Anda di halaman 1dari 29

Perspektif Kritis terhadap Implementasi Pandangan

Behavioristik dalam
Kurikulum Pendidikan di Indonesia

Oleh:
1
Pawit M. Yusup

Struktur Tulisan (Daftar Isi):


A. Pendahuluan: perspektif filosofis
Landasan Filosofis Kurikulum
B. Fakta di balik realita Pembelajaran berkarakter
behavioristik: Seputar warna behaviorisme dalam
praksis pendidikan
C. Pembahasan: Perspektif Implementatif teori-teori
belajar behavioristik
a) Teori belajar SR:
b) Operant conditioning:
c) Teori belajar sosial dari A. Bandura
d) Teori pengembangan sosial dari L. Vygotsky
e) Teori belajar struktural dari J. Scandura
A. Kritik terhadap pandangan behaviorisme dalam
pendidikan
a) Pandangan Tentang Pengetahuan, Belajar dan
Pembelajaran:
b) Masalah Belajar dan Pembelajaran:
c) Masalah Belajar dan Pembelajaran: Strategi
Pembelajaran:
d) Masalah Belajar dan Pembelajaran: Evaluasi:
A. Kesimpulan dan Rekomendasi:
B. Daftar Pustaka:

A. Pendahuluan
Perspektif filosofis
Berbicara tentang ppsikologi termasuk psikologi belajar
sebagaimana orang telah mengenalnya, sebenarnya bersandar
pada konsepsi tertentu sifat dasar manusia. Ia banyak
menjelaskan tentang hakekat manusia dalam hidup dan
kehidupannya. Oleh karena itu psikologi banyak kaitannya
dengan filsafat tentang manusia.
Tentang keberadaan manusia dipandang dari segi fisik, dari
segi mental, atau dari segi keduanya sekaligus. Atau mungkin
juga dari segi-segi yang lain, seperti misalnya manusia adalah
1 Dosen pada Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad
Bandung 2009
hewan dengan ciri-ciri tertentu, manusia adalah makhluk yang
unik, dll. Pokoknya banyak teori tentang manusia yang hingga
kini masih terus berlangsung.
Mulai dari pandangan-pandangan yang bersifat introspektif
filsafati yang banyak dikembangkan di masa lalu sebelum
pengetahuan yang bersifat ilmiah-empiris lahir, hingga
berkembang menjadi beragam teori yang bersifat empiris. Baik
pandangan tersebut mengarah kepada situasional centered atau
situasional oriented seperti tergambar dalam banyak penganut
teori behavioristik, maupun pada yang bersifat person oriented.
Semua itu digali dan kemudian dikembangkan oleh para ahli
bidang-bidang psikologi pada umumnya. Beberapa ahli yang
mengembangkan teori ini seperti Kurt Lewin, E.C. Tolman, John
Dewey, dan beberapa orang lainnya, banyak digunakan konsep-
konsepnya sebagai bahan penjelasan. (Bigge, 1982).
Manusia menurut visi beberapa teori belajar berbeda satu
sama lain, bahkan ada yang tampak saling bertentangan antara
yang satu dengan yang lainnya. Mereka ada yang tampak saling
menjatuhkan, meskipun apabila disadari secara bijak, tidak ada
satu teori pun yang benar-benar ingin atau bertujuan
merobohkan teori lainnya. Hakekat adanya teori sebenarnya
saling melengkapi satu sama lain. Hal ini demikian karena tidak
ada satu buah teori yang bisa berlaku umum di semua situasi dan
kondisi dan semua bidang masalah. Yang ada hanyalah bahwa
teori yang satu lebih cocok dan sesuai untuk diterapkan dalam
bidang permasalahan tertentu, sedangkan teori lainnya kurang
cocok, misalnya.
Salah satu teori belajar yang belakangan muncul adalah yang
berbasis pada psikologi kognitif, yang merupakan rival atau
setidaknya tidak sama pandangan-pandangannya dengan konsep
psikologi behavioristik, konsep introspektif, atau teori nonempiris
lainnya. (Lihat, Bigge, 1984; dan Littlejohn, 1988: 68-94).

Sebelum sampai kepada masalah pokoknya, orang perlu


paham lebih dahulu akan konsep dasarnya, bahwa manusia
secara psikologis bisa dianggap sebagai makhluk yang berciri
sebagai berikut:
○ Manusia mempunyai instink dan kebutuhan. Pandangan ini
mendasari banyak teori tentang konsep manusia itu sendiri
sebagai makhluk yang berinteraksi dengan lingkungannya.
Karena dasarnya instink dan kebutuhan, maka segala hal
yang bergerak atau digerakkan oleh kedua dasar itulah yang
akan menjadi kenyataannya. Orang melakukan sesuatu itu
atas dasar instink, atau atas dasar kebutuhan untuk
memenuhinya. Jelasnya hal ini merupakan pandangan
2
aktualisasi diri. Juga pandangan-pandangan humanisme
psikedelik dan apersepsi yang dikembangkan oleh Herbart
dan para pengikutnya. Pandangan-pandangan ini mengarah
kepada perbuatan-perbuatan manusia yang bisa diterka
melalui teori introspeksi. Dengan merenung dan mengamati
pola kerja dan pola pikir yang ada pada diri sendiri,
kemudian direfleksikan untuk kejelasan-kejelasan sebuah
gagasan, termasuk untuk menjelaskan tentang manusia
lainnya dalam perilaku kehidupannya.
○ Pandangan kedua adalah bahwa manusia dianggap sebagai
organisme yang pasif-reaktif terhadap lingkungannya.
Segala perilaku kehidupannya banyak dipengaruhi oleh
lingkungan tempat tinggalnya. Orang berbuat itu
sebenarnya ia sedang mereaksi suatu stimulus yang datang
dari luar. Jadi perubahan perilaku yang terjadi pada manusia
sebenarnya merupakan adanya hubungan yang lancar
antara stimulus dan respons (S-R bond). Konsep ini diawali
oleh Pavlov; dan teorinya dikenal dengan behaviorisme
Pavlovian, yang tampak dalam cabang dan
pengembangannya seperti koneksionisme, pembiasaan
klasik, dan pembiasaan berinstrumen. Untuk ini pandangan
filsafatnya adalah realisme saintifik atau empirikisme logis.
○ Pandangan yang ketiga adalah bahwa manusia itu
mempunyai kemauan, berinteraksi dengan lingkungannya
secara aktif. Ia tidak dianggap sebagai makhluk yang secara
utuh dipengaruhi oleh lingkungannya, akan tetapi justru ia
berusaha untuk membentuk lingkungannya sesuai dengan
kemauannya dan seleranya. Ia berusaha untuk memahami
lingkungannya, dan oleh karena itu ia berpikir (homo
sapiens). Pandangan ini dikenal dengan kognitif; dan
teorinya disebut dengan psikologi kognitif. Pandangan
filsafatnya adalah pragmatisme atau relativisme ruang
kognitif. Pandangan yang ketiga ini yang kelak berkembang
menjadi teori belajar konstruktivisme yang dikembangkan
oleh psikologi kognitif, psikologi gestalt, dengan para
pelopornya antara lain adalah EC Tollman, Piaget, Koffka,
dan ML Bigge. (Bigge, 1982).

