Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Limbah adalah sisa dari suatu usaha atau kegiatan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Berbagai jenis limbah akan dihasilkan pada suatu industri skala kecil dan besar, baik limbah organik maupun anorganik. Industri Rumah Potong Ayam (RPA) dalam bidang peternakan menjalankan fungsinya dalam pemotongan ayam hidup dan mengolah menjadi karkas yang siap konsumsi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat (Kariana dan Singgih, 2008). Akan tetapi, Industri Rumah Potong Ayam (RPA) dalam menjalankan fungsinya, seringkali melupakan permasalahn yang sangat berpengaruh pada lingkungan, yaitu limbah yang dihasilkan. Proses pemotongan ayam di RPA menghasilkan 2 jenis limbah, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat Rumah Pemotongan Ayam (RPA) relatif lebih mudah ditangani dibanding dengan limbah cair. Dari permasalahan di atas, kami akan membahas limbah yang dihasilkan oleh Industri Rumah Potong Ayam (RPA) dan cara pengolahan limbahnya. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana klasifikasi limbah dan karakterisasi limbah yang dihasilkan oleh industri Rumah Potong Ayam (RPA) serta bagaimanakah parameter limbahnya? 2. Bagaimana pengolahan limbah industri Rumah Potong Ayam (RPA)? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui klasifikasi limbah industri Rumah Potong Ayam (RPA) beserta karakterisasinya serta parameter limbahnya. 2. Mengetahui cara pengolahan limbah industri Rumah Potong Ayam (RPA) dengan cara yang baik.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Limbah Industri Rumah Potong Ayam (RPA) dan Karakterisasi Limbahnya serta Parameter Limbahnya 2.1.1 Jenis limbah dan klasifikasi limbah Industri Rumah Potong Ayam (RPA) dalam bidang peternakan menjalankan fungsinya dalam pemotongan ayam hidup dan mengolah menjadi karkas yang siap konsumsi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat (Kariana dan Singgih, 2001). Rumah potong ayam (RPA) adalah industri yang mengolah ayam hidup menjadi karkas siap olah untuk konsumsi. RPA dapat dibedakan atas RPA skala kecil (tradisional) maupun RPA skala besar (pabrik pengolahan ayam). RPA dapat menjadi salah satu penyebab polusi lingkungan. Menurut (Yordanov,2010). Limbah pemotongan hewan (RPH) yang berupa feses urin, isi rumen atauisi lambung, darah, daging atau lemak, dan air cuciannya, dapat bertindak sebagaimedia pertumbuhan dan perkembangan mikroba sehingga limbah tersebut mudahmengalami pembusukan. Dalam proses pembusukannya di dalam air,menimbulkan bau yang tidak sedap serta dapat menyebabkan gangguan padasaluran pernapasan yang disertai dengan reaksi fisiologik tubuh berupa rasa mualdan kehilangan selera makan. Selain menimbulkan gas berbau busuk, penggunaan oksigen terlarut yang berlebihan olehmikroba dapat mengakibatkan kekurangan oksigen bagi biota air (meningkatkan BOD). Berdasarkan karakter fisiknya limbah dapat dikategorikan atas limbah padat, cair, dan gas. Limbah cair adalah airbuangan dari kawasan pemukiman, pertanian, bisnis ataupun industri yang berupa campuran air dan padatan terlarutatau tersuspensi (Laksmi, 1993; Suharto, 2010). 1. Limbah cair Limbah cair adalah bahan-bahan pencemar berbentuk cair. Air limbahadalah air yang membawa sampah (limbah) dari rumah tinggal, bisnis, danindustri yaitu campuran air dan padatan terlarut atau tersuspensi dapat jugamerupakan air buangan dari hasil proses yang dibuang ke dalam lingkungan. Limbah cair adalah satu jenis limbah yang tidak memiliki nilai ekonomis dan dapat menyebabkan atau menjadi sumber perncemaran air dan lingkungan. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah cair terdiri dari bahan kimia, senyawa organik dan anorganik dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu. Menurut (Morley,2008), limbah cair dapat menyebabkan

