Anda di halaman 1dari 19

I. PENDAHULUAN A. Judul Analisis Komunitas Binatang Tanah B.

Latar Belakang Analisis ini penting dilakukan guna mengetahui berbagai macam komunitas binatang tanah pada tempat percobaan, mengetahui binatang tanah apa yang paling dominan, berperan hewan-hewan tersebut di lingkungan serta mengetahui perbedaan aktvitas hewan pada diurnal dan nokturnal. Analisis komuntias binatang tanah dilakukan di Kebun Biologi Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, pemasangan dilakukan pada sore hari. Cuaca pada saat pemasangan pitfall trap sedikit mendung. Lokasi yang dipilih untuk memasang pitfall trap yaitu kondisi lembab, daerah kanopi, dan non kanopi. Di kebun ini terdapat berbagai macam hewan-hewan kecil dan tumbuhan. Setelah dipasang keesokan harinya pada pagi hari pitfall trap diambil. C. Tujuan 1. Menganalisis populasi/komunitas binatang tanah dengan teknik sampling pitfall traps. 2. Membandingkan distribusi/penyebaran dan tingkah laku soil anthropod nokturnal dan diurnal. 3. Melihat pengaruh fisiko-kimia terhadap penyebaran soil anthropod nocturnal dan diurnal.

II. DASAR TEORI Menurut Meglithsch (1972), biosfer merupakan tempat kehidupan. Salah satu bagian dari biosfer adalah tanah tempat organisme hidup baik di dalam maupun di permukaannya. Hewan tanah sebagai komponen biotik pada ekosistem tanah atau ekosistem terrestrial tidak terlepas dari pengaruh lingkungan. Perubahan struktur vegetasi pada ekosistem terrestrial dapat berpengaruh pada struktur komunitas hewan tanah. Pada ekosistem terrestrial ada komponen abiotik dan biotik yang sangat menentukan rantai ekologi dan ekosistem yang stabil akan mendukung perkembangan hewan tanah pada ekosistem itu. Salah satu komponen biotik yang berperan penting dalam ekosistem tanah adalah Arthropoda. Menurut Meglithsch (1972), arthtropoda adalah phylum terbesar dalam kingdom Animalia dan kelompok terbesar dalam phylum itu adalah Insekta. Diperkirakan terdapat 713.500 jenis Arthropoda dengan jumlah tersebut diperkirakan 80% dari jenis hewan yang sudah dikenal. Menurut Suin (1997), Arthropoda tanah merupakan salah satu kelompok hewan tanah yang dikelompokkan atas Arthropoda dalam tanah dan Arthropoda permukaan tanah. Menurut Takeda (1981), arthropoda tanah memiliki peran penting dalam meningkatkan kesuburan tanah serta penghancuran serasah serta sisa-sisa bahan organik. Arthropoda permukaan tanah sebagai komponen biotik pada ekosistem tanah sangat tergantung pada faktor lingkungan. Perubahan lingkungan berpengaruh terhadap kehadiran dan kepadatan populasi Arthropoda. Perubahan faktor fisika kimia tanah berpengaruh pada kepadatan hewan tanah. Menurut Najima dan Yamane (1991), keanekaragaman hewan tanah lebih rendah pada daerah yang terganggu daripada daerah yang tidak terganggu. Menurut Adisoemarto (1998), perubahan komunitas dan komposisi vegetasi tertentu pada suatu ekosistem secara tidak langsung akan menunjukkan adanya perubahan komunitas hewan tanah dan sebaliknya. Arthropoda permukaan tanah berperan sebagai perombak bahan organik yang memegang peranan penting dalam daur hara. Pada ekosistem