Sebenarnya baik empirikisme logis maupun relativisme


positif, keduanya bersifat empirikistis, karena mereka berpusat
pada pengetahuan yang diperoleh dari atau melalui pengalaman.
Namun untuk relativisme positif adalah berkenaan dengan
empirikisme psikologis. Pengalaman manusia tumbuh dan
berkembang keluar mengikuti kemauan-kemauannya. Disebut
juga dengan empirikisme ruang kognitif karena ia berpandangan
3
pragmatis yang diterapkan oleh psikologi bidang kognitif. Konsep
terakhir ini yang kemudian berkembang menjadi teori belajar
berkarakter konstruktivisme.
Behaviorisme muncul pertama kali di Rusia, namun aliran
ini kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat. Paham ini
muncul sebagai kritik dari strukturalisme Wundt (tentang
Wundt, sumbernya: George C. Boeree, 1999 dan 2000). Aliran
ini juga merupakan perkembangan lanjutan dari paham
fungsionalisme, yang lebih mencirikan isi dan fungsi seperti
antara lain: Lebih menekankan pada fungsi mental daripada
elemen-elemen mental; Fungsi-fungsi psikologis adalah
adaptasi terhadap lingkungan sebagaimana adaptasi biologis
Darwin; Kemampuan individu untuk berubah sesuai tuntutan
dalam hubungannya dengan lingkungan adalah sesuatu yang
terpenting; Fungsionalisme juga sangat memandang penting
aspek terapan atau fungsi dari psikologi itu sendiri bagi
berbagai bidang dan kelompok manusia; Aktivitas mental tidak
dapat dipisahkan dari aktivitas fisik, maka stimulus dan respon
adalah suatu kesatuan; Psikologi sangat berkaitan dengan
biologi dan merupakan cabang yang berkembang dari biologi.
Maka pemahaman tentang anatomi dan fungsi fisiologis akan
sangat membantu pemahaman terhdap fungsi mental;
Menerima berbagai metode dalam mempelajari aktivitas mental
manusia. Meskipun sebagian besar riset menggunakan metode
eksperimen, pada dasarnya aliran fungsionalisme tidak
berpegang pada satu metode inti. Metode yang digunakan
sangat tergantung dari permasalahan yang dihadapi.( George
C. Boeree, 2000).
Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur
kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi,
dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.
Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan
penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh
strukturalism dan fungsionalisme di atas.
Pandangan behaviorisme sekilas tampak radikal dan
mengubah pemahaman tentang psikologi secara drastis,
Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih
sebagai perubahan evolusioner daripada revolusioner. Dasar-
dasar pemikiran behaviorisme sudah ditemui berabad-abad
sebelumnya. Konsep Islam yang merupakan hadis nabi
mengemukakan bahwa “anak lahir itu bersih tanpa dosa, orang
tuanyalah (lingkungan) yang akan membuatnya jadi majusi atau
nasrani (hadits).
Prinsip dasar behaviorisme antara lain adalah: perilaku
nyata dan terukur, motivasi datang dari luar, faktor stimulus
4
sangat dominan, lingkungan luar sangat menentukan.
Sedangkan aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki
bentuk fisik, sehingga sulit diukur, dan oleh karena itu harus
harus dihindari. Penganjur utama pandangan behaviorisme
adalah J.B. Watson yang percaya bahwa prilaku yang bisa diukur
merupakan satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi
yang benar.
Behaviorisme, baik di dalam filsafat maupun psikologi,
berpindah dari sudut pandang orang pertama menjadi sudut
pandang orang ketiga, atau pengamat. Hal yang sama berlaku di
dalam refleksi tentang pikiran dan kesadaran manusia.
Kesadaran manusia dianalisis secara obyektif melalui sudut
pandang pengamat, dan bukan dari sudut pandang orang yang
menghayatinya. Ini merupakan ciri khas pendekatan positivisme
dan behaviorisme di dalam menganalisis realitas. Rezza
Wattimena, 2009). Behaviorisme tidak pernah bicara tentang hal-
hal yang tak tertampak. Tuhan, malaikat, jin, syetan, dan subjek-
subjek kepercayaan lainnya tidak bisa dijelaskan secara
behavioristik.
Beberapa filsuf yang memandang pola-pola behaviorisme
antara lain adalah: para filsuf masa Yunani kuno dengan
kelompok orientasi biologis yang berusaha menjelaskan aktivitas
manusia; bentuk-bentuk reaksi mekanistis dari proses-proses
biologis, misalnya pandangan Hippocrates. Pandangan John
Locke yang menekankan pada lingkungan sebagai penentu
perilaku manusia, sementara itu jiwa dianggap pasif. Munculnya
pandangan empirisme dan asosiasionisme sangat mewarnai
paham behaviorisme, yang mencirikan adanya adaptasi manusia
terhadap lingkungan, yang dilakukan melalui proses belajar yang
berusaha dijelaskan secara empirik dan menggunakan proses
asosiasi. (Hana Panggabean, 2009. Behaviorisme. Rumah Belajar
Psikologi).

Landasan Filosofis Kurikulum


Pendidikan berperan sangat penting dalam keseluruhan
aspek kehidupan manusia, sebab pendidikan berpengaruh
langsung kepada kepribadian ummat manusia. Pendidikan
sangat menentukan terhadap model manusia yang
dihasilkannya. Kurikulum sebagai rancangan pendidikan,
mempunyai kedudukan sentral; menentukan kegiatan dan hasil
pendidikan. Penyusunannya memerlukan fondasi yang kuat,
didasarkan atas hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam.
Kurikulum yang lemah akan menghasilkan manusia yang lemah
pula.

5
Dalam tataran praksis, pendidikan merupakan interaksi
manusia pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan
pendidikan. Interaksi pendidik dan terdidik dalam pencapaian
tujuan, bagimana isi, dan proses pendidikan memerlukan fondasi
filosofis, agar interaksi melahirkan pengertian yang bijak dan
perbuatan yang bijak pula. Untuk mengerti kebijakan dan
berbuat secara bijak, ia harus tahu dan berpengetahuan yang
diperoleh melalui cara berfikir sistematis, logis dan mendalam,
secara radikal, hingga keakar-akarnya. Upaya menggambarkan
dan menyatakan suatu pemikiran yang sistematis dan
komprehensif tentang suatu fenomena alam dan manusia
disebut berfikir secara filosofis. Filsafat mencakup suatu
kesatuan pemikiran manusia yang menyeluruh.
Pendekatan Ilmu dengan filsafat memang berbeda. Ilmu
menggunakan pendekatan analitik, induktif dan deduktif,
mengurai bagian-bagian hingga bagian yang terkecil atau
sebaliknya menysun hal-hal yang kecil menjadi satu kesatuan
utuh. Filsafat mengintegrasikan bagian-bagian hingga menjadi
satu kesatuan yang menyeluruh dan bermakna. Ilmu berkaitan
dengan fakta-fakta sebagaimana adanya, secara objektif dan
menghindari subjektifitas. Filsafat melihat sesuatu secara apa
adanya, apa yang sudah seharusnya (das sollen), dan faktor
subjektif sangat berpengaruh. Namun demikian, filsafat dan ilmu
memiliki hubungan secara komplenter; saling melengkapi dan
mengisi. Filsafat memberikan landasan bagi ilmu, baik pada
aspek ontologi, epistimologi, maupun aksiologinya.
Dalam konteks pendidikan, filsafat pendidikan merupakan
refleksi pemikiran filosofis untuk mengatasi permasalahan
pendidikan. Filsafat memberi arah dan metodologi terhadap
praktik pendidikan, sebaliknya praktik pendidikan memberikan
bahan-bahan bagi pertimbangan-pertimbangan filosofis. Menurut
Butler (1957:12) dalam M. Ihsan Dacholfany dan Ayi Sofyan,
2009), hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan sebagai
berikut: 1) filsafat merupakan basik bagi filsafat pendidikan, 2)
filsafat merupakan bunga bukan batang bagi pendidikan, 3)
filsafat pendidikan merupakan disiplin tersendiri yang memiliki
hubungan erat dengan filsafat umum, meski bukan essensinya,
4) fisafat dan teori pendidikan adalah satu. Pernyataan seperti ini
menunjukkan bahwa pada dasarnya filsafat pendidikan identik
dengan teori pendidikan.
Sementara itu, bidang inti pendidikan adalah wilayah
instruksional seperti dikatakan oleh Mortensen dan Schmuller
(1964) sebagaimana tergambar sebagai berikut:

6
Jelas sekali bahwa bidang utama pendidikan adalah aspek
kurikuler, kurikulum, termasuk pendidikan khusus vikasional, dan
pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas. Sementara
bidang lain seperti bidang bimbingan dan jenis pelayanan
pendidikan lain, dan bidang administrasi dan manajemen,
termasuk bidang-bidang pendukung peleksanaan manajemen
pendidikan.

A. Fakta di balik realita Pembelajaran berkarakter


behavioristik: Seputar warna behaviorisme dalam
praksis pendidikan
Berikut disajikan beberapa fakta di balik realita pendidikan
di Indonesia, terutama yang terkait dengan karakter positivistik,
behavioristik, dan sekularistik (diambil dari berbagai sumber,
terutama internet):
1) Berdasarkan hasil survei Political and Economic Risk
Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong pada tahun
2001 saja menyebutkan bahwa sistem pendidikan di
Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara
yang disurvei, Korea Selatan dinilai memiliki sistem
pendidikan terbaik, disusul Singapura, Jepang dan Taiwan,
India, Cina, serta Malaysia. Indonesia menduduki urutan ke-
12, setingkat di bawah Vietnam (www.kompas.com, diakses
tanggal 20 Juli 2009).
2) Laporan United Nations Development Program (UNDP) tahun
2004 dan 2005, menyatakan bahwa Indeks pembangunan
manusia di Indonesia ternyata tetap buruk. Tahun 2004
Indonesia menempati urutan ke-111 dari 175 negara. Tahun
2005 IPM Indonesia berada pada urutan ke 110 dari 177
negara. Posisi tersebut tidak jauh berbeda dari tahun
sebelumnya. Berdasarkan IPM 2004, Indonesia menempati
posisi di bawah negara-negara miskin seperti Kirgistan
(110), Equatorial Guinea (109) dan Algeria (108). Bahkan jika
dibandingkan dengan IPM negara-negara di ASEAN seperti
Singapura (25), Brunei Darussalam (33) Malaysia ( 58),
Thailand (76), sedangkan Filipina (83). Indonesia hanya satu
tingkat di atas Vietnam (112) dan lebih baik dari Kamboja
(130), Myanmar (132) dan Laos (135) (www.suara
pembaruan.com/ 16 juli 2004 dan Pan Mohamad Faiz. 2006,
diakses tanggal 19 Juli 2009).
3) Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan jumlah
pengguna narkoba di lingkungan pelajar SD, SMP, dan SMA
pada tahun 2006 mencapai 15.662 anak. Rinciannya, untuk

