Anda di halaman 1dari 32

KEDUDUKAN DAN WEWENANG DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILU (DKPP) BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA

PEMILIHAN UMUM

Penulis : Dwi Kurniawan Pembimbing : H.Edi Rohaedi, S.H., M.H. Mahifal, S.H., M.H.

ABSTRAK Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Indonesia telah mengalami Pemilu sebanyak 10 kali sejak Tahun1955 sampai dengan 2009. Pemilu 2004 merupakan pemilu yang berbeda dengan adanya pemilihan secara langsung oleh rakyat dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Dalam penyelenggara Pemilu terdapat lembaga-lembaga yang didirikan oleh Pemerintah yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dan Dewan 3q1wacana perbaikan kualitas demokrasi khususnya Penyelenggaraan Pemilu. DKPP bukannya lembaga baru sebelumnya DKPP disebut DK-KPU. Adanya dugaan-dugaan yang sering terjadi dalam Penyelenggaraan Pemilu oleh Penyelenggara Pemilu, maka DKPP dibentuk pada tanggal 12 Juni 2012. Tugas dari DKPP tersebut adalah untuk menerima, memeriksa dan memutuskan dugaan pelanggaraan kode etik yang dilakukan oleh Penyelenggara Pemilu sesuai Pasal 111 ayat (3). DKPP yang didirikan oleh Pemerintah merupakan pelopor Pengadilan Kode Etik yang ada di Indonesia. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sebagaimana diketahui, revisi undang-undang Penyelenggara Pemilu adalah suatu hal yang menjadi kebutuhan untuk
1

memperbaiki penyelenggaraan pemilu dimasa sekarang dan akan datang. Melihat kembali pemilu 2009 dan Pemilukada, kekusutan yang banyak terjadi sebagian diakibatkan oleh

kinerja

dari

penyelenggara

mandiri dengan kata lain tidak ada campur tangan oleh negara mempunyai

pemilu yang kurang optimal dalam menjalankan tugas dan kewenangannya penyelenggara Persoalan proses penegakan bertambah pengawasan hukum sebagai pemilu. ketika dan berjalan

lembaga-lembaga lainnya yang

fungsi untuk memeriksa dan memutuskan pengaduan dan / atau laporan adanya dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh anggota KPU, anggota PPK, anggota PPS anggota PPLN, anggota KPPS, anggota KPPSLN, anggota

kurang efektif, yang kemudian malah turut menyumbang

kekisruhan yang terjadi. Pada akhirnya disadari, kelemahan dan kekuranglengkapan dari perangkat undang-undang

bawaslu dan anggota pengawas pemilu lapangan2. Banyaknya pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu bekerja membuat keras DKPP untuk

menjadi pendorong munculnya persoalan-persoalan dalam penyelenggaraan pemilu1. Didalam Undang-undang No. 15 Tahun 2011 tentang Pemilihan

mengadilinya. Hingga saat ini kurang lebih 57 kasus sudah ditangani oleh DKPP mengenai pelanggaran kode etik yang dilakukan penyelenggara oleh anggota pemilu,

Penyelenggara Umum

Dewan Kehormatan

Komisi Pemilihan Umum (DKKPU) diganti dengan Dewan Kehormatan Penyelenggara

Pemilu (DKPP) yang berdiri


Yulianto, Veri Junaidi, dan August Mellaz, Memperkuat Kemandirian Penyelenggara Pemilu: Rekomendasi Revisi Undang-Undang Penyelenggara Pemilu, (Jakarta: KRHN. 2010), Hal. 4..
1

sehingga DKPP berguna untuk mencegah berbagai praktik

Indonesia, Undangundang tentang Penyelenggara Pemilu, UU Nomor 15 Tahun 2011, pasal 109 ayat (2).

pelanggaran kode etik di dalam pemilu. B. Identifikasi Masalah 1. Bagaimana kedudukan dan wewenang DKPP dalam penyelenggara pemilu ? 2. Bagaimana keputusan

wewenang DKPP secara keseluruhan. 2. Memberikan gagasan baru mengenai kinerja DKPP. D. Kerangka Pemikiran 1. Kerangka Teoritis Dalam setiap penelitian,

DKPP dalam menangani kasus pelanggaran kode

harus ada disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis. Hal itu disebabkan karena adanya hubungan timbal balik antara teori

etik yang dilakukan oleh anggota pemilu ? C. Maksud Penelitian Maksud penelitian ini adalah : 1. Untuk menjelaskan tentang kedudukan dan wewenang Dewan Penyelenggara (DKPP). 2. Untuk putusan menganalisis DKPP yang Kehormatan Pemilu dan Tujuan penyelenggara

yang akan dibentuk dengan kegiatan pengolahan, pengumpulan, analisa dan

kontruksi data. Teori itu sendiri spekulasi mengenai berasal para dari ahli

pendapatnya

akan sesuatu hal. Pada ilmu sosial, hukum, sulit termasuk memang ilmu cukup

dibentuk untuk mengawasi pelanggaran kode etik yang dilakukan dalam

untuk

mengadakan

pengukuran-pengukuran eksak di antara ragam teori tersebut. Karena ketepatan atau kecocokan suatu teori mempunyai makna serta penilaian Landasan yang teori relatif. menjadi

penyelenggaraan pemilu. Adapaun penelitian ini adalah : 1. Memberikan pemahaman tujuan

mengenai kedudukan dan

sangat keberadaannya.

penting Sebab

lingkungan KPU maupun Bawaslu menyangkut pula para petugas yang bekerja secara tetap atau pun yang bekerja secara tidak tetap atau adhoc.3 Secara etimologis , kode etik berarti pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam kegiatan melakukan atau suatu

landasan teori pada suatu penelitian dasar-dasar penelitian. penulisan Penulis merupakan operasional Mengenai hukum pun ini, akan

menguraikan beberapa teori yang tentunya berkaitan yang

erat dengan tema

pekerjaan.

diusung Penulis. Berikut pendapat ahli oleh Prof. Dr. Jimly tugas DKPP asshidiqie, S.H bahwa wewenang dengan

Dengan kata lain, kode etik merupakan pola aturan atau tata cara etis prilaku. sebagai Etis

mengemukakkan dan

pedoman

berarti sesuai dengan nilainilai dan norma yang dianut oleh sekelompok orang

berkaitan

orang per orang pejabat penyelenggara pemilihan

atau masyarakat tertentu. Dalam kaitan dengan istilah penyelenggara pemilu,

umum dalam pelanggaran kode etik, baik KPU

maupun Bawaslu. Dalam arti sempit, KPU hanya terdiri atas para komisioner di tingkat pusat, provinsi, dan di tingkat Namun luas, pemilihan baik dalam

kode etik merupakan tata cara atau aturan yang

menjadi standar kegitatan anggota


3

Penyelenggara

kabupaten/kota. dalam arti

penyelenggara umum itu

Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H, Pengenalan Tentang DKPP untuk Penegak Hukum http://www.jimly.com/makalah/n amafile/120/Pengenalan_DKPP. pdf , diakses tanggal 10 Mei 2013.