pencemaran lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah cair. Dalamproses produksi Rumah Pemotongan Ayam dihasilkan limbah cair yang berasal dari darahayam, proses pencelupan, pencucian ayam dan peralatan produksi. Limbah cair mengandung(Biological Oxygen Demand) BOD, (Chemical Oxyge Demand) COD, (Total Suspended Solid)TSS, minyak dan lemak yang tinggi, dengan komposisi berupa zat organik. Pembuangan air limbah (Efluent) yang mengandung nutrien yang tinggi ke perairan akan menimbulkaneutrofikasi dan mengancam ekosistem aquatik. Untuk mencegah hal itu maka diperlukan caraagar komposisi padatan organik tersuspensi dapat dikurangi.Diperkirakan bahwa jumlah limbah berupa lemak dari seekor ayam segar utuh adalah sekitar 7,80 17,7% dari bobot ayam tersebut (Awonorin et al., 1995). Selanjutnya, dari satu ekor ayam broiler berukuran sedang (berat sekitar 2 3 kg) dapat dihasilkan sekitar 100 gram lemak yang menempel pada bagian ampela dan ekor, sertasekitar 2,10% lemak terdapat pada bagian dada dari seekor ayam (Nafiah, 2010).

Karakteristik Air Limbah Rumah Potong Hewan Kusnoputranto (1985) menjelaskan bahwa berdasarkan karakteristiknya, air limbah dapat digolongkan menjadi tiga bagian: a. Karakteristik fisik Terdiri dari 99,9% air serta sejumlah kecil bahan-bahan padat tersuspensi. Air buangan rumah tangga biasanya sedikit berbau sabun atau minyak dan bewarna suram seperti larutan sabun, biasanya terdapat sisa-sisa kertas, sabun serta bagian-bagian dari tinja. b. Karakteristik kimia Air buangan mengandung campuran zat-zat kimia anorganik yang berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik yang berasal dari bahan-bahan buangan dari proses produksi. Biasanya bersifat basa pada saat limbah baru dibuang dan cenderung bersifat asam apabila limbah sudah mulai membusuk. Substansi organik dalam air buangan dapat digolongkan menjadi dua gabungan, yaitu: Gabungan yang mengandung nitrogen, yang terdiri dari urea, protein dan asam amino. Gabungan yang tidak mengandung nitrogen, yang terdiri dari lemak, sabun dan karbohidrat jenis sellulosa

c. Karakteristik biologis Kandungan bakteri patogen serta organisme golongan coli juga terdapat dalam air limbah tergantung darimana sumbernya, namun keduanya tidak berperan dalam proses pengolahan air limbah industri. Untuk mencegah atau mengurangi dampak negatif tersebut, perlu diperhatikan kondisi sistem pembuangan air limbah yang memenuhi syarat sehingga air limbah tersebut tidak mengkontaminasi sumber air minum; tidak mengakibatkan pencemaran permukaan tanah; tidak menyebabkan pencemaran air untuk mandi, perikanan, air sungai, atau tempat-tempat rekreasi; tidak dapat dihinggapi serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor; baunya tidak mengganggu masyarakat setempat.

2.

Limbah padat Limbah padat pada industri Rumah Potong Ayam (RPA) yaitu berupa ayam mati

danoffal (sisa usus/jeroan),darah,bulu, jeroan (sisa-sisa usus dan potongankloaka), tulang dan ayam mati. Bagian lainyang tidak sengaja ikut terbuang menjadilimbah yaitu kepala ayam dan lemak yangterdapat di dalam rongga perut, dibagianampela dan ekor. Pada umumnya kepala ikutterbuang bersama bulu pada saat pencabutanbulu, sedangkan limbah berupa lemak ikutterbuang bersama air yang mengalir pada saatpencucian. Dari hasil pengukuran debit limbah,diketahui bahwa limbah berupa darah yangdihasilkan adalah sekitar 3,5%, limbah usus5%, serta limbah ayam mati sekitar 0,5% darijumlah ayam yang dipotong dalam satu hari (Voslarova et al., 2007; Bolu dan Adakeja,2008). Sebagian besar dari jenis limbah yangmeliputi lemak, usus, kepala, tulang sisa dariproses pengolahan daging tanpa tulang(boneless), kulit, hati, ampela dan ceker/kakiayam masih mempunyai nilai jual yang tinggidan dibutuhkan oleh pengguna tertentu. Namundemikian, hampir semua jenis limbah yangdihasilkan oleh RPA mempunyai potensi yangcukup besar untuk dimanfaatkan sebagai bahanpakan sumber protein, energi/lemak maupunmineral dalam pemeliharaan ternak unggas danruminansia. Sebagaimana dilaporkan bahwadaging ayam mengandung protein sebanyak18,6%, lemak 15,06%, air 65,95% dan abu0,79% (Suradi, 2009).