7
tingkat SD sebanyak 1.793 anak, SMP sebanyak 3.543 anak,
dan SMA sebanyak 10.326 anak. Dari data tersebut, yang
paling mencengangkan adalah peningkatan jumlah pelajar
SD pengguna narkoba. Pada tahun 2003, jumlahnya baru
mencapai 949 anak, namun tiga tahun kemudian atau tahun
2006, jumlah itu meningkat tajam menjadi 1.793 anak
(www.pikiran- rakyat.com, diakses tanggal 19 Juli 2009).
Selain itu, kalangan pelajar juga rentan tertular penyebaran
penyakit HIV/AIDS. Misalnya di kota Madiun-Jatim, dari data
terakhir yang dilansir Yayasan Bambu Nusantara Cabang
Madiun, organisasi yang konsen masalah HIV/AIDS,
menyebutkan kasus Infeksi Seksual Menular (IMS) yang
beresiko tertular HIV/AIDS menurut kategori pendidikan
sampai akhir Oktober 2007 didominasi pelajar SMA/SMK
sebanyak 51 %, pelajar SMP sebesar 26%, mahasiswa
sebesar 12% dan SD/MI sebesar 11% (news.okezone. com,
diakses tanggal 19 Juli 2009).
4) Dalam hal tawuran, di kota-kota besar seperti Jakarta,
Surabaya, dan Medan, tingkat tawuran antar pelajar sudah
mencapai ambang yang cukup memprihatinkan. Data di
Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992
tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994
meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10
pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban
meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun
1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2
anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat
dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun
jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat.
Bahkan sering tercatat, dalam satu hari di Jakarta terdapat
sampai tiga kasus perkelahian di tiga tempat sekaligus
(www.smu-net. Com, diakses tanggal 19 Juli 2009).
5) Kebijakan UN yang banyak ditentang oleh masyarakat
karena dinilai diskriminatif dan hanya menghamburkan
anggaran pendidikan, antara lain ditentang oleh Koalisi
Pendidikan yang terdiri dari Lembaga Advokasi Pendidikan
(LAP), National Education Watch (NEW), Yayasan Lembaga
Konsumen Indonesia (YLKI), The Center for the Betterment
Indonesia (CBE), Kelompok Kajian Studi Kultural (KKSK),
Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Forum Guru
Honorer Indonesia (FGHI), Forum Aksi Guru Bandung (FAGI-
Bandung) , For-Kom Guru Kota Tanggerang (FKGKT),
Lembaga Bantuan Hukum (LBH-Jakarta) , Jakarta Teachers
and Education Club (JTEC), dan Indonesia Corruption Watch
(ICW), berdasarkan kajian terhadap UU No 20 Tahun 2003
8
tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Kepmendiknas No.
153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional, Koalisi Pendidikan
menemukan beberapa kesenjangan (www.tokohindonesia.
Com, diakses tanggal 20 Juli 2009).
6) Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990
menunjukan angka pengangguran terbuka yang dihadapi
oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar
27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang
sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk
masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan
15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas 1999, setiap
tahunnya sekitar 3 juta anak putus sekolah dan tidak
memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan
masalah ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian
antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini
disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional
terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik
memasuki dunia kerja. Pada tahun 2009 diperkirakan ada
116,5 juta orang yang akan mencari kerja
(www.kompas.com, diakses tanggal 20 Juli 2009).
7) Realita Pendidikan Indonesia, Satu Guru Layani Enam Kelas.
Ini terjadi pada kondisi pendidikan di wilayah terjauh
Kabupaten Pangkep, Kecamatan Kepulauan Liukang
Tangaya masih memiriskan di saat usia Pangkep kini
memasuki 50 tahun. Jangankan fasilitas sekolah, jumlah
tenaga pengajar saja tidak sebanding dengan jumlah siswa
yang ada. Berita - Lokal / www.fajar.co.id / (diakses tanggal
14 Juli 2009).
8) Saat ini di berbagai kota sudah mulai dikembangkan yang
namanya e-learning yaitu sistem pendidikan yang
menggunakan media internet dan elektronik untuk
mendukung sistem pengajaran tersebut. Sudah banyak juga
universitas ternama di indonesia yang mengembangkan e-
learning, bahkan para ahli di dunia luar negeri memprediksi
pada tahun 2020 seluruh dunia akan menggunakan
elearning sebagai sistem kurikulum pendidikannya.pasti
keren kan kalo tiap universitas, sma, smk, smp bahkan sd
udah mahir menggunakan internet maupun alat elektrronik
lainnya untuk melakukan kegiatan proses belajar mengajar.
(www.wordpress.com. Diakses 13 Juli 2009).
9) Trenyuh (Sedih sekali dalam bahasa jawa)….sebuah
ungkapan yang tepat untuk menggambarkan betapa
sedihnya fenomena pendidikan diindonesia saat minggu lalu
beberapa anak sekolah dasar dimalang jawa timur
mempertahankan kursi dan meja kayu miliknya saat diambil
9
paksa oleh para perajin yang protes kepada pemda
setempat karena meja kursi produksinya tidak dibayar2 oleh
pemda setempat. Kabar terakhir dari berita ini bahwa
akhirnya pemerintah kabupaten setempat tersebut tidak
mau membayar kewajibannya kepada perajin dan
mempersilahkan para perajin kayu untuk mengambil meja
kursi yang sudah terlanjur masuk kesekolah. Pemkab
beralasan pesanan dari para perajin tidak sesuai dengan
yang dikehendaki dalam perjanjian. lagi lagi....kepentingan
pendidikan anak bangsa harus terenggut atasnama birokrasi
dan kekuasaan semata. (agusigit, 30 Maret 2009).
10) TIK dalam pendidikan: antara teori dan realitas: Semenjak
globalisasi telah masuk ke Indonesia, semenjak itu pula
segalanya mulai berubah. Tak terkecuali dunia pendidikan.
Pengaruh teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK)
memberi banyak manfaat. Dimulai pemanfaatan satelit
palapa, program ACI, radio pendidikan, hingga SBJJ seperti
Universitas Terbuka. Tambah lagi kebijakan Renstra untuk
tahun 2009 yang berbasis penguasaan TIK dan
pemanfaatannya pada institusi pendidikan di Indonesia
dalam membentuk masyarakat belajar…Sungguh kereen
pikirku pada awalnya. Terlintas sedikit mimpi-mimpi akan
Pendidikan Indonesia yang lebih mudah dengan adanya
TIK?. Namun saat kemaren bertemu dengan seorang teman
yang juga alumni TP yang menjadi guru TIK, aku hanya
terdiam. Bagaimana tidak?nyaris seharian aku melihat ia
menginput data nilai siswa di komputer tuk di upload di
internet ke depdiknas. Meski terlihat keren (dah ada data
base online nih ceritanya DEPDIKNAS), tapi kok..saat melihat
struktur, dan isinya… speechless deh. Cape deeh.. RPP
(Rancangan Pengelolaan Pengajaran ) diiinput sendiri, trus
nilai tiap siswa, tiap pokok bahasan, diisi sendiri, harus
online pula. Coba bayangkan tiap anak misalnya belajar
mata pelajaran Biologi. Mata pelajaran itu terdiri dari 10
pokok bahasan, lalu satu kelas 30 siswa. Then 1 angkatan
terdiri dari 5 kelas. Itung deh sendiri, sebanyak apa data
nilai yang harus dimasukkan?..tambah lagi parahnya lagi..
tiap pokok bahasan yang tersusun RPPnya itu, ama program
database itu nggak tersusun secara alphabet ataupun
berurutan secara nomor… Walah-walah… Kok kesannya
guru jadi korban teknologi lagi.. Ckckck… Sangking batnya
tuh temen…, asyik aja dia masukin nilai dengan alasan..
‘Jangan mau dibodohi ama sistem, kalau sistem bisa
membuat kita kewalahan, kita juga bisa sebaliknya.’ Nggak
cuma itu..coba kalo guru yang menginput tuh data masih
10
‘gaptek’? temenku itu aja yang bisa dikatakan melek
teknologi udah kewalahan.. apalagi mereka. Aku jadi mikir..
pimpro ini, mikir jauh ke depan nggak sih? Visionerkah
dirinya?Atau berlindung pada kilahan politis proyek
percobaan? Ironis memang… mo nyalahin tuh temen?tuh
sistem?tuh komputer?ato apa?… Hmm… klise memang kalo
dibilang nggak ada dana?yah nggak juga… dibilang cuma
proyek kerjaan.. yah nggak juga sih… ato banyaknya
potongan di jalan berakibat cuma bisa buat database kayak
gitu.. yah terserah para pembaca menilai sih. Namun akan
lebih baik, jika para temen-teman mahasiswa teknologi
pendidikan mengkritisi hal-hal semacam ini, ataupun hal-hal
lain diluar ini..yang berkaitan dengan masalah belajar dan
kinerja..dengan mengirim tulisan ke media. Seperti teori
yang telah didapat di mata kuliah Inovasi dan difusi
pendidikan…tau kan bedanya inovasi n perubahan? Kalo
nggak kita yang mengkritisi..siapa lagi?jangan maen tunggu-
tungguan ah…mumpung jadi mahasiswa, jadi kontrol sosial
euy… (Maydina, November 27th, 2007. Copyright © 2007
TPers.NET - Powered by Wordpress.com. Diakses tanggal 10
Juli 2009).

