Anda di halaman 1dari 17

Tugas Kelompok

KOLABORASI PERPUSTAKAAN TEKNOLOGI INFORMASI DI UNIVERSITY OF NEW MEXICO (Library Information Technology Collaborations at the University of New Mexico)

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Sistem Informasi dan Manajemen

Dosen Pengampu: Prof. Dr. Haedar Akib, M.Si

NASRIAH (13B02064) RUSNA WINARSYH M. (13B02065) DAHLAN (13B02066)

PENDIDIKAN ADMINISTRASI UMUM PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2014

BAB I PENDAHULUAN

Ada sebuah wacana yang berkembang dikalangan masyarakat saat ini, yakni sebuah informasi merupakan sebuah komoditas yang sangat berharga. information is powers merupakan keadaan riil untuk menggambarkan betapa kehidupan masyarakat sangat tergantung dari keabsahan sebuah informasi. Bahkan informasi dapat digunakan untuk mencapai kekuasaan dan mempengaruhi pola perilaku masyarakat itu sendiri. Siapa yang menguasai informasi maka dipastikan ia memiliki keunggulan posisi dalam persaingan global (Setiarso, 1997:24). Masih lekat dalam ingatan betapa dengan kemampuan mengolah dan mengelola informasi pemilihan calon presiden Amerika menjadi ajang perang informasi antara kandidat yang saling ingin mengalahkan. Informasi menjadi lebih berharga dan berdaya guna karena terdapatnya network antara sumber informasi dan pengguna informasi tanpa adanya gangguan yang menghambat proses penyebaran infomasi tersebut. Hebatnya, informasi memiliki kemampuan berkolaborasi dengan media-media lain yang lebih familier terhadap masyarakat. Kolaborasi serasi ini adalah perangkat teknologi yang memungkinkan kecepatan dan keakuratan informasi menjadi tujuan utama, maka tidak mengherankan kemudian muncul istilah ICT (information & communication technology). Diantara media ICT ini adalah internet, komputer bahkan handphone. Ibarat fenomena gunung es, penggunaan ICT dan internet merupakan hal yang wajib dilakukan pada kondisi masyarakat sekarang ini. Masyakakat telah jamak mengenal istilah-istilah browsing, chatting, surfing, e-mail, blog dan lain sebagainya. Bahkan apabila ada yang tidak mengenal istilah tersebut maka mereka disebut sebagai gaptek alias gagap teknologi. Istilah teknologi informasi sering dijumpai, baik dalam media grafik, seperti surat kabar dan majalah, maupun media elektronik, seperti radio dan televisi. Istilah tersebut merupakan gabungan dua istilah dasar yaitu teknologi dan

informasi. Teknologi dapat diartikan sebagai pelaksanaan ilmu, sinonim dengan ilmu terapan. Sedangkan pengertian informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Namun, ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan, pada hakekatnya, informasi tidak dapat diuraikan (intangible), sedangkan informasi itu dijumpai dalam kegiatan sehari-hari, yang diperoleh dari data dan dari observasi terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi. Secara sederhana, definisi teknologi informasi dapat diartikan sebagai teknologi yang digunakan untuk menyimpan, menghasilkan, mengolah, serta menyebarkan informasi. Definisi tersebut menganggap bahwa teknologi informasi tergantung pada kombinasi komputasi dan teknologi telekomunikasi berbasis mikroelektronik (Main: 2005). Revolusi informasi dengan kemampuan kolaborasi yang luar biasa dengan perangkat ICT tengah melanda lapisan masyarakat saat ini. Revolusi informasi tersebut pun tengah melanda dunia perpustakaan. Mengapa demikian? Alasanya adalah perpustakaan merupakan salah satu dari sumber informasi yang telah memiliki kapabilitas dan kompetensi tentang arti dari informasi itu sendiri. Perpustakaan memiliki hak untuk mendapatkan, mengolah, memproses serta menyebarkan informasi yang terseleksi dan aktual kepada pengguna perpustakaan ataupun masyarakat luas. Jadi informasi yang dihasilkan oleh perpustakaan adalah informasi yang betul-betul berguna untuk masyarakat. Artinya informasi yang disajikan bukan semata-mata informasi yang biasa-biasa saja tetapi telah melalui tahapan pemrosesan oleh pustakawan yang memiliki kompetensi dalam menyajikan informasi tersebut. Jika sudah demikian maka sah-sah saja apabila kemudian orientasi hasil dari pengolahan dan pengelolaan informasi tersebut adalah untuk kepentingan pengguna (user oriented). Pengguna adalah target utama dari perpustakaan. Ini dilakukan untuk memberikan layanan yang lebih berkualitas dan lebih baik. Menjadi hal yang penting dilakukan karena kemudahan akses informasi tidak semata-mata dimonopoli oleh perpustakaan, tetapi kondisinya justru sebaliknya. Perpustakaan terkadang kurang memperhatikan pekembangan perilaku dari