3.

Limbah gas Limbah gas akan muncul ketika limbah padat dan limbah cair ditimbun dan tidak

segera dilakukan penanganan. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Limbah Air limbah I Darah Air limbah II Bulu Selaput ceker Kotoran ayam I Tembolok Kotoran ayam I Selaput ampela Limbah Padat Limbah Cair Jenis limbah Asal limbah Pencelupan ayam ke dalam air panas Penyembelihan ayam Pemcucian ayam Pemcabutan bulu ayam Pembersihan selaput ceker Penampungan ayam Kantong tempat makanan pd leher

10. Usus besar 11. Empedu

Dari dalam ayam (jeroan)

2.1.2 Parameter Limbah dan Peraturan Pemerintah Di Indonesia, limbah dari pemotongan rumah ayam yaitu limbah cair yang berasal dari darah ayam, proses pencelupan, pencucian ayam dan peralatan

produksi.Parameter dalam limbah cair berupa (Biological Oxygen Demand) BOD, (Chemical Oxygen Demand) COD, (Total Suspended Solid) TSS, minyak dan lemak yang tinggi, dengan komposisi berupa zat organik. Menurut Kusnoputranto, 1983, beberapa parameter yang digunakan dalam pengukuran kualitas air limbah,yaitu: 1. Kandungan zat padat Yang diukur dari kandungan zat padat dalam bentuk Total Solid Suspended (TSS) dan Total Dissolve Solid (TDS). 2. Kandungan zat organik Zat organik dalam penguraiannya memerlukan oksigen dan bantuan mikroorganisme. Salah satu penentuan zat organik adalah dengan mengukur BOD (Biological Oxygen Demand) dari buangan tersebut. BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk melakukan dekomposisi aerobik bahan-bahan organik dalam larutan, dibawah kondisi waktu dan suhu tertentu (biasanya lima hari pada 20 C). 3. Kandungan zat anorganik

Beberapa komponen zat anoragnik yang penting untuk mengawasi kualitas air limbah antara lain : Nitrogen dalam senyawaan nitrat, phosphor dalam total phospor, H2O dalam zat beracun dan logam berat seperti Hg, Cd, Pb, dan lain-lain. 4. Gas Adanya gas N2, O2, dan CO2 pada air buangan berasal dari udara yang larut ke dalam air, sedangkkan gas H2S, NH3, dan CH4 berasal dari proses dekomposisi air buangan. Oksigen di dalam air buangan dapat diketahui dengan mengukur DO (Dissolved Oxygen). Jumalah oksigen yang ada di dalam air sering digunakan untuk mennetukan banyaknya atau besarnya pencemaran zat organik dalam larutan, makin rendah DO suatu larutan, makin tinggi kandungan bahan organiknya. 5. Kandungan bakteri Bakteri golongan E.coli terdapat normal di dalam usus dan tinja manusia. Sumber bakteri patogen dalam air limbah bersal dari tinja manusia yang sakit. Untuk menganalisis bakteri patogen yang terdapat dalam air buangan cukup sulit, sehingga sebagai parameter mikrobiologis digunakan perkiraan terdekat jumlah golongan koliform. (MPN= Most Probable Number) dalam 100 ml air limbah serta perkiraan terdekat jumlah golongan koliform tinja dalam 100 ml air limbah. 6. pH (derajat keasaman) Pengukuran pH berkaitan dengan proses pengolahan biologis karena pH yang kecil akan menyulitkan, disamping akan mengganggu kehidupan dalam air bila dibuang ke perairan terbuka. 7. Suhu Suhu air limbah umumnya tidak banyak berbeda dengan suhu udara, tapi lebih tinggi dari pada suhu air minum. Suhu dapat mempengaruhi kehidupan dalam air, kecepatan reaksi atau penguraian, proses pengendapan zat padat serta kenyamanan dalam badanbadan air. Air limbah yang harus diolah adalah seluruh air limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah potong unggas, yaitu air yang berasal dari pemotongan, pembersihan lantai tempat pemotongan, pembersihan kandang penampung, pembersihan kandang isolasi, dan pembersihan isi perut, serta air sisa perendaman. Pengambilan dan pengujian kualitas air dilakukan setelah IPAL beroperasi selama 3 bulan.