Data di atas merupakan beberapa indikator yang


menunjukan betapa sistem pendidikan nasional kita saat ini
tengah didera oleh berbagai masalah, yang pada akhirnya
penyelenggaraan pendidikan tidak dapat memberikan
penyelesaian terhadap permasalahan pembentukan karakter
insan yang berakhlak mulia, pembentukan keterampilan hidup,
penguasaan IPTEK untuk peningkatan kualitas dan taraf hidup
masyarakat, serta memecahkan berbagai masalah kehidupan
lainnya.

A. Pembahasan: Perspektif Implementatif teori-teori


belajar behavioristik
Teori belajar SR:
Teori ini memandang manusia sebagai produk lingkungan.
Artinya, segala perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh
kejadian-kejadian di dalam lingkungan sekitarnya. Di mana
lingkungan tempat manusia tinggal, di sanalah seluruh
kepribadiannya akan terbentuk. Lingkungan yang baik akan
membentuk manusia menjadi baik. Juga sebaliknya, lingkungan
yang jelek akan menghasilkan manusia-manusia yang bermental
jelek sesuai dengan kondisi lingkungan tadi.

11
Apakah ini berarti bahwa lingkungan masyarakat yang
gemar berjudi akan menghasilkan generasi-generasi yang suka
judi, atau dalam tingkat yang lain menghasilkan manipulator dan
spekulator ulung? Kita lihat nani.
Behaviorisme tidak bermaksud mempermasalahkan
norma-norma pada manusia, apakah baik atau tidak baik,
emosional, rasional, atau irasional seperti pada teori belajar
lainnya, misalnya kognitif dan humanistik. Ia hanya
mengungkapkan bahwa perilaku manusia itu banyak dipengaruhi
oleh lingkungan. Segala perilaku yang tampak dari luar, dan
tentu bisa diamati, itulah yang menjadi titik berat
penguraiannya. Belajar selanjutnya dikatakan sebagai proses
perubahan perilaku berdasarkan paradigma S-R (stimulus-
respons), yaitu suatu proses pemberian respons tertentu kepada
stimulus yang datang dari luar.
Proses belajar dengan rumus S-R bisa berjalan dengan
syarat adanya unsur-unsur seperti dorongan (drive) rangsangan
(stimulus), respons, dan penguatan (reinfoccement). Unsur yang
pertama, dorongan, adalah suatu keinginan dalam diri seseorang
untuk memenuhi suatu kebutuhan yang sedang dirasakannya.
Seorang anak merasakan adanya kebutuhan akan bahan bacaan
ringan untuk mengisi waktu senggangnya, maka ia terdorong
untuk memenuhi kebutuhan itu, misalnya dengan mencarinya di
perpustakaan terdekat. Unsur dorongan ini ada pada setiap
orang meskipun tingkatannya tidak sama: ada yang kuat,
adapula yang lemah . Unsur yang kedua ialah adanya
rangsangan (stimulus). Kalau dorongan datangnya dari dalam,
maka rangsangan datang dari luar. Bau masakan yang lezat bisa
merangsang timbulnya selera makan yang tinggi, bahkan yang
tadinya tidak terlalu lapar pun bisa menjadi lapar ingin segera
mencicipinya. Wanita cantik dengan pakaian yang ketat juga bisa
merangsang gairah seksual setiap lelaki dewasa (yang normal) .
Oleh karena itu, dalam islam wanita tidak diperbolehkan
berpakaian yang merangsang, dan bahkan harus menutup
seluruh auratnya (Qur’an:24:31). Hal ini untuk menjaga
“keamanan”, menjaga nafsu yang sering tidak terkendali
sebagaimana sering kita dengar adanya tindakan perkosaan
brutal yang tidak berprikemanusiaan.
Dalam sistem pembelajaran, rangsangan ini bisa terjadi
(bahkan bisa diupayakan) pada pihak sasaran untuk bereaksi
sesuai dengan keinginan komunikator, guru maupun instruktur.
Dalam suatu kuliah siang hari, pada saat para mahasiswa banyak
yang mengantuk dan kurang bergairah, sang dosen bisa
merangsangnya dengan berbagai cara, dan yang sering
dilakukan adalah antara lain dengan mengajukan berbagai
12
pertanyaan yang selektif dan menarik, bercerita ringan atau
humor.
Dari adanya rangsangan tersebut kemudian timbul reaksi,
dan memang orang bisa timbul reaksinya atas suatu rangsangan.
Bentuk reaksi berbeda-beda tergantung pada sittuasi, kondisi
dan bahkan bentuk dan kuatnya rangsangan tadi. Reaksi-reaksi
yang terjadi pada seseorang akibat adanya rangsangan dari
lingkungan sekitarnya inilah yang disebut dengan respons dalam
teori belajar. Respons ini bisa dilihat atau diamati dari luar.
Respons ada yang positif dan ada pula yang negatif. Yang
pertama terjadi sebagai akibat “ketepatan” seseorang
melakukan respons (mereaksi) terhadap stimulus yang ada, dan
tentunya yang sesuai dengan yang diharapkan. Sedangkan
respons negatif adalah apabila seseorang bereaksi justru
sebaliknya dari yang diharapkan oleh pemberi rangsangan.
Unsur yang keempat ialah masalah penguatan
(reinforcement). Unsur ini datangnya dari pihak luar kepada
seseorang yang sedang melakukan respons. Apabila respons
telah benar, maka perlu diberi penguatan agar orang tersebut
merasa adanya kebutuhan untuk melakukan respons seperti tadi
lagi. Seorang anak kecil yang sedang mencoret-coret buku
kepunyaan kakaknya, tiba-tiba dibentak dengan kasar, bisa
terkejut bahkan bisa menderita guncangan sehingga ia tidak
akan mencoret-coret buku lagi. Bahkan kemungkinan yang
paling jelek di kemudian hari barangkali ia akan benci terhadap
setiap yang namanya tulis menulis. Itu penguatan yang salah.
Barangkali akan lebih baik apabila cara melarangnya dengan
kata-kata yang tidak membentak, misalnya: “bisa nggak kalau
menggambarnya di sini?“ (sambil menunjukan kertas kosong). Si
anak merasa tidak dilarang menulis, dan itu namanya anak diberi
penguatan positif sehingga ia merasa perlu untuk melakukan
coretan seperti tadi di tempat lain. Setiap kali seorang siswa
mendapat nilai A pada mata pelajaran matematika, ia mendapat
pujian dari guru; maka selanjutnya ia akan berusaha
mempertahankan prestasinya itu. Dengan kata lain, ia
melaksanakan semuanya itu karena dipuji (diberi penguatan)
oleh guru.
Proses belajar terjadi secara terus menerus apabila
stimulus dan respons ini berjalan dengan lancar. Ia berproses
secara rutin dan tampak seperti otomatis tanpa membicarakan
hal-hal yang terjadi selama berlangsungnya proses tadi. Di sini
tidak dibicarakan bahwa yang namanya belajar banyak
melibatkan unsur pikiran, ingatan, kemauan, motivasi, dan lain-
lain. Rumus belajar model teori ini bisa digambarkan sebagai
berikut:
13
Soneks
kHubungan
R
ilangsung

Karena proses belajar ini didasarkan atas hubungan


langsung (koneksi) antara S (stimulus) dan R (respons), maka
teori ini juga disebut belajar koneksionisme. Thorndike
merupakan orang yang pertama kali menerangkan hubungan S-R
ini (Soekamto, 1986)
Beberapa contoh lanjut tentang teori belajar aliran
behaviorisme ini ialah apa yang dikenal dengan teori pembiasan
operant (operant conditioning) dari Skinner. Kedua teori ini masih
dalam rangka proses belajar dengan rumus S-R. Pembiasan
klasik (classical conditioning) dari Pavlov, lengkapnya Ivan Ivan
Petrovich Pavlov (1849-1936), seorang ilmuwan dari Rusia,
didasarkan atas reaksi tak terkontrol dalam individu setelah
menerima rangsangan dari luar. Perhatikan gambar berikut:
Respons tanpa
Stimulus
kondisi (UR)
(US)

