Anda di halaman 1dari 32

LABORATOpRIUM FARMASEUTIKA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN PRAKTIKUM (BOBOT JENIS DAN KERAPATAN ZAT)

NAMA STAMBUK KELAS KELOMPOK ASISTEN

: ANDI ISMAIL P : 15O 2013 0185 : 2.6 : II(Dua) : A. ASRUL JUANDA

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR 2014

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pengetahuan tentang massa jenis dalam sebuah praktikum sangat penting mengingat bahwa pengetahuan tentang massa jenis akan selalu dibutuhkan dalam dunia farmasi terutama untuk mengetahui kemurniaan dari suatu zat. Setiap zat memiliki karakteristik yang berbeda-beda baik dari segi fisik maupun kimia. Sifat fisik yaitu sifat yang dapat kita amati secara langsung seperti Cairan, gas, dan padat, Serta sifatnya yang dapat diukur seperti massa dan volume, dan warna. Sedangkan sifat kimia yaitu sifat yang tidak dapat diamati secara langsung seperti seperti kelarutan, dan kerapatan. Keadaan bahan secara keseluruhan dapat dibagi menjadi zat gas,padat,dan fluida. Zat padat tentu mempertahankan bentuknya, sedangkan fluida tidak mempertahankan bentuknya, serta gas mengembang menempati semua ruang tanpa memperdulikan bentuknya. Teori fluida sangat kompleks, sehingga dimulai dari yang paling dasar yaitu Penentuan Bobot jenis dan Kerapatan zat. Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan bobot zat terhadap air dengan volume yang ditimbang di udara pada suhu yang sama. Penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk senyawa berbentuk cairan, kecuali dinyatakan pada perbandingan bobot zat di udara pada suhu yang telah

ditetapkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi bobot jenis yaitu suhu dan konsentrasinya. Adapun sifat dari zat cair diantaranya: 1. Bentuk mengikuti tempat dan volumenya tetap. 2. Molekulnya dapat bergerak tetapi tidak semudah gerak molekul gas. 3. Jarak partikelnya lebih dekat daripada gas sehingga lebih sukar di mampatkan. 4. Dapat diuapkan dengan memerlukan energi. Kerapatan adalah turunan besaran yang menyangkut satuan massa dan volume. Kerapatan juga merupakan suatu sifat zat yang berbeda, misalnya Air dan minyak ketika dicampur akan terjadi perbedaan kerapatan. Bila kerapatan benda lebih besar dari kerapatan air, maka benda tersebut akan tenggelam dalam air. Namun bila kerapatannya lebih kecil maka benda tersebut akan mengapun. Selain itu peristiwa mengapung,melayang,dan tenggelam itu dipengaruhi oleh perbandingan bobot jenis zat-zat tersebut. Untuk mengetahui cara mengukur bobot jenis dan kerapatan zat pada beberapa sampel dengan menggunakan piknometer. Di bidang farmasi, selain bobot jenis juga digunakan untuk mengetahui kemurnian suatu zat cair dengan menghitung berat jenisnya. Jika berat jenisnya mendekati maka dapat dikatakan zat tersebut memiliki kemurnian yang tinggi. Oleh karena itu percobaan ini dilakukan untuk mengetahui bobot jenis dan kerapatan zat.

Di samping itu dengan mengetahui bobot jenis suatu zat, maka akan mempermudah kita untuk memformulasi obat. Karena dengan mengetahui bobot jenisnya maka kita dapat menentukan apakah suatu zat dapat bercampur atau tidak dengan zat lainnya. Maka di lakukanlah percobaan penentuan bobot jenis dan kerapatan zat.

B. Tujuan Praktikum 1. Menentukan bobot beberapa cairan,yaitu Parafin Cair, Susu

Ultra,Syrup Marjan,Syrup DHT, Madu, Buavita, 2. Menentukan kerapatan padatan, yaitu asam borat.

C. Maksud percobaan Mengetahui dan memahami cara penetapan bobot jenis dari suatu cairan (Buavita,Madu,Sirup DHT, Sirup Marjan,dan Susu)dan kerapatan bulk,kerapatan mampat,dan kerapatan sejati suatu sampel padatan (Asam Borat).

