Anda di halaman 1dari 8

AKUMULASI HARA MINERAL DALAM SEL TUMBUHAN

LAPORAN PRAKTIKUM diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Fisiologi Tumbuhan diampu oleh Dr.Taufik Rahman, Drs. Tina Safarina, M.Si, Dr. Hj. Sri Anggraeni, M.Pd.

disusun oleh: Kelompok 3 Kelas C

Lea Juliana Linda Tri Wulandari Nelly Wulansari Yustina Fuziah

(1202267) (1202528) (1206492) (1200189)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2014

A. JUDUL Akumulasi Hara Mineral dalam Sel Tumbuhan B. TUJUAN 1. Menentukan ratio akumulasi ion Cl- dalam sel Pistia sp. dengan air kolam tempat tumbuhan air tersebut hidup. 2. Mengetahui ratio akumulasi ion Cl- dalam sel beberapa tumbuhan air yang lain dengan air kolam tempat tumbuhan air tersebut hidup. 3. Mengetahui konsentrasi yang lebih tinggi diantara tumbuhan dan air tempat hidupnya. C. DASAR TEORI Setiap organisme akan selalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan, tidak terkecuali tumbuhan. Pada tumbuhan, agar dapat tumbuh dan berkembang, tumbuhan memerlukan beberapa faktor penunjang diantaranya yaitu media tumbuh, unsur hara, air, cahaya matahari, dan sebagainya. Namun ada beberapa faktor penunjang pertumbuhan dan perkembangan tersebut kurang mencukupi apa yang dibutuhkan oleh tumbuhan tersebut, sehingga proses pertumbuhan dan

perkembangannya menjadi terganggu bahkan terhenti sama sekali. Menurut buku Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran karangan Aksi Agraris Kanisius (AAK), tumbuhan sangat bergantung kepada beberapa faktor penunjang yang sebagian kecil bersifat terbatas dan dapat habis, seperti unsur hara dan mineral lainnya. Melalui penyerapan unsur hara dan mineral dari dalam tanah maupun media tumbuh lainnya, tumbuhan dapat memperoleh zat zat yang diperlukan, kemudian mengolahnya menjadi bahan bahan yang berguna bagi kelangsungan proses menjadi tumbuhan baru. Pada umumnya status nutrisi pada tanaman paling baik dicerminkan oleh kandungan hara mineral pada daun dibandingkan dengan organ-organ lain. Oleh karena itu daun biasanya paling sering digunakan sebagai sampel dalam analisis tanaman. Namun demikian dalam beberapa jenis tanaman dan jenis-jenis hara tertentu kadang-kadang kandungannya berbeda antara lembaran daun . Untuk tanaman buahbuahan seringkali buahnya merupakan indikator paling baik terutama untuk kalsium dan boron yang sangat terkait erat dengan kualitas buah dan daya simpan. Penggunaan organ daun sebagai sampel juga perlu mempertimbangkan umur daun tergantung jenis hara yang akan dianalisis. Untuk hara Cl-, N, K dan Mg daun dewasa lebih baik digunakan sebagai indikator status hara karena pada daun muda