Pemilu.4

Agar

tidak

(Pelayanan), Accountability (Akuntabilitas).5 2. Kerangka Konseptual Dalam membahas

terjebak pada demokrasi yang procedural tanpa

disertai dengan demokrasi yang substansial maka

kedudukan dan wewenang dewan kehormatan pemilu berdasarkan

diperlukan penyelenggaraan yang baik. pemilu The IDEA

penyelenggara (DKPP)

Internasional

Undang-undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Pemilihan

menetapkan 7 prinsip yang berlaku umum untuk

Penyelenggara

menjamin legitimasi dan kredibilitas penyelenggara pemilu. Prinsip-prinsip

Umum, maka pada Bab ini Penulis akan menguraikan pengertian-pengertian yang relavan yang dapat

tersebut yaitu Independence (Indepedensi/Kemandirian) , Impartiality (Berimbang / Tidak Berpihak), Integrity (Intergritas/Terpecaya), Transparency (Keterbukaan), Efficiency

dijadikan sebagai keyword ataupun langkah awal

pembahasan. Hal tersebut sangat penting dalam

rangka memberikan arahan di dalam proses penulisan agar tetap pada ruang

(Efisiensi), Professionalism (Profesionalisme), Servicemindedness

lingkup sehingga

pembahasan terdapat

persamaan persepsi dalam

Darmoko Mono, Pengertian dan Fungsi Kode Etik. http://www.akilmochtar.com/201 3/05/08/dkpp-tidakbertentangan-dengan-konstitusi/, diakses tanggal 10 Mei 2013.

Yulianto, Veri Junaidi, dan August Mellaz, Memperkuat Kemandirian Penyelenggara Pemilu: Rekomendasi Revisi Undang-Undang Penyelenggara Pemilu, (Jakarta: KRHN. 2010), Hal. 11-15.

membaca penulisan hukum ini. Diantaranya ialah

adalah Penyelenggara yang mengawasi

lembaga Pemilu bertugas

sebagai berikut : a. Dewan Kehormatan

Penyelenggara Pemilu Berdasarkan ketentuan Undang-undang tentang Pemilu, penyelenggaraan pemilihan umum dalam

penyelenggaraan Pemilu wilayah Kesatuan Indonesia.7 3. Dewan Kehormatan Pemilu di seluruh Negara Republik

terdapat 3 fungsi yang saling berkaitan yang dibagi dalam 3

Penyelenggara (DKPP) Dewan

Kehormatan Pemilu

kelembagaan, yaitu: 1. Komisi Pemilihan

Penyelenggara

(DKPP) adlaah lembaga yang bertugas

Umum (KPU) Komisi Pemilihan

menangani pelanggaran kode Penyelenggara dan kesatuan penyelenggaraan Pemilu.8 Dewan DKPP atau etik Pemilu

Umum (KPU) adalah lembaga Penyelenggara Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan

merupakan fungsi

mandiri yang bertugas melaksanakan Pemilu.6 2. Badan Pengawas

Kehormatan Pemilu lembaga pemilu 23E

Pemilu (Bawaslu) Badan Pemilu


6

Penyelenggara bukan penyelenggara menurut Pasal

Pengawas (Bawaslu)

Indonesia, UndangUndang tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, UU No.15 Tahun 2011, Pasal 1 Angka (6).

7 8

Ibid, Pasal 1 angka (6). Ibid, Pasal 1 angka (2).

UUD adalah

Tahun

1945 komisi umum. Undang-

secara jelas, tegas, logis dan juga harus sistematis berdasarkan diperoleh. data yang Metode

pemilihan Menurut undang

terbagu

ke

penelitian yang digunakan penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Tipe Penelitian Bentuk penelitian tentang Kedudukan dan Wewenang Dewan Pemilu kedalam

dalam 2 kelembagaan yang terpisah dan

masing-masing bersifat independen, yaitu: 1. Komisi Pemilihan

Umum (KPU) 2. Badan Pemilihan (Bawaslu) E. Metode Penelitian Penelitian kegiatan adalah ilmiah suatu yang Pengawas Umum

Kehormatan Penyelenggara ini termasuk

penelitian yuridis normatif, yaitu penelitian dengan bahan yang cara

dilakukan meneliti

berkaitan dengan analisa dan konstruksi, yang secara

pustaka, studi

atau disebut

juga

dilakukan konsisten.9 Dalam melakukan

kepustakaan, yaitu tata cara pengumpulan data yang

metedologis, sistematis dan

bersasal dari bahan-bahan suatu literatur atau kepustakaan, peraturan perundang-

penelitian untuk menyusun skripsi maka haruslah

undangan terkait , tulisan atau riset penelitian hukum.10 2. Sifat Penelitian

diperhatikan bahwa skripsi merupakan suatu karya

ilmiah yang harus disusun


Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 1986), hal 42.
9

10

Ibid.

Dari sudut sifatnya, metode penelitian yang

sekunder. Penelitian hukum normatif dilakukan dengan cara meneliti data sekunder, baik bahan hukum primer maupun sekunder. Studi dilakukan kepustakaan untuk bahan hukum

digunakan dalam penulisan hukum ini ialah metode deskriptif-analitif, suatu penelitian yaitu yang dengan data-data nyata, lengkap,

dilakukan menguraikan secara rinci,

sistematis, dan

memperoleh data sekunder. Dalam hal ini data sekunder diperoleh melalui : a. Bahan Hukum Primer Bahan primer bahan yaitu hukum hukum bahanyang seperti perundangyang Undang-

kemudian menganalisisnya untuk memperoleh faktafakta yang diinginkan yang didasarkan pada kerangka pemikiran dari hal-hal yang umum menuju hal-hal yang lebih khusus. 3. Cara Pengumpulan Data Dalam melakukan

mengikat peraturan undangan, meliputi

penelitian ini, alat yang digunakan dalam

Undang Dasar Tahun 1945, Undang-undang, Peraturan DKPP. b. Bahan hukum sekunder Bahan sekunder, hukum yang

pengumpulan data adalah studi kepustakaan (library research), yaitu

pengumpulan data tertulis Data digolongkan kepustakaan dalam dua

memberikan penjelasan mengenai bahan-bahan primer, misalnya, seperti hasil-hasil

bahan hukum, yaitu baik bahan maupun hukum bahan primer hukum

penelitian, hasil karya

kalangan hukum, dan lain-lain. c. Bahan hukum tertier Bahan tertier, yang petunjuk penjelasan yakni hukum bahan