alami yang tidak terganggu oleh aktivitas manusia, proses dekomposisi akan berlangsung dengan maksimal, akan tetapi jika terganggu akan terjadi sebaliknya. Ada dua faktor penting yang mempengaruhi keanekaragaman hewan tanah, yaitu kekayaan jenis (Indeks Richness) dan kemerataan spesies (Indeks Evennes). Pada komunitas yang stabil Indeks Richness dan Indeks Evennes tinggi. Sedangkan pada komunitas yang terganggu karena adanya campur tangan manusia kemungkinan Indeks Richness dan Indeks Evennes randah (Takeda, 1981). Menurut Meglithsch (1972), konsumen dapat dibedakan berdasarkan tingkatan dalam memperoleh energi dan berdasarkan cara makannya. a. Berdasarkan tingkatan dalam memperoleh energi konsumen dapat dibedakan menjadi. 1) Konsumen 1 adalah konsumen yang secara langsung memperoleh materi dan energi dari produsen. Konsumen I merupakan herbivora (pemakan tumbuhan). 2) Konsumen II adalah hewan-hewan yang mendapatkan materi dan energi dari konsumen I. konsumen II merupakan karivora (pemakan daging). 3) Konsumen III adalah hewan-hewan yang mendapatkan materi dan energi dari konsumen II. b. Berdasarkan cara makannya, konsumen dapat dibedakan menjadi: 1) Predator Predator adalah pemangsa yang mendapatkan makanan dengan cara mengejar atau menangkap mangsanya. Fungsi dari predator adalah memakan hama tanaman. 2) Pemakan bangkai (scavenger) Pemakan bangkai (scavenger) memakan tubuh hewan lain yang telah membusuk. Scavenger berbeda dengan pengurai karena scavenger merupakan hewan makro yang tidak mampu menguraikan bahan organik secara langsung. Fungsi pemakan bangkai ini adalah mengkonsumsi material tanaman dan binatang yang mati (detrivitor).

3) Parasit Parasit adalah makhluk hidup yang menempel atau hidup di dalam kakhluk hidup lain dan memperoleh makanan dari tubuh inangnya. Parasit dibedakan menjadi endo parasit (hidup di dalam) dan ekto parasit (hidup diluar tubuh). Fungsi parasit adalah mengurangi dominansi kompetitor yang bersifat unggul, memodifikasi perilaku host yang terinfeksi, dan memungkinkan spesies yang berkompetisi untuk hidup saling berdampingan. 4) Detritivor Detritivor merupakan hewan yang memakan hancuran tubuh organisme atau serpihan organisme (detritus). Herbivor adalah pemakan akar misalnya jangkrik, lalat, belatung dan menghabiskan hampir seluruh hidup mereka di dalam tanah. Beberapa herbivora seperti cacing akar dan simpilan dapat menjadi hama jika berada dalam jumlah besar, yang umumnya memakan akar atau bagian tanaman lainnya. Namun herbivor juga berfungsi sebagai mangsa bagi predator di alam dan merupakan detrivitor yang membantu mencerna daun-daun yang berguguran meskipun daun segar biasanya juga dimakan (Suin, 1991). Shredder adalah jenis yang sering terlihat pada permukaan tanah, berperan dalam menghancurkan tanaman mati. Shredder disebut sebagai pembukan kaleng bagi bakteri membantu kerja bakteri dan fungi dalam mencerna daun yang mati. Hal ini dikarenakan daun mati akan lebih mudah dicerna jika dalam keadaan sudak dicabik. Dalam tanah pertanian, shredder bisa menjadi hama dengan memakan akar hidup, jika tanaman mati tidak cukup tersedia. Spesies yang paling sering ditemukan yaitu luwing, sowbugs, rayap, tungau dan kecoa (Suin, 1991). Tujuan dari penanaman pitfall trap adalah untuk menjebak binatang-binatang permukaan tanah supaya jatuh ke dalamnya. Sehingga bisa dilakukan identifikasi atau untuk mengoleksi jenis binatang permukaan tanah yang berada pada lingkungan perangkap. Metode pitfall trap tidak dapat digunakan untuk mengukur besarnya populasi namun dari data yang diperoleh bisa didapatkan cerminan komunitas binatang tanah dan indeks diversitasnya (Odum, 1994).

Metode pitfall traps dilakukan dengan menggunakan botol jam yang diisi larutan alkohol 70% dan larutan gliserin dengan perbandingan 1:1, lalu ditanamkan di tanah lokasi yang sudah ditentukan dengan mulut botol terbuka dan sejajar dengan permukaan tanah. Penanaman botol dilakukan pada tempat yang terbuka dan tempat yang tertutup. Untuk menangkap hewan nokturnal maka jebakan ditanam pada senja hari dan diambil keesokan harinya (Odum, 1994). Untuk menangkap hewan nokturnal maka jebakan ditanam pada pagi hari dan diambil sore harinya. Dari hewan-hewan yang tertangkap di dalamnya nanti akan dilakukan identifikasi jenis spesiesnya dan dilakukan cacah untuk jumlah spesies dan individu anggota tiap spesies tersebut untuk mendapatkan indeks diversitasnya sehingga kita juga dapat melihat keragaman komunitas binatang tanah di lokasi penanaman yang telah dipilih (Odum, 1994).

