu
ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.


Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



7

2.3 Karakteristik Anak Tuna Laras
Karakteristik yang dikemukakan oleh Hallahan & Kauffman (1986), berdasarkan
dimensi tingkah laku anak tunalaras adalah sebagai berikut.
1. Anak yang mengalami kekacauan tingkah laku, memperlihatkan ciri-ciri: suka
berkelahi, memukul, menyerang, mengamuk membangkang, menantang,
merusak milik sendiri atau milik orang lain, kirang ajar, lancang, melawan, tidak
mau bekerja sama, tidak mau memperhatikan, memecah belah, rebut, tidak bias
diam, menolak arahan, cepat marah, menganggab entengg, sok aksi, ingin
menguasai orang lain, mengancam, pembohong, tidak dapat dipercaya, suka
berbicara kotor, cemburu, suka bersoal jawab, tak sanggub berdikari, mencuri,
mengejek, menyangkal, berbuat salah, egois, dan mudah terpengaruh untuk
berbuat salah.
2. Anak yang sering merasa cemas dan menarik diri, dengan ciri-ciri khawatir,
cemas, ketakutan, kaku, pemalu, segan, menarik diri, terasing, tak berteman, rasa
tertekan, sedih, terganggu, rendah diri, dingin, malu, kurang percaya diri, mudah
bimbang, sering menangis, pendiam, suka berahasia.
3. Anak yang kurang dewasa, dengan ciri-ciri, yaitu pelamun, kaku, berangan-
angan, pasif, mudah dipengaruhi, pengantuk, pembosan, dan kotor.
4. Anak yang agresif bersosialisasi, dengan ciri-ciri, yaitu mempunyai komplotan
jahat, mencuri bersama kelompoknya, loyal terhadap teman nakal, berkelompok
dengan geng, suka diluar rumah sampai larut malam, bolos sekolah, dan minggat
dari rumah.
Berikut ini akan dikemukakan karakteristik yang berkaitan dengan segi
akademik, sosial/emosional, dan fisik/kesehatan dari anak tunalaras:
Karakteristik Akademik
Kelainan perilaku akan mengakibatkan adanya penyesuaian social dan sekolah
yang buruk. Akibat penyesuaian yang brurk tersebut maka dalam belajarnya
memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut:
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



8

1. Pencapaian hasil belajar yang jauh dibawah rata-rata
2. Seringkali dikirim ke kepala sekolah atau ruangan bimbingan untuk tindakan
discipliner.
3. Seringkali tidak naik kelas atau bahkan ke luar sekolahnya
4. Sering kali membolos sekolah
5. Lebih sering dikirim ke lembaga kesehatan dengan alasan sakit, perlu istirahat
6. Anggota keluarga terutama orang tua lebih sering mendapat panggilan dari
petugas kesehatan atau bagian absensi
7. Orang yang bersangkutan lebih sering berurusan dengan polisi
8. Lebih sering menjalani masa percobaab dari yang berwenang
9. Lebih sering melakukan pelanggaran hokum dan pelanggaran tanda-tanda lalu
lintas
10. Lebih sering dikirim ke klinik bimbingan
Karakteristik Sosial/Emosional
+ Karakteristik sosial
1. Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain, dengan ciri-ciri:
perilaku tidak diterima oleh masyarakat dan biasanya melnggar norma
budaya, dan perilaku melanggar aturan keluarga, sekolah, dan rumah tangga.
2. Perilaku tersebut ditandai dengan tindakan agresif, yaitu tidak mengikuti
aturan, bersifat mengganggu, mempunyai sikap membangkang atau
menentang, dan tidak dapat bekerja sama.
+ Karakteristik emosional
1. Adanya hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, seperti tekanan
batin dan rasa cemas.
2. Adanya rasa gelisah, seperti rasa malu, rendah diri, ketakutan, dan sangat
sensitive atau perasa.
Karakteristik Fisik/Kesehatan
Karakteristik fisik/kesehatan anak tunalaras ditandai dengan adanya gangguan
makan, gangguan tidur, dan gangguan gerakan (tik). Seringkali anak merasakan ada
sesuatu yang tidak beres pada jasmaninya, ia mudah mendapat kecelakaan, merasa
cemas terhadap kesehatannya, merasa seolah-olah sakit. Kelainan lain yang berwujud
kelainan fisik, seperti gagap, buang air tidak terkendali, sering mengompol dan jorok.
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