pencari informasi yang selalu menginginkan layanan yang fleksibel, mudah, cepat seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Apabila perpustakaan tidak mengakomodasi revolusi ICT untuk

kemudahan layanan perpustakaan yang dirasa cukup menyulitkan bagi sebagian masyarakat, maka dipastikan perpustakaan akan ditinggalkan dan sepi dari aktivitas kunjungan masyarakat. Bisa dimaklumi apabila masyarakat yang telah terbiasa dengan layanan internet online misalnya, tentu akan lebih cepat mendapatkan informasi dengan menggunakan mesin pencari (search engine) dari yahoo ataupun dari google daripada harus keperpustakaan. Tentu alasanya adalah kemudahan akses yang diberikan, dengan sekali klik jutaan informasi didapatkan, sementara kalau diperpustakaan jawabnya tunggu dulu. Problem seperti ini yang sejatinya sedang melanda layanan perpustakaan. Perpustakaan belum berupaya mengaplikasikan perangkat ICT untuk melakukan kegiatan dalam sistem pengelolaan perpustakaan.

BAB II PEMBAHASAN

A. Sistem Kelembagaan

Pusat penyedia layanan teknologi informasi di Universitas of New Mexico (UNM) terbentuk dari diskusi dan ide dari Komite Komputer Senat Fakultas, Kabinet Teknologi Informasi (TI) dan dekan. Komite Komputer terdiri dari lima belas anggota fakultas yang ditunjuk oleh Senat Fakultas, termasuk seorang anggota dari Perpustakaan Universitas, dan mewakili kebutuhan dan kepentingan masyarakat akademik untuk sumber daya komputer. Bidangnya mencakup, namun tidak terbatas pada, pemaparan kebutuhan, anjuran pembelajaran komputasi yang inovatif dan efektif, partisipasi aktif dalam perencanaan, rekomendasi anggaran komputasi, rekomendasi untuk prioritas, dan hubungan dengan akademis serta administrasi pengguna komputer. Perpustakaan Universitas telah berkontribusi penting atas keputusan yang berperan aktif dalam inisiatif teknologi, keterlibatan secara proaktif dari fakultas perguruan tinggi lain, dan dengan memimpin komite yang kritis ini. Ketika keputusan dibuat oleh Rektor UNM, baik untuk penghematan biaya dan efisiensi komunikasi dan kemanjuran, bahwa UNM akan melakukan penelitian baru, platform e-mail terpadu, komite komputer memberikan saran selama proses berlangsung. Para anggota komite ini dari Perpustakaan mampu memanfaatkan keahlian di bidang teknologi informasi, organisasi, dan kegunaan untuk memberikan pendapat informasi selama proses seleksi. Sementara Panitia terdiri dari berbagai jurusan di Universitas, pengalaman dan keterampilan perpustakaan fakultas dimanfaatkan untuk menambah pengalaman untuk masukan Panitia dalam proses perencanaan ini.