Parameter yang perlu diamati adalah pH, BOD, COD, TSS, Minyak dan lemak, dan NH3-N. Hasilnya dibandingkan dengan baku mutu limbah cair kegiatan rumah sakit yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Rumah Pemotongan Hewan. Berikut ini tabelnya: Parameter BOD COD TSS Minyak dan lemak NH3-N pH Satuan Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Mg/L Kadar Maksimum 100 200 100 15 25 6-9 : 1,5 m3/ ekor/hari : 0,15 m3/ekor/hari : 0,65m3/ekor/hari

Volume air limbah maksimum untuk sapi, kerbau, dan kuda Volume air limbah maksimum untuk kambing dan domba Volume air limbah maksimum untuk babi

(Sumber riview Salminen and Rintala, 2002.)

Sumber: Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 02 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Kegiatan Rumah Pemotongan Hewan Paraturan Menteri Linkungan Hidup Nomor 02 Tahun 2006 menjelaskan bahwa parameter air limbah rumah potong hewan terdiri dari : 1. BOD BOD (Bological Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasi) hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat organik yang tersuspensi dalam air. Kadar BOD maksimum yang diperbolehan bagi kegiatan rumah potong hewan adalah 100mg/L. 2. COD COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan organik yang terkandung dalam air. Hal ini karena bahan organik yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan oksidator kuat Kalium Bikromat pada kondisi asam dan panas dengan katalisator perak sulfat sehingga segala macam bahan organik, baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit urai, akan teroksidasi. Kadar COD maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan Rumah Pemotongan Hewan adalah 200mg/L. 3. TSS (Total Suspended Solid) TSS (Total Suspended Solid) adalah padatan yang menyebabkan kekeruhan air yang tidak larut dan tidak dapat mengendap langsung. Padatan tersuspensi teridri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih rendah dari sedimen. Kadar TSS maksimum yang diperbolehkan bagi kegiatan rumah pemotongan hewan adalah 100mg/L. 4. Minyak dan lemak Minyak dan lemak yang mencemari air sering dimasukkan ke dalam kelompok padatan, yaitu padatan yang mengapung diatas permukaan air. 2.2 Proses Pengolahan Limbah 2.2.1 Pengolahan limbah cair Proses pengolahan limbah Rumah Potong Ayam (RPA) terdiri atas pengolahan limbah cair dan pengolahan limbah padat. Pengolahan limbah cair dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya proses perombakan limbah cair hasil pemotongan, penggunaan Granular Activated Carbon-Sequencing Batch Reactor (GAC-SBR), menggunakan membran filtrasi dan menggunakan bioreaktor.

Perombakan limbah cair hasil pemotongan, pengolahannya meliputi: 1. Proses Separasi Proses separasi adalah proses dimana sebelum limbah cair bekas cucian ayam diolah, limbah cair tersebut dipisahkan terlebih dahulu antara cairan dan padatan seperti bulu-bulu halus dan lemak. Agar padatan kecil terpisah dari larutan, air bekas cucian diaduk dengan mesin yang memompa udara, sehingga menghasilkan gelembung-gelembung. Setelah air diaduk dengan gelembung, maka lemak dan padatan kecil akan naik, dan padatan tersebut disebut dengan sludge. Kemudian limbah masuk kedalam mesin scrapper, yaitu mesin pemisah sludge dengan cairan. Setelah sludge terpisah, sludge dan darah ditampung di tanki penampungan sementara, kemudian sludge dan darah di sedot ke dalam mobil tanki limbah berijin dan dibuang di IPLT. 2. Sistem Aerasi Setelah melalui proses separasi, dimana cairan telah dipisahkan dari sludge dan darah, selanjutnya air masuk kedalam kolam yang dibuat di lahan kosong dekat pabrik, dan telah dipasang alat pengaduk dan disebut sebagai kolam aerasi. Air yang telah masuk dalam kolam aerasi diberi bakteri pengurai kemudian diaduk dengan mesin pengaduk selama kurang lebih lima belas menit, hal tersebut dilakukan agar bakteri tesebar merata ke dalam air. Setelah proses pengadukan selesai, air di alirkan ke kolam pengendapan, lalu di uji dan di analisa setiap bulan di laboraturium. Apabila lolos uji, air tersebut dibuang dengan cara dialirkan ke tanah. Penggunaan Granular Activated Carbon-Sequencing Batch Reactor (GAC-SBR) dilakukan dengan menggunakan karbon aktif. Karbon aktif banyak digunakan dalam air, air limbah, udara dan treatment polusi udara dengan sistem mekanisme adsorpsi fisik. Disamping murah, produk GAC jauh lebih baik dibanding produk serupa berasal bahan konvensional lain karena memiliki porositas tinggi, luas permukaan yang lebih besar, dan daya ikat yang tinggi terhadap logam berbahaya, seperti tembaga (Cu), kadmium (Cd), dan ion Zn. Jika digunakan untuk mengendapkan polutan/limbah, berupa senyawa kimia yang mengandung unsur logam seperti tersebut di atas sungguh sangat besar manfaatnya. Tetapi, nilai estetika produk ini akan menjadi pertimbangan bila digunakan sebagai penyaring air untuk keperluan manusia seperti lazimnya penggunaan bahan karbon aktif lain seperti batok kelapa (adrizal,2014). Selain itu, karbon aktif dapat digunakan bersama-sama dengan treatment biologis atau digunakan meningkatkan efisiensi penghilangan. Karbon aktif dapat digunakan sebagai media untuk mikroorganisme dalam sistem pertumbuhan terpasang. Seperti yang telah ditliti oleh (Sirianuntapiboon dan manoonpong, 2001). Kemampuan adsorbsi dari GAC hampir stabil ketika dioperasikan dalam sistem SBR dalam satu bulan. Kemampuan adsorpsi COD dan

