Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Influenza, yang lebih dikenal dengan disebabkan sebutan flu,

merupakan penyakit RNA dari famili

menular yang

oleh virus yang

Orthomyxoviridae (virus

influenza),

menyerang unggas dan mamalia. Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah menggigil, demam, nyeri tenggorok, nyeri otot, nyeri kepala berat, batuk, kelemahan, dan rasa tidak nyaman secara umum. Walaupun sering tertukar dengan penyakit mirip influenza lainnya, terutama selesma, influenza merupakan penyakit yang lebih berat dibandingkan dengan selesma dan disebabkan oleh jenis virus yang berbeda. Influenza dapat menimbulkan mual, dan muntah, terutama pada anak-anak, namun gejala tersebut lebih sering terdapat pada penyakit gastroenteritis, yang sama sekali tidak berhubungan, yang juga kadangkala secara tidak tepat disebut sebagai "flu perut." Flu kadangkala dapat menimbulkan pneumonia viral secara langsung maupun menimbulkan pneumonia bakterial sekunder. Biasanya, influenza ditularkan melalui udara lewat batuk atau bersin, yang akan menimbulkan aerosol yang mengandung virus. Influenza juga dapat ditularkan melalui kontak langsung

dengan tinja burung atau ingus, atau melalui kontak dengan permukaan yang telah terkontaminasi. Aerosol yang terbawa oleh udara (airborne aerosols) diduga menimbulkan sebagian besar infeksi, walaupun jalur penularan mana yang paling berperan dalam penyakin ini belum jelas betul. Virus influenza dapat diinaktivasi olehsinar matahari, disinfektan, dan deterjen. Sering mencuci

tangan akan mengurangi risiko infeksi karena virus dapat diinaktivasi dengan sabun. Influenza menyebar ke seluruh dunia

dalam epidemi musiman, yang menimbulkan kematian 250.000 dan 500.000 orang setiap tahunnya, bahkan sampai jutaan orang pada beberapa tahun pandemik. Rata-rata 41.400 orang meninggal tiap tahunnya diAmerika Serikat dalam kurun waktu antara tahun 1979 sampai 2001 karena dan influenza. Pada tahun 2010 Pusat Serikat

Pengendalian

Pencegahan

Penyakit di

Amerika

mengubah cara mereka melaporkan perkiraan kematian karena influenza dalam 30 tahun. Saat ini mereka melaporkan bahwa terdapat kisaran angka kematian mulai dari 3.300 sampai 49.000 kematian per tahunnya. Tiga pandemi influenza terjadi pada abad ke duapuluh dan telah menewaskan puluhan juta orang. Tiap pandemi tersebut disebabkan oleh munculnya galur baru virus ini pada manusia. Seringkali, galur baru ini muncul saat virus flu yang sudah ada menyebar pada manusia dari spesies binatang yang lain, atau saat

galur virus influenza manusia yang telah ada mengambil gen baru dari virus yang biasanya menginfeksi unggas atau babi. Galur unggas yang disebut H5N1 telah menimbulkan kekhawatiran

munculnya pandemi influenza baru, setelah kemunculannya di Asia pada tahun 1990-an, namun virus tersebut belum

berevolusi menjadi bentuk yang menyebar dengan mudah dari manusia-ke-manusia. Pada April 2009 sebuah galur virus flu baru berevolusi yang mengandung campuran gen dari flu manusia, babi, dan unggas, yang pada awalnya disebut "flu babi" dan juga dikenal sebagai influenza Serikat, dan A/H1N1, yang negara muncul di Meksiko, Amerika Kesehatan

beberapa

lain. Organisasi

Dunia (WHO) secara resmi mendeklarasikan wabah ini sebagai pandemi pada 11 Juni 2009 (lihat pandemi flu 2009). Deklarasi WHO mengenai pandemi tingkat 6 merupakan indikasi penyebaran virus, bukan berat-ringannya penyakit, galur ini sebetulnya memiliki tingkat mortalitas yang lebih rendah dibandingkan dengan wabah virus flu biasa. Vaksinasi terhadap influenza biasanya tersedia bagi orangorang di negara berkembang. Ternak unggas sering divaksinasi untuk mencegah musnahnya seluruh ternak. Vaksin pada manusia yang paling sering digunakan adalah vaksin influenza trivalen (trivalent influenza vaccine [TIV]) yang mengandung antigen yang telah dimurnikan dan diinaktivasi terhadap tiga galur virus. Biasanya, vaksin jenis ini mengandung material dari dua galur virus