Peran utama dari Kabinet TI adalah untuk: memberikan kesempatan untuk berbagi informasi dan kolaborasi di kampus secara luas dengan perencanaan strategis Teknologi Informasi, untuk membahas perkembangan kebijakan, prosedur, dan standar, dan untuk kedua mengoptimalkan investasi TI serta meningkatkan efektivitas mereka. Kabinet dipimpin oleh CEO yang bertemu secara teratur, dan termasuk seluruh anggota UNM. Perpustakaan Universitas dan Perpustakaan Ilmu Kesehatan dan pusat informasi bergabung menjadi satu kelompok. Selain itu, informasi yang dikumpulkan dan dibagi oleh kelompok TI yang berafiliasi di kampus seperti agen TI dan manajer TI. Hasil diskusi diantara para dekan yaitu memprioritaskan teknologi dan melaksanakan pada tahun 2009. Akademik dan Penelitian Teknologi Komite Penasehat Pembantu rektor itu didakwa dengan memastikan bahwa semua keputusan teknologi yang berkaitan dengan Bidang Akademik dibuat dengan nasihat dan pengetahuan para dekan , dan memiliki tempat biasa untuk diskusi tentang Dewan Dekan . Para anggota yang mewakili dekan UL , perguruan tinggi , kampus cabang , Kantor Studi Pascasarjana dan yang diangkat oleh Pembantu rektor dengan tujuan ini : Menginformasikan dan menyarankan Pembantu rektor mengenai hal-hal mengenai prioritas akademik teknologi , sumber daya , alokasi , dan arah strategis untuk memastikan penggunaan paling efektif dari teknologi untuk mendukung misi individu dan kolektif kita sebagai unit akademik . Perpustakaan Universitas memainkan peran kunci dalam menggerakkan komite ini ke depan dan sementara saat ini dibatasi oleh omset luas di antara para dekan , ketidakpastian fiskal , dan pembantu rektor interim , peran komite tersebut masih dianggap sebagai salah satu yang diperlukan .

B. Pendekatan Kolaborasi untuk perubahan dan pengertian layanan IT Layanan yang disediakan oleh pusat TI UNM menjadi perdebatan oleh sejumlah kelompok selama beberapa tahun terakhir. Dihadapkan pada serangkaian permasalahan anggaran dan kekhawatiran tentang masa depan layanan teknologi informasi menjadi tujuan wakil ketua UNM tahun anggara

2010/2011

meliputi:

perubahan

metodologi

untuk

merancang

dan

melaksanakan perbaikan proses sistem TI UNM, jasa, peralatan, dan infrastruktur, dengan fokus pada efisiensi, produktivitas dan pembatasan biaya. Perubahan yang pesat adalah suatu metodologi yang memungkinkan karyawan dan pemangku kepentingan bekerja dalam proses sistemik untuk berpartisipasi dalam upaya mendesain ulang dan menghasilkan perbaikan yang signifikan dan terobosan baru yang fokus dalam periode tertentu. Perbaikan tersebut meliputi: pengurangan waktu siklus, biaya, kesalahan dan menghondari pengerjaan ulang, peningkatan kualitas hasil atau produk akhir dan penciptaan produk baru dan kepuasan pelanggang (Johansson & McHugh, 1993) Peningkatan pelayanan satuan tugas dipimpin oleh perencana strategi di kantor ketua. Dia membawa bersama-sama para pemangku kepentingan dalam upaya koordinasi dan mempermudah seluruh kampus termasuk perpustakaan profesional teknologi informasi, keuangan, sumber daya manusia, petugas penelitian, fakultas perguruan tinggi, dan dekan.
Salah satu komponen yang paling dominan adalah tersedianya berbagai teknologi informasi pada berbagai layanan perpustakaan misalkan:

Layanan Sirkulasi Penerapan TI dalam bidang layanan sirkulasi dapat meliputi banyak hal diantaranya adalah layanan peminjaman dan pengembalian, statistik pengguna, administrasi keanggotaan, dll. Selain itu dapat juga dilakukan silang layan antar perpustakaan yang lebih mudah dilakukan apabila teknologi informasi sudah menjadi bagian dari layanan sirkulasi ini. Teknologi saat ini sudah memungkinkan adanya self-services dalam layanan sirkulasi melalui fasilitas barcoding dan RFID (Radio Frequency Identification). Penerapan teknologi komunikasipun sudah mulai

digunakan seperti penggunaan SMS, Faksimili dan Internet.