ketiga hara tersebut konsentrasinya konstan .Untuk kalium, daun muda tidak cocok sebagai indikator karena taraf defisiensi dan toksik berkisar hanya dari 3,0 sampai 3,5% dibandingkan dengan 1,5 sampai 5,5% pada daun dewasa. Sebaliknya untuk Ca, daun muda lebih cocok digunakan sebagai indkator karena gejala defisiensi pertama terjadi pada bagian tersebut. Untuk tanaman tingkat tinggi terdapat 13 jenis hara esensial yang terdiri atas kelompok hara makro (N, P, K, S, Mg dan Ca) den kelompok hara mikro (Fe, Mn, Zn, Cu, B, Mo dan Cl) (Janick et al, 1974; Hartman et al., 1981; Baligar dan Duncan, 1990). Selanjutnya Brown et al. (1987 dalam Salisbury dan Ross,1992) menyajikan daftar unsur hara esensial dan konsentrasinya dalam jaringan yang diperlukan agar tumbuhan dapat tumbuh dengan baik. Disebutkan bahwa nilai konsentrasi tesebut menjadi pedoman yang berguna bagi para ahli fisiologi, pengelola kebun dan petani, karena konsentrasi unsur-unsur dalam jaringan lebih dapat dipercaya dari analisis tanah untuk menunjukkan apakah tanaman akan tumbuh lebih baik dan/atau lebih cepat jika unsur tertentu diberikan lebih banyak. Salah satu metode untuk menentukan unsur hara yang esensial bagi tanaman dan berapa banyaknya adalah dengan menganalisis secara kimia semua unsur yang dikandung oleh tumbuhan sehat dan berapa banyaknya unsur itu. Salisbury dan Ross (1992) menyebutkan berdasarkan hasil analisis modern terhadap daun yang paling dekat dengan tongkol jagung muda (daun bendera) yang diambil dari daun jagung dikebun yang dipupuk dengan baik menunjukkan adanya konsentrasi 3 unsur esensial tambahan pada jagung yaitu seng, tembaga dan boron. Sedangkan untuk mengetahui kadar Cl adalah dengan titrasi perak nitrat yang ditambah dengan larutan kalium kromat. D. ALAT DAN BAHAN 1. Alat a. Gelas Erlenmeyer 250 ml b. Buret c. Mortar dan pestel d. Kain kassa e. Pipet f. Corong

2. Bahan a. Berbagai macam tanaman air (Rumput air, Teratai, Pistia sp., Hydrilla sp., Ganggang, Eceng gondok) b. Air kolam tempat tanaman air tersebut hidup c. Natrium klorida 0,05 N d. Indikator Kalium kromat (K2CrO4) 5% e. Larutan AgNO3 0,02 N f. Aquades g. CaCO3

E. CARA KERJA 1. Akumulasi Hara Mineral dalam Sel Tumbuhan Haluskan tanaman air dengan menggunakan morter dan pestel Diencerkan sampai 50 ml menggunakan aquadest

Ekstraknya diambil 1 ml

Catat volume AgNO3 yang digunakan dan hitung konsentasi Cl dalam tumbuhan air

Dititrasi sampai warnanya berubah menjadi cokelat kemerahan

Ditambahkan 1 ml K2CrO4 5%

2. Akumulasi Hara Mineral dalam Air 1 ml air kolam diencerkan dengan aquadest sampai 50 ml Catat volume AgNO3 yang digunakan dan hitung konsentasi Cl dalam air kolam

Dititrasi sampai terjadi perubahan warna

F. HASIL 1. Data kelompok a. Konsentrasi Cl-dalamselPistia sp. : V1 Ntumbuhan = V2 N2 25 Ntumbuhan = 2.5 0.02 Ntumbuhan = Ntumbuhan = 0.002 b. Konsentrasi Cl-dalamair kolam : V1 Nair= V2 N2 25 Nair = 0.5 0.02 Nair = Nair = 0.0004 2. Data kelas Tabel 1. Perbandingan konsentrasi Cl- dalam tumbuhan dan air tempat hidupnya No 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tumbuhan Rumput air Nymphaea sp. Pistia sp. Hydrilla sp. Ganggang Eceng gondok Habitat Sungai Kolam Kolam Kolam Kolam Kolam [Cl-] tumbuhan (N) 0.032 0.000104 0.002 0.00028 0.00128 0.00072 [Cl-] air (N) 0.01 0.00024 0.0004 0.000444 0.00032 0.00032 Rasio 3.2 4.3 5 0.64 4.1 2.25

G. PEMBAHASAN
Unsur Cl- merupakan salah satu unsur hara esensial bagi tumbuhan. Hampir 90% dari seluruh berat segar tanaman-tanaman tersebut adalah air, dan sisanya 10% berupa bahan kering terutama terdiri atas 3 elemen yaitu carbon, hidrogen dan oksigen. Sebagian kecil dari bahan kering tersebut, tetapi merupakan fraksi yang penting terdiri atas elemen-elemen lain yang secara absolut dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman yaitu 13 elemen yang dikelompokkan sebagai hara esensial (Cl-) bagi tanaman tingkat tinggi.