influenza subtipe A dan satu galur influenza subtipe B. TIV tidak memiliki risiko menularkan penyakit, dan memiliki reaktivitas yang sangat rendah. Vaksin yang diformulasikan untuk satu tahun mungkin menjadi tidak efektif untuk tahun berikutnya, karena virus influenza berevolusi dengan cepat, dan galur baru akan segera benggantikan galur yang lama. Obat-obatan antivirus dapat dipergunakan untuk mengobati influenza, neuraminidase

inhibitor (seperti Tamiflu atau Relenza). yang terutama efektif. B. Tujuan 1. Tujuan umum. Mengetahui situasi epidemiologi masalah influenza di

masyarakat dan memberikan gambaran serta informasi tentang penyakit influenza di wilayah kerja Puskesmas Sikucur

Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman periode Januari Maret 2013 2. Tujuan khusus a. Mengetahui pelaksanaan surveilans di wilayah kerja

Puskesmas Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman periode Januari Maret 2013 b. Mengetahui distribusi penyakit influenza berdasarkan orang di wilayah kerja Puskesmas Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman periode Januari Maret 2013

c. Mengetahui distribusi penyakit influenza berdasarkan waktu di wilayah kerja Puskesmas Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman periode Januari Maret 2013 C. Manfaat. 1. Bagi Puskesmas Sikucur Sebagai bahan masukan dalam mengajukan perencanaan program kesehatan bagi masyarakat ke Dinkes Kabupaten Padang Pariaman untuk mengatasi influensa sedini mungkin 2. Bagi masyarakat. Memberikan informasi tentang bahaya dan antisipasi penyakit influenza.

BAB II TINJAUAN UMUM PENYAKIT INFLUENZA

A.

Pengertian. Influenza adalah infeksi spesifik pada manusia yang disebabkan oleh virus influenza itu sendiri, dan menimbulkan gejala-gejala yang timbul dengan cepat berupa demam, radang kataral saluran pernapasan atau alat pencernaan. Pada umumnya penyakit ini akan sembuh dengan sendirinya. Penyakit ini berpotensi untuk menyerang semua peringkat umur, sama, ada anak-anak maupun golongan dewasa. Dibanyak kasus influenza menyerang pernapasan atas dan melemahkan tubuh manusia selama masa epidemic influenza berlangsung, serta keseluruhan sistem pernapasan terpengaruh. (Robin Reid, 2005)

B.

Sejarah Penyakit. Epidemic influenza tercatat pertama kali di Eropa pada tahun 1510. Pada tahun 1968, satu strain virus influenza yang baru yaitu virus influenza yang menimbulkan epidemic di Hongkong. Influenza menyebar ke seluruh dunia dan menyerang berbagai jenis ras, segala tingkatan usia baik pria maupun wanita. Penyebaran umumnya terjadi secara epidemic yang dapat berkembang sangat luas meliputi hampir semua bagian dunia dan disebut sebagai pandemic.

C.

Penyebab dan Epidemiologi.

1.

Penyebab Influenza. Ada tiga tipe influenza yaitu tipe A, B, dan C. Tipe A yang paling mematikan, tipe ini juga (tipe A) bertanggungjawab dalam situasi epidemic penyakit influenza. Serta banyak kematian terjadi. (Robin Reid, 2005). Virus influenza tipe A mempunyai dua substrain yaitu substrain yaitu substrain A1 dan substrain A2. Begitu juga dengan virus influenza tipe B mempunyai substrain B1 dan B2. Virus influenza tipe C tidak mempunyai substrain. Semua tipe virus influenza mempunyai struktur dan sifat morfologis yang sama.

2.