Gambar 1. Pitfall trap (Odum, 1994). Kelebihan pitfall trap adalah alat ini mudah didapatkan (botol bekas) dan murah harganya. Kelemahannya adalah terperangkapnya hewan tergantung pada struktur habitat (misalnya densitas vegetasi, tipe substrat), dipengaruhi oleh kondisi temperatur serta hujan, yang mempengaruhi perilaku hewan tersebut sehingga susah dalam memperangkap hewan, bersifat pasif sehingga hewan yang tertangkap tidak mencakup keseluruhan dari hewan yang ada. Faktor-faktor yang mempengaruhi organisme yang tertangkap pada perangkap adalah berupa densitas populasinya, jangkauan jelajahnya, batas area sumur perangkap dan keadaan diluar batas sumur perangkap (Odum, 1994).

Prinsip pitfall trap pada dasarnya ada dua macam, yaitu adalah perangkap jebak tanpa umpan penarik dan perangkap jebak dengan menggunakan umpan. Pada perangkap jebak tanpa umpan hewan tanah yang berkeliaran dipermukaan tanah akan jatuh terjebak, sedangkan perangkap dengan menggunakan umpan hewan yang terperangkap adalah hewan yang tertarik oleh bau umpan yang diletakkan ke dalam perangkap. Hewan yang jatuh ke dalam perangkap akan terawetkan dalam formalin atau zat kimia lainnya yang diletakkan ke dalam perangkap tersebut (Odum, 1994). Hewan tanah yang terperangkap dalam perangkap sumuran dapat berperilaku diurnal maupun nokturnal. Diurnal adalah hewan yang aktif pada siang hari, sedangkan nokturnal adalah hewan yang aktif pada malam hari. Contoh hewan diurnal adalah laba-laba dan semut, sedangkan contoh hewan nokturnal adalah bekicot dan kumbang. Masing-masing hewan tersebut tinggal dalam tanah karena mereka merupakan kekayaan spesies daerah tanah. Perilaku kedua hewan tersebut sangat berbeda tergantung pada cara mencari makan dan proses beradaptasi dengan lingkungannya (Michael, 1994). Ciri dari hewan diurnal biasanya memiliki sayap, tergolong polunator tumbuhan, serta memiliki mata apposition dimana tidak ada ruang jernih di antara kerucut kristal dan sel retikula. Sedangkan hewan nokturnal memiliki pendengaran dan penciuman yang peka, penglihatan hewan ini tajam, ukuran mata lebih besar dari tubuh, memiliki mata superposition dimana terdapat ruang jernih di antara kerucut kristal dan sel ratikula (Hariyama dkk., 2001). Odum (1994), menyatakan bahwa terdapat tiga pola penyebaran dalam populasi yaitu acak, seragam, dan bergerombol. Berikut penjelasannya: 1. Acak (Random) Pada pola ini setiap individu memilki pengaruh yang sama, sehingga keberadaan satu individu tidak akan mempengaruhi individu yang lainnya. Peluang satu individu untuk menempati tempat tidak berbeda dengan menempati tempat lainnya dan kehadiran satu individu pada suatu tempat tidak akan mempengaruhi kehadiran individu yang lain. Penyebaran acak jarang ditemukan di alam dikarenakan habitat tidak homogeny dan terdapat kecenderungan untuk saling