Bab ini merupakan Bab Tinjauan Umum tentang Pemilihan Umum yang

isinya antara lain memuat Demokarasi dan Pemilihan Umum, Pemilihan Umum di Indonesia, Kode Etik dalam Penyelenggara

memberikan maupun terhadap

bahan hukum primer dan contohnya sekunder, kamus,

Pemilihan Umum BAB III Bab ini merupakan Bab Dewan Penyelenggara dalam Kehormatan Pemilu

ensiklopedia, dan lainlain. F. Sistem Penulisan Sistematika penulisan

Penyelenggara Umum yang

Pemilihan

dalam penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut: BAB I Bab ini merupakan Bab Pendahuluan yang isinya antara lain memua latar belakang identifikasi maksud penelitian, pemikiran, dan masalah, masalah, tujuan kerangka metode

berisi Pengertian Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, Dewan Penyelenggara Sejarah Singkat

Kehormatan Pemilu,

Subjectum dan Objectum Litis Perkara di Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu. BAB IV Bab ini merupakan Bab Analisis yang isinya antara lain memuat analisis

penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II

Kedudukan dan Wewenang DKPP, analisis putusan

DKPP dalam menangani kasus pelanggaran kode

setara.11 Pemilu mengandung pengertian bahwa pemilihan umum harus diselenggarakan secara demokratis dan

etik yang dilakukan oleh anggota pemilu. BAB V Bab ini merupakan Bab Penutup yang isinya antara lain Kesimpulan dan Saran. BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG UMUM A. Demokrasi dan PEMILIHAN penyelenggara

transparan berdasarkan pada asas-asas bersifat pemilihan langsung, yang umum,

bebas dan rahasia serta jujur dan adil :12 1. Langsung berarti rakyat mempunyai secara memberikan sesuai dengan nuraninya hak untuk langsung suaranya kehendak tanpa

Pemilihan Umum Demokrasi pemerintahan adalah yang bentuk semua

hati

perantara. 2. Umum dasarnya warganegara memenuhi berarti pada semua yang persyaratan

warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan yang hidup dapat mereka.

keputusan mengubah

Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi baik

minimal dalam usia 17 tahun atau telah/pernah

secara langsung atau melalu perwakilan dalam perumusan, pengembangan dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang memungkinkan adanya politik praktik secara kebebasan bebas dan

kawin berhak ikut memilih dalam pemilihan umum.


Wikipedia, Demokrasi http://id.wikipedia.org/wiki/Dem okrasi, diakses tanggal 01 juni 2013. 12 Asas-asas pemilihan umum, http://bagazx.blogspot.com/2012/ 02/asas-pemilihan-umumindonesia.html, diakses pada tanggal 18 Agustus 2013.
11

10

Warga yang sudah berumur 21 tahun berhak memilih. Jadi, pemilihan yang

diketahui

oleh

pihak

manapun dan dengan jalan apapun. 5. Jujur berarti dalam

bersifat umum mengandung makna menjamin

menyelenggarakan pemilu semua penyelenggara

kesempatan yang berlaku menyeluruh warganegara memenuhi bagi yang semua telah

pemilu serta semua pihak yang terlibat secara tidak langsung harus bersikap

persyaratan

tertentu tanpa diskriminasi (pengecualian) berdasar

dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan

acuan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, kedaerahan sosial. 3. Bebas berarti setiap berhak dan status

perundang-undangan yang berlaku. 6. Adil berarti dalam

menjalankan pemilu setiap pemilih dan partai politik peserta pemilu mendapat perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan

warganegara

memilih bebas menentukan pilihannya tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun. Didalam melaksanakan

pihak manapun. B. Pemilihan Indonesia Indonesia telah Umum di

haknya setiap warganegara dijamin sehingga keamanannya, dapat memilih

menyelenggarakan 10 kali pemilihan umum.

sesuai kehendak hati nurani dan kepentingannya. 4. Rahasia berarti dalam suaranya bahwa akan

Khususnya untuk pemilihan anggota pusat parlemen maupun (baik daerah) jenis

memberikan pemilih dijamin

digunakan

pemilihnya

tidak

Proporsional, yang kadang

11

berbeda dari satu pemilu ke pemilu lain. Perbedaan ini akibat sejumlah faktor yang mempengaruhi seperti

Selama sejarah Pemilu di Indonesia, Indonesia telah mengalami 10 kali Pemilu yaitu pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, 2004, dan 2009.13 BAB III DEWAN

jumlah penduduk, jumlah partai politik, trend

kepentingan partai saat itu, dan juga jenis sistem politik yang tengah berlangsung. Sistem pemilu di Indonesia tidak terlepas dari fungsi rekrutmen dalam sistem

KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILU DALAM

PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM A. Penyelenggara Sistem Pemilu di

politik. Mengenai sistem pemilu Norris menjelaskan bahwa rekrutmen seorang kandidat oleh partai politik bergantung pada sistem

dalam

Pemilu

Indonesia Berdasarkan ketentuan

pemilu yang berkembang di suatu negara. Di Indonesia, pemilihan legislatif (DPR, DPRD I, dan DPRD II) menggunakan sistem

Undang-Undang No.8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum terdapat 3 fungsi yang saling berkaitan yaitu KPU (Komisi Pemilihan Umum), Bawalu

proporsional dengan daftar terbuka. Lewat sistem

(Badan Pengawas Pemilihan Umum) dan DKPP (Dewan Penyelenggara Pemilu. 1. Komisi Pemilihan Umum
Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Pemi lihan_umum_di_Indonesia, diakses pada tanggal 18 Agustus 2013.
13

semacam ini, partai-partai politik cenderung mencari kandidat sehingga yang populer punya

elektabilitas yang tinggi di mata para pemilih.