Epidemiologi Influenza. Influenza ditularkan secara cepat dari satu penderita kepada orang lain melalui titik ludah yang infektif. Virus influenza amat mudah berjangkit dan ia tersebar dari manusia ke manusia semasa pesakit bersin dan batuk. Pada populasi yang padat memungkinkan terjadinya penularan yang cepat, epidemic influenza akan segera terjadi. Meskipun mortality rate rendah, tetapi mengingat bahwa penderitanya amat banyak, jumlah penderita yang meninggal dunia menjadi amat banyak. Tidak terdapat carrier pada influenza, tetapi penderita-penderita subklinik sangat berperan sebagai sumber penular virus. Sebagian besar manusia boleh dikatakan pernah mengalami infeksi dengan salah satu virus influenza sebelum ia mencapai masa pubertasnya. Infeksi dengan virus influenza tidak

memberikan perlindungan kekebalan yang lama terhadap infeksi ulang. Sesudah sembuh dari infeksi dengan influenza A, penderita tidak memiliki daya tahan terhadap influenza B dan sebaliknya. 3. Patogenesis.

Walaupun infeksi biasanya pada saluran napas atas namun sering menyebar ke saluran napas bawah menimbulkan trakeitis,

bronchitis, atau pneumonitis. Pada saluran napas atas virus ini menyebabkan nekrosis dan deskuamasi epitel bersilia disertai serbukan padat sel radang terutama limfosit. Penyebaran infeksi ke saluran napas bawah atau paru, menyebabkan nekrosis serta sel pelapis alveoli mengelupas, histologik merupakan gambaran pneumonitis virus. Influenza menyebabkan komplikasi seperti pneumonia bacteria sekunder, pneumonia virus primer dan meningkatkan tahap serangan penyakit kronik yang sedia ada. Trachea dan bronkeolus secara terus menerus akan mengalami radang hebat, dengan perkembangan hemorraghe berubah

menjadi pneumonia, dengan ciri-ciri paru-paru lebih besar, warna menjadi ungu dan mengeluarkan darah yang kotor, serta ukuran mikroskopik beubah dari suatu bagian ke bagian yang lain. (Robin Reid,2005). Infeksi virus yang menyeluruh dengan viremia dan juga menyerang parenkim organ-organ sehingga dapat menimbulkan kematian, terjadi pada beberapa penderita selama epidemic yang besar

sedang berlangsung. Virus influenza juga dapat menyerang otak. Bila virus dimasukkan ke dalam saluran pernapasan dengan penghisapan aerosol, ia melekat melalui antigen bungkus HA nya pada sel epitel kolumner bersilia, menembus sel, dan segera mulai pembelahan. Sintesis virion baru tampak kurang daripada 24 jam, menyebar ke sel-sel tetangganya pada permukaan mukosa saluran pernapasan. Masa inkubasi berakhir hanya 1-3 hari, sesudahnya terkumpul cukup virus untuk menimbulkan gejala. Individu yang mempunyai imunitas sebagian terhadap strain virus penginfeksi hanya dapat menimbulkan gejala-gejala faringitis dan cold. Orang nonimun yang terpapar dengan virus influenza, menderita influenza klasik, dengan angka serangan mungkin setinggi 70%. Tandatanda sistematik influenza mulainya mendadak dan meliputi demam, menggigil, nyeri kepala, mialgia, nyeri lumbosakral, dan sangat lemah. Nyeri kepala dan nyeri otot merupakan keluhan yang sangat jelas, dan intensitasnya parallel dengan demam yang tinggi. Demam biasanya berakhir 2-4 hari. Batuk kering, nyeri tenggorok, rinorea juga ada, kurang kuat pada permulaan, dan jadi lebih nyata ketika demam mengurang. Nekrosis sel epitel saluran pernapasan yang terinfeksi nyata pada influenza, dan keluhan saluran pernapasan menggambarkan cedera ini.