Proses S-R ini berlangsung secara mekanis, dan bahkan


terkadang seseorang tidak harus dalam keadaan belajar.
Pengubahan respons tanpa kondisi (UR) menjadi respons
berkondisi (CR) bisa ditempuh dengan cara menambahkan
14
kondisi tertentu pada stimulus (CS). Dengan demikian apabila hal
ini dikerjaka secara berulang-ulang, pada suatu saat seseorang
bisa belajar dengan cara memberikan respons tertentu yang
diharapkan (CR). Rumus perubahan tersebut bisa digambarkan
sebagai berikut:
US
UR
Gambar:
CR Model teori pembiasaan
US+CS
UR
klasik
US+CS
UR+C
US+CS
R
CR CS
CR

Teori pembiasan klasik ini pada asalnya merupakan suatu


percobaan yang dilakukan pada seekor anjing yang sedang
15
lapar. Setiap kali diberi makan, bel dibunyikan, keluar air liur.
Demikian seterusnya hal ini dikerjakan secara berulang-ulang
sehingga pada kali tertentu, tanpa pemberian makanan pun,
apabila bel dibunyikan, anjing tadi mengeluarkan air liur (Bigge,
1982: 52).
Pembiasan klasik ini dapat menjelaskan pola kebiasaan
pada peristiwa sehari-hari. Bila setiap kali seorang anak kecil
bermain dengan buku, orang tua memujinya bahwa hal itu baik
sekali dilakukan, maka kelak anak akan menyenangi buku. Bila
prestasi kita diakui orang lain, kita akan berusaha
mempertahankan prestasi tersebut dengan sungguh-sungguh.
Namun, bisa jadi seseorang yang sering ditimpa kemalangan
malah dijauhi orang (karena takut ketularan), misalnya. Gambar
skematis tentang teori pembiasaan klasik di atas, secara visual
bisa juga digambarkan dalam bentuk sebagai berikut:

Gambar: Eksperimen Ivan Pavlov

Dalam waktu yang lama, respons berkondisi (CR) ini


terkadang bisa tersembunyi, bahkan hilang, terutama apabila
stimulus berkondisi (CS) diberikan bersama stimulus lain yang
tidak menyenangkan. Meskipun dalil Pyttagoras telah hafal diluar
kepala, karena situasi pada saat mengerjakannya berbarengan
dengan masa menerima raport yang ternyata nilainya banyak
angka merahnya (lima ke bawah), maka kemungkinan besar
anak tersebut gagal menyelesaikan soal yang menggunakan dalil
tadi. Meskipun demikian, respons berkondisi (CR) ini bisa
ditimbulkan kembali dengan cara memberikan stimulus yang
menyenangkan. Tiba-tiba seorang guru mengumumkan bahwa
angka raport tadi ternyata pengisiannya salah, dan yang benar
16
adalah angkanya bagus-bagus. Maka anak yang bersangkutan
bisa cerah kembali, bahkan lebih senang dari pada sebelum
menerima raport.
Pembiasan klasik ini beranggapan bahwa anak yang
sedang belajar itu pasif, maka respons yang harus dikontrol dari
luar. Stimulus apa dan kapan diberikannya, pihak luarlah yang
menentukan. Individu tadi hanya berperilaku sesuai dengan
stimulus yang diberikan. Oleh karena itu, dalam hal ini disebut
perilaku responsden (responsdent behavior). Stimuluslah yang
menyebabkan perilaku seseorang, bahkan pada teori ini
penguatan mempunyai hubungan langsung dengan stimulus
tadi.

Operant conditioning:
Berbeda dengan teori pembiasan klasik dari Pavlov di atas,
Skinner, seorang behavioris yang lain, menjelaskan bahwa justru
pihak luarlah yang harus menanti adanya respons yang
diinginkan. Jika respons timbul secara benar, maka diberi
penguatan. Guru atau para komunikator pendidikan lainnya
dianggap sebagai seorang arsitek dan pembangun perilaku
murid-muridnya (Bigge, 1982: 110). Oleh karenaitu, tugasnya
harus mengkondisikan dan merancang suasana sehingga
masing-masing murid (sasaran) berperilaku responsif terus
menerus sesuai dengan yang diharapkan. Individu berperilaku
secara aktif dan beroperasi secara tersu-menerus agar
memperoleh penguatan. Maka di sini dibicarakan perilaku
operant (operant behavior). Operant itu sendiri merupakan satu
perangkat tindakan yang mengakibatkan suatu organisasi hidup
melakukan sesuatu, misalnya mengangkat kepala atau
mendorong pengungkit. Perilaku-perilaku tersebut dilakukannya
terhadap lingkungannya sehingga menimbulkan konsekuensi-
konsekuensi tertentu, penguatan misalnya. Bahkan Skinner
selanjutnya mengatakan bahwa hampir seluruh perilaku manusia
merupakan produk dari penguatan operant, dan teorinya
dinamakan operant conditioning (pembiasan operant).
Penguatan diberikan karena adanya respons sehingga hal ini
menyebabkan respons cenderung dilakukan berulang-ulang.
Menurut Skinner, belajar masih dalam hubungan S-R,
namun ia lebih memandang bahwa individu yang belajarlah yang
akif, bukan sebaliknya seperti menurut Pavlov. Teori Skinner
didasarkan atas percobaan-percobaan dengan menggunakan
burung merpati, sedangkan Pavlov menggunakan tikus putih
(Rakhmat, 1985:25-32). Kenapa bisa sedikit berbeda pandangan,
apakah burung merpati lebih agresif atau aktif dari pada tikus?

17
Kita tidak akan membahasnya karena, di samping kurang
penting, kami pu tidak mengetahuinya.
Meskipun demikian, Skinner dalam percobaan-
percobaannya menghasilkan beberapa kesimpulan yang ada
hubungannya dengan proses belajar, yang antara lain (Bigge,
1982) adalah sebagai berikut:
1) Proses belajar manusia supaya efektif harus dikontrol
dengan menggunakan instrumen-insrumen penguatan.
2) Pentingnya pengajaran (pembelajaran) terprogram ialah
dalam arti bahwa setiap langkah dalam proses belajar perlu
dibuat pendek-pendek serta didasarkan atas perilaku yang
telah pernah dipelajari sebelumnya.
3) Pada awal belajar perlu ada imbalan dan perlu juga ada
pengontrolan, hati-hati terhadap penguatan-penguatan, baik
yang bersifat rutin maupun yang sebentar-sebentar. Di
samping hal ini berfungsi juga sebagai umpan balik, yang
penting ialah bahwa motivasi seseorang akan meningkat
manakala ia mengetahui kemajuan yang telah dicapainya.
4) Dan yang terakhir ialah bahwa individu yang belajar perlu
diberi kesempatan untuk mengadakan diskriminasi terhadap
stimulus yang diterimanya agar ia dapat memperbesar
kemungkinan berhasilnya.