12

Secara institusional, KPU yang ada sekarang merupakan KPU ketiga yang dibentuk setelah Pemilu demokratis sejak

urung dilantik Presiden karena masalah hukum.14 2. Badan Pengawas Pemilu Badan Pengawas Pemilihan

reformasi 1998. KPU pertama (1999-2001) dibentuk dengan Keppres No 16 Tahun 1999 yang berisikan 53 orang

Umum (Bawaslu) merupakan lembaga penyelenggara pemilu yang bertugas melaksanakan pengawasan pemilu di negara kesatuan Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 2011 tentang Pemilu,

anggota yang berasal dari unsur pemerintah dan Partai Politik dan dilantik oleh Presiden BJ Habibie. KPU kedua (20012007) dibentuk dengan

Penyelenggara

Bawaslu dipimpin oleh lima orang Anggota Bawaslu dari kalangan profesional yang

Keppres No 10 Tahun 2001 yang berisikan 11 orang

anggota yang berasal dari unsur akademis dilantik dan oleh LSM dan

memiliki kemampuan dalam pengawasan pelaksanaan terhadap Pemilu di

Presiden (Gus

Abdurrahman

Wahid

Indonesia. Terlebih, netral dan tidak menjadi anggota partai politik tertentu. Dalam tugasnya, oleh

Dur) pada tanggal 11 April 2001. KPU ketiga (2007-2012) dibentuk berdasarkan Keppres No 101/P/2007 yang berisikan 7 orang anggota yang berasal dari anggota KPU Provinsi, akademisi, peneliti dan birokrat dilantik tanggal 23 Oktober 2007 minus Syamsulbahri yang

melaksanakan Bawaslu

didukung

Kesekretariatan Jenderal yang dipimpin oleh seorang

Sekretaris Jenderal. Kedudukan

KPU, http://www.kpu.go.id/index.php? option=com_content&task=view &id=32, diakses pada tanggal 25 Agustus 2013.

14

13

Sekretaris Jenderal didukung oleh 4 (empat) kepala biro yang terdiri dari Biro Biro Teknis

B. Pengertian Kehormatan

Dewan

Penyelenggara Pemilu Dalam arti umum, DKPP memiliki wewenang tugas dan untuk

Administrasi,

Pengawasan Penyelenggaraan Pemilu, Humas dan dan Biro Hukum,

Pengawasan

menegakkan dan menjaga kemandirian, integritas, dan kredibelitas penyelenggara Pemilu. Secara lebih

Internal, serta 1 (satu) Biro Administrasi Kehormatan Pemilu (DKPP).15 Selain 2 lembaga tersebut Dewan Penyelenggara

spesifik, DKPP dibentuk untuk mengadili, memutuskan /laporan pelanggaran yang KPU, memeriksa, dan pengaduan dugaan kode etik

Komisi Pemilihan Umum dan Bawaslu, ketentuan No.8 tahun berdasarkan Unndang-Undang 2012 tentang

Pemilu terdapat 1 lembaga yang berkaitan dengan orang per orang pejabat pemilihan

dilakukan anggota

anggota Bawaslu,

dan jajaran di bawahnya. Tugas DKPP adalah untuk: (1) menerima pengaduan /laporan dugaan

penyelenggara

umum, baik Komisi Pemilihan Umum maupun Bawaslu yaitu Dewan Penyelenggara (DKPP).
16

Kehormatan Pemilu

pelanggaran kode etik oleh Penyelenggara Pemilu; (2) melakukan penyelidikan,

verifikasi, dan pemeriksaan


Bawaslu, http://www.bawaslu.go.id/profile /2/, diakses pada tanggal 25 Agustus 2013. 16 Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H, Pengenalan Tentang DKPP untuk Penegak
15

Hukum http://www.jimly.com/makalah/n amafile/120/Pengenalan_DKPP. pdf , diakses tanggal 25 Agustus 2013.

14

pengaduan/laporan dugaan pelanggaran kode etik oleh Penyelenggara Pemilu; (3) menetapkan dan (4) Putusan terkait Putusan; menyampaikan kepada pihak untuk

C. Sejarah Singkat Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu


Dalam rangka mewujudkan

visi pembangunan bangsa melalui peningkatan

kualitas demokrasi maka diperlukan institusi-institusi negara proses Pemilihan untuk mengawal

ditindaklanjuti. Sementara itu dalam rangka tugas-

menjalankan

penyelenggaraan Umum dan

tugasnya, DKPP memiliki kewenangan untuk: (1)

Pemilu Kada di seluruh Indonesia. Dewan

memanggil penyelenggara Pemilu melakukan kode etik yang diduga

Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum Republik Indonesia DKPP lembaga atau disingkat RI yang merupakan dibentuk

pelanggaran untuk

memberikan penjelasan dan pembelaan; (2) memanggil pelapor, saksi, lain dan/atau yang dimintai termasuk

dalam praktek demokrasi modern di Indonesia.

pihak-pihak terkait

untuk

DKPP merupakan produk wacana perbaikan kualitas demokrasi penyelenggaraan Pemilu menjadi politik khususnya Pemilu.

keterangan

dokumen atau bukti lain; dan (3) memberikan sanksi kepada Pemilu penyelenggara yang terbukti

seakan-akan beban tersendiri sejarah bagi

melanggar kode etik.17


Pengertian Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (dkpp), http://www.dkpp.go.id/index.php
17

perubahan, bahkan begitu


?mod=static&page=lembaga, diakses pada tanggal 25 Agustus 2013.

15

berharganya

Pemilu

peraturan tentang Pedoman Beracara Dewan

dibutuhkan lembaga khusus yang permanen melakukan penegakan kode etik guna menghasilkan Pemilu yang tidak saja luber jurdil tapi mewujudkan proses dan

Kehormatan Penyelenggara Pemilu, pengertian pihak yang dapat berperkara

tersebut dibatasi, sehingga penanganan kasus-kasus

hasil pemimpin yang betulbetul bermartabat.18 D. Subjek Perkara Kehormatan Penyelenggara Pemilu Berdasarkan Undangdan di Objek Dewan

dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu dapat secara realistis

ditangani dan diselesaikan oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Lagi pula, Pemilu. Dewan

Undang No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara

Kehormatan Penyelenggara Pemilu memberikan juga perlu dukungan

Pemilu, subjectum litis atau subjek yang dapat menjadi pihak yang berperkara di Dewan Penyelenggara Kehormatan Pemilu

penguatan kepada Komisi Pemilihan Umum dan

Badan Pengawas Pemilu sendiri untuk menjalankan fungsinya tanpa harus

dapat mencakup pengertian yang luas dan dapat pula menyangkut sempit. pengertian dalam

menangani semua urusan dugaan pelanggaran kode etik sendiri. Hal-hal yang dapat diselesaikan sendiri

Namun,

Sejarah Dewan Kehormatan Penyelenggara pemilu (dkpp), http://www.dkpp.go.id/index.php ?mod=static&page=sejarah, diakses pada tanggal 27 Agustus 2013.