berkumpul. Herbivora selalu berhubungan dengan tanaman inang, sehingga pola acak mungkin dapat ditemukan pada serangga di agroekosistem 2. Seragam (Regular) Penyebaran seragam dapat terjadi jika kondisi lingkungan cukup seragam, terdapat pengaturan jarak yang sama dan sistematis. Pada persaingan antar individu sangat keras. Terdapat organisme positif yang mendorong pembagian ruang yang sama. Pola penyebaran secara teratur jarang terjadi di alam dikarenakan jarak antara satu individu dengan individu yang lain pada spesies yang sama dalam suatu wilayah adalah sama atau hampir sama. Keadaan seperti ini hanya terjadi pada ekosistem buatan. 3. Berkelompok (Clumped) Pola berkelompok sangat umum terjadi di alam. Peluang untuk menemukan individu yang lain dari anggota populasi sangat besar jika telah ditemukan satu individu. Pola ini dapat terjadi karena kondisi lingkungan tidak seragam dan tiap individu memberikan respon yang sama terhadap perubahan lingkngan. Pola reproduksi yang memungkinkan adanya pengasuhan induk ada keturunannya dan perilaku sosial yang menghasilkan koloni atau himpunan organisasi lainnya. Pada pola penyebaran ini, kelompok yang terbentuk dapat sama atau berubah-ubah besarnya dan tersebar secara acak, seragam atau berkelompok sehingga diasumsikan ada lima tipe penyebaran yaitu acak, seragam, berkelompok acak, berkelompok seragam, dan berkelompok berkumpul. Tanah merupakan substrat bagi tumbuhan untuk tumbuh, merupakan medium untuk pertumbuhan akar dan untuk menyerap air dan unsur-unsur hara makanan. Bagi hewan tanah adalah substrat sebagai tempat berpijak dan tempat tinggal, kecuali hewan yang hidup di dalam tanah. Kondisi tanah yang berpengaruh terhadap hewan tersebut adalah kekerasannya. Faktor dalam tanah yang mempengaruhi kehidupan hewan tanah antara lain kandungan air (drainase), kandungan udara (aerase), suhu, kelembaban serta sisa-sisa tubuh tumbuhan yang telah lapuk. Jika tanah banyak mengandung air maka oksigen di dalam tanah akan berkurang dan karbondioksidanya akan meningkat. Air juga

menyebabkan tanah menjadi cepat asam, karena air mempercepat pembusukan (Nurhadi, 2011). Kurangnya oksigen menyebabkan gangguan pernapasan, dan zat-zat yang bersifat asam dapat meracuni hewan. Tanah yang terlalu kering menyebabkan hewan dalam tanah tidak dapat mengekstrak air secara normal. Kandungan karbondioksida dalam tanah lebih banyak daripada di atmosfir. Jika tanah banyak mengandung rongga pertukaran udara antar tanah dengan atmosfir menjadi lancar, karbondioksida dapat keluar sementara oksigen masuk. Rongga-rongga tanah dapat diperbanyak jika dalam tanah tersebut banyak hewan penggali tanahseperti cacing tanah dan anjing tanah (Nurhadi, 2011). Beberapa faktor yang penting bagi hewan yaitu pertama adalah cahaya, Cahaya dapat mempengaruhi hewan, misalnya warna tubuh, gerakan hewan dan tingkah laku. Lalu pH, pengaruh pH terhadap organisme terjadi melalui tiga cara, yaitu; pertama secara langsung, mengganggu osmoregulasi, kerja enzim dan pertukaran gas di respirasi, kedua secara tidak langsung, mengurangi kualitas makanan yang tersedia bagi organisme, ketiga yaitu meningkatkan konsentarasi racun logam berat terutama ion AI. Di lingkungan daratan dan perairan, pH menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan penyebaran organisme (Nurhadi, 2011).

III. METODE A. Alat dan Bahan Alat : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Botol jam Kardus Termometer Soil tester Kaca pembesar Mikroskop Gelas penutup Gelas benda Penjepit

10. Tusuk sate 11. Cawan porselin Bahan : 1. Alkohol 70% 2. Gliserin B. Cara Kerja Pitfall trap dirangkai pada daerah kanopi dan kanopi, lalu parameter fisiko-kimia (pH dan kelembaban) diukur dengan menggunakan soil tester pada daerah disekitar pitfall trap. Kemudian koleksi data dilakukan untuk hewan diurnal (fajar-sore hari) dan untuk hewan nokturnal (sore-fajar). Setelah itu hasil pitfall trap diamati, diidentifikasi menggunakan buku Soil Biology Guide. Densitas spesies. Densitas relatif, frekuensim frekuensi relatif, serta nilai penting dihitung.