TKN dengan menggunakan GAC adalah sekitar 98.58 % yang nd75.00/o masing-masing dari GAC yang masih baru. Hasil efisiensi penghilangan COD dari kedua sistem SBR dan GACSBR dibawah berbagai macam kondisi HRT ditunjukkan dalam table berikut :

(dokumentasi oleh Sirianuntapiboon dan manoonpong, 2001) Dalam penggunaan berbagai metode GAC ini dapat disimpulkan diantaranya Untuk aplikasi, pada sistem SBR disarankan digunakan untuk treatment senyawa nitrogen tinggi yang terkandung pada limbah, utamanya untuk limbah air rumah potong .Untuk peningkatan efisiensi sistem SBR dan kualitas lumpur, digunakan. GAC dapat digunakan untuk

meningkatkan efisiensi dan mengurangi HRT sistem SBR karena kemampuan adsorpsi fisik dan luas permukaan yang besar bagi mikroorganisme untuk menempel (sistem pertumbuhan terpasang). Kemudian, sistem GAC-SBR mungkin menjadi sistem pengolahan air limbah yang paling cocok untuk tretment senyawa nitrogen tinggi dari rumah potong yang terkandung dalam air limbah (Sirianuntapiboon dan manoonpong, 2001). Pengolahan limbah cair dari RPA juga dapat dilakukan dengan menggunakan membran filtrasi. Membran filtrasi dapat memiliki peran penting dalam treatment pengolahan air limbah pemotongan unggas (PPW) dan berpotensi untuk penggunaan air kembali karena proses tekanan unik yang menggunakan membran semipermeabel untuk memisahkan dan konsentrasi koloid dan bahan berat molekul tinggi dalam larutan (Lo et al.,2005). Kinerja pemisahan dari membrandipengaruhi olehkomposisi kimia, suhu, tekanan, aliran umpandan interaksiantar komponendalam aliranumpandanpermukaanmembran. interaksiantar komponendalam aliranumpandanpermukaanmembran. membran yang paling efektif adalah PVDF 0.30m ( membran dengan nominal terbesar bukaan gap ) yang

menghasilkan tertinggi penyerapan nilai-nilai fluks sambil menghasilkan COD terendah kedua dan konsentrasi TS terendah . Ultrafilic membran 0,05um ( membran dengan bukan nilai ) juga efektif dalam menghasilkan nilai fluks tinggi ( tidak berbeda nyata dari membran 0.30m PVDF ) saat memproduksi COD terendah dan kedua konsentrasi TS terendah . Membran 0.10m Polisulfon adalah yang paling efektif memiliki fluks terendah dan konsentrasi COD dan TS tertinggi dalam menyerap limbah . Percobaan yang dilakukan oleh (Afari dan Kiepper, 2011) ini menunjukkan kelangsungan hidup membran filtrasi sebagai metode pra traetmen untuk PPW . Semua uji coba berakhir dengan penyerapan fluks dalam keadaan stabil menunjukkan ketahanan yang baik terhadap pengikatan oleh membran . Menyerap nilai-nilai fluks lebih dari 32 Gm2h diperoleh sementara mencapai lebih dari 90 % dan 35% dari COD dan TS.