Kelelahan yang sangat sering paling menonjol pada awal tandatanda influenza, dan malaise umumnya gejala yang sembuh paling lambat, biasanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Anak-anak sering mengalami demam yang lebih lama, hilangnya virus lebih lama daripada dewasa, dan lebih mungkin terjadi pneumonia virus, primer. Flu dapat sebagai pencetus asma pada anak dengan mengakibatkan jalan napas hiperreaktif. Influenza dapat mempercepat kejang demam. 4. 4.1 Diagnosis dan Pengobatan. Diagnosis. Pada kasus-kasus yang sporadic, influenza sukar didiagnosis dengan pasti oleh karena banyak sekali penyakit dengan gejala-gejala mirip influenza, terutama infeksi virus-virus lainnya. Bila telah terjadi epidemic, diagnosis influenza mudah ditegakkan. Isolasi virus influenza dari sekresi saluran pernapasan (tidak dari darah atau tinja) serta menentukan titer antibody yang meningkat merupakan penegak diagnosis pasti influenza. Serangan influenza sering secara langsung atau selama epidemic, diagnosis biasanya dibuat atas dasar klinik saja. Walaupun demikian, pembuktian laboratorium influenza

mempunyai manfaat tersendiri. 4.2 Pengobatan. Tidak ada obat spesifik untuk memberantas virus influenza. Pengobatan yang diberikan pada penderita merupakan pengobatan suportif. Tetapi ada sebuah penilitian yang metodenya sebagai berikut:

Metode menggunakan system SID dan dengan penerapan evidence based medicine dilakukan penelitian dengan

memakai 4 skenario tentang cara melakukan tretmen pengobatan penyakit influenza. 4 diantaranya adalah sebagai berikut: vitamin C, pengobatan herbal berupa Echinacea, obat batuk berupa tablet, dan the unlicensed antiviral pleconaril. 5. Pencegahan.

Pemberian vaksin yang mengandung inactivated virus dari strain-strain virus tipe A atau B hanya akan bermanfaat jika infeksi influenza yang didapat sesuai dengan vaksin yang digunakan. Jika komposisi antigenic vaksin tidak sama dengan virus influenza yang sedang mewabah, maka vaksinasi menjadi tidak efektif. Proteksi yang dihasilkan sesudah vaksinasi pada umumnya tidak sempurna dan hanya bertahan selama beberapa bulan saja. Meskipun demikian, dengan vaksinasi angka kesakitan dapat ditekan dan gambaran klinik influenza menjadi lebih ringan. Vaksinasi sebaiknya dilakukan pada orang-orang tua atau orang-orang yang sedang menderita penyakit berat lainnya, beberapa saat sebelum tibanya epidemic influenza yang diperkirakan. Dan yang lebih penting adalah peningkatan hygiene sanitasi dan peningkatan satus gizi masyarakat. Ada beberapa kebiasaan yang di sarankan untuk dilakukan sebagai upaya pencegahan lebih dini.

1. Mencuci tangan. Sebagian besar virus flu dapat menyebar melalui kontak langsung. Seseorang yang bersin dan menutupnya dengan tangan kemudian dia memegang telepon, keyboard

komputer, atau gelas minum, maka virusnya akan mudah menular pada orang lain yang menyentuh benda-benda tersebut. Virus mampu bertahan hidup berjam-jam bahkan hingga berminggu-minggu. Oleh karena itu, usahakan untuk

mencuci tangan sesering mungkin. 2. Jangan menutup bersin dengan tangan. Bila kita menutup bersin dengan tangan, maka virus flu akan mudah menempel pada tangan dan dapat menyebar pada orang lain. Jika kita merasa ingin bersin atau batuk, gunakanlah tisu dan kemudian segera membuangnya. 3. Jangan menyentuh muka. Virus flu masuk ke dalam tubuh melalui mata, hidung, maupun mulut. Menyentuh muka merupakan cara yang paling umum dilakukan oleh anak-anak yang terserang flu dan akhirnya menjadi cara mudah menularkan virus tersebut pada orang lain di sekitarnya. 4. Minum banyak air.