IV. A. HASIL

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah melakukan percobaan maka diperoleh hasil untuk komunitas parasit, scavenger, shredder, herbivore, dan predator yaitu sebagai berikut :

Parasit

scavenger

Shredder

Densitas Relatif Frekuensi Relatif

Herbivore

Predator 0 20 40 60 80 100 120

Gambar 2. Histogram cacah spesies binatang nokturnal

Shredder Densitas relatif Herbivor Frekuensi relatif

Scavenger 0 20 40 60 80

Gambar 3. Histogram cacah spesies binatang tanah diurnal

8 7 6 5 4 3 2 1 0 pH Kelembaban Nokturnal Diurnal

Gambar 4. Histogram Parameter Fisiko-kimiawi Tanah B. PEMBAHASAN Indikator kemelimpahan jumlah spesies dalam komunitas disebut dengan freakuensi relatif. Nilai frekuensi relatif menunjukkan tingkat keanekaragaman dalam

spesies, semakin tinggi frekuensi relatif maka semakin banyak jenis spesies yang ditemui di suatu komunitas. Densitas relatif menunjukkan banyaknya individu suatu spesies yang terdapat dalam suatu area, semakin tinggi nilai densitas relatif maka semakin banyak organismenya dan semakin tinggi pula tingkat persebarannya. Bentuk penyebaran atau distribusi kelompok dapat diamati dengan mengamati perbandingan densitas relatif dan frekuensi relatif (Odum, 1994). Jika FR>DR maka disebut distribusi acak (jumlah spesies lebih tinggi dari tingkat kepadatan). Dalam keadaan ini banyak spesies akan ditemukan dimana saja dengan jenis beragam. Jika FR<DR maka disebut distribusi kelompok (clumped) (populasi individu akan berkumpul dalam daerah tertentu), dan jika ditemukan dapat dalam jumlah yang banyak. Jika FR=DR maka distribusi regular atau tersusun rapi. Namun kondisi seperti ini jarang terjadi pada hutan yang heterogen, umumnya hanya terjadi jika ada bantuan dari manusia, contohnya di hutan produksi (Odum, 1994).

Dari histogram untuk nokturnal dapat dilihat bahwa parasit memiliki frekuensi relatif 4,3 dan densitas relatif 6,4. Jika densitas relatif lebih besar daripada frekuensi relatif maka pola penyebarannya adalah clumped (mengelompok). Hal ini berarti parasit memiliki kecenderungan mengumpul pada suatu daerah dalam jumlah yang banyak. Pola penyebaran parasit tergantung pada inangnya, jika inang parasit letaknya menggumpul maka parasit juga mengumpul. Berdasarkan NP, peran parasit di lingkungan tidak penting karena parasit bersifat merugikan. Parasit merupakan kompetitorbagi inang tempat parasit tersebut berkembang biak karena parasit mendapatkan makanan dari tubuh inangnya. Selanjutnya pada scavenger, pada scavenger nilai frekuensi relatifnya 2,8 dan densitas relatif nya 4,5. Densitas relatif scavenger lebih besar daripada frekuensi relatifnya maka pola penyebaran hewan ini adalah clumped (mengelompok). Hal ini berarti scavenger memiliki kecenderungan mengumpul pada suatu daerah dalam jumlah yang banyak. Ini dikarenakan di dekat pemasangan pitfall trap terdapat bangkai hewan, sehingga pola penyebaran scavenger mengelompok. Berdasarkan NP, peran scavenger di lingkungan tidak begitu besar yaitu memakan bangkai binatang yang sudah mati atau mulai membusuk. Pada shredder nilai frekuensi relatifnya 17,3 dan densitas relatifnya 4,1. Frekuensi relatif shredder jauh lebih besar daripada densitas relatifnya maka pola penyebaran hewan ini adalah random (acak). Hal ini berarti shredder dapat ditemukan dimana-mana dikarenakan spesiesnya menyebar secara menyeluruh, acak, dan jenisnya beragam. Ini dikarenakan daun-daun mati yang letaknya menyebar, sehingga shredder menyebar. Berdasarkan NP, peran shredder lumayan penting dikarenakan shredder membantu bakteri serta fungi untuk mencerna daun yang telah mati. Pada herbivor, nilai frekuensi relatifnya 34 dan nilai densitas relatifnya 77. Densitas relatif herbivor lebih besar daripada frekuensi relatifnya maka pola penyebaran hewan ini adalah clumped (mengelompok). Hal ini berarti herbivor memiliki kecenderungan mengumpul pada suatu daerah dalam jumlah yang banyak. Ini dikarenakan tanaman yang menjadi sumber makanan herbivor letaknya berdekatan sehingga herbivor menggelompok atau mungkin juga dikarenakan untuk mencegah predator yang akan memangsa herbivor maka mereka mengelompok. Berdasarkan NP, herbivor memegang