Layanan Referensi & Hasil-hasil Penelitian Penerapan TI dalam layanan referensi dan hasil-hasil penelitian dapat dilihat dari tersedianya akses untuk menelusuri sumber-sumber referensi elektronik / digital dan bahan pustaka lainnya melalui kamus elektronik, direktori elektronik, peta elektronik, hasil penelitian dalam bentuk digital, dan lain-lain. Layanan Journal / Majalah / Berkala Pengguna layanan journal, majalah, berkala akan sangat terbantu apabila perpustakaan mampu menyediakan kemudahan dalam akses ke dalam journal-journal elektronik, baik itu yang diakses dari database lokal, global maupun yang tersedia dalam format Compact Disk dan Disket. Bahkan silang layan dan layanan penelusuran informasipun bisa dimanfaatkan oleh pengguna dengan bantuan teknologi informasi seperti internet. Layanan Multimedia / Audio-Visual Layanan multimedia / audio-visual yang dulu lebih dikenal sebagai layanan non book material adalah layanan yang secara langsung bersentuhan dengan TI. Pada layanan ini pengguna dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam bentuk Kaset Video, Kaset Audio, MicroFilm, MicroFische, Compact Disk, Laser Disk, DVD, Home Movie, Home Theatre, dll. Layanan ini juga memungkinkan adanya media interaktif yang dapat dimanfaatkan pengguna untuk melakukan pembelajaran, dsbnya. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam layanan perpustakaan adalah pengguna yang mempunyai keterbatasan, seperti penglihatan yang kurang, buta, pendengaran yang kurang dan ketidakmampuan lainnya. Layanan Multimedia / Audio-Visual memungkinkan perpustakaan dapat memberikan pelayanan kepada para pengguna dengan kriteria ini. Sebagai

contoh dari bentuk penerapan teknologi untuk itu adalah Audible E-books, Digital Audio Books, InfoEyes (Virtual Reference), Braille, dsbnya. Layanan Internet & Computer Station Internet saat ini menjadi bintang dalam TI. Orang sudah tidak asing lagi untuk menggunakan internet dalam kehidupannya. Untuk itu mau tidak mau perpustakaanpun harus dapat memberikan layanan melalui media ini. Melalui media web perpustakaan memberikan informasi dan layanan kepada penggunanya. Selain itu perpustakaan juga dapat menyediakan akses internet baik menggunakan computer station maupun WIFI / Access Point yang dapat digunakan pengguna sebagai bagian dari layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Pustakawan dan perpustakaan juga bisa menggunakan fasiltas web-conferencing untuk memberikan layanan secara online kepada pengguna perpustakaan. Web-Conferencing ini dapat juga dimanfaatkan oleh bagian layanan informasi dan referensi. OPAC atau Online Catalog merupakan bagian penting dalam sebuah perpustakaan, untuk itu perpustakaan perlu menyediakan akses yang lebih luas baik itu melalui jaringan lokal, intranet maupun internet. Keamanan Teknologi informasi juga dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perpustakaan. Melalui fasilitas semacam gate keeper, security gate, CCTV dan lain sebagainya, perpustakaan dapat meningkatkan keamanan dalam perpustakaan dari tangan-tangan jahil yang tidak asing sering terjadi dimanapun. Pengadaan Bagian Pengadaan juga sangat terbantu dengan adanya teknologi informasi ini. Selain dapat menggunakan TI untuk melakukan penelusuran koleksi-koleksi perpustakaan yang dibutuhkan, bagian ini juga dapat

memanfaatkannya untuk menampung berbagai ide dan usulan kebutuhan perpustakaan oleh pengguna. Kerjasama pengadaan juga lebih mudah dilakukan dengan adanya TI ini.
Pengembangan layanan perpustakaan yang berorientasi pada kebutuhan pengguna tidak terlepas dari peran pustakawan dan kepala perpustakaan sebagai pembuat kebijakan. Disisi lain pengembangan sebuah layanan akan memberikan dampak positif yakni memenuhi kebutuhan pengguna, memudahkan petugas dalam memberikan layanan jasa. Namun disisi lain pengembangan tersebut menyisahkan permasalahan apabila teknologi yang digunakan harganya mahal, aplikasinya belum maksimal dan pemanfaatannya belum optimal. Selain itu, masih ada petugas perpustakaan belum bisa berkorelasi dengan sistem layanan berbasis TI. Salah satu contohnya ketika layanan sudah mengembangkan sistem layanan berbasis TI, kemudian petugasnya belum bisa sepenuhnya mengoperasikan sistem tersebut maka akan menghambat kinerja dan terlebih pemenuhan kepuasan pengguna akan sulit terpenuhi karena espektasi pengguna sudah terlalu tinggi belum sebanding dengan harapannya. Oleh karena itu, sebelum membuat suatu keputusan harus benar-benar meninjau ulang faktor-faktor pendukung, dan kendala yang dihadapi dikemudian hari sehingga dapat ditentukan strategi yang dapat meminimalisir kendala dan menjadikan kekuatan perpustakaan sehingga branding perpustakaan tetap baik dimata pengguna.