18

oleh Umum

Komisi dan

Pemilihan Badan

Pengawas Pemilu atau pun hal-hal yang semestinya

16

ditangani dan diselesaikan lebih dulu oleh KPU dan Bawaslu, tidak boleh secara langsung DKPP mengabaikan ditangani oleh

kode etik adalah individu, baik secara sendiri-sendiri atau pun secara bersamasama, bukan sebagai satu institusi, melainkan sebagai orang per orang. Yang dituduh melanggar etik, bukan KPU kode atau

dengan mekanisme
19

internal KPU dan Bawaslu sendiri lebih dulu. Objek ditangani terbatas

perkara oleh hanya

yang DKPP kepada

Bawaslu sebagau institusi, tetapi orang per orang

yang kebetulan menduduki jabatan ketua atau anggota KPU atau Bawaslu

persoalan perilaku pribadi atau pejabat orang atau per orang petugas pemilihan

tersebut. Oleh karena itu, pihak yang melaporkan

penyelenggara

umum. Objek pelanggaran etika yang menyangkut

atau yang mengadu harus mampu membuktikan apa saja yang telah dilakukan oleh orang per orang

sikap dan perbuatan yang mengandung unsur jahat dan melanggar hukum yang dilakukan perseorangan oleh individu

individu ketua atau anggota KPU atau Bawaslu yang dianggap telah melanggar kode etik penyelenggara pemilu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.20 BAB IV ANALISIS
DKPP, http://www.jimly.com/makalah/n amafile/120/Pengenalan_DKPP.p df, diakses pada tanggal 27 Agustus 2013, hal 2-3.
20

secara sendiri-sendiri atau pun bersama-sama yang

dipertanggunjawabkan juga secara individu orang per orang. Dengan kata lain, yang dapat dituduh melanggar
19

Ibid.

17

A. Kedudukan Wewenang Kehormatan Penyelenggara Pemilu Berdasarkan tentang ketentuan Pemilu,

dan Dewan

Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu.21 Secara substansial, DKPP

hakikatnya merupakan lembaga UU peradilan terutama untuk

dalam pemilihan

kasus-kasus pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu.

penyelenggara

umum terdapat 3 fungsi yang saling berkaitan yang

seluruh

mekanisme

pemeriksaan pelanggaran kode etik terkonsentrasi dan

diinstitusionalisasikan dalam 3 kelembagaan, yaitu KPU,

tersentralisasi di DKPP sebagai satu-satunya institusi penegak kode pemilu, etik baik penyelenggara KPU dan

Bawaslu dan DKPP. Dewan Kehormatan Penyelenggara

Pemilu (DKPP) bukan lembaga penyelenggara pemilu, tetapi tugas dan kewenangannya

jajarannya di seluruh Indonesia maupun jajarannya Indonesia. Bawaslu di Meskipun dan seluruh tidak istilah

terkait dengan para pejabat penyelenggara Lembaga pemilu. penyelenggara

menggunakan

pemilu menurut Pasal 22 E UUD komisi Tahun 1945 adalah umum pemilihan

pengadilan, hakikat kedudukan, tugas, dan wewenang DKPP benar-benar lembaga peradilan etik, yaitu lembaga pengadilan etik yang pertama di Indonesia, juga yang pertama di dunia.
Jimly Asshiddiqie, Makalah Pengenalan Tentang DKPP Untuk Penegak Hukum, Disampaikan dalam forum Rapat Pimpinan Kepolisian Republik Indonesia di Jakarta, diakses pada Februari 2013. Hal 1.
21

(denga huruf kecil), tetapi oleh undang-undang dijabarkan

menjadi terbagi ke dalam 2 kelembagaan yang terpisah dan masing-masing independen, Pemilihan yaitu Umum bersifat Komisi (dengan

huruf besar) atau KPU, dan

18

segala prinsip peradilan yang berlaku di dunia hukum juga berlaku Misalnya, di dunia etika. audi et

menyangkut aneka kepentingan yang saling bersitegang antara para peserta pemilu dengan penyelenggara antara pemilu atau

prinsip

alteram partem atau semua pihak harus


22

masyarakat

pemilih

memiliki

(voters) dengan penyelenggara pemilu, ataupun diantara

kesempatan dan transparansi atau keterbukaan. Sebagai

sesame penyelenggara pemilu para sendiri, aparat Bawaslu.23 B. Putusan Kehormatan Pemilu Menangani Dewan Penyelenggara dalam Kasus khususnya KPU dan antara aparat

pengadilan,

anggota DKPP juga bersikap netral, pasif, dan tidak

memanfaatkan

kasus-kasus

yang timbul untuk popularitas pribadi. Para anggota dilarang menikmati pujian yang timbul dari putusan dan sebaliknya dilarang pula tersinggung atau marah karena dikritik oleh masyarakat yang tidak puas akan putusan DKPP. Sebagai lembaga peradilan etika, DKPP juga harus menjadi contoh mengenai perilaku etika dalam menyelenggarakan peradilan
22

(DKPP)

Pelanggaran Kode Etik yang Dilakukan Oleh Anggota

Penyelenggara Pemilu Kasus Posisi Berdasarkan putusan Dewan Kehormatan Penyelenggara

Pemilu No.74/ DKPP-PKEII/2013 tentang Diskriminatif dalam penerimaan pendaftaran pasangan Parawansa Khofifah dan Indar Herman

sistem yang

etika

Kedudukan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, http://logisnews.com/2012/12/13/ jimly-asshiddiqie-dkpphakikatnya-adalah-lembagapengadilan/, diakses pada tanggal 2 Juni 2013.

Suryadi Sumawiredja sebagai Bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa
23

Ibid.

19

Timur

Tahun

2013

yang

Umum

dikarenakan

telah

diajukan oleh pengadu 1 yaitu, Dra. Hj. Khofifah (calon Indar

memberikan perlakuan yang tidak sama dan tidak netral. Pertimbangan Putusan Adapun pertimbangan putusan DKPP sebagai berikut : 1. Menimbang bahwa maksud dan tujuan pengaduan terkait

Parawansa

Gubernur Drs. H.