peranan yang paling penting dalam lingkungan dikarenakan herbivor merupakan makanan bagi predator (mengontrol populasi hama) dan herbivor juga membantu dalam mencerna daun-daun gugur. Pada predator, nilai frekuensi relatifnya 26 dan densitas relatifnya 9,1. Frekuensi relatif predator jauh lebih besar dibandingkan densitas relatifnya maka pola penyebaran hewan ini adalah random (acak). Hal ini berarti predator dapat ditemukan dimana-mana dikarenakan spesiesnya menyebar secara menyeluruh, acak, dan jenisnya beragam. Ini dikarenakan sumber makanan predator yang letaknya menyebar. Berdasarkan NP, peran predator dalam lingkungan penting karena predator memakan hama tanaman, jadi jika ada predator maka pertumbuhan hama dapat ditekan. Nilai penting mengarah pada sumbangan relatif suatu spesies bagi seluruh komunitas. Nilai penting suatu spesies dapat diperoleh melalui perhitungan Indeks Nilai Penting (INP). Caranya dengan menjumlahkan kerapatan relatif, dominansi relatif, dan frekuensi relatif suatu spesies atau diperoleh dengan menggunakan salah satu atau hanya dua dari parameter yang ada (Odum, 1994). Berdasarkan NP hewan nokturnal dapat dilihat bahwa nilai NP total predator yaitu 35,26, herbivor nilai NP total nya 111,84, shredder nilai NP total nya 21,51, scavenger nilai NP total nya 19,68, dan parasit nilai NP total nya 10,76. Herbivor memiliki nilai NP tertinggi Hal ini berarti herbivor memberikan pengaruh besar pada komunitas arthropoda tanah nokturnal dikarenakan herbivor peran utamanya sebagai mangsa bagi predator (pengontrol populasi hama). Jika predator mati maka keseimbangan di lingkungan tersebut akan terganggu dan jumlah hama akan meningkat. Herbivor juga berfungsi sebagai detrivitor yaitu memakan daun-daun yang gugur. Hasil NP untuk hewan diurnal adalah scavenger 59,04, herbivor 34,06, dan shredder 106,88. Dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan aktvitas antara hewan diurnal dan nokturnal. Dari NP, predator tidak beraktifitas pada siang hari mungkin dikarenakan predator sensitif terhadap cahaya sehingga beraktivitas mencari makanan pada malam hari atau mungkin juga dikarenakan mangsa predator (yaitu herbivor) pada malam hari

melakukan tugasnya sebagai detrivitor artinya herbivor dalam keadaan lengah karena sedang makan sehingga memudahkan predator untuk memangsa herbivor. Dari NP, herbivor banyak melakukan aktvitas di malam hari dibandingkan siang hari hal ini dikarenakan jenis herbivor yang diperoleh dari percobaan sensitif terhadap cahaya sehingga melakukan aktivitas pada malam hari. Dari NP, sebaliknya untuk shredder yang lebih banyak melakukan aktifitas pada siang hari mungkin dikarenakan jenis shredder yang diperoleh saat percobaan tidak dapat melakukan aktivitas nya jika tidak ada cahaya. Sehingga shredder beraktivitas pada pagi atau siang hari. Dari NP, parasit hanya beraktifitas pada malam hari dikarenakan pada siang hari inang yang ditempati parasit sedang melakukan fotosintesis untuk menghasilkan energi dan pada malam hari inang beristirahat (respirasi). Ketika inang beristirahat maka parasit akan memakan sisa-sisa dari makanan yang ada pada inang. Penyebaran seragam dapat terjadi jika kondisi lingkungan cukup seragam, terdapat pengaturan jarak yang sama dan sistematis. Pada persaingan antar individu sangat keras. Terdapat organisme positif yang mendorong pembagian ruang yang sama. Pola penyebaran secara teratur jarang terjadi di alam dikarenakan jarak antara satu individu dengan individu yang lain pada spesies yang sama dalam suatu wilayah adalah sama atau hampir sama. Keadaan seperti ini hanya terjadi pada ekosistem buatan. Setiap hewan memiliki pH dan kelembaban optimum yang berbeda-beda supaya dapat melakukan aktivitasnya. Dari histogram dapat dilihat bahwa pH serta kelembaban pada hewan nokturnal maupun diurnal tidak menunjukkan selisih yang terlalu jauh. Hal ini berarti pH serta kelembaban tidak memberikan pengaruh yang besar pada kedua hewan tersebut. Kelembaban pada pagi hari lebih tinggi dibandingkan pada malam hari, hal ini bisa dikarenakan hujan pada malam hari. Akibatnya predator tidak beraktivitas pada pagi maupun siang hari, namun hal ini menguntungkan bagi shredder sehingga aktivitasnya meningkat pada siang hari. pH masih dalam batasan normal sehingga aktivitas arthropoda tanah tidak terganggu. Pada nokturnal diperoleh lima jenis predator yaitu Componotus caryae, Araneus didemalus, Formica ruva, Arachnidae sp, dan Paederus littoralis. Kemudian diperoleh