Beberapa masalah muncul sehubungan dengan adanya


konsep belajar dengan pembiasan, baik dari Pavlov maupun
skinner. Mereka tidak bisa menjelaskan hasil-hasil belajar yang
bukan dari faktor pembiasan. Misalnya seorang anak kecil sudah
mampu mengatakan nama-nama yang belum pernah
“dibiasakan” oleh orang tuanya. Lalu ia belajar dari mana? Dari
hasil meniru orang lain yang pernah dijumpainya, kata Bandura.
Belajar sosial adalah teorinya yang terkenal.
Di samping faktor ganjaran dan hukuman sebagai penentu
tindakan, perilaku manusia ditentukan pula oleh penguatan.
Belajar selanjutanya, menurut Bandura, dikatakan sebagai
proses internal hasil perilaku langsung dengan orang lain atau
lingkungannya (Bigge, 1982). Konsekuensinya, seorang guru
tidak begitu saja memaksakan kehendaknya walaupun disertai
hukuman dan ganjaran, tetapi faktor teladanlah yang bakal ditiru
oleh murid-muridnya. Perilaku guru, baik yang jelek maupun
yang sewajarnya, banyak ditiru murid-muridnya. Oleh karena itu
kalau sudah bersedia “teken konntrak” menjadi guru,
kelakuannya tidak boleh “aneh-aneh” sehingga murid-muridnya
menirunya. Kata pepatah, guru kencing berdiri, murid kencing
berlari. Sekali guru berlaku kurang wajar, dua kali hal yang sama
akan ditiru oleh murid-muridnya. Barangkali konsep ing ngarso
18
sung tulodo dari Ki Hajar Dewanntara patut dijadikan pedoman
para guru dalam berperilaku. Teori belajar dari Bandura ini di
bagian yang akan datang dibahas lagi.
Selama ini kita telah membicarakan masalah teori belajar,
terutama teori behaviorisme, baik dari konsep Pavlov maupun
dari konsep Skinner, dan terakhir konsep Bandura. Lalu
bagaimana tempatnya dalam sistem pembelajaran? Bahkan
sebagai komunikator pendidikan, guru atau dosen, mahasiswa
komunikasi, mahasiswa pendidikan, ataupun praktisi komunikasi
lainnya yang bertugas di lapangan perlu menerapkan prinsip-
prinsip teori belajar ini sehingga sasaran-sasaran yang dituju bisa
menerima informasi yang disampaikan oleh mereka. Menurut
Hartley dan Davis yang dikutif oleh Soekamto (1986), teori
belajar aliran behaviorisme yang banyak dipakai di lapangan
adalah sebagai berikut:
a) Proses belajar dapat terjadi dengan baik apabila pihak
sasaran ikut terlibat di dalamnya.
b) Materi pelajaran diberikan dalam bentuk unit-unit kecil
diatur sehingga sasaran hanya perlu memberikan respons
tertentu.
c) Tiap-tiap respons perlu diberi umpan balik secara langsung
sehingga sasaran dapat dengan segera mengetahui apakah
respons yang diberikan itu benar atau tidak.
d) Perlu diberi penguatan setiap kali sasaran memberikan
respons, terutama penguatan positif, sehingga ia
berkeinginan untuk mengulangi kembali respons yang telah
diberikannya.
Terhadap keempat butir di atas kita menambahkan satu lagi,
yaitu:
e) Pelajaran tidak hanya diberikan kepada murid-murid secara
materi, tetapi perlu disertai dengan contoh-contoh
bagaimana seorang guru berperilaku sewajarnya dalam
memberi teladan bagi murid-muridnya, khususnya
pelajaran-pelajaran yang menyangkut bidang sosial, etika,
dan moral. Hal ini akan lebih baik semua perilakunya
sebagian besar akan dianggap sebagai panutan atau tiruan
oleh murid-muridnya.

Komunikasi dua arah antara dosen dan mahasiswa, antara


guru dan muridnya, dan antara komunikator dan komunikannya
tampaknya lebih berhasil daripada hanya bersifat searah yang
datangnya dari dosen saja, guru saja, atau penggagas saja.
Metode ceramah tidak akan efektif apabila ditambah dengan
tanya jawab atau diskusi, misalnya. Di samping itu, materi
pelajaran sebaiknya diberikan dalam takaran yang tidak terlalu
19
kompleks sehingga respons yang diberikan bisa menjadi lebih
jelas. Dan setiap kali sasaran memberikan respons, perlu diberi
penguatan agar pihak sasaran dengan segera mengetahui benar
tidaknya respons tadi untuk selanjutnya, apabila mendapat
penguatan positif, sasaran akan segera mengulanginya.
Demikian seterusnya sehingga proses belajar pun terjadi
meskipun tampaknya seperti belajar mekanis otomatis yang
bersifat rutin. Setiap kali seorang anak berprestasi, maka Insya
Allah dia akan berusaha meningkatkan prestasinya itu. Meskipun
begitu, bukan berarti bahwa untuk meningkatkan prestasi olah
raga di negeri ini hanya dengan pujian dan hadiah yang besar-
besar kepada para atlit dan para pengurusnya.
Pendidik yang menggunakan kerangka behavioris biasanya
merencanakan suatu kurikulum dengan menyusun materi
pengetahuan tertentu. Lalu, bagian-bagian ini disusun secara
hierarki, dari yang sederhana sampai ke yang kompleks. Oleh
karena itu, pada kurikulum 1994 dikenal Buku II yaitu GBPP
(Garis-Garis Besar Program Pengajaran yang berisi materi
pelajaran).
Siswa dipandang sebagai sosok yang pasif, butuh motivasi
dari luar, dan dipengaruhi oleh reinforcement (Skinner dalam
Fosnot, 1996). Karena itu, para pendidik mengembangkan suatu
kurikulum yang terstruktur, dan menentukan bagaimana siswa
harus dimotivasi, dirangsang, dan dievaluasi. Kemajuan belajar
siswa diukur dengan hasil yang dapat diamati, dalam bentuk
tingkah laku yang dapat diamati, diukur dan operasional
(observable, measureable, dan operasional). Pola ini digunakan
sebagai landasan bagi pengembangan tujuan pembelajaran,
yaitu TIK sebagai bagian intergal dari TIU.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori
belajar behavioristik adalah ciri-ciri yang mendasarinya, yaitu:
○ Mementingkan pengaruh lingkungan
○ Mementingkan bagian-bagian
○ Mementingkan peranan reaksi
○ Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar
melalui prosedur stimulus respon.
○ Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk
sebelumnya
○ Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan
dan pengulangan
○ Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang
diingkan.

20
Sebagai konsekuensi dari implementasi teori berkarakter
behavioristik, para guru yang menggunakan paradigma
behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk
yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus
dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak
banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti
contoh-contoh yang dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana
sampai pada yang kompleks.

Teori belajar sosial dari A. Bandura


Di muka sudah dijelaskan secara sepintas tentang teori
belajar sosial dari Albert Bandua . Di sini kita akan
membahasnya secara perspektif komunikasi dan pembelajaran.
Kita semua menyadari bahwa cara bepakaian, cara
berbicara, cara mengerjakan pekerjaan rumah, cara berdiskusi,
cara menyampaikan materi dalam ceramah, seminar, atau
simposium, tingkah laku kita dalam keluarga, dalam masyarakat,
cara berbicara dengan orang tua, cara bergaul dengan sejawat,
dsb. yang kita lakukan selama ini adalah hasil ‘meniru’ orang lain
yang lebih dahulu melakukannya? Beruntung Anda dan penulis
juga sudah dididik oleh orang tua yang bertanggung jawab, yang
dengan sabar dan ikhlas membesarkan kita hingga dewasa, bisa
sekolah sampai perguruan tinggi. Kita pun sangat berteima kasih
atas keberhasilan orang tua kita hingga kapanpun, bahkan doa
kita sebagai anak soleh (mudah-mudahan) terhadapnya akan
berbuah kebaikan dan kelapangan abadi bagi kduanya di akherat
nanti.
Orang tua kita sudah berhasil mendewasakan kita hingga
seperti sekarang ini. Apapun pekerjaan dan jabatan kita saat ini
sebagian besar adalah hasil didikan mereka, sebeb lingkungan
yang paling dominan dalam pembentukan karakter kita adalah
lingkungan terdekat kita, keluarga. Bayangkan jika lingkungan
keluarga kita termasuk lingkungan yang tidak beres, misalnya
lingkungan penjudi, lingkungan kriminal, koruptor, maling, dan
lain-lain., akankah kita bisa seperti sekarang ini? Jawabnya tegas:
tidak. Memang kita juga bergaul dengan lingkungan luar kita
seperti lingkungan kelompok anak-anak di waktu kecil dan
remaja. Di masa itu kita sering atau setidaknya pernah
melakukan hal-hal yang memang sering dilakukan kelompok
remaja ini, misalnya terlibat perkelahian dengan teman yang
bukan kelompok kita, di sekolah juga terkadang bersitegang
dengan teman bukan se-gang-nya.
Dengan melalui saringan kehidupan seperti itu, tapi toh
kita alhamdulillah bisa melewatinya dengan relatif selamat
21
sampai sekarang, selamat dari keterlanjuran menjadi anak nakal
sewaktu remaja, selamat karena masih berpikir sehat untuk tidak
terlalu jauh larut dalam pergaulan remaja yang kadang
keterlaluan. Itu semua sebenarnya adalah karena kita masih
memiliki akal sehat untuk kembali ke didikan orang tua, masih
tidak mengabaikan didikan dan contoh teladan orang tua. Di
masa remaja saat itu, masa-masa untuk tergelincir ke jalan yang
salah, mudah sekali jika kita mengikuti kelompok remaja yang
tidak beres perilakunya. Jangan dikira jaman kita jadi remaja dulu
belum ada narkoba di sekolah. Ada beberapa teman kita yang
“teler” masuk kelas kok, dan orang itu kini gak tahu rimbanya,
mudah-mudahan sudah insyaf.
Itu semua hanyalah seurai ingatan penulis ketia masih
remaja dan kini terngiang kembali dan dituangkan dalam cataan
kecil ini. Tujuannya tidak ada lain adalah untuk saling berbagi
kesan, pengalaman, dan pemahaman akan hakekat belajar yang
sama-sama kita alami dari kecil hingga sekarang. Proses
perubahan sepanjang waktu yang kita alami hinga saat ini akibat
dari hasil menyaring hal-hal yang menurut kita baik dari
lingkungan apapun yang pernah kita jalani sepanjang hidup kita
ini, sudah menghasilkan hasil belajar. Artinya hasil belajar kita
adalah hasil meniru, menldani, menyaring perilaku dari teman
dan lingkungan kita yang menurut kita lebih baik dan bisa
menguntungkan kita dalam segala hal.
Proses-proses perubahan perilaku seperti diuraikan di atas,
pada dasarnya adalah proses belajar yang sama dengan yang
dijelaskan oleh model belajar dari Albert Bandura, dengan
teorinya yang terkenal yakni teori belajar sosial. Kata Bandura
(dalam Bigge, 1982), teori belajar sosial lebih menekankan pada
pentingnya pengamatan dan pemodelan perilaku, sikap, dan
reaksi emosional seseorang dengan orang lain dalam
lingkungannya. Teori ini juga menjelaskan perilaku manusia yang
secara terus-menerus berinteraksi dengan dengan
lingkungannya, dengan cara mengamati lingkungannya,
menirukan model yang sesuai dengan karakter dirinya, meniru
idolanya, memilih lingkugan yang sejalan dengannya, dan
mencari informasi baru yang mendukung pilihan kehidupannya.
Komponen-komponen proses yang didasarkan pada belajar
observasional dari Bandua ini adalah:
○ Atensi, termasuk fenomena model-model dilihat dari aspek
pembedaannya, afeksinya, kompleksitasnya, nilai
fungsionalnya. Selain itu karakteistik pengamat misalnya
kapasitas, seperti kapasitas penginderaannya, tingkatan
penonjolannya, perangkat perseptualnya, dan penguatan
masa lalunya.
22
○ Retensi, termasuk pengkodean simbol-simbol, organisasi
kognisi, detil simbol, detil gerak, dan lain-lain.
○ Reproduksi motorik, termasuk kemampuan fisik,
pengamatan diri atas reproduksi, akurasi, dan umpan balik.
○ Motivasi, termasuk internal dan eksternal, juga penguatan
diri.