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum Di bidang farmasi, selain bobot jenis juga digunakan untuk mengetahui kemurnian suatu zat cair dengan menghitung berat jenisnya. Jika berat jenisnya mendekati maka dapat dikatakan zat tersebut memiliki kemurnian yang tinggi. Oleh karena itu percobaan ini dilakukan untuk mengetahui bobot jenis dan kerapatan zat ( Ansel, 2006). Bobot jenis adalah rasio bobot suatu zat terhadap bobot zat baku yang volumenya sama pada suhu yang sama dan dinyatakan dalam desimal. Penting untuk membedakan antara kerapatan dan bobot jenis. Kerapatan adalah massa per satuan volume, yaitu bobot zat per satuan volume. Misalnya, satu milliliter raksa berbobot 13,6 g, dengan demikian kerapatannya adalah 13,6 g/mL. jika kerapatan dinyatakan sebagai satuan bobot dan volume,maka bobot jenis merupakan bilangan abstrak. Bobot jenis menggambarkan hubungan antara bobot suatu zat terhadap sebagian besar perhitungan dalam farmasi dan dinyatakan memiliki bobot jenis 1,00 sebagai perbandingan, bobot jenis gliserin adalah 1,25,artinya bobot gliserin 1,25 kali bobot volume air yang setara ,dan bobot jenis alkohol adalah 0,81 kali bobot volume air yang setara. ( Ansel, 2006). Zat yang memiliki bobot jenis lebih kecil dari 1,00 lebih ringan daripada air. Sedangkan zat yang memiliki bobot jenis lebih besar dari 1,00

lebih berat daripada air. Bobot jenis dinyatakan dalam desimal dengan beberapa angka di belakang koma sebanyak akurasi yang diperlukan pada penentuannya. Pada umumnya, dua angka di belakang koma sudah mencukupi. Bobot jenis dapat dihitung atau untuk senyawa khusus dapat ditemukan dalam United States Pharmacopeia (USP) atau buku acuan lain. Bobot jenis suatu zat dapat dihitung dengan mengetahui bobot dan volumenya ( Ansel, 2006) Bobot jenis suatu zat dapat di hitung dengan mengetahui bobot dan volumenya melalui persamaan berikut (Ansel,2004 )

Kerapatan adalah massa per unit volume suatu zat pada temperatur tertentu. Sifat ini merupakan salah satu sifat fisika yang paling

sederhana dan merupakan salah satu sifat fisika yang paling definitive,dengan demikian dapat digunakan untuk menentukan kemurniaan suatu zat (Ansel,2004 ) Rapatan diperoleh dengan membagi massa suatu obyek dengan volumenya (Petrucci,1985)

Suatu sifat yang besarnya tergantung pada jumlah bahan yang sedang diselidiki disebut sifat ekstensif. Baik massa maupun volume adalah sifatsifat ekstensif. Suatu sifat tergantung pada jumlah bahan adalah sifat intensif. Rapatan yang merupakan perbandingan antara massa dan volume, adalah sifat

intensif. Sifat-sifat intensif umumnya dipilih oleh para ilmuwan untuk pekerjaan ilmiah karena tidak tergantung pada jumlah bahan yang sedang diteliti (Petrucci,1985) Kerapatan atau densitas adalah massa per satuan. Satuan umumnya adalah kilogram per meter kubik, atau ungkapan yang umum, gram per sentimeter kubik, atau gram per milliliter. Pernyataan awal mengenai kerapatan adalah bobotjenis. Satuannya sudah kuno dan sebaiknya tidak dipakai lagi. Penjelasan berikut diberikan sebagai petunjuk (Brescia,1975) British standard 2955 (1958) mendefenisikan tiga istilah yang berlaku untuk partikel itu sendiri. Partikel kepadatan massa partikel dibagi dengan volumenya. Istilah yang berbeda muncul dari cara dimana volume didefenisikan (Gibson, 2004) 1. Kerapatan partikel sejati adalah ketika volume diukur tidak termasuk baik terbuka dan tertutup pori-pori dan merupakan property fundamental dari suatu material. 2. Kerapatan partikel jelas adalah ketika volume diukur meliputi intrapartikel pori-pori 3. Kerapatan partikel yang efektif adalah volume dilihat oleh fluida bergerak melewati partikel. Itu sangat penting dalam proses seperti sedimentasi atau fluidization tetapi jarang digunakan dalam bentuk sediaan padat. Hubungan antara massa dan volume tidak hanya menunjukan ukuran dan bobot molekul suatu komponen, tetapi juga gaya-gaya yang

k p

Packing Characteristic .