Jawa Timur) dan

Herman Suryadi Sumawiredja, pengadu 2 yaitu, Faridatul

Hanum (anggota masyarakat Jawa Timur), pengadu 3 yaitu, Jazilul Fawaid (Tim Sukses Khofifah). Dra. Hj. Khofifah (calon Indar

Pengadu

adalah

dengan dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara pemilu yang dilakukan oleh para Teradu; 2. Menimbang tindakan para bahwa Teradu

Parawansa

Gubernur

Jawa Timur) sebagai pengadu 1 menemukan adanya dugaan

pelanggara kode etik yang dilakukan oleh teradu 1 yaitu Andri Dewanto Ahmad, S.H. (Ketua KPU Provinsi Jawa Timur) telah melanggar Pasal 9 huruf a dan b jo Pasal 10 huruf a dan b Peraturan Bersama Komisi Pemilihan Umum,

tersebut menunjukkan sikap dan tindakan yang tidak profesional. dengan melihat Bahkan, hasil

penelitian dan klarifikasi tersebut serta jawaban-

jawaban para Teradu, baik secara lisan maupun

Badan Pengawas Pemilu, Dan Dewan Penyelenggara Kehormatan Pemilihan

tertulis, meyakinkan DKPP bahwa di tengah-tengah atau

pertentangan

Umum Nomor 13 Tahun 2012, Nomor 11 Tahun 2012, Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Kode Etik Penyelenggara Pemilihan

perbedaan keterangan dari para pihak tesebut, para Teradu tidak berusaha

menetapkan suatu kerangka

20

yang jelas untuk menilai mana yang lebih besar

3. Merehabilitasi Teradu V atas nama Sayekti

bobot kebenaran dokumen dan dari keterangan yang disampaikan para pihak

Suindyah; 4. Menjatuhkan sanksi berupa Pemberhentian Sementara kepada

tersebut berdasarkan jiwa dan roh peraturan

Teradu II atas nama Nadjib Hamid, Teradu III Agung Nugroho dan Teradu IV Agus Machfud Fauzi

perudang-undangan, AD/ART mekanisme jenjang 80 maupun dan

internal

pengambilan

sampai hak konstitusional Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa dan H. Herman Suryadi terpulihkan; 5. Memerintahkan kepada Sumawiredja

keputusan yang berlaku di tiap-tiap partai politik. Amar Putusan DKPP Berdasarkan pengaduan dari temuan-temuan pengadu dan jawaban Teradu di atas dan setelah menjalani pada 2012 proses 27 DKPP

Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia untuk melakukan peninjauan

persidangan, November akhirnya

kembali secara cepat dan tepat terhadap Keputusan KPU Provinsi Jawa Timur sesuai maksud, prinsip dan etika penyelenggara pemilu dalam rangka pemulihan hak konstitusional Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa dan H. Herman Suryadi Sumawiredja;

membacakan

putusannya yang pada intinya memutuskan bahwa : 1. Mengabulkan pengaduan

Pengadu untuk sebagian; 2. Menjatuhkan sanksi

peringatan kepada Teradu I atas nama Andry Dewanto Ahmad;

21

6. Memerintahkan

kepada

kondemnatoir menyangkut

DKPP hukuman

Komisi Pemiihan Umum untuk tanggung mengambil jawab alih KPU

kepada komisioner KPUD Jatim dengan saksi yang berbeda-beda dari teguran hingga skorsing sementara. Termasuk menghentikan

Provinsi Jawa Timur untuk sementara, dan

melaksanakan putusan ini sebagaimana serta kepada mestinya, Badan Pemilihan

suatu perbuatan yaitu tidak membolehkan tiga

Pengawas

komisioner yang disanksi skorsing sementara turut mengambil keputusan di KPUD pelolosan Jatim, sampai

Umum Republik Indonesia untuk mengawasi

pelaksanaan putusan ini. Analisis Dalam pandangan saya,

cagub-cawagub

Khofifah-Herman. Berdasarkan Undang-

Putusan DKPP seperti itu, sudah gabungan Konstitutif masuk dari dan dalam Putusan putusan

Undang No. 15 Tahun 2011 DKPP mengambil

keputusan yang bercampur antara putusan Konstitutif dan putusan kondemnatoir. Dalam hal ini, DKPP

kondemnatoir. Mengingat, DKPP keputusan mengambil yang

menciptakan/menimbulkan keadaan hukum baru,

terkesan seolah lembaga yudikatif yang memiliki

berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya

ekstra kewenangan seperti KPK Pemberantasan (Komisi Korupsi).

sekaligus berkenaan dengan status hukum seseorang

Padahal dalam UU No. 15/2011 dinyatakan bahwa DKPP dibentuk untuk

atau hubungan keperdataan Khofifah-Herman. Putusan

22

memeriksa memutuskan dan/atau

dan pengaduan adanya

tetap (Pasal 112 (Ayat 10). Dengan demikian dalam UU No. 15 Tahun 2011 tidak satu pasal pun yang kepada memberi DKPP

laporan

dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh anggota KPU KPU KPU, Provinsi, anggota anggota

kewenangan untuk eksekusi

membuat berupa

keputusan perintah

Kabupaten/Kota,

kepada KPU-RI sebagai atasan dari KPUD Jatim. Dengan tersebut tersebut keputusan karena telah DKPP putusan melampaui

anggota PPK, anggota PPS, anggota PPLN, anggota

KPPS (Pasal 109 ayat 2). Kemudian Pasal 111 (ayat 4) diatur mengenai kewenangan DKPP yang meliputi a.

kewenangan (Out of Authority) dikarenakan DKPP dalam

memanggil

Penyelenggara

putusannya sudah menyentuh ranah teknis penyelenggaraan pemilu. Sidang itu seharusnya digelar dengan agenda

Pemilu yang diduga melakukan pelanggaran kode etik untuk memberikan pembelaan; penjelasan b. dan

memanggil

mempersoalkan etika personal KPUD Jatim. Namun yang terjadi, sidang tersebut melebar dengan mendengarkan saksi ahli yang justru adanya bercerita tawaran-

pelapor, saksi, dan/atau pihakpihak lain yang terkait untuk dimintai keterangan, termasuk untuk dimintai dokumen atau bukti lain; dan c. memberikan sanksi kepada Penyelenggara Pemilu melanggar yang kode terbukti etik. Dan

tentang

tawaran politik. jika DKPP tidak memiliki kewenangan

untuk membatalkan keputusan yang telah dibuat oleh KPUD Jatim. Seharusnya, yang berhak memutuskan apakah pasangan

sanksinya dapat berupa teguran tertulis, pemberhentian

sementara,atau pemberhentian

23

Khofifah Indar Parawansa dan Herman S Sumawiredja berhak mengikuti Pilgub Jatim adalah Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN). Kasus Posisi Berdasarkan putusan Dewan Kehormatan Penyelenggara

Dr.