Teori belajar dari Bandura ini tidak saja hanya


mendasarkan diri pada karakter perilaku yang tampak saja,
namun juga sudah melibatkan aspek kognitif seperti memori,
motivasi dan aspek kecerdasan. Teori ini juga berusaha untuk
menjelaskan sekumpulan orang, juga ketidakseimbangan
psikologis terutama yang masih dalam konteks modifikasi
perilaku. Teori ini juga bisa digunakan untuk dijadikan dasar
teoretis atas teknik model perilaku pada program-program
pelatihan.
Contoh dalam praksis pendidikan dan pembelajaran yang
tampak adalah adanya gaya atau model peniruan atas figur-figur
tertentu yang dimunculkan oleh media massa seperti televisi,
film, dan internet. Gaya dan perilaku para pelakonnya sering
ditiru oleh sebagian masyarakat kita, terutama mereka yang
masih mencari jati diri yang umumnya termasuk anak-anak
remaja dan dewasa awal.
Tugas komunikator pembelajaran, tentu saja disamping
kinerjanya disiapkan dengan baik, juga perlu menjelaskannya
kepada komunikan atau sasaran atas dasar kontekstualisasi
kekinian. Alam kita dulu dengan sekarang sudah berbeda, dan
kita berusaha untuk memahaminya dengan bijaksana. Memang
kita sebagai komunikator pembelajaran tidak akan meniru gaya
para pelakon di media massa, tapi kita menyampaikannya
kepada sasaran didik kita ke arah yang lebih baik, setidaknya
dengan mengatakan: jadilah dirimu sendiri, berbuatlah yang
terbaik sesuai dengan kemampuannya, dan lain-lain.

Teori pengembangan sosial dari L. Vygotsky


Kerangka teoretis utama dari teori pengembangan sosial
Vygotsky adalah bahwa faktor interaksi sosial memegang
peranan yang fundamental dalam pengembangan kognisi anak.
Fungsi-fungsi dari pengembangan budaya anak akan muncul dua
kali, yakni pada level individual dan yang kedua ada pada level
sosial. Semua fungsi tersebut pada akhirnya akan melahirkan
hubungan timbal balik di antara individu.
Aspek kedua dari teori ini adalah adanya ide tentang
pengembangan kognisi yang dibatasi oleh ruang dan waktu yang
disebutnya dengan zone of proximal development (zona
23
mendekati perkembangan), yang lebih lanjut akan diteruskan
menjadi perkembangan sepenuhnya pada tataran interaksi sosial
seutuhnya.
Teori ini mencoba menjelaskan kesadaran sebagai akhir
dari produk sosialisasi seseorang (anak). Contohnya ketika
seseorang akan melakukan komunikasi dengan teman-teman
sekelasnya ketika sedang belajar bahasa, pertama ia akan
melakukannya secara internal (dalam hati) sebelum
memverbalkannya atau mengkomunikasikannya secara langsung
ke teman-teman kelompoknya.
Teori ini memang masih termasuk ke dalam rumpun teori
belajar sosial dari Bandura, terutama pada praktek belajar
situasional, namun teori ini lebih memfokuskan diri pada
pengembangan kognitif, yang mirip dengan paham Piaget dalam
pemahaman teori belajarnya.
Dalam tataran praksis instuksional, teori ini bisa dijadikan
alternatif pengembangan pembelajaran, terutama oleh para guru
dan praktisi komunikasi dalam memilih situasi belajar yang
sesuai dengan tahap-tahap pengembangan sosial anak.
Misalnya, seorang anak tidak secara serta-merta diberi tugas
akademiknya di sekolah berkaikan dengan pembelajarannya,
melainkan dipersiapkan lebih dahulu melalui tahap-tahap
pengenalan kelompok, pengenalan secara personal, dan
akhirnya pengenalan secara sosial (lebih luas). Dengan demikian,
anak akan menjadi terbiasa (nyaman) dengan suasana barunya.

Teori belajar struktural dari J. Scandura


Teori ini menggambarkan bahwa apa yang dipelajari oleh
seseorang merupakan aturan yang terdiri atas suatu domain,
rentang, dan prosedur. Biasanya di dalam suatu kelas, terdapat
beberapa aturan alternatif yang dipersiapkan untuk penugasan
kelasnya. Sebuah penugasan kelas dengan pendekatan problem
solving (pemecahan masalah), misalnya, akan melahirkan
aturan-aturan baru setiap ada unsur pemecahan masalah secara
sektoral. Artinya setiap kita berhasil memecahkan masalah
dalam sektor tertentu, akan melahirkan masalah untuk sektor
turunannya atau sektor lain. Orang akan selalu berpikir kreatif
dalam setiap upaya memecahkan masalah yang dihadapinya.
Tururan-turunan masalah tadi pada giliranya akan berkembang
merumit sejalan dengan kreatifitas pemikiran penggagasnya.
Ketika orang berhasil membuat rumus perkalian antara 7 x 8 =
56, maka angka 56 sebenarnya tidak hanya hasil dari perkalian
itu, namun bisa jadi dari model perhitungan yang lain, misalnya
dari 8 x 7, atau 28 x 2 yang hasilnya juga 56.

24
Analisis struktural juga merupakan suatu metode dalam
mengidentifikasi aturan yang dipelajari di dalam kelompok atau
kelas sesuai dengan topik yang diusungnya, ke dalam
komponen-komponen yang lebih kecil, terus dipecah lagi ke
dalam komponen yang lebih kecil lagi sampai akhirnya sampai
kepada aspek yang paling kecil. Kira-kira berkembangnya secara
deduktif dalam matematika.
Dalam dunia klasifikasi pada ilmu informasi dan
perpustakaan, metode analisis subjek atau sering disebut
dengan pemetaan subjek, hal seperti ini banyak dilakukan
pustakawan ketika mengidentifikasi subjek dari bidang ilmu
pengetahuan tertentu. Sebuah contoh turunan subjek dari bidang
yang terluas sampai dengan yang tersempit, bisa kita lihat dalam
contoh berikut:
○ Subjek umum yang dibahas secara umum: Gedung
Perpustakaan
○ Subjek umum yang dibahas secara khusus: Rancangan
Gedung Perpustakaan
○ Subjek khusus yang dibahas secara umum: Gedung
Perpustakaan Sekolah
○ Subjek khusus yang dibahas secara khusus: Rancangan
Gedung Perpustakaan. Sekolah
Gambaran susunan struktur urutan dari daftar subjek di atas
menunjukkan uruan hirarkis, dari umum ke khusus, dari subjek
umum gedung perpustakaan, kemudian menyempit menjadi
rancangan gedung perpustakaan, kemudian dipersempit lagi
menjadi gedung perpustakaan sekolah, dan akhirnya sebagai
subjek yang paling sempit adalah rancangan gedung
perpustakaan sekolah. Subjek yang disebutkan terakhir ini
sebenarnya secara struktural masih bisa dibagi-bagi lagi ke dalam
komponen subjek yang lebih sempit, misalnya menjadi: tata
ruang, ventilasi, jenis lantai, ukuran rung baca, dan lain-lain. Yang
jelas, secara struktural, setiap pengidentifikasian aspek dari hasil
pengembangan identifikasi, merupakan hasil berpikir kreatif atas
dasar pemetaan subjek secara struktural.
Satu lagi contoh bidang subjek ilmu terapan yang dilihat dari
pembagiannya secara struktural dalam klasifikasi desimal:
600 Ilmu-ilmu terapan
... ...................
620 Teknologi permesinan (teknik mesin)
621.3 Elektromagnetik dan cabang-cabang sejenisnya
621.38 Elektronika dan teknologi komunikasi
621.384 Radio dan teknik radar
621.384 .6 Particle accelerators
621.384 .63 Circular accelerators
25
621.384 .633. Fixed-field accelerators
621.384 .633.3 Weak-focusing constant-frequency
cyclotrons
dst., sampai bagian terkecil sebagai hasil
pengembangannya.