Dalam sistem matriks kerapatan diukur dengan gram/milimeter (untuk cairan) atau gram/cm2 ( Martin,1990) Ahli farmasi sering kali mempergunakan besaran pengukuran ini apabila mengadakan perubahan antara massa dan volume. Kerapatan adalah turunan besaran karena menyangkut satuan massa dan volume. Batasannya adalah massa per satuan volume pada temperatur dan tekanan tertentu, dan dinyatakan dalam sistem cgs dalam gram per sentimeter kubik (gram/cm3). Berbeda dengan kerapatan, berat jenis adalah bilangan murni tanpa dimensi, yang dapat diubah menjadi kerapatan dengan menggunakan rumus yang cocok. Berat jenis didefinisikan sebagai perbandingan kerapatan dari suatu zat terhadap kerapatan air, harga kedua zat itu ditentukan pada temperatur yang sama, jika tidak dengan cara lain yang khusus. Istilah berat jenis, dilihat dari definisinya, sangat lemah, akan lebih cocok apabila dikatakan sebagai kerapatan relatif ( Martin,1990) Berat jenis untuk penggunaan praktis lebih sering didefinisikan sebagai perbandingan massa dari suatu zat terhadap massa sejumlah volume air yang sama pada suhu 4oC atau temperatur lain yang tertentu. Notasi berikut sering ditemukan dalam pembacaan berat jenis: 25oC/25oC, 25oC/4oC, dan 4oC/4oC. Angka yang pertama menunjukkan temperatur udara di mana zat ditimbang; angka di bawah garis miring menunjukkan temperatur air yang dipakai. Buku-buku farmasi resmi menggunakan patokan 25oC /25oC untuk menyatakan berat jenis. Berat jenis dapat ditentukan dengan menggunakan

berbagai tipe piknometer, neraca Mohr-Westphal, hidrometer dan alat-alat lain. Pengukuran dan perhitungan di diskusikan di buku kimia dasar, fisika dan farmasi ( Martin,1990) B. Uraian bahan 1. Alkohol (Ditjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain Berat molekul Rumus molekul Bobot jenis Pemerian : Aethanolium : Etanol, etil alcohol : 46,07 : C2H6O : 0,8119-0,8139 g/ml : Jernih,tidak berbau, bergerak,cairan pelarut,menghasilkan Bau yang khas dan rasa terbakar pada lidah. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, di jauhkan dari api. Kegunaan : Sebagai pembilas piknometer dan gelas ukur.

2. Asam borat (Ditjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain Berat molekul Rumus molekul : ACIDUM BORICUM : Asam borat, Asam ortoborat : 61,83 : H3BO3

Kerapatan Pemerian

: 1,435 g/ml :Hablur,serbuk hablur putih atau sisik mengkilap tidak Berwarna, kasar,tidak

berbau,rasa agak asam dan pahit Kemudian manis. Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air,dalam 3 bagian air mendidih, 16 bagian etanol (95%)p dan dalam 5 bagian gliserol p. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat

3. Parafin (Ditjen POM, 1979) Nama resmi Nama lain Berat molekul Rumus molekul Bobot jenis Pemerian : PARAFFINUM : Parafin : 92,09 : C3H8O3 : 0,84 0,89 g/ml : Hablur tembus cahaya atau agak buram; tidak berwarna atau putih; tidak berbau;

tidak berasa; agak berminyak. Kelarutan : Tidak larut dalam air dan dalam etanol; mudah larut dalam Kloroform, dalam eter, dalam minyak menguap, dalam hamper

semua jenis minyak

lemak hangat, sukar

larut dalam etanol mutlah. 4. Komposisi Buavita Air,sari buah sirsak, konsentrasi buah leci, konsentrasi buah pear, sukrosa,perisai sirsak, pengatur keasaman sitrat dan natrium sitrat, vitamin c, garam pemantap nabati, vitamin A. 5. Komposisi Madu TJ Madu murni. 6. Komposisi Sirup Marjan Gula pasir,air konsentrak melon,perisai melon, pengatur keasaman,asam sitrat, pewarna(tartrazin) cl 19140,biru berlian cl 42091. 7. Komposisi Sirup DHT Gula pasir, air pewarna ponceau,perasa pisang ambon. 8. Komposisi Susu Ultra Milk: Bubuk Coklat, Garam, Penstabil nabati, Perisa Artifisal coklat, Sukrosa, Susu Sapi Segar, Susu Krim bubuk.