9

2.4 Faktor-Faktor Penyebab Ketunalarasan
Penelitian tentang penyebab terjadinya kelainan perilaku atau ketunalarasan
telah banya dilakukan. Secara umum penyebab terjadinya ketunalarasan dapat
diklasifikasikan, yaitu:
1) Faktor penyebab bersifat internal adalah: faktor-faktor yang langsung berkaitan
dengan kondisi individu itu sendiri, seperti keturunan, kondisi fisik dan psikisnya.
Kondisi/Keadaan Fisik
Telah banyak tulisan maupun penelitian yang mengupas masalah
kondisi/keadaan fisik dalam kaitannya dengan masalah gsangguan tingkah laku,
baik yang merupakan akibat langsung maupun yang tidak langsung. Ada sementara
ahli yang meyakini bahwa disfungsi kelenjar endokrin dapat mempengaruhi
timbulnya tingkah laku, atau dengan kata lain kelenjar endokrin berpengaruh
terhadap respon emosional seseorang.
Bahkan dari hasil penelitiannya, Gunzburg menyimpulkan bahwa disfungsi
kelenjar endokrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar
endokrin ini mengeluarkan hormon yang mempengaruhi tenaga seseorang. Bila
terus-menerus fungsinya mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya
perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap
perkembangan wataknya.
Kondisi fisik ini dapat berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun
sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami
seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan baik
berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya.
Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negatif dari
lingkungan. Sebagai akibatnya, timbul perasan rendah diri, perasaan tidak
berdaya/tidak mampu, mudah putus asa, dan merasa tidak berguna sehingga
menimbulkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau
sebaliknya, memperlihatkan tingkah laku agresif, atau bahkan memanfaatkan
kelainannya untuk menarik belas kasihan lingkungan.
Dengan demikian jelaslah bahwa kondisi/keadaan fisik yang dinyatakan
secara langsung dalam ciri-ciri kepribadian atau secara tidak langsung dalam reaksi
menghadapi kenyataan memiliki implikasi bagi penyesuaian diri seseorang.
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



10

Masalah Perkembangan
Erikson (dalam Gunarsa, 1985) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase
perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis
emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh
kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai
perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi mengatasi krisis ini, maka
perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga individu dapat mnyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Sebaliknya apabila individu tidak berhasil
menyelesaikan masalah tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan
tingkah laku. Konflik emosi ini terutama terjadi pada masa kanak-kanak dan
pubertas.
Adapun ciri yang menonjol pada masa kritis ini adalah sikap menentang dan
keras kepala. Kecenderungan ini disebabkan oleh karena anak yang sedang
menemukan aku-nya. Anak jadi marasa tidak puas dengan otoritas lingkungan
sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-ledak, misalnya: marah, menentang,
memberontak, dan keras kepala.
Keturunan
Model konseptual dalam pendekatan biologi memandang bahwa apa yang
dimiliki anak berkaitan dengan faktor genetik (Hallahan & Kauffman, 1991).
Faktor genetik memberikan konstribusi terhadap kondisi Schizophrenia (Plomin,
1989). Walaupun demikian, untuk gangguan perilaku dalam kategori sedang dan
berat secara spesifik tetap masih dalam misteri. Contoh anak autisme adalah
bentuk kekacauan neurologis, tetapi penyebab kelainan neurologis tersebut tidak
dapat diketahui (Hallahan & Kauffman, 1991).
Salah satu hasil penelitian spektakuler di bidang biologi tentang rekayasa
genetika telah dibuat Mendell. Hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa
keturunan mempunyai peranan kuat dalam meahirkan generasi
berikutnya.implementasi teori tersebut dalam identifikasi ketunalarasan bahwa
keturunan memberikan banyak bukti bayi yang dilahirkan dalam keadaan abnormal
berasal dari keturunan yang abnormal pula. Keabnormalan perilaku menyimpang
yang dilakukan oleh orang tuanya memberikan konstribusi ketunalarasan kepada
generasi berikutnya (Patton, 1991).
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