C. Kolaborasi Perpustakaan Universitas dengan akademik dan teknologi informasi. Teknologi dalam hal ini TI bukan merupakan hal yang murah. Untuk itu apabila perpustakaan ingin mengimplementasikan TI dalam layanan dan aktifitasnya perlu direncanakan secara matang. Hal ini untuk mengantisipasi agar tidak ada kesia-siaan dalam perencanaan dan pengembangan yang berakibat pula pada pemborosan waktu, tenaga, pikiran dan keuangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam rangka penerapan TI pada perpustakaan, yakni:

1. 2. 3. 4. 5.

Dukungan Top Manajemen / Lembaga Induk Kesinambungan / Kontinuitas Perawatan dan Pemeliharaan Sumber Daya Manusia Infrastruktur Lainnya seperti Listrik, Ruang/Gedung, Furniture, Interior Design, Jaringan Komputer, dsbnya.

6.

Pengguna

Perpustakaan

seperti

faktor

kebutuhan,

kenyamanan,

pendidikan pengguna, kondisi pengguna, dll Hal-hal tersebut diatas akan menentukan sejauh mana penerapan TI di perpustakaan khususnya di layanan perpustakaan dapat berjalan dengan baik. Konsep pengembangan perpustakaan dengan mengaplikasikan

teknologi informasi sudah sewajarnya menjadi blue print perpustakaan. Tentu pengembangan perpustakaan tersebut tidak serta merta harus mencapai hasil pada saat itu juga, tatapi memerlukan proses perkembangan dengan memperhatikan berbagia macam faktor baik faktor internal organisasi perpustakaan dan faktor eksternalnya. Yang menjadi permasalahan sekarang ini adalah ketika perpustakaan mengubah pola pelayanan penyajian informasi dari tercetak ke informasi digital perpustakaan belum sepenuhnya mampu mengantisipasi dan mengakomodasi semua kepentingan dari pengguna dan perpustakaan itu sendiri sebagai pihak yang berkompeten dalam menyajikan informasi tersebut. Meskipun berbagai tahapan persiapan telah dilaksanakan baik dari segi software, hardware, brainware dan lingkungan organisasi yang mendukung, tatapi tidak semua komponen tersebut saling mengetahui akan tugas masing-masing. Seringkali perpustakaan dalam hal ini petugas perpustakaan (pustakawan) terjebak pada pola pikir praktis yang lebih mementingkan kemampuan sistem informasi perpustakaan tersebut tanpa mau belajar bagaimana sebenarnya sistem tersebut bisa berjalan. Kurangnya sikap akomodatif terhadap sistem informasi tersebut pun akhirnya menjadi bumerang bagi pelaksanaan layanan perpustakaan. Bahkan apabila terjadi

kesalahan sistem informasi perpustakaan, maka layanan perpustakaan akan terhenti karena menunggu perbaikan dari pihak pengembang sistem informasi. Belum lagi ketergantungan terhadap pihak pengembang itu sendiri karena bagaimanapun kehandalan sistem informasi akan selalu memerlukan perawatan berkala dan pustakawan tidak mampu menguasai program tersebut untuk melakukan perbaikan. Pustakawan tidak dituntut sebagai programer atau pembuat program tentang sistem informasi perpustakaan tersebut, tetapi hanya dituntut untuk mau belajar bagaimana sistem informasi tersebut dapat berjalan.