C. Prosedur Kerja

1. Menentukan Kerapatan Bulk (Anonim 2014): a. Timbang asam borat sebanyak 10 g, masukkan ke dalam gelas ukur 50 mL. b. Ukur volume zat padat c. Hitung Kerapatan Bulk menggunakan persamaan: Kerapatan Bulk =
p d k

2. Menentukan Kerapatan Mampat(Anonim 2014):: a. Timbang zat padat sebanyak 10 gram b. Masukkan ke dalam gelas ukur c. Ketuk sebanyak 100 kali ketukan d. Ukur volume yang terbentuk e. Hitung Kerapatan Mampat dengan persamaan:
p d p

Kerapatan Mampat =

3. Menentukan kerapatan Sejati(Anonim 2014):: 1. Timbang piknometer yang bersih dan kering bersama tutupnya(A)

2. Piknometer diisi dengan parafin atau air yang tidak melarutkan zat padat, kemudian ditimbang (B) .

3. Piknometer dikeluarkan isinya,kemudian dibersihkan dan dikeringkan dengan alkohol. Dan dimasukan zat padat, kemudian ditimbang (C) 4. Ditambahkan parafin atau cairan yang tidak melarutkan dalam zat padat hingga tidak timbul gelembung, kemudian ditimbang (D) 5. 6. 7. 8. 9. E = Berat air atau parafin = b a F = Berat sampel = c a G = Berat sampel + parafin = d a H = Berat air/cairan yang menggantikan sampel = g - e f I =volume sampel = H/densitas air pada suhu 25oC

10. J = kerapatan sejati = F/I 4. Menentukan Bobot jenis Cairan(Anonim 2014): a. Gunakan piknometer yang bersih dan kering. b. Timbang piknometer kosong (W1). c. Kemudian isi piknometer dengan sampel,kemudian ditimbang. d. Hitung bobot jenis cairan menggunakan persamaan:

BAB III

METODE KERJA

A. Alat Corong, Gelas ukur 50 mL, Kertas timbang, Piknometer 25 mL, Piknometer 50 mL, Pipet tetes, Sendok tanduk, Timbangan Analitik, Tap density, dan Tissue. B. Bahan Alkohol 90%, Asam Borat, Paraffin Cair, Pocary Sweat, Susu ultra Milk, Syrup ABC squash delight, dan Syrup Marjan.

C. Cara Kerja: 1. Menentukan Kerapatan Bulk Ditimbang asam borat sebanyak 10 g, letakkan pada kertas timbang yang dilapisi aluminium foil. Dimasukkan pada gelas ukur 50 mL. Ukur volume asam borat dalam gelas ukur. Dihitung kerapatan Bulk-nya. p k p d ( ) k( )

2. Menentukan Kerapatan Mampat a. Ditimbang asam borat sebanyak 10 g, letakkan pada kertas timbang yang dilapisi aluminium foil. b. Dimasukkan kedalam gelas ukur. c. Lalu diketuk sebanyak 100 kali ketukan, menggunakan tap density. d. Diukur volume pada gelas ukur. e. Dihitung kerapatan Mampatnya. Kerapatan Mampat = 3. Menentukan Kerapatan Sejati a. Ditimbang piknometer yang telah dibersihkan dan dikeringkan bersama tutupnya. b. Piknometer diisi dengan asam borat hingga terisi 2/3 bagian. Lalu, timbang kembali bersama tutupnya. c. Piknometer yang berisi asam borat diisi dengan paraffin cair perlahan-lahan hingga penuh dan tidak ada gelembung udara didalamnya. Kemudian ditimbang beserta tutupnya. d. Dibersihkan piknometer tadi, lalu ditimbang dengan paraffin cair didalamnya. e. Dihitung kerapatan zat-nya. f. =
p d ( ) p ( )

4. Menentukan Bobot Jenis Cairan a. Digunakan piknometer bersih dan kering.

b. Ditimbang piknometer kosong, c. Kemudian diisi piknometer dengan susu ultra milk, kemudian ditimbang. d. Hitung bobot jenis cairan .
-

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan Perhitungan Kelompok I Data Pengamatan Bobotjenis susu ultra Kerapatan Bulk KerapatanMampat Kerapatan Sejati 1,028 g/ml 0,714 g/ml 0,769 g/ml -1,427 g/ml

Perhitungan : A. Kerapatan Bulk :

i.
B.