11

Faktor Psikologis
Meier dalam penelitiannya, menghubungkan antara variabel frustasi dengan
perilaku abnormal memperoleh kesimpulan bahwa seorang yang mengalami
kesulitan memecahkan persoalan akan menimbulkan perasaan frustasi. Akiat
frustasi tersebut akan timbul konflik kejiwaan. Bagi individu yang memiliki
stabilitas kepribadian yang baik, konflik psikologis tersebut dapat diselesaikan
dengan baik. Namun, bagi mereka yang memiliki kepribadian neurotik, konflik
tersebut tidak dapat diselesaikan dengan baik. Akibatnya, timbul perilaku
menyimpsng sebagai defence mechanism. Perilaku-perilaku tersebut diantaranya
agresivisme (suka memberontak, mencela, memukul, merusak), regresivisme
(perilaku yang kekanak-kanakan), resignation (perilaku yang kehilangan arah
karena ketidakmampuan mewujudkan keinginannya karena tekanan otoritas).
Faktor Biologis
Hubungan faktor biologis secara khusus dengan keadaan kelainan perilaku
dan emosi sangat jarang ditemukan, sebab kelainan perilaku dan kelainan emosi
tidak dapat dideteksi melalui kerusakan biologis. Adakalanya perilaku anak
termasuk normal, tetapi yang bersangkutan mengalami kerusakan biologis serius;
dan sebaliknya anak secara fisik normal , tetapi menunjukkan gangguan emosi dan
perilaku secara serius. Hal yang pasti adalah anak lahir dengan kondisi fisik
biologis tertentu akan menentukan style perilaku (temperamen). Anak yang
mengalami kesulitan menempatkan temperamennya, akan memberikan
kecenderungan untuk berkembangnya kondisi kelainan perilaku dan emosi. Faktor-
faktor yang memberikan konstribusi terhadap buruknya temperamen seseorang
antara lain penyakit, malnutrisi, trauma otak (Hallahan & Kauffman, 1991).
Dari pemeriksaan electro encephalogram (EEG) ditemukan, bahwa hasil
EEG dari anak-anak yang melakukan perbuatan menyimpang ada kelainan. Pada
orang dewasa kelainan EEG diketahui pada orang-orang yang telah melakukan
perbuatan kriminal. Kelainan hasil EEG tersebut merupakan indikasi jika salah
satu bagian otak mengalami kerusakan (brain damage), secara fisiologis fungsi
otak tersebut menjadi kurang/ tidak sempurna (brain disfunction). Selain itu,
kelainan pada kelenjar hyperthyroidmenyebabkan anak sukar menyesuaikan diri
dan mengalami gangguan emosi.
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



12


2). Faktor penyebab yang bersifat eksternal adalah: faktor-faktor yang bersifat di
luar individu terutama lingkungan, baik lingkungan keluarga, masyarakat, dan
sekolah.
Faktor Psikososial
Tidak semua ketunalarasan timbul dari perasaan frustasi ekibat pertentangan
antara kemauan anak dengan kepentingan lingkungan, pengalaman masa kanak-
kanak di rumah, kondisi sosial ekonomi di lingkungannya. Sigmund Freud melaui
psikoanalisisnya menjelaskan bahwa ketunalarasan disebabkan pengalaman anak
pada usia awal. Pengalaman tidak menyenangkan pada usia awal mengakibatkan
anak menjadi tertekan dan secara tidak disadari berpengaruh pada penyimpangan
perilaku. Pengalaman anak di rumah seperti kualitas hubungan antara ayah, ibu,
serta saudara sekandungnya memberikan pengaruh yang besar pada perilaku anak.
Hubungan interaksional dan transaksional menyebabkan saling memengaruhi
antara anak dengan orang tua, sehingga jika pada anak terdeteksi mengalami
masalah kelainan perilaku dapat dialamatkan pada orang tuanya (Sameroff, Steifer,
Zax, 1982). Orang tua yang lemah dalam menegakkan disiplin anak, yang ditandai
dengan penolakan, bermusuhan, kekejaman, dapat menumbuhkan perilaku yang
menyimpang seperti agresif atau kejahatan lainnya (Hallahan & Kauffman, 1991).
Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah peletak dasar perasaan aman (emitional security) pada anak,
dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan
dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar
perasaan aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menimbulkan gangguan
emosi dan tingkah laku pada anak. Faktor yang terdapat dalam keluarga yang
berkaitan dengan ganguan emosi dan tingkah laku, diantaranya yaitu:
a. Kasih sayang dan perhatian
Kasih sayang dan perhatian orang tua dan anggota keluarga lain sangat
dibutuhkan oleh anak. Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua
mengakibatkan anak mencarinya diluar rumah. Dia bergabung dengan
kawan-kawanya dan membentuk suatu kelompok anak yang merasa
senasib. Mengenai hal ini Sofyan S. Willis (1981) mengemukakan bahwa
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