enam jenis herbivora yaitu Aphid sp, Hymenoptera sp, Isotomorus sp, Semicerura sp, Leptinotarsa decemlin, dan Cryptocercus sp. Diperoleh dua jenis shredder Lassius sp dan Oechophylla smagdina. Diperoleh tiga jenis scavenger yaitu Blaberus giganteus, Gryllus sp, dan Blaptica dubia. Diperoleh satu jenis parasit yaitu Culicoides sp. Pada diurnal diperoleh tidak ada predator dan parasit. Kemudian diperoleh lima jenis scavenger yaitu Tomocerus flavesceus, Dolichoderus bituberculatus, Dolichordus sp, dan Grylidae sp. Diperoleh empat jenis herbivora yaitu Pseudopsis Monica, Aphaenogaster sp, Larva, dan Aphid sp. Diperoleh lima jenis shredder yaitu Monomorium pharaonois, Xyleborus dispar, Lasius fuliginosus, Myrmaraceae sp, dan Formica sp.

V. KESIMPULAN Pada percobaan mengenai analisis komunitas binatang tanah yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut : 1. Metode pitfall traps dilakukan dengan menggunakan botol jam yang diisi larutan alkohol 70% dan larutan gliserin dengan perbandingan 1:1, lalu ditanamkan di tanah dengan mulut botol terbuka dan sejajar dengan permukaan tanah. 2. Pada nokturnal herbivor, scavenger, dan parasit memiliki pola penyebaran clumped sedangkan shredder dan predator memiliki pola penyebaran random. Pada diurnal tidak terdapat predator dan parasit, shredder dan scavenger memiliki pola penyebaran clumped sedangkan herbivor memiliki pola penyebaran random. 3. pH tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada aktivitas arthropod tanah, sedangkan kelembaban tanah menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pada shredder dan tidak adanya aktivitas pada predator.

DAFTAR PUSTAKA Adisoemarto, S. 1998. Kemungkinan Penggunaan Serangga Sebagai Indikator Pengelolaan Keanekaragaman Hayati. Jurnal Biota. 3(1) : 25 33. Hariyama, T., Meyer-Rochow, V. B., Kawauchi, T., Takaku, Y. dan Tsukahara, U. 2001. Diurnal Changes In Retinula Cell Sensitives and Receptive Fields (Two Dimensional Angular Sensitivity Functions) In The Appossition Eyes of Ligia exotica (Crustaceae, Isopoda). The Journal Of Experimental Biology. 204:239. Meglitsch, P. A. 1972. Invertebrate Zoology Second Edition. Oxford University. London. Michael, P. 1984. Ecologycal Methods for Field and Laboratory Investigation. Tata Mc Graw-Hill Publishing Company Limited. New Dehli. Najima, K. dan Yamane, A. 1991. The Effect of Reforestation on Soil Fauna in the Philippines. Journal of Biology. 120 (1) : 1-9. Nurhadi. 2011. Komposisi Atrhropoda Permukaan Tanah Di Kawasan Pabrik Pupuk Sriwijaya Palembang. Jurnal Penelitian. 11(1):1-11. Odum, E. P. 1994. Dasar-dasar Ekologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Suin, N. M. 1991. Perbandingan Komunitas Hewan Permukaan Tanah Antara Ladang dan Hutan di Bukit Pinang-Pinang Padang. Universitas Andalas. Padang. Takeda, H. 1981. Effect of Shiffing Cultivation on The Soil Meso-Fauna with Special References to Collembolan Population in North-East Thailand Memoir of College of Agriculture Kyoto University. Journal of Research and Development. 18 : 44-60.