Bulk

= 0,83 g/mL

KerapatanMampat i. mampat = = 0,90 g/Ml

C.

KerapatanSejati 1) Timbang piknometer kosong (a) = 21,5651 2) Timbang piknometer + parafin (b) = 41,8471 3) Timbang piknometer + sampel (c) = 30,9741 4) Timbang piknometer + sampel + parafin (d) = 45,9569

5) Berat parafin = b-a = 41,8571 - 21,5651 = 20,282 (e) 6) Berat sampel = c-a = 30,9741 - 21,5651= 9,409 (f) 7) Berat sampel + parafin = d-a = 45,9569 - 21,5651= 24,3918 (g) 8) Berat sampel yang digantikan oleh sampel = g-e-f = 9) 24,3918 - 20,282 9,409 = -5,2992 (h) 10) Vol.sampel =

= -6,542 (i)

11) sejati D.

= -1,438 g/ml

Bobot Jenis Susu 12) Dt = = 0,85 g/ml

Kelompok 2 Data Pengamatan Bobotjenis sirup DHT Kerapatan Bulk KerapatanMampat Kerapatan Sejati 1,286 g/ml 0,7697 g/ml 0,8004 g/ml -1,438 g/ml

Perhitungan : A. Kerapatan Bulk

a.
B.

Bulk =

= 0,7697 g/ml

KerapatanMampat i. mampat

= 0,8004 g/ml

C.

KerapatanSejati 1. Timbang piknometer kosong (a) = 21,5651 2. Timbang piknometer + parafin (b) = 41,8471 3. Timbang piknometer + sampel (c) = 30,9741 4. Timbang piknometer + sampel + parafin (d) = 45,9569 5. Berat parafin = b-a = 41,8571 - 21,5651 = 20,282 (e) 6. Berat sampel = c-a = 30,9741 - 21,5651= 9,409 (f) 7. Berat sampel + parafin = d-a = 45,9569 - 21,5651= 24,3918 (g) 8. Berat sampel yang digantikan oleh sampel = g-e-f = 24,3918 - 20,282 9,409 = -5,2992 (h) 9. Vol.sampel =

= -6,542 (i)

sejati
D.

= -1,438 g/ml

Bobot Jenissirup DHT Dt =

=1, 286g/ml

Kelompok 3 Data Pengamatan Bobotjenis madu Kerapatan Bulk KerapatanMampat Kerapatan Sejati 1,384 g/ml 0,8004 g/ml 0,8700 g/ml -1,4213 g/ml

Perhitungan : A. Kerapatan Bulk a. B. Bulk= = 0,8004 g/mL

Kerapatan Mampat

a.
C.

mampat=

= 0,8700 g/ml

Kerapatan Sejati 1. Timbang piknometer kosong (a) = 20,4408 2. Timbang piknometer + parafin (b) = 40,9637 3. Timbang piknometer + sampel (c) = 31,4813 4. Timbang piknometer + sampel + parafin = 45,6276 (d) 5. Berat parafin = b-a = 40,9637 - 20,4408 = 20, 5229 (e) 6. Berat sampel = c-a = 31,4813 - 20,4408= 11,0405 (f)

7. Berat sampel + parafin = d-a = 45,6276 - 20,4408 = 25,1868 (g) 8. Berat sampel yang digantikan oleh sampel = g-e-f = 25,1868 - 20, 5229 11,0405 = -6,3766 (h) 9. Vol.sampel =

= -7,7678(i)

sejati

= -1,4213g/ml

D.Bobot Jenis madu

Dt =

=1, 286g/ml

Kelompok 4 Data Pengamatan Bobotjenis buahvita Kerapatan Bulk KerapatanMampat Kerapatan Sejati 1,070 g/ml 0,5407g/ml 0,6252 g/ml -1,5209 g/ml

Perhitungan : A. Kerapatan Bulk a. B. Bulk = = 0,5407 g/mL

Kerapatan Mampat i. mampat

= 0,6252 g/ml

C.