13

mereka berkelompok untuk memenuhi kebutuhan yang hampir sama,
antara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang tua dan masyarakat.
Selain sikap diatas, tidak jarang diantara orang tua justru memberikan
kasih sayang, perhatian, dan bahkan perlindungan yang berlebihan. Sikap
memanjakan menyebabkan ketergantungan pada anak sehingga jika anak
mengalami kegagalan dalam mencoba sesuatu ia lekas menyerah dan
merasa kecewa, sehingga pada akhirnya akan timbul rasa tidak percaya
diri/rendah diri pada anak.
b. Keharmonisan keluarga
Berdasarkan hasil studinya, Hetherington (dalam Kirk & Gallagher, 1986)
menyimpulkan bahwa hampir semua anak yang mengalami perceraian
orang tua mengalami masa peralihan yang sangat sulit. Orang tua yang
sering berselisih paham dalam menerapkan peraturan atau disiplin dapat
menimbulkan keraguan pada diri anak akan kebenaran suatu norma,
sehingga anak akhirnya mencari jalan sendiri dan hal ini dapat saja
menjadi awal dari terjadinya gangguan tingkah laku.
c. Kondisi ekonomi
Lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu
penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan anak, padahal seperti kita ketahui
pada diri anak timbul keinginan-keinginan untuk dapat menyamai
temannya yang lain, misalnya: dalam berpakaian, kebutuhan akan
hiburan, dan lain-lain. Tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut dalam
keluarga dapat mendorong anak mencari jalan sendiri yang kadang-
kadang mengarah pada tindakan antisosial. G.W. Bawengan (1977)
menyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran
secara relatif dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan
pencurian, penipuan, dan perilaku menyimpang lainnya.
Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua bagi anak setelah
keluarga. Tanggung jawab sekolah tidak hanya sekedar membekali anak didik
dengan sejumlah ilmu pengetahuan, tetapi sekolah juga bertanggung jawab
membina kepribadian anak didik sehingga menjadi individu dewasa yang
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