Muhammad, Badan (Bawaslu)

S.IP.,M.Si Pengawas Republik

(Ketua Pemilu

Indonesia) sebagai Pengadu I menemukan pelanggaran adanya kode dugaan etik

Penyelenggara Pemilu yakni pada ketentuan Pasal 2 Juncto Pasal 26 ayat (2) UU Nomor 15 Tahun 2011, Pasal 7 huruf d, Pasal 11 huruf a dan huruf c, dan pasal 16 huruf a, huruf b, dan huruf c, Peraturan Bersama Komisi Badan Umum, Kehormatan Pemilihan Pengawas dan Umum, Pemilihan Dewan

Pemilu (DKPP) Nomor 2325/DKPP-PKE-I/2012, putusan tersebut dalam merupakan pengaduan putusan perkara

Nomor 055/I-P/L-DKPP/2012 tanggal 31 Oktober 2012 yang diregistrasi Perkara dengan Nomor

25/DKPPPKE-I/2012

dan pengaduan Nomor 045/IP/L-DKPP/2012 tanggal 29

Penyelenggara

Pemilihan Umum Nomor 13 Tahun 2012, Nomor 11 Tahun 2012, Nomor 1 Tahun 2012 tentang Penyelenggara Umum. Bawaslu mengkualifikasikan Kode Etik Pemilihan

Oktober 2012 yang diregistrasi dengan Nomor Perkara yang

26/DKPP-PKE-I/2012

diajukan oleh Pengadu I yaitu, Dr. Muhammad, Badan (Bawaslu) S.IP.,M.Si Pengawas Republik

(Ketua Pemilu

temuan pelanggaran tersebut dengan menarik ke dalam

Indonesia) dan Pengadu II yaitu, Said Salahuddin (Pegiat Pemilu/Konsultan Sinergi

konstruksi etika, yakni Teradu Ketua dan Anggota Komisi Pemilihan Indonesia Umum diduga Republik tidak

Masyarakat Untuk Demokrasi Indonesia (SIGMA).

24

menghargai dan menghormati sesama lembaga, tidak tegas, tidak prosedur, tidak tertib, dan tidak ada kepastian hukum, dalam penundaan pengumuman penelitian administrasi perbaikan Partai Politik. Sedangkan Said salahuddin, Pegiat Pemilu Sinergi hasil

(KPU

RI)

tidak itikad

terbukti buruk

mempunyai

untuk melanggar kode etik penyelenggara Pemilu, dan mengingatkan agar para

Teradu dapat bekerja secara lebih profesional, transparan, jujur, adil, dan akuntabel

untuk seluruh tahapan Pemilu berikutnya.

Masyarakat Untuk Demokrasi Indonesia (SIGMA) sebagai Pengadu II menyatakan

2. Menimbang bahwa Saudara Suripto Bambang Setiadi selaku Sekretaris Jenderal KPU, Trijono Saudara selaku Asrudi Wakil

penemuannya bahwa, Ketua dan Anggota Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia

Sekretaris Jenderal KPU dan Ketua Pokja Verifikasi Partai Politik, serta Saudara Nanik Kepala Suwarti Biro selaku Hukum

(KPU RI) diduga tidak cermat, tidak adil, tidak berasaskan Kepastian hukum, tidak tertib, tidak terbuka, dan tidak tidak dalam Verifikasi

profesional, akuntabilitas, penyelenggaraan Peserta Pemilu.

Sekretariat Jenderal KPU, dan Saudara Teuku Saiful Bahri Johan selaku Wakil Kepala Biro Hukum

Pertimbangan Putusan Adapun pertimbangan putusan DKPP sebagai berikut : 1. Menimbang bahwa Pihak
Teradu yaitu Ketua dan Anggota Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia

Sekretariat Jenderal KPU melanggar kode etik

penyelenggara Pemilu dan merekomendasikan kepada KPU untuk menjatuhkan sanksi pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu
25

kepada Bambang

Saudara Setiadi

Suripto selaku

pada bahwa :

intinya

memutuskan

Sekretaris Jenderal KPU, Saudara selaku Jenderal Nanik Kepala Asrudi Wakil KPU, Suwarti Biro Trijono Sekretaris Saudara selaku Hukum

1. Pihak Teradu yaitu Ketua dan Anggota KPU RI tidak terbukti mempunyai itikad buruk untuk melanggar

kode etik penyelenggara Pemilu. 2. Menyatakan Jenderal KPU, Sekretaris Wakil

Sekretariat Jenderal KPU, dan Saudara Teuku Saiful Bahri Johan selaku Wakil Kepala Biro Hukum

Sekretaris Jenderal KPU dan Ketua Pokja Verifikasi Partai Politik, serta Kepala Biro Hukum Sekretariat

Sekretariat Jenderal KPU, dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya mengembalikan bersangkutan pejabat-pejabat yang beserta lainnya

Jenderal KPU, dan Wakil Kepala melanggar Biro kode Hukum etik

penyelenggara Pemilu. 3. Memrintahkan kepada KPU agar mengikutsertakan 18 partai politik yang tidak lolos verifikasi administrasi untuk diberi kesempatan mengikuti verifikasi faktual sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan KPU. 4. Memerintahkan kepada

yang terlibat pelanggaran kepada instansi asal sejak dibacakannya Putusan ini. Amar Putusan DKPP Berdasarkan pengaduan dari temuan-temuan pengadu,

jawaban Teradu dan setelah menjalani proses persidangan, pada 27 November 2012

akhirnya DKPP membacakan putusannya Nomor 23yang

KPU untuk melaksanakan Putusan ini, dan kepada

25/DKPP-PKE-I/2012

26

Bawaslu untuk mengawasi pelaksanaan Putusan ini. Analisis Terhadap Nomor I/2012 Putusan DKPP

pemilu. Oleh karena itu, DKPP dalam memutus perkara

tersebut bisa dikatakan sebagai pelanggaran terhadap prinsip ultra petita atau dilarang untuk memberikan putusan diluar