Kerapatan Sejati 1. Timbang piknometer kosong (a) = 9,7996 2. Timbang piknometer + parafin (b) = 31,1683 3. Timbang piknometer + sampel (c) = 22,2612 4. Timbang piknometer + sampel + parafin = 36,6212 (d) 5. Berat parafin = b-a = 31,1683- 9,7996 = 21,3687 (e) 6. Berat sampel = c-a = 22,2612 - 9,7996 = 12,4616 (f) 7. Berat sampel + parafin = d-a = 36,6212 - 9,7996 = 26,8276 (g) 8. Berat sampel yang digantikan oleh sampel = g-e-f = 26,8276 - 21,3687 12,4616 = -7,0027 (h) 9. Vol.sampel =

= -8,1931(i)

sejati

= -1,5209 g/ml

D.Bobot Jenis Buahvita

Dt =

=1,070 g/ml

Kelompok 5 Data Pengamatan

Bobotjenis sirup marjan Kerapatan Bulk KerapatanMampat Kerapatan Sejati Perhitungan : A. Kerapatan Bulk a. B. Bulk = = 0,526 g/mL

1,369 g/ml 0,526g/ml 0,588 g/ml -1,467 g/ml

Kerapatan Mampat i. mampat

= 0,588 g/ml

C.

Kerapatan Sejati 10. Timbang piknometer kosong (a) = 9,7996 11. Timbang piknometer + parafin (b) = 31,1683 12. Timbang piknometer + sampel (c) = 22,2612 13. Timbang piknometer + sampel + parafin = 36,6212 (d) 14. Berat parafin = b-a = 31,1683- 9,7996 = 21,3687 (e) 15. Berat sampel = c-a = 22,2612 - 9,7996 = 12,4616 (f) 16. Berat sampel + parafin = d-a = 36,6212 - 9,7996 = 26,8276 (g) 17. Berat sampel yang digantikan oleh sampel = g-e-f =

26,8276 - 21,3687 12,4616 = -7,0027 (h) 18. Vol.sampel =

= -8,1931(i)

sejati

= -1,5209 g/ml

D.Bobot Jenis Sirup Marjan

Dt =

=1,070 g/ml

B. Pembahasan Dalam percobaan ini akan dilakukan penentuan bobot jenis dan rapat jenis dari sampel cairan dengan menggunakanpiknometer. Bobot jenis adalah perbandingan antara bobot sampel dengan volume sampel, jadi satuannya adalah g/mL. Metode yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu metode piknometer.Pada metode piknometer, bobot jenis suatu zat cair ditentukan dengan berdasarkan pada selisih penimbangan piknometer kosong dengan penimbangan piknometer berisi sampel yang kemudian hasilnya dibagi dengan volume dari yang tertera pada piknometer yang digunakan. Sebelum memulai percobaan, terlebih dahulu piknometer dibersihkan dengan menggunakan aquadest, kemudian dibilas dengan alkohol untuk mempercepat pengeringan piknometer kosong tadi. Setelah itu barulah piknometer ditimbang pada timbangan analitik dalam keadaan kosong tentunya, tanpa pemasukan sampel.Dari hasil penimbangan ini dapat dicari bobot jenis sampel nantinya, yakni dengan menimbang piknometer berisi sampel terlebih dahulu, kemudian bobot jenis diperoleh dengan memperkurangkannya dengan berat piknometer kosong tadi. Sampel yang digunakan dalam percobaan ini yaitu paraffin cair, asam borat, alkohol dan sirup DHT. Dalam percobaan yang dilakukan kita menentukan kerapatan bulk, mampat dan sejati. Berdasarkan percobaan yang dilakukan kami