14

bertanggung jawab baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap masyarakat yang
lebih luas. Akan tetapi sekolah tidak jarang menjadi penyebab timbulnya gangguan
tingkah laku pada anak seperti dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam
rangka membina anak didik kearah kedewasaan, kadang-kadang sekolah juga
penyebab dari timbulnya kenakalan remaja.
Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah
antara lain disebabkan dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan fasilitas
penunjang yang dibutuhkan anak didik. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan
anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran. Anak lebih memilih
membolos dan berkeluyuran pada saat ia seharusnya berada dalam kelas.
Sebaliknya, sikap guru yang terlampau lemah dan membiarkan anak didiknya tidak
disiplin mengakibatkan anak didik berbuat sesuka hati dan berani melakukan
tindakan yang menentang peraturan.
Beberapa aspek berkaitan dengan sekolah yang dapat menyebabkan
terjadinya ketunalarasan antara lain hubungan sosial guru dan murid yang krang
harmonis, tuntutan kurikulum yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan
anak, hubungan antarteman sebaya yang kurang baik (Moerdiani, 1987), kurang
perhatian guru tentang hal-hal yang bersifat positif dan konstruktif, kurangnya
sarana dan prasarana pengembangan kreativitas, aktivitas. Disiplin sekolah yang
longgar, terlalu kaku, tidak konsisten, pembelajaran yang mengorbankan
keterampilan anak untuk mengembangkan imajinasi benar dan salah, lingkungan
sekolah yang tidak memberikan pengalaman dan perhatian khusus pada anak,
merupakan determinan yang dapat memunculkan kelainan perilaku dan emosi pada
anak (Hallahan & Kauffman, 1991).
Selain guru, fasilitas pendidikan juga berpengaruh pula terhadap terjadinya
gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas pendidikan
berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang
mempunyai fasilitas yang dibutuhkan anak didik utuk menyalurkan bakat dan
mengisi waktu luang mengakibatkan anak menyalurkan aktivitasnya pada hal-hal
yang kurang baik. Misalnya: karena tidak ada tempat untuk bermain, anak
berkeliaran di tempat-tempat umum sehingga anak-anak mengabaikan waktu
belajarnya.

Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



15

Lingkungan Masyarakat
Lingkungan tempat anak berpijak sebagai makhluk sosial adalah masyarakat.
Menurut Bandura, salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola perilaku anak
dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu menirukan perilaku orang lain.
Disamping pengaruh-pengaruh yang bersifat positif, di dalam lingkungan
masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negatif
ditambah hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan
sumber terjadinya kelainan tingkah laku. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar
dimana berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang tak tersaring oleh budaya
lokal.
Contoh hasil studi tentang ekspresi perilaku agresif orang dewasa kepada
boneka yang ditayangkan melalui dua versi film (model hidup dan kartun).
Hasilnya ternyata kedua kelompok anak yang menonton film tersebut menunjukkan
sama agresifnya terhadap boneka. Dalam penelitian lain yang membandingkan dua
versi film berbeda (film kartun bertema kekerasan dan tanpa kekerasan), hasilnya
tenyata anak yang menonton film kartun tema kekerasan lebih agresif dalam
enteraksinya dengan temannya, dan anak yang menonton film kartun tanpa
kekerasan tidak menunjukkan perubahan dalam agresi interpersonal (Coby, 1985;
Atkinson, 1999).
Ekspresi lain dari kondisi lingkungan masyarakat sekitar yang berpengaruh
terhadap kelainan perilaku (tunalaras) anak diantaranya daerah yang terlalu padat,
angka kejahatan tinggi, kurangnya fasilitas hiburan/rekreasi, tidak adanya aktivitas
yang terorganisasi (Moerdiani, 1987), kurangnya pengajaran agama oleh
masyarakat, pengaruh bacaan/film video porno atau sadisme, pengaruh
penyalahgunaan abat-obatan terlarang (nafza), dan minuman keras.
Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi
yang dianut oleh masyarakat yang diterima begitu saja oleh kalangan remaja dapat
menimbulkan konflik yang sifatnya negatif. Selanjutnya konflik juga timbul pada
diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut di rumah atau di keluarga
bertentangan dengan norma dan kenyataan di dalam masyarakat. Misalnya: seorang
dalam keluarga ditekankan untuk bertingkah laku sopan dan menghargai orang
lain, akan tetapi ia menemukan kenyataan lain dalam masyarakat dimana banyak
ditemukan tindakan kekerasan dan tidak adanya sikap saling menghargai.
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