Pengolahan dengan menggunakan bioreaktor dilakukan mengingat bahwa limbah cair Rumah pemotongan hewan memiliki konsentrasi lipid yang tinggi yang membuat reaktor anaerobik biomassa tersuspensi seperti UASB tidak cocok. Hal ini karena akumulasi lipid hingga membentuk flocs, dengan konsekuensi kehilangan efisiensi. Hal ini menyebabkan aktivitas metanogen rendah, biomassa mengapung dan tercuci (hilang). Anaerobik filter memiliki bahan pendukung acak telah berhasil digunakan dalam treatment air limbah pemotongan unggas memperoleh penurunan kadar COD hingga 80-90% untuk beban di kisaran 20-25 kg COD / m3/hari dan start up cepat dari dua atau tiga minggu . Penggunaan reaktor packed bed dalam treament limbah cair pemotongan unggas di skala laboratorium setelah pretreatment menggunakan aluminium klorida (AlCl3) juga dilaporkan memiliki hasil yang sukses. Ditemukan bahwa efek penghambatan asam lemak rantai panjang (LCFA) pada methanognes berkurang oleh pengaruh ion aluminium pada konsentrasi 40ppm. Pretreatment limbah rumah potong dengan aluminium klorida dilaporkan meningkatkan hasil metana juga (Shindu dan meera, 2012).

Pada APBR total pengurangan COD dicapai dalam dua langkah: 1) oleh pengendapan keberadaan SS yang terdapat dalam limbah 2) oleh degradasi COD dengan aksi mikroorganisme anaerob Dalam penelitiannya Sindhu and Meera, 2012 SS dalam sampel influen bervariasi antara 2671735 mg / L Efisiensi penghilangan SS di APBR tetap di kisaran 90-98%.

Selain itu untuk dihasilkan pengurangan TDS, fosfat dan amonia nitrogen. Tingkat penghilangan TDS berada di bawah 20%. penghilangan Fosfat dan nitrogen amonia yang ditemukan adalah kurang dari 30%. Efisiensi tinggi dalam pengurangan fosfat tidak tercapai dari pengolahan anaerobik. Penghapusan fosfat membutuhkan zona kontak anaerob diikuti oleh zona aerobik .

Tingkat reduksi yang rendah untuk nitrogen amonia dalam penelitiannya, (Sindhu and Meera, 2012) menjelaskan hal tersebut juga mungkin karena konversi protein yang ada dalam

influent menjadi amonia nitrogen. Rendahnya tingkat sintesis bakteri dalam proses anaerobik diterjemahkan menjadi penghilangan keseluruhan nitrogen yang rendah. Stabilisasi Limbah dalam pengolahan anaerobik secara langsung berkaitan dengan produksi metana. Hasil metana dari APBR ditemukan untuk rata-rata antara 175-220 mL / g COD dapat dihilangkan. Tingkat produksi gas lebih rendah dari nilai teoritis 350ml / g COD dapat dihilangkan pada Suhu dan Tekanan Standar (STP) . Ini mungkin karena efek adanya amonia nitrogen dalam konsentrasi yang lebih tinggi daripada tingkat penerima manfaat dalam influen.Reaktor ini hanya bisa menghilangkan <30% dari amonia nitrogen dan fosfat ada dalam influen. Ini upflow APBR ditemukan mudah dioperasikan dan stabil. Stabilitas reaktor mudah dicapai setelah operasi intermiten atau istirahat (Shindu dan meera,2012). Lumpur di dalam reaktor itu dengan cepat mengendap secara alami. Tingkat produksi lumpur dalam reaktor ditemukan sanga trendah. Kurang dari 2 L lumpur diproduksi selama seluruh periode penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar materi larut serta yang mengendap di air limbah itu terdegradasi selama di APBR. 2.2.2 Pengolahan limbah padat Limbah padatan hasil proses pemotongan unggas ini biasanya berupa ayam mati danoffal (sisa usus/jeroan), bulu, tulang dan ayam mati. Produk sampingan tersebut bila di tinjau kembali masih memiliki nilai tambah yang lebih jika mendapati proses pengolahan yang tepat. Pada umumnya, sebagian jenis dari limbah padatan ini oleh pihak pengelola RPA hanya sebatas dijual terhadap pihak-pihak tertentu untuk dimanfaatkan kembalitanpa adanya poses pengolahan menjadi produk lain yang memiliki nilai tambah lebih. Karena jumlah yang dapat termanfaatkan masih sangat sedikit jumlahnya. Untuk limbah bulu dapat langsung dijual ke masyarakat yang memanfaatkannya sebagai bahan untuk kemoceng, dan kerajinan lainnya. Akan tetatpi bulu ayam merupakan salah satu limbah yang tinggi akan kandungan protein. Tingginya kandungan protein ini membuat bulu ayam masih dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber protein pakan ruminansia. Akan tetapi protein pada bulu ayam memiliki tingkat daya cerna yang rendah, sehingga memerlukan pretreatmen terlebih dahulu untuk meningkatkan daya cerna dari protein bulu ayam tersebut.