Seringkali terjadi kesalahpahaman tentang sistem informasi yang telah di setup diperpustakan tersebut tetapi hasilnya justru kegiatan perpustakaan yang dikendalikan oleh sistem tersebut. Padahal sistem informasi dibuat untuk mendukung kegiatan layanan perpustakaan, tetapi yang terjadi justru sebaliknya petugas yang menyesuiakan dengan sistem informasi tersebut, bahkan ada rasa ketakutan apabila sistem tersebut berjalan maka akan menghilangkan bidang kerja yang dilakukan oleh pustakawan. Timbul pertanyaan apakah penerapan teknologi informasi di perpustakaan dapat meningkatkan kualitas layanan perpustakaan kepada masyarakat? Tentu jawabnya adalah ya. Dengan tren teknologi yang berkembang dan kondisi masyarakat yang peka infomasi, perpustakaan memilki peluang sebagai salah satu sumber informasi favorit pilihan masyarakat. Teknologi informasi perpustakaan menjadi roh dalam setiap kegiatan layanan informasi. Jika sudah demikian maka semua komponen organisasi perpustakaan harus mendukung penggunaan teknologi informasi tersebut. Ketergantungan pada pengembang sistem informasi memang adakalanya menjadi permasalahan tersendiri apabila perpustakaan sudah memutuskan menggunakan software aplikasi tersebut, tetapi sebaiknya pihak perpustakaan yang lebih proaktif dalam memberikan masukan terhadap proses kegiatan sistem informasi perpustakaan. Perpustakaan yang memiliki content informasi sedangkan sistem informasi perpustakaan sebagai sarana semata. Pihak pengembang program dalam hal ini hanya bertindak sebagai

mitra dari perpustakaan bukan yang menentukan arah dari sistem informasi perpustakaan tersebut. Jadi harus digarisbawahi bahwa ketergantungan terhadap tenaga ahli teknologi informasi nantinya akan menghambat proses layanan informasi perpustakaan, tetapi justru sebaliknya perpustakaan yang memegang kendali tentang arah dari layanan sistem informasi tersebut. Perpustakaan dapat mengantisipasi apabila terjadi kesalahan pada sistem informasi dengan menyiapkan tenaga pustakawan yang khusus menangani permasalahan tentang sistem informasi tersebut. Pustakawan tersebut diposisikan sebagai administrator program yang bidang kerjanya hanya melaksanakan monitoring tentang berjalan tidaknya sistem informasi perpustakaan tersebut, bahkan dituntut bisa mengembangkan program tersebut kearah yang lebih baik. Memang aplikasi penggunaan perangkat teknologi informasi di perpustakaan memerlukan kerja sama yang luar biasa besar antar komponen yang saling memiliki keterkaitan, baik intern ataupun ekstern. Tetapi apabila antar komponen tersebut saling mendukung maka tujuan dari perpustakaan itu sendiri akan terwujud yakni memberikan layanan informasi kepada masyarakat kapanpun dan dimanapun, tanpa memperhatikan batas ruang dan waktu. Apabila sudah demikian maka perpustakaan teknologi informasi akan segera terwujud. Alasanya adalah content informasi dari perpustakaan tersebut tidak lagi dalam bentuk informasi tercetak tetapi dalam bentuk informasi digital dengan tulang punggung utama adalah teknologi informasi (ICT). Content informasi dari perpustakaan teknologi informasi adalah database digital dari berbagai macam bentuk informasi yang dikehendaki oleh masyakat luas. Dengan tersedianya network internet maka akan lebih mempercepat proses penyebaran informasi kepada masyarakat. Pada tahap perkembangan selanjutnya teknologi informasi perpustakaan merupakan media untuk menciptakan perpustakaan teknologi informasi. Artinya bahwa perpustakaan teknologi informasi merupakan jawaban dari penggunaan perangkat teknologi informasi (ICT) dengan menggunakan network (internet) sebagai tulang punggung kegiatannya. Perpustakaan teknologi informasi