Air berfungsi untuk membersihkan racun dari dalam tubuh dan memberikan cairan pada tubuh. Orang dewasa yang sehat umumnya membutuhkan delapan gelas air per hari. Bagaimana menandai bahwa tubuh kita sudah mendapatkan cairan yang cukup? Jika warna urine berwarna relatif jernih berarti tubuh kita memang mendapatkan cukup cairan, sebaliknya jika berwarna kuning gelap berarti tubuh kita memerlukan lebih banyak cairan lagi. 5. Mandisauna. Meskipun belum terbukti bahwa mandi sauna dapat

berpengaruh terhadap pencegahan flu, namun sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang yang mandi sauna dua kali per minggu akan memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk terserang flu. Hal tersebut memang sesuai dengan teori bahwa ketika kita menghirup uap panas lebih dari suhu 80 derajat celcius akan menyebabkan virus flu akan sulit untuk bertahan. 6. Menghirup udara segar. Menghirup udara yang segar memang sangat penting bagi kesehatan tubuh, khususnya di cuaca yang dingin karena cuaca seperti ini akan membuat tubuh menjadi rentan terhadap virus flu. 7. Lakukan olahraga aerobic secara teratur.

Olahraga

aerobik

dapat

mempercepat

jantung

untuk

memompa darah lebih banyak sehingga kita bernafas lebih cepat untuk membantu mentransfer oksigen ke paru-paru dan ke dalam darah. Olahraga ini juga akan membantu meningkatkan kekebalan tubuh secara alami. 8. Konsumsi makanan yang mengandung phytochemical. Phytochemical merupakan bahan kimia alami yang terdapat dalam tumbuh-tumbuhan yang berperan memberikan vitamin pada makanan. 9. Konsumsi yogurt. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi yogurt yang rendah lemak setiap hari dapat mengurangi risiko terserang flu sekitar 25 persen. Bakteri menguntungkan yang terdapat di dalam yogurt diketahui dapat menstimulus produksi sistem kekebalan tubuh untuk menyerang virus. 10. Relaksasi. Jika kita dapat mengajari diri sendiri untuk relaks atau santai, maka dengan sendirinya kita juga dapat mengaktifkan sistem imunitas tubuh. Diduga ketika kita melakukan relaksasi, maka interleukin (bagian sistem imunitas yang merespon terhadap virus flu) akan meningkat dalam aliran darah kita.

BAB III METODE SURVEILANS

A.

Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran epidemiologi penyakit influenza. 2. Waktu dan tempat pengambilan data. Pengambilan data dilakukan oleh petugas surveilans

Puskesmas yang dilaksanakan dari 1 Januari 2014 sampai 25 Maret 2014. B. Populasi dan sampel. 1. Populasi. seluruh pasien influenza di wilayah kerja Puskesmas Sikucur dari 1 Januari sampai 25 Maret 2014. 2. Sampel. Penderita penyakit influenza yang berobat Polindes, Pustu dan Puskesmas Sikucur dari 1 Januari sampai 25 Maret 2014. C. Pengumpulan data. Sumber data dari data sekunder, yaitu data hasil pencatatan petugas surveilans Puskesmas Sikucur ( Laporan Surveilans Terpadu Puskesmas) D. Pengolahan Dan Penyajian Data.

Data diolah dengan komputerisasi dengan program microsoft excel. Data disajikan dalam bentuk deskriptif, tabel dan grafik. E. Analisis Data Data dianalisis berdasarkan umur, jenis kelamin dan waktu.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil. 1. Gambaran umum wilayah. Puskesmas Sikucur merupakan Puskesmas baru di Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kabupaten Padang Pariaman. Puskesmas Sikucur merupakan Puskesmas non rawatan. Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Sikucur sebagian besar merupakan petani dan buruh tani, dengan latar belakang pendidikan rata-rata SLTP. 2. Gambaran surveilans. Dari data rekapitulasi oleh petugas Puskesmas dapat tergambar epidemiologi penyakit influenza di wilayah kerja Puskesmas Sikucur dari 1 januari sampai maret 2014, seperti tabel di bawah ini : Tabel 1 Rekapitulasi Penderita Influenza Berdasarkan Umur Puskesmas Sikucur per 1 Januari sampai 25 Maret 2014