Pola berpikir kreatif dari model pemetaan struktual ini akan


menghasilkan kompleksitas pemikiran hingga relatif tak terbatas.
Orang akan berhenti berpikir struktural manakala struktur subjek
usungannya dirasakan sudah lengkap terbahas secara holistik
integratif dengan melibatkan banyak aspek yang semakin
merumit. Yang unik dari pola penjelasan secara struktural atas
konsep sebuah subjek adalah adanya hubungan hirarsitas yang
jelas. Masing-masing substruktur sebenarnya masih memiliki
subjek-subjek yang setara dengan kelompoknya, yang secara
struktual bisa dikembangkan lagi sesuai dengan karakteristik
subjeknya.
Intinya, model belajar struktural ini memberi keleluasaan
bagi seseorang untuk berpikir meluas sesuai dengan pola
pengembangan hirarkis, yang bercirikan hubungan subordinatif
jika dilihat dari atas ke bawah, atau dari konsep besar dan luas ke
aah konsep yang kecil dan sempit ruang lingkupnya. Dalam
tataran organisasi, bisa juga dikatakan sebagai pola pikir
organisatoris dan melembaga. Semua pemikiran diikat dalam
ruang lingkup yang dibingkai dalam koridor struktur yang biasanya
diwadahi oleh organisasi.

A. Kritik terhadap pandangan behaviorisme dalam


pendidikan
Dalam satu kesempatan perkuliahan, Prof. Nyoman S.
Degeng dari Universitas Negeri Malang menyajikan materi
tentang Pergeseran Paradigma Pendidikan dari Behavioristik ke
Kontruktivistik, yang tampaknya dalam praktik pendidikan di
Indonesia saat ini masih berada di persimpangan jalan.
Meski demikian, suka atau tidak suka kita harus
mengucapkan “Selamat Tinggal” kepada Behaviorisme yang
telah terbukti saat ini tidak lagi bisa diandalkan untuk
menghadapi tantangan jaman yang serba kompleks”. Kini
waktunya untuk menyambut dan mengucapkan “Selamat
Datang” kepada Konstruktivisme yang tampaknya dapat
memberikan harapan baru bagi peningkatan mutu pendidikan
nasional.
Beberapa kritik terhadap implementasi teori belajar
berkarakter behavioristik bisa dikelompokkan sebagai berikut:

26
1) Pandangan Tentang Pengetahuan, Belajar dan Pembelajaran:
○ Pengetahuan: objektif, pasti, tetap, padahal pandangan
sekarang tidak seperti itu pandangan yang lebih baru,
misalnya konstruktivisme.
○ Belajar: perolehan pengetahuan, bukan proses berfikir.
○ Mengajar: memindahkan pengetahuan ke orang yang
belajar, bukan fasilitator.
○ Mind berfungsi sebagai alat penjiplak struktur pengetahuan
○ Si pembelajar diharapkan memiliki pemahaman yang sama
dengan pengajar terhadap pengetahuan yang dipelajari,
tidak perlu seperti itu kata teori yang baru seperti
konstruktivisme.
○ Segala sesuatu yang ada di alam telah terstruktur, teratur,
rapi.
Pengetahuan juga sudah terstruktur rapi
1) Masalah Belajar dan Pembelajaran:
○ Keteraturan
○ Si pembelajar dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas
yang ditetapkan lebih dulu secara ketat
○ Pembiasaan (disiplin) sangat esensial
○ Kegagalan atau ketidak-mampuan dalam menambah
pengetahuan dikategorikan sebagai KESALAHAN, HARUS
DIHUKUM.
○ Keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai
bentuk perilaku yang pantas dipuji atau diberi HADIAH.
○ Ketaatan kepada aturan dipandang sebagai penentu
keberhasilan.
○ Kontrol belajar dipegang oleh sistem di luar diri si
Pembelajar.
○ Tujuan pembelajaran menekankan pada penambahan
pengetahuan
Seseorang dikatakan telah belajar apabila mampu
mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari.
1) Masalah Belajar dan Pembelajaran: Strategi Pembelajaran:
○ Keterampilan terisolasi.
○ Mengikuti urutan kurikulum ketat.
○ Aktivitas belajar mengikuti buku teks.
○ Menekankan pada hasil.
1) Masalah Belajar dan Pembelajaran: Evaluasi:
○ Respon pasif.
○ Menuntut satu jawaban benar.
○ Evaluasi merupakan bagian terpisah dari belajar.

27
A. Kesimpulan dan Rekomendasi:
1) Tidak bisa disebutkan bahwa teori yang satu lebih unggul
dibandingkan dengan teori yang lain
2) Tidak ada teori belajar tunggal yang bisa diaplikasikan
untuk semua situasi dan kondisi praksis pendidikan
3) Dalam tataran praktek, gunakan beragam pendekatan
(teori) secara proporsional sesuai dengan kebutuhan. Tidak
ada satupun teori yang cocok untuk diaplikasikan untuk
semua kondisi belajar dan pembelajaran.
4) Pendekatan teori belajar berkarakter behavioristik lebih
cenderung banyak digunakan pada pembelajaran anak-
anak yang masih membutuhkan bimbingan secara
langsung, misalnya dikdas, terutama untuk mata pelajaran
yang sifatnya praktis, meskipun ini tidak tunggal/sendirian,
akan tetapi tetap harus mempertimbangkan berbagai
pendekatan secara terintegrasi.
5) Pada dasarnya hampir semua rumpun teori belajar
behavioristik ini, masih banyak yang menggunakannya
dalam praktek pembelajaran saat ini, disadari atau tidak
6) Penggunaan secara selektif, bisa dilakukan dalam situasi
dan kondisi yang pas, namun tidak dianjurkan untuk
penggunaan secara dominan. Pendidik sebaiknya tidak
hanya menggunakan pendekatan behaviorisme saja dalam
pelaksanaan pendidikan, akan tetapi perlu menggunakan
pendekatan lain yang lebih komprehensif, seperti
contohnya kognitif, konstruktivistik, dan multiaspek.

A. Daftar Pustaka:
Akhmad Sudradjat, 2009. Kurikulum berdasarkan filsafat
behaviorisme. (available at:
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/05/12/
kurikulum-berdasarkan-filsafat-behaviorisme/#more-5320.
Bahauddin Amyasi, 2009. Psikologi Behavioristik. Analisis
terhadap terminologi Human Relation. IAIN Supel.
Bandura, A. 1977. Social Learning Theory. New York: General
Learning Press.
Bigge, Morris L., 1982. Learning Theories for Teachers, ed. Ke-4,
Harper & Row, New York.
Boeree, C. Boeree, 1999 dan 2000. Wilhelm Wundt dan William
James. George C. Boeree.
Jalaludin Rakhmat, 1985. Psikologi Komunikasi, Remadja Karya,
Bandung
M Ihsan Dacholfany dan Ayi Sofyan, 2009. Kurikulum Berdasarkan
Filsafat Behaviorisme. KTSP. Gravatar.
28
Mike Prastiwi, 2009. Teori Behavioristik. Welcome to my Blog.
Mortensen, Donald G., dan Allen M. Schmuller, 1964. Guidance in
Today’s Schools, John Wiley & Sons, New York.
Nyoman S. Degeng, 2009. Pergeseran Paradigma Pendidikan dari
Behavioristik ke Kontruktivistik. Universitas Negeri Malang.
Pawit M. Yusup, 2009. Ilmu Informasi, Komunikasi, dan
Kepustakaan. Jakarta, Bumi Aksara
Reza A.A. Wattimena. Manusia dan Kesadaran, dari sumber: Ken
Wilber, "An Integral Theory of Consciousness", Journal of
Consciousness Studies, 4 (1), February 1997, hal. 71-92.
Skinner, B.F. 1968. The Technology of Teaching. New York:
Appleton-Century-Crofts.
Soekamto, Toeti, 1986. Peranan Teori Belajar dalam
Pengembangan Sistem Instruksional, PAU-UT dan
Pustekkom Dikbud, Jakarta.
Vygotsky, L.S. 1978. Mind in Society. Cambridge, MA: Harvard
University Press.

29