memberikan peluang sebesar-besarnya bagi proses pelayanan informasi perpustakaan kepada masyarakat dengan berbagai jenis pelayanan mandiri sesuai kebutuhan masyarakat pengguna. Perpustakaan tentu saja perlu menyediakan fasilitas-fasilitas yang berorientasi cyber, seperti hot spot area dengan segala perkakas pendukungnya (tempat khusus akses, listrik, meja kursi, workstation). Layanan perlu dikembangkan untuk memudahkan para pengguna, misalnya perpustakaan menyiapkan petugas untuk membantu users taraf pemula, menambah jam layanan (khusus ruang askes) atau bila mungkin layanan 24 jam nonstop, menciptakan suasana senyaman mungkin, menyediakan ruang khusus untuk minum atau relaksasi sejenak. Sebagai layanan alternatif lain perlu juga disediakan layanan berbagai jurnal maya yang dapat ditelusur dalam ruang perpustakaan. Kehadiran perpustakaan digital sebagai sumber informasi dan pengetahuan sudah sewajarnya menjadi tantangan dan harus diakomodasi oleh pustakawan. Tantangan yang nyata adalah bagaimana sikap pustakawan dalam memberikan layanan informasi sebaik mungkin kepada penguna perpustakaan. Pustakawan merupakan penyaji informasi yang memiliki kompetensi dan kapabilitas dalam bidangnya. Tetapi yang harus diperhatikan adalah bagaimana pustakawan harus memberikan informasi secara benar dan tepat kepada masyarakat. Pustakawan harus menseleksi informasi untuk memberikan akses layanan informasi yang betul-betul diperlukan oleh masyarakat. Jika kebijakan yang diambil dalam proses seleksi informasi tersebut mengedepankan pada kepentingan akses untuk pengguna maka proses yang dilakukan oleh pustakawan adalah memberikan pertimbangan masalah nilai ekonomi dari informasi. Setidaknya pustakawan harus memiliki kemampuan tantangan dalam tiga hal yakni: kemampuan mengembangkan layanan perpustakaan digital, kemampuan peka terhadap perkembangan teknologi informasi dan kemampuan menjalin kerja sama dengan stakeholder diluar perpustakaan.

Pustakawan sudah sewajarnya mengembangan layanan perpustakaan digital, yakni dengan jalan selalu meng up grade tren teknologi perpustakaan terkini yang selalu berkembang dinamis. Kemampun pengembangan perpustakaan digital misalnya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan aplikasi dari teknologi informasi dan internet. Sedangkan kemampuan kerja sama dengan pihak-pihak diluar perpustakaan memberi peluang sharing informasi yang menunjang pengembangan perpustakaan digital.

BAB III PENUTUP KESIMPULAN

Dengan hadirnya perangkat teknologi informasi (ICT) dan kolaborasi serasi dengan internet sebagai salah satu sarana dalam mendapatkan dan memudahkan informasi, maka menciptakan perpustakaan teknologi informasi dan menunjang proses kegiatan perpustakaan teknologi informasi lebih berdaya guna. Berbagai kemudahan dalam menelusur sumber-sumber informasi bisa saling melengkapi dan tentunya kedudukan perpustakaan sebagai sarana sumber informasi dan sarana penyaji informasi akan lebih bermakna bagi masyarakat. Jika sudah demikian kualitas layanan perpustakaan akan meningkat. Browsing informasi outsource, e-mail, reproduksi media teks cetak menjadi data teknologi informasi menjadi kegiatan rutin bagi perpustakaan teknologi informasi. Dalam jasa pelayanan informasi perpustakaan teknologi informasi dapat melayankan kepada pengguna tentang informasi teknologi informasi yang dimiliki

perpustakaan dimanapun dan kapanpun. Pada proses pengolahan koleksi kegiatan reproduksi koleksi tercetak menjadi koleksi teknologi informasi ataupun melakukan konversi data elektronik menjadi terdigital menjadi tulang punggung kegiatan. Konsep perpustakaan teknologi informasi merupakan penjabaran dari perpustakaan masa depan yang pada prinsipnya merupakan perpaduan antara perpustakaan sebagai sumber informasi dengan perangkat teknologi informasi (ICT) yang tujuan utamanya adalah memberikan pelayanan kepada pengguna untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan tepat, dengan pendekatan penelusuran (serching) yang lebih beragam. Perpustakaan tinggal

mengaplikasikan teknologi tersebut dalam kegiatan rutin perpustakaan dengan tujuan utamanya adalah memberikan pelayanan yang cepat kepada pengguna perpustakaan dan masyarakat luas.

DAFTAR PUSTAKA

Albuquerque, NM, USA. Library Information Technology Collaborations at the University of New Mexico. Journal of Library Administration. University of New Mexico http://muh_sholihuddin-iip-fisip09.web.unair.ac.id/artikel_detail-73544artikel%20ilmiah optimalisasi%20layanan%20berbasis%20teknologi%20informasi%20dalam%20m ewujudkan%20kepuasan%20pengguna.html