23-25/DKPP-PKEtersebut, kami

menyatakan bahwa DKPP telah keliru menilai pengaduan para pengadu melampaui kewenangannya (out dan bahkan batas of

dari apa yang tidak diminta. Putusan DKPP tersebut dapat menimbulkan hal buruk dan legitimasi langsung secara kepada tidak DKPP

authority). Sehingga menjadi alasan kenapa putusan DKPP Nomor 23-25/DKPP-PKE-

dikemudian hari untuk dapat mengintervensi tahapan pemilu tahapanselanjutnya

I/2012 sangatlah kontroversial dan menimbulkan berbagai

dengan alasan ada pengaduan terhadap penyelenggara pemilu yang melanggar kode etik. Jika hal tersebut menjadi kenyataan, maka DKPP akan menjadi lembaga yang seenaknya dapat memutuskan perkara yang

tanda tanya publik. Hal itu disebabkan karena DKPP

memberikan sebuah putusan yang tidak hanya memutus pengaduan pelanggaran kode etik namun sudah menyentuh ranah teknis penyelenggaraan tahapan pemilu. Padahal

bukan merupakan tugas dan wewenangnya. BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hal-hal yang telah

sebenarnya UU No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu memberikan batasan kepada DKPP yang hanya

diuraikan

dalam

penulisan

hukum ini, maka dapat ditarik suatu kesimpulan, yakni:

memiliki tugas utama menjaga kode etik penyelenggara

27

1. Keberadaan

DKPP

lahir pada tanggal 12 Juni 2012. 2. Banyaknya masalah yang timbul pada saat pemilu 2009 yaitu masalah

bukanlah hal baru karena sebelumnya sudah ada yang namanya Kehormatan Pemilihan Umum Dewan Komisi (DK-

mengenai pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu baik anggota anggota pejabat penyelenggara membuat DKPP KPU Bawaslu maupun serta didalam pemilu bekerja

KPU) sejak 2008. DK-KPU adalah institusi ethic Undang-

difungsikan

Undang Nomor 22 Tahun 2007 Penyelenggara untuk Tentang Pemilu

menyelesaikan

persoalan pelanggaran kode etik penyelenggara.Namun, wewenangnya tidak begitu kuat, lembaga ini hanya difungsikan memeriksa, menyidangkan memberikan memanggil, dan hingga rekomendasi bagi

keras dalam menjalankan tugasnya. Tugas dan

kewenangannya di dalam penyelenggara pemilu

adalah sebagai peradilan etik yang menangani kasus pemilu kode yang etik melanggar di dalam

penyelenggaraan pemilu. 3. Dalam beberapa kasus

pada KPU dan bersifat ad hock. Pada akhirnya

tentang diskriminatif dalam


penerimaan pasangan Parawansa pendaftaran Khofifah dan Indar Herman

pemerintah, DPR, lembaga yudikatif dan lembaga-

lembaga pemantau Pemilu ingin menjadikan DKPP sebagai lembaga yang

Suryadi Sumawiredja sebagai Bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi

tetap. DKPP secara resmi

28

Jawa Timur Tahun 2013 dan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh KPU

menangani etika pemilu. B. Saran Setelah

pelanggaran penyelenggara

menunjukan bahwa DKPP dalam dan menjalankan tugas wewenangnya telah batas (out of

melakukan

pembahasan atau analisa yang telah dikemukakan pada

melampaui kewenangannya

Penulisan Hukum ini, maka saran yang dapat diberikan oleh Penulis adalah: 1. Perlu adanya kewenangan DKPP yang berdasarkan pada UU No. 15 Tahun 2011 dalam putussannya dipastikan selain itu DKPP

authority)dengan peraturan perundang-undanganya yang berlaku yaitu putusan DKPP dianggap tidak

hanya memutus pengaduan pelanggaran penyelenggara kode etik pemilu

mengeluarkan harus hanya

namun sudah menyentuh ranah penyelenggaraan pemilu yang teknis tahapan menjadi

melakukan penegakan kode etik penyelenggara pemilu sesuai peraturan dan

kewenangan lembaga lain. DKPP seolah-olah ingin

perundang-undangan tidak

memiliki kewenangan yang lebih dari apa yang

mengeluarkan

putusan yang justru bisa mengganggu tatanan

tercantum dalam UU No. 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu. Hal ini dapat menurunkan dan sebagai

penyelenggara pemilu di Indonesia serta berpotensi mengambilalih kewenangan lembaga

integritas kredibilitasnya

penyelenggara pemilu yang lain.

pihak yang bertugas hanya

29

2. KPU, Bawaslu dan DKPP harus terus membangun yang satu baik

tidak keluar dari koridor kewenangnnya yang diatur dalam UU No. 15 Tahun 2011 tentang

koordinasi sebagai

kesatuan

penyelenggara pemilu agar tidak ada lagi pertentangan diantara salah satu lembaga penyelenggara tersebut. 3. Kepada DKPP agar dalam melaksanakan persidangan harus sungguh-sungguh pokok pengadu, pada waktu putusan pemilu

Penyelenggara Pemilu. 4. Dalam jangka panjang

diharapakan DKPP tetap dipertahankan sebagai

peradilan kode etik didalam penyelenggara pemilu

karena DKPP merupakan pelopor peradilan etik yang ada di Indonesia terhadap peradilan etik yang lainnya yang berfungsi mestinya. masih belum

memperhatikan pengaduan sehingga

mengeluarkan

sebagaimana

benar-benar sesuai dengan pengaduan pengadu dan

30

DAFTAR PUSTAKA PERATURAN UNDANGAN PERUNDANG-

Daerah, Dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, UU No. 12 Tahun 2003.

Indonesia, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. _______, Undang-Undang tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan

_______, Undang-Undang tentang


Kode Etik Penyelenggara Pemilihan Umum, UU No. 1 Tahun 2012. _______, Undang-Undang tentang Penyelenggara Pemilu, UU No. 15 Tahun 2011.

BUKU BUKU Yulianto, Veri Junaidi, dan August Mellaz. Memperkuat Kemandirian Penyelenggara Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta : UI Press, 1986. LAIN-LAIN Asshiddiqie Jimly, Makalah Pengenalan Tentang DKPP untuk Penegak Hukum

Pemilu: Rekomendasi Revisi Undang-Undang Penyelenggara Pemilu. Jakarta: KRHN, 2010.

indonesia.html, diakses pada tanggal 18 Agustus 2013. Wikipedia,http://id.wikipedia.org/ wiki/Pemilihan_umum_di_I ndonesia, diakses pada tanggal 18 Agustus 2013. http://www.bawaslu.go.id/profile/ 2/, diakses pada tanggal 25 Agustus 2013. Kedudukan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, http://logisnews.com/2012/ 12/13/jimly-asshiddiqiedkpp-hakikatnya-adalahlembaga-pengadilan/, diakses pada tanggal 2 Juni 2013.
31

http://www.jimly.com/maka lah/namafile/120/Pengenal an_DKPP.pdf , diakses tanggal 10 Mei 2013. Mono Darmoko, Makalah Pengertian dan Fungsi Kode Etik. http://www.akilmochtar.co m/2013/05/08/dkpp-tidakbertentangan-dengankonstitusi/, diakses tanggal 10 Mei 2013.

http://bagazx.blogspot.com/2012/ 02/asas-pemilihan-umum-

32

Beri Nilai