LAMPIRAN Tabel 1. Analisis Data Soil Anthropod Nokturnal NO Genus/spesies Predator 1 Componotus caryae 2 Araneus didemalus 3 Formica ruva 4 Arachnidae sp 5 Paederus littoralis Sub total Herbivore 1 Aphid sp 2 Hymenoptera sp 3 Isotomorus sp 4 Semicerura sp 5 Leptinotarsa decemlin 6 Cryptocercus sp Sub total Shredder 1 Oechophylla smagdina 2 Lassius sp Sub total Scavenger 1 Blaberus giganteus 2 Gryllus sp 3 Blaptica dubia Sub total Parasit Culicoides sp Total Keseluruhan D 3 1 13 2 1 20 2 81 77 6 1 1 168 6 3 9 2 2 3 7 14 218 DR 1.376147 0.458716 5.963 0.917 0.458 9.174311927 0.917431 37.15596 35.3211 2.752294 0.458716 0.458716 77.06422018 F 1 1 1 2 1 6 1 2 1 2 1 1 8 FR 4.347826 4.347826 4.347 8.695 4.347 26.08696 4.347826 8.695652 4.347826 8.695652 4.347826 4.347826 34.78261 NP 5.723973 4.806542 10.3111 9.613 4.806 35.26127 5.265257 45.85162 39.66893 11.44795 4.806542 4.806542 111.8468

2.752294 2 1.376147 2 4.128440367 4 0.917431 0.917431 1.376147 2.293577982 6.422018 100 1 2 1 4 1 23

8.695652 11.44795 8.695652 10.0718 17.3913 21.51974 4.347826 8.695652 4.347826 17.3913 5.265257 9.613083 5.723973 19.68488

4.347826 10.76984 100 200

Tabel 2. Analisis Data Soil Anthropod Diurnal No Genus/Spesies D DR Scavenger 1 Tomocerus flavesceus 2 1.869159 2 Dolichoderus bituberculatus 6 5.607477 3 Dolichordus sp 3 2.803738 4 Grylidae sp 1 0.934579 Sub total 34 31.7757 Herbivore 1 Pseudopsis Monica 5 4.672897 2 Aphaenogaster sp 1 0.934579 3 Larva 2 1.869159 4 Aphid sp 9 8.411215 Sub total 17 15.88785 Shredder 1 Monomorium pharaonois 32 29.90654 2 Xyleborus dispar 2 1.869159 3 Lasius fuliginosus 2 1.869159 4 Myrmaraceae sp 1 0.934579 5 Formica sp 19 17.75701 Sub total 56 52.33645 Total Keseluruhan 10 7 100

F 1 1 1 1 6 1 1 1 1 4 6 2 1 1 2 12 22

FR 4.545455 4.545455 4.545455 4.545455 27.272727 3 4.545455 4.545455 4.545455 4.545455 18.181818 2 27.27273 9.090909 4.545455 4.545455 9.090909 54.545454 5 100

NP 6.414613 10.15293 7.349193 5.480034 59.04843 9.218352 5.480034 6.414613 12.95667 34.06967 57.17927 10.96007 6.414613 5.480034 26.84792 106.8819 200

Tabel 3. Analisis Data Fisiko-kimia Anthropod Nokturnal-Diurnal. Ulangan Parameter 1 2 3 4 5 6 Nokturnal pH Kelembaban Diurnal pH Kelembaban 7,2 0,4 7,2 0,4 7,2 0,4 6,8 2 6,8 2 6,8 2 7 0,8 7 0,9 5,4 1 6,8 1 5,4 0,8 5,2 2

Ratarata

6,133 1,083

7 1,2

Anda mungkin juga menyukai