Reaksi titrasi digunakan untuk menentukan konsentrasi Cl- dalam tumbuhan. Reaksi titrasi yang terjadi adalah sebagai berikut : Cl- + K2CrO4 + AgNO3 KNO3 + AgCrO4 + AgCl + NO3Pada awal titrasi AgNO3 akan mengikat ion CL- yang terlarut di air, menghasilkan senyawa AgCl yang tidak berwarna. Apabila ion Cl- pada larutan telah habis, maka AgNO3 akan mengikat senyawa kalium kromat yang merupakan indikator. Apabila telah terjadi reaksi yang menghasilkan AgCrO4 yang berwarna maka mengindikasikan bahwa ion Cl- pada larutan telah habis bereaksi sehingga jumlah konsentrasi Cl- di larutan dapat ditentukan. Pada percobaan yang telah dilakukan, hasil menunjukkan bahwa ratio akumulasi Cl- yang tertinggi adalah pada tanaman air Pistia sp. dan yang terendah adalah pada tanaman air Hydrilla sp. Urutan ratio akumulasi Cl- pada percobaan ini dari yang tinggi ke yang terendah antara lain: Pistia sp., Teratai, Ganggang, Rumput air, Eceng gondok, dan yang terakhir Hydrilla sp. Pada tanaman air Pistia sp., kadar Cl- pada tumbuhan tersebut adalah 0,002 N, sedangkan kadar Cl- pada air kolam Pistia sp., adalah 0,0004 N. Jadi, hasil dari ratio akumulasinya adalah 5. Maka, tanaman air yang memiliki nilai yang tertinggi diantara tanaman air lainnya. Sedangkan, Tanaman air Hydrilla memiliki kadar yang paling rendah, yaitu kadar Cl- pada tumbuhan tersebut adalah 0,00028 N, sedangkan kadar Cl- pada air kolamnya adalah 0,000444 N. Jadi, hasil dari ratio akumulasinya adalah 0,64 N Dari data hasil percobaan di atas, kandungan Cl- pada tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan Cl- pada air kolamnya. Hal ini dapat terlihat dari sebagian besar angka kandungan Cl- pada tanaman yang lebih besar dari kandungan di air. Ada beberapa faktor yang memperngaruhi penyerapan unsur hara pada tanaman, antara lain: pertama adalah umur tanaman, yang kedua adalah habitat tanaman, dan yang terakhir adalah kemampuan organ tanaman dalam menyerap mineral di dalam air.

H. KESIMPULAN 1. Ratio akumulasi ion Cl- dalam sel Pistia sp. dengan air kolam tempat tumbuhan air tersebut hidup adalah 5. 2. Ratio akumulasi dalam beberapa tumbuhan air yang lain berbeda-beda. Ratio akumulasi pada rumput air adalah 3,2; Nymphaea sp. 4,3; Pistia sp. 5; Hydrilla sp. 0,64; ganggang 4,1 dan eceng gondok 2,25. 3. Konsentrasi Cl- dalam sel tumbuhan air pada umumnya lebih tinggi dari pada konsentrasi Cl- di air kolam.

DAFTAR PUSTAKA Aksi Agraris Kanisius.1992. Petunjuk Praktis Bertanam Sayuran. Kanisius, Yogyakarta. Tim fisiologi tumbuhan. 2009. Penuntun Praktikum FISIOLOGI TUMBUHAN. Bandung : Jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI. Baligar, V. C. and R. R. Duncan. 1990. Crops as Enhancers of Nutrient Use. Academic Press, Inc. Toronto. 574p. Chen, Y., J. S. Smagula, W. Litten and S. Dunham. 1998. Effect of Boron and Calcium Foliar Sprays on Pollen Germination and Development, Fruit Set, Seed Development, and Berry Yield and Quality in Lowbush Blueberry (Vaccinium angustifolium Ait.). J. Amer. Soc. Hort. Sci. 123(4):524-531. Salisbury, Frank B. et al. 1995. Plant Physiology 2nd Edition. Mc Graw Hill Company. New York.

Anda mungkin juga menyukai