Beberapa metode telah diteliti untuk meningkatkan kecernan bulu ayam agar dapat digunakan sebagai sumber protein. Protein bulu ayam sebagian besar terdiri atas kertin yang tergolong dalam protein serat. Pada prinsipnya pemrosesan bulu ayam adalah melemahkan, atau memutuskan ikatan dalam keratin melalui proses hidrolisis sehingga mudah untuk di cerna. Diketahui terdapat empat metode pemrosesan bulu ayam, yaitu secara fisik dengan tekanan dan temperatur tinggi, secara kimiawi dengan penambahan asam, basa atau karbonasi, dan secara enzimatis serta secara mikrobiologis melalui fermentasi oleh mikroorganisme (Puastuti, 2007). Keempat metode Proses treatment bulu ayam dapat dilihat seperti pada gambar dibawah ini.

Sedangkan kotoran ayam, biasanya dimanfaatkan oleh petani sekitar sebagai campuran pupuk. Untuk pengolahan limbah darah yaitu dilakukan dengan cara dikumpulkan, tujuannya untuk menurunkan kadar TS ataupun pada parameter yang lainnya.Keefektifan pengumpulan darah dalam proses pemotongan mempunyai dampak yang besar terhadap proses PPW karena material organik berat yang dapat meningkatkan kadar BOD dan COD. Salah satu metode untuk mereduksi atau mengurangi jumlah darah yang masuk dalam PPW

adalah memperpanjang waktu dimana darah mengalir dari karkas selama pemotongan. Dalam penelitiannya (plumber and kiepper,2011), menghasilkan bahwa peningkatan waktu pengeluaran darah selama 120 second dari 60 second menghasilkan persen pengurangan dari COD sebanyak 34 %, TS 33%, TS 34%, TVS 36%, TKN 29%, dan juga mempunyai dampak ekonomi secara langsung yang diperlihatkan seperti tabel berikut:

Untuk limbah tulang ayam digunakan sebagai bahan tambahan pakan ransum yang berupa tepung. Tepung limbah RPA mempunyai kandungan gizi yang cukup tinggi dan mempunyai kandungan mikroba yang cukup rendah, sehingga sangat potensial untuk digunakan sebagai bahan baku untuk pakan/konsentrat dalam pemeliharaan ternak. Dalam penelitiannya, disimpulkan bahwa tepung berdasarkan kepada karakteristik fisiknya, tepung limbah RPA yang baik dapat diperoleh melalui proses perebusan selama 45 menit dan dilanjutkan dengan pengeringan di dalam oven dengan suhu 1150C selama 2 jam. Proses perebusan belum dapat menurunkan secara optimal kandungan lemak yang tinggi di dalam limbah RPA, mengakibatkan tepung yang dihasilkan tidak dapat disimpan untuk jangka waktu yang lama (Risris et al.,2011). Pengolahan limbah padat pada industri RPA juga terjadi secara alami. Karena limbah padat yang dihasilkan mengandung berbagai macam mikroorganisme. Sehingga mikroorganisme dilibatkan dalam berbagai langkah dari proses perombakan secara anaerob dari substrat kompleks seperti limbah padat pemotongan ayam. Limbah padat dari proses pemotongan ayam mengandung banyak jumlah kandungan protein dan lemak yang