<1 1-4 5-9 10-1415-1920-4445-5455-5960-69>70 LK PR Jumlah

Januari 6 5 Februari 3 10 5 2 Maret 4 11 6 10 7 Jumlah 7 21 12 15 14

3 4 11 5 11 20 7 9 34 12 24

1 6 13 12 25 4 25 26 51 6 5 50 35 85 11 11 88 73 161

Angka

kejadian

Influenza

yang

terjadi

di

wilyah

kerja

Puskesmas Sikucur selama 1 Januari sampai 25 Maret 2014 dapat dilihat pada grafik berikut : Grafik 1 Angak Kejadian Influenza Menurut Kelompok Umur dan Waktu Puskesmas Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam ( 1 Januari - 25 Maret 2014 )
25 <1 thn 20 Kasus 15 10 5 0 Januari Februari Bulan Maret 1-4 thn 4-9 thn 10-14 thn 15-19 thn 20-44 thn 45-54 thn 55-59 thn

Dilihat dari angka kejadian influensa per bulan trendnya cendrung meningkat setiap bulannya, hal serupa juga terjadi pada kelompok umur 20-44 tahun. Jika dilihat dari per kelompok umur influensa tersebar disemua kelompok umur dengan prevelensi tertinggi pada kelompok umur 20-44 tahun yaitu 21,0 % dan yang terendah pada kelompok umur <1 tahun yaitu 4,3%. Seperti terlihat pada grafik berikut :

Grafik 2 Prevalensi Influensa Menurut Kelompok Umur Puskesmas Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam ( 1 Januari - 25 Maret 2014 )
Prevalensi 40 20 0 <1 1-4 5-9 10-14 15-19 20-44 45-54 55-59 60-69 Kelompok Umur >70 4.3 13 7.4 9.3 8.6 21 7.4 14.8 11.7

6.8

Menurut jenis kelamin prevalensi influensa terhadap laki-laki lebih tinggi dibanding dari perempuan yaitu 54,7 % pada laki-laki dan 45,3 % pada perempuan, seperti pada diagram berikut :
Grafik 3 Prevalensi Influensa Menurut Jenis Kelamin Puskesmas Sikucur ( 1 Januari - 25 Maret 2014 )

45.3 54.7 Laki-laki Perempuan

B.

Pembahasan. Dilihat dari prevalensi influensa menurut kelompok umur dan jenis kelamin, dimana influensa menyerang 21 % kelompok usia produktif dan 53,7 % laki-laki, hal ini bisa terjadi karena : 1. Tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah

2. Adanya kebiasan keluar malam ( ke lapau) bagi laki -laki di masyarakat setempat, yang nantinya akan menurunkan

kebugaran fisik, penurunan kondisi fisik akan memudahkan masuknya bibit penyakit termasuk influensa. 3. Tingkat pengetahuan masyarakat tentang penyakit influensa masih kurang.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan : 1. Influensa merupakan penyakit menular yang membahayakan dengan tingkat penularan yang tinggi 2. Prevalensi influensa di wilayah kerja Puskesmas Sikucur Kecamatan V Koto Kampung Dalam Kab. Padang Pariaman pada laki-laki 53,7 % dan perempuan 45,3 %. Serta 21 % terjadi pada kelompok umur 20 44 tahun. B. Saran. 1. Untuk masyartakat, diharapkan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya menerapkan pola hidup sehat 2. Untuk pengambil kebijakan (pemerintah), agar mengambil langkah serius untuk melakukan tindakan-tindakan preventif dan promotif dalam bidang kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

http://ababils-medicine.blogspot.com/2009/04/influenza.html Laporan surveilans terpadu penyakit berbasis puskesmas,

Puskesmas Sikucur. 2014

- Direktorat Jenderal Pp & Pldepartemen Kesehatan Republik


Indonesia, http://id.scribd.com/doc/137747799/Surveilans-EpidemiologiInfluenza-Pandemi-Di-Indonesia
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Jenis Indonesia Penyakit Dan Nomor Menular Upaya

2008,

1501/Menkes/Per/X/2010 Tertentu Yang Dapat

Tentang

Menimbulkan

Wabah

Penanggulangan