16

2.5 Perkembangan Kognitif, Kepribadian, Emosi, dan Sosial Anak Tunalaras
Perkembangan Kognitif Anak Tunalaras
Anak tunalaras memiliki kecerdasan yang tidak berbeda dengan anak-
anak pada umumnya. Prestasi yang rendah di sekolah disebabkan mereka
kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang
mereka alami. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan
anggapan bahwa mereka memiliki intelegensi yang rendah. Memang anggapan
tersebut tidak sepenuhnya keliru karena diantara anak yang tunalaras juga ada
yang mengalami keterbelakangan mental. Kelemahan dalam perkembangan
kecerdasan ini justru yang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku.
Masalah yang dihadapi anak dengan intelegensi rendah di sekolah adalah
ketidakmampuan untuk menyamai teman-temannya, padahal pada dasarnya
seorang anak tidak ingin berbeda dengan kelompoknya terutama yang berkaitan
dengan prestasi belajar. Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa (1982)
mengemukakan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya
menimbulkan kesulitan pada anak dengan cara penyelesaian yang seringkali tidak
sesuai dengan cara penyesuaian yang wajar.
Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam
belajar dapat menyebabkan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada
dirinya sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif,
misalnya: membolos, lari dari rumah, berkelahi, mengacau dalam kelas, dan
sebagainya. Akibat lain dari kelemahan intelegensi ini terhadap gangguan tingkah
laku adalah ketidakmampuan anak untuk memperhitungkan sebab akibat dari
suatu perbuatan, mudah dipengaruhi serta mudah pula terperosok ke dalam
tingkah laku yang negatif.
Disamping anak yang berintelegensi rendah, tidak berarti anak yang
memiliki intelegensi tinggi tidak memiliki masalah. Anak berintelegensi tinggi
seringkali memiliki masalah dalam penyesuaian diri dengan teman-temannya.
Ketidaksejajaran antara pekembangan intelegensi dengan kemampuan sosial
mengakibatkan anak mengalami kesulitan penyesuaian diri dengan kelompok
anak yang lebih tua (tetapi setara dalam kemampuan mentalnya). Anak yang
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



17

pintar dengan hambatan ego emosional seringkali mempunyai anggapan negatif
terhadap sekolah. Ia menganggap sekolah terlalu mudah dan guru menerangkan
terlalu lambat.
Masalah lain yang dihadapi anak ini dalam hubungannya dengan orang
lain adalah sikap tidak mau kalah. Mereka selalu ingin berhasil dan tidak mau
ikut dalam permainan dengan kemungkinan dikalahkan orang lain. Hal ini
nampak dari sikap anak yang selalu ingin lebih unggul dari teman-temannya
sehingga apabila suatu waktu dia mengalami kekalahan, maka ia cenderung
untuk selalu merasa mudah kecewa.
2. Perkembangan Kepribadian Anak Tunalaras
Kepribadian merupakan struktur yang unik, tidak ada dua individu yang
memiliki kepribadian sama. Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai suatu
organisasi yang dinamis pada sistem psikofisis individu yang turut menentukan
caranya yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam
berbagai kelompok dan akan mempengaruhi kesadaran sebagai bagian dari
kepribadian akan dirinya. Dengan demikian kepribadian akan menjadi penyebab
seseorang berperilaku menyimpang. Menifestasi kepribadian yang teramati
tampak dalam interaksi individu dengan lingkungannya, dan pada dasarnya
interaksi ini sebagai upaya bentuk pemenuhan kebutuhan.
Tingkah laku yang ditampilkan orang ini erat sekali kaitannya dengan
upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Sejak lahir setiap individu sudah dibekali
dengan berbagai kebutuhan dasar yang menuntut pemenuhan kebutuhan, dan
untuk itu setiap individu senantiasa berusaha memenuhinya yang diwujudkan
dalam berbagai lingkungannya. Konflik psikis dapat terjadi apabila terjadi
benturan antara usaha pemenuhan kebutuhan dengan norma sosial. Kegagalan
dalam pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian konflik, dapat menjadikan
stabilitas emosi terganggu. Selanjutnya mendorong terjadinya perilaku
menyimpang dan dapat menimbulkan frustasi pada diri individu.


Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



18

3. Perkembangan Emosi Anak Tunalaras
Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari tingkah
laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada mereka adalah kehidupan emosi
yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat, dan
pengendalian diri yang kurang sehingga mereka seringkali menjadi sangat
emosional. Terganggunya kehidupan emosi ini terjadi sebagai akibat
ketidakberhasilan anak dalam melewati fase-fase perkembangan.
Kematangan emosional seorang anak ditentukan dari hasil interaksi
dengan lingkungannya, dimana anak belajar tentang bagaimana emosi itu hadir
dan bagaimana cara untuk mengekspresikan emosi-emosi tersebut.
Perkembangan emosi ini berlangsung terus menerus sesuai perkembangan usia,
akan banyak pula pengalaman emosional yang diperoleh anak.ia semakin banyak
merasakan berbagai macam perasaan. Akan tetapi tidak demikian dengan anak
tunalaras. Ia tidak mampu belajar dengan baik dalam merasakan dan menghayati
berbagai macam emosi yang mungkin dapat dirasakan, kehidupan emosinya
kurang bervariasi dan ia pun kurang dapat mengerti dan menghayati perasaan
orang lain. Mereka juga kurang mampu mengendalikan emosinya dengan baik
sehingga seringkali terjadi peledakan emosi. Ketidakstabilan emosi ini
menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misalnya: mudah marah dan mudah
tersinggung, kurang mampu memahami perasaan orang lain, berperilaku agresif,
menarik diri, dan sebagainya. Perasaan-perasaan seperti itu akan mengganggu
situasi belajar dan akan mengakibatkan prestasi belajar yang tidak sesuai dengan
potensi yang dimilikinya.
Berbagai peraturan dan perundang-undangan
Dengan semakin baik sistem pemerintahan, maka makin baik pula sistem
perundang-undangan. Berbagai peraturan dan undang-undang ini jelas akan
mempengaruhi sistem pemberian kompensasi pegawai oleh setiap organisasi,
baik pemerintah maupun swasta.
Perkembangan Sosial Anak Tunalaras
Sebagaimana telah kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami
hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



19

lingkungannya. Hal ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki
kemampuan untuk membentuk hubungan sosial dengan semua orang. Dalam
banyak kejadian ternyata mereka dapat menjalin hubungan sosial yang sangat
erat dengan teman-temannya. Mereka mampu membentuk suatu kelompok yang
kompak dan akrab serta membangun keterikatan antara yang satu dengan yang
lainnya.
Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik tehadap dirinya
sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tak
berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah
kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka. Apabila berhasil
sekalipun mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada
akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya.

2.6 Prevalensi
Yang dimaksud prevalensi ialah suatu perkiraan atau ramalan mengenai meratanya jumlah
anak tuna laras berdasarkan penelitian para ahli tingkah laku disuatu tempat, pada suatu
waktu tertentu. Prevalensi itu tidak sama terutamadisebabkan karena definisi tingkah
laku yang bermasalah masih belum ada yangbaku. Sebagai contoh anak prevalensi anak
tunalaras dari beberapa penelitian di Amerika Serikat. Schults et al, Mackie melaporkan
hasil survey pengawas dankepala Sekolah Luar Biasa (SLB), terhadap sekolah Umum
dan Lembaga, bahwa 2% dari populasi usia sekolah adalah tunalaras. Kemudian laporan
dari Negara-negara bagian dan Kolumbia menyebutkan behwa dugaan prevalensi
terendah 0,50% dan tertinggi 15% adalah ana tunalaras.
Jumlah sekolah luar biasa bagi anak tunalaras (SLB-E) di Indonesia tahun1993
atau 1994 ada 13 buah, termasuk sekolah swasta, dengan jumlah siswa 508 orang. Ini
berarti baru 508 orang anak tunalaras, yang tertampung di dalampendidikan secara
formal (Depdikbud, 1993). Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan terhadap
3215 murid kelas I-VI sekolah dasar di Jakarta ternyata 24.6% adalah tunalaras (Nafsiah
dan Mulyono, 1992).


Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



20

BAB 3:
STUDI KASUS

A. Identitas Subjek

Nama : Erwin
Tempat/Tanggal lahir : Medan/09 November 1996
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat Siswa : Jl. Tuasan
Anak ke- dari- : ke- 3 (tiga) dari 5 (lima) bersaudara
Umur : 17 tahun
Pekerjaan : Pengamen
B. DATA ORANG TUA
Nama Ayah : CH
Pekerjaan : Penarik Becak
Alamat : Jl. Tuasan
Umur : 47 tahun
Nama Ibu : NY
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Jl. Tuasan
Umur : 44 tahun
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



21

Pasal tentang Pengupahan
+ Pasal 88
(1) Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
(2) Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pemerintah menetapkan
kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh
(3) Kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) meliputi:
a. upah minimum
b. upah kerja lembur
c. upah tidak masuk kerja karena berhalangan
d. upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain diluar pekerjaanya.
e. upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya
f. bentuk dan cara pembayaran upah
g. denda dan potongan upah
h. hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah
i. struktur dan skala pengupahan yang proporsional
j. upah untuk pembayaran pesangon
k. upah untuk perhitungan pajak penghasilan

Pasal tentang Kesejahteraan
+ Pasal 99
(1) Setiap pekerja/buruh dan keluarganya berhak untuk memperoleh jaminan social
tenaga kerja
(2) Jaminan social tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain itu pemerintah juga telah membuat UU No.3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial
Tenaga Kerja.



Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



22

3.2 Tinjauan Agama

W-OE>-4 4`O4C ]ONE_O> gO1g
O) *.- W _^4O> O7 ^4^ E`
;e4:=O -4 4pONU;NC ^gg
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu
semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang
Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak
dianiaya (dirugikan).

]:g4 eE_4OE1 +] W-OUgE W
g4Og4ONOg4 _U4 -4
4pO+;NC ^_
Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah mereka kerjakan dan
agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang
mereka tiada dirugikan.

Dari kedua ayat diatas, kita dapat melihat bahwa


















Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



23



BAB 4:
PENUTUPAN

3.1 Simpulan
Dalam Organisasi manusia ditempatkan sebagai unsur yang sangat khusus,
karena manusia baru akan terdorong untuk bekerja dan meningkatkan produktivitasnya
jika beragam kebutuhannya mulai dari kebutuhan fisik (seperti : makan, papan,
pakaian), kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, sampai dengan kebutuhan aktualisasi
diri dapat terpenuhi dengan baik.
Ada beberapa hal yang perlu diingat oleh organisasi dalam pemberian
kompensasi. Pertama, kompensasi yang diberikan harus dapat dirasakan adil oleh
pegawai dan kedua, besarnya kompensasi tidak jauh berbeda dengan yang diharapkan
oleh pegawai. Apabila dua hal ini dapat dipenuhi, maka pegawai akan merasa puas.
Kepuasan akan memicu pegawai untuk terus meningkatkan kinerjanya, sehingga tujuan
organisasi maupun kebutuhan pegawai akan tercapai secara bersama.
Untuk mencapai keadilan sebagaimana diharapkan oleh pegawainya, maka
organisasi harus mempertimbangkan kondisi eksternal, kondisi internal dan kondisi
individu. Kompensasi harus diusahakan sebanding dengan kondisi di luar organisasi.
Kompensasi juga harus memperhatikan kondisi individu, sehingga tidak memberikan
kompensasi dengan pertimbangan subyektif dan diskriminatif. Untuk memenuhi
harapan pegawai, hendaknya kompensasi yang diberikan oleh organisasi dapat
memuaskan berbagai kebutuhan pegawai
Kompensasi yang diberikan berdasarkan pekerjaan atau senioritas tanpa
memperhatikan kemampuan dan keterampilan seringkali membuat pegawai yang
mempunyai keterampilan dan kinerja baik menjadi frustasi dan meninggalkan
organisasi, sebab kompensasi yang diberikan oleh organisasi dirasakan tidak adil dan
tidak sesuai dengan harapan mereka. Sebaliknya kompensasi ini akan membuat pegawai
yang tidak berprestasi menjadi benalu bagiorganisasi. Kompensasi yang diberikan
Anak Berkebutuhan Khusus: Tuna Laras



24

berdasarkan kinerja dan keterampilan pegawai nampaknya dapat memuaskan pegawai,
sehingga diharapkan pegawai termotivasi untuk meningkatkan kinerja dan
mengembangkan keterampilannya. Hal ini disebabkan karena pegawai yang selalu
berusaha untuk meningkatkan kinerja dan keterampilannya akan mendapatkan
kompensasi yang semakin besar.

Beri Nilai