beragam. Kandungan material organik tersebut akan dirombak oleh bakterial fermentatif secara anaerobik untuk menghasilkan produk, yaitu berupa makanan hewan. Karena sebagai sumber yang tinggi akan kandungan protein dan vitamin, limbah pemotongan ayam dapat diawetkan dengan menggunakan asam format dan digunakan sebagai makanan hewan , seperti pada negara Finlandia yang digunakan bersama makanan regular hewan, atau untuk produksi makanan hewan peliharaan. Akan tetapi limbah dalam bentuk bulu biasanya tak dapat dimanfaatkan secara langsung untuk makanan hewan namun memerlukan pre treatment terlebih dahuu agar dapat dipakai sebagai makanan hewan dan mempermudah proses degradari secara natural. Akan tetapi pengggunaan limbah pemotongan ayam sebagai makanan hewan membutuhkan pengawasan ataupun persyaratan yang sangat ketat karen sifat dari limbah tersebut yan memang sangat tinggi resikonya (Salminen dan Rintala, 2001). Untuk pengolahan limbah padat dari RPA yang berupa bangkai ayam dilakukan dengan incenerasi/pembakaran. Pertama-tama bangkai ayam di letakkan pada tempat penampungan sementara, kemudian di bakar dengan mesin insenerator. Selama proses pembakaran, asap yang ada di dalam dibakar dengan api dan gas elpigi yang dialirkan melalui selang, dengan tujuan agar asap yang keluar bersih. Incenerasi disini berkaitan dengan penggunaan teknologi pemanasan destruksi, yang merupakan metode paling efektif untuk menghacurkan potensial agen penginfeksian. Pada proses insinerasi ini menghasilkan udara kering yang dapat digunakan sebagai bahan bakar dengan nilai kalori sekitar 13,5 GJ per ton. Sedangkan untuk material yang memiliki kandungan kelembapan yang tinggi hanya sedikit atupun tidak memiliki nilai energi. Dalam proses incenerasi ini emisi udara yang dihasilkan selama proses pembakaran, kondisi proses, dan pembuangan residu padatan ataupun cairan harus dikontrol secara ketat(Salminen dan Rintala,2001).

Selain itu, dalam reviewnya (Salminen dan Rintala, 2001) juga menjelaskan pengolahan limbah padat dari industri RPA juga dilakukan dengan cara: Penguburan dan penimbunan terkontrol Penimbunan unggas yang mati dikontrol secara ketat untuk menghindari terjadinya kontaminasi pada air dalam tanah. Penimbunan ini harus dapat mencegah atau mengurangi sebanyak mungkin hal-hal yang merugikan terhadap lingkungan sekitar, khususnya polusi pada air di permukaan, air dalam tanah, tanah dan udara. Komposting Komposting merupakan salah satu proses perombakan secara aerob. Komposting sendiri merupakan metode yang umum digunakan dalam treatmen limbah dari pemotongan unggas, dimana dalam prosesnya meliputi screening, flotasi, pengendapan gemuk/grease, pupuk, kotoran unggas, dan juga bulu. Komposting mengurangi pathogen dan juga material yang berasal dari komposting ini dapat dijadikan sebagai pupuk/ penyubur tanah. Penguraian secara anaerob dan aerob Penguraian secara anaerob merupakan proses biologi yang mana material organik didegradasi menjadi metana dibawah kondisi anaeob. Metana dapat digunakan sebagai sumber energi untuk menggantikan bahan bakar fosil, dengan begitu akan mengurangi emisi dari karbondioksida. Penguraian secara anaerob juga dapat mengurangi jumlah mikroba pathogen dan bau, membutuhkan sedikit area untuk treatment ini. Banyak dari nutrient yang dapat dihasilkan dari proses ini sehingga dapat digunakan sebagai kepentingan agrikultur atau bahan pakan.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan 1. Jenis limbah yang dihasilkan oleh industri Rumah Potong Ayam (RPA) terdiri atas limbah padat dan limbah cair. Limbah padat yang dihasilkan dari RPA berupa ayam mati dan offal (sisa usus/jeroan), darah, bulu, jeroan (sisa-sisa usus dan potongan kloaka), tulang dan ayam mati. Sedangkan limbah cair yang dihasilkan dari RPA berupa daraha yam, proses pencelupan, pencucian ayam dan peralatan produksi. 2. Proses pengolahan limbah cair dari RPA yaitu dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya perombakan limbah cair hasil pemotongan, penggunaan Granular Activated Carbon-Sequencing Batch Reactor( GAC-SBR), menggunakan membran filtrasi dan menggunakan bioreaktor. Sedangkan untuk pengolahan limbah padat dari RPA dilakukan dengan cara dijual terhadap pihak-pihak tertentu untuk dimanfaatkan kembali, proses perombakan secara anaerob, dan incenerasi/pembakaran.