mendapat hasil dari kerapatan bulk yaitu sebesar 0,7697 g/ml. Kerapatan mampat sebesar 0,8004 g/ml dan kerapatan sejati sebesar -1,438 g/ml Dalam percobaan ini kami juga menghitung bobot jenis dari sampel yang kami gunakan yaitu Ultra Milk yang memiliki bobot jenis sebesar 1,028 g/ml bobot jenis sirup DHT sebesar 1,286 g/ml, bobot jenis Madu sebesar 1,384 g/ml, bobot jenis Buavita sebesar 1,070 g/ml dan bobot jenis dari Sirup marjan yaitu sebesar 1,369 g/ml. Pada saat praktikum penentuan kerapatan dan bobot jenis zat-zat tersebut sering terjadi penyimpangan sehingga memberikan hasil yang berbeda dengan yang seharusnya (sesuai ketentuan di Farmakope Indonesia). Penyimpangan-penyimpangan ini antara lain disebabkan oleh karena berbagai kesalahan pada saat melakukan praktikum. Kesalahan penimbangan, cara penutupan piknometer yang salah, pengaruh perubahan suhu yang terlalu cepat, piknometer belum benar-benar kering dan bersih, volume air yang di masukkan ke dalam piknometer tidak tepat, kebersihan, sampel yang terkontaminasi. a) Penimbangan Kesalahan akibat penimbangan ini bisa disebabkan karena timbangan yang digunakan berganti-ganti. Sehingga hasil penimbangan antara timbangan yang satu dengan yang lain belum tentu sama.

b) Cara penutupan piknometer yang salah Cara menyebabkan penutupan air yang piknometer tumpah yang terlalu cepat dapat tentu

terlalu

banyak

sehingga

mempengaruhi berat pada penimbangan. c) Pengaruh perubahan suhu Perubahan suhu yang terlalu cepat dapat menyebabkan cairan di dalam piknometer memuai/menyusut dengan tidak semestinya, sehingga pada waktu ditimbang zat tersebut memberikan hasil yang berbeda dengan yang telah ditentukan. d) Piknometer yang belum kering dan bersih Piknometer yang demikian belum bisa digunakan untuk penentuan kerapatan dan bobot jenis, karena masih ada cairan/kontaminan yang tertinggal di dalamnya sehingga tentu saja akan mempengaruhi hasil akhir. e) Volume air yang tidak tepat Volume air yang dimasukan ke dalam piknometer harus tepat dengan yang telah ditentukan, karena jika terlalu banyak atau terlalu sedikit maka akan mempengaruhi hasil akhir. f) Sampel yang terkontaminasi Sampel yang terkontaminasi tentu saja akan memberikan hasil yang menyimpang, karena kemurnian zat tersebut sudah berbeda dengan zat yang masih murni.

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan Adapun kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan yaitu : a. Bobot jenis zat cair yang diamati yaitu bobot jenis Ultra Milk yang memiliki bobot jenis sebesar 1,028 g/ml bobot jenis sirup DHT sebesar 1,286 g/ml, bobot jenis Madu sebesar 1,384 g/ml, bobot jenis Buavita sebesar 1,070 g/ml dan bobot jenis dari Sirup marjan yaitu sebesar 1,369 g/ml.. b. Kerapatan zat padat yang diamati dalam percobaan yaitu kerapatan bulk sebesar 0,88549 g/mL, kerapatan mampat sebesar 0,88549 g/ml dan kerapatan sejati yaitu sebesar B. Saran Sebaiknya setiap praktikan harus bisa menggunakan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini dan sebaiknya praktikan melakukan prosedur kerja dengan baik dengan pengawasan dan bimbingan dari asisten. .

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,2014.Penuntun praktikum FARMASI FISIKA I.Universitas Muslim Indonesia.Makassar Ansel, C Howard, 2006. Kalkulasi Farmasetik. EGC : Jakarta. Ansel ,C Howard, 2004. Kalkulasi Farmasetik. EGC.: Jakarta. Brescia, Arents dan Meislich, 1975. Fundamental Chemistry. New York. Ditjen POM, 1979.FARMAKOPE INDONESIA edisi III.Departemen kesehatan republik indonesia Gibson, M., 2004, .Pharmaceutical Preformulation and formulation. HIS Health Group, Tailor dan Prancis. Martin,Alfred. 1990. Farmasi Fisik. Universitas Indonesia Press: Jakarta. Petrucci, R. H., 1985. General Chemistry, Principles and Application 4th Ed. Collier Mac Inc., New York.

Lampiran Alat

Corong

Piknometer

Tepedensity

Gelas ukur

Sendok tanduk

Timbangan Analitik

Bahan

Sirup DHT

Asam Borat

Sirup Marjan

Buavita

Madu

Susu

Paravin Cair

Alkohol

Asam Borat di gelas ukur

Peninbangan Piknometer + sirup DHT

Penimbangan Piknometer kosong

Penimbangan Piknometer + Asam Borat

Penimbangan Piknometer + Asam Borat + Parafin